Resume
WU3fmh8mtpo • Pekerjakan 700 Ibu-Ibu di Desa Pinggiran Untuk Membuat Kerajinan Keset - Sub Indo
Updated: 2026-02-12 02:30:28 UTC

Berikut adalah rangkuman komprehensif berdasarkan transkrip yang diberikan:

Kisah Sukses Abdai Romi: Membangun Kerajaan Keset Kain Perca di Tulungagung

Inti Sari (Executive Summary)

Video ini mengisahkan perjalanan Abdai Romi, pengusaha kerajinan keset asal Tunggangri, Kalidawir, Tulungagung, yang berhasil membangun bisnis skala besar dari limbah kain perca. Berawal dari kegagalan usaha sebelumnya, Romi menerapkan filosofi bisnis yang unik tanpa hierarki "bos-bawahan" dan memberdayakan ratusan ibu rumah tangga di desanya. Kini, usahanya mampu memproduksi ribuan keset per minggu dengan omzet yang signifikan serta dampak sosial yang positif bagi lingkungan sekitar.

Poin-Poin Kunci (Key Takeaways)

  • Resiliensi Pengusaha: Berawal dari kebangkrutan toko kelontong, Abdai Romi memulai usaha keset dengan modal utang 4 juta rupiah dan bertahan meski mengalami penolakan produk yang menyakitkan di awal.
  • Model Bisnis Terdesentralisasi: Produksi dilakukan oleh pekerja di rumah masing-masing, bukan di pabrik terpusat, yang memberdayakan 500-700 ibu rumah tangga.
  • Dampak Sosial Positif: Usaha ini berhasil mengurangi kebiasaan judi dan gosip di kalangan ibu rumah tangga, serta menciptakan lapangan kerja yang menguntungkan di pedesaan.
  • Skala Produksi Besar: Menghabiskan 3-5 truk bahan baku per minggu dan memproduksi sekitar 15.000 keset mingguan dengan omzet sekitar 75 juta rupiah per minggu.
  • Filosofi Manajemen: Mengedepankan hubungan saling membutuhkan dan silaturahmi (kekeluargaan) daripada hierarki atasan-bawahan yang kaku.

Rincian Materi (Detailed Breakdown)

1. Profil dan Latar Belakang Usaha

  • Pemilik: Abdai Romi.
  • Lokasi: Tunggangri, Kalidawir, Tulungagung, Jawa Timur.
  • Produk: Kerajinan keset dari bahan kain perca.
  • Sejarah: Usaha ini dimulai sekitar tahun 2012 (sekitar 9 tahun lalu saat rekaman dibuat). Sebelumnya, Romi memiliki usaha toko kelontong dan alat kue/perabotan dapur yang bangkrut karena banyaknya piutang yang tidak tertagih.

2. Tantangan Awal dan Perjuangan

  • Modal Awal: Memulai usaha baru dengan modal hutang sebesar 4 juta rupiah.
  • Masa Sulit: Pada awal produksi, Romi hanya mampu membuat 200 keset per bulan. Ia mencoba menjualnya ke toko-toko di Tulungagung.
  • Penolakan: Dari 200 keset yang diantar, 150 diantaranya ditolak atau dikembalikan. Romi mengaku merasa terhina dan sakit hati, namun ia menganggap hal tersebut sebagai ujian mental dan keberanian untuk terus maju.

3. Filosofi Bisnis dan Kepemimpinan

  • Tanpa Hierarki: Romi menolak konsep "Bos" dan "Anak Buah" atau "Tuan" dan "Sahaya". Ia menganggap hubungan dalam bisnisnya adalah saling membutuhkan dan saling membantu.
  • Kekeluargaan: Ia memperlakukan pekerja dan bahkan istrinya (Dewi Yuana) dengan sejajar, tidak ada struktur yang kaku di rumah maupun dalam bisnis.
  • Fokus pada Silaturahmi: Inti dari bisnis ini adalah membangun hubungan yang baik (silaturahmi) dengan semua pihak yang terlibat.

4. Skala Operasional dan Produksi

  • Bahan Baku: Kain perca limbah dari pabrik garmen besar di Bandung, Sukabumi, dan Jepara.
  • Volume Bahan: Menggunakan 3 sampai 5 truk berisi 3,5 ton kain perca setiap minggunya.
  • Produksi: Setiap truk bahan baku dapat diolah menjadi 4.000 hingga 5.500 keset. Total produksi mencapai sekitar 15.000 keset per minggu.
  • Omzet: Dengan asumsi harga jual 5.000 rupiah per keset, omzet mingguan mencapai sekitar 75 juta rupiah.
  • Variasi Produk:
    • Keset Penjara (dijual sebagai Keset Mutiara di Sumatra).
    • Keset Sedot/Sumbu (dijual sebagai Keset Kuda Kembar di Bali, Banyuwangi, Banjarmasin).
    • Keset Jahit.

5. Model Pemberdayaan Tenaga Kerja

  • Sistem Rumahan: Pekerja (kebanyakan ibu rumah tangga) mengerjakan keset di rumah masing-masing.
  • Tujuan Sosial: Sistem ini sengaja dibuat untuk mengisi waktu luang ibu-ibu agar tidak menggosipkan tetangga atau bermain judi (Omben).
  • Manfaat: Suami para pekerja merasa senang karena istri sibuk bekerja dan menghasilkan uang, serta lingkungan menjadi lebih harmonis.
  • Manajemen Pekerja:
    • Jumlah pekerja saat ini: 500-700 orang, dan masih membutuhkan lebih banyak pekerja.
    • Sistem kelompok: Pekerja dibagi menjadi kelompok minimal 5 orang di setiap desa di wilayah Tulungagung Selatan.
    • Setiap kelompok dipimpin oleh seorang pengepul.
    • Abdai Romi yang mengurus logistik pengantaran dan pengambilan bahan serta barang jadi.
  • Pendapatan Pekerja: Pekerja memiliki potensi penghasilan 1 hingga 2 juta rupiah per bulan, bahkan bisa lebih.

6. Pemasaran dan Distribusi

  • Media Sosial: Memanfaatkan Facebook, Instagram, dan TikTok untuk pemasaran.
  • Website: Memiliki situs resmi yaitu kesetkalidawir.com.
  • Jaringan Distributor: Produk telah didistribusikan ke berbagai daerah seperti Sumatra, Bali, Banyuwangi, dan Banjarmasin melalui distributor lokal yang menggunakan nama merek mereka sendiri.

Kesimpulan & Pesan Penutup

Kisah Abdai Romi adalah bukti nyata bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan awal dari kesuksesan baru jika dihadapi dengan ketekunan. Dengan mengubah limbah kain perca menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan menerapkan manajemen yang memanusiakan manusia, ia tidak hanya mencapai kesuksesan finansial tetapi juga membawa perubahan sosial yang besar bagi masyarakat di sekitarnya. Usaha ini menunjukkan potensi besar ekonomi kerajinan rumahan yang dikelola dengan profesional dan hati.

Prev Next