The Yalimo Papua Riots Are Terrifying! Resulting from Racist Speech, Ending in Burning Down!
R7iJMnBHkU4 • 2025-09-21
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Geng, sepertinya kita terlalu sibuk membahas tentang kasus dari negara luar. Sampai-sampai kita lupa kalau di Indonesia sendiri ternyata sedang ada ee sebuah kasus yang cukup menggemparkan terjadi di wilayah bagian timur Indonesia, tepatnya di wilayah Yalimo, Papua Pegunungan. Nah, buat teman-teman penonton kamar jerry yang mungkin berasal dari sana, stay safe ya. Semoga kalian baik-baik aja, tidak terjadi apa-apa karena memang e sedang terjadi pertikaian besar-besaran di sana. Dan mungkin kalian yang mendengar konten ini terus mendapatkan kekurangan informasi dari pembahasan ini, boleh tinggalkan komentar di bawah untuk menambahkan informasi-informasi lain yang kalian tahu. Insiden ini bisa dikatakan cukup besar dan situasi di sana cukup mencekam karena terjadi pembakaran di mana-mana. Rumah dibakar, kios-kios yang ada di sekitar lokasi juga dibakar. Dan bahkan kabarnya markas polisi dan bangunan sekolah mengalami kerusakan parah. Hal ini menyebabkan jatuhnya korban jiwa, Geng. Puluhan orang mengalami luka-luka. Bahkan sampai ratusan warga yang tinggal di sana terpaksa mengungsi karena situasi di sana sudah tidak lagi kondusif. Yang bikin ironisnya adalah masih banyak yang di bawah umur yang mungkin gak tahu apa-apa dengan situasi tersebut ikut menjadi korban di dalam kerusuhan ini. Dan saking keosnya kerusuhan ini ya sampai ada prajurit Kopasus yang terjebak di dalam kerusuhan dan harus dievakuasi. Bayangin tuh geng. Aparat aja sampai enggak bisa melakukan apa-apa saking besarnya eskalasi pada saat itu. Yang jadi pertanyaannya apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa bisa timbul kericuhan sampai seperti itu? Apakah sedang ada peperangan di sana atau justru ada penunggangnya? Siapa yang bertanggung jawab di balik ini semua? Dan kenapa pemberitaan tentang ee kejadian ini enggak begitu besar, enggak begitu banyak yang tahu di media-media mainstream enggak begitu banyak diberitakan? Nah, di video kali ini kita bakal menjelaskan, kita bakal membahas mengenai situasi yang terjadi di Yalimo ini, Geng. Termasuk menjawab pertanyaan apa sih penyebabnya? apa sumbu atau akar permasalahannya sehingga hal ini bisa terjadi. Nah, langsung aja kita bahas secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jiri [Musik] Geng. Geng, untuk pembahasan yang pertama, kita bakal bahas dulu kondisi kericuhan yang terjadi di Yalimo ini, Geng. Jadi, Geng, kericuhan ini terjadi di daerah Elelim, Kabupaten Yalimo, Papua, Pegunungan, tepat pada hari Selasa tanggal 16 September kemarin. Kericuhan ini dengan cepat meluas dengan adanya aksi penyerangan serta pembakaran bangunan dan kendaraan hingga di hari Rabu dini hari tanggal 17 September tahun 2025. Di saat itu ada seorang warga sekitar yang bernama Chamila. Nah, dia ini menceritakan ketika dia mengetahui bahwa di hari Selasa terjadi kericuhan. Nah, dia bercerita kepada media BBC pada saat itu ya dia ini lagi tidur, geng. Lagi tidur siang bersama dengan bayinya. Di saat dia sedang lelap tidur, tiba-tiba Camila ini terbangun dikarenakan adanya suara seperti benda-benda keras yang menghantam dinding dan atap rumahnya dia. Ternyata rumahnya dia itu dilempar dan pelemparan itu enggak cuma sekali atau dua kali, tapi justru berkali-kali. Dan setelah suara tersebut terdengar, enggak lama kemudian terdengar suara lain yang merupakan suara dari teriakan orang-orang yang mana ternyata sudah banyak orang yang datang ke rumah Camila dan dia pun diminta untuk segera lari dari rumahnya ya kabur dari sana membawa bayinya. Mendengar perintah tersebut, Camila ini langsung mengambil e beberapa kain yang bisa dia raih lah untuk menyelimuti bayinya dia dan menggendong bayinya dan terburu-buru kabur. Situasi sudah mencekam banget di saat itu. Dia keluar dari dalam rumah lewat jalan belakang untuk menyelamatkan diri. Dan ketika itu dia udah lihat adanya asap hitam yang mengepul alias ada bangunan yang dibakar. Di situlah dia baru menyadari bahwa sedang terjadi pembakaran besar-besaran di daerah rumahnya dia. Nah, karena dia panik, Camila ini dan anaknya itu ee langsung lari menyelamatkan diri dari rumah tersebut. Dia kabur sambil membekap anaknya. Dan kabarnya nih, Geng, setelah Camila ini menyelamatkan diri, rumahnya dia langsung terbakar habis rata dengan tanah. Kebayang tuh kalau dia enggak keluar atau enggak ada yang ngasih tahu dia untuk kabur dari sana, bisa-bisa dia terpanggang tuh di dalam sana. Danila ini berlari terus menyelamatkan diri dengan menggendong bayinya dan benar-benar gak sempat lihat ke belakang dia langsung ya cari tempat perlindungan yang aman. Nah, mereka berjalan kaki, Geng, melewati bagian bawah gunung. Dan menurut Chamila, dia berjalan kaki mungkin 1 km lebih dan mereka berjalan itu ketika waktu menunjukkan jam .00 siang waktu Indonesia bagian timur. Camila ini juga lari secara sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan oleh ee masa pihak lawan yang sedang mengamuk di saat itu. Dan seperti yang kita tahu ya, kalau di Papua itu kalau ada perang antar suku, kerusuhan, udah pasti mereka itu bawa panah atau bawa tombak. Nah, kenapa sembunyi-sembunyi? Ya, takutnya ada anak panah yang nyasar ke arahnya Chamila dan anaknya ini. Camila ini kemudian mencari perlindungan di kantor kepolisian setempat dan menetap di sebuah masjid yang berada di dekat ee kantor polisi itu. Nah, masjid tersebut ya diperuntukkan untuk lokasi menampung para pengungsi. Dan ternyata geng, di sana Camila ini gak sendiri karena ada beberapa orang yang ikut menyelamatkan diri juga di sana seperti dia ya. Dan akhirnya bermalam atau menginap di sana dan akhirnya Camila ini tidur bersama dengan para warga yang mengungsi lainnya. Nah, walaupun di saat itu mereka sudah berada di lokasi pengusian bersama-sama ya, tapi di saat itu mereka enggak merasa tenang sebab mereka memikirkan nasib rumah mereka yang pada saat itu ya ee belum tahu rumah mereka itu bisa diselamatkan atau enggak. Karena ada sebagian besar yang sudah dibakar, ada sebagian lagi yang cuma dijarah doang atau ee dibiarkan begitu aja. Apalagi camila ini dan kebanyakan orang yang ada di sana itu cuma membawa badan aja dan juga ya beberapa helai kain lah gak sempat menyelamatkan harta benda mereka yang berada di rumah. Dan di malam itu Camila dan bayinya ini bahkan tidur di lantai beralas kain tipis aja geng. Kasihan banget. Singkat ceritanya ya, Geng. Sampai di hari Rabu siang Camila ini mengaku belum ada bantuan logistik yang datang. Padahal ya dia membawa bayi yang sangat membutuhkan pampers, baju, tisu basah, dan kebutuhan bayi lainnya. Nah, namun untuk bantuan berupa makanan, Camila menyebutkan bahwa ada warga yang memberikan bantuan makanan kepada para pengungsi di sana. Nah, ini yang gua pertanyakan nih, Geng. Kenapa kasus ini atau fenomena ini tuh enggak viral, enggak ramai pemberitaannya tuh enggak heboh. Sehingga bisa dikatakan ya penyaluran bantuan dari pemerintahnya itu kayak terkesan lamban, enggak nyampai ke sana. Padahal kalau kita pikir-pikir ya, Menteri Hak Asasi Manusia itu adalah putra daerah Papua ya kan. Kenapa kejadian di Papua yang berhubungan dengan HAM kayak gini lama banget ketahuannya? Bahkan sampai di hari Rabu siang, seorang ibu yang membawa bayinya menyelamatkan diri belum bisa mendapatkan bantuan logistik. Yah, sedih banget ya kalau kita pikir negara kita ini. Dan dia juga mengaku ya si Kamila tadi ya belum bisa bertemu dengan suaminya yang terpisah jarak di Kabupaten Yalimo. Hal ini disebabkan karena situasi yang belum aman dan banyak jalan yang dipalang atau di blokade. Dan sebenarnya ada rencana agar camila ini bisa dievakuasi ke daerah Wamena yang bisa ditempuh selama 7 jam perjalanan. Wah gila jauh banget. Dan wamena juga merupakan kota terdekat dari Yalimo. Namun Chamila itu gak mau dia enggan untuk ikut sebab cuaca di Wamena lebih dingin dibandingkan dialimo. Dia kasihan sama anaknya enggak bawa perlengkapan apa-apa nanti kedinginan yang ada anaknya sakit. Dan alasan lainnya juga ya dikarenakan belum adanya jaminan bantuan dan tidak adanya kerabat keluarga di Wamena. Jadi dia enggak mau ambil resiko. Nah, Camila ini cerita dia itu sama suaminya itu buka usaha di daerah Yalimo sejak tahun 2018. Dan menurut dia kerusuhan yang terjadi di hari Selasa itu adalah kerusuhan yang paling membabi buta ya selama dia tinggal di daerah Yalimo, selama dia berkeluarga di sana, buka usaha di sana. Ini yang paling mengerikan menurut dia. Gambaran dari chosnya ya kasus ini, kerusuhan ini adalah ketika itu ya Kombes Cahyo Sokarnito selaku Kabit Humas Polda Papua itu menyebutkan ada sebanyak 30 rumah dan kios yang hangus terbakar di dalam kerusuhan tersebut. Dan bahkan ada juga enam rumah dinas polisi serta satu mes perwira yang ikut dibakar oleh massa. Ada sebanyak 13 unit sepeda motor yang dibakar juga dan beberapa mobil juga ikut dibakar. Bahkan bangunan dari SMAN N1 Y5 juga mengalami kerusakan. Nah, di saat itu aparat dari TNI serta Polri itu diminta untuk mengamankan kerusuhan tersebut. Dan saking keosnya kerusuhan itu, Geng, aparat juga ikut jadi korban. Gila enggak tuh? Berdasarkan data kepolisian, kericuhan di Yalibo ini mengakibatkan 30 bangunan termasuk rumah kios milik warga dan mesk perwira polesiaalimo yang hangus ter hingga rata dengan tanah. Aparat yang mau mengamankan yang mau membantu tapi ikut menjadi korban dan dikabarkan ada enam anggota Kopasus yang sempat terjebak di dalam kerusuhan. Mereka terkepung di belakang pos Satgas Melo, Kampung Pirip, Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, Papua, pegunungan. Dan tiga di antaranya mengalami luka yang parah, yaitu Sertu Nando Manurung, Sertu Kantum, dan Ledda Infantry Supardi. Nah, mereka tuh lukanya parah banget. Dan beruntungnya keenam Kopasus ini berhasil diselamatkan, berhasil dievakuasi pada hari Selasa jam 16 sore dan mereka langsung dibawa ke Mapolres Yalimo untuk mendapatkan pertolongan medis. dan evakuasinya itu dimulai dari jam26 sore dengan mengerahkan 3 unit kendaraan roda 6 dan tiga kendaraan roda 4. Jadi untuk mengevakuasi ee anggota Kopasus ini dibutuhkan anggota yang cukup ramai. Operasi penyelamatan itu dipimpin oleh Ibda Abdul Aziz dari satuan Brimot Polda Papua bersama dengan personel TNI dan Polresia Limo. Dan pada saat proses evakuasi berlangsung, tim gabungan ini diklaim sempat mendapatkan serangan massa dari berbagai arah, Geng. Tapi aparat berhasil memukul mundur massa sehingga jalannya operasi dapat diselesaikan. Nah, di saat itu, Geng, Kombes Polisi Adarma Sinaga selaku Wakil Kepala Operasi Damai Kartens itu e bilang sejumlah aparat kepolisian juga ikut jadi korban kerusuhan. Yang mana di antaranya itu ada Briptu Fitrah Hanaing yang wajahnya tuh sampai terluka akibat lemparan batu. Dan Briptu Muhammad Aqsa Almuttadin itu terkena panah di kepala. Wah, seram banget. dan Charles yang merupakan prajurit TNI yang terluka di bagian kepala juga. Nah, sementara untuk korban jiwanya ya dari kalangan masyarakat sipil ada yang namanya Nasir Daeng Mapa usianya 44 tahun dan anaknya yang bernama Arsadava yang umurnya 9 tahun. Mereka tewas karena terbakar di dalam mobil. Kebayang enggak jahat ya? Sedih banget ya. Bapak sama anak di dalam mobil dibakar sama masa. Dan selanjutnya ada pelajar yang bernama Sadrak Yohame yang meninggal dunia akibat luka tembak. Terus ada lagi Ativa umurnya masih 10 tahun yang mengalami luka sayatan di leher dan sedang menjalani perawatan intensif. Jadi enggak pandang umur, enggak pandang siapa orangnya, dihajar semuanya. Dan untuk korban luka-luka jika di tootal itu ada sebanyak 23 orang geng yang mengalami luka-luka dan lima orang di antaranya adalah personel TNI dan polisi yang bertugas untuk mengamankan kerusuhan tersebut. Korban te bernama Nasir Daeng Mapa 44 seorang sopir lajuran bersama anaknya Arsya Dava 9. Keduanya diduga terjebak dalam mobil yangar. Kemudian geng dilaporkan ada sekitar 400 warga pendatang di Yalimo yang harus mengungsi ke Wamena. Nah, sebagian mengungsi ke rumah keluarga. Namun ada sebagian lagi yang ditampung di Pores Jayawijaya. Sampai dengan hari Kamis malam, kepolisian setempat melaporkan masih adanya gelombang pengungsian yang berdatangan dari Elelim ke Wamena yang berjarak sekitar 130 km. Nah, di tengah kondisi seperti ini ya Dandim 1702 Jayawijaya yang bernama Led Call ARH Reza Cha Mamoribo itu bilang pihak mereka bakal membawa bantuan logistik untuk pengungsi yang berada di daerah posramil Elelim dan dia juga bakal menambahkan personil untuk berjaga di sekitar lokasi kericuhan. Nah, dia juga mengingatkan kepada anak buahnya supaya tetap mengedepankan pendekatan humanis dalam melaksanakan tugas serta sinergitas antara Polri dan pemerintah daerah. Nah, maksudnya tuh ya enggak melakukan aksi kekerasan kepada massa gitu, Geng. Sama dengan personil militer ya, Polda Papua juga mengerahkan sebanyak 110 personil Brimop untuk membantu Polres Yalimo demi mengamankan situasi di Kabupaten Yalimo, Papua, pegunungan. Dan langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas keamanan serta mencegah potensi meluasnya konflik, Geng. Dan aparat juga dilibatkan untuk membantu proses evakuasi dari ratusan warga, mengamankan jalur transportasi, dan mendukung penyaluran logistik ke masyarakat yang terdampak. Di saat itu, Geng, selain Camila, ya, media BBC juga mendapatkan kesaksian dari pengungsi lain yang namanya Yohana. Yohana ini bilang kalau kerusuhan yang terjadi kemarin itu jauh lebih parah dibandingkan kerusuhan sebelumnya. Karena biasanya nih, Geng, ya. Menurut Yohanna ini kalau mau ada kericuhan biasanya masyarakat setempat mendapatkan kabar terlebih dahulu. Jadi bisa mempersiapkan diri untuk bisa segera mencari tempat perlindungan. Sementara yang terjadi kemarin enggak kayak gitu. Yohanna dan yang lain itu tidak mendapatkan kabar bahwa akan terjadi kerusuhan yang mana eskalasinya jauh lebih besar dibandingkan yang pernah mereka lihat sebelumnya. Jadi, mendadak tiba-tiba aja tanpa adanya peringatan dan rumah mereka langsung dijadikan target oleh masa yang mengamuk. Ya, kayaknya kayak apa ya? Semacam udah biasa. gitu loh. Di sana tuh kayak perang suku atau perang antar kampung gitu. Dan Yohana ini bukanlah warga asli Yalimo. Dia ini adalah warga pendatang. Namun dia udah tinggal di Yalimo lebih dari 10 tahun. Nah, dia mengaku tidak akan pindah untuk mengungsi ke Wamena. Dia memutuskan bakal bertahan di pengungsian karena sudah tidak punya uang lagi. Udah enggak ada lagi persediaan makanan, perlengkapan untuk bertahan hidup. Ya, udah enggak ada gitu. dia tidak mau mengungsi ke tempat lain. Yang ada itu kayak ya makin memperparah situasi lah. Nah, sementara ada pengungsi lain yang bernama Ipul nih yang mana dia merupakan seorang penjual sembakau di Kabupaten Yalimo. Dia mengklaim kiosnya itu udah habis terbakar beserta dengan barang-barang dagangannya yang ada di dalam kios itu dibakar oleh massa. Dan ketika ditanya apakah hanya kios-kios dari warga pendatang yang menjadi amukan massa, Ipul ini bilang, "Iya benar. Jadi yang diserang itu adalah warga-warga pendatang." Nah, sedikit gua jelaskan ya, Geng, maksudnya warga pendatang tuh seperti apa. Nah, jadi kalau di Papua pegunungan itu, Geng, ya, ee secara garis besar lah ya, Papua itu ee ada pembagiannya juga kayak Papua Gunung, Papua Laut, orang pantai dengan orang gunung. Secara fisik juga ee sedikit ada perbedaan mungkin kayak di rambutnya. Biasanya orang Papua pegunungan rambutnya itu kalau kalian pernah lihat tuh yang tebal-tebal, yang gimbal-gimbal gitu. Nah, sementara orang-orang Papua yang di pantai itu biasanya rambutnya yang halus-halus keriting-keriting gitu. Nah, itu perbedaan dari mereka. Ini koreksi gua kalau salah dalam menyampaikan e informasi ya, Teman-teman. Karena ee gua pernah beberapa kali ke Papua yang gua lihat sih seperti itu dan yang gua tanyakan ke teman-teman di sana juga seperti itu. Biasanya orang-orang Papua itu ee jika mereka memang asli keturunan Papua, mereka akan menyebut diri sebagai Pace asli, Ma. Yang alias kalian bisa lihat secara fisik ya, keturunan Papua, suku dari Papua itu ya memang berbeda secara fisik dengan orang-orang pendatang. Nah, orang-orang pendatang ini dari mana? Nah, biasanya juga banyak dari Indonesia Timur juga misalkan dari Ambon, dari Makassar, Sulawesi dan sebagainya yang mana secara fisik itu ya terlihat berbeda dengan orang-orang ee lokal Papua atau suku asli Papua yaitu tadi Pace asli dan Mace asli itu. Dan biasanya ya eh pasti ada sentimen-sentimen rasial seperti itu. Apabila sedang terjadi konflik yang akan diserang itu adalah warga pendatang. Nah, jadi makanya di dalam kasus ini ya ketika ditanyakan kepada e orang yang bernama Ipul tadi, dia bilang yang kebanyakan dibakar, yang kebanyakan diserang itu adalah e properti atau bangunan atau usaha milik orang warga-warga pendatang seperti dia. Di dalam hal ini pasti timbul pertanyaan, kenapa hanya kios atau rumah dari warga pendatang aja yang diserang oleh massa? Apa pemicunya dari kerusuhan yang begitu besar ini? dia limo dan apakah ada pertikaian antara masyarakat sipil dengan aparat atau antara suku dengan suku. Nah, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan mengenai pemicu kericuhan di Yalimo, Geng. Jadi, geng, menurut informasi yang didapat dari Polda Papua dan Polres Yalimo, sebenarnya kerusuhan yang terjadi di Elelim Yalimo ini diduga dipicu oleh ucapan rasis antar pelajar SMA. Nah, ini tentang ras nih ternyata. Dan sebelum kerusuhan ini pecah itu ada seorang siswa berinisial AB yang diduga menyinggung teman sekelasnya ketika kegiatan belajar berlangsung sekitar jam . pagi waktu Indonesia Timur. Dari sinilah ucapan rasis tersebut memicu baku hantam antar siswa. Pihak sekolah sebenarnya sudah berupaya untuk melakukan mediasi antar siswa-siswa ini, namun gagal. Masalah tersebut pada akhirnya memicu masalah yang lebih besar lagi sampai menimbulkan ketegangan. Insiden ini juga sudah diketahui oleh warga sekitar yang mana ini merupakan warga asli. Mereka yang mengetahui adanya ucapan rasis tersebut menjadi tersinggung. Nah, jadi kayak gosipnya itu sampai keluar-luar sekolah. Nah, pertikaian yang tadinya cuma terjadi di dalam lingkup sekolah ini malah meluas keluar dari sekolah sampai berujung pada kerusuhan. Dan massa yang merasa tersinggung dengan perkataan dari si inisial AB ini menuju ke sebuah kios yang diduga merupakan milik orang tua dari si AB dan mereka langsung melakukan pembakaran terhadap kios tersebut. Nah, pembakaran ini kemudian merembet ke mes perwira dan asrama Polia. Jadi membesarlah di saat itu kasusnya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Theo Loho selaku ketua komite nasional Papua Barat atau KNPB yang ada di Yalimo. Dia menyebutkan bahwa kerusuhan yang terjadi ini dipicu oleh ucapan rasis seorang pelajar pendatang terhadap pelajar warga asli Papua. Tuh kan seperti yang gua katakan tadi ya di sana itu ya orang pendatang dengan warga asli itu rentan banget bergesekan kalau ada ucapan-ucapan yang rasis kayak gini dan masalah ini kemudian meluas menjadi kerusuhan yang disertai dengan pembakaran tadi. Dan sayangnya geng dari kejadian ini justru tidak hanya menyasar ke warga pendatang aja. Soalnya ada rumah dari warga asli Papua juga yang juga ikut terdampak akibat kerusuhan ini. Sebab rumahnya tersebut jaraknya sangat dekat dengan ruko dan kios milik warga pendatang. Dan menurut Theo, kerusuhan ini terjadi secara spontan karena kemarahan warga asli setempat bukan terjadi atas adanya kerusuhan gara-gara oknum tertentu. Jadi ini murni karena rasa marah dari warga asli di sana yang tersinggung atas ucapan si AB tadi. Nah, informasi dari pihak KNPB yang ada di Yalimo itu menyebutkan ada sejumlah warga yang mengalami luka karena timah panas yang ditembakkan oleh aparat keamanan selama kerusuhan terjadi. Karena di saat itu aparat udah enggak bisa membendung kericuhan tersebut. Lalu, Geng, sejumlah tokoh adat dan agama merespon kerusuhan di Kabupaten Yalim ini dengan mengutuk rasisme sekaligus kerusuhan dan tindak kekerasan yang terjadi. Padahal ya ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Nah, tapi apa boleh buat? semuanya udah terjadi. Dan seperti yang dikatakan oleh Pastor John Buai dari jaringan damai Papua yang menilai kasus rasis terhadap orang asli Papua sering sekali berulang karena selama ini enggak diselesaikan dengan rekonsiliasi yang sampai saat ini masih sangat membekas di hati orang Papua. Untuk itu beliau mendorong penyelesaian yang melibatkan tetua dari tujuh wilayah adat, tokoh agama, serta pemerintah untuk bersama-sama mencari solusi. Sebab menurut pengamatannya dia, sejauh ini kasus-kasus rasis yang dialami oleh orang asli Papua itu selalu diselesaikan tanpa adanya dialog dengan baik ya. Dan itu seperti enggak mendengar apa yang selama ini dirasakan oleh orang Papua lah. Ibaratnya orang Papua itu sudah ee sakit hati tapi ya penyelesaiannya semacam enggak didengarkan kayak orang-orang yang melakukan hal rasis ini enggak kapok-kapok gitu. Dan isu rasisme yang dialami oleh orang Papua sudah terjadi berkali-kali. Salah satunya terjadi pada tahun 2019 di asrama mahasiswa Papua yang ada di Surabaya, Jawa Timur. Nah, permasalahan ini kan berawal karena terjadinya pengerusakan bendera merah putih yang terpasang di depan asrama dan entah siapa pelakunya di saat itu. Pada saat itu ya aparat setempat justru menuduh kalau yang melakukan e hal itu adalah para mahasiswa Papua yang berada di asrama tersebut. Ada banyak orang yang sudah mengerubungi asrama tiba-tiba di saat itu yang terdiri dari orang-orang dengan seragam tentara, satpol PP, polisi, dan ada juga yang memakai baju biasa. Dari salah satu gambar yang diambil di dalam rekaman video, terlihat ada seorang pria yang beberapa kali menodongkan tangannya ke penghuni asrama tersebut yang berada di balik pagar dan dia menyuruh agar penghuni asrama tidak usah banyak omong dan segera keluar dari asrama. Bersamaan dengan itu, sejumlah kata-kata menghina dengan nama-nama binatang itu ditunjukkan kepada mahasiswa Papua. Nah, di saat itulah terkesan sangat-sangat rasis. Dan intinya masa yang mendatangi asrama itu menuduh kalau para mahasiswa Papua inilah yang merusak bendera merah putih. Padahal mereka sendiri juga enggak punya bukti atas tuduhan tersebut. Tapi ya anak-anak Papua ini sudah dihina-hina oleh mereka. Bahkan mengancam mahasiswa-mahasiswa Papua ini dengan kalimat ancaman sampai melempar batu ke arah mereka. Nah, mendengar adanya insiden seperti itu, mahasiswa Papua dari berbagai daerah menggelar aksi protes di berbagai daerah di Papua dan Papua Barat. Di Manokuari, Sorong, dan Timika. Aksi pada saat itu sempat berakhir rusuh dengan pembakaran sejumlah bangunan serta perusakan fasilitas umum. Di fakfak aksi juga diikuti dengan pengibaran bendera Bintang Kejora. Peristiwa yang berlanjut dengan bentrokan antara masyarakat. Unjuk rasa pada saat itu juga digelar di Yalimo, Geng. Namun kericuhannya tidak sebesar yang baru-baru terjadi ini. Nah, namun sayangnya nih, Geng, apa yang terjadi di tahun 2019 sepertinya tidak menjadi pelajaran ee karena masih banyak orang Papua yang mengalami ya rasisme. Seperti salah satu cerita yang dibagikan oleh Tashaya Marian, mahasiswi dari Wamena. Dia masuk ke perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta Selatan dengan mengambil studi jurusan hukum pidana. Terus juga ada mahasiswi lain yang bernama Priska Mulait yang memutuskan untuk kuliah bisnis di Jakarta. Namun ketika mereka berdua merantau ke Jakarta justru mereka mendapatkan perlakuan yang tidak mereka duga. Tasya sempat kesulitan mencari kamar kos karena banyak pemilik kosan yang tidak menerima dia untuk tinggal di sana. Tapi dengan alasan kosannya sudah penuh. Ada juga yang secara terang-terangan menyebutkan kalau si pemilik enggak bisa menerima orang yang berasal dari Papua. Jadi, benar-benar dirasisin. Dan pada akhirnya Tasya ini tinggal di sebuah kontrakan yang berada di Lenteng Agung, Jakarta Selatan bersama dengan Priska dan beberapa mahasiswa asal Papua lain. Enggak sampai di situ aja, Geng. Tasya ini bercerita bahwa di sana ada sebuah toko yang tidak jauh dari kontrakannya yang enggan melayani mahasiswa asal Papua dengan baik. Meskipun ada juga toko yang mau melayani mereka. Nah, hal ini terjadi ketika mereka mau memasang kompor gas. Tapi petugas toko itu nolak. Petugas toko itu menyebutkan persoalan bau badan lah, enggak bisa kekontrakan mereka lah. Jadi benar-benar dirasisin di saat itu. Nah, di awal perkuliahan Tasya juga mengatakan dia melihat teman-teman kuliahnya ya semacam apa ya merasisi dia l menutup hidung atau ya memandang sinis gitu. Dan beberapa mahasiswa yang bukan orang Papua serta dosen itu pernah bertanya langsung ke Tasya, apakah orang-orang di kampungnya suka makan babi mentah? Itu kan kayak pertanyaan yang enggak banget gitu. Ngapain ditanyain kayak gitu? Siapa juga yang mau makan babi mentah? Ada-ada aja gitu. Kelihatan banget pertanyaannya mengarah ke hal yang rasis. Dan Tasya di saat itu menjawab bahwa hal tersebut tidak benar karena orang Papua tidak makan makanan mentah. Tapi sama seperti orang-orang lain ya dimasak terlebih dahulu. Makanya banyak banget kasus-kasus rasis kayak gini, Geng. Dan jika diuraikan lagi sebenarnya masih banyak kasus-kasus seperti ini di Indonesia. Nah, jadi enggak heran banyak orang-orang dari Papua ya, terutama mahasiswa dan mahasiswinya yang merantau ke luar Papua, mereka itu merasa diperlakukan secara diskriminatif. Bahkan katanya mulai dari anak kecil sampai orang tua sudah menyadari hal ini. Bahwa kalimat dan tindakan seperti itu tergolong ke dalam rasisme. Makanya sangat disayangkan, Geng, kita yang sesama orang Indonesia tapi masih aja rasis terhadap saudara sendiri. Untuk kondisi dialimo sendiri berdasarkan laporan dari kepolisian dialimo ya sampai hari Kamis malam situasinya ya pelan-pelan mulai kondusif. Ada sekitar 200 warga yang mengungsi di Polresia Limo. Aparat juga masih berupaya untuk menenangkan situasi sebelum memeriksa dampak dari kericuhan tersebut. Dan selain itu upaya untuk mediasi terus diupayakan agar situasi kondusif bisa kembali sepenuhnya. Dan selanjutnya Brimo Polda Papua juga menurunkan sebanyak 110 personil untuk membantu pengamanan dialimo dan masih ada ratusan personil gabungan yang bersiaga di sana. Sementara itu, kondisi kesehatan dari delan orang korban kerusuhan yang dirawat di Rumah Sakit Bayangkara Jayapura itu sudah berangsur-ansur membaik. Nah, delan orang ini itu ada yang bernama Eis Rahmawati berusia 23 tahun. Lalu ada Tasha yang berusia 22 tahun, Yanti yang berusia 50 tahun, Erma berusia 33 tahun, Eveline berusia 7 bulan ya masih eh bayi gitu ya, dan Atifa yang berusia 8 tahun serta Rugi Saranga yang berusia 36 tahun. Terus ada Arsya Kadafa Abdori usia 9 tahun masih eh balita. Dan ya kasihan bangetlah para korban-korban ini. Sebenarnya bukan mereka yang salah tapi mereka ya harus merasakan dampak dari aksi rasis seorang anak pendatang. Nah, semoga kondisinya di saat ini sudah lebih membaik ya geng ya. Semoga saudara kita yang ada di timur Indonesia ini bisa saling berdamai. Amin ya rabbal alamin. Nah, itu dia geng pembahasan kita kali ini mengenai insiden kericuhan yang terjadi di Yalimo, Papua, pegunungan yang dipicu karena adanya ucapan rasis yang dikeluarkan oleh seorang pelajar. Gimana, Geng, menurut kalian tentang hal ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories