TANGERANG SELATAN JADI KOTA SAMPAH ! BAU BANGKAI HANYA DITUTUP TERPAL
fART-YmKAOo • 2025-12-27
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Kalau kita tarik ke belakang,
tanda-tanda kalau daya tampung TPA ini
mulai bermasalah itu sudah terlihat
sejak tahun 2020. Ketika itu, tepatnya
22 Mei 2020, turap penahan di TPA
Cipecang sempat jebol yang akibatnya
tumpukan sampah sampai tumpah ke Sungai
Cisadani yang jaraknya ya sekitar ee 50
m dari lokasi pengelolaan sampah.
Kejadian ini menjadi sinyal kuat kalau
TPA Cipecang sebenarnya sudah kewalahan
ya menampung sampah harian warga Tangsel
yang jumlahnya mencapai ratusan ton per
hari.
Geng,
sebelumnya di sini gua mau minta kalian
semua ya, baik yang berasal dari Jakarta
maupun dari luar Jakarta untuk
mendengarkan
pemberitaan ini secara lengkap. Oke.
Nah, mungkin di antara kalian masih ada
yang belum familiar dengan nama daerah
Tangerang Selatan karena ya kemungkinan
banyak yang tahunya itu Tangerang gitu
ya. Nah, sementara Tangerang Selatan itu
agak abu-abu. Ini apakah bagian dari
Jakarta atau bagian dari Tangerang atau
bagian dari Banten? Nah, jawabannya
adalah bagian dari Banten dan berbatasan
langsung dengan Jakarta Selatan. Nah,
jadi geng Tangerang Selatan alias
Tangsel ini sebenarnya cukup unik ya.
Kenapa gua bilang unik? Karena tangsel
ini itu beberapa daerahnya sangat bisa
bersaing dengan Jakarta Selatan yang
terkenal dengan wilayah mentereng mewah,
tempat parti-parti, tempat gaul. Nah,
kenapa Tangerang Selatan bisa bersaing
dengan Jakarta Selatan? Ya, karena
daerah Tangerang Selatan itu beberapa
kotanya itu indah banget. Kalau kalian
ke Jakarta, e gua yakin banget kalian
bakal sangat betah berada di daerah
Tangerang Selatan ya. Terutama di daerah
BSD dan di daerah Bintaro karena memang
sebersih itu kotanya.
Nah, itu kalian udah lihat sendiri ya
dari videonya udah kayak di Singapura
gitu, rapi, bersih, jauh bed sama
Jakarta yang ya mohon maaf nih ya udah
mulai padat, macet, sumpek ya. Walaupun
gedung-gedung tingginya banyak, tapi gua
yakin kalian akan sangat betah berada di
sebuah kota yang masih asri seperti BSD
dan Bintaro yang merupakan bagian dari
Tangerang Selatan. Kebetulan studio
Kamar Jeri juga berada di Tangerang
Selatan ya. Tapi kita bukan di Bintaro,
bukan di BSD-nya. Kita di pamulangnya,
daerah yang super duper macet ya kan.
Tapi enggak apa-apa. I love Pamulang.
Kita semua cinta Pamulang. Nah, tapi ada
sebuah fenomena yang benar-benar membuat
Tangerang Selatan sekarang menjadi
cemoohan banyak orang. Jadi malu ya.
Mungkin buat teman-teman di luar Jakarta
enggak tahu ya tentang pemberitaan ini.
Tapi jujur aja, Geng, ini benar-benar
membuat Tangerang Selatan menjadi
seperti perindapan. Ya, maaf nih,
bukannya maksudnya gua mau
menstereotipkan hal-hal kotor, jorok,
buruk gitu dengan daerah perindapan
sana. Tapi kan kita tahu sendiri ya di
media sosial beberapa video yang berasal
dari Prindavan ya ee daerah India sana
itu banyak yang diblow up soal kumuhnya
dan hal tersebut sekarang sedang dialami
oleh Tangerang Selatan. Kalian enggak
percaya? Lihat video ini.
Kalian udah lihat sendiri ya, Geng,
bagaimana kondisi
yang awalnya gua kasih lihat ya,
Tangerang Selatan yang indah banget,
asri, kotanya modern, tapi tiba-tiba ada
bagian yang mirip kayak daerah kumuh
Prindavan. Dan ini benar-benar terjadi
dan ini benar-benar konyol. Seumur hidup
gua baru kali ini gua melihat halonyol
ini. Tumpukan sampah yang sudah
menggunung bukannya diangkut tapi malah
ditutup pakai terpal. Ini adalah sebuah
fenomena yang sedang menjadi momok bagi
Tangerang Selatan yang diakibatkan oleh
korupsi.
Tumpukan sampah dalam sepekan terakhir
mengganggu pemandangan di beberapa titik
di Tangerang Selatan. Penubukan yang
didominasi sampah pasar dan rumah tangga
diduga dipicu penghentian sementara
operasi angkutan ke tempat pembuangan
akhir Cipecang. Nah, pembahasan ini
tujuannya adalah untuk informasi dan
edukasi untuk kita semua sebagai warga
yang tinggal di kota terkhususnya
Tangerang Selatan supaya lebih peka dan
kritis terhadap kondisi lingkungan.
Karena sering sekali ya masalah yang
dianggap spele justru akhirnya berdampak
kayak gini. Dan ini enggak cuma soal
sampah yang bau, tapi juga berkaitan
dengan kesehatan, kenyamanan, bahkan
kualitas hidup. Dan kalian bisa lihat di
video tersebut ya, kejadian ini tidak
hanya terjadi di satu dua tempat tapi
hampir di banyak sudut kota Tangerang
Selatan. Mulai dari pinggir jalan, pasar
sampai pemukiman warga.
Tumpukan sampah. Lihat nih, tumpukan
sampah banyak banget nih, belum
diangkat-angkat. Dan sampah yang
menumpuk bukan hanya membuat pemandangan
jadi enggak enak, tapi juga wah gila,
Geng. Sumpah dah, gua gak tahu bau
neraka tuh kayak apa. Tapi mungkin ini
udah mirip kali ya. Ya, sampah basah
yang udah membusuk jadi bau bangkai cuma
ditutup pakai terpal terus
disemprot-semprotin. Masyarakat banyak
yang protes. [musik] Bukan berarti
masyarakat diam-diam aja. Karena
masyarakat di Tangerang Selatan ini
sudah merasa ya mereka membayar
retribusi dan berharap sampah rumah
tangga tersebut itu dikelola dengan
baik. Tapi di sisi lain ternyata
pemerintah menyebut ada kendala teknis
mulai dari keterbatasan TPA, armada
pengangkutnya sampai sistem pengelolaan
yang belum optimal. Nah, tapi itu alasan
aja dari pemerintah kita dan ternyata ya
di balik itu semua ya ada sebuah kasus
korupsi yang berhubungan dengan fenomena
ini. Nah, seperti apa kasusnya? Kita
bahas nih secara lengkap. Halo, Geng.
Welcome back to Kamar Jerry [musik]
Genggeng. Oke, kita jeda sejenak nih,
Geng. Seperti biasa, gua mau ingatin ke
kalian. Kalau kalian mau belanja
barang-barang yang bagus kualitasnya,
tapi dengan harga terjangkau, nah ini
saatnya. Buat kalian yang mau check out
atau belanja melalui YouTube ya, udah
pasti harganya murah dan kualitasnya
bagus, kalian bisa langsung klik link
yang sudah ada di bawah video ini tuh
langsung klik aja. Nah, ini merupakan
slingbag sandal bernuansa monochrom
untuk urban confi look. Warnanya hitam
terbuat dari kulit di atasnya dan juga
kulit di ins-nya serta rubber di
outs-nya. Sendal ini keren banget.
Harganya juga afroadable. Enggak mahal
tapi berkualitas dan mewah. Mereknya
adalah Obermain diperuntukkan untuk pria
dengan model Eugin Jovin Black. Buat
kalian yang mau beli sandal ini,
langsung aja klik link yang ada di
bawah. Oke, untuk pembahasan yang
pertama kita langsung aja masuk ke dalam
intinya nih. Enggak usah bertele-tele ya
kan penyebab banyaknya sampah,
menumpuknya sampah di Tangerang Selatan
yang enggak bisa dikelola dan enggak
bisa diangkut.
Jadi, geng belakangan ini ya, warga
Tangerang Selatan itu dihadapkan dengan
pemandangan yang membuat kita
terheran-heran. Apakah kita sedang
berada di Indonesia atau justru sedang
berada di daerah kumuh di India sana.
Jadi tumpukan sampah terlihat menggunung
di sepanjang jalan Dewi Sartika sampai
dengan Kolong Flyover Ciputat. Kondisi
ini bukan cuma terjadi sehari du hari,
tapi sudah berlangsung hampir 1 minggu
lamanya. Gua enggak tahu deh sekarang
masih ada apa enggak. Terakhir sih tadi
sore ya kalau enggak salah ya itu di
beberapa titik tuh masih ada. Apakah
masih sebanyak kemarin? Gua enggak tahu.
Sampah ini sudah tidak diambil seperti
tadi saya bilang 6 hari yang lalu. Terus
geng sampahnya pun didominasi oleh
sampah pasar. sampah rumah tangga yang
menumpuk di beberapa titik berbeda.
Kalian bisa bayangkan sampah rumah
tangga dan sampah pasar itu basah dan
membusuk. Ya, dengan kondisi paling
parah itu berada di bawah flyover
Ciputat. Bahkan sampahnya sampai meluber
ke badan jalan yang mengeluarkan bau
yang luar biasa menyengatnya. Apalagi
kalau lagi hujan turun itu waduh
cairannya itu meleleh. Dan gak cuma di
area Ciputat aja, kondisi kayak gini
juga terjadi di pasar Jombang dan Pasar
Serpong. Jadi intinya di daerah
Tangerang Selatan. Di kawasan yang
aktivitas warganya padat ini, sampah
yang enggak terangkut jelas membuat
masalah. Mulai dari ya lalernya banyak,
kenyamanan sudah terganggu sampai ya
estetika lingkungan itu terganggu. Tapi
yang paling parah kan kesehatan
masyarakatnya udah pasti terganggu.
Menanggapi kondisi ini, Walikota
Tangerang Selatan yaitu Pak Benyamin
Dafne mengakui kalau penumpukan sampah
ini terjadi karena tempat pembuangan
sampah atau TPS itu sedang dalam proses
rehabilitasi katanya, khususnya di area
Landfield 3. Nah, beliau menyebutkan
kalau pengerjaan diperkirakan baru akan
selesai sampai akhir Desember 2025.
Tapi, Geng, penjelasan ini justru
memunculkan tanda tanya. Soalnya
rehabilitasi TPS ini kan bukan sesuatu
yang seharusnya tiba-tiba. Harusnya udah
sejak awal sudah dicanangkan, sudah
dimapping, sudah direncanakan dengan
matang, dan pastinya ada skema
antisipasi atau mitigasi supaya
pengangkutan sampah tetap berjalan
normal. Bukannya malah nyangkut di
pinggir jalan lalu ditutup pakai terpal
kayak gini. Ini ide-ide apa ya? Kayak
orang bego gitu. Kayak lagi ngibulin
bocah. Tahu enggak loh. Dan ini
benar-benar mengganggu masyarakat. Jelas
saja masyarakat itu protes. Banyak dari
mereka menilai pemerintah daerah kurang
siap menghadapi dampak dari yang namanya
rehabilitasi tersebut. Warga
mempertanyakan kenapa enggak disiapkan
TPS sementara atau pengalihan lokasi
pembuangan selama proyek berlangsung.
Nah, di saat itu Kepala Dinas Lingkungan
Hidup Tangerang Selatan yaitu Pak Bani
Qosyatullah menjelaskan kalau penumpukan
sampah ini memang merupakan dampak
langsung dari penataan infrastruktur di
TPA Cipecang. katanya. Dia menyebutkan
sebelum dilakukannya penataan, tinggi
tumpukan sampah di TPA itu bisa mencapai
7 m. Nah, sekarang setelah dilakukan
sistem terraing, ketinggiannya berhasil
diturunkan menjadi sekitar 3 sampai 4 m,
katanya. Penataan ini dilakukan untuk
mencegah pencemaran bau menyengat dan
hingga resiko longsor yang bisa
membahayakan masyarakat. Namun
konsekuensinya selama proses penataan
berlangsung, mobil pengangkut sampah
sementara waktu tidak bisa masuk ke area
TPA. Alhasil, sampah pun menumpuk di
TPS-TPS sementara dan di pinggir jalan.
Inilah yang akhirnya membuat krisis
sampah di Tangsel semakin terasa dan
menjadi sorotan banyak pihak. Jadi,
geng, sebenarnya masalah TPA di Cipecang
ini bukan berita baru. Kalau kita tarik
ke belakang, tanda-tanda kalau daya
tampung TPA ini mulai bermasalah itu
sudah terlihat sejak tahun 2020. Ketika
itu, tepatnya 22 Mei 2020, turap penahan
di TPA Cipecang sempat jebol yang
akibatnya tumpukan sampah sampai tumpah
ke sungai Cisadani yang jaraknya ya
sekitar e 50 m dari lokasi pengelolaan
sampah. Kejadian ini menjadi sinyal kuat
kalau TPA Cipecang sebenarnya sudah
kewalahan ya menampung sampah harian
warga Tangsel yang jumlahnya mencapai
ratusan ton per hari. Dan semenjak
kejadian itu, pemerintah Kota Tangerang
Selatan berusaha keras supaya TPA
Cipecang tetap bisa dipakai. Salah satu
langkah yang diambil adalah bekerja sama
dengan daerah lain untuk mengalihkan
sebagian sampah ke TPA Bangkonol di
Kabupaten Pandeglang, Banten. Dan selain
itu, Pemkot juga mulai membatasi jumlah
sampah yang boleh masuk ke TPA Cipecang
supaya kondisinya tidak semakin parah.
Tidak berhenti sampai di situ aja, Geng.
Pemerintah juga menyiapkan rencana
jangka panjang dengan ee menggagas
pembangunan pembangkit listrik tenaga
sampah yang harapannya sampah tidak cuma
akan menjadi beban lingkungan, tapi bisa
diolah menjadi sumber energi sekaligus
mengurangi ketergantungan pada tempat
[musik] pembuangan air. Nah, perbaikan
yang sekarang dilakukan di TPA Cipecang
itu sebenarnya langkah penting dan
memang dibutuhkan gitu ya supaya
kejadian seperti tahun 2020 silam tidak
terulang lagi. Tapi masalahnya perbaikan
ini kan enggak dibarengi dengan sistem
cadangan yang kuat. Jadi setiap kali TPA
Cipecang ini butuh penataan dan
perawatan, pengelolaan sampah di
Tangerang langsung berantakan.
Dan dampaknya terasa sekali warga
lagi-lagi terkena imbas dan sampah
menumpuk di jalan dan TPS serta lalu
lintas menjadi semakin macet, bau enggak
sedap ke mana-mana dan lingkungan
sekitar jadi enggak nyaman untuk
beraktivitas. Yang jelas penyakit ya itu
bersumber dari sana. Dan kondisi ini
menunjukkan kalau persoalan sampah di
Tangerang Selatan ini bukan cuma soal
teknis di TPA, tapi juga udah soal
kesiapan sistem dan perencanaan yang
benar-benar belum matang. Ya, kalau
misalkan mau nyalahin pemerintah ya
wajar wajar banget enggak sih nyalahin
pemerintah ya? kan udah kita bayar
iurannya
ee lancar, tapi kok bisa-bisanya kayak
gini seberantakan ini? Apa enggak
dipikirin selama bekerja ngapain aja
gitu? Kalau kita lihat secara hukum
pemerintah daerah punya kewajiban penuh
dalam menjamin pengelolaan sampah
berjalan dengan baik. Ya kan? di
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 aja
tentang pengelolaan sampah itu sudah
disebutkan, Geng, kalau pemerintah
daerah wajib menyusun kebijakan,
strategi, dan memastikan layanan
persampahan ini tetap berjalan tanpa
mengganggu masyarakat. Nah, tapi kalau
udah kayak gini gimana? Ya,
pemerintahnya juga enggak mau dituntut.
Pasti ya ujungnya masyarakat lagi aja
yang salah. Tapi kalau masyarakat yang
membuat ulah yang bikin masalah kayak
gini, udah tuh dipenjara langsung. Kalau
pejabatnya yang bikin masalah, kita
disuruh sabar. Nah, artinya urusan
sampah kayak gini ini bukan pilihan,
tapi memang udah wajib tanggung jawab
yang melekat, enggak bisa ditoleransi.
Dan selain itu ada juga nih
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup. Di situ sudah
dijelasin kalau pemerintah, kabupaten
atau kota itu punya kewenangan sekaligus
kewajiban untuk mencegah pencemaran
lingkungan. Kalau sampah sampai numpuk
di ruang publik kayak gini, baunya
nyengat dan mengganggu kesehatan warga,
kondisi itu udah jelas berpotensi
melanggar prinsip perlindungan
lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Di dalam konteks pelayanan publik, ya,
pemerintah daerah juga dituntut untuk
menjaga standar kebersihan dan
kenyamanan ruang publik. Hal ini ya
biasanya diatur lebih lanjut dalam
peraturan daerah soal kebersihan dan
pengelolaan sampah. Jadi jalan raya,
pasar, fasilitas umum seharusnya tuh ya
dipastikan bersih gitu, layak digunakan.
Apapun kondisi teknis yang sedang
terjadi di balik layar itu enggak bisa
dijadikan alasan. Ya, pemerintah harus
putar otak. Kalau kita lihat fakta di
lapangan, tumpukan sampah yang
menggunung, bau menyengat, dan jalan
utama yang kotor ini menunjukkan satu
hal penting. Adanya kegagalan dari
pemerintah kita dalam mengantisipasi
risiko saat transisi operasional. Ketika
TPA Cipecang diperbaiki, harusnya udah
ada rencana cadangan. Entah itu ya
lapangan luas yang kosong untuk tempat
naruh itu sampah sementara atau
dialihkan ke lokasi pembuangan ke daerah
lain numpang gitu tapi bayar. Pokoknya
segala macamlah. Absennya langkah
antisipasi inilah yang akhirnya
memunculkan pertanyaan besar. Ada apa
sebenarnya? Apakah di balik ini semua
jangan-jangan ada yang sedang bermain,
ada yang sedang mengalihkan uang atau
biaya untuk pengelolaan sampah ini ke
kantong pribadi?
Nah, nanti kita bakal bahas persoalan
itu. Sekarang kita bahas dulu nih ya,
bagaimana respon dari masyarakat
setempat tentang tumpukan sampah di
Tangerang Selatan ini. Langsung aja.
Jadi, Geng, pada tanggal 18 Desember
atau lebih tepatnya pada hari Kamis
kemarin, sekitar 150 warga Tangerang
Selatan itu turun ke jalan menggelar
aksi demonstrasi di kantor DPRD Kota
Tangsel. Aksi ini dipicu oleh persoalan
sampah yang makin menggunung ini, Geng.
Khususnya yang berkaitan dengan
pengelolaan TPA Cipecang. Nah, masa aksi
yang tergabung di dalam forum masyarakat
Serpong Peduli itu menyuarakan keresahan
mereka dan kondisi lingkungan yang
dinilai udah benar-benar enggak masuk
akal. Selama kurang lebih 2 jam, massa
melakukan orasi di depan gedung DPRD,
mereka menyampaikan berbagai keluhan
mulai dari bau menyengat dan kawasan
pemukiman mereka yang udah makin kayak
Prinda Fan ini dan dampaknya ya langsung
terhadap kenyamanan dan kesehatan warga.
Aksi ini kita meng buat mengungkapkan
karena kebauan yang sering kita
alami
alami.
Setelah berorasi, perwakilan massa
kemudian diundang untuk melakukan
audiensi dengan pimpinan DPRD Kota
Tangerang Selatan. Nah, ini menurut gua
tuh kayak audiensi. Apa sih fungsinya
audiensi yang diharapkan oleh masyarakat
itu? Masalah kelar ya diangkut aja gitu
kan. Ngapain pakai audiensi
diskusi-diskusi lagi ya kan? harusnya
langsung ditindaklanjuti angkut semua
sampahnya, Pak. Di saat itu ya lewat
pengeras suara alias mikrofon suara dari
mobil komando, warga mendesak pemerintah
kota Tangsel agar lebih serius dalam
menangani persoalan ini. Menurut mereka,
selama ini sampah hanya ditumpuk tanpa
pengelolaan yang benar-benar
menyelesaikan masalah. Sebagai bentuk
protes simbolis, massa bahkan membawa
tumpukan sampah serta keranda mati
sebagai bentuk protes dan akhirnya baru
bisa bertemu langsung dengan anggota
DPRD Tangsel yang memenuhi permintaan
pertemuan dengan para demonstran di
lokasi. Sekitar 15 perwakilan warga
kemudian dipersilakan masuk ke dalam
gedung DPRD untuk mengikuti mediasi itu.
Ketua Forum Masyarakat Serpong Peduli
yaitu Pak Abdul Mamad menegaskan kalau
persoalan sampah ini enggak bisa
ditangani setengah-setengah. Menurut
dia, pengelolaan sampah harus dilakukan
secara menyeluruh dan secepat mungkin
gitu karena udah kebawaan nih. Nah,
beliau juga menyoroti tempat pengolahan
sampah terpadu atau TPS3R ini bukan
satu-satunya solusi. Pasalnya TPS3R cuma
mengolah sampah tingkat bawah sementara
residunya tetap akan dibuang ke TPA
Cipecang yang saat ini sudah bermasalah.
Nah, menanggapi aksi ini, Wakil Walikota
Tangerang Selatan yaitu Pilar Saga Iksan
langsung mendatangi gedung DPRD Kota
Tangsel di Kecamatan Setu untuk menemui
para demonstran. Dalam keterangannya,
Pak Pilar ini menyebutkan kalau seluruh
aspirasi masyarakat sudah dicatat. Kayak
biasa catat dulu ya kan biar senang
gitu. Nah, dia juga menyampaikan bahwa
sebagian besar tuntutan tersebut
sebenarnya sudah masuk ke dalam program
pemerintah daerah, baik yang sedang
berjalan di akhir tahun 2025 maupun yang
direncanakan untuk tahun 2026. Dan
selain itu dalam pertemuan tersebut
Forum Masyarakat Serpong Peduli juga
menyampaikan bahwa mereka mau segera
meminta pertemuan dengan Walikota
Tangerang Selatan dan untungnya
permintaan tersebut langsung diagendakan
dan akan difasilitasi oleh DPRD
setempat.
Di dalam aksi demonstrasi kemarin, Geng,
warga Serpong itu sebenarnya mengajukan
totalnya 12 tuntutan kepada pemerintah
daerah. Ada beberapa poin krusial yang
paling disorot dan jadi inti dari
kegelisahan warga. Yang pertama tuh ya,
warga menuntut bantuan BLT sebesar
Rp250.000 per bulan bagi warga yang
terdampak langsung oleh persoalan sampah
ini. Jadi, minta bantuan langsung tunai,
minta duit gitu. Nah, tapi ya wajar aja
enggak sih orang ini kan sudah merugikan
warga sekitar Rp250.000 R000 kan kecil
banget buat pemerintah ya. Hitung-hitung
buat biaya pengobatan ya kan atau biaya
ee buat gotong-royong warga. Ya benar
banget itu sih. Dan bantuan ini diminta
supaya diberikan secara transparan
sebagai bentuk tanggung jawab atas
dampak lingkungan dan kesehatan yang
mereka rasakan sehari-hari. Terus yang
kedua, warga mendesak agar TPS3R di
seluruh Tangsel tuh benar-benar
diaktifkan secara serius, bukan cuma ada
di atas kertas. Dan menurut mereka
pengelolaan sampah harus dimulai dari
tingkat paling dasar supaya beban TPA
Cipecang itu enggak terus menumpuk. Yang
ketiga, warga menuntut perbaikan sistem
pengelolaan TPA Cipecang dengan
mengembalikan fungsinya sebagai tempat
pemprosesan akhir sesuai dengan
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008
tentang persampahan lengkap dengan
dukungan infrastruktur yang memadai.
Nah, jadi geng itu ketiga tuntutan utama
yang paling disorot di dalam aksi
kemarin. Sisanya ya gua bakal masukin
listnya di sini. Kalian bisa baca
sendiri nih.
Nah, jadi itu dia, Geng, ya pembahasan
kita tentang respon masyarakat.
Bagaimana mereka menanggapi soal ee
sampah yang menumpuk ini. Nah, sekarang
kita bakal masuk ke dalam pembahasan
penanganan dari pemerintah ataupun pihak
terkait tentang hal ini. Langsung aja,
Geng. Kita masuk ke dalam pembahasannya.
Jadi, Geng, kalau kita lihat dari sisi
pemerintah, Kota Tangerang Selatan
menyampaikan kalau mereka saat ini
sedang melakukan penanganan di lapangan.
Salah satu langkah yang diambil itu
adalah merapikan tumpukan sampah,
melakukan penyomprotan cairan, penekan
bau. Nah, tapi perlu dicatat nih, Geng,
ya, langkah ini masih bersifat sementara
buat meredam dampak paling terasa yang
dirasakan warga. Jadi, belum diangkut
sampahnya masih di sana, cuman disiram
aja biar enggak bau-bau banget. terus
ditutup pakai terpal biar agak indah
gitu.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota
Tangsel, Bani Kosyatullah itu
menjelaskan kalau penanganan sementara
ini dilakukan sembari memastikan proses
pengangkutan dan pengelolaan sampah
tetap berjalan. Dan dia mengaku kalau
dia memahami kekhawatiran masyarakat dan
menyebutkan pemerintah terus memperkuat
langkah teknis di lapangan mulai dari
pengangkutan sampah, pengendalian bau
sampai dengan penataan lokasi agar lebih
tertib dan aman, katanya. Dan Pak Bani
ini juga meminta dukungan dari
masyarakat di dalam proses penataan TPA
Cipecang yang saat ini pemerintah sedang
melakukan penataan area landfield 3
dengan metode terasering di anak Kali
Cirompang untuk mencegah longsor. Nah,
sekaligus membangun bronjong di area
tersebut gitu ya. Dan selain itu
pemerintah kota juga membuka ee akses
jalan menuju area Landfield 4 serta
melakukan pembebasan lahan yang nantinya
akan digunakan untuk material recovery
facility atau MRF. Terus geng, hal yang
sama juga disampaikan oleh Walikota
Tangerang Selatan, Pak Benyamin Dafni.
Dia menjelaskan kalau Pemkot Tangsel
berkomitmen untuk terus meningkatkan
pengelolaan sampah tadi. Bukan cuma
lewat penanganan jangka pendek, tapi
juga lewat pembenahan sistem dan
penguatan kesadaran lingkungan di
masyarakat. Menurut Pak Benyamin,
perbaikan Landfield 3 di TPA Cipecang
saat ini masih berlangsung dan
ditargetkan selesai bulan ini serta
masih memungkinkan untuk menampung
sampah. dan dia juga menambahkan bahwa
ada program pengolahan sampah yang akan
dijadikan sebagai energi listrik atau PS
dan itu sudah diajukan oleh pemerintah
kota Tangsel. Namun saat ini masih
menunggu tahapan lanjutan dari
Kementerian Lingkungan Hidup katanya
gitu, Geng.
Dan akhirnya nih Geng, pemerintah Kota
Tangerang Selatan menyampaikan kalau
mereka sudah mulai melakukan
pengangkutan sampah secara bertahap di
sejumlah titik yang sempat mengalami
penumpukan. Langkah ini diklaim sebagai
bagian dari upaya penanganan
berkelanjutan untuk mengurai persoalan
sampah yang belakangan ramai dikeluhkan
oleh warga Tangsel. Untuk mempercepat
prosesnya nih, Geng, pemerintah Kota
Tangsel memaksimalkan penggunaan 27
armada baru pengangkut sampah dan 54
amroll dan truk pengangkut sampah untuk
disebar di tujuh kecamatan. Dan
armada-armada ini difokuskan untuk
menarik sampah dari titik-titik yang
sebelumnya mengalami penumpukan cukup
parah. Dan Kepala Dinas Komunikasi dan
Informatika Kota Tangsel yaitu Pak TB
Asep Nurdin menjelaskan juga kalau
penanganan ini memang dilakukan secara
bertahap. Setiap harinya pengangkutan
difokuskan ke simpul-simpul penumpukan
sampah agar dampaknya bisa segera
dirasakan oleh masyarakat. Nah, dengan
skema pengangkutan bertahap yang terus
berjalan ini, pemerintah kota Tangsel
itu menyatakan optimis kondisi
kebersihan di kotanya akan segera
kembali normal. Pemerintah juga
menyebutkan langkah ini ya sekaligus
menjadi bagian dari upaya memperkuat
sistem pengolahan sampah agar ke
depannya lebih ee tertata dan tidak
kembali memicu krisis kayak gini. Selain
dari pemerintah setempat ya, Geng.
Kementerian Lingkungan Hidup atau KLH
juga membantu mengurangi tumpukan sampah
yang menumpuk dengan melakukan
pengangkatan menggunakan alat berat
hingga 116 ton sampah yang tergeletak di
Pasar Cimanggis Tangsel. Selain itu ya
KLH ini juga meminta pembentukan satuan
tugas atau satgas di lokasi-lokasi yang
paling sering digunakan untuk membuang
sampah sembarangan ya untuk menjaga
kebersihan pasar secara konsisten.
Terus di sisi lain, Geng, masyarakat
tentu berharap persoalan ini benar-benar
menemukan solusi yang secepat-cepatnya.
Nah, jangan sampai penanganannya hanya
bersifat tambal sulam dan akhirnya
menjadi siklus masalah yang terus
berulang dari waktu ke waktu. Meskipun
tanggung jawab utama pengelolaan sampah
itu jelas ada di tangan pemerintah
daerah dan instansi terkait, tapi
sebagai warga kota Tangsel sekarang yang
bisa kita lakukan ya juga bukan cuma
marah dan mengeluh ya. kita tetap punya
peran untuk menjaga lingkungan sekitar
kita masing-masing. Mulai dari hal yang
sederhana seperti tidak sembarangan
membuang sampah atau memila sampah rumah
tangga lalu dipisahkan gitu ya. Ee
sampai aktif mengingatkan kalau ada TPS
yang sudah overload dan pengangkutan
yang bermasalah. Nah, minimal kita
enggak ikut nambah beban dari sistem
yang memang rapuh ini. Nah, semoga apa
yang kita bahas di video ini bisa
menambah insight baru dan membuat kita
semua lebih peka. Bukan cuma soal sampah
yang menumpuk di jalan aja, tapi juga
soal bagaimana sebuah kota seharusnya
dikelola dengan tanggung jawab dan
perencanaan.
Itu dia, Geng, pembahasan kita hari ini
mengenai menumpuknya sampah di Tangerang
Selatan. mulai dari penyebabnya, respon
masyarakat sampai langkah-langkah yang
diambil oleh pemerintah. Bagaimana
menurut kalian, Geng? Apakah kalian
punya solusi untuk permasalahan ini?
Boleh tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:14:17 UTC
Categories
Manage