DONALD TRUMP ANCAM INDONESIA DENGAN TARIF IMPORT KARENA DEKAT DENGAN BRICS & RUSIA?
32Nz2Zr11rI • 2025-07-28
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Geng, kali ini kita bakal membahas sebuah topik yang mungkin lagi hangat-hangatnya di dunia maya dan mungkin juga bikin kening kita tuh jadi mengkerut ya. Karena aduh berusan sama Amerika lagi. Kalian pernah dengar enggak sih, Geng, soal Donald Trump yang suka masang tarif untuk barang-barang impor dari negara lain? Nah, sekarang ternyata mereka melakukan hal yang sama yaitu penetapan tarif Trump terhadap Indonesia negara kita. Ancaman tarif Trum ini bukan sekedar angka-angka aja, tapi juga cerita rumit di balik diplomasi, intrigopolitik, dan masa depan perdagangan negara kita. Nah, kalian sadar enggak sih, Geng, kalau handphone yang kalian pegang sekarang, elektronik yang kita punya, ya kan, atau baju yang kita pakai atau bahkan makanan olahan yang ada di negara kita untuk diekspor sekarang itu nasibnya sedang di ujung tanduk. Donald Trump kembali berulah. Presiden Amerika Serikat ini baru aja ngetok palu tarif impor sebesar 32% nih. Ini pada awalnya nih ya 32% untuk semua barang di Indonesia ya. Tinggi banget gitu. Katanya sih karena defisit perdagangan mereka yang bengkak. Nah, Donald Trump juga mengancam mau nambahin lagi tarif 10% dan ini benar-benar mengkhawatirkan. Nah, apa yang dituju oleh Donald Trump ini? Apakah ini adalah perang atau cemburu politik? Nah, langsung aja nih kita masuk ke dalam pembahasannya. Gimana nih keputusannya? Gua yakin beberapa dari kalian udah pernah mendengar tentang pembahasan ini di media-media ya. Yang mana pada akhirnya kan dari 32% sempat turun ke 16% dan ya beberapa keputusan lain lah. Tapi nanti di sini kalian akan mendengar ee apa ya runutan permasalahannya. Gua akan berusaha menjelaskan sedetail mungkin dan seringan mungkin kepada kalian supaya kita sama-sama paham tentang perihal ini dan juga apa dampaknya untuk kehidupan kita sebagai warga negara Indonesia. Nah, langsung aja kita bahas secara lengkap tentang kasus ini. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry [Musik] Genggeng. Untuk pembahasan pertama, kita bahas dulu tentang awal mula negosiasi dan keputusan Donald Trump ya terhadap aturan-aturannya ini. Jadi, geng kalian ingat enggak? Pada tanggal 2 April 2025 kemarin, dunia perdagangan Indonesia dikejutkan oleh sebuah kebijakan yang datang dari gedung putih Amerika. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara resmi menetapkan tarif impor baru sebesar 32% untuk semua produk yang masuk dari Indonesia ke negara mereka. Kebijakan tarif ini merupakan kelanjutan dari strategi tarif resiprokal. Nah, biar gampang nih ya bayanginnya kayak gini nih. Nih ee kurang lebih ya gua kasih contoh. Misal nih produsen MB dari Jepara ya, pembuat mebel tukang mebel dari Jepara Jawa sana itu ngejual produk mereka ke Amerika. diekspor ke Amerika seharga Rp10 juta. Gara-gara tarif ini ya yang diberlakukan oleh Donald Trump, harganya di sana bisa langsung melonjak jadi 13,2 juta. Nah, mungkin menurut kalian, "Wih, bagus dong, malah lebih mahal harganya." Ya, tapi bukan di situ permasalahannya. Permasalahannya adalah ya daya jualnya jadi ee apa ya? jatuh gitu. Memang harganya meningkat, tapi daya jualnya jatuh. yang seharusnya bisa dijual dengan harga yang relatif murah, cepat laku. Nah, tapi harus dinaikkan harganya dan lakunya susah. Hal ini sama aja kayak dia tuh secara enggak langsung tuh kayak pengin ngghalangin kita jualan gitu. Dan ini adalah persaingan pasar yang juga harus terkena 32% ee yang dikenakan oleh Donald Trump. Nah, namun tenang Geng, pemerintah Indonesia di saat itu enggak cuma diam dan enggak cuma menerima begitu aja tentang tarif ini. Nah, pemerintah Indonesia langsung mengirimkan utusan untuk bernegosiasi dengan Donald Trump. Nah, kenapa demikian? Kenapa ditanggapi serius banget? Pasti kalian akan bilang, "Ya udah, kalau memang Amerika bertingkah, enggak usah dijual ke Amerika." Enggak bisa gitu. Karena memang salah satu konsumen terbesar tentang produk-produk ee ekspornya kita itu ada di sana. Ya, mereka konsumtif untuk barang-barang buatan kita juga. Nah, jadi memang harus banget diurus hal ini. Kalau enggak kasihan pengusaha-pengusaha dan juga yang kelas UMKM yang ee menjadi vendor, yang menjadi supplier gitu kan. kasihan nanti barang-barangnya jadi enggak bisa kejual. Nah, lalu geng utusan dari Indonesia yang merespon keputusan dadakan ini, pemerintah Indonesia langsung mengirim mereka dan di saat itu pintu negosiasi pun dibuka dengan Amerika dengan menawarkan beberapa hal. Yang pertama mengenai penawaran investasi di sektor mineral kritis seperti nikel, tembaga yang penting untuk industri kendaraan listrik, militer, dan teknologi tinggi. Nah, jadinya tuh kayak kita tuh mohon-mohon ke Amerika kayak boleh dong turunin nanti sebagai gantinya lu boleh invest di pertambangan kita deh gitu. Nah, tawaran ini diajukan melalui kemitraan antara Amerika danantara yang dibentuk oleh Presiden Prabowo. Dan mineral kritis seperti tembaga itu sangat dibutuhkan oleh industri elektronik, militer dan antariksa. Yang kedua ya tawarannya adalah perihal peningkatan impor produk Amerika. Nah, jadi apa ya? Kayak kita tuh nawar kayak gini kayak turunin dong ee ininya apa tarifnya. Nanti kalian boleh impor lebih banyak deh ke negara kita. Jadi benar-benar kayak memohon-mohon gitu negara kita ke mereka. Dan di dalam negosiasi ini, Indonesia bersedia untuk meningkatkan pembelian produk asal Amerika seperti kacang kedelei dan juga gandum. Padahal ya produk petani kita juga bagus di sini. Nah, yang mana menurut pemerintah kita, pembelian kacang kedelei dan juga gandum dari Amerika ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan neraca dagang katanya. Dan pemerintah kita juga bakal membeli LPG serta LNG dari Amerika. Nah, langkah ini diharapkan oleh pemerintah kita bisa membantu mengurangi defisit perdagangan Amerika terhadap Indonesia yang menurut data tercatat dari USTR itu bisa mencapai 17,9 miliar USD pada tahun 2024. Nah, selanjutnya ada penawaran lagi nih, yaitu penawaran relaksasi aturan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN. Nah, Amerika ini, Geng, sebelumnya sempat mengeluhkan aturan kewajiban kandungan lokal yang dianggap menghambat produk serta investasi dari perusahaan mereka. Nah, Indonesia ini siap, Geng, untuk melonggarkan aturan TKDN ini. Jadi, kayak malah kita tuh yang mengalah gitu. khususnya untuk sektor teknologi informasi dan komunikasi dari perusahaan seperti Apple, GE, terus Microsoft dan juga Oracle. Yang keempat ya penawaran dari negara kita ke mereka nih yaitu melakukan deregulasi dan reformasi kebijakan impor. Nah, pemerintah mencabut peraturan Menteri Perdagangan Nomor 36 tahun 2023, Jungto nomor 8 tahun 2024 dan akan menggantinya dengan Permendak nomor 16 tahun 2025 serta 8 peraturan pelaksanaan yang lain. Aturan ini itu bakal mempermudah impor untuk 10 jenis komoditas asal Amerika demi meningkatkan daya saing ekspor Indonesia. Dan yang terakhir ya, pemerintah Indonesia juga bakal melakukan penyesuaian tarif bea masuk produk impor yang berasal dari Amerika dan masuk kategori most favor nation atau MFN. Tarif yang akan diturunkan semula 5% sampai 10% menjadi 0% sampai 5%, Geng. Jadi benar-benar kayak negara kita tuh mohon-mohon gitu ya. Pemerintah Indonesia bakal membentuk Satgas deregulasi sembari terus melakukan lobi penurunan tarif impor dengan Amerika. Yang mana salah satu pekerjaan dari Satgas ini adalah untuk memperbaiki kebijakan TKDN tadi. Nah, jadi dari pembahasan ini kita bisa lihat ya, Geng. Miris banget ya negara kita kalau sampai bakal kena pajak dari Amerika dan ya itu terjadi kalau kita mengekspor barang ke sana. Yang kerasa enggak adil itu adalah barang-barang Amerika yang masuk ke Indonesia justru enggak kena pajak. Padahal pajak dari Amerika itu juga penting banget buat pendapatan negara kita. Apalagi kita tahu sendiri ya sekarang kondisi perekonomian negara kita tuh lagi enggak bagus gitu kan. Jadi baik perekonomian kita dengan negara lain dan perekonomian dalam negeri kita sendiri itu sedang dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Nah, ibaratnya negara kita ini lagi diserang dari dua sisi sekaligus, Geng. Daya beli masyarakat turun sementara harga terus-terusan naik. Nah, uang yang mereka dapat di hari ini ya dipakai untuk bertahan hidup. Boro-boro mikirin uangnya ditabung atau untuk masa depan. Karena kan logikanya buat yang sekarang aja masih kesusahan atau kurang. Apalagi mikirin buat masa depan. Nah, karena faktor ini juga banyak orang yang usianya sudah 25 tahun ke atas yang masih enggak punya tabungan sama sekali. Beruntungnya nih ya, untuk sekarang tuh teknologi udah makin canggih dan internet ada yang membuat kita jadi terbantu dalam kegiatan sehari-hari. Dan sayang banget kalau kita tidak memanfaatkan kecanggihan teknologi ini untuk dijadikan sebagai cara untuk menghasilkan penghasilan gitu ya. Nah, dari semuanya gua rasa nih yang mungkin ini adalah opportunity yang bagus untuk kalian adalah untuk belajar menjadi seorang trader nih. Tapi khusus untuk kalian yang mau belajar ya ee tidak disarankan untuk kalian yang e tidak sepaham dengan profesi sebagai trader gitu. Karena gua lihat-lihat banyak yang enggak setuju. Katanya itu enggak benarlah, katanya itu enggak baiklah, segala macam. Padahal profesi trader itu ya itu adalah profesi yang resmi di muka bumi ini. Banyak orang yang bekerja sebagai trader. Kalian bisa cek sendiri di YouTubeyube itu banyak sekali kelas-kelas yang menyediakan tentang menjadi seorang trader tapi real trader ya, bukan penipuan gitu. Nah, saat ini memang udah ada beberapa platform yang menyediakan fitur untuk kalian menjadi seorang trader. Tapi ada satu yang e cukup gua rekomendasikan ke kalian, yaitu yang namanya Venex. Karena gua nyaranin Phoenix ini soalnya Phoenix merupakan platform yang terpercaya dan sudah memiliki lisensi dari BAPTI di tahun 2013 dan selain itu juga udah ada lisensi dari JFX serta KBI. Nah, dengan adanya lisensi ini pastinya Penex mendapatkan pengawasan dari lembaga negara kita yang menjamin keamanan data dana dari para penggunanya. Bukan seperti yang dilakukan oleh ya dua orang yang dulu mempromosikan ee Binom SQUI ya kan yang mana itu merupakan binary option. Jadi itu jangan kalau itu kan kalian nebak-nebak turun naik. Kalau ini ya kalian belajar untuk menganalisa pasar perdagangan. Oke, terus buat kalian yang masih baru mulai itu ngerasa kalian ragu gitu ya, kalian jangan khawatir. Soalnya Fex ini juga bisa dipakai oleh para pemula atau newubi dan hal ini didukung dengan tampilan interface yang simpel dan mudah digunakan sehingga cocok untuk ya para trader-trader pemula gitu. Fiturnya lengkap, ada pending order, ada fitur manajemen resiko dan bisa langsung buka posisi dari layar utama. tarifnya kompetitif, enggak ada komisi untuk deposit atau penarikan dana. Dan Penex juga menyediakan bank-bank besar dari Indonesia sehingga ya proses deposit atau penarikannya dilakukan dengan aman dan cepat. Ada dua fitur nih, Geng, yang bakal memudahkan kalian buat kalian yang masih pemula, yaitu live chat yang akan standby selama 24 jam. Nah, menarik kan fitur-fiturnya? Gua sih enggak pernah dengar ada platform yang kayak gini yang menyajikan fitur sebaik dan selengkap Venix ini. Karena biasanya yang bisa paham itu kan cuma yang berpengalaman aja. Jadi bikin yang masih pemula tuh jadi bingung. Phoenix udah mengantisipasi hal tersebut dengan berbagai fitur milik mereka yang gua yakin bisa memudahkan kalian yang masih pemula. Jadi tanpa menunggu lama-lama, kalian bisa mendapatkan manfaat semudah ini dari Venex. Langsung aja klik link yang ada di deskripsi dan juga scan QR yang ada di layar. Silakan coba. Oke, kita lanjut nih ke kontennya. Dan dari semua penawaran yang diberikan oleh pemerintah kita, itu semua ditolak mentah-mentah oleh Donald Trump. Udah kita mohon-mohon, udah kita yang ngalah tapi ditolak mentah-mentah dan dia tetap menetapkan tarif ke Indonesia sebesar 32% di saat itu. Nah, dia bakal merevisi 32% tersebut apabila Indonesia membuka pasar perdagangan yang selama ini ditutup bagi Amerika. Menghapus kebijakan tarif dan non tarif serta menghilangkan hambatan perdagangan, katanya. Jadi, minta lebih tuh dia. Nah, Donald Trump juga bilang Indonesia enggak akan dikenakan tarif apabila memproduksi produknya di Amerika Serikat. Dah, gile. Nah, ini menjadi keputusan berat yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah Indonesia. Apakah ingin menuruti permintaan dari Donald Trump atau enggak? Penetapan tarif dari Donald Trump ini bakal berlaku dari mulai tanggal 1 Agustus besok, ya. Dan enggak sampai di situ aja, Donald Trump juga ternyata mengancam presiden kita yang memperingatkan agar Indonesia tidak membalas tarif yang dikenakan oleh Donald Trump ini. Jadi, jangan sampai ngebalas gitu. Lu jangan coba-coba ngebalas kayak ala-ala Putin gitu, jangan. Nah, hal ini disampaikan di dalam surat yang dikirimkan oleh mereka ke Pak Prabowo. Dan di dalam surat tersebut Donald Trump mengungkapkan alasannya mengenai Indonesia dengan tarif impor 32% tersebut. Nah, dia selama ini menilai hubungan dagang antara Amerika dengan Indonesia itu enggak seimbang sehingga membuat Amerika mengalami defisit neraca dagang dengan Indonesia. Dan untuk itu Donald Trump menilai itu perlu mengeluarkan kebijakan perdagangan untuk menutup defisit yang selama ini dianggap sebagai ancaman besar bagi ekonomi dan keamanan nasional mereka. Jadi kurang lebih kayak gitu tuh, Geng ya. Dari Amerikanya itu benar-benar garang banget ee apa ya ngasih peringatan ke Indonesia. Terus yang terbaru nih, Geng. Pak Prabowo itu menyampaikan kalau Indonesia dan Amerika ternyata sudah menyepakati penurunan tarif yang dari awalnya 32% menjadi 19% katanya. Yang mana ini sudah melalui perundingan yang cukup sulit. Nah, tapi tentunya Donald Trump enggak serta-merta menyepakati hal itu tanpa adanya ya hal yang menguntungkan dia kan gitu ya. maksudnya kayak, "Oh, gua gak mau sama-sama enak. Gua yang harus enak. El nanggung, nanggung pahitnya," gitu. Pak Prabowo di saat itu menyebutkan salah satu syaratnya adalah ternyata mengenai pembelian 50 pesawat Boeing asal Amerika yang mana terutama ini adalah Boeing 77. Padahal kita tahu ya, pesawat Boeing ini sedang bermasalah banget dan reputasinya lagi turun banget. negara-negara lain pada enggak mau beli, tapi kita dipaksa untuk beli. Menurut beliau juga, pembelian ini diperlukan untuk bisa membesarkan Garuda Indonesia yang butuh armada baru, katanya. Begitu juga dengan komunitas lain seperti gandum, kedelai, serta migas yang memang masih memerlukan bantuan impor dari Amerika. Sampai sekarang gua masih bingung tuh kedelai aja kita harus impor dari Amerika. Bukankah petani kita, buset kita negara kita kan sawahnya banyak, kebunnya banyak, tanah kita lebih subur dari Amerika. Kenapa kita harus impor ya? Aneh banget gitu. Kalau gandum masih masuk akal gitu ya. Migas lagi. Migas kita juga ada sumber migas kita ya. Hah begitulah. Dan selain wajib membayar tarif sebesar 19% Indonesia juga harus menjalankan kewajiban lain. Nih banyak nih PR dan tugas yang diberikan oleh Amerika untuk negara kita. Indonesia di saat itu ya dikatakan harus membeli produk energi Amerika senilai 15 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp244 triliun. Harus. Indonesia juga harus membeli produk pertanian Amerika senilai 4,5 miliar dolar Amerika atau setara 73 triliun. Lalu Donald Trump menyetujui penurunan tarif ini ya dikarenakan Indonesia menawarkan produk-produk asal Amerika yang tidak akan dikenakan tarif apapun saat masuk ke Indonesia. Kan ta kotok ya. Barang kita masuk ke negara mereka kena tarif, barang mereka free. Apalah ini. Dan inilah yang membuat akhirnya Donald Trump menyetujui penurunan tarif tersebut. Jadi sama-sama aja geng kalau dibilang kita berhasil negosiasi ya. Tidak. Sebenarnya jadi Indonesia ini bakal tetap dikenain tarif ya 19% sementara Amerika tidak dikenakan tarif speser pun masuk ke negara kita secara cuma cuma barang mereka. Para ekonom tentu saja tidak sependapat dengan hal ini dengan menyebut kalau Indonesia menyetujuinya ya bakal membuat posisi negara kita semakin dispelein dan lemah. Barang milik Indonesia yang diekspor ke Amerika harus kena pajak 19%. Sementara barang Amerika yang masuk ke Indonesia free, enggak ada biaya. Mereka full dapat keuntungan. Enggak ada tuh timbal balik ke negara kita. Ditambah lagi syarat Donald Trump yang mengharuskan negara kita untuk membeli produk mereka. Beberapa komunitas dari negara tersebut dengan nilai kontrak yang cukup besar. Bayangin tuh kita udah harus wajib beli. Jadi kan enak banget mereka mereka nanam mereka no worry gitu pasti ada yang beli ya. Indonesia udah nunggu gitu dan di dalam jangka panjang lagi. Dan oleh karena itu para ekonom memandang bahwa hasil negosiasi ini ya gagal dan tidak akan menguntungkan negara kita. Terus yang enggak kalah kontroversialnya nih geng. Di dalam kesepakatan antara Indonesia dan Amerika terkait penurunan tarif ini, Amerika meminta agar Indonesia mentransfer data pribadi ee rakyat Indonesia ke Amerika, ke pemerintah Amerika. Aneh banget. Dan di dalam kesepakatan tersebut ya disebutkan Indonesia bakal memberikan kepastian mengenai kemampuan untuk memindahkan data pribadi dari dalam negeri ke Amerika melalui pengakuan Amerika sebagai negara yang menyediakan perlindungan data yang memadai berdasarkan hukum Indonesia. Kacau banget ya. Ini datanya. Duh, data-data kita, Geng. Gimana ya pemerintah kita, ya? Ini dataata data-data kita yang bakal dikirim ke sana. Dan Indonesia sendiri sudah memiliki undang-undang yang mengatur soal data yaitu di Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi Pasal 55 dan Pasal 56 yang mana ini menjadi salah satu kebijakan yang disasar oleh Donald Trump, yang ditargetin oleh Donald Trump. Nah, di dalam pasal ini ditafsirkan bahwa sebuah negara wajib mentransfer data pribadi ke negara yang memiliki tingkat perlindungan data pribadi yang setara atau bahkan lebih tinggi. Dan Amerika ya dianggap memiliki perlindungan yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Sehingga di sinilah Indonesia diwajibkan untuk memberikan data pribadi rakyatnya ke negara tersebut. Kacau banget. Nah, jadi itu dia, Geng, kurang lebih permasalahannya. Nah, kalau tadi kita berbicara mengenai penetapan tarif yang diberlakukan oleh Donald Trump kepada Indonesia, sekarang kita bakal membahas kenapa Trump tetap memberlakukan tarif ke Indonesia nih. Nah, ada dua hal yang diduga menjadi penyebabnya, Geng. Kita bakal masuk dulu ke penyebab pertama yaitu keanggotaan Indonesia bersama BRI dan itu bikin Amerika kesal sama negara kita. Jadi, Geng banyak yang menduga ya kenapa Donald Trump ini tetap ingin memberlakukan tarif ke Indonesia itu karena Indonesia join ke BRIGS dan hal ini itu cukup membingungkan. Kalian sendiri tahu enggak, Geng, kapan Indonesia bergabung ke dalam bricks ini? Nah, jadi buat yang belum tahu kita bahas sedikit ya. Jadi, BRIS ini adalah organisasi antar pemerintah yang terdiri dari 10 negara. Di antaranya ada Brazil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Etiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan ada Indonesia di sana. Nah, Indonesia tergabung ke dalam bridge ini itu di tanggal 6 Januari 2025 kemarin. Jadi, baru beberapa bulan. Dan ada tiga alasan kenapa Indonesia bergabung, yaitu potensi ekonomi. Peluang pasar dalam bricks itu berjumlah lebih dari 3 miliar jiwa. dan produk-produk utama Indonesia seperti minyak kelapa sawit, batu bara, tekstil itu dapat meraih pangsa pasar yang lebih luas di dalam bricks. Dengan keberadaan New Development Bank atau NDB ya, Indonesia dapat mengakses pendanaan untuk proyek infrastruktur strategis. Nah, apalagi bricks ini kan dia punya mata uang sendiri nanti, Geng. Jadi, ibaratnya tuh gini, Geng. Indonesia tuh mau bergabung dengan bricks karena kita itu kan salah satu negara produsen juga ya. Kita banyak hasil alam kita. Yang susah dicari itu pembelinya ya kan. Kalau hasil alamnya banyak tapi gak ada yang beli, ujung-ujungnya apa? Hasil alamnya ya busuk ya kan. Dan ketika ada kesempatan bergabung dengan bricks yang mana di dalamnya itu ada Rusia, ada Tiongkok ya, Cina, ada, Brazil, ada India, itu kan rakyatnya banyak ya. Jadi kita punya pasar yang baru untuk menjual barang-barang hasil bumi kita itu potensi lain di dalam hal kerja sama teknologi yaitu untuk mengembangkan sektor teknologi digital dan energi terbarukan. Nah, terus yang kedua itu ada diversifikasi mitra dagang. Peluang untuk membangun hubungan dagang yang lebih luas dan beragam lagi. Contoh dengan India nih guna memperkuat sektor tekstil dan IT. Dengan Rusia dapat mengimpor teknologi pertahanan yang lebih murah. Ya kan ya mau gimana kita kalau ngomongin senjata Rusia senjatanya udah canggih-canggih. Kalau kita berteman dan berkelompok dengan mereka ya bisa beli harga teman gitu kan. Dengan India juga sama. Tekstil dari India juga gila-gila. eh IT dari India juga gokil-gokil gitu. Nah, terus alasan ketiga adalah karena kekuatan diplomasi. BRIX adalah platform strategis negara-negara berkembang untuk memperjuangkan reformasi ekonomi global. Dengan menjadi anggotanya, Indonesia diharapkan dapat mendorong perubahan yang lebih inklusif seperti distribusi hak suara yang lebih adil di lembaga-lembaga global seperti IMF dan juga Bank Dunia. Nah, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga, Indonesia bisa memberikan perspektif baru di BRIGS sebagai penyeimbang kebijakan ekonomi global yang mana ini bakal meningkatkan pengaruh diplomatik internasional Indonesia. Nah, tapi Geng kita tahu ya bahwa Brix ini adalah e gerakan yang diciptakan oleh musuhnya Amerika untuk menyaingi dominasi Amerika di muka bumi ini. Dan tentu aja Amerika enggak suka dengan keberadaan Bricks dan berusaha untuk menghambat pergerakan dari bricks agar tidak mengacaukan agenda mereka. Terus Donald Trump juga kembali mempertegas sikap kerasnya terhadap bricks ini, Geng. Nah, jadi ketika negara-negara Bricks menggelar KTT di Rio de Janeiro ya, e dia ini memperingatkan bahwa dorongan kelompok ini untuk melemahkan dominasi dolar AS itu mengancam supremasi ekonomi Amerika dengan menetapkan tarif terhadap anggota Brick sebesar 10%. Suka-suka dia aja itu. Dan ancaman ini menambah tekanan di tengah tarif-tarif lain yang sudah ditetapkan atau masih direncanakan. Nah, ancaman ini memang lebih kecil dibandingkan ancaman tarif 100% yang dia katakan pada bulan Januari lalu terhadap negara-negara yang dia anggap menentang dolar seperti bricks. Dan karena Indonesia sudah jadi bagian dari bricks, apakah Indonesia bakal tetap kena tarif tambahan 10% itu? Nah, ini masih belum dipastikan. Kalau sampai kena berarti 19% + 10% jadi 29% sama aja gitu kan. Nah, tapi geng tentunya ini menjadi situasi yang sangat merugikan bagi Indonesia. Padahal keanggotaan Indonesia di Brick ini belum lama, baru beberapa bulan. Dan y selemah itu kayaknya negara kita di mata mereka ya. Dan karena baru bergabung ini bisa jadi Indonesia adalah negara yang paling lemah dianggap oleh mereka di antara negara-negara bricks lainnya. Dan Menteri Sekretaris Negara yaitu Pak Prasetyo Hadi bilang penetapan tarif 10% bagi anggota Bricks yang juga dikenakan ke Indonesia dianggap sebagai bagian dari keputusan Indonesia kalau Indonesia bergabung dengan bricks. Ya, sehingga penetapan tarif ke Indonesia itu dianggap sebagai sebuah konsekuensi yang harus diterima oleh pemerintah kita. Meskipun begitu, Praset Yoiohadi memastikan bahwa Indonesia tidak akan meninggalkan bricks. Kita udah bulat tekadnya tetap harus bersama bricks. Dan terlepas imbas kenaikan tarif tambahan dari presiden Amerika, Donald Trump, ya negara kita enggak peduli. Nah, itu Geng untuk alasan pertama tuh kenapa Donald Trump kayak marah banget ke negara kita. Sekarang kita akan masuk ke dalam alasan kedua yaitu terkait kekosongan duta besar Indonesia untuk Amerika. Apakah Dubes perannya sepenting itu untuk bisa menurunkan tarif Trump ke Indonesia sehingga akhirnya negosiasi kita alot banget. Nah, sekarang kita bakal bahas soal ini. Jadi, Geng, dari kegagalan Indonesia dalam melakukan diplomasi ke AS untuk menurunkan tarif Trump itu dipengaruhi juga oleh kekosongan kursi kedutaan besar Indonesia sejak tanggal 17 Juli 2023. yang mana ini artinya sekitar 2 tahun, Geng, ya, Indonesia itu enggak punya kedudukan tertinggi di luar negeri. Inilah salah satu faktor ya yang mempengaruhi kenapa Indonesia gagal dalam melakukan negosiasi terhadap Amerika Serikat. Jadi enggak semerta-merta itu karena kesalahan presiden atau ya pemerintah kita itu lemah banget atau apa. Jadi faktornya tuh jelas gitu. Nah, menurut seseorang yang bernama Dina dari Syergi Policis, dia bilang posisi dubes Indonesia di Washington DC merupakan posisi tertinggi dan sebagai perwakilan negara di Amerika Serikat. Bahkan ketika tidak ada arahan atau minim sinyal dari Jakarta. Nah, seorang dubes di AS harus berani mengambil keputusan strategis. pokoknya sesuai dengan apa ya kayak instingnya dia tuh harus bekerja lah ini keputusan yang harus diambil tuh seperti apa. Nah, namun sekarang posisinya kosong dan menanggapi kekosongan posisi itu sejak Juli 2023, Dina ini juga menyoroti memang ada banyak nuansa politis dalam penunjukan duta besar di AS. Dina juga menilai kekosongan jabatan dubes di AS ini selama 2 tahun belakangan terjadi karena transisi politik. Posisi duta besar Indonesia di AS itu sangat bergengsi sebenarnya. Selain menghindari dari terjadinya dualisme antara dubes Indonesia di AS dan siapapun yang menjadi menteri luar negeri, ya Dina ini juga menyebutkan Presiden Jokowi juga ingin menempatkan orang di sana dari sisi politis ya, dari dulu, dari semenjak Presiden Jokowi lah sebelum ee sekarang dijabat oleh Presiden Prabowo. Dan karena tidak memiliki duta besar di Amerika dalam melakukan negosiasi, Indonesia pada akhirnya membentuk tim negosiasi yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yaitu Pak Airlangga Harto. Nah, kalau seandainya Indonesia masih terus tidak memiliki dubes di Amerika, maka negosiasi yang akan dilakukan selanjutnya oleh Indonesia menjadi terhambat. Sebab dues itu lebih mengetahui bagaimana kondisi Amerika dan bagaimana langkah-langkah yang akan diambil oleh Amerika bagi Indonesia. Sehingga dengan informasi yang didapatkan oleh seorang Dubes akan membantu untuk menyusun strategi terbaik agar bisa berdiplomasi dengan Amerika. Ya, fungsi duta besar itu benar-benar kayak apa ya, Geng? Kalau dibilang mata-mata bukan. Jadi perwakilan yang menyerap segala informasi dari negara luar ya, supaya negara kita bisa bersiap untuk kemungkinan apapun gitu. Nah, lalu kira-kira siapa aja nih bursa nama yang sedang digadang-gadang akan menjadi duta besar Indonesia untuk Amerika? Nah, disebut-sebut nih ya calon dubes Indonesia untuk Amerika itu ada yang bernama Dwioo Indroyono Susilo. Beliau merupakan sarjana teknik geologi ITB yang lulus di tahun 1978 dan memegang gelar pasca sarjana dari Universitas Michigan dan serta dokter dari Universitas Iowa dan kemudian pernah menjadi menteri koordinator kemaritiman pada periode 2014 sampai 2015 dan sempat menjabat sebagai direktur perikanan dan aku badan pangan PBB FAO pada tahun 2012 sampai 2014. Kemudian Pak Indro pernah menjabat sebagai penasehat di Kementerian Pariwisata pada tahun 2015 sampai 2019 dan di saat ini beliau adalah Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia atau disingkat dengan APHI dan ketua forum komunikasi masyarakat Perhutanan Indonesia. Nah, di dalam wawancaranya dengan media BBC, Pak Indro Yono ini bilang kalau dia belum bisa berkomentar banyak terkait relasi Indonesia dan Amerika Serikat saat ini. Nah, ketika ditanya mengenai latar belakangnya ya yang bukan diplomat karir dari Kementerian Luar Negeri, Pak Indro Yono ini bilang kalau dia berpengalaman sebagai direktur senior di FAO. Oke, y gitulah ya kekosongan duta besar. Jadi salah satu alasannya. Dan ternyata udah ada calonnya nih. Tapi entah kenapa ya lama banget gitu dipilihnya ya. Nanti kita tunggu aja. lah. Semoga segera ada duta besar Indonesia untuk Amerika supaya permasalahan kayak gini nih enggak terjadi lagi. Nah, saat ini nih, Geng, tarifnya Trump itu kan sudah diturunkan gitu ya. Nah, apakah ini akan membawa dampak positif atau justru lebih negatif lagi negara kita? Sekarang kita bakal masuk nih ke dalam pembahasan mengenai dampak dari tarif Donald Trump ke Indonesia ini, Geng. Jadi, Geng, meskipun sudah terjadi penurunan terhadap tarif Trump di Indonesia, enggak serta-merta menghilangkan dampak yang bakal dirasakan oleh negara kita dan masyarakatnya. Apa aja nih dampaknya? Apakah dampaknya positif atau negatif? Nah, jadi nih, Geng ya, Ketua Asosiasi Produsen Serat dan benang filamen Indonesia yang bernama Redma Gita Wira. Nah, dia bilang nih, dia mengapresiasi negosiasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan Amerika. Nah, Pak Redma ini bilang kalau produsen Indonesia masih bisa bersaing di pasar Amerika dan hal ini bisa dilihat dari perbandingan tarif yang dikenakan di Indonesia dengan negara-negara lain. Menurut beliau, angka tarif sebesar 19% tadi masih berada di bawah rata-rata negara lain yang sama-sama kena tarif Trump seperti Cina dan Bangladesh. Nah, sebelum adanya kesepakatan sebesar 19% produk-produk serat dan benang filamen Indonesia sudah dikenakan tarif resiprokal sebesar 23% katanya. Dan oleh karena itu, Pak Retma ini percaya kalau konsumsi komoditas yang diproduksi anggota asosiasinya itu gak bakal turun walaupun tetap harus waspada. Pemberlakuan tarif ini mungkin aja memunculkan peluang baru yaitu merebut pasar Amerika dari Cina yang kena tarif sebesar 30% dan Korea Selatan sebesar 25%. Nah, jadi menurut beliau nih ada sisi positifnya juga. Namun, geng, Pak Retma ini tetap mengkhawatirkan resiko terjadinya transhipment. Apa itu transhipment? Jadi singkatnya itu transitment ini kayak praktik pengiriman barang ke negara ketiga untuk menghindari biaya masuk atau tarif tertentu. Dan contohnya nih ya kayak barang-barang Cina itu lewat ke Indonesia dulu supaya bisa mendapatkan tarif yang lebih murah dibandingkan langsung ke Amerika. Jadi kayak negara kita tuh dimanfaatkan untuk ee nyalu doang gitu. Eh kita mampirin ya barang kita dari Cina ke Indonesia. Entar dari Indonesia baru dikirim ke Amerika. Supaya apa? Supaya tidak terkena tarif 20 sampai 23% tadi. Karena kalau dari Indonesia cuma 19% gitu tuh kecurangannya. bakal muter-muter tuh. Dan praktik ini dikhawatirkan bisa membuat impor di Indonesia melonjak ya. Karena kan impor dari Cina tuh masuk ke Indonesia dulu ya. Walaupun nanti bakal jalan ke Amerika tapi kan mampir di Indonesia dulu. Enggak mungkin enggak ada yang nyangkut gitu. Dan kalau praktik ini dilakukan dan diketahui oleh pihak Amerika maka resikonya bisa membuat tarif resiprokal yang ditetapkan untuk Indonesia ya bakal berubah lagi. Kalau ketahuan kayak Amerika langsung, "Eh, lu kok curang sih? Bantu-bantu Cina." Ya kan? Ya udah kita naikin nih, lu lebih mahal dari Cina. Pihak Cinanya ngapain? Ya dia tinggal-tinggalin aja Indonesia. Ya udah gak usah di Indonesia lagi. Kita cabut cari negara yang lebih rendah daripada Indonesia. Tarifnya yang nanggung tuh kita. Itu yang bahayanya. Yang mana ini kemungkinan besar ya ee permasalahannya tuh bakal lebih runyam. Terus geng permasalahan kedua yang mungkin bisa terjadi adalah praktik dumping yaitu nilai ekspor filamen Cina ke Amerika berada di atas 5 miliar dolar Amerika. Begitu kena tarif yang tinggi, kelebihan stok produksi filamen mungkin aja masuk ke Indonesia. Dan dampaknya Indonesia bakal kelebihan barang-barang asal Cina yang lebih banyak lagi jika hal ini sampai terjadi. Ya, kita tahu ya negara kita kan main tampung-tampung aja gitu. Ketika Cina enggak bisa jual barang mereka ke Amerika itu kan sisanya banyak tuh daripada numpuk jadi bangke biasanya bakal dibuang ke negara kita, negara konsumtif ini. Sekarang lihat aja Indonesia. Kalau kalian mau lihat wajah Indonesia, kalian ke Jakarta deh. Lihat aja tuh gimana mobil sekarang gila-gilaan ya. Mobil buatan Cina itu sudah memadati jalan-jalan Jakarta. Dan Jakarta saat ini gua bisa bilang tuh kayak super duper macet. Kalau kita berbicara enggak macet bukan Jakarta namanya. Iye dari dulu Jakarta macet tapi untuk saat ini macetnya udah enggak ngotak, Geng. Karena kenapa? Barang-barang ekspor dan diimpor ke negara kita dari Cina itu benar-benar udah enggak kebendung. mobil makin banyak ditambah dengan mobil listrik jadi jalan semakin padat. Nah, itu yang bakal terjadi nanti. Nah, terus g yang di sektor lainnya ya komoditas sepatu ya memungkinkan untuk memperluas pasar selain di Amerika yang mana di saat itu Yosep Billy Dosiwoda selaku direktur eksekutif asosiasi persepatuan Indonesia atau disingkat dengan Aprisindo itu menyambut baik kesepakatan perundingan Indonesia dengan European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement atau disingkat dengan IUPA. Nah, salah satu manfaat utama dari implementasi UCEPA ini adalah penghapusan tarif impor secara signifikan. Dan di dalam waktu 1 sampai 2 tahun setelah perjanjian berlaku, sebanyak 80% ekspor Indonesia ke Uni Eropa akan mendapatkan tarif sebesar 0% alias enggak ada pajak yang dikenakan. Beda kalau ke Amerika gitu. Nah, Yosep ini menilai kesepakatan antara Indonesia dengan Uni Eropa harus dilihat sebagai perluasan pasar ekspor tambahan ya, bukan untuk mengganti pasar yang ada dengan negara lain termasuk Amerika. Jadi ibaratnya tuh ya jangan sampai yang di Amerika enggak lagi tapi malah semuanya ke Uni Eropa. Enggak. Uni Eropa enggak mau kayak gitu. Tapi Uni Eropa ini ya menjadi tambahan lah. Jadi meskipun mendapatkan tarif ya Indonesia enggak perlu untuk mengganti pasar Amerika dengan negara lain sebab masih ada peluang untuk mendapatkan keuntungan di pasar Amerika itu. Nah, justru Indonesia harus menambah pasar di negara-negara lain supaya pendapatannya jauh lebih besar. Dan kemudian nih, Geng, menurut keterangan dari Esther Sri Astuti selaku direktur executif institute for Development of Economics and Finance atau disingkat dengan INDEF, meskipun ada keyakinan kalau produsen Indonesia masih bisa mendapatkan keuntungan di tengah-tengah pemberlakuan tarif Trump, masih ada ancaman PHK terhadap karyawan yang bekerja di berbagai sektor industri yang mengekspor barang ke Amerika. Sebab kenaikan tarif yang ditetapkan oleh Amerika akan langsung diikuti dengan kenaikan harga komoditas di tingkat pembeli. Dampaknya nih ya bakal mengurangi permintaan terhadap produk tersebut ya. Kalau itu terjadi, perusahaan bisa-bisa mengalami resesi yang kemudian bisa menyebabkan layof tenaga kerja alias PHK. Dan IMF memprediksi ya angka pengangguran di Indonesia bakal meningkat dari tahun sebelumnya. Wah gila tahun ini aja udah hancur banget. Gimana kalau nambah tuh penganggurannya? Dan di tahun 2024 aja nih, Geng. Angkanya sudah sebesar 4,9% dan akan meningkat menjadi 5,1% di tahun 2026. Dan bagi Esther, potensi pengangguran baru ini bakal menambah beban yang baru juga di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia. Dan kalau banyak yang nganggur, maka angka kriminal semakin tinggi. Karena orang lapar, orang pengin makan, orang butuh penghidupan. Kalau enggak ada kerjaan, dia enggak punya duit. Kalau enggak punya duit ngapain? ya, kalau enggak nikam orang jadi maling, jadi apa. Nah, makin seram negara kita kalau kayak gitu. Terus, Geng, apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah kita nih? Nah, untuk bisa menangani ancaman terhadap tarif Trum ini, pemerintah bisa memberikan subsidi transportasi pengiriman barang dari Indonesia dan selain itu diversifikasi pasar komunitas dan meninjau kembali pembangunan sektor industri yang dibutuhkan. Menurut Esther juga ada sektor lain yang bisa dikembangkan oleh pemerintah untuk bisa menghasilkan pendapatan di luar industri manufaktur seperti sektor pertanian serta pariwisata. Dan kalau pemerintah serius dalam mengurus transportasi serta infrastruktur ke arah destinasi wisata, hal ini pastinya bakal menarik devisa yang lebih banyak dari para turis yang berkunjung ke Indonesia. UMKM juga pastinya bakal mendapatkan keuntungan juga, Geng. Nah, pertanyaan selanjutnya nih, ya. Apakah dengan penerapan tarif yang lebih rendah ini bisa membuat negara kita lebih dilirik oleh investor asing? Ya, enggak bisa dikatakan kayak gitu juga. Gua coba kasih perbandingan nih. Indonesia tuh dapat tarif 19% hanya selisih 1% dari Vietnam. Negara yang dikenal bisa banyak menarik investor asing karena memberlakukan tax holidaynya. Yang mana mereka di dalam case ini mereka itu terkena 20% ya, beda 1% sama negara kita. dan itu angka yang kecil sehingga enggak serta-merta tarif yang lebih kecil dibandingkan Vietnam ini bisa membuat investor lebih mengutamakan berinvestasi ke negara kita. Ada banyak pertimbangan bagi investor untuk menanam modal di sebuah negara. Namun yang paling utama adalah upah tenaga kerja yang lebih terjangkau serta kemudahan iklim berinvestasi. Nah, untuk bisa membuat Indonesia lebih dilirik lagi ya perlu adanya pembenahan iklim investasi bagi para investor agar investor itu merasa kalau Indonesia itu mempedulikan kenyamanan dan keamanan para investor ketika menanam modal di negara kita. Tapi kayaknya untuk yang satu ini agak mustahil ya. Ya, kita lihat aja salah satu contohnya soal pemalakan dari ormas yang pernah kita bahas di konten gua kemarin yang sampai membuat investor tuh jadi resah dan takut karena ya dipalakin mulu gitu. Nah, semisalnya itu dibenahi ya pastinya bakal menambah kepercayaan para investor. Tapi kalau enggak ya enggak usah berharap deh. Nah, lalu terkait soal transfer data ya yang katanya data masyarakat Indonesia akan ditransfer ke Amerika Serikat secara cuma-cuma. Banyak pihak yang takut ya kalau data-data milik masyarakat akan diberikan secara cuma-cuma ke Amerika dan itu disalahgunakan. Apalagi sampai saat ini Amerika sendiri tidak memiliki hukum yang spesifik mengenai perlindungan data pribadi. Jadi sangat mungkin bagi Amerika nantinya menyalahgunakan data milik warga Indonesia ini. Namun berdasarkan penjelasan dari Hasan Nasbi selaku Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, tujuan dari transfer data ini adalah bagian dari komersial, bukan agar data milik Indonesia dikelola oleh Amerika, katanya. Nah, transfer data ini menjadi bagian dari pertukaran barang dan juga jasa tertentu antara Indonesia dengan Amerika. Bahkan Pak Hasan Nasbi juga bilang kalau ini bisa jadi bermanfaat, tapi bisa juga jadi hal yang berbahaya sehingga dibutuhkan keterbukaan data itu sendiri. Nah, tapi kan pada akhirnya nih, Geng, ya. Enggak bisa menjamin juga apakah data itu bakal aman atau enggak ketika diberikan ke Amerika meskipun hanya untuk tujuan berdagang aja, ya kan? Kalau menurut kalian bakal aman atau enggak, Geng? Coba deh kira-kira kebijakan dan syarat-syarat yang diberikan oleh Amerika ke Indonesia itu worth it enggak untuk diambil oleh pemerintah kita? Nah, itu dia, Geng, ulasan singkat mengenai tarif Trump yang dikenakan ke Indonesia yang akhirnya saat ini sudah turun jadi 19%. Haduh, kalau kayak gini ujung-ujungnya ya kita lagi yang ngos-ngosan ya. Setiap bulan, setiap tahun hasil kerja keras kita ya pajaknya makin aneh-aneh aja. Oke, gimana menurut kalian, Geng, tentang pembahasan kita kali ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories