Terlilit Hutang di 33 Titik Senilai Ratusan Juta, Lunas Dalam Setahun Berkat Ini...
JERIpjsb4L8 • 2025-06-10
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bank Titil datang satu, pinjamlah 500,
bank detail kedua pinjamlah R1 juta.
Gitu loh sampai numpuk sekian. Saya
tanya nominal berapa? Ada berapa juta?
Kalau total ya kisaran berapa ya? 100
lebih lah. 100 lebih. Cuman titiknya itu
gak satu titik yaitu ada 33 atau 36
titik perang. Banyak gitu ya. Malah aku
urip ngene iki enggak betah duwe duit
tapi uteku hancur. Ada saran. Coba
ngerti agama lah. Ngajio. Bodohnya saya
namanya ustaz tak panggil yo pak ngopi
yo dengannya gitu. C masih ingat saya
awal-awal ini yo ngopi yo. Mas ngapunten
jawab seperti itu. Yuk kita ketemuan di
sini aja ngobrol santai nggih. Ngono.
Posomen iki
ibaratnya teman seneng bareng ayo dolan
bareng. Itu di saat saya jatuh itu
enggak ada satu orang pun yang datang.
Aku percuma duit ak enggak iso nyenengne
anak bojo. Heeh. Mereka ndak mau loh
uang ternyata kan gitu. Waktu yang
mereka waktu yang butuh di kita dicari
saya putuskan ganti nomor HP. Sing
ngubungi aku berarti orang yang butuh
saya. Sing gak menghubungi saya berarti
orang itu wis enggak nganggap teman lah.
Dari kontak kalau enggak salah itu 1.00
selama 1 bulan cuma 30 yang hubungi
hubungi. Oke gak apa-apa ini mungkin
orang terpilih buat saya.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh, sahabat pecah telur.
Kembali lagi ke segmen Guayang bersama
tamu spesial kita, Mas Dian. Masalam
warahmatullahi wabarakatuh.
Warahmatullah. Enggak usah salam, Mas.
Salam aku. Salam kan? Iya, Pak. Oh, iya
berarti jawab salam saya. Oh, iya.
Betul, betul, betul. Siap, Mas Dian. Ini
lebih
apa ya sekarang? Berarti ada dua profesi
kan, Mas? Seorang peternak juga. Iya.
seorang yang berprofesi sebagai
ee apa namanya? Fotografer juga. Iya.
Berarti disebutnya apa kalau Mas Dian
memperkenalkan diri gitu biasanya? Ya
kalau saya makan diri kemungkinan ee
untuk sekarang ya tetap fotografer.
Ohografer.
Jadi orang kalau saya dipernakkan masih
awam mungkin ya karena masih pemula.
Jadi kalau orang mengenal saya tuh di
fotografer. Saya fotografer. Kalau
income yang paling gede dari mana, Mas?
income paling gede ya selama ini ya
fotografer. Oh fotografer itu ya? Iya.
Siap. Ya. Untuk bisa mencukupi keluarga
ya fotografer dulu. Hm. Kalau untuk
pernakan kan investasi ya. Tadi gak
terlalu memikiran ke situ. Jadi karena
hobi menjadi rezeki kan. H weh. Dari
hobi menjadi rezeki. Diksinya pas Mas.
Iya. Jadi, jadi ini passion-nya di situ
ya, hobinya di situ. Hobi situ. Terus
saya dengar juga sampai ke luar negeri
itu ya, ke dulu ya maksudnya dulu itu
memang pasar saya memang ee mengambil
pasar menengah ke atas. Jadi, gak saya
enggak enggak menerima jobd di situ yang
menengah ke bawah. Jadi ee banyakan itu
memang kalangan menengah ke atas ya.
Kalau dibilang dapat rezeki kemarin ya
pernah di Singapura, Malaysia, Cina,
Hongkong ee Maau itu ya itulah
kalau yang di Indonesia ya Lombok, ee
Makassar, Ternate, terus di Bali,
Jakarta lah. Padahal dari Tulungagung
loh ya. Dari Tul dari sesama orang
Tulungagung. Iya ya. Bangga ya, Mas ya?
Pasti dari desa bisa juga ke
internasional gitu loh. Intinya kita mau
mau apa ya bekerja keras lah dalam arti
kita konsekuen bahwa ini harus lebih
baik daripada yang lain gitu loh. Tapi
masih enggak boleh kita meninggikan diri
kan di langit masih ada langit gitu loh.
Heeh. Tapi tapi apa Mas? Banyak juga
masa-masa kelam yang Mas Dian ini punya
bahkan saya dengar-dengar kok punya 30
lebih titik hutang ya, Mas ya. Eh,
jadi itu jadi orang yang gak mengerti
menjadi mengerti. Jadi gitu loh yang
menurut saya jalani selama hidup ini.
Jadi
kita ada rezeki lebih, ada harta lebih,
tapi kita gak mengerti tujuan itu. Wah,
ini menarik. Ah, ini spil-spil dulu.
Nanti kita lebih lengkap kita akan ulas
yang lebih detail. Nah, siapa sih
sebenarnya ini awalnya? Apakah senang
difotografi atau memang seperti apa gitu
awalnya, Mas Dian? Kalau awal-awal itu
saya cuma jadi juru pembawa tas kamera
ya. Oh, di studio gitu, Mas. Jadi ee
Heeh. Dulu di Surabaya awal-awal kan
saya kerja di Surabaya. Jadi dalam arti
saya tuh cuman melihat saya gak punya
basic sama sekali di fotografi sama
sekali sekolah aja lulusan mesin. Oh
background-nya malah pendidikannya
mesin. Mesin. Kalau diajak bubut ngelas
kita membuat apa rangka besi saya bisa.
Oke. Lah kok tiba-tiba diminta menjadi
tukang bawakan tas fotografi. Jadi ee
salah satu teman-teman pengusaha itu
ngajak saya main ke Surabaya. H terus
ditawari loh dia tuh fotografer kan
gitu.
Kamu mau ikut ya ke Bali? Aku ada
pribadi ke sana. Heeh. Oh, siap kan gitu
kan diajak jalan. Siap.
Dalam arti ya pengin tahu mana sih Bali
kan gitu. Itu pertama-tama ke Bali kalau
enggak salah tahun 2007.
Di situ ya cuman bawa tas. Mereka kerja
mereka kerja itu bawa tas. Luculah
pokoknya
bawa tas. Oke enggak apa-apa ini
pengalaman.
Dari situ saya difoto sama orang-orang
fotografer-fotografer difoto kok asik ya
pegang kamera asik ya pengaplikasikannya
asik-asik tapi enggak ngerti dari warna
apa-apa gak paham cuman jepret kok enak
ya jepret enak ya jepret gitu oh jadi
malah pertama kali megang kamer pas
momen it iya momen-momen it tadi nol di
situ saya akhirnya pulanglah ke Tulung
Agung kan pulang Tulung Agung bekerja ya
bekerja kasar Masih masih di bawah nguli
w kassar lah. Heeh. Di situ saya mencari
uang untuk sekolah. Hmm. Karena senang
tadi ya? Karena senang tadi saya pengin
belajar sekolah fotografi. Oke. Oke.
Jadi saya bekerja kasar itu nabung buat
sekolah fotografi. Oke. Yang satu di
Jakarta itu kan gitu. Sekolahnya di
mana, Mas? Masutkan kah? Enggak apa-apa.
Heeh. Enggak apa-apaak. Iya. Kalau saya
di Jakarta kan di ee Dawis Dawis School.
Oke. Itu masternya
di situ saya ambil basic sama ke
profesional jadi dua sesi kan. Tapi ya
itu uang saya pribadi. Saya kerja kasar.
Heeh. Entah itu saya nyopel entah saya
nguli batu penting saya dapat uang buat
biaya sekolah. He. Tapi waktu sekolah
itu apakah sudah berpikiran nanti akan
jadi seorang fotografi atau memang
sekedar aku senang ya aku sekolah gak
apa-apa mengorbankan uang begitu Mas.
Apaska itu saya cuman merasakan saya
kerja kasar tapi kurang. Oke. Buat dia
hidup. Saya kerja kayak gini pagi,
siang, malam, seminggu habis. Heeh. Dan
notab saya anak yang ee orang tua saya
gak orang tua gak mampu. Gak mampulah.
Jadi dari SMP sampai SMK itu saya kerja
sendiri untuk mencari biaya sendiri kan
gitu. Oh. Tapi bisa ngumpulin dari uang
situ, Mas? Masih bisa ngumpulin untuk
sekolah? Bisa.
Berapa lama ngumpulin waktu itu, Mas? Ee
ee 2007 sampai 2008
dapat uang tuh 2000
ee a mau awal
awal 2008. Awal 2008 saya berangkat.
Berangkat berapa sekolah waktu itu, Mas?
basic kalau enggak salah dulu itu 22. Oh
22 juta. R2 juta. Iya. Sekarang aja
masih terasa mahal. Sekarang loh ini ya.
Apalagi tahun segitu. Heeh. Heeh. Heeh.
Apalagi yang profesional. Yang
profesional lebih mahal. Ee cuma 6 bulan
1 minggu itu dua kali kelas. Itu berapa
kalau yang profesional? Kalau salah 3
sampai 40-an kali. Oh. Anunya
nominalnya. Nominalnya tadi berapa? 30
sampai 40. 30 sampai 40. Wah, 30 sampai
juta ini yang basic tadi. Du selama 6
bulan. 6 bulan juga. Terus seminggu
berapa kali, Mas, tadi? Dua kali. Dua
kali pertemuan. Berarti PP Jakarta
Tulungagung, Jakarta Tulung. Ee saya
nge-cos di sana. Nekos ngecos. Nah,
selama di sana ee untuk keperluan biaya
hidup hidup itu saya diajak salah satu
studio juga. Oh. sudah bekerja di sana
itu ya. Pasarnya juga wedding Chines.
Oke.
Jadi teorinya dapat langsung praktik.
Prakk. Oh. Oh. Jadinya tetap bisa jalan,
bisa meng-cover gitu loh. Dan intinya
saya tuh enggak mau melibatkan orang tua
gitu loh. Itu belum nikah juga kan pada
waktu itu awal-awal itu kan. Terus mari
gitu di sana selesai. Saya kerja di
Jakarta sebentar 6 bulan atau 10 bulan
gitu.
Tapi enggak di situ saya mendapatkan
hasil yang luar biasa bekerja fotografer
di Jakarta itu ya dari income yang
tinggi. Heeh. Apalagi habis bekerja
kasar tadi. Iya. Di sana sama sekali gak
apa. Wah ternyata gini toh dapat uang
yang besar kayak gitu. Kaget ya Mas ya.
Mungkin ya kaget dari anak desa ke
kabupaten eh kabupaten ke ibu kota dapat
uang gede. Kaget pasti lihat ya. Kaget.
Terus digaji sama studio yang saya kerja
itu
luar biasa. Ibaratnya saya buat
senang-senang di sana itu mampu gitu
loh. H. Itu sama sekali ya saya ndak
ndak mengerti kok bisa segitunya
sampean. Ee secara secara hasilnya apa
apanya? Hasilnya sampai berapa, Mas?
Kalau boleh tahu? Sekali jobd disk.
Kalau wedding di sana kan kisaran 12
sampai Rp15 juta sekali itu Mas. Sekali.
Kali WD. Wih, waktu itu langsung pegang
kamera. Langsung pegang kamera tuh
ramai-ramainya kamera Canon yang ee
kayak
yang besarnya yang apa ya? Lupa.
Kayak 5D yang series Mac 3 gitu loh. Itu
yang awal-awal dulu kan. Sekarang kan
sekarang berbagam semua kan. Berarti
meskipun masih belajar itu sudah
dipegangin kamera. Iya. Sama yang punya.
Tapi saya bawa kamera sendiri juga. Oh,
pegang kamera sendiri juga. Pegang
kamera sendiri juga kok bisa sudah dapat
kepercayaan padahal masih belajar. Ada
tesnya enggak sih, Mas? Masuk ada
rekomendasi. Oke. Dari dari salah satu
teman Surabaya itu merekomendasikan,
"Kamu sekolah di sana, ini loh studi
yang bisa kamu praktik kerja gitu loh."
He he. Jadi, teman saya Surabaya itu
alhamdulillah sampai sekarang ya saya
anggap guru besar saya gitu. yang
bimbing mengarahkan yang mengarahkan
cuma yang saya tuh juga senang
fotografi, Mas ya. Cuma sekedar hobi sih
memang ee tadi kan meskipun masih
belajar tapi sudah pegang kamera. Iya.
Terus ngerasa bedanya antara sudah ee
hasil belajar sama sebelum itu tetap
kerasa bedanya enggak? Jadi ee ini ya
dari teman Surabaya itu kan saya
diajak-ajak kan. Heeh. Sudah punya
basicnya. sudah ada basicnya di situ.
Cuman saya pengin pribadi sekolah itu
pengin bedah apa sih kamera itu dalamnya
gitu loh. Oke. Ternyata di Jakarta juga
gitu. Ternyata sekolah itu bedah kamera.
Apa yang saya inginkan tuh dibedah di
situ. Gak sekedar jepret. Berarti
benar-benar kamera dibedah gitu Mas. Iya
pasti di ini loh kameranya. Jadi ini
fungsinya apa? Ben itu hancur itu nanti
ya. Hancur makanya. Dan itu apa yang
saya inginkan terjawab. Oh. Oh. Alah,
ternyata ini fungsinya buat ini
fungsinya buat itu. Oh. Jadi seandainya
ada orang bertanya pun saya bisa
menjawab seperti itu. Hm. Kalau
pelajaran yang paling berkesan dulu itu
sempat kepikiran ikut ee kelasnya Pak
Darwis itu juga, tapi kok mesti di
Jakarta, tapi kok segitu. He. Yang kalau
menurut Mas Dian, pelajaran yang
berkesan selama sekolah di sana, selama
ikut di studio itu yang keingat sekarang
apa, Mas?
Paling
paling gak enak juga sih. Heeh. Di
antara semua murid saya yang paling
kulit hitam.
Iya ya. Kelasnya menengah ke atas gitu.
Yang lainnya kulitnya putih. Putih
semua.
Tapi terus emang ada perbedaan perlakuan
waktu selama menurut saya kalau
awal-awal ada. Hm. He. Tapi kita kalau
sudah sharing hunting sudah mereka
membaur gitu loh. Oke. Terus di mereka
tahu saya bekerja di studio yang ee juga
ternama di Jakarta itu. Heeh. Akhirnya
mereka percaya sama saya. Oh. Dan sampai
sekarang komunikasi jika saya ada event
di sana mereka welcome. Oh. Sampai
sekarang seandainya saya membutuhkan
saya pun berangkat ke Jakarta juga. He.
