KERACUNAN MAKAN BERGIZI GRATIS ! PEMERINTAH TURUN TANGAN & PENYEDIA MAKANAN TIDAK JAGA KEBERSIHAN?
lsCO8tvxPw4 • 2025-10-01
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Geng, hari ini kita bakal membahas
tentang sebuah fenomena yang lagi ramai
di negara kita, yaitu soal keracunan
makanan bergizi gratis atau MBG.
Tapi sebelumnya gua disclaimer dulu ya.
Gua membahas ini bukan untuk menyudutkan
pihak manapun. Karena ya gua yakin
tujuan dari program MBG ini sebenarnya
tujuannya baik, Geng. tujuannya bagus
gitu ya untuk meningkatkan gizi
anak-anak Indonesia. Dan juga program
seperti ini ee bukanlah program yang
baru ya kan. Di berbagai negara maju di
luar sana program makan siang untuk
siswa seperti ini sudah ada. Nah, jadi
baru sekarang diterapkan di negara kita.
Dan seperti yang kita tahu ya, gagasan
untuk membuat makan bergizi gratis atau
MBG ini ya dicanangkan oleh Pak Prabowo
yang mana beliau tujuannya adalah untuk
kebaikan masa depan anak-anak Indonesia
dan kebijakan ini disambut dengan baik
mau itu dari kalangan siswa maupun orang
tua sedari awalnya karena di saat itu ya
banyak orang tua yang berpikir tidak
perlu lagi menyiapkan bekal atau
memberikan uang saku untuk anak-anaknya
jajan di luar dan ya mungkin berpikirnya
juga lebih ee terjamin gitu. gitu.
Makanan dari program MBG ini bisa jadi
dikatakan makanan yang bersih, ya kan
namanya aja udah bergizi. Nah, ketimbang
anak-anak harus jajan di luar yang kita
enggak tahu gitu kebersihannya atau ya
kandungan dari makanan itu apa, itu kan
lebih berbahaya. Nah, tapi geng ya
baru-baru ini program yang tujuannya
sangat baik ini pada kenyataannya
ternyata banyak mengalami kendala dan
tidak berjalan dengan mulus. Kasus
keracunan tiba-tiba muncul di mana-mana.
yang lagi ramai juga kemarin ya, ada
kasus keracunan MBG yang menunya adalah
ikan hiu goreng. Ini jujur aja ya, gua
baru pertama kali mendengar ikan hiu
goreng. Biasanya ikan hiu itu agak apa
ya,
agak effort sih eh masak ikan hiu itu.
Kalau misalkan di kampung gua nih, para
mama-mama kita di sana itu biasanya
digulai, tapi kalau digoreng tuh gua
enggak pernah nyoba karena daging ikan
hiu itu kayak kayak karet, Geng. Dia
agak e apa ya? agak kenyal-kenyal gitu
loh. Kalau misalkan enggak direbus pakai
kuah, enggak disantan, enggak di ee
gulai gitu, kayaknya rasanya gimana
gitu. Nah, ini baru pertama kali nih
muncul menu ikan hiu goreng. Apa mungkin
di daerah kalian ada yang macam ini.
Jujur aja kalau gua sendiri ya, gua
berasal dari Aceh dan gua belum pernah
merasakan atau nyobain ikan hiu goreng.
Dari sini aja kita udah bisa lihat ya,
Geng. Program yang sebenarnya tujuannya
baik. Pak Prabowo mengadakan tujuannya
itu adalah untuk kebaikan. Namun sampai
ke bawah ada aja hal unik, ikan hiu
goreng lah tiba-tiba. Nah, kasus
keracunan MBG seperti ini ternyata itu
bukan cuma berdampak menjadi muntaber,
tapi juga ada yang sampai mengalami
sesak nafas dan kejang-kejang.
Orang tua yang mungkin awalnya menyambut
baik program ini justru sekarang jadi
cemas sebab takut anaknya justru ikut
keracunan seperti siswa-siswa yang lain.
Nah, di video kali ini kita bakal
merangkum nih terkait fenomena ini dan
di mana saja kasus tersebut terjadi dan
seberapa banyak korbannya dan apa
penyebabnya. Kemudian apa sih yang salah
dari program ini? Apakah pengawasannya
atau justru budgetnya atau ya seperti
biasa negara kita ya kalau presidennya
udah bagus, udah tegas, udah peduli
dengan rakyatnya biasanya bawah-bawahnya
itu ada aja yang korupsi. Nah, ini kita
yang enggak tahu nih. Nah, lalu
bagaimana arahan dari Presiden Prabowo
setelah mengetahui sudah terjadi begitu
banyak kasus keracunan MBG di Indonesia?
Untuk menjawabnya kita langsung aja
bahas secara lengkap. Halo, Geng.
Welcome back to Kamar Jerry.
[Musik]
Geng, geng. Oke, untuk pembahasan yang
pertama kita akan membahas dulu ya
program MBG dan juga pendistribusiannya.
Nah, kita bahas ini supaya kalian paham
alurnya.
Nah, jadi geng program makan bergizi
gratis atau MBG adalah salah satu
program unggulan dari Presiden Prabowo
dan sudah diperkenalkan oleh beliau
ketika masa kampanye. Program ini
akhirnya dijalankan setelah beliau
terpilih dan dilantik menjadi presiden.
Pada saat itu, pemerintahan ee Presiden
Prabowo berencana akan menyediakan makan
bergizi gratis bagi 82,9 juta anak-anak,
ibu hamil, dan juga menyusui, serta
pelajar di seluruh Indonesia. Pemerintah
juga sudah menyiapkan anggaran sebesar
R1 triliun per tahunnya. Awalnya ini
untuk satu porsi makan bergizi ini ya
dianggarkan sebesar Rp15.000. Namun Pak
Prabowo merevisinya untuk memotong
anggaran menjadi Rp10.000 per porsi.
Nah, keputusan ini didasarkan pada hasil
uji coba MBG yang ada di Sukabumi.
Terus, Geng, gimana dengan pelaksanaan
penyediaan makanan bergizi gratis atau
MBG ini? Nah, jadi ketika diuji coba di
masa pemerintahan Presiden Jokowi ya di
saat itu beberapa alternatif diusulkan
di antaranya melibatkan warung UMKM
sebagai penyedia dari makanannya. Nah,
tapi Badan Gizi Nasional atau BGN yang
ditugaskan untuk mengurus makanan
bergizi lebih memilih mendirikan satuan
layanan di sejumlah wilayah. Jadi enggak
diserahkan kepada warung-warung, tapi
justru ada lembaga lain atau badan lain
atau pihak lain yang menyediakan makanan
itu. Makanya ada yang disebut dengan
dapur MBG. Di saat itu ya, Kepala BGN
yaitu Dadan Hindayana mengatakan dari
data geospasial sekolah yang statis itu
dijadikan sebagai landasan awal untuk
membangun sebanyak satuan layanan di
seluruh daerah di Indonesia yang
nantinya bakal berjumlah sebanyak
R30.000. Nah, cakupan layanan ini
diperluas untuk melibatkan ibu hamil,
ibu menyusui, dan anak balita
berdasarkan data real time di radius
sekitar 6 km dari lokasi layanan.
Layanan di seluruh daerah itu dirancang
untuk mengelola anggaran senilai 7
sampai 10 miliar untuk menangani
distribusi program MBG secara
terstruktur ke berbagai kelompok
sasaran. Nah, dengan anggaran R1 triliun
dan setiap satuan layanan itu memerlukan
anggaran 7 miliar per tahunnya. Maka
dari itu ya ee ini hanya bisa mendirikan
sekitar 10.000 satuan doang.
Terus, Geng, pada hari Senin tanggal 2
Desember tahun 2024 setelah menghadiri
sidang kabinet paripurna di kompleks
Istana kepresidenan, Pak Dadan itu
bilang setiap satuan layanan itu akan
mencakup sekitar 3.000 anak sekolah
sebagai basis utama. Sekitar 85% dari
anggaran yang dikelola satuan layanan
itu bakal dialokasikan untuk pembelian
bahan baku makanan yang nantinya diolah
menjadi menu harian. Sehingga badan gizi
tidak akan membeli paket makanan yang
sudah jadi, tapi justru membayar bahan
baku. Nah, menu itulah yang bakal diatur
di dalam 1 bulan, Geng. Misalnya nih, di
hari Senin mereka bakal masak ayam
balado dengan sayur lengkap, dengan nasi
serta buah. Nah, bahan baku di hari
itulah yang bakal dibayar oleh badan
gizi. Nah, bahan baku tersebut akan
dimasak sendiri oleh satuan layanan
kemudian didistribusikan ke para
penerimanya. Ada sebanyak 10,5% dari
anggaran itu bakal digunakan untuk
memberdayakan komunitas lokal seperti
membayar ibu-ibu yang memasak dan juga
bapak-bapak yang bertugas untuk mencuci
peralatan MBG. Nah, target Badan Gizi
Nasional adalah membentuk sebanyak
30.000 satuan layanan di seluruh
Indonesia mulai dari Sabang sampai
dengan Merauke. Di tahap awal fokusnya
bakal diberikan kepada anak sekolah yang
kemudian dilengkapi dengan kelompok
rentan lain seperti ibu hamil serta
balita. Nah, pendanaannya ini, Geng,
berasal dari berbagai sumber pendapatan
seperti APBN, kemitraan dengan
kementerian dan lembaga lain, dan
kolaborasi bersama pihak ketiga seperti
koperasi, yayasan, serta UMKM. Dan Pak
Dadan ini menargetkan sebanyak 82,9 juta
orang yang menjadi penerima program MBG
yang dihimpun dari berbagai sumber resmi
dan akan diverifikasi di lapangan. Nah,
basisnya itu dari sekolah yang mana
datanya ini dari Kementerian Pendidikan.
Sasaran utama program ini meliputi siswa
sekolah, ibu menyusui, dan anak balita.
Nah, untuk siswa sekolah datanya itu
sudah lengkap. Namun, khusus untuk ibu
hamil, ibu menyusui, dan anak balita itu
bakal ada verifikasi langsung di
lapangan secara real time dan enggak
bisa hanya mengandalkan data statis aja,
Geng. Pak Dadan itu mengungkapkan bahwa
setiap tahun ada sekitar 4 juta ibu
hamil yang diikuti dengan kelompok ibu
menyusui serta balita. Nah, mengenai
perhitungan data untuk kategori
tersebut, Pak Dadan menyebutkan
diterapkan mekanisme penghimpunan dana
berdasarkan siklus usia dari sejak anak
itu dilahirkan, terus usia balita hingga
menyusui. Nah, untuk lokasi yang
dijadikan sebagai tempat memasak MBG,
Badan Gizi Nasional membuat konsep
standar bangunan dapur sehat yang mampu
menampung aktivitas penyediaan makanan
sebagai pendukung program MBG. Bangunan
utama dari dapur sehat itu seluas 400 m²
dan bakal digunakan oleh sekitar 40
orang pekerja yang menyediakan 3.000
porsi makanan persi.
Banyak banget ya. Salah satu dapur MBG
yang lebih awal beroperasi adalah satuan
layanan pemunuhan gizi atau SPPG tanah
sereal di Bogor, Jawa Barat yang
memiliki area yang lebih besar
dibandingkan konsep dapur sehat. Di
dapur tersebut terdapat sebanyak 51
karyawan yang merupakan warga sekitar.
SPPG tanah sereal itu memiliki dimensi
bangunan utama 21,6* 21,6 m. Dan
aktivitas penyediaan makanan di dapur
ini dimulai dengan persiapan bahan baku
pada jam .00 malam dan diakhiri dengan
pencucian alat masak pada jam 11.00
malam di hari berikutnya. Radius dari
dapur sehat ke sekolah itu sekitar 2 km.
Hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas
makanannya. Karena kan kalau misalkan
terlalu jauh, takutnya nanti dalam
perjalanan malah basi gitu. Jumlah dapur
MBG juga akan bertambah seiring waktu.
Konsep dari dapur sehat juga bisa
diterapkan di lokasi yang belum memiliki
fasilitas memasak yang sesuai dengan
standar. Kesiapan dapur menjadi
prioritas utama agar program MBG bisa
berjalan dengan maksimal. Dan di tahap
awal sudah ada sekitar 190 dapur MBG
yang beroperasi di tanggal 6 Januari
2025 untuk menjaga kebersihan makanan.
Karyawan diwajibkan menggunakan
perlengkapan standar higienis ketika
bekerja. ya, mungkin kayak masker,
penutup kepala dan lain-lain.
Pengantaran makanan itu dilakukan dua
kali per hari, yaitu sebelum jam 10 pagi
untuk makan pagi dan jam 12.00 siang
untuk makan siang, Geng.
Nah, jadi kurang lebih seperti itu ya,
Geng, cara dari program MBG dan
mekanismenya berjalan. Sebenarnya sangat
positif, Geng, program yang diusung dan
dijalankan oleh Pak Prabowo ini. Namun,
pada penerapannya terjadi kasus
keracunan di mana-mana. Nah, sekarang
kita bakal masuk ke dalam pembahasan
terkait kasus-kasus keracunan MBG di
berbagai daerah. Di mana di antaranya
ada yang keracunan karena habis makan
lauk hiu goreng.
Aneh banget. kita bahas.
Jadi, Geng kasus keracunan MBG bukan
baru ini terjadi, tapi udah terjadi
bahkan sejak awal tahun ini. Dari data
yang gua ambil dari beberapa media ya,
di bulan Januari ada tiga kasus yang
terjadi. Yang pertama itu tanggal 6
Januari di Cianjur ada sebanyak 72 siswa
mengalami gejala keracunan setelah
mengkonsumsi MBG. Yang kedua terjadi
pada tanggal 13 Januari di Kalimantan
Utara. Ada puluhan siswa yang mengalami
diare dan mual setelah menyantap menu
MBG di SDN 03 dan SMAN 2 Nunukan
Selatan. Terjadi lagi di tanggal 16
Januari di Sukoharjo. Ada 40 siswa
mengalami mual dan muntah setelah makan
ayam tepung dari MBG. Berlanjut lagi di
bulan Februari pada tanggal 18 Februari
di Sumatera Selatan ada delan siswa yang
sakit perut dan muntah-muntah setelah
menyantap MBG yang mana diduga kondisi
makanannya sudah basi dan berulat. Masih
di tanggal yang sama, ada 29 siswa yang
mengalami gejala seperti mual, muntah,
dan sakit perut setelah menyantap menu
MBG yang juga diduga basi. Nah, kejadian
yang kedua ini terjadi di NTT.
Nah, terus Geng berlanjut lagi. Keesokan
harinya di tanggal 19 Februari ya, ada
kejadian 28 siswa mengalami gejala
pusing, mual, muntah, dan diare setelah
makan menu MBG. dan kejadiannya di
Banten. Selanjutnya di tanggal 27
Februari ada 12 orang siswa keracunan di
Sulawesi Selatan. Nah, 10 orang dari SD
Kapun Rengan. Satu siswa dari SD Bonto
Ba'do, dan satu siswa lagi dari SD
Lengkese. Kalau gua sebutkan dengan
detail bakal banyak banget, Geng. Gua
nyebutin banyaknya kasus per bulannya
aja ya, Geng. Jadi, di bulan Maret itu
ada dua kasus. Bulan April ada empat
kasus. Bulan Mei ada dua kasus. Bulan
Juni ada dua kasus, dan bulan Juli ada
tiga kasus. Terus berlanjut. Bulan
Agustus ada empat kasus dan di bulan ini
ya e di bulan September itu kasusnya
lebih banyak dibandingkan dengan bulan
sebelumnya yaitu ada sebanyak 12 kasus.
Hingga di hari Sabtu tanggal 27
September ya berdasarkan pantauan dari
jaringan pemantau pendidikan Indonesia
atau JPPI tercatat ada sebanyak 8.649
anak yang dilaporkan mengalami
keracunan. 3.289
di antaranya terjadi hanya dalam kurun
waktu 2 minggu terakhir. Di bulan
September, jumlah korban keracunan per
minggu dilaporkan oleh JPI selalu
meningkat. Penambahan jumlah korban
terjadi pada 1 minggu lalu, yaitu antara
tanggal 22 sampai 27 September 2025 yang
mana korbannya bisa mencapai 2.197 anak.
Enggak main-main ya, jumlah korbannya
banyak banget. Tapi ingat nih, jangan
buru-buru nge-judge programnya. Tapi ya
lagi-lagi letak kesalahannya adalah
kepada penyedia makanannya. Ini
kira-kira mereka sudah memenuhi standar
kebersihan atau belum? Alat makan, alat
masaknya sudah diperhatikan atau belum.
Kalau programnya ya udah pasti positif.
Terus geng data JPPI itu menunjukkan
lima provinsi dengan jumlah keracunan
MBG terbanyak yaitu Jawa Barat dengan
2012 kasus. Terus ada Yogyakarta dengan
1047 kasus. Jawa Tengah dengan 722
kasus, Bengkulu dengan 539 kasus, dan
Sulawesi Tengah sebanyak 446 kasus.
Sementara data versi pemerintah yang
dihimpun dari Badan Gizi Nasional atau
BGN, Kementerian Kesehatan, serta BPOM
itu mencatat jumlah korban berada di
kisaran 5.000 orang. Nah, lalu
berdasarkan laporan dari media lainnya
dari tanggal 12 Agustus sampai 18
September 2025, kasus keracunan di
berbagai sekolah sedikitnya sudah
menyebabkan 978 siswa dirawat di rumah
sakit dengan gejala yang bermacam-macam.
Mulai dari diare, gatal-gatal di seluruh
badan, mual, muntah, bengkak pada wajah,
gatal di tenggorokan, sesak nafas,
pusing, dan sakit kepala. Dan dari semua
kasus keracunan MBG ini, ada satu kasus
yang cukup menarik perhatian kita semua,
yaitu kasus yang terjadi di SDN 12 Banua
Kayong, Ketapang, Kalimantan Barat. Yang
mana sedikitnya ada 25 siswa dan guru
dilaporkan keracunan setelah menyantap
MBG yang mana salah satu menunya adalah
ikan hiu goreng.
Mengalami keracunan. Usai menyantap menu
makan bergizi gratis berupa ikan hiu
fileet, saus tomat, osengkol, dan
wortel.
Nah, ikan hiu itu diolah menjadi nugget
yang dilengkapi dengan saus tomat. Di
menu tersebut juga ada nasi putih, tahu
goreng, serta sayur osengkol dan juga
wortel serta ada buah melon. Kasus ini
jadi perhatian karena terletak pada
menunya yaitu ikan hiu yang mana ini
bukanlah lauk yang umum dimakan oleh
orang Indonesia. Kalau boleh jujur ya,
kadang juga ikan hiu tuh di beberapa
daerah tuh mahal, Geng. Nah, jadi gua
enggak paham nih kenapa di tempat ini
mungkin ya memperdayakan nelayan kali
ya. Karena nelayan di sana mungkin
banyak menkap ikan hiu ya, udah dibeli
gitu. Tapi gua juga enggak paham. Cuma
gua tekankan ya, Geng. Mungkin buat
kalian yang tinggal di area perkotaan,
menu seperti ikan hiu atau ikan pari
terdengar asing. Tapi untuk mereka yang
memang hidup di daerah pesisir atau
dekat dengan pantai, ikan hiu itu sudah
jadi ya lauk keseharian lah. Di beberapa
negara hiu juga jadi makanan yang cukup
lazim dikonsumsi. Hal ini juga
dikonfirmasi oleh Kepala Regional MBG
Kalimantan Barat yang bernama Pak Agus
Kurniawi. Beliau menyebutkan kalau ikan
hiu adalah produk lokal karena dibeli di
TPI Rangga Sentap. TPI itu tempat ee
pendaratan ikan atau apa ya tempat
pokoknya TPI itu pantai gitu, Geng.
Seingat gua ya. Ini koreksi gua kalau
salah. Terus, geng, Pak Agus ini bilang,
memang sebenarnya ikan hiu itu sendiri
tidak direkomendasikan untuk anak-anak
mengingat resiko adanya kandungan merkur
pada ikan hiu. Terus kenapa bisa lolos
jadi menu MBG? Ini lucunya nih. Pak Agus
mengatakan bahwa ikan hiu itu merupakan
rekomendasi dari ahli gizi yang ada di
SPPG. Sehingga ahli gizi SPPG
tersebutlah yang dianggap lalai dan
teledor karena tidak teliti memilih
menu. Namun Pak Agus ini mengklaim bahwa
ahli gizi tersebut sudah meminta maaf
dan mengakui apa yang sudah mereka
lakukan. Yang mana ini mereka akui
merupakan keteledoran dalam memilih menu
yang kurang aman jika dikonsumsi oleh
anak-anak. Nah, jadi orangnya udah minta
maaf, Geng. Menurut kalian gimana tuh?
sudah terjadi kasus keracunan karena
program MBG yang gak bisa kita bilang
sedikit karena menyentuh angka ribuan
dan membuat banyak orang tua murid yang
merasa khawatir akan kesehatan anak
mereka jika terus mengkonsumsi makanan
MBG ini. Nah, tapi apa sih penyebabnya
kenapa bisa terjadi kasus keracunan MBG
begitu banyak? Nah, mungkin di sini gua
akan memberikan sedikit rangkuman
informasi mengenai penyebab-penyebab
yang diduga ya yang diduga eh menjadi
dasar keracunan, menjadi dasar kenapa
makanan-makanan itu justru meracuni
anak-anak atau siswa-siswa Indonesia.
Sekarang kita bahas.
Jadi, geng terkait penyebab kenapa bisa
terjadinya banyak kasus keracunan di
berbagai daerah sehabis mereka menyantap
MBG. Nah, ini dikarenakan ya di beberapa
sampel yang diambil dari berbagai daerah
ternyata MBG sudah terkontaminasi oleh
bakteri. Dari hasil pemeriksaan
laboratorium terkait kasus keracunan
massal program MBG di Jawa Barat itu
menunjukkan ditemukannya ada bakteri
salmonela dan juga basilus sereus di
sejumlah makanan yang diuji. Menurut
Chandra Yoga Aditama selaku pakar
kesehatan sekaligus mantan direktur
penyakit menular WHO Asia Tenggara,
temuan ini sejalan dengan referensi
global, Geng. di mana kontaminasi
bakteri salmonella ini biasanya
dihubungkan dengan makanan tinggi
protein seperti daging e unggas ya kayak
ayam gitu dan juga telur. Sementara
basilus serereus itu ee sering muncul
akibat penyimpanan nasi yang enggak
tepat. Jadi beliau menegaskan kalau
keracunan makanan bisa terjadi di
berbagai belahan dunia dan enggak selalu
dikaitkan dengan program MBG. Jadi ya
kayak gua bilang tadi, tergantung si
penyedia makanannya itu gimana dia udah
menjaga kebersihan belum atau dia naruh
makanannya ngasal-ngasal. Tapi untuk
memastikan penyebabnya sebaiknya
laboratorium di Indonesia memeriksa
dengan lebih teliti sesuai dengan
pedoman dari WHO, katanya gitu. Dan WHO
menyebutkan setidaknya ada lima hal yang
bisa diperiksa di dalam kasus keracunan
makanan, yaitu bakteri, virus, parasit,
prion, dan juga kontaminasi bahan kimia.
Selain salmonella, kasus keracunan
makanan sering disebabkan karena
kampilobakter dan juga eserisia
bahkan listeria atau fibrio
yang kedua adalah virus di antaranya ada
neovirus dan juga hepatitis A. Yang
ketiga ada parasit seperti cacing
trematoda, terus ada cacing pitatenia,
terus ada asaris, terus ada
cryptoporidium sampai dengan giardia.
Nah, jadi semua itu adalah nama dalam
dunia medis. Nah, terus ada yang keempat
nih yang disebut dengan pron atau bahan
infeksi yang terdiri dari protein. Nah,
meskipun yang keempat ini jarang
terjadi, tapi prion ini bisa memicu
penyakit seperti bovine, spongifom,
esepalopati atau disingkat dengan BSE.
Nah, terus yang kelima adalah bahan
kimia. Mulai dari logam berat seperti
timbal, merkuri, katmium, terus polutan
organik persisten seperti dioksin dan
juga PCBS sampai dengan toksin makanan
seperti aflatoksin. Dari beberapa faktor
tersebut ya, Geng ya. Memang di beberapa
kasus MBG yang terjadi ketika siswa
terkontaminasi oleh bakteri ya.
Contohnya nih pada kasus keracunan MBG
di Tasik Malaya itu ada bakteri basilus
subtilis. Di menu MBG-nya ada orang tua
siswa yang bernama Irma Nurliana yang
anaknya buang air terus-menerus dari
tengah malam sampai subuh. Bayangin tuh
sedihnya ya. Capek banget jadi orang
tuanya. Anaknya kesakitan, enggak bisa
tidur. Pagi harinya, Bu Irma ini buka
grup WhatsApp sekolah dan ternyata
hampir semua anak yang makan MBG juga
mengalami hal yang sama dengan anaknya.
Buang air dan mual-mual. Nah, menu MBG
yang anaknya makan terdiri dari ayam
teriaki, sayur waluh, terus ada tahu
goreng, jagung, dan buah anggur. Anaknya
yang bernama Shina dibawa ke puskesmas
dan kata dokternya dia mengalami
keracunan karena ada bakteri yang masuk
ke dalam tubuh. Hasil pemeriksaan
makanan di UPTD laboratorium Jawa Barat
menunjukkan ada kandungan bakteri
basilus subtilis pada ayam teriaki yang
dikonsumsi. Jadi, bayangin tuh ya,
makanan sehat jadi enggak sehat karena
ada bakterinya. Terus geng, kasus
selanjutnya terjadi di Sumatera Selatan
ya, ada yang bernama Fitri Febrianti.
Dia ini adalah orang tua dari siswa yang
bernama Naila yang mana dia menceritakan
anaknya merasa mual-mual, pusing, dan
juga sakit kepala. Naya ini dibawa ke
rumah sakit terdekat. Namun, Bu Fitri
ini baru mengetahui bahwa yang mengalami
hal ini bukan cuma anaknya doang, enggak
cuma Naa, tapi ada ratusan anak-anak
lain yang diduga keracunan massal. Naila
sempat ditanyakan oleh dokter terakhir
kali dia makan apa sampai jadi seperti
ini? Dan ibunya Fitri menjawab kalau
Nayla terakhir kali makan MBG aja enggak
ada makanan lain. Nah, dia sempat
diberikan makanan setelahnya namun
enggak sempat dimakan karena langsung
muntah-muntah setelah makan MBG. Nah, Bu
Fitri ini bilang di hari itu menu MBG
yang disantap anaknya ada beberapa e
menu, yaitu ikan tongkol suwir, tempe
goreng, dan juga buah. Dan berdasarkan
hasil laboratorium dari sampel makanan
MBG ditemukan adanya kontaminasi bakteri
stepcocus aureus pada tempe gorengnya.
Enggak cuma itu, Geng. Air bersih dari
sumur bor dan PDAM yang digunakan untuk
mengolah makanan MBG ternyata mengandung
bakteri koliform dan bakteri ekoli.
Waduh gila gila. Mengapa bisa terjadi
begitu banyak kasus keracunan yang
disebabkan karena bakteri ya geng? Nah
jawabannya itu Geng adalah fakta yang
terjadi di lapangan dari 8.583
dapur MBG cuma 34 aja yang memiliki
sertifikat kebersihan. Kebayang tuh
8.500
cuma 34 yang memiliki sertifikat
kebersihan. SPPG harus memiliki lisensi
yang bernama sertifikasi
hygien dan sanitasi atau disingkat
dengan SLHS dan juga prosedur keamanan
pangan yang menjadi keharusan bagi SPPG.
SLHS itu dikeluarkan oleh Kemenkes
sebagai upaya mitigasi dan pencegahan
keracunan pada program MBG. untuk SOP
keamanan pangan dari 1379
SPPG cuma ada 413 yang memiliki SOP
tersebut dan SOP ini cuma dijalankan
oleh 312 SPPG. Muhammad Qodari selaku
Kepala Kantor Staf Kepresidenan itu
menyebutkan empat penyebab utama
keracunan MBG, yaitu higienitas, makanan
yang buruk, suhu, dan pengolahan pangan
yang tidak sesuai, dan juga kontaminasi
silang dari petugas serta indikasi
alergi pada penerima manfaat atau
siswa-siswanya mungkin ada alergi gitu.
Dan selama ini juga ternyata juru masak
di SPPG banyak yang melanggar SOP
terkait teknik memasak, Geng. Nah, di
saat itu ya Pak Candra itu menilai
sertifikasi ini penting dan wajib tapi
belum tentu menyelesaikan semua masalah.
Ya, setidaknya tuh apa ya ee
jaga-jagalah mengatasi gitu. Sertifikasi
hanya bagian dari apa yang disebut
dengan rantai keselamatan pangan. Rantai
ini cuma dimulai dari produksi bahan ya
sampai diolah menjadi makanan yang
tersedia di atas nampan. Jadi harus
dipastikan dari awal apakah bahan
mentahnya itu sehat atau enggak, bagus
atau enggak, ada insektisida atau
enggak, hewan yang disembelih atau
dijadikan makanan sehat atau enggak,
transportasi untuk mengantar bahan
mentah ke gudang itu bersih atau enggak.
Nah, setelah itu tempat penyimpanannya
atau gudangnya juga menjadi bagian yang
enggak boleh terpisahkan dari prosedur
keamanan dan kebersihan pangan tersebut.
Terus, Geng, ada sebuah video nih yang
cukup viral di sosial media yang
memperlihatkan
nampan atau wadah MBG yang digeletakan
begitu saja tanpa adanya alas meja atau
apapun untuk memisahkan wadah dengan
tanah. Terus juga di video tersebut
terlihat adanya air yang menggenang yang
otomatis membuat wadah MBG-nya juga jadi
terkena oleh air yang mengenang itu. Di
dekat lokasi di mana wadah itu
diletakkan, ternyata ada aliran air yang
berisikan limbah. Apa yang terlihat di
video tersebut menunjukkan betapa tidak
higienisnya salah satu dapur MBG yang
beroperasi. Nah, dari video itu banyak
yang berkomentar kalau mereka tidak
heran jika ada yang keracunan kalau ya
salah satu dapurnya kayak gitu. Jadi
bisa dikatakan enggak semua, tapi salah
satu dapurnya modelan begitu. Udah pasti
anak-anak keracunan. Nah, diketahui
kalau video itu diambil dari ee sebuah
SPPG yang berada di Cibadak, Kabupaten
Lebak, Banten. Ada beberapa sekolah yang
menerima paket makanan dari SPPG ini,
yaitu SMPN3 Cibadak dan SDN 1 Asem. Di
hari Kamis tanggal 25 September 2025,
kedua sekolah tersebut melaporkan paket
makanan MBG itu berbau asam dan tidak
lazim. Di SMPN 3 Cibadak, ratusan porsi
makanannya enggak jadi dikonsumsi karena
pihak sekolah khawatir nanti para
siswanya akan mengalami keracunan,
enggak jadi dikonsumsi.
Di SMP Negeri 3 Cibadang, ratusan porsi
MBG terpaksa tak disentuh karena pihak
sekolah khawatir dengan kemungkinan para
siswa akan mengalami keracunan.
Berapa banyak duit rakyat yang hilang
sia-sia, kebuang sia-sia gara-gara
makanannya enggak jadi dimakan? Ya bukan
salah pihak sekolah, salah dari penyedia
makanannya. Dan sementara di SDN 1 Asem
ya sebagian porsi makanan sudah
dikonsumsi tapi enggak habis karena
dikatakan sudah berbau asam. Dan
pengelola dapur MBG Asem yaitu Atim
Afandi mengakui insiden itu terjadi
karena dapur mereka sempat tergenang
banjir akibat hujan katanya. Nah,
selokannya sempat mampet, namun sudah
mereka perbaiki dan aliran airnya sudah
lancar. Mengenai makanan yang disebut
berbau asam, dia mengatakan makanan itu
belum dikonsumsi secara luas oleh para
siswa dan pada saat itu juga sudah
diberikan penggantinya untuk
mengantisipasi potensi keracunan.
Nah, terus Geng ya enggak cuma masalah
di makanan dan di dapurnya aja geng.
Food tray atau nampan yang digunakan di
dalam program MBG juga dinilai
bermasalah. Nah, mungkin kita kira ya
semua aspek dalam program MBG ini full
semuanya dari negara. Tapi ternyata
enggak. Fotreay atau wadah makanan aja
itu impor dari Cina. Pak Dad dan
Hindayana selaku ketua BGN mengaku
sebenarnya rencana awal MBG akan
dilakukan dengan menggunakan nampan yang
sudah tersedia di pasar Indonesia. Namun
food trer yang dibutuhkan belum
diperdagangkan di tingkat nasional atau
belum diproduksi. Nah, pada bulan Juni
tahun 2024, BGN sudah mengundang yang
disebut dengan Asosiasi Pengusaha
Peralatan Alat dapur dan alat makan
untuk memproduksi food tray di dalam
negeri. Cuma mungkin pada saat itu
pengusahanya belum yakin kalau program
MBG ini akan berjalan dengan cepat.
Menurut Pak Dadan, pengusaha dalam
negeri ketika itu cuma mampu memproduksi
10 juta nampan per bulan. Sementara
untuk MBG-nya masih kekurangan sekitar
70 juta foot ray. Nah, karena itulah
pemerintah memilih impor aja sebagai
solusi kekurangan dari foot tray ini.
Nah, Pak Dadan menegaskan impor food
trer dari Cina merupakan pengadaan yang
dilakukan oleh mitra. Namun, Pak Dadan
mengatakan belum ada speser pun uang
anggaran BGN yang dipergunakan untuk
pengadaan food ini. Nah, lalu geng
tiba-tiba ya masyarakat Indonesia
dihebohkan dengan sebuah laporan yang
dibuat oleh Indonesia Business Post yang
menyebutkan kalau food trer untuk MBG
itu dibuat di beberapa pabrik yang ada
di daerah Kausan China. Tapi anehnya
foot tray tersebut malah tertulis kalau
foot tray-nya itu dibuat di Indonesia
dan berlogo SNI. SNI sendiri adalah
standar nasional resmi yang menjamin
suatu produk memenuhi persyaratan
keselamatan kualitas dan kinerja
Indonesia. Jika terjadi penyalahgunaan
bisa menyesatkan konsumen dan melemahkan
pengawasan regulasi nasional. Skema ini
juga melanggar aturan WTO dan Rules of
Origin sehingga bisa dimanfaatkan untuk
menghindari tarif atau kuota impor yang
menjadi penipuan serius dan berpotensi
menutupi impor ilegal. Terus kemudian
food tray yang digunakan di dalam
program MBG tersedia dalam tiga jenis
yaitu nampan premium, nampan foot grade
316 dan 304 serta nampan nonfot grade
2011. Pemerintah Indonesia pernah
memberlakukan larangan impor baja tahan
karat tipe 2011 ini untuk melindungi
kesehatan masyarakat, tapi malah dipakai
sekarang di MBG. Jadi dengan kata lain
ya, Geng, nampannya aja itu bukan yang
food grade alias bukan yang standar
untuk naruh makanan dan itu kalau udah
ditaruh makanan bahaya tapi itulah yang
dipakai. Gimana orang enggak keracunan
dan investigasi dari Indonesia Busnis
Pos menemukan bahwa larangan ini
ternyata tidak dijalankan dengan baik.
Menurut keterangan seorang importir di
Indonesia, nampan tipe 2011 masih
beredar luas. Meskipun sebagian besar
importir memesan tipe 304. Nah, ini
dikarenakan tekanan harga pasar.
Produsen Cina mencampur nampan tipe 304
dan 2011 yang berarti ada jutaan unit
yang beresiko tinggi sudah menjadi wadah
MBG dan sampai ke anak-anak. Produsen
lokal di Cosan itu mengatakan kalau
nampan tipe 2011 sendiri itu sudah
dilarang sebagai wadah makanan di Cina
karena tipe tersebut cepat berkarat
ketika terkena cairan asam. Dan tipe 2
kasus 1 ini mengandung mangan ya, mangan
kandungan kimia yang tinggi sekitar 5,5
sampai 7,5% dan nitrogen sebagai
pengganti nikel sehingga lebih murah ya
tetapi kurang tahan terhadap lingkungan
dibandingkan dengan tipe 304 dan 316.
Pengujian dari PPOM di Jawa Tengah pada
bulan Maret 2024 mengkonfirmasi hal ini.
Dari 100 wadah yang diuji, 65-nya gagal
uji logam berat dan sebagian besar tidak
memiliki kode QR atau sertifikasi resmi.
Tipe 304 sebenarnya memenuhi SNI dan
bisa diproduksi baik di Indonesia maupun
Cina, tapi harganya bisa 40% lebih mahal
dari tipe 2011. Importir lebih menyukai
tipe 304, tapi mereka menginginkan ee
harga yang tipe 2011. Sehingga mungkin
aja ya produsen di Cina itu ikut
mencampurkan tipe 2011 ini untuk menekan
biaya dan memenangkan harga pasar. Ya,
tapi ya resikonya tipe 2011 ini enggak
aman untuk kesehatan anak-anak. Jika
benar yang terjadi seperti ini, maka
enggak heran mengapa begitu banyak kasus
keracunan di program MBG negara kita.
[Musik]
Kekhawatirannya enggak sampai di situ
aja, Geng. Karena dari investigasi e
tersebut ya, Indonesia Business Post
juga menemukan beberapa pabrik produksi
food tray baik yang dari 21 maupun 304
kemungkinan menggunakan lemak babi
sebagai bagian dari pelumasnya. Nah,
berdasarkan dokumen dan wawancara yang
dilakukan dengan pihak pabrik, minyak
lemak babi dicampurkan dengan minyak
mineral dan bahan aditif lainnya untuk
mengurangi gesekan dan meningkatkan
kinerja mesin selama fabrikasi baja
tahan karat, terutama di dalam operasi
yang berat. Nah, jika benar ada
kandungan lemak babi di foot tray-nya
atau di nampan wadahnya, itu hal ini
pastinya sudah menyalahi aturan bagi
yang beragama Islam ya. Karena apapun
yang bersentuhan dengan babi meskipun
tidak dikonsumsi tetap haram hukumnya.
Nah, padahal sebelumnya Pak Dadan ini
sudah bilang semua wadah MBG yang
diproduksi di Cina bakal dievaluasi oleh
Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal
atau BPJPH untuk mengeluarkan
sertifikasi halal bagi itu. Nah, beliau
juga menjelaskan kalau isu minyak babi
sebenarnya enggak ada di komponen FUTRE.
Nah, ini kayak hoa doang gitu. Nah, kata
Pak Dadan untuk food tray yang
diproduksi di dalam negeri itu
menggunakan minyak nabati dan akan
difokuskan untuk memproduksi di
Indonesia. Nah, terkait soal isu adanya
lemak babi ini, gua menemukan pendapat
yang berbeda ya. Dari pihak BPJPH
mengatakan seluruh peralatan, bahan
baku, dan menu di dalam program MBG
sudah terjamin kehalalannya. Enggak cuma
itu, para pengelola MBG juga sedang
mendapatkan pelatihan khusus untuk
memastikan makanan yang disajikan sesuai
dengan standar halal dan gizi yang
ditetapkan oleh BGN. Nah, tapi geng dari
informasi yang gua dapatkan juga MUI ya
mengkonfirmasi terkait dugaan foot tray
MBG yang digunakan di dalam program MBG
yang terpapar minyak babi. Itu adalah
informasi yang valid. Nah, ini yang
ngomong MUI, Geng. Bukan gue ya. Gue
cuma menyampaikan nih. Nah, konfirmasi
tersebut diperoleh dari penjelasan pihak
yang menyaksikan langsung proses
produksi di perusahaan. Hal itu juga
didukung oleh dokumen tertulis. Nah,
jadi ada dua pendapat yang berbeda nih
terkait dugaan lemak babi di Futre MBG
ini. Ada yang bilang valid, ada yang
bilang enggak ada atau hoa? Nah, kalau
menurut kalian yang mana nih, Geng, yang
benarnya? Coba deh tinggalkan komentar
di bawah. Lalu geng, fenomena keracunan
massal ini juga sudah diketahui oleh Pak
Prabowo dan beliau juga memantau terkait
hal ini. Dikatakan kalau Pak Prabowo
akan memanggil Pak Dadan selaku Kepala
BGN dan sejumlah pejabat terkait untuk
membahas masalah ini. Kemudian Pak
Prabowo menegaskan bahwa keracunan
karena MPG menjadi masalah yang besar.
Namun beliau yakin bahwa masalahnya akan
terselesaikan dengan baik. Di sisi lain,
Pak Prabowo mewanti-wanti jangan sampai
ada politisasi atau yang mengadu domba
masalah tersebut dengan program MBG.
Sampai gua syuting video ini belum ada
tanda-tanda kalau program MBG bakal
dihentikan sementara atau gimana. Enggak
ada. Ada pejabat lain seperti Charles
Honoris selaku anggota DPR yang
mengusulkan agar anggaran MBG disalurkan
langsung ke orang tua siswa supaya orang
tua siswa bisa memasak sendiri sesuai
dengan kebutuhan anaknya. Dan soal
kebersihannya udah pasti terjamin kata
si Pak Charles Honoris ini. Namun belum
ada keputusan terkait hal ini, Geng.
Karena sejauh ini dikabarkan program MBG
masih akan berjalan sebagaimana
semestinya.
Nah, itu dia, Geng, pembahasan kita kali
ini mengenai kasus keracunan MBG di
berbagai daerah di Indonesia dan apa
saja faktor yang menyebabkan hal
tersebut bisa terjadi. Gimana, Geng,
menurut kalian terkait fenomena ini?
Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:14:13 UTC
Categories
Manage