Transcript
Ii55gvsXjoM • INDONESIA Vs MALAYSIA BERPOTENSI PERANG? AKIBAT SENGKETA LAUT AMBALAT !
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1508_Ii55gvsXjoM.txt
Kind: captions Language: id Geng, hari ini kita akan membahas sesuatu yang berhubungan dengan negara tetangga kita yaitu Malaysia. Nah, pembahasan ini berkaitan juga dengan negara kita Indonesia. Sebelumnya gua minta maaf dulu nih kepada penonton kamar Jerry, terutama untuk teman-teman yang dari Malaysia karena gua tahu banget ya, banyak teman-teman atau saudara-saudara kita dari Malaysia yang juga nonton video dari channel ini setiap hari. Nah, apa yang gua sampaikan ini bukan bermaksud untuk mengadu domba, memecah belah dua negara, atau menabrakkan kita semua. Enggak sama sekali. Tapi pembahasan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan semoga bisa menjadi edukasi untuk kita semua. Jadi untuk kita semua ya tetap jaga tali persaudaraan. Kalau memang ada perselisihan di negara kita ya biarkanlah itu menjadi urusan pemerintah ya. Lagian kita juga capek gitu ya dengan aturan negara kita ini gitu kan. Untuk perang biayanya ada. Sementara untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan kemiskinan kayaknya berat banget. Beli peluru duitnya banyak. Membantu orang miskin, beasiswa, pendidikan, kesehatan segala macam. Hah, berat ya gitulah. Nah, dan memang ya, Geng, dua negara ini yaitu negara Indonesia dan Malaysia memang serupa di dalam banyak hal dari segi budaya dan suku dan hampir mirip-mirip. Nah, tapi serupa bukan berarti sama. Karena banyak hal di antara kedua negara yang akan kita bahas ini ada kontra satu sama lain. Salah satunya dengan topik yang akan kita bahas yaitu mengenai sengketa Laut Ambalat. Nah, isu ini memang sudah terjadi sejak bertahun-tahun silam. Namun sampai kini konflik di Laut Ambalat ini enggak kunjung meredah. Bahkan sekarang muncul konflik baru di sana. Sebab pihak Malaysia dikabarkan melakukan sesuatu yang berkaitan dengan Laut Ambalat ini yang mana hal tersebut bisa melemahkan klaim Indonesia atas Laut Ambalat. Jika dibiarkan, Indonesia bisa kehilangan klaim wilayah atas laut ambala tersebut. Nah, tentunya pihak Indonesia tidak tinggal diam dan memutuskan untuk melakukan berbagai jalan diplomasi untuk tetap bisa mempertahankan klaim di Laut Ambalat. Nah, apa yang dilakukan oleh pihak Malaysia terhadap Laut Ambalat sampai membuat Indonesia jadi benar-benar mengambil tindakan yang serius? Nah, di video kali ini kita akan membahasnya secara lengkap. Langsung aja nih kita bahas. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry [Musik] genggeng. Pembahasan awal kita adalah kita akan membahas bagaimana kronologi bermulanya isu soal laut ambalat yang kembali memanas antara Malaysia dan Indonesia. Isu ini memang udah lama terjadi, Geng. Tapi gua akan jelaskan dulu terkait isu terbarunya. Kita mundur dulu ke pertemuan di akhir Juni 2025 antara Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Malaysia yaitu Anwar Ibrahim. Nah, di saat itu, Geng, kedua negara ini sepakat saling menyelesaikan masalah hukum terkait batas wilayah di Ambalat sesegera mungkin. Kesepakatan ini muncul atas pandangan kedua negara yang punya hubungan kerja sama yang erat sejak lama. Indonesia dan Malaysia akan mulai kerja sama ekonomi yang disebut dengan join development. Nah, di dalam konsep kerja sama tersebut kedua negara bakal mengelola bersama-sama berbagai jenis sumber