Transcript
IXUiYWenNH0 • Pilih Hidup Damai di Desa, Mantan Kontraktor Jadi Petani dan Peternak Sukses!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0531_IXUiYWenNH0.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Hidup di perantuan itu sebesar apapun yang kita dapatkan ternyata tidak enak. Kalau untuk finansial saya kira saya enggak ada masalah waktu itu ya. Tapi karena keluarga ini terpisah sehingga untuk apa ni? Batin ini kan kosong kan gitu loh. Ternyata keluarga itu bisa menentukan kita berhasil dan tidak berhasilnya di keluarga. [Musik] kita buktikan hari ini saya panen dengan bubuk kimia 30% saya dapat 1,2 ton per100 ru ya atau 8,4 ton per hektar itu alhamdulillah kita [Musik] buktikan kalau ke sawah kan nyangkrok sama petani kan ternyata petani itu sederhana dia itu enggak mikir Pajero, enggak mikir Innova, enggak mikir sama sekali yang penting dapat tupuk tanamnya bagus sudah bersyukur dia itu. Jadi di situ sudah ada pelajaran. Oh, petani ternyata orang yang paling nerimo. Tapi kadang kala bisa untuk dijadikan alat kekuasaan, alat politik kan bisa petani [Musik] itu. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Saiful Romyan dari Zaminggirsari RT2 RW6. Saya sebagai petani hari ini dari petani mulai tahun 2000. Sebetulnya dari awal kita juga anak petani cuman karena kita keliling Indonesia jadi yo tahun 2000 baru jadi petani. Sew pinten saiki Pak? 52. Jadi saya dulu itu sebagai ikut kontraktor Mas ya. Ikut perusahaan nasional itu ada Truburong. Saya belajar mulai dari Palembang. sampai ke Padang bahkan sampai ke Kalimantan itu terakhir di sana. Python itu juga saya juga di sana waktu sebagai ini Pak dari skillnya perusahaan terus alhamdulillah terakhir saya menepati supervisi ya ngerjaan proyek PLTU waktu itu. Jadi saya belajar dari nol mulai dari helper sampai semi skill sampai skill forman itu saya lewati semua tahapan itu alhamdulillah sampai supervisor. Ketika saya nanti ke proyek terus saya terbatasi saya paling enggak sampai umur 45 itu harus berhenti. Karena apa? Kalau saya ke sana terus saya nanti di sini enggak dapat pekerjaan, saya enggak punya usaha sehingga saya harus pulang mau enggak mau merintis pekerjaan di sini. Tapi alhamdulillah step by step saya lalui. Mulai jadi kontraktor bangunan di sini sampai nyambi petani, nyambi beternak. Alhamdulillah sampai saya menikmati hari ini bisa untuk menghidupi keluarga kecil saya gitu. Hidup di perantuan itu sebesar apapun yang kita dapatkan ternyata tidak enak. Kalau untuk finansial saya kira saya enggak ada masalah waktu itu tapi karena keluarga ini terpisah sehingga untuk apa nih? Berarti ini kan kosong kan gitu loh. Ternyata keluarga itu bisa menentukan kita berhasil dan tidak berhasilnya di keluarga. Ternyata itu alhamdulillah dengan pulang ke Jawa lagi ke desa keluarga mendukung support dari kanan kiri. Alhamdulillah saya bangkit hari ini bisa seperti ini gitu semuanya merana semua. Saya juga rindu kalau diajak saya akan ikut perusahaan ini Mas ada di mesnya ya. Ada mes perusahaan gitu. Jadi enggak mungkin karena saya pindah-pindah terus. Kalau keluarga saya doa terus nanti anak saya seperti apa nih? Nasibnya sekolahnya kan harus pindah-pindah terus. Jadi saya mendingan warga di rumah saya mungkin 3 bulan pulang terus lagi. Tapi setelah berusaha di desa ini itu lebih tenang, lebih nyaman gitu. Saya dulu beternak puyuh, Mas. Jadi petani saya beternak poh. Setelah pulang dari sini kan saya masih di proyek ya. Terus ada ma dikit saya kembangkan di situ. Di tahun 2004 saya poyo sampai tahun 2007. 2008 itu sudah mengajak ke ayam. Kalau puyuh itu siklusnya memang cepat ya, tapi untuk endingnya ternyata nyaman di ayam. Kalau puyuh di akhir-akhir produksi itu pasti enggak seberapa. Tapi kalau ayam masih alhamdulillah lumayan. Jadi sewaktu masih main boy kita coba ayam kandangnya bersebelahan ya. Kebetulan ada pedagang datang, Pak. Biasanya kalau puyuh gandeng ayam itu yang gak kuat salah satu. Nah, di situ sudah muncul sugesti kita itu nalah itu ya kebetulan di tahun berikutnya itu puyuhnya kena AI itu waktu itu. Betul. Ternyata akhirnya kita hilangkan jadi ayam semua sampai hari ini. Alhamdulillah waktu itu flat, Mas. Jadi masih sepultar tanaman pangan ya di tahun 2019 itu baru menginjak ke mulai ngenal Horti saya. Di situ ada keunikan sendiri. Jadi kalau bertanya itu semua orang bisalah wong mau nandur opo angele kan itu itu prinsip itu ada kemauan ternyata itu juga enggak semudah itu jatuh bangun Mas semangat kita waktu itu dengan kenyataannya itu berbanding terbalik itu waktu itu pertani kan samping Mas ya enggak khusus untuk bertani enggak saya masih di proyek itu enggak pernah untung jadi kalau kita nan padi gitu cuman untuk stok pakan nanti setahun untung di situ aja kalau dibilang untung rugi itu pasti rugi insyaallah seperti itu. Tapi karena pertanian itu kita itu paling tenang untuk di pertanian. Jadi rata-rata masalah pertani itu dia kehidupannya akan tenang. Di situ saya di dapat ilmu. Ternyata masyarakat bertani itu tidak muluk-muluk. Punya impian itu enggak sebesar kita di mana itu enggak. Sederhana banget. Saya diatul di situ baru batin sudah mulai tertata tenang gitu. Dibuktikan apa? Ketika orang tua bertani tok, dia bisa sekolahan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Diu ada berkahnya bertani. Kalau dihitung dengan matematika, dengan kalkulator, enggak akan ketemu. Tapi buktinya dia bisa sekolah sampai program tinggi. Kalau berhenti belum lama karena proyek itu semakin berkembang. Waktu saya sangat banyak sekali joba, keterbatasan sudah makin tua, sudah mulai low kan. Ini akhirnya saya mutus berhentilah. Saya tekuni sekarang berernak sama bertani. Jadi impian saya dulu mumpung saya masih di proyek, saya kesempatan dapat modal ya. Saya tanam di sawah atau di kandang gitu. Setelah nanti kandang ini jalan sawah jalan saya sudah berhenti ke proyek sudah saya kira untuk hidup cukuplah gitu. Alhamdulillah apa yang saya impikan tercapai hari ini. Waktu itu karena pupuk itu semakin langka. Alhamdulillah pada tahun 21 ya kita mengenal ada seseorang yang sangat berjasa di Minggir Sari itu adik saya itu dari Pak Dadang, Pak Jaduk sama Pak Doni itu ke sini ngajari saya inovasi gitu. kita diinovasi untuk belajar membuat pupuk. Awalnya saya juga percaya karena saya notabnya dari kimia full ya, belajar dari Dinas Pertanian juga dari kimia. Saya kekeh di situ, kekeh saya debat di situ waktu itu. Itu ternyata sebuah perangkap katanya. Ketika saya terus mendebat terus, "Nah, ini kena perangkap Pak Saiful ini." Gitu katanya. Kalau kita dikasih wawasan dengan inovasi itu kita enggak mendebat, kita enggak akan berkembang. Iya, tok. Itu enggak akan berkembang. Tapi ketika kita punya ilmiahnya yang ini yang bla bla bla bla, kita kan berdebat di situ kan. Akhirnya dia tertantang endingnya. Sudah gini aja, Mas. Kalau emang ini sampean bagus coba dam saya gitu. Saya kasih pupuknya saya tak tertarik demplot di sinilah. Alhamdulillah waktu itu juga berhasil. Alhamdulillah. Tapi begitu saya belajar belajar tuh ya jatuh bangun. Set ini 1 hektar lebih ada tanam pangan, ada holti. Sebagan saya tanami kandang juga itu. Kebetulan lahan saya ini juga lumayan luas. Kalau saya mengandalkan yang dari pabrik, wah saya harus mengeluarkan kocek banyak ini. Sehingga saya cobalah kita inovasi biar bisa menekan biaya. Ya, alhamdulillah kalau soal pupuk obat-obatan saya enggak pusing. Yang pusing kadang-kadang cuma tenaga kerja aja. Saya kira salah baik kimia atau pakai nutrisi itu tenaga kerja sama. Cuman yang beda kan di modalnya yang enggak sama gitu. Jadi kalau bahasanya petani itu pekerjaan yang halal yang resikonya rendah. Jangan salah. Justru petani itu yang bisa membikin rakyat sakit, bisa membikin rakyat sehat. Tergantung konteks seperti apa. Contoh gini, kalau bertani dengan konteks kimia sehingga dia menggunakan pestisida yang berlebihan, sekarang banyak muncul ada yang kanker, ada yang macam-macam ulah dari petani. Kalau kita konsep menyehatkan masyarakat kita modalnya sedikit, pupuk bikin sendiri dengan limbah-limbah yang ada di sekitar kita, hasilnya akan menjadi pangan sehat, dikonsumsi pun juga sehat. Jadi harapan saya gini, kalau ada teman-teman yang bilang hasil organik itu mahal, loh kok ya aneh ini wong modalnya aja murah kok mahal gimana modalnya pupoknya kan dari limbah, dari kandang, dari urin ya kok dijual mahal kan yo aneh sehingga saya balik jangan seperti itu polanya lah sing lek mahal sing tuku sopo aku. Jadi kita modal yang murah jadi makanan yang sehat sehingga dikonsumsi masyarakat pun juga sehat. Mereka yang tukang becak yang petani makan sehat aja beli mahal kan enggak kuat. Kalau kita produksi pangan kita sehat, keluarga kita sehat, teman-teman sehat, intinya menyehatkan masyarakat kalau seperti itu. Jadi enggak harus beli mahal gitu. Tapi alhamdulillah selama saya bermain di nutrisi ini, saya kira saya enggak enggak pernah menganggarkan untuk biaya berobat itu. Saya saya enggak toh aman-aman. Alhamdulillah aman-aman aja itu ya. Sakit biasa-biasa aja l enggak sampai ini enggak ya. Sebetulnya kan ada yang macam-macam ya penyakit ya. sekarang alhamdulillah di keluarga saya ini alhamdulillah dengan buah pun juga makan buah sehat, telur pun saya juga makan telur sehat e untuk padinya juga sehat, sayuran pun kita juga sehat. Alhamdulillah semua mendukung. [Musik] Hari ini pun yang katanya bubuk mudah pakai KTP aja bisa nonsen itu katanya hari tetap KTP yang dulu ditentukan bayin bayi dress sama seperti hari seperti itu sehingga saya malas seperti itu mendingan bikin sendiri pupuk tapi karena saya di sini dari kelompok tani semua petani berharap ke saya juga saya urusi saya yang pakai pupuk pemerintah tapi prosesnya juga ribet hari ini enggak semudah apa yang dibicarakan di sana itu enggak semudah itu aturan berlaku seperti dulu dibatasi masih itu. Jadi di sana pun belinya kan juga cash enggak bisa kita pinjam. Sementara petani finansialnya kan juga bermasalah. Mereka belum panen enggak punya duit cash. Kalau dibankan hari ini pemerintah bilang nanti langsung ke kelompok tani duit dari mana nebus ini? Kan enggak enggak enggak semudah itu kan. Jadi regulasinya sekarang ini juga masih berbelit-belit mulai dari distributor sampai ke kios itu juga saya kira masih kesulitan untuk kelompok tani. Itu fakta Mas ya. Fakta. Jadi, pupuk hari ini enggak semudah apa yang disampaikan itu. Kita masih pakai regosa yang lama, masih harus saya taran, sejak petani. Sedangkan saya itu enggak enggak mungkin ngurusi petani terus kan saya ada pekerjaan sendiri, ada usaha sendiri. Tapi itu masih berlaku. Kalau enggak sesuai dengan KTP atau apa di-upload enggak bisa ya juga enggak pernah dapat. Kebetulan yang di sini itu pakai kelompok, Mas. Jadi, ada yang kelompok tani sehingga yang repot kelompok tani. Petani mau tahunya juga dapat gitu aja. Kalau saya jatah saya kan banyak ya. Ini saya ambil semua tapi yang makai teman-teman yang lainnya. Sehingga kalau ada bahasanya per 100 dapat 19 kilo atau 20 kilo itu nanti bisa dapat satu sak karena jatah saya diambil mereka. Saya pakai pakai bubuk sendiri, pakai bikin sendiri kan itu aja. Sehingga kalau di sini ada lahan yang kurang pupuk bisa terpenuni dengan jatah saya tadi. Tetap saya ambil punya saya cuman tak kasihkan yang butuh. Nanti kalau saya enggak sayaambil nanti dirasa sombong kan. Nah, sombong itu kan suerintah. Jadi biar yang nikmati jangan teman-teman yang lain kan gitu. Kalau ke sawah kan nyangkrok sama petani kan. Ternyata petani itu sederhana. Dia itu enggak mikir Pajero, enggak mikir Innova, enggak mikir sama sekali. Yang penting dapat tupuk tanamnya bagus. Sudah bersyukur dia itu enggak pernah berpikir berandai-andai saya nanti kalau panen beli mobil beli motor enggak pernah seandai-andai. Jadi di situ sudah ada pelajaran. Oh, petani ternyata orang yang paling nerimo. Tapi kadang kala bisa untuk dijadikan alat kekuasaan, alat politik kan bisa petani itu. Padahal dia itu sangat sangat-sangat di bawah. Tapi ketika pemerintah hari ini ingin petani tersenyum, saya sangat sambut gembira itu saya setuju. Sudah terlalu lama petani menderita ini. Untuk peternakan populasi berapa sekarang? Sekitar 5.000 ya. Kita berpikir apapun usahanya ketika kita bisa menekan bia produksi itu di situlah letak keuntungannya. Sebesar apapun usaha itu kalau kita tidak bisa menekan biaya produksinya, sebesar apapun produksi mereka costnya tinggi juga akan sedikit keuntungannya di bidang apapun. Di pertanian juga seperti itu, di petaniakan seperti itu, ruminansia juga seperti itu. Jadi kalau teman-teman peternak itu teriak-teriak jagung mahal, terus sentrat mahal, telur murah, itu mungkin dia sangat terasa ya. Karena apa? Beternak itu ruginya kan harian ya. Per hari rugi berapa? Per hari kalau petani mungkin bermusim ya. bermusim sedikitlah ruginya. Kalau beternak itu luar biasa. Itu kuncinya seperti itu. Kalau bisa menekan bia produksi insyaallah kita akan tetap bertahan. Itu dibuktikan waktu kemarin di Covid ya. Ya kan jatuh ini peternak telur sampai Rp2.000. Tapi alhamdulillah saya populisnya tambah populisinya dari dulu 1.00 jadi 2.500 3.000 terus naik-naik terus sampai hari ini. Secara umum itu yang kita hitung cuma biaya pakannya itu pakan dan ubat-ubatan itu luar biasa. itu kalau sudah kena jagung mahal, telur murah sudah kab kita. Dari ini pun harga telur cuma Rp22.000 sekian dari kandang itu sudah mulai oling nih. Tapi alhamdulillah saya menggunakan inovasi ini alhamdulillah bisa tercover itu kita tenang. Mereka sudah oling, kita tenang-tenang mawon. Jadi di HP ya, jadi harga pakan teman-teman itu mungkin di angka 6.000 sekian, 65 atau 68 gitu ya per kilonya. Saya kan di bawah 6.000. R000. Kalau per kilopakan selesainya ada R500 sajalah. Rp500. Kalau 1 hari per ekor ayam itu konsumsinya 120 gr per ekor per hari. Kalau 1000 berarti kan 120 kilo kalikan 1 minggu kalikan 1 bulan itu sudah juta itu selisihnya. Jadi kita nutrisi, kita bikin sendiri dengan ramuan yang bermacam-macam yang tadi itu ternyata bisa menghemat biaya pakan tadi. Karena apa? Protein yang kita berikan di pakan sangat rendah sehingga pakan kita murah. Loh, dari mana kok bisa bertelur? Karena nutrisi kita bisa menaikkan protein pakan ini sampai 5%. Logikanya kalau proteinnya mahal itu pasti mahal diangganya. Kalau protein kita rendah itu murah. Sehingga di situ selisihnya bisa untuk semuanya. Untuk peternakan bisa pertanian bisa ruminansia bisa. Saya sudah teral beberapa ini ya. Ada pertanian juga saya pakai itu. Di unggas juga seperti itu. Luminansia juga pakai itu. Di perikanan pun juga pakai itu. Kalau pertanian kita menggunakan full dengan kimia dibanding dengan dimik dengan nutrisi itu bisa menurunkan biaya sekitar 40%. Jadi kita modal murah hasilnya maksimal. Kalau modalnya tinggi hasilnya tinggi itu kan juga sama aja bohong kan. Kalau ditanya teman-teman sekian ton dapatnya bangga tapi modalnya kan enggak dihitung. Terus untuk yang dihasilkan kita akan produksi beras ya juga beras sehat, sayuran juga sayuran sehat. Karena waktu tahun 2022 itu pernah kita lab ternyata di situ zero untuk kimianya. Kalau di ruminansia perbedaan paling signifikan apa, Pak? Yang pertama itu pakannya kita murah. Yang kedua kecepatan ADG-nya penambahan daging itu cepat. Terus bau kandang pun juga tercover sehingga kotoran yang dihasilkan oleh Ruminansia akan menjadi sebuah pupuk organik yang sangat bermanfaat bagi dulur-dulur petani kan gitu. Bahkan nanti kita kembalikan lagi dari hasil sawah, limbah sawah kita kembalikan ke ternak kita. Selama tahun saya lakukan seperti itu. Kalau kita full enggak pakai kimia itu bisa kita harus membuang limbah yang di kandang itu ke sawah. itu dasarnya seperti itu. Permasalahannya ketika petani lahannya yang di tengah yang jauh dari jangkauan transportasi sehingga kalau mereka dianjurkan untuk mengirim pupuk organik ke sawah kan enggak mungkin. Sehingga dari tim bengkel tani dari pendamping-pendamping yang Pak Dedang, Pak Jaduk sama yang lain-lainnya itu buat inovasi lagi gimana agar supaya peta itu yang di sana juga tersentuh dengan pupuk organik yang tidak terlalu repot dengan bahan organik padat. kita terciptalah yang namanya super chest [Musik] tadi. Super chat ini pupuk plus pengurai tanah. Kalau yang nutrisi ini cuman untuk pupuk pengisian asam amino lah bahasanya seperti itu. Super chas itu dalam bentuk cair ya, Pak ya. Cair kandungannya banyak. N-nya ada, fosfatnya ada kaliumnya ada bakteri pengurnya ada Fe-nya ada magnesium ada kalsiumnya juga ada. Semua tuh yang dibutuhkan tanaman insyaallah tercover di situ. Kalau nutrisi kalau kita bilang nutrisi hewani kita bahan kita ngambil dari grupnya hewan. Contohnya ada ikan lele, ada tuna, ada susu. Itu ada di situ. Kalau kita ngambil dari nabati, kita ngambil dari ada jagung, ada tempe, ada kecambah, dan bahan-bahan toga yang lainnya itu ada banyak situ. Setelah jadi ada dua komponen tadi baru kita mix, kita mix dengan perpaduan tertentu. Kalau kita butuhnya misalkan untuk pembuahan, kita mix dengan skala perbandingan seperti ini, seperti ini gitu. Kalau untuk pertumbuhan dengan perbandingan nabotnya berapa persen atau hewannya sekian persen gitu ada ilmunya nanti. Yang enggak enak itu ketika ada produk baru, "Pak, kalau pupuk ini pakai ini, pakai ini." Tapi kan beli toh, Mas. Kita itu analisanya kan dasarnya sudah ada. Kita kembangkan, coba kita tambah dengan ini, tambah dengan ini. Ternyata luar biasa. Alhamdulillah. itu kita buktikan hari ini saya panen dengan bubuk kimia 30% saya dapat 1,2 ton per100 ru ya atau 8,4 ton per hektar itu alhamdulillah kita buktikan 1 hektar tuh kira-kira sekitar 15 liter ya k sedikit bikin sendiri lagi kan murah banget toh itu yang enggak akan nemu di sana orang-orang itu. Makanya bagi teman-teman yang mau belajar, mau sharing tentang ilmu nutrisi tadi, monggo ke tempat kami di Minggirsari kan gitu. Dan alhamdulillah lagi gini, Mas. Jadi dari pemerintah desa itu sangat support dengan kegiatan kami ini. Sejatuh-jatuhnya yang pakai inovasi ini enggak akan terasa kalau dibanding dengan kimia. Soalnya kita modelnya sedikit, cuman kita ruginya di waktu aja. Dulu pernah tahun 22 itu saya coba tanam cabai sekitar populasi Rp8.000 ya. Rp8.000 bagus. itu yang 60% kena limbah dari sungai itu mati semua. Tinggal 40% itu bisa mengembalikan biaya yang sekian ribu tadi. Terpenuhi. gitu. Dibilang untung enggak untung, tapi rugi juga enggak gitu loh. Dulu awal namanya nitrobakter di awal kita belajar di awal dasarnya itu setelah itu kita kembangkan lagi. Jadi molotop itu dengan bahan sekitar 30 bahan baru ketemu lagi sekarang super chase ada tambahan-tambahan gitu lagi. Kalau sekarang sudah ada super chest itu sangat-sangat wah mudah. Jadi bahasanya kita untuk kalangan sendiri, kalangan petani sendiri. Kalau toh memang ada yang membutuhkan kita cuman bahasanya mengganti bahan bukan jual beli. Teman girersari pun juga sudah mulai ada yang makai tapi ya juga banyak yang bully kan gitu. Tapi dari teman-teman desa lain bahkan kecamatan lain bahkan pulau lain juga sudah pernah makai, kabatan lain juga sudah makai itu ya. Alhamdulillah mereka juga nyaman di situ. Bahkan sering kontak kami. Kalau ada kendala di lapangan gini-gini ya sudah kita kasih ilmunya, kita kasih ininya gitu. Kalau untuk di sini jangankan kok percaya ini, saya buktikan dengan lahan saya aja enggak percaya masih enggak percaya. Itu itu petani. Jadi gini, mendingan yang jatuh kamu dulu nanti kalau kamu sudah beras saya ikut. Kan gitu toh bahasanya seperti itu. Jadi yang jadi korban okelah saya enggak apa-apa jadi korban memang saya dulu pernah bilang kalau emang seperti ini oke saya jadi tumbal diarin enggak apa-apa. Biar saya nanti yang coba. Kalau emang sukses sudah ikuti, kalau enggak ya jangan diikutan, gitu. Ketika saya kurang sukses, ya kita gali lagi ilmunya, kurang ini, kurang ini, tapi bahan kita yang mungkin kurang bagus atau yang lainnya kurang bagus kan gitu atau cara pencampurannya kurang pas kan gitu. Jadi sekarang alhamdulillah dengan kita terus inovasi, terus belajar alhamdulillah sekarang sudah dionanya itu