TOPAN RAGASA ! BENCANA MENGERIKAN YANG MELANDA CHINA & BERDAMPAK KE NEGARA ASIA LAIN
BmJb98DRO40 • 2025-09-28
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Geng, hari ini kita bakal membahas soal
bencana alam dan ini wajib banget buat
kita mewaspadai tentang perihal ini.
Jadi, sekarang itu di wilayah Asia Timur
ya sedang was-was karena terjadinya
bencana alam yang begitu besar. Bencana
alam ini berupa angin topan yang sangat
kencang yang dinamakan dengan topan
ragasa. Topan ini enggak cuma sekedar
badai atau angin topan biasa karena
membawa dampak yang besar bagi jutaan
orang yang ada di kawasan tersebut.
Bayangin aja, Geng. Angin kencang sampai
ratusan kilom dan hujan deras selama
berhari-hari tanpa henti. Negara-negara
seperti Taiwan, Cina, Filipina, dan juga
Hongkong itu merasakan dampaknya. Banyak
kota-kota besar yang biasanya padat
dengan aktivitas warga seketika lumpuh
total. Listrik padam, armada
transportasi umum terpaksa berhenti dan
ribuan rumah jadi rusak karena angin
yang begitu besar membawa material rumah
sampai terbang ke langit.
karena kondisi yang sudah tidak aman ini
membuat pemerintah setempat memutuskan
untuk harus mengevakuasi warga dari
rumah mereka. Di Cina sendiri kabarnya
sampai harus mengevakuasi 2 juta orang,
Geng. karena topan Ragasa ini. Dan
saking besarnya topan ragasa itu sampai
disebut-sebut sebagai badai terkuat yang
pernah terjadi di dunia tahun ini. Nah,
bagaimana kondisi di negara-negara yang
terkena topan ragasa ini dan seberapa
parah situasinya? Pemberitaan ini bakal
kita rangkum secara lengkap ya, serta
nanti kita juga bakal membahas upaya
evakuasi yang dilakukan oleh
negara-negara tersebut ketika topan
ragasa ini terjadi. Dan ya, bagaimana
dengan negara kita? Apakah nanti negara
kita juga ikut terdampak? Nah, nanti
kita bakal bahas langsung aja. Halo,
Geng. Welcome back to Kamar Jerry
[Musik]
Genggeng. Oke, untuk pembahasan yang
pertama kita bakal membahas pergerakan
topan ragasa ini di wilayah Asia.
Jadi, geng topan ragasa bermula dari
kumpulan awan badai di utara pulau Yap,
yaitu sebuah pulau yang berada di
Kepulauan Carolina yang ada di Samudera
Pasifik bagian barat. Kumpulan awan
tersebut kemudian berkembang menjadi eh
depresi tropis pada tanggal 17 September
tahun 2025. Depresi tropis ini itu
adalah cikal bakal atau awal mula
terjadinya angin topan. Namun pada
awalnya terjadi geseran angin atau
windsir, yaitu perbedaan arah atau
kecepatan angin di lapisan atmosfer yang
berbeda. Nah, jadi kita agak sedikit
belajar nih kayak kembali ke masa SMA
gitu ya. Kondisi ini, Geng, membuat
badai itu agak sulit terbentuk dengan
rapi sehingga sistem badai membutuhkan
waktu yang lebih lama untuk terorganisir
menjadi topan yang kuat. Jadi,
sederhananya ya, badai ini udah mulai
terbentuk tapi sempat terhambat oleh
kondisi angin yang ada di atmosfer. Nah,
kalau kalian sulit memahaminya nih ya,
coba bayangin aja kayak kalian lagi
bikin pusara air di ember gitu, Geng.
Kalau airnya tenang dan kalian putar
pakai tangan, pusaranya bakal cepat
terbentuk dan bakal menjadi lingkaran
yang rapi, gitu kan. Nah, itu ibaratkan
badis yang terbentuk dengan normal.
Sementara kalau tiba-tiba ada angin lain
yang mengaduk air tersebut dan asalnya
dari arah yang berbeda, maka pusarannya
bakal menjadi berantakan, enggak bisa
berputar dengan rapi. Nah, itulah yang
disebut dengan geseran angin atau
windsir tadi. Terus, Geng. Ya,
selanjutnya dalam 1 hari kemudian sistem
ini meningkat menjadi badai tropis dan
resmi dinamai dengan Ragasa oleh Badan
Meteorologi Jepang, yaitu yang disingkat
dengan JMA. Nah, dalam 2 hari
berikutnya, Geng, badai terus menguat
dan menjadi topan pada tanggal 19
September 2025 setelah awalnya terbentuk
sebagai depresi tropis tadi. Terus topan
Ragasa ini kemudian berkembang sangat
cepat sampai akhirnya menjadi topan
super kategori 5 pada tanggal 22
September tahun 2025. Dan kategori 5 ini
adalah kategori paling tinggi dengan
kecepatan angin yang ekstrem. Di dalam
perjalanannya, ragasa ini mengalami yang
namanya siklus pergantian dinding mata
atau eywall replacement cycle. Nah, itu
adalah sebuah fenomena alami pada badai
yang super kuat di mana dinding mata
badai lama melemah dan digantikan oleh
dinding mata baru yang terbentuk di
sekitarnya. Nah, proses ini biasanya
bakal membuat badai sementara melemah
karena energi terbagi menjadi dua
dinding mata. Namun bisa menguat lagi
setelah selesai. Bahkan bisa jadi lebih
besar dibandingkan badai yang
sebelumnya. Nah, jadi setelah terbentuk
nih ya, Topan Ragasa ini bergerak menuju
ke Filipina dan pertama kali mendarat di
Pulau Panuitan, Calayan, dan juga
Cagayan serta Filipina Utara. Di hari
Senin tanggal 22 September 2025 di
wilayah Luzon Utara, badai membawa hujan
lebat dan angin kencang yang menyebabkan
gangguan pada aktivitas masyarakat. Mata
Topan Ragasa ini terakhir kali terlihat
sekitar 265 km sebelah barat Pulau
Calayan. Dan topan tersebut ya bergerak
dengan kecepatan angin yang maksimum 185
sampai dengan 230 km/h, Geng.
Ketika Topan Ragasa ini berhembus ke
Filipina, pihak berwenang tuh sudah
memperingatkan akan meluasnya banjir dan
tanah longsor serta kerusakan pada rumah
dan segala infrastruktur yang ada di
sana. Sekolah dan kantor pemerintahan
yang ada di sebagian besar wilayah
Filipina termasuk di Manila sudah
ditutup untuk mencegah terjadinya korban
jiwa. Ragasa juga menerjang pulau yang
namanya Pulau Batanes atau Babuyan.
Yaitu sebuah kepulauan terpencil di mana
di sana ada sekitar 20.000 penduduk yang
selama ini mereka hidup di dalam
kemiskinan, berada dalam ancaman. Ada
seorang petugas informasi yang bernama
Herbert Singun yang melaporkan ketika
Ragasa ini menyerang daerah Calayan,
atap dari sekolah di sana sampai
robek-robek, Geng. dan Ragasa membawa
atap tersebut menderat di pusat evakuasi
yang berjarak sekitar 30 m dari sekolah.
Dan insiden tersebut menyebabkan satu
orang mengalami luka-luka. Kemudian ya
Herbert ini juga menceritakan bahwa ada
pohon kelapa yang berdiri di daerah
sana. Awalnya itu ada delan pohon
kelapa. Namun setelah diterjang oleh
Ragasa, cuma tersisa empat pohon kelapa.
Yang lainnya tumbang semua. Diketahui
kalau ada satu orang yang tewas juga,
Geng, karena ragasa ini. Namun,
informasi terakhir yang gua dapatkan,
udah ada 10 orang yang tewas di dalam
kasus ini. Dan diperkirakan topan ini
bakal bergerak ke arah laut Cina Selatan
setidaknya sampai hari Rabu tanggal 24
September 2025. Dan selanjutnya, topan
ini kemungkinan bergerak melewati Taiwan
dan sampai ke Hongkong baru kemudian
mendarat di Cina. Lalu ketika mengetahui
bahwa Topan Ragasa ini menerjang
negaranya, pemerintah Taiwan sudah
berjaga-jaga, Geng, dengan mengevakuasi
lebih dari 7.600 orang dari daerah
pegunungan di selatan dan juga timur.
Nah, ini patut dicontoh nih ya, Geng.
Ketika bencana akan datang, ya kan
mereka juga punyalah BMKG-nya gitu ya
yang melihat kondisi cuaca di negara
mereka. Nah, biasanya pemerintah mereka
bakal gerak cepat. Nah, tapi kan kita
juga mengetahui ya ada beberapa negara
yang justru kalau bencana itu mungkin
pemerintahnya malah happy. Kenapa ya?
Kalau rakyatnya kena bencana,
pemerintahnya bisa sekalian ya
pencitraan bagi-bagi bansos ya kan.
Karena kan menurut mereka salah satu hal
yang paling mudah untuk berkampanye,
salah satu hal yang paling mudah untuk
mencuri hati rakyat yaitu dengan memberi
bansos bantuan sosial. Nah, berbeda
dengan negara orang yang lebih maju,
mereka sebelum terjadi bencana justru
sudah dicegah terlebih dahulu. Bayangin
tuh 7.600 orang langsung dievakuasi dan
pemerintah di saat itu ikut menutup
beberapa wilayah pesisir dan pegunungan
di Taitung dan juga Pingtung. Nah,
begitu juga dengan pulau Orsid dan juga
Pulau Green yang terpencil. Kantor
berita Central News Agency atau CNA itu
melaporkan jadwal penerbangan sore ke
pulau-pulau terpencil itu dibatalkan
semua. layanan feri atau kapal gitu ya,
serta kereta api juga ditangguhkan. Nah,
topan ragasa ini bahkan menyebabkan
terjadinya hujan deras di Taiwan dan
membuat danau penghalang yang ada di
Kabupaten Halien itu meluap pada hari
Selasa tanggal 23 September kemarin.
Nah, saat air danau itu meluap, fenomena
itu bahkan disebut sebagai tsunami dari
pegunungan, Geng. Saking mengerikannya.
Dan hal ini disebabkan karena
diperkirakan ada sekitar 15,4 juta ton
air yang setara dengan 6.000 kolam
renang gitu, ya. ukuran olimpiade gitu
tuh yang gede banget itu sampai meluap
danau yang meluap ini membanjiri area
sekitar dan saking besarnya volume air
sampai menghancurkan sebuah jembatan dan
mengubah jalan-jalan yang ada di kota
Guangfu jadi kayak sungai jadi arus
deras yang menghanyutkan
kendaraan-kendaraan dan rumah-rumah
bangunan-bangunan
ada sekitar 8.450
50 penduduk yang ada di Guangfu yang
mana lebih dari separuhnya mencari
perlindungan di bangunan yang lebih
tinggi sambil menunggu pertolongan atau
menyelamatkan diri ke dataran yang lebih
tinggi lagi. Pada saat itu, Geng,
dikabarkan ada sebanyak 124 orang yang
hilang. Tapi beruntungnya atas pencarian
yang dilakukan oleh tim evakuasi, nah
tim evakuasi ini berhasil mencari
keberadaan terhadap lebih dari 100 orang
yang sebelumnya tidak bisa dihubungi.
Mereka menghilang tapi berhasil
ditemukan. Mereka semua ini adalah warga
yang tinggal di Hualien. Selain itu,
mereka juga melakukan pemeriksaan dari
rumah ke rumah untuk memastikan kondisi
17 orang lainnya yang pada saat itu
masih belum jelas kabarnya. Jadi,
informasi terakhir nih, Geng ya. Tersisa
33 orang yang masih hilang di Taiwan.
Sementara korban yang meninggal sudah
mencapai 14 orang. Jumlah tersebut
menimbulkan pertanyaan bagi warga Taiwan
terkait apakah pemerintah sudah
melakukan upaya evakuasi secara tepat
atau belum. Ada berbagai faktor ya yang
terjadi. Mengapa bisa 14 orang ini
meninggal dunia? Tapi ada informasi lain
kalau dikatakan jumlahnya justru lebih
banyak ya, yaitu 17 orang. 17 orang aja
tuh warganya tuh udah marah banget ke
pemerintah. Pemerintahnya aja udah panik
ya. Gimana kalau misalkan kasusnya kayak
di negara kita gitu ya yang korbannya
mungkin sampai puluhan hingga ratusan.
Bahkan kalau tsunami besar sampai ribuan
gitu. Soalnya ya di berbagai wilayah
pedesaan Taiwan khususnya yang ada di
timur sebagian besar penduduknya itu
merupakan lansia geng. Orang-orang tua.
Jadi kalau untuk menyelamatkan diri agak
sulit. Nah, anak mudanya itu sudah
pindah ke kota besar semua. Mereka
merantau untuk mencari kerja. Para
lansia yang merupakan penyandang
disabilitas ini menjadi mayoritas dari
korban yang tewas.
Kebayang ya? Sedih banget mereka enggak
ada yang nyelamatin, enggak bisa
menyelamatkan diri, ya udah meninggal
dunia tenggelam. Dan mereka semua
ditemukan di lantai bawah rumah mereka
sendiri. Di situasi saat ragasa ini
terjadi, kondisi mereka yang kesulitan
untuk berjalan membuat mereka jadi
pasrah, enggak bisa menyelamatkan diri.
Sebagian dari mereka juga tidak terbiasa
menggunakan handphone dan dikatakan juga
ya kepala desa sebelumnya sudah
mengadakan pengarahan tapi mereka ya apa
ya kayak warga ini sudah enggak nganggap
serius pengarahan itu sampai pada
akhirnya terjadilah bencana. Mungkin
karena orang tua kali ya mau diarahin
kayak gimana pun kayak mereka udah
pasrah gitu. Nah, masalah lainnya adalah
karena skala banjir yang sangat besar
sehingga sulit bagi pemerintah untuk
memprediksi wilayah mana aja yang bakal
terdampak. Bisa jadi yang diprediksinya
cuma sekecil ini, tahu-tahu karena gede
banget bisa sebesar ini. Jadi pemerintah
juga gak bisa nebak-nebak. Yang bisa
dilakukan oleh pemerintah mereka adalah
mengevakuasi sebanyak-banyaknya orang.
Nah, di saat itu Chang Chi Hisyung ya
selaku perwakilan anak muda di Hualien
ee dia bilang sebagian desa sudah
dievakuasi sepenuhnya dan penduduknya
sudah mengungsi ke tempat penampungan.
Tapi yang terjadi justru desa-desa yang
penduduknya sudah dievakuasi malah
enggak terkena banjir. Nah, ini di luar
prediksi nih. Dan malah wilayah lain
yang terdampak lebih parah daripada yang
diperkirakan sebelumnya. Dan banyak
penduduk di Guang Fu yang mengeluhkan
tidak adanya peringatan yang memadai
dari otoritas Taiwan sehingga
orang-orang yang berada di zona bahaya
tidak bisa cepat mengungsi katanya. Nah,
udah seberusaha itu aja pemerintahnya,
masyarakatnya masih mengeluhkan gitu
karena emang gede banget bencana ini.
Nah, sementara untuk korban luka-lukanya
mencapai 32 orang, Geng. Pemerintah juga
mendirikan pusat tanggap bencana garis
depan di Huaien dan Kementerian
Pertahanan Nasional juga sudah
mengerahkan pasukan untuk membantu upaya
penyelamatan. Meskipun banjir ini sudah
surut di sana, lumpur tebal serta
puing-puing tuh masih tersisa. Dan tim
pencari juga terus menyisir ke
rumah-rumah dengan harapan bisa
menemukan orang-orang yang masih hilang.
Nah, namun Perdana Menteri Taiwan yang
namanya Cho Jungtai itu sudah meminta
penyelidikan terkait kemungkinan adanya
perintah evakuasi yang salah. Ragasa
juga diperkirakan bakal menyapu Hongkong
dan juga daerah Maau. Menurut
observatorium Hongkong, topan ragasa ini
bakal datang dengan kecepatan hingga 230
km/h dan Hongkong bakal menaikkan sinyal
topan menjadi 8 level tertinggi ketiga.
Nah, observatorium Hongkong akan menilai
apakah perlu mengeluarkan peringatan
yang lebih tinggi di hari Selasa malam
atau Rabu dini hari waktu itu. Namun
mereka mengingatkan adanya potensi angin
kencang, hujan lebat, serta naiknya
permukaan laut seperti yang terjadi
selama topan HTO di tahun 2017 dan topan
Mangkut di tahun 2018. Nah, namun di
hari Rabu Observatorium Hongkong itu
mengeluarkan peringatan level 10 untuk
badai tersebut pada hari Rabu yang mana
level ini level tertinggi, Geng. Karena
udah menyeramkan banget. Nah, lembaga
tersebut mendesak agar orang-orang tetap
berada di dalam rumah sampai situasinya
dikatakan aman. Dan di Hongkong, geng,
ya. Pemerintahnya itu sudah menyediakan
banyak karung pasir di daerah-daerah
yang rawan banjir. Sekolah-sekolah yang
ada di sana juga sampai ditutup. Mereka
tuh enggak ya enggak ke sekolah, enggak
belajar mengajar, dan bahkan yang lebih
seriusnya adalah penerbangan juga
ditunda, ditutup sementara. Walaupun
bandara tetap buka sebenarnya ya, mulai
dari Selasa sore sampai keesokan
harinya, tapi maskapai penerbangannya
itu enggak berjalan. Maskape penerbangan
nasional Hongkong yaitu Catai Pacific
Airway itu bilang penerbangan dari dan
menuju wilayah Hongkong ditunda
sementara. Ada lebih dari 500
penerbangan diperkirakan batal. Nah,
lalu maskapai HK Express juga sudah
melaporkan pembatalan lebih dari 100
penerbangan antara hari Selasa dan Kamis
tanggal 25 September 2025. Tapi bursa
effectf Hongkong bakal tetap buka. Nah,
akhir tahun lalu Geng, Bursa Efek itu
mengubah kebijakannya untuk terus
bertransaksi terlepas apapun kondisi
cuacanya.
Setelah pemberitahuan itu, Geng, warga
Hongkong sudah mulai menimbun kebutuhan
untuk sehari-hari. Nah, panik buying lah
terjadinya kepanikan untuk berbelanja.
Mereka tuh nimbun bahan makanan karena
mereka harus stay di dalam rumah dalam
waktu yang lama. Terlihat antrian
panjang terbentuk di supermarket, Geng.
Mereka memborong susu, daging, sayuran
segar, semuanya. Menurut informasi yang
gua dapatkan dari media BBC, Ragasa pada
akhirnya tidak mendarat di Hongkong.
Meskipun begitu, pihak berwenang
Hongkong mengatakan ada lebih dari 100
orang yang dirawat di rumah sakit umum
yang disebabkan karena cedera akibat
ragasa yang terjadi pada hari Rabu
malam. E mereka memang enggak terdampak
besar, tapi ada beberapa kota yang
terdampak dan dikatakan di antara 100
orang tersebut ada seorang wanita serta
putranya yang berusia 5 tahun tersapu ke
laut. Wah, seram banget enggak tuh?
sampai terbang ke laut gara-gara badai
tersebut. Dan kejadian tersebut pada
hari Selasa setelah mereka di saat itu
berada di tepi laut Hongkong. Nah,
mereka di saat itu langsung dibawa ke
rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Namun kemudian pihak berwenang Hongkong
juga melaporkan ada lebih dari 900 orang
yang mencari perlindungan di 50 tempat
penampungan sementara yang ada di
seluruh kota. Nah, peringatan yang sama
juga diberlakukan di Makau, Geng. Pusat
perjudian yang ada di Maau itu ditutup
semua. Orang-orang main judi libur dulu.
Dan sekolah-sekolah pun juga sama
ditutup selama 2 hari ke depan gara-gara
badai atau topan ini. Nah, pihak
kepolisian Makau juga menghimbau agar
warga yang ada di dataran rendah
bersiap-siap menghadapi kemungkinan
evakuasi ketika itu. Terus kemudian,
geng, Cina juga bersiap-siap menghadapi
ragasa besar ini. Ya, pusat Meteorologi
Nasional Cina memperkirakan topan ragasa
bakal mendarat di wilayah pesisir antara
kota Shenzen dan juga Kabupaten Shuen di
Provinsi Guangdong pada hari Rabu
tanggal 24 September 2025. Ragasa ini
bakal diperkirakan akan membawa hujan
deras dan angin kencang, ombak, serta
juga banjir ke negara tersebut. Nah,
pemerintah sudah memerintahkan
setidaknya 10 kota termasuk Shenzen,
Jiang Men, dan Yang Jiang. Terus ada
Zongshan, Dongguan, Fosan, dan juga
Zuhai untuk menutup semua fasilitas ee
publik mereka, sekolah, kantor, pabrik,
serta sarana transportasi ditutup
sementara. Jadi benar-benar ragasa ini
melumpuhkan negara itu. Dan pada saat
itu pemerintah di Shenzen ya pusat
teknologi di Cina bagian selatan itu
berencana merelokasikan sekitar 400.000
orang termasuk warga yang ada di daerah
dataran rendah dan juga rawan banjir.
Nah, di saat itu sudah tersedia lebih
dari 500 tempat penampungan darurat.
Bandara Shenzen itu bakal menghentikan
penerbangan pesawat mulai dari hari
Selasa malam, Geng. Dan di saat itu,
ketua Partai Komunis Cina yang bernama
Huang Kunming itu mengatakan
departemen-departemen di seluruh kawasan
diminta untuk meminimalkan kerusakan
serta sepenuhnya memasuki keadaan
darurat dan keadaan siap perang. Nah,
ini gua jujur aja enggak enggak paham ya
maksudnya gimana. Mungkin maksudnya tuh
bersiapsiaga kali ya. Ragasa ini
berpotensi menghantam Guangdong lebih
dari sekali, Geng. Nah, oleh karena itu
ya pihak berwenang itu mendesak warga
untuk menimbun persediaan darurat.
makanan-makanan mereka tuh harus
ditimbun, harus disimpan, dan mereka
harus memperkuat pintu dan jendela
mereka serta mengevakuasi area bawah
tanah mereka. Kedatangan ragasa ini juga
bakal menghambat aktivitas ekonomi bagi
ribuan pabrik yang ada di Guandong.
Sebab wilayah tersebut merupakan pusat
manufacture Cina. Pemerintah Cina juga
menghimbau kapal-kapal yang beroperasi
di laut Cina bagian selatan, bagian
selatan Selat Taiwan, serta Selat Basyi
dan juga perairan dekat Pantai Guandong
untuk menghentikan operasi mereka
sementara. Nah, pemerintah Provinsi
Guandong sudah mengevakuasi 1,89 juta
orang sampai hari Selasa malam menjelang
kedatangan Topan Ragasa ini.
Nah, di Zuhai, warga yang tinggal di
rumah susun atau apartemen tinggi di
tepi pantai itu udah diperintahkan untuk
mengungsi, untuk mengosongkan apartemen
mereka. Ya, seram banget kan kalau
tiba-tiba apartemennya tumbang gara-gara
angin gitu. Banyak dari mereka yang
mengungsi ke rumah kerabat mereka,
menginap di hotel yang lokasinya jauh
lebih aman atau yang lebih ke apa ya,
bangunan yang napak ke tanah gitu. Atau
mereka diminta untuk pindah ke tempat
penampungan sementara yang disediakan
oleh pemerintah seperti gedung-gedung
olahraga sekolah gitu, Geng. Nah, Ragasa
ini juga mendarat di pantai Pulau
Hailing, yaitu kota Yanjiang di Guandong
sekitar jam 5.00 sore waktu setempat
pada hari Rabu tanggal 24 September
2025. Badai ini melintasi dengan
kecepatan angin 144 km/h dan hembusan
yang lebih kencang. Kecepatan angin
diperkirakan bakal melemah secara
bertahap seiring badai bergerak ke arah
barat melintasi daratan ketika itu,
Geng. Nah, namun hujan bakal tetap turun
deras dan bergerak lambat di wilayah
tersebut selama beberapa hari ke depan.
Kota-kota di Cina Selatan seperti Zuhai,
Shenzen, terus ada Guangzu itu sudah
bersiap untuk menghadapi masuknya air
laut ke daratan. Jadi kayak ya kayak
tsunami gitu, Geng. Di Zuhai sendiri,
polisi berpatroli di jalan-jalan dengan
sirene dan pengeras suara untuk
memberitahu orang-orang agar tetap
tinggal di rumah. Peringatan zona merah
untuk tanah lonsor juga dikeluarkan di
wilayah pegunungan Provinsi Guandong.
Dan saking besarnya topan dan dampak
yang ditimbulkan, Badan Meteorologi Cina
menggambarkan kalau ragasa ini sebagai
raja badai karena diyakini sebagai badai
terkuat yang pernah terjadi di dunia
tahun ini. Nah, topan ini diperkirakan
bakal lebih merusak dibandingkan topan
lain yang menerjang Provinsi Guandong
awal tahun 2025. Nah, jadi Cina juga
bakal kena, Geng. Nah, terus Geng ya
enggak berhenti sampai di situ. Setelah
menerjang Cina, topan Ragasa ini bakal
berlanjut lagi, bakal bergerak ke area
Vietnam. Namun ketika sampai di Vietnam,
kekuatan ragasa sudah melemah menjadi
badai tropis. Meskipun begitu, ancaman
hujan lebat masih ada di Cina, Vietnam,
dan beberapa wilayah lain di Asia
Tenggara. Di saat itu, Perdana Menteri
Vietnam yang bernama Pan Mingsing itu
sudah memerintahkan para pejabat untuk
melindungi infrastruktur yang ada di
negara tersebut, termasuk bendungan dan
rumah sakit dan juga mengamankan kapal
penangkap ikan serta mempersiapkan
operasi pencarian serta penyelamatan.
Nah, beberapa penerbangan itu juga sudah
dibatalkan atau dijadwalkan ulang, Geng.
Sementara para pekerja di sana diminta
untuk menebang pohon-pohon yang udah
terlalu rimbun, terlalu tinggi, ya,
supaya menghindari bahayanya pohon
tumbang karena angin kencang yang
melanda wilayah Vietnam. Nah, jadi ini
pelajaran juga buat kita nih. Kalau
misalkan ini sampai ke kita ya, badainya
ini aja nih barusan hujan nih gua
syuting. Pohon-pohon di dekat rumah
kalian harus diperhatikan, Geng.
Hati-hati entar ketiban.
Nah, jadi itu semua adalah kondisi dari
berbagai negara ketika topan ragasa ini
menerjang wilayah tersebut. Nah,
sekarang kita bakal membahas nih, Geng.
Apa itu topan Ragasa? Mengapa topan
Ragasa ini begitu mematikan dan
menakutkan bagi banyak negara. Bahkan
Cina aja sampai ketakutan segitunya.
Padahal kalau kita pikir-pikir ya, Cina
ini kan teknologinya udah banyak yang
canggih. Tapi mereka aja sampai takut
dengan bencana ini. Sekarang kita masuk
ke dalam pembahasannya.
Jadi, Geng, angin topan umumnya terjadi
karena perbedaan tekanan tertentu.
Bencana angin yang berputar dan bergerak
cepat ini dapat memiliki diameter hingga
ratusan kilometer. Nah, angin topan
dengan kecepatan umum lebih dari 120 km
sendiri sering muncul di wilayah-wilayah
beriklim tropis, termasuk di negara kita
Indonesia. Misalnya ya, sejumlah negara
di Asia Timur dan Asia Tenggara yang
lokasinya jauh dari garis katulistiwa.
Nah, sementara topan ragasa itu memiliki
kecepatan yang lebih dari 195 km/h.
Lebih gede dari angin angin topan biasa.
Ragasa sendiri namanya diambil dari
bahasa Filipina yang berarti gerak cepat
atau gerakan cepat. Seperti yang gua
jelaskan sebelumnya, badai ini berawal
dari utara Yap yang kemudian menguat
secara perlahan saat melintasi perairan
samudra yang sangat hangat dan juga
mendukung untuk membuat badai ini jauh
lebih besar. Nah, ragasa sendiri sudah
meningkat menjadi super topan dan
negara-negara seperti Filipina, Taiwan,
dan juga Cina bagian selatan menjadi
perkiraan jalur yang selalu dilewati
oleh topan ragasa ini.
Nah, terus kenapa topan ragasa ini bisa
masuk ke dalam kelompok super topan?
Nah, jadi ternyata di dalam ilmu
meteorologi nama dan kategori badai
memiliki perbedaan geografis dan
intensitas yang jelas. di Pasifik Barat
laut ya, siklon tropis dikategorikan
berdasarkan kecepatan angin maksimum
rata-rata. Begitu angin mencapai
setidaknya 119 km/h, sistem tersebut
disebut dengan taip atau topan. Nah,
meteorolog juga mempertimbangkan tekanan
pusat dan struktur badai meliputi mata
badai, dinding mata, serta aliran yang
keluar untuk menilai intensitas. Namun,
klasifikasi resmi itu ditentukan
berdasarkan kecepatan anginnya, Geng.
Topan super sendiri atau super topan ya
itu adalah jenis topan yang masuk
kategori paling berbahaya, paling
mengerikan, paling kuat dari semua badai
tropis. Jadi ya dia bukan sekedar topan
biasa, melainkan subset atau bagian
khusus dari badai dengan intensitas luar
biasa. Dan menurut join Typon Warning
Center atau disingkat dengan JTWC
itu menyebutkan kalau super topan atau
Super Typon ini itu dipakai kalau
kecepatan angin itu rata-rata dalam 1
menit mencapai 240 km/h. Di dalam kasus
Ragasa, data JTWC itu menunjukkan angin
maksimumnya bisa mencapai 266 km/h
sehingga Ragasa diklasifikasikan sebagai
super topan.
Nah, yang membuat Ragasa ini menakutkan
itu bukan karena dia udah berada di
level super aja, Geng, tapi juga
seberapa cepat dan di mana angin
tersebut berhembus. Nah, Ragasa ini
mengalami intensifikasi cepat yang
enggak biasa saat mendekati Luzon Utara
dan pulau-pulau terdekat sehingga
mempersingkat waktu untuk evakuasi dan
persiapan. Wilayah Asia, terutama Asia
Timur dan Asia Tenggara memang pada
dasarnya adalah wilayah yang rawan badai
dan topan. Dan karena ya wilayahnya itu
berada tepat di jalur badai tropis
dunia. Suhu lautnya juga hangat.
Aktivitas musiman dan ee tekanan
atmosfer yang menjadikan kawasan ini
menjadi tempat lahirnya badai. Nah,
hampir setiap tahunnya sejumlah negara
seperti Filipina, Jepang, Vietnam, Cina,
sampai sebagian wilayah kita di
Indonesia itu mengalami hantaman topan
dengan kekuatan yang besar. Dan menurut
para ilmuwan ya, topan ragasa ini
berawal dari badai yang seiring
berjalannya waktu menjadi lebih kuat dan
terus lebih kuat yang mana disebabkan
karena pemanasan global akibat dampak
perubahan iklim. Pasti kalian penasaran
juga apakah negara kita Indonesia bakal
dilanda oleh Topan Ragasa ini? Nah,
kabarnya nih ya syukur alhamdulillahnya
ya pihak Badan Meteorologi, Klimatologi,
dan Geofisika atau disingkat dengan BMKG
Indonesia memprediksi ragasa tidak akan
sampai ke negara kita. Namun ada dampak
yang enggak langsung yang diakibatkan
oleh topan ragasa di Indonesia. Nah,
dampak enggak langsung dari topan ragasa
ini dimaksud oleh BMKG adalah adanya
beberapa wilayah di Indonesia yang
diprediksi mengalami hujan dengan
intensitas yang sedang hingga yang lebat
juga selama beberapa minggu ini sampai
dengan tanggal 29 September nanti. Nah,
BMKG memperingatkan adanya siklon tropis
bualoy yang saat ini sedang terpantau
berada di laut Filipina tepatnya di
sebelah tenggara pulau Luzon, Filipina
bagian utara. Nah, siklon bualoy ini
tidak akan masuk ke Indonesia karena
arahnya ke utara, Geng. Mendekati Taiwan
dan Jepang. Namun, cuaca di beberapa
wilayah Indonesia, terutama bagian utara
seperti Sulawesi dan juga Maluku Utara
bisa sedikit berpengaruh atas kejadian
ini.
Nah, jadi itu dia geng pembahasan kita
hari ini soal bencana yang mengerikan,
yaitu topan besar yang bernama Ragasa.
Dan ini menghantam beberapa negara dan
menjadi badai terkuat di tahun ini.
Gimana, Geng? Menurut kalian? Apakah
menurut kalian topan atau badai raga ini
cukup mengerikan? Coba tinggalkan
komentar di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:13:59 UTC
Categories
Manage