Kind: captions Language: id Ada sebuah kejadian yang benar-benar bikin gua enggak habis pikir ya. Tapi sebelumnya gua disclaimer dulu. Ini adalah sebuah kasus ee yang akan kita bahas sebagai bentuk informasi dan semoga bisa menjadi edukasi untuk kita semua. Jadi ini tidak bermaksud untuk melanggar aturan YouTube ataupun hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh YouTube. Jadi ini murni untuk edukasi aja buat kalian agar lebih berhati-hati. Jadi nih ya gua tanyain dulu nih ke kalian. Misalnya nih, kalian mau beli barang, kalian udah menemukan penjualnya dan merasa cocok dengan harga yang ditawarkan, selanjutnya kalian pasti bakal COD atau bertemu dengan penjualnya gitu ya atau cash on delivery gitu. Tapi ketika kalian bertemu dengan penjualnya, orang ini malah menipu kalian. Nah, kasus seperti ini enggak sedikit terjadi ya kan? Mulai dari barang-barang yang kecil seperti handphone, laptop, bahkan kendaraan sekalipun. Cuma, Geng biasanya kalau kasus pencurian seperti ini atau penipuan kayak gini, pelakunya kan hanya mengincar uang atau barang dari korban, ya kan? Misalkan si korban melakukan perlawanan, barulah pelaku terpaksa melakukan kekerasan misalnya. Tapi gimana jadinya ya kalau tiba-tiba kalian ditipu terus diculik juga? Nah, ini kejadiannya benar-benar epik banget. Udah udah kayak bukan di Indonesia gitu. Kasus penculikan udah sering banget terjadi nih di negara kita. Ini negara kita lama-lama jadi kayak Mexico gitu ya. Jadi kayak Venezuela dan lain-lain lah, Colombia dan segala macam. Nah, hari ini gua bakal bercerita tentang satu kasus yang lagi viral di media sosial yang dikatakan ini sebuah kasus yang berawal dari dugaan penipuan dengan modus pelaku yang berpura-pura jadi penjual. Yang anehnya dari kasus ini, pelaku bukan cuma berniat ingin menipu korban, tapi juga sampai menculik dan menyandra korban dan melakukan kekerasan terhadap si korban. Apa motifnya? Kenapa sampai repot-repot menyandra korban? Apakah kasus ini lebih dari sekedar kasus penipuan atau ee perampokan biasa gitu? Yang lebih bikin herannya lagi adalah di tempat di mana korban di Sandra ada barang-barang yang hanya dimiliki oleh seorang anggota kepolisian. Nah, kok bisa nih seorang penculik punya barang-barang polisi kayak seragam, mobil dinas sampai dengan senjata api. Apakah jangan-jangan ada keterlibatan oknum aparat di dalam kasus ini? Mengingat kasus kemarin ya, yaitu Ilham Pradipta, Kepala Cabang BRI yang mana dia diculik dan dieksekusi ternyata juga melibatkan oknum anggota aparat bersenjata. Nah, di video kali ini kita bakal membahas rangkuman beberapa fakta terkait kasus penculikan atas penjualan mobil ini. Langsung aja kita bahas secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to kamar jer [Musik] ging untuk pembahasan awal kita akan membahas mulanya terungkap kasus penculikan dan penyekapan ini. Jadi geng kasus ini bisa terungkap karena adanya sebuah video yang sedang ramai di media sosial. Video tersebut kabarnya pertama kali diunggah oleh sebuah akun di Instagram yaitu wargaarta.id yang kabarnya video itu diambil pada hari Sabtu dini hari tanggal 11 Oktober 2025. Di dalam video itu terlihat ada tiga orang pria yang bertelanjang dada dan duduk berbaris. Walaupun videonya bergambar hitam putih, kita bisa melihat dengan jelas di punggung ketiga orang tersebut penuh dengan luka-luka. Mereka ini sedang mengoleskan cairan