Terlilit Hutang di 33 Titik Senilai Ratusan Juta, Lunas Dalam Setahun Berkat Ini...
JERIpjsb4L8 • 2025-06-10
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bank Titil datang satu, pinjamlah 500, bank detail kedua pinjamlah R1 juta. Gitu loh sampai numpuk sekian. Saya tanya nominal berapa? Ada berapa juta? Kalau total ya kisaran berapa ya? 100 lebih lah. 100 lebih. Cuman titiknya itu gak satu titik yaitu ada 33 atau 36 titik perang. Banyak gitu ya. Malah aku urip ngene iki enggak betah duwe duit tapi uteku hancur. Ada saran. Coba ngerti agama lah. Ngajio. Bodohnya saya namanya ustaz tak panggil yo pak ngopi yo dengannya gitu. C masih ingat saya awal-awal ini yo ngopi yo. Mas ngapunten jawab seperti itu. Yuk kita ketemuan di sini aja ngobrol santai nggih. Ngono. Posomen iki ibaratnya teman seneng bareng ayo dolan bareng. Itu di saat saya jatuh itu enggak ada satu orang pun yang datang. Aku percuma duit ak enggak iso nyenengne anak bojo. Heeh. Mereka ndak mau loh uang ternyata kan gitu. Waktu yang mereka waktu yang butuh di kita dicari saya putuskan ganti nomor HP. Sing ngubungi aku berarti orang yang butuh saya. Sing gak menghubungi saya berarti orang itu wis enggak nganggap teman lah. Dari kontak kalau enggak salah itu 1.00 selama 1 bulan cuma 30 yang hubungi hubungi. Oke gak apa-apa ini mungkin orang terpilih buat saya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sahabat pecah telur. Kembali lagi ke segmen Guayang bersama tamu spesial kita, Mas Dian. Masalam warahmatullahi wabarakatuh. Warahmatullah. Enggak usah salam, Mas. Salam aku. Salam kan? Iya, Pak. Oh, iya berarti jawab salam saya. Oh, iya. Betul, betul, betul. Siap, Mas Dian. Ini lebih apa ya sekarang? Berarti ada dua profesi kan, Mas? Seorang peternak juga. Iya. seorang yang berprofesi sebagai ee apa namanya? Fotografer juga. Iya. Berarti disebutnya apa kalau Mas Dian memperkenalkan diri gitu biasanya? Ya kalau saya makan diri kemungkinan ee untuk sekarang ya tetap fotografer. Ohografer. Jadi orang kalau saya dipernakkan masih awam mungkin ya karena masih pemula. Jadi kalau orang mengenal saya tuh di fotografer. Saya fotografer. Kalau income yang paling gede dari mana, Mas? income paling gede ya selama ini ya fotografer. Oh fotografer itu ya? Iya. Siap. Ya. Untuk bisa mencukupi keluarga ya fotografer dulu. Hm. Kalau untuk pernakan kan investasi ya. Tadi gak terlalu memikiran ke situ. Jadi karena hobi menjadi rezeki kan. H weh. Dari hobi menjadi rezeki. Diksinya pas Mas. Iya. Jadi, jadi ini passion-nya di situ ya, hobinya di situ. Hobi situ. Terus saya dengar juga sampai ke luar negeri itu ya, ke dulu ya maksudnya dulu itu memang pasar saya memang ee mengambil pasar menengah ke atas. Jadi, gak saya enggak enggak menerima jobd di situ yang menengah ke bawah. Jadi ee banyakan itu memang kalangan menengah ke atas ya. Kalau dibilang dapat rezeki kemarin ya pernah di Singapura, Malaysia, Cina, Hongkong ee Maau itu ya itulah kalau yang di Indonesia ya Lombok, ee Makassar, Ternate, terus di Bali, Jakarta lah. Padahal dari Tulungagung loh ya. Dari Tul dari sesama orang Tulungagung. Iya ya. Bangga ya, Mas ya? Pasti dari desa bisa juga ke internasional gitu loh. Intinya kita mau mau apa ya bekerja keras lah dalam arti kita konsekuen bahwa ini harus lebih baik daripada yang lain gitu loh. Tapi masih enggak boleh kita meninggikan diri kan di langit masih ada langit gitu loh. Heeh. Tapi tapi apa Mas? Banyak juga masa-masa kelam yang Mas Dian ini punya bahkan saya dengar-dengar kok punya 30 lebih titik hutang ya, Mas ya. Eh, jadi itu jadi orang yang gak mengerti menjadi mengerti. Jadi gitu loh yang menurut saya jalani selama hidup ini. Jadi kita ada rezeki lebih, ada harta lebih, tapi kita gak mengerti tujuan itu. Wah, ini menarik. Ah, ini spil-spil dulu. Nanti kita lebih lengkap kita akan ulas yang lebih detail. Nah, siapa sih sebenarnya ini awalnya? Apakah senang difotografi atau memang seperti apa gitu awalnya, Mas Dian? Kalau awal-awal itu saya cuma jadi juru pembawa tas kamera ya. Oh, di studio gitu, Mas. Jadi ee Heeh. Dulu di Surabaya awal-awal kan saya kerja di Surabaya. Jadi dalam arti saya tuh cuman melihat saya gak punya basic sama sekali di fotografi sama sekali sekolah aja lulusan mesin. Oh background-nya malah pendidikannya mesin. Mesin. Kalau diajak bubut ngelas kita membuat apa rangka besi saya bisa. Oke. Lah kok tiba-tiba diminta menjadi tukang bawakan tas fotografi. Jadi ee salah satu teman-teman pengusaha itu ngajak saya main ke Surabaya. H terus ditawari loh dia tuh fotografer kan gitu. Kamu mau ikut ya ke Bali? Aku ada pribadi ke sana. Heeh. Oh, siap kan gitu kan diajak jalan. Siap. Dalam arti ya pengin tahu mana sih Bali kan gitu. Itu pertama-tama ke Bali kalau enggak salah tahun 2007. Di situ ya cuman bawa tas. Mereka kerja mereka kerja itu bawa tas. Luculah pokoknya bawa tas. Oke enggak apa-apa ini pengalaman. Dari situ saya difoto sama orang-orang fotografer-fotografer difoto kok asik ya pegang kamera asik ya pengaplikasikannya asik-asik tapi enggak ngerti dari warna apa-apa gak paham cuman jepret kok enak ya jepret enak ya jepret gitu oh jadi malah pertama kali megang kamer pas momen it iya momen-momen it tadi nol di situ saya akhirnya pulanglah ke Tulung Agung kan pulang Tulung Agung bekerja ya bekerja kasar Masih masih di bawah nguli w kassar lah. Heeh. Di situ saya mencari uang untuk sekolah. Hmm. Karena senang tadi ya? Karena senang tadi saya pengin belajar sekolah fotografi. Oke. Oke. Jadi saya bekerja kasar itu nabung buat sekolah fotografi. Oke. Yang satu di Jakarta itu kan gitu. Sekolahnya di mana, Mas? Masutkan kah? Enggak apa-apa. Heeh. Enggak