Transcript
IXUiYWenNH0 • Pilih Hidup Damai di Desa, Mantan Kontraktor Jadi Petani dan Peternak Sukses!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0531_IXUiYWenNH0.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Hidup di perantuan itu sebesar apapun
yang kita dapatkan ternyata tidak enak.
Kalau untuk finansial saya kira saya
enggak ada masalah waktu itu ya. Tapi
karena keluarga ini terpisah sehingga
untuk apa ni? Batin ini kan kosong kan
gitu loh. Ternyata keluarga itu bisa
menentukan kita berhasil dan tidak
berhasilnya di keluarga.
[Musik]
kita buktikan hari ini saya panen dengan
bubuk kimia 30% saya dapat 1,2 ton
per100 ru ya atau 8,4 ton per hektar itu
alhamdulillah kita
[Musik]
buktikan kalau ke sawah kan nyangkrok
sama petani kan ternyata petani itu
sederhana dia itu enggak mikir Pajero,
enggak mikir Innova, enggak mikir sama
sekali yang penting dapat tupuk tanamnya
bagus sudah bersyukur dia itu. Jadi di
situ sudah ada pelajaran. Oh, petani
ternyata orang yang paling nerimo. Tapi
kadang kala bisa untuk dijadikan alat
kekuasaan, alat politik kan bisa petani
[Musik]
itu. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perkenalkan nama saya
Saiful Romyan dari Zaminggirsari RT2
RW6. Saya sebagai petani hari ini dari
petani mulai tahun 2000. Sebetulnya dari
awal kita juga anak petani cuman karena
kita keliling Indonesia jadi yo tahun
2000 baru jadi petani. Sew pinten saiki
Pak? 52. Jadi saya dulu itu sebagai ikut
kontraktor Mas ya. Ikut perusahaan
nasional itu ada Truburong. Saya belajar
mulai dari Palembang. sampai ke Padang
bahkan sampai ke Kalimantan itu terakhir
di sana. Python itu juga saya juga di
sana waktu sebagai ini Pak dari skillnya
perusahaan terus alhamdulillah terakhir
saya menepati supervisi ya ngerjaan
proyek PLTU waktu itu. Jadi saya belajar
dari nol mulai dari helper sampai semi
skill sampai skill forman itu saya
lewati semua tahapan itu alhamdulillah
sampai supervisor. Ketika saya nanti ke
proyek terus saya terbatasi saya paling
enggak sampai umur 45 itu harus
berhenti. Karena apa? Kalau saya ke sana
terus saya nanti di sini enggak dapat
pekerjaan, saya enggak punya usaha
sehingga saya harus pulang mau enggak
mau merintis pekerjaan di sini. Tapi
alhamdulillah step by step saya lalui.
Mulai jadi kontraktor bangunan di sini
sampai nyambi petani, nyambi beternak.
Alhamdulillah sampai saya menikmati hari
ini bisa untuk menghidupi keluarga kecil
saya gitu. Hidup di perantuan itu
sebesar apapun yang kita dapatkan
ternyata tidak enak. Kalau untuk
finansial saya kira saya enggak ada
masalah waktu itu tapi karena keluarga
ini terpisah sehingga untuk apa nih?
Berarti ini kan kosong kan gitu loh.
Ternyata keluarga itu bisa menentukan
kita berhasil dan tidak berhasilnya di
keluarga. Ternyata itu alhamdulillah
dengan pulang ke Jawa lagi ke desa
keluarga mendukung support dari kanan
kiri. Alhamdulillah saya bangkit hari
ini bisa seperti ini gitu semuanya
merana semua. Saya juga rindu kalau
diajak saya akan ikut perusahaan ini Mas
ada di mesnya ya. Ada mes perusahaan
gitu. Jadi enggak mungkin karena saya
pindah-pindah terus. Kalau keluarga saya
doa terus nanti anak saya seperti apa
nih? Nasibnya sekolahnya kan harus
pindah-pindah terus. Jadi saya mendingan
warga di rumah saya mungkin 3 bulan
pulang terus lagi. Tapi setelah berusaha
di desa ini itu lebih tenang, lebih
nyaman gitu. Saya dulu beternak puyuh,
Mas. Jadi petani saya beternak poh.
Setelah pulang dari sini kan saya masih
di proyek ya. Terus ada ma dikit saya
kembangkan di situ. Di tahun 2004 saya
poyo sampai tahun 2007. 2008 itu sudah
mengajak ke ayam. Kalau puyuh itu
siklusnya memang cepat ya, tapi untuk
endingnya ternyata nyaman di ayam. Kalau
puyuh di akhir-akhir produksi itu pasti
enggak seberapa. Tapi kalau ayam masih
alhamdulillah
lumayan. Jadi sewaktu masih main boy
kita coba ayam kandangnya bersebelahan
ya. Kebetulan ada pedagang datang, Pak.
Biasanya kalau puyuh gandeng ayam itu
yang gak kuat salah satu. Nah, di situ
sudah muncul sugesti kita itu nalah itu
ya kebetulan di tahun berikutnya itu
puyuhnya kena AI itu waktu itu. Betul.
Ternyata akhirnya kita hilangkan jadi
ayam semua sampai hari ini.
Alhamdulillah waktu itu flat, Mas. Jadi
masih sepultar tanaman pangan ya di
tahun 2019 itu baru menginjak ke mulai
ngenal Horti saya. Di situ ada keunikan
sendiri. Jadi kalau bertanya itu semua
orang bisalah wong mau nandur opo angele
kan itu itu prinsip itu ada kemauan
ternyata itu juga enggak semudah itu
jatuh bangun Mas semangat kita waktu itu
dengan kenyataannya itu berbanding
terbalik itu waktu itu pertani kan
samping Mas ya enggak khusus untuk
bertani enggak saya masih di proyek itu
enggak pernah untung jadi kalau kita nan
padi gitu cuman untuk stok pakan nanti
setahun untung di situ aja kalau
dibilang untung rugi itu pasti rugi
insyaallah seperti itu. Tapi karena
pertanian itu kita itu paling tenang
untuk di pertanian. Jadi rata-rata
masalah pertani itu dia kehidupannya
akan tenang. Di situ saya di dapat ilmu.
Ternyata masyarakat bertani itu tidak
muluk-muluk. Punya impian itu enggak
sebesar kita di mana itu enggak.
Sederhana banget. Saya diatul di situ
baru batin sudah mulai tertata tenang
gitu. Dibuktikan apa? Ketika orang tua
bertani tok, dia bisa sekolahan anaknya
sampai ke perguruan tinggi. Diu ada
berkahnya bertani. Kalau dihitung dengan
matematika, dengan kalkulator, enggak
akan ketemu. Tapi buktinya dia bisa
sekolah sampai program tinggi. Kalau
berhenti belum lama karena proyek itu
semakin berkembang. Waktu saya sangat
banyak sekali joba, keterbatasan sudah
makin tua, sudah mulai low kan. Ini
akhirnya saya mutus berhentilah. Saya
tekuni sekarang berernak sama bertani.
Jadi impian saya dulu mumpung saya masih
di proyek, saya kesempatan dapat modal
ya. Saya tanam di sawah atau di kandang
gitu. Setelah nanti kandang ini jalan
sawah jalan saya sudah berhenti ke
proyek sudah saya kira untuk hidup
cukuplah gitu. Alhamdulillah apa yang
saya impikan tercapai hari
ini. Waktu itu karena pupuk itu semakin
langka. Alhamdulillah pada tahun 21 ya
kita mengenal ada seseorang yang sangat
berjasa di Minggir Sari itu adik saya
itu dari Pak Dadang, Pak Jaduk sama Pak
Doni itu ke sini ngajari saya inovasi
gitu. kita diinovasi untuk belajar
membuat pupuk. Awalnya saya juga percaya
karena saya notabnya dari kimia full ya,
belajar dari Dinas Pertanian juga dari
kimia. Saya kekeh di situ, kekeh saya
debat di situ waktu itu. Itu ternyata
sebuah perangkap katanya. Ketika saya
terus mendebat terus, "Nah, ini kena
perangkap Pak Saiful ini." Gitu katanya.
Kalau kita dikasih wawasan dengan
inovasi itu kita enggak mendebat, kita
enggak akan berkembang. Iya, tok. Itu
enggak akan berkembang. Tapi ketika kita
punya ilmiahnya yang ini yang bla bla
bla bla, kita kan berdebat di situ kan.
Akhirnya dia tertantang endingnya. Sudah
gini aja, Mas. Kalau emang ini sampean
bagus coba dam saya gitu. Saya kasih
pupuknya saya tak tertarik demplot di
sinilah. Alhamdulillah waktu itu juga
berhasil. Alhamdulillah. Tapi begitu
saya belajar belajar tuh ya jatuh
bangun. Set ini 1 hektar lebih ada tanam
pangan, ada holti. Sebagan saya tanami
kandang juga
itu. Kebetulan lahan saya ini juga
lumayan luas. Kalau saya mengandalkan
yang dari pabrik, wah saya harus
mengeluarkan kocek banyak ini. Sehingga
saya cobalah kita inovasi biar bisa
menekan biaya. Ya, alhamdulillah kalau
soal pupuk obat-obatan saya enggak
pusing. Yang pusing kadang-kadang cuma
tenaga kerja aja. Saya kira salah baik
kimia atau pakai nutrisi itu tenaga
kerja sama. Cuman yang beda kan di
modalnya yang enggak sama gitu. Jadi
kalau bahasanya petani itu pekerjaan
yang halal yang resikonya rendah. Jangan
salah. Justru petani itu yang bisa
membikin rakyat sakit, bisa membikin
rakyat sehat. Tergantung konteks seperti
apa. Contoh gini, kalau bertani dengan
konteks kimia sehingga dia menggunakan
pestisida yang berlebihan, sekarang
banyak muncul ada yang kanker, ada yang
macam-macam ulah dari petani. Kalau kita
konsep menyehatkan masyarakat kita
modalnya sedikit, pupuk bikin sendiri
dengan limbah-limbah yang ada di sekitar
kita, hasilnya akan menjadi pangan
sehat, dikonsumsi pun juga sehat. Jadi
harapan saya gini, kalau ada teman-teman
yang bilang hasil organik itu mahal, loh
kok ya aneh ini wong modalnya aja murah
kok mahal gimana modalnya pupoknya kan
dari limbah, dari kandang, dari urin ya
kok dijual mahal kan yo aneh sehingga
saya balik jangan seperti itu polanya
lah sing lek mahal sing tuku sopo aku.