Berarti rata-rata yang ngambil kelas itu
pun akhirnya buka usaha di bidang itu
juga atau ada yang cuma sekedar hobi
juga? Ada. Banyak yang sekedar hobi. Oh,
banyak sekalahan. Karena basic tadi
mungkin basic tadi.
Jadi karena orang-orang yang berduit ya,
yang sekolah di situ pengin
pengin-pengin aja pengin bisa gitu loh.
Kalau saya pribadi pengin ini nanti buat
kerja kerja nanti siapapun dapat kontrak
kerja jika ada basic yang besar
insyaallah dapatnya kan juga besar juga
tuh. Iya iya. Iya. Tapi kita cuman
otodidak
ilmunya dari mana toh? Dari ini sampai
tua nanti ilmunya tetap itu aja. Iya.
Heeh. Betul. Betul. Enggak apalagi
enggak bisa ngikuti ee apa tren kamera
yang sekarang perkembangannya luar biasa
banget. Copet ya, Mas? Cepat banget. H
lah memang ee
saya pikir selama ini
perkembangannya itu enggak terlalu yang
penting skill-nya. Kalau jadi yang saya
kira selama ini katanya kan orang di
balik kameranya daripada kameranya itu
sendiri. Kalau menurut Mas Dian dengan
bedanya kamera teknologi sekarang
dibandingnya waktu awal-awal Mas Dian
belajar He. Yang kerasa beda apa, Mas?
Sekarang kan pasti jelas beda ya dari
kamar yang tahun-tahun dulu. Heeh.
Sampai sekarang itu ee gimana kita kalau
dulu itu benar-benar skill yang tarung.
Oke. Skill yang diadu karena apa?
Kapasitas kamera cuman sak gitu
kemampuannya. Heeh. Heeh. Mau dipaksa
apa jika kita gak punya skill, kita gak
punya settingan lighting, enggak
memahami tentang dunia lighting? Heeh.
Hambar foto itu cuma kayak kamera HP.
Oke. Tapi sekarang dengan kemajuan
teknik kamera sekarang dengan resolusi
yang cukup besar
itu kita dimudahkan. He he he. Mayoritas
sekarang foto itu memuduhkan cahaya yang
sedikit malah enggak enggak apa-apa. Oh
iya. Kalau dulu harus harus banyak
banyak lampu gitu loh. Karena apa?
Resolusinya tinggi otomatis tingkat
noise-nya pun juga kecil. Iya. I iya
iya. Iya. Ada dulu tuh ada pernah
pertanyaan tahun
2012 pada waktu ada acara workshop di
Hotel Seraton Surabaya. Heeh. Ada satu
fotografer dari Kediri tanya
itu yang ngisi kalau enggak salah siapa
ya? Ee materinya dari pematerinya dari
Jakarta juga fotografer ternama juga. Ee
Kak
ada enggak saran foto gdak noise? Heeh.
Heeh. Coba sayaamp jawab apa? Wah, ini
teman-teman supaya moto gak noise. Jawab
apa? Cara foto enggak noise? Eh, tahun
2012 ditambah lampu yang lebih gede.
Nah, ditambah lampu kalau sampean. Iya,
harus lightingnya bagus sampean, Mas.
Biar noise enggak gede. Enggak noise?
Biar enggak noise. Jawabannya simpel.
Dijual ganti kamera.
Iya, ya. kamera sekarang meskipun
ISO-nya tinggiak gak noise i dijawab
gitu loh ternyata di tahun sekarang
terjawab semua itu semua kamera dengan
resolusi tinggi semua
iya kan dulu itu kalau enggak
benar-benar nguasai ilmu kamera dengan
kapasitas kamera kayak gitu enggak ada
light tinggal enggak jadi foto it
berarti sekarang kalau sebagai
fotografer sendiri
makin menantang dong Mas karena lebih
banyak orang nganggap dirinya bisa tanpa
harus jago banget masalah setting ISO
dan segala macam ee noise-nya enggak
ada. Enggak ada. Jadi kalau kita yang
yang membedakan sekarang itu hasil
sekarang bukan kalau saya pribadi bukan
di kamera tapi niat kita. Niat kita mau
membuat foto itu asal atau lebih bagus
dari kemampuan lensa tersebut. Hm.
Kalau kita cuman asal ya kita foto bisa
sendiri jebret jebret dengan lensa yang
ee diafragma besar otomatis kan sudah
enggak membutuhkan cahaya besar kan.
Heeh. Heeh. Jadi otomatis kan jika kita
motot simpel oh gini-gini aja mudah. Mau
ke mana akhir situ mudah. Heeh. Tapi
jika kita ada niat foto itu dibuat
bagus, ya tetap kita harus bawa letting
meskipun esa kita bagus di di apa di
sharing-nya dapat, highlight-nya dapat
meskipun kita di outdoor. Ee itu ya yang
bakal susah kalau belajarnya otodidak.
Benar. Kalau enggak tahu tekniknya dari
pencahayaan itu ada banyak yang belum
biasa nguasai. Karena apa? Jika difoto
cuman pakai lensa ya otomatis view-nya
hilang. Heeh. Heeh. Heeh. Maaf kita ke
Bromo private pakai lensa yang
besar-besar gunungnya rata Iya.
Kita sebagai customer sampean komplain
gak? H aku pat ke Bromo lah. Mana
bomonya bok? Iya sih enggak kelihatan
malahan.
Kalau kita pakai lensa lebar kita butuh
cahaya kan tetap butuh cahaya meskipun
ee kamera itu speknya tinggi. Heeh. Nah
makanya dari teknik dan basic lightning
pun harus tetap dicari. Oke. Kalau kita
ngomongin rasa, selera atau ee namanya
seni kan juga di situ ada selera rasa,
si karya yang kreatornya itu ya, Mas ya.
Kalau peran rasa itu buat Mas Dian
gimana sebagai fotografer? Peran rasa
kita harus tetap ee menurut saya
kejujuran kalau itu kejujuran. Heeh.
Karena kita harus membawa customer itu
jangan dengan kemampuan kita yang ada.
Gimana itu maksudnya, Mas? Itu baru ada
keluar rasa. Contoh gini, "Mas, aku mau
foto ke sana ya, gimana budget berapa?"
Heeh. Wis, budgetnya murah ae. Iya. Tapi
dia wtunnya asal dengan kemampuan densa
tersebut. Oke. Tanpa ada ee saran dan ee
referensi yang bisa membuat foto itu
lebih bagus. Heeh. Heeh. Heeh. Bisa aja
kita foto ke Bromo ya? Iya ke Bromo
katakanlah. Tapi dia moto flat cuman
gini-gini aja. I itu kan dia cuman
bekerja tapi gak ada rasa. Kalau ada
rasa pasti ada teknik. Hm. Supaya foto
kelihatan Bromo hidup gimana kita supaya
klien itu beda antara HP dengan kamera.
Itu yang menurut saya itu berat. Jika
customer membayar kita mahal-mahal
hasilnya yang cuman biasa. Hmm. Hm. Itu
tadi ya mending kan kita bawa HP aja
foto pakai iPhone bagus kalau enggak ada
apa teknik loh ya. Iya iya diminta foto
sama guide-nya fotoin gitu aja kan sudah
iya sama aja gak usah manggil fotografer
ke sana ajak ke sana. Iya i ya. Itu yang
saya rasakan jika kita niat kita mau ee
reaksi rekom sharing bareng-bareng
akhirnya ketemu kok. Heeh. Heeh. Heeh.
Mereka nyaman lah. Suatu kenyamanan
customer itu jika kita kasihkan fotonya
mereka posting.
