Dulu Jual Sawah Demi Jadi Artis, Berakhir Jadi Juragan Bawang di TikTok
7EgQFUxSwzM • 2025-04-23
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] Suami saya itu kan waktu itu pengin kerja sampai bingung pengin kerja apa ya gitu. Terus ya itu saya sebagai istri gimana harus men-support suami ya mungkin dulu masih awal-awal nikah tuh masih sering berantem dan ya memang benar pasangan yang berantem itu rezekinya jauh dan pasangan yang rukun itu rezekinya insyaallah lancar. Jadi ini ya rezekinya pasangan yang bisa saling menerima, rezekinya pasangan yang bisa akur, rezekinya pasangan yang bisa saling [Musik] support. Oh, kalau omsetnya banyak, Mas. Kalau keuntungan 1 bulan itu sekitar R juta saya total dari 1 bulannya itu. Kalau omsetnya ya pasti ratusan ratusan juta karena penjualannya setiap hari aja 3 kintal bawang per hari. Kita syukuri aja apa yang sudah Allah berikan kepada saya. Berarti itulah yang harus dijalani. Jadi kita tuh lebih kayak menerima. Jangan menolak. Saya orangnya ndak terlalu berambisi, Mas kalau dunia. Yang penting Allah rida gitu aja. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan saya Ernawati Ulfana. Saya bekerja sebagai guru seni budaya di salah satu sekolah di SMAN 1 Grogol Kediri. Di samping itu saya juga punya usaha yaitu usaha bawang merah. Jadi kita kemas secara premium. Bawang merah kita itu kan berbeda sama yang dijual di pasar. Artinya yang berbeda itu kita memang ambil yang kualitasnya lebih bagus, tapi harganya juga lebih mahal sedikit daripada bawang merah pada umumnya. Kita penjualannya ada di online dan offline. Jadi ada online. Online online di TikTok, kemudian di Shopee, di Talkpad juga ada. Tapi kita lebih fokusnya banyaknya di TikTok. Kalau offline biasanya di CFD setiap hari Sabtu, hari Minggu mulai pagi habis subuh kita sudah prepare untuk berjualan. Awal mula saya dan suami saya merintis usaha penjual bawang merah itu saya sendiri sebenarnya sudah bekerja ya. Saya sudah menjadi guru juga saya sudah ASN. Jadi itu sebenarnya usaha yang dinaungi suami. Saya membantu untuk promosi kayak gitu, membantu ketika offline-nya kadang-kadang juga membantu packing. Ya, ketika itu suami resign kerja di bank. Jadi suami saya itu kerja di bank dan mungkin saya kurang struk atau kurang cocok ya. Saya juga pengin punya usaha waktu itu. Nah, kebetulan saya juga punya lahan di sawah yang ditanami bawang merah waktu itu. Saya belajarlah dan suami belajar menjual di online laku lima orderan kemudian nambah 20 kemudian meningkat. Kemudian saya dan suami mulailah bagaimana usaha ini harus semakin berkembang. Jadi misalkan key omset-nya mulai dari nge-live, kemudian kita juga ikut program-program di akun-akun e-commerce-nya seperti itu. Online pernah pertama itu lima, Mas. Saya masih ingat dan kita belum bisa packing sama sekali dulu. Awalnya masih kita ditaruh kantong plastik gitu. Jadi kita enggak tahu ternyata tuh harus di-packing kardus dengan rapi. Akhirnya alhamdulillah sekarang pesanan sudah banyak. Pelanggan di daerah Jawa Barat, Sulawesi, Kalimantan itu juga banyak. Jadi kita mengutamakan kepercahaya. Bawang merah yang kita kirim tuh kalau kita ngomong kecil ya yang kita kirim kecil. Kalau kita promosinya sedang, yang kita kirim juga sedang. Jadi pelanggan kita selalu repeat order. Bawang merah itu kan rentan busuk ketika dia lembab. Di dalam bawang merah kan ada struktur airnya. Kalau lembab dia busuk. Jadi harus ada ventilasi udaranya. Perjalanan usaha penjualan bera tuh mulai puasa tahun 2024 ya. Saya masih ingat itu waktu puasa. Saya naik motor ke grosir saya belanja tapi saya enggak langsung berjualan bawang merah. Saya waktu itu berjualan cabe terus kemudian ternyata cabai itu enggak efisien karena cabai itu nak bisa bertahan lama. 1 minggu tuh kita kirim ke daerah luar Jawa tuh udah enggak bisa bertahan busuk. Akhirnya kita berpikir barang apa yang bisa dijual yang setiap hari dibutuhkan orang dan bisa tahan lama. Kita menemukan ternyata kayaknya bawang merah bisa bertahan sampai 1 bulan, 2 bulan. Akhirnya kita putuskan untuk fokus satu produk. bawang merah, ada juga bawang putih. Tapi kita lebih fokusnya ke bawang merah. Kalau di dalam usaha rojo bawang, usaha saya dan suami, peran saya itu lebih membantu men-support suami saya karena saya juga punya pekerjaan yang utama yaitu menjadi guru. Jadi tanggung jawab saya tuh juga besar. Menjadi guru kan tanggung jawabnya besar ya, Mas ya. Kalau pendapatan usaha itu banyak kalau quantity-nya banyak. Maksudnya kan marginnya tebal, keuntungan yang didapat juga tebal. Itu kalau penjualannya banyak. Nah, tapi kalau masih merintis dulu ya masih sedikit. Jadi gak ada pengusaha itu yang langsung dar langsung banyak penghasilannya. Pasti dia juga perintis dari yang sedikit naik, sedikit naik. Intinya konsisten lah. Kalau guru kan gaji tetap ya. Kalau menjadi guru gak bisa ya gajinya segitu aja. Kalau sekarang penghasilan ya pasti banyak lebih ke usaha saya. Oh kalau omsetnya banyak Mas. Kalau keuntungan 1 bulan itu sekitar Rp40 juta saya total dari 1 bulannya itu. Kalau omsetnya ya pasti ratusan ratusan juta karena penjualannya setiap hari aja 3 kintal bawang per hari. Strategi penjualannya kita lebih ke online. Kita yang pertama promosi, yang kedua kita ke kepercayaan masyarakat. Jangan sampai menjadi penjual yang tidak amanah. Artinya ketika kita promosinya bawang merahnya kecil ya dikirim yang kecil. Ketika promosinya besar ya dikirim yang besar. Jangan promosinya besar yang dikirim kecil. Kayak gitu. Kemudian ada produk value. Produk value itu produk apa yang tidak ada di pasar. Itu hanya ada di toko kami dan ibu-ibu pelanggan kami itu bisa mendapatkannya. Bawang merah yang ada daunnya. Ah, itu kan unik banget ya. Dan itu ketahanannya lama lebih awet dibandingkan bawang merah yang sudah dipotong daunnya dan itu gak ada di pasar. Jadi mungkin ada satu dua orang yang menjual tapi hampir tidak ada di pasar-pasar pada umumnya susah dicari. Kita menjual itu produk bestsellernya kami yaitu produk bawang merah premium yang ada [Musik] daunnya. Kalau promosinya mungkin bikin konten, sering bikin konten kayak gitu. Terus memberikan bonus-bonus misalkan bonus pembeli itu dapat profit apa kayak gitu. kalau beli di toko kami, kemudian memberikan voucher. Kemudian kalau promosi secara offline tuh ya mungkin teman-teman saya kerja, teman-teman guru dari sekolah lain itu saya promosikan kayak gitu. Rojo Bawang penonton ng live sampai 1000. Pernah dulu tuh saya nge-live sampai 2.000 pernah 3.000 pernah cuman kalau akhir-akhir ini sampai 600 700 gitu. Jadi naik turun sih, Mas kalau gitu kadang kalau pas trafficnya bagus kadang sampai 1.000 kadang trafficnya naik naik lagi 2.000. Nge-live itu kita enggak bisa mengontrol siapa yang nonton kita. Yang penting kita bismillah niat jualan gitu juga insyaallah banyak yang nonton. Kemudian bahasa yang komunikatif artinya misalkan nge-live itu jangan monoton. Misalkan mengajak ngobrol penonton. Walaupun penonton itu di rumah kita enggak berhadapan secara tatap muka, tapi kan ada penontonnya. Nah, jadi diajak ngobrol. Kita lebih kayak interaksi Mas. Kalau cuma kita nyuruh beli nyuruh beli kan kesannya ya kita sendiri penting enggak sih langsung di swipe up swipe up kayak gitu. Tapi kalau kita berinteraksi, "Bunda dari mana nih?" Nih. Ayo yang mau tanya-tanya boleh dikomen. Bunda dari mana hari ini? Mau masak apa nih? Kita rekomendasikan nih bawang merah yang kayak gini kayak gitu. Jadi lebih ke interaksi dengan penonton walaupun yang nonton 500 itu kan misalkan di secara nyata banyak banget orangnya. Kalau kita di online ya bagaimana kita bisa berinteraksi membaca komen mereka. Jadi jangan sampai dilewati ya. Kita menghargai ya walaupun penonton itu dunia maya tapi itu ada gitu. [Musik] harus ngelakoni opo? Iya, memang ada target ya. Kita setiap hari pasti ada target karena kita juga punya karyawan. Cuman kita tidak terlalu berambisi. Kita usaha dulu semaksimal mungkin bagaimana mendapatkan penjualan yang maksimal. Tapi kita juga enggak berambisi untuk harus banyak kayak gitu. Jadi enggak terlalu berambisi ya. pastinya kita setiap hari berdoa untuk usaha kita itu insyaallah luar biasa. Jadi enggak hanya usaha aja ketika saya salat saya mendoakan suami saya seperti itu. Kalau bentuk bakti suami ya bisa jadi ya Mas ya. Mungkin lebih enggak sering berantem sih. Jadi kalau pengin usahanya lancar tuh sepasangan tuh kuncinya jangan sering berantem harus akur biar rezekinya enggak takut. Jadi saya sampai brebes, Mas. Dulu waktu masih awal-awal tuh suami kan keluar kerja itu sampai bingung mau usaha apa gitu ya. Walaupun saya sudah kerja ya, Mas ya. Gaji saya masih bisa untuk menghidupi keluarga, tapi suami saya tuh kan waktu itu pengin kerja sampai bingung pengin kerja apa ya gitu. Terus ya itu saya sebagai istri gimana harus men-support suami ya mungkin dulu masih awal-awal nikah tuh masih sering berantem. Dan ya memang benar pasangan yang berantem itu rezekinya jauh dan pasangan yang rukun itu rezekinya insyaallah lancar. Itu sudah saya buktikan kepada suami saya. Jadi ketika saya berantem tuh saya lebih milih kayak ya udahlah mengalah. Tapi kita sering berkomunikasi. Jadi saya dan suami itu menjaga komunikasi biar tidak miskomunikasi. Gimana ketika dia butuh bantuan saya, saya selalu ada dan sebaliknya. Ini bukan tentang usaha ya, tapi tentang komunikasi suami dan istri. Menjaga hubungannya agar baik. Ya, itu mungkin dampaknya ke usaha kami. Jadi ini ya rezekinya pasangan yang bisa saling menerima, rezekinya pasangan yang bisa akur, rezekinya pasangan yang bisa saling support. Ya, saya cuma bisa bersyukur dan bagaimana usaha ini tetap bisa bertahan kalau bisa maju. Kalau bisa kita mempunyai cabang-cabang usaha yang lain. Cuman ini masih kita fokusnya di Bawang Merah dulu ya. Walaupun di Ngrogol ini desa yang terpencil ya, tapi mulai berkembang ya. Di daerah kami itu banyak petani bawang merah, banyak yang tanam bawang merah juga makanya kayaknya lebih cocok untuk menjual bawang merah. Setara jauh ke Aceh pernah, Mas? ke Aceh itu pernah bawang merah yang ada daunnya itu. Itu kan awet sampai 4 bulan enggak busuk itu. Jadi kita dikirim ke Aceh aman, dikirim ke Sulawesi juga aman. Ke Bali pelanggan kita di Bali juga banyak. Bawang merahnya harus kering. Jadi kalau basah jangan dikirim dulu. Kalau kering insyaallah aman dikirim. Enggak akan busuk. Rezeki orang tuh berbeda-beda, Mas. Saya juga ada kompetitor menjual bawang merah juga gak apa-apa kita berkompetitor. Silakan. Setiap usaha itu harus ada produk value-nya. Jadi kita kalau mau bersaingan ditiru orang monggo gak apa-apa. Rezeki orang berbeda-beda. Jadi misalkan mau ada yang jual bawang merah saya silakan. Total kalian sekarang enam. Kalau yang di sawah, di sawah tuh juga kita tanam bawang merah itu bagian ngerawat ada empat orang. Gak pengin riset gak, Mas? Itu kan sudah komitmen saya sudah disumbah pegawai negeri itu loh. Jadi saya sudah nyaman bersama anak-anak. Saya nyaman di pekerjaan saya, saya nyaman membersamai mereka. Jadi eman kalau saya melepaskan juga karena saya lebih ke manfaatnya sih untuk anak-anak. Jadi saya bisa berbagi ilmu, terus kemudian saya bisa mengerti parenting anak. Ternyata di sekolah tuh banyak anak-anak yang seperti ini, yang seperti ini, yang seperti ini. Karakter anak berbeda-beda. Itu sangat penting untuk saya. misalkan menghadapi siswa seperti ini, seperti ini kan berbeda-beda. Nah, kemudian bisa dekat dengan mereka dan mereka itu adalah tetangga saya semua menjalin sosial yang baik dengan tetangga. Hidup itu tidak melulu tentang uang, Mas. Jadi, ada kalanya saya butuh kenyamanan. Kemudian saya bersama anak-anak tuh lebih lebih awet mudah karena masih berasa sekolah terus, ya. Jadi, saya enggak mungkin rela untuk melepas mereka. Kasihan juga kan anak-anak saya misalkan ada masalah saya bisa membantu mereka masalah di sekolah atau masalah di rumah kayak gitu. Sebisa mungkin saya membagi waktu saya untuk anak-anak dan untuk keluarga saya. Jadi harus balance biar tidak menjumpang. Saya kan menikah dengan suami sudah menjadi guru. Jadi suami sudah menerima enggak protes. Itu memang lillahi taala memang saya niati untuk e mengabdi untuk anak-anak. [Musik] Saya sudah lama pakai Asus. Awal kuliah dulu pertama punya laptop juga pakai Asus. Kemudian saya ganti lagi tahun 2021 mungkin Mas itu saya ganti Asus yang apa? Limited edition warna pink. Terus kemudian saya tukar lagi. Saya pengin yang bisa diputar 360 derajat. Jadi Asus itu di rumah ada tiga laptop saya. Experience apa yang Mbak Erna rasakan? Praktis. Terus lebih praktis, lebih nyaman dibawa ke mana dan yang lebih menariknya laptop Asus ini 40% perangkatnya sudah diproduksi di Indonesia. Jadi makanya saya pengguna lama Asus dan itu memenuhi aturan TKDN yang ada di [Musik] Indonesia. Mau berkembang pastinya pasti berkembang. Saya pengin menambah quantity karena produknya banyak diminati ya. Jadi kalau bisa omsetnya biar nambah juga bisa membantu tetangga-tetangga yang membutuhkan pekerjaan kayak gitu. Nambah omset produk value-nya sudah ada berarti menambah lagi modalnya kayak gitu. Pengin punya cabang usaha yang lain juga tapi kita masih fokus ke bawang merah dulu. Bawang merah itu karena setiap hari dibutuhkan ya Mas ya. Jadi pasti setiap hari selalu ada yang beli karena itu kebutuhan pokok atau bahan pokok yang dibutuhkan ibu-ibu di Indonesia pasti akan butuh dan apalagi akhir-akhir ini bawang merah tuh harganya naik drastis ya karena mungkin banyak petani yang gagal panen faktornya kena hama kemudian tidak bisa tumbuh dengan baik karena faktor hujan kayak gitu. Jadi ketika bawang merah susah didapatkan, kita tetap menjual. Jadi pelanggan-pelanggannya pasti nyariin semua. Kita kerja sama dengan distributor distributor yang lain. Jadi ketika di sini habis, kita pindah ke tempat lain. Kita kerja sama-sama distributor besar, grosir besar. Misalkan di tempat saya lagi ndak panen, saya lari ke distributor yang lain. Insyaallah selalu ada. Dan kenyataannya 1 tahun ini saya berjalan setiap hari selalu ada bang merah. sudah berjalan 1 tahun tuh kita gak berhenti ya, Mas. Maksudnya setiap hari kita jualan. Nah, kalau online Senin sampai Jumat. Kalau offline yang di CFD itu Sabtu sama Minggu. Jadi ketika bawang merah naik kita tetap berjualan. Ketika bawang merah lagi anjol kita juga tetap berjualan gitu. Jadi pengusaha, jadi guru, capek. Tapi kita tetap nikmati aja, kita syukuri aja apa yang sudah Allah berikan kepada saya. Berarti itulah yang harus dijalan. Jadi kita tuh lebih kayak menerima, jangan menolak. Ya memang rezekinya sama Tuhan disuruh jualan bawang merah ya udah berarti jual bawang merah rezekinya untuk menjadi guru ya alhamdulillah dijalani aja. Saya orangnya ndak terlalu berambisi Mas kalau dunia yang penting Allah rida gitu aja. Sebelum saya menjadi guru ya yang seperti jenengan saksikan sekarang saya belum punya usaha. Saya adalah seorang penyanyi dangdut yang menyanyi di atas panggung. Saya menyanyi mulai dari SMP kelas 3. Kalau ikut lomba-lomba dari kecil dari SD. Kelas 6 SD itu saya sudah nyanyi ya sudah manggung. Saya ingat saya jadi penyanyi qasidah waktu itu. Kemudian setelah menjadi penyanyi qasidah, saya merambah lagi ke penyanyi elektun kemudian penyanyi orkes. Setelah lulus SMA saya memutuskan untuk ambil jurusan Sendra Tasik, seni tari Drama dan Musik. Saya fokus di musiknya. Saya kuliah di Universitas Negeri Surabaya. Nah, di situlah saya mulai mengasah bakat saya di bidang tarik suara. Selain saya mengenyam pendidikan di bidang seni, saya juga menyanyi dari panggung ke panggung. Jadi kuliah sambil bekerja. Jadi sudah biasa sekarang bekerja sambil buka usaha. Kalau dulu kuliah sambil bekerja gitu. Saya jadi penyanyi di Surabaya orang baru ya masih banyak bulian kayak gitu. Orang deso, wong deso nyanyi nang koto. Wis benar-benar merintis karir di Surabaya. Kemudian saya pernah ikut ajang pencarian bakat di Indosiar danut Akademi 2. Jadi saya sempat mewakili Kediri. Saya ikut audisi dari tahun ke tahun sampai enggak lolos sampai saya lolos dapat golden tiket untuk ke Jakarta. Saya ke Jakarta diantar sama orang tua saya. Saya berkompetisi di sana tahun 2015 itu saya semester akhir. Saya belum jadi guru waktu itu. Saya sampai 15 besar itu saya dibiaya sampai menjual sawah. Bapak saya sampai menjual sawah. Menjual sawah itu untuk biaya mendukung. Jadi ketik SMS itu loh, Mas. yang jangan lupa ke TD Asna kayak gitu loh. Itu ternyata di rumah saya kan enggak tahu saya kan di Jakarta waktu itu. Ternyata setiap hari saya tampil itu uang dari penjualan sawah habis untuk membantu saya biar enggak tereliminasi. Sawah saya dijual hampir R00 juta. Satu minggu kan tampilnya satu kali. Itu satu kali tampil tuh saya habis hampir R0 juta buat SMS mendukung saya biar anaknya ndak tereliminasi sampai segitunya. Dan setelah tereliminasi pulang saya enggak kuat nan-nangis, Mas. Ternyata almarhum Bapak saya tuh sebaik itu, gitu. Tapi orang-orang kan enggak tahu. Orang-orang kan enggak tahu tahunya Erna adalah artis gitu kan. Waktu itu Erna sudah terkenal sekarang jadi artis gitu kan ya. Padahal orang tua saya tuh kayak gitu di belakang saya yang men-support saya waktu itu kayak gitu. Enggak tahu orang-orang tahunya waktu itu saya sudah jadi bintang tamu nyanyi ke panggung ke panggung. bayarannya sudah banyak kayak gitu. Enak yo saiki jadi artis. Padahal perjuangan kedua orang tua saya tuh kayak gitu. Nah, alhamdulillah setelah itu pulang dari Jakarta saya memutuskan untuk tidak meneruskan karir saya di Jakarta. Karena waktu itu saya semester akhir skripsi kan saya pulang ke Surabaya. Kemudian 6 bulan setelah saya pulang tuh Bapak saya meninggal. Dalam hati saya harus menyelesaikan pendidikan saya. Waktu itu saya enggak mengejar karir. Saya fokus sama kuliah saya. Saya penelitian, saya sidang, saya revisi, saya jalani semua. Tetap sambil saya nyanyi, sambil saya cari uang. Waktu itu saya ya wis akhirnya saya melanjutkan pendidikan saya sampai lulus. Saya setelah lulus kemudian saya lulus saya masih nyanyi nyanyi tapi sambil saya mencoba ngelamar jadi guru honorer. Saya coba-coba ternyata saya keterima sekolah negeri di Surabaya ya. Akhirnya saya ngajar juga waktu itu sambil nyanyi. Jadi kehidupan ini tuh kayaknya benar-benar e penuh perjuangan, Mas. Kalau diceritakan ya. Jadi saya ngajar pagi malam saya nyanyi. Kalau dilajakan insyaallah saya gak pernah. Cuman pandangan masyarakat itu memang agak kurang baik ya terhadap penyanyi dangdut. Padahal enggak semua penyanyi dangdut itu seperti itu ya. Menjual goyangannya, yang menjual pakaiannya kayak gitu. Enggak semua seperti itu. Ya, saya tetap pada norma kesopanan. Saya belum jadi guru. Waktu itu saya nyanyi pagi ngajar malam nyanyi. Jadi saya tetap menjaga pakaian saya karena saya seorang guru waktu itu. Kalau nyanyi itu ya pasti pasin. Cuman untuk di saat ini di usia saya yang 33 tahun kayaknya enggak deh. Maksudnya saya lebih fokus sama tugas saya sebagai guru. Jadi kayaknya kok antara penyanyi dangdut dan guru itu bertolak belakang. Jadi kurang cocok. satunya guru yang disegani masyarakat, sedangkan penyanyi dangdut yang dipandang kurang baik. Ya, saya memilih salah satunya ya. Jadi daripada nanti saya harus mendapat cemoohan orang, oh masa guru nyanyi geol-geol di atas panggung, ya itu saya menjaga itu. Terus kemudian saya juga sudah menikah kalau sepertinya saya juga menjaga suami saya mungkin nanti takutnya cemburu kalau kayak gitu ya. mungkin saya nyanyi kecemburan sosial atau gimana kayak gitu. Jadi ya inilah jalannya saya harus menjadi guru dan sekarang bantu suami saya terkecibung di usaha bawang merah gitu. Guru itu pekerjaan yang mulia, Mas. Jadi jangan dilihat gajinya tapi dilihat perjuangannya. Dilihat perjuangannya. Gajinya segitu-gitu aja. Kalau guru enggak akan bisa naik ngawalinya. Yang pertama, jangan gengsi, jangan malu menjual produk apapun asalkan halal, asalkan diridai oleh Tuhan, berkah kayak gitu. Jangan malu melakukan apapun yang sudah ditakdirkan oleh Allah itu dijalani aja. Dan jangan lupa berdoa. Doa saya doa sapu jagat itu selalu. Kemudian sama selawat Nabi itu jangan sampai ketinggalan. Saya Erna. owner dari Rojo Bawang Grosir yang beralamatkan di Jalan Raya Bulusari. Saya ucapkan terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Tit. Terima kasih
Resume
Categories