Transcript
Wm6UfR_bxoY • KONFLIK THAILAND vs KAMBOJA ! PERANG TERBUKA ATAS DENDAM LAMA
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1490_Wm6UfR_bxoY.txt
Kind: captions
Language: id
Geng, seperti yang kita semua tahu ya,
kalau konflik antara Thailand dan
Kamboja bukanlah hal baru ya. Mereka
sudah berkali-kali bersih tegang dari
rebutan candi bersejarah sampai
provokasi di perbatasan. Tapi yang
terbaru ini, Geng, situasinya semakin
memanas karena di satu sisi ada pasukan
dan senjata yang mulai berdatangan di
garis perbatasan. Nah, di sisi lain
kalian tahu enggak, Geng? kalau ada
sebuah pulau yang justru menjadi
destinasi terkenal. Padahal pulau
tersebut adalah pulau yang menjadi
sengketa antara Thailand dan Kamboja. Di
sana banyak properti mewah yang selalu
menjadi incaran bagi banyak turis kalau
datang ke sana. Dan bahkan ada yang
bilang beberapa bangunan yang berdiri
itu enggak jauh dari zona
demilitarisasi. Dan enggak cuma itu,
bahkan kabarnya banyak tenaga kerja
lokal dari Kamboja direkrut secara masif
dan mendapatkan pelatihan manajemen
serta hospitality dari tim Thailand.
Aneh banget ya, perang-perang
bisnis-bisnis. Dan pertanyaannya kok
bisa lancar gitu ya? Apakah pemerintah
Kamboja enggak aware atau justru mereka
tutup mata demi pemasukan? Nah, kita
bakalan bedah lebih dalam tentang hal
ini, tentang perangnya, tentang pulau
tadi, ya. Karena kalau kita tarik garis
logika, konflik politik seharusnya
memicu embargo, perbatasan kerja sama
atau minimal ada tekanan sosial. Tapi di
sini justru bisnisnya jalan lancar,
uangnya masuk, bahkan warga lokal ikut
terlibat. Ya, apakah ini pertanda bahwa
ekonomi bisa menjadi alat damai
diam-diam atau justru ini bukti kalau
konflik bukan tentang rakyat, tapi
tentang panggung adu gengsi dari elit
politik mereka. Dan ironisnya nih ya,
ketika warga Thailand datang berlibur ke
Kamboja, banyak yang enggak menghormati
budaya setempat. Ada yang seenaknya
bersikap superior, bahkan
terang-terangan bilang kalau
infrastruktur Kamboja bisa maju
gara-gara bantuan Thailand. Masa sih?
Jangan main-main L sama Kamboja L.
Judul-judul Indo yang buka pecelele
banyak di sana loh. Ini bukan soal
perilaku ya, Geng. Tapi ini soal narasi
kolonial yang dibungkus dengan senyum
turis. Nah, mereka datang dengan tujuan
mempengaruhi Kamboja melalui daya tarik,
persuasi, terus juga budaya yang
dibungkus dengan turis-turis yang
datang. Nah, jadi video ini kita enggak
cuma bahas konflik di permukaannya aja,
tapi kita bakal kulik lebih dalam soal
paradoks ekonomi politik, soal identitas
nasional yang dijadikan komoditas dan
bagaimana kebijakan luar negeri sering
sekali cuma jadi topeng ya. Apakah
Thailand dan Kamboja benar-benar
berkonflik, benar-benar perang atau ini
cuma teater geopolitik yang dijual ke
publik supaya terlihat tegang? Ayo kita
bahas secara lengkap tentang konflik
ini. Halo, Geng. Welcome back to Kamar
Jerry.
[Musik]
Geng geng. Oke, kita langsung masuk ke
dalam pembahasan konfliknya dulu nih ya.
Jadi, Geng, semua ini bermula pada Rabu
tanggal 28 Mei 2025 di mana terjadi aksi
baku tembak antara tentara Thailand dan
Kamboja di perbatasan wilayah Ubon
Racani dan wilayah sengketa Candi Preah
Vihear. Ya, ini koreksi gua kalau salah
dalam pengucapannya nih. Mereka ini
terlibat di dalam pertempuran singkat
selama 10 menit yang mengakibatkan
tewasnya seorang tentara kampoja, Letnan
2, Suon Run. Ya, di dalam baku tembak
ini mereka saling menyalahkan satu sama
lain dan juru bicara militer Kamboja
yang bernama Maupala itu menyatakan
bahwa tentara Thailand lah yang
menembaki posisi dari para pasukan
Kamboja terlebih dahulu. Jadi, mereka
yang mancing duluan, katanya. Nah,
kabarnya mereka itu menembak lebih
tepatnya ke arah parit pertahanan yang
sudah lama digunakan oleh para tentara
Kamboja untuk berlindung. Nah, mereka
juga menyebutkan bahwa apa yang
dilakukan oleh tentara Thailand ini
sebagai agresi sepihak dan menegaskan
bahwa pasukan atau tentara Kamboja cuma
membalas tembakan dari tentara Thailand
sebagai respon untuk mempertahankan
diri. Dan Perdana Menteri Hun Manet itu
langsung merespon dengan mengajukan
sengketa ke Mahkamah Internasional atau
ICJ. Nah, sambil menyatakan bahwa
Kamboja tidak ingin berkonflik dan tidak
ingin menyatakan perang jika tidak dari
Thailand yang mulai perang lebih dahulu.
Katanya gitu. Sedangkan respon dari
pihak lawan yaitu pihak Thailand itu
beda lagi. Atas baku tembak singkat pada
Rabu tanggal 28 Mei 2025 melalui juru
bicara angkatan darat militer Thailand
yang bernama Mayor Jenderal Wintai
Sufari. Dia bilang kalau pasukannya itu
mencoba membujuk pasukan Kamboja yang
berada di parit untuk mundur. Karena
menurut pasukan Thailand itu dianggap
melanggar batas wilayah yang ditentukan
sebelumnya. Nah, tapi pasukan Thailand
ini malah membalas dengan tembakan. Nah,
tuduhannya beda lagi nih. Kalau tentara
Thailand bilang mereka cuma ngomong
pakai mulut gitu, "Eh, lu mundur dong,
itu batasannya udah lewat gitu. Nah,
tapi malah dibalas pakai tembakan." Nah,
kita enggak tahu nih mana yang benar.
Nah, akhirnya ya menurut tentara
Thailand karena udah ditembak duluan,
mereka akhirnya terpaksa ikut membalas
demi mempertahankan diri mereka. Nah,
Menteri Pertahanan Thailand yang bernama
Pumtam Wicaya Chai itu langsung ikut
berpendapat ya terhadap aksi penembakan
tersebut yang mereka anggap Kamboja
duluan. dan dia bilang kalau aksi
penembakan itu sudah diselesaikan dan
berujung damai. Dia juga menyampaikan
kalau kedua belah pihak tidak ingin
eskalasi lebih lanjut katanya gitu.
Terus singkat cerita, keesokan harinya
tepat hari Kamis tanggal 24 Mei 2025,
pihak Thailand sudah sepakat untuk
meredakan ketegangan perbatasan dengan
Kamboja setelah bentrokan di perbatasan
tersebut. Nah, Winai Sufari itu bilang
kalau ya salah satu komandan jenderal
yang ada di Thailand yang bernama Pana
Clay Plot Took itu sudah bertemu dengan
mitranya dari Kamboja dan kedua belah
pihak akhirnya sepakat untuk memindahkan
pasukan dari daerah tersebut. Dia juga
menambahkan kalau komite batas bersama
akan bertemu lagi di dalam waktu 2
minggu untuk menyelesaikan permasalahan
konflik di perbatasan antara Kamboja dan
Thailand ini. Mereka sepakat tuh buat
sama-sama mundur dari daerah konflik dan
keduanya setujulah, menyetujuilah,
sepakat gitu. Dan saat itu Perdana
Menteri Kamboja Hunmanet itu meminta
seluruh warganya untuk tetap tenang dan
mendesak untuk penyelesaian secara damai
terhadap masalah perbatasan yang sedang
berlangsung di kedua negara ini.
Sebenarnya kalau kita perhatikan ya,
antara kedua negara ini juga rada
ragu-ragu buat perang, Geng. Karena kan
konsekuensi perang itu enggak main-main,
ya. Nah, tapi udah terlanjur saling
nembak. Nah, terus geng pada Jumat
tanggal 30 Mei nih keesokan harinya
muncul deklarasi dari tentara Kamboja
yaitu RC yang menyatakan tidak akan
mundur dari daerah konflik. Hal ini
mereka lakukan segera setelah
berakhirnya perundingan antara Letnan
Jenderal Mao Sopan yaitu Panglima
Angkatan Darat Kamboja dan Letnan
Jenderal Pana Cle Plot Tukand.
Pernyataan dari RCF ini itu menunjukkan
bahwa mereka tetap ingin mempertahankan
posisi militernya sebagai bentuk klaim
kedaulatan. Jadi tetap pengin perang
tuh. Karena pernyataan tersebut,
akhirnya militer Thailand itu menyatakan
bahwa mereka siap meluncurkan operasi
tingkat tinggi jika terjadi pelanggaran
kedaulatan lebih lanjut. Mereka juga
bilang kalau peningkatan kesiapan
militer Kamboja itu masuk ke dalam
kategori mengkhawatirkan dan menegaskan
bahwa pasukan Thailand akan bertindak
penuh untuk mempertahankan wilayah
mereka jika diperlukan. Thailand juga
memperpendek jam operasional di 10 pos
perbatasan dan mengambil alih kontrol
penuh atas pembukaan dan penutupan semua
titik lintas batas dengan Kamboja. Dan
pemerintah Thailand juga membatasi izin
tinggal warga Kamboja di Thailand
menjadi hanya 7 hari sebagai bentuk
tekanan diplomatik.
Nah, jadi kayak cewek ngambek gitu loh.
Kamu boleh tidur di kamar aku tapi cuma
7 menit, selebihnya cabut. Gitu. Kurang
lebih gitulah ya penggambarannya. Jadi
Thailand juga sudah mengoperasikan 17
penyeberangan perbatasan resmi di
sepanjang perbatasan yaitu sejauh 817 km
atau 508 mil. Enggak lama dari situ,
Geng ya. Tepatnya di pertengahan Juni
yaitu Senin 22 Juni 2025. Ketegangan
antara Thailand dan Kamboja itu memuncak
dan pada akhirnya menciptakan ketakutan
di garis perbatasan, tapi juga merembet
ke sektor ekonomi dan budaya yang lebih
luas. Nah, ini semua terjadi setelah
adanya insiden penembakan yang
menewaskan seorang tentara Kamboja di
wilayah sengketa di dekat Congbok
namanya. Nah, pemerintah Kamboja di saat
itu memutuskan untuk mengambil langkah
balasan yang cukup agresif yaitu
penghentian impor dari Thailand. Jadi
mereka enggak mau ngimpor barang dari
Thailand lagi dan seperti bahan bakar,
produk pertanian hingga listrik itu
dibekukan semua. Di dalam pernyataan
resminya awal Juni ya Perdana Menteri
Hunmanet itu menyatakan bahwa Kamboja
akan menghentikan impor bahan bakar,
gas, produk pertanian, dan pasukan
listrik dari Thailand yang mana ini
cukup merugikan Thailand. Dan beberapa
jaringan penyedia broadband serta
layanan internet milik Thailand juga
ikut diblokir dari sistem telekomunikasi
milik Kamboja. Nah, langkah ini disebut
sebagai bagian dari pengamanan
kedaulatan sekaligus sinyal bahwa
Kamboja tidak akan tunduk pada tekanan
diplomatik maupun militer dari Thailand.
Tak hanya berhenti di ekonomi aja,
retaliasi Kamboja menyentuh ranah budaya
juga. Karena stasiun TV lokal itu
dihimbau untuk menghentikan penayangan
film-film dari Thailand, acara hiburan,
dan bahkan musik pop Thailand yang telah
lama populer di kalangan anak muda
Kamboja tuh semua dihentikan. Jadi ini
gambarannya tuh sebenarnya Kamboja sama
Thailand tuh kayak kita sama Malaysia,
Geng. Ya, di TV-TV Malaysia itu kan juga
ada tuh kayak penyanyi-penyanyi
Indonesia kayak Rosa, Afgan gitu kan.
Nah, makanya familiar lah budaya dan
artis-artis kita di sana. Begitu juga
dengan artis-artis Malaysia di sini.
Kamboja sama Thailand tuh gitu. Bahkan
kalau kalian tahu nih, Muai Thai ya, di
Kamboja tuh juga ada Muai Tai tapi
dengan namanya tersendiri dengan nama
Kamboja. Dan gua pernah ketemu sama
teman dari Kamboja yang mana mereka
menganggap bahwa Thailand itu mencuri
budaya mereka. Dan menurut Kamboja,
budaya Thailand itu sebenarnya berasal
dari Kamboja semua. Kalau kita lihat
dari apa ya ornamen-ornamen bangunannya
sih memang di Kamboja itu banyak ee apa
ya bangunan-bangunan tua, asal-asal
budaya dari zaman dulu yang sampai
akhirnya mereka terpecah menjadi
Thailand dan Kamboja. Jadi bisa
dikatakan mungkin aja benar kali ya
sejarah semuanya tuh budayanya tuh
berawal dari Kamboja kali ya. Tapi gua
juga enggak bisa sotoi soal hal ini
gitu. Pemerintah itu menyebutkan
konten-konten milik Thailand itu tidak
sesuai dengan semangat nasionalisme di
dalam kondisi krisis di Kamboja saat
ini. Pemerintah Kamboja menegaskan bahwa
keputusan ini bukan semata balasan
emosional, tapi langkah strategis untuk
mengurangi ketergantungan ekonomi pada
negara yang mereka anggap sebagai
agresor. Nah, mereka menyebutkan bahwa
Thailand selama ini mengambil keuntungan
dari ekspansi dagangnya ke Kamboja. Dan
di dalam situasi konflik, kerja sama
semacam itu tidak bisa dibiarkan. Nah,
akibatnya ya beberapa SPBU di Penompen
itu mengalami kekosongan stok dalam 2
hari pertama setelah embargo.
Selanjutnya harga sayur mayur, buah
impor dari Thailand itu melonjak sampai
40% dan ini memicu protes kecil di pasar
tradisional. Bahkan sektor pariwisata
Kamboja yang biasa menerima pelancong
dari Thailand mengalami penurunan
kunjungan drastis. Ya, sebenarnya apa
yang dilakukan oleh Kamboja ini justru
merugikan mereka sendiri. Tapi mereka
tuh pengin kayak enggak apa-apa kok,
kita kuat kok lawan Thailand. Bodo amat
lu enggak usah datang. Enggak apa-apa,
tapi ternyata rakyatnya sebagian
kecilnya itu menjerit gitu. Thailand ini
diketahui adalah mitra dagang terbesar
ketiga yang dimiliki oleh Kamboja dari
tahun 2022. Dan menurut Bank Dunia
dengan impor mencapai 3,8 miliar US DO
atau sekitar Rp62 triliun di mana
27%-nya disumbangkan oleh impor bahan
bakar dari Thailand ke Kamboja. Terus
gengs, sebelumnya juga Kementerian
Kamboja itu menuduh bahwa tentara
Thailand sudah melanggar perjanjian
dengan mengawal sekitar 150 pengendara
sepeda untuk mengunjungi kuil yang
sedang disengnyetakan oleh mereka di
daerah perbatasan. Nah, tapi militer
Thailand itu membantah adanya
pelanggaran dan mengatakan kalau yang
terjadi itu hanyalah kesalahpahaman.
Nah, akhirnya nih, Geng, perang pun
mulai terjadi tepat di Rabu, 23 Juli
kemarin karena ledakan ranjau di
perbatasan tepat pada pukul 1655 sore.
Dan salah satu juru bicara pasukan
Thailand menjelaskan bahwa telah terjadi
ledakan ranjau darat yang diduga
dipasang oleh pihak Kamboja di wilayah
Conganma, Distrik 6 Yuen, Provinsi Ubon,
Racatani. Lima personel batalyon
infantri ke-14 itu sampai terluka dan
salah satunya mengalami luka parah di
bagian kaki kanan akibat menginjak alat
peledak tersebut. Nah, empat lainnya
menderita sesak di dada dan tinitus
akibat gelombang kejut. Nah, seluruh
korban itu langsung dilarikan ke rumah
sakit 6. Dan malam hari, ya pada malam
harinya nih, Kepala Angkatan Darat
Thailand, Jenderal Pana Cleo Plotok itu
langsung memerintahkan eh pengerahan
kekuatan dari army area kesatu dan area
kedua untuk bersiap di dalam operasi
Cakrapong Puanat. Nah, Thailand mengutuk
keras tindakan Kamboja yang dinilai
melanggar hukum humaniter internasional.
Dan Kamboja beralasan bahwa ranjau itu
sudah lama dia pasang dan baru meledak
setelah keetrigger dari salah satu
tentara Thailand yang enggak sengaja
menginjaknya gitu kata mereka. Dan
keesokan harinya, tepat di hari Kamis
tanggal 24 Juli tahun 2025 terdapat
eskalasi di kompleks Candi Tamuen. Nah,
pada pukul 0.30 pagi waktu setempat.
Menurut Kementerian Pertahanan Kamboja,
pasukan Thailand disebut melakukan
pelanggaran perbatasan dengan menaiki
candi Tamuen Tom dan menyusup di area
kaki candi. Dan selanjutnya pada pukul .
pagi, pihak dari Thailand sempat
menerbangkan sebuah drone pengintai
selama 2 menit di atas wilayah tersebut.
Dan pukul 5 pagi, pasukan Thailand
mendeteksi suara UAV Kamboja di atas
pangkalan mereka. Meski tidak terlihat
secara visual, tapi mereka yakin itu
adalah e suara UAV dari Kamboja. Nah,
untungnya di saat itu nih, Geng, belum
terjadi kontak senjata. Dan barulah pada
pukul 820 pagi, Thailand menyatakan
bahwa pasukan Kamboja melepaskan
tembakan pertama ke arah markas
operasional Thailand di sisi timur
kompleks Tamuen. Tapi hal ini justru
dibantah oleh Kamboja karena tepat pada
pukul 830 pagi justru Kamboja menuduh
balik Thailand karena diduga mulai
menembakkan senjata berat ke arah
kompleks Candi Tamuent Tom. Nah, jadi
saling tuduh nih, "Lu nembak gua enggak?
El duluan. Nah, tapi kan kalau misalkan
suara ledakan senjata kita susah bedain
ya, Geng, dari mana asalnya gitu. Nah,
yang terjadi sebenarnya adalah pada
pukul 8 lew 6 pagi Kamboja mengklaim ya
serangan Thailand itu meluas ke wilayah
Takrabei Penom Komau dan juga daerah
Momebei. Nah, serta di saat itu mereka
menjatuhkan dua bom dari pesawat tempur
di daerah Watkao Shika Kiriak. Waduh,
susah banget pengucapannya. Dan di sini
nih, Kamboja dengan pasukan mereka baru
membalas tembakan sebagai bentuk
pembelaan diri terhadap agresi Thailand.
Nah, terus geng pada pukul 9:40 pagi
dimulailah serangan roket ke wilayah
sipil yaitu dua roket BM21 yang diduga
diluncurkan oleh pihak Kamboja dan
langsung menghantam area pusat
pengembangan wilayah perbatasan di
Distrik Kabupaten Cong yang ada di
Provinsi Surin, Thailand. yang mana ini
mengakibatkan sebuah pom bensin di
Provinsi Sisaket itu terkena serangan
BM21 GR milik Kamboja yang mengakibatkan
banyak korban sipil. Nah, jadi udah
kayak perang di ee kemarin tuh perang
siapa tuh antara Iran Isriwel tuh udah
pakai-pakai roket tuh ya dan termasuk
nih ya sedikitnya orang itu meninggal
dunia yang mana salah satunya itu adalah
seorang anak laki-laki berusia 8 tahun.
Pasukan Thailand itu memperketat
pengawasan dan mengatakan ya mereka
sedang menyiapkan respon kontingensi.
Nah, di pukul 1130 menjelang siang
dimulai juga serangan udara balasan oleh
Thailand yang menurut keterangan dari
Kamer Times ketegangan meningkat tajam
saat pesawat tempur F16 atau F16 milik
angkatan udara kerajaan Thailand
melancarkan serangan udara terhadap
posisi militer Kamboja di zona
perbatasan di Provinsi Previ ini
merupakan penggunaan kekuatan udara
pertama yang dikonfirmasi di dalam
konflik terbaru ini, Geng. Selanjutnya
nih, Geng. Pada pukul 1154 pagi, tentara
Kamboja menyerang Rumah Sakit Nom
Dongrak yang mana ini mengakibatkan
beberapa orang terluka. Para tentaranya
juga mengusir para staf rumah sakit
untuk segera meninggalkan tempat
tersebut yang akhirnya pada pukul 1441
tentara kerajaan Thailand mengklaim
sudah berhasil menghancurkan dua tank
Kamboja di Kaatasom.
Gila ya perangnya serius nih
hanjur-anjuran. Dan yang terakhir nih
pada pukul .00 Sore ini ya. Militer
Thailand itu melancarkan serangan darat
dan udara dengan nama Sandi Operasi Yuta
Bodin sebagai tanggapan atas bentrokan
yang terus berlanjut dengan pasukan
Kamboja di sepanjang perbatasan.
Serangan tersebut dipimpin oleh Jenderal
Pana Kleu Blau Tukuk ya. Dan lanjut pada
malam harinya, Perdana Menteri Hunsen
itu mengklaim bahwa Kamboja tidak punya
pilihan selain melawan Thailand dan
menambahkan kalau dia berpartisipasi di
dalam komando militer melalui tautan
video. Nah, Perdana Menteri yang satu
ini menyatakan dia tidak berpergian ke
luar negeri seperti yang dilaporkan di
media Thailand. Dia bilang, "Ya, dia
stay di Kamboja, ikut berperang dan dia
menyalahkan militer Thailand karena
meningkatkan situasi semakin memanas dan
dia mengklaim kalau Thailand berencana
untuk menutup pintu masuk ke kuil
Tamuentom." Nah, pada malam yang sama
ya, Pemerintah Provinsi ODAR Menci di
Kamboja menyatakan bahwa 5.000 warga
sudah dievakuasi dari wilayah konflik
dan angkatan udara kerajaan Thailand
mengutuk tindakan Kamboja yang
menggunakan senjata untuk menyerang
warga sipil dan mengatakan bahwa mereka
siap untuk membela rakyat dan kedaulatan
dari pelanggaran hak asasi manusia. Dan
mereka mengklaim sudah melancarkan ya
setidaknya dua serangan udara terhadap
posisi Kamboja dengan satu serangan yang
sudah dikonfirmasi dengan sebuah
rekaman. Nah, sebuah video di saat itu
diunggah ya yang menunjukkan sebuah
pesawat tanpa awak angkatan darat
kerajaan Thailand menjatuhkan granat di
beberapa tempat penyimpanan amunisi
Kamboja sebelum akhirnya terbakar dan
terjatuh. Dan bentrokan ini berlanjut
sampai tanggal 25 Juli. Dan di pihak
Thailand setidaknya ada satu tentara dan
14 warga sipil tewas atas kejadian ini.
Sementara 14 tentara lain dan 32 warga
sipil itu luka-luka. Nah, di Kamboja ada
empat warga sipil yang terluka sementara
4.000 orang sampai dievakuasi. Satu
orang di Provinsi ODAR Menchei angkatan
laut ee kerajaan Thailand juga
mengunggah pengumuman daring yang
menuduh kalau Kamboja melanggar konvensi
Genewa dan melakukan kejahatan perang
dengan sengaja menjatuhkan bom di rumah
sakit, komunitas tertentu, dan situs
bersejarah milik Thailand. Oke, sebelum
kita lanjut lagi nih ya, apa e
kronologinya, gua pengin tanya ke kalian
deh. Kenapa kalau yang perang ya dua
negara yang bukan beragama Islam enggak
ada yang teriak-teriak, enggak ada yang
teriak-teriak eh yang yang negara Islam
sibuk perang gitu. Ini kan dua negara
beragama Buddha nih, tapi enggak ada
yang repot. Tapi giliran Timur Tengah
yang perang pasti dikait-kaitkan dengan
agama, ya kan? Nah, padahal ini
jelas-jelas nih masalah perubutan situs
budaya, masalah perubutan kuil ya kan
itu berhubungan dengan agama. Tapi kok
enggak ada tuh komen-komen yang teriak
tentang agama? Ayo, kenapa?
Oke, kita lanjutkan.
Serangan ini menandai eskalasi serius
dari konflik bersenjata yang sebelumnya
masih terbatas pada kontak darat dan
serangan artileri. Nah, bentrokan darat
dilaporkan sudah terjadi sejak pagi hari
di sekitar wilayah pegunungan Dangrek
dan peperangannya terus berlanjut ya.
Semua pihak menjadi khawatir dengan
perang antara Thailand dan Kamboja ini.
Nah, jadi dimulainya itu pada tanggal 23
Juli hari Rabu, tanggal 24 Juli hari
Kamis sampai dengan hari Jumat di
tanggal 25 Juli. Jadi menyeramkan
banget. Selanjutnya nih, Geng ya, ada
tanggapan nih dari kedua belah pihak
dari perang skala besar yang terjadi
sebelumnya menurut pernyataan juru
bicara Kementerian Pertahanan Kamboja
yang bernama Jenderal Mali Sujatta.
Pihak mereka mengutuk tindakan Thailand
sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan
nasional. Kamboja menegaskan bahwa
mereka hanya membalas serangan demi
mempertahankan wilayah dan menyebutkan
penggunaan senjata berat serta boom oleh
Thailand sebagai pelanggaran
terang-terangan terhadap piagam PBB dan
hukum internasional. Kamboja bilang
mereka akan tetap berkomitmen
menyelesaikan konflik secara damai
melalui jalur diplomatik, namun juga
menegaskan kesiapan total mereka untuk
membela kedaulatan nasional sesuai
dengan pasal 51 piagam PBB. Ya, jadi
mereka siap nih kalau damai oke, perang
juga ayo gitu. Nah, sementara itu, juru
bicara angkatan darat Thailand juga
memberikan komentar dalam pernyataan
terpisah yang menegaskan bahwa tindakan
balasan termasuk serangan udara itu
merupakan bentuk perlindungan atas
personel militer dan warga sipil,
katanya. Jadi, dua-duanya nih sama-sama
ngeklaim kalau mereka itu cuma
melancarkan serangan balasan. Enggak ada
yang ngaku siapa yang pertama. Thailand
menyebutkan serangan roket BM21 oleh
pihak Kamboja ke wilayah pemukiman itu
sebagai tindakan yang keji yang
melanggar hukum kemanusiaan
internasional. Pemerintah Thailand
menyatakan telah mengevakuasi warga dari
area terdampak dan mempersiapkan segala
opsi untuk menghadapi kemungkinan
eskalasi lebih lanjut. Gila nih. Nah,
banyak yang enggak expect ya kalau
Kamboja itu bisa ngelawan Thailand
karena Thailand tuh termasuk yang gede
lah, lebih gede daripada Kamboja. Tapi
kita enggak bisa memungkiri ya Kamboja
sekarang udah maju semenjak
judul-judolan ini ya kan negaranya tuh
semakin bangkit gitu geng. Nah, itu dia,
Geng, kurang lebih ya. Bagaimana konflik
antara Thailand dan Kamboja dimulai
beberapa waktu belakangan. Dan selain
ngebahas soal konfliknya nih, ya, kita
juga bakal bahas ya sebuah informasi
yang menarik nih. Karena ternyata ada
satu pulau yang sangat terkenal akan
destinasi wisatanya. Padahal status dari
pulau tersebut berada dalam sengketa.
Sebab Thailand dan Kamboja saling
ngeklaim kepemilikan pulau tersebut.
Nah, pulau apa itu? Ya, nah ini salah
satu hal yang bikin Kamboja dan Thailand
saling bersih tegang juga nih. Tapi
justru di sana tuh kayak damai-damai
aja. Maksudnya di pulau itu damai-damai
aja, tapi di luar pulau itu antara
Thailand dan Kamboja lagi ribut-ribut.
Nama pulau ini adalah Pulau Koh Kot. Ini
Kohkot apa Kohkot gua sebutnya Kohkot
aja. Oke, kita bahas.
Jadi, Geng Kohkot ini adalah pulau
terbesar dari 12 pulau yang dikelola
oleh Distrik Kokut, Thailand. Nah,
perekonomian Kokut itu berpusat pada
perikanan, pertanian, dan pariwisata.
Beberapa sumber menggambarkan kalau
pulau ini tuh relatif terpencil dan
kurang berkembang. Namun itu gak membuat
Pulau Kohkot jadi kehilangan pesonanya,
Geng. Biasanya kan makin terpencil
sebuah pulau itu kan makin estetik gitu
ya. Orang makin tertarik dan penasaran
untuk datang. Nah, bahkan disebutkan ya
kalau pulau ini tuh bisa menarik ratusan
ribu pengunjung setiap tahunnya. Tapi
geng ya di balik keindahan pulau
tersebut, Kohkot ini juga jadi target
sengketa dan mulai disengketakan oleh
Thailand dan Kamboja dari tahun 1960-an.
Jadi semuanya dimulai pada perjanjian
perbatasan Siam, yaitu nama Thailand
sebelumnya. Sebelum jadi Thailand tuh
namanya dulu Siam. Nah, dan juga Prancis
ya. Jadi ini perjanjian perbatasan
antara Siam dan Prancis. Dan setelah
kemerdekaan Kamboja pada tahun 1954,
meskipun Kamboja mengklaim beberapa
wilayah laut dan pulau kecil di sekitar
perbatasan, perjanjian tahun 1907 tetap
menjadi dasar hukum untuk pengakuan
Kokut ini sebagai bagian dari Thailand.
Akibatnya terlepas dari klaimnya
Kamboja, Thailand itu mempertahankan
kendali atas Pulau Koku tadi di bawah
perjanjian internasional yang menetapkan
pulau itu sebagai bagian dari Thailand.
Alhasil, hingga sampai hari ini belum
ada informasi lebih lanjut mengenai
kepemilikan Pulau Kohkot ini. Dan hingga
saat ini Pulau Kohkot ini ya secara
hukum itu adalah milik Thailand yang
diakui secara internasional berdasarkan
konvensi Genewa tahun 1958 dan konvensi
PBB tentang hukum laut tahun 1982.
Walaupun pada tahun 1972 Kamboja ini
mengajukan klaim bahwa batas maritim
mereka dalam perjanjian tersebut
mencakup bagian dari selatan kohkot ya.
Thailand mengajukan klaim balasan pada
tahun 1973. Jadi enggak mau ada yang
ngalah. Sengketa Pulau Kokkot ini sempat
memanas lagi, Geng, pada tahun 2024
setelah salah satu postingan di TikTok
yang mana di dalam postingan itu
memperlihatkan tentara Thailand
mengangkut kendaraan militer untuk
latihan di dekat pulau itu. Video
tersebut ternyata palsu, editan. Begitu
juga dengan rumor lain yang mengklaim
kalau pasukan militer Thailand dan
Kamboja terlibat di dalam pertempuran
kecil di dekat Kohkot. Hal ini
menimbulkan banyak spekulasi publik yang
salah satunya ingin kembali melakukan
sidang sengketa di daerah sana. Dan
kedua negara juga tidak menutup untuk
melakukan sengketa. Tapi hingga saat ini
belum ada kepastian atas kelanjutan
kasus tersebut. Nah, sengketa kayak
gini, Geng, sebenarnya pernah terjadi
juga antara Kamboja dan Thailand itu
antara tahun 2008 dan juga 2011. Mereka
terlibat di dalam konflik perbatasan
kecil di wilayah sekitar Candi Previher
yang merupakan runtuhan angkor pada abad
ke-11 yang terletak di perbatasan
Thailand Utara dan juga Kamboja.
Meskipun Mahkamah Internasional atau ICJ
memutuskan pada tahun 1962 bahwa candi
tersebut adalah milik Kamboja, tapi
ketegangan kembali muncul yang
menyebabkan meningkatnya ketegangan
bilateral dan bentrokan yang tersebar di
sepanjang perbatasan sehingga ya
menewaskan lebih dari selusin tentara
Thailand dan Kamboja. Jadi mereka saling
perang di perbatasan.
Terus geng, tahun 2013 pihak ICJ
menegaskan ya kepemilikan candi tersebut
adalah milik Kamboja. Ditegaskan tuh
sama ICJ. Nah, karena putusan inilah
pendukung Kamboja yakin kalau ICJ juga
akan memutuskan hal yang serupa dalam
sengketa Pulau Kohkot. Mereka PD tuh.
Mereka pikir ICJ bakal bela mereka lah
gitu. yang mana ini menyatakan bahwa
pulau ini adalah ya 100% milik Kamboja
dan Kamboja sangat percaya diri dengan
hal itu. Terus geng Perdana Menteri
Kamboja yang bernama Hunmanet itu
menekankan perlunya sikap kedewasaan
politik dan tanggung jawab nasional
antara kedua belah pihak. Nah, sedangkan
respon dari Wakil Perdana Menteri
Thailand yang bernama Puntam Wecaya
Chai, dia ini menekankan tentang hasil
dari perjanjian tahun 1907 dan
menjadikan hal tersebut sebagai landasan
hukum untuk mengambil sikap dalam
sengketa di wilayah daerah itu. Nah,
jadi kurang lebih kayak gitu ya, Geng.
sengketa dari Pulau Kohkot yang menjadi
salah satu apa ya pergesekan antara
Thailand dan Kamboja sampai sekarang
masih berlangsung lah. Nah, tapi dua
penjelasan sebelumnya itu adalah bagian
kecil dari keseluruhan konflik yang
terjadi antara dua negara ini.
Sebenarnya mereka tuh banyak banget ya,
banyak banget permasalahan di antara
kedua negara ini. Nah, sekarang gua
bakal ngajak kalian untuk membahas lebih
dalam bagaimana sih awal mula e dari
konflik Thailand dan Kamboja ini. Di
mana akarnya? Sekarang kita bahas
sejarah perseturuan dua negara ini.
Jadi, geng, di balik saling serang dan
evakuasi massal antara kedua negara ini
di tahun 2025 tersembunyi sejarah
panjang yang dimulai dari selembar peta
tua dan ambisi kolonial. Nah, ini
sejarah awalnya nih. Konflik antara
Thailand dan Kamboja itu bukan sekedar
perebutan wilayah, melainkan cerminan
dari warisan imperialisme, nasionalisme,
dan politik identitas yang terus bergema
sampai saat sekarang ini. Jadi, semuanya
itu bermula tahun 1907, Geng. Ketika
Perancis sebagai penguasa kolonial atas
Kamboja dan juga Thailand yang di saat
itu bernama Siam itu menyepakati
perjanjian batas wilayah. Berdasarkan
prinsip Watershad, batas negara
seharusnya mengikuti aliran air alami di
pegungan Dangrek. Namun peta yang dibuat
oleh Prancis menunjukkan bagian dari
kuil preah Vihear itu yang secara
geografis berada di sisi Thailand
sebagai bagian dari wilayah Kamboja itu
gara-gara peta itu tuh. Nah, Thailand
menerima peta itu untuk keperluan resmi
tanpa menyadari implikasi jangka
panjangnya. Barulah pada tahun 1930-an
Thailand melakukan survei ulang dan
menemukan bahwa kuil tersebut sebenarnya
ya berada di sisi mereka. Nah, namun
karena mereka tidak segera memprotes ya,
Mahkamah Internasional atau ICJ kemudian
menyatakan bahwa Thailand sudah mengakui
secara diam-diam peta tersebut. Di dalam
hukum internasional, diam bisa berarti
setuju. Dan setelah Prancis mundur dari
Kamboja pada tahun 1953, Thailand segera
mengirim pasukan dan menduduki kuil Prea
Vihe pada tahun 1954 dan mengklaim bahwa
wilayah itu adalah milik mereka
berdasarkan survei terbaru. Kamboja yang
baru merdeka itu membawa kasus ini ke
ICJ di dalam putusan bersejarah tahun
1962. ICJ itu menyatakan bahwa kuil
tersebut berada di wilayah Kamboja. Nah,
akhirnya Thailand menyerahkan kuil itu
tapi tetap mengklaim wilayah di
sekitarnya yang tidak dibahas di dalam
putusan. Putusan ini menjadi titik balik
nih, tetapi bukan titik akhir. Wilayah
sekitar kuil tetap menjadi zona abu-abu,
tempat di mana sejarah, hukum, dan
nasionalisme saling bertabrakan.
Kemudian nih, singkat cerita 40 tahun
pun berlalu dan pada tahun 2008 Kamboja
mengajukan Prea Vihear ya si Kuil tadi
sebagai situs warisan dunia UNESCO.
Thailand menuduh Kamboja menyertakan
wilayah sengketa di dalam pengajuan
tersebut. Ketegangan pun meningkat dan
bentrokan militer pun terjadi. Wilayah
Kuil, Tamoan, Tom, dan Takrabe itu ikut
terseret yang mana dalam kejadian ini
menewaskan puluhan tentara dan
mengungsikan ribuan warga di sana.
Konflik ini berlangsung selama
bertahun-tahun dengan puncaknya pada
tahun 2011 ketika sebuah bentrokan besar
memaksa lebih dari 36.000 warga itu
harus mengungsi. Nah, Kamboja kembali
membawa kasus ini ke ICJ. Dan pada tahun
2013 pengadilan menegaskan bahwa seluruh
promontori prea Viihear adalah milik
Kamboja. Thailand pun diminta untuk
menarik pasukannya, tetapi ketegangan di
saat itu terus berlangsung. Dan menurut
kepercayaan mereka, kuil-kuil kuno ini
bukan sekedar bangunan batu. Tapi bagi
Kamboja, prea Vihear adalah simbol
kejayaan Kahmer. Nah, bagi Thailand,
kuil itu adalah warisan budaya yang
dicuri oleh kolonialisme. Jadi,
sama-sama merasa kayak ini punya gue,
penting buat negara gua gitu. Dan
sengketa ini menjadi alat politik elit
di kedua negara menggunakan isu
perbatasan untuk membangkitkan rasa
nasionalisme di masing-masing negara.
Jadi kayak misalkan pemerintah Thailand
nih bilang, "Wah, itu punya kita, kita
harus ambil itu. Kita orang Thailand,
nasionalisme kita tinggi." Nah, Kamboja
juga sebaliknya sama, pemerintahnya juga
kayak gitu. Dan ini mengalihkan
perhatian mereka dari krisis di dalam
negeri dan memperkuat legitimasi. Dan
sejak itulah kedua negara enggak pernah
benar-benar akur, Geng. Perang terus
gara-gara perbatasan itu. Nah, makanya
kalau berbicara tentang Thailand dan
Kamboja, pergesekan di antara kedua
negara ini tuh gampang banget tersulut.
Gampang bangetlah pokoknya dipancing.
Nah, itu dia, Geng, pembahasan kita kali
ini tentang konflik negara-negara
tetangga kita ini ya, yaitu Thailand dan
Kamboja hingga memakan korban jiwa dari
kedua belah pihak. Dan ternyata konflik
ini sudah ada sejak zaman dulu. Dan ya
terlahir dari sebuah sistem kolonialisme
yang membuat kedua negara ini saling
klaim wilayah antar kekuasaan. Jadi
gimana menurut kalian, Geng, tentang
kejadian ini? Coba tinggalkan komentar
di bawah.