ke punggung orang yang ada di depannya. Dan banyak yang menduga cairan yang dioleskan itu adalah balsem. Nah, kebayang ya, Geng? udah luka-luka ya, balsemnya dioles ke kulit yang luka. Berasa panasnya kayak apa ya kan. Nah, dan mungkin ini bukan panas lagi tapi perih parah gitu ya. Terus luka-luka yang ada di bagian punggung itu juga kemungkinan besar disebabkan karena penyiksaan yang mereka alami dan diduga luka tersebut disebabkan karena mereka dicambuk. Nah, kesimpulan itu didapatkan karena ada seorang pria yang berada di depannya yang sedang memegang semacam kayu atau rotan gitulah. Dan selain memegang rotan, di sebelah kanan mereka juga ada seorang pria yang duduk sambil mengenakan topi. Pria yang pakai topi ini memberitahukan cara mengoleskan cairan tersebut di luka mereka. Dan dia juga bilang kalau dulu dia diberikan yang lebih parah dari ini. Nah, terus diucapkan juga jebretin semua, usap semua, begitu kata pria tersebut. Serta ada seorang lagi yang bertugas untuk merekam video. Sehingga total di situ ada enam orang. Tiganya yang sedang duduk dan diduga sedang mengalami penyiksaan. Sementara tiga orang lain adalah terduga pelakunya. Banyak nihin taruh sini semua pusat semua gitu. Off now berdasarkan informasi awal yang diterima geng, peristiwa ini bermula ketika ada sepasang suami istri yang berniat ingin membeli mobil. Diketahui istrinya tersebut bernama Desi. Mungkin jika ingin membeli mobil baru, budgetnya terlalu besar dan lebih baik dialihkan untuk kebutuhan lain. Oleh karena itu, mereka lebih memilih mencari orang yang ingin menjual mobil bekas. Sampai suatu ketika mereka berhasil menemukan seseorang yang ingin menjual mobil. Berkomunikasilah mereka nih. Biasanya pembeli kan bakal menawarkan harga hingga tercapai harga yang sudah disepakati tuh oleh kedua belah pihak alias dengan kata lain negosiasi lah gitu. Nah, selanjutnya pasangan suami istri ini beserta dengan penjual janjian tuh untuk bertemu. Transaksinya pun dilakukan secara cash on delivery atau COD yang berarti pembelian bakal dibayar. Setelah melihat barangnya, mereka memutuskan untuk bertemu di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Lagi-lagi enggak jauh dari studionya kamar Jerry nih. Dekat banget di daerah sini nih. Nah, di hari mereka bertemu dengan si penjual ini, sang suami mengajak dua pria lain yang merupakan temannya. Jadi, total ada empat orang yang bertamu dengan penjual pada saat itu. Nah, tentu tidak ada yang merasa aneh lah ya. Mereka pikir ini cuma proses transaksi jual beli biasa. Mereka berempat menuju ke lokasi yang dimaksud. Bertemulah mereka dengan si penjual. Cuma di saat itu yang mereka pikir awalnya hanya melihat mobil, membayar mobil itu, kemudian pulang. Tapi justru mereka mengalami sesuatu yang tidak pernah mereka pikir atau tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Saat mereka bertemu dengan orang yang mengaku sebagai penjual, ternyata datang beberapa pria lain di sana. Sekelompok pria itu kemudian membawa mereka berempat ke sebuah lokasi yang diketahui adalah sebuah rumah. Di sana si suami berserta dua dengan rekannya mengalami penganiayaan dan terjebak selama 2 hari di dalam rumah tersebut. Aneh banget ya orang mau beli mobil disekap gitu, Geng. Dan pada hari kedua, sang istri berhasil melarikan diri untungnya nih. Selain itu, mobil yang digunakan oleh para korban untuk menemui orang yang mengaku sebagai penjualnya juga dilaporkan hilang entah ke mana. Video ini akhirnya jadi viral di media sosial. Banyak yang heran jika pelaku ingin menipu korban, kenapa sampai harus menculik dan menyiksa. Karena kan di kebanyakan kasus seperti ini biasanya yang diincar cuma uang, ya kan? Sekaligus barang berharga yang dibawa oleh korban. Dan ini aneh banget sampai orangnya dibawa ke rumah lagi. Ini kan bakal membuat kasusnya jadi panjang gitu. Banyak yang menduga jika kasus ini bukanlah merupakan kasus penipuan biasa, melainkan sebuah aksi kriminal yang dijalankan oleh komplotan atau sindikat besar. Karena bisa melakukan aksi sejauh itu dengan menculik, menyiksa. Berarti kan ini udah kayak kartel gitu, Geng. Bahkan ada yang menduga jika kasus ini jangan-jangan adalah aksi perdagangan orang dengan modus pura-pura menjual mobil agar bisa menculik korban. Nanti organnya diambil atau orangnya langsung diambil, dikirim ke luar negeri. Wah, merinding banget ya Indonesia bisa sampai kayak gini. Tapi itu baru rumor. Oke, beruntungnya di saat itu, Geng, ya, Desi, si istri itu berhasil kabur dari tempat tersebut dan melaporkan insiden yang mereka alami ini kepada pihak kepolisian. Nah, kejanggalan demi kejanggalan mulai terungkap ketika polisi melakukan penggerebekan di rumah yang menjadi tempat penyekapan para korban. Sekarang kita bakal masuk nih ke dalam pembahasan selanjutnya mengenai fakta-fakta yang terungkap di dalam kasus ini. Jadi, geng, setelah mendapatkan laporan dari sang istri, ya, Polda Metro Jaya langsung melakukan penggerebekan pada hari Senin tanggal 13 Oktober 2025 di sebuah rumah dua lantai di perumahan Taman Mangu Indah. Saat polisi menggeledah rumah tersebut, petugas menemukan adanya satu senjata api rakitan, enam butir peluru, dan beberapa e setel seragam polisi. Ya, di saat itu ada ketua RT yang bernama Air Langga. Dia ikut menyaksikan proses penggeledahan tersebut dan dia sendiri juga menyaksikan adanya barang-barang tersebut yang berada di dalam rumah. Dan Pak Air Langga ini menyebutkan bahwa rumah tersebut dihuni oleh pasangan suami istri juga yang merupakan keponakan dari si pemilik rumah. Nah, awalnya dia mengira jika penggerebekan yang dilakukan oleh polisi terkait dengan kasus narkoba. Dia gak pernah ngebayangin kalau si pemilik rumah menculik orang. Nah, dari penjelasan polisi, penggerebakan tersebut dilakukan karena berkaitan dengan kasus penyekapan dan penculikan yang videonya sampai viral di media sosial. Pada saat penggerebekan, polisi berhasil mengamankan tiga orang korban yang terlihat sedang mengalami penyiksaan di dalam video. Menurut Air Langga, sepasang suami istri yang menempati rumah tersebut sudah mendapatkan izin dari pemilik rumah untuk tinggal di sana. Cuma, Geng, dari keterangan Pak Air Langka ini lagi, yang tinggal di sana tidak hanya si suami istri itu aja, melainkan ada seorang pria lain. Pria itu mengaku merupakan anak buah dari pasangan suami istri ini. Dari keterangan lain, Air Langga menyebutkan jika pemilik rumah bernama Nanang yang saat ini sudah pindah ke luar kota dan saat ini yang menempati rumah tersebut adalah anaknya yang bernama Adit bersama dengan beberapa teman yang disebut sebagai anak buahnya si Adit. Ada salah satunya yang bernama Victor. Di garasi rumah terlihat juga ada satu mobil berplat polisi, empat sepeda motor, serta beberapa sepatu yang berserakan. Nah, setelah penggerebekan oleh polisi, suasana rumah itu tampak sunyi dengan pagar yang tertutup rapat. Dan yang anehnya, kenapa bisa ada barang-barang aparat polisi seperti seragam dan mobil dengan plat polisi di sana? Apakah rumah tersebut adalah tempat tinggal dari seorang anggota polisi? Kemudian kenapa bisa ada senjata rakitan di sana? Karena logikanya, jika ada senjata rakitan berarti pelaku tahu bagaimana caranya menggunakan senjata api. Sehingga bisa dikatakan pelaku mungkin merupakan orang yang berpengalaman melakukan aksi dalam memakai senjata api. Apakah ada keterlibatan anggota dalam kasus ini? Nah, itulah yang menjadi pertanyaan besar bagi banyak orang, Geng. Dan bukti-bukti yang berada di TKP sudah diamankan oleh polisi untuk kemudian diselidiki lebih lanjut. Apakah benar ada keterlibatan oknum anggota atau enggak? Seperti yang sudah diasumsikan oleh banyak orang ketika kejadian ini viral. Dan terkait keberadaan mobil berplat nomor polisi ya di saat itu ketua RW yang bernama Boy Irfan dia mengatakan jika mobil itu ternyata bukan barang baru di sana. Dia sudah sering melihat kendaraan tersebut terparkir di garasi rumah bahkan sebelum kasus ini mencuat. Kemudian polisi memberikan update terbaru terkait barang-barang yang berkaitan dengan instansi kepolisian. Di saat itu, Briikjen Polisi AD Arishayam Indradi selaku Kabit Humas Polda Metro Jaya itu langsung membenarkan adanya temuan barang bukti yang berkaitan dengan polisi di TKP. di TKP tempat penculikan dan penganiayaan di pondok Aren ini. Namun, Adik Ari memastikan jika plat dinas polisi di mobil hitam itu adalah palsu. Beliau juga membenarkan bahwa polisi menemukan adanya senjata api di dalam rumah. Tapi setelah dicek, ternyata senjata tersebut bukanlah senjata api, melainkan hanyalah air shoftgun. Tapi meskipun begitu, Pak Adik Ari memastikan tidak ada keterlibatan oknum polisi dalam aksi penculikan dan penganiayaan ini. Jadi itu semua adalah polisi ee palsu atau gadungan gitu. Dan ya jadi sudah dikonfirmasi, Geng, kasus ini tidak ada kaitannya dengan pihak anggota dan mungkin adanya barang-barang tersebut sengaja diberikan ee identitas kepolisian oleh pelaku supaya tidak ada yang mengusik mereka lah. Seolah-olah mereka tuh keluarga polisi beneran. Jadi kurang lebih seperti itulah, Geng, fakta-fakta yang terungkap di dalam kasus ini dan bagaimana kronologinya, ya. Nah, sekarang kita akan masuk ke dalam pembahasan mengenai penangkapan dari pelaku ini yang kabarnya saat ini sudah ada orang yang diamankan. Kita bahas. Jadi, geng menurut kesaksian Air Langga selaku ketua RT sekitar jam 0.30 0.30 malam ya. Pak Erlangga ini didatangi oleh tiga anggota polisi dari tim Resmop Polda Metro Jaya pada hari Senin, hari yang sama ketika penggerebekan dilakukan dengan maksud meminta izin atau meminta sekaligus pendampingan ee proses penggeledahan di sebuah rumah yang berlokasi di Jalan Eboni 2. Nah, jadi apa ya? Langkah Bapak-Bapak polisi ini udah sesuai prosedur banget gitu, Geng, ya. Meminta izin kepada Ketua RT terlebih dahulu. Mendapatkan permintaan tersebut, Pak Air Langga pun menyanggupi dan segera menuju ke lokasi. Cuma pada saat itu, Pak Airlangga sampai di sana, ternyata proses penangkapan sudah terjadi sehingga dia tidak menyaksikan secara langsung proses penangkapan dari para pelaku. Pak Airlangga sempat melihat para terduga pelaku sudah diamankan dan berada di dalam mobil polisi. Dalam penggeledahan tersebut, polisi mengamankan lima orang yang diduga sebagai pelaku serta tiga orang korban. Dari lima pelaku ini, salah satunya adalah perempuan yang awalnya polisi hanya meminta pendampingan karena kasus tersebut diduga berkaitan dengan penyekapan. Tapi ketika proses penyertaan barang bukti dilakukan, polisi menemukan rekaman video penyiksaan terhadap tiga korban yang belakangan viral di sosial media. Nah, meskipun dikatakan pelaku yang sudah diamankan ini ada lima orang, pada saat itu pihak kepolisian mengkonfirmasi baru menangkap tiga orang pelaku terkait kasus penculikan dan penyiksaan dengan modus jual beli mobil di wilayah Pondok Aren ini. Nah, ketika itu, Geng, Kabit Humas Polda Metro Jaya yaitu Brickjen Paul Adari menyebutkan kalau pelaku berpura-pura sebagai pembeli mobil sebelum akhirnya melakukan penyiksaan terhadap korban. Nah, ini enggak tahu nih, Geng, mana yang benar. Karena awalnya dikatakan para pelaku ini berpura-pura jadi penjual. Namun dari keterangan Pak Adik Ari, pelaku ini malah dikatakan berpura-pura sebagai pembeli. Nah, keterangannya masih simpang siur. Dalam keterangan itu, Pak Adik Ari juga menghimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati ketika berkomunikasi khususnya dengan seseorang yang tidak dikenal. Karena insiden penipuan seperti ini menggunakan berbagai macam modus yang mana di antaranya menggunakan informasi dan transaksi elektronik atau ITE. telah kami sampaikan di medsos kami, kemudian Babin Kampas juga menyampaikan ada beberapa modus-modus kejahatan, penipuan, penggelapan. Ada juga yang menggunakan IT. Kami berharap kita masing-masing individu agar berhati-hati ya dalam berkomunikasi, bertransaksi harus waspada ya. Waspada. Dan pada saat itu dikatakan jika pihak kepolisian masih akan melakukan pendalaman terhadap kasus ini untuk dikembangkan agar mengetahui potensi adanya pelaku lain di dalam kasus ini. Karena enggak mungkin ya mereka seberani ini tanpa ada support dari banyak orang. Nah, jadi bisa dikatakan ini komplotan. Singkat cerita, Geng, dari pengembangan tersebut polisi berhasil mengidentifikasi empat pelaku lain yang kemudian ditangkap di sejumlah lokasi yang berbeda. Informasi yang gua dapatkan dari akun Instagram wargaarta.id. Dua orang di antara pelaku itu bernama Adrian dan Nunung. Mereka ditangkap di sebuah apartemen yang ada di kawasan Setia Budi, Jakarta Selatan. Pada saat ingin ditangkap, Adrian dan Nunung berusaha melarikan diri. Tapi beruntungnya upaya tersebut berhasil digagalkan oleh pihak kepolisian. Akhirnya mereka berdua diboyong menuju ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Kalau informasi dari akun tersebut, Nunung dan Adrian ini dikatakan ingin membeli mobil dari korban dengan cara menyicil, Geng. Mereka kemudian menyerahkan uang muka atau DP sebesar Rp75 juta. Namun entah karena mereka ini enggak sanggup untuk membayar cicilannya sehingga Nunung mencari-cari alasan kepada si korban. Dia bilang jika mobil tersebut sudah dijual ke orang lain. Nah, mungkin juga karena takut akan dilaporkan ke polisi. Nunung dan Adrian ini kemudian berupaya untuk membungkam korban dengan melakukan penyakapan dan penganiayaan terhadap korban. Nah, untungnya Desi yaitu sang istri berhasil lolos sehingga bisa melaporkan aksi kejahatan ini kepada polisi. Jadi itu, Geng. Jadi, si pelaku ini enggak mampu bayar mobil ternyata. Jadi, takut nanti jadi panjang masalahnya, diculiklah si pemilik mobil ini supaya tidak dilaporkan. Tapi malah ya pengin nyelesaiin masalah malah jadi lebih besar gitu ya masalahnya. Lalu ada kronologi lain juga yang berasal dari media warta kota nih. Ini ee entah benar entah enggak ya, tapi e gua ceritakan aja ke kalian. Dikatakan jika peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu tanggal 11 Oktober 2025 jam .30 11 malam ketika empat korban bertemu dengan Nunung tersebut di wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Jadi, pertemuannya itu bukan di Pondok Aren awalnya, melainkan di Jagakarsa terlebih dahulu. Dan pertemuan itu juga bukan dikarenakan Nunung yang ingin beli mobil, melainkan untuk membahas terkait transaksi jual beli yang terjadi tahun 2021. Jadi, mereka itu udah lama transaksinya, tapi kayaknya berbelit-belit enggak kelar-kelar. Dari informasi di media ini ya juga dikatakan jika Nunung ini memang menjadi penjualnya, Geng. dan korban dikatakan sudah mentransfer DP ke Nunung sebesar Rp49 juta. Di hari itu saat sedang memesan makanan, ada beberapa orang yang mendatangi mereka dan langsung merampas handphone serta tas milik mereka, milik si korban gitu. Di saat itu, Nunung dan beberapa orang yang merampas ini ya berteriak dengan kata koperatif koperatif sambil memasukkan keempat korban ke dalam mobil. Dan mata para korban ini ditutup dengan menggunakan kain hitam dan mereka dibawa ke sebuah rumah yang ada di Pondok Aren. Nah, kalau dari informasi ini, Pondok Aren sebagai lokasi ketika korban sudah disekap ya dan dianiaya. Nah, mereka tuh diambil ditangkap di Jagakarsa. Setibanya di lokasi, keempat korban dikeluarkan dari mobil dan digandeng masuk ke dalam rumah dan mereka ditempatkan di sebuah kamar yang berada di lantai dua rumah tersebut. Salah satu di antara mereka yang bernama Desi, satu-satunya perempuan yang menjadi korban berhasil melarikan diri pada keesokan paginya jam 5.00 pagi ketika para pelaku sedang tidur sehingga penjagaan terhadap para korban menjadi lengah. Nah, setelah berhasil keluar dari rumah itulah dia menumpang motor yang sedang lewat ya, minta bantuan orang dan melanjutkan perjalanan menggunakan taksi ke Polda Metro Jaya untuk membuat laporan polisi. Nah, itu dari informasi warta kota. Nah, tapi kalau dari informasi yang diberikan oleh pihak kepolisian nih, Geng. Jadi dikatakan Adrian itu menjual mobil ke Nunung. Mobilnya adalah mobil Alpart. DP-nya sebesar Rp75 juta. Namun, Nonung belum bisa membayar sisanya sebesar R00 juta. Cuma utang tersebut tidak dibayarkan bertahun-tahun oleh Nunung. Setelah enggak dibayar-bayar, Nunung ini malah e menjual mobil tersebut kepada si Desi. Nah, Adrian yang akhirnya menagih sisa pembayaran yang belum dilunasi oleh Nunung dan ingin bertemu dengan dia. Singkat cerita, bertemulah Nunung dengan Adrian. Dan dalam pertemuan itulah Nonu memberitahu kalau mobil yang belum bisa dia lunasi itu udah dia jual kepada seseorang yang bernama Desi. Nah, jadi udah manjang-manjang nih belum lunas malah dijual lagi. Dan oleh karena itu, Adrian dan Nunung sepakat untuk mencari Desi dan memintanya untuk melunasi pembayaran atas mobil tersebut. Yang mana seharusnya itu kan haknya Nunung. Nunung udah jual ke Desi. Harusnya uang yang dari Desi Nunung lunasin ke Adrian. Kenapa jadi Desin-nya yang jadi salah? Nah, agar Desi mau melunasi hutang itu, maka dilakukanlah aksi penculikan dan penyekapan serta penganiayaan tersebut. Dan secara total sudah ada se orang yang ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Selain Nunung, ada yang berinisial MAM berusia 41 tahun, VS berusia 33 tahun, terus ada HJE berusia 25 tahun, dan S berusia 35 tahun, terus ada inisial APN berusia 25 tahun, ee terus ada inisial Z berusia 34 tahun, inisial I yang usianya belum diketahui, dan MA yang berusia 39 tahun. Nah, belum diketahui juga, Geng. Manakah di antara mereka yang berinisial itu yang merupakan bernama Adrian itu belum diketahui orangnya yang mana. Mereka ini memiliki peran yang berbeda-beda. Mam sebagai koordinator lapangan, perencana, eksekutor, dan penyiksa korban. Dia juga berperan memeras dan menyediakan mobil untuk menculik korban. Nunung itu berperan sebagai koordinator lapangan, kemudian juga memancing agar korban mau bertemu dan dibawa ke lokasi penculikan. Nah, dia juga berperan memeras korban. Terus APN berperan untuk merekam video penyiksaan dan ikut di dalam proses membawa korban ke lokasi penculikan. Terus inisial VS berperan untuk menyuruh APN merekam video dan menyediakan rumah yang menjadi tempat penculikan. Nah, dia ikut menyiksa korban sekaligus menjaga korban agar tidak kabur. Terus ada lagi yang inisial, HJE, berperan menyiksa korban dan S berperan sebagai eksekutor menyiksa korban dan juga menyediakan rumah. Nah, yang inisial Z berperan sebagai penyiksa korban dan yang inisial I berperan sebagai eksekutor, koordinator lapangan, penyedia mobil, dan menyiksa korban. Dan yang terakhir, inisial MA berperan sebagai penyedia rumah. Nah, pihak kepolisian masih e bakal melakukan pendalaman atas kasus ini untuk mengetahui hubungan dari pelaku ee dan juga korban. Tapi ya ini bakal butuh proses yang panjang karena melibatkan banyak orang. Namun tentunya kasus ini begitu menggemparkan netizen masyarakat Indonesia ketika videonya viral di media sosial. Sebab tidak pernah ada kasus yang seperti ini sebelumnya di Indonesia yang berkaitan dengan penipuan. Apalagi sebelumnya ada dugaan ee kalau melibatkan oknum polisi di dalam kasus ini. Nah, untuk sementara baru itu aja, Geng, informasi terakhir yang bisa kita rangkum di dalam kasus yang aneh ini. Nanti kita tunggu update selanjutnya. Nah, Geng, ada informasi tambahan nih. Jadi, gua nemuin komentar dari salah satu netizen yang menyebutkan jika ketiga pria yang menjadi korban itu ternyata enggak sepenuhnya bisa dikatakan korban. Jadi, menurut komentar netizen ya, ketiga pria tersebut adalah pelaku penggelapan kendaraan yang mana hal ini yang membuat mereka menjadi korban penyekapan ini, Geng. Sementara si pelaku yang terlihat menyuruh mereka untuk mengoleskan cairan di lukanya justru sebenarnya adalah korban dari tiga pria yang disekap ini. Karena kendaraan mereka digelapkan oleh tiga pria yang mereka sekap. Nah, ini gue enggak tahu ya, Geng, informasinya valid atau enggak karena ini bukan berdasarkan keterangan dari polisi sih, melainkan hanya dari komentar netizen. Tapi menurut kalian gimana nih? Apakah komentar dari netizen ini benar adanya atau dia cuma ngarang? Coba deh menurut kalian. Oke, geng. Itu dia pembahasan kita mengenai kasus penculikan dan penganiayaan yang terjadi di Pondok Aren yang ternyata berawal dari sebuah transaksi jual beli mobil yang belum lunas. Gimana, Geng, menurut kalian? Coba tinggalkan komentar di bawah.