The Yalimo Papua Riots Are Terrifying! Resulting from Racist Speech, Ending in Burning Down!
R7iJMnBHkU4 • 2025-09-21
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Geng, sepertinya kita terlalu sibuk
membahas tentang kasus dari negara luar.
Sampai-sampai kita lupa kalau di
Indonesia sendiri ternyata sedang ada ee
sebuah kasus yang cukup menggemparkan
terjadi di wilayah bagian timur
Indonesia, tepatnya di wilayah Yalimo,
Papua Pegunungan. Nah, buat teman-teman
penonton kamar jerry yang mungkin
berasal dari sana, stay safe ya. Semoga
kalian baik-baik aja, tidak terjadi
apa-apa karena memang e sedang terjadi
pertikaian besar-besaran di sana. Dan
mungkin kalian yang mendengar konten ini
terus mendapatkan kekurangan informasi
dari pembahasan ini, boleh tinggalkan
komentar di bawah untuk menambahkan
informasi-informasi lain yang kalian
tahu. Insiden ini bisa dikatakan cukup
besar dan situasi di sana cukup mencekam
karena terjadi pembakaran di mana-mana.
Rumah dibakar, kios-kios yang ada di
sekitar lokasi juga dibakar. Dan bahkan
kabarnya markas polisi dan bangunan
sekolah mengalami kerusakan parah. Hal
ini menyebabkan jatuhnya korban jiwa,
Geng. Puluhan orang mengalami luka-luka.
Bahkan sampai ratusan warga yang tinggal
di sana terpaksa mengungsi karena
situasi di sana sudah tidak lagi
kondusif. Yang bikin ironisnya adalah
masih banyak yang di bawah umur yang
mungkin gak tahu apa-apa dengan situasi
tersebut ikut menjadi korban di dalam
kerusuhan ini. Dan saking keosnya
kerusuhan ini ya sampai ada prajurit
Kopasus yang terjebak di dalam kerusuhan
dan harus dievakuasi. Bayangin tuh geng.
Aparat aja sampai enggak bisa melakukan
apa-apa saking besarnya eskalasi pada
saat itu. Yang jadi pertanyaannya apa
yang sebenarnya terjadi? Mengapa bisa
timbul kericuhan sampai seperti itu?
Apakah sedang ada peperangan di sana
atau justru ada penunggangnya? Siapa
yang bertanggung jawab di balik ini
semua? Dan kenapa pemberitaan tentang ee
kejadian ini enggak begitu besar, enggak
begitu banyak yang tahu di media-media
mainstream enggak begitu banyak
diberitakan? Nah, di video kali ini kita
bakal menjelaskan, kita bakal membahas
mengenai situasi yang terjadi di Yalimo
ini, Geng. Termasuk menjawab pertanyaan
apa sih penyebabnya? apa sumbu atau akar
permasalahannya sehingga hal ini bisa
terjadi. Nah, langsung aja kita bahas
secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back
to Kamar Jiri
[Musik]
Geng. Geng, untuk pembahasan yang
pertama, kita bakal bahas dulu kondisi
kericuhan yang terjadi di Yalimo ini,
Geng.
Jadi, Geng, kericuhan ini terjadi di
daerah Elelim, Kabupaten Yalimo, Papua,
Pegunungan, tepat pada hari Selasa
tanggal 16 September kemarin. Kericuhan
ini dengan cepat meluas dengan adanya
aksi penyerangan serta pembakaran
bangunan dan kendaraan hingga di hari
Rabu dini hari tanggal 17 September
tahun 2025. Di saat itu ada seorang
warga sekitar yang bernama Chamila. Nah,
dia ini menceritakan ketika dia
mengetahui bahwa di hari Selasa terjadi
kericuhan. Nah, dia bercerita kepada
media BBC pada saat itu ya dia ini lagi
tidur, geng. Lagi tidur siang bersama
dengan bayinya. Di saat dia sedang lelap
tidur, tiba-tiba Camila ini terbangun
dikarenakan adanya suara seperti
benda-benda keras yang menghantam
dinding dan atap rumahnya dia. Ternyata
rumahnya dia itu dilempar dan pelemparan
itu enggak cuma sekali atau dua kali,
tapi justru berkali-kali. Dan setelah
suara tersebut terdengar, enggak lama
kemudian terdengar suara lain yang
merupakan suara dari teriakan
orang-orang yang mana ternyata sudah
banyak orang yang datang ke rumah Camila
dan dia pun diminta untuk segera lari
dari rumahnya ya kabur dari sana membawa
bayinya. Mendengar perintah tersebut,
Camila ini langsung mengambil e beberapa
kain yang bisa dia raih lah untuk
menyelimuti bayinya dia dan menggendong
bayinya dan terburu-buru kabur. Situasi
sudah mencekam banget di saat itu. Dia
keluar dari dalam rumah lewat jalan
belakang untuk menyelamatkan diri. Dan
ketika itu dia udah lihat adanya asap
hitam yang mengepul alias ada bangunan
yang dibakar. Di situlah dia baru
menyadari bahwa sedang terjadi
pembakaran besar-besaran di daerah
rumahnya dia. Nah, karena dia panik,
Camila ini dan anaknya itu ee langsung
lari menyelamatkan diri dari rumah
tersebut. Dia kabur sambil membekap
anaknya. Dan kabarnya nih, Geng, setelah
Camila ini menyelamatkan diri, rumahnya
dia langsung terbakar habis rata dengan
tanah. Kebayang tuh kalau dia enggak
keluar atau enggak ada yang ngasih tahu
dia untuk kabur dari sana, bisa-bisa dia
terpanggang tuh di dalam sana. Danila
ini berlari terus menyelamatkan diri
dengan menggendong bayinya dan
benar-benar gak sempat lihat ke belakang
dia langsung ya cari tempat perlindungan
yang aman. Nah, mereka berjalan kaki,
Geng, melewati bagian bawah gunung. Dan
menurut Chamila, dia berjalan kaki
mungkin 1 km lebih dan mereka berjalan
itu ketika waktu menunjukkan jam .00
siang waktu Indonesia bagian timur.
Camila ini juga lari secara
sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan
oleh ee masa pihak lawan yang sedang
mengamuk di saat itu. Dan seperti yang
kita tahu ya, kalau di Papua itu kalau
ada perang antar suku, kerusuhan, udah
pasti mereka itu bawa panah atau bawa
tombak. Nah, kenapa sembunyi-sembunyi?
Ya, takutnya ada anak panah yang nyasar
ke arahnya Chamila dan anaknya ini.
Camila ini kemudian mencari perlindungan
di kantor kepolisian setempat dan
menetap di sebuah masjid yang berada di
dekat ee kantor polisi itu. Nah, masjid
tersebut ya diperuntukkan untuk lokasi
menampung para pengungsi. Dan ternyata
geng, di sana Camila ini gak sendiri
karena ada beberapa orang yang ikut
menyelamatkan diri juga di sana seperti
dia ya. Dan akhirnya bermalam atau
menginap di sana dan akhirnya Camila ini
tidur bersama dengan para warga yang
mengungsi lainnya. Nah, walaupun di saat
itu mereka sudah berada di lokasi
pengusian bersama-sama ya, tapi di saat
itu mereka enggak merasa tenang sebab
mereka memikirkan nasib rumah mereka
yang pada saat itu ya ee belum tahu
rumah mereka itu bisa diselamatkan atau
enggak. Karena ada sebagian besar yang
sudah dibakar, ada sebagian lagi yang
cuma dijarah doang atau ee dibiarkan
begitu aja. Apalagi camila ini dan
kebanyakan orang yang ada di sana itu
cuma membawa badan aja dan juga ya
beberapa helai kain lah gak sempat
menyelamatkan harta benda mereka yang
berada di rumah. Dan di malam itu Camila
dan bayinya ini bahkan tidur di lantai
beralas kain tipis aja geng. Kasihan
banget. Singkat ceritanya ya, Geng.
Sampai di hari Rabu siang Camila ini
mengaku belum ada bantuan logistik yang
datang. Padahal ya dia membawa bayi yang
sangat membutuhkan pampers, baju, tisu
basah, dan kebutuhan bayi lainnya. Nah,
namun untuk bantuan berupa makanan,
Camila menyebutkan bahwa ada warga yang
memberikan bantuan makanan kepada para
pengungsi di sana.
Nah, ini yang gua pertanyakan nih, Geng.
Kenapa kasus ini atau fenomena ini tuh
enggak viral, enggak ramai
pemberitaannya tuh enggak heboh.