Oh puas ya. Mereka kepuasan di situ. Oh
iya ya. Diakui bangga gitu ya. Diakui he
di situ. Karena banyak teman-teman juga
foto jadi
gak di apa-apa.
Siap Mas. Kalau yang itu Mas kok bisa
sampai ke luar negeri itu gimana
ceritanya itu Mas?
Ee dulu belum ada Instagram, belum ada
Facebook. Heeh. Tahun berapa itu, Mas?
2009. Oh, sangat dulu sekali ya. Belum
ada. Cuman mainnya kalau enggak salah
itu cuman website ya. Kita buka akun,
buka apa? Blog. Jadi orang kita
mengisikan foto-foto kita di situ. Nanti
ada yang apa itu namanya? Web. Nge-web
itu kan kita komunikasi. Ternyata di
situ pasar yang luar biasa dulu itu. Hm.
H dari orang Cina datang ke Indonesia,
orang Singorampur datang ke Indonesia.
Oh, jadi dokumentasiin mereka selama di
sini gitu, Mas, ya. Oh, plus mereka juga
ada wedding. Kalau orang-orang mereka
itu budget sekian katakanlah dulu saya
itu sekali take di Bali gitu aja ya, itu
budget R5 juta. Heeh. Itu aja
saya bawa tim lengkap, mampu. Heeh. Tapi
mereka murah menurut mereka. Murah.
Menurut mereka murah. Hm.
itu masih bas lagi kita. Oke. Karena
kita apa ya kerja semaksimal mungkin,
kita sehati sama mereka
itu masih ee mereka nganggapnya murah
dalam saya pikir R juta foto murah oleh
motor, oleh barang-barang kayak gitu kan
segitu. Tapi kan buat buat Mas Dian ya
alhamdulillah murah gitu.
itu sudah buat sendiri maksudnya sudah
di Tulungagung apa masih join sama yang
di Jakarta itu kerja atau bikin sendiri
gitu maksudnya itu itu saya join
bagi hasil sama orang Tulungagung ee
buka di Surabaya dan Tulungagung gitu.
Oke. Kayak ada investornya begitu. Ada
investornya. Jadi ya job Surabaya ke
Surabaya, job Jakarta ke Jakarta.
akhirnya memutuskan tuh mau membuat
studio di Surabaya banyak pesaing. Oh
iya iya akhirnya memutuskan untuk buka
di Tulungagung itu enggak salah 2009.
2009 ya 2009 eh aku masih itu masih baru
masuk kuliah
masih sudah ber sudah sampai mana
kliennya sudah mana-mana kita kuliah
jadi secara umur berarti kayaknya lebih
senior daripada kita ya Mas betul ya
saya sudah umur 39 ini. Oh ya betul.
Enggak kejak jauh sih ya. Masih milenial
lah kita. Masih milenial
kalau maksudnya ya. Kalau saya jauh sih.
Oh iya iya. Heeh. Kalau aku ya.
Oh gitu. Itu 2009 yang di Tulungagung.
Di Tulungagung itu ya. Akhirnya transit
saya di ee apa ya? Ya ikut kerjalah P
berti meskipun itu bagi hasil ee bagi
akhirnya kerja gitu loh. Berarti yang di
Tulungagung pun itu kerja sama ya bukan
buka sendiri ya? Bukan. Belum. belum.
Masih apa? Masih kerja sama. Masih kerja
sama. Itu sampai sekarang kah? Sudah
saya putus itu
2016 akhir. 2016 akhir terakhir. Iya.
Berarti selama itu dari 2009 sampai
2016 itu bareng. Bareng. Ee ee e kenapa
keputus, Mas?
Kalau cerita bisa panjang dan kali lebar
ini nanti ini singkatnya aja. Singkatnya
singkatnya aja ya. Saya pengin ee sudah
capek. H sudah capek ada tekanan. Hm.
Sudah capek ee hidup itu kok gini terus.
Saya nak merasakan bahwa banyak uang
merasakan kebahagiaan.
Sama sekali enggak merasakan.
Heeh. Kenapa kok sampai segitunya?
Karena di situ selama saya berjalan di
situ semua tadi
saya sama sekali gak mengenal agama.
Apa salat? Heeh. Apa apa sih kita apa ee
sodqah apa kita kumpul-kumpul ngaji itu
apa? Enggak paham. Heeh. Di situlah
letak titik saya.
Jadi di situ saya memutuskan untuk
resign dan saya mau menjalani hidup
normal. I mau menjalani hidup keluarga
yang normal gitu loh. Enggak terlalu
diposir sama namanya uang. Hm. Dulu
memang enggak normal ya, Mas ya. Lah
mati kalau jiwa normal tapi ee mindset
masih ee masih ke dunia mencari dunia.
yang pemicu gelisahnya waktu itu kerasa
kalau itu hampa itu gara-gara kepikiran
apa, Mas? Iya, kalau saya kan jarang di
rumah gitu. Itu sudah berkeluarga?
Sudah. Oh, sudah. Dan saya nikah juga
2009 itu. Oke. Nikah 2009. Dari awal
nikah tapi sibuk ee ikut ibu mertua 2
tahun 2009 akhirnya memutuskan 2011 saya
membuat rumah sendiri. 2011. 2011
sendiri. Di situlah rumah tangga saya.
H. Iya kan? Saya enggak ada orang tua,
enggak ada cuman anak istri. Tapi anak
istri saya tinggalin terus. Hm. Yang di
mana saya di luar itu sangat kacau.
Kita bermain
dunia malam sampai narkoba sampai wis
black market. Heeh. Gitu loh. Akhirnya
memutuskan 2016 itu untuk resign saya
pengin mengawali hidup normal. He heeh.
Heeh. Heeh. Heeh. Iya. Dan teruslah
air mata itu keluar. Karena kenapa?
Di saat saya jatuh.
Heeh. teman-teman
yang dulunya saya angkat
sama sekali enggak ada yang datang.
Hmm. Itu pada di meskipun masih
sama-sama di Tulungagung. Sama-sama di
Tulungagung.
Ibaratnya teman senang bareng. Ayo dolan
bareng. itu di saat saya jatuh itu
enggak ada satu orang pun yang datang.
Hm. Sampai saya menangis.
Aku percuma duit ak cuman
enggak iso nyenengne anak bojo. Heeh.
Mereka gak mau loh uang ternyata kan
gitu. Iya. Waktu yang mereka waktu yang
butuh di kita dicari. Waktu yang mereka
cari. Heeh. Itu jatuhnya karena apa,
Mas? Berarti ya?
Ya, saya cuman terketuk aja.
ini sudah waktunya saya untuk berubah.
Heeh. Jadi 201617 saya buka usaha foto
itu sendiri ee freelance. Saya main
pelan-pelan, pelan-pelan sambil membuka
usaha gitu loh. Buka usaha
ketemulah usaha membuat jajan. Jajan.
Iya. Jajan. Agak jauh berarti ini ya.
Fotografi jalan. Terus habis itu nambah
berarti ya nambah-nambah jajan. tadi
sempat mempunyai karyawan 10 sampai 16
orang saya banyak ya Mas itu jajan apa,
Mas? Jajan tradisional Tulungagung
keletek singkong itu. Oh, keletek jajan
keripik singkong, Mas. Yang bulat-bulet.