apa-apaak. Iya. Kalau saya di Jakarta kan di ee Dawis Dawis School. Oke. Itu masternya di situ saya ambil basic sama ke profesional jadi dua sesi kan. Tapi ya itu uang saya pribadi. Saya kerja kasar. Heeh. Entah itu saya nyopel entah saya nguli batu penting saya dapat uang buat biaya sekolah. He. Tapi waktu sekolah itu apakah sudah berpikiran nanti akan jadi seorang fotografi atau memang sekedar aku senang ya aku sekolah gak apa-apa mengorbankan uang begitu Mas. Apaska itu saya cuman merasakan saya kerja kasar tapi kurang. Oke. Buat dia hidup. Saya kerja kayak gini pagi, siang, malam, seminggu habis. Heeh. Dan notab saya anak yang ee orang tua saya gak orang tua gak mampu. Gak mampulah. Jadi dari SMP sampai SMK itu saya kerja sendiri untuk mencari biaya sendiri kan gitu. Oh. Tapi bisa ngumpulin dari uang situ, Mas? Masih bisa ngumpulin untuk sekolah? Bisa. Berapa lama ngumpulin waktu itu, Mas? Ee ee 2007 sampai 2008 dapat uang tuh 2000 ee a mau awal awal 2008. Awal 2008 saya berangkat. Berangkat berapa sekolah waktu itu, Mas? basic kalau enggak salah dulu itu 22. Oh 22 juta. R2 juta. Iya. Sekarang aja masih terasa mahal. Sekarang loh ini ya. Apalagi tahun segitu. Heeh. Heeh. Heeh. Apalagi yang profesional. Yang profesional lebih mahal. Ee cuma 6 bulan 1 minggu itu dua kali kelas. Itu berapa kalau yang profesional? Kalau salah 3 sampai 40-an kali. Oh. Anunya nominalnya. Nominalnya tadi berapa? 30 sampai 40. 30 sampai 40. Wah, 30 sampai juta ini yang basic tadi. Du selama 6 bulan. 6 bulan juga. Terus seminggu berapa kali, Mas, tadi? Dua kali. Dua kali pertemuan. Berarti PP Jakarta Tulungagung, Jakarta Tulung. Ee saya nge-cos di sana. Nekos ngecos. Nah, selama di sana ee untuk keperluan biaya hidup hidup itu saya diajak salah satu studio juga. Oh. sudah bekerja di sana itu ya. Pasarnya juga wedding Chines. Oke. Jadi teorinya dapat langsung praktik. Prakk. Oh. Oh. Jadinya tetap bisa jalan, bisa meng-cover gitu loh. Dan intinya saya tuh enggak mau melibatkan orang tua gitu loh. Itu belum nikah juga kan pada waktu itu awal-awal itu kan. Terus mari gitu di sana selesai. Saya kerja di Jakarta sebentar 6 bulan atau 10 bulan gitu. Tapi enggak di situ saya mendapatkan hasil yang luar biasa bekerja fotografer di Jakarta itu ya dari income yang tinggi. Heeh. Apalagi habis bekerja kasar tadi. Iya. Di sana sama sekali gak apa. Wah ternyata gini toh dapat uang yang besar kayak gitu. Kaget ya Mas ya. Mungkin ya kaget dari anak desa ke kabupaten eh kabupaten ke ibu kota dapat uang gede. Kaget pasti lihat ya. Kaget. Terus digaji sama studio yang saya kerja itu luar biasa. Ibaratnya saya buat senang-senang di sana itu mampu gitu loh. H. Itu sama sekali ya saya ndak ndak mengerti kok bisa segitunya sampean. Ee secara secara hasilnya apa apanya? Hasilnya sampai berapa, Mas? Kalau boleh tahu? Sekali jobd disk. Kalau wedding di sana kan kisaran 12 sampai Rp15 juta sekali itu Mas. Sekali. Kali WD. Wih, waktu itu langsung pegang kamera. Langsung pegang kamera tuh ramai-ramainya kamera Canon yang ee kayak yang besarnya yang apa ya? Lupa. Kayak 5D yang series Mac 3 gitu loh. Itu yang awal-awal dulu kan. Sekarang kan sekarang berbagam semua kan. Berarti meskipun masih belajar itu sudah dipegangin kamera. Iya. Sama yang punya. Tapi saya bawa kamera sendiri juga. Oh, pegang kamera sendiri juga. Pegang kamera sendiri juga kok bisa sudah dapat kepercayaan padahal masih belajar. Ada tesnya enggak sih, Mas? Masuk ada rekomendasi. Oke. Dari dari salah satu teman Surabaya itu merekomendasikan, "Kamu sekolah di sana, ini loh studi yang bisa kamu praktik kerja gitu loh." He he. Jadi, teman saya Surabaya itu alhamdulillah sampai sekarang ya saya anggap guru besar saya gitu. yang bimbing mengarahkan yang mengarahkan cuma yang saya tuh juga senang fotografi, Mas ya. Cuma sekedar hobi sih memang ee tadi kan meskipun masih belajar tapi sudah pegang kamera. Iya. Terus ngerasa bedanya antara sudah ee hasil belajar sama sebelum itu tetap kerasa bedanya enggak? Jadi ee ini ya dari teman Surabaya itu kan saya diajak-ajak kan. Heeh. Sudah punya basicnya. sudah ada basicnya di situ. Cuman saya pengin pribadi sekolah itu pengin bedah apa sih kamera itu dalamnya gitu loh. Oke. Ternyata di Jakarta juga gitu. Ternyata sekolah itu bedah kamera. Apa yang saya inginkan tuh dibedah di situ. Gak sekedar jepret. Berarti benar-benar kamera dibedah gitu Mas. Iya pasti di ini loh kameranya. Jadi ini fungsinya apa? Ben itu hancur itu nanti ya. Hancur makanya. Dan itu apa yang saya inginkan terjawab. Oh. Oh. Alah, ternyata ini fungsinya buat ini fungsinya buat itu. Oh. Jadi seandainya ada orang bertanya pun saya bisa menjawab seperti itu. Hm. Kalau pelajaran yang paling berkesan dulu itu sempat kepikiran ikut ee kelasnya Pak Darwis itu juga, tapi kok mesti di Jakarta, tapi kok segitu. He. Yang kalau menurut Mas Dian, pelajaran yang berkesan selama sekolah di sana, selama ikut di studio itu yang keingat sekarang apa, Mas? Paling paling gak enak juga sih. Heeh. Di antara semua murid saya yang paling kulit hitam. Iya ya. Kelasnya menengah ke atas gitu. Yang lainnya kulitnya putih. Putih semua. Tapi terus emang ada perbedaan perlakuan waktu selama menurut saya kalau awal-awal ada. Hm. He. Tapi kita kalau sudah sharing hunting sudah mereka membaur gitu loh. Oke. Terus di mereka tahu saya bekerja di studio yang ee juga ternama di Jakarta itu. Heeh. Akhirnya mereka percaya sama saya. Oh. Dan sampai sekarang komunikasi jika saya ada event di sana mereka welcome. Oh. Sampai sekarang seandainya saya membutuhkan saya pun berangkat ke Jakarta juga. He. Berarti rata-rata yang ngambil kelas itu pun akhirnya buka usaha di bidang itu juga atau ada yang cuma sekedar hobi juga? Ada. Banyak yang sekedar hobi. Oh, banyak sekalahan. Karena basic tadi mungkin basic tadi. Jadi karena orang-orang yang berduit ya, yang sekolah di situ pengin pengin-pengin aja pengin bisa gitu loh. Kalau saya pribadi pengin ini nanti buat kerja kerja nanti siapapun dapat kontrak kerja jika ada basic yang besar insyaallah dapatnya kan juga besar juga tuh. Iya iya. Iya. Tapi kita cuman otodidak ilmunya dari mana toh? Dari ini sampai tua nanti ilmunya tetap itu aja. Iya. Heeh. Betul. Betul. Enggak apalagi enggak bisa ngikuti ee apa tren kamera yang sekarang perkembangannya luar biasa banget. Copet ya, Mas? Cepat banget. H lah memang ee saya pikir selama ini perkembangannya itu enggak terlalu yang penting skill-nya. Kalau jadi yang saya kira selama ini katanya kan orang di balik kameranya daripada kameranya itu sendiri. Kalau menurut Mas Dian dengan bedanya kamera teknologi sekarang dibandingnya waktu awal-awal Mas Dian belajar He. Yang kerasa beda apa, Mas? Sekarang kan pasti jelas beda ya dari kamar yang tahun-tahun dulu. Heeh. Sampai sekarang itu ee gimana kita kalau dulu itu benar-benar skill yang tarung. Oke. Skill yang diadu karena apa? Kapasitas kamera cuman sak gitu kemampuannya. Heeh. Heeh. Mau dipaksa apa jika kita gak punya skill, kita gak punya settingan lighting, enggak memahami tentang dunia lighting? Heeh. Hambar foto itu cuma kayak kamera HP. Oke. Tapi sekarang dengan kemajuan teknik kamera sekarang dengan resolusi yang cukup besar itu kita dimudahkan. He he he. Mayoritas sekarang foto itu memuduhkan cahaya yang sedikit malah enggak enggak apa-apa. Oh iya. Kalau dulu harus harus banyak banyak lampu gitu loh. Karena apa? Resolusinya tinggi otomatis tingkat noise-nya pun juga kecil. Iya. I iya iya. Iya. Ada dulu tuh ada pernah pertanyaan tahun 2012 pada waktu ada acara workshop di Hotel Seraton Surabaya. Heeh. Ada satu fotografer dari Kediri tanya itu yang ngisi kalau enggak salah siapa ya? Ee materinya dari pematerinya dari Jakarta juga fotografer ternama juga. Ee Kak ada enggak saran foto gdak noise? Heeh. Heeh. Coba sayaamp jawab apa? Wah, ini teman-teman supaya moto gak noise. Jawab apa? Cara foto enggak noise? Eh, tahun 2012 ditambah lampu yang lebih gede. Nah, ditambah lampu kalau sampean. Iya, harus lightingnya bagus sampean, Mas. Biar noise enggak gede. Enggak noise? Biar enggak noise. Jawabannya simpel. Dijual ganti kamera. Iya, ya. kamera sekarang meskipun ISO-nya tinggiak gak noise i dijawab gitu loh ternyata di tahun sekarang terjawab semua itu semua kamera dengan resolusi tinggi semua iya kan dulu itu kalau enggak benar-benar nguasai ilmu kamera dengan kapasitas kamera kayak gitu enggak ada light tinggal enggak jadi foto it berarti sekarang kalau sebagai fotografer sendiri makin menantang dong Mas karena lebih banyak orang nganggap dirinya bisa tanpa harus jago banget masalah setting ISO dan segala macam ee noise-nya enggak ada. Enggak ada. Jadi kalau kita yang yang membedakan sekarang itu hasil sekarang bukan kalau saya pribadi bukan di kamera tapi niat kita. Niat kita mau membuat foto itu asal atau lebih bagus dari kemampuan lensa tersebut. Hm. Kalau kita cuman asal ya kita foto bisa sendiri jebret jebret dengan lensa yang ee diafragma besar otomatis kan sudah enggak membutuhkan cahaya besar kan. Heeh. Heeh. Jadi otomatis kan jika kita motot simpel oh gini-gini aja mudah. Mau ke mana akhir situ mudah. Heeh. Tapi jika kita ada niat foto itu dibuat bagus, ya tetap kita harus bawa letting meskipun esa kita bagus di di apa di sharing-nya dapat, highlight-nya dapat meskipun kita di outdoor. Ee itu ya yang bakal susah kalau belajarnya otodidak. Benar. Kalau enggak tahu tekniknya dari pencahayaan itu ada banyak yang belum biasa nguasai. Karena apa? Jika difoto cuman pakai lensa ya otomatis view-nya hilang. Heeh. Heeh. Heeh. Maaf kita ke Bromo private pakai lensa yang besar-besar gunungnya rata Iya. Kita sebagai customer sampean komplain gak? H aku pat ke Bromo lah. Mana bomonya bok? Iya sih enggak kelihatan malahan. Kalau kita pakai lensa lebar kita butuh cahaya kan tetap butuh cahaya meskipun ee kamera itu speknya tinggi. Heeh. Nah makanya dari teknik dan basic lightning pun harus tetap dicari. Oke. Kalau kita ngomongin rasa, selera atau ee namanya seni kan juga di situ ada selera rasa, si karya yang kreatornya itu ya, Mas ya. Kalau peran rasa itu buat Mas Dian gimana sebagai fotografer? Peran rasa kita harus tetap ee menurut saya kejujuran kalau itu kejujuran. Heeh. Karena kita harus membawa customer itu jangan dengan kemampuan kita yang ada. Gimana itu maksudnya, Mas? Itu baru ada keluar rasa. Contoh gini, "Mas, aku mau foto ke sana ya, gimana budget berapa?" Heeh. Wis, budgetnya murah ae. Iya. Tapi dia wtunnya asal dengan kemampuan densa tersebut. Oke. Tanpa ada ee saran dan ee referensi yang bisa membuat foto itu lebih bagus. Heeh. Heeh. Heeh. Bisa aja kita foto ke Bromo ya? Iya ke Bromo katakanlah. Tapi dia moto flat cuman gini-gini aja. I itu kan dia cuman bekerja tapi gak ada rasa. Kalau ada rasa pasti ada teknik. Hm. Supaya foto kelihatan Bromo hidup gimana kita supaya klien itu beda antara HP dengan kamera. Itu yang menurut saya itu berat. Jika customer membayar kita mahal-mahal hasilnya yang cuman biasa. Hmm. Hm. Itu tadi ya mending kan kita bawa HP aja foto pakai iPhone bagus kalau enggak ada apa teknik loh ya. Iya iya diminta foto sama guide-nya fotoin gitu aja kan sudah iya sama aja gak usah manggil fotografer ke sana ajak ke sana. Iya i ya. Itu yang saya rasakan jika kita niat kita mau ee reaksi rekom sharing bareng-bareng akhirnya ketemu kok. Heeh. Heeh. Heeh. Mereka nyaman lah. Suatu kenyamanan customer itu jika kita kasihkan fotonya mereka posting. Oh puas ya. Mereka kepuasan di situ. Oh iya ya. Diakui bangga gitu ya. Diakui he di situ. Karena banyak teman-teman juga foto jadi gak di apa-apa. Siap Mas. Kalau yang itu Mas kok bisa sampai ke luar negeri itu gimana ceritanya itu Mas? Ee dulu belum ada Instagram, belum ada Facebook. Heeh. Tahun berapa itu, Mas? 2009. Oh, sangat dulu sekali ya. Belum ada. Cuman mainnya kalau enggak salah itu cuman website ya. Kita buka akun, buka apa? Blog. Jadi orang kita mengisikan foto-foto kita di situ. Nanti ada yang apa itu namanya? Web. Nge-web itu kan kita komunikasi. Ternyata di situ pasar yang luar biasa dulu itu. Hm. H dari orang Cina datang ke Indonesia, orang Singorampur datang ke Indonesia. Oh, jadi dokumentasiin mereka selama di sini gitu, Mas, ya. Oh, plus mereka juga ada wedding. Kalau orang-orang mereka itu budget sekian katakanlah dulu saya itu sekali take di Bali gitu aja ya, itu budget R5 juta. Heeh. Itu aja saya bawa tim lengkap, mampu. Heeh. Tapi mereka murah menurut mereka. Murah. Menurut mereka murah. Hm. itu masih bas lagi kita. Oke. Karena kita apa ya kerja semaksimal mungkin, kita sehati sama mereka itu masih ee mereka nganggapnya murah dalam saya pikir R juta foto murah oleh motor, oleh barang-barang kayak gitu kan segitu. Tapi kan buat buat Mas Dian ya alhamdulillah murah gitu. itu sudah buat sendiri maksudnya sudah di Tulungagung apa masih join sama yang di Jakarta itu kerja atau bikin sendiri gitu maksudnya itu itu saya join bagi hasil sama orang Tulungagung ee buka di Surabaya dan Tulungagung gitu. Oke. Kayak ada investornya begitu. Ada investornya. Jadi ya job Surabaya ke Surabaya, job Jakarta ke Jakarta. akhirnya memutuskan tuh mau membuat studio di Surabaya banyak pesaing. Oh iya iya akhirnya memutuskan untuk buka di Tulungagung itu enggak salah 2009. 2009 ya 2009 eh aku masih itu masih baru masuk kuliah masih sudah ber sudah sampai mana kliennya sudah mana-mana kita kuliah jadi secara umur berarti kayaknya lebih senior daripada kita ya Mas betul ya saya sudah umur 39 ini. Oh ya betul. Enggak kejak jauh sih ya. Masih milenial lah kita. Masih milenial kalau maksudnya ya. Kalau saya jauh sih. Oh iya iya. Heeh. Kalau aku ya. Oh gitu. Itu 2009 yang di Tulungagung. Di Tulungagung itu ya. Akhirnya transit saya di ee apa ya? Ya ikut kerjalah P berti meskipun itu bagi hasil ee bagi akhirnya kerja gitu loh. Berarti yang di Tulungagung pun itu kerja sama ya bukan buka sendiri ya? Bukan. Belum. belum. Masih apa? Masih kerja sama. Masih kerja sama. Itu sampai sekarang kah? Sudah saya putus itu 2016 akhir. 2016 akhir terakhir. Iya. Berarti selama itu dari 2009 sampai 2016 itu bareng. Bareng. Ee ee e kenapa keputus, Mas? Kalau cerita bisa panjang dan kali lebar ini nanti ini singkatnya aja. Singkatnya singkatnya aja ya. Saya pengin ee sudah capek. H sudah capek ada tekanan. Hm. Sudah capek ee hidup itu kok gini terus. Saya nak merasakan bahwa banyak uang merasakan kebahagiaan. Sama sekali enggak merasakan. Heeh. Kenapa kok sampai segitunya? Karena di situ selama saya berjalan di situ semua tadi saya sama sekali gak mengenal agama. Apa salat? Heeh. Apa apa sih kita apa ee sodqah apa kita kumpul-kumpul ngaji itu apa? Enggak paham. Heeh. Di situlah letak titik saya. Jadi di situ saya memutuskan untuk resign dan saya mau menjalani hidup normal. I mau menjalani hidup keluarga yang normal gitu loh. Enggak terlalu diposir sama namanya uang. Hm. Dulu memang enggak normal ya, Mas ya. Lah mati kalau jiwa normal tapi ee mindset masih ee masih ke dunia mencari dunia. yang pemicu gelisahnya waktu itu kerasa kalau itu hampa itu gara-gara kepikiran apa, Mas? Iya, kalau saya kan jarang di rumah gitu. Itu sudah berkeluarga? Sudah. Oh, sudah. Dan saya nikah juga 2009 itu. Oke. Nikah 2009. Dari awal nikah tapi sibuk ee ikut ibu mertua 2 tahun 2009 akhirnya memutuskan 2011 saya membuat rumah sendiri. 2011. 2011 sendiri. Di situlah rumah tangga saya. H. Iya kan? Saya enggak ada orang tua, enggak ada cuman anak istri. Tapi anak istri saya tinggalin terus. Hm. Yang di mana saya di luar itu sangat kacau. Kita bermain dunia malam sampai narkoba sampai wis black market. Heeh. Gitu loh. Akhirnya memutuskan 2016 itu untuk resign saya pengin mengawali hidup normal. He heeh. Heeh. Heeh. Heeh. Iya. Dan teruslah air mata itu keluar. Karena kenapa? Di saat saya jatuh. Heeh. teman-teman yang dulunya saya angkat sama sekali enggak ada yang datang. Hmm. Itu pada di meskipun masih sama-sama di Tulungagung. Sama-sama di Tulungagung. Ibaratnya teman senang bareng. Ayo dolan bareng. itu di saat saya jatuh itu enggak ada satu orang pun yang datang. Hm. Sampai saya menangis. Aku percuma duit ak cuman enggak iso nyenengne anak bojo. Heeh. Mereka gak mau loh uang ternyata kan gitu. Iya. Waktu yang mereka waktu yang butuh di kita dicari. Waktu yang mereka cari. Heeh. Itu jatuhnya karena apa, Mas? Berarti ya? Ya, saya cuman terketuk aja. ini sudah waktunya saya untuk berubah. Heeh. Jadi 201617 saya buka usaha foto itu sendiri ee freelance. Saya main pelan-pelan, pelan-pelan sambil membuka usaha gitu loh. Buka usaha ketemulah usaha membuat jajan. Jajan. Iya. Jajan. Agak jauh berarti ini ya. Fotografi jalan. Terus habis itu nambah berarti ya nambah-nambah jajan. tadi sempat mempunyai karyawan 10 sampai 16 orang saya banyak ya Mas itu jajan apa, Mas? Jajan tradisional Tulungagung keletek singkong itu. Oh, keletek jajan keripik singkong, Mas. Yang bulat-bulet. Itu sempat balan, kalau engak salah itu ee apa ee untuk sampingan gitu. Jadi yang 10 sampai 15 