Transcript
um6JrP99VyQ • GAME UPIN & IPIN BIKIN KECEWA ! WINDAH BASUDARA DAN KREATOR LAIN KENA COPYRIGHT !
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1494_um6JrP99VyQ.txt
Kind: captions
Language: id
Geng, kalian sering enggak nonton kartun
Upin-Ipin? Ya, meskipun mungkin kalian
ada yang belum nonton, tapi kalian pasti
tahulah ya kartun ini asal Malaysia dan
sudah sangat terkenal. Dan kalau kalian
ikutin berita baru-baru ini, ternyata
Upin-Upin tuh sekarang enggak cuma e
bisa ditonton doang, tapi juga udah ada
game-nya. Nah, cuma yang akan kita bahas
hari ini bukan perihal game-nya yang
bagus atau game-nya tuh yang gimana gitu
ya, tapi melainkan game ini ternyata ada
kontroversi yang ditimbulkan. Nah, yang
mana kasusnya bukan cuma bikin ribut
komunitas, tapi juga nunjukin sisi gelap
dari dunia gaming yang aduh kadang
enggak masuk akal gitu. Kita bakal
ngomongin soal developer game Upin-Ipin
yang bikin salah satu gamers atau
streamer Indonesia yang cukup terkenal
yaitu Wind Basudara mendapatkan
copyright gara-gara hak cipta lagu.
Namun setelah ditelusuri ternyata
problemnya jauh lebih dalam. Nah, karena
ini bukan cuma soal copyright aja, Geng,
tapi juga soal ya beberapa poin lain
lah. Mulai dari harga game-nya yang
katanya bikin kantong kering, terus juga
ada apa ya, permasalahan pekerja lah dan
lain-lain. Nah, bayangin aja nih, Geng,
ya. Game yang kualitasnya bisa dikatakan
ya seadanya grafik standar, gameplay-nya
juga enggak terlalu kompleks, dan banyak
bug-nya juga dengan harga yang cukup
tinggi ya dijualnya. Bahkan harganya
mencapai ya ngalahin beberapa game
triple A yang jauh lebih kompleks dan
punya reputasi global. Nah, emang berapa
tuh harganya? Ya, jadi nanti kita bakal
bahas lah ya. Harganya tuh cukup mahal
dan enggak masuk akal. Terus enggak cuma
itu, ada isu-isu lain yang memperkeruh
suasana karena di balik harganya yang
mahal ada dugaan penelantaran karyawan
dan lingkungan kerja yang toxic.
Langsung aja nih kita bahas secara
lengkap tentang kontroversi game
Upin-Ipin ini. Halo, Geng. Welcome back
to Kamar Jerry
[Musik]
Genggeng. Oke, untuk pembahasan yang
pertama kita akan membahas permasalahan
dari game Upin-Ipin ini yang ternyata ya
itu sampai melibatkan Windah Basudara
sampai membuat Windah Basudara enggak
mendapatkan benefit. Malah kabarnya
akunnya sampai kena peringatan dari
YouTube gara-gara ya pihak dari game ini
mengklaim musik yang ada di game
tersebut. Pokoknya terdengar sangat
tidak profesional. Oke, pembahasan
pertama kita bahas yang itu dulu.
Jadi, Geng, semua ini bermula saat game
Upin-Ipin ini dirilis pada Kamis, 17
Juli 2025 ya. Yang mana di saat itu
banyak para gamers yang menganggap bahwa
gameplay-nya dianggap biasa aja dan
monoton banget. tapi harganya malah
terlalu mahal. Nah, menurut beberapa
platform yang gua dapatkan ya, ini ada
beberapa harga yang dirilis tentang game
Upin-Ipin ini. Upin-Upin Universe Team
dan Epic Game ya untuk PC itu seharga
RM17,39ia
atau sekitar Rp686.000.
[Musik]
Terus selanjutnya di PlayStation Store
PS4 PS5 seharga Rp172,18
atau sekitar Rp66.000.
Dan yang terakhir ada di Nintendo Switch
seharga 169,92ia
atau sekitar 657.000.
Jadi range harganya itu ya antara 650
sampai 680-an. Jadi akhirnya harga ini
memicu perdebatan, Geng. Karena game ini
diposisikan sebagai game keluarga dengan
visual yang sederhana dan gameplay-nya
juga kasual. Nah, banyak gamer Malaysia
yang merasa angka penjualannya itu gak
sebanding dengan pengalaman yang
ditawarkan, enggak sebanding dengan
kualitas gameennya, kemahalan katanya.
Mereka membandingkan dengan game
kualitas triple A seperti Spider-Man 2
yang ada di PS5. Harganya RM249ia
atau setara dengan Rp963.000.
Terus ada game Hogwards Legacy, harganya
RM269ia
atau setara Rp1.40.000an
gitu. Dan yang terakhir, Elden Ring
seharga R249ia
atau setara Rp963.000.
Tapi game-game tersebut dengan konten
yang lebih kompleks ya, grafik kelas
atas dan jauhlah dengan game Upin-Ipin
universe yang bisa dibilang sangat
standar gitu yang artinya ya di dalam
hal ini kalian bisa lihat harga game
Upin-Ipin Universe ini dijual mendekati
harga game triple A yah dihitung mahal
banget sih memang ya kalau kita lihat
gitu ya yang mana anggaran videonya ya
kan kalau video triple A itu kan
anggarannya besar biasanya dikembangkan
oleh studio besar. Nah, padahal secara
konten kalau game dari Upin-Ipin ini ya
kayak game indie gitu, Geng. Di Steam
cuma 49% ulasan yang awalnya positif,
banyak kritik datang dari bug, terus
masalah performanya, visual yang enggak
konsisten, dan polis teknis yang dirasa
kurang maksimal. Bahkan hingga beberapa
pengguna mengaku diblokir dari forum
Steam setelah membahas isu ini. Nah,
sementara pihak developer itu belum
memberi pernyataan resmi. Jadi, kayak
udah jelek anti kritik lagi tuh
game-nya. separah itu. Tapi karena
antusias yang tinggi, tetap banyak yang
memainkan game ini. Salah satunya ya
YouTuber atau streamer atau gamer asal
Indonesia yaitu Bang Windah Basudara
yang memainkan game Upin-Ipin sambil
nge-live. Dan di dalam live tersebut
Winda Basudara mendapatkan view yang
meledak sampai dengan angka 4,2 juta
views dalam kurun waktu kurang dari 10
hari. Karena live-nya yang dilakukan
meledak, banyak yang bilang kalau Winda
Basudara ikut melakukan promosi game
tersebut. Jadi dengan kata lain tuh ya
gara-gara Winda Basudara ini game bisa
terkenal juga gitu. Dan seharusnya ya
kalau kayak gitu kan Winda Basudara
dapat kompensasi ya, tapi di sini dia
enggak dapat kompensasi sama sekali.
Nah, yang ada nih malah muncul masalah
nih pada Windah Basudara di saat setelah
dia melakukan streaming yang mana video
replay dari streaming dari live
streaming-nya dia itu malah terkena
klaim hak cipta dari pihak developer.
Mereka mengklaim bahwa konten game yang
ditayangkan itu termasuk musik dan
footage di dalam game melanggar hak
cipta. Ini gimana sih? Aneh banget ya
kan? Udah dipromosiin, udah dibantuin
besar, dibantuin naik, malah hak dari
streamer juga diambil. Akibatnya YouTube
secara otomatis menghentikan monetisasi
ya, hak untuk mendapatkan uang dari
Windah Basudara melalui video yang dia
udah capek-capek bikin streamnya dan
lalu hasil dari pendapatan AdSense-nya
itu disalurkan ke pihak studio, pihak
pengklaim, pihak pembuat game-nya.
Benar-benar rakus banget ya. Dan dengan
masalah ini Windah kehilangan potensi
pendapatan sekitar ya R juta atau
something lah, mungkin bisa ratusan juta
ya kalau sekelas Windah Basudara. Dan
klaim hak cipta ini muncul empat kali di
satu video, Geng. Nah, membuat
channelnya itu hampir terancam terkena
penalti jika gak segera diselesaikan.
Padahal Winabudara memainkan game ini
secara fair, tanpa dimodifikasi, tanpa
pelanggaran teknis, atau tanpa
mengkritik dan menjelek-jelekkan dari
sisi manapun. Nah, di saat itu dia
bahkan sudah sempat mengajukan sengketa
atau klaim ya terhadap video tersebut.
Namun proses penyelesaiannya atau proses
penyelesaian klaim copyright-nya
membutuhkan waktu dan tidak menjamin
hasil yang positif. Di situlah kesal
banget gua sebagai kreator ya yang paham
juga dengan YouTube, gua tahu banget nih
rasanya gimana. Udah gitu urusannya sama
studio besar kan bisa-bisa channel
Bindab Basudara kena suspen dan itu
waduh enggak lucu ya. Udah enggak
dibayar ya kan udah mempromosikan game
yang enggak seberapa ini tapi malah
berefek atau berdampak pada si
kreatornya itu tai sih. Jujur aja kalau
lu nanya gua di pihak siapa? Gua di
pihak Windah sih kalau di dalam hal ini
ya. di pihak Windah banget karena wah
tahi banget. Gua bisa bilang tahi sih
ini game nih. Kalau boleh jangan
di-download deh, Geng. Biar bangkrut
sekalian.
Terus, Geng, masalah selanjutnya muncul.
Ini benar-benar perusahaan yang rakus
dan tamak banget. Udah ngeklaim, tapi
tiba-tiba beberapa cuplikan dari live
streamingnya Windah malah dipakai secara
sepihak oleh mereka tanpa izin resmi
dipakai oleh pihak media sosial resmi
game Upin-Ipin Universe sebagai bagian
dari konten promosi mereka. Udah duit
AdSense-nya diambil, channel orang udah
hampir hilang, hampir suspen, sekarang
malah nyuri. Ini kan jatuhnya nyuri
gitu. Dan mereka mengambil klip dari
video Windah tanpa izin ya. Enggak ada
kredit atau source dan menggunakan eh
apa ya klip Winda Basudara ini sebagai
bukti bahwa game mereka ini viral dan
ramai dimainkan oleh kreator populer
seperti Winda. Dan hal ini dinilai
sebagai bentuk pemanfaatan tanpa izin
yang melanggar etika. Ya, mencurilah.
dan Windah memberikan exposure besar
namun tidak dihargai. Justru klip dari
siarannya dia diambil dan digunakan
ulang oleh pihak yang tidak bertanggung
jawab ini sebagai materi promosi resmi
perusahaan mereka yang tentunya
memberikan keuntungan lebih kepada pihak
mereka sendiri tanpa memikirkan nasib
Windah Basudara. Winda Basudara udah
enggak dapat benefit. Sekarang dia harus
menyelesaikan ya apa ya kalau di YouTube
tuh kena strike gitu dan itu bahaya
banget, Geng. Di saat itu ya, awalnya
Winda Basudara mengira kalau copyright
yang didapatkan oleh dia itu karena lagu
yang dipakai di gameennya ya, itu lagu
dari animasi ya. Tapi ternyata
developernya sengaja bikin lagu untuk
gameennya terus di-upload di YouTube
biar bisa diklaim copyright. Dan
kejadian ini enggak cuma terjadi di
Indonesia, melainkan beberapa live
streamer lain yang mengalami hal yang
sama dengan Winda. Dan hal ini diklaim
langsung oleh pihak Leskopaku. Huh,
enggak jelas banget nih perusahaan. Dan
akhirnya karena dianggap ini game
terlalu problematik ya, banyak yang
memboikot game ini. Boikot ini dilakukan
dari sebagian komunitas gamer Malaysia
ya dan juga gamer-gamer lain terutama di
Indonesia. Nah, ada tagar #boikot
Upin-Iipin Game dan #igamers bukan budak
kartun. Nah, itu menjadi trending di
Twitter Malaysia. Beberapa kreator
konten game bahkan membuat video review
bernada satir terhadap game tersebut.
Dan tagar ini juga mulai ramai di media
sosial. Dan saking banyaknya hujatan
yang diberikan oleh netizen terkait game
Upin-Ipin, pihak dari Lesk Kopaku
akhirnya memberikan klarifikasi, Geng,
melalui sebuah video. Ya, standar lah
kalau udah ramai kayak gini ya, mau
enggak mau kan klarifikasi, tapi kan
enggak menyelesaikan masalah gitu. Nah,
di dalam video klarifikasi mereka
tersebut, mereka menegaskan klaim
tersebut bukan tindakan disengaja,
melainkan murni akibat sistem otomatis
YouTube katanya. ya. Seharusnya sekelas
mereka paham gitu ya, kalau di YouTube
itu memang ada sistem otomatis claim
memang atau sistem otomatis klaim
copyright kalau lagunya sudah
didaftarkan ke YouTube music gitu ya.
Seharusnya kan diantisipasi dari awal.
Udah tahu lu perusahaan game yang mana
game lu bakal di-review sama
kreator-kreator, hargailah hak kreator
juga. Udah lu enggak bayar ya kreator
mau dapat dari AdSense ya apa salahnya
gitu. Mereka juga bilang ini kesalahan
teknis. Mereka tidak berniat merugikan
Windah ya. khusus mereka bilang tuh
Windah karena mereka takut Windah ini
kan gede banget dan mereka bilang kalau
ini penyebabnya adalah musik di dalam
game Upin-Ipin Universe yang terdeteksi
sebagai konten berhak cipta oleh sistem
konten ID. Nah, namun karena popularitas
Windah Barsudara kasus ini jadi viral.
Mampui enggak tuh? Dan Lesk Kopaku juga
menegaskan kalau mereka memiliki hak
untuk mengklaim produk kreatif termasuk
musik sesuai dengan Undang-Undang Hak
Cipta dan Konten ID. Ya, tapi kenapa
harus nyuri cuplikan Windah juga untuk
promosi kalian? Kalau kalian aja enggak
ngizinin Windah mendapatkan benefit dari
video yang dia buat. Nah, kemudian
perihal tersebut ya soal cuplikan
live-nya Windah yang dijadikan konten
promosi oleh mereka, Lesk Kopaku
menyebut kalau niatnya cuma untuk
mengapresiasi para streamer dan mereka
sendiri mengakui bahwa mereka merasa
terkesan dengan reaksinya Windah ketika
bermain game Upin-Ipin. Hah, Tahi kotok
ya. Kalau memang mengapresiasi ya jangan
diklaim juga lah hak benefitnya. Kalian
kan nyari untung di situ, masa kreator
gak boleh untung juga. Kan simbiosis
mutualisme.
Dan di dalam hal ini ya Leskopaku
mengkonfirmasi kalau mereka itu sedang
dalam proses penyelesaian masalah klaim
hak cipta ini, katanya. Dan mereka
menyatakan sudah berkomunikasi secara
langsung dengan para streamer yang
terdampak termasuk dengan Windah untuk
mencari solusi yang mana di antaranya
menawarkan untuk menonaktifkan suara
musik yang terkena copyright dan
menggantinya dengan musik lain. Ternyata
solusinya tidak tidak asik ya. Nah, dan
mereka juga sedang menyiapkan fitur
streamer mode supaya para contontreator
aman saat bermain Upin-Upin Universe.
Ya, ingat tuh, aman. Berarti untuk
sekarang tuh enggak aman ini game. Jadi,
jangan dimainin, ya, Geng. Dan Leskopu
menekankan komitmen mereka untuk
memastikan bahwa semua contonent kreator
bisa mendapatkan pendapatan yang layak
dari karya mereka. Karena mau
bagaimanapun, para streamer game ini
secara enggak langsung ikut
mempromosikan gameennya. Padahal mereka
juga gak di-endorse oleh pihak developer
seperti si ya Lesk Kopaku ini atau
pemilik IP dari Upin-Ipin juga enggak.
Nah, terus geng Leskopu juga
memanfaatkan klarifikasi ini untuk
membantah rumor yang beredar terkait
karyawan dari Streamline Studio yang
sampai sekarang katanya belum
mendapatkan bayaran atas kerja keras
mereka dalam pembuatan game Upin-Ipin.
Nah, ini juga seru nih untuk kita bahas
nih. Mereka dengan tegas membantah rumor
tersebut dengan menjelaskan kalau
pengembangan game Upin-Ipin memakan
waktu selama 3 tahun dan investasinya
sebesar RM15 juta atau setara Rp50
miliar yang sepenuhnya sudah dibayarkan
ke pengembang dari game tersebut.
sehingga seharusnya enggak mungkin gaji
dari karyawannya enggak terpenuhi,
katanya. Dan di akhir klarifikasinya,
Leskopu ini menyampaikan apresiasi atas
dukungan yang diberikan serta menghimbau
publik agar tidak menyebarkan berita
palsu atau hoaks, katanya. Nah, ini
kalau gua yang menyebarkan berita ini,
gua enggak nyebarin hoaks ya. Gua
menyebarkan atau gua menceritakan atau
gua merangkum cerita yang ada di media
mainstream. Jadi kalau misalkan kalian
merasa gua nyebarin hoak, ya lu protes
ke media mainstream karena pemberitaan
tentang Leskopu ini udah banyak banget
gitu.
Oke, tadi sempat gua singgung ya soal eh
katanya dugaan gaji karyawan di salah
satu perusahaan partner dari Leskopu
yang bernama Streamline Studios.
Rumornya tidak membayar gaji karyawan
dan juga tidak apa ya kayak tidak
menghargai karyawan katanya gitu ya.
Nah, sekarang kita coba bahas nih benar
enggak kayak gitu. Langsung aja.
Jadi, Geng, game Upin dan Ipin Universe
adalah hasil kolaborasi antara dua
kekuatan kreatif dari Malaysia, yaitu
Les Kopu Production dan Streamline
Studios. Masing-masing punya peran
penting dalam membentuk game ini dari
sisi cerita hingga teknis. Dan untuk
Lesk Kopaku Production sendiri ya,
kreator dari Upin-Ipin, mereka merupakan
studio animasi yang berdiri sejak 2005
di Syah Alam, Malaysia. Mereka juga
merupakan pencipta asli dari serial Upin
dan Ipin yang sudah ditayangkan lebih di
100 negara. Mereka juga bertanggung
jawab atas aspek kreatif di dalam game
seperti cerita dan juga karakter, nuansa
kampung durian runtuh, visual dan budaya
khas Malaysia, ya. Semuanya itu Les Kopu
yang ngurusin. Nah, dan Les Kopaku ini
juga harus memastikan game tersebut
tetap setia pada identitas serial
animasinya, termasuk musik dan elemen
budaya yang bernuansa Malaysia. Nah,
terus selanjutnya mereka ini kan bekerja
sama dengan Streamline Studios yang
merupakan pengembang game profesional.
Nah, buat yang gak tahu, Streamline
Studios ini merupakan studio game global
yang sudah berpengalaman lebih dari 20
tahun. Mereka juga pernah terlibat di
dalam proyek besar seperti Final Fantasy
15, terus ada Street Fighter 5, terus
ada eh Killer Instinct dan juga Mortal
Kombat. Nah, mereka ini ahli dalam
pengembangan penuh game triple A,
layanan teknis, serta kolaborasi dengan
studio kreatif lain di seluruh dunia.
Nah, di dalam proyek ini ya mereka itu
menangani aspek teknis seperti desain
dunia open world, sistem ee permainan
dan interaksi serta penggunaan Unreal
Engine 5 untuk membangun dunia digital
Kampung Durian Runtuh di dalam kartun
Upin-Ipin ya dalam bentuk game-nya. Dan
mereka bertugas menerjemahkan visi
kreatif dari Les Kopu ke dalam e game
yang bisa dimainkan di berbagai
platform. Terus, Geng, ternyata di balik
semua gemerlat perluncuran Upin-Ipin
Universe ini muncullah sebuah laporan
yang mengejutkan dari para karyawan
Streamline Studios yang mengaku
mengalami keterlambatan pembayaran gaji
selama berbulan-bulan. Nah, keluhan ini
tertulis di media Nia Gaming. Beberapa
poin penting dari laporan tersebut
antara lain gaji karyawan yang terlambat
hingga 2 bulan. Dan ini terungkap dari
karyawan yang aktif yang mengaku harus
bekerja tanpa bayaran selama hampir 2
bulan tersebut.
Dan strip gaji mereka pun baru keluar
jauh setelah periode kerja yang
seharusnya dibayar. Terus selanjutnya
ada pembayaran IPF yang tertunda. Jadi
kontribusi ke IPF atau employee providen
fund ini atau skema pensiun wajib di
Malaysia itu juga diketahui sempat tidak
dibayarkan nih oleh si studio itu. Dan
meski manajemen berjanji akan
melunaskannya ya hingga Maret 2025 janji
itu belum ditepati. Nah, selanjutnya nih
skema pesangon cicilan yang enggak
dibayarkan juga. Nah, pesangon itu untuk
karyawan yang diberhentikan. Terus
selanjutnya, perusahaan juga menerapkan
sistem pesangon berbasis cicilan. Gimana
tuh pesangonnya dibayar nyicil gitu.
Nah, dan awalnya itu cicilannya 3 bulan.
Namun, beberapa kasus dilaporkan malah
molor sampai 1 tahun cicilannya baru
lunas. Nah, selanjutnya prioritas bayar
berdasarkan urgensi katanya. Dan hal ini
diketahui dalam email internal yang
berisi bahwa manajemen meminta karyawan
yang sangat membutuhkan uang untuk
melapor agar bisa diprioritaskan
terlebih dahulu. Ini kan aneh banget ya.
Hal ini menimbulkan kesan bahwa
pembayaran gaji menjadi opsional aja dan
enggak merata. Siapa yang lagi butuh ya
udah kita bayar duluan kayak gitu. Itu
sistem gaji kayak gimana tuh? Dan yang
terakhir ada kerja proyek tambahan tanpa
dibayar. Jadi kayak mereka lembur atau
mereka seharusnya mendapatkan bayaran
lebih tapi enggak dibayar. Kayak
bonus-bonus gitu enggak ada. Dan mereka
meminta beberapa karyawan untuk
menyelesaikan proyek tambahan dengan
tenggat waktu yang ketat dan diancam
tidak akan dibayar jika proyek tersebut
tidak selesai. Bahkan nih, Geng, salah
satu karyawannya menulis kalau
Streamline Studio memperlakukan seniman
seperti sumber daya yang bisa dibuang,
bukan sebagai manusia yang diberi nyawa
pada proyek mereka. Kayak gitu. Jadi,
kalau udah habis, sudah selesai, udah
dibuang gitu aja gitu. Dan mereka juga
menuntut bahwa mereka perlu mengingat di
dalam Employment Act 1955 Malaysia
tentang keterlambatan gaji lebih dari 1
minggu itu udah bisa dibawa ke meja
hukum. Nah, jadi geng buat yang gak tahu
nih, Employment Act 1955 ini atau
Undang-Undang Ketenagakerjaan 1955 milik
Malaysia merupakan bagian penting dari
Undang-Undang Malaysia yang menguraikan
standar minimum untuk kondisi
ketenagakerjaan, termasuk jam kerja,
upah, dan juga cuti dan prosedur
pemutusan hubungan kerja. Makanya
orang-orang pada heran kok bisa
pelunasan gaji, pelunasan pesangon
dibayar nyicil. Kalau kita di sini
kayaknya udah ngamuk-ngamuk gitu ya. Dan
pelunasan secara cicilan ini ternyata
ggak baru dilakukan nih oleh Streamline
Studio. Udah sering. Berdasarkan cerita
dari karyawannya, skema pesangon yang
dibayarkan secara cicilan ini juga
pernah dilakukan beberapa kali
sebelumnya. Nah, mungkin karena mereka
udah merasa aman diulang-ulang terus
gitu. Bahkan ya, Geng, meskipun Streaml
Studios terlibat di dalam proyek besar
pembuatan dan pengembangan game
Upin-Ipin ini, ya, sepertinya perusahaan
masih kesulitan untuk membayar para
karyawan mereka menurut pengakuan dari
perusahaan. Dan para karyawan juga
bercerita ke media and Mia Gaming kalau
mereka itu belum mendapatkan bayaran
sama sekali atas pekerjaan yang udah
mereka lakukan. Ini udah kayak
perbudakan di era modern enggak sih,
Geng? Lu mau enggak kira-kira disuruh
kerja tapi enggak bayar? Bukan enggak
bayar sih, maksudnya bayar aja
besok-besok nyicil-nyicil enggak akan
ada yang mau. Dan lebih buruknya lagi
ya, Geng, agar mereka bisa dapat
bayaran, mereka justru dipaksa untuk
mengerjakan proyek lain secara
cuma-cuma. Jadi kayak lu mau dibayar
cepat, ya udah nih lu ada kerjaan
tambahan nih. Lu kerjain ini, entar lu
diprioritasin deh, dibayar cepat deh
gaji lu. Wah, ini aneh banget. Dan kalau
proyeknya itu enggak selesai, mereka
diancam enggak akan dibayar sama sekali
untuk pekerjaan utama mereka yang
sebelumnya sudah selesai.
Nah, untuk bisa mendapatkan uang,
akhirnya beberapa karyawan harus
mengambil tambahan pekerjaan dari
departemen lain. Contohnya nih, Geng,
ya. Ada seorang mantan karyawan nih yang
cerita kalau ada karyawan Quality
Assurance atau QA yang tiba-tiba
diwajibkan untuk mengerjakan QA. Nah,
sekedar informasi nih, Q itu bagian ee
yang tugas utamanya itu untuk ngetes
produk gitu. Mencari dan melaporkan bug
juga dan memastikan hasil akhir produk
agar sesuai dengan standar. Ada juga nih
karyawan yang bekerja di bagian desain
tiba-tiba harus mengambil job des yang
berkaitan dengan pemrograman dan itu kan
enggak nyambung. Nah, akhirnya mereka
merasa ya mereka tidak diperlakukan
manusiawi, tidak sesuai dengan jobd
des-nya. Pembayaran gaji mereka ya
ditunda-tunda tapi mereka benar-benar
enggak mendapatkan haknya. Nah, itu dia
beberapa informasi yang gua dapatkan
tentang dugaan penelantaran karyawan dan
tidak dibayarnya gaji karyawan dari
kedua perusahaan yang membuat game
Upin-Ipin Universe 2025 ini serta
beberapa keluhan dari para karyawannya.
Nah, sekarang kita bakal masuk ke dalam
pembahasan nih, Geng. ketika diketahui
lingkungan kerja Leskopu yang ternyata
toxic banget. Kita bahas.
Jadi, Geng, hal ini pertama kali
diketahui dari salah satu postingan di X
dengan akun Peay, ya. Ini bacanya Pulray
atau Peulay gitu, ya. Nah, jadi di dalam
postingan itu dia menyebutkan bahwa
bukan hanya Streamline Studio aja yang
merupakan tempat kerja yang bermasalah,
tetapi dia bilang juga mitra kerjanya
sendiri yaitu Leskopu juga merupakan
tempat kerja yang problematik. Nah, dia
menyebutkan kalau Leskopaku ini juga
perusahaan yang sangat bermasalah,
tempat kerja yang toksik dengan para
petinggi yang kebanyakan gila katanya
gitu. dikatakan di saat itu ya mereka
itu menjelek-jelekkan animasi lokal
bahkan ya mereka ya sampai mengancam
karyawannya sendiri jika ada karyawannya
yang memuji animasi-animasi lain. Bahkan
sampai ada juga yang mengatakan kalau
Streamline Studio itu merumahkan
karyawannya atau memecat karyawannya
untuk alasan-alasan yang enggak jelas.
Nah, ada juga yang membahas tentang
stagnasi kreatif dan ancaman dari rival
mereka. Beberapa komentar menyebutkan
bahwa franchise Upin-Ipin itu stagnan
dan tidak berkembang. terutama jika
dibandingkan dengan rival seperti Egen
Ali yang sukses besar di box office dan
beberapa saingan-saingan mereka lain.
Budaya kerja mereka di sana tuh buruk
banget dan disebut sebagai salah satu
penyebab turunnya kualitas konten-konten
atau video-video dari Upin-Ipin ini.
Terus ada lagi, Geng, podcast Les Kopaku
yang memicu kecaman karena membahas
tentang drama kantor di publik. Jadi
pembuat animasi Upin-Ipin ini menghadapi
kritik tajam setelah beberapa
petingginya termasuk direktur pelaksana
mereka, direktur kreatifnya, terus
penulis naskah dan juga manajer HR atau
sumber daya manusia mereka itu membahas
isu internal kantor di dalam podcast
YouTube mereka. Topik yang dibicarakan
itu termasuk bonus dan gaji karyawan
yang sebenarnya itu kan enggak boleh
dibicarakan ke hadapan publik. Di saat
itu juga mereka ngomongin soal cuti
medis, keterlambatan masuk kerja, dan
lain-lain. Ya, walaupun di saat mereka
bercerita di podcast itu, mereka enggak
nyebut nama karyawannya, tapi isi
obrolannya itu dianggap merendahkan staf
dan melanggar etika profesional. Apalagi
dilakukan di platform publik dengan
jutaan subscriber yang akhirnya banyak
memunculkan komentar publik yang menilai
tidak dewasanya dan tidak profesionalnya
pihak mereka. Serta netizen juga
menyebutkan tindakan tersebut sebagai
hal yang tidak pantas dan mencerminkan
kepemimpinan yang tidak dewasa. Banyak
yang kaget, tapi ada juga yang tidak
terlalu terkejut karena rumor soal
lingkungan kerja toksik di Leskopu ini
sudah beredar sejak beberapa tahun yang
lalu. Jadi kayak orang tuh udah biasa
aja ngedengar itu. Nah, menurut netizen
ini sangat ironi karena mereka melarang
karyawannya untuk berbicara tapi
manajemennya sendiri malah gosip
terbuka. Terus geng, yang membuat publik
semakin geram adalah pernyataan dari
manajer HR mereka bahwa staff itu tidak
boleh membahas masalah kantor di media
sosial pribadi. Padahal mereka sendiri
udah melanggar prinsip tersebut di
podcast terbuka. Komentar pedas itu
bermunculan menyindir ego manajemen dan
meminta mereka untuk bercermin gitu. Dan
akhirnya ini berdampak langsung nih
untuk reputasi ramah keluarga yang
diusung oleh Los Kopaku yang mana ini
langsung tercoreng karena mereka sebagai
studio animasi dikenal dengan konten
anak-anak malah tidak mencerminkan itu.
Dan tindakan ini sangat bertolak
belakang dengan citra publik mereka.
Nah, banyak yang menyayangkan bagaimana
manajemen tersebut memperlakukan stafnya
secara terbuka dan merendahkan mereka di
publik.
Ada beberapa komentar yang gua dapatkan
di channel YouTube mereka ya. Yang
pertama itu dari Awanistatics 89. Di
YouTube dia itu mention kepada seluruh
karyawan Leskopaku. Dia bilang bahwa
atasan kalian menjelek-jelekkan kalian
secara terbuka dan ini merupakan hal
yang sangat tidak profesional dan
sejujurnya menunjukkan betapa tidak
dewasanya manajemen puncak di dalam
menangani masalah ini. Untuk sesuatu
seperti animasi ramah keluarga sungguh
menyedihkan bagaimana mereka
memperlakukan kesejahteraan stafnya.
Nah, komentar ini mengungkapkan
kekecewaan netizen dengan menyatakan
bahwa untuk sebuah rumah perusahaan
animasi yang seharusnya ramah keluarga,
perlakuan terhadap staf mereka tampak
sangat buruk. Terus ada juga nih, Geng,
komentar dari akun YouTube bernama Nick
Studio. Dia ini bilang kalau dia udah
enggak heran dan dia juga udah bilang
bahwa ya walau dia tidak bekerja di
industri animasi tersebut, tapi
lingkungan Leskopaku yang toxic itu
sudah dikenal sejak dari 5 sampai 6
tahun yang lalu. Dan podcast ini ya
membuktikan kalau ketoksikan tersebut ya
akhirnya terbongkar juga atau terlihat
juga ke muka publik. Terus ada juga yang
mengkritik para atasan dari Leskopu
karena secara terbuka berbicara negatif
tentang karyawan mereka di platform
publik dengan jutaan pelanggan. Di dalam
komen oleh akun yang bernama Nathan ini
dia bilang kalau mereka
menjelek-jelekkan karyawan mereka
sekeras ini di podcast ya di publik gitu
kan yang lebih dari 17,5 juta pelanggan.
Bayangkan aja betapa kasarnya mereka di
ruang pribadi yang enggak dilihat orang.
kasihan karyawan-karyawannya ini. Nah,
bos-bos mereka itu benar-benar gak
peduli dengan mereka. Itu kata netizen.
Terus, geng, semua komentar dari para
netizen ini mendapatkan respon langsung
dari pendirinya Leskopaku, yaitu
Burhanuddin MD Radzi. Dia ini bilang,
ya, dia bilang gini nih di dalam
postingan Facebook-nya, "Ayo kita move
on." katanya setelah baca semua komentar
yang kebanyakan dari mantan staff dan
jujur vibes-nya penuh dengan nyinyiran
soal kesuksesan kita. Buset, malah
dilawan netizennya sama dia. Sekarang
udah mulai ke arah fitnah katanya dan
tuduhan yang gak masuk akal. Buat yang
penasaran sama Leskopu dan dia juga
bilang e soal perjalanannya dia yang
udah bangun semuanya ya bisa dibaca
langsung di bukunya dia malah nyuruh
beli buku. Dan dia juga bilang,
"Sekarang saatnya kita fokus ke depan.
Tim dia yang udah solid kini sudah lebih
dari 200 orang dan bakal sibuk banget
sampai akhir tahun katanya. Jadi tunggu
aja. Mereka janji bakal mengumumkan
beberapa projek baru yang keren buat
dorong ekonomi digital Malaysia biar
makin maju. Buat yang pengin balik,
silakan apply. Nah, kalimatnya kayak
gitu. Karena kan dia nganggap ini yang
komentar-komentar ini para netizen ini
adalah mantan karyawannya E Lesk Kopaku
yang sudah dipecat atau yang sakit hati
gitu. Jadi, makanya dia bilang, "Buat
yang pengin balik lagi, silakan apply.
Maksudnya apply lamaran lagi." Nah,
terus dia bilang, "Tapi kalau belum
rezeki dan enggak kepilih, jangan maksa.
Lanjut aja hidup masing-masing. Thank
you." Wah, gila. Dan di saat itu dia
ngomong kayak gitu sambil mamerin
mobil-mobil mewahnya dia dan buku
biografinya dia. Dan dia berterima kasih
kepada seluruh penggemarnya yang masih
mendukung dia juga. Dari sini aja kita
bisa lihat ya betapa toxicnya. Sombong
banget. Petingginya aja bisa kayak gitu
loh. Foundernya bisa kayak gitu. Gila.
Tapi ya dari kalian sendiri gimana,
Geng? Terutama kalian yang sudah sempat
main game ini atau ngikutin kasus ini.
Apakah rumor soal gaji karyawan yang
enggak terpenuhi ini benar atau enggak?
Atau ini cuma sebatas strategi marketing
aja? agar menaikkan promosi dari game
ini. Coba deh kalian tinggalkan komentar
di bawah.
Itu dia, Geng, pembahasan kita kali ini
tentang bagaimana bisa game yang
harganya mahal tapi tidak sesuai dengan
kualitasnya. Mulai dari banyak bug,
karakter kaku hingga cerita yang monoton
dan membuat banyak orang memboikot game
ini karena game ini juga tidak
menghargai para streamer. Salah satunya
yang paling besar yaitu Windah Basudara.
Gimana, Geng, menurut kalian tentang hal
ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.