Itu sempat balan, kalau engak salah itu
ee apa
ee untuk sampingan gitu. Jadi yang 10
sampai 15 itu malah untuk sampingan, Mas
Yan. Heeh. Yang utamanya dari tetap
freelance fotografy. Iya. Freeland itu
ada foto ini. Oh. Buat kegiatan ibu-ibu
di rumah kan gitu. Heeh. Heeh. Heeh. Itu
belum kurang sik kurang. Saya menambah
investasi lagi ternak ayam. Oke. Ternak
ayam telur atau ayam daging. Ayam kayak
jober itu. Iya iya iya. Itu ayam job
1 tahun kalah. Berapa populasinya, Mas
waktu itu? Dulu 1500. Sampai 1500 ya? H.
Skala enggak mau nyerah.
Nyoba ayam lagi belum? Ikan. Ikan.
Banyak yang dicoba ya. Iya kan? Ikan
lele gitu kan. Akhirnya kesempatan itu
saya bisa ngirim
ee ke Semarang, Jakarta, Pacitan gitu.
Lele-lele yang besar maksudnya buat buat
kapasitas pemancing. Oke. Itu
didulungkan banyak dulu ada teman-teman
karena hobi saya juga mancing kan. Saya
kirim kalah lagi.
Hm. Kalahnya harganya ya. Harganya
kurang tepat gitu ya. Menurut saya bukan
masalah harga. Kalau untung untung semua
itu dirangkum jebret
modal
modal. Heeh. Kenapa itu? Selain modal
uang pribadi saya, teman saya yang
investasi itu kerja sama sama saya juga
masih mau kerja sama saya itu mereka
pakai uang perbankan. Hmm. Dari hutang
bank. Hutang bank. H. Dan itu tanpa
pengaturan saya. Oh. Tanya uang pribadi.
Iya. Karena saya pakai uang pribadi,
tapi dia pakai uang bank. Berarti
seandainya ngomong waktu itu dari awal
enggak uang pribadi pasti enggak jalan
itu. Kalau enggak diterima gak mau saya
enggak mau. Gak mau. Padahal itu dari
awal itu dari yang baru awal mulai kan,
Mas. Awal mulai sudah hancur kayak gitu.
Karena dia enggak ngomong jadi hasil
uangnya itu kan saya pasrahkan kan. He.
Tak pasrahne awakmu duitnya cekelan aku
mar repot er kerjaanku kan gitu. Iya.
Ternyata dia buat ngangsur.
Oh. Buat mereka ngopi, buat mereka
nyanyi yang lain. Heeh. Heeh. He he.
Heeh. Ya Allah. Iki udu piye toh? Aku
kabeh usaha dijegali kayak gini gitu
loh. Iya. Iya. Iya. Mau lari ke mana
kita di situ? Aduh jatuh lagi. Berarti
yang kayak pabrik eh pabrik yang Snack
tadi juga. Snack kan dikelola istri. Oh.
Oh. Itu itu jalan itu sendiri. Pokoknya
yang bareng sama orang lain itu yang
saya yang jalan gitu. itu yang hancur,
yang jatuh. Kalau yang katanya sampai
utang punya 30 titik itu yang usaha apa,
Mas? Nah, di situ saya ceritakan lagi.
Saya sibuk dengan dunia pekerjaan saya.
Heeh. Dari saya fotografi, ngurusi ayam,
ngurusi ikan, yang lain itu tanpa
pengatuan saya, istri di rumah itu kan
butuh modal. Iya. Untuk gaji karyawan,
untuk ini, untuk itu, untuk biaya anak.
Saya gak pernah ngasih uang karena uang
saya tak putarkan. pemikiran saya uang
jajan itu cukup buat
ee operasional kan gitu. Ternyata istri
saya tergiurlah sama
ibu-ibu tetangga. Oh, berarti bukan bank
dulu ibu belum sik ngumpul sama ibu-ibu.
Nah, di situ ada namanya bank titil
datang satu pinjamlah 500
bank titil kedua pinjamlah R1 juta gitu
loh ceritanya seperti itu. Jadi sampai
numpuk sekian. Nah, sudah di saat jatuh
saya tanya nominal berapa? Ada berapa
juta?
dicatatlah. Cet c set cet cadet. Ini
berapa, Mas, sampai totalnya?
Kalau total ya kisaran berapa ya? 100
lebih lah. 100 lebih. Cuman titiknya itu
gak satu titik itu ada 33 atau 36 titik
perbanyak gitu ya. Malah kecil-kecil
tapi nerik gitu. R juta, R juta, R juta
gitu loh. Hm.
ambil napas panjang gitu kan. Masa
segitu banyak dipendam sama istri
sendiri ya, Mas ya? Iya. Karena saya ee
ya itu saya bilang t saya gak ngerti
agama.
Oh itu masih belum masih belum tersadar
belum belum sadar proses yang tadi ya
yang enggak ngasih dan sebagainya ya.
Jadi ndak ndak saya gak ngerti apa sih
namanya tanggung jawab. Heeh. Heeh.
Gimana sih sosok seorang suami yang
benar bagi keluarga? Heeh.
Jadi gak benar sama sekali saya itu kan.
Terus akhirnya saya
ee datanglah ke om saya sendiri.
Aku urip ngene iki enggak betah
duwe duit tapi uteku hancur gitu. Ada
saran coba ngerti agama lah. Ngajio.
Ngaji dulu biar paham. Terus gitu
belajar salat sing rajin. Belajar salat
belajar gak apa-apa. Kamu dari orang gak
paham, ngaji akan paham, salatmu akan
terbangun pondasi lagi kan gitu kan.
Ya, saya dengan gak sadarnya siapa sih
gelem aku mempelajari salat, siapa sing
aku ngaji gitu kan. Mulai dari mana?
Mulai dari mana kan gitu. Usia juga
sudah enggak muda lagi. Sudah segitu.
Iya kan? Hari gini siapa sing mau
ngajari? Engih. Engih. Enggih. Akhirnya
saya datanglah ke teman si ini bendera
ini bendera kan beda bendera semua kan.
Oh gaklah gaklah. Gak cocok gak cocok.
Datang lagi Om. Sopo sing gelem ngajari
aku salat ngajak aku ngaji? Hm. Tak
parani saiki
dan bodohnya saya namanya ustaz
tak panggil yo pak ngopi yo dengan
kansernya gitu. Masih ingat saya ini
awal-awal ini yo ngopi y mas ngapunten
jawab seperti itu. Yuk kita ketemuan di
sini aja ngobrol santai nggih. Posomen
iki
ini dari rekomendasi om saya tadi. Iya.
Akhirnya datangilah ngobrol itu. Oh
gayane ya selengekan gitu ya. Kan gak
paham gitu loh. Iya iya iya. Antara kita
sopan dengan adab kan beda ya. Iya iya
iya. Ternyata di sini saya membutuhkan
adab yang sangat kuat. Meskipun saya
pintar, meskipun saya bodoh, tapi di
sini saya pakai adab aja insyaallah
sudah
dapatlah ccle itu. Nah, di situ akhirnya
usaha ayam jatuh buang. Wis ini kelingan
mantan saya ikhlaskan. Uang bawa teman,
ikan juga gitu. Bawa teman ikhlas. Wies
bawa teman saya juga enggak kembali. Oh,
mobil saya kebawanya karena dipinjam
saya pasrahkan sik urusono sik ya. Saya
tak ngurusi masalah ini dulu. Bablas.
Oke, enggak apa-apa ikhlas gitu. Wis
saya mau tutup buku. Memang tutup buku
di tahun
ee
201920. Heeh. Saya putuskan ganti nomor
HP. Oh, benar-benar mulai lembaran baru.
