Kind: captions Language: id Kali ini kita bakal membahas sebuah topik yang enggak cuma bikin gempar di Jepang, tapi juga bikin kita sebagai orang Indonesia harus mikir ulang soal dampak sikap beberapa individu terhadap citra bangsa. Kenapa gua katakan seperti itu dan kenapa gua anggap ini penting? ya. Karena ini bukan soal satu dua orang yang bikin tapi soal bagaimana perilaku sebagian besar warga negara Indonesia yang sedang bekerja di Jepang. Yang mana ini bikin resah yang y ini bikin resah buat warga lokal Jepang sendiri maupun komunitas Indonesia yang ada di sana yang enggak ikut-ikutan bikin resah. Ibaratnya belakangan ini, Geng, banyak kasus mencuat. Mulai dari perampokan yang dilakukan oleh warga negara Indonesia dan ada juga yang udah overstay di sana alias tinggal di Jepang secara ilegal. sampai ada kasus penghilangan nyawa sesama WNI yang bikin warga lokal Jepang dan pemerintah Jepang jadi geleng-geleng kepala sesama dia aja tuh saling habis-ngabisin. Nah, enggak cukup sampai di situ. Ada juga video viral soal komunitas silat Indonesia yang memasang spanduk organisasi mereka di jembatan publik Jepang yang mana aksinya ini dianggap mengganggu ketertiban dan merusak citra Indonesia. Yang bikin kasus ini makin rumit, Geng. Kenyataannya bahwa Jepang sendiri sedang gencar-gencarnya membuka pintu bagi tenaga kerja asing karena masalah demografi mereka yang mana populasi mereka menurun dan udah banyak orang tua di sana sehingga tenaga kerja mereka kurang. Indonesia menjadi salah satu pengirim tenaga kerja terbesar dan itu bikin kita punya posisi penting di mata orang Jepang. Nah, tapi ketika kasus-kasus kayak gini mencuat, tiba-tiba sorotan berubah. Dari pekerja keras dan bersahabat ya yang mereka lihat terhadap orang Indonesia, sekarang mereka malah melihat ini sebagai ancaman sosial yang harus diwaspadai. Nah, pertanyaannya sekarang, kenapa hal ini bisa terjadi? Apakah karena tekanan ekonomi, minimnya edukasi soal budaya lokal, atau ada sistem yang longgar sehingga pelaku bisa lolos begitu aja? Dan yang enggak kalah penting, apa reaksi pemerintah Jepang dan Indonesia soal ini? Nah, di video kali ini kita bakal membahas semua problem ini, Geng. Lihat bagaimana media Jepang membingkai pemberitaan soal ini dan juga ya warga Jepang sikapnya kayak gimana. Langsung aja kita mulai pembahasannya. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry. [Musik] Geng. Oke, sebelumnya kita bahas dulu nih, Geng. Kenapa banyak warga negara Indonesia di Jepang sehingga kejadian kayak gini bisa terjadi? Geng, sebelum masuk ke dalam pembahasan keresahan warga Jepang terhadap beberapa warga Indonesia yang ada di negara mereka, ada baiknya kita bahas dulu ya, kenapa bisa ya banyak warga negara kita di sana. Jadi menurut data yang gua dapat dari salah satu website nih ya, krisis kependudukan yang terjadi di Jepang adalah penyebab tingginya angka pekerja asing, salah satunya negara kita. Jadi menurut The Japan Times, penduduk Jepang itu termasuk yang residen asing pada 1 Januari 2023 itu sebanyak 125.416.87 orang. Nah, angka tersebut turun sebanyak 511.000 orang dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2022. Yang mana akhirnya karena jumlah penduduk mereka terus menurun, terutama karena angka kelahiran yang rendah dan populasi yang sudah mulai menua. Bahkan menurut data Kementerian Kesehatan Jepang, kelahiran di Paruh pertama 2024 cuma ada 350.000 jiwa dan angka ini merupakan yang terendah sejak 1969. Yang mana akibatnya Jepang kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor dan di sinilah Indonesia masuk sebagai mitra strategis untuk Jepang. Warga negara Indonesia dianggap punya etos kerja tinggi di saat itu, disiplin, dan juga cepat beradaptasi dengan budaya Jepang. Nah, itu anggapan awalnya bagi orang-orang Jepang terhadap orang kita. Bahkan nih, Geng, Gubernur Prefektur Miagi, yaitu yang bernama Yoshi Hiro Murai itu menyambut baik dengan adanya fenomena baru ini. Hal ini dikarenakan Jepang mengalami pengurangan ee populasi, manusianya makin sedikit sehingga membutuhkan banyak tenaga kerja terampil untuk pertumbuhan ekonomi. Nah, mereka bilang ada orang asing sah-sah aja. Oleh karena itu ya mereka sangat berharap sebanyak mungkin orang Indonesia yang datang tidak hanya sebagai pekerja atau peserta magang, tapi juga suatu saat mereka memilih Jepang sebagai tempat tinggal untuk selama-lamanya. Nah, untuk itu mereka sangat berharap untuk ke depannya. Jadi memang tidak akan dibatasi saat ini. Nah, hal ini disampaikan oleh Yoshiro saat ditemui oleh wartawan di dalam acara penandatanganan perjanjian kerja sama antara Prefektur Miagi dan PT OS Selna Jaya untuk penempatan SDM atau sumber daya manusia Indonesia di Menara Astra Jakarta Pusat pada Kamis 27 Juli tahun 2023. Lebih lanjut, Yoshi Hiro Murai juga memuji bahwa dipilihnya Indonesia sebagai salah satu negara untuk penempatan tenaga kerja di Jepang karena warga Indonesia dinilai sebagai orang yang jujur, terus rajin, dan menyukai budaya Jepang. Nah, setelah dia memuji itu, dia sangat berharap orang Indonesia yang datang juga sifatnya yang baik-baik, jujur, dan rajin. Mereka sangat senang sekali karena untuk mewujudkan hal itu yang sangat penting itu adalah kerja sama. Dan di dalam hal ini mereka sangat menyambut baik penandatanganan nota kerja sama baik ini. Kurang lebih gitulah kata gubernur dari prefektur Miagi yaitu Yoshi Hiro Murai yang mendukung program ini. Geng. Dilihat dari penjelasan tersebut, jumlah tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Jepang itu terus meningkat. Bukan hanya karena gaji tinggi, tetapi juga karena Jepang membuka banyak kesempatan di berbagai bidang untuk para pekerja asing. Pemerintah Jepang pun membuka pintu lewat program seperti SSW atau specified skilled worker yang mana ini program adalah program yang diperuntukkan bagi pekerja yang memiliki keterampilan khusus dan juga TITP technical intern training program. TP ini atau TP ini adalah pengembangan pribadi yaitu setiap peserta pelatihan itu mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi, belajar dan bekerja dengan orang-orang dari berbagai negara serta budaya ya di tempat kerja mereka. Dan kedua program ini memungkinkan para WNI bekerja secara legal di sektor seperti pabrik, pertanian, perhotelan, dan perawatan lansia. Nah, jadi ada tuh kerjaannya yang buat maaf ya kayak e apa ya? Semacam pembantu tapi di panti sosial gitu kurang lebih kayak gitu, Geng. Ada juga yang di rumah-rumah untuk jaga nenek-nenek. Terus selain itu, Geng, ada beberapa alasan lain yang menjadi faktor pendorong banyaknya pekerja Indonesia di Jepang. Yang kurang lebih itu ya karena gaji yang lebih tinggi dibandingkan di Indonesia. Dan rata-rata gaji di sana itu ya bisa mencapai Rp150.000 sampai dengan R250.000 yen per bulan atau sekitar 16 sampai Rp27 juta. Nah, tapi ini juga tergantung wilayah dan jenis pekerjaan yang ditawarkan. Terus selanjutnya biaya hidup yang terjangkau dengan catatan sistem kerja yang teratur. Meskipun biaya hidup di Jepang tinggi, tapi pekerja asing biasanya mendapatkan fasilitas seperti tempat tinggal yang murah, subsidi makan, terus ada transportasi dari perusahaan sehingga pengeluaran mereka itu bisa dikendalikan dan tabungan mereka tetap aman. Nah, yang terakhir tuh sudah pasti kebutuhan tenaga kerja di Jepang sangat besar. Jadi kesempatan untuk dapat kerja tuh lebih banyak gitu. Nah, seperti yang dikatakan tadi ya, Jepang itu sedang mengalami krisis tenaga kerja karena populasi mereka yang sudah menurun. Dan untuk itu pemerintah Jepang membuka lowongan kerja yang banyak banget untuk orang-orang asing, terutama di bidang perhotelan, restoran, pabrik, dan manufaktur, pertanian, perikanan, konstruksi, terus perawat lansia, bahkan sampai dengan di bidang IT dan juga engineering. Bagi yang sudah berpengalaman tuh banyak di sana. Kalau kerjaan jadi YouTuber ada enggak ya? Kalau ada mau dong. Nah, terus geng gimana menurut kalian? Apa mulai kerasa belum kesenjangan pekerja antara di Indo dengan di Jepang? Mungkin dari sini juga ya e bisa memotivasi kalian untuk bekerja di Jepang dan semakin meningkatlah gairah kalian untuk merantau. Dan ini semua terbukti dari hasil survei yang dilakukan oleh perusahaan rekrutmen yang ada di Jepang yaitu Minavi Global yang mengadakan survei dengan responden sebesar 582 pelajar asing dan warga negara asing yang ingin bekerja di Jepang. Dan hasilnya sebanyak 91% responden itu menyatakan keinginan mereka untuk bekerja di Jepang bahkan setelah status kependudukan mereka saat ini berakhir. Nah, terus selanjutnya sebanyak 94,4% warga Indonesia itu menyatakan keinginan mereka untuk terus bekerja di Jepang. Sesuai dengan table hasil survei di atas, banyak orang-orang Indonesia yang merasa puas dengan kehidupan mereka di Jepang dan berniat untuk terus bekerja di sana. Hal ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja Jepang itu menarik bagi warga Indonesia. Dan di sisi lain ya, warga Jepang bersiap untuk menerima mereka dan mereka tuh sangat berharap saling pengertian lah antara warga Jepang dengan Indonesia yang semakin mendalam saat ini sehingga menghasilkan hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua negara. Nah, tapi sayangnya nih, Geng ya, harapan mereka untuk bisa bekerja sama dengan baik dengan Indonesia ternyata akhir-akhir ini malah mengecewakan. Ya, malah yang ada banyak oknum-oknum WNI yang membuat resah, onar, bahkan membuat masyarakat Jepang tuh jadi risih. Mulai dari ada yang overstay, ada yang terjebak hutang, ada yang judul, bahkan ada yang sampai menghilangkan nyawa. Karena ya gitulah ulah dari oknum-oknum itu. Dan sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan keresahan yang ditimbulkan oleh oknum WNI di Jepang. Jadi, Geng, kasus yang pertama ini adalah e yang dilakukan oleh seorang WNI yang bernama Yogi Ageng Prayogo. Usianya itu 24 tahun yang awalnya dia datang ke Jepang sebagai peserta magang di perusahaan bahan bangunan di daerah Kakegawa Prefektur Sizuka yang mana dia malah berakhir di balik kurungan penjara. Kenapa? Ya, karena dia ini nekad melakukan percobaan penghilangan nyawa terhadap pasangan lansia Jepang demi bisa melunasi hutang judul. Kasus ini sebenarnya pernah gua bahas di video gua yang sebelumnya yang ini nih. Nah, jadi gua bakal bahas singkat aja ya buat reminder aja mungkin di antara kalian ada yang belum tahu kasus ini dan mungkin lupa gitu. Nah, jadi kejadiannya itu pada Rabu tanggal 18 November 2024 sekitar jam 15 sore waktu Jepang. Yogi ini datang ke rumah si korban yang berada di daerah Kuniasu, kawasan yang benar-benar sepi dan dikelilingi oleh sawah. Dia menekan intercom di saat itu dan intercomnya berbunyi. Nah, begitu pintu dibuka oleh seorang wanita lansia yang berusia 78 tahun, Yogi ini langsung muncul dari samping dan memukul wajah serta dada si lansia itu. Lalu dia juga melakukan tindakan yang lain. Yang jelas tuh kekerasan lah. Nah, di saat itu putri dari lansia tersebut atau anak dari korban ini baru pulang dan dia langsung terlibat perkelahian dengan si pelaku. Suami si korban ya usianya 81 tahun udah tua banget. Dia langsung keluar dan ikut diserang. Dan meski terluka parah, ternyata ya suaminya ini berhasil mendorong si Yogi ini keluar dari rumah. Tapi di saat itu Yogi ini berhasil kabur. Nah, cuma dia meninggalkan barang bukti berupa pisau, sendal, dan masker di lokasi kejadian. Setelah 10 hari penyelidikan, polisi Jepang berhasil menangkap Yogi di asrama tempat dia tinggal cuma 1,5 sampai 2 km dari TKP lah, yang mana akhirnya dia dikenakan pasal percobaan penghilangan nyawa dan juga perampokan. Di dalam pemeriksaan itu, Yogi mengaku melakukan penyerangan, tapi dia membantah eh berniat untuk menghabisi nyawa korban. Dia bilang dia tuh cuma pengin ngerampok aja gitu. Dan ketika dicek motifnya, ternyata dia terjerat hutang akibat judul. Dan KBRI Tokyo langsung turun tangan dan memberikan pendampingan hukum. Direktur perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI yang bernama Pak Juda Nugraha itu menyatakan bahwa Yogi ini sudah berada di Jepang selama 2 tahun dan tindakannya itu mencoreng nama baik Indonesia di mata publik Jepang. Nah, itu baru kasus yang pertama, Geng. Bikin malu gara-gara nyila setitik rusak susu sebelang. Dia yang makan nangka, kita yang kena getahnya. Ya kan? Kacau banget tuh. Oke, kita ke kasus yang selanjutnya yang membuat masyarakat Jepang dengan warga negara Indonesia di sana. Jadi kasus yang satu ini sempat viral dan kasus ini bikin banyak orang Indonesia di Jepang merasa malu sekaligus prihatin. Yaitu seorang WNI yang baru sebulan tinggal di Jepang dan kedapatan melakukan aksi pencurian di sebuah sekolah. alasannya demi biaya pengobatan orang tuanya yang sakit di tanah air. Motifnya memang menyentuh hati ya, sedih gitu. Tapi caranya dia yang salah, Geng. Jadi, kejadian ini mencuat setelah seorang YouTuber asal Indonesia yang menetap di Jepang yang bernama Dian Kusuma alias nama akunnya tuh Neo Japan itu mendapatkan telepon langsung dari pejabat Jepang. Di dalam percakapan yang dia unggah di media sosial, sang pejabat itu menyampaikan dia sangat kecewa terhadap pelaku dan menyayangkan bahwa tindakan satu orang bisa berdampak buruk terhadap komunitas Indonesia secara keseluruhan. Nah, bahkan sekolah di mana tempat kejadian itu berlangsung menolak menerima siswa asal Indonesia di masa mendatang saking mereka tuh tersinggung dan sakit hatinya. Pejabat Jepang tersebut menyebutkan bahwa pelaku adalah pendatang baru dan belum genap 1 bulan tinggal di Jepang. Dia nekad mencuri uang di sekolah ya dengan alasan ingin membantu biaya pengobatan orang tuanya yang sedang sakit di kampung. Tapi di Jepang tindakan seperti ini tidak bisa ditoleransi. Apapun alasannya, negara ini menjunjung tinggi hukum dan etika sosial, Geng. Dan pelanggaran sekecil apapun bisa berujung pada denda, proses hukum, bahkan dideportasi, dipulangkan tuh ke negara asal. Di saat itu Neo Japan yang selama ini dikenal sebagai influencer yang memperkenalkan budaya Indonesia di Jepang itu mengaku malu dan kecewa banget. Dia merasa seolah ya mewakili seluruh warga negara Indonesia di Jepang karena sering dihubungi langsung oleh pejabat setempat setiap kali ada masalah yang berhubungan dengan WNI. Dan di dalam unggahannya dia, dia menghimbau agar WNI yang tinggal di Jepang menjaga nama baik bangsa, menghormati budaya lokal, dan tidak membawa kebiasaan buruk dari kampung atau dari Indonesia ke negara orang. Nih, gua setuju banget nih. Aduh, gua rencana pengen jalan-jalan ke Jepang nih gara-gara orang begini nih. Aduh, hancur deh gua. Public figure. Gua ditegur sama orang Jepang. Bukan ditegur dimarahin gua kan, tapi dia ngasih tahu kok Indonesia begini ya? Kok siswanya begini? Kan malu gua. Kan gua orang Indonesia. Come on lah teman-teman ini yang baru-baru datang jangan ngeremehin hal-hal seperti itu ya. Baru nyampai Jepang jangan ngeremehin yang begitu-gitu enggak usah gitu ya. Masalahnya di tempat lain pasti orang Jepang ngajar gua juga ngasih tahu gua juga untuk ngasih tahu ke kalian. Dia harus kuning si Mas. Malu gua. Oke. Huh. Selanjutnya kita bakal e membahas nih ya tentang penghilangan nyawa yang dilakukan oleh WNI terhadap WNI lain. Nah, ini menjadi salah satu keresahan dari warga Jepang juga. Ini bisa kalian bayangkan ya, Geng. Kalian tinggal di negeri orang jauh dari keluarga, lagi kerja keras demi masa depan. Tapi justru di sana kalian harus menghadapi ancaman dari sesama warga negara sendiri. Nah, itulah yang terjadi di daerah Isesaki Prefektur Gunma yang ada di Jepang pada tanggal 3 November 2024. sebuah tragedi yang bikin banyak orang Indonesia di Jepang merasa was-was dan malu. Jadi kejadiannya itu bermula ketika seorang pria warga negara Indonesia berusia 37 tahun ditemukan meninggal dunia dengan luka tusuk di sebuah apartemen di daerah Kamisuacho, kota Isisaki, Prefektur Gunma. Nah, diketahui pria tersebut bernama Abdur Rahman. Jadi si Abdurrahman ini merupakan seorang pria Indonesia dengan alamat dan pekerjaan yang tidak diketahui. Dia itu ditemukan berlumuran cairan merah tiba dan pinsan di halaman sebuah rumah pribadi yang ada di daerah sana. Dia akhirnya dipastikan meninggal dunia di rumah sakit tempat dia akhirnya dibawa diberikan pertolongan. Dan kepolisian prefektur kemudian menyelidiki kasus ini sebagai kasus penghilangan nyawa karena terdapat beberapa luka di punggung dan juga lengannya dia yang tampaknya disebabkan karena ditikam menggunakan sajam. Setelah diselidiki lagi, geng, polisi juga menemukan seorang pria Indonesia yang juga diketahui berumur 24 tahun dengan alamat dan pekerjaan yang tidak diketahui. Dia ditemukan pingsan dengan luka di bahunya di sebuah pemakaman sekitar 200 m di sebelah tenggara apartemen. Jadi, selain itu ditemukan juga dua pria yang merupakan warga negara Indonesia lagi yang mengalami luka serius di dalam sebuah kendaraan penumpang yang terparkir itu sekitar 1 km di sebelah barat apartemen tersebut. Dan kepolisian prefektur sedang menyelidiki apakah ada hubungan di antara mereka ini karena ditemukan dalam kondisi yang mirip banget dan waktu yang berdekatan. Nah, atau ini cuma sebuah kebetulan? Dan setelah itu mereka bertiga akhirnya langsung dilarikan ke rumah sakit dan polisi Jepang langsung bergerak cepat nih. Di dalam waktu singkat, akhirnya ditangkaplah beberapa pelaku dari kasus ini. Awalnya polisi itu membekuk en orang WNI terlebih dahulu di tanggal 14 Januari. Sehari kemudian pada tanggal 15 Januari lima orang lagi ditangkap dan semuanya menjadi total tersangkanya itu sekitar 11 orang. Dan menurut hasil penyelidikan, komplotan pelaku masuk ke apartemen para korban yang terluka ini dengan membawa pisau dapur dan juga linggis. Dan diduga tujuan mereka adalah untuk merampok uang dan barang-barang berharga. Gila enggak tuh? Sesama WNI aja saling ngerampok. Nah, tapi aksi mereka ini berujung fatal karena korban-korbannya tewas dan tiga lainnya itu terluka. Dan yang bikin kasus ini makin rumit adalah faktanya bahwa semua pelaku dan korban merupakan orang-orang Indonesia yang overstay alias tinggal di Jepang melebihi izin resmi. Emang enggak punya otak. Nah, terus geng salah satu tersangka yang disebut di dalam media itu bernama Luis Vigo Richard Roger Matandatu. Umurnya 22 tahun. Dia diduga sebagai pelaku yang menikam. Dan ada juga Hendrawan umur 38 tahun. Dia ini pengangguran tanpa alamat tetap yang diduga ikut menyerang korban sambil membawa senjata. Polisi Jepang menetapkan dua dakwaan utama terhadap para tersangka ini, yaitu pelanggaran keimigrasian dan penghilangan nyawa. Sementara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui Direktur Perlindungan WNI yang bernama Juda Nugraha menyatakan bahwa KBRI Tokyo terus memantau proses hukum dan memberikan pendampingan agar hak-hak para tersangka ya tetap terpenuhi gitu. Tetap dibantulah sama negara. Tapi sementara itu, jenazah para korban yang merupakan orang Indonesia juga akhirnya dipulangkan ke Indonesia pada tanggal 11 Januari tahun 2025. Ada infonya nih, Geng, bahwa para pelaku dan korban ini sebenarnya saling mengenal ya ee apa ya ya teman mungkin ya. Dan mereka ini berasal dari komunitas yang sama. Sama-sama datang ke Jepang dengan harapan hidup lebih baik tapi justru berakhir di dalam konflik yang mengerikan. Motifnya lagi-lagi tekanan ekonomi dan gaya hidup yang enggak sehat, termasuk dugaan keterlibatan di dalam judul. Nah, dari kasus ini terlihat bahwa bukan cuma soal kriminalitas, tapi juga soal gagalnya solidaritas dan edukasi budaya. Ketika ke kampung orang jadi enggak saling bersaudara lagi, malah bersaing gitu. Dan ketika komunitas diaspora enggak punya ruang aman, enggak ada pembinaan, dan hidup di dalam tekanan, potensi konflik internal jadi makin besar dan terjadilah penghilangan nyawa kayak gini. Oke, sekarang kita masuk ke kasus yang lain. Ini ada juga nih tiga WNI yang ditangkap oleh kepolisian Ibaraki atas kasus perampokan di kota Hokota, Jepang. Mereka merampok sebuah rumah warga lokal dan mendorong korban hingga terluka parah sebelum akhirnya kabur. Identitas dari para pelaku ini namanya yang pertama itu Bayu Rudiarto umur 34 tahun, Nanda Arifianto umur 33 tahun, dan Jaka Sandra umur 23 tahun. Mereka ini diketahui ya overstay juga dan tinggal ilegal di sebuah hotel. Penangkapan mereka terjadi setelah 6 bulan penyelidikan dan kasus ini memucu kecaman dari publik dan pejabat Indonesia juga. Nah, Komisi 9 DPR RI itu menyebutkan kasus ini sebagai alarm serius atas lemahnya pengawasan migran. Menteri P2 MI itu menegaskan kalau eh pelaku ini tidak terdaftar sebagai PMI resmi dan menggaris bawahi perlunya reformasi sistem pengiriman tenaga kerja ke luar negeri biar enggak malu-maluin gitu. Nah, untuk info yang satu ini emang enggak lengkap ya, enggak panjang gitu. Tapi singkat aja kalian bisa paham ya bahwa pernah terjadi hal ini. Nah, terus geng kita ke kasus yang terakhir. Kasus yang terakhir ini adalah aksi yang meresahkan yang dilakukan oleh WNI dengan membentangkan bendera salah satu organisasi silat yang ada di Indonesia. Ini mohon maaf ya buat teman-teman komunitas silat ini. E gua menyampaikan ini tidak untuk menyamaaratakan semuanya karena ini bisa dikatakan oknum gitu ya. Okum yang berada di Jepang. Gua enggak tahu yang di Indonesia itu ngapain aja ya. Ngelakuin apa aja positif negatif gua enggak tahu. Tapi yang jelas yang di Jepang ini ini benar-benar bikin malu. Jadi nama komunitasnya itu adalah PSHT Persatuan Setia Hati Terate yang viral karena membentangkan spanduk besar di fasilitas umum. Bukan soal kriminal berat seperti perampokan atau penghilangan nyawa, tapi ini tetap berdampak besar terhadap citra Indonesia di mata warga Jepang dan komunitas diaspora. Di dalam video yang beredar luas di media sosial terlihat sekelompok WNI mengenakan atribut PSHT, kaos hitam dan sabuk putih berkumpul di pinggir sungai dan membentangkan spanduk besar di pagar jembatan umum di Tokyo. Mereka tampak melakukan pemanasan, latihan ringan, dan berfoto bareng-bareng. Buat sebagian orang Indonesia, aksi ini mungkin terlihat sebagai bentuk ekspresi budaya atau kebanggaan komunitas. Nah, tapi bagi warga Jepang yang sangat menyunjung tinggi keteraturan dan etika ruang publik, aksi tersebut dianggap mengganggu ketertiban dan mencoreng nama Indonesia. Ya, mengganggu ketertiban umum. Kayak orang-orang di sana tuh risih, enggak nyaman gitu. Ngapain sih bentang-bentang spanduk? Di sana kan ada aturannya, enggak kayak di negara kita apa-apa tuh bisa ditempel-tempel aja gitu. Video itu langsung viral dan menuai komentar pedas dari netizen. Banyak yang menyayangkan aksi tersebut dan menunjukkan betapa risihnya masyarakat terhadap aksi yang dinilai memalukan ini. Bahkan media seperti ID and Times sampai mengangkat memes-memes sindiran terhadap PSHT. Seperti membandingkan komunitas PSHT dengan komunitas mie ayam hingga membandingkan ee dengan budaya pacu jalur. Mereka juga menyoroti bagaimana satu aksi bisa merusak reputasi seluruh komunitas. Menanggapi kehebohan ini, PSHT cabang Jepang langsung mendatangi KBRI Tokyo dan menyampaikan permohonan maaf. Mereka mengklarifikasi bahwa video tersebut direkam sekitar 3 tahun lalu dan beberapa anggota yang terekam sudah kembali ke Indonesia. Bahkan mereka juga mengakui bahwa aksi tersebut tidak melalui koordinasi dengan otoritas setempat dan menyatakan komitmen untuk berbenah. Jadi mereka menyesalah. Mereka minta maaf. Dan langkah-langkah yang mereka ambil antara lain tidak lagi menggunakan atribut organisasi di ruang publik tanpa izin, berkoordinasi dengan kepolisian Jepang dalam setiap kegiatan, serta menegur anggota yang melanggar aturan internal. Gua enggak kebayang ya, tiba-tiba mereka lagi kayak gitu ketemu sama Yakuza gitu ya, dibacok-bocokin kali. Dan dampak dari hal ini tidak berhenti di situ, Geng. Banyak pekerja migran Indonesia atau PMI di Jepang yang merasa kena imbas. Mereka khawatir citra pekerja Indonesia yang selama ini dikenal disiplin dan ramah akan terdistorsi hanya karena ulah segelintir orang. Bahkan sempat muncul isu bahwa Jepang akan menghentikan penerimaan pekerja Indonesia mulai tahun 2026. Namun isu ini langsung dibantah oleh KBRI Tokyo yang menegaskan bahwa enggak ada kebijakan resmi dari pemerintah Jepang terkait larangan tersebut. Nah, jadi itu mungkin ya cuma isuah isu yang dibangun setelah kejadian ini. Dan KBRI Tokyo juga menegaskan bahwa mayoritas WNI di Jepang adalah pekerja dan pelajar yang berkontribusi positif. Mereka juga berupaya mengonsolidasikan komunitas WNI di Jepang agar mempromosikan Indonesia dengan sangat baik. Mereka menghimbau agar seluruh WNI menjaga etika, norma hukum, dan citra bangsa di negeri orang. Di dalam siaran persnya ya, KBRI menyebutkan bahwa hubungan Indonesia dan Jepang tetap harmonis dan perlu dijaga oleh semua pihak. Nah, itu dia geng beberapa kelakuan-kelakuan WNI di sana yang membuat resah dan memalukan. Sekarang kita akan masuk ke dalam pembahasan bagaimana reaksi netizen dan media tentang hal ini. Kita bahas. Jadi kalau kita bicara soal dampak dari reaksi komunitas eh silat tadi di Jepang, enggak bisa lepas dari reaksi publik dan media yang muncul setelah video itu viral, Geng. Bukan cuma komentar iseng di media sosial, tapi juga muncul sentimen serius yang menyentuh isu diplomatik, reputasi nasional, bahkan masa depan pekerja migran Indonesia yang ada di Jepang. Begitu video membentangkan spanduk silat tadi di jembatan Tokyo beredar, jagat maya langsung meledak. Komentar netizen Indonesia itu bermunculan dari yang menyindir, mencibir sampai yang terang-terangan menyatakan malu jadi orang Indonesia. Dan tagar seperti hashag malu jadi orang Indonesia dan blacklist imigran itu sempat muncul di berbagai unggahan dan menunjukkan betapa kuatnya rasa kecewa publik terhadap aksi yang dianggap tidak menghormati budaya lokal. Dan beberapa komentar bahkan ekstrem. Bahkan ada yang berharap agar organisasi tersebut dibasmi oleh yakuza. Tentu ini adalah bentuk frustasi yang enggak bisa dibenarkan gitu ya. Tapi mencerminkan keresahan mendalam bahwa ulah segelintir oknum bisa merusak citra seluruh bangsa. Dan di sisi lain muncul juga video klarifikasi dari PSHT cabang Jepang yang menunjukkan mereka berjoget bersama warga lokal sebagai bukti bahwa mereka diterima dengan baik. Tapi video itu justru memicu perdebatan baru karena warga Jepang yang terlihat di dalam video itu hanya sedang melakukan senam pagi rutin dan anggota PSHT ini dianggap kayak nimbrung doang tanpa diundang. Nah, banyak pihak yang menyoroti bahwa aksi ini bukan hanya soal pelanggaran etika tapi juga berpotensi mengganggu hubungan bilateral. Nah, KBRI Tokyo mengatakan ya, Indonesia dan Jepang memiliki hubungan yang sangat baik dan telah terjalin selama 67 tahun dan menegaskan hubungan tersebut perlu dijaga terus-menerus dan diperkuat oleh semua pihak. Dan KBRI Tokyo juga menyatakan bahwa mayoritas WNI di Jepang adalah pekerja dan pelajar yang berkontribusi positif. Tapi juga mereka mengingatkan bahwa pengawasan terhadap komunitas WNI bakal diperketat terutama setelah meningkatnya keluhan dari warga lokal. Nah, media seperti detik.com, Kompas TV juga mencatat bahwa PSHT cabang Jepang sudah menyampaikan permohonan maaf dan berkomitmen untuk berbenah. Nah, tapi ya kita enggak tahu ya ke depannya gimana. Namun, geng, meskipun klarifikasi sudah dilakukan, kepercayaan publik belum sepenuhnya pulih. Banyak yang menilai bahwa permintaan maaf aja itu enggak cukup kalau tidak dibarengi dengan perubahan nyata di dalam cara komunitas diaspora ini berinteraksi dengan budaya lokal. Reaksi publik dan media ini menunjukkan bahwa di era digital satu video bisa berdampak global dan sebagai warga negara kita punya tanggung jawab untuk menjaga nama baik bangsa terutama di negeri orang di mana setiap tindakan bisa jadi sorotan. Oke, itu dia geng pembahasan kita hari ini mengenai beberapa oknum WNI yang bikin resah di Jepang dan bikin malu negara. Gimana geng menurut kalian? Coba tinggalkan komentar di bawah.