zonanya aman banget gitu saya. Karena apa? Jadi kami setiap minggu kita ada rutinan ngopi bareng itu baik dari peternakan, dari pertanian, dari perkebunan kita ngopi bareng kita diskus di sana. Jadi kendala-kendala yang di lapangan teman-teman ada kendala kita pecahkan di situ. Bahkan sampai tingkat bisnisnya pun kita bas di situ. Clue-nya ke mana itu kita bas di situ. Orang yang gak percaya itu karena apa menurut jenengan? Enggak tahu faktor-faktor enggak percaya aja itu karena masih apa? Masih banyak kimia yang berkeliaran di sekitar kita kan. Jadi lebih mudahnya padahal kalau kita kaji itu jauh. Contohnya ini aja tanaman pangan ketika mereka pakai padat mereka buuk tiga kali misalkan tiga kali sudah ber kali berapa kilo kan ada lagi spray lagi. Sedangkan saya mupuk atau mengatasi hama penyakit itu juga spray. Artinya mereka pupuk padat tiga kali pupuk spraynya itu 5 kali kan 8 kali saya enam kali spray tok cukup kan. Kan di hemat di sebetulnya sebetulnya mereka bilang enggak enake pupuk nutrisi ini spray enggak enak kita enggak kuat padahal mereka juga nyepray kan itu kan ngomongnya ngapusi toi. Kita ngomongnya per 100 dulu aja ya. Saya sudah dulu waktu itu bikin analisa Mas. analisa usaha tani. Jadi kalau hari ini yang saya terapkan per 100 ruh itu dengan modal sekitar 1,8 sampai 2 juta. Itu untuk tanam benih pupuk dan bajak biaya tanam kan sekitar itu. Plus nanti sewa lahannya itu R,2 juta anggap aja 3,2. Sudah dikita bulatkan aja 3,5 gitu loh. Kalau hasil hari ini saya dapatkan 1,25 ton. Mungkin kalau dengan harga bulak hari 65 itu dapat 7 hampir Rp8 juta ya. Kalau kita kurangi 3,5 kan masih untung lumayan kan Mas? Masih banyak untungnya. Itu di saya loh ya. Itu kalau belum pakai nutrisi costnya jenengan yang keluarkan waktu itu berapa? Banyak Mas. Pupuknya kan mahal sekarang nih R2 juta lebih. Obatnya yang yang namanya skor itu 100 mili itu harganya Rp200.000 loh beberapa. Itu kan mahal di situ. Kita enggak perlu pakai itu. Cuman pakai nutrisi hewan batri sudah kayak skor itu fungsinya sama. Sekarang yang bercebel dengan saya yang full kimia itu cuma dapat 100 rut dapat 950 kg. Saya yang pakai dimik dengan nutrisi tadi dapat 1,25. Sama persis bersebelahan. Kemarin sudah saya video ini yang bul kimia ini yang pakai nutrisi. Ternyata tingginya pun juga berbeda dari malainya pun juga berbeda. Bahkan di ini di kebun apukat kita ini pakai nutrisi tanpa kimia ini. Jadi bahan baku ada di sekitar kita semuanya. Ada bonggol pisang. Tahu kan bonggol pisang tumpulnya pisang. Ada akar putri malu. Ada akar bambu abu sekam. Ada urin. Banyak kan urin. Baik urin kelinci atau urin sapi, urin kambing. Semuanya bisa dipakai. Ada lagi pakai janten juga jagung muda. Terus cambah ada tempe, ada pakai terasi ada pakai keong yang kuning itu atau kecot banyak macam. Ada pakai garam. Pokoknya semua unsur yang dibutuhkan tanaman insyaallah akan terpenuhi di situ semua. Bahan baku sebanyak itu ya sebatas cuman di campur digiling gitu aja. Iya. Terus difermentasi selama 1 bulan. Bahkan ada semennya, ada semen PVC-nya. Awalnya juga aneh gitu loh, tapi nyata gitu nyata. Cuman harapan saya gini, Mas. Jadi kalau ada petani atau beberapa petani yang inovasi ya tolong pemerintah dibantulah. Jangan malah ditekut-tekutin nanti kena pasal ini ini lah. Itu yang bikin kita itu malas itu loh. Jadi kalau ada petani inovasi kadang-kadang kita terbentur dengan aturan-aturan ini dengan ini. Kita mau inovasi seperti apa? Tujuan kita ini kan inovasi kan untuk kesejahteraan masyarakat kan. Biar nanti ilmu ini bisa diadopsi ke seluruh masyarakat biar tahu manfaatnya. Tapi kalau sudah kena pasal ini petani kan takut petani diki pasal tambah gak wani tambahan. Itu kalau petani itu berorientasi cuman untuk skala sing penting iso mangan. Ya sudah selesai di situ. Kita harus punya angan-angan gimana petani itu bisa menjadi sebuah industri industri pertanian. Itu harapannya seperti itu. Contoh kecil aja gini. Ketika ada pan raya itu banyak limbah yang di sawah itu enggak terpakai. Tapi di saat musim kering yang namanya cari rumput untuk pakan ternak itu susahnya minta ampun. Di situlah kita mau berinovasi. Coba kita belajar mengadopsi dari limbah-limbah itu. Kita jadikan dari bahan yang tidak produktif akan menjadikan sebuah bahan sesuatu yang ada nilainya. Itu harapan seperti itu. Mungkin ini mulai tak rintis ini ya. Jadi dari peternakan domba ini ya, saya berharap domba ini bernutrisi juga sehingga akan menampilkan daging-daging domba yang berkualitas. Terus nanti akan terciptalah di situ akan jadi lingungan yang bersih. Karena apa? limbah dari domba putan ini kita tarik ke bengkel tani. Nanti kan kita punya bengkel tani, Mas ya. Kita tarik ke bengkel tani, kita olah di situ dengan pupuk yang skala-skala lingkungan itu akan sangat bermanfaat untuk menyuburkan lahan-lahan petani. Itu yang pertama. Terus yang kedua, saya ingin menumbuhkan lingkungan kita ini akan menjadi pemuda-pemuda yang produktif, ben demen karo pertanian, band demen karo peternakan, gitu. Jadi mereka enggak usah lari ke mana-mana, lari ke luar negeri kek atau jadi ke mana kita di rumah aja kita sudah dapat cuan gitu loh. Itu harapan saya seperti itu lah. Harapan itu kalau tidak ada dukungan dari beberapa elemen mungkin pemerintah kek atau mungkin perusahaan kek atau mungkin apa itu juga enggak akan terwujud. Jadi kita harus membangun sebuah kerja sama yang antara pemerintah ada penggiat dan masyarakat itu saya kira insyaallah akan tercapai itu insyaallah. Saya juga punya mimpi besarlah itu. Kalau kita berpatukan dengan mindset kita cuman untuk kebutuhan kebutuhan makan enggak ada industrinya itu saya kira juga akan sulit untuk mencari generasi muda. Tapi kalau kita sudah menangkan sebuah inovasi dan skalanya industri ini sudah banyak di sini sebetulnya ada nilai-nilai lumayan nih. Sehingga alhamdulillah ini ada pemuda yang mulai melirik ke pertanian. Itu mimpi saya seperti itu di bidang pertanian dan di bidang peternakan. Kalau dari desa supportnya kemarin saya dengar mau ada koperasi merah putih nih dari dari interuksi presiden ya itu sangat-sangat setuju hari ini pengambilan gabah bulok pun juga masih terkendala dengan kuota ya kuotanya itu kita sediakan 5 tonnya diambil cuma 2 ton itu ramai di tingkat petani sehingga tetap aja tengkulak yang masuk sini bahkan kejadian di dibotan lain ya itu kemarin saya sempat ngobrol dengan petani akhirnya yang diuntungkan sama pedagang bulok di harga 65 ternyata kuotanya sedikit sehingga pedagang yol Gole share 65 dolan bulk agak tak beli dapat R5.000 R000 tak beli pengin mahal kebulok sementara kebulok kita enggak punya akses ke sana sehingga pedagang diuntungkan itu kejadian di kabupaten lain di Blitar enggak misalnya masih aman di [Musik] Blitar ini kita buktikan kan kita punya kebun ini alhamdulillah ini di tahun kedua kita dapat 12 juta waktu dengan populasi 77 batang di tahun ketiga dapat Rp85 juta di tahun ketiga ini kemarin tonasannya dapat 3 kom berapa ton gitu. Ini apcat ini itu murni dengan pupuk alami yang kita buat itu. Jadi biar mereka terinspirasi tapi alhamdulillah dari teman-teman yang lain sudah banyak belajar yang ke sini. Kalau kontraktor itu kan anggaplah setiap hari kita punya ini ya kalau dari petani itu kan musiman ya. Tapi kalau ketenangannya lebih tenang jadi petani. Saya kebetulan tani ternak cuman petani itu enggak punya tanggal. enggak punya tanggal gajian sama dengan ternak ini. Ternak kan kalau saya ternak ayam setiap hari panen itu. Makanya kalau kita bisa mengkonsep gimana saya bisa panen mingguan, panen harian, panen bulanan itu nanti tertata dengan sendirinya. Bahkan panen tahunan. Kalau kita investasi ke domba kan kita mungkin siklusnya 2 tahun kita ambil 2 tahun nanti panen 2 tahun kita totalan untung berapa rugi berapa kan kelihatan di situ. Kalau ayam ini kan harian. Kalau di pertanian mungkin musiman ya, musim panen juga dapat duit. Kalauin bikin mingguan tanam cabe. Cabe setiap 4 hari kan panen. Ini dengan lahan saya ini cuman populasi 3.600 batang. Sekali pan kita dapat R2 juta, 1,7 kan itu kan 4 hari sekali kan. Itu kan lumayan itu kalau diakumulasi juga gede tapi kalau harian enggak punya duit soalnya muter tuh duitnya itu enjoy. Petani apa apalagi dengan pola nutrisi tadi kita enggak perlu tiap hari ke sawah kan kita ada perawatan berkala kan gitu. Mungkin seminggu sekali kita ke sawah spray atau mungkin bisa tiap hari ke sawah cuman jalan-jalan aja enggak ada kegiatan enggak ada. Saya setiap hari sebetulnya ke sawah enggak ada kegiatan cuma jalan-jalan aja kita punya jadwal per 10 hari atau per 7 hari kita spray biasanya kalau perawatan dari nol sampai umur di masa vegetatif itu saya agak kita pres mungkin 5 hari sekali kita perawatan setelah itu sudah masa-masa panen masa-masa generatif kita santai sudah itu santai gitu kalau ayam harus tiap hari harus setiap hari kalau ayam bisa tapi harus punya ABK ya ini yang bikin nanti orang menarik ini kalau ayam pakai nutrisi itu biaya produksinya pertama rendah pakannya akan turun. Terus yang kedua untuk obat-obatan kita pun juga minim. Karena apa? Karena setiap hari kita kasih nutrisi, kita kasih bakteri untuk pengurainya. Yang seterusnya yang ketiga kotoran tidak berbau. Kita buktikan jenengan ini dekat-dekat kandang ya, tidak berbau. Yang seterusnya usia produksi semakin lama. Kalau mereka teman-teman cuman di usia 24 bulan kita bisa mencapai 30 bahkan sampai 36 bulan produksi. ada selisih 1 tahun itu yang beda. Sehingga kalau mereka bahasanya piara di atau sampai ke polet itu setiap 6 bulan harus membikin peremajaan lagi. Kita kan kalau kita rutin 6 bulan sekali kita bikin polet harus nambah kandang soalnya ini belum turun sudah polet sudah mau naik harus nambah kandang. Itu kita buktikan loh. Enggak enggak saya enggak cuman ngomong tok ini saya buktikan. Saya bisa melaksanakan seperti itu. Untuk refak vaksin pun kita juga minim produksi telur. Alhamdulillah sama dengan yang mereka yang pakai konvensional. Yang bedanya di kualitas telurnya kalau yang konvensional mungkin agak cair ya telurnya. Kalau yang pakai nutrisi itu ngejel, Mas. Alhamdulillah kemarin ada yang ng-lab ada yang ngelab di labkan itu ada kandungan omega3-nya. Seharusnya kalau itu sudah ada label omega 3 saya jual mahal loh seharusnya. Tapi saya tidak, saya ikut pasar aja. Sehingga bagi mereka yang kebetulan konsumsi punya saya, yo kebetulan dapat telur yang sehat gitu aja. Itu itu bonusnya sama dia jual dengan yang ini sama wong sama we untunge lumayan kok berlipat kok meneh lek ditol larang kan yo. Bahkan kemarin saya ada konsumen dari Tulungagung itu dia punya diabet Mas. Konsumsi telur ini dengan rutin ini ternyata konsumibatnya sudah berkurang. Jadi dia ikut rutin pagi satu, sore satu beberapa gitu loh. Pokoknya sehari dua dua telur, dua butir yang telur ini. Dia kalau ngambil ke sini juga 15 kilo, 10 kilo gitu ya. Alhamdulillah kalau memang bisa untuk seperti itu. Alhamdulillah. Terus ini insyaallah tidak alergi kalau makan telur ini. Misalnya ada kan makan gatel-gatel kan insyaallah tidak. Ini karena apa? Omega3 tadi. Kalau untuk ke pemerintah ya, regulasi ya itu harapan saya memang dipermudah dari ada inovasi, ada kalau untuk pertanian mungkin untuk regulasi pupuknya ya dipersingkat. Jadi enggak berbelit-belit. Soalnya gini, kemarin yang waktu berlanjut itu ketika kita tanam waktunya mupuk enggak ada pupuk sehingga kita beli yang non subsidi mahal. Untung saya punya inovasi kan aman enggak ada masalah. Bagi mereka yang tidak mau menggunakan inovasi berarti kan harus beli pupuk yang non subsidi yang mahal. Harapan saya. Jadi kalau kita lihat ri-nya di lapangan, kalau memang regulasinya dipermudah kenapa dipersulit gitu loh. Harus dipermudah. Itu bagi saya seperti itu. Kalau untuk mengakhiri ini marilah kita ciptakan lingkungan yang sehat ya sehingga akan tercipta masyarakat yang sehat dengan biaya yang murah kita bisa menyehatkan masyarakat. Itu aja kalau saya itu saya Pak Saiful dari Minggirsari Kabupaten Blitar. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.