Transcript
um6JrP99VyQ • GAME UPIN & IPIN BIKIN KECEWA ! WINDAH BASUDARA DAN KREATOR LAIN KENA COPYRIGHT !
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1494_um6JrP99VyQ.txt
Kind: captions Language: id Geng, kalian sering enggak nonton kartun Upin-Ipin? Ya, meskipun mungkin kalian ada yang belum nonton, tapi kalian pasti tahulah ya kartun ini asal Malaysia dan sudah sangat terkenal. Dan kalau kalian ikutin berita baru-baru ini, ternyata Upin-Upin tuh sekarang enggak cuma e bisa ditonton doang, tapi juga udah ada game-nya. Nah, cuma yang akan kita bahas hari ini bukan perihal game-nya yang bagus atau game-nya tuh yang gimana gitu ya, tapi melainkan game ini ternyata ada kontroversi yang ditimbulkan. Nah, yang mana kasusnya bukan cuma bikin ribut komunitas, tapi juga nunjukin sisi gelap dari dunia gaming yang aduh kadang enggak masuk akal gitu. Kita bakal ngomongin soal developer game Upin-Ipin yang bikin salah satu gamers atau streamer Indonesia yang cukup terkenal yaitu Wind Basudara mendapatkan copyright gara-gara hak cipta lagu. Namun setelah ditelusuri ternyata problemnya jauh lebih dalam. Nah, karena ini bukan cuma soal copyright aja, Geng, tapi juga soal ya beberapa poin lain lah. Mulai dari harga game-nya yang katanya bikin kantong kering, terus juga ada apa ya, permasalahan pekerja lah dan lain-lain. Nah, bayangin aja nih, Geng, ya. Game yang kualitasnya bisa dikatakan ya seadanya grafik standar, gameplay-nya juga enggak terlalu kompleks, dan banyak bug-nya juga dengan harga yang cukup tinggi ya dijualnya. Bahkan harganya mencapai ya ngalahin beberapa game triple A yang jauh lebih kompleks dan punya reputasi global. Nah, emang berapa tuh harganya? Ya, jadi nanti kita bakal bahas lah ya. Harganya tuh cukup mahal dan enggak masuk akal. Terus enggak cuma itu, ada isu-isu lain yang memperkeruh suasana karena di balik harganya yang mahal ada dugaan penelantaran karyawan dan lingkungan kerja yang toxic. Langsung aja nih kita bahas secara lengkap tentang kontroversi game Upin-Ipin ini. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry [Musik] Genggeng. Oke, untuk pembahasan yang pertama kita akan membahas permasalahan dari game Upin-Ipin ini yang ternyata ya itu sampai melibatkan Windah Basudara sampai membuat Windah Basudara enggak mendapatkan benefit. Malah kabarnya akunnya sampai kena peringatan dari YouTube gara-gara ya pihak dari game ini mengklaim musik yang ada di game tersebut. Pokoknya terdengar sangat tidak profesional. Oke, pembahasan pertama kita bahas yang itu dulu. Jadi, Geng, semua ini bermula saat game Upin-Ipin ini dirilis pada Kamis, 17 Juli 2025 ya. Yang mana di saat itu banyak para gamers yang menganggap bahwa gameplay-nya dianggap biasa aja dan monoton banget. tapi harganya malah terlalu mahal. Nah, menurut beberapa platform yang gua dapatkan ya, ini ada beberapa harga yang dirilis tentang game Upin-Ipin ini. Upin-Upin Universe Team dan Epic Game ya untuk PC itu seharga RM17,39ia atau sekitar Rp686.000. [Musik] Terus selanjutnya di PlayStation Store PS4 PS5 seharga Rp172,18 atau sekitar Rp66.000. Dan yang terakhir ada di Nintendo Switch seharga 169,92ia atau sekitar 657.000. Jadi range harganya itu ya antara 650 sampai 680-an. Jadi akhirnya harga ini memicu perdebatan, Geng. Karena game ini diposisikan sebagai game keluarga dengan visual yang sederhana dan gameplay-nya juga kasual. Nah, banyak gamer Malaysia yang merasa angka penjualannya itu gak sebanding dengan pengalaman yang ditawarkan, enggak sebanding dengan kualitas gameennya, kemahalan katanya. Mereka membandingkan dengan game kualitas triple A seperti Spider-Man 2 yang ada di PS5. Harganya RM249ia atau setara dengan Rp963.000. Terus ada game Hogwards Legacy, harganya RM269ia atau setara Rp1.40.000an gitu. Dan yang terakhir, Elden Ring seharga R249ia atau setara Rp963.000. Tapi game-game tersebut dengan konten yang lebih kompleks ya, grafik kelas atas dan jauhlah dengan game Upin-Ipin universe yang bisa dibilang sangat standar gitu yang artinya ya di dalam hal ini kalian bisa lihat harga game Upin-Ipin Universe ini dijual mendekati harga game triple A yah dihitung mahal banget sih memang ya kalau kita lihat gitu ya yang mana anggaran videonya ya kan kalau video triple A itu kan anggarannya besar biasanya dikembangkan oleh studio besar. Nah, padahal secara konten kalau game dari Upin-Ipin ini ya kayak game indie gitu, Geng. Di Steam cuma 49% ulasan yang awalnya positif, banyak kritik datang dari bug, terus masalah performanya, visual yang enggak konsisten, dan polis teknis yang dirasa kurang maksimal. Bahkan hingga beberapa pengguna mengaku diblokir dari forum Steam setelah membahas isu ini. Nah, sementara pihak developer itu belum memberi pernyataan resmi. Jadi, kayak udah jelek anti kritik lagi tuh game-nya. separah itu. Tapi karena antusias yang tinggi, tetap banyak yang memainkan game ini. Salah satunya ya YouTuber atau streamer atau gamer asal Indonesia yaitu Bang Windah Basudara yang memainkan game Upin-Ipin sambil nge-live. Dan di dalam live tersebut Winda Basudara mendapatkan view yang meledak sampai dengan angka 4,2 juta views dalam kurun waktu kurang dari 10 hari. Karena live-nya yang dilakukan meledak, banyak yang bilang kalau Winda Basudara ikut melakukan promosi game tersebut. Jadi dengan kata lain tuh ya gara-gara Winda Basudara ini game bisa terkenal juga gitu. Dan seharusnya ya kalau kayak gitu kan Winda Basudara dapat kompensasi ya, tapi di sini dia enggak dapat kompensasi sama sekali. Nah, yang ada nih malah muncul masalah nih pada Windah Basudara di saat setelah dia melakukan streaming yang mana video replay dari streaming dari live streaming-nya dia itu malah terkena klaim hak cipta dari pihak developer. Mereka mengklaim bahwa konten game yang ditayangkan itu termasuk musik dan footage di dalam game melanggar hak cipta. Ini gimana sih? Aneh banget ya kan? Udah dipromosiin, udah dibantuin besar, dibantuin naik, malah hak dari streamer juga diambil. Akibatnya YouTube secara otomatis menghentikan monetisasi ya, hak untuk mendapatkan uang dari Windah Basudara melalui video yang dia udah capek-capek bikin streamnya dan lalu hasil dari pendapatan AdSense-nya itu disalurkan ke pihak studio, pihak pengklaim, pihak pembuat game-nya. Benar-benar rakus banget ya. Dan dengan masalah ini Windah kehilangan potensi pendapatan sekitar ya R juta atau something lah, mungkin bisa ratusan juta ya kalau sekelas Windah Basudara. Dan klaim hak cipta ini muncul empat kali di satu video, Geng. Nah, membuat channelnya itu hampir terancam terkena penalti jika gak segera diselesaikan. Padahal Winabudara memainkan game ini secara fair, tanpa dimodifikasi, tanpa pelanggaran teknis, atau tanpa mengkritik dan menjelek-jelekkan dari sisi manapun. Nah, di saat itu dia bahkan sudah sempat mengajukan sengketa atau klaim ya terhadap video tersebut. Namun proses penyelesaiannya atau proses penyelesaian klaim copyright-nya membutuhkan waktu dan tidak menjamin hasil yang positif. Di situlah kesal banget gua sebagai kreator ya yang paham juga dengan YouTube, gua tahu banget nih rasanya gimana. Udah gitu urusannya sama studio besar kan bisa-bisa channel Bindab Basudara kena suspen dan itu waduh enggak lucu ya. Udah enggak dibayar ya kan udah mempromosikan game yang enggak seberapa ini tapi malah berefek atau berdampak pada si kreatornya itu tai sih. Jujur aja kalau lu nanya gua di pihak siapa? Gua di pihak Windah sih kalau di dalam hal ini ya. di pihak Windah banget karena wah tahi banget. Gua bisa bilang tahi sih ini game nih. Kalau boleh jangan di-download deh, Geng. Biar bangkrut sekalian. Terus, Geng, masalah selanjutnya muncul. Ini benar-benar perusahaan yang rakus dan tamak banget. Udah ngeklaim, tapi tiba-tiba beberapa cuplikan dari live streamingnya Windah malah dipakai secara sepihak oleh mereka tanpa izin resmi dipakai oleh pihak media sosial resmi game Upin-Ipin Universe sebagai bagian dari konten promosi mereka. Udah duit AdSense-nya diambil, channel orang udah hampir hilang, hampir suspen, sekarang malah nyuri. Ini kan jatuhnya nyuri gitu. Dan mereka mengambil klip dari video Windah tanpa izin ya. Enggak ada kredit atau source dan menggunakan eh apa ya klip Winda Basudara ini sebagai bukti bahwa game mereka ini viral dan ramai dimainkan oleh kreator populer seperti Winda. Dan hal ini dinilai sebagai bentuk pemanfaatan tanpa izin yang melanggar etika. Ya, mencurilah. dan Windah memberikan exposure besar namun tidak dihargai. Justru klip dari siarannya dia diambil dan digunakan ulang oleh pihak yang tidak bertanggung jawab ini sebagai materi promosi resmi perusahaan mereka yang tentunya memberikan keuntungan lebih kepada pihak mereka sendiri tanpa memikirkan nasib Windah Basudara. Winda Basudara udah enggak dapat benefit. Sekarang dia harus menyelesaikan ya apa ya kalau di YouTube tuh kena strike gitu dan itu bahaya banget, Geng. Di saat itu ya, awalnya Winda Basudara mengira kalau copyright yang didapatkan oleh dia itu karena lagu yang dipakai di gameennya ya, itu lagu dari animasi ya. Tapi ternyata developernya sengaja bikin lagu untuk gameennya terus di-upload di YouTube biar bisa diklaim copyright. Dan kejadian ini enggak cuma terjadi di Indonesia, melainkan beberapa live streamer lain yang mengalami hal yang sama dengan Winda. Dan hal ini diklaim langsung oleh pihak Leskopaku. Huh, enggak jelas banget nih perusahaan. Dan akhirnya karena dianggap ini game terlalu problematik ya, banyak yang memboikot game ini. Boikot ini dilakukan dari sebagian komunitas gamer Malaysia ya dan juga gamer-gamer lain terutama di Indonesia. Nah, ada tagar #boikot Upin-Iipin Game dan #igamers bukan budak kartun. Nah, itu menjadi trending di Twitter Malaysia. Beberapa kreator konten game bahkan membuat video review bernada satir terhadap game tersebut. Dan tagar ini juga mulai ramai di media sosial. Dan saking banyaknya hujatan yang diberikan oleh netizen terkait game Upin-Ipin, pihak dari Lesk Kopaku akhirnya memberikan klarifikasi, Geng, melalui sebuah video. Ya, standar lah kalau udah ramai kayak gini ya, mau enggak mau kan klarifikasi, tapi kan enggak menyelesaikan masalah gitu. Nah, di dalam video klarifikasi mereka tersebut, mereka menegaskan klaim tersebut bukan tindakan disengaja, melainkan murni akibat sistem otomatis YouTube katanya. ya. Seharusnya sekelas mereka paham gitu ya, kalau di YouTube itu memang ada sistem otomatis claim memang atau sistem otomatis klaim copyright kalau lagunya sudah didaftarkan ke YouTube music gitu ya. Seharusnya kan diantisipasi dari awal. Udah tahu lu perusahaan game yang mana game lu bakal di-review sama kreator-kreator, hargailah hak kreator juga. Udah lu enggak bayar ya kreator mau dapat dari AdSense ya apa salahnya gitu. Mereka juga bilang ini kesalahan teknis. Mereka tidak berniat merugikan Windah ya. khusus mereka bilang tuh Windah karena mereka takut Windah ini kan gede banget dan mereka bilang kalau ini penyebabnya adalah musik di dalam game Upin-Ipin Universe yang terdeteksi sebagai konten berhak cipta oleh sistem konten ID. Nah, namun karena popularitas Windah Barsudara kasus ini jadi viral. Mampui enggak tuh? Dan Lesk Kopaku juga menegaskan kalau mereka memiliki hak untuk mengklaim produk kreatif termasuk musik sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta dan Konten ID. Ya, tapi kenapa harus nyuri cuplikan Windah juga untuk promosi kalian? Kalau kalian aja enggak ngizinin Windah mendapatkan benefit dari video yang dia buat. Nah, kemudian perihal tersebut ya soal cuplikan live-nya Windah yang dijadikan konten promosi oleh mereka, Lesk Kopaku menyebut kalau niatnya cuma untuk mengapresiasi para streamer dan mereka sendiri mengakui bahwa mereka merasa terkesan dengan reaksinya Windah ketika bermain game Upin-Ipin. Hah, Tahi kotok ya. Kalau memang mengapresiasi ya jangan diklaim juga lah hak benefitnya. Kalian kan nyari untung di situ, masa kreator gak boleh untung juga. Kan simbiosis mutualisme. Dan di dalam hal ini ya Leskopaku mengkonfirmasi kalau mereka itu sedang dalam proses penyelesaian masalah klaim hak cipta ini, katanya. Dan mereka menyatakan sudah berkomunikasi secara langsung dengan para streamer yang terdampak termasuk dengan Windah untuk mencari solusi yang mana di antaranya menawarkan untuk menonaktifkan suara musik yang terkena copyright dan menggantinya dengan musik lain. Ternyata solusinya tidak tidak asik ya. Nah, dan mereka juga sedang menyiapkan fitur streamer mode supaya para contontreator aman saat bermain Upin-Upin Universe. Ya, ingat tuh, aman. Berarti untuk sekarang tuh enggak aman ini game. Jadi, jangan dimainin, ya, Geng. Dan Leskopu menekankan komitmen mereka untuk memastikan bahwa semua contonent kreator bisa mendapatkan pendapatan yang layak dari karya mereka. Karena mau bagaimanapun, para streamer game ini secara enggak langsung ikut mempromosikan gameennya. Padahal mereka juga gak di-endorse oleh pihak developer seperti si ya Lesk Kopaku ini atau pemilik IP dari Upin-Ipin juga enggak. Nah, terus geng Leskopu juga memanfaatkan klarifikasi ini untuk membantah rumor yang beredar terkait karyawan dari Streamline Studio yang sampai sekarang katanya belum mendapatkan bayaran atas kerja keras mereka dalam pembuatan game Upin-Ipin. Nah, ini juga seru nih untuk kita bahas nih. Mereka dengan tegas membantah rumor tersebut dengan menjelaskan kalau pengembangan game Upin-Ipin memakan waktu selama 3 tahun dan investasinya sebesar RM15 juta atau setara Rp50 miliar yang sepenuhnya sudah dibayarkan ke pengembang dari game tersebut. sehingga seharusnya enggak mungkin gaji dari karyawannya enggak terpenuhi, katanya. Dan di akhir klarifikasinya, Leskopu ini menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan serta menghimbau publik agar tidak menyebarkan berita palsu atau hoaks, katanya. Nah, ini kalau gua yang menyebarkan berita ini, gua enggak nyebarin hoaks ya. Gua menyebarkan atau gua menceritakan atau gua merangkum cerita yang ada di media mainstream. Jadi kalau misalkan kalian merasa gua nyebarin hoak, ya lu protes ke media mainstream karena pemberitaan tentang Leskopu ini udah banyak banget gitu. Oke, tadi sempat gua singgung ya soal eh katanya dugaan gaji karyawan di salah satu perusahaan partner dari Leskopu yang bernama Streamline Studios. Rumornya tidak membayar gaji karyawan dan juga tidak apa ya kayak tidak menghargai karyawan katanya gitu ya. Nah, sekarang kita coba bahas nih benar enggak kayak gitu. Langsung aja. Jadi, Geng, game Upin dan Ipin Universe adalah hasil kolaborasi antara dua kekuatan kreatif dari Malaysia, yaitu Les Kopu Production dan Streamline Studios. Masing-masing punya peran penting dalam membentuk game ini dari sisi cerita hingga teknis. Dan untuk Lesk Kopaku Production sendiri ya, kreator dari Upin-Ipin, mereka merupakan studio animasi yang berdiri sejak 2005 di Syah Alam, Malaysia. Mereka juga merupakan pencipta asli dari serial Upin dan Ipin yang sudah ditayangkan lebih di 100 negara. Mereka juga bertanggung jawab atas aspek kreatif di dalam game seperti cerita dan juga karakter, nuansa kampung durian runtuh, visual dan budaya khas Malaysia, ya. Semuanya itu Les Kopu yang ngurusin. Nah, dan Les Kopaku ini juga harus memastikan game tersebut tetap setia pada identitas serial animasinya, termasuk musik dan elemen budaya yang bernuansa Malaysia. Nah, terus selanjutnya mereka ini kan bekerja sama dengan Streamline Studios yang merupakan pengembang game profesional. Nah, buat yang gak tahu, Streamline Studios ini merupakan studio game global yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun. Mereka juga pernah terlibat di dalam proyek besar seperti Final Fantasy 15, terus ada Street Fighter 5, terus ada eh Killer Instinct dan juga Mortal Kombat. Nah, mereka ini ahli dalam pengembangan penuh game triple A, layanan teknis, serta kolaborasi dengan studio kreatif lain di seluruh dunia. Nah, di dalam proyek ini ya mereka itu menangani aspek teknis seperti desain dunia open world, sistem ee permainan dan interaksi serta penggunaan Unreal Engine 5 untuk membangun dunia digital Kampung Durian Runtuh di dalam kartun Upin-Ipin ya dalam bentuk game-nya. Dan mereka bertugas menerjemahkan visi kreatif dari Les Kopu ke dalam e game yang bisa dimainkan di berbagai platform. Terus, Geng, ternyata di balik semua gemerlat perluncuran Upin-Ipin Universe ini muncullah sebuah laporan yang mengejutkan dari para karyawan Streamline Studios yang mengaku mengalami keterlambatan pembayaran gaji selama berbulan-bulan. Nah, keluhan ini tertulis di media Nia Gaming. Beberapa poin penting dari laporan tersebut antara lain gaji karyawan yang terlambat hingga 2 bulan. Dan ini terungkap dari karyawan yang aktif yang mengaku harus bekerja tanpa bayaran selama hampir 2 bulan tersebut. Dan strip gaji mereka pun baru keluar jauh setelah periode kerja yang seharusnya dibayar. Terus selanjutnya ada pembayaran IPF yang tertunda. Jadi kontribusi ke IPF atau employee providen fund ini atau skema pensiun wajib di Malaysia itu juga diketahui sempat tidak dibayarkan nih oleh si studio itu. Dan meski manajemen berjanji akan melunaskannya ya hingga Maret 2025 janji itu belum ditepati. Nah, selanjutnya nih skema pesangon cicilan yang enggak dibayarkan juga. Nah, pesangon itu untuk karyawan yang diberhentikan. Terus selanjutnya, perusahaan juga menerapkan sistem pesangon berbasis cicilan. Gimana tuh pesangonnya dibayar nyicil gitu. Nah, dan awalnya itu cicilannya 3 bulan. Namun, beberapa kasus dilaporkan malah molor sampai 1 tahun cicilannya baru lunas. Nah, selanjutnya prioritas bayar berdasarkan urgensi katanya. Dan hal ini diketahui dalam email internal yang berisi bahwa manajemen meminta karyawan yang sangat membutuhkan uang untuk melapor agar bisa diprioritaskan terlebih dahulu. Ini kan aneh banget ya. Hal ini menimbulkan kesan bahwa pembayaran gaji menjadi opsional aja dan enggak merata. Siapa yang lagi butuh ya udah kita bayar duluan kayak gitu. Itu sistem gaji kayak gimana tuh? Dan yang terakhir ada kerja proyek tambahan tanpa dibayar. Jadi kayak mereka lembur atau mereka seharusnya mendapatkan bayaran lebih tapi enggak dibayar. Kayak bonus-bonus gitu enggak ada. Dan mereka meminta beberapa karyawan untuk menyelesaikan proyek tambahan dengan tenggat waktu yang ketat dan diancam tidak akan dibayar jika proyek tersebut tidak selesai. Bahkan nih, Geng, salah satu karyawannya menulis kalau Streamline Studio memperlakukan seniman seperti sumber daya yang bisa dibuang, bukan sebagai manusia yang diberi nyawa pada proyek mereka. Kayak gitu. Jadi, kalau udah habis, sudah selesai, udah dibuang gitu aja gitu. Dan mereka juga menuntut bahwa mereka perlu mengingat di dalam Employment Act 1955 Malaysia tentang keterlambatan gaji lebih dari 1 minggu itu udah bisa dibawa ke meja hukum. Nah, jadi geng buat yang gak tahu nih, Employment Act 1955 ini atau Undang-Undang Ketenagakerjaan 1955 milik Malaysia merupakan bagian penting dari Undang-Undang Malaysia yang menguraikan standar minimum untuk kondisi ketenagakerjaan, termasuk jam kerja, upah, dan juga cuti dan prosedur pemutusan hubungan kerja. Makanya orang-orang pada heran kok bisa pelunasan gaji, pelunasan pesangon dibayar nyicil. Kalau kita di sini kayaknya udah ngamuk-ngamuk gitu ya. Dan pelunasan secara cicilan ini ternyata ggak baru dilakukan nih oleh Streamline Studio. Udah sering. Berdasarkan cerita dari karyawannya, skema pesangon yang dibayarkan secara cicilan ini juga pernah dilakukan beberapa kali sebelumnya. Nah, mungkin karena mereka udah merasa aman diulang-ulang terus gitu. Bahkan ya, Geng, meskipun Streaml Studios terlibat di dalam proyek besar pembuatan dan pengembangan game Upin-Ipin ini, ya, sepertinya perusahaan masih kesulitan untuk membayar para karyawan mereka menurut pengakuan dari perusahaan. Dan para karyawan juga bercerita ke media and Mia Gaming kalau mereka itu belum mendapatkan bayaran sama sekali atas pekerjaan yang udah mereka lakukan. Ini udah kayak perbudakan di era modern enggak sih, Geng? Lu mau enggak kira-kira disuruh kerja tapi enggak bayar? Bukan enggak bayar sih, maksudnya bayar aja besok-besok nyicil-nyicil enggak akan ada yang mau. Dan lebih buruknya lagi ya, Geng, agar mereka bisa dapat bayaran, mereka justru dipaksa untuk mengerjakan proyek lain secara cuma-cuma. Jadi kayak lu mau dibayar cepat, ya udah nih lu ada kerjaan tambahan nih. Lu kerjain ini, entar lu diprioritasin deh, dibayar cepat deh gaji lu. Wah, ini aneh banget. Dan kalau proyeknya itu enggak selesai, mereka diancam enggak akan dibayar sama sekali untuk pekerjaan utama mereka yang sebelumnya sudah selesai. Nah, untuk bisa mendapatkan uang, akhirnya beberapa karyawan harus mengambil tambahan pekerjaan dari departemen lain. Contohnya nih, Geng, ya. Ada seorang mantan karyawan nih yang cerita kalau ada karyawan Quality Assurance atau QA yang tiba-tiba diwajibkan untuk mengerjakan QA. Nah, sekedar informasi nih, Q itu bagian ee yang tugas utamanya itu untuk ngetes produk gitu. Mencari dan melaporkan bug juga dan memastikan hasil akhir produk agar sesuai dengan standar. Ada juga nih karyawan yang bekerja di bagian desain tiba-tiba harus mengambil job des yang berkaitan dengan pemrograman dan itu kan enggak nyambung. Nah, akhirnya mereka merasa ya mereka tidak diperlakukan manusiawi, tidak sesuai dengan jobd des-nya. Pembayaran gaji mereka ya ditunda-tunda tapi mereka benar-benar enggak mendapatkan haknya. Nah, itu dia beberapa informasi yang gua dapatkan tentang dugaan penelantaran karyawan dan tidak dibayarnya gaji karyawan dari kedua perusahaan yang membuat game Upin-Ipin Universe 2025 ini serta beberapa keluhan dari para karyawannya. Nah, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan nih, Geng. ketika diketahui lingkungan kerja Leskopu yang ternyata toxic banget. Kita bahas. Jadi, Geng, hal ini pertama kali diketahui dari salah satu postingan di X dengan akun Peay, ya. Ini bacanya Pulray atau Peulay gitu, ya. Nah, jadi di dalam postingan itu dia menyebutkan bahwa bukan hanya Streamline Studio aja yang merupakan tempat kerja yang bermasalah, tetapi dia bilang juga mitra kerjanya sendiri yaitu Leskopu juga merupakan tempat kerja yang problematik. Nah, dia menyebutkan kalau Leskopaku ini juga perusahaan yang sangat bermasalah, tempat kerja yang toksik dengan para petinggi yang kebanyakan gila katanya gitu. dikatakan di saat itu ya mereka itu menjelek-jelekkan animasi lokal bahkan ya mereka ya sampai mengancam karyawannya sendiri jika ada karyawannya yang memuji animasi-animasi lain. Bahkan sampai ada juga yang mengatakan kalau Streamline Studio itu merumahkan karyawannya atau memecat karyawannya untuk alasan-alasan yang enggak jelas. Nah, ada juga yang membahas tentang stagnasi kreatif dan ancaman dari rival mereka. Beberapa komentar menyebutkan bahwa franchise Upin-Ipin itu stagnan dan tidak berkembang. terutama jika dibandingkan dengan rival seperti Egen Ali yang sukses besar di box office dan beberapa saingan-saingan mereka lain. Budaya kerja mereka di sana tuh buruk banget dan disebut sebagai salah satu penyebab turunnya kualitas konten-konten atau video-video dari Upin-Ipin ini. Terus ada lagi, Geng, podcast Les Kopaku yang memicu kecaman karena membahas tentang drama kantor di publik. Jadi pembuat animasi Upin-Ipin ini menghadapi kritik tajam setelah beberapa petingginya termasuk direktur pelaksana mereka, direktur kreatifnya, terus penulis naskah dan juga manajer HR atau sumber daya manusia mereka itu membahas isu internal kantor di dalam podcast YouTube mereka. Topik yang dibicarakan itu termasuk bonus dan gaji karyawan yang sebenarnya itu kan enggak boleh dibicarakan ke hadapan publik. Di saat itu juga mereka ngomongin soal cuti medis, keterlambatan masuk kerja, dan lain-lain. Ya, walaupun di saat mereka bercerita di podcast itu, mereka enggak nyebut nama karyawannya, tapi isi obrolannya itu dianggap merendahkan staf dan melanggar etika profesional. Apalagi dilakukan di platform publik dengan jutaan subscriber yang akhirnya banyak memunculkan komentar publik yang menilai tidak dewasanya dan tidak profesionalnya pihak mereka. Serta netizen juga menyebutkan tindakan tersebut sebagai hal yang tidak pantas dan mencerminkan kepemimpinan yang tidak dewasa. Banyak yang kaget, tapi ada juga yang tidak terlalu terkejut karena rumor soal lingkungan kerja toksik di Leskopu ini sudah beredar sejak beberapa tahun yang lalu. Jadi kayak orang tuh udah biasa aja ngedengar itu. Nah, menurut netizen ini sangat ironi karena mereka melarang karyawannya untuk berbicara tapi manajemennya sendiri malah gosip terbuka. Terus geng, yang membuat publik semakin geram adalah pernyataan dari manajer HR mereka bahwa staff itu tidak boleh membahas masalah kantor di media sosial pribadi. Padahal mereka sendiri udah melanggar prinsip tersebut di podcast terbuka. Komentar pedas itu bermunculan menyindir ego manajemen dan meminta mereka untuk bercermin gitu. Dan akhirnya ini berdampak langsung nih untuk reputasi ramah keluarga yang diusung oleh Los Kopaku yang mana ini langsung tercoreng karena mereka sebagai studio animasi dikenal dengan konten anak-anak malah tidak mencerminkan itu. Dan tindakan ini sangat bertolak belakang dengan citra publik mereka. Nah, banyak yang menyayangkan bagaimana manajemen tersebut memperlakukan stafnya secara terbuka dan merendahkan mereka di publik. Ada beberapa komentar yang gua dapatkan di channel YouTube mereka ya. Yang pertama itu dari Awanistatics 89. Di YouTube dia itu mention kepada seluruh karyawan Leskopaku. Dia bilang bahwa atasan kalian menjelek-jelekkan kalian secara terbuka dan ini merupakan hal yang sangat tidak profesional dan sejujurnya menunjukkan betapa tidak dewasanya manajemen puncak di dalam menangani masalah ini. Untuk sesuatu seperti animasi ramah keluarga sungguh menyedihkan bagaimana mereka memperlakukan kesejahteraan stafnya. Nah, komentar ini mengungkapkan kekecewaan netizen dengan menyatakan bahwa untuk sebuah rumah perusahaan animasi yang seharusnya ramah keluarga, perlakuan terhadap staf mereka tampak sangat buruk. Terus ada juga nih, Geng, komentar dari akun YouTube bernama Nick Studio. Dia ini bilang kalau dia udah enggak heran dan dia juga udah bilang bahwa ya walau dia tidak bekerja di industri animasi tersebut, tapi lingkungan Leskopaku yang toxic itu sudah dikenal sejak dari 5 sampai 6 tahun yang lalu. Dan podcast ini ya membuktikan kalau ketoksikan tersebut ya akhirnya terbongkar juga atau terlihat juga ke muka publik. Terus ada juga yang mengkritik para atasan dari Leskopu karena secara terbuka berbicara negatif tentang karyawan mereka di platform publik dengan jutaan pelanggan. Di dalam komen oleh akun yang bernama Nathan ini dia bilang kalau mereka menjelek-jelekkan karyawan mereka sekeras ini di podcast ya di publik gitu kan yang lebih dari 17,5 juta pelanggan. Bayangkan aja betapa kasarnya mereka di ruang pribadi yang enggak dilihat orang. kasihan karyawan-karyawannya ini. Nah, bos-bos mereka itu benar-benar gak peduli dengan mereka. Itu kata netizen. Terus, geng, semua komentar dari para netizen ini mendapatkan respon langsung dari pendirinya Leskopaku, yaitu Burhanuddin MD Radzi. Dia ini bilang, ya, dia bilang gini nih di dalam postingan Facebook-nya, "Ayo kita move on." katanya setelah baca semua komentar yang kebanyakan dari mantan staff dan jujur vibes-nya penuh dengan nyinyiran soal kesuksesan kita. Buset, malah dilawan netizennya sama dia. Sekarang udah mulai ke arah fitnah katanya dan tuduhan yang gak masuk akal. Buat yang penasaran sama Leskopu dan dia juga bilang e soal perjalanannya dia yang udah bangun semuanya ya bisa dibaca langsung di bukunya dia malah nyuruh beli buku. Dan dia juga bilang, "Sekarang saatnya kita fokus ke depan. Tim dia yang udah solid kini sudah lebih dari 200 orang dan bakal sibuk banget sampai akhir tahun katanya. Jadi tunggu aja. Mereka janji bakal mengumumkan beberapa projek baru yang keren buat dorong ekonomi digital Malaysia biar makin maju. Buat yang pengin balik, silakan apply. Nah, kalimatnya kayak gitu. Karena kan dia nganggap ini yang komentar-komentar ini para netizen ini adalah mantan karyawannya E Lesk Kopaku yang sudah dipecat atau yang sakit hati gitu. Jadi, makanya dia bilang, "Buat yang pengin balik lagi, silakan apply. Maksudnya apply lamaran lagi." Nah, terus dia bilang, "Tapi kalau belum rezeki dan enggak kepilih, jangan maksa. Lanjut aja hidup masing-masing. Thank you." Wah, gila. Dan di saat itu dia ngomong kayak gitu sambil mamerin mobil-mobil mewahnya dia dan buku biografinya dia. Dan dia berterima kasih kepada seluruh penggemarnya yang masih mendukung dia juga. Dari sini aja kita bisa lihat ya betapa toxicnya. Sombong banget. Petingginya aja bisa kayak gitu loh. Foundernya bisa kayak gitu. Gila. Tapi ya dari kalian sendiri gimana, Geng? Terutama kalian yang sudah sempat main game ini atau ngikutin kasus ini. Apakah rumor soal gaji karyawan yang enggak terpenuhi ini benar atau enggak? Atau ini cuma sebatas strategi marketing aja? agar menaikkan promosi dari game ini. Coba deh kalian tinggalkan komentar di bawah. Itu dia, Geng, pembahasan kita kali ini tentang bagaimana bisa game yang harganya mahal tapi tidak sesuai dengan kualitasnya. Mulai dari banyak bug, karakter kaku hingga cerita yang monoton dan membuat banyak orang memboikot game ini karena game ini juga tidak menghargai para streamer. Salah satunya yang paling besar yaitu Windah Basudara. Gimana, Geng, menurut kalian tentang hal ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.