Kind: captions Language: id Waktu itu cuma pegang uang Rp20.000 belum menikah. Motor ndak punya habis kejual. Semua aset yang aku punya waktu bekerja itu aku jual buat beli obat. Habis habis total, Mas. Uang cuma tinggal pegang Rp20.000 aja. [Musik] Itu saya nikah usia 2223. Bahkan dulu sama dokter pernah di itu Mas dendeni lah katanya ndak kalau hormonnya terus tinggi bisa ndak punya ndak bisa punya anak gitu. Iya ya itu galau Mas gimana nanti bilang sama calon suami. Jadi selama ini tuh saya kerja sambil survive penyakit saya. [Musik] Pertama kali saya jualan itu tahun 2017. Waktu itu masih online. Pada waktu itu kan dunia peronline-an masih belum seramai sekarang ya dengan jualan durian Mas pertama. Dulu modal pertama cuma Rp20.000. Kan sebelumnya itu saya ya kerja ikut orang tapi karena sakit bertiroid itu 2 tahun di rumah nganggur jadi gak punya uang apalagi ee background orang tua dulu juga bukan orang yang mampu ya. Ibu seorang penjahit, ayah juga kadang nganggur, kadang juga jadi kulit bangunan. Waktu itu cuma pegang uang Rp20.000 belum menikah. Motor ndak punya. Habis kejual semua aset yang aku punya waktu bekerja itu aku jual buat beli obat. Habis habis total, Mas. Uang cuma tinggal pegang Rp2.000 aja. Itu itu pun dikasih sama anu pacar aku yang sekarang jadi suami. Terus aku nekat kredit montor. Saya buat kulak durian ke sana. Saya buat beli durian yang dimakan musang itu loh, Mas. Kalau di sana kan dikatakan durian BS. Durian yang tidak layak jual. Harganya satu butir itu besar kecil sama Rp2.500 dapatnya berarti Rp20.008. Nah, itu saya jual saya bawa ke sini saya jual saya onlinek-an satu Rp10.000. Bu lari selaku kan kesukaannya orang hamil ya, Mas. Dapatlah untung Rp80.000. Nah, mulai dari sana saya bawa ke sana lagi. Saya kulakkan Rp50.000. Yang Rp30.000 saya buat beli mika sama plastik. Saya kupas, Mas. Biar dapat untungnya lebih banyak lagi. Saya onlinek kan ternyata peminatnya banyak. Saya jual satu mika Rp10.000-an itu dapat uang Rp200.000. Dari dari uang Rp20.000 dapatnya Rp200.000. Nah, habis musim durian itu kan saya bingung mau jalan apa. Akhirnya ke Pasar Ngemplak. Saya lihat gresiran di sana. Saya ambil, saya belanja pertama itu buah duku. Duku waktu itu harganya satu karung. Itu yang kecil ya, Mas. Yang cakra itu yang kecil-kecil itu 1 kilonya Rp8.000. Saya bawa pulang, saya foto, saya onlinek-an. Saya jual 12. Untungnya kan R.000 per kilo. Saya cuma bawa pertama itu bawa 10 kilo. Ternyata peminatnya banyak, Mas. 10 kilo habis dalam 2 jam langsung saya antar, Mas. Orang beli kan langsung 2 kilo, 2 kilo gitu kurang langsung ke sana lagi. Nah, mulai dari sana alhamdulillah lancar. Tapi lama-lama itu kalau ngantar sendiri kan apalagi kalau musim hujan gitu kan ya capek ya Mas. Capek. Akhirnya saya inisiatif buka kios di pinggir jalan dengan modal awal Rp800.000. Sewa sewa 1 bulan cuma Rp15.000 Mas 1 bulannya itu alhamdulillah lancar di sana lancar omsetnya semakin tambah pelanggan banyak modal awal 165. Terus buat kulak dagangan sekitar 500-an 600-an. Iya. Kalau tempatnya itu kan bekas warung, Mas. Jadi saya ndak begitu renovasi. Yus opo enek lah, Mas. Pertama kepadanya dulu saya jual di sana alhamdulillah satu dua orang beli. Terus mendekati lebaran itu kan lebaran kurang 2 minggu itu kan rame-rama buah ya, Mas. bingung lagi modalnya dari mana ini. Soalnya pembeli itu semakin banyak, permintaan semakin banyak, yang pesan barang semakin banyak, bingung lagi. Akhirnya ke pasar, alhamdulillah di pasar percaya orang, percaya sama penjual di sana. Ditawari, "Permintaanmu semakin banyak, gimana kalau bawa dagangan saya dulu, kamu jualan, nanti kalau habis baru dibayar." Tuh, saya juga takut, Mas. Soalnya kan pertama toh itu pertamane bawa uang orang harus tanggung jawab kan harus jujur. Nah itu akhirnya ya antara dilema apa enggak ya diambil aja. Oke tak ambil tak dasarne. Ternyata alhamdulillah lancar ya. Pertama itu duku terus coba jeruk coba ke semek. Mulai itu bingung ya itu bingung kurang puasa kurang 2 hari bingung. Akhirnya ke pasar dapat kepercayaan bawa buah impor. Buah impor bawa satu becak, Mas. Langsung. Nah, aku ya bingung, Mas. Ini satu becak uangnya itu kan ada R5 juta lebih ya. Bingung. Wah, lek gak habis gimana ini? Apalagi tahun berapa itu, Mbak? Tahun 2017. Sempat pernah jualan sate bebek. Nah, itu kan masih punya modal, belum sakit. Masih punya modal. Ya sudah sakit cuma masih punya modal, Mas. Waktu itu saya mulai kerja usia 16 tahun. Saya lulusan SMP. Enggak ada biaya, Mas. Iya. Sa itu sudah dibilangin sama orang tua, "Enggak, Mas. Tetap bayar, Mas." Iya, tetap bayar. Waktu itu SPP-nya dan lain-lain. Ibu saya sudah bilang gak bisa ngelanjutin ke SMA. Padahal saya cita-citanya saya malah penginnya jadi dokter waktu itu. Tapi ya gak apa-apa. Wis emang latar belakang keluarga kan. Apalagi dulu saya sekolah tiap hari itu enggak pernah dikasih uang saku. Paling seminggu sekali 1000.000 gitu. Bahkan kelas 3 SMP itu saking gak punyanya orang tua ya itu sepeda rusak. Bapak sepedanya buat ee kerja kuli. Akhirnya saya berangkat pulang sekolah itu jalan kaki dari Perempatan Geledek ke SMP 5. Sampai sana itu telat. Sakit itu di usia berapa, Mbak? Di usia 17 tahun. Tahun 2016. Jalannya saya kurus, badannya kurus tinggal 35 kilo berkeringat, sesak, terus mata jadi sedikit menyonjol sama ini leher. Iya. Hipertiroid. Itu penyakit model gimana sih, itu? Dia menyerang metabolisme. Kelebihan. Kalau aku, Mas. Kelebihan metabolisme. Kalau saya dulu kalau kata dokter itu penyebabnya dari mungkin dari faktor stres, dari faktor pengaruh makanan bisa atau mungkin keturunan. Tuh kalau saya kan memang kerjanya kan capek toh, Mas. Di grosiran itu kan angkat-angkat angkat-angkat ya. Walaupun baju kan kalau untuk kelas perempuan gak kuat ya. Mungkin itu faktornya. Kalau saya paling cuma itu bangun pagi, olahraga tiap pagi, terus minum, konsumsi obat-obatan, rempah-rempah tradisional sama rutin ke rumah sakit. Saya baru diagnosa normal itu tahun kemarin, Mas. 2024. Iya, belum lama. Jadi dari 20171 itu sampai 2024 baru normal hormon saya sampai hari ini masih alhamdulillah masih normal. Jadi selama ini tuh saya kerja sambil survive penyakit saya sebenarnya mengganggu kata dokter ya. Kalau hormonnya lagi tinggi itu malah gak boleh program hamil. Tapi dulu pertama hamil itu malah hormonku lagi tinggi-tingginya. Jadi saya dua kali hamil itu waktu muda itu hamil muda ya usia kandungan trimester pertama itu hiperemesis masuk keluar masuk keluar rumah sakit selama 4 bulan itu ya. Iya kurang lebih 7 tahun obat tiap hari itu gak boleh bolong. Saya nikah usia 2223 2018 ya Desember. Bahkan dulu sama dokter pernah di itu Mas dendeni lah katanya ndak kalau hormonnya terus tinggi bisa ndak punya ndak bisa punya anak. Oh gitu. Iya ya. Itu galau Mas. Gimana nanti bilang sama calon suami alah gak apa-apalah biar nanti aja kalau sudah menikah baru saya bilang gitu. Alhamdulillahnya 1 bulan setelah menikah saya hamil malahan. Iya hamil anak pertama itu. Tapi ya itu minusnya hiperemesis 3 bulan. keluar masuk rumah sakit. Tiap 1 minggu di rumah sakit pulang 1 hari terus besoknya masuk lagi gitu sampai 3 bulan ya. Saya sangat bersyukur kalau itu benar-benar bersyukur dapat suami yang baik, setia terus menemani suami. Tahu tahu tahu dari mulai sakit. Soalnya kan saya pacaran itu dari SMP sama suami itu dari SMP sampai menikah sekarang ini. Jadi senang susahnya saya beliau lebih tahu ya semangat begitu aja. Iya bariki habis ini bakal dapat yang lebih besar. Iya semangat gitu ya. Sudah semangat berdua gitu. Pegangan tangan gitu semangat gitu ya. itu Mas ngantar ngantar jemput kalau menurut aku ya ngantar jemput tiap kontrol ke rumah sakit. Nah itu ditemenin terus tiap hari dia ke rumah aku support ngajak jalan-jalan. Kan waktu sakit dulu kan berat badan aku cuma 35 kilo. Romantis, Mas. setia juga. Makanya aku [Musik] pilih waktu pertama kontrak di Beleduk itu ya itu tahun-tahun pertama itu berkembang pesat, Mas. Berkembang pesat sampai aku tambah 1 tahun. Dalam waktu 3 bulan aku tambah lagi 2 tahun. Itu berkembang pesat. Cuma modalnya kan dari titipan itu tadi dipercaya sama orang suruh menjualkan dagangannya. Nah, pas awal COVID anjlok Mas. Biasa omset di sana 1 hari R juta, R juta bahkan sampai R juta ya saya dibawa kan itu kita tiap hari itu satu becak. Satu becak itu bisa dua tiga kali datangnya. Buah impor, buah lokal. Belum. Kalau dulu masih buah, belum sayur. Terus paling dititipi jajan sama orang-orang. Kalau mau lebaran tuh jajan snack itu dititipkan. Alhamdulillah itu lancar juga. Itu bisa sampai Rp2 juta Omset sehari di sana. Ramai, Mas. Kadang orang beli grosir juga kan dijual lagi. Nah, pertama awal COVID masuk karantina kan, Mas? Itu karantina semua orang kan gak berani keluar. Saya sudah mencoba online kembali online lagi. Pertama aku online itu bisa ramai itu kan Grab masih belum masuk toh, Mas. 2017 masuk Tulungagung 2018 awal kalau gak salah. Jadi waktu COVID pertama itu aku kembali online lagi, Mas. saya onlinek-an lagi. Cuma orang itu ndak begitu berani menerima tamu kan, gak begitu berani order macam-macam kan. Keuangan masih gak stabil kan, kacau parah itu. Nah, tetap saja pemasukan menipis. Akhirnya buah kan kalau banyak kan tiap hari gak begitu laku kan busuk ya Mas. Nah, busuknya parah itu Mas. Parah. Bingung. Mulai bingung itu. Mulai bingung. Uangnya kan pemberian dari orang, dari kepercayaan orang. Bingung. Akhirnya sampai 1 tahun masa karantina itu total kerugian saya kurang lebih sampai 6070 juta ada. Wah, itu aku hilang 1 tahun Mas. Ndak ngabarin orang-orang pasar itu. Saya hilang itu. Wis kalap masih mumet di rumah kembali lagi itu penyakitnya. Berat saya 35 kilo lagi tuh. Nah, itu antenar dapat cobaan hamil melahirkan ke pekerjaan colet terus penyakit kambuh. Wis di rumah itu yang jualan suami. Suami jualan jagung keliling, jagung rebus keliling. Nah, itu mangkalnya kalau sore di daerah Kesian sana. Jadi kalau saya jualan buah, suami nyambinya jualan jagung. itu dari SMA dia beliau beliau jualan dari SMA kelas 2 kalau enggak kelas 3. Saya di rumah aja Mas itu terus bingung kan akhirnya ambil itu sampai ambil hutangan di bank titil itu loh datanglah semua ke rumah kan di cases tutup kan Mas gak berani aku ngatasin orang wis pusing aku. Nah, itu datang ke sini sampai mertua tahu, semua orang tetangga tahu. Akhirnya dibantu mertua sebagian kurang lebih R3 juta apa R juta gitu. Masih sisa banyak loh, Mas. Itu masih sisa banyak. Aset-aset yang di kios itu seperti kulkas dan lain-lain itu aku jual. Timbangan itu aku jual semua buat nyawur hutang. Motor suami juga kejual. kejual lagi. Kalau motor saya alhamdulillah gak tak pertahankan buat online soalnya yang bisa saya kan bisanya itu motor suami kan Vixion dulu itu kejual tabungan habis masih sisa kan utang masih sisa banyak bingung. Nah alhamdulillahnya waktu itu saya terdaftar jadi peserta PKH Mas karena punya anak kecil. 1 bulannya saya dapat dari PKH kurang lebih Rp800.000 tapi saya cuma ngomong sama suami dapatnya 300. yang 500 buat nyicil hutang di pasar. Saya cicil terus kembali online lagi, Mas. Waktu itu coba waktu corona itu yang laris kan susu susu segar asli itu kan yang ada beberapa brand sampai kosong itu. Nah, itu aku ambil kesempatan di situ. Saya jualan susu segar sama jahe. Jahe sama degan itu kan yang lagi. Kalau susunya saya ambil langsung ke Sendang. asli dari ee Koperasi Sendang sana. Jahenya jahenya alhamdulillah ada penyetor lah yang nawarin langsung dari petani ya ada sama ee degannya juga gitu. Titik baliknya ya waktu itu mulai perlahan jualan susu itu ramai Mas. Itu 1 hari bisa habis 400 botol yang 1,5 liter itu loh. Tapi minusnya dalam waktu 4 jam harus sudah sampai rumah semua. Karena susu kan ketahanannya cuma beberapa jam kan di luar ruangan. Nah nanti sama edukasi ke pembeli. Bu ini nanti kalau sudah sampai tolong dimasukkan kulkas ya. Gitu. sama jangan langsung diminum. Soalnya kan susu kalau dari peternak itu walaupun di koperasi itu kan katanya steril kan masih steril mesin kan Mas belum matang kan. Ngertinya pembeli itu steril mesin itu sudah bisa diminum jadi harus edukasi dulu. Alhamdulillah 400 botol sebagian bisa buat nyicil hutang dikit-dikit. Lunas Mas. Lunas di pasar juga gitu. sampai aku nangis ke pasar. Saya bilang, "Napuntene, Bu, 1 tahun hilang duite kalap." Kul ngoten, Mas. Wis sampai nangis di sana. Tapi ngih alhamdulillah mengerti semua sana pedagang. Soalnya kan ya memang pas waktu itu kan pas pandemi ya semua usaha banyak yang berantakan. Itu saya cicil lunas. Alhamdulillah. Nah, terus habis itu masih belum berani jualan buah, Mas. Saya saya sampai lihat pedagang buah di pinggir jalan itu saya trauma, Mas. Tutup mata saya trauma nangis. Saya dulu pernah jalan kayak gini loh ramainya Mas tuh bilang sama suami saya sekarang gini, "Gak apa-apa, Dek." kata suami saya, "Nanti kalau rezekinya pasti akan kembali kan gitu kata suami saya." Oh iya. Nah, terus itu di saya ambil kesempatan lagi di selatan saya kan dibangun dibuka wisata wisata. Itu loh, Mas. Kayak menara dulu loh. Menara apa? Bambu itu jegong Pak namanya. Nah, di sana saya dapat tempat satu jualan di sana. Itu modelnya itu pertama itu bukan modal dari suami juga bukan modal dari saya, Mas. Tapi pemberian orang. Jadi waktu itu kan benero hutang udah lunas kan tabungan kosong toh, Mas. Paling cuma dapat pendapatan dari suami jualan jagung itu 50 sampai 100. Itu buat beli susu sama kebutuhan kan habis. Saya bingung. BPJS juga gitu, Mas. Saya sakit selama 1 tahun itu selama corona itu saya ndak berani periksa soalnya BPJS-nya mati. makanya sampai kurus kering berat 35 itu. Nah, terus saking bingungnya ya kan aku pengin sembuh, pengin sembuh terus bantu suami lagi. Akhirnya saya kan gabung di grup yang namanya Pitatosca. Grup khusus untuk orang yang sakit seperti saya. Tiroid ada grupnya sendiri di Facebook ada di WA juga ada. Nanti kalau WA itu biasanya per daerah Jawa Timur, Jawa Tengah sendiri. Nah, itu saya gabung di sana. Saya sambatlah sama ee peserta grup. Saking saya wis izin keri lah dipikir keri sing penting sambat disik. Saya sambat saya bilang sama beliau-beliau, "Mungkin ada yang mau bantu bayarkan BPJS saya buat berobat." Alhamdulillah ada yang bantu, Mas. Namanya masih sampai sekarang masih saya ingat Mbak Rina, rumahnya Sidoarjo beliau. Nah, itu saya ditransfer R,5 juta. Alhamdulillah nangis tuh, Mas. Siang-siang saya sudah bingung bingung naik motor. Ya Allah iki piye BPJS mati duit duwe bingung nangis. Kurang lebih R800 kalau gak R00.000 ya. Tapi kalau I tapi kalau nak pegang uang kan ya uang segitu kan banyak toh Mas. Saya itu sudah bingung akhirnya alhamdulillah dapat transferan. Nangislah saya dapat transferan langsung saya bawa ke Indomaret saya bayarkan. Sisanya sisanya itu saya buat ambil kalung. Nah, kalung pemberian dari mertua itu kan sampai saya masukkan pegadaian diam-diam gak berani bicara, gak berani ngomong saya buat bayar hutang itu yang di pasar itu semua. Nah, saya masukkan akhirnya saya tebus. Saya tebus lagi. Nah, terus itu saya ambil saya sama buat nebus kalung Rp300.000 masih sisa kan? Masih sisa beberapa buat modal di sana jualan dijekdong itu jualan dawet hitam. Es dawet hitam kan di Tulungagung belum ada. Nah, saya inisiatiflah jualan itu. Alhamdulillah ramai ramai cuma sampai gak sampai setahun Mas di sana wisatanya tutup. Tutup lagi bingung lagi. Nah, dari situ saya mulai memutuskan berani jualan buah [Musik] lagi. Dari situ yang ku ambil pertama itu apokat, Mas. Musim apokat. Aku cari-cari petani langsung ke sana ke tanggung gunung sama suami saya diantar cari-cari petani di sana. Alhamdulillah dapat saya onlinek-an lagi di Facebook. Alhamdulillah ramai. Itu online-an yang kedua sistemnya itu nak orang pesan saya antar gitu nak ya. Orang pesan tetap saya antar tapi saya bawa lebihan. Jadi misal saya dari Tanggung Gunung bawa 100 kilo ya ke sini. Terus pesanan saya cuma 40 kilo. Lebihannya itu saya timbangi sekalian. Jadi saya itu anu sekaligus ngantar pesanan. Plus kalau di tempat di gang itu pas ada ibu-ibu yang joggr tawarkan juga gitu tiap hari alhamdulillah bisa habis gitu. Tahun berapa, Mbak? Kurang lebih mulai jualan online lagi 2020. 2020? Iya. Mulai susu, mulai apocat itu 2020. Buahnya mulai memberanikan diri du. Iya. 2002anan lah. Sudah berani ya. Walaupun ada sedikit-sedikit wis ndak pengin gede koy biyen neh gitu, Mas. Tapi ya namanya jiwa muda ya, Mas. Tetaplah penasaran yaitu jalan apokat alhamdulillah laris. Sehari bisa sampai 100 kilo, 200 kilo. Pelanggan-pelanggan itu balik lagi, Mas, nyari aku. Ternyata alhamdulillahnya di WA dapat WA dari postingan Facebook kan. Mbak aku dulu langgananmu yang digeleduk gitu. pesan ini alhamdulillahnya baiknya langgananku ya itu Mas tetap dikejar aku. Bukan malah aku yang nyari mereka alhamdulillah mereka malah datang sendiri. Nah itu terus saya jualan apokat. Alhamdulillah laris jualan sawo. Nah karena anak-anak ya anak-anak kecil kan gak bisa seperti muda dulu. Akhirnya saya putuskan buka di rumah. Iya. Itu pertama itu ragu Mas. Mosok toh jualan di rumah arepe anu enek wong moro apa meneh masuk gang kan yo aduh jauh dari kota. Ya udah, saya prinsipnya gini yang kali ini. Kalau memang ini rezeki saya di buah, ini memang jodoh saya, gak usah saya harus cari tempat di pinggir jalan seperti dulu, orang pasti datang ke sini nyari saya gitu. Saya prinsipnya alhamdulillahnya langganannya nyari beneran, Mas. Datang ke sini semua nyari loh, Mbak sekarang jualan di sini toh gitu. Nah, itu terus do datang ke sini. Alhamdulillah ya. Alhamdulillah itu dapat pelanggan yang baik semua, setia semua. Keberuntungan saya itu Mas termasukan. Nah itu terus saya buka bikin grup reseller. Nah saya buka bikin grup reseller. Dagangan saya saya posting di bisa dijual lagi. Saya ambil laba lebih sedikit separuh harga dari ecer. Jadi saya bedakan untuk reseller itu alhamdulillah banyak yang mau gabung banyak resellernya sampai sekarang omsetnya juga naik alhamdulillah sampai sekarang. Kalau sekarang ada tiga outlet yang satu di Pinka gapuro yang selatan. Yang satu PINKA Utara timur jalan. Yang satu di Plosok Kandang sama pusatnya sini. Untuk sekarang alhamdulillah omsetnya untuk sini ya. Kalau untuk sini kalau paling sepi itu sekitar R juta sampai 10 itu paling sepi ya paling sehari. Kalau pas ramai pas ada buah yang promo-promo itu bisa sampai 20 30 itu bisa profitnya kurang lebih R1 juta sampai R2 juta bahkan bisa lebih, Mas. 10 sampai 40% bisa kok Mas tergantung itu buahnya ya. Ya, kalau buah itu kan tiap tahun itu pasti ada masa lenggangnya ya, Mas. Masa lenggangnya. Nah, sementara sayur itu kan gak tiap hari pasti orang cari. Apalagi saya inisiatifnya gini, apalagi kalau orang jualan buah plus sayur. Pastilah orang kan sekalian belanja. Nah, itu saya mulai bisnis sayur itu tahun 2024 kemarin. Tapi belum anu, Mas. Belum seintensif. sekarang masih kadang jualan kadang gak gitu sayurnya kadang ada kadang gak gitu. Nah, mulai telaten itu saya jualan sayur masih 1 bulanan ini ya. Alhamdulillah bagus saya yang kali ini alhamdulillah bagus berkembang saya telateni itu ya. Kalau saya itu prinsipnya dagang gini, Mas. Laba sedikit tapi cepat habis. I karena buah itu kan buah kalau sayur itu malah lebih cepat rusak, Mas. 1 hari itu harus habis. Kalau gak habis dipromo atau dibuang agar pelanggan itu tetap puas, ya. Karena kan saya maunya itu dagangan saya harus tetap terlihat fresh tiap hari. Jadi kalau misal ada yang anu langsung saya buang. Kalau sayur, kalau buah itu ketahanannya 2 sampai 3 hari. Ada yang 1 minggu. Kalau buah impor kan 1 minggu. Cuma kalau saya ndak telaten, Mas. Buah saya laku lama-lama itu gak telaten. Jadi kalau 1 hari 2 hari belum begitu keluar banyak langsung saya obral. Saya obral nanti kalau yang rusak itu saya kupasi, saya irisi, saya buang yang rusak itu saya jual sendiri gitu. Yang gak layak saya saya buang. Kalau buah gitu, Mas penanganannya tergantung dapatnya. Kadang itu kena prank. Jadi kalau buah itu kan belanjanya itu berdasarkan kepercayaan ya, Mas. Buah dan sayur. Gak bisa kita telepon terus langsung datang sesuai dengan keinginan kita. Kadang itu barang datang itu gak sesuai keinginan. Jadi kalau aku tuh lebih senang itu langsung ke sana, langsung ke petani, langsung ke lokasi, ke lahan atau langsung ke pasar cek gitu, Mas. Kalau gak gitu nanti persentasinya rusak itu bisa sampai 50% bahkan bisa lebih. Iya. Pernah, Mas. Enggak lah, Mas. Itu udah ya wis batine itu kan pakai promo gak ada, Mas. Udah doa sama yang di atas. Nah, mungkin kalau aku itu nabungnya gini, Mas. Biar ndak rugi banget ya. Saya sendirikan misal kayak gaji karyawan tiap hari berapa? Nah, misal karyawan saya 10 gitu ya. Nanti per karyawan itu gajinya berapa? Saya kalikan 10 itu nanti saya sisihkan sendiri, Mas, uangnya. Terus nanti uang-uang modal sama uang untuk saya sendiri untuk keperluan pribadi juga saya sisihkan. Jadi saya ada bukunya itu kecil-kecil sendiri gitu. Nak ndak ndak pendapan segini langsung saya tabung semua terus nanti saya ambil itu ndak saya anu kasihkan buku-buku sendiri kecil gitu dompet-dompet kecil gitu. Jadi nanti saya bukanya tiap bulan profitnya berapa. Karena kan kadang kalau pas dapat buah yang jelek gitu kan ambil modal lagi kan gitu minusnya buah itu gitu. Nanti kalau pas datangnya ternyata gak sesuai apalagi ee harga buah kan enggak stabil. Misal hari ini dapat harga Rp10.000 ternyata besok harganya turun Rp8.000. Nah itu kan udah mati kutu dulu kan sebelum main. Akhirnya kan harus ikut harga terbaru. Kalau seperti itu kan otomatis kan rugi ya Mas. Nah, itu baru tak ambilkan dari uang modal itu. Tapi saya jualan yang kali ini saya usahakan nak jangan sampai hutang, Mas. Paling ada hutang cuma sama beberapa pembeli nak sama beberapa penjual gak seperti dulu Mas. Kalau dulu kan semua penjual yang mau ngajak kerja sama mau nitipkan dagangan, oke saya ambil. Kalau sekarang gak, cuma ada beberapa saja paling satu dua orang. Selebihnya itu langsung eh sendiri dari modal sendiri. Iya, dalam bentuk dalam bentuk uang. Iya. Saya sebisa mungkin menghindari riba sampai sekarang gak ada utang sama sekali gak? Kalau utang riba gak ada, Mas. Paling dalam bentuk barang aja. Cuma satu dua orang saja, Mas yang benar-benar bisa saya andilkan, gitu loh. Kalau banyak-banyak mumet nanti. Menghindari riba itu. Saya belajar dari dulu kan pernah utang riba sama bank titil itu malah semakin terjerat. Nah, itu saya hindari sekarang. Nah, kalau limbah sayur itu yang masih bisa diolah buat pakan ternak. Kalau yang udah parah-parah dibuang. Baru dibuang. Iya. Sama. Sama buat pakan ternak. Paling kalau saya kan mertua ada beberapa kambing di belakang. Jadi ya itu bat itu banyak, Mas. 20 varian lebih. Lebih. Iya. Paling ya 30 40 20 30 Oh ya buah apa? Salak. Salak. Iya salak 1 hari itu busuknya sudah banyak Mas. Kan kalau musim itu saya bisa datangkan 1 2 ton bahkan sampai 5 ton ya kalau pas musim pas murah gitu. Nah itu sehari harus habis. Kalau gak gitu besok rusaknya bisa satu kental sampai 2 kentol per hari itu rusak. Iya apalagi kalau musim hujan lebih banyak lagi nanti rusaknya. Salah itu lebih rentan. Kalau yang masa masa segarnya lama itu apokat. Cuma kalau apokat kan kalau udah matang harus cepat habis. Kalau gak gitu rusak nanti alhamdulillah. Karena kan itu tadi saya [Musik] onlinek-an biasanya orang-orang yang itu Mas ee lagi sakit kena DB itu biasanya kan kalau orang-orang sakit itu kan bingung ya Mas cari tempatnya. Nah sementara saya kan tiap hari saya onlinekan saya tawarkan di platform ya. Alhamdulillah itu dapatnya pembeli dari sana. Jadi semua buah yang saya online onlinekan itu buah yang ready. Prinsip saya itu gini, harus ada barang dulu baru diposting. Jadi kan saya kan online dan offline ya, Mas. Kalau cuma online mungkin sama preorder bisa, tapi kalau ada offline-nya kadang habis diposting itu orang langsung datang, Mas. Nah, kalau barangnya ndak ada akhirnya kan mengecewakan. Wis ndak balik, Mas. Gitu tibakno ndak enek akhirnya ndak ndak jadi ke sini lagi. Jadi saya ambil ke senengannya pembeli itu dari sana. Barang harus ada dulu baru diposting. Kalau sekarang Facebook, Instagram, TikTok, WhatsApp. Saya bikin konten, Mas. Tiap hari ya. Jualan buah nge-live gitu ya. Live TikTok tiap hari sebisa mungkin pasenggangnya gitu. Kalau konten buah itu paling sehabis buah datang ya, sehabis saya belanja, saya bikin video, saya upload langsung tanpa edit-edit. Saya ndak ndak telatan, Mas, ngedit-ngedit. Jadi, habis dibuat video langsung saya posting gitu. Nanti paling saya foto baru diposting di WA gitu. Saya reviewkan buahnya. J gitu aja ya. Sesederhana itu ya. Iya. Sesederhana itu gak ngedit-ngedit dipakaiin apa gak enggak telat Mas. Soalnya kan buah kan kalau saya dagangan saya itu ya kadang sehari bisa datang tiga klotter dua kloter gitu. Jadi nanti kalau nunggu ngedit gak nang-endang laku Mas. Akhirnya ya itu pakai jurus lama aja habis di-review langsung posting gitu. Sudah luar kota Blitar ada beberapa Trenggal ada Kediri juga ada. Kadang itu pelanggan-pelanggan dari luar kota itu datangnya kalau postingan saya viral di TikTok, di Facebook itu kan penasaran ya, Mas. Akhirnya datang ke sini alhamdulillah ada yang beberapa sampai langganan gitu. Ada beberapa juga kan kadang saya kalau datangkan buah pas murah gitu kan saya groser juga. Ada beberapa pedagang juga yang langganan ke sini untuk sekarang. Kalau kirim ya tiap hari kirim ecer, Mas. Saya kalau untuk grosir, untuk penjual yang mau pulakan di saya itu tak suruh langsung ke sini biar tahu dulu barangnya, biar dilihat dulu. Nanti kalau senang, kalau marem baru dibeli. Saya prinsipnya gitu, Ndak. Jadi ndak mau pesan berapa saya sisihkan gitu. Ndak disisihkan kalau orangnya sudah benar-benar sing wis kulino rene lah, Mas. Rasa syukurnya lebih besar ya. Alhamdulillahnya saya bisa ee merubah keuangan keluarga, terutama orang tua saya yang dulunya buat makan saja harus pinjam-pinjam dulu ke tetangga uangnya sampai bingung mau ngembalikan. Alhamdulillah sekarang ee bisa tercukupi gitu, Mas. Alhamdulillahnya. Terus ya alhamdulillah anak-anak saya bisa terbeli barang-barang apa yang dulu saya ndak bisa beli gitu. Kalau aku cita-citanya pengin mengumhkan orang tuaku, orang tua dan mertua semuanya karena mereka adalah semangat hidupku, Mas. Ya, umrah, haji harus itu. Saya sebelum punya segalanya harus mereka harus senang dulu kalau princip saya, Mas. orang tua, keluarga itu harus senang dulu sebelum saya gitu. Kalau prinik saya itu maremne wong tuek disik lah, Mas. Jadi saya kalau punya misal dapat rezeki banyak itu yang saya senangkan dulu orang tua, mertua, mertua, ibu, bapak saya ajak jalan-jalan saya belikan misal pengin apa gitu saya tanyakan pengin jalan-jalan ke mana gitu. Orang itu apa toh, Mas mintanya? Paling juga bisa kumpul sama anak-anaknya aja toh, jalan-jalan bareng gitu. Paling gak minta apa-apa. Harus konsisten, tekadnya, harus kuat, harus ulet, gak boleh gampang menyerah. Betul ya. Semua ada masanya. Harus percayalah sama yang di atas, percaya sama Tuhan. Perbanyak doa aja. Oh, pernah, Mas. Pernah. Dulu kios kiosku yang di ngeledek itu sampai disebari bunga kan pas pertigaan toh Mas. Tusuk sate pernah disebari pas rameai-ramainya sebari bunga tusuk sate sampah pernah Mas. Sampah satu pikep paling kalau dikumpulkan itu pernah malam-malam disebari gitu. Tapi saya kan prinsipnya gini kalau misal ada orang yang gak senang itu jangan minta ke sesama dukun. Mintanya sama yang kuasa. Iya kan? tetap harus berdoa, perbanyak ikhtiarnya, perbanyak tahajudnya, wirannya gitu. Perbanyak sembahyangnya lah nggih. Tiap malam itu bangun wiritan gitu, wiran salat gitu. Kalau saya, Mas, nanti kalau ada beberapa rezeki lebih ya bersedekah gitu. Kalau saya prinsipnya cuma gitu, Mas. Gak ada yang lebih. Gak mau cari-cari yang lain-lain yang aneh-aneh. Saya Nimas owner dari Berkah Rejo Mulyo yang beralamat di Dusun Kalituri, Desa Waung, Kecamatan Welangu, Kabupaten Tulungagung. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.