TOPAN RAGASA ! BENCANA MENGERIKAN YANG MELANDA CHINA & BERDAMPAK KE NEGARA ASIA LAIN
BmJb98DRO40 • 2025-09-28
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Geng, hari ini kita bakal membahas soal bencana alam dan ini wajib banget buat kita mewaspadai tentang perihal ini. Jadi, sekarang itu di wilayah Asia Timur ya sedang was-was karena terjadinya bencana alam yang begitu besar. Bencana alam ini berupa angin topan yang sangat kencang yang dinamakan dengan topan ragasa. Topan ini enggak cuma sekedar badai atau angin topan biasa karena membawa dampak yang besar bagi jutaan orang yang ada di kawasan tersebut. Bayangin aja, Geng. Angin kencang sampai ratusan kilom dan hujan deras selama berhari-hari tanpa henti. Negara-negara seperti Taiwan, Cina, Filipina, dan juga Hongkong itu merasakan dampaknya. Banyak kota-kota besar yang biasanya padat dengan aktivitas warga seketika lumpuh total. Listrik padam, armada transportasi umum terpaksa berhenti dan ribuan rumah jadi rusak karena angin yang begitu besar membawa material rumah sampai terbang ke langit. karena kondisi yang sudah tidak aman ini membuat pemerintah setempat memutuskan untuk harus mengevakuasi warga dari rumah mereka. Di Cina sendiri kabarnya sampai harus mengevakuasi 2 juta orang, Geng. karena topan Ragasa ini. Dan saking besarnya topan ragasa itu sampai disebut-sebut sebagai badai terkuat yang pernah terjadi di dunia tahun ini. Nah, bagaimana kondisi di negara-negara yang terkena topan ragasa ini dan seberapa parah situasinya? Pemberitaan ini bakal kita rangkum secara lengkap ya, serta nanti kita juga bakal membahas upaya evakuasi yang dilakukan oleh negara-negara tersebut ketika topan ragasa ini terjadi. Dan ya, bagaimana dengan negara kita? Apakah nanti negara kita juga ikut terdampak? Nah, nanti kita bakal bahas langsung aja. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry [Musik] Genggeng. Oke, untuk pembahasan yang pertama kita bakal membahas pergerakan topan ragasa ini di wilayah Asia. Jadi, geng topan ragasa bermula dari kumpulan awan badai di utara pulau Yap, yaitu sebuah pulau yang berada di Kepulauan Carolina yang ada di Samudera Pasifik bagian barat. Kumpulan awan tersebut kemudian berkembang menjadi eh depresi tropis pada tanggal 17 September tahun 2025. Depresi tropis ini itu adalah cikal bakal atau awal mula terjadinya angin topan. Namun pada awalnya terjadi geseran angin atau windsir, yaitu perbedaan arah atau kecepatan angin di lapisan atmosfer yang berbeda. Nah, jadi kita agak sedikit belajar nih kayak kembali ke masa SMA gitu ya. Kondisi ini, Geng, membuat badai itu agak sulit terbentuk dengan rapi sehingga sistem badai membutuhkan waktu yang lebih lama untuk terorganisir menjadi topan yang kuat. Jadi, sederhananya ya, badai ini udah mulai terbentuk tapi sempat terhambat oleh kondisi angin yang ada di atmosfer. Nah, kalau kalian sulit memahaminya nih ya, coba bayangin aja kayak kalian lagi bikin pusara air di ember gitu, Geng. Kalau airnya tenang dan kalian putar pakai tangan, pusaranya bakal cepat terbentuk dan bakal menjadi lingkaran yang rapi, gitu kan. Nah, itu ibaratkan badis yang terbentuk dengan normal. Sementara kalau tiba-tiba ada angin lain yang mengaduk air tersebut dan asalnya dari arah yang berbeda, maka pusarannya bakal menjadi berantakan, enggak bisa berputar dengan rapi. Nah, itulah yang disebut