daya alam yang ditemukan di Ambalat. Nah, dikira permasalahan ini selesai, Geng, dengan adanya kesepakatan tersebut. Tapi tiba-tiba terjadilah huruara di tanggal 4 Agustus 2025 yang disebabkan karena Datuk Seri Muhammad Hasan atau yang biasa dikenal dengan Tok Mat selaku Menteri Luar Negeri Malaysia itu tiba-tiba berpidato di sidang Dewan Rakyat. Pidato tersebut menegaskan Malaysia memiliki hak kedaulatannya atas wilayah maritim yang dikenal sebagai blok ND6 dan ND7 di laut Sulawesi. Nah, ini nih yang memancing amarahnya, yang memancing pertikaiannya nih awal mulanya di sini. Terus geng, Tok Mat itu mengatakan bahwa klaim Indonesia yang merujuk kepada ambalat itu mencakup sebagian laut Sulawesi. Beliau menjelaskan bahwa ambalat adalah istilah yang digunakan oleh Indonesia untuk membenarkan klaim mereka atas wilayah tersebut. Sementara blok ND6, ND7 ya itu berada di dalam wilayah kedaulatan Malaysia dan hak kedaulatan negara yang berdasarkan hukum internasional yang didukung oleh putusan Mahkamah Internasional atau ICJ pada tahun 2002, kata beliau. Nah, oleh karena itu istilah yang lebih akurat untuk wilayah yang dimaksud yang sejalan dengan posisi Malaysia adalah laut Sulawesi. Dengan kata lain, pihak Malaysia ingin mengubah nama wilayah yang semulanya bernama Laut Ambalat menjadi Laut Sulawesi, Geng. Dan Malaysia tidak mau untuk menyebutnya sebagai Ambalat. Sebab ambalat ini dinilai oleh Tok Mat ini sebagai kata atau nama yang diberikan oleh Indonesia yang dipakai oleh orang Indonesia untuk memperkuat klaim atas wilayah yang disengketakan tersebut. Kurang lebih kayak gitu. daripada rujukan kawasan ambang batas laut ataupun ambalat yang digunakan oleh pihak Indonesia. Tuntutan Indonesia meliputi sebahagian laut Sulawesi termasuk blok ND6 dan ND7. Malaysia berpendiaran bahwa blok ND6 dan ND7 itu terletak dalam kawasan kedaulatan Malaysia dan hak kedaulatan negara berdasarkan kepada undang-undang antarbangsa yang terhasil selaras dengan keputusan Mahkamah Keadilan Antarbangsa ataupun ICJ dengan izin pada 2002. Sehingga geng, jika orang Malaysia ikut menyebut wilayah itu dengan sebutan ambalat, maka itu sama aja dengan orang Malaysia mengakui klaim dari Indonesia menurut si Tokmat ini. Dan bagi pihak Malaysia, perubahan istilah itu penting agar mencegah kebingungan publik dan mencegah isu perbatasan yang dipolitisasi menjelang pemilu negara bagian. Dan pengubahan nama ini dilakukan secara sepihak oleh Malaysia tanpa koordinasi dulu dengan pihak Indonesia. Oleh demikian, rujukan yang lebih tepat kepada kawasan berkenaan yang perlu digunakan selaras dengan pendirian Malaysia adalah laut Sulawasi bukannya ambalat. Ambalat ni adalah istilah daripada Indonesia yang nak meyakinkan, yang nak membuatkan er dia punya klaim ke atas kawasan tersebut. Jadi kita guna kawasan ini sebagai laut Sulawesi. Jangan guna ambalat kerana ambalat itu istilah daripada sana untuk menguatkan mereka punya permohonan. Nah, di sinilah jadi terpancing nih. Tokmat ini menyampaikan hal tersebut ketika dia menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan pengembangan bersama kawasan ambalat ini bersama dengan Indonesia atas dasar penggunaan peta baru Malaysia edaran 1979. Nah, beliau menegaskan bahwa putusan ICJ mengenai Sipadan dan juga Ligitan itu sudah memperkuat hak maritim Malaysia yang diproyeksikan dari kedua pulau tersebut yang termasuk ke dalam blok ND6 dan ND7. Nah, menurutnya berdasarkan