Transcript
Wm6UfR_bxoY • KONFLIK THAILAND vs KAMBOJA ! PERANG TERBUKA ATAS DENDAM LAMA
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1490_Wm6UfR_bxoY.txt
Kind: captions Language: id Geng, seperti yang kita semua tahu ya, kalau konflik antara Thailand dan Kamboja bukanlah hal baru ya. Mereka sudah berkali-kali bersih tegang dari rebutan candi bersejarah sampai provokasi di perbatasan. Tapi yang terbaru ini, Geng, situasinya semakin memanas karena di satu sisi ada pasukan dan senjata yang mulai berdatangan di garis perbatasan. Nah, di sisi lain kalian tahu enggak, Geng? kalau ada sebuah pulau yang justru menjadi destinasi terkenal. Padahal pulau tersebut adalah pulau yang menjadi sengketa antara Thailand dan Kamboja. Di sana banyak properti mewah yang selalu menjadi incaran bagi banyak turis kalau datang ke sana. Dan bahkan ada yang bilang beberapa bangunan yang berdiri itu enggak jauh dari zona demilitarisasi. Dan enggak cuma itu, bahkan kabarnya banyak tenaga kerja lokal dari Kamboja direkrut secara masif dan mendapatkan pelatihan manajemen serta hospitality dari tim Thailand. Aneh banget ya, perang-perang bisnis-bisnis. Dan pertanyaannya kok bisa lancar gitu ya? Apakah pemerintah Kamboja enggak aware atau justru mereka tutup mata demi pemasukan? Nah, kita bakalan bedah lebih dalam tentang hal ini, tentang perangnya, tentang pulau tadi, ya. Karena kalau kita tarik garis logika, konflik politik seharusnya memicu embargo, perbatasan kerja sama atau minimal ada tekanan sosial. Tapi di sini justru bisnisnya jalan lancar, uangnya masuk, bahkan warga lokal ikut terlibat. Ya, apakah ini pertanda bahwa ekonomi bisa menjadi alat damai diam-diam atau justru ini bukti kalau konflik bukan tentang rakyat, tapi tentang panggung adu gengsi dari elit politik mereka. Dan ironisnya nih ya, ketika warga Thailand datang berlibur ke Kamboja, banyak yang enggak menghormati budaya setempat. Ada yang seenaknya bersikap superior, bahkan terang-terangan bilang kalau infrastruktur Kamboja bisa maju gara-gara bantuan Thailand. Masa sih? Jangan main-main L sama Kamboja L. Judul-judul Indo yang buka pecelele banyak di sana loh. Ini bukan soal perilaku ya, Geng. Tapi ini soal narasi kolonial yang dibungkus dengan senyum turis. Nah, mereka datang dengan tujuan mempengaruhi Kamboja melalui daya tarik, persuasi, terus juga budaya yang dibungkus dengan turis-turis yang datang. Nah, jadi video ini kita enggak cuma bahas konflik di permukaannya aja, tapi kita bakal kulik lebih dalam soal paradoks ekonomi politik, soal identitas nasional yang dijadikan komoditas dan bagaimana kebijakan luar negeri sering sekali cuma jadi topeng ya. Apakah Thailand dan Kamboja benar-benar berkonflik, benar-benar perang atau ini cuma teater geopolitik yang dijual ke publik supaya terlihat tegang? Ayo kita bahas secara lengkap tentang konflik ini. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry. [Musik] Geng geng. Oke, kita langsung masuk ke dalam pembahasan konfliknya dulu nih ya. Jadi, Geng, semua ini bermula pada Rabu tanggal 28 Mei 2025 di mana terjadi aksi baku tembak antara tentara Thailand dan Kamboja di perbatasan wilayah Ubon Racani dan wilayah sengketa Candi Preah Vihear. Ya, ini koreksi gua kalau salah dalam pengucapannya nih. Mereka ini terlibat di dalam pertempuran singkat selama 10 menit yang mengakibatkan tewasnya seorang tentara kampoja, Letnan 2, Suon Run. Ya, di dalam baku tembak ini mereka saling menyalahkan satu sama lain dan juru bicara militer Kamboja yang bernama Maupala itu menyatakan bahwa tentara Thailand lah yang menembaki posisi dari para pasukan Kamboja terlebih dahulu. Jadi, mereka yang mancing duluan, katanya. Nah, kabarnya mereka itu menembak lebih tepatnya ke arah parit pertahanan yang sudah lama digunakan oleh para tentara Kamboja untuk berlindung. Nah, mereka juga menyebutkan bahwa apa yang dilakukan oleh tentara Thailand ini sebagai agresi sepihak dan menegaskan bahwa pasukan atau tentara Kamboja cuma membalas tembakan dari tentara Thailand sebagai respon untuk mempertahankan diri. Dan Perdana Menteri Hun Manet itu langsung merespon dengan mengajukan sengketa ke Mahkamah Internasional atau ICJ. Nah, sambil menyatakan bahwa Kamboja tidak ingin berkonflik dan tidak ingin menyatakan perang jika tidak dari Thailand yang mulai perang lebih dahulu. Katanya gitu. Sedangkan respon dari pihak lawan yaitu pihak Thailand itu beda lagi. Atas baku tembak singkat pada Rabu tanggal 28 Mei 2025 melalui juru bicara angkatan darat militer Thailand yang bernama Mayor Jenderal Wintai Sufari. Dia bilang kalau pasukannya itu mencoba membujuk pasukan Kamboja yang berada di parit untuk mundur. Karena menurut pasukan Thailand itu dianggap melanggar batas wilayah yang ditentukan sebelumnya. Nah, tapi pasukan Thailand ini malah membalas dengan tembakan. Nah, tuduhannya beda lagi nih. Kalau tentara Thailand bilang mereka cuma ngomong pakai mulut gitu, "Eh, lu mundur dong, itu batasannya udah lewat gitu. Nah, tapi malah dibalas pakai tembakan." Nah, kita enggak tahu nih mana yang benar. Nah, akhirnya ya menurut tentara Thailand karena udah ditembak duluan, mereka akhirnya terpaksa ikut membalas demi mempertahankan diri mereka. Nah, Menteri Pertahanan Thailand yang bernama Pumtam Wicaya Chai itu langsung ikut berpendapat ya terhadap aksi penembakan tersebut yang mereka anggap Kamboja duluan. dan dia bilang kalau aksi penembakan itu sudah diselesaikan dan berujung damai. Dia juga menyampaikan kalau kedua belah pihak tidak ingin eskalasi lebih lanjut katanya gitu. Terus singkat cerita, keesokan harinya tepat hari Kamis tanggal 24 Mei 2025, pihak Thailand sudah sepakat untuk meredakan ketegangan perbatasan dengan Kamboja setelah bentrokan di perbatasan tersebut. Nah, Winai Sufari itu bilang kalau ya salah satu komandan jenderal yang ada di Thailand yang bernama Pana Clay Plot Took itu sudah bertemu dengan mitranya dari Kamboja dan kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk memindahkan pasukan dari daerah tersebut. Dia juga menambahkan kalau komite batas bersama akan bertemu lagi di dalam waktu 2 minggu untuk menyelesaikan permasalahan konflik di perbatasan antara Kamboja dan Thailand ini. Mereka sepakat tuh buat sama-sama mundur dari daerah konflik dan keduanya setujulah, menyetujuilah, sepakat gitu. Dan saat itu Perdana Menteri Kamboja Hunmanet itu meminta seluruh warganya untuk tetap tenang dan mendesak untuk penyelesaian secara damai terhadap masalah perbatasan yang sedang berlangsung di kedua negara ini. Sebenarnya kalau kita perhatikan ya, antara kedua negara ini juga rada ragu-ragu buat perang, Geng. Karena kan konsekuensi perang itu enggak main-main, ya. Nah, tapi udah terlanjur saling nembak. Nah, terus geng pada Jumat tanggal 30 Mei nih keesokan harinya muncul deklarasi dari tentara Kamboja yaitu RC yang menyatakan tidak akan mundur dari daerah konflik. Hal ini mereka lakukan segera setelah berakhirnya perundingan antara Letnan Jenderal Mao Sopan yaitu Panglima Angkatan Darat Kamboja dan Letnan Jenderal Pana Cle Plot Tukand. Pernyataan dari RCF ini itu menunjukkan bahwa mereka tetap ingin mempertahankan posisi militernya sebagai bentuk klaim kedaulatan. Jadi tetap pengin perang tuh. Karena pernyataan tersebut, akhirnya militer Thailand itu menyatakan bahwa mereka siap meluncurkan operasi tingkat tinggi jika terjadi pelanggaran kedaulatan lebih lanjut. Mereka juga bilang kalau peningkatan kesiapan militer Kamboja itu masuk ke dalam kategori mengkhawatirkan dan menegaskan bahwa pasukan Thailand akan bertindak penuh untuk mempertahankan wilayah mereka jika diperlukan. Thailand juga memperpendek jam operasional di 10 pos perbatasan dan mengambil alih kontrol penuh atas pembukaan dan penutupan semua titik lintas batas dengan Kamboja. Dan pemerintah Thailand juga membatasi izin tinggal warga Kamboja di Thailand menjadi hanya 7 hari sebagai bentuk tekanan diplomatik. Nah, jadi kayak cewek ngambek gitu loh. Kamu boleh tidur di kamar aku tapi cuma 7 menit, selebihnya cabut. Gitu. Kurang