Transcript
u4My71weRjw • ACEH BLACKOUT WITHOUT ELECTRICITY! PEOPLE SUFFER AND NO NEWS IN THE MEDIA
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1557_u4My71weRjw.txt
Kind: captions Language: id Oke, hari ini kita bakal membahas tentang sebuah fenomena yang terjadi masih di negara kita. Tapi entah kenapa, kayaknya kita enggak melihat adanya postingan-postingan di media besar yang memberitakan tentang hal ini. Menurut gua, ini adalah sebuah kecurangan ya. Ditambah lagi yang paling parah yang akan gua bahas ini adalah adanya pemadaman secara besar-besaran yang mana ini merupakan e sebuah ketidakadilan karena orang udah bayar enggak pernah boleh telat. Tapi kalau misalkan dipadamkan malah kita harus memaklumi. Dan ini bukan main-main. Pemadamannya besar-besaran dan terjadi di ujung Indonesia di Aceh. Tentang apa sih sebenarnya? Pemadaman apa? ya, pemadaman listrik sesuai dengan judul dan thumbnail yang sudah kalian baca. Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Aceh mengeluhkan terjadinya pemadaman listrik yang cukup sering terjadi. Kondisi ini tentu menimbulkan berbagai dampak mulai dari aktivitas masyarakat hingga kerugian yang dialami pelaku usaha. Aceh Selatan mengeluh pemadaman listrik secara mendadak. Yang dilakukan oleh PLN sangat mengganggu warga. Apalagi pemadaman listrik terjadi saat waktu salat magrib. Akibat pemadaman listrik ini, warga tidak dapat beribadah di masjid dikarenakan azan yang tidak terdengar akibat pemadaman tersebut. Gua rasa banyak dari orang-orang yang eh enggak tahu dan tidak membicarakan hal ini. Mungkin tahunya dari keluarga atau teman-teman yang memang tinggal di Aceh. Ini hampir mirip-mirip dengan eh kejadian insiden kerusuhan di Yalimo Papua sana yang juga sempat kita bahas kemarin di video yang ini yang mana tidak semua orang tahu dan insiden tersebut tidak ada yang membahas. Media-media seakan tidak memberitakan apapun. Apakah ini karena terjadinya di penghujung Indonesia? Tapi kalau misalkan yang terjadi di Jakarta, contoh ya, rumah Ecopatrio di jarah, rumah Ahmad Shahroni di jarah, itu kayaknya heboh banget se-Indonesia. Giliran yang terkena rakyat kecil di ujung-ujung Indonesia, Papua dan Aceh kok enggak ada pemberitaannya. Ini benar-benar mengecewakan ya. Kenapa mengecewakan? Karena seperti yang kita tahu, sumber daya alam di seluruh Indonesia ya yang ada di daerah-daerah di Aceh, Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan sebagai lainnya gitu ya, itu biasanya dikeruk untuk membangun Jakarta. Dikeruk di sana katanya untuk pemerataan. Terus dibawa ke Jakarta, dibangunlah Jakarta ini semegah-megahnya. Jalan tol, gedung, fasilitas-fasilitas mewah dan segala macam. Tapi sedihnya penderitaan mereka di ujung sana jarang sekali dibicarakan, diberitakan. Jadi, Geng kabarnya itu ya Aceh mengalami pemadaman listrik selama 3 hari berturut-turut. Aceh blackout. Suasana di sana jadi gelap gulita. Ada yang harus memaksakan untuk tetap beraktivitas. Meskipun dengan kondisi tidak ada listrik, namun, ada juga yang harus berhenti aktivitasnya. Koneksi internet pun jadi terputus sehingga akses komunikasi untuk mengabarkan keluarga atau kerabat juga jadi terhambat. Karena menghambat produktivitas, masyarakat merasa dirugikan dari insiden pemadaman listrik selama beberapa hari di sana. Dan tentunya ini menimbulkan pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa pemadaman di Aceh bisa terjadi? Di video kali ini kita bakal membahas secara lengkap mengenai fenomena yang benar-benar merugikan masyarakat ini. Apa penyebabnya dan bagaimana dampak yang ditimbulkan di tengah-tengah masyarakat karena pemadaman tersebut? Kemudian apa yang dilakukan oleh pihak PLN untuk menangani pemadaman di Aceh? Nah, semuanya bakal kita bahas secara berurutan. Langsung aja. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry [Musik] Genggeng. Oke, untuk pembahasan pertama kita langsung masuk ke dalam inti pembahasan, yaitu kondisi Aceh saat terjadinya pemadaman listrik. Jadi, Geng, listrik di sebagian wilayah di Aceh mengalami pemadaman itu sejak hari Senin sore tanggal 29 September 2025. Listrik di Aceh Besar dan juga Banda Aceh mulai mengalami gangguan sejak jam .30 sore. Awalnya listrik sempat nyala dan mati lagi beberapa kali. Namun pada akhirnya barulah mati total, padam total. Sampai pada malam hari listrik juga belum kunjung menyala dan sejumlah warga jadi terpaksa keluar rumah untuk mencari warung kopi karena baterai handphone mereka sudah habis sehingga mereka harus mencari sumber listrik untuk ya men-charger handphone dan biasanya di ee apa ya kayak fasilitas-fasilitas warung kopi kayak gitu-gitu atau di hotel atau di mana gitu ya, itu kan ada genset gitu. Kondisi ini ternyata masih belum berubah hingga 2 hari ke depan. Aktivitas warga itu sudah terganggu dikarenakan barang-barang elektronik mereka jadi enggak bisa digunakan. Kalau dari sumber yang gua dapatkan ya, listrik memang sempat nyala di beberapa kawasan di Aceh, cuma tidak lama kemudian kembali padam. Di daerah Baitussalam Aceh Besar, listrik kembali padam sejak jam .00 siang pada hari Rabu tanggal 1 Oktober 2025. Gangguan listrik berhari-hari ini menyebabkan suplai air dari PDAM itu sampai terganggu. Kebayang tuh udah ggak ada listrik, suplai air PDAM juga enggak ada. Orang mau mandi gimana? Udah mana panas banget, engap ya kan AC enggak bisa nyala, kipas angin enggak bisa nyala. Di beberapa lokasi listrik sudah padam sejak Rabu pagi. Bahkan bahkan ada wilayah yang sudah mengalami pemadaman listrik dari hari Selasa sebelumnya. Pihak dari PLN itu sempat membagikan pengumuman pemadaman listrik di Aceh melalui saluran Instagram eh official atau Instagram resmi mereka. Dan kalian bisa lihat sendiri dari gambar yang gua tunjukkan ini. Banyak banget, Geng, wilayah yang terkena dampak pemadaman. Di Takengon, Aceh Tengah, ada beberapa warga yang mengeluhkan tidak bisa mendapatkan pasokan air bersih akibat pemadaman aliran listrik di seluruh Aceh. Salah satunya adalah yang bernama Diana. Dia adalah seorang ibu rumah tangga di Aceh Tengah yang berusia 37 tahun. Dia mengaku tidak bisa mengakses suplai air bersih dari PDAM Tirta Tawar. Listrik di rumahnya padam sekitar jam .00 sore sampai keesokan harinya di jam 3.00 dini hari. Listrik di saat itu sempat menyala tapi cuma beberapa jam aja, Geng. Dan tidak lama kemudian listriknya kembali padam. Menurut dia, pemadaman listrik kali ini adalah yang terparah. Dia baru merasakan pemadaman listrik selama 2 sampai 3 hari. Nah, karena menurut pengakuan Diana biasanya kalau terjadi pemadaman listrik seperti ini ya kurang lebih cuma 30 menit sampai 1 jam gitu udah bakal nyala kembali. Karena pemadaman listrik juga ya peralatan rumah tangga yang bergantung dengan listrik di rumah mereka jadi tidak bisa digunakan. Mau masak nasi jadi gak bisa karena biasanya dia menggunakan rice cooker. Jadi harus pakai dandang lagi ya mungkin ya pakai cara tradisional lah. Ikan-ikan yang disimpan di dalam kulkas pun membusuk. Dan karena suplai air bersih di rumahnya tidak ada, Diana terpaksa membeli air dari orang-orang yang menjual pasukan air bersih. Jadi kayak kembali ke zaman dulu gitu ya, sebelum listrik ada gitu. dan warga Aceh Tengah lain yang bernama Mira Oktania juga merasakan hal yang serupa. Dia mengaku dia sangat kerepotan dengan urusan rumah tangga karena tidak adanya aliran listrik. Dia jadi tidak bisa masak nasi. Kalau mau menghaluskan bumbu dengan blender jadi enggak bisa. Di rumahnya juga menggunakan pompa listrik. Jadi kalau tidak ada listrik maka tidak ada pasukan air bersih. Hal ini terpaksa membuat Mira dan keluarganya sampai tidak mandi selama 2 hari. Geng, di Banda Aceh ya ada seorang pegiat anti korupsi di LSM Gerak Aceh yang bernama Askalani. Dia ikut terdampak pemadaman listrik. Menurut dia, pemadaman listrik di sebagian besar di wilayah Aceh ini adalah yang paling buruk atau yang terburuk di dalam sejarah layanan publik bidang energi dibandingkan ketika kondisi Aceh setelah konflik dan bencana tsunami. Kebayang tuh? Jadi Aceh sekarang udah damai, udah enggak ada lagi konflik, bencana tsunami juga udah lewat. Tapi ini adalah pemadaman terburuk menurut dia. Saat konflik Aceh ya kata Askalani. Aliran listrik terganggu karena tiang-tiang penyangga sengaja dirobohkan. Saat tsunami mengguncang Aceh, gangguan aliran listrik juga menjadi persoalan penting. Cuma ya kondisi sekarang kan beda. Tidak ada situasi darurat di Aceh. Bahkan di sana energinya surplus. Ada daerah penghasil energi juga tapi malah terjadi pemadaman listrik. Dan itu besar-besaran lagi ya kan. seluruh Aceh yang terdampak, bukan satu daerah, satu kabupaten, atau satu kota. Nah, untuk itulah Askalani ini mengatakan bahwa pemadaman listrik kali ini menjadi yang terpanjang di dalam sejarah. Dia juga mengaku sampai harus mengalami kerugian hampir Rp10 juta karena usaha milik istrinya. Jadi, istrinya ini kayak bikin kue atau cake-cake gitulah, Geng, ya. Yang mana sangat membutuhkan listrik sampai akhirnya tidak bisa beroperasi selama 3 hari. Kerugian itu juga belum termasuk dengan alat-alat elektronik rumah yang rusak karena listrik yang BPAD. Nah, jadi BPAD ini sendiri adalah sebuah kondisi di mana terjadinya ketidakstabilan tegangan listrik yang menyebabkan alat-alat elektronik jadi mati nyala berulang kali dan itu menyebabkan alat tersebut rusak. Askalani juga mengatakan pemadaman listrik yang baru-baru ini terjadi itu benar-benar enggak wajar. Karena biasanya listrik itu padam tidak lebih dari 2 jam dan terpola seperti ketika sebelum masuk bulan Ramadan. Dan biasanya sudah ada pemberitahuan terlebih dahulu terkait akan adanya pemadaman listrik. Nah, tapi ini benar-benar enggak ada, Geng. Dan pemadaman listrik juga berdampak pada sektor usaha kecil atau UMKM seperti yang diceritakan oleh Sajidin atau yang akrab disapa ee Pak Jidin gitu ya. Dia ini adalah pengusaha jasa rostery biji kopi di Aceh Tengah yang mana dia mengalami kerugian sampai Rp15 juta karena pemadaman listrik selama 3 hari. Kasihan banget ya sehari R5 juta loh ruginya. Nah, Jidin ini mengaku padamnya aliran listrik di Aceh kemarin menjadi yang terparah sejak usahanya dibangun pada tahun 2018. Pemadaman arus listrik oleh PLN tidak pernah sampai sehari penuh. Sebenarnya Pak Jidin ini sudah berupaya mengantisipasi pemadaman listrik dengan menggunakan generator. Tapi sayangnya pada saat pemadaman terjadi kemarin, generatornya itu sedang rusak. Sehingga Pak Jidin ini terpaksa menghentikan operasional bisnisnya selama 3 hari penuh. Karyawannya juga merasa ee apa ya? jenuhlah karena tidak ada kegiatan. Sementara ketika karyawannya masuk, Pak Jidin harus tetap membayar karyawannya. Kerugian ini juga dirasakan oleh para pengusaha laundry yang memang bisnisnya mengandalkan listrik gitu, Geng. Nah, salah satunya yang bernama Ahadiyah. Dia mengaku dia jadi tidak bisa mencuci pakaian dari pelanggannya karena tidak adanya aliran listrik. Sejak PLN memadamkan ya aliran listrik di Aceh, kerugian yang dialami oleh usaha laundri ini itu mencapai Rp1 juta per harinya. Dan Ahadiyah ini tidak pernah tahu bahwa akan terjadi pemadaman listrik dan dia baru mengetahui setelah melihat pemberitahuan resmi dari PLN di media sosial. Jadi apa ya bisa dikatakan ya mungkin masyarakat daerah ya enggak terlalu melag dengan Instagram gitu. Mereka enggak tahu bahwa pemberitahuannya itu ada di Instagram. Dan Ahadiyah ini baru mengetahui soal pemadaman ini ya setelah pemadaman itu berlangsung sejak Senin pagi. Sama seperti yang lain, Ahadiyah ini mengatakan bahwa pemadaman tersebut menjadi pemadaman terparah selama dia mendirikan usahanya di Aceh. Bahkan bersama pelanggannya, A hadiah ini sampai harus begadang, Geng, untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan milik pelanggannya selama pemadaman berlangsung. Jadi, biasanya bisa dikeringkan pakai listrik, bisa pakai setrika listrik. Nah, ini jadi manual semua. Terus geng, ada lagi cerita dari seseorang yang bernama Muhammad Hatta. Dia ini merupakan warga dari gampung atau Desa Blangraja. Dia berasal dari Kecamatan Babarot, Kabupaten Aceh Barat Daya. Sekaligus dia ini adalah peternak ayam. Nah, dia mengaku mengalami kerugian besar akibat pemadaman listrik yang berlangsung selama 3 hari. Sebanyak 18.000 ekor ayam boiler yang siap panen itu mati secara massal akibat kepanasan. Buset, sedih banget ya. 18.000 R000 ekor loh. Hal itu membuat dia mengalami kerugian sampai Rp800 juta. Dia menjadi salah satu e pengusaha peternakan ayam yang menggunakan sistem kandang close house dan memerlukan blower atau kipas untuk sirkulasi udara sehingga kandang ayam milik dia itu sangat bergantung pada arus listrik. 18.000 Rib ekor ayam yang sudah mati di saat ini sudah dikubur dan dia terpaksa untuk menyewa ekskavator untuk menggali pasir yang mana itu membuat dia harus mengeluarkan modal lagi. Nah, di sini kan rasanya sakit banget ya. Kita enggak bayar listrik sehari, 2 hari, sebulan listrik kita diputus. Tapi ketika PLN memadamkan listrik kita kayak gini, kita harus apa ya? Kita harus memaklumi mereka. Nah, inilah ketika sebuah badan usaha tidak ada persaingannya. Jadi, kayak kita tuh enggak punya pilihan. Coba misalkan kayak kalian eh mendaftar provider internet, kalau satu provider pelayanannya tidak bagus, kita punya pilihan untuk pindah ke provider lain. Nah, tapi kalau untuk listrik satu-satunya enggak ada swastanya, enggak ada saingannya. Makanya ini kita disemena-menakan kayak gini nih. Ya udah, mau enggak mau ikhlas aja. Dia juga menceritakan ketika hari pertama lampu padam di hari Senin, dia sudah panik dan kalangkabut dikarenakan tidak adanya pemberitahuan terlebih dahulu dari pihak PLN. Dan begitu pemadaman terjadi, Hatta ini langsung mengkonfirmasi ke pihak PLN dan juga melalui aplikasi gitu ya. Dia menanyakan berapa lama listrik akan padam karena Hatta khawatir ayam miliknya sudah besar dan sudah siap panen. Tanpa adanya pemberitahuan yang pasti, akhirnya kondisi listrik padam ternyata berlangsung selama 3 hari. Selama itu juga geng Hatta memasuk listrik ke kandang menggunakan genset. Tapi sayangnya hari ketiga yaitu di hari Rabu sekitar jam 3.00 sore gensetnya rusak karena tidak pernah dimatikan alias dinyalakan nonstop selama 3 hari. Jadi kayak capek gitu gensetnya. Akhirnya ya menyebabkan usahanya rugi besar. Selain barang-barang elektronik yang enggak bisa berfungsi, akses internet dan telepon di Aceh juga ikut terganggu. Kondisi ini dirasakan oleh warga Aceh Barat dan warga Nagan Raya yang terganggu jaringan telepon dan internetnya di hari Selasa siang sampai malam pada tanggal 30 September 2025. jaringan dari provider Telkomsel yang menjadi operator terbesar di Aceh Selatan dan sekitarnya dikeluhkan karena langsung lumpuh setiap kali listrik padam. Salah satu warga Kecamatan Sama 2 yang bernama AD itu mengatakan pemadaman listrik membuat sinyal handphone hilang total sehingga untuk berkomunikasi baik dari telepon yang biasa sampai dengan WhatsApp gitu ya itu ikut terhambat. Padahal menurut pengakuan AD di sana ada tiga tower BTS tapi tetap aja enggak bisa membantu untuk memulihkan jaringan komunikasi dan internet di sana. jadi sulit untuk memantau kabar di internet terkait informasi terkini dari PLN. Kapan listrik bakal menyala dan wilayah mana aja yang mengalami pemadaman dan sebagainya itu informasinya benar-benar hilang. Kebayang ya gimana tersiksanya warga Aceh gara-gara pemadaman listrik ini. Gangguan kelistrikan yang terjadi di hari Senin menyebabkan PLN membutuhkan waktu untuk mengoperasikan kembali pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU yang ada di Nagan Raya dan pembangkit listrik tenaga mesin gas atau PLTMG yang ada di Arun. Nah, gangguan itu menyebabkan berkurangnya pasokan daya listrik yang melayani pelanggan sekitar MW. Dan karena berkurangnya pasokan listrik ini, maka dengan sangat terpaksa PLN melakukan manajemen beban. Sebab PLN harus memprioritaskan rumah sakit, bandara, dan objek-objek yang vital serta fasilitas umum lain. PLN disebut sudah mengirimkan 839 personel ke lapangan untuk memulihkan kembali sistem kelistrikan. Jadi, ya kurang lebih begitulah, Geng, ya. Kondisi di Aceh ketika pemadaman listrik yang terjadi selama 3 hari berturut-turut. Benar-benar kayak balik ke zaman batu kayaknya. Sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan mengenai penyebab dari pemadaman listrik ini. Ada apa sih sebenarnya? Jadi, Geng, alhamdulillah saat ini ya e kondisinya sudah kembali normal. Jadi dari hari Kamus tanggal 2 Oktober 2025 sejak jam ee 127 dini hari, PLN UP3 Banda Aceh mengungkapkan berhasil memulihkan kembali 100% sistem kelistrikan di Aceh. Di saat itu, Jenderal PLN Unit Induk Distribusi atau UI Aceh yang bernama Mudakir ee dia mengatakan personel gabungan lintas unit PLN di Aceh dikerahkan untuk merespons gangguan dan bekerja selama 24 jam penuh untuk mempercepat pemulihan pasukan listrik di Aceh. Petugas di lapangan juga tetap bersiaga untuk memastikan pasukan listrik tetap tersedia, khususnya prioritas pada sektor vital seperti rumah sakit, fasilitas pemerintahan juga, terus pusat komunikasi hingga pusat-pusat pelayanan publik. PLN menyebutkan akan terus melakukan evaluasi secara menyeluruh untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan sehingga masyarakat bisa menikmati listrik sebagaimana biasanya. dan PLN juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang sempat dirasakan oleh masyarakat sekaligus mengapresiasi ya kesabaran dan pengertian seluruh masyarakat Aceh selama proses pemulihan berlangsung. Pasti kalian penasaran kan penyebabnya apa sih sebenarnya? Ada apa? Kalau isu-isunya sih aneh-aneh banget. Ada yang bilang, "Wah, ini lagi ada berita yang apa ya yang harus disembunyikan. sedang ada pemasukan bla bla bla bla di Aceh, sedang ada ini, sedang ada itu. Jadi intinya adalah karena media sekarang tergantung pada listrik ya, tergantung pada daya gitu ya. Jadi seolah-olah pemadaman listrik di Aceh itu karena ada sebuah agenda. Entah itu agenda apa. Nah, itu adalah rumor yang tersebar di kalangan netizen. Tapi, geng, ada sedikit penjelasan yang gua dapatkan nih. Ini kalian percaya enggak percaya ya dengan penjelasan ini. Tapi ya semoga informasi ini dapat membantu. Jadi dikatakan ya manajer komunikasi dan tanggung jawab sosial lingkungan atau TJSL PLN Aceh yang bernama Lukman Hakim, dia menyebutkan bahwa gangguan tersebut terjadi akibat permasalahan pada interkoneksi transmisi 150 kVt di Biren Arun, Aceh. Nah, sistem yang terganggu inilah yang menyebabkan pasukan listrik di sebagian daerah Aceh jadi tidak stabil. Beruntungnya gitu ya, bukan karena terjadi kerusakan di pembangkit listriknya. Meskipun begitu, tetap aja bagi masyarakat pemadaman listrik ini sangat merugikan apalagi yang punya usaha. Jadi alasannya sesimpel itu, sesingkat itu. Sekarang gua pengin ajak kalian ya untuk membahas dampak dari pemadaman listrik di Aceh bagi masyarakat. Seperti apa sih dan apakah ada tuntutan dari masyarakat? Nah, sekarang kita bahas. Masyarakat Aceh semua serempak mengatakan kalau mereka sangat dirugikan dengan pemadaman listrik selama 3 hari di sana. Ditambah dengan tidak adanya pemberitahuan PLN sebelumnya sehingga membuat mereka jadi tidak bisa melakukan upaya mitigasi. Pemberitahuannya ya kayak biasa aja gitu dari apa ee postingan Instagram. Jadi enggak semua orang main Instagram. Apalagi di Aceh itu ada beberapa tempat yang memang orang belum e terlalu apa ya familiar dengan Instagram. Jujur, Geng, ada beberapa tempat di Aceh itu yang masih mereka itu masih terpatuk sama TV, belum tahu apa itu YouTube, apa itu Instagram, TikTok ada. Karena masih banyak pelosok-pelosok yang tertinggal di sana. Oleh karena itu, ya masyarakat aja meminta kompensasi dari PLN terkait kerugian yang mereka dapatkan selama berhari-hari. Ada yang meminta agar listrik di rumah mereka atau di tempat usaha mereka digratiskan selama sebulan penuh. Ada juga yang meminta agar PLN mengganti kerugian yang mereka alami sepenuhnya. Nah, permintaan masyarakat Aceh terkait ingin agar PLN memberikan kompensasi bukan tanpa alasan. Sebab kompensasi ini sudah diatur di dalam Peraturan Menteri Nomor 2 tahun 2025 tentang perubahan kedua atas Permen ESDM nomor 27 tahun 2017 tentang tingkat mutu pelayanan dan biaya terkait penyaluran tenaga listrik oleh PLN. Nah, jadi apa ya? Masyarakat tuh udah pintar. Karena logika sederhana dan logika bodohnya aja nih kayak lu bikin aturan, kita harus bayar tepat waktu supaya listrik kita berjalan. Tapi ketika lu bikin kesalahan pemadaman listrik secara sepihak, lu kayak enggak merasa bersalah, enggak ngasih komensasi apa-apa, minta maaf doang. Udah gitu merasa bangga karena sudah berhasil mengatasi masalah tersebut. Itu mah bukan apa ya, bukan sesuatu yang patut diapresiasi. Itu kan memang tugas lu gitu, tanggung jawab lu untuk menjaga kestabilan tersebut. Terus juga kalimat mengapresiasi masyarakat yang sudah bersabar itu benar-benar kayak aneh banget. Harusnya enggak gitu sih. Cara mengapresiasinya bukan melalui lisan atau tulisan, tapi justru memberikan manfaat ganti rugi kepada masyarakat yang sudah mengalami kerugian. Nah, itu yang paling benar. Dan ternyata ya peraturan menteri ada tadi sudah gua sebutkan. Jadi secara hukum mereka itu wajib mengganti rugi. Regulasi ini tadi ya menjelaskan dalam hal lama gangguan di atas besaran tingkat mutu pelayanan tenaga listrik selama 1 jam per bulan atau ketentuan dari Menteri ESDM, maka konsumen berhak mendapatkan kompensasi. Ada beberapa ketentuan pemberian kompensasi berdasarkan peraturan tersebut, yaitu 50% dari biaya beban atau rekening minimum jika lama gangguan sampai dengan 2 jam di atas besaran tingkat mutu pelayanan tenaga listrik. Ini kan sudah 3 hari tuh gimana tuh hitungannya? dan 75% dari biaya beban atau rekening minimum jika lama gangguan lebih dari 2 jam sampai dengan 4 jam di atas besaran tingkat mutu pelayanan tenaga listrik. Terus ganti rugi sebesar 100% dari biaya beban atau rekening minimum jika lama gangguan lebih dari 4 sampai dengan 8 jam di atas besaran tingkat mutu pelayanan tenaga listrik. Ini 3 hari udah lebihnya jauh banget. Terus 200% biaya beban atau rekening minimum jika lama gangguan lebih dari 8 jam sampai dengan 16 jam di atas besaran tingkat mutu pelayanan tenaga listrik dan 300% dari biaya beban ee atau rekening minimum jika lama gangguan lebih dari 16 jam atau sampai 40 jam di atas besaran tingkat mutu pelayanan listrik. Yang paling besar adalah 500% dari biaya beban atau rekening minimum jika lama gangguan lebih dari 40 jam di atas besaran tingkat mutu pelayanan tenaga listrik. Kalian hitung deh tuh. 1 hari 24 jam, 3 hari berapa? Lebih dari 40 jam ya. Sudah masuk ke 60 lebih malah sudah masuk ke 72 jam. Koreksi gua kalau salah dalam menghitung ya. Jadi kompensasinya gede banget seharusnya yang harus dibayarkan oleh PLN. Tapi nanti kita lihat apakah PLN bisa mematuhi peraturan pemerintah tersebut. Karena seperti yang kita ketahui PLN sendiri adalah milik pemerintah. BUMN badan usaha milik negara. Apakah ya negara akan mematuhi aturan yang dibuat sendiri oleh negara? Kita lihat kenyataannya nanti. Di saat itu, Geng, Sekretaris Eksekutif Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia atau YLKi yang bernama Rio Priambodo itu menekankan bahwa kejadian pemadaman listrik di Aceh menjadi alarm mengenai keandalan infrastruktur jaringan PLN. Alasan adanya gangguan teknis harus dijelaskan secara terbuka ke publik oleh PLN. teknis seperti apa, teknis macam apa, dan harus memiliki bukti yang kuat mengapa pemadaman bisa terjadi. Nah, kemudian Rio ini juga menekankan seharusnya ada tim independen yang melakukan investigasi misalkan dari pihak Kementerian ESDM yang juga memverifikasi alasan dari PLN. Nah, Rio mengingatkan pihak PLN untuk tidak lepas dari tanggung jawab ganti rugi kepada konsumen karena semuanya sudah diatur di dalam peraturan yang gua jelaskan sebelumnya. Nah, sejalan dengan itu, PLN juga didesak untuk membuka atas koreksi agar hal serupa tidak berulang atau setidaknya diminimalisir di kemudian hari. Di sisi lain, konsumen bisa melakukan proses litigasi berupa gugatan class action agar mendorong perbaikan kualitas pelayanan PLN di kemudian hari. YKI itu melihat perlu adanya perbaikan secara menyeluruh atau sistematik baik dari instalasi keadaan infrastruktur dan mitigasi kejadian pemadaman massal. Sebab mau bagaimanapun di sini konsumen atau masyarakatlah yang paling dirugikan. Aduh, gua kalau misalkan berbicara tentang PLN kayak enggak yakin gitu, Geng. Bakal ditangani. Ya sesimpel ini deh, Geng. Carut-marutnya kabel-kabel di tiang listrik. Emang pernah ditangani atau di-handle untuk dirapikan? Mana pernah. Negara kita tuh kayak 100 tahun tertinggal daripada negara-negara lain dengan pembandangan carut-marutnya kabel listrik. Ya, begitulah. Dan dilihat dari data YLKi mengenai profil pengaduan konsumen 2024, masalah pemadaman listrik menjadi contoh buruk yang terulang terus-menerus. Sebanyak 42,9% permasalahan listrik yang diadukan konsumen adalah soal pemadaman dan di bawahnya ada dua perihal lain, yaitu soal tagihan listrik yang semakin hari semakin melonjak. Terus, Geng, koordinator publish what You Pay atau PWPY yang bernama Pak Arianto Nugroho itu mewanti-wanti kinerja PLN yang tidak sejalan dengan laba besar yang mereka dapatkan setiap tahunnya. Di tahun 2024, PLN memperoleh laba bersih sebesar 17,76 triliun dengan total pendapatan mencapai 545 triliun. Bahkan, Geng, di kuartal pertama 2025 laba sudah mencapai di angka 16 triliun. Hal tersebut dinilai ironis karena pemadaman listrik yang terus berulang dengan alasan teknis yang sering sekali lambat diidentifikasi dan dipulihkan sementara mereka menikmati hasil uang pembayaran listrik setiap tahunnya dari masyarakat. Nah, secara kritis ya hal ini mencerminkan masalah prioritas alokasi dana. Meskipun mendapatkan untung besar, investasi untuk pemeliharaan infrastruktur dan pencegahan gangguan sepertinya tidak proporsional. Dan menurut beliau, PLN mulai tidak menggantungkan pasukan batu bara sebagai bahan baku listrik. Masalah pemadaman di Aceh yang disebabkan tidak tersalurnya energi dari PLTU itu menjadi tanda bahwa tidak selamanya batu bara bakal terus menjadi pemasuk tunggal atau satu-satunya. Di saat itu ya menurut Pak Arianto, alternatif energi terbarukan seperti energi matahari, angin, mikroidro, bahkan energi pasang surut atau gelombang laut itu bisa menjadi pengganti sumber listrik. Sumber-sumber tersebut tidak hanya mengurangi emisi karbon, tapi juga lebih tahan terhadap gangguan teknis karena bersifat terdistribusi dan modular. Di Aceh sendiri, potensi angin dan sinar matahari bisa dimanfaatkan untuk sistem hybrid yang lebih stabil. Namun, implementasinya memerlukan kebijakan yang kuat dan yang terpenting memastikan transisi ini adil dan melibatkan masyarakat sehingga masalah seperti pemadaman bisa diminimalisir di masa depan. Kemudian ada rencana usaha penyediaan tenaga listrik atau RUPTL tahun 2025 sampai 2034 yang dirilis oleh PLN yang mana menunjukkan ketidaksesuaian dengan komitmen Indonesia. Komitmen yang dimaksud ini adalah menghentikan seluruh pembangkit listrik berbasis energi fosil seperti yang disampaikan oleh pemerintah di dalam forum KT G20 di Brazil pada bulan November 2024. RUPTL tersebut masih mencakup penambahan PLTU berbasis Batubayera sebesar 6,3 GW sampai tahun 2034. Dan untuk itu, Ketua Komisi 3 DPR Aceh yang bernama Aisyah Ismail meminta PLN memberikan kompensasi segera kepada masyarakat Aceh yang sudah 3 hari terdampak pemadaman listrik. Aisyah itu menyampaikan hal ini setelah melakukan inspeksi bersama dengan anggota Komisi 3 DPR Aceh yang lain mengenai pemadaman listrik ke PLN UID Aceh di Banda Aceh. Beliau ini mendorong PLN melakukan perbaikan karena ya saat ini pemerintah Aceh sedang mencari investasi. Karena ingin mendorong investasi di wilayah tersebut, pasukan listriknya juga harus siap. Dan anggota DPR yang bernama Musdi Fauzi mengaku kompensasi sudah sangat layak diberikan oleh PLN dan itu harus. Hal ini dikarenakan pemadaman yang dilakukan tanpa adanya pemberitahuan yang jelas dan berlangsung selama berjam-jam. Bukan berjam-jam sih, berhari-hari ya, 72 jam. Dan sementara itu, pihak PLN sendiri mengatakan bahwa pemadaman ini bukanlah hal yang mereka kehendaki. Terkait dengan tuntutan kompensasi, PLN mengaku sebagai perusahaan negara pasti bakal patuh dan juga akan ee apa ya tunduk terhadap aturan yang berlaku. ee dikatakan juga ya jika PLN masih menunggu hasil investigasi oleh tim independen dan juga kementerian ya sebagai langkah pencegahan pemadaman listrik ke depannya dan PLN bakal melakukan evaluasi terhadap pemeliharaan dari hulu ke hilir dan berkolaborasi dengan semua pihak atau kalangan agar kelistrikan tetap optimal dan bisa dinikmati serta memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Jadi gitu, Geng ya. Pembahasan kita kali ini mengenai pemanaman listrik di Aceh. Kira-kira ada enggak di antara kalian yang mengalami hal ini mungkin yang berasal dari Aceh? Menurut kalian, kalian akan mendapatkan kompensasi atau enggak dari PLN? Ayo kita tebak-tebakan. Tinggalkan komentar di bawah.