Kind: captions Language: id Langkah redenominasi pertama di Indonesia itu diterapkan pada era Presiden Soekarno berdasarkan penetapan Presiden Nomor 27 Tahun 1965. Dan redenominasi ini pada saat itu dilakukan untuk mengatasi tantangan moneter yang sedang dihadapi oleh Indonesia pasca revolusi. Dengan adanya pecahan baru yang lebih sederhana, pemerintah berharap bisa mendorong stabilitas ekonomi dan mempermudah sistem pembayaran di saat itu. Nah, namun enggak lama setelah kebijakan ini diterapkan, oke geng. Kalian sempat kepikiran enggak kenapa mata uang negara kita tuh ya satuannya pakai ribuan dan kalau kita bandingin sama mata uang negara lain kayaknya duit kita tuh gede banget ya. Kayak misalkan nih Rp1.000 gitu. Itu di dolar enggak ada harganya cuma kayak 0 sekian seekian gitu. Karena kan seperti yang kita tahu ya ee 1 dolar itu adalah Rp16.000 something lah. Nah, jadi Rp1.000 R000 kita kalau di dolar itu kayak nol under gitu. Dan enggak perlu jauh-jauh kita bandingin sama Amerika dengan dolarnya. Kita cukup bandingin aja sama negara tetangga kita yaitu Malaysia atau mungkin Singapura. Di Malaysia itu enggak ada tuh duitnya angkanya sampai ribuan ratusan dengan nol yang begitu banyak gitu ya. Adanya RM1, RM2, RM5, RM50, RM100 gitu kan. Nah, begitu juga dengan Singapura mereka menggunakan DO Singapura bukan 1$.000. 000. Jadi di negara-negara lain pun sama kayak gitu, Geng. Nah, jadi negara kita itu berbeda banget, Geng. Angka atau nol di mata uang kita tuh banyak banget. Terus tiba-tiba, Geng, semenjak pergantian Menteri Keuangan yaitu Pak Purbaya ini perubahannya begitu drastis, begitu banyak sekali rencana-rencana yang membuat masyarakat kita tuh jadi happy gitu ya. yang mana salah satunya adalah adanya wacana untuk mengganti satuan rupiah di negara kita Indonesia ini. Dari yang awalnya nolnya banyak kayak Rp1.000 itu bakal menjadi Rp1, Rp10 ya pokoknya nolnya bakal dikurangi. Purbaya bakal ubah Rp1.000 jadi Rp1 target rampung 2027. Setelah bertahun-tahun hanya menjadi wacana, rencana redenominasi rupiah kini mulai menemukan arah pelaksanaan yang jelas. Nah, wacana ini setahu gua tuh memang udah ada sejak beberapa tahun yang lalu, Geng. Cuma belum terealisasi. Nah, sekarang sejak Pak Purbaya menjadi Menteri Keuangan, kayaknya rencananya itu bakal ya diwujudkan. Istilahnya itu adalah redenominasi yang mana ini bakal segera dijalankan. Dan jika ini diberlakukan kalian enggak akan lagi membeli mie ayam seharga Rp15.000, tapi kalian akan membeli sebesar Rp15. Nah, gimana tuh menurut kalian kira-kira? Apakah kalian setuju dengan wacana ini? Nah, memang ya ada banyak yang mendukung rencana tersebut dengan anggapan agar Indonesia bisa seperti negara-negara lain yang sudah melakukan redenominasi. Nah, mungkin dengan redenominasi ini bisa meningkatkan ekonomi negara kita. Namun, ya ada juga yang tidak setuju dengan menganggap untuk melakukan redenominasi ini perlu kondisi perekonomian yang stabil. Jadi, enggak sembarang main hapus-hapus dan mengganti mata uang aja. Dan Indonesia sendiri secara ekonomi belum siap untuk hal itu katanya. Nah, di video kali ini gua bakal merangkum nih buat kalian tentang pembahasan ini supaya kalian paham apa sih redenominasi rupiah ini yang sedang dirancang oleh Kementerian Keuangan dan apakah bakal berdampak pada perekonomian negara kita? Apakah kalian-kalian yang mungkin isi tabungannya sekarang Rp5.000 di bank bakal menjadi orang kaya raya setelah nilai uangnya diturunkan? Nah, hari ini gua bakal bahas supaya kalian paham, supaya kalian mengerti. Langsung aja nih kita bahas secara lengkap. Halo geng. Welcome back to Kamar Jerry genggeng. Oke, untuk pembahasan pertama langsung aja kita bahas langkah pemerintah kita untuk redenominasi rupiah ini. Kira-kira gimana? Secara istilah kalian sudah tahu ya apa itu redenominasi? Yaitu mengganti satuan mata uang. Nah, misalnya nih dari Rp1.000 jadi Rp1. Terus selain redenominasi ini ya ada juga istilah sanering. Nah, ini dua kebijakan yang sama-sama memangkas satuan mata uang tapi agak berbeda, Geng. Sanering itu memangkas satuan mata uang tapi ikut menurunkan nilai uangnya. Nah, sementara untuk redenominasi itu enggak kayak gitu. Jadi, satuan mata uangnya dipangkas cuma nilainya tetap sama. Rp1 bakal sama nilainya dengan Rp1.000. Begitu juga dengan seterusnya. Rp10 bakal sama nilainya dengan Rp10.000. Dan selain karena perbedaan nilai mata uang, perbedaan lainnya itu dari sunering dan juga redenominasi ini adalah e terletak pada kondisi ekonomi negara tersebut yang menjadi acuan mengapa diterapkannya sanering atau redenominasi. Nah, jadi enggak sembarangan tuh, Geng. Angkanya dirubah-rubah. Pada penerapan redenominasi umumnya itu dilakukan pada saat kondisi ekonomi lagi stabil, sehat, di mana pada saat sebuah negara itu lagi mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik. Nah, jadi bukan Ucuk-ucuk lagi susah tiba-tiba melaksanakan redenominasi ini. Itu gak bisa. Inflasi di negara tersebut juga harus terkendali serta nilai tukar mata uangnya masih terjaga. Sementara untuk memberlakukan tipe yang sanering itu biasanya dilakukan dalam kondisi ekonomi yang lagi enggak sehat, negaranya lagi carut-marut. Di mana negara tersebut sedang terjadi gejolak ekonomi seperti hiperinflasi, krisis moneter, hingga defisit anggaran. Nah, dari sini kalian udah bisa bedain ya, Geng ya, apa itu redenominasi dengan suning tadi. Kemudian perbedaannya terletak pada proses penerapan kebijakan tersebut. Untuk redenominasi itu perlu waktu yang panjang mulai dari perencanaan sampai tahap penerapannya. Itu itu kebanyakan bank sentral dan dia mengerjakan sesuai dengan kebutuhan pada waktunya. Sekarang tahun depan tahun depan enggak enggak tahun depan. Saya enggak tahu itu bukan Menteri Keuangan tapi perusahaan bank center kan Bang Sent sudah kasih pernyataan tadi kan ada tiga tahap yang diperlukan dalam penerapan redenominasi ini yaitu persiapan atau sosialisasi masa transisi dari mata uang lama ke mata uang yang baru lalu masa penarikan mata uang yang lama. Nah, jadi mata uang yang beredar di masyarakat itu ditarik kembali ditukar gitu geng. Nah, sedangkan kalau sing itu bisa dilakukan secara mendadak tanpa adanya sosialisasi atau transisi yang memadai dari pemerintah. Pasti kalian bingung ya apa sebenarnya tujuan dari redenominasi ini kalau ternyata nilainya tetap sama aja dengan uang yang sebelumnya kita gunakan. Nah, jadi tujuannya tuh geng ya untuk mensederhanakan pencatatan keuangan dan meningkatkan efisiensi transaksi supaya kan angkanya tuh enggak banyak banget nolnya kayak gitu. Di tingkat internasional, redenominasi ini juga dianggap mencerminkan kredibilitas ekonomi sebuah negara sehingga bisa memperkuat citra Indonesia di mata dunia. Nah, sementara Sanering itu berbeda banget ya kan kalau negaranya lagi anjlok tuh. Dan Sanering sendiri sebenarnya udah pernah diterapkan di negara kita Indonesia geng yaitu pada tahun 1959 yang mana ketika itu pemerintah menurunkan nilai pecahan mata uang rupiah sebesar Rp500 dengan gambar macan menjadi Rp50. Pemerintah juga ikut menurunkan nilai pecahan Rp.000 dengan gambar gajah menjadi sebesar Rp100. Tuh di masa itu udah pernah tuh. Dan dampaknya nih, Geng, mata uang yang udah lama ditabung ya bukan di bank nih, ditabung di dalam celengan jadi enggak punya nilai. Seluruhnya cuma tinggal 10% aja. Jadi di saat itu tuh orang tua-orang tua yang gak percaya sama bank gitu ya, yang mana mereka menyimpan uang mereka itu di bawah bantal gitu, mereka rugi besar dan di saat itu kerusuhan massal terjadi di mana-mana karena orang-orang pada rugi. Tiba-tiba nilai mata uang jadi turun anjlok kayak gitu. Hal ini disebabkan karena pada saat itu enggak ada sosialisasi sama sekali sehingga informasi yang beredar tidak bisa diterima secara menyeluruh ke semua wilayah di Indonesia. Orang-orang yang tadinya udah nabung dia orang kaya otomatis tiba-tiba mendadak jadi miskin. Sanering ini terpaksa dilakukan oleh pemerintah Indonesia karena adanya hyperinlasi yang pada saat itu terjadi lonjakan harga barang dan uang yang beredar di masyarakat begitu banyak. Pada tahun 1962 adalah sekitar Rp5 per porsi dan terus naik hingga menjadi sekitar Rp1.500 per porsi pada tahun 1965. Harga kebutuhan pokok yang meroket membuat banyak keluarga menjual barang berharga mereka hanya untuk bertahan hidup. Nah, itu kan sering ya, Geng. Nah, terus yang jadi pertanyaannya apakah red denominasi ini adalah pertama kali diterapkan di Indonesia? Apakah sebelumnya pernah ada atau enggak? Nah, jawabannya pernah. Redenominasi ini pernah diberlakukan di Indonesia tepatnya tanggal 13 Desember tahun 1965. Kebijakan ini dilakukan dengan menghapus tiga angka nol yang menunjukkan satuan untuk ribuan pada mata uang lama. Nah, sebagai contoh pecahan 1000 lama diganti menjadi Rp1 rupiah baru. Namun seperti yang gue jelaskan sebelumnya, pergantian satuan mata uang dalam penerapan redenominasi ini enggak mengubah daya beli atau nilai tukar mata uang rupiah di pasaran. Harganya tetap sama. Misalkan hari ini kalian beli sayur Rp1.000 ee satu ikatan gitu ya. Nah, terus tiba-tiba renominasi diberlakukan yaitu sayur akhirnya menjadi Rp1. Sama aja nilainya itu ya kayak 1.000 sebelumnya. Langkah redenominasi pertama di Indonesia itu diterapkan pada era Presiden Soekarno berdasarkan penetapan Presiden nomor 27 tahun 1965. Dan redenominasi ini pada saat itu dilakukan untuk mengatasi tantangan moneter yang sedang dihadapi oleh Indonesia pasca revolusi. Dengan adanya pecahan baru yang lebih sederhana, pemerintah berharap bisa mendorong stabilitas ekonomi dan mempermudah sistem pembayaran di saat itu. Nah, namun enggak lama setelah kebijakan ini diterapkan, nominal rupiah tiba-tiba kembali ke format awal akibat ketidakstabilan ekonomi yang terus berlanjut. Jadi udah capek-capek diturunin tiba-tiba naik naik naik naik gara-gara inflasi jadi balik ke settingan awal. Nah, sebelum adanya rencana redenominasi baru-baru ini muncul sebenarnya sempat ada isu seperti kayak gini juga, Geng. Contohnya di tahun 2010 yang mana pada saat itu Bank Indonesia atau BI pernah menyatakan bakal menyelesaikan studi redenominasi atau menyederhanakan nilai tukar di akhir tahun tersebut. dan Bank BI bakal melanjutkan dengan sosialisasi mulai dari awal tahun 2011. Dan hal ini bukan sekedar spekulasi melainkan ya keluar dari pernyataan Pak Darmin Nasution yang pada saat itu menjabat sebagai pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia. Nah, beliau menegaskan studi terkait redenominasi ini sudah selesai dan tinggal pembahasan mengenai bagaimana sistem informasi perbankan dan sosialisasinya. Dan di saat itu kalau aja DPR menyetujui rencana redominasi ini dan selanjutnya bakal disepakati masuk dalam RUU mata uang, maka Bank BI bakal langsung melanjutkan dengan sosialisasi ke masyarakat. Nah, rencananya nih, Geng, Bank BI bakal memanfaatkan kantor-kantor mereka di daerah untuk melakukan sosialisasi secara menyeluruh. Nah, setelah sosialisasi, Bank BI bakal melanjutkan dengan transisi dengan mencetak uang baru dengan nominal yang lebih kecil. Dan proses pencetakan uangnya sendiri tidak berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh Bank BI tiap tahunnya. Nah, jadi nanti kita tuh bakal ada fase di mana ya ketika kita bayar Rp1.000 bisa aja kembaliannya itu Rp0,5 karena kan 1.000 di saat itu sudah setara dengan Rp1 baru. Nah, nanti uang lama itu bakal dikumpulkan, bakal ditukar oleh para pedagang. Pokoknya orang-orang yang menyimpan uang lama ke Bank BI untuk ditukar. Terus, Geng, Bank BI sendiri itu bakal menargetkan kalau redenominasi rupiah itu awalnya bakal tuntas di tahun 2022 kemarin pas saat pandemi. Mengacu pada pengalaman sejumlah negara, redenominasi ini diprediksi membutuhkan waktu kurang lebih 10 tahun untuk bisa diterapkan, Geng. Jadi, enggak mudah. Nah, cuma, Geng, wacana itu enggak kunjung terwujud hingga masa jabatan Pak Darmi Nasution sebagai gubernur ee Bank BI di saat itu habis pada tahun 2013. Nah, singkat cerita pada tahun 2017, Pak Agus Marto Wardojo yang saat itu sudah menggantikan jabatan menjadi Gubernur BI tiba-tiba memberikan kabar baik di bawah kepemimpinan beliau. Bank BI menargetkan redenominasi ini ee bisa dilaksanakan pada tahun tersebut. Nah, cuma untuk bisa menyelesaikan hal ini perlu banyak proses yang harus dilewati sampai akhir jabatannya dia, lagi-lagi wacana redenominasi ini belum juga terealisasikan dan RUU belum jadi dan tidak masuk program legislasi nasional atau proleknas. Nah, rencana redenominasi ini kembali muncul dalam Peraturan Menteri Keuangan atau PMK nomor 77 tahun 2020 tentang rencana strategis Kementerian Keuangan tahun 2020 sampai 2024. Nah, di PMK tersebut penyederhanaan e nominal angka rupiah itu masuk ke dalam salah satu RUU Proolleknas jangka menengah tahun 2020-2024, Geng. Di tahun 2021 ya, Geng, sempat beredar tuh sebuah video yang menampilkan lembaran uang dengan angka 1.0. Nah, ketika itu banyak orang Indonesia yang menganggap uang tersebutlah yang menjadi hasil dari redenominasi ini. Tapi Perum Peruri itu membantah kalau ee ini adalah isu yang benar. Pihak Peruri di saat itu ya ee menyebutkan kalau lembaran itu cuma host note atau uang contoh yang memang diterbitkan sebagai alat promosi doang seperti promosi untuk kemampuan perusahaan dalam mencetak fitur keamanan uang kertas. Nah, kayak yang kita tahu ya, yang mencetak uang di Indonesia itu Peruri. Dan di saat itu mereka bikinlah sampel contohnya. Nah, di saat yang sama Head of Corporate Secretary Peruri yaitu Pak Adi Sunardi mengungkapkan kalau hal ini memang lazim digunakan oleh perusahaan percetakan uang untuk menunjukkan kompetensi dan kemampuan maksimal perusahaan. Karena cetak uang itu kan enggak asal diprint, harus ada tingkat keamanan yang tinggi. Pas dicetak, dicek tuh uangnya bisa ditiru atau enggak. Nah, itu adalah salah satu sampelnya tadi. Dan lagi-lagi, Geng, isu redenominasi ini kembali mencuat pada tahun 2023. Namun, di saat itu dibantah oleh pihak Bank BI dan Pak Peri Wirjoyo yang sudah menjabat sebagai Gubernur Bank BI di saat itu mengatakan kalau konsep redenominasi ini memang sudah lama disiapkan. Sebab hal tersebut dianggap bisa meningkatkan efisiensi transaksi dan mencerminkan kredibilitas ekonomi Indonesia di tingkat global. Meskipun begitu, kebijakan ini masih memerlukan kajian mendalam dan persiapan matang sebelum bisa direalisasikan. Nah, tapi sekarang di tahun 2025 terutama ketika Pak Purbaya Yudi Sadewa menjadi Menteri Keuangan, rencana redenominasi ini kembali terdengar. Hal tersebut disebabkan karena beliau menetapkan rencana strategis Kementerian Keuangan tahun 2025 sampai 2029 dalam PMK nomor 70 tahun 2025. Nah, yang mana dalam PMK tersebut Pak Purbaya menekankan langkah penyiapan kerangka regulasi untuk menyederhanakan mata uang rupiah dengan menyusun RUU tentang perubahan harga rupiah dan ini bakal berlaku pada tahun depan, Geng. Nah, ditargetkan ini bakal selesai tahun 2027. Urgjensinya adalah efisiensi perekonomian yang bisa dicapai melalui peningkatan daya saing nasional, menjaga kesinambungan perkembangan nasional, menjaga nilai rupiah yang stabil sebagai wujud terpeliharanya daya beli masyarakat dan meningkatkan kredibilitas rupiah. Masih dalam PMK yang sama nih, Pak Purbaya juga menetapkan penanggung jawab. Penyusun RUU redenominasi adalah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan dengan target penuntasan kerangka regulasinya yaitu pada tahun 2026. Nah, walaupun sudah masuk ke dalam PMK, Pak Purbaya menekankan kalau kebijakan tersebut sepenuhnya ada di tangan BI selaku otoritas moneter, Geng. Dan selain yang disebutkan oleh Pak Purbaya, sebenarnya tuh ya ada lima alasan nih yang menyebabkan redenominasi ini penting untuk dilakukan. Yang pertama, untuk efisiensi transaksi dalam mata uang rupiah menjadi penting mengingat nilai transaksi makin terus berkembang mengikuti perkembangan laju pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto atau PDB. Nah, hasil riset Bank Dunia itu menunjukkan rupiah menempati urutan kedua mata uang yang mencetak pecahan tertinggi yaitu sebesar Rp100.000. Yang mana urutan pertama adalah dong, mata uang Vietnam yang memiliki pecahan terbesar senilai 500.000 dong. Gila, 500.000 dalam satu lembar. Banyaknya angka nol di rupiah bahkan membuat seorang warga negara Indonesia yang bernama Zico Leonard Jagardo Simanjuntak sempat menggugat undang-undang mata uang ke Mahkamah Konstitusi. Nah, yang mana menurut dia nih ya ada risiko salah hitung saat nominal mata uang rupiah terlalu banyak nolnya. Nah, cuma tuntutan Zico ini sudah terhenti karena hakim MK menolak seluruh permohonan uji materialnya dia. Kerugian lain yang dikatakan oleh Zico adalah karena kebiasaan dalam menghitung denominasi yang besar berdampak pada meningkatnya rabun jauh yang disebabkan karena kelelahan visual dan ketegangan otot mata. Ya, ini sebenarnya cukup masuk akal lah tuntutan Mas Zico ini ya. Tapi kita tahu ya negara kita ini kan negara heleh gitu ya. Kalau kita ngajuin hal-hal yang kayak gini nih yang sebenarnya bermanfaat ya, kita ngomong kayak, "Pak, ini uangnya nolnya terlalu banyak, bisa bikin mata kelelahan, bisa bikin rabun." Jawabannya apa? Beda sama negara luar. Kalau negara luar tuh ditangani kayak, "Oh, iya ya. Oke, kita pelajari dulu." Nah, itu negara luar. Kalau negara kita, halah halah. Terima aja. Udah bisa beli jajan makan nasi padang udah terima. Nah, itulah kalau di negara kita tuh segala eh keluhan ya yang berdampak pada kesehatan kayaknya jawabannya halh dulu ya kan. Terus Geng kemudian ya kebanyakan nol di dalam digit pecahan rupiah juga sebenarnya bakal terus mengikis kredibilitas rupiah itu sendiri dan yang terakhir ya tidak sesuai dengan pendidikan anak. Maksudnya gimana? Nah, kalian pasti bingung nih. Jadi menurut Pak Darmi Nasution yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur Bank BI, nilai mata uang yang kebanyakan nol tidak sesuai dengan pendidikan matematika saat usia anak. Beliau bilang dalam pelajaran sekolah anak-anak itu diajarkan bahwa 4 + 7 hasilnya 11. Sementara ketika transaksi di luar sekolah satu barang dihargai ribuan, bukan angka sederhana yang diajarkan saat sekolah. Jadi udah di atas kemampuan mereka gitu. Sementara itu, Pak Peri Wirjoyo selaku Gubernur BI yang baru itu mengadakan redenominasi yang menjadi salah satu target yang dibuat oleh Pak Purbaya belum menjadi bagian dari fokus kebijakan BI saat ini. Nah, Pak Peri mengatakan fokus BI justru saat ini masih tertuju pada upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Nah, beliau juga menegaskan ya proses redenominasi ini memerlukan persiapan yang panjang dan selain itu pelaksanaan kebijakannya juga membutuhkan waktu yang tepat. Tapi sayangnya beliau belum mengungkap indikator penentu timing yang tepat ini kapan, apa yang menjadi pertimbangan BI itu apa gitu ya. Nah, itu belum belum diungkapkan oleh beliau dan pihak istana negara pun juga mengeluarkan tanggapan terkait rencana redenominasi yang digagas oleh Pak Purbaya ini. Geng, melalui Pak Praset Yoio Hadi selaku Menteri Sekretaris Negara, beliau mengungkap sejauh ini belum ada rencana eksekusi terkait kebijakan redenominasi ini. Bahkan beliau bilang kebijakan itu belum matang dan perlu dikaji lebih dalam. Dan beliau juga bilang redenominasi masih sangat jauh untuk bisa dilakukan. Jadi sejauh ini, Geng, ini masih rencana dari Pak Purbaya aja. Nah, kira-kira kalian gimana mendengar hal ini? Kalian happy atau terkesan? Ya udah, biasa aja toh nilainya juga sama. Gimana tuh menurut kalian? Nah, sementara itu dari pihak Bank BI maupun pemerintah menyebutkan jika redenominasi ini masih jauh untuk bisa diterapkan. Meskipun begitu, ketika isu ini mencuat, animo masyarakat terlanjur besar. Karena sebagian besar dari masyarakat kita sudah hidup di mana rupiah yang beredar itu berbentuk ribuan seperti kayak sekarang. mengingat redominasi ini cuma terjadi di tahun 1965 yang pernah gitu. Untuk sekarang kira-kira menurut kalian bisa apa enggak? Terus geng, bagaimana dengan dampak yang bakal ditimbulkan? Apakah redenominasi ini bisa berdampak bagi perekonomian negara kita atau enggak? Nah, apalagi kan kondisi kita semua sekarang sedang enggak baik-baik aja, kelas menengah semakin mengecil, orang-orang sulit mendapatkan kerja. Dan apakah langkah redenominasi ini adalah hal yang tepat untuk dilakukan? Nah, biar kalian tahu jawabannya, selanjutnya gua bakal membahas dampak dari redenominasi ini, Geng. Kita bahas dalam Indonesia Treasury Review tahun 2017 tentang desain strategis dan assesment kesiapan redenominasi di Indonesia itu diungkapkan sejumlah manfaat dari redenominasi ini terhadap ya negara ini. Jadi itu di antaranya yang pertama itu ada menyederhanakan nominal mata uang agar lebih praktis dalam transaksi dan pembukuan akuntansi. Digit yang banyak pada mata uang itu merupakan masalah pada bisnis berskala besar, Geng. Termasuk pada software akuntansi dan sistem IT perbankan yang mengalami kendala teknis untuk angka di atas 10 triliun. Jadi kalau misalkan aplikasi-aplikasi para pebisnis gitu ya, ketika mereka ngitung pendapatan mereka, omset mereka itu kalau pakai mata uang Indonesia bisa banyak banget nolnya. Makanya kebanyakan tuh kalau usaha-usaha atau bisnis besar di muka bumi ini biasanya diconvert jadi dolar gitu kan. Nah, terus yang kedua geng dengan berkurangnya jumlah digit mata uang, potensi human error di dalam penulisan atau penginputan data pada tiap transaksi bisa lebih diminimkan, gitu. Nah, terus yang ketiga dari sisi pengelola kebijakan moneter, penggunaan digit yang lebih sedikit berarti jangkauan harga barang konsumsi semakin kecil sehingga lebih mempermudah pengelolaan moneter secara inflasi secara nasional. Terus yang terakhir, redenominasi ini bakal mengurangi biaya cetak uang karena variasi nominal uang kertas bakal lebih sedikit gitu dan uang koin bisa bertahan lebih lama. Nah, lalu geng sejumlah ahli juga sudah lama mengungkap manfaat dari kebijakan redenominasi rupiah. Nah, salah satunya adalah Pak Raden Pardede selaku ekonom senior Indonesia. Beliau tuh sudah menjelaskan pemangkasan tiga digit pada nominal rupiah itu bisa sangat berpengaruh pada psikologis pelaku pasar keuangan terhadap ee nilai rupiah tersebut. Misalnya nih ya, hitungan konversi rupiah ke dolar itu enggak lagi Rp15.000, R.000 tapi Rp15 yang membuat kesan jika rupiah itu enggak terlalu jauh beda dengan dolar ya. Cuma ya Pak Raden ini mengingatkan sebagaimana tujuannya bukan untuk mengubah nilai tukar rupiah. Redenominasi itu enggak berarti seketika memperkuat kurs rupiah terhadap dolar. Enggak sama sekali. Nilainya tetap sama. Nilai tukar bisa menguat tergantung faktor fundamentalnya seperti kinerja, neraca pembayaran, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan aliran keluar masuk modal asing, serta pertumbuhan hutang. Nah, hal inilah yang membuat beberapa negara maju lainnya ada yang belum menerapkan redominasi terhadap mata uang negara mereka. Seperti salah satu contohnya Korea Selatan dan Jepang. Mereka sama sekali belum, Geng. Nah, pemerintah di dua negara itu tadi ya menganggap penguatan nilai tukar lebih penting dibandingkan menyederhanakan nilai atau angka di mata uang. Nah, negara mereka tuh beda. Mereka tuh lebih memilih ya udah kalau mau dikurangin angkanya sekalian mata uangnya dikuatkan supaya ya terus menurun gitu angka yang ditulis di mata uang mereka. Terus geng, berbeda nih dengan Nailul Huda selaku Econom of Economic and Law Studies atau disingkat dengan Celios yang mana beliau ini menilai rencana pemerintah melakukan penyesuaian nilai mata uang atau redominasi rupiah tadi ee bagi beliau tuh belum tepat untuk diterapkan karena katanya perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi juga, terus keuangan negara dan kondisi masyarakat kita. Semua itu dikarenakan ya ini semua butuh biaya yang besar untuk melakukan rededominasi yang mana harus ditanggung oleh negara serta beberapa pihak swasta. Nah, Pak Huda ini menilai jika redenominasi rupiah diterapkan tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi sekarang, swasta bakal menanggung biaya untuk penyesuaian sistem kerja. ada biaya yang enggak sedikit bahkan bisa mencapai ratusan miliar yang harus ditanggung oleh ekonomi. Nah, biaya yang ditanggung negara dan swasta adalah pada bagian percetakan uang baru hingga peralihan sistem. Dan selain itu, Pak Huda ini menilai ada risiko redenominasi gagal dan bisa menyebabkan inflasi besar-besaran. Dan kegagalan ini dikarenakan pemahaman terkait dengan redominasi yang timpang di tengah-tengah masyarakat, Geng. Terus, Geng, warga di Jakarta mungkin lebih mudah memahami tapi lain hal dengan masyarakat yang ada di daerah lain nih. Ya, mungkin di Jakarta tuh lebih kayak oh gini ya, pemangkasan angka di mata uang. Tapi bayangkan nih saudara-saudara kita yang masih ada di kampung-kampung, di pedalaman sana ketika ini semua berubah. Pemahaman yang berbeda inilah yang bisa menimbulkan kenaikan harga sehingga inflasi bakal meningkat tajam dan daya beli semakin tertekan. ya apa boleh buat ya negara kita negara kepulauan dengan suku-suku yang berbeda-beda, kesejahteraan juga belum rata gitu kan ya bisa dikatakan Indonesia kan bukan cuma Pulau Jawa aja. Kalau misalkan masyarakat Pulau Jawa mungkin lebih cepat gitu informasinya dapat lebih cepat paham apalagi yang di Jakarta. Nah, gimana kabarnya dengan masyarakat yang di daerah? Sehingga menurut beliau tadi, langkah rededominasi yang dipercepat oleh Pak Purbaya belum memiliki urgensi tinggi, terutama di tengah tekanan geopolitik global dan keterbatasan fiskal. Nah, terkait salah satu tujuan dan manfaat dari redominasi adalah untuk meningkatkan kepercayaan investor. Nah, menurut Budiah Ayu Febriani, peneliti ekonomi dari Selios ya, disebutkan ini bukanlah hal yang utama. Dia menyebut faktor-faktor yang meningkatkan kepercayaan investor di antaranya adalah stabilitas makroekonomi hingga transparansi komunikasi publik. Dan menurut beliau indeks kemudahan berbisnis atau is doing bisnis di Indonesia itu masih sangat rendah. Nah, hal itulah yang menyebabkan para investor itu mulai pergi ke negara tetangga ninggalin Indonesia seperti ya ke Vietnam atau ke Filipina. Nah, kurang lebih gitu ya, Geng kira-kira dampaknya. Ada yang positif dan ada juga yang merasa ini negatif. Sekarang gua bakal beri contoh nih beberapa negara-negara yang berhasil dan juga gagal di dalam menjalankan redominasi mata uang mereka. Biar kalian punya gambaran, biar kalian punya perbandingan. Apa sih yang bakal terjadi ke negara kita kalau mata uang kita yang tadinya misalkan 1.000 dipangkas nolnya jadi Rp1. Dari Rp1.000 jadi Rp1. Nah, kira-kira apa yang akan terjadi? Nah, kita coba ambil contoh-contoh dari negara-negara ini kita bahas. Jadi, Geng, kita bakal bahas negara yang berhasil dulu nih. Yang pertama itu adalah Hungaria. Redominasi yang paling signifikan dalam sejarah dunia terjadi di Hungaria pada tahun 1946. Yang mana pada saat itu mata uangnya yaitu Pengo itu dirubah ke Forin dengan nilai tukar menjadi satu. Jadi uang kertas denominasi tertinggi ya ketika itu memiliki nilai 20 okilunion pengos dan nilai tukarnya cuma 0,0435 Do. Kecil banget. Nah, Hungaria akhirnya meredonominasi mata uang mereka lantaran mengalami hyperinlasi yang paling parah yang tercatat di dalam sejarah. Nah, ternyata ini bukan redominasi pertama di negara tersebut. Setelah perang dunia pertama, Kronia Hungaria yang merupakan mata uang nasional di saat itu, itu mengalami inflasi yang sangat tinggi. Dengan pinjaman dari PBB, pemerintah Hungaria menggantinya dengan Pengo. Jadi, Pengo ini mata uang setelah ee dulu mereka punya mata uang yang bernama Kronia. Nah, setelah itu mereka ganti dengan Pengo yang mana di saat itu ya perbandingan antara Pengo dengan Kronia itu adalah 12.500 00 banding 1. Jadi mata uang baru ini dipatok dengan standar emas dan untuk beberapa waktu menjadi yang paling stabil di negara tersebut. Di saat hyperinflasi terus berlanjut, pemerintah Hungaria memutuskan untuk mengganti mata uang yang terdepresiasi dengan Forin pada Agustus 1946. Nah, saat ini ya mereka udah pakai uang forign. Jadi mereka udah tiga kali tuh ganti tuh. Yang pertama tadi Kronia, terus ganti Pengo, terus sekarang mereka pakai yang namanya Forin. Forin Hungaria. Dan saat ini Forin Hungaria tetap menjadi mata uang nasional negara tersebut dan dianggap sebagai mata uang yang relatif stabil. Tuh, Hungaria berhasil. Terus selanjutnya yang berhasil lagi ada Turki. Nah, mereka ini berhasil meredonominasi pada 1 Januari 2005. Langkah ini diambil karena nilai tukar lira mata uang mereka terhadap dolar Amerika itu benar-benar terjun bebas. Nah, mata uang lira atau TL ya diubah menjadi lira baru atau disingkat dengan YTL. Konversi mata uang lama ke baru yang dilakukan itu dengan menghilangkan sebanyak 6 angka nol. Misalnya nih 1 YTL. Nah, 1 YTL itu yang baru ya untuk 1 juta TL. Jadi tadinya ada 1 juta TL dipotong semuanya nolnya 6 biji itu dihapus jadi 1 TL atau YTL. Nah, pemerintah Turki sangat berhati-hati menggunakan langkah redenominasi ini yang mana Turki membutuhkan waktu 7 tahun, Geng, sebelum memutuskan hal tersebut. karena mereka memperhatikan stabilitas perekonomian negara mereka. Dalam kurun waktu 7 tahun itu, Geng, Turki mulai menarik uang lira lama mereka dan menggantinya dengan mata uang yang baru. Dan selama redominasi, awalnya banyak warga yang masih kebingungan dalam transaksi dengan dua mata uang yang berbeda. Stabilitas ekonomi dan tingginya pertumbuhan ekonomi Turki di saat itu membuat redominasi ini berhasil diterapkan di negara tersebut. Meskipun begitu ya, beberapa tahun setelah sukses melakukan redominasi ini ya, negara ini juga akhirnya dilanda krisis ekonomi parah. Bahkan itu semua masih berlanjut sampai saat sekarang ini. Nah, kalau Turki bisa dikatakan mereka berhasil tapi mereka tetap dilanda krisis ekonomi. Ya, ini udah beda hal lah ya. Terus negara yang ketiga nih, Geng, ada Ukraina. Nah, negara ini melakukan redenominasi pada tahun 1996. Alasan Ukraina melakukan hal itu karena hyperinflasi juga pada tahun 1990-an dan dampak pecahnya eh negara-negara Uni Soviet. Nah, pemerintah mereka melakukan pergantian mata uang Ukraina yaitu Kovanets menjadi mata uang baru yang bernama Hifnias dengan menyederhanakan lima angka terakhir. Misalkan nih 100.000 ya 100.000 pada mata uang kabo Vanage mereka diganti menjadi satu rivias. Langkah redominasi ini ya membuat ekonomi Ukraina menjadi lebih stabil. Nah, mereka ini termasuk yang berhasil, Geng. Nah, terus ada negara selanjutnya nih, negara keempat yang bernama Rumania. Mereka ini melakukan redenominasi pada tahun 2005. Hal tersebut dilakukan demi mengatasi inflasi yang tinggi juga hyperinflasi pada tahun 1990-an. Mata uang Rumania yaitu Rumania Lei atau disingkat dengan Roll diganti dengan Leu atau disingkat dengan Ron dengan memangkas empat angka di belakangnya. Nah, contohnya nih 10.000 lewu dan hal ini ya atau redominasi ini membuat nilai mata uang Rumania pada tahun 2002 akhirnya menjadi stabil. Nah, itu yang berhasil. Gimana tuh menurut kalian dari negara-negara yang gua sebutin kira-kira Indonesia masuk ke jajaran yang berhasil enggak? Atau justru Indonesia malah bakal gagal? Nah, kalau bakal gagal ini artinya akan seperti negara-negara yang akan gua sebutkan satu persatu ini. Jadi, ini adalah negara-negara yang gagal menjalankan rededominasi. Ya, yang pertama itu ada Brazil yang pertama kali melakukannya pada tahun 1986. Namun, Brazil gagal. Mereka menyerah. Nah, tapi mereka mencoba kembali pada tahun 1994. Brazil kemudian mengganti mata uangnya dari Cruiro menjadi Cruzado. Akan tetapi, kurs mata uangnya justru terdepresiasi secara tajam terhadap dolar Amerika hingga benar-benar terjun bebas. Nah, kegagalan tersebut disebabkan karena pemerintah Brazil itu enggak mampu mengelola inflasi pada waktu itu yang mencapai 500% per tahun. Dan Presiden Nicolas Maduro ya di tengah hyperinflasi itu kembali memangkas lima angka nol dalam mata uang Brazil. Nah, sebelum Maduro ada Chavez yang juga menghapus tiga angka nol dari Bolivar pada tahun 2008. Tapi hal itu gagal juga untuk menjaga inflasi. Nah, semenjak itu Brazil benar-benar dianggap gagal pemerintahnya. Terus geng, ada negara selanjutnya yaitu Rusia. Wah, tadi Ukraina berhasil tapi Rusia justru gagal nih. Di awal rededominasi ini ya, nilai tukar kurs mata uang rubel Rusia sempat terjun bebas. negara tersebut kurang melakukan sosialisasi dengan masif penggunaan mata uang baru mereka dan penarikan bertahap mata uang lama mereka. Nah, kondisi keuangan negara yang sulit juga berkontribusi pada kegagalan redominasi tersebut. Tapi yang anehnya, politisi dan media Rusia justru menyatakan jika rededominasi yang mereka lakukan itu berhasil. Padahal aslinya gagal. Terus ada negara ketiga yang gagal nih, yaitu Korea Utara. Terjadi pada tanggal 30 November 2009. Pemerintah Korea Utara meredenominasi ulang mata uang negara mereka yaitu won. Korea Utara membatasi jumlah uang kertas lama dan menukarkannya dengan uang kertas baru sehingga 100 won sekarang bisa bernilai 1 won. Tapi, Geng, Korea Utara gagal mengeksekusi redominasi tersebut. Kegagalan ini disebabkan karena stok mata uang baru mereka terbatas, enggak banyak cetakannya. Dan saat warga hendak menggantikan uang lama won mereka ke uang baru, stok uang barunya malah belum dicetak. Banyak kalangan menilai redenominasi mata uang Korea Utara ini dilakukan di waktu yang kurang tepat karena di saat itu sedang dilanda krisis mereka jadinya ya carut-marut lah. Terus yang terakhir nih, nah ini negara yang paling viral di saat itu ya, yaitu Zimbabwe. Negara tersebut pernah melakukan tiga kali redenominasi yang disebabkan hyperinlasi yang parah. Kalau kalian ingat ya, pada saat itu Zimbabwe bahkan sempat apa ya di negara mereka telur harganya tuh jutaan bahkan ratusan juta tuh. karena saking hyper inflasinya. Nah, ini nih pada saat-saat itu. Nah, di awalnya kurs dolar Zimbabwe kedua adalah 250 ZWN hingga 1 dolar Amerika. Nah, tapi ketika inflasi melebihi 1000% itu mencapai 30.000 ZWN hingga 1 Amerika pada tahun 2007. Di tahun 2008, mata uang itu ya didominasi kembali dengan nilai 10 miliar ZWN DO kedua ke angka 1 ZWR baru atau dengan kata lain dolar ketiga. Nah, pada saat itu nilai ZWN ini turun menjadi sekitar 688 miliar per1 Amerika. Nah, kemudian di bulan November 2008 hyperinflasi mencapai tingkat bulanan sebesar 79,6 miliar%. Jadi pada tahun 2009 Red Dominasi ketiga memotong 12 dari nilai nominal ZWR. Nah, ingat ya di awal tadi ada ZWN dan ini adalah ZWR. Nah, nilai tukarnya adalah 1 triliun ZWR untuk 1 dolar keempat baru. Ada lagi nih muncul yang baru dari ZWN jadi ZWR sekarang ZWL. Nah, ini adalah dolar keempat yang baru. Nah, terakhir pada bulan April 2009, pemerintah Zimbabwe baru memutuskan untuk mendemonstrasikan dolar Zimbabwe dan melegalkan beberapa mata uang asing seperti rat Afrika Selatan, dolar Amerika, euro, yuan Cina, dan lain-lain. Nah, jadi itu dia geng ya. Bagaimana kondisi negara kita kira-kira kalau melakukan redenominasi atau pemangkasan jumlah angka uang di uang Indonesia. Kira-kira kita bakal berakhir berhasil seperti negara-negara yang di awal atau justru berakhir buruk seperti negara-negara yang gua sebutkan barusan? Coba deh opini kalian gimana, Geng?