lebih gitulah ya penggambarannya. Jadi Thailand juga sudah mengoperasikan 17 penyeberangan perbatasan resmi di sepanjang perbatasan yaitu sejauh 817 km atau 508 mil. Enggak lama dari situ, Geng ya. Tepatnya di pertengahan Juni yaitu Senin 22 Juni 2025. Ketegangan antara Thailand dan Kamboja itu memuncak dan pada akhirnya menciptakan ketakutan di garis perbatasan, tapi juga merembet ke sektor ekonomi dan budaya yang lebih luas. Nah, ini semua terjadi setelah adanya insiden penembakan yang menewaskan seorang tentara Kamboja di wilayah sengketa di dekat Congbok namanya. Nah, pemerintah Kamboja di saat itu memutuskan untuk mengambil langkah balasan yang cukup agresif yaitu penghentian impor dari Thailand. Jadi mereka enggak mau ngimpor barang dari Thailand lagi dan seperti bahan bakar, produk pertanian hingga listrik itu dibekukan semua. Di dalam pernyataan resminya awal Juni ya Perdana Menteri Hunmanet itu menyatakan bahwa Kamboja akan menghentikan impor bahan bakar, gas, produk pertanian, dan pasukan listrik dari Thailand yang mana ini cukup merugikan Thailand. Dan beberapa jaringan penyedia broadband serta layanan internet milik Thailand juga ikut diblokir dari sistem telekomunikasi milik Kamboja. Nah, langkah ini disebut sebagai bagian dari pengamanan kedaulatan sekaligus sinyal bahwa Kamboja tidak akan tunduk pada tekanan diplomatik maupun militer dari Thailand. Tak hanya berhenti di ekonomi aja, retaliasi Kamboja menyentuh ranah budaya juga. Karena stasiun TV lokal itu dihimbau untuk menghentikan penayangan film-film dari Thailand, acara hiburan, dan bahkan musik pop Thailand yang telah lama populer di kalangan anak muda Kamboja tuh semua dihentikan. Jadi ini gambarannya tuh sebenarnya Kamboja sama Thailand tuh kayak kita sama Malaysia, Geng. Ya, di TV-TV Malaysia itu kan juga ada tuh kayak penyanyi-penyanyi Indonesia kayak Rosa, Afgan gitu kan. Nah, makanya familiar lah budaya dan artis-artis kita di sana. Begitu juga dengan artis-artis Malaysia di sini. Kamboja sama Thailand tuh gitu. Bahkan kalau kalian tahu nih, Muai Thai ya, di Kamboja tuh juga ada Muai Tai tapi dengan namanya tersendiri dengan nama Kamboja. Dan gua pernah ketemu sama teman dari Kamboja yang mana mereka menganggap bahwa Thailand itu mencuri budaya mereka. Dan menurut Kamboja, budaya Thailand itu sebenarnya berasal dari Kamboja semua. Kalau kita lihat dari apa ya ornamen-ornamen bangunannya sih memang di Kamboja itu banyak ee apa ya bangunan-bangunan tua, asal-asal budaya dari zaman dulu yang sampai akhirnya mereka terpecah menjadi Thailand dan Kamboja. Jadi bisa dikatakan mungkin aja benar kali ya sejarah semuanya tuh budayanya tuh berawal dari Kamboja kali ya. Tapi gua juga enggak bisa sotoi soal hal ini gitu. Pemerintah itu menyebutkan konten-konten milik Thailand itu tidak sesuai dengan semangat nasionalisme di dalam kondisi krisis di Kamboja saat ini. Pemerintah Kamboja menegaskan bahwa keputusan ini bukan semata balasan emosional, tapi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan ekonomi pada negara yang mereka anggap sebagai agresor. Nah, mereka menyebutkan bahwa Thailand selama ini mengambil keuntungan dari ekspansi dagangnya ke Kamboja. Dan di dalam situasi konflik, kerja sama semacam itu tidak bisa dibiarkan. Nah, akibatnya ya beberapa SPBU di Penompen itu mengalami kekosongan stok dalam 2 hari pertama setelah embargo. Selanjutnya harga sayur mayur, buah impor dari Thailand itu melonjak sampai 40% dan ini memicu protes kecil di pasar tradisional. Bahkan sektor pariwisata Kamboja yang biasa menerima pelancong dari Thailand mengalami penurunan kunjungan drastis. Ya, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Kamboja ini justru merugikan mereka sendiri. Tapi mereka tuh pengin kayak enggak apa-apa kok, kita kuat kok lawan Thailand. Bodo amat lu enggak usah datang. Enggak apa-apa, tapi ternyata rakyatnya sebagian kecilnya itu menjerit gitu. Thailand ini diketahui adalah mitra dagang terbesar ketiga yang dimiliki oleh Kamboja dari tahun 