1KG CACING DALAM TUBUH RAYA ! KRONOLOGI DAN JALAN HIDUPNYA YANG BIKIN MERINDING
6-denvXwv7Q • 2025-08-25
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Geng, pembahasan kali ini ini
benar-benar sebuah informasi yang gua
harap bisa menjadi edukasi untuk kita
semua dan ee ini terutama untuk
kalian-kalian yang merupakan orang tua
yang masih punya anak kecil yang mana
anak kecil ini kan biasanya rentan
banget terhadap penyakit. Nah, di kasus
yang akan kita bahas ini terjadi sebuah
kejadian yang benar-benar bikin
merinding akibat dari ya tidak sterilnya
kehidupan sebuah keluarga dan ini juga
dikarenakan ya sang ibu mengalami
gangguan kejiwaan. Ya, di dalam kasus
ini jujur ya ini gua tidak bermaksud
membahas ini untuk melanggar aturan
YouTube ataupun untuk menceritakan
hal-hal yang tabu dilarang gitu. enggak
sama sekali. Ini benar-benar tujuannya
adalah untuk edukasi. kita ambil
pelajarannya dari kasus ini. Dan gua
yakin banget kalian semua e pasti udah
sempat mendengar sedikit pemberitaannya
soal ya ada seorang adik kecil yang
tanpa dosa tidak bersalah tutup usia
dengan kondisi yang benar-benar bikin
kita tuh wah enggak pernah ngebayangkan
sebelumnya bahwa hal ini bisa terjadi
apalagi di negara kita Indonesia yang
kita pikir kita jauh lebih bersih, jauh
lebih baik dari negara-negara yang
mungkin bisa dikatakan kayak di Afrika
mungkin. ya kan negara-negara yang
tertinggal atau mungkin di India ada
beberapa bagian di India yang bisa
dikatakan tuh kotor banget daerahnya.
Nah, ternyata kita sekarang baru sadar
ya rupanya di negara kita juga ada hal
seperti itu. Kejadian yang bakal kita
bahas ini dialami oleh seorang adik yang
bernama Raya yang menderita cacingan
akut kabarnya. Nah, dari video-video
yang beredar di sosial media, cacing
yang ada di dalam tubuh raya jumlahnya
banyak banget dan sudah menyebar ke
berbagai organ vital. Sampai-sampai ada
cacing yang keluar dari hidungnya,
bahkan ya dari organ-organ tertentu yang
kita enggak pernah bayangin. Raya pun
akhirnya tidak bisa bertahan dan dia pun
tutup usia karena kondisi yang udah
parah banget. kasusnya ini menjadi
sorotan di Indonesia ya, menjadi sebuah
peringatan bagi kesehatan anak di negara
kita yang bisa dikatakan ya ini adalah
sebuah kegagalan dari sistem kesehatan
yang seharusnya bisa melindungi
anak-anak dari penyakit yang bisa
dicegah ya. Salah satunya adalah
cacingan yang mana kan setiap tahun kita
tuh pasti ada ee apa ya kayak imunisasi
ee posandu, obat cacing dan segala
macam. Tapi ternyata ada yang tutup usia
gara-gara cacingan di negara kita. Nah,
di video kali ini kita akan membahas
bagaimana kisah dari adik raya ini agar
menjadi refleksi bersama-sama dan jadi
bahan evaluasi bagi pemerintah kita
untuk terus meningkatkan sistem
kesehatan. Perhatian tidak hanya kepada
keuntungan doang. Mencari keuntungan,
menjual hasil perut bumi. Enggak cuma
itu doang, tapi juga harus diperhatikan
masyarakatnya jangan sampai ada kejadian
kayak gini. Nah, langsung aja nih kita
bahas secara lengkap kasus dari raya
ini. Halo, Geng. Welcome back to Kamar
Jerry,
[Musik]
Geng. Geng, sebelum kita bahas tentang
kronologi kejadiannya, kita bahas dulu
background dari raya ini.
Jadi, Geng, raya ini adalah seorang
bocah berusia 4 tahun yang berasal dari
Kampung Padang, Desa Cianaga, Kecamatan
Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa
Barat. Nah, raya selama ini diasuh oleh
neneknya. Sebab sang ibu yang bernama
Endah yang berusia 38 tahun menderita
gangguan jiwa. Sementara ayahnya yang
bernama Udin berusia 32 tahun itu
menderita TBC. Namun ada juga yang
mengatakan kalau ayahnya si Raya ini
juga sama-sama menderita gangguan jiwa,
Geng. Kebayang tuh sehari-hari Raya
harus tumbuh ya di tengah-tengah orang
tua yang sama-sama enggak waras lah
ibaratnya ya. Tidak ya tidak bisa
memberikan pendidikan dan kasih sayang
yang memadai untuk Raya. Sehari-hari
ayahnya Raya yang bernama Udin ini
bekerja serabutan sebagai buru harian
lepas. Sementara ibunya Endah cuma
mengurusi rumah aja. Jadi ibu rumah
tangga. Raya ini adalah anak bungsu dari
tiga bersaudara. Namun salah satu
saudaranya udah meninggal dunia, Geng.
Jadi dia tinggal berdua dengan
saudaranya yang lain lah. Dan raya
tinggal di sebuah rumah panggung yang di
bawahnya itu banyak ayam dan apa ya? Ya,
peliharaan. Ini jujur ya, sebenarnya
rumah jadul, rumah panggung zaman dulu
tuh juga kayak gini nih. Di bawahnya itu
bisa kandang bebek, di bawahnya itu bisa
kolam lele atau apalah gitu. Nah, tapi
entah kenapa ya kalau untuk zaman dulu
kayaknya orang tua tuh e punya cara
tersendiri untuk mensterilkan itu jadi
lebih bersih. Kalau zaman sekarang
kayaknya dibiarin aja kayak gitu.
Contohnya kayak di rumah raya ini.
Ayam-ayam yang ada di sana itu membuang
kotorannya sembarangan di bawah rumah.
Dan kabarnya raya sering bermain di
kolong rumah tersebut yang penuh dengan
kotoran ayam. Gua merinding banget
ngebayanginnya. Ya Allah. Dan raya ini
main di tempat yang sangat kotor, penuh
dengan kuman. dan hampir setiap hari
tanpa adanya pengawasan dari
keluarganya. Karena ya menurut
keluarganya mungkin berani kotor itu
baik. Nah, itu iklan siapa tuh? Berani
kotor itu baik. Nah, kayak gini ya.
Sebenarnya okelah kalau main kotor untuk
anak kecil itu baik, tapi setelahnya
setelah dia main kotor ya harus
bersih-bersih kukunya dicek ya kan atau
ya dimandiin sebersih-bersihnya pakai
sabun. Nah, tapi tidak dengan raya.
Benar-benar tidak diawasi. Kedua orang
tuanya tidak bisa diandalkan karena
keduanya pun memiliki riwayat penyakit
jiwa. Nah, kolong rumahnya ini yang
menjadi tempat di mana raya diduga
terpapar larva dari cacing. Kondisinya
diperparah karena di rumah raya tidak
ada kamar mandi. Sehingga setiap hari
adik raya ini harus mandi di empang yang
berada di seberang area rumahnya yang
jauh dari kata higienis. Jadi udah main
kotor, mandinya pun di tempat yang tidak
bersih. Ada cerita dari Sarah selaku
tante dari Raya yang juga ikut mengasuh
Raya selama ini. Menurut ceritanya, Raya
ini adalah sosok anak yang sebenarnya
ceria dan biasanya suka bergaul dengan
anak-anak seusianya dia. Namun
dibandingkan dengan teman-temannya, raya
ini mengalami apa ya ee kayak telat
jalan gitu loh. Eh telat berkembang lah
bisa dikatakan. Biasanya kan ada yang e
speech delay atau telat berbicara. Nah,
kalau raya ini telat jalannya. Jadi,
raya ini belum lancar berjalan untuk
anak seumuran dia. Dan meskipun begitu,
dia masih bisa bermain dengan anak-anak
yang lain. Dan selain itu, tantenya yang
bernama Sarah juga mengatakan kalau
setiap hari raya ini memang terlihat
kotor. Kayak mainnya emang suka
kotor-kotoran gitu. Nah, perihal Raya
yang ternyata mengidap cacingan, Sarah
enggak tahu. Ya, jelas enggak tahu siapa
juga yang mau ngelihat isi perutnya.
Kalau udah kotor kayak gitu, udah pasti
kalau enggak kuman, cacing, bakteri,
virus bahkan udah pasti menghinggap di
sana. Apalagi anak kecil yang kekuatan
imunnya belum seperti orang dewasa. Nah,
si tantenya yang bernama Sarah ini cuma
bilang kalau dia tahu raya ini memang
sudah dinyatakan mengalami gizi buruk
ketika dia diperiksa di posandu ketika
usianya 2 sampai 3 tahun. Nah,
menambahkan cerita si Sarah ini ya,
ibunya yaitu Endah sempat diwawancarai
oleh awak media, Geng. yang mana dia
bilang kalau Raya memang suka main di
tanah. Dulu sempat ada yang melarang
agar Raya jangan digendong terus karena
ditakutkan Raya enggak bisa jalan
seperti anak normal dan akhirnya nanti
ya maaf nih kayak lumpuh gitu. Dari
mulai kalimat-kalimat yang sotoy kayak
gitulah ya. Akhirnya ibunya si Endah ini
serta anggota keluarga yang lain
membiarkan raya main menginjak tanah
kayak gitu aja enggak digendong.
termasuk ketika raya bermain di kolong
rumah, tempat di mana ya kotoran ayam
banyak banget di sana. Yang mana menurut
Endah Raya sejak lama sudah mengalami
sakit seperti sesak, batuk-batuk. Jadi
kayak hah enggak tahu deh pokoknya orang
tuanya ini atau keluarganya ini
ngedengar ya kalimat-kalimat tahayul
orang lah kayak jangan sering-sering
digendong anaknya dibanting aja gitu
kali ya. Ya emang sih kalau bertetangga
dengan orang-orang di daerah-daerah yang
kayak gitu
ada aja sok tahunya lebih pintar dari
dokter gitu. Nah, dan hal inilah yang
menjadi penyebab awal kenapa Raya
dibiarkan kayak gitu aja, Geng. Terus,
Geng, selama ini kalau Raya menderita
sakit, ya ibunya si Endah ini enggak
pernah membawa Raya ke rumah sakit
ataupun ke puskesmas. Tapi raya cuma
diobati dengan cara tradisional dengan
cara dimandikan menggunakan air hangat
dan daun singkong. Nah, neneknya Raya
itu bilang kalau memang benar sudah
sejak dulu memiliki riwayat sakit paru
yang diduga tertular dari keluarganya,
yaitu dari sang ayah yang memang TBC dan
dari ibunya. Raya menunjukkan gejala
sakit ketika menginjak usia 2 tahun yang
mana Raya di saat itu baru bisa duduk
ketika usia 2 tahun itu belum bisa
merangkak, belum bisa jalan. Kondisi
raya yang terkena penyakit paru ini
diketahui oleh mantri, bukan dokter,
mantri setempat. Tapi katanya ya enggak
lama dari itu langsung sembuh. Kok bisa
ya? Kan enggak berobat tiba-tiba sembuh.
Nah, neneknya ini juga bilang selama ini
raya itu rutin mendapatkan obat cacing
dari posandu. Cuma geng enggak jelas
apakah obat itu benar-benar diminumkan
ya kepada Raya atau enggak. Dari
informasi lain yang gua dapatkan, Raya
sempat dibawa ke klinik yang ada di
daerah kalapanunggal. Nah, pada saat itu
dokter langsung mendiagnosis kalau raya
memang benar-benar terinfeksi TBC.
Keluarga Raya di saat itu masih belum
tahu kalau selain menderita TBC, raya
juga ternyata mengalami kondisi di mana
tubuhnya dipenuhi oleh cacing.
Huh. Oke, sekarang kita bakal masuk ke
dalam pembahasan mengenai bagaimana
perjalanan pengobatan untuk raya.
Sekarang kita bahas.
Jadi, Geng, perjuangan untuk bisa
mengobati raya bisa dikatakan enggak
mudah. Nah, di saat itu ada yang namanya
Iin Aen. Dia ini adalah pendiri rumah
teduh e and peaceful land. Dia adalah
pihak yang pertama kali membagikan
kondisi yang dialami oleh raya. Pada
awalnya ada kerabat raya yang melaporkan
kepada Iin ini ya mengenai kondisi Raya
di tanggal 13 Juli 2025. Di saat itu
pihak keluarga cuma menyampaikan kalau
raya mengalami sesak nafas. Nah,
mendapatkan laporan ini, relawannya
langsung segera melakukan evaluasi di
hari yang sama dengan langsung melihat
kondisi Raya di rumahnya. Nah, jadi
kayak didatangin lah gitu. Untuk sampai
ke rumahnya raya harus melewati jalan
berbatu yang belum sepenuhnya di aspal.
Medan jalan yang menanjak juga
menyulitkan perjalanan para relawan. Dan
di sepanjang jalan ada kandang-kandang
domba yang berjajar di sisi jalan.
Karena memang diketahui warga sekitar
itu memiliki ternak dan ada juga yang
jadi buruh tani gitu, Geng. Rumah raya
ini berada 100 m dari jalan utama dan
lokasinya berada di ujung paling ujung
rumahnya. Dan saat e tim relawan tiba di
sana, raya sudah dalam kondisi yang
enggak sadarkan diri. Kasihan banget
anak kecil udah enggak sadarkan diri.
Gimana tuh, Geng? Dia langsung dibawa ke
RSUD R Smsuddin, SH untuk mendapatkan
penanganan yang lebih lanjut menggunakan
ambulans oleh tim relawan. Nah, di saat
itu raya ini tiba di rumah sakit sekitar
jam 8.00 malam di hari yang sama. Dan
berdasarkan informasi yang diberikan
oleh keluarga e kepada dokter yang
menangani raya, sehari sebelumnya raya
ini mengalami gejala demam, batuk, dan
pilek. Mendengar informasi tersebut,
awalnya dokter menduga raya ini
menderita ee meningitis TB atau
komplikasi dari TBC paru. Sebab orang
tuanya kan memang ee sedang menjalani
pengobatan TBC dan juga dia pernah
didiagnosis ya mengalami TBC dari umur 2
tahun. Nah, tapi dugaan tersebut berubah
ketika dokter tiba-tiba melihat adanya
cacing gelang atau ascarsis yang
tiba-tiba keluar dari hidung raya selama
observasi di IGD. Semua orang begidik
ngeri di saat itu. Merinding
ngelihatnya. Bahkan dikabarkan cacing
itu juga keluar dari ya bagian-bagian
vital. Nah, selain enggak sadarkan diri,
kondisi raya juga udah enggak stabil,
Geng. Terutama tekanan darahnya. Setelah
penanganan awal untuk menstabilkan
kondisinya, raya segera dirawat di ruang
PICU. ya, singkatan dari pediatric
intensive care unit setelah dia
dikonsultasikan dengan spesialis anak.
Jadi gak tahu ya, Geng. Eh, apa ya? Gua
enggak tahu ini mungkin pemikiran bodoh
gua doang atau opini bodoh gua doang.
Ya, mungkin buat teman-teman yang di
dunia kesehatan bisa koreksi ini kalau
informasi ini salah karena ini opini ya.
Entah kenapa gua berpikir cacing-cacing
itu keluar dari tubuhnya dia karena
memang merasa kayak tubuhnya atau ee
sebutannya apa? Inangnya gitu ya.
Inangnya itu sudah tidak hidup. sudah
tidak lagi apa ya, sudah tidak lagi
memberikan makan untuk mereka, akhirnya
mereka keluar. Jadi kemungkinan besar di
saat itu cacing-cacing itu keluar karena
raya itu udah udah enggak mungkin hidup
lagi, udah enggak selamat jadinya cacing
ini pada keluar dari sana untuk mencari
tempat atau inang yang baru gitu kali
ya. Atau gua salah?
Pertanyaan itu muter-muter terus di
kepala gue. Mohon ya teman-teman yang
dari dunia kesehatan yang paham akan hal
ini boleh dijawab. Nah, di saat itu
dirawat selama 9 hari di rumah sakit
tersebut, Geng. Namun, kondisinya gak
kunjung membaik. Infeksi dari cacing
gelang yang dia alami sudah sangat parah
dan menyebar ke organ vital, bahkan
sampai ke paru-paru. Dan bahkan
bayangin, Geng, di otaknya aja ada
cacing. Keluarnya cacing dari hidung
raya menandakan bahwa cacing sudah
menjalar sampai ke saluran pernapasan
dan saluran pencernaan bagian atas.
Diperkirakan ada sekitar
1 kg cacing yang bersarang di tubuh
raya.
1 kilo, Geng. Duh, satu ekor aja tuh kan
enggak ada seon-seonnya ya. Berat, ya. 1
kilo berarti. Ya Allah.
Dan ini sudah dikatakan terlambat sebab
cacingnya udah banyak banget dan
ukurannya udah besar-besar banget.
Kondisi tersebut membuat penanganan
medis jadi semakin sulit dan tidak
memungkinkan. Namun, tim dokter terus
berupaya untuk mengeluarkan cacing satu
demi satu dari dalam tubuh raya. Dan
setiap harinya puluhan cacing keluar
dari semua bagian lubang di tubuhnya,
hidung. mulut bagian belakang. Dan
beberapa cacing itu keluar masih dalam
keadaan hidup. Sampai pada akhirnya raya
dinyatakan tidak bisa diselamatkan. Dia
tutup usia pada tanggal 22 Juli 2025
pukul 1424 siang. Benar-benar sebuah
kondisi yang ironis banget, Geng. Ya,
ada 1 kg cacing yang ada di tubuhnya
sampai-sampai keluar dari hidung kayak
gitu. Dan enggak sampai di situ aja,
Geng. Iin juga menceritakan bagaimana
perjuangan ketika ingin menyelamatkan
raya. Sebab pihak mereka menghadapi
kesulitan perihal administrasi.
Ternyata, Geng, raya tidak memiliki
identitas termasuk KK. Di saat itu,
pihak rumah sakit memberikan kesempatan
selama 3* 24 jam untuk mengurus BPJS PBI
atau penerima bantuan iuran agar biaya
perawatan bias ditanggung oleh
pemerintah. Nah, pihak IIN langsung ke
Duk Capil. Sesampainya di sana diarahkan
ke Dinas Sosial karena orang tuanya ada
keterbelakangan mental. Dari sana
diarahkan ke Dinas Kesehatan. Tapi pada
akhirnya Dinas Kesehatan juga enggak
bisa mengurus dokumen raya. Intinya
ribet.
Intinya di negara kita nyawa entar dulu
dokumen nomor satu. Oke, intinya kayak
gitu deh.
Nah, selama 3 hari berturut-turut ya
enggak ada solusi untuk bisa membantu
mengurus BPJS-nya raya. Sementara ya
cacing di dalam tubuhnya terus berpesta
kayak joget-joget. Bapak-bapak DPR itu
loh lihat ya yang lagi viral itu kayak
gitulah cacing di dalam tubuh raya di
saat itu. Dan enggak ada tanggapan juga
dari instansi terkait. Akibatnya tenggat
yang diberikan oleh pihak rumah sakit
pun terlewat. Demi keselamatan raya
pihak IIN enggak bisa menghentikan
pengobatan sehingga mereka mengalihkan
status perawatannya menjadi tunai
sepenuhnya yang ditanggung oleh rumah
teduh milik IIN. Total tagihan perawatan
mencapai Rp23 juta lebih yang kemudian
mendapatkan diskon dan sisa tagihannya
dibebaskan setelah pembayaran awal. Huh,
sedih banget gua anjir dengar ceritanya.
Terima kasih Mbak Iin. Respect untuk
kemanusiaan. Respect buat yang
joget-joget.
Ah, udahlah gua mau doain orang yang
jelek-jelek. Yang jelas lihat
sendirilah. Sedih banget. Untuk itulah
kita membayar semua.
Ah, stay cool. Oke, lanjut.
Kemudian ya ada keterangan dari Wardi
Sutandi selaku Kepala Desa Cianaga.
Wardi ini menjelaskan kalau pemerintah
desa sudah berupaya semaksimal mungkin
untuk membantu keluarga raya, Geng. Ada
bantuan dari pemerintah, baik dari
Dinkes maupun dari dana desa. Bahkan ya
kata Pak Wardi, raya sempat sehat, berat
badannya sempat naik karena diberikan
pemberian makanan tambahan atau PMT yang
ada di setiap harinya, ya kan? Terus
beliau juga menambahkan bahwa rumah
keluarga raya sempat hancur dan dibangun
ulang oleh warga serta pemerintah desa.
Tapi sayangnya karena orang tuanya
memang mengalami gangguan kejiwaan ya,
alas rumahnya atau lantai rumahnya kan
itu rumah panggung gitu kan. Alas
rumahnya kan terbuat dari kayu malah
dihancurin sama orang tua raya ini untuk
dijadikan bahan bakar memasak jadi kayu
bakar. Nah, menurut Bapak ini ya,
keluarga raya ini tidak langsung membawa
raya ke rumah sakit ketika kondisi raya
memburuk. Ya, mungkin karena enggak
menyangka kalau Raya sudah dalam keadaan
yang benar-benar mengerikan, yaitu
menderita cacingan yang parah. Terus
juga Pak Wardi ini bercerita kalau
keluarga dari raya memang sulit diatur,
Geng. Ya, itu tadi karena ada
permasalahan gangguan jiwa gitu. Nah,
pernah ya menurut Bapak itu ada cerita
program vaksinasi COVID. Nah,
keluarganya malah kabur ke hutan selama
3 bulan dan keluarganya juga jarang
berinteraksi dengan orang lain selain
dengan keluarga sendiri. Nah, jadi
memang rada-rada keluarganya. Selain
itu, Pak Wardi juga mengatakan meskipun
sering dibawa ke klinik dan puskesmas,
pengobatan raya terhambat karena enggak
punya dokumen resmi, enggak ada Kak,
enggak ada akta kelahiran.
Kemudian menurut Kepala Dusun Tiga Lemah
Duhur yang bernama Arif Rahman Hakim,
keluarga raya berada di bawah garis
kemiskinan. Memang kondisi ini enggak
cuma dialami oleh keluarga raya, dari
total sekitar 350 kepala keluarga dengan
lebih dari 1000 jiwa, separuh di
antaranya itu ya masih hidup di bawah
garis kemiskinan di sana. Dan kebanyakan
warga di sana cuma memiliki rumah yang
sangat sederhana. Bahkan masih ada yang
berupa rumah panggung seperti rumah
keluarga raya ini. Nah, setiap harinya
mereka bekerja sebagai petani. Namun,
ada juga yang menjadi buru harian lepas
atau buru-buru di luar desa. Kondisi di
desa ini juga enggak beda jauh dengan
desa-desa di sekitar. Termasuk rumahnya
yang sampai kondisi ekonominya rata-rata
memang kehidupannya sama kayak keluarga
raya. Yang mana artinya nih, Geng? Ya,
secara enggak langsung ya bisa diyakini
masih banyak raya-raya yang lain di desa
tersebut. Sedih banget ya kalau
dipikir-pikir. Terus, Geng, ketika
kondisi yang dialami oleh raya ini viral
di sosial media, banyak netizen yang
menyoroti mengapa warga sekitar enggak
ada yang mau membantu untuk membawa raya
untuk bisa mendapatkan perawatan dari
awal. Karena kalau seandainya warga
sekitar tanggap dan ingin membawa raya,
mungkin kondisinya enggak akan separah
sekarang. Ya, ada benarnya pertanyaan
netizen, tapi balik lagi kan udah
dibilang
mereka aja tuh semuanya serba kesulitan.
Yang kesulitan enggak cuma keluarga
raya, tapi semua keluarga di sana
boro-boro ngebantu orang, ngebantu diri
sendiri aja udah sulit. Nah, terus
netizen juga jadi mempertanyakan mengapa
orang tua raya yang memiliki gangguan
jiwa bisa menikah. Banyak yang nanyain
tuh, padahal secara psikologis mereka
tidak memiliki daya untuk memberikan
pengasuhan yang baik untuk anaknya.
Apakah mereka berdua menikah sebelum
menderita ODGJ atau justru setelah
menikah tiba-tiba ya stres jadi ODGJ.
Nah, soalnya kan untuk menikah itu
syaratnya harus berakal gitu kan. Nah,
seandainya orang tuanya menikah dengan
kondisi yang sudah mengalami ODGJ,
kenapa bisa dinikahkan? Dokumen-dokumen
untuk anaknya nanti juga enggak akan
bisa tercatat karena kondisi yang
seperti itu, ya. Seperti yang dialami
oleh raya ini sehingga kesulitan
mendapatkan BPJS. Nah, terus geng ya ada
isu yang menyebar di sosial media nih
soal desa tempat di mana raya tinggal.
Di saat itu isu ini menyebutkan kenapa
raya itu enggak punya jaminan kesehatan,
enggak punya identitas. Ini memang
karena di desa tempat raya tinggal kalau
ada orang yang mau membuat atau mengurus
dokumen seperti KK, KTP sampai BPJS
harus bayar uang jalan kepada pemerintah
desa senilai Rp150.000
untuk membuat KTP dan Rp200.000 untuk
membuat KK.
Karena ternyata berdasarkan informasi
yang beredar luas di sosial media di
desa tempat tinggal almarhum raya dan
keluarganya ini, masyarakat yang ingin
membuat ataupun mengurus dokumen-dokumen
seperti KK, KTP, hingga BPJS harus
membayar uang jalan kepada perangkat
desanya. senilai Rp150.000 untuk
pembuatan KTP dan Rp200.000 untuk
pembuatan KK. Entah berapa ratus ribu
yang harus dibayar masyarakat setempat
untuk membuat BPJS. Dan informasi ini
nampaknya dibenarkan oleh salah seorang
perangkat desa setempat. Sedangkan ini
kan kendalanya kita kalau bikin nya
kedah ka ustaz maran ka distruk Capil
gitu. Jadi bahasa mereka sendiri kitu
intina mah ngagentosan kang ongkos lah
kitu jangan dibahasakan pal basa mayar
kakak mahalnya mangga atuh ti samanya
nyari cuman desa hanya ngasih
persyaratan
itu gede banget loh geng angkanya untuk
sekelas e masyarakat menengah ke bawah
mungkin buat kalian-kalian yang terbiasa
ngopi-ngopi cantik di coffee shop ya
kecil tapi untuk orang-orang kayak
keluarga raya gede banget loh Rp200.000
ini termasuk pungli enggak sih? Ini
masih sekedar isu memang di sosial media
belum tahu benar atau enggak tapi jika
benar ini adalah bentuk pungli yang
benar-benar ya menyakitkan banget ya.
Lihat dampaknya sampai memakan korban
jiwa. Jadi enggak cuma cacing doang yang
menjadi penyebab atas meninggalnya raya,
tapi pungli juga kalau memang isu ini
benar. Kalau enggak benar silakan bantah
di kolom komentar. Oke.
[Musik]
Lalu, Geng. Kang Dedi Mulyadi selaku
Gubernur Jawa Barat sudah mengetahui
terkait apa yang dialami oleh raya.
Beliau menyampaikan rasa prihatin serta
kekecewaan yang mendalam yang diikuti
dengan permintaan maaf atas meninggalnya
raya. Kang Dedi ini sudah mengkonfirmasi
kondisi raya kepada tim dokter yang
menangani dan membenarkan apa yang
terjadi. Kang Dedi ya selanjutnya akan
melakukan pemberian sanksi kepada
perangkat desa dan pihak yang dinilai
lalai memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Nah, karena ini ada unsur ya
kelalaian juga. Benar banget menurut
Kang Dedi ini. Dan tindakan tersebut
dilakukan oleh Kang Dedi dikarenakan
fungsi-fungsi pokok pergerakan PKK,
posandu dan kebidanan yang bisa
dikatakan gagal total, tidak berjalan.
Selain itu, Kang Dedi juga sudah
mengirimkan tim untuk memberikan
perawatan bagi keluarga raya dan akan
memberikan teguran tegas kepada Bupati
Sukabumi agar kasus seperti raya tidak
terulang kembali di kemudian hari. Terus
geng, ada sebuah statement yang cukup
lucu nih. Ini datang dari Menteri
Kesehatan yaitu Pak Budi Gunadi Sadikin.
Ini gua bacain ya. Jadi justru beliau
ini ya menyebutkan kalau raya ini bukan
meninggal karena cacingan.
Padahal yang mendiagnosis itu kan dokter
ya. Beliau bilang ya eh raya ini
meninggal karena infeksi katanya. Nah
menurut beliau infeksi tersebut diduga
karena meningitis atau TBC. Dan dugaan
tersebut dikarenakan raya sudah 3 bulan
terus-menerus mengalami batuk berdahak
dan enggak bisa sembuh sehingga
menyebabkan tubuhnya lemah. Meninggal
bukan karena cacingan yang bersangkutan
meninggalnya karena infeksi. Infeksinya
kita duga bisa karena meningitis ini
masih dugaan dan bisa juga karena TBC.
Kalau kita lihat ya dari keterangan
Bapak ini, dari statement Bapak ini
dengan video yang beredar itu sangat
kontradiktif. Di video jelas-jelas di
tubuhnya udah keluar cacing, tapi
dikatakan bukan itu penyebabnya. Terus
ada statement lain yang enggak kalah
nyeleneh dari seorang Pak Pratikno
selaku Menteri Koordinator Bidang
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan atau
Menko PMK. Jadi pada saat diwawancarai
oleh media, di saat ya beliau ditanyakan
soal kondisi raya, beliau itu cuma
bilang kalau rincian mengenai kasus
tersebut sepenuhnya sudah ditangani oleh
Kemenkes. Dan pada saat Awak media
menanyakan lebih lanjut mengenai
koordinasi pemerintah terkait masalah
ini, beliau justru menjawab kalau dia
ngantuk.
Ah,
sedih banget ya.
mungkin anu ya Kemenkes yang awal cukup
detail. Iya, Pak.
Kalau Bapak ee sudah mendapatkan
informasi lebih lanjut
tapi anu detailnya nanti di Kemenkes ya.
Nanti ada
mungkin akan dikoordinasi tahu saya ini
agak ngantuk dikit ini.
Oke, selain membahas kasusnya Raya ini
gua juga mau memberikan edukasi ke
kalian mengenai penyakit yang dialami
oleh Raya yaitu infeksi yang disebabkan
oleh cacing gelang yang berada di dalam
tubuh. Ya kan? Dan dari kasus raya ini
menjadi sebuah tanda bahwa sistem
kesehatan di negara kita masih belum
bisa melindungi anak-anak kita dari
penyakit. Bahkan kita sendiri dari
penyakit ya seperti cacingan ya kan.
Sekarang gua bakal masuk ke dalam
pembahasan mengenai kegagalan sistem
kesehatan di negara kaya raya dengan
tambangnya ini.
Jadi, geng, penyakit yang raya alami
disebut dengan askariasis.
atau cacingan yang disebabkan oleh
cacing gelang yang bisa tumbuh 30 sampai
40 cm di dalam tubuh manusia. WHO
menyebutkan kalau penyakit ini sangat
sering terjadi di negara-negara tropis
dan subtropis dengan kondisi sanitasi
yang buruk. Anak usia 10 tahun ke bawah
ya yang biasanya lebih rentan untuk
terkena infeksi cacing. Dan hal ini
disebabkan karena mereka yang sering
bermain di tanah dan belum terbiasa
dalam menjaga kebersihan tangan. Jadi
apa aja dipegang gitu. Telur cacing itu
biasanya kan bakal masuk ke dalam tubuh
melalui makanan atau air yang tercemar
dengan kotoran manusia atau hewan. Nah,
tanah yang digunakan sebagai pupuk juga
bisa tuh atau buah dan sayuran yang
enggak dicuci dulu atau enggak dimasak
dengan e matang gitu. Proses dari
berkembang biaknya cacing di dalam tubuh
juga cukup mengerikan, Geng. Telur
cacingnya itu bakal masuk melalui mulut,
menetaskan telurnya di usus, dan larva
yang keluar dari telur tersebut akan
menembus dinding usus, ya kayak ya,
kayak mereka ngegali tanah aja gitu. dan
kemudian bakal masuk ke dalam aliran
darah yang menuju ke paru-paru. Dari
paru-paru, larva bakal naik ke
tenggorokan dan ini akan membuat manusia
jadi batuk-batuk. Dan ketika batuk larva
bakal tertelan kembali ke usus. Lalu
larvanya bakal tumbuh menjadi cacing
dewasa dan menghasilkan telur lagi. Gitu
terus tuh siklusnya. Satu ekor cacing
betina, Geng, bisa menghasilkan 200.000
telur per harinya. Bayangin 200.000
telur. Enggak heran kenapa bisa
diperkirakan ada 1 kg lebih cacing di
tubuh raya. sekalinya bertelur banyak
banget. Nah, gejala askariasis atau
cacingan ini bisa mirip e kayak asma
atau radang paru ketika larva cacing
berada di paru-paru. Makanya suka
disalah artikan sebagai penyakit paru.
Ada beberapa jenis cacing yang bisa
menginfeksi tubuh manusia. Yang pertama
adalah cacing gelang tadi. Kemudian ada
cacing tambang, terus ada cacing cambuk
dan cacing kremy. Itu beda-beda tuh.
Menurut WHO ya, ada lebih dari 1,5
miliar orang di dunia yang terinfeksi
cacing yang ditularkan melalui tanah.
Dari jumlah tersebut ya, anak usia di
bawah umur jadi kelompok yang paling
rentan. Ada lebih dari 260 juta anak
usia prasekolah, 654 juta anak usia
sekolah, dan 108 juta remaja perempuan,
dan 138,8
juta ibu hamil. Dan juga menyusui yang
tinggal di daerah dengan penularan
cacing parasit dan membutuhkan
pengobatan serta intervensi pencegahan.
Negara yang paling tinggi eh yang
mengalami infeksi cacing kayak gini itu
pertama Afrika subsahara. Ada di China,
Amerika Selatan, serta Asia yang menjadi
kawasan dengan kasus cacing tertinggi.
Indonesia jadi salah satu negara dengan
prevalensi tinggi infeksi cacing,
terutama di wilayah-wilayah pedesaan dan
daerah dengan sanitasi yang buruk. Yang
mana kondisi ini berkaitan erat dengan
kebiasaan bermain tanah tanpa
menggunakan alas kaki serta kurangnya
akses terhadap sanitasi yang layak.
Terus, Geng, riset terbaru yang
dilakukan di Indonesia pada tahun 2023
dan 2024 itu menemukan prevalensi
infeksi cacing anak masih mencapai 20
sampai 30% di beberapa daerah dengan
kondisi sanitasi yang buruk. Dan fakta
ini didukung dari sebuah studi yang ada
di Sumatera yang melaporkan hubungan
erat antara infeksi cacing dengan
anemida dan juga malnutrisi yang
menunjukkan infeksi cacing bisa merampas
kualitas tumbuh kembang anak sejak usia
dini. Jadi yang kayak anaknya banyak
makan tapi tetap kurus gitu. Nah, itu
makanannya disikat sama cacing di dalam
tubuhnya. Dan dari risite ini, kasus
raya bukanlah sebuah fenomena baru. Ini
merupakan gunung es dari masalah yang
lebih besar. Yaitu masih banyak
anak-anak Indonesia yang hidup di dalam
lingkaran kemiskinan, sanitasi buruk,
dan gizi yang rendah, lingkungan yang
tidak higienis, kebiasaan tidak mencuci
tangan, serta keterbatasan terhadap
akses air bersih yang menjadikan infeksi
cacing seolah hal yang biasa.
Meninggalnya raya karena cacingan
menunjukkan kegagalan sistemik di
berbagai sektor. Posyandu dan layanan
kesehatan masyarakat yang seharusnya
menjadi garda terdepan sering tidak bisa
mendeteksi ee anak yang berisiko. Entah
karena keterbatasan tenaga kesehatan
ataupun lemahnya koordinasi. Nah,
edukasi kesehatan juga belum mampu untuk
menjangkau seluruh keluarga. Padahal
nih, Geng ya, gejala cacingan itu sering
sekali terlihat jelas. Perutnya kayak
buncit, berat badan sulit naik, anak
muda lelah, dan anemia yang terus
berulang. Salah satu masalah yang paling
masih apa ya menjadi masalah besar lah
di Indonesia itu masalah sanitasi, yaitu
masalah WC, masalah toilet. Nah, masih
banyak keluarga yang tinggal di rumah
dengan lingkungan yang tidak layak,
bahkan berdampingan dengan kandang
ternak atau terbiasa buang air
sembarangan. Yang mana kondisi ini
menciptakan siklus infeksi yang terus
berulang. Yang lebih ironisnya lagi,
obat cacing sebenarnya murah dan bahkan
tersedia gratis di puskesmas. Tapi tanpa
adanya distribusi yang aktif, kesadaran
kolektif, anak-anak tetap terjebak di
dalam lingkaran penyakit yang sebenarnya
bisa dicegah, tapi kayak enggak ada
kesadaran untuk mencegah itu. Dan
Posyandu serta PKK sebenarnya harus
benar-benar digerakkan sebagai pusat
pemantauan tumbuh kembang dan kesehatan
anak di sebuah daerah. Ya namanya anak
kecil ya kan dia mana bisa perhatiin
dirinya sendiri. Yang bertanggung jawab
adalah orang tuanya. Jadi enggak cuma
sekedar kegiatan formal bulanan aja
geng. melainkan ini juga harus menjadi
wadah nyata untuk mendeteksi ya secara
dini resiko kesehatan termasuk cacingan.
Jadi, ini benar-benar udah mengerikan
banget. Oke, itu dia geng pembahasan
kita kali ini mengenai raya, seorang
adik kecil yang menderita cacingan akut
sehingga kehilangan nyawa. Nah, semoga
dari kasusnya raya ini bisa menjadi
pembelajaran untuk kita semua dalam
menerapkan hidup yang sehat dan menjadi
bahan evaluasi bagi pemerintah untuk
bisa meningkatkan program atau sistem
kesehatan di negara kita. Gimana, Geng,
menurut kalian? Coba tinggalkan komentar
di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:14:09 UTC
Categories
Manage