GASOLINE MIXED WITH ETHANOL? GOVERNMENT PROGRAM TO SAVE, BUT PUBLIC ARE WORRIED!
5pjNmh-r84s • 2025-10-22
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Geng, hari ini kita bakal membahas soal
yang lagi dikhawatirkan dan lagi menjadi
perbincangan hangat di tengah-tengah
masyarakat kita, yaitu eh perbincangan
hangat soal sebuah benda yang setiap
hari harus kita konsumsi dan kita pakai.
bensin. Ini cukup menarik untuk kita
bahas ya, pembahasan soal BBM alias
bahan bakar minyak yang sedang
benar-benar panas lah yang mana
dikatakan rencananya pemerintah ingin
mencampurkan BBM dengan etanol.
Pemerintah berencana akan mewajibkan
campuran etanol 10% dalam bensin.
Pabrik etanol untuk mendukung program
tersebut tengah disiapkan. Isu ini mulai
mencuat gara-gara kelangkaan BBM yang
terjadi sejak beberapa bulan lalu di
banyak SPBU swasta. Nah, mereka stoknya
pada habis bahkan sampai tutup sementara
karena tidak mendapatkan pasokan. Di
sisi lain, Pertamina masih bisa jualan,
tapi jenis BBM-nya makin terbatas.
Banyak pengendara yang akhirnya bingung,
Geng, mau isi BBM di mana dan pakai
jenis BBM apa yang masih tersedia. Nah,
di tengah kondisi seperti ini muncullah
secara tiba-tiba wacana dari Kementerian
ESDM untuk mencampurkan BBM dengan
etanol sebanyak 10%. Katanya sih ini
solusi biar impor BBM tidak terlalu
tinggi dan agar Indonesia bisa lebih
mandiri soal energi. Nah, namun geng
seperti biasa setiap kebijakan pasti ada
pro dan kontra. Kalau kita perhatikan,
etanol ini sebenarnya udah lama dipakai
di beberapa negara lain seperti Amerika,
Brazil sampai dengan Thailand. mereka
malah udah terbiasa memakai BBM dengan
campuran etanol sampai dengan 85% Geng.
Nah, tapi kalau di Indonesia baru
beberapa jenis aja seperti Pertamax
Green 95 yang punya kandungan etanol 5%.
Nah, sekarang pemerintah sedang
berencana ingin menaikkan etanol menjadi
10% untuk semua jenis BBM bensin di
dalam negeri. Gokil banget ya, kebijakan
yang benar-benar bikin heboh. Nah, tapi
enggak semua orang bisa langsung
menerima kebijakan ini. Soalnya di
lapangan masih banyak banget kendaraan
lama yang kabarnya belum tentu cocok
menggunakan BBM campur etanol. Dan
bahkan ada yang mengatakan bisa membuat
mesin mobil cepat rusak. Ada juga yang
khawatir konsumsi bahan bakar jadi lebih
boros. Dan di sisi lain, pemerintah
tetap yakin langkah ini bisa ee membantu
mengurangi emisi karbon dan membuat
udara jauh lebih bersih, katanya karena
bensinnya udah dicampur etanol. Nah,
tapi masalahnya geng, rencana ini muncul
berbarengan banget setelah kelangkaan
BBM yang sempat bikin banyak orang
panik. langkahnya itu di pembensin
swasta dan banyak pengelola SPBU swasta
yang nolak untuk membeli base full dari
Pertamina karena katanya di dalamnya ada
kandungan etanol yang tinggi banget yang
enggak sesuai dengan ya prinsip para
SPBU swasta ini. Dan mereka khawatir
kalau campuran itu ya bakal menyusahkan
mereka dan tidak cocok untuk sistem
distribusi mereka yang sekarang. Dan
akhirnya kondisinya makin ribet saat ini
karena stok BBM di SPBU swasta makin
menipis. di Shell enggak ada, di Vivo
juga gak ada. Masih banyak lagiah ya
SPBU swasta yang gak kebagian BBM. Nah,
di video kali ini kita bakal membahas
semuanya nih, Geng. Mulai dari awal
kenapa BBM bisa langka dan bagaimana
rencana pemerintah kita mencampurkan
etanol ke bahan bakar. Apa alasan di
balik kebijakan itu dan apa dampaknya
untuk kendaraan kita di Indonesia sampai
bagaimana reaksi masyarakat setelah isu
ini ramai dibahas di media sosial. Nah,
jadi kalau kalian penasaran langsung aja
kita bahas secara lengkap. Halo, geng.
Welcome back to Kamar Jerry
[Musik]
Genggeng. Untuk pembahasan yang pertama
kita bakal bahas dulu nih ya soal
peristiwa kelangkaan BBM ini yang mana
ini mulai ramai banget dibicarakan di
berbagai daerah sejak pertengahan
Agustus 2025.
Jadi, Geng, peristiwa kelangkaan BBM ini
dimulai sejak pertengahan Agustus 2025.
Dan awalnya orang-orang cuma mengira
kalau stok BBM di SPBU itu sedang habis
karena banyak yang liburan atau karena
naiknya jumlah kendaraan di jalan. Tapi
ternyata setelah seminggu berlalu antre
SPBU malah makin parah. di Jakarta,
Bekasi, Bandung sampai Medan bahkan ya
banyak banget pengendara motor dan mobil
yang rela antri sampai berjam-jam untuk
bisa mendapatkan beberapa liter bensin.
Ada juga yang membuat video dan
mengunggahnya ke media sosial dan
terlihat jelas deretan mobil itu
mengular panjang di depan SPBU. Dan
tidak sedikit juga yang mengeluh karena
sudah menunggu lama. Tapi ketika giliran
mereka, pom bensinnya malah tutup karena
kehabisan stok. Udah capek-capek ngantri
malah enggak kedapatan. Kelangkaan ini
ternyata gak muncul tiba-tiba, Geng.
Dari hasil laporan Kementerian ISDM,
kelangkaan BBM ini sudah mulai sejak e
awal Agustus ketika stok di
perusahaan-perusahaan swasta mulai
menipis. Alasannya karena ada perubahan
pola konsumsi masyarakat yang mana
biasanya orang banyak isi Pertalight
tapi sekarang malah banyak yang
berpindah ke BBN non subsidi dengan RON
lebih tinggi seperti Pertamax, Xell
Super, dan juga Vivo Revo. Alasannya
adalah mereka berasumsi ini bisa lebih
irit dan mesin kendaraan mereka tidak
cepat rusak. Tapi karena permintaan
meledak naik, stok BBM non subsidi di
SPBU swasta tidak kuat menahan lonjakan
konsumsi itu. Akhirnya terjadilah
kelangkaan. Nah, data dari Kementerian
ESDM juga memberikan gambaran ee yang
jelas soal perubahan ini. Penjualan BBM
non subsidi naik dari 19.061 kL di tahun
2024 menjadi 22.723
k di tahun 2025. Dan sebaliknya
penjualan Pertalight turun dari 81.000
106 k menjadi 76.970
k. Dan dari situ terlihat sekali kalau
masyarakat sudah mulai beralih ke BBM
dengan oktan yang tinggi. Nah, sementara
permintaan naik, distribusi dan kuota
impor BBM dari perusahaan swasta itu
enggak ikut naik karena ada batasan
volume dan waktu impor yang harus mereka
patuhi dari negara. Jadi, kalau sudah
lewat batas, perusahaan swasta itu wajib
meminta izin impor baru ke Kementerian
SDM. Masalahnya di pertengahan Agustus
itu ya izin impor baru tidak kunjung
keluar. Banyak perusahaan swasta yang
udah ngajuin perpanjangan izin tapi
belum dapat persetujuan dari
kementerian. Menterinya siape ya. Ini
gua tampilin foto Bapak Menteri kita.
Oke. Nah, dari Bapak Menteri ini. Nah,
akibatnya stok BBM impor ee menjadi
habis ya dan tidak bisa menambah pasukan
baru. Dari situlah krisis kecil ini
mulai terasa. SPBU yang biasanya aktif
24 jam jadi banyak yang tutup. Sebagian
lagi buka tapi cuma beberapa jam dan
bahkan ada yang cuma bisa jual solar
doang karena bensinnya kosong.
Potret kekosongan stok BBM di beberapa
SPB swasta mulai terasa sejak akhir
Agustus lalu. Sebagian ada yang total
menutup penjualan bahan bakar. Sebagian
lain ada yang hanya menjual BBM jenis
solar. Bukannya mengeluarkan izin impor
yang baru, malah Kementerian SDM itu
memberikan kebijakan yang baru. Mereka
minta semua pengelola SBBU swasta untuk
beli bahan bakar murni alias base full
langsung dari Pertamina. Ini kan aneh
banget ya kalau dipikir-pikir ya. Kok
jadi negara tuh pengin untung sendiri
gitu. Menteri Energi dan Sumedaya
Mineral atau ESDM Bahlil Hadalia bersi
keras bahwa arahan bagi Badan Usaha
Hilir Miga Swasta untuk membeli bahan
bakar minyak dari PT Pertamina tidaklah
menjurus pada praktik monopoli usaha.
Untuk selebihnya silakan berkolaborasi
B2B dengan Pertamina. Kenapa? Ini bukan
persoalan persaingan usaha. Ini
persoalan Pasal 33.
Hajat hidup orang banyak itu
alangkah lebih bagusnya dikuasai oleh
negara, tetapi bukan berarti totalitas
semuanya dikuasai oleh negara.
Dan kabarnya ya stok Pertamina masih
banyak dan cukup untuk menopang
kebutuhan nasional. Nah, tapi geng,
kebijakan itu justru menjadi sumber
masalah baru. Setelah dilakukan
pengecekan, para pengelola SPBU swasta
menemukan bahwa base full atau bahan
dasar dari bensin ini ya yang disediakan
oleh Pertamina, perusahaan BUMN milik
negara Indonesia ternyata malah
mengandung etanol sebesar 3,5%.
Nah, di situlah mulai muncul penolakan
besar-besaran dari pihak swasta. Shell,
Vivo itu enggak mau beli dari Pertamina.
Mereka bilang bahan bakar dari Pertamina
itu enggak sesuai dengan sistem
distribusi mereka dan bisa menimbulkan
masalah ke kendaraan pelanggan. Mantap
banget ya. Pihak swasta lebih peduli
kepada masyarakat, kepada rakyat
ketimbang perusahaan milik negara. Kalau
kita lihat dalam case ini, nah mereka
mengatakan apalagi mesin lama dari
kendaraan warga Indonesia yang belum
kompatibel dengan etanol. Nah, para
pengusaha SPBU swasta pun keberatan
karena sebelumnya mereka enggak
diberitahu soal kandungan etanol di
dalam bahan bakar milik Pertamina ini.
Mereka juga khawatir tangki penyimpanan
mereka dan sistem distribusi mereka
bakal terkontaminasi kalau tiba-tiba
tercampur dengan bahan bakar beretanol.
Nah, jadi mereka juga enggak mau tangki
serta mesin ee yang ada di SPBU mereka
malah rusak. Dan selain itu, campuran
etanol ini dianggap bisa mempercepat
korosi di pipa dan tangki besi yang
mereka pakai. Jadi, korosi itu kayak apa
ya? karatan lama-lama ee menipis terus
hancur gitu. Akibatnya ya banyak SPBU
swasta yang menolak untuk membeli base
full dari Pertamina ini. Mereka lebih
memilih menunggu izin impor BBM mereka
disetujui walaupun berarti mereka harus
berhenti jualan sementara waktu. Nah,
ini kan makin kacau ya, Geng. Kondisi di
lapangan makin gila. Udah nih negara
dijanjiin 19 juta lapangan pekerjaan
tapi enggak ada. udah penganggurannya
banyak banget, PHK-nya tinggi. Ditambah
dengan kondisi ini yang dirugikan enggak
cuma masyarakat, tapi para pegawai dari
SPBU swasta tersebut akhirnya banyak
yang di PHK juga.
Pekerja SPBU swasta ini mengunggah momen
pilu ketika rekan-rekannya terpaksa
dirumahkan akibat stok BBM yang kosong
dalam beberapa hari terakhir.
Masyarakat yang biasanya isi BBM di SPBU
swasta jadi pindah ke Pertamina. Tapi
dengan catatan dalam tanda kutip mereka
semua terpaksa karena ya di SPBU swasta
udah enggak ada bahan bakar mau enggak
mau mereka pakai Pertamina. Akibatnya
antrian makin panjang dan banyak yang
mulai marah karena merasa pemerintah
tidak bisa mengatur pasukan energi
dengan baik. Di media sosial hashag BBM
Langka sempat trending selama beberapa
hari dan beberapa pengamat energi juga
menyalahkan pemerintah karena ya
dianggap telat mengambil langkah dan
terlalu mencari keuntungan hanya untuk
Pertamina doang. Padahal kalau
pemerintah bisa cepat memperpanjang izin
impor, mungkin kelangkaan ini enggak
bakal separah ini, Geng. Tapi yang
membuat banyak pihak kesal, pemerintah
justru terlihat memihak kepada
perusahaan milik negara doang. Terutama
setelah Kementerian ISDM secara resmi
menghimbau agar semua SPBU swasta pakai
bahan bakar dari Pertamina. Nah, terus
bedanya apa kalau kayak gini? Ya, kadang
kan ada orang itu yang sengaja ngisi BBM
di SPBU swasta seperti Shell dan
lain-lain karena ya menurut mereka
kualitas bensinnya itu jauh lebih baik
gitu, kualitas minyaknya jauh lebih
baik. Nah, ini kalau misalkan mereka
juga diharuskan ngambil dari Pertamina
ya artinya kan kita tahu beda merek
doang yang kita isi sama aja gitu dan
apalagi seperti yang kita tahu kemarin
ada kasus korupsi di Pertamina yang mana
minyaknya atau bensin dari Pertamina itu
dioplos ya orang-orang kan makin trust
issue dengan hal ini. Dari sinilah
banyak yang mengatakan kalau kebijakan
ini justru hanya menguntungkan ee negara
doang ya, pihak badan usaha milik negara
atau BUMN. tapi justru merugikan pesaing
dari swasta. Di dalam hal ini ya
Pertamina terus bisa beroperasi dengan
stok yang cukup. SPBU swasta seperti
Shell dan juga Vivo malah kehabisan
bahan bakar dan tidak bisa berjualan.
Yang mana akibatnya pasar BBM di
Indonesia jadi timpang. Konsumen tidak
punya banyak pilihan selain beli di
Pertamina dan harga di lapangan pun jadi
enggak stabil. Banyak warga di daerah
yang mengeluh karena harus beli BBM
eceran dengan harga yang lebih mahal.
Dan di sisi lain, beberapa analis energi
juga menduga langkah pemerintah ini
sengaja dilakukan untuk menyiapkan
transisi ke program pencampuran etanol
yang belakangan sedang gencar dikatakan
atau digaungkan oleh Kementerian ISDM.
Nah, tapi masalahnya nih ya kebijakan
ini dijalankan di waktu yang salah saat
pasukan BBM ee sedang seret atau lagi
langka. Nah, dari sinilah awal mula isu
BBM campur etanol makin ramai.
Orang-orang mulai curiga. Jangan-jangan
nih kelangkaan yang terjadi ini bukan
cuma karena keterlambatan impor, tapi
memang jadi agenda besar pemerintah
untuk mengenalkan bahan bakar campuran
secara perlahan. Dan pemerintah mungkin
berharap masyarakat bisa terbiasa dulu
dengan kandungan etanol kecil seperti
3,5% sebelum akhirnya nanti dinaikkan
menjadi 10% atau lebih. Nah, tapi bagi
para pengelola SPBU swasta, hal ini
dianggap enggak adil karena mereka
enggak dilibatkan dari awal. maksudnya
tuh enggak ada diskusi gitu kalau bensin
yang bakal dipakai itu bakal mengandung
etanol ya kan. Nah, jadi bisa dikatakan
krisis BBM ini bukan cuma soal stok yang
habis tapi juga soal kebijakan yang
tumpang tindih dan komunikasi yang buruk
antara pemerintah dan Pertamina dan SPBU
swasta juga. Sementara masyarakat di
lapangan yang terkena imbasnya harus
antri, beli mahal, dan bingung mau isi
di mana. Yang lebih bikin e kecewa orang
banyak ya, pemerintah yang seharusnya
menjadi penengah justru terlihat lebih
kayak pengin cari untung sendiri menurut
netizen dan masyarakat. Nah, hal ini
juga membuat SPBU swasta semakin
kekurangan stok dan pilihan bahan bakar
di pasaran makin terbatas. Makanya
banyak masyarakat yang seolah-olah
menganggap pemerintah kita itu kayak
mafia gitu. Terus, Geng, dari situlah
mulai muncul rencana besar pemerintah
untuk ngebenerin sistem energi nasional.
Nah, salah satu langkah yang kemudian
mereka dorong adalah program pencampuran
BBM dengan etanol. Ini pemerintah
berharap kebijakan ini bisa menjadi
solusi jangka panjang agar Indonesia
tidak terus-menerus tergantung kepada
impor bahan bakar. Nah, tapi geng di
balik niat dari pemerintah ini tentu
saja muncul banyak pertanyaan. Emang
seberapa efektif sih campuran etanol
untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar?
aman enggak untuk kendaraan? Dan benar
enggak kalau kebijakan ini bakal dimulai
ee diterapkan ke semua jenis bensin
dalam waktu dekat? Nah, ini langsung aja
kita bahas secara lengkap. Lebih dalam
lagi soal pencampuran etanol sebesar 10%
di bahan bakar yang akan kita gunakan
nanti. Dan bagaimana pemerintah menyusun
kebijakan ini dari awal? kita bahas.
Jadi, Geng, setelah kelangkaan BBM yang
membuat heboh di mana-mana ya,
pemerintah akhirnya mulai mencari jalan
keluar ya supaya kejadian seperti ini
tidak terulang lagi. Nah, salah satu
langkah yang sekarang sedang mereka
dorong adalah program pencampuran BBM
dengan etanol sebanyak 10% atau yang
biasa disebut dengan E10 atau E10. Yang
kabarnya ini bukan cuma solusi jangka
pendek untuk mengatasi stok yang lagi
habis, lagi langka, tapi juga bagian
dari strategi besar untuk mengurangi
ketergantungan Indonesia terhadap impor
bahan bakar fosil. Yang pertama sekali
mengumumkan soal ini adalah Menteri ISDM
yaitu Bahlil Lahadalia yang mana di
dalam beberapa kesempatan dia ini bilang
kalau rencana pencampuran etanol 10% ini
sudah disetujui langsung oleh presiden.
Jadi ini bukan sekedar wacana tapi sudah
masuk ke tahap kebijakan yang bakal
mulai diterapkan secara bertahap. Dan
Bahlil juga bilang program ini akan
menjadi kewajiban untuk semua jenis
bensin di dalam negeri baik yang dijual
oleh Pertamina maupun SPBU swasta. Dan
tujuan itu jelas ya untuk mengurangi
impor bensin yang sampai sekarang masih
menjadi beban besar untuk neraca
perdagangan negara. Bayangin aja geng
sekitar 60% kebutuhan bensin nasional
itu masih diimpor dari luar negeri. Jadi
setiap kali harga minyak dunia naik,
otomatis subsidi dan harga di Indonesia
juga ikut goyah. Nah, dengan adanya
etanol yang bahan bakunya bisa diambil
dari tanaman tebu katanya dari singkong
juga atau jagung, pemerintah berharap
bisa lebih mandiri dengan berhemat
devisa. Nah, namun Geng kebijakan ini
tidak bisa langsung jalan begitu saja.
Pemerintah sadar kalau untuk
mencampurkan etanol ke BBM itu butuh
infrastruktur dan pasukan etanol yang
stabil. Karena itu, Wakil Menteri ESDM
mengatakan kalau saat ini mereka sedang
berdiskusi yang secara intensif dengan
pengelola SPBU swasta dan juga industri
otomotif biar bisa bertransisi ke bahan
bakar E10 ini. Nah, yang mana agar tidak
menjadi masalah di lapangan. Bahkan
beberapa lembaga riset sudah dilibatkan
untuk membuat uji coba apakah kendaraan
di Indonesia khususnya yang sudah
berumur lebih dari 10 tahun bisa tahan
dengan campuran etanol 10%. Nah, menurut
pernyataan resmi Bahlil juga ya
kebijakan EN ini kemungkinan baru bisa
diterapkan sekitar tahun 2027 atau 2028.
Jadi, pemerintah masih punya waktu
sekitar 2 sampai 3 tahun untuk
menyiapkan segala sesuatu dari sisi
pasokan, uji coba teknis sampai edukasi
ke masyarakat. Nah, namun Geng meskipun
masih jauh ya pembahasannya sudah
membuat banyak pihak deg-degan ya,
terutama pemilik kendaraan lama dan
pengusaha SPBU swasta. Untuk pemerintah,
langkah ini dianggap visioner karena
bisa buat Indonesia sejajar sama
negara-negara lain yang sudah lebih dulu
sukses menjalani program bahan bakar
bio. Tapi untuk sebagian orang,
kebijakan ini dianggap terburu-buru.
Banyak yang khawatir kalau penerapan EEN
ini nanti malah membuat harga BBM naik
atau stok makin tidak stabil karena
distribusi etanol di dalam negeri belum
siap sepenuhnya. Nah, Bahlil sendiri
sempat mengatakan kalau pemerintah
sedang fokus menyari sumber bahan baku
etanol dari dalam negeri, terutama dari
industri gula dan singkong. Yang
kabarnya kalau ini bisa berjalan, petani
lokal juga bakal diuntungkan karena
hasil panennya bisa diserap untuk
produksi etanol. Nah, namun tetap aja
masih banyak PR yang harus diselesaikan
mulai dari kapasitas produksi, jalur
distribusi sampai kesiapan SPBU yang
nantinya harus bisa menampung BBM
campuran ini. Di sisi lain, beberapa
pengamat energi bilang, ya inisiatif
campuran etanol ini sebenarnya bagus,
tapi waktunya kurang tepat. Karena di
saat masyarakat sedang pusing dengan
kelangkaan BBM, pemerintah malah
mengenalkan konsep baru yang belum
sepenuhnya dipahami oleh masyarakat.
Banyak warga yang akhirnya salah paham
dan mengira etanol itu seperti alkohol
minuman keras. Padahal jelas beda ya.
Etanol di sini adalah senyawa khusus
untuk bahan bakar bukan untuk konsumsi
manusia. Dan meskipun pemerintah sudah
berusaha menjelaskan, masih banyak
masyarakat yang belum percaya. Ada yang
takut kendaraan mereka tidak cocok. Ada
juga yang khawatir BBM campuran ini
bakal bikin mesin cepat rusak. Padahal
menurut data uji coba yang dilakukan
oleh beberapa produsen otomotif,
campuran etanol 10% masih tergolong aman
untuk kendaraan modern yang sudah pakai
sistem injeksi. Nah, namun geng mau
kebijakan apapun ya pasti selalu ada dua
sisi. Satu sisi ya langkah ini bisa
membantu negara mengurangi impor dan
polusi. Tapi di sisi lain resiko teknis
di lapangan tetap ada. Dan karena isu
ini saat ini sudah mulai dibahas di
mana-mana, banyak juga yang mulai
penasaran sebenarnya kenapa sih
pemerintah memilih mencampur BBM dengan
etanol 10% dan apa alasan ilmiah di
balik keputusan itu. Nah, jadi geng biar
kita enggak penasaran, kita lanjut ke
dalam pembahasan berikutnya yaitu kenapa
BBM dicampur dengan etanol sebesar 10%
ini apa manfaatnya, apa yang diharapkan
dari kebijakan ini? Langsung aja kita
bahas.
Jadi, Geng ya, setelah pemerintah
mengumumkan rencana untuk mencampuri BBM
dengan etanol 10%, banyak banget yang
langsung bertanya, "Kenapa sih harus
etanol? Kenapa enggak bahan lain aja?"
gitu kan. Bahkan orang-orang juga
bertanya, "Apa enggak beresiko untuk
kendaraan kita?" Nah,
pertanyaan-pertanyaan seperti ini kan
wajar banget karena kebijakan baru ini
bukan cuma soal bahan bakar, tapi juga
soal teknologi, lingkungan, dan
kebiasaan masyarakat yang sudah puluhan
tahun terbiasa memakai bensin murni.
Nah, jadi gini, Geng. Etanol itu
sebenarnya senyawa kimia berbasis
alkohol dengan rumus C2H2OH.
Tapi jangan salah paham dulu, ini bukan
alkohol yang biasa kita temui di dalam
minuman keras atau pembersih luka.
Etanol yang dipakai untuk bahan bakar
berasal dari proses fermentasi
bahan-bahan nabati seperti tebu,
singkong, dan jagung. Prosesnya mirip
seperti bikin bioetanol di mana ya gula
alami dari tumbuhan difermentasi menjadi
alkohol yang bisa dibakar dan
dicampurkan ke bensin. Nah, kenapa
etanol ini dipilih? Karena etanol itu
punya beberapa keunggulan dibandingkan
bensin murni. Pertama, etanol bisa
menaikkan angka oktan dari bahan bakar.
Semakin tinggi oktan, pembakaran di
mesin jadi lebih sempurna katanya dan
tenaga yang dihasilkan juga jauh lebih
stabil. Nah, kedua etanol ini bisa
membantu mengurangi emisi gas buang
kendaraan karena hasil pembakarannya
jauh lebih bersih dibandingkan bensin
biasa. Terus yang ketiga, etanol ini
termasuk ke dalam energi terbarukan yang
artinya bisa diperbarui terus selama
bahan bakunya ada. Pemerintah melihat
potensi ini besar banget untuk Indonesia
dan kita punya banyak lahan pertanian
serta hasil bumi seperti tebu dan
singkong yang bisa diolah menjadi
etanol. Nah, jadi pemerintah menganggap
daripada terus-terusan mengimpor minyak
mentah dari luar negeri, lebih baik
sebagiannya diganti pakai bahan bakar
dari dalam negeri yaitu etanol. Dan
selain bisa mengurangi ketergantungan
impor, hal ini juga bisa membuka peluang
ekonomi baru untuk para petani lokal.
Namun, Geng, bukan berarti semua orang
langsung setuju, ya. Karena etanol dan
bensin itu sebenarnya dua bahan yang
punya sifat kimia berbeda. Etanol ini
lebih gampang menyerap air dan punya
sifat korosif. Jadi, kalau dipakai
kendaraan yang belum disiapkan secara
teknis ya bisa membuat komponen-komponen
mesinnya jadi cepat haus atau karatan.
Nah, tapi itu berlaku untuk kendaraan
lama sih kabarnya. Kalau kendaraan
keluaran terbaru rata-rata sudah pakai
sistem bahan bakar yang bisa
menyesuaikan campuran etanol sampai
dengan 20%. Nah, untuk saat ini
Pertamina Green 95 jadi satu-satunya BBM
di Indonesia yang sudah punya campuran
etanol sebesar 5% dan sejauh ini
hasilnya kabarnya sih masih aman-aman
aja. Makanya pemerintah PD untuk ya
meningkatkan campuran etanol ini menjadi
10%.
PT Pertamina Patra Niaga telah
mengembangkan bahan bakar minyak atau
BBM dengan kandungan etanol sebesar 5%
yang dikenal sebagai Pertamax Green 95.
Mereka mengatakan kalau etanol itu punya
efek positif jangka panjang untuk
lingkungan karena bisa mengurangi kadar
karbon monoksida dan partikel sisa
pembakaran di udara. Kalau melihat ke
luar negeri, sebenarnya sudah banyak
negara yang sudah lama menerapkan
kebijakan ini dan hasilnya cukup baik.
Katanya sih di Amerika Serikat sudah ada
yang mana mereka sudah pakai E10 sampai
dengan E15 e buat kendaraan harian
mereka ya. Yang mana sementara di Brazil
ya kandungan etanolnya malah sampai E85
jadi tinggi banget 85%. dan itu menjadi
standar nasional di sana. Nah,
negara-negara Uni Eropa ee juga sudah
mulai beralih ke bahan bakar bio buat
mengurangi emisi karbon. Bahkan di
Thailand, BBM peretanol sudah umum
banget dijual di SPBU dan masyarakatnya
tidak panik karena kendaraan mereka
sudah disesuaikan.
Indonesia sebenarnya mau mengikuti ke
arah itu, Geng. Beralih pelan-pelan ke
bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Tapi bukan cuma soal efisiensi energi,
hal ini juga soal transisi ke energi
hijau. Karena kalau terus mengandalkan
bahan bakar fosil, lama-lama cadangannya
juga habis. Tapi ya seperti biasa, Geng,
transisi seperti ini tidak bisa instan.
Butuh waktu untuk menyesuaikan edukasi
kepada publik dan juga kerja sama dari
semua pihak. Dan pemerintah tidak bisa
jalan sendiri tanpa dukungan dari
industri otomotif serta SPBU swasta yang
menjadi ujung tombak penyaluran BBM di
lapangan. Dan di tengah semua itu,
pertanyaan baru mulai muncul. Kalau
nanti etanol 10% ini beneran diterapkan,
apakah kendaraan di Indonesia sudah
siap? Nah, apa dampak yang bakal terasa
ke performa mesin dan konsumsi bahan
bakar? Nah, biar enggak makin penasaran,
sekarang kita bahas ya dampak yang bakal
muncul dari pemakaian BBM bercampur
etanol 10% di Indonesia.
Karena ini bukan cuma sekedar ganti
bahan bakar aja, tapi ini bisa mengubah
banyak hal gitu, Geng, ya. Mulai dari
performa kendaraan, sistem distribusi
sampai dengan dampak ekonomi ke
masyarakat. Ini penting banget untuk
kita tahu apa aja efek yang bisa muncul
dari kebijakan ini, baik itu yang
positif maupun yang harus kita waspadai.
Nah, pertama-tama dari sisi kendaraan
menurut beberapa ahli otomotif dan pakar
energi, campuran etanol 10% itu masih
tergolong aman untuk mayoritas kendaraan
di Indonesia, terutama untuk mobil-mobil
keluaran baru. Nah, salah satunya
disampaikan oleh Wakil Direktur Toyota
Indonesia yang ketika itu bilang kalau
kendaraan dengan teknologi injeksi
modern rata-rata sudah bisa menyesuaikan
diri dengan bahan bakar beretanol.
Bahkan kabarnya ya, mobil keluaran tahun
2018 ke atas itu sudah pakai bahan bakar
dengan kandungan etanol sampai 20%. Jadi
kalau baru 10% itu artinya dinyatakan
aman banget. Tapi di sisi lain ya untuk
kendaraan lama yang terutama masih pakai
sistem karburator ini bisa jadi masalah
karena etanol punya sifat menyerap air
dan lebih korosif dibandingkan bensin.
Kalau kendaraan belum siap secara teknis
ada risiko komponenin logam di tangki
bahan bakarnya dan juga karburatornya ya
bisa getas gitu, Geng. Bisa rapuh. Dan
itu sebabnya banyak pakar yang
mengatakan sebelum kebijakan E10 atau
etanol ini diterapkan, pemerintah perlu
memberikan edukasi dulu dan memastikan
kalau base full-nya benar-benar
dirancang untuk campuran etanol. Nah,
jadi hal ini, Geng, juga ditegaskan oleh
ee pengamat otomotif yang bernama Vitra
Eri, ya. Dia kan sering banget nih
membahas soal isu-isu kendaraan dan BBM.
Nah, kata Pak Vitra Eri, etanol memang
bisa meningkatkan oktan dan membuat
pembakaran lebih bersih. Tapi nilai
energi dari etanol lebih kecil
dibandingkan bensin. Jadi, walaupun
oktannya tinggi, tenaga mesin bisa
sedikit menurun dan konsumsi bahan bakar
bisa lebih boros katanya. Yang artinya
untuk jarak tempuh yang sama, kendaraan
mungkin butuh BBM lebih banyak
dibandingkan waktu masih memakai bensin
murni sebelum dicampur dengan etanol.
Jadi makin dicampur dengan etanol malah
ya performanya enggak bagus, jarak
tempuhnya juga singkat gitu karena
pembakarannya terlalu cepat, tidak
sebesar bahan bakar fosil. Jadi ee
tenaga mesin akan sedikit menurun,
kemudian konsumsi bahan bakar akan
sedikit lebih boros. Jadi dengan begitu
ya, kalau sudah diterapkan sistem pakai
campuran etanol ini artinya kalian harus
mengisi bensin jauh lebih banyak dari
biasanya karena ya pembakarannya
sebegitu cepat. Jadi cepat habis juga
bensin kalian. Dan terus geng ada juga
pandangan dari pakar BBM dari ITB yang
bilang bahwa etanol 10% sebenarnya
aman-aman aja selama aditif dan base
full-nya cocok. Tapi kalau sistem
penyimpanan dan distribusinya belum
disesuaikan, maka bisa menimbulkan
masalah baru. Misalnya nih di SPBU
swasta, tangki penyimpanan mereka
kebanyakan belum didesain untuk
menampung bahan bakar yang mengandung
etanol. Jadi ada resiko campuran BBM-nya
tidak stabil. Apalagi kalau kelembaban
udara tinggi dan penyimpanannya juga
lama. Nah, selain soal teknis kendaraan,
dampak lainnya juga ya bisa dirasakan
dari sisi ekonomi dan lingkungan.
Pemerintah percaya kalau campuran etanol
bisa membantu mengurangi emisi gas rumah
kaca karena hasil pembakarannya jauh
lebih bersih dan rendah karbon. Katanya
sih gitu. Nah, kalau diterapkan secara
nasional emisi kendaraan bisa turun
signifikan. Apalagi kalau bahan baku
etanolnya berasal dari tanaman yang
menyerap CO2 di waktu tumbuh. Nah, jadi
bisa dikatakan BBM beretanol ini ya
dianggap lebih ramah lingkungan. Tapi di
sisi ekonomi efeknya enggak sesederhana
itu. Bahkan untuk bisa memproduksi
etanol di dalam jumlah yang besar,
pemerintah harus bangun industri
bioetanol yang kuat dan itu butuh biaya
besar lagi.
[Musik]
Nah, belum lagi kalau pasukan bahan
bakunya seperti tebu atau singkong
sedang kurang, harga etanol bisa-bisa
melonjak naik dan otomatis harga BBM
juga ikut terdorong naik. Makanya
beberapa pengamat mengatakan sebelum
menerapkan penuh, Indonesia harus
pastikan dulu rantai pasokan stabil dan
tidak merepotkan masyarakat yang ada di
bawah. Selain itu ya tidak semua daerah
di Indonesia siap dengan transisi ini.
Daerah-daerah di luar Jawa misalkan
masih banyak SPBU yang belum punya
fasilitas untuk menyimpan dan mengolah
campuran etanol ini. Nah, jadi kalau
diterapkan terlalu cepat ya terburu-buru
bisa-bisa malah bikin ee distribusi BBM
semakin ribet dan stoknya makin enggak
merata. Terus di sisi lain ada juga
keuntungan dari sisi energi nasional.
Karena dengan campuran etanol Indonesia
bisa mengurangi impor bensin dalam
jumlah besar. Kalau 10% dari total
konsumsi bensin diganti dengan etanol,
bayangkan berapa banyak devisa negara
yang bisa dihemat. Dan bukan cuma itu,
industri etanol juga bisa menjadi sumber
lapangan kerja baru untuk para petani
dan pabrik pengolah bahan bakar nabati.
Nah, jadi bisa dikatakan kalau dikelola
dengan baik, program ini bisa punya efek
domino yang positif untuk ekonomi
rakyat. Tapi balik lagi, Geng. Semua itu
tergantung dari seberapa siap Indonesia
untuk menjalani kebijakan ini. Nanti
jangan kebijakannya udah ada, udah mau
berjalan, eh malah dikorupsi korupsi
lagi, ya kan? Nah, karena kalau
diterapkan tanpa kesiapan dan teknis ya,
bukannya hemat malah bisa nambah masalah
baru dari kendaraan yang mogok, stok
yang enggak stabil sampai biaya
operasional SPBU yang naik. Makanya
sekarang ya masih banyak perdebatan di
kalangan masyarakat dan pelaku industri.
Dan yang menariknya adalah di tengah
semua wacana ini, publik mulai
memberikan respon yang beragam. Ada yang
mendukung karena dianggap langkah maju
untuk energi bersih, tapi enggak sedikit
juga yang mencurigai dan khawatir
kebijakan ini bakal jadi akal-akalan
pemerintah di tengah krisis BBM. Apalagi
belum lama ini ya, sempat viral sebuah
video yang menunjukkan mekanik sedang
menguji kandungan etanol di bensin
Pertalight dan situ muncul banyak
spekulasi. Ngomongin soal video reaksi
masyarakat kayak gini, ya. Sekarang kita
bakal masuk ke dalam pembahasan
bagaimana tanggapan dari masyarakat
terhadap isu BBM campuran etanol ini.
Apa aja klarifikasi dari pihak Pertamina
soal video-video yang tersebar dan
menjadi heboh.
Jadi, Geng, sejak isu soal BBM ini yang
dicampur dengan etanol mencuat ke
publik, reaksi masyarakat tuh langsung
ramai. Banyak yang dukung karena
dianggap langkah maju menuju energi
bersih. Tapi enggak sedikit juga yang
khawatir dan merasa kalau kebijakan ini
belum siap diterapkan di Indonesia.
Apalagi ketika muncul sebuah video viral
di media sosial yang memperlihatkan
seseorang yang merupakan mekanik sedang
menguji kandungan etanol di dalam Perta
light. Di dalam video itu si mekanik
menu 1 lit pert light ke dalam tabung
transparan dan memberikan cairan kimia
untuk menguji kadar etanolnya. Dan
hasilnya bikin kaget. Cairan di tabung
itu terpisah dua lapisan dan mekaniknya
bilang kalau setengah dari sisi
pertalight itu ternyata adalah etanol.
Nah, gila banget ya. Enggak nyatu gitu.
Dan video ini langsung menyebar di
mana-mana terutama di TikTok dan juga
sampai membuat banyak orang menjadi
panik dan curiga kalau pemerintah sudah
diam-diam mencampurkan etanol ke bensin
tanpa memberitahu publik. Tapi geng,
tidak lama setelah video itu viral,
pihak Pertamina langsung buka suara
untuk memberikan klarifikasi. Mereka
bilang kalau video itu enggak valid dan
hasilnya tidak bisa dijadikan patokan
ilmiah. Soalnya pengujian kandungan
etanol itu harus dilakukan di
laboratorium dengan peralatan khusus,
bukan cairan kimia biasa seperti yang
dipakai di video itu. Pertamina juga
menegaskan bahwa sampai saat sekarang
ini Pertalight belum dicampurkan dengan
etanol karena kebijakan eten itu masih
dalam tahap kajian dan belum diterapkan.
Nah, menurut penjelasan Pertamina,
reaksi yang muncul di video itu bisa
terjadi karena aditif atau zat tambahan
yang memang ada di setiap jenis BBM. Dan
zat itu gunanya untuk ee meningkatkan
performa bahan bakar, mencegah karat,
dan menjaga kestabilan tangki kendaraan.
Nah, jadi hasil yang kelihatan seperti
etanol itu sebenarnya bukan alkohol
hasil campuran, tapi reaksi kimia dari
aditif yang tercampur dengan air.
Walaupun sudah dijelaskan seperti itu,
tetap aja, Geng, banyak orang yang masih
skeptis. Ada yang bilang, "Kalau emang
enggak ada etanol, kenapa warnanya bisa
berubah?" Ada juga yang merasa
kendaraannya jadi beda performarnya
setelah isi Pertalight. Katanya mesinnya
lebih cepat panas dan boros. Tapi di
sisi lain sebagian orang juga bilang
kalau itu cuma efek sugesti karena ya
sudah keburu parno gara-gara video yang
viral duluan. Dan selain itu ya beberapa
mekanik dan pengamat otomotif juga ikut
nimbrung meramaikan diskusinya. Mereka
bilang kalau nanti BBM dicampur etanol
tidak akan separah yang dibayangkan
karena campurannya itu enggak langsung
5050 seperti di video tersebut. Kadar
10% itu kecil banget katanya. Dan kalau
base full-nya sesuai standar mesk
rusak. Nah, namun geng memang ya mereka
sepakat kalau ya sosialisasi dari
pemerintah harus jelas dan terbuka biar
tidak ada salah paham di tengah-tengah
masyarakat seperti sekarang. Sementara
itu, Geng, di media sosial tanggapan
masyarakat soal kebijakan ini terbagi
dua kubu. Ada yang optimis dan melihat
langkah ini sebagai awal transisi energi
yang bersih dan penting untuk masa
depan. Mereka bilang Indonesia harus
mulai berani lepas dari ketergantungan
minyak fosil. Nah, namun di sisi lain
ada juga yang sinis ngerasa kebijakan
ini cuma akal-akalan untuk nutupi
masalah kelangkaan BBM yang belum kelar
dari akar masalahnya. Dan beberapa warga
juga mengeluhkan kalau harga BBM
kemungkinan akan naik kalau program
etanol ini dijalankan dikarenakan
membutuhkan biaya tambahan untuk
produksi dan distribusi. Terus ada juga
yang khawatir kalau bahan baku etanolnya
nanti justru bakal merebut lahan
pertanian pangan ya seperti yang pernah
kejadian di negara lain. Nah, jadi
meskipun niatnya bagus tetap aja banyak
hal yang harus dikaji matang sebelum
kebijakan ini resmi dijalankan. Namun
geng, di tengah semua pro dan kontra
itu, satu hal yang pasti. Isu BBM campur
etanol ini sudah membuat masyarakat
lebih sadar soal energi dan lingkungan.
Banyak orang yang tadinya tidak peduli
dengan jenis bahan bakar yang mereka
pakai, sekarang jadi mulai memikirkan
kualitas dan dampaknya ke mesin maupun
ke bumi gitu ya. Dan kalau pemerintah
bisa benar-benar menjalani program ini
dengan persiapan yang matang dari sisi
teknis, edukasi publik sampai ke
pengawasan di lapangan, ya bisa jadi ini
adalah langkah awal ee perubahan ya kan.
Dan ini bukan perubahan biasa, merupakan
perubahan besar untuk sektor energi
Indonesia. Nah, jadi kita tunggu aja
nanti kejelasannya seperti apa geng. Itu
dia, Geng, pembahasan kita hari ini ya
tentang BBM yang akan dicampur dengan
etanol. Mulai dari awal kelangkaan BBM
sampai rencana pencampuran etanol 10%.
Ini alasan mengapa etanol dipilih sampai
dengan dampak dan tanggapan masyarakat.
Gimana menurut kalian semua, Geng,
tentang pembahasan ini? Coba tinggalkan
komentar di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:17:10 UTC
Categories
Manage