Transcript
KjOA58G4pJ8 • Tiru Usaha Bos, Mantan Karyawan Sukses Punya Rumah Produksi Sendiri
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0536_KjOA58G4pJ8.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Kalau orang bilang masa kecil itu masa kecil terburuk lah, Mas. Aku untuk beli polpen aja itu susah, Mas. Untuk sekolah itu. Heeh. Kalau zaman sekolah perisa buku itu dulu ambil lagi yang masih kosong-kosong tak jadiin satu, Mas, buat belajar lagi besoknya di semester yang baru. Pertama itu dulu cuma pegang uang Rp500.000. Jadi Rp500.000 itu dibikin untuk beli kayak bahannya yang untuk satu kali produksi maksudnya itu diputar terus diputar gitu. prosesnya aku sampai sini tuh enggak semena-mena langsung kayak gini gitu. Ada prosesnya tuh mereka aja yang enggak tahu kalau dibilang loh enak yo pesenane okeh terus duwe omah gede. Loh tapi mereka kan enggak tahu kita kan prosesnya juga lama gitu untuk mencapai itu semua. Omsetnya omsetnya kalau pas banyak itu bisa 150 lebih barang juga bisa. Tapi kalau pas sepi, Mas kan ada masa-masa itu. Kalau orang Jawa kan lihat bulannya bulan bagus untuk banyak manten itu juga banyak pesanan. Kalau pas bulannya kayak bulang suro itu kan gak ada orang mantenan. Itu sepi itu paling cuma sekitar 70. Iya juta. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nama saya Fandi Ahmad. Saya owner Pak Bia Ahmad Family. Di samping saya, istri saya owner Pak Ahmad Family juga. Nama saya Siti Zubaida. Saya owner juga. Alamatnya di Desa Gemb 31 RW 11 Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggal. Sebenarnya gini, Mas. Kalau Mbak Pia Ahmad itu sebenarnya adalah produknya kita untuk perusahaannya yang terdaftar itu Ahmad Family Bakery dan Cookies. Untuk produknya ada Bakia Ahmad Family, Bolen Ahmad Family, Pusu Ahmad Family. Tapi orang emang kenalnya itu banyak yang kenal lebih malah ke Bakia Ahmad Family gitu dulu. Soalnya sebelum menikah kan saya menjalankan usaha sendiri dibantu adik, kakak. Jadi untuk pengiriman itu masih terbatas gitu, masih sampai daerah sini aja sampai situ. Terus setelah menikah karena ada yang membantu juga, jadi untuk pengiriman bisa lebih jauh lagi. Bisa sampai luar kota, Malang, bisa sampai situ juga. Sebelum menikah kan istri saya merantau di Pasuruan. Nah, saya kan asli Pasuruan. Satu kerjaan dulu. Satu kerjaan dulu. Satu kerjaan. Terus istri saya memutuskan untuk keluar dulu dan saya masih tertahan di sana. keluar bikin sendiri di sini. Akhirnya saya memutuskan keluar juga untuk gabung ke sini. Perusahaan Mbak Pia, Mbak Pia juga. Iya. Di sana dulu itu yang menyuruh untuk membikin Mbak Pia itu sebenarnya dorongan dari keluarga. Kalau enggak ada dorongan keluarga mungkin saya masih kerja di sana. Kamu loh wis bisa bikin sendiri. Kenapa ndak nyoba bikin sendiri? Di Trenggalek loh belum ada Mbak Bia. Terus aku akhirnya nyoba itu sebenarnya ada Mbak Bia tapi belum banyak yang kenal, belum banyak yang tahu gitu. Jadi akhirnya ya udah tak nyoba untuk bisnis ini. Pertama itu dulu cuma pegang uang Rp500.000 soalnya udah ada kayak alatnya alat sederhana di dapur. Terus kalau opennya udah ada open kecil itu jadi Rp500.000 Ibu itu dibikin untuk beli kayak bahannya yang untuk satu kali produksi maksudnya itu diputar terf diputar gitu langsung jadi ya langsung jadi soalnya kan sekolahnya kan sudah lulus tapi itu ada beberapa kali kita revisi juga soalnya tepungnya yang dipakai di sana sama yang di sini itu beda. Soalnya di sini enggak ada tepung yang sama kayak yang di Pasuruan. Masih terbatas, Mas, bahan bakunya. Bahkan, Teman-teman itu masih belanja di Pasuruan kadang. Kayak coklat, kayak tepung-tepung itu di Trenggalek belum ada. Ambilnya di Pasuruan. Pasuran sana sekalian sambang sama guru. Keluar 2016. 2016 akhir waktu itu usia 21 lulus SMA langsung ke sana 3 tahun kerja terus pulang bikin sendiri. Ya, kalau saya kan termasuknya bukan yang pertama membikin sendiri gitu. Itu aku termasuk yang ketiga lulusan Pasuran itu pertama berdiri di Kediri. Jadi responnya mendukunglah gitu. Alhamdulillah. Jadi ini aku ndak sio-so ngajari awakmu ngene ngene ngene. Dulu kan saya kan di sana kan bisa dikatakan sopir ya lebih ke antar-antar gitu. sopir tiap hari antar ke sekolah tiap hari itu ada aja wejangan itu harus menikah sama ini terus harus lebih maju dari ini gitu loh. Udah kayak orang tua sendiri. Kalau di sana dulu kerja tiap hari pasti dikasih wjangan. Soalnya saya tuh hampir tiap hari sama beliau antar jemput sekolah kan saya. Habis antar jebut sekolah saya antar produk gitu diajarin gimana caranya marketingnya. Jadi sampai sekarang pun sering tanya gimana kabarnya di sini anak-anak gimana usahanya gimana. Jadi kita itu sama teman-teman ya juga sering ke sana baiklah kayak keluarga. Waktu itu kan lulus SMA itu sebelum ke sana itu kebetulan kan ada tetangga yang udah di sana terus minta tolong gitu untuk kalau di sana ada lowongan aku mau kerja di sana daripada nganggur di rumah. Soalnya bukan nganggur sih di rumah udah keliling cari kerja tapi memang cari kerja kan juga susah di sana itu enggak sekedar kerja Mas lebih ditata lah sama beliau itu untuk ke depannya gitu loh. Pasti kan punya cita-cita sendiri besoknya mau apa gitu. Kalau istri saya di sana itu lebih condong ke bagian ngurusin semuanya, keuangan, pesanan gitu. Kalau saya lebih ke pengiriman ya, distribusi sama kekeluargaannya gitu. Ngurusin semua kekeluargaannya gitu, Bu. Sekarang Mas Fandi usia berapa, Bu? Mau 31. Mau 31 sama seumuran? Seumuran. Iya. Susah ya, Mas ya? Soalnya kadang kan juga beda pemikiran. Tapi nanti kalau sudah beda pemikiran harus mengalah salah satunya istri yang kebanyakan mengalah desain ke kerdus ini enggak cocok apik ini tapi gini mengalah lebih mengalah lah istri saya terus kalau ada tatanan di tempat produksi ini kurang ini kurang gini lebih cenung ke saya sih untuk mengatur kayak gitu tetap rembukanlah tetap harus ada yang ngalah salah satunya pokoknya ya. [Musik] Kalau bakia itu kan kulit sama isi kan banyak isinya. Heeh. Jadi untuk rasanya harus yang paling utama itu kan isinya, Mas. Kalau isinya itu salah sedikit gitu udah pengaruh besar di rasanya sih semua. Soalnya itu semua tergantung sama isinya. Kalau kulitnya itu cuma untuk misalkan kalau yang basah gitu ya kan kalau yang basah itu kulitnya itu cuma untuk pembungkusnya terus rasanya juga cuma menambahkan rasa manis dikit gitu kalau yang basah. Heeh. Misal kacang hijau kalau kurang bersih nyucinya itu pengaruh. Heeh. Pengaruh banget atau kekurangan air sampai gosong gitu itu susah. Soalnya pakai vanili menambahkan beberapa kan kalau sampai gosong ditambah daun pandan juga. Jadi yang paling pengaruh besar itu isi rasa lain itu kita prosesnya sendiri ya. Misalkan rasa coklat gitu ya. Itu kan udah kayak gini ukurannya. Gak boleh kurang, gak boleh lebih. Hasilnya nanti harus kayak gini. Jadi kalau kacang hijau masih bisa sih kayak kurang matang kacangnya gitu kan masih bisa. Kalau yang rasa lain selalu harus maksimal. Kalau di sini kan namanya bakpia basah. Kalau di sana bakpia patok. itu sebenarnya sama cuma pengolahan isinya yang beda. Kalau dari segi kulit atau bahan-bahannya yang dipakai hampir untuk kulitnya itu sama sama dan juga harganya juga beda. Harganya juga berbeda jauh. Beda jauh. Iya. Kalau di sana kan itu Mas lebih terkenal dengan kota wisatanya. Makanya berani jual mahal. Kalau di sini belum berani jual mahal. Sebenarnya kita ndak ambil untung banyak-banyak, Mas. Soalnya kita kan juga di daerah pedesaan. kita ambil untung dikit aja yang penting kita jalan, kita dapat pesanan yang banyak. Kalau kita patok harga mahal nanti karena kita di desa mungkin peminatnya kurang jadi kita gak bisa untuk produksi banyak. Persentasi untung itu berapa Mas dari harga Rp10.000 tadi kurang lebih 1.000. Iya 1.000 aja satu kotak. Iya itu dinaikkan sedikit aja udah kok mundak kok mundak gitu. Padahal banyak yang bilang itu murah loh dibandingkan ke Jogja atau dibandingkan ke tempat lain. Ini murah banget dengan rasa yang seperti itu. Soalnya kan ee apa masyarakat kan juga gak sama ya juga masyarakat ada yang kelas rendah, ada masyarakat yang kelas tinggi, yang ke menengah ke bawah. Jadi kita lebih menekankan untuk yang menengah ke bawah. Jadi yang kelas tinggi pun bisa beli karena murah. Jadi yang bawah bisa merasakan juga. menentukan harga bakti jenengan itu pertimbangannya apa saja, Mas? Pertimbangan dilihat dari harga bahan baku. Kalau harga bahan baku kan naik turun, kita ambil dari harga tertinggi. Harga tertinggi berapa? Nanti kita hitung HPP-nya. Misal kita mau menaikkan harga, kita enggak cuma kita sendiri yang menaikkan harga, kita rembukan bareng sama alumni Pasuruan tadi beberapa perusahaan itu kita kumpulkan dulu untuk persetujuan kenaikan harga gitu. Jadi kita enggak berdiri sendiri kalau masalah harga kita rembukan dulu. Kadang juga ada yang setuju. Kalau enggak ada yang setuju ya wis jalan sendiri aja. Tapi sejauh ini sih lebih setuju sih. Banyak yang setuju banyak yang setuju juga. Kompaklah. Kacang cukupes itu sebenarnya banyak kan mereknya Mas. Tapi kita ambilnya itu yang merek Gioksan soalnya udah pasti itu bagus barangnya. Iya. Heeh. Impor. Kalau yang merek-merek kayak kadang enggak ada mereknya itu, itu juga udah kupas produk lokal. Cuma apa? Kurang mengembang kalau di Heeh. Kurang mengembang gitu loh. Kalau pas musim manten gitu kan ramai. Itu bisa sampai 5.000 kotak bisa. Tapi sampai malam nanti produksinya. Kalau sampai sore misalnya normal jam kerja 8 jam gitu ya berarti itu 7 sekitar R.000. Rp20.000 itu bisa 1 hari kerja full 8 jam kerja. Kalau lebih dari itu berarti nanti kita kerjakan sampai malam. Karyawannya 24 keluar tiga tinggal 21. keluar masuk orang karyawan kan juga banyak pasti kan pemikirannya juga berbeda-beda juga jadi kita tinggal rungokne ae lah dirungokone opo sih kan setiap orang juga punya masalahnya masing-masing kadang juga ada yang dibawa sampai kerja nanti kalau kerja kadang kan enggak m ya cukup dibilangi ae dituturi karo dirungokne gimana caranya biar tetap bisa sportif kerjanya nya dari kardus, Mas. Ada pesanan kayak dari Tulungagung kan ada kardus kan ya dari Malang, dari Lumajang itu telepon itu aku baru dapat kardus ini, Mas. Kok enak? Saya coba terus akhirnya kirim ke Malang ke Lumajang gitu. R5.000 kalau untuk isi 10 semua berarti kali Rp10.000 50. Iya begitu nanti dapat cashback. Cashback itu kalau yang pesan banyak. Iya ada cashback. Cashback itu 1.000 ke bawah lah. 500 500 kotak dapat cashback Rp100.000 terus dapat bonus juga. Betul produknya waktu itu keliling titipkan ke sekolah ya. Dititipkan ke toko, ke sekolah terus aku sendiri keliling kayak sales gitu bawa sepeda. Jadi bawa sepeda bawa keranjang di belakang isinya bak Pia. Waktu itu masih dikemasi pakai mika, belum ada gini kardus, masih mika. Jadi keliling gitu dari rumah ke rumah, dari sekolah terus nanti istirahat di pom bensin. Malah laku, Mas. Di pom bensin malah laku banyak di situ. Istirahat di situ. Daripada di rumah ke rumah belum tentu ada yang beli, Mas. Terus habis itu dari WA. Itu cuma dari WA. Iya, tapi cuma WA aja, Mas. waktu itu kayak Facebook, Instagram itu belum belum bikin yang pertama dulu itu waktu itu kayaknya 2 bulan 2 bulan habis setelah buka itu aku punya satu karyawan tetangga dekat waktu itu ada pesanan sekitar 200 kotak kalau gak salah itu pesanan yang ke berapa gitu loh yang sebelumnya mungkin cuma sekitar 50 70 itu aku kerjakan sendiri nah pas itu kan 200 kotak 200 kotak itu pas bak pia yang kering Aku dulu belum bikin Mbak Pia yang basah. Pas waktu itu aku mikir gini, "Woh ndak mungkin iki aku pakai open kecil ndak bakal selesai. Pesenannya kan banyak. Jadi pas waktu itu aku beli tambahan open yang gede itu yang ada gasnya itu uangnya itu pinjam dulu. Pinjam ke adik aku, pinjam ke tetangga yang tadi yang ku rekrut pertama itu sama uangku sendiri. Jadi uang ngumpul dari tiga orang itu beli tambahan open. 2 bulan itu tadi aku tambah open sama karyawan satu. Pas aku buka usaha, aku tuh punya prinsip, Mas, pokoknya jangan hutang, gitu. Jadi dari mulai aku usaha uang Rp500.000 jalan sampai COVID itu aku pakai uang sendiri. Setelah COVID beberapa bulan gitu ndak kerja, libur gak ada pesanan. Aku cuma bikin sedikit kalau misalkan nanti ada orang beli paling buat cemilan gitu loh. Berdoa aja lah moga-moga ada yang beli gitu. Terus aku juga pas waktu COVID itu nyoba-nyoba bikin variasi baru bolen ini. Bolen. Jadi sebelum COVID itu berarti belum ada bolen? Belum ada bolen karena ada COVID bolen terlahir He. Terus juga pas waktu itu musibah juga Mas. Itu dari ibu kecelakaan. Masku juga kecelakaan juga. Nah, terus aku sendiri pas itu hamil karena pas hamil mungkin karena kok banyak banget sih cobaanku. Jadi aku sendiri enggak bisa akhirnya lahir secara normal. Jadi aku juga operasi duluan ibu ibu kecelakaan jatuh patah tulang. Terus ini suami pas anu mau jenguk dia nabrak juga nabrakkan juga gitu. Jadi, ya Allah kok gini banget, Ya Allah kok aku dicoba kayak gini. Wes corona ndak kerja ndak ada pemasukan mau lahiran juga. Mau lahiran juga ya Allah jadi banyak banget uang yang harus keluar akhirnya. Terus COVIDnya udah agak udah meredup itu loh. Udah boleh-boleh itu erek mau buka usaha lagi. Enggak ada kita enggak ada pegangan uang. Sebaliknya apa mulai optimis lagi waktu COVID ya. Maaf ya, banyaknya orang yang meninggal kan. Itu kan buat tahlilan-talilan gitu. 1000 hari, 100 hari itu banyak banget itu pesanan itu. Alhamdulillah ada hikmahnya corona ya. Kita harus berdoa aja lah ya. Ini berarti ujianku di sini, ujianku di titik ini ya. Harus bersabar terus kita harus numbuhkan lagi nih. Gak mungkin kan kita stop usahanya. Setelah COVID itu kan banyak waktu luang kan itu dibuat bikin produk baru yaitu Bolen itu tadi. Alhamdulillah jalan ramai juga sekarang. Alhamdulillah ada berkahnya juga COVID habis bolen terus ada juga pai susu baru makin berani bikin bikin variasi baru rasa-rasa juga donat juga onde-unde juga bolu jadi lebih banyaklah variannya enggak cuma bapi aja sebelum COVID kan bapi aja sih omsetnya setnya kalau pas banyak itu bisa 150 lebih barang juga bisa tapi kalau pas sepi Mas kan ada masa-masa itu. Kalau orang Jawa kan lihat bulannya, bulan bagus untuk banyak manten itu juga banyak pesanan. Kalau pas bulannya kayak bulang suro itu kan gak ada orang mantenan itu sepi itu paling cuma sekitar 70. Iya, kita [Musik] kalau saya itu ke teman atau ke karyawan kayak biasa aja sih lebih enggak ada perbedaan saya itu kayak aku loh bosmu gitu loh. Karyawanku enggak cuman lebih merangkul aja. Jadi kebanyakan di sini tuh banyak orang yang bilang itu karyawan itu kayak teman, lebih asik, lebih kekeluargaannya itu dapat di sini tuh. Jadi enggak ada pembedaan kalau saya loh ya. Terus agak pernah sih kaget aja ya. Dulu cuma karyawan dulu pernah sampai dilempar kompor sama bos gitu. Dulu kan dulu pernah saya itu nyalain keran di kamar mandi enggak dimatiin. Jadi akhirnya itu tumpah-tumpah. Terus anak cowok itu dikumpulkan di ruang produksi. Siapa yang sampai kebanjiran gini? Siapa ngaku? Saya saya Bu di antem kompor sama pernah dulu terus pernah dulu juga waktu produksi itu selesainya jam 10. Jam 10.00 malam lanjut kirim ke Malang. Itu waktu malam minggu. Malam minggu di Malang itu kan macet kan belum ada tol kan. Terus itu enggak boleh ngajak teman atau jadi ngelamun sama nunggu macet itu kerasa banget si itu kalau sekarang diingat-ingat itu aku tahu ngene y sekarang alhamdulillah sudah kayak gini ada umroh pengin banget umrah belum tercapai insyaallah tahun depanlah amin amin dari dulu si itu pengin banget berdua sama istri enggak pengin ada yang mengganggu lah ya berangkat berdua lah kalau udah pernah nonton konser ke mana aja berdua sama istri nonton Korea nonton band Indonesia sudah pernah sih berdoa. Kalau ke Makkah kan belum pernah sih. Itu sing pengin banget. Aku ada cita-cita yang lain, Mas. Oh, iya. Heeh. Kalau aku sih cita-citanya tentang usaha sih sebenarnya. Aku pengin banget usaha iki bisa lebih maju. Misalkan kita punya toko di tempat yang ramai kayak di tempat wisata. Jadi kita punya toko di situ, pusat oleh-oleh kayak gitu, Mas. Aku pengin banget yang kayak gitu. Itu cita-citaku sih sekarang ini. Selain yang ini tadi [Musik] Sawang Sinawang. Sawang sinawang. Kalau orang Jawa bilang orang luar cuma tahu luarnya aja, Mas. Heeh. Enaknya aja. Mereka enggak tahu kita guling-kumingnya kayak apa. Kalau dulu kan dari merintis usaha itu kan udah ketahuan ya, Mas ya. Kerjain sendiri, belanja juga sendiri, keliling juga sendiri. sampai mungkin yang dititip-titipkan toko itu banyak yang kembali, Mas. Soalnya kan kalau gini kan gak tahan lama. Jadi kadang ada yang kembali ke saya waktu aku tengok di toko. Oh, ternyata udah gak layak ini jamur tak bawa pulang lagi diganti yang baru. Jadi ya di situ dijalanin aja walaupun kita rugi tapi ini emang prosesnya gitu. Prosesnya aku sampai sini tuh enggak semena-mena langsung kayak gini gitu. Ada prosesnya tuh. Mereka aja yang enggak tahu kalau dibilang loh enak yo pesenannya okeh. Wis duwe omah gede. Loh. Tapi mereka kan enggak tahu. Kita kan prosesnya juga lama gitu untuk mencapai itu semua. Ujian banyak godaannya. Godaan hobi kayak dulu waktu muda sering nonton konser terus enggak pernah beli apa yang dipinginkannya yang dulu-dulu lah kayak mainan kan dulu kan. Terus teman-teman dulu bisa nonton konser di mana aja, bisa beli merchandes apa aja gitu. Itu aja sihnya. Jadi karena sekarang udah ada uangnya bisa lihat konsel, bisa beli jendesnya yang dulu belum pernah kebeli. Sekarang kalau enggak originalnya enggak enggak mau. Dulu yang KW-KW, sekarang sudah aman sih. Soalnya ada hobi baru sekarang mancing, Mas. Iya. Serius? Dia lebih ke Korea. Kalau saya ke Pop dulu kalau band kesukaan konser di sini berangkat Mas Ponorogo, Malang berangkat, Jakarta berangkat. Kalau ke Jakarta sama ini dulu loh ya konser ke mana aja berangkat apalagi sebelum nikah. Stopnya ya setelah menikah tapi setelah menikah tetap jalan lihat konser cuman agak kurangi. Tapi sekarang udah enggak sama sekali. Lebih di rumah aja. [Musik] Orang yang paling berpangun dalam usaha. Kalau dulu itu yang paling banget memberi semangat almarhum itu almarhum Bapak sekarang sudah meninggal. Jadi dulu itu pertama kali jalanin usaha kan belum menikah. Jadi waktu itu kan cuma sama aku, adik, sama bapak sama kakak itu yang paling membari support. Pokoknya dalam hal apapun itu Bapak. Bapak itu dalam keadaan sakit pun dulu kalau aku lagi ndak mood nih, ndak mood kerja. Nanti dia yang kerja, dia yang jalan sendiri. Wis berarti nanti aku lihatnya wis aku malih melok-melok kerjo. Jadi kalau ada orang beli terus akunya masih repot nih bapakku yang diajak ngobrol dulu, ngobrol santai gitu. Nah, terus yang aku tangkap tuh dari Bapak itu kok bisa ya sesabar itu dengan caranya dia melayani orang dengan kondisi sakit. Orang itu kan cuma sekedar tamu yang mau pesan. Dengan orang baru bisa ceramah itu berarti wah ini harus aku tirukan. Ini dulu itu meninggalnya 1 tahun setelah menikah. Jadi setelah 1 tahun menikah aduh aku pegangan siapa ini? Ya pegangan suamiku. Mau gak mau pegangan suamiku ya. Walaupun kita masih dalam tahap-tahap belajar waktu itu belajar berbisnis ya wis belajar berbisnis bareng-bareng. gimana cara melayani orang yang baik, pokoke opo sing dulu bapakku bilang tak turuti semuanya dulu. Soalnya juga orang tua yang di rumah pas aku awal produksi cuma bapak. Ibu dulu kan kerja jadi TKW di Malaysia. Terus setelah 1 tahun 1 tahun setelah produksi sudah mulai banyak pesanan mau menikah langsung pulang pulang. Dulu kerja di Malaysia juga karena untuk kehidupan anak-anaknya gitu. Dulu a mungkin kalau ibuku ndak kerja di Malaysia, aku ndak bakal sekolah SMA. Kunci suksesnya pertama jangan merubah rasa. Merubah rasa itu yang paling utama ya Mas ya. Terus jujur menangani langganya harus dengan baik, harus ramah lah. Harus ramah. Terus kunci suksesnya juga ada di karyawan, Mas. Mereka tak anggap dulurku dewe. Heeh. Ya itu yang paling penting ya itu. Heeh. Komunikasinya mungkin sih komunikasinya lebih komunikasi lebih ke enak aja. Lebih ke bercanda tapi ada batasnya. Soalnya aku dulu kan juga pernah Mas jadi karyawan. Nah. Aku penginnya kalau jadi karyawan itu diginiin gitu dulu. Jadi setelah aku bisa kayak gini ya aku gituin karyawanku sesuai apainanku dulu. Enak yo kerja neng kene bos. Penakan bos penak. Asiklah. Enjoy lah. Kayak kata orang-orang, "Oh, kerjo koy dolanan gitu neng kene." [Musik] Memang tahap terpentingnya itu karyawan, Mas. Kalau enggak ada karyawan, gak mungkin aku bisa produksi sebanyak ini juga. Kalau orang-orang ini kan sebenarnya mereka kayak ibu rumah tangga. Mereka cuma untuk tambahan penghasilan di rumah. Jadi, kan sebenarnya udah ada orang yang nyari tapi mereka pengin ae kerja gitu. Dan yang paling penting jangan lupakan sejarah lah. Dulu awalnya kayak gimana, siapa gurunya, yang ngajarin siapa itu yang dulu aku juga pernah diposisi posisi ter bukan dari keluarga mampuah. Jadi piye rasane dadi wong ngono iku aku udah ngerti lho Mas. Ndak mungkin iki aku koy semena-mena ngo neng karyawan. Aku untuk beli polpen aja itu susah, Mas. Untuk sekolah itu. Heeh. Belum mesti ada beras laku. Kalau orang bilang masa kecil itu masa kecil terburuk lah, Mas. Kan empat bersaudara. Aku nomor tiga. Nomor satu itu putus sekolah karena memang gak ada biaya. Jadi dia memutuskan untuk kerja. Nah, yang nomor dua itu lulus SMP dia menikah. Heeh. Nah, iki aku ndak mau iki aku mosok aku lulus SMP. Aku mek guru nganggur lulus SMP, aku pengin kuliah, aku pengin kerja. Itu sebenarnya aku cita-citaku dulu seperti itu. Tapi karena memang dari keluarga yang gak mampu ya untuk beli buku aja kayaknya susah. Kalau zaman sekolah dulu sisa buku itu tak ambil lagi yang masih kosong-kosong tak jadiin satu, Mas, buat belajar lagi besoknya di semester yang baru. Polpen itu polpen yang ngisi ulang. Kadang itu kalau memang sudah habis sekolah, kalau memang belum ada uang untuk beli ya pakai potelot itu pensil atau pinjam teman kalau memang pas ulangan. Kalau orang sekitar yang udah tahu aku dari dulu gimana aku masa kecilnya, gimana aku jungker waliknya ya mereka tahu memang tahu benar. Jadi memang gak mudah gitu perjalanan hidupnya. Heeh. Kalau sekarang bisa kayak gini ya bersyukur ya. Alhamdulillah. Mungkin ini dari yang dulu aku bukan siapa-siapa. aku jadi gini, aku harus lebih bisa bersyukur, lebih bisa bersedekah gitu loh, Mas. Jadi kan sama orang-orang ini wis apa adanya. Jadi kalau kerja gini kalau misalnya rodok piye panas ngono ayo yo tumbas opo buat cemilan buat apa panas-panas yuk tumbas es. Tumbas es dihitung wongi piro tumbas es ngono masoten bisa ditanyakan langsung ke karyawannya lah. Heeh. Gimana rasanya? Heeh. Dan nanti kalau aku perlakukan mereka dengan buruk, lek mereka gak mau kerja lagi, aku mau kerjakan dengan siapa? Jadi mereka itu yang paling utama. Mendingan kalau pas gajian kalau aku belum ada uang, yo wis tak kasihkan uang itu untuk mereka semua. Mendingan aku gak pegang uang gitu. Dulu kan memang orang yang enggak punya. Jadi kalau pas wayah gajian gitu, Mas ya. Duh, uangnya ngepres ini tapi aku seik duwe tanggungan ini. Yo wis harus pokoknya mereka harus dilunasin dulu. Soalnya mereka di rumah juga punya tanggungan sendiri. Jadi daripada mereka yang keteran, aku aja yang gak pegang uang gitu, Mas. Saya Fandi dan samping saya Mbak Siti istri saya. Kami owner dari Mbak Pia Ahmad Family, alamat Dusun Suren, Kecamatan PKAL Kabupaten Trenggalek. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Sudah ini Mas aman. Sampun. Alamat Suren RT 31 RW03. Eh, Kal. Saya Fandi dan Mbak Siti. Kok Mbak Siti istri saya. Sekian terima kasih pisan guys. Pisan guys.