Transcript
u4My71weRjw • ACEH BLACKOUT WITHOUT ELECTRICITY! PEOPLE SUFFER AND NO NEWS IN THE MEDIA
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1557_u4My71weRjw.txt
Kind: captions
Language: id
Oke, hari ini kita bakal membahas
tentang sebuah fenomena yang terjadi
masih di negara kita. Tapi entah kenapa,
kayaknya kita enggak melihat adanya
postingan-postingan di media besar yang
memberitakan tentang hal ini. Menurut
gua, ini adalah sebuah kecurangan ya.
Ditambah lagi yang paling parah yang
akan gua bahas ini adalah adanya
pemadaman secara besar-besaran yang mana
ini merupakan e sebuah ketidakadilan
karena orang udah bayar enggak pernah
boleh telat. Tapi kalau misalkan
dipadamkan malah kita harus memaklumi.
Dan ini bukan main-main. Pemadamannya
besar-besaran dan terjadi di ujung
Indonesia di Aceh. Tentang apa sih
sebenarnya? Pemadaman apa? ya, pemadaman
listrik sesuai dengan judul dan
thumbnail yang sudah kalian baca. Dalam
beberapa hari terakhir, masyarakat Aceh
mengeluhkan terjadinya pemadaman listrik
yang cukup sering terjadi. Kondisi ini
tentu menimbulkan berbagai dampak mulai
dari aktivitas masyarakat hingga
kerugian yang dialami pelaku usaha.
Aceh Selatan mengeluh pemadaman listrik
secara mendadak. Yang dilakukan oleh PLN
sangat mengganggu warga. Apalagi
pemadaman listrik terjadi saat waktu
salat magrib.
Akibat pemadaman listrik ini, warga
tidak dapat beribadah di masjid
dikarenakan azan yang tidak terdengar
akibat pemadaman tersebut.
Gua rasa banyak dari orang-orang yang eh
enggak tahu dan tidak membicarakan hal
ini. Mungkin tahunya dari keluarga atau
teman-teman yang memang tinggal di Aceh.
Ini hampir mirip-mirip dengan eh
kejadian insiden kerusuhan di Yalimo
Papua sana yang juga sempat kita bahas
kemarin di video yang ini yang mana
tidak semua orang tahu dan insiden
tersebut tidak ada yang membahas.
Media-media seakan tidak memberitakan
apapun. Apakah ini karena terjadinya di
penghujung Indonesia? Tapi kalau
misalkan yang terjadi di Jakarta, contoh
ya, rumah Ecopatrio di jarah, rumah
Ahmad Shahroni di jarah, itu kayaknya
heboh banget se-Indonesia. Giliran yang
terkena rakyat kecil di ujung-ujung
Indonesia, Papua dan Aceh kok enggak ada
pemberitaannya. Ini benar-benar
mengecewakan ya. Kenapa mengecewakan?
Karena seperti yang kita tahu, sumber
daya alam di seluruh Indonesia ya yang
ada di daerah-daerah di Aceh,
Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan sebagai
lainnya gitu ya, itu biasanya dikeruk
untuk membangun Jakarta. Dikeruk di sana
katanya untuk pemerataan. Terus dibawa
ke Jakarta, dibangunlah Jakarta ini
semegah-megahnya. Jalan tol, gedung,
fasilitas-fasilitas mewah dan segala
macam. Tapi sedihnya penderitaan mereka
di ujung sana jarang sekali dibicarakan,
diberitakan.
Jadi, Geng kabarnya itu ya Aceh
mengalami pemadaman listrik selama 3
hari berturut-turut. Aceh blackout.
Suasana di sana jadi gelap gulita. Ada
yang harus memaksakan untuk tetap
beraktivitas. Meskipun dengan kondisi
tidak ada listrik, namun, ada juga yang
harus berhenti aktivitasnya. Koneksi
internet pun jadi terputus sehingga
akses komunikasi untuk mengabarkan
keluarga atau kerabat juga jadi
terhambat. Karena menghambat
produktivitas, masyarakat merasa
dirugikan dari insiden pemadaman listrik
selama beberapa hari di sana. Dan
tentunya ini menimbulkan pertanyaan, apa
yang sebenarnya terjadi? Mengapa
pemadaman di Aceh bisa terjadi? Di video
kali ini kita bakal membahas secara
lengkap mengenai fenomena yang
benar-benar merugikan masyarakat ini.
Apa penyebabnya dan bagaimana dampak
yang ditimbulkan di tengah-tengah
masyarakat karena pemadaman tersebut?
Kemudian apa yang dilakukan oleh pihak
PLN untuk menangani pemadaman di Aceh?
Nah, semuanya bakal kita bahas secara
berurutan. Langsung aja. Halo, Geng.
Welcome back to Kamar Jerry
[Musik]
Genggeng. Oke, untuk pembahasan pertama
kita langsung masuk ke dalam inti
pembahasan, yaitu kondisi Aceh saat
terjadinya pemadaman listrik.
Jadi, Geng, listrik di sebagian wilayah
di Aceh mengalami pemadaman itu sejak
hari Senin sore tanggal 29 September
2025. Listrik di Aceh Besar dan juga
Banda Aceh mulai mengalami gangguan
sejak jam .30 sore.
Awalnya listrik sempat nyala dan mati
lagi beberapa kali. Namun pada akhirnya
barulah mati total, padam total. Sampai
pada malam hari listrik juga belum
kunjung menyala dan sejumlah warga jadi
terpaksa keluar rumah untuk mencari
warung kopi karena baterai handphone
mereka sudah habis sehingga mereka harus
mencari sumber listrik untuk ya
men-charger handphone dan biasanya di ee
apa ya kayak fasilitas-fasilitas warung
kopi kayak gitu-gitu atau di hotel atau
di mana gitu ya, itu kan ada genset
gitu. Kondisi ini ternyata masih belum
berubah hingga 2 hari ke depan.
Aktivitas warga itu sudah terganggu
dikarenakan barang-barang elektronik
mereka jadi enggak bisa digunakan. Kalau
dari sumber yang gua dapatkan ya,
listrik memang sempat nyala di beberapa
kawasan di Aceh, cuma tidak lama
kemudian kembali padam. Di daerah
Baitussalam Aceh Besar, listrik kembali
padam sejak jam .00 siang pada hari Rabu
tanggal 1 Oktober 2025. Gangguan listrik
berhari-hari ini menyebabkan suplai air
dari PDAM itu sampai terganggu. Kebayang
tuh udah ggak ada listrik, suplai air
PDAM juga enggak ada. Orang mau mandi
gimana? Udah mana panas banget, engap ya
kan AC enggak bisa nyala, kipas angin
enggak bisa nyala. Di beberapa lokasi
listrik sudah padam sejak Rabu pagi.
Bahkan bahkan ada wilayah yang sudah
mengalami pemadaman listrik dari hari
Selasa sebelumnya. Pihak dari PLN itu
sempat membagikan pengumuman pemadaman
listrik di Aceh melalui saluran
Instagram eh official atau Instagram
resmi mereka. Dan kalian bisa lihat
sendiri dari gambar yang gua tunjukkan
ini. Banyak banget, Geng, wilayah yang
terkena dampak pemadaman.
Di Takengon, Aceh Tengah, ada beberapa
warga yang mengeluhkan tidak bisa
mendapatkan pasokan air bersih akibat
pemadaman aliran listrik di seluruh
Aceh. Salah satunya adalah yang bernama
Diana. Dia adalah seorang ibu rumah
tangga di Aceh Tengah yang berusia 37
tahun. Dia mengaku tidak bisa mengakses
suplai air bersih dari PDAM Tirta Tawar.
Listrik di rumahnya padam sekitar jam
.00 sore sampai keesokan harinya di jam
3.00 dini hari. Listrik di saat itu
sempat menyala tapi cuma beberapa jam
aja, Geng. Dan tidak lama kemudian
listriknya kembali padam. Menurut dia,
pemadaman listrik kali ini adalah yang
terparah. Dia baru merasakan pemadaman
listrik selama 2 sampai 3 hari. Nah,
karena menurut pengakuan Diana biasanya
kalau terjadi pemadaman listrik seperti
ini ya kurang lebih cuma 30 menit sampai
1 jam gitu udah bakal nyala kembali.
Karena pemadaman listrik juga ya
peralatan rumah tangga yang bergantung
dengan listrik di rumah mereka jadi
tidak bisa digunakan. Mau masak nasi
jadi gak bisa karena biasanya dia
menggunakan rice cooker. Jadi harus
pakai dandang lagi ya mungkin ya pakai
cara tradisional lah. Ikan-ikan yang
disimpan di dalam kulkas pun membusuk.
Dan karena suplai air bersih di rumahnya
tidak ada, Diana terpaksa membeli air
dari orang-orang yang menjual pasukan
air bersih. Jadi kayak kembali ke zaman
dulu gitu ya, sebelum listrik ada gitu.
dan warga Aceh Tengah lain yang bernama
Mira Oktania juga merasakan hal yang
serupa. Dia mengaku dia sangat kerepotan
dengan urusan rumah tangga karena tidak
adanya aliran listrik. Dia jadi tidak
bisa masak nasi. Kalau mau menghaluskan
bumbu dengan blender jadi enggak bisa.
Di rumahnya juga menggunakan pompa
listrik. Jadi kalau tidak ada listrik
maka tidak ada pasukan air bersih. Hal
ini terpaksa membuat Mira dan
keluarganya sampai tidak mandi selama 2
hari. Geng, di Banda Aceh ya ada seorang
pegiat anti korupsi di LSM Gerak Aceh
yang bernama Askalani. Dia ikut
terdampak pemadaman listrik. Menurut
dia, pemadaman listrik di sebagian besar
di wilayah Aceh ini adalah yang paling
buruk atau yang terburuk di dalam
sejarah layanan publik bidang energi
dibandingkan ketika kondisi Aceh setelah
konflik dan bencana tsunami. Kebayang
tuh? Jadi Aceh sekarang udah damai, udah
enggak ada lagi konflik, bencana tsunami
juga udah lewat. Tapi ini adalah
pemadaman terburuk menurut dia. Saat
konflik Aceh ya kata Askalani. Aliran
listrik terganggu karena tiang-tiang
penyangga sengaja dirobohkan. Saat
tsunami mengguncang Aceh, gangguan
aliran listrik juga menjadi persoalan
penting. Cuma ya kondisi sekarang kan
beda. Tidak ada situasi darurat di Aceh.
Bahkan di sana energinya surplus. Ada
daerah penghasil energi juga tapi malah
terjadi pemadaman listrik. Dan itu
besar-besaran lagi ya kan. seluruh Aceh
yang terdampak, bukan satu daerah, satu
kabupaten, atau satu kota. Nah, untuk
itulah Askalani ini mengatakan bahwa
pemadaman listrik kali ini menjadi yang
terpanjang di dalam sejarah. Dia juga
mengaku sampai harus mengalami kerugian
hampir Rp10 juta karena usaha milik
istrinya. Jadi, istrinya ini kayak bikin
kue atau cake-cake gitulah, Geng, ya.
Yang mana sangat membutuhkan listrik
sampai akhirnya tidak bisa beroperasi
selama 3 hari. Kerugian itu juga belum
termasuk dengan alat-alat elektronik
rumah yang rusak karena listrik yang
BPAD. Nah, jadi BPAD ini sendiri adalah
sebuah kondisi di mana terjadinya
ketidakstabilan tegangan listrik yang
menyebabkan alat-alat elektronik jadi
mati nyala berulang kali dan itu
menyebabkan alat tersebut rusak.
Askalani juga mengatakan pemadaman
listrik yang baru-baru ini terjadi itu
benar-benar enggak wajar. Karena
biasanya listrik itu padam tidak lebih
dari 2 jam dan terpola seperti ketika
sebelum masuk bulan Ramadan. Dan
biasanya sudah ada pemberitahuan
terlebih dahulu terkait akan adanya
pemadaman listrik. Nah, tapi ini
benar-benar enggak ada, Geng. Dan
pemadaman listrik juga berdampak pada
sektor usaha kecil atau UMKM seperti
yang diceritakan oleh Sajidin atau yang
akrab disapa ee Pak Jidin gitu ya. Dia
ini adalah pengusaha jasa rostery biji
kopi di Aceh Tengah yang mana dia
mengalami kerugian sampai Rp15 juta
karena pemadaman listrik selama 3 hari.
Kasihan banget ya sehari R5 juta loh
ruginya. Nah, Jidin ini mengaku padamnya
aliran listrik di Aceh kemarin menjadi
yang terparah sejak usahanya dibangun
pada tahun 2018. Pemadaman arus listrik
oleh PLN tidak pernah sampai sehari
penuh. Sebenarnya Pak Jidin ini sudah
berupaya mengantisipasi pemadaman
listrik dengan menggunakan generator.
Tapi sayangnya pada saat pemadaman
terjadi kemarin, generatornya itu sedang
rusak. Sehingga Pak Jidin ini terpaksa
menghentikan operasional bisnisnya
selama 3 hari penuh. Karyawannya juga
merasa ee apa ya? jenuhlah karena tidak
ada kegiatan. Sementara ketika
karyawannya masuk, Pak Jidin harus tetap
membayar karyawannya. Kerugian ini juga
dirasakan oleh para pengusaha laundry
yang memang bisnisnya mengandalkan
listrik gitu, Geng. Nah, salah satunya
yang bernama Ahadiyah. Dia mengaku dia
jadi tidak bisa mencuci pakaian dari
pelanggannya karena tidak adanya aliran
listrik. Sejak PLN memadamkan ya aliran
listrik di Aceh, kerugian yang dialami
oleh usaha laundri ini itu mencapai Rp1
juta per harinya. Dan Ahadiyah ini tidak
pernah tahu bahwa akan terjadi pemadaman
listrik dan dia baru mengetahui setelah
melihat pemberitahuan resmi dari PLN di
media sosial. Jadi apa ya bisa dikatakan
ya mungkin masyarakat daerah ya enggak
terlalu melag dengan Instagram gitu.
Mereka enggak tahu bahwa
pemberitahuannya itu ada di Instagram.
Dan Ahadiyah ini baru mengetahui soal
pemadaman ini ya setelah pemadaman itu
berlangsung sejak Senin pagi. Sama
seperti yang lain, Ahadiyah ini
mengatakan bahwa pemadaman tersebut
menjadi pemadaman terparah selama dia
mendirikan usahanya di Aceh. Bahkan
bersama pelanggannya, A hadiah ini
sampai harus begadang, Geng, untuk
menyelesaikan beberapa pekerjaan milik
pelanggannya selama pemadaman
berlangsung. Jadi, biasanya bisa
dikeringkan pakai listrik, bisa pakai
setrika listrik. Nah, ini jadi manual
semua. Terus geng, ada lagi cerita dari
seseorang yang bernama Muhammad Hatta.
Dia ini merupakan warga dari gampung
atau Desa Blangraja. Dia berasal dari
Kecamatan Babarot, Kabupaten Aceh Barat
Daya. Sekaligus dia ini adalah peternak
ayam. Nah, dia mengaku mengalami
kerugian besar akibat pemadaman listrik
yang berlangsung selama 3 hari. Sebanyak
18.000 ekor ayam boiler yang siap panen
itu mati secara massal akibat kepanasan.
Buset, sedih banget ya. 18.000 R000 ekor
loh. Hal itu membuat dia mengalami
kerugian sampai Rp800 juta. Dia menjadi
salah satu e pengusaha peternakan ayam
yang menggunakan sistem kandang close
house dan memerlukan blower atau kipas
untuk sirkulasi udara sehingga kandang
ayam milik dia itu sangat bergantung
pada arus listrik. 18.000 Rib ekor ayam
yang sudah mati di saat ini sudah
dikubur dan dia terpaksa untuk menyewa
ekskavator untuk menggali pasir yang
mana itu membuat dia harus mengeluarkan
modal lagi. Nah, di sini kan rasanya
sakit banget ya. Kita enggak bayar
listrik sehari, 2 hari, sebulan listrik
kita diputus. Tapi ketika PLN memadamkan
listrik kita kayak gini, kita harus apa
ya? Kita harus memaklumi mereka. Nah,
inilah ketika sebuah badan usaha tidak
ada persaingannya. Jadi, kayak kita tuh
enggak punya pilihan. Coba misalkan
kayak kalian eh mendaftar provider
internet, kalau satu provider
pelayanannya tidak bagus, kita punya
pilihan untuk pindah ke provider lain.
Nah, tapi kalau untuk listrik
satu-satunya enggak ada swastanya,
enggak ada saingannya. Makanya ini kita
disemena-menakan kayak gini nih. Ya
udah, mau enggak mau ikhlas aja. Dia
juga menceritakan ketika hari pertama
lampu padam di hari Senin, dia sudah
panik dan kalangkabut dikarenakan tidak
adanya pemberitahuan terlebih dahulu
dari pihak PLN. Dan begitu pemadaman
terjadi, Hatta ini langsung
mengkonfirmasi ke pihak PLN dan juga
melalui aplikasi gitu ya. Dia menanyakan
berapa lama listrik akan padam karena
Hatta khawatir ayam miliknya sudah besar
dan sudah siap panen. Tanpa adanya
pemberitahuan yang pasti, akhirnya
kondisi listrik padam ternyata
berlangsung selama 3 hari. Selama itu
juga geng Hatta memasuk listrik ke
kandang menggunakan genset. Tapi
sayangnya hari ketiga yaitu di hari Rabu
sekitar jam 3.00 sore gensetnya rusak
karena tidak pernah dimatikan alias
dinyalakan nonstop selama 3 hari. Jadi
kayak capek gitu gensetnya. Akhirnya ya
menyebabkan usahanya rugi besar. Selain
barang-barang elektronik yang enggak
bisa berfungsi, akses internet dan
telepon di Aceh juga ikut terganggu.
Kondisi ini dirasakan oleh warga Aceh
Barat dan warga Nagan Raya yang
terganggu jaringan telepon dan
internetnya di hari Selasa siang sampai
malam pada tanggal 30 September 2025.
jaringan dari provider Telkomsel yang
menjadi operator terbesar di Aceh
Selatan dan sekitarnya dikeluhkan karena
langsung lumpuh setiap kali listrik
padam. Salah satu warga Kecamatan Sama 2
yang bernama AD itu mengatakan pemadaman
listrik membuat sinyal handphone hilang
total sehingga untuk berkomunikasi baik
dari telepon yang biasa sampai dengan
WhatsApp gitu ya itu ikut terhambat.
Padahal menurut pengakuan AD di sana ada
tiga tower BTS tapi tetap aja enggak
bisa membantu untuk memulihkan jaringan
komunikasi dan internet di sana. jadi
sulit untuk memantau kabar di internet
terkait informasi terkini dari PLN.
Kapan listrik bakal menyala dan wilayah
mana aja yang mengalami pemadaman dan
sebagainya itu informasinya benar-benar
hilang. Kebayang ya gimana tersiksanya
warga Aceh gara-gara pemadaman listrik
ini.
Gangguan kelistrikan yang terjadi di
hari Senin menyebabkan PLN membutuhkan
waktu untuk mengoperasikan kembali
pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU
yang ada di Nagan Raya dan pembangkit
listrik tenaga mesin gas atau PLTMG yang
ada di Arun. Nah, gangguan itu
menyebabkan berkurangnya pasokan daya
listrik yang melayani pelanggan sekitar
MW. Dan karena berkurangnya pasokan
listrik ini, maka dengan sangat terpaksa
PLN melakukan manajemen beban. Sebab PLN
harus memprioritaskan rumah sakit,
bandara, dan objek-objek yang vital
serta fasilitas umum lain. PLN disebut
sudah mengirimkan 839 personel ke
lapangan untuk memulihkan kembali sistem
kelistrikan. Jadi, ya kurang lebih
begitulah, Geng, ya. Kondisi di Aceh
ketika pemadaman listrik yang terjadi
selama 3 hari berturut-turut.
Benar-benar kayak balik ke zaman batu
kayaknya.
Sekarang kita bakal masuk ke dalam
pembahasan mengenai penyebab dari
pemadaman listrik ini. Ada apa sih
sebenarnya?
Jadi, Geng, alhamdulillah saat ini ya e
kondisinya sudah kembali normal. Jadi
dari hari Kamus tanggal 2 Oktober 2025
sejak jam ee 127 dini hari, PLN UP3
Banda Aceh mengungkapkan berhasil
memulihkan kembali 100% sistem
kelistrikan di Aceh. Di saat itu,
Jenderal PLN Unit Induk Distribusi atau
UI Aceh yang bernama Mudakir ee dia
mengatakan personel gabungan lintas unit
PLN di Aceh dikerahkan untuk merespons
gangguan dan bekerja selama 24 jam penuh
untuk mempercepat pemulihan pasukan
listrik di Aceh. Petugas di lapangan
juga tetap bersiaga untuk memastikan
pasukan listrik tetap tersedia,
khususnya prioritas pada sektor vital
seperti rumah sakit, fasilitas
pemerintahan juga, terus pusat
komunikasi hingga pusat-pusat pelayanan
publik. PLN menyebutkan akan terus
melakukan evaluasi secara menyeluruh
untuk memperkuat keandalan sistem
kelistrikan sehingga masyarakat bisa
menikmati listrik sebagaimana biasanya.
dan PLN juga menyampaikan permohonan
maaf atas ketidaknyamanan yang sempat
dirasakan oleh masyarakat sekaligus
mengapresiasi ya kesabaran dan
pengertian seluruh masyarakat Aceh
selama proses pemulihan berlangsung.
Pasti kalian penasaran kan penyebabnya
apa sih sebenarnya? Ada apa? Kalau
isu-isunya sih aneh-aneh banget. Ada
yang bilang, "Wah, ini lagi ada berita
yang apa ya yang harus disembunyikan.
sedang ada pemasukan bla bla bla bla di
Aceh, sedang ada ini, sedang ada itu.
Jadi intinya adalah karena media
sekarang tergantung pada listrik ya,
tergantung pada daya gitu ya. Jadi
seolah-olah pemadaman listrik di Aceh
itu karena ada sebuah agenda. Entah itu
agenda apa. Nah, itu adalah rumor yang
tersebar di kalangan netizen. Tapi,
geng, ada sedikit penjelasan yang gua
dapatkan nih. Ini kalian percaya enggak
percaya ya dengan penjelasan ini. Tapi
ya semoga informasi ini dapat membantu.
Jadi dikatakan ya manajer komunikasi dan
tanggung jawab sosial lingkungan atau
TJSL PLN Aceh yang bernama Lukman Hakim,
dia menyebutkan bahwa gangguan tersebut
terjadi akibat permasalahan pada
interkoneksi transmisi 150
kVt di Biren Arun, Aceh. Nah, sistem
yang terganggu inilah yang menyebabkan
pasukan listrik di sebagian daerah Aceh
jadi tidak stabil. Beruntungnya gitu ya,
bukan karena terjadi kerusakan di
pembangkit listriknya. Meskipun begitu,
tetap aja bagi masyarakat pemadaman
listrik ini sangat merugikan apalagi
yang punya usaha. Jadi alasannya
sesimpel itu, sesingkat itu.
Sekarang gua pengin ajak kalian ya untuk
membahas dampak dari pemadaman listrik
di Aceh bagi masyarakat. Seperti apa sih
dan apakah ada tuntutan dari masyarakat?
Nah, sekarang kita bahas.
Masyarakat Aceh semua serempak
mengatakan kalau mereka sangat dirugikan
dengan pemadaman listrik selama 3 hari
di sana. Ditambah dengan tidak adanya
pemberitahuan PLN sebelumnya sehingga
membuat mereka jadi tidak bisa melakukan
upaya mitigasi. Pemberitahuannya ya
kayak biasa aja gitu dari apa ee
postingan Instagram. Jadi enggak semua
orang main Instagram. Apalagi di Aceh
itu ada beberapa tempat yang memang
orang belum e terlalu apa ya familiar
dengan Instagram. Jujur, Geng, ada
beberapa tempat di Aceh itu yang masih
mereka itu masih terpatuk sama TV, belum
tahu apa itu YouTube, apa itu Instagram,
TikTok ada. Karena masih banyak
pelosok-pelosok yang tertinggal di sana.
Oleh karena itu, ya masyarakat aja
meminta kompensasi dari PLN terkait
kerugian yang mereka dapatkan selama
berhari-hari. Ada yang meminta agar
listrik di rumah mereka atau di tempat
usaha mereka digratiskan selama sebulan
penuh. Ada juga yang meminta agar PLN
mengganti kerugian yang mereka alami
sepenuhnya. Nah, permintaan masyarakat
Aceh terkait ingin agar PLN memberikan
kompensasi bukan tanpa alasan. Sebab
kompensasi ini sudah diatur di dalam
Peraturan Menteri Nomor 2 tahun 2025
tentang perubahan kedua atas Permen ESDM
nomor 27 tahun 2017 tentang tingkat mutu
pelayanan dan biaya terkait penyaluran
tenaga listrik oleh PLN. Nah, jadi apa
ya? Masyarakat tuh udah pintar. Karena
logika sederhana dan logika bodohnya aja
nih kayak lu bikin aturan, kita harus
bayar tepat waktu supaya listrik kita
berjalan. Tapi ketika lu bikin kesalahan
pemadaman listrik secara sepihak, lu
kayak enggak merasa bersalah, enggak
ngasih komensasi apa-apa, minta maaf
doang. Udah gitu merasa bangga karena
sudah berhasil mengatasi masalah
tersebut. Itu mah bukan apa ya, bukan
sesuatu yang patut diapresiasi. Itu kan
memang tugas lu gitu, tanggung jawab lu
untuk menjaga kestabilan tersebut. Terus
juga kalimat mengapresiasi masyarakat
yang sudah bersabar itu benar-benar
kayak aneh banget. Harusnya enggak gitu
sih. Cara mengapresiasinya bukan melalui
lisan atau tulisan, tapi justru
memberikan manfaat ganti rugi kepada
masyarakat yang sudah mengalami
kerugian. Nah, itu yang paling benar.
Dan ternyata ya peraturan menteri ada
tadi sudah gua sebutkan. Jadi secara
hukum mereka itu wajib mengganti rugi.
Regulasi ini tadi ya menjelaskan dalam
hal lama gangguan di atas besaran
tingkat mutu pelayanan tenaga listrik
selama 1 jam per bulan atau ketentuan
dari Menteri ESDM, maka konsumen berhak
mendapatkan kompensasi. Ada beberapa
ketentuan pemberian kompensasi
berdasarkan peraturan tersebut, yaitu
50% dari biaya beban atau rekening
minimum jika lama gangguan sampai dengan
2 jam di atas besaran tingkat mutu
pelayanan tenaga listrik. Ini kan sudah
3 hari tuh gimana tuh hitungannya? dan
75% dari biaya beban atau rekening
minimum jika lama gangguan lebih dari 2
jam sampai dengan 4 jam di atas besaran
tingkat mutu pelayanan tenaga listrik.
Terus ganti rugi sebesar 100% dari biaya
beban atau rekening minimum jika lama
gangguan lebih dari 4 sampai dengan 8
jam di atas besaran tingkat mutu
pelayanan tenaga listrik. Ini 3 hari
udah lebihnya jauh banget. Terus 200%
biaya beban atau rekening minimum jika
lama gangguan lebih dari 8 jam sampai
dengan 16 jam di atas besaran tingkat
mutu pelayanan tenaga listrik dan 300%
dari biaya beban ee atau rekening
minimum jika lama gangguan lebih dari 16
jam atau sampai 40 jam di atas besaran
tingkat mutu pelayanan listrik. Yang
paling besar adalah 500% dari biaya
beban atau rekening minimum jika lama
gangguan lebih dari 40 jam di atas
besaran tingkat mutu pelayanan tenaga
listrik. Kalian hitung deh tuh. 1 hari
24 jam, 3 hari berapa? Lebih dari 40 jam
ya. Sudah masuk ke 60 lebih malah sudah
masuk ke 72 jam. Koreksi gua kalau salah
dalam menghitung ya. Jadi kompensasinya
gede banget seharusnya yang harus
dibayarkan oleh PLN. Tapi nanti kita
lihat apakah PLN bisa mematuhi peraturan
pemerintah tersebut. Karena seperti yang
kita ketahui PLN sendiri adalah milik
pemerintah. BUMN badan usaha milik
negara. Apakah ya negara akan mematuhi
aturan yang dibuat sendiri oleh negara?
Kita lihat kenyataannya nanti. Di saat
itu, Geng, Sekretaris Eksekutif Yayasan
Lembaga Konsumen Indonesia atau YLKi
yang bernama Rio Priambodo itu
menekankan bahwa kejadian pemadaman
listrik di Aceh menjadi alarm mengenai
keandalan infrastruktur jaringan PLN.
Alasan adanya gangguan teknis harus
dijelaskan secara terbuka ke publik oleh
PLN. teknis seperti apa, teknis macam
apa, dan harus memiliki bukti yang kuat
mengapa pemadaman bisa terjadi. Nah,
kemudian Rio ini juga menekankan
seharusnya ada tim independen yang
melakukan investigasi misalkan dari
pihak Kementerian ESDM yang juga
memverifikasi alasan dari PLN. Nah, Rio
mengingatkan pihak PLN untuk tidak lepas
dari tanggung jawab ganti rugi kepada
konsumen karena semuanya sudah diatur di
dalam peraturan yang gua jelaskan
sebelumnya. Nah, sejalan dengan itu, PLN
juga didesak untuk membuka atas koreksi
agar hal serupa tidak berulang atau
setidaknya diminimalisir di kemudian
hari. Di sisi lain, konsumen bisa
melakukan proses litigasi berupa gugatan
class action agar mendorong perbaikan
kualitas pelayanan PLN di kemudian hari.
YKI itu melihat perlu adanya perbaikan
secara menyeluruh atau sistematik baik
dari instalasi keadaan infrastruktur dan
mitigasi kejadian pemadaman massal.
Sebab mau bagaimanapun di sini konsumen
atau masyarakatlah yang paling
dirugikan. Aduh, gua kalau misalkan
berbicara tentang PLN kayak enggak yakin
gitu, Geng. Bakal ditangani. Ya sesimpel
ini deh, Geng. Carut-marutnya
kabel-kabel di tiang listrik. Emang
pernah ditangani atau di-handle untuk
dirapikan? Mana pernah. Negara kita tuh
kayak 100 tahun tertinggal daripada
negara-negara lain dengan pembandangan
carut-marutnya kabel listrik. Ya,
begitulah. Dan dilihat dari data YLKi
mengenai profil pengaduan konsumen 2024,
masalah pemadaman listrik menjadi contoh
buruk yang terulang terus-menerus.
Sebanyak 42,9%
permasalahan listrik yang diadukan
konsumen adalah soal pemadaman dan di
bawahnya ada dua perihal lain, yaitu
soal tagihan listrik yang semakin hari
semakin melonjak.
Terus, Geng, koordinator publish what
You Pay atau PWPY yang bernama Pak
Arianto Nugroho itu mewanti-wanti
kinerja PLN yang tidak sejalan dengan
laba besar yang mereka dapatkan setiap
tahunnya. Di tahun 2024, PLN memperoleh
laba bersih sebesar 17,76 triliun dengan
total pendapatan mencapai 545 triliun.
Bahkan, Geng, di kuartal pertama 2025
laba sudah mencapai di angka 16 triliun.
Hal tersebut dinilai ironis karena
pemadaman listrik yang terus berulang
dengan alasan teknis yang sering sekali
lambat diidentifikasi dan dipulihkan
sementara mereka menikmati hasil uang
pembayaran listrik setiap tahunnya dari
masyarakat. Nah, secara kritis ya hal
ini mencerminkan masalah prioritas
alokasi dana. Meskipun mendapatkan
untung besar, investasi untuk
pemeliharaan infrastruktur dan
pencegahan gangguan sepertinya tidak
proporsional. Dan menurut beliau, PLN
mulai tidak menggantungkan pasukan batu
bara sebagai bahan baku listrik. Masalah
pemadaman di Aceh yang disebabkan tidak
tersalurnya energi dari PLTU itu menjadi
tanda bahwa tidak selamanya batu bara
bakal terus menjadi pemasuk tunggal atau
satu-satunya. Di saat itu ya menurut Pak
Arianto, alternatif energi terbarukan
seperti energi matahari, angin,
mikroidro, bahkan energi pasang surut
atau gelombang laut itu bisa menjadi
pengganti sumber listrik. Sumber-sumber
tersebut tidak hanya mengurangi emisi
karbon, tapi juga lebih tahan terhadap
gangguan teknis karena bersifat
terdistribusi dan modular. Di Aceh
sendiri, potensi angin dan sinar
matahari bisa dimanfaatkan untuk sistem
hybrid yang lebih stabil. Namun,
implementasinya memerlukan kebijakan
yang kuat dan yang terpenting memastikan
transisi ini adil dan melibatkan
masyarakat sehingga masalah seperti
pemadaman bisa diminimalisir di masa
depan. Kemudian ada rencana usaha
penyediaan tenaga listrik atau RUPTL
tahun 2025 sampai 2034 yang dirilis oleh
PLN yang mana menunjukkan
ketidaksesuaian dengan komitmen
Indonesia. Komitmen yang dimaksud ini
adalah menghentikan seluruh pembangkit
listrik berbasis energi fosil seperti
yang disampaikan oleh pemerintah di
dalam forum KT G20 di Brazil pada bulan
November 2024. RUPTL tersebut masih
mencakup penambahan PLTU berbasis
Batubayera sebesar 6,3 GW sampai tahun
2034. Dan untuk itu, Ketua Komisi 3 DPR
Aceh yang bernama Aisyah Ismail meminta
PLN memberikan kompensasi segera kepada
masyarakat Aceh yang sudah 3 hari
terdampak pemadaman listrik. Aisyah itu
menyampaikan hal ini setelah melakukan
inspeksi bersama dengan anggota Komisi 3
DPR Aceh yang lain mengenai pemadaman
listrik ke PLN UID Aceh di Banda Aceh.
Beliau ini mendorong PLN melakukan
perbaikan karena ya saat ini pemerintah
Aceh sedang mencari investasi. Karena
ingin mendorong investasi di wilayah
tersebut, pasukan listriknya juga harus
siap. Dan anggota DPR yang bernama Musdi
Fauzi mengaku kompensasi sudah sangat
layak diberikan oleh PLN dan itu harus.
Hal ini dikarenakan pemadaman yang
dilakukan tanpa adanya pemberitahuan
yang jelas dan berlangsung selama
berjam-jam. Bukan berjam-jam sih,
berhari-hari ya, 72 jam. Dan sementara
itu, pihak PLN sendiri mengatakan bahwa
pemadaman ini bukanlah hal yang mereka
kehendaki. Terkait dengan tuntutan
kompensasi, PLN mengaku sebagai
perusahaan negara pasti bakal patuh dan
juga akan ee apa ya tunduk terhadap
aturan yang berlaku. ee dikatakan juga
ya jika PLN masih menunggu hasil
investigasi oleh tim independen dan juga
kementerian ya sebagai langkah
pencegahan pemadaman listrik ke depannya
dan PLN bakal melakukan evaluasi
terhadap pemeliharaan dari hulu ke hilir
dan berkolaborasi dengan semua pihak
atau kalangan agar kelistrikan tetap
optimal dan bisa dinikmati serta
memberikan pelayanan terbaik untuk
masyarakat.
Jadi gitu, Geng ya. Pembahasan kita kali
ini mengenai pemanaman listrik di Aceh.
Kira-kira ada enggak di antara kalian
yang mengalami hal ini mungkin yang
berasal dari Aceh? Menurut kalian,
kalian akan mendapatkan kompensasi atau
enggak dari PLN? Ayo kita tebak-tebakan.
Tinggalkan komentar di bawah.