Sehingga bisa dikatakan ya penyaluran
bantuan dari pemerintahnya itu kayak
terkesan lamban, enggak nyampai ke sana.
Padahal kalau kita pikir-pikir ya,
Menteri Hak Asasi Manusia itu adalah
putra daerah Papua ya kan. Kenapa
kejadian di Papua yang berhubungan
dengan HAM kayak gini lama banget
ketahuannya? Bahkan sampai di hari Rabu
siang, seorang ibu yang membawa bayinya
menyelamatkan diri belum bisa
mendapatkan bantuan logistik. Yah, sedih
banget ya kalau kita pikir negara kita
ini. Dan dia juga mengaku ya si Kamila
tadi ya belum bisa bertemu dengan
suaminya yang terpisah jarak di
Kabupaten Yalimo. Hal ini disebabkan
karena situasi yang belum aman dan
banyak jalan yang dipalang atau di
blokade. Dan sebenarnya ada rencana agar
camila ini bisa dievakuasi ke daerah
Wamena yang bisa ditempuh selama 7 jam
perjalanan. Wah gila jauh banget. Dan
wamena juga merupakan kota terdekat dari
Yalimo. Namun Chamila itu gak mau dia
enggan untuk ikut sebab cuaca di Wamena
lebih dingin dibandingkan dialimo. Dia
kasihan sama anaknya enggak bawa
perlengkapan apa-apa nanti kedinginan
yang ada anaknya sakit. Dan alasan
lainnya juga ya dikarenakan belum adanya
jaminan bantuan dan tidak adanya kerabat
keluarga di Wamena. Jadi dia enggak mau
ambil resiko. Nah, Camila ini cerita dia
itu sama suaminya itu buka usaha di
daerah Yalimo sejak tahun 2018. Dan
menurut dia kerusuhan yang terjadi di
hari Selasa itu adalah kerusuhan yang
paling membabi buta ya selama dia
tinggal di daerah Yalimo, selama dia
berkeluarga di sana, buka usaha di sana.
Ini yang paling mengerikan menurut dia.
Gambaran dari chosnya ya kasus ini,
kerusuhan ini adalah ketika itu ya
Kombes Cahyo Sokarnito selaku Kabit
Humas Polda Papua itu menyebutkan ada
sebanyak 30 rumah dan kios yang hangus
terbakar di dalam kerusuhan tersebut.
Dan bahkan ada juga enam rumah dinas
polisi serta satu mes perwira yang ikut
dibakar oleh massa. Ada sebanyak 13 unit
sepeda motor yang dibakar juga dan
beberapa mobil juga ikut dibakar. Bahkan
bangunan dari SMAN N1 Y5 juga mengalami
kerusakan. Nah, di saat itu aparat dari
TNI serta Polri itu diminta untuk
mengamankan kerusuhan tersebut. Dan
saking keosnya kerusuhan itu, Geng,
aparat juga ikut jadi korban. Gila
enggak tuh?
Berdasarkan data kepolisian, kericuhan
di Yalibo ini mengakibatkan 30 bangunan
termasuk rumah kios milik warga dan mesk
perwira polesiaalimo yang hangus ter
hingga rata dengan tanah.
Aparat yang mau mengamankan yang mau
membantu tapi ikut menjadi korban dan
dikabarkan ada enam anggota Kopasus yang
sempat terjebak di dalam kerusuhan.
Mereka terkepung di belakang pos Satgas
Melo, Kampung Pirip, Distrik Elelim,
Kabupaten Yalimo, Papua, pegunungan. Dan
tiga di antaranya mengalami luka yang
parah, yaitu Sertu Nando Manurung, Sertu
Kantum, dan Ledda Infantry Supardi. Nah,
mereka tuh lukanya parah banget. Dan
beruntungnya keenam Kopasus ini berhasil
diselamatkan, berhasil dievakuasi pada
hari Selasa jam 16 sore dan mereka
langsung dibawa ke Mapolres Yalimo untuk
mendapatkan pertolongan medis. dan
evakuasinya itu dimulai dari jam26
sore dengan mengerahkan 3 unit kendaraan
roda 6 dan tiga kendaraan roda 4.
Jadi untuk mengevakuasi ee anggota
Kopasus ini dibutuhkan anggota yang
cukup ramai. Operasi penyelamatan itu
dipimpin oleh Ibda Abdul Aziz dari
satuan Brimot Polda Papua bersama dengan
personel TNI dan Polresia Limo. Dan pada
saat proses evakuasi berlangsung, tim
gabungan ini diklaim sempat mendapatkan
serangan massa dari berbagai arah, Geng.
Tapi aparat berhasil memukul mundur
massa sehingga jalannya operasi dapat
diselesaikan. Nah, di saat itu, Geng,
Kombes Polisi Adarma Sinaga selaku Wakil
Kepala Operasi Damai Kartens itu e
bilang sejumlah aparat kepolisian juga
ikut jadi korban kerusuhan. Yang mana di
antaranya itu ada Briptu Fitrah Hanaing
yang wajahnya tuh sampai terluka akibat
lemparan batu. Dan Briptu Muhammad Aqsa
Almuttadin itu terkena panah di kepala.
Wah, seram banget. dan Charles yang
merupakan prajurit TNI yang terluka di
bagian kepala juga. Nah, sementara untuk
korban jiwanya ya dari kalangan
masyarakat sipil ada yang namanya Nasir
Daeng Mapa usianya 44 tahun dan anaknya
yang bernama Arsadava yang umurnya 9
tahun. Mereka tewas karena terbakar di
dalam mobil. Kebayang enggak jahat ya?
Sedih banget ya. Bapak sama anak di
dalam mobil dibakar sama masa. Dan
selanjutnya ada pelajar yang bernama
Sadrak Yohame yang meninggal dunia
akibat luka tembak. Terus ada lagi Ativa
umurnya masih 10 tahun yang mengalami
luka sayatan di leher dan sedang
menjalani perawatan intensif. Jadi
enggak pandang
umur, enggak pandang siapa orangnya,
dihajar semuanya. Dan untuk korban
luka-luka jika di tootal itu ada
sebanyak 23 orang geng yang mengalami
luka-luka dan lima orang di antaranya
adalah personel TNI dan polisi yang
bertugas untuk mengamankan kerusuhan
tersebut.
Korban te bernama Nasir Daeng Mapa 44
seorang sopir lajuran bersama anaknya
Arsya Dava 9. Keduanya diduga terjebak
dalam mobil yangar.
Kemudian geng dilaporkan ada sekitar 400
warga pendatang di Yalimo yang harus
mengungsi ke Wamena. Nah, sebagian
mengungsi ke rumah keluarga. Namun ada
sebagian lagi yang ditampung di Pores
Jayawijaya. Sampai dengan hari Kamis
malam, kepolisian setempat melaporkan
masih adanya gelombang pengungsian yang
berdatangan dari Elelim ke Wamena yang
berjarak sekitar 130 km. Nah, di tengah
kondisi seperti ini ya Dandim 1702
Jayawijaya yang bernama Led Call ARH
Reza Cha Mamoribo itu bilang pihak
mereka bakal membawa bantuan logistik
untuk pengungsi yang berada di daerah
posramil Elelim dan dia juga bakal
menambahkan personil untuk berjaga di
sekitar lokasi kericuhan. Nah, dia juga
mengingatkan kepada anak buahnya supaya
tetap mengedepankan pendekatan humanis
dalam melaksanakan tugas serta
sinergitas antara Polri dan pemerintah
daerah. Nah, maksudnya tuh ya enggak
melakukan aksi kekerasan kepada massa
gitu, Geng. Sama dengan personil militer
ya, Polda Papua juga mengerahkan
sebanyak 110 personil Brimop untuk
membantu Polres Yalimo demi mengamankan
situasi di Kabupaten Yalimo, Papua,
pegunungan. Dan langkah ini diambil
untuk memastikan stabilitas keamanan
serta mencegah potensi meluasnya
konflik, Geng. Dan aparat juga
dilibatkan untuk membantu proses
evakuasi dari ratusan warga, mengamankan
jalur transportasi, dan mendukung
penyaluran logistik ke masyarakat yang
terdampak. Di saat itu, Geng, selain
Camila, ya, media BBC juga mendapatkan
kesaksian dari pengungsi lain yang
namanya Yohana. Yohana ini bilang kalau
kerusuhan yang terjadi kemarin itu jauh
lebih parah dibandingkan kerusuhan
sebelumnya. Karena biasanya nih, Geng,
ya. Menurut Yohanna ini kalau mau ada
kericuhan biasanya masyarakat setempat
mendapatkan kabar terlebih dahulu. Jadi
bisa mempersiapkan diri untuk bisa
segera mencari tempat perlindungan.
Sementara yang terjadi kemarin enggak
kayak gitu. Yohanna dan yang lain itu
tidak mendapatkan kabar bahwa akan
terjadi kerusuhan yang mana eskalasinya
jauh lebih besar dibandingkan yang
pernah mereka lihat sebelumnya. Jadi,
mendadak tiba-tiba aja tanpa adanya
peringatan dan rumah mereka langsung
dijadikan target oleh masa yang
mengamuk. Ya, kayaknya kayak apa ya?
Semacam udah biasa. gitu loh. Di sana
tuh kayak perang suku atau perang antar
kampung gitu. Dan Yohana ini bukanlah
warga asli Yalimo. Dia ini adalah warga
pendatang. Namun dia udah tinggal di
Yalimo lebih dari 10 tahun. Nah, dia
mengaku tidak akan pindah untuk
mengungsi ke Wamena. Dia memutuskan
bakal bertahan di pengungsian karena
sudah tidak punya uang lagi. Udah enggak
ada lagi persediaan makanan,
perlengkapan untuk bertahan hidup. Ya,
udah enggak ada gitu. dia tidak mau
mengungsi ke tempat lain. Yang ada itu
kayak ya makin memperparah situasi lah.
Nah, sementara ada pengungsi lain yang
bernama Ipul nih yang mana dia merupakan
seorang penjual sembakau di Kabupaten
Yalimo. Dia mengklaim kiosnya itu udah
habis terbakar beserta dengan
barang-barang dagangannya yang ada di
dalam kios itu dibakar oleh massa. Dan
ketika ditanya apakah hanya kios-kios
dari warga pendatang yang menjadi amukan
massa, Ipul ini bilang, "Iya benar. Jadi
yang diserang itu adalah warga-warga
pendatang." Nah, sedikit gua jelaskan
ya, Geng, maksudnya warga pendatang tuh
seperti apa. Nah, jadi kalau di Papua
pegunungan itu, Geng, ya, ee secara
garis besar lah ya, Papua itu ee ada
pembagiannya juga kayak Papua Gunung,
Papua Laut, orang pantai dengan orang
gunung. Secara fisik juga ee sedikit ada
perbedaan mungkin kayak di rambutnya.
Biasanya orang Papua pegunungan
rambutnya itu kalau kalian pernah lihat
tuh yang tebal-tebal, yang gimbal-gimbal
gitu. Nah, sementara orang-orang Papua
yang di pantai itu biasanya rambutnya
yang halus-halus keriting-keriting gitu.
Nah, itu perbedaan dari mereka. Ini
koreksi gua kalau salah dalam
menyampaikan e informasi ya,
Teman-teman. Karena ee gua pernah
beberapa kali ke Papua yang gua lihat
sih seperti itu dan yang gua tanyakan ke
teman-teman di sana juga seperti itu.
Biasanya orang-orang Papua itu ee jika
mereka memang asli keturunan Papua,
mereka akan menyebut diri sebagai Pace
asli, Ma. Yang alias kalian bisa lihat
secara fisik ya, keturunan Papua, suku
dari Papua itu ya memang berbeda secara
fisik dengan orang-orang pendatang. Nah,
orang-orang pendatang ini dari mana?
Nah, biasanya juga banyak dari Indonesia
Timur juga misalkan dari Ambon, dari
Makassar, Sulawesi dan sebagainya yang
mana secara fisik itu ya terlihat
berbeda dengan orang-orang ee lokal
Papua atau suku asli Papua yaitu tadi
Pace asli dan Mace asli itu. Dan
biasanya ya eh pasti ada
sentimen-sentimen
rasial seperti itu. Apabila sedang
terjadi konflik yang akan diserang itu
adalah warga pendatang. Nah, jadi
makanya di dalam kasus ini ya ketika
ditanyakan kepada e orang yang bernama
Ipul tadi, dia bilang yang kebanyakan
dibakar, yang kebanyakan diserang itu
adalah e properti atau bangunan atau
usaha milik orang warga-warga pendatang
seperti dia.
Di dalam hal ini pasti timbul
pertanyaan, kenapa hanya kios atau rumah
dari warga pendatang aja yang diserang
oleh massa? Apa pemicunya dari kerusuhan
yang begitu besar ini? dia limo dan
apakah ada pertikaian antara masyarakat
sipil dengan aparat atau antara suku
dengan suku. Nah, sekarang kita bakal
masuk ke dalam pembahasan mengenai
pemicu kericuhan di Yalimo, Geng.
Jadi, geng, menurut informasi yang
didapat dari Polda Papua dan Polres
Yalimo, sebenarnya kerusuhan yang
terjadi di Elelim Yalimo ini diduga
dipicu oleh ucapan rasis antar pelajar
SMA. Nah, ini tentang ras nih ternyata.
Dan sebelum kerusuhan ini pecah itu ada
seorang siswa berinisial AB yang diduga
menyinggung teman sekelasnya ketika
kegiatan belajar berlangsung sekitar jam
. pagi waktu Indonesia Timur. Dari
sinilah ucapan rasis tersebut memicu
baku hantam antar siswa. Pihak sekolah
sebenarnya sudah berupaya untuk
melakukan mediasi antar siswa-siswa ini,
namun gagal. Masalah tersebut pada
akhirnya memicu masalah yang lebih besar
lagi sampai menimbulkan ketegangan.
Insiden ini juga sudah diketahui oleh
warga sekitar yang mana ini merupakan
warga asli. Mereka yang mengetahui
adanya ucapan rasis tersebut menjadi
tersinggung. Nah, jadi kayak gosipnya
itu sampai keluar-luar sekolah. Nah,
pertikaian yang tadinya cuma terjadi di
dalam lingkup sekolah ini malah meluas
keluar dari sekolah sampai berujung pada
kerusuhan. Dan massa yang merasa
tersinggung dengan perkataan dari si
inisial AB ini menuju ke sebuah kios
yang diduga merupakan milik orang tua
dari si AB dan mereka langsung melakukan
pembakaran terhadap kios tersebut. Nah,
pembakaran ini kemudian merembet ke mes
perwira dan asrama Polia. Jadi
membesarlah di saat itu kasusnya. Hal
yang sama juga diungkapkan oleh Theo
Loho selaku ketua komite nasional Papua
Barat atau KNPB yang ada di Yalimo. Dia
menyebutkan bahwa kerusuhan yang terjadi
ini dipicu oleh ucapan rasis seorang
pelajar pendatang terhadap pelajar warga
asli Papua. Tuh kan seperti yang gua
katakan tadi ya di sana itu ya orang
pendatang dengan warga asli itu rentan
banget bergesekan kalau ada
ucapan-ucapan yang rasis kayak gini dan
masalah ini kemudian meluas menjadi
kerusuhan yang disertai dengan
pembakaran tadi. Dan sayangnya geng dari
kejadian ini justru tidak hanya menyasar
ke warga pendatang aja. Soalnya ada
rumah dari warga asli Papua juga yang
juga ikut terdampak akibat kerusuhan
ini. Sebab rumahnya tersebut jaraknya
sangat dekat dengan ruko dan kios milik
warga pendatang. Dan menurut Theo,
kerusuhan ini terjadi secara spontan
karena kemarahan warga asli setempat
bukan terjadi atas adanya kerusuhan
gara-gara oknum tertentu. Jadi ini murni
karena rasa marah dari warga asli di
sana yang tersinggung atas ucapan si AB
tadi. Nah, informasi dari pihak KNPB
yang ada di Yalimo itu menyebutkan ada
sejumlah warga yang mengalami luka
karena timah panas yang ditembakkan oleh
aparat keamanan selama kerusuhan
terjadi. Karena di saat itu aparat udah
enggak bisa membendung kericuhan
tersebut.
Lalu, Geng, sejumlah tokoh adat dan
agama merespon kerusuhan di Kabupaten
Yalim ini dengan mengutuk rasisme
sekaligus kerusuhan dan tindak kekerasan
yang terjadi. Padahal ya ini bisa
diselesaikan secara kekeluargaan. Nah,
tapi apa boleh buat? semuanya udah
terjadi. Dan seperti yang dikatakan oleh
Pastor John Buai dari jaringan damai
Papua yang menilai kasus rasis terhadap
orang asli Papua sering sekali berulang
karena selama ini enggak diselesaikan
dengan rekonsiliasi yang sampai saat ini
masih sangat membekas di hati orang
Papua. Untuk itu beliau mendorong
penyelesaian yang melibatkan tetua dari
tujuh wilayah adat, tokoh agama, serta
pemerintah untuk bersama-sama mencari
solusi. Sebab menurut pengamatannya dia,
sejauh ini kasus-kasus rasis yang
dialami oleh orang asli Papua itu selalu
diselesaikan tanpa adanya dialog dengan
baik ya. Dan itu seperti enggak
mendengar apa yang selama ini dirasakan
oleh orang Papua lah. Ibaratnya orang
Papua itu sudah ee sakit hati tapi ya
penyelesaiannya semacam enggak
didengarkan kayak orang-orang yang
melakukan hal rasis ini enggak
kapok-kapok gitu. Dan isu rasisme yang
dialami oleh orang Papua sudah terjadi
berkali-kali. Salah satunya terjadi pada
tahun 2019 di asrama mahasiswa Papua
yang ada di Surabaya, Jawa Timur. Nah,
permasalahan ini kan berawal karena
terjadinya pengerusakan bendera merah
putih yang terpasang di depan asrama dan
entah siapa pelakunya di saat itu. Pada
saat itu ya aparat setempat justru
menuduh kalau yang melakukan e hal itu
adalah para mahasiswa Papua yang berada
di asrama tersebut. Ada banyak orang
yang sudah mengerubungi asrama tiba-tiba
di saat itu yang terdiri dari
orang-orang dengan seragam tentara,
satpol PP, polisi, dan ada juga yang
memakai baju biasa. Dari salah satu
gambar yang diambil di dalam rekaman
video, terlihat ada seorang pria yang
beberapa kali menodongkan tangannya ke
penghuni asrama tersebut yang berada di
balik pagar dan dia menyuruh agar
penghuni asrama tidak usah banyak omong
dan segera keluar dari asrama. Bersamaan
dengan itu, sejumlah kata-kata menghina
dengan nama-nama binatang itu
ditunjukkan kepada mahasiswa Papua. Nah,
di saat itulah terkesan sangat-sangat
rasis. Dan intinya masa yang mendatangi
asrama itu menuduh kalau para mahasiswa
Papua inilah yang merusak bendera merah
putih. Padahal mereka sendiri juga
enggak punya bukti atas tuduhan
tersebut. Tapi ya anak-anak Papua ini
sudah dihina-hina oleh mereka. Bahkan
mengancam mahasiswa-mahasiswa Papua ini
dengan kalimat ancaman sampai melempar
batu ke arah mereka. Nah, mendengar
adanya insiden seperti itu, mahasiswa
Papua dari berbagai daerah menggelar
aksi protes di berbagai daerah di Papua
dan Papua Barat. Di Manokuari, Sorong,
dan Timika. Aksi pada saat itu sempat
berakhir rusuh dengan pembakaran
sejumlah bangunan serta perusakan
fasilitas umum. Di fakfak aksi juga
diikuti dengan pengibaran bendera
Bintang Kejora. Peristiwa yang berlanjut
dengan bentrokan antara masyarakat.
Unjuk rasa pada saat itu juga digelar di
Yalimo, Geng. Namun kericuhannya tidak
sebesar yang baru-baru terjadi ini. Nah,
namun sayangnya nih, Geng, apa yang
terjadi di tahun 2019 sepertinya tidak
menjadi pelajaran ee karena masih banyak
orang Papua yang mengalami ya rasisme.
Seperti salah satu cerita yang dibagikan
oleh Tashaya Marian, mahasiswi dari
Wamena. Dia masuk ke perguruan tinggi
swasta yang ada di Jakarta Selatan
dengan mengambil studi jurusan hukum
pidana. Terus juga ada mahasiswi lain
yang bernama Priska Mulait yang
memutuskan untuk kuliah bisnis di
Jakarta. Namun ketika mereka berdua
merantau ke Jakarta justru mereka
mendapatkan perlakuan yang tidak mereka
duga. Tasya sempat kesulitan mencari
kamar kos karena banyak pemilik kosan
yang tidak menerima dia untuk tinggal di
sana. Tapi dengan alasan kosannya sudah
penuh. Ada juga yang secara
terang-terangan menyebutkan kalau si
pemilik enggak bisa menerima orang yang
berasal dari Papua. Jadi, benar-benar
dirasisin. Dan pada akhirnya Tasya ini
tinggal di sebuah kontrakan yang berada
di Lenteng Agung, Jakarta Selatan
bersama dengan Priska dan beberapa
mahasiswa asal Papua lain. Enggak sampai
di situ aja, Geng. Tasya ini bercerita
bahwa di sana ada sebuah toko yang tidak
jauh dari kontrakannya yang enggan
melayani mahasiswa asal Papua dengan
baik. Meskipun ada juga toko yang mau
melayani mereka. Nah, hal ini terjadi
ketika mereka mau memasang kompor gas.
Tapi petugas toko itu nolak. Petugas
toko itu menyebutkan persoalan bau badan
lah, enggak bisa kekontrakan mereka lah.
Jadi benar-benar dirasisin di saat itu.
Nah, di awal perkuliahan Tasya juga
mengatakan dia melihat teman-teman
kuliahnya ya semacam apa ya merasisi dia
l menutup hidung atau ya memandang sinis
gitu. Dan beberapa mahasiswa yang bukan
orang Papua serta dosen itu pernah
bertanya langsung ke Tasya, apakah
orang-orang di kampungnya suka makan
babi mentah? Itu kan kayak pertanyaan
yang enggak banget gitu. Ngapain
ditanyain kayak gitu? Siapa juga yang
mau makan babi mentah? Ada-ada aja gitu.
Kelihatan banget pertanyaannya mengarah
ke hal yang rasis. Dan Tasya di saat itu
menjawab bahwa hal tersebut tidak benar
karena orang Papua tidak makan makanan
mentah. Tapi sama seperti orang-orang
lain ya dimasak terlebih dahulu. Makanya
banyak banget kasus-kasus rasis kayak
gini, Geng. Dan jika diuraikan lagi
sebenarnya masih banyak kasus-kasus
seperti ini di Indonesia. Nah, jadi
enggak heran banyak orang-orang dari
Papua ya, terutama mahasiswa dan
mahasiswinya yang merantau ke luar
Papua, mereka itu merasa diperlakukan
secara diskriminatif. Bahkan katanya
mulai dari anak kecil sampai orang tua
sudah menyadari hal ini. Bahwa kalimat
dan tindakan seperti itu tergolong ke
dalam rasisme. Makanya sangat
disayangkan, Geng, kita yang sesama
orang Indonesia tapi masih aja rasis
terhadap saudara sendiri. Untuk kondisi
dialimo sendiri berdasarkan laporan dari
kepolisian dialimo ya sampai hari Kamis
malam situasinya ya pelan-pelan mulai
kondusif. Ada sekitar 200 warga yang
mengungsi di Polresia Limo. Aparat juga
masih berupaya untuk menenangkan situasi
sebelum memeriksa dampak dari kericuhan
tersebut. Dan selain itu upaya untuk
mediasi terus diupayakan agar situasi
kondusif bisa kembali sepenuhnya. Dan
selanjutnya Brimo Polda Papua juga
menurunkan sebanyak 110 personil untuk
membantu pengamanan dialimo dan masih
ada ratusan personil gabungan yang
bersiaga di sana. Sementara itu, kondisi
kesehatan dari delan orang korban
kerusuhan yang dirawat di Rumah Sakit
Bayangkara Jayapura itu sudah
berangsur-ansur membaik. Nah, delan
orang ini itu ada yang bernama Eis
Rahmawati berusia 23 tahun. Lalu ada
Tasha yang berusia 22 tahun, Yanti yang
berusia 50 tahun, Erma berusia 33 tahun,
Eveline berusia 7 bulan ya masih eh bayi
gitu ya, dan Atifa yang berusia 8 tahun
serta Rugi Saranga yang berusia 36
tahun. Terus ada Arsya Kadafa Abdori
usia 9 tahun masih eh balita. Dan ya
kasihan bangetlah para korban-korban
ini. Sebenarnya bukan mereka yang salah
tapi mereka ya harus merasakan dampak
dari aksi rasis seorang anak pendatang.
Nah, semoga kondisinya di saat ini sudah
lebih membaik ya geng ya. Semoga saudara
kita yang ada di timur Indonesia ini
bisa saling berdamai. Amin ya rabbal
alamin.
Nah, itu dia geng pembahasan kita kali
ini mengenai insiden kericuhan yang
terjadi di Yalimo, Papua, pegunungan
yang dipicu karena adanya ucapan rasis
yang dikeluarkan oleh seorang pelajar.
Gimana, Geng, menurut kalian tentang hal
ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:16:10 UTC
Categories
Manage