FAKE KRAMAT GRAVE BUSINESS! A DECEIT TO MAKE A PROFIT
Bd8S4l1U8zs • 2025-12-04
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Dan dengan cerita yang dibungkus
sedemikian rupa, makam yang sebenarnya
fiktif itu tiba-tiba mendadak berubah
menjadi lokasi untuk ziarah. Nah, para
peziarah yang entah datang dari mana,
entah dapat e cerita dari mana, mereka
datang ke sana dan percaya kalau makam
itu keramat. Nah, pembodohannya mulai
dari memberikan sumbangan berupa uang,
menyumbang uang kebersihan, bahkan
membeli paket doa. Paket doa. Ingat ya,
Geng. Paket doa bukan paket kuota.
Oke, Geng. Hari ini sementara waktu kita
beranjak dulu sejenak dari pemberitaan
tentang banjir ya. Nanti kita bakal
bahas lagi perkembangannya. Tapi hari
ini gua mau ngajak kalian untuk membahas
sesuatu yang mungkin cukup menggelitik,
mungkin kelihatan jauh dari radar kita,
tapi sebenarnya cukup nyambung lah sama
isu sosial keagamaan, dan bahkan soal
integritas moral di negeri kita. Ini
cerita ini bukan tentang kriminal
jalanan, bukan soal politik panas, tapi
tentang fenomena makam palsu, tokoh
agama yang ternyata banyak banget
tersebar di berbagai daerah di
Indonesia. Dan yang lebih seramnya lagi
ada yang dijadikan sebagai ladang
bisnis.
Diduga dijadikan tempat untuk ritual
pesugihan, sebuah gazebo dan 31 makam
palsu di Kecamatan Petir, Kabupaten
Serang, Banten dibongkar paksa oleh
warga setempat.
Ya, hal tersebut sebagai bentuk
penolakan atas keberadaan makam-makam
yang dianggap tidak jelas asal-usulnya
dan juga dinilai hanya menyesatkan
masyarakat. Fenomena ini bukan sekedar
soal batu nisan atau kompleks pemakaman
biasa, tapi ini menyangkut manipulasi
sejarah, penyalahgunaan nama tokoh agama
sampai komersialisasi tempat yang
dianggap sakral dan yang sudah pasti
bawa-bawa agama. Dan makin digali
semakin kelihatan kalau pola bisnis yang
terselubung ini mulai dari pengelola
yang sengaja mendongkrak nama tokoh
tertentu supaya tempat itu ramai
penziarahnya sampai pihak-pihak yang
memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat
untuk mengambil keuntungan. Terus ya
intinya dibuat-buatlah cerita
dongengnya. Ini berbicara soal
kepercayaan publik tentang pemalsuan
identitas sejarah sampai potensi
penipuan berjamaah. Makanya banyak orang
yang mulai bertanya-tanya, bagaimana
bisa makam yang klaimnya besar banget
ternyata ya sejarahnya itu tidak
berbukti hanya berdasarkan katanya,
katanya, katanya sampai akhirnya
orang-orang percaya dan ya gilanya
adalah banyak yang musyrik atau syirik
gitu ya, lalu ya mengeluh-eluhkan,
memuja-muja meminta sesuatu kepada makam
tersebut. Yang jadi pertanyaan gua, kok
bisa ya fenomena ini terjadi? Ini kan
sebuah pembodohan sebenarnya. Terus
sejauh apa, Geng, pengawasan pemerintah
kita soal situs-situs religi, terutama
yang palsu-palsu kayak gini? Dan apakah
masyarakat bisa dikatakan sudah menjadi
korban dari narasi yang sengaja dibentuk
padahal semuanya bohong? Ya kan? Di
video kali ini kita bakal membahas
lengkap bagaimana praktik makam palsu
ini bisa muncul di tengah-tengah
masyarakat Indonesia, di tengah-tengah
kemajuan zaman yang semakin modern. Tapi
kok masyarakat kita terasa semakin
mundur dengan hal ini? Siapa yang
diuntungkan dari fenomena ini dan kenapa
bisa terus terjadi? Kita bahas secara
lengkap. Halo, Geng. Welcome back to
Kamar Jerry [musik]
[musik]
Geng. Geng. Untuk pembahasan yang
pertama, kita langsung bahas dulu nih 31
makam palsu yang ada di Serang, Banten.
Ini mungkin teman-teman dari Banten bisa
ee menjelaskan juga kalau misalkan ada
kekeliruan atau penjelasan gue yang
kurang di kolom komentar. Oke, kita
bahas.
Jadi, Geng, 31 makam palsu diserang
Banten ini ya dijadikan lapak pesugihan
oleh orang-orang yang enggak dikenal.
Makam ini terletak di tempat pemakaman
umum atau TPU yang bernama Kampung
Kamadean di Desa Seat, Kecamatan Petir,
Kabupaten Serang, Banten. Awalnya nih
ya, tempat ini ee sebenarnya
tenang-tenang aja, enggak ada isu apapun
di sana. Dan sejak 2018 warga-warga di
sana tahu kalau cuma ada satu makam
keramat di sana dan makam itu merupakan
ee seorang tokoh masyarakat lama yang
memang dihormati sejak dulu di daerah
tersebut. Nah, jadi dikeramatkan tuh
makamnya. Gak ada yang aneh dan gak ada
yang mencurigakan. Yang namanya makam
keramat mungkin makam tua. Ya udah kayak
gitu aja didoakan ya udah gitu. Nah,
tapi geng ya akhirnya warga di sana itu
sadar kalau mereka mulai merasa ada yang
tidak beres. Jadi di atas tanah wakaf
TPU tersebut tiba-tiba bermunculan
makam-makam baru yang entah kapan
adanya. Enggak cuma satu atau dua makam,
tapi langsung puluhan makam yang muncul
di daerah dekat e makam keramat tadi.
Dan bukan makam biasa. Di setiap nissan
makam baru ini punya nama yang bisa
dikatakan ee membuat orang-orang
menghormatilah makam itu atau nama dari
makam itu. Namanya itu punya gelar yang
tinggi seperti Syekh Antaboga, Nyimas
Ratu Gandasari, Prabu Taji Malela, Ratu
Sundagaluh sampai dengan Nyai Sangketa.
Nah, namanya enggak main-main gitu ya.
Kalau untuk masyarakat Sunda ini
terdengar sangat sakral namanya kayak
apa ya? Gua enggak bisa bilang darah
biru atau ningrat ya, gimana ya
sebutannya tuh kayak ya bukan rakyat
biasalah, bukan makam rakyat biasa, tapi
tokoh-tokoh penting, tokoh-tokoh yang
zaman dahulu mungkin sangat dihormati
dan dihargai. Kalau kita mendengar
nama-nama itu, pasti kita berpikir
nama-nama tersebut punya ee sejarah
cerita yang panjang sampai akhirnya
berakhir di tempat itu. Nah, tapi
setelah ditelusuri nama-nama tersebut
tidak punya jejak atau sejarah di tempat
itu. Orang yang lewat mungkin langsung
berpikir kalau ini merupakan makam
keramat semua. Tapi untuk warga yang
tinggal di sana bertahun-tahun, justru
mereka terbingung-bingung dari mana
asalnya, dari mana munculnya ini makam.
Dulu enggak ada dan kenapa tiba-tiba
ada. Dan saat mereka menanyakan kepada
para e tetua-tetua di sana, kok enggak
ada ya cerita leluhur mereka yang ee
berkenaan dengan nama-nama itu. Dan
masyarakat di sana pun mulai ngerasa
janggal. Bukan cuma soal jumlah
makamnya, tapi klaim keramatnya yang
ternyata tidak punya dasar. Dan dari
sinilah kecurigaan warga mulai menguat.
Ya, kecurigaan warga akhirnya
disampaikanlah kepada aparat desa.