itu malah untuk sampingan, Mas Yan. Heeh. Yang utamanya dari tetap freelance fotografy. Iya. Freeland itu ada foto ini. Oh. Buat kegiatan ibu-ibu di rumah kan gitu. Heeh. Heeh. Heeh. Itu belum kurang sik kurang. Saya menambah investasi lagi ternak ayam. Oke. Ternak ayam telur atau ayam daging. Ayam kayak jober itu. Iya iya iya. Itu ayam job 1 tahun kalah. Berapa populasinya, Mas waktu itu? Dulu 1500. Sampai 1500 ya? H. Skala enggak mau nyerah. Nyoba ayam lagi belum? Ikan. Ikan. Banyak yang dicoba ya. Iya kan? Ikan lele gitu kan. Akhirnya kesempatan itu saya bisa ngirim ee ke Semarang, Jakarta, Pacitan gitu. Lele-lele yang besar maksudnya buat buat kapasitas pemancing. Oke. Itu didulungkan banyak dulu ada teman-teman karena hobi saya juga mancing kan. Saya kirim kalah lagi. Hm. Kalahnya harganya ya. Harganya kurang tepat gitu ya. Menurut saya bukan masalah harga. Kalau untung untung semua itu dirangkum jebret modal modal. Heeh. Kenapa itu? Selain modal uang pribadi saya, teman saya yang investasi itu kerja sama sama saya juga masih mau kerja sama saya itu mereka pakai uang perbankan. Hmm. Dari hutang bank. Hutang bank. H. Dan itu tanpa pengaturan saya. Oh. Tanya uang pribadi. Iya. Karena saya pakai uang pribadi, tapi dia pakai uang bank. Berarti seandainya ngomong waktu itu dari awal enggak uang pribadi pasti enggak jalan itu. Kalau enggak diterima gak mau saya enggak mau. Gak mau. Padahal itu dari awal itu dari yang baru awal mulai kan, Mas. Awal mulai sudah hancur kayak gitu. Karena dia enggak ngomong jadi hasil uangnya itu kan saya pasrahkan kan. He. Tak pasrahne awakmu duitnya cekelan aku mar repot er kerjaanku kan gitu. Iya. Ternyata dia buat ngangsur. Oh. Buat mereka ngopi, buat mereka nyanyi yang lain. Heeh. Heeh. He he. Heeh. Ya Allah. Iki udu piye toh? Aku kabeh usaha dijegali kayak gini gitu loh. Iya. Iya. Iya. Mau lari ke mana kita di situ? Aduh jatuh lagi. Berarti yang kayak pabrik eh pabrik yang Snack tadi juga. Snack kan dikelola istri. Oh. Oh. Itu itu jalan itu sendiri. Pokoknya yang bareng sama orang lain itu yang saya yang jalan gitu. itu yang hancur, yang jatuh. Kalau yang katanya sampai utang punya 30 titik itu yang usaha apa, Mas? Nah, di situ saya ceritakan lagi. Saya sibuk dengan dunia pekerjaan saya. Heeh. Dari saya fotografi, ngurusi ayam, ngurusi ikan, yang lain itu tanpa pengatuan saya, istri di rumah itu kan butuh modal. Iya. Untuk gaji karyawan, untuk ini, untuk itu, untuk biaya anak. Saya gak pernah ngasih uang karena uang saya tak putarkan. pemikiran saya uang jajan itu cukup buat ee operasional kan gitu. Ternyata istri saya tergiurlah sama ibu-ibu tetangga. Oh, berarti bukan bank dulu ibu belum sik ngumpul sama ibu-ibu. Nah, di situ ada namanya bank titil datang satu pinjamlah 500 bank titil kedua pinjamlah R1 juta gitu loh ceritanya seperti itu. Jadi sampai numpuk sekian. Nah, sudah di saat jatuh saya tanya nominal berapa? Ada berapa juta? dicatatlah. Cet c set cet cadet. Ini berapa, Mas, sampai totalnya? Kalau total ya kisaran berapa ya? 100 lebih lah. 100 lebih. Cuman titiknya itu gak satu titik itu ada 33 atau 36 titik perbanyak gitu ya. Malah kecil-kecil tapi nerik gitu. R juta, R juta, R juta gitu loh. Hm. ambil napas panjang gitu kan. Masa segitu banyak dipendam sama istri sendiri ya, Mas ya? Iya. Karena saya ee ya itu saya bilang t saya gak ngerti agama. Oh itu masih belum masih belum tersadar belum belum sadar proses yang tadi ya yang enggak ngasih dan sebagainya ya. Jadi ndak ndak saya gak ngerti apa sih namanya tanggung jawab. Heeh. Heeh. Gimana sih sosok seorang suami yang benar bagi keluarga? Heeh. Jadi gak benar sama sekali saya itu kan. Terus akhirnya saya ee datanglah ke om saya sendiri. Aku urip ngene iki enggak betah duwe duit tapi uteku hancur gitu. Ada saran coba ngerti agama lah. Ngajio. Ngaji dulu biar paham. Terus gitu belajar salat sing rajin. Belajar salat belajar gak apa-apa. Kamu dari orang gak paham, ngaji akan paham, salatmu akan terbangun pondasi lagi kan gitu kan. Ya, saya dengan gak sadarnya siapa sih gelem aku mempelajari salat, siapa sing aku ngaji gitu kan. Mulai dari mana? Mulai dari mana kan gitu. Usia juga sudah enggak muda lagi. Sudah segitu. Iya kan? Hari gini siapa sing mau ngajari? Engih. Engih. Enggih. Akhirnya saya datanglah ke teman si ini bendera ini bendera kan beda bendera semua kan. Oh gaklah gaklah. Gak cocok gak cocok. Datang lagi Om. Sopo sing gelem ngajari aku salat ngajak aku ngaji? Hm. Tak parani saiki dan bodohnya saya namanya ustaz tak panggil yo pak ngopi yo dengan kansernya gitu. Masih ingat saya ini awal-awal ini yo ngopi y mas ngapunten jawab seperti itu. Yuk kita ketemuan di sini aja ngobrol santai nggih. Posomen iki ini dari rekomendasi om saya tadi. Iya. Akhirnya datangilah ngobrol itu. Oh gayane ya selengekan gitu ya. Kan gak paham gitu loh. Iya iya iya. Antara kita sopan dengan adab kan beda ya. Iya iya iya. Ternyata di sini saya membutuhkan adab yang sangat kuat. Meskipun saya pintar, meskipun saya bodoh, tapi di sini saya pakai adab aja insyaallah sudah dapatlah ccle itu. Nah, di situ akhirnya usaha ayam jatuh buang. Wis ini kelingan mantan saya ikhlaskan. Uang bawa teman, ikan juga gitu. Bawa teman ikhlas. Wies bawa teman saya juga enggak kembali. Oh, mobil saya kebawanya karena dipinjam saya pasrahkan sik urusono sik ya. Saya tak ngurusi masalah ini dulu. Bablas. Oke, enggak apa-apa ikhlas gitu. Wis saya mau tutup buku. Memang tutup buku di tahun ee 201920. Heeh. Saya putuskan ganti nomor HP. Oh, benar-benar mulai lembaran baru. Mulai dari nol. Mulai dari nol iki nanti saya gini, "Sing ngubungi aku berarti orang yang butuh saya. Sing gak menghubungi saya berarti orang itu wis enggak nganggap teman lah." Hm. Hm. He dari kontak kalau enggak salah itu 1.500 tak ganti nomor set selama 1 bulan cuma 30 yang hubungi yang hubungi hubungi. Oke gak apa-apa ini mungkin orang terpilih buat saya dan alhamdulillah itu benar-benar orang itu mau kerja gitu loh Mas ngasih jawab ngasih jawab kan gitu sambil saya menata diri gitu loh. Heeh. Heeh. Kalau ngomongin tentang belajar sama ustaz tadi ya Mas. Iya. Berarti kan salah satu yang ngubah hidup itu juga ustaz tersebut beliau itu ya, Mas. Heeh. Yang buat orang yang pengin mulai belajar agama tapi enggak tahu dari mana. Kalau jenengan waktu itu dimulai sama ustaz itu dari belajar apa dulu, Mas? Ngaji. Ngaji itu belajar Quran, baca Quran atau bukan? Jadi ikut kajian ya. Heeh. Ikut kajian itu cuman suruh dengarkan gitu loh aja ibaratnya kita ikut seminar gitu ya. di situ tujuan beliau mungkin ee suruh istikamahnya saya H jam sekian hari ini sampai sekian jam sekian ikut ngaji ya coba tapi awal-awal berat apalagi saya sujud berat banget sujud itu kerasa berat ya Mas ya berat beratnya kenap Mas orang yang gak pernah salat akan salat h orang yang gak pernah ngaji ikut dunia malam ngaj jadi ngaj langsung cut kan. Heeh. Heeh. Heeh. Tapi itu saya lalui. Makanya kalau mencarikannya saya bisa nangis nanti. Itu saya cut lillahi taala. Saya mau berubah. Saya mau enggak mau ke dunia ini. Saya mau dunia ini. H. Gitu loh. Berat banget kan? He. Siapa sih yang mampu meninggalkan apa yang dia punya? Yang dia punya nama kah jabatan tapi dia meng dari nol. H heeh. Iya. I mengikhlaskan itu loh berat banget. Heeh. Di situ saya ngikut ngaji pelan-pelan, pelan-pelan. Dapatlah, dapatlah, dapatlah. Oh, ternyata. Oh, ternyata sekarang jika enggak ketemu mereka saya malah kangen. Hm. Teman-teman yang di kajian itu, ya. Iya. Karena apa? Mereka tuh alhamdulillah, ayo salat. Terdengar azan, ayo salat kan gitu. Itu bagi saya luar biasa. Karena di rumah pribadi kalau dulu-dulu itu terdengar adan ah macak tur jam itu kan salat zuhur salat ngasar jam i tapi teman-teman alhamdulillah itu terdengar azan langsung kita ke manapun di manapun stop kegiatan menurut saya ini loh baru teman kan gitu i enggak ada teman yang saya dulu tuh enggak Ada teman-teman dulu itu Radan lanjut jam s entek kan gitu kan. Iya iya iya iya. Sekarang dibalik di situ saya opo mogle ora akhirat? Saya merasa Mas kalau tadi berarti beres ya kayak hutang dan sebagainya itu aman berarti terkendali sudah beres. Proses penyelesaian utang perbankan itu saya tempus selama 11 bulan dengan cara bebas riba. Heeh. Jadi saya terlalu menyampaikan ke pihak perbankan, apapun merek bank itu saya memelun sesuai kemampuan saya asalkan bunga itu hilang. He. Saya ditekan, diancam, diamuk ya. Cuman saya duduk diam hadapi dengan senyum mereka. Heeh. Saya ada uang ada uang ada buat menyelesaikan utang tapi akadnya dirubah dulu. Semua perbankan saya hadapi seperti itu. Dari yang tubuh kecil, tubuh besar, ngancam, teriak-teriak. Saya hadapi semua nih. Itu ada yang bimbing juga enggak, Mas? Kalau teman-teman ada yang ikut komunitas ee misalnya apa ya waktu itu? Jadi di situ intinya di komunitas itu di awal-awalnya ada komunitas banyak kan sekarang komunitas santi riba itu kan banyak ya. Saya sharing ke A, sharing ke B, terus sharing yang sama yang punya hutang besar-besar juga. yang lagi berproses. Ternyata mereka juga pengin merasakan bebas dari hutang itu. Pengin sama teman-teman yang punya hutang ya. Iya. Akhirnya sama salah satu ustaz juga diajari ee tempo-temponya nanti jawabannya seperti apa kan gitu. Bisa ada contohnya enggak, Mas? Karena saya yakin juga banyak nih yang sekarang ee lagi terjebak itu tapi enggak tahu nih ngawalinya gimana. Nah, gini ada bisa di-sharing enggak? Bisa ya, aku sharing ee pengalaman ini ya. Heeh. Ternyata banyak ee kejadian orang itu gak percaya sama ilmu rezeki. Satu poinnya situ. Enggak percaya sama ilmu rezeki. Oke. Terus I jadi dia cuman gini, aku lek apa enggak nyur utang iki aku ndak utang aku ndak semangan. Oke. Banyak sih seperti itu. Heeh. Heeh. Mindset mereka itu yang paling fatal opo oleh Bang, kok dibayar pokoknya aja hungan hilang. Saya dulu diremehkan sama tetangga gara-gara bank si Mekar itu. Wah, tak jebut apa ya. Bank si Mekar anyar I. Jadi terus ee kan mereka itu kan grup ya, grup. Oh, otomatis kalau di sini gak bisa bayar ditekan sama teman-temannya. Di sini gak bisa mayar ditekan sama teman-temannya. Oke. Heeh. Heeh. Heeh. Heeh. Heeh. Terus. Terus. Jadi seorang ibu-ibu normal jika ditekan sama sesama lingkungan pasti kan minder. Iya. Di situlah munculnya gali lubang tutup lubang di situ. Hm. Penyebabnya adalah tekanan dari lingkungan tadi. Heeh. Heeh. Heeh. Lah ini resep saya ya. Saya jawab ke mereka, "Urusanku bukan sama tetangga. Urusanku sama bank." He. Mbuh engko tak bayar pokoke tok. Mbok tak angsus tak kuatku itu urusan saya sama perbankan. Heeh. Ibu-ibu saya gitu kan. H saya gak ada urusan dengan mereka. Sampan urusan lek duwe hutang yo urusan karo bank. Saya sudah wis ibarat emosi, saya buat emosi. Tapi saya semua dengan itu saya gak ada emosi sama sekali. Hm. Karena sudah jelas-jelas dari awal saya yang salah. Heeh. He. Bukan istri yang salah. Saya yang salah. Karena karena mengabaikan gitu ya. Mengabaikan. Uang sepele, uang belanja itu kan mengabaikan ya. Heeh. Heeh. Itu yang saya yang salah. Akhirnya saya harus bertanggung jawab semua itu kan. Dari proses itu saya selesaikan step by step yang ee enggak ada bunganya. Contoh utang keluarga kakak itu dulu itu dulu saya selesaikan bank nomor dua. Hm. Itu mulai saya selesai yang bank itu yang merubah akadnya boleh dibayar pokoknya aja ya. Saya bayar. Oke. Satu demi satu. Satu demi satu. Heeh. Heeh. Sumbernya dari fotografi. Fotografi. Hm. He. Tapi pada waktu nyaruh hutang itu bukan dari situ semua. Enggak tahu kenapa. Ee malah enggak tahu dari mana. Bukan dari foto. Dari mana berarti ya? Enggak tahu gitu. Enggak tahu. Tiba-tiba uang ini loh buat bayar. Uang buat bayar. H. Yang bedain apa, Mas? Yang sebelumnya itu uang kayaknya susah ini gagal, ini gagal. Nyoba bisnis ini gagal jatuh. Terus di titik yang sekarang yang tadi itu malah enggak tahu ini sumber dari mana. Ada ada menurut jenengan yang membedakan terus ada titik balik itu gimana, Mas? Kembali lagi ke niat saya satu. Heeh. Niat saya memang menyelesaikan masalah keluarga ini ya. Masud keluarga saya selesaikan biar bebas hutang. Oke, poinnya seperti itu. Terus saya pengin ee benar-benar bebas dari dosa. Karena pada waktu ngaji dosa riba mengerikan. Mengerikan banget. Saya selalu l menyampaikan ke petugas-petugas itu, ayo Pak sampeyan tak bantu aku sampin bantu aku. Seperti itu. Janganlah aku nyar utang iki tapi doso. Aku nyarut utang iki ampri berkah. sama-sama berkahi. Banyak petugas-petugas bank yang juga nangis, Mas. H aku kerja di hutang bank, Mas. Heeh. Aku yang duwe hutang. Aku paham sebenarnya hutang bank itu riba itu dosa besar itu paham. Tapi ng aku metu anak bojoku piye ya seperti itu. He. Mereka sebenarnya terjerumus juga di situ. Iya. Heeh. Heeh. Akhirnya ya saya sampaikan niat saya ini Pak pun lek sampean oke sampaikan ke pimpinan saya mau bayar tapi pokoknya aja itu bertahap gak langsung dijawab itu gak heeh heeh berarti dalam waktu 11 bulan alhamdulillah beres ya Mas ya singkat ceritanya alhamdulillah 33 lebih lah itu selesai 11 bulan amazing loh Mas saya pikir gini itu uang dari mana saya ndak tahu jawabnya nya. Heeh. Heeh. Saya juga gak pinjam siapapun. Heeh. Heeh. Heeh. Tapi di saat ada jawaban dari perbankan, "Oke, Mas ACC biar pokoknya aja sudah salat pagi bangun tidur salat salat subuh loh ada uang masuk bayar selesai." Itu dari mana yang habis subuh uang masuk? Itu contoh kecilnya dari mana? Ternyata ee banyak orang-orang yang dulu hutang sama saya. Oh. Saya kan gak enggak ngenggap toh, Ustaz. I lagi 1 2 3 enggak gelemb sudah ee selesai. Heeh. Heeh. Heeh. Selesai gitu. Tapi terjawab di saat membutuhkan datang juga mereka. Loh. Makanya namanya ilmu rezeki kan di situ ya. Enggak tahu kenapa kok di saat saya menyelesaikan utang perbank masuklah rezeki-rezeki itu. Mas. Terus kok ee bisa ke domba itu gimana ceritanya Mas? Saya bingung membuang limbah. Hm. dari usaha saya yang jajan itu kan kan berawal dari singkong juga toh otomatis kulit singkong kok banyak gini keriwel banyak gini kan gitu iya dulu itu ya cuman beli satu dua ekor aja indukan ya cuman enggak enggak terlalu niat kan cuman dari limbah bruk limbah kasih makan limbah kasih makan gitu he terus itu kok beranak hmm beranak dua anak beranak dua okelah suka akhirnya kok meskipun ada kemati Tian ada apa terenyuh gitu loh. Ternyata iki kok enak gitu loh. Kok senang terus punya tanggung jawab yang besar. Contoh tanggung jawab yang besar itu gimana? Di saat saya lelah Heeh. sore wajib ke kandang. Hmm. Di saat saya pagi setelah nyiapin bahan-bahan untuk produksi saya wajib ke kandang. Wong saya pikir ini aja loh kok ngasih makan domba ter wajib. Kenapa yang wajib saya gak lakukan? Oh. Oh. Akhirnya ke situ ya ngarahnya ya? Ngarahnya. Kalau saya lihat tadi kan malah jadi beban sebenarnya ya kan kayak kalau dilihat secara umum beban. Heeh. Karena di saat enggak kena ditinggal gitu loh. Iya. Enggak bisa ditinggal jauh. Engak bisa ditinggal jauh. Heeh. Heeh. Heeh. Heeh. Nah, kalau peran berternak di jalan cerita hijrahnya Mas Dian ini gimana, Mas? Jadi di situ awal-awal kan memang saya niatkan harus ini harus itu masih dua dulu itu akhirnya saya tambah sama indukan kalau enggak salah 8 ekor saya tambah 8 ekor tapi saya niati untuk ee apa breeding dalam untuk budidaya untuk perkembang biakan gitu di situ saya mulai bingung kandang kan Heeh akhirnya satu kandang saya buat di bukan rumah saya tapi di rumah adik saya buat di situ 6 bulan pertama dari 10 indukan itu beranak semua. Oke. Jadi dari itu sih beranak semua ya. Iya kan? Padahal belinya posisi memang bunting. Posisi bunting berarti 6 bulan kan beranak semua. Ramai. Heeh. Wah ramai ini. Heeh. Ramai itu ketisnya baik atau buruk? Ya baik berarti. Senang senang apa degdegan apa? Sen senang apa bikin ribut gitu? Satu. Senang dulu. Senang dulu. Ramai senang. Wah, makin banyak. He berarti asetku bertambah. Oke. Tambah 2 bulan lingkungan gak nyaman. Heeh. Karena kandang itu kan di belakang rumah dan dekat repet-repet rumah tangga gitu. Bau gitu ya, Mas. Gak bau. Suara. Suara. Oh, akhirnya mengganggu suara. Nah, karena saya datang telat pagi besinya jam 0.00, jam 7. Kasih makan saya datang jam 09.00 sore mestinya jam . jam . Saya datang jam .00 karena saking sibuknya kerjaan itu kan. He. Akhirnya tetangga suruh bongkar. Bongkar. Oh, sampai suruh bongkar ya. Oke. Nangis. Heeh. Ini mau saya taruh di mana? Heeh. Heeh. Ini domba sakini banyaknya tahu di mana? Heeh. Mungkin gak teman yang mau ngopeni. Heeh. Kan gitu kan dengan waktu yang cepat dan saya butuh berusaha buat kandang. Heeh. Dan alhamdulillah ada teman yang bantu. Wis tak kek kandangku dulu. Oh alhamdulillah saya boyonglah semuanya di situ. Waktu itu 20 berarti ya. 20-an. 20 2 lebih karena ada pejantan juga toh di situ. Akhirnya teman itu bantu. Sebagian dibawa ke sana semua nangis. Tapi hati ini. Ya Allah saya niat baik aja kok masih ada yang gak suka. He. Saya berbuat baik aja kalau masih ada yang gak suka. Heeh. Satu kandang gitu. Heeh. Heeh. Heeh. Itu belum selesai. Domba-domba yang saya mitrakan ke teman dikembalikan ke saya lagi. Oh. Ditaruh rumah saya yang Tulung Agung kan. Akhirnya depan rumah tuh mbak mbek mbak mbek. Ya Allah ini ada ekor itu dikembalikan. Kenapa? Enggak tahu kenapa tiba-tiba nak dikembalikan. Oh disetor gitu aja ya. Iya. Tapi gak gelem ngopeni lah gitu. Gimana? Kita belum siap loh ya. Belum siap kandang belum ini aja belum selesai ketambahan ini gitu loh. Iya. Mau tidak tahu di mana domba ini kan? Oh berarti yang bukan yang 20 itu ya yang selain itu ya? Bukan yang lain itu kan memitrakan. Oh memitrakan juga. Niat saya baik. Oh Pak gelem ngopeni tak tukoki wedus yo. Engok bagi hasil cempe ae enggak apao. Oke. Saya belikan 5 ekor 7 ekor seperti itu. Oh akhirnya itu juga dikembalikan kembalikan langsung dengan waktu yang sama. Ah, itu jadi selama 2 hari saya mikir itu depan rumah mbak mbek mbakb tak colin di perkarangan enggak bisa ini belum bisa ngarit ngarit belum bisa terus pakan belum tahu apa itu pakan Bu Wingung akhirnya ee Pak D itu datang loh wus menyampong pakai k gini k wedus balen gelem ngopeni toah Kan gitu wis tak gekne kandang yo kayune jukun maku sesuk. Oh alhamdulillah Pak nulung. Heeh. Kayu itu nominal kalau enggak salah 2 sampai R juta untuk kandang. Akhirnya the women iki oleh modal saya modal cari Pak tukang bangunlah 3 hari. Jadi di mana berarti kandangnya itu ngontrak lahan lagi. Oh oh ngontrak ya? Ngontrak lahan. kontrak lahan yang dekat Pasar Sapi Tulungagung situ. Akhirnya dapat lahan, dapat kontrakan deal. Saya bangun langsung domba di situ. Oh, sampai sekarang. Sekarang nambah kandang lagi ya. Alhamdulillah tahun ini nambah kandang lagi yang mitra juga di Tulungagung juga untuk sekarang total ada berapa domba, Mas, yang dikelola? Ini masih 100-an. Wih 100 banyak, Mas Surya, ya? Heeh. Ya, saya sama istri saya yang apa kegiatan sehari-hari buat hiburan 100 itu kan kelihatan aset sudah kelihatan banyak ya maksudnya ya. Ini juga peternak dombas ya. Banyak kan maksudnya. Cuma kan kalau saya itu alhamdulillah ada tim ya Mas yang enggak kebayang ngelola waktunya gimana Mas? Ini dikelola sendiri sama keluarga tapi Mas Dian juga ada kegiatan fotografinya jalan fotografi itu gimana? Padahal domba tiap hari harus dikasih makan. Makan. Yang satunya ya keluarga saya libatkan. Keluarga saya libatkan, teman saya libatkan, teman saya minta tolong. Contoh, "Oh, pakanku habis belanja yuk." Kan gitu untuk belanja pakan seperti itu. Jika pas saya keluar kerja ada yang backup keluarga kan gitu. Jadi enggak saya sendiri ilmu saya pakai, tapi keluarga saya libatkan bahkan teman yang saya libatkan. Jadi kita sharing bareng-bareng gitu. Jadi kalau saya sendiri mungkin gak mampu. Nah, gimana caranya ngajak keluarga ikut antusias di situ, Mas? Maksudnya bisa jadi passion-nya beda, hobinya beda. Ngasih pemahaman itu sampai mereka jadi punya minat juga ke sana. Gimana caranya? Ee dibuat mereka edukasi saya itu ya cuman nyaman. Nyaman dulu i loh mana? Akhirnya kalau lihat domba kecil-kecil kan mereka suka. Oh. Oh. He he he he he he. Mereka suka suka sejarnya ya kasih makan ini minumnya gini makan. Pas maksudnya keluarga itu anak Mas atau ya anak istri juga istri. Istri. H. Jadi edukasi seperti itu membuat ee keluarga menurut saya semakin harmonis ya. Karena kenapa? Gak kebawa lingkung jamnya pasti ada kesibukan gitu ya Mas. Ada kesibukan yang bermanfaat. Tapi seandainya gak ada kegiatan seperti itu, mungkin bangun pagi setelah anak sekolah ngapain nonggo gibah. Akhirnya seperti itu. Ada kegiatan positif. Sekarang ada kegiatan seperti ini. Alhamdulillah ya keluarga h tenang bisa ngerasakanlah gitu. Karena dunia fotografi juga ada masa-masa. Kalau wedding ya bergeser wedding kan di saat puasa gak ada event, su gak ada event, selak ada event kan. Tragisinya fotografer ya itu kalau gak punya aset atau usaha lain di saat lebaran. Heeh. Heeh. Heeh. Heeh. pemasukan dari mana kan enggak ada. Jadi sekarang dua itu ya, Mas fotografik dua dan ternak. Sebelum saya ternak itu 4 tahun itu cuman menangis lebaran. 4 tahun. Hm. He kan usaha jajan itu kan jadi usaha jajan kan uangnya itu enggak enggak selalu cash anu ya tempo ya konsinasi. Oh titip titipah di saat mereka pembayaran setelah lebaran setelah kupat he pasti kita enggak pegang uang. He lah sekarang foto pun juga ada enggak ada event. Oh iya do pas waktu itu jan sepi uang ya berarti 4 tahun itu lebaran cuma nangis di rumah kan enggak ada pemasukan. Iya. Iya. Sekarang jajannya sudah enggak ada, Mas, ya? Saya jajannya ee setahun ini masih saya off-kan dulu karena masih nata untuk perkembangan domba. Iya. Oke, oke, oke. Ke sana karena insyaallah kita cuman ee apa? Belajar dulu nanti kan step by step bisa berkembang gitu loh. Seandainya semua tak rangkul nanti edan saya. Kata-kata itu keluar lagi nanti. Karena saya pun ngunduri umur, murir 40. Waktunya kita kan gak terlalu banyak kan. Sudah sudah tinggal menenangkan dirilah. W mantap. Kata-kata hijrah ini Mas. Menenangkan diri kan gitu maksudnya ya. Sesama orang-orang hijrah. Saya kan dari dulu tidak hijrah ya karena sudah di jalan yang benar. Oh iya. I jadi enggak perlu mau hijrah ke mana gitu. Ee guyon ya teman-teman ya. Nanti digojrok saya karena sudah satu poinnya saya capek. Capek jika usaha enggak berkah hasilnya cuman gitu aja kita kerja keras hasilnya pasti jatuh. Mending kita kerja kalau peternakan itu apa toh? Sudah sunat Nabi kan. Iya. Iya. Siap siap. Sampai jumpa di next episode teman-teman. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. sebelum sebelum makin menjadi hujannya semakin Interes [Musik]
Resume
Categories