Transcript
KjOA58G4pJ8 • Tiru Usaha Bos, Mantan Karyawan Sukses Punya Rumah Produksi Sendiri
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0536_KjOA58G4pJ8.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Kalau orang bilang masa kecil itu masa
kecil terburuk lah, Mas. Aku untuk beli
polpen aja itu susah, Mas. Untuk sekolah
itu. Heeh. Kalau zaman sekolah perisa
buku itu dulu ambil lagi yang masih
kosong-kosong tak jadiin satu, Mas, buat
belajar lagi besoknya di semester yang
baru.
Pertama itu dulu cuma pegang uang
Rp500.000. Jadi Rp500.000 itu dibikin
untuk beli kayak bahannya yang untuk
satu kali produksi maksudnya itu diputar
terus diputar gitu. prosesnya aku sampai
sini tuh enggak semena-mena langsung
kayak gini gitu. Ada prosesnya tuh
mereka aja yang enggak tahu kalau
dibilang loh enak yo pesenane okeh terus
duwe omah gede. Loh tapi mereka kan
enggak tahu kita kan prosesnya juga lama
gitu untuk mencapai itu semua.
Omsetnya omsetnya kalau pas banyak itu
bisa 150
lebih barang juga bisa. Tapi kalau pas
sepi, Mas kan ada masa-masa itu. Kalau
orang Jawa kan lihat bulannya bulan
bagus untuk banyak manten itu juga
banyak pesanan. Kalau pas bulannya kayak
bulang suro itu kan gak ada orang
mantenan. Itu sepi itu paling cuma
sekitar 70. Iya juta.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Nama saya Fandi Ahmad. Saya
owner Pak Bia Ahmad Family. Di samping
saya, istri saya owner Pak Ahmad Family
juga. Nama saya Siti Zubaida. Saya owner
juga. Alamatnya di Desa Gemb 31 RW 11
Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggal.
Sebenarnya gini, Mas. Kalau Mbak Pia
Ahmad itu sebenarnya adalah produknya
kita untuk perusahaannya yang terdaftar
itu Ahmad Family Bakery dan Cookies.
Untuk produknya ada Bakia Ahmad Family,
Bolen Ahmad Family, Pusu Ahmad Family.
Tapi orang emang kenalnya itu banyak
yang kenal lebih malah ke Bakia Ahmad
Family gitu dulu. Soalnya sebelum
menikah kan saya menjalankan usaha
sendiri dibantu adik, kakak. Jadi untuk
pengiriman itu masih terbatas gitu,
masih sampai daerah sini aja sampai
situ. Terus setelah menikah karena ada
yang membantu juga, jadi untuk
pengiriman bisa lebih jauh lagi. Bisa
sampai luar kota, Malang, bisa sampai
situ juga. Sebelum menikah kan istri
saya merantau di Pasuruan. Nah, saya kan
asli Pasuruan. Satu kerjaan dulu. Satu
kerjaan dulu. Satu kerjaan. Terus istri
saya memutuskan untuk keluar dulu dan
saya masih tertahan di sana. keluar
bikin sendiri di sini. Akhirnya saya
memutuskan keluar juga untuk gabung ke
sini. Perusahaan Mbak Pia, Mbak Pia
juga. Iya. Di sana dulu itu yang
menyuruh untuk membikin Mbak Pia itu
sebenarnya dorongan dari keluarga. Kalau
enggak ada dorongan keluarga mungkin
saya masih kerja di sana.
Kamu loh wis bisa bikin sendiri. Kenapa
ndak nyoba bikin sendiri? Di Trenggalek
loh belum ada Mbak Bia. Terus aku
akhirnya nyoba itu sebenarnya ada Mbak
Bia tapi belum banyak yang kenal, belum
banyak yang tahu gitu. Jadi akhirnya ya
udah tak nyoba untuk bisnis ini. Pertama
itu dulu cuma pegang uang Rp500.000
soalnya udah ada kayak alatnya alat
sederhana di dapur. Terus kalau opennya
udah ada open kecil itu jadi Rp500.000
Ibu itu dibikin untuk beli kayak
bahannya yang untuk satu kali produksi
maksudnya itu diputar terf diputar gitu
langsung jadi ya langsung jadi soalnya
kan sekolahnya kan sudah lulus tapi itu
ada beberapa kali kita revisi juga
soalnya tepungnya yang dipakai di sana
sama yang di sini itu beda. Soalnya di
sini enggak ada tepung yang sama kayak
yang di Pasuruan. Masih terbatas, Mas,
bahan bakunya. Bahkan, Teman-teman itu
masih belanja di Pasuruan kadang. Kayak
coklat, kayak tepung-tepung itu di
Trenggalek belum ada. Ambilnya di
Pasuruan. Pasuran sana sekalian sambang
sama guru.
Keluar 2016. 2016 akhir waktu itu usia
21 lulus SMA langsung ke sana 3 tahun
kerja terus pulang bikin sendiri. Ya,
kalau saya kan termasuknya bukan yang
pertama membikin sendiri gitu. Itu aku
termasuk yang ketiga lulusan Pasuran itu
pertama berdiri di Kediri. Jadi
responnya mendukunglah gitu.
Alhamdulillah. Jadi ini aku ndak sio-so
ngajari awakmu ngene ngene ngene. Dulu
kan saya kan di sana kan bisa dikatakan
sopir ya lebih ke antar-antar gitu.
sopir tiap hari antar ke sekolah tiap
hari itu ada aja wejangan itu harus
menikah sama ini terus harus lebih maju
dari ini gitu loh. Udah kayak orang tua
sendiri. Kalau di sana dulu kerja tiap
hari pasti dikasih wjangan. Soalnya saya
tuh hampir tiap hari sama beliau antar
jemput sekolah kan saya. Habis antar
jebut sekolah saya antar produk gitu
diajarin gimana caranya marketingnya.
Jadi sampai sekarang pun sering tanya
gimana kabarnya di sini anak-anak gimana
usahanya gimana. Jadi kita itu sama
teman-teman ya juga sering ke sana
baiklah kayak keluarga. Waktu itu kan
lulus SMA itu sebelum ke sana itu
kebetulan kan ada tetangga yang udah di
sana terus minta tolong gitu untuk kalau
di sana ada lowongan aku mau kerja di
sana daripada nganggur di rumah. Soalnya
bukan nganggur sih di rumah udah
keliling cari kerja tapi memang cari
kerja kan juga susah di sana itu enggak
sekedar kerja Mas lebih ditata lah sama
beliau itu untuk ke depannya gitu loh.
Pasti kan punya cita-cita sendiri
besoknya mau apa gitu. Kalau istri saya
di sana itu lebih condong ke bagian
ngurusin semuanya, keuangan, pesanan
gitu. Kalau saya lebih ke pengiriman ya,
distribusi sama kekeluargaannya gitu.
Ngurusin semua kekeluargaannya gitu, Bu.
Sekarang Mas Fandi usia berapa, Bu? Mau
31. Mau 31 sama seumuran? Seumuran. Iya.
Susah ya, Mas ya? Soalnya kadang kan
juga beda pemikiran. Tapi nanti kalau
sudah beda pemikiran harus mengalah
salah satunya istri yang kebanyakan
mengalah desain ke kerdus ini enggak
cocok apik ini tapi gini mengalah lebih
mengalah lah istri saya terus kalau ada
tatanan di tempat produksi ini kurang
ini kurang gini lebih cenung ke saya sih
untuk mengatur kayak gitu tetap
rembukanlah tetap harus ada yang ngalah
salah satunya pokoknya
ya.
[Musik]
Kalau bakia itu kan kulit sama isi kan
banyak isinya. Heeh. Jadi untuk rasanya
harus yang paling utama itu kan isinya,
Mas. Kalau isinya itu salah sedikit gitu
udah pengaruh besar di rasanya sih
semua. Soalnya itu semua tergantung sama
isinya. Kalau kulitnya itu cuma untuk
misalkan kalau yang basah gitu ya kan
kalau yang basah itu kulitnya itu cuma
untuk pembungkusnya terus rasanya juga
cuma menambahkan rasa manis dikit gitu
kalau yang basah. Heeh. Misal kacang
hijau kalau kurang bersih nyucinya itu
pengaruh. Heeh. Pengaruh banget atau
kekurangan air sampai gosong gitu itu
susah. Soalnya pakai vanili menambahkan
beberapa kan kalau sampai gosong
ditambah daun pandan juga. Jadi yang
paling pengaruh besar itu isi rasa lain
itu kita prosesnya sendiri ya. Misalkan
rasa coklat gitu ya. Itu kan udah kayak
gini ukurannya. Gak boleh kurang, gak
boleh lebih. Hasilnya nanti harus kayak
gini. Jadi kalau kacang hijau masih bisa
sih kayak kurang matang kacangnya gitu
kan masih bisa. Kalau yang rasa lain
selalu harus maksimal. Kalau di sini kan
namanya bakpia basah. Kalau di sana
bakpia patok. itu sebenarnya sama cuma
pengolahan isinya yang beda. Kalau dari
segi kulit atau bahan-bahannya yang
dipakai hampir untuk kulitnya itu sama
sama dan juga harganya juga beda.
Harganya juga berbeda jauh. Beda jauh.
Iya. Kalau di sana kan itu Mas lebih
terkenal dengan kota wisatanya. Makanya
berani jual mahal. Kalau di sini belum
berani jual mahal. Sebenarnya kita ndak
ambil untung banyak-banyak, Mas. Soalnya
kita kan juga di daerah pedesaan. kita
ambil untung dikit aja yang penting kita
jalan, kita dapat pesanan yang banyak.
Kalau kita patok harga mahal nanti
karena kita di desa mungkin peminatnya
kurang jadi kita gak bisa untuk produksi
banyak. Persentasi untung itu berapa Mas
dari harga Rp10.000 tadi kurang lebih
1.000. Iya 1.000 aja satu kotak. Iya itu
dinaikkan sedikit aja udah kok mundak
kok mundak gitu. Padahal banyak yang
bilang itu murah loh dibandingkan ke
Jogja atau dibandingkan ke tempat lain.
Ini murah banget dengan rasa yang
seperti itu. Soalnya kan ee apa
masyarakat kan juga gak sama ya juga
masyarakat ada yang kelas rendah, ada
masyarakat yang kelas tinggi, yang ke
menengah ke bawah. Jadi kita lebih
menekankan untuk yang menengah ke bawah.
Jadi yang kelas tinggi pun bisa beli
karena murah. Jadi yang bawah bisa
merasakan juga.
menentukan harga bakti jenengan itu
pertimbangannya apa saja, Mas?
Pertimbangan dilihat dari harga bahan
baku. Kalau harga bahan baku kan naik
turun, kita ambil dari harga tertinggi.
Harga tertinggi berapa? Nanti kita
hitung HPP-nya. Misal kita mau menaikkan
harga, kita enggak cuma kita sendiri
yang menaikkan harga, kita rembukan
bareng sama alumni Pasuruan tadi
beberapa perusahaan itu kita kumpulkan
dulu untuk persetujuan kenaikan harga
gitu. Jadi kita enggak berdiri sendiri
kalau masalah harga kita rembukan dulu.
Kadang juga ada yang setuju. Kalau
enggak ada yang setuju ya wis jalan
sendiri aja. Tapi sejauh ini sih lebih
setuju sih. Banyak yang setuju banyak
yang setuju juga. Kompaklah. Kacang
cukupes itu sebenarnya banyak kan
mereknya Mas. Tapi kita ambilnya itu
yang merek Gioksan soalnya udah pasti
itu bagus barangnya. Iya. Heeh. Impor.
Kalau yang merek-merek kayak kadang
enggak ada mereknya itu, itu juga udah
kupas produk lokal. Cuma apa? Kurang
mengembang kalau di Heeh. Kurang
mengembang gitu loh. Kalau pas musim
manten gitu kan ramai. Itu bisa sampai
5.000 kotak bisa. Tapi sampai malam
nanti produksinya.
Kalau sampai sore misalnya normal jam
kerja 8 jam gitu ya berarti itu 7
sekitar R.000. Rp20.000 itu bisa 1 hari
kerja full 8 jam kerja. Kalau lebih dari
itu berarti nanti kita kerjakan sampai
malam. Karyawannya 24 keluar tiga
tinggal 21. keluar masuk orang karyawan
kan juga banyak pasti kan pemikirannya
juga berbeda-beda juga jadi kita tinggal
rungokne ae lah dirungokone opo sih kan
setiap orang juga punya masalahnya
masing-masing kadang juga ada yang
dibawa sampai kerja nanti kalau kerja
kadang kan enggak m ya cukup dibilangi
ae dituturi karo dirungokne gimana
caranya biar tetap bisa sportif kerjanya
nya
dari kardus, Mas. Ada pesanan kayak dari
Tulungagung kan ada kardus kan ya dari
Malang, dari Lumajang itu telepon itu
aku baru dapat kardus ini, Mas. Kok
enak? Saya coba terus akhirnya kirim ke
Malang ke Lumajang gitu. R5.000 kalau
untuk isi 10 semua berarti kali Rp10.000
50. Iya begitu nanti dapat cashback.
Cashback itu kalau yang pesan banyak.
Iya ada cashback. Cashback itu 1.000 ke
bawah lah. 500 500 kotak dapat cashback
Rp100.000 terus dapat bonus juga. Betul
produknya waktu itu keliling titipkan ke
sekolah ya. Dititipkan ke toko, ke
sekolah terus aku sendiri keliling kayak
sales gitu bawa sepeda. Jadi bawa sepeda
bawa keranjang di belakang isinya bak
Pia. Waktu itu masih dikemasi pakai
mika, belum ada gini kardus, masih mika.
Jadi keliling gitu dari rumah ke rumah,
dari sekolah terus nanti istirahat di
pom bensin. Malah laku, Mas. Di pom
bensin malah laku banyak di situ.
Istirahat di situ. Daripada di rumah ke
rumah belum tentu ada yang beli, Mas.
Terus habis itu dari WA. Itu cuma dari
WA. Iya, tapi cuma WA aja, Mas. waktu
itu kayak Facebook, Instagram itu belum
belum bikin yang pertama dulu itu waktu
itu kayaknya 2 bulan 2 bulan habis
setelah buka itu aku punya satu karyawan
tetangga dekat waktu itu ada pesanan
sekitar 200 kotak kalau gak salah itu
pesanan yang ke berapa gitu loh yang
sebelumnya mungkin cuma sekitar 50 70
itu aku kerjakan sendiri nah pas itu kan
200 kotak 200 kotak itu pas bak pia yang
kering Aku dulu belum bikin Mbak Pia
yang basah. Pas waktu itu aku mikir
gini, "Woh ndak mungkin iki aku pakai
open kecil ndak bakal selesai.
Pesenannya kan banyak. Jadi pas waktu
itu aku beli tambahan open yang gede itu
yang ada gasnya itu uangnya itu pinjam
dulu.
Pinjam ke adik aku, pinjam ke tetangga
yang tadi yang ku rekrut pertama itu
sama uangku sendiri. Jadi uang ngumpul
dari tiga orang itu beli tambahan open.
2 bulan itu tadi aku tambah open sama
karyawan satu. Pas aku buka usaha, aku
tuh punya prinsip, Mas, pokoknya jangan
hutang, gitu. Jadi dari mulai aku usaha
uang Rp500.000 jalan sampai COVID itu
aku pakai uang sendiri. Setelah COVID
beberapa bulan gitu ndak kerja, libur
gak ada pesanan. Aku cuma bikin sedikit
kalau misalkan nanti ada orang beli
paling buat cemilan gitu loh. Berdoa aja
lah moga-moga ada yang beli gitu. Terus
aku juga pas waktu COVID itu nyoba-nyoba
bikin variasi baru bolen ini. Bolen.
Jadi sebelum COVID itu berarti belum ada
bolen? Belum ada bolen karena ada COVID
bolen terlahir He. Terus juga pas waktu
itu musibah juga Mas.
Itu dari ibu kecelakaan.
Masku juga kecelakaan juga. Nah, terus
aku sendiri pas itu hamil karena pas
hamil mungkin karena kok banyak banget
sih cobaanku. Jadi aku sendiri enggak
bisa akhirnya lahir secara normal. Jadi
aku juga operasi duluan ibu ibu
kecelakaan jatuh patah tulang. Terus ini
suami pas anu mau jenguk dia nabrak juga
nabrakkan juga gitu. Jadi, ya Allah kok
gini banget, Ya Allah kok aku dicoba
kayak gini. Wes corona ndak kerja ndak
ada pemasukan
mau lahiran juga. Mau lahiran juga ya
Allah jadi banyak banget uang yang harus
keluar akhirnya. Terus COVIDnya udah
agak udah meredup itu loh. Udah
boleh-boleh itu erek mau buka usaha
lagi. Enggak ada kita enggak ada
pegangan uang. Sebaliknya apa mulai
optimis lagi waktu COVID ya. Maaf ya,
banyaknya orang yang meninggal kan. Itu
kan buat tahlilan-talilan gitu. 1000
hari, 100 hari itu banyak banget itu
pesanan itu. Alhamdulillah ada hikmahnya
corona ya. Kita harus berdoa aja lah ya.
Ini berarti ujianku di sini, ujianku di
titik ini ya. Harus bersabar terus kita
harus numbuhkan lagi nih. Gak mungkin
kan kita stop usahanya. Setelah COVID
itu kan banyak waktu luang kan itu
dibuat bikin produk baru yaitu Bolen itu
tadi. Alhamdulillah jalan ramai juga
sekarang. Alhamdulillah ada berkahnya
juga COVID habis bolen terus ada juga
pai susu baru makin berani bikin bikin
variasi baru rasa-rasa juga donat juga
onde-unde juga bolu jadi lebih banyaklah
variannya enggak cuma bapi aja sebelum
COVID kan bapi aja sih omsetnya setnya
kalau pas banyak itu bisa 150
lebih barang juga bisa tapi kalau pas
sepi Mas kan ada masa-masa itu. Kalau
orang Jawa kan lihat bulannya, bulan
bagus untuk banyak manten itu juga
banyak pesanan. Kalau pas bulannya kayak
bulang suro itu kan gak ada orang
mantenan itu sepi itu paling cuma
sekitar 70. Iya, kita
[Musik]
kalau saya itu ke teman atau ke karyawan
kayak biasa aja sih lebih enggak ada
perbedaan saya itu kayak aku loh bosmu
gitu loh. Karyawanku enggak cuman lebih
merangkul aja. Jadi kebanyakan di sini
tuh banyak orang yang bilang itu
karyawan itu kayak teman, lebih asik,
lebih kekeluargaannya itu dapat di sini
tuh. Jadi enggak ada pembedaan kalau
saya loh ya. Terus agak pernah sih kaget
aja ya. Dulu cuma karyawan dulu pernah
sampai dilempar kompor sama bos gitu.
Dulu kan dulu pernah saya itu nyalain
keran di kamar mandi enggak dimatiin.
Jadi akhirnya itu tumpah-tumpah. Terus
anak cowok itu dikumpulkan di ruang
produksi. Siapa yang sampai kebanjiran
gini? Siapa ngaku? Saya saya Bu di antem
kompor sama pernah dulu terus pernah
dulu juga waktu produksi itu selesainya
jam 10. Jam 10.00 malam lanjut kirim ke
Malang. Itu waktu malam minggu. Malam
minggu di Malang itu kan macet kan belum
ada tol kan. Terus itu enggak boleh
ngajak teman atau jadi ngelamun sama
nunggu macet itu kerasa banget si itu
kalau sekarang diingat-ingat itu aku
tahu ngene y sekarang alhamdulillah
sudah kayak gini ada umroh pengin banget
umrah belum tercapai insyaallah tahun
depanlah amin amin dari dulu si itu
pengin banget berdua sama istri enggak
pengin ada yang mengganggu lah ya
berangkat berdua lah kalau udah pernah
nonton konser ke mana aja berdua sama
istri nonton Korea nonton band Indonesia
sudah pernah sih berdoa. Kalau ke Makkah
kan belum pernah sih. Itu sing pengin
banget. Aku ada cita-cita yang lain,
Mas. Oh, iya. Heeh. Kalau aku sih
cita-citanya tentang usaha sih
sebenarnya.
Aku pengin banget usaha iki bisa lebih
maju. Misalkan kita punya toko di tempat
yang ramai kayak di tempat wisata. Jadi
kita punya toko di situ, pusat oleh-oleh
kayak gitu, Mas. Aku pengin banget yang
kayak gitu. Itu cita-citaku sih sekarang
ini. Selain yang ini tadi
[Musik]
Sawang Sinawang. Sawang sinawang. Kalau
orang Jawa bilang orang luar cuma tahu
luarnya aja, Mas. Heeh. Enaknya aja.
Mereka enggak tahu kita guling-kumingnya
kayak apa. Kalau dulu kan dari merintis
usaha itu kan udah ketahuan ya, Mas ya.
Kerjain sendiri, belanja juga sendiri,
keliling juga sendiri.
sampai mungkin yang dititip-titipkan
toko itu banyak yang kembali, Mas.
Soalnya kan kalau gini kan gak tahan
lama. Jadi kadang ada yang kembali ke
saya waktu aku tengok di toko. Oh,
ternyata udah gak layak ini jamur tak
bawa pulang lagi diganti yang baru. Jadi
ya di situ dijalanin aja walaupun kita
rugi tapi ini emang prosesnya gitu.
Prosesnya aku sampai sini tuh enggak
semena-mena langsung kayak gini gitu.
Ada prosesnya tuh. Mereka aja yang
enggak tahu kalau dibilang loh enak yo
pesenannya okeh. Wis duwe omah gede.
Loh. Tapi mereka kan enggak tahu. Kita
kan prosesnya juga lama gitu untuk
mencapai itu semua. Ujian banyak
godaannya. Godaan hobi kayak dulu waktu
muda sering nonton konser terus enggak
pernah beli apa yang dipinginkannya yang
dulu-dulu lah kayak mainan kan dulu kan.
Terus teman-teman dulu bisa nonton
konser di mana aja, bisa beli merchandes
apa aja gitu. Itu aja sihnya. Jadi
karena sekarang udah ada uangnya bisa
lihat konsel, bisa beli jendesnya yang
dulu belum pernah kebeli. Sekarang kalau
enggak originalnya enggak enggak mau.
Dulu yang KW-KW, sekarang sudah aman
sih. Soalnya ada hobi baru sekarang
mancing, Mas.
Iya. Serius? Dia lebih ke Korea. Kalau
saya ke Pop dulu kalau band kesukaan
konser di sini berangkat Mas Ponorogo,
Malang berangkat, Jakarta berangkat.
Kalau ke Jakarta sama ini dulu loh ya
konser ke mana aja berangkat apalagi
sebelum nikah. Stopnya ya setelah
menikah tapi setelah menikah tetap jalan
lihat konser cuman agak kurangi. Tapi
sekarang udah enggak sama sekali. Lebih
di rumah aja.
[Musik]
Orang yang paling berpangun dalam usaha.
Kalau dulu itu yang paling banget
memberi semangat almarhum itu almarhum
Bapak sekarang sudah meninggal. Jadi
dulu itu pertama kali jalanin usaha kan
belum menikah. Jadi waktu itu kan cuma
sama aku, adik, sama bapak sama kakak
itu yang paling membari support.
Pokoknya dalam hal apapun itu Bapak.
Bapak itu dalam keadaan sakit pun dulu
kalau aku lagi ndak mood nih, ndak mood
kerja. Nanti dia yang kerja, dia yang
jalan sendiri. Wis berarti nanti aku
lihatnya wis aku malih melok-melok
kerjo. Jadi kalau ada orang beli terus
akunya masih repot nih bapakku yang
diajak ngobrol dulu, ngobrol santai
gitu. Nah, terus yang aku tangkap tuh
dari Bapak itu kok bisa ya sesabar itu
dengan caranya dia melayani orang dengan
kondisi sakit. Orang itu kan cuma
sekedar tamu yang mau pesan. Dengan
orang baru bisa ceramah itu berarti wah
ini harus aku tirukan. Ini dulu itu
meninggalnya 1 tahun setelah menikah.
Jadi setelah 1 tahun menikah aduh aku
pegangan siapa ini? Ya pegangan suamiku.
Mau gak mau pegangan suamiku ya.
Walaupun kita masih dalam tahap-tahap
belajar waktu itu belajar berbisnis ya
wis belajar berbisnis bareng-bareng.
gimana cara melayani orang yang baik,
pokoke opo sing dulu bapakku bilang tak
turuti semuanya dulu. Soalnya juga orang
tua yang di rumah pas aku awal produksi
cuma bapak. Ibu dulu kan kerja jadi TKW
di Malaysia. Terus setelah 1 tahun 1
tahun setelah produksi sudah mulai
banyak pesanan mau menikah langsung
pulang pulang. Dulu kerja di Malaysia
juga karena untuk kehidupan anak-anaknya
gitu. Dulu a mungkin kalau ibuku ndak
kerja di Malaysia, aku ndak bakal
sekolah SMA. Kunci suksesnya pertama
jangan merubah rasa. Merubah rasa itu
yang paling utama ya Mas ya. Terus jujur
menangani langganya harus dengan baik,
harus ramah lah. Harus ramah. Terus
kunci suksesnya juga ada di karyawan,
Mas. Mereka tak anggap dulurku dewe.
Heeh. Ya itu yang paling penting ya itu.
Heeh. Komunikasinya mungkin sih
komunikasinya lebih komunikasi lebih ke
enak aja. Lebih ke bercanda tapi ada
batasnya. Soalnya aku dulu kan juga
pernah Mas jadi karyawan. Nah. Aku
penginnya kalau jadi karyawan itu
diginiin gitu dulu. Jadi setelah aku
bisa kayak gini ya aku gituin karyawanku
sesuai apainanku dulu. Enak yo kerja
neng kene bos. Penakan bos penak.
Asiklah. Enjoy lah. Kayak kata
orang-orang, "Oh, kerjo koy dolanan gitu
neng kene."
[Musik]
Memang tahap terpentingnya itu karyawan,
Mas. Kalau enggak ada karyawan, gak
mungkin aku bisa produksi sebanyak ini
juga. Kalau orang-orang ini kan
sebenarnya mereka kayak ibu rumah
tangga. Mereka cuma untuk tambahan
penghasilan di rumah. Jadi, kan
sebenarnya udah ada orang yang nyari
tapi mereka pengin ae kerja gitu. Dan
yang paling penting jangan lupakan
sejarah lah. Dulu awalnya kayak gimana,
siapa gurunya, yang ngajarin siapa itu
yang dulu aku juga pernah diposisi
posisi ter bukan dari keluarga mampuah.
Jadi piye rasane dadi wong ngono iku aku
udah ngerti lho Mas. Ndak mungkin iki
aku koy semena-mena ngo neng karyawan.
Aku untuk beli polpen aja itu susah,
Mas. Untuk sekolah itu. Heeh. Belum
mesti ada beras laku. Kalau orang bilang
masa kecil itu masa kecil terburuk lah,
Mas. Kan empat bersaudara. Aku nomor
tiga. Nomor satu itu putus sekolah
karena memang gak ada biaya. Jadi dia
memutuskan untuk kerja. Nah, yang nomor
dua itu lulus SMP dia menikah. Heeh.
Nah, iki aku ndak mau iki aku mosok aku
lulus SMP. Aku mek guru nganggur lulus
SMP, aku pengin kuliah, aku pengin
kerja. Itu sebenarnya aku cita-citaku
dulu seperti itu. Tapi karena memang
dari keluarga yang gak mampu ya untuk
beli buku aja kayaknya susah. Kalau
zaman sekolah dulu sisa buku itu tak
ambil lagi yang masih kosong-kosong tak
jadiin satu, Mas, buat belajar lagi
besoknya di semester yang baru. Polpen
itu polpen yang ngisi ulang. Kadang itu
kalau memang sudah habis sekolah, kalau
memang belum ada uang untuk beli ya
pakai potelot itu pensil atau pinjam
teman kalau memang pas ulangan. Kalau
orang sekitar yang udah tahu aku dari
dulu gimana aku masa kecilnya, gimana
aku jungker waliknya ya mereka tahu
memang tahu benar. Jadi memang gak mudah
gitu perjalanan hidupnya. Heeh. Kalau
sekarang bisa kayak gini ya bersyukur
ya. Alhamdulillah. Mungkin ini dari yang
dulu aku bukan siapa-siapa. aku jadi
gini, aku harus lebih bisa bersyukur,
lebih bisa bersedekah gitu loh, Mas.
Jadi kan sama orang-orang ini wis apa
adanya. Jadi kalau kerja gini kalau
misalnya rodok piye panas ngono ayo yo
tumbas opo
buat cemilan buat apa panas-panas yuk
tumbas es. Tumbas es dihitung wongi piro
tumbas es ngono masoten
bisa ditanyakan langsung ke karyawannya
lah. Heeh. Gimana rasanya? Heeh. Dan
nanti kalau aku perlakukan mereka dengan
buruk, lek mereka gak mau kerja lagi,
aku mau kerjakan dengan siapa? Jadi
mereka itu yang paling utama. Mendingan
kalau pas gajian kalau aku belum ada
uang, yo wis tak kasihkan uang itu untuk
mereka semua. Mendingan aku gak pegang
uang gitu. Dulu kan memang orang yang
enggak punya. Jadi kalau pas wayah
gajian gitu, Mas ya. Duh, uangnya
ngepres ini tapi aku seik duwe
tanggungan ini. Yo wis harus pokoknya
mereka harus dilunasin dulu. Soalnya
mereka di rumah juga punya tanggungan
sendiri. Jadi daripada mereka yang
keteran, aku aja yang gak pegang uang
gitu, Mas. Saya Fandi dan samping saya
Mbak Siti istri saya. Kami owner dari
Mbak Pia Ahmad Family, alamat Dusun
Suren, Kecamatan PKAL Kabupaten
Trenggalek. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh.
Sudah ini Mas aman. Sampun.
Alamat Suren RT 31 RW03.
Eh, Kal.
Saya Fandi dan Mbak Siti. Kok Mbak Siti
istri saya.
Sekian terima kasih
pisan guys. Pisan guys.