hukum internasional khususnya Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang hukum laut atau disingkat dengan UNCOS tahun 1982, batas maritim ditentukan berdasarkan garis ee air rendah di sepanjang pantai, bukannya garis sepasang tinggi. Dan Malaysia mematuhi prinsip ini, kata beliau. Sementara Indonesia dikatakan justru mengklaim sebaliknya. Beliau juga mengatakan negosiasi terkait batas maritim antara Malaysia dan Indonesia sudah berjalan melalui pertemuan teknis sejak tahun 2005 dan sudah dilaporkan kepada komisi gabungan untuk kerja sama bilateral dan konsultasi pemimpin tahunan kedua negara ini. Nah, Tokmat ini juga bilang meskipun ada selisih paham terkait klaim dari wilayah tersebut, TokMat menjamin bahwa Malaysia akan menangani masalah ini melalui cara yang damai. Beliau mengaku tidak mau masalah tersebut justru mengganggu hubungan bilateral yang sudah terjalin dengan baik bersama negara kita Indonesia. Nah, selain itu beliau juga menghimbau agar warga Malaysia tidak ikut terpancing emosi dalam pembahasan wilayah yang disentakan dengan Indonesia ini. Nah, sebenarnya himbauan ini bagus ya, tapi kan pidato si Bapak ini kan malah mengundang perpecahan sebenarnya. Dan Tok ini ya menekankan bahwa penyelesaian batas maritim tetap menjadi prioritas pemerintah. Langkah strategis yang diambil meliputi penyelesaian delineasi maritim dengan Indonesia melalui mekanisme diplomatik hukum serta teknis. Beliau juga ingin memastikan keterlibatan penuh warga Sabah dalam setiap keputusan yang mempengaruhi atas batasan dengan negara bagian tersebut. Hal ini dinilai wajib dilakukan untuk melindungi kepentingan strategis dan keamanan Malaysia, Geng. khususnya dalam sumber daya alam, perairan teritorial dan juga zona ekonomi eksklusif atau yang disingkat dengan ZE. Mengenai peran ee Sabah, daerah Sabah nih ya, Tokat ini menyatakan bahwa pemerintah negara bagian yang terlibat aktif di dalam seluruh ee diskusi teknis serta negosiasi. Dan beliau juga menyambut usulan agar pejabat di Wismap Putra atau Departemen Maritim Malaysia memberikan penjelasan kepada anggota parlemen, senator, dan anggota Dewan Sabah untuk mencegah kebingungan atau manipulasi politik yang akan terjadi. Pernyataan tomat inilah yang pada akhirnya memicu pertanyaan nih, Geng, bagi berbagai kalangan. Apakah ambalat merupakan nama resmi yang diakui secara hukum oleh pemerintahan Indonesia? Nah, dari informasi yang gua ambil di media kumparan ya, untuk bisa menjawab pertanyaan ini harus terlebih dahulu memahami bahwa ambalat adalah blok laut yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu blok ambalat dan blok ambalat timur. Kedua blok ini memiliki luas total sekitar 15.235 km² berada di wilayah perairan laut Sulawesi yang mana tumpang tindih dengan wilayah yang diklaim oleh Malaysia sebagai ND6 dan ND7. Nama ambalat itu pun digunakan dalam konteks eksplorasi sumber daya alam bawah laut khususnya bagi pertambangan minyak. Geng penamaan blok laut ini dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam upaya menetapkan zona-zona eksplorasi migas yang berada di bawah yurisdiksi nasional. Di salah satu titik di kawasan itu menyimpan cadangan potensial sebesar 764 juta barel minyak dan 1,4 triliun kaki kubik gas. Kandungan minyak serta gas di sana disebut bisa dimanfaatkan sampai 30 tahun ke depan. Tapi Geng, belum diketahui secara pasti kenapa nama ambalat yang dipilih sebagai nama untuk blok tersebut. Gak ditemukan juga adanya dokumen publik yang secara eksplisit menjelaskan asal-usul penamaan ambalat ini. Nah, dari pencarian yang dilakukan oleh media kumparan, ambala ternyata juga merupakan nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Tuh. Nah, namun jarak geografis antara Desa Ambalat yang sebenarnya dengan lokasi blok ambalat di Laut Sulawesi bisa dikatakan sangat jauh. tidak menunjukkan adanya keterkaitan secara langsung. Nah, jadi masih membingungkan nih kenapa namanya harus dipilih jadi ambalat gitu. Siapa yang pertama kali mencanangkan nama itu tuh enggak diketahui. Nah, di saat itu nih ya sebenarnya, Geng, di masa pemerintahan Presiden Jokowi, Indonesia itu pernah merubah nama lokasi laut, yaitu Indonesia resmi mengganti nama bagian dari laut Cina Selatan yang berada di dalam wilayah yurisdiksi Indonesia, yaitu menjadi laut Natuna Utara pada tahun 2017. Nah, itu pernah dilakukan. Tapi gak tahu nih untuk ambalat ini bisa apa enggak. Nah, walaupun terlihat spele ya cuma mengubah nama aja namun ternyata efeknya bisa dianggap sangat besar geng. Karena perubahan nama dari Laut Ambalat ini menjadi laut Sulawesi bakal membuat klaim Indonesia atas wilayah tersebut menjadi lemah. Bahkan para nelayan Indonesia juga bisa terancam jika nama tersebut diubah. Nah, karena kan udah jadi wilayah Malaysia seutuhnya tuh. Kalau Indonesia ada nelayan yang nyasar ke sana atau nyari ikan di sana bisa ditangkap gitu. Lalu bagaimana tindakan pemerintah nih atas pengubahan nama yang dilakukan sepihak oleh Malaysia terutama oleh TokMAT ini. Nah, sekarang kita akan masuk ke dalam dampak dan upaya diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia atas kejadian ini. Nah, jadi geng jika Laut Ambalat diubah menjadi laut Sulawesi namanya ya sesuai dengan keinginan si Tokmat tadi tentunya akan berubah juga batas wilayahnya. Buat kalian yang berpikir hal tersebut tidak berdampak bagi rakyat Indonesia, terutama kita rakyat biasa kayak gini, kalian salah, Geng. Karena yang paling berdampak itu adalah para nelayan yang akan menjadi pihak pertama yang merasakan kerugiannya. Terutama nelayan yang ada di daerah Nunukan, Sebatik, dan Pesisir Kalimantan Utara. Ketika mereka mendengar kabar ini, banyak dari mereka yang takut untuk melaut karena khawatir bakal dianggap masuk ke dalam wilayah Malaysia dan menghadapi resiko penangkapan. Dan seperti yang kita tahu ya, beberapa kejadian orang-orang Indonesia yang masuk ke wilayah Malaysia yang dianggap ilegal itu bahkan ada yang sampai dioor hingga tewas. Kan pernah kita bahas tuh kasusnya ya. Karena ya masalah ilegal-ilegal ini seram banget, Geng. Banyak banget tuh orang-orang kita Indonesia yang nakal yang masuk ke dalam wilayah Malaysia tanpa izin. Nah, jadi wajar aja ya e polisi laut mereka atau polisi penjaga perbatasan mereka itu melakukan tindakan yang tegas dan terukur kayak gitu. Dan hal inilah yang menjadi patokan atau acuan dari para nelayan yang ingin melaut. Mereka ketakutan untuk masuk wilayah orang lain. Padahal ya laut tersebut adalah laut mereka. Mereka berhak mencari ikan di sana. Namun karena ancaman pengubahan nama, mereka jadi harus menahan diri untuk tidak melaut, tidak bekerja, karena takut patroli dari pihak Malaysia bakal menangkap mereka. Tapi kalau mereka enggak melaut, keluarga mereka kelaparan. Nah, terganggunya aktivitas melaut ini sangat berdampak pada pendapatan harian para nelayan dan juga ya berdampak untuk masyarakat yang bergantung pada konsumsi ikan ya kan. Pasokan ikan di pasar tuh jadi menurun terutama di daerah sekitarnya gitu kan. Nah, terus geng kemudian masih ada pelanggaran yang dilakukan oleh pihak Malaysia di batas laut yang ada di Laut Ambalat yang mana berdasarkan laporan dari Badan Keamanan Laut atau Bakamla, setidaknya ada tujuh kapal asing yang diduga berbendera Malaysia melanggar batas wilayah sengketa pada bulan Juli sampai Agustus 2025. Hal ini ternyata memicu peningkatan patroli oleh TNI AL di sekitar Pulau Sebatik untuk mengamankan ZE Indonesia. Dan Kementerian Luar Negeri Indonesia juga resmi mengirimkan nota resmi diplomatik pada tanggal 4 Agustus 2025 yang mana ini menegaskan posisi Indonesia yang tetap konsisten memperjuangkan hak sah atas ee Laut Ambalat yang sesuai dengan hukum internasional. Nah, bagi Malaysia dengan adanya pengerahan patroli TNI AL dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan sebelumnya membuat mereka merasa bahwa patroli ini menjadi bagian dari agresi militer. Nah, ini nih yang bisa memancing peperangan nih. Seram. Kementerian Luar Negeri Indonesia akhirnya buka suara setelah pernyataan dari Tokmat yang ingin menggunakan nama laut Sulawesi untuk menggantikan Laut Ambalan. Abdul Kadir Jailani selaku Direktur Jenderal Asia Pasifik itu menegaskan bahwa Indonesia berkomitmen menyelesaikan sengketa perbatasan dengan cara perundingan damai. Indonesia selalu mematuhi dan menjunjung tinggi prinsip yang ada di ASEAN yaitu akan selalu menyelesaikan semua perbedaan melalui cara-cara yang damai. Dan itulah yang dinilai bagi Indonesia ya sebagai nilai yang penting untuk diterapkan. Pak Jelani ini juga mengatakan untuk bisa menyelesaikan sengketa itu memang perlu waktu dan menurutnya proses perundingan sudah berlangsung selama 43 putaran. Sejak tahun 2005 proses perundingan perbatasan memiliki masalah teknis yang kompleks sehingga membutuhkan waktu, Geng. Dalam proses tersebut, Indonesia bakal terus memperjuangkan berdasarkan kepentingan nasional serta prinsip-prinsip yang ada. Nah, lalu Pak Jailani ini juga menyebutkan bahwa Indonesia dan Malaysia memiliki hubungan yang panjang dan erat. Kedua negara juga berkomitmen menyelesaikan sengketa perbatasan melalui dialog gitu. Terus geng, Pak Hermono selaku Dubes RI untuk Malaysia juga mengatakan sudah melaporkan keputusan Malaysia untuk mengubah nama Laut Ambalat ini menjadi laut Sulawesi ke Kementerian Luar Negeri yang ada di Jakarta. Tapi meskipun begitu, Pak Hermono ini enggak mau berkomentar lebih lanjut terkait penyebutan blok ambalat sebagai laut Sulawesi oleh Malaysia, Geng. Menurut beliau hal itu ya lebih tepat jika dijawab oleh pihak Kemlu aja. Nah, dari pihak DPR di dalam kejadian ini juga angkat bicara terkait polemik ini, Geng. Salah satunya disuarakan oleh Saleh. Ya, Pak Saleh ini adalah anggota Komisi 1 DPR yang meminta pemerintah Indonesia untuk segera memberikan klarifikasi terkait pernyataan terbaru pemerintah Malaysia tersebut. Menurut beliau, hal ini berpotensi untuk memicu ketegangan politik bilateral sampai memunculkan persepsi yang keliru di masyarakat. Penjelasan resmi dari dua negara itu menjadi sangat penting agar isu ini tidak berkembang menjadi sumber perpecahan alias jadi bola liar gitu ya. Bayangin aja kalau masyarakat yang mendengar ada hal kayak gini otomatis kan ya satu sama lain saling nyerang gitu kan geng. Bahaya banget buat kita. Bahaya banget juga buat saudara-saudara kita yang ada di Malaysia. Dengan adanya klarifikasi dari kedua belah pihak pemerintah ini akan menjadi langkah yang meredam ketegangan antara Indonesia dan Malaysia. Selain itu, pemerintah diminta untuk membuka isi kerja sama antara Presiden Prabowo dengan Anwar Ibrahim selaku Perdana Menteri Malaysia yang selama ini belum disampaikan secara detail kepada publik. Nah, jadi pertemuan Pak Prabowo kemarin itu masyarakat tuh belum tahu sepenuhnya isi pembicaraannya tuh apa aja sih sebenarnya gitu. Yang dikatakan tuh ya cuma, "Oh, iya kita sudah sepakat sama Malaysia bakal kerja sama mengelola ambalan bareng-bareng." Eh, tahunya ada kayak gini ya kan. Kemudian geng, Wakil Ketua Komisi 1 DPR yang bernama Pak Dev Laksono itu menyatakan bahwa sikap Malaysia yang menyebut Laut Ambalat dengan nama Laut Sulawesi harus dicermati dengan serius oleh pemerintah. Alasannya karena perubahan nama itu bisa berpengaruh kepada persepsi publik. Padahal kawasan perairan tersebut sampai saat ini masih menjadi wilayah sengketa antara pemerintah Indonesia dan Malaysia. Jadi, dua-duanya tuh belum berhak memiliki seutuhnya. Masih disengketakan gitu, Geng. Dan selain itu, Geng, Pak Devini juga mengatakan bahwa Indonesia memegang prinsip kedaulatan wilayah berdasarkan hukum internasional, terutama perjanjian landas Kontinent 1969 serta hukum laut UNCLOS atau eh UNClause atau unclause gitu bacanya ya tahun 1982. Nah, selama 2 dekade terakhir pemerintah Indonesia menyebut kawasan itu sebagai Laut Ambalat dan menurutnya penyebutan nama tersebut menjadi bagian dari diplomasi yang panjang. Dan oleh karena itu, hal ini menjadi salah satu alasan kenapa sikap Malaysia yang menyebut Laut Ambalat sebagai Laut Sulawesi perlu diperhatikan dengan serius. Jadi bukan sekedar hanya ganti nama doang tuh. Dan pihak DPR menyebutkan bahwa mereka menghargai sikap pemerintah Malaysia yang ingin menyelesaikan sengketa dengan damai dan jalur diplomasi. Tapi meskipun begitu, Pak Dev ini ya mengingatkan gitu pemerintah agar tetap waspada dengan memperkuat posisi diplomatik, hukum serta pengawasan di Laut Ambalat. Pak Dev ini juga mendorong agar TNI Angkatan Laut menggelar operasi di wilayah sana. Terlebih lagi dengan masih banyaknya perahu-perahu dari Malaysia yang melintas di sana, tentunya TNI AL akan memperbesar jumlah patroli di Ambalat supaya apa ya? Hak Indonesia tidak diserobotlah secara ilegal. Ya, sebaliknya juga gitu ya. Indonesia rakyatnya juga enggak bisa sembarangan masuk Malaysia dengan cara ilegal. Jadi mereka juga punya hak untuk melakukan tindakan tegas dan terukur sesuai dengan ya SOP-nya mereka gitu. Cuma nih geng ya kalau patroli di laut itu diperkuat pastinya membuat pihak Malaysia juga akan menganggap bahwa ini menjadi bagian dari agresi ya kan. Nah bisa-bisa memancing peperangan seperti yang gua sebutkan sebelumnya. Nah, namun geng pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies yang bernama Pak Khairul Fahmi itu bilang itu bukanlah sebuah agresi terhadap Malaysia. Sebab patroli TNI angkatan laut di sana sudah dilakukan sejak lama dan bukan sebagai bentuk agresi ataupun respon emosional terhadap klaim dari Malaysia. Operasi yang dijalankan oleh TNI AL di sana sebagai bagian dari tanggung jawab konstitusional dalam menjaga kedaulatan wilayah Indonesia. Operasi tersebut sengaja dilakukan untuk menunjang kedudukan Indonesia yang berhak mengelola wilayah yurisdiksi ya berdasarkan hukum laut internasional. Nah, Pak Fahmi ini memandang bahwa kehadiran militer di wilayah sengketa menjadi tanda eksistensi dan kewaspadaan negara. Meskipun demikian, Pak Fahmi ini mengingatkan operasi di Blok Ambalat itu dilakukan secara profesional dan selaras dengan jalur diplomasi sehingga tidak disalah artikan sebagai bentuk provokasi. Kalau sampai ada yang terprovokasi bisa perang beneran. Nah, jadi menurut Pak Fahmi ini sah-sah aja jika terjadi peningkatan patroli di Ambalat sebagai bentuk mempertahankan klaim Indonesia atas wilayah tersebut. Nah, sebagai informasi juga nih, Geng. Presiden Prabowo itu udah tahu soal ini dan beliau menyebutkan Indonesia dan Malaysia akan mencari solusi terbaik dan damai untuk menyelesaikan konflik di wilayah Ambalat. Pak Prabowo menyebutkan bahwa penyelesaian yang baik itu perlu ada itikad baik dari kedua belah pihak. Nah, itu perlu ada itikad baik. Ini artinya Indonesia juga harus sabar-sabar, Malaysia juga harus sabar-sabar. Pokoknya Pak Prabowo bilang kalau masalah ini perlu untuk diselesaikan secara baik-baik oleh Indonesia maupun Malaysia. Jadi jangan apa-apa tuh langsung berperang gitu, Geng. Ya, kita cari ee penyelesaian yang baik, yang damai gitu. Ada itikad baik dari dua dua pihak, ya. kita jangan biasalah ada mungkin intinya kita mau penyelesaian yang baik ya. Nah, jadinya sekarang kalian sudah paham ya, Geng, gimana duduk permasalahannya terkait isu ee yang kembali memanas di Laut Ambalat ini antara negara kita dengan negara tetangga. Tapi seperti yang gua katakan sebelumnya, sengketa ini sebenarnya sudah berlangsung sejak bertahun-tahun lalu. Dan biar kalian juga tahu bagaimana situasi Laut Ambalat secara lebih lengkap dan jelas, kita akan masuk ke dalam penjelasan bagaimana sih konflik berkepanjangan di ambalat ini bermula dan sampai berlarut-larut. Jadi, Geng semuanya berawal ketika Indonesia dan Malaysia masing-masing sedang melakukan penelitian untuk mengetahui landasan kontinen dan ZI. Nah, di tengah-tengah penelitian baik Indonesia maupun Malaysia mengalami perbedaan persepsi terhadap posisi ambalat. Lebih lanjut di tanggal 27 Oktober 1969 ditandatanganilah perjanjian tapal batas landas kontinent Indonesia yang disebutkan bahwa blok ambalat adalah milik Indonesia. Tuh dari awal tuh udah dikatakan itu milik Indonesia. Nah, sejak saat itu konflik antara Indonesia dan Malaysia mulai memanas. Khususnya di tahun 1979 ketika Malaysia mengingkari perjanjian tapal batas landas kontinen ini. Nah, Malaysia di saat itu dikatakan justru memasukkan blok maritim ambalat ke dalam peta mereka secara sepihak tanpa pemberitahuan. Nah, ini mohon maaf ya teman-teman Malaysia. aku tidak bermaksud menyudutkan atau apa, tapi dari informasi yang aku dapat seperti itu. Kalau memang kalian punya informasi lain, tidak sepaham dengan hal ini, tidak sepakat, kalian boleh tinggalkan komentar di bawah. Oke. Nah, kita lanjutkan. Di saat itu enggak cuma Indonesia aja yang memprotes hal ini. Negara-negara lain seperti Inggris, Thailand, Cina, Filipina, Singapura, dan juga Vietnam juga protes. Namun ya di informasi lain disebutkan kalau permasalahannya ternyata bermula ketika dua perusahaan yaitu Shell dari Malaysia dan juga Eni atau Eni dari Italia yang beroperasi atas izin Indonesia mengajukan izin eksplorasi di wilayah yang tumpang tindih tersebut. Di wilayah yang apa ya? yang kayak samar banget ini wilayah Indonesia apa Malaysia gitu. Di tahun 1980, Indonesia pun dengan tegas menyatakan protes terhadap pelanggaran yang sudah dilakukan oleh negara Malaysia ini. Dan akhirnya singkat cerita, pada tahun 2002 ICJ memenangkan Malaysia dalam sengketa Sipadan dan Ligitan. Dan sejak itu Malaysia jadi semakin aktif menunjukkan klaimnya atas wilayah ambalat. Pada tanggal 21 Februari 2005, ketegangan memuncak saat 17 warga negara Indonesia tiba-tiba ditangkap oleh kapal perang Malaysia yang bernama KD Sriaka di wilayah Karang Unarang. Yang mana wilayah ini diklaim masuk ke dalam ambalat. Nah, sekitar 2 bulan kemudian, tepat 8 April 2005, terjadilah insiden saling serempet antara kapal perang NKRI Tedong Naga dengan kapal diraja Rencong milik Malaysia. tuh apa sesama militer gitu saling bergesekan. Dan untuk bisa meredam eskalasi militer, TNI mengeluarkan kebijakan pada tanggal 21 April 2005 bahwa kapal Indonesia hanya boleh menembak jika diserang lebih dulu. Nah, cuma geng di saat itu pelanggaran tetap saja terjadi. Antara bulan Januari sampai Juni 2008, Indonesia mencatat 13 kali pelanggaran kapal dan pesawat militer Malaysia yang memasuki wilayah Ambalat. TNI pun merespon dengan mengerahkan 130 personel marinir dan menyiagakan sejumlah kapal perang di kawasan Ambalat di saat itu. Terus, Geng, di tanggal 25 Mei 2009, kapal perang Malaysia kembali masuk ke dalam wilayah Ambalat sebelum akhirnya diusir oleh KRI Untung Suropati. Nah, karena konflik yang tidak kunjung mereda inilah ya di tahun 2009 itu juga Presiden SBY dan Perdana Menteri Malaysia yaitu Abdullah Ahmad Badawi mengambil solusi politik untuk bisa meredakan kedua belah pihak. Melalui pertemuan itu, baik pihak Indonesia ataupun Malaysia saling menjelaskan landasan hukum yang mana klaimnya atas Blok ambalat ini. Penjelasan landasan hukum Malaysia terhadap blok ambalat pun ditolak oleh Indonesia. Nah, sebab Malaysia di saat itu mengklaim ambalat dengan menerapkan prosedur penarikan garis pangkal kepulauan dari Pulau Sipadan dan juga Ligitan yang sudah mereka rebut di tahun 2002. Nah, cuma klaim tersebut bertentangan dengan Konvensi Hukum Laut atau UNCLOS tahun 1982 yang mana dalam satu ee pasalnya disebutkan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan di mana garis pangkal penentuan wilayahnya ditarik dari wilayah kepulauan terluar. Sementara itu, Malaysia merupakan negara pantai biasa sehingga cuma boleh memakai garis pangkal biasa untuk menentukan batas wilayahnya. Dengan demikian, berdasarkan dari UNCOS tahun 1982, ya, ambalat diakui sebagai wilayah Indonesia, Geng. Nah, namun seperti yang kita tahu hal ini tidak menyelesaikan permasalahan yang terjadi di antara negara kita Indonesia dengan negara Malaysia yang sampai kini terus bergesekan. Nah, itu dia, Geng, ya, pembahasan kita hari ini mengenai polemik sengketa yang terjadi di Ambalat, ya. Semoga ya biarkanlah pemerintah kita yang berperang. Tapi kita-kita nih sebagai masyarakat ya tetap saling bersaudara, adem-adem aja. Karena seperti yang kita tahu ya, apapun yang dilakukan oleh pemerintah kita tetap cari makan sendiri. Sedih banget ya. Itulah yang gua sedihkan ya. Kenapa untuk dana perang tuh setiap negara itu punya dananya, tapi untuk eh membantu rakyat miskin, mensejahterakan rakyat itu dananya kayak enggak ada gitu. Aneh banget. Oke, gimana menurut kalian tentang pembahasan kita kali ini? Coba tinggalkan komentar menurut opini kalian masing-masing.