dengan geseran angin atau windsir tadi. Terus, Geng. Ya, selanjutnya dalam 1 hari kemudian sistem ini meningkat menjadi badai tropis dan resmi dinamai dengan Ragasa oleh Badan Meteorologi Jepang, yaitu yang disingkat dengan JMA. Nah, dalam 2 hari berikutnya, Geng, badai terus menguat dan menjadi topan pada tanggal 19 September 2025 setelah awalnya terbentuk sebagai depresi tropis tadi. Terus topan Ragasa ini kemudian berkembang sangat cepat sampai akhirnya menjadi topan super kategori 5 pada tanggal 22 September tahun 2025. Dan kategori 5 ini adalah kategori paling tinggi dengan kecepatan angin yang ekstrem. Di dalam perjalanannya, ragasa ini mengalami yang namanya siklus pergantian dinding mata atau eywall replacement cycle. Nah, itu adalah sebuah fenomena alami pada badai yang super kuat di mana dinding mata badai lama melemah dan digantikan oleh dinding mata baru yang terbentuk di sekitarnya. Nah, proses ini biasanya bakal membuat badai sementara melemah karena energi terbagi menjadi dua dinding mata. Namun bisa menguat lagi setelah selesai. Bahkan bisa jadi lebih besar dibandingkan badai yang sebelumnya. Nah, jadi setelah terbentuk nih ya, Topan Ragasa ini bergerak menuju ke Filipina dan pertama kali mendarat di Pulau Panuitan, Calayan, dan juga Cagayan serta Filipina Utara. Di hari Senin tanggal 22 September 2025 di wilayah Luzon Utara, badai membawa hujan lebat dan angin kencang yang menyebabkan gangguan pada aktivitas masyarakat. Mata Topan Ragasa ini terakhir kali terlihat sekitar 265 km sebelah barat Pulau Calayan. Dan topan tersebut ya bergerak dengan kecepatan angin yang maksimum 185 sampai dengan 230 km/h, Geng. Ketika Topan Ragasa ini berhembus ke Filipina, pihak berwenang tuh sudah memperingatkan akan meluasnya banjir dan tanah longsor serta kerusakan pada rumah dan segala infrastruktur yang ada di sana. Sekolah dan kantor pemerintahan yang ada di sebagian besar wilayah Filipina termasuk di Manila sudah ditutup untuk mencegah terjadinya korban jiwa. Ragasa juga menerjang pulau yang namanya Pulau Batanes atau Babuyan. Yaitu sebuah kepulauan terpencil di mana di sana ada sekitar 20.000 penduduk yang selama ini mereka hidup di dalam kemiskinan, berada dalam ancaman. Ada seorang petugas informasi yang bernama Herbert Singun yang melaporkan ketika Ragasa ini menyerang daerah Calayan, atap dari sekolah di sana sampai robek-robek, Geng. dan Ragasa membawa atap tersebut menderat di pusat evakuasi yang berjarak sekitar 30 m dari sekolah. Dan insiden tersebut menyebabkan satu orang mengalami luka-luka. Kemudian ya Herbert ini juga menceritakan bahwa ada pohon kelapa yang berdiri di daerah sana. Awalnya itu ada delan pohon kelapa. Namun setelah diterjang oleh Ragasa, cuma tersisa empat pohon kelapa. Yang lainnya tumbang semua. Diketahui kalau ada satu orang yang tewas juga, Geng, karena ragasa ini. Namun, informasi terakhir yang gua dapatkan, udah ada 10 orang yang tewas di dalam kasus ini. Dan diperkirakan topan ini bakal bergerak ke arah laut Cina Selatan setidaknya sampai hari Rabu tanggal 24 September 2025. Dan selanjutnya, topan ini kemungkinan bergerak melewati Taiwan dan sampai ke Hongkong baru kemudian mendarat di Cina. Lalu ketika mengetahui bahwa Topan Ragasa ini menerjang negaranya, pemerintah Taiwan sudah berjaga-jaga, Geng, dengan mengevakuasi lebih dari 7.600 orang dari daerah pegunungan di selatan dan juga timur. Nah, ini patut dicontoh nih ya, Geng. Ketika bencana akan datang, ya kan mereka juga punyalah BMKG-nya gitu ya yang melihat kondisi cuaca di negara mereka. Nah, biasanya pemerintah mereka bakal gerak cepat. Nah, tapi kan kita juga mengetahui ya ada beberapa negara yang justru kalau bencana itu mungkin pemerintahnya malah happy. Kenapa ya? Kalau rakyatnya kena bencana, pemerintahnya bisa sekalian ya pencitraan bagi-bagi bansos ya kan. Karena kan menurut mereka salah satu hal yang paling mudah untuk berkampanye, salah satu hal yang paling mudah untuk mencuri hati rakyat yaitu dengan memberi bansos bantuan sosial. Nah, berbeda dengan negara orang yang lebih maju, mereka sebelum terjadi bencana justru sudah dicegah terlebih dahulu. Bayangin tuh 7.600 orang langsung dievakuasi dan pemerintah di saat itu ikut menutup beberapa wilayah pesisir dan pegunungan di Taitung dan juga Pingtung. Nah, begitu juga dengan pulau Orsid dan juga Pulau Green yang terpencil. Kantor berita Central News Agency atau CNA itu melaporkan jadwal penerbangan sore ke pulau-pulau terpencil itu dibatalkan semua. layanan feri atau kapal gitu ya, serta kereta api juga ditangguhkan. Nah, topan ragasa ini bahkan menyebabkan terjadinya hujan deras di Taiwan dan membuat danau penghalang yang ada di Kabupaten Halien itu meluap pada hari Selasa tanggal 23 September kemarin. Nah, saat air danau itu meluap, fenomena itu bahkan disebut sebagai tsunami dari pegunungan, Geng. Saking mengerikannya. Dan hal ini disebabkan karena diperkirakan ada sekitar 15,4 juta ton air yang setara dengan 6.000 kolam renang gitu, ya. ukuran olimpiade gitu tuh yang gede banget itu sampai meluap danau yang meluap ini membanjiri area sekitar dan saking besarnya volume air sampai menghancurkan sebuah jembatan dan mengubah jalan-jalan yang ada di kota Guangfu jadi kayak sungai jadi arus deras yang menghanyutkan kendaraan-kendaraan dan rumah-rumah bangunan-bangunan ada sekitar 8.450 50 penduduk yang ada di Guangfu yang mana lebih dari separuhnya mencari perlindungan di bangunan yang lebih tinggi sambil menunggu pertolongan atau menyelamatkan diri ke dataran yang lebih tinggi lagi. Pada saat itu, Geng, dikabarkan ada sebanyak 124 orang yang hilang. Tapi beruntungnya atas pencarian yang dilakukan oleh tim evakuasi, nah tim evakuasi ini berhasil mencari keberadaan terhadap lebih dari 100 orang yang sebelumnya tidak bisa dihubungi. Mereka menghilang tapi berhasil ditemukan. Mereka semua ini adalah warga yang tinggal di Hualien. Selain itu, mereka juga melakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah untuk memastikan kondisi 17 orang lainnya yang pada saat itu masih belum jelas kabarnya. Jadi, informasi terakhir nih, Geng ya. Tersisa 33 orang yang masih hilang di Taiwan. Sementara korban yang meninggal sudah mencapai 14 orang. Jumlah tersebut menimbulkan pertanyaan bagi warga Taiwan terkait apakah pemerintah sudah melakukan upaya evakuasi secara tepat atau belum. Ada berbagai faktor ya yang terjadi. Mengapa bisa 14 orang ini meninggal dunia? Tapi ada informasi lain kalau dikatakan jumlahnya justru lebih banyak ya, yaitu 17 orang. 17 orang aja tuh warganya tuh udah marah banget ke pemerintah. Pemerintahnya aja udah panik ya. Gimana kalau misalkan kasusnya kayak di negara kita gitu ya yang korbannya mungkin sampai puluhan hingga ratusan. Bahkan kalau tsunami besar sampai ribuan gitu. Soalnya ya di berbagai wilayah pedesaan Taiwan khususnya yang ada di timur sebagian besar penduduknya itu merupakan lansia geng. Orang-orang tua. Jadi kalau untuk menyelamatkan diri agak sulit. Nah, anak mudanya itu sudah pindah ke kota besar semua. Mereka merantau untuk mencari kerja. Para lansia yang merupakan penyandang disabilitas ini menjadi mayoritas dari korban yang tewas. Kebayang ya? Sedih banget mereka enggak ada yang nyelamatin, enggak bisa menyelamatkan diri, ya udah meninggal dunia tenggelam. Dan mereka semua ditemukan di lantai bawah rumah mereka sendiri. Di situasi saat ragasa ini terjadi, kondisi mereka yang kesulitan untuk berjalan membuat mereka jadi pasrah, enggak bisa menyelamatkan diri. Sebagian dari mereka juga tidak terbiasa menggunakan handphone dan dikatakan juga ya kepala desa sebelumnya sudah mengadakan pengarahan tapi mereka ya apa ya kayak warga ini sudah enggak nganggap serius pengarahan itu sampai pada akhirnya terjadilah bencana. Mungkin karena orang tua kali ya mau diarahin kayak gimana pun kayak mereka udah pasrah gitu. Nah, masalah lainnya adalah karena skala banjir yang sangat besar sehingga sulit bagi pemerintah untuk memprediksi wilayah mana aja yang bakal terdampak. Bisa jadi yang diprediksinya cuma sekecil ini, tahu-tahu karena gede banget bisa sebesar ini. Jadi pemerintah juga gak bisa nebak-nebak. Yang bisa dilakukan oleh pemerintah mereka adalah mengevakuasi sebanyak-banyaknya orang. Nah, di saat itu Chang Chi Hisyung ya selaku perwakilan anak muda di Hualien ee dia bilang sebagian desa sudah dievakuasi sepenuhnya dan penduduknya sudah mengungsi ke tempat penampungan. Tapi yang terjadi justru desa-desa yang penduduknya sudah dievakuasi malah enggak terkena banjir. Nah, ini di luar prediksi nih. Dan malah wilayah lain yang terdampak lebih parah daripada yang diperkirakan sebelumnya. Dan banyak penduduk di Guang Fu yang mengeluhkan tidak adanya peringatan yang memadai dari otoritas Taiwan sehingga orang-orang yang berada di zona bahaya tidak bisa cepat mengungsi katanya. Nah, udah seberusaha itu aja pemerintahnya, masyarakatnya masih mengeluhkan gitu karena emang gede banget bencana ini. Nah, sementara untuk korban luka-lukanya mencapai 32 orang, Geng. Pemerintah juga mendirikan pusat tanggap bencana garis depan di Huaien dan Kementerian Pertahanan Nasional juga sudah mengerahkan pasukan untuk membantu upaya penyelamatan. Meskipun banjir ini sudah surut di sana, lumpur tebal serta puing-puing tuh masih tersisa. Dan tim pencari juga terus menyisir ke rumah-rumah dengan harapan bisa menemukan orang-orang yang masih hilang. Nah, namun Perdana Menteri Taiwan yang namanya Cho Jungtai itu sudah meminta penyelidikan terkait kemungkinan adanya perintah evakuasi yang salah. Ragasa juga diperkirakan bakal menyapu Hongkong dan juga daerah Maau. Menurut observatorium Hongkong, topan ragasa ini bakal datang dengan kecepatan hingga 230 km/h dan Hongkong bakal menaikkan sinyal topan menjadi 8 level tertinggi ketiga. Nah, observatorium Hongkong akan menilai apakah perlu mengeluarkan peringatan yang lebih tinggi di hari Selasa malam atau Rabu dini hari waktu itu. Namun mereka mengingatkan adanya potensi angin kencang, hujan lebat, serta naiknya permukaan laut seperti yang terjadi selama topan HTO di tahun 2017 dan topan Mangkut di tahun 2018. Nah, namun di hari Rabu Observatorium Hongkong itu mengeluarkan peringatan level 10 untuk badai tersebut pada hari Rabu yang mana level ini level tertinggi, Geng. Karena udah menyeramkan banget. Nah, lembaga tersebut mendesak agar orang-orang tetap berada di dalam rumah sampai situasinya dikatakan aman. Dan di Hongkong, geng, ya. Pemerintahnya itu sudah menyediakan banyak karung pasir di daerah-daerah yang rawan banjir. Sekolah-sekolah yang ada di sana juga sampai ditutup. Mereka tuh enggak ya enggak ke sekolah, enggak belajar mengajar, dan bahkan yang lebih seriusnya adalah penerbangan juga ditunda, ditutup sementara. Walaupun bandara tetap buka sebenarnya ya, mulai dari Selasa sore sampai keesokan harinya, tapi maskapai penerbangannya itu enggak berjalan. Maskape penerbangan nasional Hongkong yaitu Catai Pacific Airway itu bilang penerbangan dari dan menuju wilayah Hongkong ditunda sementara. Ada lebih dari 500 penerbangan diperkirakan batal. Nah, lalu maskapai HK Express juga sudah melaporkan pembatalan lebih dari 100 penerbangan antara hari Selasa dan Kamis tanggal 25 September 2025. Tapi bursa effectf Hongkong bakal tetap buka. Nah, akhir tahun lalu Geng, Bursa Efek itu mengubah kebijakannya untuk terus bertransaksi terlepas apapun kondisi cuacanya. Setelah pemberitahuan itu, Geng, warga Hongkong sudah mulai menimbun kebutuhan untuk sehari-hari. Nah, panik buying lah terjadinya kepanikan untuk berbelanja. Mereka tuh nimbun bahan makanan karena mereka harus stay di dalam rumah dalam waktu yang lama. Terlihat antrian panjang terbentuk di supermarket, Geng. Mereka memborong susu, daging, sayuran segar, semuanya. Menurut informasi yang gua dapatkan dari media BBC, Ragasa pada akhirnya tidak mendarat di Hongkong. Meskipun begitu, pihak berwenang Hongkong mengatakan ada lebih dari 100 orang yang dirawat di rumah sakit umum yang disebabkan karena cedera akibat ragasa yang terjadi pada hari Rabu malam. E mereka memang enggak terdampak besar, tapi ada beberapa kota yang terdampak dan dikatakan di antara 100 orang tersebut ada seorang wanita serta putranya yang berusia 5 tahun tersapu ke laut. Wah, seram banget enggak tuh? sampai terbang ke laut gara-gara badai tersebut. Dan kejadian tersebut pada hari Selasa setelah mereka di saat itu berada di tepi laut Hongkong. Nah, mereka di saat itu langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Namun kemudian pihak berwenang Hongkong juga melaporkan ada lebih dari 900 orang yang mencari perlindungan di 50 tempat penampungan sementara yang ada di seluruh kota. Nah, peringatan yang sama juga diberlakukan di Makau, Geng. Pusat perjudian yang ada di Maau itu ditutup semua. Orang-orang main judi libur dulu. Dan sekolah-sekolah pun juga sama ditutup selama 2 hari ke depan gara-gara badai atau topan ini. Nah, pihak kepolisian Makau juga menghimbau agar warga yang ada di dataran rendah bersiap-siap menghadapi kemungkinan evakuasi ketika itu. Terus kemudian, geng, Cina juga bersiap-siap menghadapi ragasa besar ini. Ya, pusat Meteorologi Nasional Cina memperkirakan topan ragasa bakal mendarat di wilayah pesisir antara kota Shenzen dan juga Kabupaten Shuen di Provinsi Guangdong pada hari Rabu tanggal 24 September 2025. Ragasa ini bakal diperkirakan akan membawa hujan deras dan angin kencang, ombak, serta juga banjir ke negara tersebut. Nah, pemerintah sudah memerintahkan setidaknya 10 kota termasuk Shenzen, Jiang Men, dan Yang Jiang. Terus ada Zongshan, Dongguan, Fosan, dan juga Zuhai untuk menutup semua fasilitas ee publik mereka, sekolah, kantor, pabrik, serta sarana transportasi ditutup sementara. Jadi benar-benar ragasa ini melumpuhkan negara itu. Dan pada saat itu pemerintah di Shenzen ya pusat teknologi di Cina bagian selatan itu berencana merelokasikan sekitar 400.000 orang termasuk warga yang ada di daerah dataran rendah dan juga rawan banjir. Nah, di saat itu sudah tersedia lebih dari 500 tempat penampungan darurat. Bandara Shenzen itu bakal menghentikan penerbangan pesawat mulai dari hari Selasa malam, Geng. Dan di saat itu, ketua Partai Komunis Cina yang bernama Huang Kunming itu mengatakan departemen-departemen di seluruh kawasan diminta untuk meminimalkan kerusakan serta sepenuhnya memasuki keadaan darurat dan keadaan siap perang. Nah, ini gua jujur aja enggak enggak paham ya maksudnya gimana. Mungkin maksudnya tuh bersiapsiaga kali ya. Ragasa ini berpotensi menghantam Guangdong lebih dari sekali, Geng. Nah, oleh karena itu ya pihak berwenang itu mendesak warga untuk menimbun persediaan darurat. makanan-makanan mereka tuh harus ditimbun, harus disimpan, dan mereka harus memperkuat pintu dan jendela mereka serta mengevakuasi area bawah tanah mereka. Kedatangan ragasa ini juga bakal menghambat aktivitas ekonomi bagi ribuan pabrik yang ada di Guandong. Sebab wilayah tersebut merupakan pusat manufacture Cina. Pemerintah Cina juga menghimbau kapal-kapal yang beroperasi di laut Cina bagian selatan, bagian selatan Selat Taiwan, serta Selat Basyi dan juga perairan dekat Pantai Guandong untuk menghentikan operasi mereka sementara. Nah, pemerintah Provinsi Guandong sudah mengevakuasi 1,89 juta orang sampai hari Selasa malam menjelang kedatangan Topan Ragasa ini. Nah, di Zuhai, warga yang tinggal di rumah susun atau apartemen tinggi di tepi pantai itu udah diperintahkan untuk mengungsi, untuk mengosongkan apartemen mereka. Ya, seram banget kan kalau tiba-tiba apartemennya tumbang gara-gara angin gitu. Banyak dari mereka yang mengungsi ke rumah kerabat mereka, menginap di hotel yang lokasinya jauh lebih aman atau yang lebih ke apa ya, bangunan yang napak ke tanah gitu. Atau mereka diminta untuk pindah ke tempat penampungan sementara yang disediakan oleh pemerintah seperti gedung-gedung olahraga sekolah gitu, Geng. Nah, Ragasa ini juga mendarat di pantai Pulau Hailing, yaitu kota Yanjiang di Guandong sekitar jam 5.00 sore waktu setempat pada hari Rabu tanggal 24 September 2025. Badai ini melintasi dengan kecepatan angin 144 km/h dan hembusan yang lebih kencang. Kecepatan angin diperkirakan bakal melemah secara bertahap seiring badai bergerak ke arah barat melintasi daratan ketika itu, Geng. Nah, namun hujan bakal tetap turun deras dan bergerak lambat di wilayah tersebut selama beberapa hari ke depan. Kota-kota di Cina Selatan seperti Zuhai, Shenzen, terus ada Guangzu itu sudah bersiap untuk menghadapi masuknya air laut ke daratan. Jadi kayak ya kayak tsunami gitu, Geng. Di Zuhai sendiri, polisi berpatroli di jalan-jalan dengan sirene dan pengeras suara untuk memberitahu orang-orang agar tetap tinggal di rumah. Peringatan zona merah untuk tanah lonsor juga dikeluarkan di wilayah pegunungan Provinsi Guandong. Dan saking besarnya topan dan dampak yang ditimbulkan, Badan Meteorologi Cina menggambarkan kalau ragasa ini sebagai raja badai karena diyakini sebagai badai terkuat yang pernah terjadi di dunia tahun ini. Nah, topan ini diperkirakan bakal lebih merusak dibandingkan topan lain yang menerjang Provinsi Guandong awal tahun 2025. Nah, jadi Cina juga bakal kena, Geng. Nah, terus Geng ya enggak berhenti sampai di situ. Setelah menerjang Cina, topan Ragasa ini bakal berlanjut lagi, bakal bergerak ke area Vietnam. Namun ketika sampai di Vietnam, kekuatan ragasa sudah melemah menjadi badai tropis. Meskipun begitu, ancaman hujan lebat masih ada di Cina, Vietnam, dan beberapa wilayah lain di Asia Tenggara. Di saat itu, Perdana Menteri Vietnam yang bernama Pan Mingsing itu sudah memerintahkan para pejabat untuk melindungi infrastruktur yang ada di negara tersebut, termasuk bendungan dan rumah sakit dan juga mengamankan kapal penangkap ikan serta mempersiapkan operasi pencarian serta penyelamatan. Nah, beberapa penerbangan itu juga sudah dibatalkan atau dijadwalkan ulang, Geng. Sementara para pekerja di sana diminta untuk menebang pohon-pohon yang udah terlalu rimbun, terlalu tinggi, ya, supaya menghindari bahayanya pohon tumbang karena angin kencang yang melanda wilayah Vietnam. Nah, jadi ini pelajaran juga buat kita nih. Kalau misalkan ini sampai ke kita ya, badainya ini aja nih barusan hujan nih gua syuting. Pohon-pohon di dekat rumah kalian harus diperhatikan, Geng. Hati-hati entar ketiban. Nah, jadi itu semua adalah kondisi dari berbagai negara ketika topan ragasa ini menerjang wilayah tersebut. Nah, sekarang kita bakal membahas nih, Geng. Apa itu topan Ragasa? Mengapa topan Ragasa ini begitu mematikan dan menakutkan bagi banyak negara. Bahkan Cina aja sampai ketakutan segitunya. Padahal kalau kita pikir-pikir ya, Cina ini kan teknologinya udah banyak yang canggih. Tapi mereka aja sampai takut dengan bencana ini. Sekarang kita masuk ke dalam pembahasannya. Jadi, Geng, angin topan umumnya terjadi karena perbedaan tekanan tertentu. Bencana angin yang berputar dan bergerak cepat ini dapat memiliki diameter hingga ratusan kilometer. Nah, angin topan dengan kecepatan umum lebih dari 120 km sendiri sering muncul di wilayah-wilayah beriklim tropis, termasuk di negara kita Indonesia. Misalnya ya, sejumlah negara di Asia Timur dan Asia Tenggara yang lokasinya jauh dari garis katulistiwa. Nah, sementara topan ragasa itu memiliki kecepatan yang lebih dari 195 km/h. Lebih gede dari angin angin topan biasa. Ragasa sendiri namanya diambil dari bahasa Filipina yang berarti gerak cepat atau gerakan cepat. Seperti yang gua jelaskan sebelumnya, badai ini berawal dari utara Yap yang kemudian menguat secara perlahan saat melintasi perairan samudra yang sangat hangat dan juga mendukung untuk membuat badai ini jauh lebih besar. Nah, ragasa sendiri sudah meningkat menjadi super topan dan negara-negara seperti Filipina, Taiwan, dan juga Cina bagian selatan menjadi perkiraan jalur yang selalu dilewati oleh topan ragasa ini. Nah, terus kenapa topan ragasa ini bisa masuk ke dalam kelompok super topan? Nah, jadi ternyata di dalam ilmu meteorologi nama dan kategori badai memiliki perbedaan geografis dan intensitas yang jelas. di Pasifik Barat laut ya, siklon tropis dikategorikan berdasarkan kecepatan angin maksimum rata-rata. Begitu angin mencapai setidaknya 119 km/h, sistem tersebut disebut dengan taip atau topan. Nah, meteorolog juga mempertimbangkan tekanan pusat dan struktur badai meliputi mata badai, dinding mata, serta aliran yang keluar untuk menilai intensitas. Namun, klasifikasi resmi itu ditentukan berdasarkan kecepatan anginnya, Geng. Topan super sendiri atau super topan ya itu adalah jenis topan yang masuk kategori paling berbahaya, paling mengerikan, paling kuat dari semua badai tropis. Jadi ya dia bukan sekedar topan biasa, melainkan subset atau bagian khusus dari badai dengan intensitas luar biasa. Dan menurut join Typon Warning Center atau disingkat dengan JTWC itu menyebutkan kalau super topan atau Super Typon ini itu dipakai kalau kecepatan angin itu rata-rata dalam 1 menit mencapai 240 km/h. Di dalam kasus Ragasa, data JTWC itu menunjukkan angin maksimumnya bisa mencapai 266 km/h sehingga Ragasa diklasifikasikan sebagai super topan. Nah, yang membuat Ragasa ini menakutkan itu bukan karena dia udah berada di level super aja, Geng, tapi juga seberapa cepat dan di mana angin tersebut berhembus. Nah, Ragasa ini mengalami intensifikasi cepat yang enggak biasa saat mendekati Luzon Utara dan pulau-pulau terdekat sehingga mempersingkat waktu untuk evakuasi dan persiapan. Wilayah Asia, terutama Asia Timur dan Asia Tenggara memang pada dasarnya adalah wilayah yang rawan badai dan topan. Dan karena ya wilayahnya itu berada tepat di jalur badai tropis dunia. Suhu lautnya juga hangat. Aktivitas musiman dan ee tekanan atmosfer yang menjadikan kawasan ini menjadi tempat lahirnya badai. Nah, hampir setiap tahunnya sejumlah negara seperti Filipina, Jepang, Vietnam, Cina, sampai sebagian wilayah kita di Indonesia itu mengalami hantaman topan dengan kekuatan yang besar. Dan menurut para ilmuwan ya, topan ragasa ini berawal dari badai yang seiring berjalannya waktu menjadi lebih kuat dan terus lebih kuat yang mana disebabkan karena pemanasan global akibat dampak perubahan iklim. Pasti kalian penasaran juga apakah negara kita Indonesia bakal dilanda oleh Topan Ragasa ini? Nah, kabarnya nih ya syukur alhamdulillahnya ya pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau disingkat dengan BMKG Indonesia memprediksi ragasa tidak akan sampai ke negara kita. Namun ada dampak yang enggak langsung yang diakibatkan oleh topan ragasa di Indonesia. Nah, dampak enggak langsung dari topan ragasa ini dimaksud oleh BMKG adalah adanya beberapa wilayah di Indonesia yang diprediksi mengalami hujan dengan intensitas yang sedang hingga yang lebat juga selama beberapa minggu ini sampai dengan tanggal 29 September nanti. Nah, BMKG memperingatkan adanya siklon tropis bualoy yang saat ini sedang terpantau berada di laut Filipina tepatnya di sebelah tenggara pulau Luzon, Filipina bagian utara. Nah, siklon bualoy ini tidak akan masuk ke Indonesia karena arahnya ke utara, Geng. Mendekati Taiwan dan Jepang. Namun, cuaca di beberapa wilayah Indonesia, terutama bagian utara seperti Sulawesi dan juga Maluku Utara bisa sedikit berpengaruh atas kejadian ini. Nah, jadi itu dia geng pembahasan kita hari ini soal bencana yang mengerikan, yaitu topan besar yang bernama Ragasa. Dan ini menghantam beberapa negara dan menjadi badai terkuat di tahun ini. Gimana, Geng? Menurut kalian? Apakah menurut kalian topan atau badai raga ini cukup mengerikan? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories