Transcript
W8P5r57aJ7w • Kenapa Bisnis Kuliner Cepat Viral, Tapi Gagal Bertahan? - Analisis dan Solusi
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0511_W8P5r57aJ7w.txt
Kind: captions Language: id Ada sebuah kuliner yang baru buka. Katakanlah kuliner bakso pedas dengan level setan yang tiba-tiba ramai sekali. Baru buka opening langsung ramai. Banyak diserbu pengunjung. Yang beli pun banyak diliput di beberapa media. Viral sekali orang nungguin antri 30 menit 1 jam rela mereka antri untuk menunggu makanannya datang. Tapi ketika kita datang 6 bulan kemudian di toko tersebut, di tempat kuliner tersebut apa yang terjadi? ternyata kulinernya menjadi sepi. Lantas ke mana mereka yang dulu viral sekarang ditinggal? Yuk kita belajar bagaimana memviralkan kuliner. Tapi bukannya viral sesaat, bagaimana kuliner ini bisa berumur panjang. Kalau teman-teman tertarik dengan tema ini, simak sampai akhir. [Musik] Perkenalkan teman-teman, saya Agung Hartadi. Dulu memang saya di belakang layar menginterview banyak ratusan pengusaha yang hadir di pecah telur. Sekarang saya mulai di depan layar seperti yang bisa teman-teman lihat. Nah, lantas siapa saya kok tiba-tiba ngomongin kuliner? Ngomongin kuliner viral, ngomongin kuliner rame, apa kapasitas saya? Jadi sebenarnya teman-teman materi ini saya dapat dari TRK membership pecah telur. Ada seorang pengusaha namanya Pak Zaim Fatawi. Beliau memiliki enam brand kuliner yang bertahan lebih dari 10 tahun. Jadi materi ini sebenarnya untuk membership pecah telur dan saya ambil satu video untuk saya jadikan di e segmen ini. Teman-teman kalau tertarik dengan materi kuliner ini lebih dalam dengan Pak Saim Fatawi bisa juga daftar di membership level 3 ya ee tentang brand dan marketing. Di situ ada kupas tuntas bagaimana marketing kuliner. Baik kita ngomongin kuliner yang dulu viral apakah bisa diviralkan kembali teman-teman? Memang hari ini luar biasa. Konten kreator ini sangat berkembang pesat, terutama juga di kuliner. Banyak kuliner dengan segala ciri khasnya bermunculan. Contoh ya, Teman-teman. Katakanlah kalau saya sebut mungkin Teman-teman tahu. Contoh ya yang terkenal dengan mukbangnya siapa? Tahu kan? Nah, Tan Boikun yang terkenal dengan e mer-review konten-konten pinggir jalan siapa? Next Carlos kan gitu ya. Banyak. Itu kan di level nasional bahkan di level kabupaten, di level provinsi banyak sekali. Bahkan di nasional juga banyak sekali ya. mereka tidak bisa nyebutin satu persatu. Nah, memang kuliner ini memang sesuatu yang menarik untuk dibas di konten gitu ya. Dan itu juga berdampak pada yang di-review yang di-review menjadi dapat traffic tambahan, dapat traffic dari review tersebut. Nah, fenomena ini membuat viral dadakan yang kadang-kadang seorang pengusaha itu belum siap untuk viral. Begitu loh, Teman-teman. Bahkan saya menemukan sebuah pengusaha yang di mana dia itu membuat skema memviralkan gitu ya. Maksudnya gimana? Tidak melulu mereka hanya menerima orang yang mau me-review tapi bahkan mereka mengundang bahkan di jadwal bulan Januari katalah dengan inventor siapa? Bulan Februari dengan influencer siapa dan begitu seterusnya. Nah, jadi memang ini juga bisa menjadi strategi viral dan terbukti juga ketika makanannya beres, servisnya oke, itu bisa menjadi strategi viral, Teman-teman. Saya banyak menemukan yang seperti itu. Lantas kenapa yang dulu viral tiba-tiba bisa jadi sepi? Ada banyak faktor. Minimal ada dua faktor, Teman-teman. Pertama adalah mereka belum siap viral. Jadi kadang-kadang mereka memaksakan diri baru opening langsung ngundang influencer gede atau ngundang influencer yang mungkin juga tidak gede-gede banget dengan kapasitas yang banyak sekali. Ayo saya opening, silakan datang review makanan saya. Dia mengundang influencer secara cuma-cuma dengan barter makanan. Bisa jadi. Atau bahkan mereka bayar influencer untuk mer-review makanannya. Bisa jadi seperti itu. Dampaknya banyak pengunjung yang tiba-tiba menyerbu FOMO lah gitu ya. Tidak mau ketinggalan momen gitu ya. Biasanya orang story dan sebagainya dia kemudian datang ke situ untuk menikmati makanannya. Ternyata teman-teman belum siap. Belum siap ramai. Bisa jadi bahannya masih sedikit. Suplai makanannya teman-teman sediakan sedikit. Jadi intinya belum siap atau ada bahan makanan yang itu langka dan tidak bisa didadak, tidak bisa diorder dengan cepat begitu ya. Sehingga apa? ketika banyak orang datang, mereka harus nunggu lama atau bahkan ee menu yang mereka order kosong. Jadi mereka belum siap dari segi suplai atau dari segi pelayanan. Namanya toko baru yang melayani juga tentunya baru. Mereka belum ditraining dengan baik, mereka belum siap kedatangan traffic dengan banyak gitu ya. Alhasil mereka belum siap. Alhasil mereka mengecewakan pelanggan. Kasirnya pun juga begitu. Pernah suatu ketika saya menginterview seorang pengusaha kuliner dan yang mereka mencoba untuk diliput di media influencer lokal begitu ya. Tiba-tiba ramai sekali dan ternyata apa? Dia marah-marahin konsumennya karena apa? Karena konsumennya tidak sabar sehingga dia juga ikut naik ownernya dan dia marah-marahin. Yang namanya konsumen itu selalu benar ya. Yang namanya pembeli bagaikan raja. Jadi memang akan menjadi bumerang ketika kita belum siap viral. Begitu ya. Yang kedua adalah dia buru-buru, Teman-teman. Kesalahan kedua, dia buru-buru. Wah, ternyata viral nih. Banyak yang datang. Berarti makanan saya bisa diterima. Dia keburu ekspansi. Dia nambahin tempat mejanya. Bisa jadi dia nambahin, dia langsung rekrut banyak pelayan. Bisa jadi. Intinya dia kebur ekspansi bahkan langsung buka cabang. Wah, ternyata saya bisa nih meramaikan kuliner. Saya buka langsung cabang kedua, cabang ketiga, cabang keempat, kelima, bahkan ke-10 bisa jadi. Dan dia keburu ekspansi. Jadi biasanya dari dua kesalahan ini kemudian mengakibatkan kesalahan fatal. Lantas apa yang harus dilakukan ketika viral, Teman-teman? Yang dilakukan ketika viral pertama adalah validasi dulu. Validasi dulu ke konsumenmu. Validasinya apanya? Contoh, ya, tanyakan kepada konsumenmu. Teman-teman, apa makanan favoritmu yang di sini? Mungkin kan ada beberapa makanan atau diamati menu apa yang paling banyak dipesan. Kedua, tanyain apa kekurangan menu ini, apa kekurangan menu itu, atau katakanlah mereka makan kemudian ee masih ada sisa, kita lihat makanan apa yang paling banyak sisanya. Bahkan beberapa orang teman-teman saya pengusaha kuliner, mereka tidak enggan-enggan mencicipi kuliner yang kemudian tidak habis dirasain. Apakah keasinan, apakah kurang manis, apakah kurang sedap dan sebagainya. Kita validasi dulu makanan apa yang kemudian banyak sisanya atau makanan apa, menu apa yang dikritisi oleh pelangganmu, konsumenmu. Yang ketiga, contoh tanyakan juga pada mereka, apa usulanmu? Apa kritikmu terhadap warung saya? Apakah menunya kurang banyak? Apakah menunya yang ini perlu ditambah dan sebagainya? Apakah tempatnya sudah nyaman? Apakah dan lain sebagainya? Nanti validasi dulu. Jangan keburu ekspansi, Teman-teman, ya. Kalaupun teman-teman sudah siap menerima tamu banyak, jangan keburu ekspansi, validasi. Kemudian apa? Kemudian adalah membangun database, Teman-teman ya. Membangun database kalau bisa teman-teman memiliki data mereka ya. Misal jadi teman-teman minta kontak mereka kalau mereka mau kasih kontak free apa begitu ya. Atau kalau mau mereka review free apa begitu. Itu menjadi strategi teman-teman sehingga teman-teman memiliki database mereka. Nah, kalau teman-teman sudah ini katakanlah teman-teman adalah pengusaha kuliner atau temannya pengusaha kuliner yang kemudian tidak melakukan itu, tidak melakukan validasi dan terburu sepi duluan sebelum melakukan validasi, validasi makanan atau validasi tokomu di mata konsumen, keburu sepi dulu. Apakah teman-teman bisa memviralkan lagi? Jawabannya adalah bisa. Tapi ada syaratnya tentunya, Teman-teman. Kalau ternyata teman-teman pernah viral kemudian 3 bulan bahkan 6 bulan sepi, jangan diviralkan ulang tanpa ada pembenahan. Kalau teman-teman memviralkan ulang, tentu akan boncos, Teman-teman. Pertama, memviralkan itu tidak murah. Teman-teman harus mengundang influencer dan ketika mereka datang mencicipi dan kemudian pergi, itu sesuatu yang merugikan. Jadi, ketika teman-teman sepi dan dulu pernah viral, jangan diviralkan ulang begitu saja. Ada syaratnya. Syaratnya apa? Pertama adalah benahi dulu. Ben dulu apa yang membuat mereka itu enggan balik lagi. Ibaratnya gini, Teman-teman. Viral itu bukan tujuan. Viral itu adalah sarana mengenalkan dengan cepat. Bisa juga kuliner tanpa viral bertahan lama seperti toko-toko pada zaman dulu. Misal katalah soto, haji siapa begitu, bakso, Pak siapa begitu. Mereka tidak viral di mana-mana tapi pengunjungnya selalu ramai. Itu juga bisa. Karena apa? karena konsumen mereka balik lagi. Tapi hari ini kan orang enggak mau lama ya. Yang seperti itu biasanya lama. Mereka bangunnya bertahun-tahun. Ada konsumen satu puas kemudian balik lagi atau dia puas kemudian cerita ke saudaranya. Bisa seperti itu tapi lama kadang-kadang ya tanpa marketing pun sebenarnya bisa tapi lama. Nah viral ini adalah sarana mempercepat bagaimana ramai dengan cara yang lebih cepat. Tapi ada bumerangnya yang seperti saya katakan sebelumnya tadi, bisa jadi teman-teman belum siap atau keburu ekspansi. Jadi ketika teman-teman ternyata sudah sepi, yang dulu pernah viral, maka dilihat dulu, di-review dulu apa makanannya kurang enak ya? Apa tempatnya tidak nyaman ya? Apa terlalu mahal ya? Kita validasi dulu produknya. Kita evaluasi dulu. Setelah teman-teman ketemu apa problemnya? Lantas teman-teman harus menyusun strategi selanjutnya. Apa itu? ada menu baru atau ada tempat baru gitu ya, katakanlah menu baru dulu. Jadi jangan diviralkan lagi tanpa ada sesuatu yang baru. Ibaratnya sesuatu trigger yang memantik FOMO lagi. Jadi viral itu sebenarnya adalah ee sesuatu yang bagus atau yang m-trigger formul masyarakat gitu ya. Jadi katakanlah tambah menu baru. Kalau dulu ada bakso level setan, sekarang bakso level bahannya setan misalnya katakanlah gitu atau keju yang meleleh di atas roti gitu ya atau kopi kekinian dengan topping marshmallow bakar gitu contoh gitu ya. Jadi harus ada sesuatu menu baru. Contoh ini studi kasus juga di teman-teman Malang begitu ya. Dulu ee setelah 4 tahun gitu dia buka bakso 4 tahun trafficnya bagus, ramai gitu, tiba-tiba agak sepi. Nah, dia kemudian membuat menu baru dan diviralkan lagi ternyata juga bisa viral. Jadi harus ada triggernya baru. Trigger yang membuat orang itu fomo, orang mau datang lagi apa gitu ya. Bisa jadi mereka datang bukan karena kualitas makanan kita buruk, tapi karena ada restoran baru di sekitar restoran kita. Apalagi sekarang ya sangat mudah orang itu buka cabang. Banyak sekali orang itu buka restoran baru di tempat-tempat kita. Contoh di kota saya aja di Tulungagung setiap bulan pasti ada restoran baru, ada tempat nongkrong baru. Apalagi di kota-kota lain yang lebih gede, begitu ya. Jadi bukan berarti sepi itu karena internal aja, tapi juga karena eksternal. Nah, Teman-teman bisa memviralkan lagi tapi dengan syarat trigger baru. Entah makanannya yang baru atau tempatnya yang baru. Contoh, ternyata kita membuka tempat yang lebih estetik untuk foto-foto begitu. itu juga bisa jadi. Jadi, intinya harus ada sesuatu yang baru. Nah, ketika sudah ada sesuatu yang baru, maka kita mulai mengundang untuk influencer, Teman-teman. Apakah ngundang influencer itu selalu berbayar? Tidak selalu ya, Teman-teman, ya. Jadi, coba list Teman-teman ya, influencer lokal di katakanlah di kota tersebut coba ditawari dulu, diundang dulu. Mau bikin konten enggak di tempat kami? Kalau mau bikin konten di tempat kami, kami kasih free gitu ya, free review, free makanan dan sebagainya bisa jadi. Atau kalau mereka enggak mau, ya tilis dulu. eh mana yang sesuai dengan budget marketing kita. Nah, nanti kemudian jangan di satu waktu ya. Jadi nanti dibuat berjenjang jadi bulan ini siapa, bulan depan siapa gitu ya. Tapi juga harus diperbaiki kualitas layanan dan juga makanannya. Nah, bagi teman-teman yang ingin belajar kuliner lebih dalam bisa juga belajar di membership pecah telur. Jadi, kami menyediakan beberapa video dari Pak Zaim Fatawi tentang kuliner lebih dalam. Materinya apa saja? Ini saya sebut materinya ya. Contoh materinya adalah kenapa marketing bisnis kuliner itu penting? Gimana agar marketing tidak sia-sia? Bagaimana supaya strategi marketing offline dan online itu efektif? Cara agar opening usaha kita booming. Lakukan ini saat opening bisnis. Memilih influencer yang tepat, marketing yang pas buat usaha. Berapakah budget yang ideal? Apakah jika sudah viral bisa viral lagi? Nah, termasuk yang nomor 9 ini yang kita bahas tadi di video ini. Yang ke-10, jangan salah promo. Yang 11, kolaborasi tim marketing dan tim sales. Ke-12, marketing low budget. Ke-13, Go Food, Grab Food, dan Shopee Food. Yang ke-14, bisnis kuliner, Blue Ocean atau Red Ocean. Nah, menarik bukan? Jadi, kesemua materi itu bisa dinikmati di membership pecah telur. Nanti pilih yang level 3, teman-teman, harganya Rp150.000. R000 Rp150.000 itu kalau kita beli kopi mungkin bisa untuk seminggu. Tapi kalau members sih pecah tul sebulan. Dan teman-teman tidak hanya dapat materi marketing aja, teman-teman juga dapat materi yang lain. Kalau teman-teman daftar sekarang, teman-teman juga akan mendapatkan dasar pembuatan video storytelling untuk bisnis ada 8 TRK. Public speaking untuk entrepreneur ada 27 TRK. maksudnya ada 27 video. Cara membangun tim digital ini ada 21 video. Dan tentunya teman-teman juga bisa mengakses materi di bawahnya karena ada level 1 memulai usaha dan juga level 2 blueprint bisnis. Jadi dengan Rp150.000 teman-teman dapat banyak materi yang luar biasa. Jadi silakan daftar di membership pecah telur. Caranya bagaimana? Di bawah ada tombol subscribe. Kalau sudah subscribe nanti ada tulisannya gabung. Nah bisa teman-teman klik gabung. Dan ketika teman-teman sudah daftar, teman-teman silakan menghubungi admin kami. Nanti akan dipandu supaya bisa join grup di WA ya. Jadi teman-teman bisa berkenalan dengan member-member yang lain dan tentu juga ada saya di sana. Teman-teman bisa tanya jawab dan kita bisa berkomunitas di situ. Terima kasih yang sudah menyimak sampai saat ini. Sampai jumpa di next episode bersama saya Agung Hartadi. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.