Dulu Jual Sawah Demi Jadi Artis, Berakhir Jadi Juragan Bawang di TikTok
7EgQFUxSwzM • 2025-04-23
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Suami saya itu kan waktu itu pengin
kerja sampai bingung pengin kerja apa ya
gitu. Terus ya itu saya sebagai istri
gimana harus men-support suami ya
mungkin dulu masih awal-awal nikah tuh
masih sering berantem dan ya memang
benar pasangan yang berantem itu
rezekinya jauh dan pasangan yang rukun
itu rezekinya insyaallah lancar. Jadi
ini ya rezekinya pasangan yang bisa
saling menerima, rezekinya pasangan yang
bisa akur, rezekinya pasangan yang bisa
saling
[Musik]
support. Oh, kalau omsetnya banyak, Mas.
Kalau keuntungan 1 bulan itu sekitar R
juta saya total dari 1 bulannya itu.
Kalau omsetnya ya pasti ratusan ratusan
juta karena penjualannya setiap hari aja
3 kintal bawang per hari.
Kita syukuri aja apa yang sudah Allah
berikan kepada saya. Berarti itulah yang
harus dijalani. Jadi kita tuh lebih
kayak menerima. Jangan menolak. Saya
orangnya ndak terlalu berambisi, Mas
kalau dunia. Yang penting Allah rida
gitu aja.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perkenalkan saya Ernawati
Ulfana. Saya bekerja sebagai guru seni
budaya di salah satu sekolah di SMAN 1
Grogol Kediri. Di samping itu saya juga
punya usaha yaitu usaha bawang merah.
Jadi kita kemas secara premium. Bawang
merah kita itu kan berbeda sama yang
dijual di pasar. Artinya yang berbeda
itu kita memang ambil yang kualitasnya
lebih bagus, tapi harganya juga lebih
mahal sedikit daripada bawang merah pada
umumnya. Kita penjualannya ada di online
dan offline. Jadi ada online. Online
online di TikTok, kemudian di Shopee, di
Talkpad juga ada. Tapi kita lebih
fokusnya banyaknya di TikTok. Kalau
offline biasanya di CFD setiap hari
Sabtu, hari Minggu mulai pagi habis
subuh kita sudah prepare untuk
berjualan. Awal mula saya dan suami saya
merintis usaha penjual bawang merah itu
saya sendiri sebenarnya sudah bekerja
ya. Saya sudah menjadi guru juga saya
sudah ASN. Jadi itu sebenarnya usaha
yang dinaungi suami. Saya membantu untuk
promosi kayak gitu, membantu ketika
offline-nya kadang-kadang juga membantu
packing. Ya, ketika itu suami resign
kerja di bank. Jadi suami saya itu kerja
di bank dan mungkin saya kurang struk
atau kurang cocok ya. Saya juga pengin
punya usaha waktu itu. Nah, kebetulan
saya juga punya lahan di sawah yang
ditanami bawang merah waktu itu. Saya
belajarlah dan suami belajar menjual di
online laku lima orderan kemudian nambah
20 kemudian meningkat. Kemudian saya dan
suami mulailah bagaimana usaha ini harus
semakin berkembang. Jadi misalkan key
omset-nya mulai dari nge-live, kemudian
kita juga ikut program-program di
akun-akun e-commerce-nya seperti
itu. Online pernah pertama itu lima,
Mas. Saya masih ingat dan kita belum
bisa packing sama sekali dulu. Awalnya
masih kita ditaruh kantong plastik gitu.
Jadi kita enggak tahu ternyata tuh harus
di-packing kardus dengan rapi. Akhirnya
alhamdulillah sekarang pesanan sudah
banyak. Pelanggan di daerah Jawa Barat,
Sulawesi, Kalimantan itu juga banyak.
Jadi kita mengutamakan kepercahaya.
Bawang merah yang kita kirim tuh kalau
kita ngomong kecil ya yang kita kirim
kecil. Kalau kita promosinya sedang,
yang kita kirim juga sedang. Jadi
pelanggan kita selalu repeat order.
Bawang merah itu kan rentan busuk ketika
dia lembab. Di dalam bawang merah kan
ada struktur airnya. Kalau lembab dia
busuk. Jadi harus ada ventilasi
udaranya. Perjalanan usaha penjualan
bera tuh mulai puasa
tahun
2024 ya. Saya masih ingat itu waktu
puasa. Saya naik motor ke grosir saya
belanja tapi saya enggak langsung
berjualan bawang merah. Saya waktu itu
berjualan cabe terus kemudian ternyata
cabai itu enggak efisien karena cabai
itu nak bisa bertahan lama. 1 minggu tuh
kita kirim ke daerah luar Jawa tuh udah
enggak bisa bertahan busuk. Akhirnya
kita berpikir barang apa yang bisa
dijual yang setiap hari dibutuhkan orang
dan bisa tahan lama. Kita menemukan
ternyata kayaknya bawang merah bisa
bertahan sampai 1 bulan, 2 bulan.
Akhirnya kita putuskan untuk fokus satu
produk. bawang merah, ada juga bawang
putih. Tapi kita lebih fokusnya ke
bawang merah. Kalau di dalam usaha rojo
bawang, usaha saya dan suami, peran saya
itu lebih membantu men-support suami
saya karena saya juga punya pekerjaan
yang utama yaitu menjadi guru. Jadi
tanggung jawab saya tuh juga besar.
Menjadi guru kan tanggung jawabnya besar
ya, Mas ya.
Kalau pendapatan usaha itu banyak kalau
quantity-nya banyak. Maksudnya kan
marginnya tebal, keuntungan yang didapat
juga tebal. Itu kalau penjualannya
banyak. Nah, tapi kalau masih merintis
dulu ya masih sedikit. Jadi gak ada
pengusaha itu yang langsung dar langsung
banyak penghasilannya. Pasti dia juga
perintis dari yang sedikit naik, sedikit
naik. Intinya konsisten lah. Kalau guru
kan gaji tetap ya. Kalau menjadi guru
gak bisa ya gajinya segitu aja. Kalau
sekarang penghasilan ya pasti banyak
lebih ke usaha saya. Oh kalau omsetnya
banyak Mas. Kalau keuntungan 1 bulan itu
sekitar Rp40 juta saya total dari 1
bulannya itu. Kalau omsetnya ya pasti
ratusan ratusan juta karena penjualannya
setiap hari aja 3 kintal bawang per
hari. Strategi penjualannya kita lebih
ke online. Kita yang pertama promosi,
yang kedua kita ke kepercayaan
masyarakat. Jangan sampai menjadi
penjual yang tidak amanah. Artinya
ketika kita promosinya bawang merahnya
kecil ya dikirim yang kecil. Ketika
promosinya besar ya dikirim yang besar.
Jangan promosinya besar yang dikirim
kecil. Kayak gitu. Kemudian ada produk
value. Produk value itu produk apa yang
tidak ada di pasar. Itu hanya ada di
toko kami dan ibu-ibu pelanggan kami itu
bisa mendapatkannya. Bawang merah yang
ada daunnya. Ah, itu kan unik banget ya.
Dan itu ketahanannya lama lebih awet
dibandingkan bawang merah yang sudah
dipotong daunnya dan itu gak ada di
pasar. Jadi mungkin ada satu dua orang
yang menjual tapi hampir tidak ada di
pasar-pasar pada umumnya susah dicari.
Kita menjual itu produk bestsellernya
kami yaitu produk bawang merah premium
yang ada
[Musik]
daunnya. Kalau promosinya mungkin bikin
konten, sering bikin konten kayak gitu.
Terus memberikan
bonus-bonus misalkan bonus pembeli itu
dapat profit apa kayak gitu. kalau beli
di toko kami, kemudian memberikan
voucher. Kemudian kalau promosi secara
offline tuh ya mungkin teman-teman saya
kerja, teman-teman guru dari sekolah
lain itu saya promosikan kayak gitu.
Rojo Bawang penonton ng live sampai
1000. Pernah dulu tuh saya nge-live
sampai 2.000 pernah 3.000 pernah cuman
kalau akhir-akhir ini sampai 600 700
gitu. Jadi naik turun sih, Mas kalau
gitu kadang kalau pas trafficnya bagus
kadang sampai 1.000 kadang trafficnya
naik naik lagi 2.000. Nge-live itu kita
enggak bisa mengontrol siapa yang nonton
kita. Yang penting kita bismillah niat
jualan gitu juga insyaallah banyak yang
nonton. Kemudian bahasa yang komunikatif
artinya misalkan nge-live itu jangan
monoton. Misalkan mengajak ngobrol
penonton. Walaupun penonton itu di rumah
kita enggak berhadapan secara tatap
muka, tapi kan ada penontonnya. Nah,
jadi diajak ngobrol. Kita lebih kayak
interaksi Mas. Kalau cuma kita nyuruh
beli nyuruh beli kan kesannya ya kita
sendiri penting enggak sih langsung di
swipe up swipe up kayak gitu. Tapi kalau
kita berinteraksi, "Bunda dari mana
nih?" Nih. Ayo yang mau tanya-tanya
boleh dikomen. Bunda dari mana hari ini?
Mau masak apa nih? Kita rekomendasikan
nih bawang merah yang kayak gini kayak
gitu. Jadi lebih ke interaksi dengan
penonton walaupun yang nonton 500 itu
kan misalkan di secara nyata banyak
banget orangnya. Kalau kita di online ya
bagaimana kita bisa berinteraksi membaca
komen mereka. Jadi jangan sampai
dilewati ya. Kita menghargai ya walaupun
penonton itu dunia maya tapi itu ada
gitu.
[Musik]
harus ngelakoni opo? Iya, memang ada
target ya. Kita setiap hari pasti ada
target karena kita juga punya karyawan.
Cuman kita tidak terlalu berambisi. Kita
usaha dulu semaksimal mungkin bagaimana
mendapatkan penjualan yang maksimal.
Tapi kita juga enggak berambisi untuk
harus banyak kayak gitu. Jadi enggak
terlalu berambisi ya. pastinya kita
setiap hari berdoa untuk usaha kita itu
insyaallah luar biasa. Jadi enggak hanya
usaha aja ketika saya salat saya
mendoakan suami saya seperti itu. Kalau
bentuk bakti suami ya bisa jadi ya Mas
ya. Mungkin lebih enggak sering berantem
sih. Jadi kalau pengin usahanya lancar
tuh sepasangan tuh kuncinya jangan
sering berantem harus akur biar
rezekinya enggak takut. Jadi saya sampai
brebes, Mas. Dulu waktu masih awal-awal
tuh suami kan keluar kerja itu sampai
bingung mau usaha apa gitu ya. Walaupun
saya sudah kerja ya, Mas ya. Gaji saya
masih bisa untuk menghidupi keluarga,
tapi suami saya tuh kan waktu itu pengin
kerja sampai bingung pengin kerja apa ya
gitu. Terus ya itu saya sebagai istri
gimana harus men-support suami ya
mungkin dulu masih awal-awal nikah tuh
masih sering berantem. Dan ya memang
benar pasangan yang berantem itu
rezekinya jauh dan pasangan yang rukun
itu rezekinya insyaallah lancar. Itu
sudah saya buktikan kepada suami saya.
Jadi ketika saya berantem tuh saya lebih
milih kayak ya udahlah mengalah. Tapi
kita sering berkomunikasi. Jadi saya dan
suami itu menjaga komunikasi biar tidak
miskomunikasi. Gimana ketika dia butuh
bantuan saya, saya selalu ada dan
sebaliknya.
Ini bukan tentang usaha ya, tapi tentang
komunikasi suami dan istri. Menjaga
hubungannya agar baik. Ya, itu mungkin
dampaknya ke usaha kami. Jadi ini ya
rezekinya pasangan yang bisa saling
menerima, rezekinya pasangan yang bisa
akur, rezekinya pasangan yang bisa
saling support.
Ya, saya cuma bisa bersyukur dan
bagaimana usaha ini tetap bisa bertahan
kalau bisa maju. Kalau bisa kita
mempunyai cabang-cabang usaha yang lain.
Cuman ini masih kita fokusnya di Bawang
Merah dulu ya. Walaupun di Ngrogol ini
desa yang terpencil ya, tapi mulai
berkembang ya. Di daerah kami itu banyak
petani bawang merah, banyak yang tanam
bawang merah juga makanya kayaknya lebih
cocok untuk menjual bawang merah. Setara
jauh ke Aceh pernah, Mas? ke Aceh itu
pernah bawang merah yang ada daunnya
itu. Itu kan awet sampai 4 bulan enggak
busuk itu. Jadi kita dikirim ke Aceh
aman, dikirim ke Sulawesi juga aman. Ke
Bali pelanggan kita di Bali juga banyak.
Bawang merahnya harus kering. Jadi kalau
basah jangan dikirim dulu. Kalau kering
insyaallah aman dikirim. Enggak akan
busuk. Rezeki orang tuh berbeda-beda,
Mas. Saya juga ada kompetitor menjual
bawang merah juga gak apa-apa kita
berkompetitor. Silakan. Setiap usaha itu
harus ada produk value-nya. Jadi kita
kalau mau bersaingan ditiru orang monggo
gak apa-apa. Rezeki orang berbeda-beda.
Jadi misalkan mau ada yang jual bawang
merah saya silakan. Total kalian
sekarang enam. Kalau yang di sawah, di
sawah tuh juga kita tanam bawang merah
itu bagian ngerawat ada empat orang. Gak
pengin riset gak, Mas? Itu kan sudah
komitmen saya sudah disumbah pegawai
negeri itu loh. Jadi saya sudah nyaman
bersama anak-anak. Saya nyaman di
pekerjaan saya, saya nyaman membersamai
mereka. Jadi eman kalau saya melepaskan
juga karena saya lebih ke manfaatnya sih
untuk anak-anak. Jadi saya bisa berbagi
ilmu, terus kemudian saya bisa mengerti
parenting anak. Ternyata di sekolah tuh
banyak anak-anak yang seperti ini, yang
seperti ini, yang seperti ini. Karakter
anak berbeda-beda. Itu sangat penting
untuk saya. misalkan menghadapi siswa
seperti ini, seperti ini kan
berbeda-beda. Nah, kemudian bisa dekat
dengan mereka dan mereka itu adalah
tetangga saya semua menjalin sosial yang
baik dengan tetangga. Hidup itu tidak
melulu tentang uang, Mas. Jadi, ada
kalanya saya butuh kenyamanan. Kemudian
saya bersama anak-anak tuh lebih lebih
awet mudah karena masih berasa sekolah
terus, ya. Jadi, saya enggak mungkin
rela untuk melepas mereka. Kasihan juga
kan anak-anak saya misalkan ada masalah
saya bisa membantu mereka masalah di
sekolah atau masalah di rumah kayak
gitu. Sebisa mungkin saya membagi waktu
saya untuk anak-anak dan untuk keluarga
saya. Jadi harus balance biar tidak
menjumpang. Saya kan menikah dengan
suami sudah menjadi guru. Jadi suami
sudah menerima enggak protes. Itu memang
lillahi taala memang saya niati untuk e
mengabdi untuk anak-anak.
[Musik]
Saya sudah lama pakai Asus. Awal kuliah
dulu pertama punya laptop juga pakai
Asus. Kemudian saya ganti lagi tahun
2021 mungkin Mas itu saya ganti Asus
yang apa? Limited edition warna pink.
Terus kemudian saya tukar lagi. Saya
pengin yang bisa diputar 360 derajat.
Jadi Asus itu di rumah ada tiga laptop
saya.
Experience apa yang Mbak Erna rasakan?
Praktis. Terus lebih praktis, lebih
nyaman dibawa ke mana dan yang lebih
menariknya laptop Asus ini 40%
perangkatnya sudah diproduksi di
Indonesia. Jadi makanya saya pengguna
lama Asus dan itu memenuhi aturan TKDN
yang ada di
[Musik]
Indonesia. Mau berkembang pastinya pasti
berkembang. Saya pengin menambah
quantity karena produknya banyak
diminati ya. Jadi kalau bisa omsetnya
biar nambah juga bisa membantu
tetangga-tetangga yang membutuhkan
pekerjaan kayak gitu. Nambah omset
produk value-nya sudah ada berarti
menambah lagi modalnya kayak gitu.
Pengin punya cabang usaha yang lain juga
tapi kita masih fokus ke bawang merah
dulu. Bawang merah itu karena setiap
hari dibutuhkan ya Mas ya. Jadi pasti
setiap hari selalu ada yang beli karena
itu kebutuhan pokok atau bahan pokok
yang dibutuhkan ibu-ibu di Indonesia
pasti akan butuh dan apalagi akhir-akhir
ini bawang merah tuh harganya naik
drastis ya karena mungkin banyak petani
yang gagal panen faktornya kena hama
kemudian tidak bisa tumbuh dengan baik
karena faktor hujan kayak gitu. Jadi
ketika bawang merah susah didapatkan,
kita tetap menjual. Jadi
pelanggan-pelanggannya pasti nyariin
semua. Kita kerja sama dengan
distributor distributor yang lain. Jadi
ketika di sini habis, kita pindah ke
tempat lain. Kita kerja sama-sama
distributor besar, grosir besar.
Misalkan di tempat saya lagi ndak panen,
saya lari ke distributor yang lain.
Insyaallah selalu ada. Dan kenyataannya
1 tahun ini saya berjalan setiap hari
selalu ada bang merah.
sudah berjalan 1 tahun tuh kita gak
berhenti ya, Mas. Maksudnya setiap hari
kita jualan. Nah, kalau online Senin
sampai Jumat. Kalau offline yang di CFD
itu Sabtu sama Minggu. Jadi ketika
bawang merah naik kita tetap berjualan.
Ketika bawang merah lagi anjol kita juga
tetap berjualan gitu. Jadi pengusaha,
jadi guru, capek. Tapi kita tetap
nikmati aja, kita syukuri aja apa yang
sudah Allah berikan kepada saya. Berarti
itulah yang harus dijalan. Jadi kita tuh
lebih kayak menerima, jangan menolak. Ya
memang rezekinya sama
Tuhan disuruh jualan bawang merah ya
udah berarti jual bawang merah rezekinya
untuk menjadi guru ya alhamdulillah
dijalani aja. Saya orangnya ndak terlalu
berambisi Mas kalau dunia yang penting
Allah rida gitu aja.
Sebelum saya menjadi guru ya yang
seperti jenengan saksikan sekarang saya
belum punya usaha. Saya adalah seorang
penyanyi dangdut yang menyanyi di atas
panggung. Saya menyanyi mulai dari SMP
kelas 3. Kalau ikut lomba-lomba dari
kecil dari SD. Kelas 6 SD itu saya sudah
nyanyi ya sudah manggung. Saya ingat
saya jadi penyanyi qasidah waktu itu.
Kemudian setelah menjadi penyanyi
qasidah, saya merambah lagi ke penyanyi
elektun kemudian penyanyi orkes. Setelah
lulus SMA saya memutuskan untuk ambil
jurusan Sendra Tasik, seni tari Drama
dan Musik. Saya fokus di musiknya. Saya
kuliah di Universitas Negeri Surabaya.
Nah, di situlah saya mulai mengasah
bakat saya di bidang tarik suara. Selain
saya mengenyam pendidikan di bidang
seni, saya juga menyanyi dari panggung
ke panggung. Jadi kuliah sambil bekerja.
Jadi sudah biasa sekarang bekerja sambil
buka usaha. Kalau dulu kuliah sambil
bekerja gitu. Saya jadi penyanyi di
Surabaya orang baru ya masih banyak
bulian kayak gitu. Orang deso, wong deso
nyanyi nang koto. Wis benar-benar
merintis karir di Surabaya. Kemudian
saya pernah ikut ajang pencarian bakat
di Indosiar danut Akademi 2. Jadi saya
sempat mewakili Kediri. Saya ikut audisi
dari tahun ke tahun sampai enggak lolos
sampai saya lolos dapat golden tiket
untuk ke Jakarta. Saya ke Jakarta
diantar sama orang tua saya. Saya
berkompetisi di sana tahun 2015 itu saya
semester akhir. Saya belum jadi guru
waktu itu. Saya sampai 15 besar itu saya
dibiaya sampai menjual sawah. Bapak saya
sampai menjual sawah. Menjual sawah itu
untuk biaya mendukung. Jadi ketik SMS
itu loh, Mas. yang jangan lupa ke TD
Asna kayak gitu loh. Itu ternyata di
rumah saya kan enggak tahu saya kan di
Jakarta waktu itu. Ternyata setiap hari
saya tampil itu uang dari penjualan
sawah habis untuk membantu saya biar
enggak tereliminasi. Sawah saya dijual
hampir R00 juta.
Satu minggu kan tampilnya satu kali. Itu
satu kali tampil tuh saya habis hampir
R0 juta buat SMS mendukung saya biar
anaknya ndak tereliminasi sampai
segitunya. Dan setelah tereliminasi
pulang saya enggak kuat nan-nangis, Mas.
Ternyata almarhum Bapak saya tuh sebaik
itu, gitu. Tapi orang-orang kan enggak
tahu. Orang-orang kan enggak tahu
tahunya Erna adalah artis gitu kan.
Waktu itu Erna sudah terkenal sekarang
jadi artis gitu kan ya. Padahal orang
tua saya tuh kayak gitu di belakang saya
yang men-support saya waktu itu kayak
gitu. Enggak tahu orang-orang tahunya
waktu itu saya sudah jadi bintang tamu
nyanyi ke panggung ke panggung.
bayarannya sudah banyak kayak gitu. Enak
yo saiki jadi artis. Padahal perjuangan
kedua orang tua saya tuh kayak gitu.
Nah, alhamdulillah setelah itu pulang
dari Jakarta saya memutuskan untuk tidak
meneruskan karir saya di Jakarta. Karena
waktu itu saya semester akhir skripsi
kan saya pulang ke Surabaya. Kemudian 6
bulan setelah saya pulang tuh Bapak saya
meninggal. Dalam hati saya harus
menyelesaikan pendidikan saya. Waktu itu
saya enggak mengejar karir. Saya fokus
sama kuliah saya. Saya penelitian, saya
sidang, saya revisi, saya jalani semua.
Tetap sambil saya nyanyi, sambil saya
cari uang. Waktu itu saya ya wis
akhirnya saya melanjutkan pendidikan
saya sampai lulus. Saya setelah lulus
kemudian saya lulus saya masih nyanyi
nyanyi tapi sambil saya mencoba ngelamar
jadi guru honorer. Saya coba-coba
ternyata saya keterima sekolah negeri di
Surabaya ya. Akhirnya saya ngajar juga
waktu itu sambil nyanyi. Jadi kehidupan
ini tuh kayaknya benar-benar e penuh
perjuangan, Mas. Kalau diceritakan ya.
Jadi saya ngajar pagi malam saya nyanyi.
Kalau dilajakan insyaallah saya gak
pernah. Cuman pandangan masyarakat itu
memang agak kurang baik ya terhadap
penyanyi dangdut. Padahal enggak semua
penyanyi dangdut itu seperti itu ya.
Menjual goyangannya, yang menjual
pakaiannya kayak gitu. Enggak semua
seperti itu. Ya, saya tetap pada norma
kesopanan. Saya belum jadi guru. Waktu
itu saya nyanyi pagi ngajar malam
nyanyi. Jadi saya tetap menjaga pakaian
saya karena saya seorang guru waktu itu.
Kalau nyanyi itu ya pasti pasin. Cuman
untuk di saat ini di usia saya yang 33
tahun kayaknya enggak deh. Maksudnya
saya lebih fokus sama tugas saya sebagai
guru. Jadi kayaknya kok antara penyanyi
dangdut dan guru itu bertolak belakang.
Jadi kurang cocok. satunya guru yang
disegani masyarakat, sedangkan penyanyi
dangdut yang dipandang kurang baik. Ya,
saya memilih salah satunya ya. Jadi
daripada nanti saya harus mendapat
cemoohan orang, oh masa guru nyanyi
geol-geol di atas panggung, ya itu saya
menjaga itu. Terus kemudian saya juga
sudah menikah kalau sepertinya saya juga
menjaga suami saya mungkin nanti
takutnya cemburu kalau kayak gitu ya.
mungkin saya nyanyi kecemburan sosial
atau gimana kayak gitu. Jadi ya inilah
jalannya saya harus menjadi guru dan
sekarang bantu suami saya terkecibung di
usaha bawang merah gitu. Guru itu
pekerjaan yang mulia, Mas. Jadi jangan
dilihat gajinya tapi dilihat
perjuangannya. Dilihat perjuangannya.
Gajinya segitu-gitu aja. Kalau guru
enggak akan bisa
naik ngawalinya. Yang pertama, jangan
gengsi, jangan malu menjual produk
apapun asalkan halal, asalkan diridai
oleh Tuhan, berkah kayak gitu. Jangan
malu melakukan apapun yang sudah
ditakdirkan oleh Allah itu dijalani aja.
Dan jangan lupa berdoa. Doa saya doa
sapu jagat itu selalu. Kemudian sama
selawat Nabi itu jangan sampai
ketinggalan. Saya Erna. owner dari Rojo
Bawang Grosir yang beralamatkan di Jalan
Raya Bulusari. Saya ucapkan terima
kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Tit. Terima kasih
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:30:57 UTC
Categories
Manage