Mulai dari nol. Mulai dari nol iki nanti
saya gini, "Sing ngubungi aku berarti
orang yang butuh saya. Sing gak
menghubungi saya berarti orang itu wis
enggak nganggap teman lah." Hm. Hm. He
dari kontak kalau enggak salah itu 1.500
tak ganti nomor set selama 1 bulan cuma
30 yang hubungi yang hubungi hubungi.
Oke gak apa-apa ini mungkin orang
terpilih buat saya dan alhamdulillah itu
benar-benar orang itu mau kerja gitu loh
Mas ngasih jawab ngasih jawab kan gitu
sambil saya menata diri gitu loh. Heeh.
Heeh. Kalau ngomongin tentang belajar
sama ustaz tadi ya Mas. Iya. Berarti kan
salah satu yang ngubah hidup itu juga
ustaz tersebut beliau itu ya, Mas. Heeh.
Yang buat orang yang pengin mulai
belajar agama tapi enggak tahu dari
mana. Kalau jenengan waktu itu dimulai
sama ustaz itu dari belajar apa dulu,
Mas? Ngaji. Ngaji itu belajar Quran,
baca Quran atau bukan? Jadi ikut kajian
ya. Heeh. Ikut kajian itu cuman suruh
dengarkan gitu loh aja ibaratnya kita
ikut seminar gitu ya. di situ tujuan
beliau mungkin
ee suruh istikamahnya saya H jam sekian
hari ini sampai sekian jam sekian ikut
ngaji ya
coba tapi awal-awal berat
apalagi saya sujud berat banget sujud
itu kerasa berat ya Mas ya berat
beratnya kenap Mas orang yang gak pernah
salat akan salat
h orang yang gak pernah ngaji ikut dunia
malam ngaj jadi ngaj
langsung cut kan. Heeh. Heeh. Heeh. Tapi
itu saya lalui. Makanya kalau
mencarikannya saya bisa nangis nanti.
Itu saya cut lillahi taala. Saya mau
berubah. Saya mau enggak mau ke dunia
ini. Saya mau dunia ini. H. Gitu loh.
Berat banget kan? He. Siapa sih yang
mampu
meninggalkan apa yang dia punya?
Yang dia punya nama kah jabatan tapi dia
meng dari nol. H heeh. Iya. I
mengikhlaskan itu loh berat banget.
Heeh. Di situ saya ngikut ngaji
pelan-pelan, pelan-pelan. Dapatlah,
dapatlah, dapatlah. Oh, ternyata. Oh,
ternyata sekarang jika enggak ketemu
mereka saya malah kangen.
Hm. Teman-teman yang di kajian itu, ya.
Iya. Karena apa? Mereka tuh
alhamdulillah, ayo salat.
Terdengar azan, ayo salat kan gitu. Itu
bagi saya luar biasa.
Karena di rumah pribadi kalau dulu-dulu
itu terdengar adan ah macak tur jam itu
kan salat zuhur salat ngasar jam i tapi
teman-teman alhamdulillah itu terdengar
azan langsung kita ke manapun di manapun
stop kegiatan
menurut saya ini loh baru teman kan gitu
i enggak ada teman yang saya dulu tuh
enggak Ada teman-teman dulu itu Radan
lanjut jam s entek kan gitu kan. Iya iya
iya iya. Sekarang dibalik di situ saya
opo mogle ora akhirat? Saya merasa Mas
kalau tadi berarti beres ya kayak hutang
dan sebagainya itu aman berarti
terkendali sudah beres. Proses
penyelesaian utang perbankan itu saya
tempus selama 11 bulan
dengan cara
bebas riba. Heeh. Jadi saya terlalu
menyampaikan ke pihak perbankan, apapun
merek bank itu saya memelun sesuai
kemampuan saya asalkan bunga itu hilang.
He. Saya ditekan, diancam, diamuk ya.
Cuman saya duduk diam
hadapi dengan senyum mereka.
Heeh. Saya ada uang ada uang ada buat
menyelesaikan utang tapi akadnya dirubah
dulu.
Semua perbankan saya hadapi seperti itu.
Dari yang tubuh kecil, tubuh besar,
ngancam, teriak-teriak.
Saya hadapi semua nih. Itu ada yang
bimbing juga enggak, Mas? Kalau
teman-teman ada yang ikut komunitas ee
misalnya apa ya waktu itu? Jadi di situ
intinya di komunitas itu di awal-awalnya
ada komunitas banyak kan sekarang
komunitas santi riba itu kan banyak ya.
Saya sharing ke A, sharing ke B, terus
sharing yang sama yang punya hutang
besar-besar juga. yang lagi berproses.
Ternyata mereka juga pengin merasakan
bebas dari hutang itu. Pengin sama
teman-teman yang punya hutang ya. Iya.
Akhirnya sama salah satu ustaz juga
diajari ee tempo-temponya nanti
jawabannya seperti apa kan gitu. Bisa
ada contohnya enggak, Mas? Karena saya
yakin juga banyak nih yang sekarang ee
lagi terjebak itu tapi enggak tahu nih
ngawalinya gimana. Nah, gini ada bisa
di-sharing enggak? Bisa ya, aku sharing
ee pengalaman ini ya. Heeh.
Ternyata banyak ee kejadian orang itu
gak percaya sama ilmu rezeki. Satu
poinnya situ. Enggak percaya sama ilmu
rezeki. Oke. Terus I jadi dia cuman
gini, aku lek apa enggak nyur utang iki
aku ndak utang aku ndak semangan. Oke.
Banyak sih seperti itu. Heeh. Heeh.
Mindset mereka itu yang paling fatal opo
oleh Bang, kok dibayar pokoknya aja
hungan hilang.
Saya dulu diremehkan sama tetangga
gara-gara bank si Mekar itu. Wah, tak
jebut apa ya. Bank si Mekar anyar I.
Jadi terus ee kan mereka itu kan grup
ya, grup. Oh, otomatis kalau di sini gak
bisa bayar ditekan sama teman-temannya.
Di sini gak bisa mayar ditekan sama
teman-temannya. Oke. Heeh. Heeh. Heeh.
Heeh. Heeh. Terus. Terus. Jadi seorang
ibu-ibu normal jika ditekan sama sesama
lingkungan pasti kan minder. Iya. Di
situlah munculnya gali lubang tutup
lubang di situ. Hm. Penyebabnya adalah
tekanan dari lingkungan tadi. Heeh.
Heeh. Heeh. Lah
ini resep saya ya. Saya jawab ke mereka,
"Urusanku bukan sama tetangga. Urusanku
sama bank." He. Mbuh engko tak bayar
pokoke tok. Mbok tak angsus tak kuatku
itu urusan saya sama perbankan. Heeh.
Ibu-ibu saya gitu kan. H saya gak ada
urusan dengan mereka. Sampan urusan lek
duwe hutang yo urusan karo bank. Saya
sudah wis ibarat emosi, saya buat emosi.
Tapi saya semua dengan itu saya gak ada
emosi sama sekali.
Hm. Karena sudah jelas-jelas dari awal
saya yang salah. Heeh. He. Bukan istri
yang salah. Saya yang salah. Karena
karena mengabaikan gitu ya. Mengabaikan.
Uang sepele, uang belanja itu kan
mengabaikan ya. Heeh. Heeh. Itu yang
saya yang salah. Akhirnya saya harus
bertanggung jawab semua itu kan. Dari
proses itu saya selesaikan step by step
yang ee enggak ada bunganya. Contoh
utang keluarga
kakak itu dulu itu dulu saya selesaikan
bank nomor dua. Hm. Itu mulai saya
selesai yang bank itu yang merubah
akadnya boleh dibayar pokoknya aja ya.
Saya bayar. Oke. Satu demi satu. Satu
demi satu. Heeh. Heeh. Sumbernya dari
fotografi. Fotografi. Hm. He. Tapi pada
waktu nyaruh hutang itu bukan dari situ
semua. Enggak tahu kenapa. Ee malah
enggak tahu dari mana. Bukan dari foto.
Dari mana berarti ya? Enggak tahu gitu.
Enggak tahu. Tiba-tiba uang ini loh buat
bayar. Uang buat bayar. H. Yang bedain
apa, Mas? Yang sebelumnya itu uang
kayaknya susah ini gagal, ini gagal.
Nyoba bisnis ini gagal jatuh. Terus di
titik yang sekarang yang tadi itu malah
enggak tahu ini sumber dari mana. Ada
ada menurut jenengan yang membedakan
terus ada titik balik itu gimana, Mas?
Kembali lagi ke niat saya satu. Heeh.
Niat saya memang menyelesaikan masalah
keluarga ini ya. Masud keluarga saya
selesaikan biar bebas hutang. Oke,
poinnya seperti itu. Terus saya pengin
ee benar-benar bebas dari dosa. Karena
pada waktu ngaji
dosa riba mengerikan. Mengerikan banget.
Saya selalu l menyampaikan ke
petugas-petugas itu, ayo Pak sampeyan
tak bantu aku sampin bantu aku. Seperti
itu. Janganlah aku nyar utang iki tapi
doso. Aku nyarut utang iki ampri berkah.
sama-sama berkahi. Banyak
petugas-petugas bank yang juga nangis,
Mas. H aku kerja di hutang bank, Mas.
Heeh. Aku yang duwe hutang. Aku paham
sebenarnya hutang bank itu riba itu dosa
besar itu paham. Tapi ng aku metu anak
bojoku piye ya seperti itu. He. Mereka
sebenarnya terjerumus juga di situ. Iya.
Heeh. Heeh. Akhirnya ya saya sampaikan
niat saya ini Pak pun lek sampean oke
sampaikan ke pimpinan
saya mau bayar tapi pokoknya aja itu
bertahap
gak langsung dijawab itu gak heeh heeh
berarti dalam waktu 11 bulan
alhamdulillah beres ya Mas ya singkat
ceritanya alhamdulillah 33
lebih lah itu selesai 11 bulan amazing
loh Mas saya pikir gini itu uang dari
mana saya ndak tahu jawabnya nya. Heeh.
Heeh. Saya juga gak pinjam siapapun.
Heeh. Heeh. Heeh. Tapi di saat ada
jawaban dari perbankan, "Oke, Mas ACC
biar pokoknya aja sudah salat pagi
bangun tidur salat salat subuh loh ada
uang masuk bayar selesai." Itu dari mana
yang habis subuh uang masuk? Itu contoh
kecilnya dari mana? Ternyata
ee banyak orang-orang yang dulu hutang
sama saya. Oh. Saya kan gak enggak
ngenggap toh, Ustaz. I lagi 1 2 3 enggak
gelemb sudah ee selesai. Heeh. Heeh.
Heeh. Selesai gitu. Tapi terjawab di
saat membutuhkan datang juga mereka.
Loh. Makanya namanya ilmu rezeki kan di
situ ya. Enggak tahu kenapa kok di saat
saya menyelesaikan utang perbank
masuklah rezeki-rezeki itu. Mas. Terus
kok ee bisa ke domba itu gimana
ceritanya Mas? Saya bingung membuang
limbah. Hm. dari usaha saya yang jajan
itu kan kan berawal dari singkong juga
toh otomatis
kulit singkong kok banyak gini keriwel
banyak gini kan gitu iya dulu itu ya
cuman beli satu dua ekor aja indukan ya
cuman enggak enggak terlalu niat kan
cuman dari limbah bruk limbah kasih
makan limbah kasih makan gitu he terus
itu kok beranak hmm beranak dua anak
beranak dua okelah suka akhirnya kok
meskipun ada kemati Tian ada apa
terenyuh gitu loh. Ternyata
iki kok enak gitu loh. Kok senang terus
punya tanggung jawab yang besar. Contoh
tanggung jawab yang besar itu gimana? Di
saat saya lelah Heeh. sore wajib ke
kandang. Hmm. Di saat saya pagi setelah
nyiapin bahan-bahan
untuk produksi saya wajib ke kandang.
Wong saya pikir ini aja loh kok ngasih
makan domba ter wajib. Kenapa yang wajib
saya gak lakukan? Oh. Oh. Akhirnya ke
situ ya ngarahnya ya? Ngarahnya. Kalau
saya lihat tadi kan malah jadi beban
sebenarnya ya kan kayak kalau dilihat
secara umum beban. Heeh. Karena di saat
enggak kena ditinggal gitu loh. Iya.
Enggak bisa ditinggal jauh. Engak bisa
ditinggal jauh. Heeh. Heeh. Heeh. Heeh.
Nah, kalau
peran berternak di jalan cerita
hijrahnya Mas Dian ini gimana, Mas?
Jadi di situ awal-awal kan memang saya
niatkan
harus ini harus itu masih dua dulu itu
akhirnya saya tambah sama indukan kalau
enggak salah 8 ekor saya tambah 8 ekor
tapi saya niati untuk
ee apa breeding dalam untuk budidaya
untuk perkembang biakan gitu di situ
saya mulai bingung kandang kan Heeh
akhirnya satu kandang saya buat di bukan
rumah saya tapi di rumah adik saya buat
di situ
6 bulan pertama dari 10 indukan itu
beranak semua. Oke. Jadi dari itu sih
beranak semua ya. Iya kan? Padahal
belinya posisi memang bunting. Posisi
bunting berarti 6 bulan kan beranak
semua. Ramai. Heeh.
Wah ramai ini. Heeh. Ramai itu ketisnya
baik atau buruk? Ya
baik berarti. Senang senang apa degdegan
apa? Sen senang apa bikin ribut gitu?
Satu. Senang dulu. Senang dulu. Ramai
senang. Wah, makin banyak. He berarti
asetku bertambah.
Oke. Tambah 2 bulan lingkungan gak
nyaman.
Heeh. Karena kandang itu kan di belakang
rumah dan dekat repet-repet rumah tangga
gitu. Bau gitu ya, Mas. Gak bau. Suara.
Suara. Oh, akhirnya mengganggu suara.
Nah, karena saya datang telat pagi
besinya jam 0.00, jam 7. Kasih makan
saya datang jam 09.00 sore mestinya jam
. jam . Saya datang jam .00 karena
saking sibuknya kerjaan itu kan. He.
Akhirnya tetangga
suruh
bongkar. Bongkar. Oh, sampai suruh
bongkar ya. Oke. Nangis. Heeh. Ini mau
saya taruh di mana? Heeh. Heeh. Ini
domba sakini banyaknya tahu di mana?
Heeh. Mungkin gak teman yang mau
ngopeni. Heeh. Kan gitu kan dengan waktu
yang cepat dan saya butuh berusaha buat
kandang. Heeh.
Dan alhamdulillah ada teman yang bantu.
Wis tak kek kandangku dulu. Oh
alhamdulillah saya boyonglah semuanya di
situ. Waktu itu 20 berarti ya. 20-an. 20
2 lebih karena ada pejantan juga toh di
situ. Akhirnya teman itu bantu. Sebagian
dibawa ke sana semua
nangis. Tapi hati ini. Ya Allah saya
niat baik aja kok masih ada yang gak
suka. He. Saya berbuat baik aja kalau
masih ada yang gak suka. Heeh. Satu
kandang gitu. Heeh. Heeh. Heeh. Itu
belum selesai. Domba-domba yang saya
mitrakan ke teman dikembalikan ke saya
lagi. Oh. Ditaruh rumah saya yang Tulung
Agung kan. Akhirnya depan rumah tuh mbak
mbek mbak mbek. Ya Allah ini ada ekor
itu dikembalikan. Kenapa? Enggak tahu
kenapa tiba-tiba nak dikembalikan. Oh
disetor gitu aja ya. Iya. Tapi gak gelem
ngopeni lah gitu.
Gimana? Kita belum siap loh ya. Belum
siap kandang belum ini aja belum selesai
ketambahan ini gitu loh. Iya. Mau tidak
tahu di mana domba ini kan? Oh berarti
yang bukan yang 20 itu ya yang selain
itu ya? Bukan yang lain itu kan
memitrakan. Oh memitrakan juga. Niat
saya baik. Oh Pak gelem ngopeni tak
tukoki wedus yo. Engok bagi hasil cempe
ae enggak apao. Oke. Saya belikan 5 ekor
7 ekor seperti itu. Oh akhirnya itu juga
dikembalikan kembalikan langsung dengan
waktu yang sama. Ah, itu jadi selama 2
hari saya mikir itu depan rumah mbak
mbek mbakb tak colin di perkarangan
enggak bisa ini belum bisa ngarit ngarit
belum bisa terus pakan belum tahu apa
itu pakan
Bu Wingung akhirnya
ee Pak D itu datang loh wus menyampong
pakai k gini
k wedus balen gelem ngopeni toah Kan
gitu
wis tak gekne kandang yo kayune jukun
maku sesuk. Oh alhamdulillah Pak nulung.
Heeh. Kayu itu nominal kalau enggak
salah
2 sampai R juta untuk kandang. Akhirnya
the women iki oleh modal saya modal cari
Pak tukang bangunlah 3 hari. Jadi di
mana berarti kandangnya itu ngontrak
lahan lagi. Oh oh ngontrak ya? Ngontrak
lahan. kontrak lahan yang dekat Pasar
Sapi Tulungagung situ. Akhirnya dapat
lahan, dapat kontrakan
deal. Saya bangun langsung domba di
situ. Oh, sampai sekarang.
Sekarang nambah kandang lagi ya.
Alhamdulillah tahun ini nambah kandang
lagi yang mitra juga di Tulungagung juga
untuk sekarang total ada berapa domba,
Mas, yang dikelola? Ini masih 100-an.
Wih 100 banyak, Mas Surya, ya? Heeh.
Ya, saya sama istri saya yang apa
kegiatan sehari-hari buat hiburan 100
itu kan kelihatan aset sudah kelihatan
banyak ya maksudnya ya. Ini juga
peternak dombas ya. Banyak kan
maksudnya. Cuma kan kalau saya itu
alhamdulillah ada tim ya Mas yang enggak
kebayang ngelola waktunya gimana Mas?
Ini dikelola sendiri sama keluarga tapi
Mas Dian juga ada kegiatan fotografinya
jalan fotografi itu gimana? Padahal
domba tiap hari harus dikasih makan.
Makan.
Yang satunya ya keluarga saya libatkan.
Keluarga saya libatkan, teman saya
libatkan, teman saya minta tolong.
Contoh, "Oh, pakanku habis belanja yuk."
Kan gitu untuk belanja pakan seperti
itu. Jika pas saya keluar kerja ada yang
backup keluarga kan gitu. Jadi enggak
saya sendiri ilmu saya pakai, tapi
keluarga saya libatkan bahkan teman yang
saya libatkan. Jadi kita sharing
bareng-bareng gitu. Jadi kalau saya
sendiri mungkin gak mampu. Nah, gimana
caranya ngajak keluarga ikut antusias di
situ, Mas? Maksudnya bisa jadi
passion-nya beda, hobinya beda.
Ngasih pemahaman itu sampai mereka jadi
punya minat juga ke sana. Gimana
caranya? Ee dibuat mereka edukasi saya
itu ya cuman nyaman. Nyaman dulu i loh
mana? Akhirnya kalau lihat domba
kecil-kecil kan mereka suka. Oh. Oh. He
he he he he he. Mereka suka suka
sejarnya ya kasih makan ini minumnya
gini makan. Pas maksudnya keluarga itu
anak Mas atau ya anak istri juga istri.
Istri. H. Jadi edukasi seperti itu
membuat ee keluarga menurut saya semakin
harmonis ya. Karena kenapa?
Gak kebawa lingkung
jamnya pasti ada kesibukan gitu ya Mas.
Ada kesibukan yang bermanfaat. Tapi
seandainya gak ada kegiatan seperti itu,
mungkin bangun pagi setelah anak sekolah
ngapain
nonggo gibah. Akhirnya seperti itu. Ada
kegiatan positif. Sekarang ada kegiatan
seperti ini. Alhamdulillah ya
keluarga
h tenang bisa ngerasakanlah gitu.
Karena dunia fotografi juga ada
masa-masa. Kalau wedding ya bergeser
wedding kan di saat puasa gak ada event,
su gak ada event, selak ada event kan.
Tragisinya fotografer ya itu kalau gak
punya aset atau usaha lain di saat
lebaran. Heeh. Heeh. Heeh. Heeh.
pemasukan dari mana kan enggak ada.
Jadi sekarang dua itu ya, Mas fotografik
dua dan ternak. Sebelum saya ternak itu
4 tahun itu cuman menangis lebaran. 4
tahun. Hm. He kan usaha jajan itu kan
jadi usaha jajan kan uangnya itu enggak
enggak selalu cash anu ya tempo ya
konsinasi. Oh titip titipah di saat
mereka pembayaran setelah lebaran
setelah kupat he pasti kita enggak
pegang uang. He lah sekarang foto pun
juga ada enggak ada event. Oh iya do pas
waktu itu jan sepi uang ya berarti 4
tahun itu lebaran cuma nangis di rumah
kan enggak ada pemasukan.
Iya. Iya. Sekarang jajannya sudah enggak
ada, Mas, ya? Saya jajannya ee setahun
ini masih saya off-kan dulu karena masih
nata untuk perkembangan domba. Iya. Oke,
oke, oke. Ke sana karena insyaallah kita
cuman ee apa? Belajar dulu nanti kan
step by step bisa berkembang gitu loh.
Seandainya semua tak rangkul nanti edan
saya. Kata-kata itu keluar lagi nanti.
Karena saya pun ngunduri umur, murir
40.
Waktunya kita kan gak terlalu banyak
kan. Sudah sudah tinggal
menenangkan dirilah. W mantap. Kata-kata
hijrah ini Mas. Menenangkan diri kan
gitu maksudnya ya. Sesama orang-orang
hijrah. Saya kan dari dulu tidak hijrah
ya karena sudah di jalan yang benar. Oh
iya. I jadi enggak perlu mau hijrah ke
mana gitu. Ee guyon ya teman-teman ya.
Nanti digojrok saya karena sudah satu
poinnya saya capek.
Capek
jika usaha enggak berkah hasilnya cuman
gitu aja kita kerja keras hasilnya pasti
jatuh.
Mending kita kerja kalau peternakan itu
apa toh?
Sudah sunat Nabi kan. Iya. Iya. Siap
siap. Sampai jumpa di next episode
teman-teman. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
sebelum
sebelum makin menjadi hujannya semakin
Interes
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:30 UTC
Categories
Manage