Awalnya dugaan mereka sederhana. Mungkin
[musik] ada pihak luar yang asal-asalan
menaruh Nissan karena salah informasi
atau sekedar iseng-iseng aja. Tapi
setelah dicek satu persatu, justru
makam-makam tersebut semakin menunjukkan
pola yang janggal. Nisan-nisannya dibuat
dengan model yang serupa, gaya
penamaannya mirip dan muncul dalam kurun
waktu yang tidak terlalu jauh alias
berdekatan. Seolah cuma satu orang yang
mengatur semuanya dari belakang. Jadi
kayak sengaja dibuat atau dicetak
berbarengan. Dari sini penyelidikan
kecil-kecilan mulai dilakukan tuh oleh
warga maupun pemerintah desa. Mereka
mendatangi orang-orang yang sering
terlihat di sekitar TPU, memeriksa siapa
saja yang pernah mengurus izin lahan
tersebut sampai mencoba menelusuri
apakah ada tokoh adat yang pernah
mengakui kehadiran figur-figur sejarah
yang namanya tertulis di batu nisan itu,
Geng. Dan pelan-pelan sosok-sosok yang
diduga mengatur semua ini mulai
mengerucut. Jadi kayak ditanya
satu-satu, "Pak, Bapak kuncen di sini
ya?" Iya. itu kenapa ada ee kuburan
keramat baru di sana? Siapa yang buat?
Ya kan? Nah, kuncinannya nunjuk oh ada
bapak si ini. Oh, ada si ini, si itu, si
itu. Akhirnya mengerucut kepada satu
nama. Nah, jadi terduga pelakunya adalah
orang yang bernama Suhada. Seorang pria
warga Kabupaten Karawang yang memiliki
kerabat di Desa Seat. Jadi bukan warga
asli di sana, justru orang Karawang yang
datang ke sana terus punya ide kayak,
"Oh, oke kita bangun makam. Tujuannya
supaya cuan.
Abdina syuhada
nyuhunkeun
hampura
1000 hampura
syuhada
bikin resah masyarakat.
Orang ini tinggal tidak jauh dari TPU
Kampung Kamadean. Dia adalah orang yang
beberapa kali terlihat memandori. Jadi
dia jadi mandor penempatan batu nisan
yang baru tersebut. dia yang
mengarahkan. Dia juga disebut kera
pembawa orang-orang luar masuk ke area
pemakaman, memperlihatkan makam-makam
tersebut seakan-akan itu adalah situs
sejarah. Dan enggak cuma makam aja,
Geng, yang dia buat, tapi juga ditemukan
sebuah gua ya, goa yang ee mirip
terowongan yang dibangun untuk melakukan
praktik ritual pesugihan di sana.
Ih, mana
ke mana? Ih, masuk.
Ah, sawah.
Dan selain itu menurut pengakuan warga
sekitar, syuhada ini juga menyebarkan
ilmu sesat kepada warga di sana seperti
ya tidak melakukan salat Jumat hingga
tidak melakukan puasa Ramadan. Dan dari
sinilah muncul dugaan bahwa makam dan
goa-goa tersebut sengaja dibangun untuk
tujuan yang jauh lebih pragmatis, yaitu
bisnis si Suhada ini. Praktik sesat
sekaligus mencari cuan. Informasi dari
warga itu menyebutkan si Suhada ini
tidak sekedar menaruh Nissan lalu pergi
dari sana. Dia juga menjual narasi
kepada para peziarah dari luar daerah.
Dia menyampaikan bahwa makam-makam itu
adalah makam para tokoh sakti dan
leluhur penting di daerah Sunda. Dan
dengan cerita yang dibungkus sedemikian
rupa, makam yang sebenarnya fiktif itu
tiba-tiba mendadak berubah menjadi
lokasi untuk ziarah. Nah, para peziarah
yang entah datang dari mana, entah dapat
e cerita dari mana, mereka datang ke
sana dan percaya kalau makam itu
keramat. Nah, pembodohannya mulai dari
memberikan sumbangan berupa uang,
menyumbang uang kebersihan, bahkan
membeli paket doa. Paket doa. Ingat ya,
Geng. Paket doa bukan paket kuota. Dari
sinilah motifnya semakin jelas, yaitu
makam palsu ini dijadikan sebagai ladang
bisnis oleh si Suuhada tadi. Polisi
akhirnya turun tangan dan ketika itu
barulah semuanya terungkap. Hasil
penyelidikan dari Pores Serang yaitu AKB
Conro Sasongko. Beliau mengungkapkan
bahwa ada total 31 makam dibangun secara
ilegal. Makam loh ilegal dibangun. Jadi
enggak ada mayatnya di dalam dan tanpa
dasar sejarah apapun. Suhada ini
ditetapkan sebagai tersangka utama
karena menjadi aktor yang memprakarsai
kemunculan makam-makam itu. Bahkan dia
sudah ee membuat bisnis makam palsu ini
sejak tahun 2018. dan dia juga terbukti
memungut uang dari para berziarah yang
datang ke sana mulai dari tarif ritual,
ongkos perawatan makam sampai sumbangan
yang tidak pernah tercatat secara resmi
dan bahkan ya ee biaya parkir gitu,
Geng, juga dia ambil. [musik] Nah,
dengan kata lain, semakin kuat keyakinan
orang pada makam keramat itu, maka
semakin besar pula keuntungan yang bisa
didapatkan oleh si Suhada dan
komplotannya. Walaupun terduga pelaku
sudah terungkap nih, Geng. Tapi sampai
saat ini belum ada informasi apakah si
Suuhada ini e ditangkap atau dipenjara
atau justru masih eh dia bebas di luar
sana. Nah, tapi geng setelah melakukan
penyelidikan ini, petugas kepolisian dan
juga para warga berbondong-bondong dan
saling bantu untuk ee proses
pembongkaran makam palsu ini setelah
melakukan musyawarah bersama dengan
Muspika dan ketua MUI Kecamatan Petir
serta tokoh agama di sana. Nah, petugas
bersama dengan masyarakat sekitar
melakukan pembongkaran pada tanggal 3
Juni 2025 dan polisi sudah memberikan
polis line di makam tersebut, Geng.
Gila, ya. Ada-ada aja cara orang
berbisnis dan enggak tanggung-tanggung
31 makam palsu. Yang artinya dia untuk
ngebohongin orang itu butuh modal.
Bangun makam palsu kan enggak cuma
sekedar ya cuma gundukan tanah. harus
bikin nisannya, harus bikin pembatas
atau frame dari kuburannya supaya
terlihat itu adalah makam yang megah,
mewah, punya wali ya kan atau punya
tokoh tertentu. Nah, itu kan butuh modal
tuh ada semen, ada keramiknya dan itu
semua dilakukan oleh orang ini untuk
bisa melipat gandakan keuntungan. Tapi
yang jadi pertanyaan gua, kok bisa ada
orang yang percaya ee datang ke makam
keramat, berziarah ke makam keramat,
berdoa di sana bisa mendatangkan rezeki?
Kalau dari sini kita lihat, sepertinya
negara kita ya sebagian masyarakatnya
udah mirip kayak di India, enggak sih?
Di India pagar ngeluarin air aja itu
disembah, airnya dianggap suci. Padahal
itu cuma kebocoran pipa. Itu banyak tuh
kejadiannya nih. Boleh kalian coba lihat
nih.
Dan bahkan ada kejadian juga di India
kebocoran air AC yang kebetulan airnya
netes di ee patung atau di mana gitu
atau di batu gitu gua lupa ya. Nanti
boleh editor gua cariin tuh videonya
tampilkan ya. Itu juga dianggap air
keramat. Nah, bagaimana ya? Kayak gila
banget deh negara kita.
Oke, itu baru 31 makam palsu yang
dibangun di Banten. Nah, ini yang lebih
gila lagi nih kejadiannya di Wonosobo
yaitu ada 78 makam wali palsu. Wali
palsu ya di Wonosobo 78.
Gila. Kita bahas.
Nah, jadi geng di daerah yang bernama
Desa Ngalian, Wadas Lintang, Wonosobo,
ada 78 makam wali palsu yang ditemukan.
Sebenarnya berita ini tuh enggak
baru-baru banget ya, Geng. Ini udah
terjadi sekitar tahun 2024, tepatnya di
bulan Agustus lalu. Dan makam ini
dikenal dengan makam Wali Telu atau
dapat diartikan dari bahasa Jawa adalah
tiga wali. Makam Keramat yang disebut
sebagai wali telu ini ternyata baru
diresmikan pada 2021. Makam diresmikan
anjir kayak monumen ya kan? Makam
diresmikan. Konon katanya ya pembangunan
makam tersebut dilakukan setelah adanya
petunjuk dari seorang Habib yang cukup
dikenal di kalangan masyarakat setempat.
Wah, lagi-lagi berhubungan dengan Habib
nih, Geng. Ya, sejak dibuka, tempat itu
cepat menarik perhatian. Banyak orang
yang datang untuk berziarah ke sana
meyakini bahwa makam tersebut memiliki
nilai spiritual. Lambat laun, makam itu
pun dikembangkan menjadi semacam wisata
religi proyek yang digadang-gadang bisa
membantu meningkatkan perekonomian warga
sekitar. Nah, lokasinya sendiri cukup
strategis. Ini kalau kita lihat dari
fenomenanya kayaknya ya e kuburan bisa
mengalahkan Wapres Gibran. Wapres Gibran
menjanjikan 19 juta lapangan pekerjaan.
Kuburan tidak perlu berjanji apa-apa.
Tiba-tiba bisa menaikkan perekonomian.
Waduh, top. Jadi, makam ini berada tidak
jauh dari Waduk Wada Selintang. salah
satu destinasi andalan di Kabupaten
Wonosobo sehingga semakin mudah menarik
peziarah sekaligus wisatawan yang
melintas di sana. Jadi tempatnya
strategis yang dipilih. Kemudian, Geng,
para warga di sana itu mulai
mempertanyakan, "Ini asli enggak sih?"
Kok apa ya ee makamnya tiba-tiba muncul
dan mereka enggak pernah tahu selama ini
ada makam di sana, ada makam keramat
gitu. Dan pada 2022 ya, pemerintah
Kabupaten Wonosobo sebenarnya sudah
mencoba mencari titik terang soal
keberadaan makam wali teluh di
Kalicutang ini tepatnya pada 7 Februari
2022. Nah, jadi digelarlah sebuah
audiensi di ruang e Mangun Kusumo
namanya, Sekretariat Daerah Wonosobo.
Pertemuan itu melibatkan banyak pihak,
Lembaga Pencegahan Korupsi dan Pungli
Jawa Tengah dan DIY atau Daerah Istimewa
Yogyakarta. Terus ada Plt Kesra Sekda
Wonosobo dan Dinas Sosial PMD dan bagian
hukum serta bagian pemerintahan. Terus
ada Camat Wadelintang, Kepala Desa
Ngalian, pihak BPD dan saksi tokoh
masyarakat hingga dinas teknis lain yang
berkaitan. Jadi semua pihak itu sudah
dikumpulin cuma buat ngebahas apa?
Ngebahas kuburan. Kuburan yang nghasilin
cuan. Nah, dari audiensi ini mulai
terlihat masalah utamanya. Makam yang
dinamai Wali Telu yang jumlahnya di saat
itu mencapai 78 titik di kawasan
Kicutang, Sigedong, Desa Ngalian
ternyata tidak ada izin resmi. Makin
pusing gua ada gitu kuburan pakai izin
resmi. Ini izin resminya apa ya?
Kuburannya pakai kayak mau buka warung
pakai izin resmi. Terus geng, tidak ada
persetujuan dari Dinas Pariwisata,
Kantor Kementerian Agama dan Dinas Cash
Bank Pool. Terus enggak ada juga dari
DPMPTSP
serta DPUPR itu enggak ada izin itu
semua. Semua instansi yang sebenarnya
berwenang justru tidak pernah dilibatkan
sejak awal. Mereka enggak tahu apa-apa
kok tiba-tiba ini makam tiba-tiba muncul
jadi destinasi wisata spiritual. Jadi
tempat yang dieluh-eluhkan,
diagung-agungkan, disembah-sembah dan
ternyata menjadi ladang cuan. Perputaran
uangnya besar. Ya, kita tahu sendiri ya,
ketika ladang cuan tidak melibatkan
pemerintah, maka pemerintahnya protes.
Maka pemerintahnya bakal turun tangan.
Dan ternyata ada baiknya juga. Ketika
pemerintah tidak dilibatkan, maka
pemerintah akan turun tangan untuk
ngecek dan akhirnya kepalsuan ini
terbongkar. Nah, simbiosis mutualismenya
kurang dapat tuh abang-abang ya,
abang-abang e pebisnis makam palsu ya.
Mungkin di tempat lain bisnis kayak gini
tuh masih banyak ya. Tapi kong Kalikong
dengan pihak-pihak berwenang setempat
akhirnya belum terbongkar. Nah, kalau
ini terbongkar nih. Yang membuat
persoalan semakin rumit, maka-makap
tersebut sudah lebih dulu disahkan
menggunakan tanda tangan dan stempel
kepala desa. Nah, jadi yang mendapatkan
cuannya, pelicinnya adalah kepala desa
di sana. Dan padahal tidak ada
penelitian sejarah atau verifikasi
arkeologis yang semestinya menjadi
dasar. Bahkan menurut keterangan dari
DPUPR, lokasi makam itu pun melanggar
aturan tata ruang atau ITR. Nama-nama
para wali yang ditempatkan di
makam-makam itu disebut-sebut berasal
dari rekomendasi seorang ulama ternama.
Dan namun tanpa data pendukung, tanpa
kajian sejarah, tanpa izin dari pihak
berwenang dan rekomendasi itu justru
memunculkan praktik yang akhirnya
berbenturan dengan regulasi. Singkat
cerita, setelah 2 tahun dibiarkan
berdiri dari tahun 2022, akhirnya 78
makam yang berada di perbatasan Desa
Ngalian, Kecamatan Wada Selintang ini
dibongkar habis. Puluhan nisan di
kawasan Kali Cutang dinyatakan sebagai
makam fiktif dan klaim keberadaannya
tidak bisa diakui secara ilmiah. Nah,
oleh karena itu pada Rabu tanggal 28
Agustus 2024 makam-makam tersebut
dibongkar oleh tim pembongkar makam
Koramil Wadelintang dan Cash Bank Pol
serta sejumlah tokoh masyarakat. Dan
Arga Balarama salah satu anggota tim
pembongkaran menjelaskan bahwa langkah
ini diambil untuk mencegah pembelokan
sejarah. Dan sejak awal banyak warga
yang meragukan keaslian makam-makam
tersebut. Apalagi semua nama yang
tercantum digadang-gadang sebagai ulama
atau wali itu tanpa bukti yang kuat.
Arga menjelaskan bahwa timnya turun
langsung ke lapangan untuk melakukan
penelusuran dan menafsirkan berbagai
temuan yang ada. Dan mereka menemukan
bahwa kemunculan puluhan makam ini cuma
bersumber dari cerita beberapa tokoh
masyarakat melalui pendekatan spiritual
tanpa didukung kajian ilmiah. Jadi
ibaratnya tuh kayak ada tetua di sana
mungkin kayak lagi ngedongeng kali ya,
lagi bikin cerita biar seru aja akhirnya
diseriusin. Padahal enggak ada kajian
ilmiahnya, enggak ada penelitian
arkeologi atau bukti sejarah apapun yang
seharusnya ada di sekitar lokasi. Dan
tim sama sekali tidak menemukan artefak
dan dokumen kuno maupun catatan sejarah
yang bisa memperkuat klaim kalau area
itu memang merupakan situs cagar budaya
gitu. Jadi kayak ya udah diada-adain
orang-orangnya percaya dan langsung
datang ke sana. Bahkan saat ditelusuri
lebih dalam, jumlah makam dan nama-nama
tokoh yang dicantumkan pun tidak
konsisten dan tidak diketahui kapan
tokoh-tokoh tersebut di ee dimakamkan di
sana. Setelah ditelusuri, makam tersebut
juga awalnya ternyata dibangun di tanah
ilalang yang berstatus tanah milik desa.
Tadinya tanah kosong. Dan Pak Arga ini
juga menyebutkan bahwa rekomendasi yang
diberikan sejumlah tokoh masyarakat
ternyata tidak dibangun dari informasi
yang lengkap. Beberapa di antara mereka
bahkan meminta agar nama mereka dihapus
dari daftar pemberi rekomendasi karena
khawatir dianggap ikut e melegitimasi
situs yang tidak jelas asal-usulnya.
Nah, giliran udah ketahuan kayak gini
banyak yang mau cuci tangan ya kan? Dan
menurut tim yang membongkar makam
tersebut penemuan yang hanya berdasarkan
petunjuk spiritual dan tidak bisa
dijadikan dasar kebenaran ilmiah dan ini
bersifat subjektif dan tidak dapat
dipertanggungjawabkan secara akademis.
Nah, mereka menegaskan bahwa tugas
mereka hanya sebatas penelitian dan juga
pembongkaran. Sementara persoalan hukum
terkait kasus makam fiktif ini menjadi
ranah pihak yang lain. Pak Arga juga
menjelaskan kalau dia juga sudah
berkonsultasi dengan instansi terkait
dan juga ahli sejarah. Dan tim tersebut
menyimpulkan bahwa makam palsu yang
terletak di kawasan Kalicutang ini tidak
dapat diakui sebagai penemuan yang sah
karena tidak didukung oleh kajian
ilmiah. Nah, gila ya. 31 makam di awal
ini, 78 makam enggak main-main.
Oke. Nah, udah pembahasan kedua ya.
Gimana menurut kalian? Maskin merasa
tertinggal enggak masyarakat kita? Apa
kalian merasa ini sebuah kemajuan?
Oke, untuk pembahasan selanjutnya kita
akan bahas lagi makam palsu yang lain
yaitu makam Wali Lima di daerah Ngawi.
Selanjutnya, Geng, ada sebuah makam
fiktif yang terletak di Dusun Kudung
Rejo 1, Desa Guyung, Kecamatan Gerih, ee
Ngawi, Jawa Timur. Nih, ada teman-teman
yang dari Ngawi enggak nih? Coba
tinggalkan komentar di bawah. Makam ini
sering disebut oleh warga sekitar dan
juga para peziarah dengan nama makam
Wali Lima. Dan anehnya makam ini
terletak di perkarangan rumah dari
seorang tokoh masyarakat yang ada di
sana yaitu K. Haji Qosyim namanya. Nah,
jadi di rumahnya ada makam gitu. Nah,
ini ibaratkan kalau misalkan kita
analogikan ya kayak orang nih punya
rumah terus halaman depannya atau teras
depannya dijadiin toko kelentong. Jadi
bisa sembari bersih-bersih rumah,
beres-beres rumah, nyantai-nyantai di
rumah, tapi buka usaha. Kalau usaha si
Kiai Haji Qasim ini adalah bikin makam
palsu. Jadi sambil nyantai-nyantai di
rumah, kipas-kipas pakai sarung, ada
orang datang berdoa di depan rumahnya di
makam itu ngasih duit. Wah, ide bisnis
yang bagus ya. [tertawa] Nah, selain
itu, Geng, nama-nama yang dipakai untuk
makam palsu di rumahnya ini juga seperti
nama-nama ulama besar yang ada di
Indonesia. Misalkan kayak Syekh Maulana
Muhammad Almisri, Syekh Maulana Sahid
Almulti, Syekh Maulana Sahid Albakri,
Syekh Maulana Alngalawi, dan Syekh
Maulana Ahmad Muhammad. Terus ini kapan
sih tiba-tiba kok makamnya ada di rumah
atau di perkarangan rumahnya? Nah, makam
ini ternyata sudah mulai dibangun atau
dibuat oleh dia sejak tahun 2009. Dia
buat itu ya mungkin sebagian orang tahu,
tapi dia cuek. Yang jelas kiai Qosyim
ini ya membuat situs makam tersebut
dengan tujuan mendapatkan keuntungan.
Menurut pengakuan dia, dia membangun
makam itu karena mendapat perintah dari
gurunya katanya. Dan selain itu, dia
juga merasa mendapat firasat lewat
mimpi. Katanya ada jasad seorang wali
yang bersemanyam di bekas perkarangan
gundukan pembuatan batu bata merah
tersebut. Dan pada tahun 2020, makam itu
mulai direnovasi untuk menarik ee
perhatian para jemaah. Nah, jadi makam
ini awalnya cuma bekas gundukan aja.
Bahkan ketua pejuang Wali Songo
Indonesia Laskar Sabilah atau PWILS
cabang Ngawi yang bernama Budi Cahyono
menegaskan kalau makam dengan nisa
nama-nama para ulama ini adalah
jelas-jelas palsu. Dan Pak Budi ini juga
menjelaskan kalau pihak mereka
berinisiatif untuk melakukan
pembongkaran dan sebelumnya mereka sudah
berkoordinasi dengan perangkat desa
serta kepolisian. Sebab kalau enggak
dibongkar maka bakal banyak warga yang
percaya dan berziarah di sana. Nah,
sampai akhirnya nih, Geng, makam ini pun
benar-benar dibongkar pada hari Minggu
tanggal 12 Januari 2025. Dan
pembongkaran ini dilakukan oleh kelompok
pejuang Wali Songo Indonesia, Laskar
Sabilillah atau PWILS cabang Ngawi yang
turun tangan langsung untuk membongkar
sebuah bangunan makam tersebut. Nah,
aksi ini langsung dibenarkan oleh
Kapores Ngawi AKBP Dwi Sumrahadi
Rahmanto yang memastikan kalau
pembongkaran memang terjadi dan sedang
ditangani oleh aparat. Dan Dui
menjelaskan kalau di sana terdapat lima
makam yang dibongkar. Dan benar aja
semua makam itu kosong dan tidak ada
jasadnya. Kelima makam itu juga tidak
sepenuhnya digali sampai bawah karena si
Kosim ini sudah menjelaskan bahwa makam
ini memang kosong. Jadi dia akui dia itu
berbohong. Dan dari sini banyak yang
percaya kalau makam ini merupakan salah
satu ladang bisnis yang dilakukan untuk
mendapatkan keuntungan semata. Walaupun
tidak diberitahu jelas berapa
keuntungannya, tapi kasus ini sangat
merugikan bagi orang-orang yang masih
percaya hal-hal seperti ini. Dan ketua
RT setempat ya, yaitu Agus Suprianto
juga menjelaskan bahwa cerita
makam-makam itu sebenarnya sudah berdiri
lebih dari 15 tahun lamanya. Selama itu
pula banyak peziarah dari luar daerah
berdatangan dengan keyakinan kuat bahwa
yang mereka kunjungi adalah makam para
wali lima. Keyakinan itu terus hidup di
masyarakat meski asal-usul makamnya
sendiri sebenarnya gak pernah
benar-benar jelas. Nah, jadi geng dari
semua kasus ini kita bisa lihat satu
pola yang sama ketika kepercayaan
masyarakat tidak dibarengi dengan
literasi sejarah dan pengawasan yang
kuat. Ruang kosong itu gampang banget ya
diisi oleh orang-orang yang mencari
kesempatan. Makam yang harusnya menjadi
tempat mendoakan justru dijadikan
komoditas. Sejarah yang harusnya dijaga
malah dipelintir demi keuntungan. Dan ya
masyarakat yang datang dengan niat baik
malah berpotensi menjadi korban narasi
yang direkayasa. Fenomena makam palsu
ini bukan sekedar soal Nissan kosong
atau nama besar yang ditempel seenaknya.
Dan ini adalah soal bagaimana sebuah
cerita bisa dimanipulasi ya, bagaimana
simbol-simbol spiritual bisa dijual dan
bagaimana kepercayaan publik bisa
disesatkan kalau tidak ada ketegasan
dari pemerintah minimnya literasi atau
kurangnya kesadaran masyarakat untuk
kritis sebelum percaya. Jadi, Geng,
dengan semua fakta yang ada, kita
bongkar dari awal kemunculan makam-makam
palsu, pengakuan para tersangka sampai
proses pembongkaran yang melibatkan
aparat dan tokoh masyarakat. Ya, menurut
kalian gimana? Apakah kasus makam fiktif
ini bakal jadi titik balik untuk
masyarakat semakin kritis dengan narasi
spiritual yang dikemas, rapi demi
keuntungan atau justru menunjukkan kalau
selama ini pengawasan terhadap situs
religi di Indonesia masih longgar
banget. Nah, apakah pembongaran
makam-makam palsu ini membuat publik
sedikit lega? karena aparat dan warga
akhirnya bergerak berbarengan atau malah
membuat orang-orang semakin skeptis
karena ternyata kepercayaan masyarakat
kita dimanfaatkan oleh segelintir orang
demi bisnis. Gimana menurut kalian? Ini
sekedar soal makam yang diklaim keramat
tapi kosong atau ada pemain yang lebih
besar di balik manipulasi sejarah dan
praktik komersialisasi tempat sakral
ini? Coba deh tuliskan pendapat kalian
di kolom komentar.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:14:19 UTC
Categories
Manage