2022. Dan menurut Bank Dunia dengan impor mencapai 3,8 miliar US DO atau sekitar Rp62 triliun di mana 27%-nya disumbangkan oleh impor bahan bakar dari Thailand ke Kamboja. Terus gengs, sebelumnya juga Kementerian Kamboja itu menuduh bahwa tentara Thailand sudah melanggar perjanjian dengan mengawal sekitar 150 pengendara sepeda untuk mengunjungi kuil yang sedang disengnyetakan oleh mereka di daerah perbatasan. Nah, tapi militer Thailand itu membantah adanya pelanggaran dan mengatakan kalau yang terjadi itu hanyalah kesalahpahaman. Nah, akhirnya nih, Geng, perang pun mulai terjadi tepat di Rabu, 23 Juli kemarin karena ledakan ranjau di perbatasan tepat pada pukul 1655 sore. Dan salah satu juru bicara pasukan Thailand menjelaskan bahwa telah terjadi ledakan ranjau darat yang diduga dipasang oleh pihak Kamboja di wilayah Conganma, Distrik 6 Yuen, Provinsi Ubon, Racatani. Lima personel batalyon infantri ke-14 itu sampai terluka dan salah satunya mengalami luka parah di bagian kaki kanan akibat menginjak alat peledak tersebut. Nah, empat lainnya menderita sesak di dada dan tinitus akibat gelombang kejut. Nah, seluruh korban itu langsung dilarikan ke rumah sakit 6. Dan malam hari, ya pada malam harinya nih, Kepala Angkatan Darat Thailand, Jenderal Pana Cleo Plotok itu langsung memerintahkan eh pengerahan kekuatan dari army area kesatu dan area kedua untuk bersiap di dalam operasi Cakrapong Puanat. Nah, Thailand mengutuk keras tindakan Kamboja yang dinilai melanggar hukum humaniter internasional. Dan Kamboja beralasan bahwa ranjau itu sudah lama dia pasang dan baru meledak setelah keetrigger dari salah satu tentara Thailand yang enggak sengaja menginjaknya gitu kata mereka. Dan keesokan harinya, tepat di hari Kamis tanggal 24 Juli tahun 2025 terdapat eskalasi di kompleks Candi Tamuen. Nah, pada pukul 0.30 pagi waktu setempat. Menurut Kementerian Pertahanan Kamboja, pasukan Thailand disebut melakukan pelanggaran perbatasan dengan menaiki candi Tamuen Tom dan menyusup di area kaki candi. Dan selanjutnya pada pukul . pagi, pihak dari Thailand sempat menerbangkan sebuah drone pengintai selama 2 menit di atas wilayah tersebut. Dan pukul 5 pagi, pasukan Thailand mendeteksi suara UAV Kamboja di atas pangkalan mereka. Meski tidak terlihat secara visual, tapi mereka yakin itu adalah e suara UAV dari Kamboja. Nah, untungnya di saat itu nih, Geng, belum terjadi kontak senjata. Dan barulah pada pukul 820 pagi, Thailand menyatakan bahwa pasukan Kamboja melepaskan tembakan pertama ke arah markas operasional Thailand di sisi timur kompleks Tamuen. Tapi hal ini justru dibantah oleh Kamboja karena tepat pada pukul 830 pagi justru Kamboja menuduh balik Thailand karena diduga mulai menembakkan senjata berat ke arah kompleks Candi Tamuent Tom. Nah, jadi saling tuduh nih, "Lu nembak gua enggak? El duluan. Nah, tapi kan kalau misalkan suara ledakan senjata kita susah bedain ya, Geng, dari mana asalnya gitu. Nah, yang terjadi sebenarnya adalah pada pukul 8 lew 6 pagi Kamboja mengklaim ya serangan Thailand itu meluas ke wilayah Takrabei Penom Komau dan juga daerah Momebei. Nah, serta di saat itu mereka menjatuhkan dua bom dari pesawat tempur di daerah Watkao Shika Kiriak. Waduh, susah banget pengucapannya. Dan di sini nih, Kamboja dengan pasukan mereka baru membalas tembakan sebagai bentuk pembelaan diri terhadap agresi Thailand. Nah, terus geng pada pukul 9:40 pagi dimulailah serangan roket ke wilayah sipil yaitu dua roket BM21 yang diduga diluncurkan oleh pihak Kamboja dan langsung menghantam area pusat pengembangan wilayah perbatasan di Distrik Kabupaten Cong yang ada di Provinsi Surin, Thailand. yang mana ini mengakibatkan sebuah pom bensin di Provinsi Sisaket itu terkena serangan BM21 GR milik Kamboja yang mengakibatkan banyak korban sipil. Nah, jadi udah kayak perang di ee kemarin tuh perang siapa tuh antara Iran Isriwel tuh udah pakai-pakai roket tuh ya dan termasuk nih ya sedikitnya orang itu meninggal dunia yang mana salah satunya itu adalah seorang anak laki-laki berusia 8 tahun. Pasukan Thailand itu memperketat pengawasan dan mengatakan ya mereka sedang menyiapkan respon kontingensi. Nah, di pukul 1130 menjelang siang dimulai juga serangan udara balasan oleh Thailand yang menurut keterangan dari Kamer Times ketegangan meningkat tajam saat pesawat tempur F16 atau F16 milik angkatan udara kerajaan Thailand melancarkan serangan udara terhadap posisi militer Kamboja di zona perbatasan di Provinsi Previ ini merupakan penggunaan kekuatan udara pertama yang dikonfirmasi di dalam konflik terbaru ini, Geng. Selanjutnya nih, Geng. Pada pukul 1154 pagi, tentara Kamboja menyerang Rumah Sakit Nom Dongrak yang mana ini mengakibatkan beberapa orang terluka. Para tentaranya juga mengusir para staf rumah sakit untuk segera meninggalkan tempat tersebut yang akhirnya pada pukul 1441 tentara kerajaan Thailand mengklaim sudah berhasil menghancurkan dua tank Kamboja di Kaatasom. Gila ya perangnya serius nih hanjur-anjuran. Dan yang terakhir nih pada pukul .00 Sore ini ya. Militer Thailand itu melancarkan serangan darat dan udara dengan nama Sandi Operasi Yuta Bodin sebagai tanggapan atas bentrokan yang terus berlanjut dengan pasukan Kamboja di sepanjang perbatasan. Serangan tersebut dipimpin oleh Jenderal Pana Kleu Blau Tukuk ya. Dan lanjut pada malam harinya, Perdana Menteri Hunsen itu mengklaim bahwa Kamboja tidak punya pilihan selain melawan Thailand dan menambahkan kalau dia berpartisipasi di dalam komando militer melalui tautan video. Nah, Perdana Menteri yang satu ini menyatakan dia tidak berpergian ke luar negeri seperti yang dilaporkan di media Thailand. Dia bilang, "Ya, dia stay di Kamboja, ikut berperang dan dia menyalahkan militer Thailand karena meningkatkan situasi semakin memanas dan dia mengklaim kalau Thailand berencana untuk menutup pintu masuk ke kuil Tamuentom." Nah, pada malam yang sama ya, Pemerintah Provinsi ODAR Menci di Kamboja menyatakan bahwa 5.000 warga sudah dievakuasi dari wilayah konflik dan angkatan udara kerajaan Thailand mengutuk tindakan Kamboja yang menggunakan senjata untuk menyerang warga sipil dan mengatakan bahwa mereka siap untuk membela rakyat dan kedaulatan dari pelanggaran hak asasi manusia. Dan mereka mengklaim sudah melancarkan ya setidaknya dua serangan udara terhadap posisi Kamboja dengan satu serangan yang sudah dikonfirmasi dengan sebuah rekaman. Nah, sebuah video di saat itu diunggah ya yang menunjukkan sebuah pesawat tanpa awak angkatan darat kerajaan Thailand menjatuhkan granat di beberapa tempat penyimpanan amunisi Kamboja sebelum akhirnya terbakar dan terjatuh. Dan bentrokan ini berlanjut sampai tanggal 25 Juli. Dan di pihak Thailand setidaknya ada satu tentara dan 14 warga sipil tewas atas kejadian ini. Sementara 14 tentara lain dan 32 warga sipil itu luka-luka. Nah, di Kamboja ada empat warga sipil yang terluka sementara 4.000 orang sampai dievakuasi. Satu orang di Provinsi ODAR Menchei angkatan laut ee kerajaan Thailand juga mengunggah pengumuman daring yang menuduh kalau Kamboja melanggar konvensi Genewa dan melakukan kejahatan perang dengan sengaja menjatuhkan bom di rumah sakit, komunitas tertentu, dan situs bersejarah milik Thailand. Oke, sebelum kita lanjut lagi nih ya, apa e kronologinya, gua pengin tanya ke kalian deh. Kenapa kalau yang perang ya dua negara yang bukan beragama Islam enggak ada yang teriak-teriak, enggak ada yang teriak-teriak eh yang yang negara Islam sibuk perang gitu. Ini kan dua negara beragama Buddha nih, tapi enggak ada yang repot. Tapi giliran Timur Tengah yang perang pasti dikait-kaitkan dengan agama, ya kan? Nah, padahal ini jelas-jelas nih masalah perubutan situs budaya, masalah perubutan kuil ya kan itu berhubungan dengan agama. Tapi kok enggak ada tuh komen-komen yang teriak tentang agama? Ayo, kenapa? Oke, kita lanjutkan. Serangan ini menandai eskalasi serius dari konflik bersenjata yang sebelumnya masih terbatas pada kontak darat dan serangan artileri. Nah, bentrokan darat dilaporkan sudah terjadi sejak pagi hari di sekitar wilayah pegunungan Dangrek dan peperangannya terus berlanjut ya. Semua pihak menjadi khawatir dengan perang antara Thailand dan Kamboja ini. Nah, jadi dimulainya itu pada tanggal 23 Juli hari Rabu, tanggal 24 Juli hari Kamis sampai dengan hari Jumat di tanggal 25 Juli. Jadi menyeramkan banget. Selanjutnya nih, Geng ya, ada tanggapan nih dari kedua belah pihak dari perang skala besar yang terjadi sebelumnya menurut pernyataan juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja yang bernama Jenderal Mali Sujatta. Pihak mereka mengutuk tindakan Thailand sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan nasional. Kamboja menegaskan bahwa mereka hanya membalas serangan demi mempertahankan wilayah dan menyebutkan penggunaan senjata berat serta boom oleh Thailand sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap piagam PBB dan hukum internasional. Kamboja bilang mereka akan tetap berkomitmen menyelesaikan konflik secara damai melalui jalur diplomatik, namun juga menegaskan kesiapan total mereka untuk membela kedaulatan nasional sesuai dengan pasal 51 piagam PBB. Ya, jadi mereka siap nih kalau damai oke, perang juga ayo gitu. Nah, sementara itu, juru bicara angkatan darat Thailand juga memberikan komentar dalam pernyataan terpisah yang menegaskan bahwa tindakan balasan termasuk serangan udara itu merupakan bentuk perlindungan atas personel militer dan warga sipil, katanya. Jadi, dua-duanya nih sama-sama ngeklaim kalau mereka itu cuma melancarkan serangan balasan. Enggak ada yang ngaku siapa yang pertama. Thailand menyebutkan serangan roket BM21 oleh pihak Kamboja ke wilayah pemukiman itu sebagai tindakan yang keji yang melanggar hukum kemanusiaan internasional. Pemerintah Thailand menyatakan telah mengevakuasi warga dari area terdampak dan mempersiapkan segala opsi untuk menghadapi kemungkinan eskalasi lebih lanjut. Gila nih. Nah, banyak yang enggak expect ya kalau Kamboja itu bisa ngelawan Thailand karena Thailand tuh termasuk yang gede lah, lebih gede daripada Kamboja. Tapi kita enggak bisa memungkiri ya Kamboja sekarang udah maju semenjak judul-judolan ini ya kan negaranya tuh semakin bangkit gitu geng. Nah, itu dia, Geng, kurang lebih ya. Bagaimana konflik antara Thailand dan Kamboja dimulai beberapa waktu belakangan. Dan selain ngebahas soal konfliknya nih, ya, kita juga bakal bahas ya sebuah informasi yang menarik nih. Karena ternyata ada satu pulau yang sangat terkenal akan destinasi wisatanya. Padahal status dari pulau tersebut berada dalam sengketa. Sebab Thailand dan Kamboja saling ngeklaim kepemilikan pulau tersebut. Nah, pulau apa itu? Ya, nah ini salah satu hal yang bikin Kamboja dan Thailand saling bersih tegang juga nih. Tapi justru di sana tuh kayak damai-damai aja. Maksudnya di pulau itu damai-damai aja, tapi di luar pulau itu antara Thailand dan Kamboja lagi ribut-ribut. Nama pulau ini adalah Pulau Koh Kot. Ini Kohkot apa Kohkot gua sebutnya Kohkot aja. Oke, kita bahas. Jadi, Geng Kohkot ini adalah pulau terbesar dari 12 pulau yang dikelola oleh Distrik Kokut, Thailand. Nah, perekonomian Kokut itu berpusat pada perikanan, pertanian, dan pariwisata. Beberapa sumber menggambarkan kalau pulau ini tuh relatif terpencil dan kurang berkembang. Namun itu gak membuat Pulau Kohkot jadi kehilangan pesonanya, Geng. Biasanya kan makin terpencil sebuah pulau itu kan makin estetik gitu ya. Orang makin tertarik dan penasaran untuk datang. Nah, bahkan disebutkan ya kalau pulau ini tuh bisa menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahunnya. Tapi geng ya di balik keindahan pulau tersebut, Kohkot ini juga jadi target sengketa dan mulai disengketakan oleh Thailand dan Kamboja dari tahun 1960-an. Jadi semuanya dimulai pada perjanjian perbatasan Siam, yaitu nama Thailand sebelumnya. Sebelum jadi Thailand tuh namanya dulu Siam. Nah, dan juga Prancis ya. Jadi ini perjanjian perbatasan antara Siam dan Prancis. Dan setelah kemerdekaan Kamboja pada tahun 1954, meskipun Kamboja mengklaim beberapa wilayah laut dan pulau kecil di sekitar perbatasan, perjanjian tahun 1907 tetap menjadi dasar hukum untuk pengakuan Kokut ini sebagai bagian dari Thailand. Akibatnya terlepas dari klaimnya Kamboja, Thailand itu mempertahankan kendali atas Pulau Koku tadi di bawah perjanjian internasional yang menetapkan pulau itu sebagai bagian dari Thailand. Alhasil, hingga sampai hari ini belum ada informasi lebih lanjut mengenai kepemilikan Pulau Kohkot ini. Dan hingga saat ini Pulau Kohkot ini ya secara hukum itu adalah milik Thailand yang diakui secara internasional berdasarkan konvensi Genewa tahun 1958 dan konvensi PBB tentang hukum laut tahun 1982. Walaupun pada tahun 1972 Kamboja ini mengajukan klaim bahwa batas maritim mereka dalam perjanjian tersebut mencakup bagian dari selatan kohkot ya. Thailand mengajukan klaim balasan pada tahun 1973. Jadi enggak mau ada yang ngalah. Sengketa Pulau Kokkot ini sempat memanas lagi, Geng, pada tahun 2024 setelah salah satu postingan di TikTok yang mana di dalam postingan itu memperlihatkan tentara Thailand mengangkut kendaraan militer untuk latihan di dekat pulau itu. Video tersebut ternyata palsu, editan. Begitu juga dengan rumor lain yang mengklaim kalau pasukan militer Thailand dan Kamboja terlibat di dalam pertempuran kecil di dekat Kohkot. Hal ini menimbulkan banyak spekulasi publik yang salah satunya ingin kembali melakukan sidang sengketa di daerah sana. Dan kedua negara juga tidak menutup untuk melakukan sengketa. Tapi hingga saat ini belum ada kepastian atas kelanjutan kasus tersebut. Nah, sengketa kayak gini, Geng, sebenarnya pernah terjadi juga antara Kamboja dan Thailand itu antara tahun 2008 dan juga 2011. Mereka terlibat di dalam konflik perbatasan kecil di wilayah sekitar Candi Previher yang merupakan runtuhan angkor pada abad ke-11 yang terletak di perbatasan Thailand Utara dan juga Kamboja. Meskipun Mahkamah Internasional atau ICJ memutuskan pada tahun 1962 bahwa candi tersebut adalah milik Kamboja, tapi ketegangan kembali muncul yang menyebabkan meningkatnya ketegangan bilateral dan bentrokan yang tersebar di sepanjang perbatasan sehingga ya menewaskan lebih dari selusin tentara Thailand dan Kamboja. Jadi mereka saling perang di perbatasan. Terus geng, tahun 2013 pihak ICJ menegaskan ya kepemilikan candi tersebut adalah milik Kamboja. Ditegaskan tuh sama ICJ. Nah, karena putusan inilah pendukung Kamboja yakin kalau ICJ juga akan memutuskan hal yang serupa dalam sengketa Pulau Kohkot. Mereka PD tuh. Mereka pikir ICJ bakal bela mereka lah gitu. yang mana ini menyatakan bahwa pulau ini adalah ya 100% milik Kamboja dan Kamboja sangat percaya diri dengan hal itu. Terus geng Perdana Menteri Kamboja yang bernama Hunmanet itu menekankan perlunya sikap kedewasaan politik dan tanggung jawab nasional antara kedua belah pihak. Nah, sedangkan respon dari Wakil Perdana Menteri Thailand yang bernama Puntam Wecaya Chai, dia ini menekankan tentang hasil dari perjanjian tahun 1907 dan menjadikan hal tersebut sebagai landasan hukum untuk mengambil sikap dalam sengketa di wilayah daerah itu. Nah, jadi kurang lebih kayak gitu ya, Geng. sengketa dari Pulau Kohkot yang menjadi salah satu apa ya pergesekan antara Thailand dan Kamboja sampai sekarang masih berlangsung lah. Nah, tapi dua penjelasan sebelumnya itu adalah bagian kecil dari keseluruhan konflik yang terjadi antara dua negara ini. Sebenarnya mereka tuh banyak banget ya, banyak banget permasalahan di antara kedua negara ini. Nah, sekarang gua bakal ngajak kalian untuk membahas lebih dalam bagaimana sih awal mula e dari konflik Thailand dan Kamboja ini. Di mana akarnya? Sekarang kita bahas sejarah perseturuan dua negara ini. Jadi, geng, di balik saling serang dan evakuasi massal antara kedua negara ini di tahun 2025 tersembunyi sejarah panjang yang dimulai dari selembar peta tua dan ambisi kolonial. Nah, ini sejarah awalnya nih. Konflik antara Thailand dan Kamboja itu bukan sekedar perebutan wilayah, melainkan cerminan dari warisan imperialisme, nasionalisme, dan politik identitas yang terus bergema sampai saat sekarang ini. Jadi, semuanya itu bermula tahun 1907, Geng. Ketika Perancis sebagai penguasa kolonial atas Kamboja dan juga Thailand yang di saat itu bernama Siam itu menyepakati perjanjian batas wilayah. Berdasarkan prinsip Watershad, batas negara seharusnya mengikuti aliran air alami di pegungan Dangrek. Namun peta yang dibuat oleh Prancis menunjukkan bagian dari kuil preah Vihear itu yang secara geografis berada di sisi Thailand sebagai bagian dari wilayah Kamboja itu gara-gara peta itu tuh. Nah, Thailand menerima peta itu untuk keperluan resmi tanpa menyadari implikasi jangka panjangnya. Barulah pada tahun 1930-an Thailand melakukan survei ulang dan menemukan bahwa kuil tersebut sebenarnya ya berada di sisi mereka. Nah, namun karena mereka tidak segera memprotes ya, Mahkamah Internasional atau ICJ kemudian menyatakan bahwa Thailand sudah mengakui secara diam-diam peta tersebut. Di dalam hukum internasional, diam bisa berarti setuju. Dan setelah Prancis mundur dari Kamboja pada tahun 1953, Thailand segera mengirim pasukan dan menduduki kuil Prea Vihe pada tahun 1954 dan mengklaim bahwa wilayah itu adalah milik mereka berdasarkan survei terbaru. Kamboja yang baru merdeka itu membawa kasus ini ke ICJ di dalam putusan bersejarah tahun 1962. ICJ itu menyatakan bahwa kuil tersebut berada di wilayah Kamboja. Nah, akhirnya Thailand menyerahkan kuil itu tapi tetap mengklaim wilayah di sekitarnya yang tidak dibahas di dalam putusan. Putusan ini menjadi titik balik nih, tetapi bukan titik akhir. Wilayah sekitar kuil tetap menjadi zona abu-abu, tempat di mana sejarah, hukum, dan nasionalisme saling bertabrakan. Kemudian nih, singkat cerita 40 tahun pun berlalu dan pada tahun 2008 Kamboja mengajukan Prea Vihear ya si Kuil tadi sebagai situs warisan dunia UNESCO. Thailand menuduh Kamboja menyertakan wilayah sengketa di dalam pengajuan tersebut. Ketegangan pun meningkat dan bentrokan militer pun terjadi. Wilayah Kuil, Tamoan, Tom, dan Takrabe itu ikut terseret yang mana dalam kejadian ini menewaskan puluhan tentara dan mengungsikan ribuan warga di sana. Konflik ini berlangsung selama bertahun-tahun dengan puncaknya pada tahun 2011 ketika sebuah bentrokan besar memaksa lebih dari 36.000 warga itu harus mengungsi. Nah, Kamboja kembali membawa kasus ini ke ICJ. Dan pada tahun 2013 pengadilan menegaskan bahwa seluruh promontori prea Viihear adalah milik Kamboja. Thailand pun diminta untuk menarik pasukannya, tetapi ketegangan di saat itu terus berlangsung. Dan menurut kepercayaan mereka, kuil-kuil kuno ini bukan sekedar bangunan batu. Tapi bagi Kamboja, prea Vihear adalah simbol kejayaan Kahmer. Nah, bagi Thailand, kuil itu adalah warisan budaya yang dicuri oleh kolonialisme. Jadi, sama-sama merasa kayak ini punya gue, penting buat negara gua gitu. Dan sengketa ini menjadi alat politik elit di kedua negara menggunakan isu perbatasan untuk membangkitkan rasa nasionalisme di masing-masing negara. Jadi kayak misalkan pemerintah Thailand nih bilang, "Wah, itu punya kita, kita harus ambil itu. Kita orang Thailand, nasionalisme kita tinggi." Nah, Kamboja juga sebaliknya sama, pemerintahnya juga kayak gitu. Dan ini mengalihkan perhatian mereka dari krisis di dalam negeri dan memperkuat legitimasi. Dan sejak itulah kedua negara enggak pernah benar-benar akur, Geng. Perang terus gara-gara perbatasan itu. Nah, makanya kalau berbicara tentang Thailand dan Kamboja, pergesekan di antara kedua negara ini tuh gampang banget tersulut. Gampang bangetlah pokoknya dipancing. Nah, itu dia, Geng, pembahasan kita kali ini tentang konflik negara-negara tetangga kita ini ya, yaitu Thailand dan Kamboja hingga memakan korban jiwa dari kedua belah pihak. Dan ternyata konflik ini sudah ada sejak zaman dulu. Dan ya terlahir dari sebuah sistem kolonialisme yang membuat kedua negara ini saling klaim wilayah antar kekuasaan. Jadi gimana menurut kalian, Geng, tentang kejadian ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.