Kind: captions Language: id Oke, sebelum kita mulai video ini, gua mau disclaimer dulu nih, Geng, kepada kalian semua bahwa video ini dibuat bukan dengan maksud untuk melanggar aturan YouTube atau melanggar pedoman-pedoman YouTube yang tidak sesuai dengan batasan-batasan yang sudah ditentukan. Tapi video ini dibuat untuk edukasi bagi semua kalangan, semua umur agar lebih berhati-hati lagi dalam menjalani kehidupan supaya nyawa kalian tetap aman. Semoga video ini bisa menjadi pembelajaran, Geng. Bayangin kalau kalian sedang beribadah nih ya dengan khusyuk, namun tiba-tiba terjadi sesuatu yang mengerikan banget, yaitu sesuatu yang menempatkan kalian di antara hidup dan mati. Mungkin buat mereka dengan ee kondisi keimanan tinggi, jika meninggal di dalam keadaan yang sedang beribadah menjadi salah satu hal yang ya yang mereka impikan atau mereka harapkan. Karena udah pasti pahalanya besar. meninggal di dalam keadaan yang suci, meninggal di dalam keadaan yang sedang dekat dengan Tuhan. Nah, ada sebuah kejadian yang terjadi di salah satu pondok pesantren yang ada di Sidoarjo. Jadi, atap dari salah satu bangunan yang ada di sana tiba-tiba ambruk dan mengenai ratusan orang yang berada di dalam bangunan tersebut yang mana mayoritas di antara korbannya adalah para santri. Kasus ini cukup ramai, viral, dan beredar video di media sosial yang memperlihatkan proses evakuasi dari para santri yang terjebak di antara reruntuhan tersebut. Dikatakan mereka terjebak di sana selama puluhan jam. Ada yang masih hidup, ada juga yang sudah meninggal dunia atau wafat. Cuma, Geng, netizen sangat geram sebab pernyataan dari pihak pesantren yang mengatakan bahwa apa yang terjadi ini adalah takdir dari Allah Subhanahu wa taala dan semua orang diminta untuk bersabar atas apa yang terjadi. Saya kira memang ini takdir dari Allah. Jadi semuanya harus bisa bersabar dan mudah-mudahan ya. Sebenarnya dibilang salah sih enggak salah ya. Lu meninggal ke selek jengkol juga itu takdir dari Allah Subhanahu wa taala. Semua kondisi apapun ketika kita meninggal itu adalah takdir. Memang benar. Tapi balik lagi meninggalnya itu karena faktor apa? Kan ada tuh ya kan sakit jantung, kecelakaan. Nah, kalau ini kan salah satu kejadian akibat kelalaian atau meremehkan sesuatu sehingga menyebabkan nyawa orang lain melayang. Apakah itu termasuk takdir? Iya. Takdir. Takdir. Orang-orang yang meninggal itu dia sudah ditakdirkan bakal meninggal dengan jalan seperti itu. Tapi di dunia nyatanya ada pelakunya. Pelaku yang lalai dalam menjaga keselamatan para santri. Nah, makanya pernyataan dari pihak pesantren ini seolah-olah seperti cuci tangan dengan kondisi yang terjadi. Nah, lalu di samping itu ada juga fakta-fakta lain yang terungkap karena kabarnya atap dari bangunan itu ya bangunan yang roboh ini dicor oleh para santri itu sendiri yang mana para santri ini enggak punya basic konstruksi dan juga bahkan bangunan ini dikatakan tidak punya IMB. Benarkah seperti itu? Nah, di video kali ini kita akan mengupas secara lengkap tentang tragedi ini. Langsung aja kita bahas. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry [Musik] Geng. Geng, untuk pembahasan yang pertama kita akan membahas detik-detik ambruknya atap bangunan di Sidoarjo ini. Jadi, geng, insiden ini terjadi di daerah Sidoarjo, Jawa Timur. Tepatnya di Pondok Pesantren Putra Alkozini yang berlokasi di Buduran. Ada salah satu bangunan di pondok pesantren itu yang sedang dalam masa renovasi. Bangunan tersebut merupakan asrama santri putra dan rencananya bakal memiliki tiga lantai yang mana lantai duanya itu difungsikan sebagai musala. Dari informasi lainnya disebutkan kalau yang dijadikan sebagai tempat untuk salat itu adalah lantai 1. Proses renovasinya itu sudah berlangsung hampir 9 bulan lamanya. Namun kalau dari informasi yang gua dapatkan dari media bagian atap lantai 3 dibuat bukan dari genteng tapi justru dari corcoran semen. Nah, pada hari Senin tanggal 29 September 2025 dari pagi hingga jam 12.00 siang, atap di lantai 3 itu baru saja dicor. Dari kesaksian salah satu santri yang bernama Muhammad Rijalul Gaib, ada truk yang datang untuk membawa bahan-bahan material yang digunakan untuk ngecor bagian atap. Namun Rijael ini mengaku kalau pada saat itu struktur atau wadah yang akan dicor langsung diisi full. Soalnya biasanya struktur itu atau wadah itu ya diisi sedikit demi sedikit terlebih dahulu atau setengah untuk memastikan ee yang sudah terisi ini kering dulu baru diisi lagi agar kekuatan atau kestabilannya itu ya tidak rapuh. Nah, tapi pada saat itu malah langsung diisi full. yang kemudian beberapa saat sebelum insiden terjadi, ada ratusan santri yang sedang berada di lantai satu gedung tersebut yang mana mereka ingin melaksanakan salat Asar di saat itu. Pada saat itulah insiden mengerikan yaitu atap roboh ini terjadi bertepatan ketika ratusan santri yang ingin atau sedang melaksanakan salat Asar. Dari cerita rijalul, dia sempat mendengar ada suara batu yang jatuh dan semakin lama suaranya semakin kencang. Saat peristiwa itu terjadi, Rijalul ini langsung berlari keluar dari bangunan untuk menyelamatkan diri. Cuma, geng, sayangnya dia sempat tertimpa reruntuhan atap yang mengenai bagian wajahnya dia. Kebayang tuh ya sakitnya. Namun untungnya dia berhasil selamat dengan melewati celah untuk bisa keluar dari reruntuhan tersebut. Dan ketika itu ada orang yang ikut membantu dia keluar dengan menunjukkan arah ke mana dia harus keluar. Nah, itu cerita dari salah satu santri. Selanjutnya ada cerita dari santri lain yang bernama Sofa yang mana dia bercerita ketika itu dia sedang melaksanakan salat asar ketika bangunan roboh. Jadi udah udah apa ya? Udah mulai salat gitu. Menurut dia banyak santri yang sempat menyelamatkan diri. Meskipun begitu dia menduga masih banyak santri yang terjebak di dalam leruntuhan yang mana mereka ini tidak sempat lari atau justru sedang salat dan tidak sadar. Atau justru mungkin mereka udah sadar ini ambruk tapi mereka terlalu khyuk. Mereka enggak mau merusak salatnya. Akhirnya tertimpa reruntuhan bangunan tersebut. Terus di sisi lain ada kesaksian dari santri yang bernama Muhammad Ali Zainal Abidin. Dari cerita Ali ini awalnya dikatakan para santri ini melaksanakan salat berjamaah di lantai dasar bangunan tersebut. Dia dengan teman-temannya memulai rakaat pertama dengan hikmat. Enggak ada gangguan apapun. posisinya berada di SF ke-17 dan ada di sebelah kanan dari Imam Muhammad Ali Zainal Abidin ini kurang mengetahui ada berapa santri yang ikut salat ketika insiden terjadi. Karena di saat itu teman-temannya yang lain ketika salat Asar kebanyakan ada yang istirahat atau bekerja. Nah, ketika melaksanakan salat asar, Zainal ini sempat merasakan adanya sejumlah kerikil yang mulai berjatuhan ketika sudah memasuki rakaat kedua. Dilanjutkan bangunannya tiba-tiba bergoyang seperti gempa gitu, Geng. Cuma dia masih berusaha untuk salat dengan khusyuk. Zainal ini tidak mengingat apa yang selanjutnya terjadi karena tiba-tiba dia merasakan kepalanya pusing luar biasa seperti terhantam oleh benda yang sangat berat dan akhirnya dia sadar kalau dia sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Jadi dia pingsan, pingsan ketika kejadian itu terjadi. Nah, dia langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah RT Notopuro. Dan insiden ini membuat baik dari pihak pondok pesantren maupun perangkat daerah melakukan segala daya upaya yang dimiliki untuk bisa menyelamatkan para santri yang masih terjebak di dalam reruntuhan bangunan. Sekarang kita akan masuk ke dalam pembahasan mengenai proses evakuasi dari kejadian ini, Geng. Jadi, Geng, meskipun ada beberapa santri yang berhasil selamat dari reruntuhan tersebut karena menyelamatkan diri dari sana, tapi sedihnya ada masih banyak santri yang terjebak di dalam. Di hari Selasa tanggal 30 September tahun 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB merilis keterangan bahwa terdapat 91 orang yang diduga tertimbun reruntuhan dan jumlah itu diambil berdasarkan data kehadiran santri di Posco gabungan sampai Selasa malam. Di saat itu, tim SAR dikerahkan dengan kekuatan lebih dari 330 orang yang berasal dari berbagai institusi. Institusi yang terlibat itu adalah Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau BNPP dan juga Basarnas. Terus ada BPBD Jatim, BPBD Kabupaten Sidoarjo, dan BPBD Kabupaten Kota sekitar seperti Surabaya, Gresik, Pasuruan, Mojokerto, Jombang, dan juga Nganjuk. yang untuk pembongkaran bisa untuk mempersiapkan diri membongkar ee reruntuhan gedung dengan teknik-teknik tertentu agar korban yang masih ada di bawah tidak ee ee menjadi lebih parah lagi. Lalu ada Taruna siaga bencana serta personel TNI Polri. Alat berat berupa tiga ekskacavator dan dua kren juga sudah disiapkan. Pemerintah Kota Surabaya juga menurunkan mobil heavy duty rescue atau HDR. Tapi geng, evakuasi ini gak bisa berjalan dengan maksimal karena tim SAR terpadu khawatir penggunaan alat berat bisa menimbulkan getaran dan bisa memicu reruntuhan itu ambruk, ambruk susulan gitu. Dan nanti kalau misalkan ada beko yang ngerok tanah, takutnya tuh malah kena badan orang di dalam ada makin parah, makin put. Jika terjadi ambruk susulan juga hal tersebut bisa membahayakan korban yang kemungkinan masih hidup sekaligus timsar itu sendiri. Pembukaan akses menuju korban dan evakuasi harus dilakukan secara manual dan pelan-pelan. Di saat itu, tim berkejar-kejaran dengan waktu, namun dituntut secara tepat dan berhati-hati di dalam evakuasi. Karena kalau lama nanti takutnya yang masih hidup enggak tertolong. Tapi kalau misalkan buru-buru, takutnya malah gegabah, malah meninggal karena adanya ambruk susulan. Nah, di saat itu Kepala Kantor SAR Surabaya yang bernama Pak Nanang Sigit menjelaskan tim dibagi menjadi unit kecil. anggota menggali lubang kecil atau terowongan untuk menjangkau suara atau tanda kehidupan korban. Lewat lubang kecil inilah anggota juga menyalurkan oksigen, air minum, makanan, ataupun obat-obatan. Komunikasi juga terus dilakukan antara anggota dan korban yang masih hidup di bawah reruntuhan yang mana si korban ini ya masih bisa tertolonglah. Instruksi dari Basarna selaku komando operasi SAR, penggunaan alat berat baru bisa dilakukan jika diyakini sudah tidak ada lagi tanda-tanda korban yang selamat. Jadi, udah tinggal jenazahnya aja. Nah, sejak insiden terjadi di hari Senin, pencarian dan pertolongan sampai evakuasi korban sampai hari ketiga berlangsung. Evakuasi semuanya berlangsung secara manual. Nah, jika Basarnas yang memimpin operasi SAR BNPB dan jajaran BPBD itu fokus untuk mempercepat penanganan darurat dan penyiapan langkah teknis yang aman untuk membersihkan runertuhan tersebut. Kemudian Kementerian Sosial dan Pemerintah Daerah membuka dapur umum sekaligus memaksimalkan layanan kesehatan ke rumah sakit terdekat. Di pos gabungan Polri melalui Polda Jatim itu membuka tiga stan disaster victim identification atau DVI untuk proses identifikasi dan verifikasi laporan orang hilang serta korban yang selamat serta yang sudah dievakuasi. Di pos tersebut juga terpampang daftar nama-nama santri untuk membantu orang tua mereka dan keluarga mereka agar bisa mengidentifikasi dan mendapatkan informasi tentang kondisi mereka. Apakah masih hidup, apakah dirawat di rumah sakit atau justru sudah meninggal? Dari catatan BPBD Jatim, data santri terdampak masih bergerak dan memerlukan verifikasi. Hal ini dikarenakan insiden tersebut tidak hanya menimpa santri yang berusia remaja aja, Geng, tapi juga pekerja konstruksi yang jumlahnya belum diketahui. Di hari Rabu tanggal 1 Oktober 2025 jam 11.00 malam, BNPB itu sudah memperbaharui keterangan mereka dengan mengatakan masih ada sekitar 59 orang yang terjebak di dalam reruntuhan. Wah, sedih banget ya, Geng. 59 enggak sedikit loh jumlahnya. Dan angka tersebut didapatkan dari daftar absensi yang dirilis oleh pihak pondok pesantren, termasuk dari laporan kehilangan dari pihak keluarga korban yang artinya ya anak-anak mereka masih belum diketahui kabarnya, kondisinya. Masih hidupkah apa udah meninggal di bawah sana. Perubahan data bisa disebabkan karena berbagai hal, Geng. Seperti nama-nama yang sebenarnya selamat atau tidak berada di tempat kejadian perkara saat insiden terjadi mungkin mereka enggak melaporkan diri. Contohnya misalkan kayak ada santri yang selamat tapi ternyata e dia lagi di luar di saat itu atau dia langsung kabur dari sana. Dia enggak melaporkan kalau dia selamat. Nah, itu bisa jadi salah satu faktor apa ya jumlah yang belum selamat dianggap bertambah gitu. Ketika memasuki hari ketiga evakuasi, timsar masih terus berpacu dengan waktu mengingat terdapat periode krusial atau yang disebut dengan golden time di dalam mengevakuasi korban dalam keadaan hidup yaitu 72 jam. Kalau lewat dari jam itu ya udah pasti orangnya meninggal. Entah karena dehidrasi atau mungkin karena trauma di badannya atau luka-luka di badannya yang enggak kunjung diobati. Karena proses evakuasi yang dikatakan cukup sulit, maka Timsar mencoba untuk memberikan berbagai suplai, mau itu makanan, minuman, dan obat-obatan agar bisa membuat korban bertahan lebih lama. Jadi, dibuat lubang kecil untuk menyalurkan itu semua. Terus kemudian ada salah satu video yang sedang ramai, Geng, di sosial media yang memperlihatkan bagaimana proses evakuasi yang dilakukan oleh Timsar di dalam video ya. Anggota Timsar sedang berkomunikasi dengan santri yang terjebak. Diketahui ada yang namanya Yusuf, usianya 16 tahun. Anggota Timsar yang bernama Aziz itu bertanya kepada Yusuf, apakah ada bagian tubuh dia yang terluka? Terus Yusuf menjawab, "Enggak ada yang terluka. Namun posisi dia masih terjepit sehingga enggak bisa keluar dari sana." Selain Yusuf, ada satu santri lain yang bernama Haikal yang juga terjebak di sana. Dia ditanya juga oleh Aziz ini apa ada yang sakit dan dia bilang semuanya sakit karena terhimpit. Haikal. Kamu yang sakit apa, Nak? Sakit. Nah, di dalam video itu terlihat adanya tangan yang tergeletak di bawah reruntuhan. Pada awalnya saat netizen mengira kalau itu adalah tangan e antara Yusuf atau Haikal, namun ternyata itu adalah tangan dari santri lain yang katanya sudah meninggal. Dan yang bikin merindingnya adalah posisi dari santri yang sudah meninggal itu dia meninggal dalam keadaan sedang sujud ketika tertimpa reruntuhan. Jadi, dia lagi salat. Nah, terus sempat ada netizen yang komen, katanya, "Kenapa malah diajak ngobrol bukannya diselamatkan?" Nah, jadi jawabannya itu, Geng, ya. Proses evakuasi itu enggak mudah, Geng. Timsar itu harus memastikan kalau kondisi dari korban dan juga Timsar itu sendiri harus aman. Dan Timsar sengaja mengajak ngobrol korban itu berguna banget agar memastikan bahwa korban dalam keadaan sadar. Ya, jadi bukan dilakukan tanpa alasan, diajak ngomong terus tuh supaya dia sadar terus kalau misalkan dia sempat pingsan hilang gitu. Terus ada juga sebuah video ya yang memperlihatkan tim evakuasi yang sedang mengevakuasi seorang santri yang terjepit beton. Namun karena terlalu lama terjepit tangannya jadi sudah tidak berfungsi lagi. Udah mati tangannya sehingga tangannya itu harus diamputasi. Sedih banget. Di hari Rabu itu, Geng, Basarnas menyebutkan sudah mendeteksi keberadaan korban di 15 titik. 15 titik ini terbagi menjadi dua. Delapan berstatus hitam sementara tujuh lainnya berstatus merah. hitam. Artinya tidak ditemukan lagi adanya tanda-tanda kehidupan seperti e masih bernafas ataupun merespon atas panggilan petugas atau berteriak rasa sakit gitu. Nah, sementara yang merah adalah korban yang masih bernafas dan tidak dapat memberikan respon terhadap suara. Ada delapan orang dalam status hitam kondisinya enggak bisa dievakuasi sebab berada di bawah kolom atau tiang bangunan. Delapan orang ini berdampingan dengan titik yang ditetapkan petugas dengan posisi yang sedang sujud dan tertindih. Sedih banget. Sementara beberapa korban lain yang berstatus merah berada di kolom yang berbeda. Semuanya berada di bawah di lantai dasar. Namun mereka terpisah dengan terbagi di dua sisi patahan. Dari tujuh orang yang masih bisa merespon, baru satu yang bisa dijangkau oleh petugas. Namun belum berhasil dievakuasi. Meskipun begitu, masih ada kemungkinan bahwa jumlah korban yang ada di bawah reruntuhan tersebut lebih dari 15 orang. Dan informasinya memang mereka dinyatakan jumlahnya ya 59 orang. Namun angka tersebut juga belum bisa dipastikan. Cuma, geng ya, data yang dirilis ini justru dipertanyakan oleh keluarga korban. Ada salah satu sanak keluarga dari korban asal Kabupaten Bangkalan yang bernama Islamiah yang menunggu kabar anggota keluarganya yang terperangkap di antara reruntuhan tersebut. Dia bertanya-tanya mengenai data korban sebab sejauh ini belum ada komunikasi dari pondok pesantren kepada keluarga. Penjelasan dari pondok mengenai data-data tersebut juga belum ada. Dan oleh karena itu mereka meminta agar pihak pondok pesantren dan lembaga-lembaga agar bisa menyediakan data secara transparan. BNPB melaporkan tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap sejumlah orang yang dilaporkan belum ditemukan. Diduga ya mereka masih terjebak di bawah reruntuhan. Ada salah satu santri yang belum diketahui kondisinya. Namanya itu adalah Rehan Jamil. Dia berasal dari Surabaya. Walinya bernama Saifudin. Dia mengatakan kondisi Rehan masih belum jelas. Kabarnya masih terjebak dan masih dalam proses pencarian. Dan dia berharap agar anaknya ini berhasil dievakuasi dan semoga bisa selamat. Dan sudah 108 orang yang ditemukan, Geng. Para korban yang mengalami luka-luka itu dilarikan untuk dirawat di tiga rumah sakit, yaitu RSUD Sidoarjo, RSI Siti Hajar, dan RS Delta Surya. Sementara itu, sudah ada lima orang yang dinyatakan meninggal dunia. Mereka bernama Maulana Alvian Ibrahim berusia 13 tahun asal Kalianyar Kulon, Surabaya. Selanjutnya ada Muhammad Masyudul Haq berusia 14 tahun asal Kaliendal, dukuh Pakis Surabaya. Kemudian ada Muhammad Saleh berusia 22 tahun asal Bangka Belitung. Terus ada Raffi Catur Okta Mulia Pamungkas berusia 17 tahun asal Putat Jaya Surabaya. Yang terakhir ada Muhammad Agus Ubaidillah berusia 14 tahun asal Kelurahan Morokrembangan, Surabaya. Di dalam upaya mengidentifikasi korban, ada dua cara nih, Geng. Mulai dari identifikasi terhadap para korban yang dilakukan berdasarkan data sekunder medis visual seperti barang-barang milik korban. Selain itu, identifikasi juga dilakukan dengan metode primer berupa sidik jari dan gigi. Yang kabarnya nih, Geng ya, Raffi Catur ini yang ditemukan meninggal dunia dalam keadaan sujud. Cuma Geng ya, saat ini golden time atau waktu krusial untuk menyelamatkan korban sudah hampir berakhir. Mungkin ketika video ini tayang ya udah berakhir gitu. Nah, Nanang selaku Kepala Kantor SAR Surabaya sekaligus onsene commander ya atau disingkat dengan OSC, dia menjelaskan bahwa pihaknya saat ini sudah melakukan asesmen yang lanjutan. untuk menentukan langkah berikutnya. Dia juga belum bisa memastikan mengenai langkah metode evakuasi setelah golden time terlewati. Basarnas bersama dengan petugas gabungan saat ini sedang mencoba mencari solusi terbaik untuk melakukan evakuasi. Dan terkait perkembangan, apakah ada korban di dalam runeruntuhan yang posisinya sudah terdeteksi oleh petugas juga bakal disampaikan nanti, Geng. Masalahnya nih, Geng, ketika proses evakuasi sudah memasuki hari ketiga, petugas dan warga sekitar sudah mencium adanya bau anyir di sekitar lokasi. Dari cerita salah satu petugas Basarnas, bau Any memang ya enggak tercium kalau dari luar bangunan, apalagi dari luar gerbang. Tapi kalau di depan bangunan yang roboh, baunya udah lumayan tercium yang artinya ya berarti sudah banyak yang meninggal. Apalagi untuk orang-orang yang belum terbiasa mencium bau jenazah pasti bakal langsung notis. Namun ada keterangan dari Laksamana pertama TNI yaitu Yudi Brahio selaku direktur operasi Basarnas yang mengatakan kalau bau tersebut memang dirasakan tapi ya belum terlalu menyengat katanya gitu. Tapi kan itu yang ngomong Bapak TNI ya. Orang-orang yang sudah terbiasa menghadapi situasi kayak gini ya kan. Kalau orang-orang yang enggak terbiasa dengan bau jenazah kayaknya bakal ngeh banget kayak ini aneh gitu baunya. Aduh ya sedih banget. Innal lillahi wa inna ilaihi roajiun ya. Al-Fatihah. Semoga para korban diberikan tempat yang terbaik di sisi yang maha kuasa. Amin ya rabbal alamin. Pasca kejadian ini, banyak orang-orang yang mempertanyakan terkait struktur dari bangunan. Karena enggak ada bencana apa-apa, enggak ada gempa, enggak ada banjir, tapi kok tiba-tiba bangunannya roboh. Kira-kira penyebabnya apa? Nah, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan mengenai fakta-fakta terkait rubuhnya bangunan di Pondok Pesantren Alkozini ini. Jadi, geng, pasca insiden ini terjadi, banyak yang mencurigai bahwa ada yang tidak beres dari struktur bangunannya. Muji Irmawan, pakar teknik sipil dari ITS, menyebutkan area konstruksi yang runtuh mencapai sekitar 1600 m². Menurut dia, konstruksi di sana kemungkinan besar runtuh akibat bangunan yang tidak kokoh karena kolom balok antar lantainya tidak sempurna. Apalagi di saat dibangunnya lantai 3 sehingga membuat bangunan jadi semakin tidak stabil. Dari sini ada akumulasi dari beban bangunan dan sambungannya tidak cukup untuk bisa menerima beban-beban tersebut sehingga berakhir ambruk. Kemudian Muji juga bilang bangunan pondok pesantren sejak awal direncanakan hanya ada satu lantai, tapi karena penambahan jumlah santri jadinya dipaksakan untuk bisa dibangun hingga tiga lantai tanpa adanya perencanaan teknis yang matang. Penambahan tanpa adanya perhitungan membuat beban bangunan menjadi meningkat dengan drastis dari yang seharusnya hanya sanggup menanggung 100% tapi bertambah jadi 300% dan inilah yang menyebabkan konstruksi tidak mampu menahan tekanan. Lalu geng, ada salah satu netizen yang bernama Ari Sulistio di TikTok nih ya, dengan username Arvas Garden yang mana dia mencoba melihat bagaimana kondisi bangunan dari pondok pesantren Alkozini ini dengan melihat dari Google Street View. Dari gambar yang ada di Google Street View, dia bisa eh melihat salah satu bangunan. Tapi ini bukan bangunan yang runtuh ya, Geng. Tapi ini adalah bagian dari bangunan pesantren tersebut. Nah, bangunan tersebut dibangun eh dengan sangat aneh dan mengerikan lah. Buat teman-teman yang belajar konstruksi kayaknya paham. Jadi, semakin lantainya ke atas, bangunannya semakin maju ke arah jalan alias kayak makin melayang gitu. Dan bangunannya terdiri dari beberapa lantai, lebih dari tiga lantai, mungkin ada lima lantai. Namun, bangunan di lantai dua yang menjorok ke depan itu enggak ada pondasinya, enggak ada tiangnya. Di lantai 3 bangunannya tambah maju dan tetap tidak ada pilar yang menyangga pondasi. Lantai 4 sampai lantai 5 itu sejajar dengan lantai 4. Cuma di lantai 4 yang ada penyangganya dan terpasang di lantai 3. Kemudian di bangunan sebelahnya ada pilar yang ada di halaman untuk menyangga bangunan di atasnya yang kemungkinan ini adalah bangunan yang baru dibuat. Sementara di bawahnya adalah bangunan lama yang terdiri dari dua lantai. Ari ini menduga bahwa pilar tersebut tidak menggunakan paku bumi. Sebab pilar itu dipasang sangat dekat dengan bangunan lama. Nah, di bagian atasnya setiap lantai dipasang pilar penyangga yang berukuran lebih kecil dibandingkan pilar yang ada di bawah. Dan pilar tersebut ya dipasang di bagian balkon karena posisinya yang juga lebih menjorok ke arah depan dibandingkan bangunan dua lantai di bawahnya. Ari menduga bahwa pilar yang dipasang di area balkon dibangun belakangan. Terus kalau kalian lihat pilar antar lantai tersebut seperti tidak berada di satu garis lurus. Dari sini ya banyak yang mempertanyakan gimana bisa dengan struktur bangunan yang aneh tersebut yang enggak sesuai itu ya bisa lolos perizinannya karena bangunan tersebut tentunya enggak aman, Geng, dan berpotensi ambruk kapan saja. Dan pihak Pemda Sidoarjo pun mempertanyakan terkait perizinan pendirian bangunan yang ambruk di pondok pesantren tersebut. Ya, Subandi selaku Bupati Sidoarjo mengungkap pihak mereka sudah menanyakan hal ini kepada pihak pondok pesantren dan mengetahui bahwa bangunan tersebut diduga tidak mengantongi izin mendirikan bangunan atau IMB. Karena Pak Subandi ini sudah menanyakan perihal izin pembangunannya, namun enggak ada satuun yang bisa menjawab terkait izin tersebut. Beliau juga menyebutkan konstruksi yang dibangun di bangunan tersebut ya enggak sesuai dengan standar sehingga roboh. Dan menurut Pak Subandi semua pembangunan tanpa IMB seharusnya tidak boleh didirikan terlebih dahulu ya. Soalnya pembangunan serta pengerjaan konstruksi yang enggak sesuai standar sangat berisiko. Dan berarti pada saat pembangunan pihak pondok pesantren masih belum punya IMB. Tapi entah kenapa proses pembangunannya masih terus dilanjutkan bahkan dikatakan sudah berjalan selama 9 bulan. yang gak kalah bikin netizen geram ya terkait pernyataan dari pihak pesantren. Di saat itu K. H. Abdus Salam Mujib selaku pengurus Pondok Pesantren Alkozini itu menyampaikan permohonan maaf kepada para korban dari insiden ini termasuk kepada keluarganya. Setelah tragedi ambruknya bangunan, kegiatan di pondok pesantren tersebut dihentikan karena saat ini masih fokus dalam melakukan pencarian dan evakuasi korban yang masih terjebak. Namun yang bikin netizen benar-benar kesal dan geram karena ya beliau ini malah bilang kalau apa yang terjadi adalah takdir Allah sehingga semuanya harus bisa bersabar dan berharap akan diberi ganti oleh Allah yang lebih baik. Saya kira memang ini takdir dari Allah. Jadi semuanya harus bisa bersabar dan mudah-mudahan netizen menganggap kalimat tersebut kayak enggak pantas banget. Emangnya di muka bumi ini bagi umat Islam apa sih yang terjadi tanpa e keridaan Allah atau tanpa ditakdirkan oleh Allah? Apa? Bahkan semut ngegigit kaki kita aja atau kuman masuk ke mulut kita aja itu sudah takdir. Nah, tapi bukan itu jawaban yang tepat. Semua ini terjadi ya karena kelalaian pihak pondok pesantren. Dan kita sebagai manusia ya di dalam agama Islam atau mungkin di agama manaun ya kita itu dituntut untuk berusaha menghindari yang berbahaya, menghindari kebatilan, menghindari hal-hal yang bisa merenggut nyawa orang lain. Jangan pas sudah terjadi bilangnya takdir dari Allah Subhanahu wa taala. Ya enggak gitu konsepnya, Bapak. Segala hal bisa diantisipasi kalau punya isi kepala. udah tahu bukan bidangnya, udah tahu bukan ranahnya untuk konstruksi, kok bisa ngide bangun pondok pesantren sebegitu tinggi tanpa adanya ahli gitu. Dan bagi netizen, pernyataan dari beliau tersebut tadi dianggap sebagai cuci tangan dari pihak pondok pesantren agar tidak disalahkan atas kejadian ini. Padahal kejadian ini murni 100% kesalahan pihak pondok pesantren. Bahkan kabarnya nih, Geng, ada hukuman yang diberlakukan di sana yang sudah menjadi tradisi. Diduga kalau hukuman ini berkaitan dengan insiden bangunan yang ambruk. Jadi, cerita ini didapat dari salah satu santri ya yang menceritakan soal kegiatan mereka di sana. Jadi dia menyebutkan kalau mereka tidak mengikuti kegiatan, mereka bisa mendapatkan hukuman yang salah satunya adalah membantu untuk ngecor bangunan tersebut. Meskipun mereka enggak kekurangan tukang untuk ngecor itu bangunan, tapi jika para santri ini diberi hukuman, mereka wajib untuk membantu para tukang untuk ngecor. Tapi bukan berarti mereka ini menggantikan tukang-tukang itu ya, Geng. Melainkan mereka cuma bantu aja yang enggak semuanya dilakukan sendiri oleh santri. Nah, dari cerita ini banyak yang diduga, jangan-jangan penyebab ambruknya bangunan ini ya karena ada santri yang sebenarnya gak paham gimana cara kerja tukang, cara ngecor yang benar, ikut membantu pengecoran sehingga konstruksinya jadi tidak benar. Nah, ini ilmu juga nih, Geng, bahwa ee semakin banyak manpower atau semakin banyak orang yang ngebantu pembangunan sebuah bangunan itu enggak menjamin itu bangunan bakal lebih baik atau lebih cepat jadinya. Karena kalau misalkan bukan ahlinya, mau 100 orang pun yang ngebangun, ya itu bangunan tetap tidak akan cepat jadi dan tidak akan kokoh. Tapi kalau misalkan cukup 3 orang, 5 orang atau 10 orang tapi memang ahlinya emang tukangnya yaitu bangunan cepat jadi pasti bangunannya kokoh udah pasti. Tapi kalau dicampur-campurin sama hukuman santri, santrinya disuruh kerja juga di sana ya bahaya. Nah, coba deh, Geng. Menurut kalian tuh gimana? Benar enggak nih yang terjadi seperti itu? Nah, terus geng ada salah satu komentar dari netizen yang menceritakan kalau suaminya berada di lokasi kejadian selama 2 hari. Suaminya ini bilang kalau jumlah orang yang meninggal justru lebih banyak dari yang diberitakan di media sebenarnya. Nah, informasi tersebut didapatkan oleh suaminya dari Dinas Pekerjaan Umum atau PU. Kabarnya nih, Geng ya. Informasi tersebut memang sengaja ditutup-tutupi dari media agar publik tidak ada yang tahu kalau ternyata lebih banyak korban yang sebenarnya meninggal dunia daripada yang disebutkan di media. Terus, geng, Menteri Agama ya, Pak Nasaruddin Umar itu berjanji bakal memberikan perhatian khusus agar pembangunan pondok pesantren sesuai dengan standar dan aturan yang berlaku dengan tujuan untuk mencegah terjadinya ya hal kayak gini lagi. Jangan sampai lagi terjadi bangunan roboh yang menimbulkan korban. Dan beliau juga mengaku tidak tahu terkait adanya isu yang menyebutkan banyak santri yang dilibatkan dalam pengocoran gedung. Dan hanya saja menurut beliau cara-cara seperti itu juga dilakukan oleh beberapa pondok pesantren lain. Ternyata ya kalau misalkan ada santri yang kena hukuman ya disuruh bekerja atau apa gitu. Nah meskipun begitu beliau menyampaikan bahwa pihaknya akan mencoba membuat kondisi pembangunan pondok pesantren agar sesuai dengan standar dan aturan yang ada. Terkait tanggung jawab dari pihak Kemenak atas kasus robohnya bangunan pondok pesantren Alkozini, beliau mengatakan pihaknya akan menjadikan kasus ini sebagai pembelajaran. Nah, tapi yang jadi pertanyaan gua, apakah di dalam kasus ini akhirnya diikhlaskan kayak gitu aja? Apa kompensasi yang didapatkan oleh keluarga korban, Geng? Dan siapa yang patut disalahkan? Berarti ini enggak ada tersangkanya, enggak ada pelakunya. Padahal ini jelas-jelas kelalaian, ya kan? Ada pihak yang seharusnya bertanggung jawab, tapi di sini kayak ya udah dimaafkan gitu aja. Gimana tuh menurut kalian, Geng? Sampai di sini dulu, Geng, pembahasan kita mengenai ambruknya bangunan di Pondok Pesantren Alkozini di Sidoarjo. Proses evakuasi masih terus dilakukan dan kita doakan semoga tidak ada korban jiwa tambahan. Oke, kalian boleh beropini di kolom komentar.