Jadi kita modal yang murah jadi makanan
yang sehat sehingga dikonsumsi
masyarakat pun juga sehat. Mereka yang
tukang becak yang petani makan sehat aja
beli mahal kan enggak kuat. Kalau kita
produksi pangan kita sehat, keluarga
kita sehat, teman-teman sehat, intinya
menyehatkan masyarakat kalau seperti
itu. Jadi enggak harus beli mahal gitu.
Tapi alhamdulillah selama saya bermain
di nutrisi ini, saya kira saya enggak
enggak pernah menganggarkan untuk biaya
berobat itu. Saya saya enggak toh
aman-aman. Alhamdulillah aman-aman aja
itu ya. Sakit biasa-biasa aja l enggak
sampai ini enggak ya. Sebetulnya kan ada
yang macam-macam ya penyakit ya.
sekarang alhamdulillah di keluarga saya
ini alhamdulillah dengan buah pun juga
makan buah sehat, telur pun saya juga
makan telur sehat e untuk padinya juga
sehat, sayuran pun kita juga sehat.
Alhamdulillah semua mendukung.
[Musik]
Hari ini pun yang katanya bubuk mudah
pakai KTP aja bisa nonsen itu katanya
hari tetap KTP yang dulu ditentukan
bayin bayi dress sama seperti hari
seperti itu sehingga saya malas seperti
itu mendingan bikin sendiri pupuk tapi
karena saya di sini dari kelompok tani
semua petani berharap ke saya juga saya
urusi saya yang pakai pupuk pemerintah
tapi prosesnya juga ribet hari ini
enggak semudah apa yang dibicarakan di
sana itu enggak semudah itu aturan
berlaku seperti dulu dibatasi masih itu.
Jadi di sana pun belinya kan juga cash
enggak bisa kita pinjam. Sementara
petani finansialnya kan juga bermasalah.
Mereka belum panen enggak punya duit
cash. Kalau dibankan hari ini pemerintah
bilang nanti langsung ke kelompok tani
duit dari mana nebus ini? Kan enggak
enggak enggak semudah itu kan. Jadi
regulasinya sekarang ini juga masih
berbelit-belit mulai dari distributor
sampai ke kios itu juga saya kira masih
kesulitan untuk kelompok tani. Itu fakta
Mas ya. Fakta. Jadi, pupuk hari ini
enggak semudah apa yang disampaikan itu.
Kita masih pakai regosa yang lama, masih
harus saya taran, sejak petani.
Sedangkan saya itu enggak enggak mungkin
ngurusi petani terus kan saya ada
pekerjaan sendiri, ada usaha sendiri.
Tapi itu masih berlaku. Kalau enggak
sesuai dengan KTP atau apa di-upload
enggak bisa ya juga enggak pernah dapat.
Kebetulan yang di sini itu pakai
kelompok, Mas. Jadi, ada yang kelompok
tani sehingga yang repot kelompok tani.
Petani mau tahunya juga dapat gitu aja.
Kalau saya jatah saya kan banyak ya. Ini
saya ambil semua tapi yang makai
teman-teman yang lainnya. Sehingga kalau
ada bahasanya per 100 dapat 19 kilo atau
20 kilo itu nanti bisa dapat satu sak
karena jatah saya diambil mereka. Saya
pakai pakai bubuk sendiri, pakai bikin
sendiri kan itu aja. Sehingga kalau di
sini ada lahan yang kurang pupuk bisa
terpenuni dengan jatah saya tadi. Tetap
saya ambil punya saya cuman tak kasihkan
yang butuh. Nanti kalau saya enggak
sayaambil nanti dirasa sombong kan. Nah,
sombong itu kan suerintah. Jadi biar
yang nikmati jangan teman-teman yang
lain kan gitu. Kalau ke sawah kan
nyangkrok sama petani kan. Ternyata
petani itu sederhana. Dia itu enggak
mikir Pajero, enggak mikir Innova,
enggak mikir sama sekali. Yang penting
dapat tupuk tanamnya bagus. Sudah
bersyukur dia itu enggak pernah berpikir
berandai-andai saya nanti kalau panen
beli mobil beli motor enggak pernah
seandai-andai. Jadi di situ sudah ada
pelajaran. Oh, petani ternyata orang
yang paling nerimo. Tapi kadang kala
bisa untuk dijadikan alat kekuasaan,
alat politik kan bisa petani itu.
Padahal dia itu sangat sangat-sangat di
bawah. Tapi ketika pemerintah hari ini
ingin petani tersenyum, saya sangat
sambut gembira itu saya setuju. Sudah
terlalu lama petani menderita ini. Untuk
peternakan populasi berapa sekarang?
Sekitar 5.000 ya. Kita berpikir apapun
usahanya ketika kita bisa menekan bia
produksi itu di situlah letak
keuntungannya. Sebesar apapun usaha itu
kalau kita tidak bisa menekan biaya
produksinya, sebesar apapun produksi
mereka costnya tinggi juga akan sedikit
keuntungannya di bidang apapun. Di
pertanian juga seperti itu, di
petaniakan seperti itu, ruminansia juga
seperti itu. Jadi kalau teman-teman
peternak itu teriak-teriak jagung mahal,
terus sentrat mahal, telur murah, itu
mungkin dia sangat terasa ya. Karena
apa? Beternak itu ruginya kan harian ya.
Per hari rugi berapa? Per hari kalau
petani mungkin bermusim ya. bermusim
sedikitlah ruginya. Kalau beternak itu
luar biasa. Itu kuncinya seperti itu.
Kalau bisa menekan bia produksi
insyaallah kita akan tetap bertahan. Itu
dibuktikan waktu kemarin di Covid ya. Ya
kan jatuh ini peternak telur sampai
Rp2.000. Tapi alhamdulillah saya
populisnya tambah populisinya dari dulu
1.00 jadi 2.500 3.000 terus naik-naik
terus sampai hari ini. Secara umum itu
yang kita hitung cuma biaya pakannya itu
pakan dan ubat-ubatan itu luar biasa.
itu kalau sudah kena jagung mahal, telur
murah sudah kab kita. Dari ini pun harga
telur cuma Rp22.000 sekian dari kandang
itu sudah mulai oling nih. Tapi
alhamdulillah saya menggunakan inovasi
ini alhamdulillah bisa tercover itu kita
tenang. Mereka sudah oling, kita
tenang-tenang
mawon. Jadi di HP ya, jadi harga pakan
teman-teman itu mungkin di angka 6.000
sekian, 65 atau 68 gitu ya per kilonya.
Saya kan di bawah 6.000. R000. Kalau per
kilopakan selesainya ada R500 sajalah.
Rp500. Kalau 1 hari per ekor ayam itu
konsumsinya 120 gr per ekor per hari.
Kalau 1000 berarti kan 120 kilo kalikan
1 minggu kalikan 1 bulan itu sudah juta
itu selisihnya. Jadi kita nutrisi, kita
bikin sendiri dengan ramuan yang
bermacam-macam yang tadi itu ternyata
bisa menghemat biaya pakan tadi. Karena
apa? Protein yang kita berikan di pakan
sangat rendah sehingga pakan kita murah.
Loh, dari mana kok bisa bertelur? Karena
nutrisi kita bisa menaikkan protein
pakan ini sampai 5%. Logikanya kalau
proteinnya mahal itu pasti mahal
diangganya. Kalau protein kita rendah
itu murah. Sehingga di situ selisihnya
bisa untuk semuanya. Untuk peternakan
bisa pertanian bisa ruminansia bisa.
Saya sudah teral beberapa ini ya. Ada
pertanian juga saya pakai itu. Di unggas
juga seperti itu. Luminansia juga pakai
itu. Di perikanan pun juga pakai itu.
Kalau pertanian kita menggunakan full
dengan kimia dibanding dengan dimik
dengan nutrisi itu bisa menurunkan biaya
sekitar 40%. Jadi kita modal murah
hasilnya maksimal. Kalau modalnya tinggi
hasilnya tinggi itu kan juga sama aja
bohong kan. Kalau ditanya teman-teman
sekian ton dapatnya bangga tapi modalnya
kan enggak dihitung. Terus untuk yang
dihasilkan kita akan produksi beras ya
juga beras sehat, sayuran juga sayuran
sehat. Karena waktu
tahun 2022 itu pernah kita lab ternyata
di situ zero untuk kimianya. Kalau di
ruminansia perbedaan paling signifikan
apa, Pak? Yang pertama itu pakannya kita
murah. Yang kedua kecepatan ADG-nya
penambahan daging itu cepat. Terus bau
kandang pun juga tercover sehingga
kotoran yang dihasilkan oleh Ruminansia
akan menjadi sebuah pupuk organik yang
sangat bermanfaat bagi dulur-dulur
petani kan gitu. Bahkan nanti kita
kembalikan lagi dari hasil sawah, limbah
sawah kita kembalikan ke ternak kita.
Selama tahun saya lakukan seperti itu.
Kalau kita full enggak pakai kimia itu
bisa kita harus membuang limbah yang di
kandang itu ke sawah. itu dasarnya
seperti itu. Permasalahannya ketika
petani lahannya yang di tengah yang jauh
dari jangkauan transportasi sehingga
kalau mereka dianjurkan untuk mengirim
pupuk organik ke sawah kan enggak
mungkin. Sehingga dari tim bengkel tani
dari pendamping-pendamping yang Pak
Dedang, Pak Jaduk sama yang lain-lainnya
itu buat inovasi lagi gimana agar supaya
peta itu yang di sana juga tersentuh
dengan pupuk organik yang tidak terlalu
repot dengan bahan organik padat. kita
terciptalah yang namanya super chest
[Musik]
tadi. Super chat ini pupuk plus pengurai
tanah. Kalau yang nutrisi ini cuman
untuk pupuk pengisian asam amino lah
bahasanya seperti itu. Super chas itu
dalam bentuk cair ya, Pak ya. Cair
kandungannya banyak. N-nya ada,
fosfatnya ada kaliumnya ada bakteri
pengurnya ada Fe-nya ada magnesium ada
kalsiumnya juga ada. Semua tuh yang
dibutuhkan tanaman insyaallah tercover
di situ. Kalau nutrisi kalau kita bilang
nutrisi hewani kita bahan kita ngambil
dari grupnya hewan. Contohnya ada ikan
lele, ada tuna, ada susu. Itu ada di
situ. Kalau kita ngambil dari nabati,
kita ngambil dari ada jagung, ada tempe,
ada kecambah, dan bahan-bahan toga yang
lainnya itu ada banyak situ. Setelah
jadi ada dua komponen tadi baru kita
mix, kita mix dengan perpaduan tertentu.
Kalau kita butuhnya misalkan untuk
pembuahan, kita mix dengan skala
perbandingan seperti ini, seperti ini
gitu. Kalau untuk pertumbuhan dengan
perbandingan nabotnya berapa persen atau
hewannya sekian persen gitu ada ilmunya
nanti. Yang enggak enak itu ketika ada
produk baru, "Pak, kalau pupuk ini pakai
ini, pakai ini." Tapi kan beli toh, Mas.
Kita itu analisanya kan dasarnya sudah
ada. Kita kembangkan, coba kita tambah
dengan ini, tambah dengan ini. Ternyata
luar biasa. Alhamdulillah. itu kita
buktikan hari ini saya panen dengan
bubuk kimia 30% saya dapat 1,2 ton
per100 ru ya atau 8,4 ton per hektar itu
alhamdulillah kita buktikan 1 hektar tuh
kira-kira sekitar 15 liter ya k sedikit
bikin sendiri lagi kan murah banget toh
itu yang enggak akan nemu di sana
orang-orang itu. Makanya bagi
teman-teman yang mau belajar, mau
sharing tentang ilmu nutrisi tadi,
monggo ke tempat kami di Minggirsari kan
gitu. Dan alhamdulillah lagi gini, Mas.
Jadi dari pemerintah desa itu sangat
support dengan kegiatan kami ini.
Sejatuh-jatuhnya yang pakai inovasi ini
enggak akan terasa kalau dibanding
dengan kimia. Soalnya kita modelnya
sedikit, cuman kita ruginya di waktu
aja. Dulu pernah tahun 22 itu saya coba
tanam cabai sekitar populasi Rp8.000 ya.
Rp8.000 bagus. itu yang 60% kena limbah
dari sungai itu mati semua. Tinggal 40%
itu bisa mengembalikan biaya yang sekian
ribu tadi. Terpenuhi. gitu. Dibilang
untung enggak untung, tapi rugi juga
enggak gitu
loh. Dulu awal namanya nitrobakter di
awal kita belajar di awal dasarnya itu
setelah itu kita kembangkan lagi. Jadi
molotop itu dengan bahan sekitar 30
bahan baru ketemu lagi sekarang super
chase ada tambahan-tambahan gitu lagi.
Kalau sekarang sudah ada super chest itu
sangat-sangat wah mudah. Jadi bahasanya
kita untuk kalangan sendiri, kalangan
petani sendiri. Kalau toh memang ada
yang membutuhkan kita cuman bahasanya
mengganti bahan bukan jual beli. Teman
girersari pun juga sudah mulai ada yang
makai tapi ya juga banyak yang bully kan
gitu. Tapi dari teman-teman desa lain
bahkan kecamatan lain bahkan pulau lain
juga sudah pernah makai, kabatan lain
juga sudah makai itu ya. Alhamdulillah
mereka juga nyaman di situ. Bahkan
sering kontak kami. Kalau ada kendala di
lapangan gini-gini ya sudah kita kasih
ilmunya, kita kasih ininya gitu. Kalau
untuk di sini jangankan kok percaya ini,
saya buktikan dengan lahan saya aja
enggak percaya masih enggak percaya. Itu
itu petani. Jadi gini, mendingan yang
jatuh kamu dulu nanti kalau kamu sudah
beras saya ikut. Kan gitu toh bahasanya
seperti itu. Jadi yang jadi korban
okelah saya enggak apa-apa jadi korban
memang saya dulu pernah bilang kalau
emang seperti ini oke saya jadi tumbal
diarin enggak apa-apa. Biar saya nanti
yang coba. Kalau emang sukses sudah
ikuti, kalau enggak ya jangan diikutan,
gitu. Ketika saya kurang sukses, ya kita
gali lagi ilmunya, kurang ini, kurang
ini, tapi bahan kita yang mungkin kurang
bagus atau yang lainnya kurang bagus kan
gitu atau cara pencampurannya kurang pas
kan gitu. Jadi sekarang alhamdulillah
dengan kita terus inovasi, terus belajar
alhamdulillah sekarang sudah dionanya
itu zonanya aman banget gitu saya.
Karena apa? Jadi kami setiap minggu kita
ada rutinan ngopi bareng itu baik dari
peternakan, dari pertanian, dari
perkebunan kita ngopi bareng kita diskus
di sana. Jadi kendala-kendala yang di
lapangan teman-teman ada kendala kita
pecahkan di situ. Bahkan sampai tingkat
bisnisnya pun kita bas di situ. Clue-nya
ke mana itu kita bas di situ. Orang yang
gak percaya itu karena apa menurut
jenengan? Enggak tahu faktor-faktor
enggak percaya aja itu karena masih apa?
Masih banyak kimia yang berkeliaran di
sekitar kita kan. Jadi lebih mudahnya
padahal kalau kita kaji itu jauh.
Contohnya ini aja tanaman pangan ketika
mereka pakai padat mereka buuk tiga kali
misalkan tiga kali sudah ber kali berapa
kilo kan ada lagi spray lagi. Sedangkan
saya mupuk atau mengatasi hama penyakit
itu juga spray. Artinya mereka pupuk
padat tiga kali pupuk spraynya itu 5
kali kan 8 kali saya enam kali spray tok
cukup kan. Kan di hemat di sebetulnya
sebetulnya mereka bilang enggak enake
pupuk nutrisi ini spray enggak enak kita
enggak kuat padahal mereka juga nyepray
kan itu kan ngomongnya ngapusi toi.
Kita ngomongnya per 100 dulu aja ya.
Saya sudah dulu waktu itu bikin analisa
Mas. analisa usaha tani. Jadi kalau hari
ini yang saya terapkan per 100 ruh itu
dengan modal sekitar 1,8 sampai 2 juta.
Itu untuk tanam benih pupuk dan bajak
biaya tanam kan sekitar itu. Plus nanti
sewa lahannya itu R,2 juta anggap aja
3,2. Sudah dikita bulatkan aja 3,5 gitu
loh. Kalau hasil hari ini saya dapatkan
1,25 ton. Mungkin kalau dengan harga
bulak hari 65 itu dapat 7 hampir Rp8
juta ya. Kalau kita kurangi 3,5 kan
masih untung lumayan kan Mas? Masih
banyak untungnya. Itu di saya loh ya.
Itu kalau belum pakai nutrisi costnya
jenengan yang keluarkan waktu itu
berapa? Banyak Mas. Pupuknya kan mahal
sekarang nih R2 juta lebih. Obatnya yang
yang namanya skor itu 100 mili itu
harganya Rp200.000 loh beberapa. Itu kan
mahal di situ. Kita enggak perlu pakai
itu. Cuman pakai nutrisi hewan batri
sudah kayak skor itu fungsinya sama.
Sekarang yang bercebel dengan saya yang
full kimia itu cuma dapat 100 rut dapat
950 kg. Saya yang pakai dimik dengan
nutrisi tadi dapat
1,25. Sama persis bersebelahan. Kemarin
sudah saya video ini yang bul kimia ini
yang pakai nutrisi. Ternyata tingginya
pun juga berbeda dari malainya pun juga
berbeda. Bahkan di ini di kebun apukat
kita ini pakai nutrisi tanpa kimia ini.
Jadi bahan baku ada di sekitar kita
semuanya. Ada bonggol pisang. Tahu kan
bonggol pisang tumpulnya pisang. Ada
akar putri malu. Ada akar bambu abu
sekam. Ada urin. Banyak kan urin. Baik
urin kelinci atau urin sapi, urin
kambing. Semuanya bisa dipakai. Ada lagi
pakai janten juga jagung muda. Terus
cambah ada tempe, ada pakai terasi ada
pakai keong yang kuning itu atau kecot
banyak macam. Ada pakai garam. Pokoknya
semua unsur yang dibutuhkan tanaman
insyaallah akan terpenuhi di situ semua.
Bahan baku sebanyak itu ya sebatas cuman
di campur digiling gitu aja. Iya. Terus
difermentasi selama 1 bulan. Bahkan ada
semennya, ada semen PVC-nya. Awalnya
juga aneh gitu loh, tapi nyata gitu
nyata. Cuman harapan saya gini, Mas.
Jadi kalau ada petani atau beberapa
petani yang inovasi ya tolong pemerintah
dibantulah. Jangan malah ditekut-tekutin
nanti kena pasal ini ini lah. Itu yang
bikin kita itu malas itu loh. Jadi kalau
ada petani inovasi kadang-kadang kita
terbentur dengan aturan-aturan ini
dengan ini. Kita mau inovasi seperti
apa? Tujuan kita ini kan inovasi kan
untuk kesejahteraan masyarakat kan. Biar
nanti ilmu ini bisa diadopsi ke seluruh
masyarakat biar tahu manfaatnya. Tapi
kalau sudah kena pasal ini petani kan
takut petani diki pasal tambah gak wani
tambahan. Itu kalau petani itu
berorientasi cuman untuk skala sing
penting iso mangan. Ya sudah selesai di
situ. Kita harus punya angan-angan
gimana petani itu bisa menjadi sebuah
industri industri pertanian. Itu
harapannya seperti itu. Contoh kecil aja
gini. Ketika ada pan raya itu banyak
limbah yang di sawah itu enggak
terpakai. Tapi di saat musim kering yang
namanya cari rumput untuk pakan ternak
itu susahnya minta ampun. Di situlah
kita mau berinovasi. Coba kita belajar
mengadopsi dari limbah-limbah itu. Kita
jadikan dari bahan yang tidak produktif
akan menjadikan sebuah bahan sesuatu
yang ada nilainya. Itu harapan seperti
itu. Mungkin ini mulai tak rintis ini
ya. Jadi dari peternakan domba ini ya,
saya berharap domba ini bernutrisi juga
sehingga akan menampilkan daging-daging
domba yang berkualitas. Terus nanti akan
terciptalah di situ akan jadi lingungan
yang bersih. Karena apa? limbah dari
domba putan ini kita tarik ke bengkel
tani. Nanti kan kita punya bengkel tani,
Mas ya. Kita tarik ke bengkel tani, kita
olah di situ dengan pupuk yang
skala-skala lingkungan itu akan sangat
bermanfaat untuk menyuburkan lahan-lahan
petani. Itu yang pertama. Terus yang
kedua, saya ingin menumbuhkan lingkungan
kita ini akan menjadi pemuda-pemuda yang
produktif, ben demen karo pertanian,
band demen karo peternakan, gitu. Jadi
mereka enggak usah lari ke mana-mana,
lari ke luar negeri kek atau jadi ke
mana kita di rumah aja kita sudah dapat
cuan gitu loh. Itu harapan saya seperti
itu lah. Harapan itu kalau tidak ada
dukungan dari beberapa elemen mungkin
pemerintah kek atau mungkin perusahaan
kek atau mungkin apa itu juga enggak
akan terwujud. Jadi kita harus membangun
sebuah kerja sama yang antara pemerintah
ada penggiat dan masyarakat itu saya
kira insyaallah akan tercapai itu
insyaallah. Saya juga punya mimpi
besarlah itu. Kalau kita berpatukan
dengan mindset kita cuman untuk
kebutuhan kebutuhan makan enggak ada
industrinya itu saya kira juga akan
sulit untuk mencari generasi muda. Tapi
kalau kita sudah menangkan sebuah
inovasi dan skalanya industri ini sudah
banyak di sini sebetulnya ada
nilai-nilai lumayan nih. Sehingga
alhamdulillah ini ada pemuda yang mulai
melirik ke pertanian. Itu mimpi saya
seperti itu di bidang pertanian dan di
bidang peternakan. Kalau dari desa
supportnya kemarin saya dengar mau ada
koperasi merah putih nih dari dari
interuksi presiden ya itu sangat-sangat
setuju hari ini pengambilan gabah bulok
pun juga masih terkendala dengan kuota
ya kuotanya itu kita sediakan 5 tonnya
diambil cuma 2 ton itu ramai di tingkat
petani sehingga tetap aja tengkulak yang
masuk sini bahkan kejadian di dibotan
lain ya itu kemarin saya sempat ngobrol
dengan petani akhirnya yang diuntungkan
sama pedagang bulok di harga 65 ternyata
kuotanya sedikit sehingga pedagang yol
Gole share 65 dolan bulk agak tak beli
dapat R5.000 R000 tak beli pengin mahal
kebulok sementara kebulok kita enggak
punya akses ke sana sehingga pedagang
diuntungkan itu kejadian di kabupaten
lain di Blitar enggak misalnya masih
aman di
[Musik]
Blitar ini kita buktikan kan kita punya
kebun ini alhamdulillah ini di tahun
kedua kita dapat 12 juta waktu dengan
populasi 77 batang di tahun ketiga dapat
Rp85 juta di tahun ketiga ini kemarin
tonasannya dapat 3 kom berapa ton gitu.
Ini apcat ini itu murni dengan pupuk
alami yang kita buat itu. Jadi biar
mereka terinspirasi tapi alhamdulillah
dari teman-teman yang lain sudah banyak
belajar yang ke sini. Kalau kontraktor
itu kan anggaplah setiap hari kita punya
ini ya kalau dari petani itu kan musiman
ya. Tapi kalau ketenangannya lebih
tenang jadi petani. Saya kebetulan tani
ternak cuman petani itu enggak punya
tanggal. enggak punya tanggal gajian
sama dengan ternak ini. Ternak kan kalau
saya ternak ayam setiap hari panen itu.
Makanya kalau kita bisa mengkonsep
gimana saya bisa panen mingguan, panen
harian, panen bulanan itu nanti tertata
dengan sendirinya. Bahkan panen tahunan.
Kalau kita investasi ke domba kan kita
mungkin siklusnya 2 tahun kita ambil 2
tahun nanti panen 2 tahun kita totalan
untung berapa rugi berapa kan kelihatan
di situ. Kalau ayam ini kan harian.
Kalau di pertanian mungkin musiman ya,
musim panen juga dapat duit. Kalauin
bikin mingguan tanam cabe. Cabe setiap 4
hari kan panen. Ini dengan lahan saya
ini cuman populasi 3.600 batang. Sekali
pan kita dapat R2 juta, 1,7 kan itu kan
4 hari sekali kan. Itu kan lumayan itu
kalau diakumulasi juga gede tapi kalau
harian enggak punya
duit soalnya muter tuh duitnya itu
enjoy. Petani apa apalagi dengan pola
nutrisi tadi kita enggak perlu tiap hari
ke sawah kan kita ada perawatan berkala
kan gitu. Mungkin seminggu sekali kita
ke sawah spray atau mungkin bisa tiap
hari ke sawah cuman jalan-jalan aja
enggak ada kegiatan enggak ada. Saya
setiap hari sebetulnya ke sawah enggak
ada kegiatan cuma jalan-jalan aja kita
punya jadwal per 10 hari atau per 7 hari
kita spray biasanya kalau perawatan dari
nol sampai umur di masa vegetatif itu
saya agak kita pres mungkin 5 hari
sekali kita perawatan setelah itu sudah
masa-masa panen masa-masa generatif kita
santai sudah itu santai gitu kalau ayam
harus tiap hari harus setiap hari kalau
ayam bisa tapi harus punya ABK ya ini
yang bikin nanti orang menarik ini kalau
ayam pakai nutrisi itu biaya produksinya
pertama rendah pakannya akan turun.
Terus yang kedua untuk obat-obatan kita
pun juga minim. Karena apa? Karena
setiap hari kita kasih nutrisi, kita
kasih bakteri untuk pengurainya. Yang
seterusnya yang ketiga kotoran tidak
berbau. Kita buktikan jenengan ini
dekat-dekat kandang ya, tidak berbau.
Yang seterusnya usia produksi semakin
lama. Kalau mereka teman-teman cuman di
usia 24 bulan kita bisa mencapai 30
bahkan sampai 36 bulan produksi. ada
selisih 1 tahun itu yang beda. Sehingga
kalau mereka bahasanya piara di atau
sampai ke polet itu setiap 6 bulan harus
membikin peremajaan lagi. Kita kan kalau
kita rutin 6 bulan sekali kita bikin
polet harus nambah kandang soalnya ini
belum turun sudah polet sudah mau naik
harus nambah kandang. Itu kita buktikan
loh. Enggak enggak saya enggak cuman
ngomong tok ini saya buktikan. Saya bisa
melaksanakan seperti itu. Untuk refak
vaksin pun kita juga minim produksi
telur. Alhamdulillah sama dengan yang
mereka yang pakai
konvensional. Yang bedanya di kualitas
telurnya kalau yang konvensional mungkin
agak cair ya telurnya. Kalau yang pakai
nutrisi itu ngejel, Mas. Alhamdulillah
kemarin ada yang ng-lab ada yang ngelab
di labkan itu ada kandungan omega3-nya.
Seharusnya kalau itu sudah ada label
omega 3 saya jual mahal loh seharusnya.
Tapi saya tidak, saya ikut pasar aja.
Sehingga bagi mereka yang kebetulan
konsumsi punya saya, yo kebetulan dapat
telur yang sehat gitu aja. Itu itu
bonusnya sama dia jual dengan yang ini
sama wong sama we untunge lumayan kok
berlipat kok meneh lek ditol larang kan
yo. Bahkan kemarin saya ada konsumen
dari Tulungagung itu dia punya diabet
Mas. Konsumsi telur ini dengan rutin ini
ternyata konsumibatnya sudah berkurang.
Jadi dia ikut rutin pagi satu, sore satu
beberapa gitu loh. Pokoknya sehari dua
dua telur, dua butir yang telur ini. Dia
kalau ngambil ke sini juga 15 kilo, 10
kilo gitu ya. Alhamdulillah kalau memang
bisa untuk seperti itu. Alhamdulillah.
Terus ini insyaallah tidak alergi kalau
makan telur ini. Misalnya ada kan makan
gatel-gatel kan insyaallah tidak. Ini
karena apa? Omega3 tadi. Kalau untuk ke
pemerintah ya, regulasi ya itu harapan
saya memang dipermudah dari ada inovasi,
ada kalau untuk pertanian mungkin untuk
regulasi pupuknya ya dipersingkat. Jadi
enggak berbelit-belit. Soalnya gini,
kemarin yang waktu berlanjut itu ketika
kita tanam waktunya mupuk enggak ada
pupuk sehingga kita beli yang non
subsidi mahal. Untung saya punya inovasi
kan aman enggak ada masalah. Bagi mereka
yang tidak mau menggunakan inovasi
berarti kan harus beli pupuk yang non
subsidi yang mahal. Harapan saya. Jadi
kalau kita lihat ri-nya di lapangan,
kalau memang regulasinya dipermudah
kenapa dipersulit gitu loh. Harus
dipermudah. Itu bagi saya seperti itu.
Kalau untuk mengakhiri ini marilah kita
ciptakan lingkungan yang sehat ya
sehingga akan tercipta masyarakat yang
sehat dengan biaya yang murah kita bisa
menyehatkan masyarakat. Itu aja kalau
saya itu saya Pak Saiful dari
Minggirsari Kabupaten Blitar. Terima
kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh.