RICE IN INDONESIA IS TURNED OUT TO BE ADULTHEAD!! ARE 212 FAMOUS RICE BRANDS TURNED OUT TO BE FAKE?
HEdavfOx2fk • 2025-07-20
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Geng, pembahasan kali ini wajib banget
kalian dengerin bareng ibu kalian.
Nyokap lu semua mama klen ya. Harus
banget. Kenapa? Karena ini adalah sebuah
pembahasan yang berhubungan dengan mm
bahan-bahan yang ada di dapur yaitu
beras. Ya, sesuai judul yang kalian baca
ya. Kali ini pembahasannya menyentuh
salah satu isu paling mengkhawatirkan di
tengah kehidupan sehari-hari rakyat
Indonesia. Dan jujur aja ini bikin miris
ya. Gimana enggak? Beras itu kan makanan
pokok kita ya. Kita tuh dari kecil ya
udah tumbuh besar dengan beras. Bisa
dikatakan tuh daging kita nih ya
terbentuk karena kita makan beras gitu.
Nasi sih lebih tepatnya. Beras yang
sudah dimasak gitu. Dan beras bukan cuma
soal makanan tapi juga simbol
keberlangsungan hidup dan bagian dari
budaya serta identitas bangsa di
Indonesia. Nah, tapi sekarang tiba-tiba
ada kabar yang bikin kita semua harus
buka mata lebar-lebar. Beras yang
seharusnya dijaga ketat kualitasnya dan
juga distribusinya malah ketahuan
dioplos.
Kerugian masyarakat itu 99 triliun.
Hampir 100 triliun. Itu kalau satu
tahun.
Beras oplosan ini tolong ini segera
diselesaikan. Kalau memang ada yang
nakal-nakal dikasih efek jer
dan yang lebih bikin geramnya lagi
adalah kasus ini terungkap bukan dari
laporan masyarakat tapi justru dari
hasil inspeksi langsung dari Menteri
Pertanian. Bayangin geng selama ini kita
belanja beras di pasar, di warung,
bahkan di swalayan yang kita anggap
paling terpercaya gitu ya. tanpa tahu
kalau bisa aja beras yang kita makan itu
adalah campuran dari beras berkualitas
rendah, beras rusak, bahkan beras lama
yang udah enggak layak konsumsi.
Parahnya lagi itu semua dijual pakai
label premium dengan harga tinggi
seolah-olah quality controlnya udah
bagus banget dan membuat ya masyarakat
merugi ya secara kesehatan, secara gizi.
Dan di saat daya beli masyarakat
Indonesia semakin menurun, di saat harga
kebutuhan pokok juga terus naik dan di
saat perekonomian kita sedang berjuang
keras buat bangkit, ternyata ada oknum
yang tega-teganya mengambil keuntungan
dari kebutuhan paling mendasar
masyarakat Indonesia, yaitu beras.
Dan beras memang bukan barang mewah,
bukan e barang yang e apa ya bersifat
hiburan, tapi sumber makanan utama,
Geng. Lu enggak akan bisa menghibur
diri, lu enggak akan bisa punya barang
mewah kalau lu enggak makan nasi
ibaratnya. Ya mungkin ada alternatif
lain, tapi mayoritas masyarakat kita
semuanya makan nasi yang berasal dari
butiran beras. Dan ini bukan lagi
sekedar penipuan, tapi ini adalah bentuk
pengkhianatan terhadap kepercayaan
publik dan terhadap petani-petani yang
sudah bekerja keras untuk produksi beras
berkualitas di Indonesia. Kok bisa?
Kenapa sistem pengawasan pangan di
negara kita sampai bisa kecolongan
separah ini? Apakah ada celah di dalam
regulasinya atau memang ada permainan
curang yang sengaja ditutup-tutupi demi
keuntungan pribadi atau ya sekelompok
orang gitu. Dan dampaknya bukan cuma ke
konsumen loh, bukan cuma ke masyarakat
yang memakan beras tersebut, tetapi juga
dampaknya kepada para petani-petani
lokal. Mereka yang seharusnya diberi
ruang dan dukungan untuk menghasilkan
beras terbaik, tapi justru harus
bersaing dengan beras oplosan yang
murah. dijual secara massal dan ini
jelas merusak ekosistem pangan dan juga
merusak harga pasar dan pada akhirnya
merusak kepercayaan publik ya masyarakat
terhadap pemerintah dan sistem
distribusi pangan nasional.
Nah, di video ini kita bakal bahas semua
aspek dari kasus beras oplosan ini.
Mulai dari kronologinya, siapa saja
pihak yang terlibat dan celah pengawasan
yang bikin praktik ini bisa lolos sampai
dampaknya juga terhadap ekonomi rakyat
dan masa depan ketahanan pangan
Indonesia. Karena kalau beras aja bisa
dimanipulasi, pertanyaannya apalagi,
Geng, yang bakal dikorbankan demi
keuntungan di negara ini? Semuanya kok
serba curang gitu, ya? Apalagi yang
belum curang, ya? Gua belum Aduh, gila
gila gila. Oke, langsung aja kita bahas
secara lengkap kasus ini. Halo, Geng.
Welcome back to Kamar Jerry
[Musik]
Ging King. Oke, sekarang kita akan masuk
ke dalam awal mula kasus ini bisa
terungkap.
Jadi, Geng, semua bermula sewaktu
Menteri Pertanian yang bernama Andi
Amran Sulaiman memutuskan untuk turun
langsung ke lapangan. Bukannya cuma
duduk manis di kantor, beliau ini
memilih untuk ngecek sendiri kondisi
beras yang dijual ke masyarakat. Nah,
jadi Menteri Amran ini ee nyamperin
beberapa pasar atau retail modern yang
menjual beras kemasan dan di sana beliau
memeriksa produk satu persatu mulai dari
kualitas butiran beras, takaran isi
sampai label kemasan. Dan di titik ini
muncul berbagai kejanggalan, yaitu ada
beras yang diklaim seberat 5 kg tapi pas
ditimbang cuma 4,5 kg. Terus banyak
merek yang tulisannya beras premium
padahal penampakannya jauh dari standar
premium. Dan yang terakhir ditemukan
campuran beras lama yang udah patah,
udah rapuh, dan berwarna kusam. Nah,
temuan lapangan ini enggak berhenti di
situ aja, Geng. Tim dari Satgas Pangan
itu ikut mendampingi dan mereka langsung
ngecek atau ngambil sampel untuk
investigasi lanjutan dan hasilnya 212
merek beras. Wah 212 nih ya 212 merek
beras ya diperiksa dan banyak yang
terbukti melanggar mutu takaran, dan
melampaui harga eceran tertinggi atau
heet. Jadi modus ini memungkinkan oknum
mendapatkan keuntungan besar dengan
selisih harga 2.000 hingga 3.000 per
kgnya dan benar-benar menyesatkan
konsumen serta mengacaukan sistem
distribusi beras nasional. Enggak pakai
lama menteri Amran itu langsung
melaporkan semua temuannya ini ke
Kapolri dan Jaksa Agung lengkap dengan
data merek-merek yang bermasalah
tersebut.
Gila banget ya, Geng ya. Merek besar
loh, perusahaan besar, brand besar gitu.
Ternyata masih berbuat curang. Nah,
tujuan Pak Menteri ini untuk melaporkan
brand-brand tersebut jelas untuk meminta
penindakan hukum yang tegas. Dan menurut
Eliza Mardian, yaitu seorang peneliti
dari Kor Indonesia, praktik pengoplosan
beras ini bukan sekedar kejahatan
dagang, melainkan bisa menjadi ancaman
nyata terhadap ketahanan pangan. Nah,
beliau menyebutkan pengoplosan beras
stabilisasi pasokan dan harga pangan
atau SPHP ke dalam beras premium itu
menyebabkan ketimpangan distribusi yang
berujung pada ketersediaan pangan yang
tidak merata. Dia juga bilang
permasalahan utamanya itu dimulai dari
praktik pengoplosan beras SPHP dengan
beras premium. Ini mengurangi stok di
segmen beras medium yang seharusnya
ditujukan untuk masyarakat berpendapatan
menengah ke bawah.
Nah, terus geng setelah Menteri
Pertanian yang bernama Andi Amran
Sulaiman melakukan inspeksi dan
menemukan 212 merek beras yang enggak
sesuai standar, ternyata ada temuan yang
lebih mengejutkan lagi nih, yaitu
terkait pengusaha besar yang diduga
terlibat langsung di dalam praktik
pengoplosan beras. Ini selama ini yang
kita dengar ya, pengoplosan, kecurangan
timbangan itu kan di pasar-pasar kecil
gitu ya, yang iseng-iseng gitu. Ini
malah pengusaha besar. Dan apa yang
terjadi sebenarnya? Jadi, Menteri
Pertanian Amran ini menyebutkan bahwa
salah satu pengusaha besar sudah
diperiksa oleh penegak hukum pada
tanggal 10 Juli tahun 2025. Meski
identitasnya belum diungkap ke publik,
Pak Amran ini menegaskan bahwa proses
hukum sedang berjalan dan koordinasi
dengan Kapori Kejaksaan Agung dan Satgas
Pangan sudah dilakukan. Kenapa ini
penting? Ya, karena keterlibatan
pengusaha besar menunjukkan bahwa
praktik oplosan ini bukan cuma ulah
pedagang kecil, tapi bisa jadi bagian
dari jaringan bisnis yang lebih besar.
Ini bukan cuma soal pelanggaran mutu,
tapi juga soal manipulasi sistem
distribusi pangan nasional yang bisa
merugikan masyarakat sampai dengan 99
triliun per tahun.
Pak Amran ini juga bilang kalau ini
terjadi selama 10 tahun bisa sampai satu
kuadriliun kerugiannya.
Nah, bahkan Pak Amran ini mengibaratkan
ini seperti membeli emas 24 karat. Namun
yang diterima oleh si pembeli cuma 18
karat. Nah, apa aja yang mereka lakukan?
Nah, jadi perusahaan-perusahaan ini
diduga menjual beras bermerek dengan
label premium. Padahal isinya adalah
campuran beras medium atau kualitas
rendah. Jadi dicampur tuh yang
seharusnya mereka jual murah karena ada
label premium mereka malah jual mahal.
Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi
Khusus dari Bares Krimri sekaligus
Wakasatgas Pangan yang bernama Kombes
Paul Zain Dwi Nugroho itu menyebutkan
saat ini harga beras medium nasional
masih di atas harga eceran tertinggi
atau HET dan ditemukan beras yang tidak
sesuai mutu maupun berat kemasan. Jadi
Pak Zain ini bilang kalau beras saat ini
khususnya beras medium nasional masih di
atas harga HET dan terjadi kenaikan.
Kemudian dari temuan Pak Amran Sulaiman
di mana 212 merek beras premium dan
medium hasil pemeriksaan di 13 lab di 10
provinsi ditemukan tidak sesuai dengan
mutunya. 85,56%
beras premium tidak sesuai mutu. 59,78%
dijual di atas harga eceran tertinggi
dan 21%-nya beratnya enggak sesuai.
Gila, curangnya seampun-ampun.
Nah, Pak Zen ini juga mengungkapkan
pihak mereka sudah memanggil tujuh
perusahaan besar yang diduga memproduksi
beras premium dan juga medium yang
bermasalah. Dan saat ini udah ada lima
perusahaan yang menjalani pemeriksaan
dan prosesnya masih berlangsung sampai
saat ini. Nah, jadi itu awal mula gimana
terbongkarnya kasus dugaan beras oplosan
ini, Geng. Sekarang kita bakal masuk ke
dalam penyelidikan kasus beras oplosan
dan perusahaan yang terlibat.
Jadi, Geng, Badan Reserse Kriminal atau
Bares Crim Porri memeriksa empat
perusahaan distributor dan produsen
beras yang diduga melanggar standar
kualitas dan takaran di dalam produk
beras kemasan premium yang mereka
edarkan. Jadi, pemeriksaan terhadap
perusahaan-perusahaan tersebut dimulai
pada hari Kamis tanggal 10 Juli 2025 dan
dilanjutkan kembali pada Senin tanggal
14 Juli tahun 2025. Dan menurut direktur
tindak pidana ekonomi khusus Bares Krim
Porri yang bernama Brigadir Jenderal
Healthy Aseggaf saat dikonfirmasi di
Mambi pada hari Senin siang 14 Juli
2025. Beliau bilang bahwa akan ada
pemeriksaan lagi terkait kasus ini. Dari
lima perusahaan yang katanya sudah
dilakukan pemeriksaan, baru ada empat
perusahaan yang disebutkan. Keempat
perusahaan tersebut ya nih kalian dengar
nih. Ini gede-gede banget perusahaannya
ini. Mohon maaf ya datanya gua ambil
dari media. ini bukan hasil dari apa ya
opini gua pribadi atau riset gua sendiri
gitu ya. Jadi ada Wilmar Group, ada PT
Food Station Cipinang Jaya, ada PT
Belitang Panen Raya dan PT Sentosa Utama
Lestari atau Jap Group. Nah, gede-gede
banget kan nama-nama yang mungkin sering
kita dengar lah ya. Dan pemeriksaan ini
dilakukan berdasarkan sampel beras
kemasan dari berbagai wilayah yang
sebelumnya dikumpulkan oleh satuan tugas
pangan Polri. Dan berikut ini adalah
profil-profil yang gua dapat dari
perusahaan yang sedang diperiksa. Nah,
yang pertama kita bahas dulu PT Wilmar
Group. PT ini merupakan perusahaan
agrobisnis berskala global yang
didirikan pada tahun 1991 oleh 2
miliarder asal Singapura dan Indonesia
yaitu Kuok Konhong dan juga Martua
Sitorus. Nah, pada awal berdirinya
perusahaan ini bernama Wilmar Trading
Ptd dengan modal awal sebesar 100.000
000 Singapura dan hanya mempekerjakan
lima orang. Sebagai perusahaan induk
investasi, Wilmar ini bergerak di
berbagai sektor agribisnis dan mulai
dari pemrosesan ya perdagangan sampai
dengan distribusi produk pertanian. Dan
aktivitas utamanya meliputi budidaya
kelap sawit, penghancuran biji minyak
dan penyulingan minyak nabati, serta
penggilingan tepung dan beras hingga
pengolahan dan penyulingan gula. Nah,
selain itu Wilmar Group ini juga
mengembangkan bisnis di bidang
manufaktur produk konsumen termasuk
makanan siap saji, produk dapur, lemak
khusus, oleokimia, dan biodiesel, pupuk,
serta pengelolaan food parks atau taman
makanan. Nah, untuk sektor penggilingan
tepung dan beras, Wilmar memiliki anak
perusahaan yang bernama PT Wilmar Padi
Indonesia yang secara khusus menangani
bisnis beras di Indonesia. Khusus loh,
padahal. Nah, pemeriksaan oleh Bares
Kinpori dilakukan terhadap produk beras
premium merek Sofia dan Fortune milik
Wilmar. Dan pemeriksaan ini menyusul
temuan dari 10 sampel beras yang
dikumpulkan Satgas Pangan Pori dari
berbagai daerah seperti Aceh, di
Lampung, Yogyakarta ya, Sulawesi
Selatan, serta kawasan Jabo Detabek.
Nah, jadi diperiksa ternyata ada
kecurangan.
Selanjutnya geng ada dari perusahaan PT
Food Station Cipinang Jaya. Jadi PT yang
satu ini merupakan badan usaha milik
daerah atau BUMD milik Pemerintah ee
Provinsi DKI Jakarta. Perusahaan ini
bergerak di bidang distribusi dan
penjualan bahan pangan serta menyediakan
jasa pergudangan, resi gudang,
pertokoan, dan pengangkutan khususnya
untuk komoditas beras. Nah, dilansir
dari laman resmi mereka, Food Station
ini memiliki peran utama sebagai pilar
ketahanan pangan di wilayah DKI Jakarta
dan sekitarnya. Selain itu, perusahaan
ini juga menjadi pusat perdagangan beras
dan juga pangan pokok untuk skala antar
daerah ataupun antar pulau sekaligus
menjadi instrumen pengendali harga beras
di Indonesia. Nah, pengaruhnya cukup
kuat nih, PT. Dan harga beras dari Food
Station ini sering dijadikan acuan
nasional mencerminkan kondisi dan isu
beras ya secara nasional gitu. Di dalam
kasus dugaan manipulasi beras ini, PT
Food Station Cipinang Jaya diperiksa
terkait sejumlah merek yang mereka
distribusikan. Di antaranya ada Alfam
Midi Setra Pulen, terus ada beras
premium Setra Ramos, beras Pulen Wangi,
Food Station, terus ada Ramos Premium
Setra Pulen dan Setra Ramos. Nah,
pemeriksaan ini dilakukan setelah Satgas
Pangan Polri mengambil sembilan sampel
beras gitu ya dari berbagai daerah
termasuk Aceh, Jawa Barat, Kalimantan
Selatan, dan Sulawesi Selatan. Terus
selanjutnya nih, Geng, ada PT Belitang
Panen Raya. PT Belitang Panen Raya ini
atau disingkat dengan PT BPR itu
merupakan perusahaan yang berdiri sejak
tahun 2005 dan bergerak di bidang
penggilingan padi. Pada 2015, perusahaan
ini melakukan ekspansi dengan membuka
fasilitas penggilingan padi kedua di
wilayah Persawahan Belitang, Kabupaten
Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.
PTBPR dikenal melalui merek dagang beras
raja yang terdiri dari berbagai varian
dan sudah dipasarkan secara luas, baik
di pasar tradisional maupun modern di
seluruh Indonesia. Beras raja ini
diproses dari variitas padi murni
menggunakan mesin berteknologi tinggi
tanpa tambahan bahan kimia seperti
pemutih, enggak ada pengawet atau
pewangi. Sehingga diklaim sangat
higienis dan berkualitas tinggi. Nah,
itu klaimnya ya. Tapi di dalam kasus
dugaan e beras oplosan PT Belitang Panen
Raya diperiksa terkait dua produk
unggulan mereka yaitu Raja Platinum dan
Raja Ultima. Pemeriksaan terhadap
perusahaan ini dilakukan setelah Satgas
Pangan PORI menelusuri ya tujuh sampel
beras premium yang dikumpulkan di
wilayah Jabo Detabek, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, dan
Kalimantan Selatan. Nah, pas udah
diklaim paling bermutu, nah pas dicek
justru yang kualitas paling tinggi di
dalam produk mereka itulah yang dioplos
kan kocak banget gitu.
Terus yang terakhir nih, Geng, ada PT
Sentosa Utama Lestari atau Java Group.
Jadi, PT Sentosa Utama Lestari ini atau
yang biasa dikenal melalui merek dagang
Fasam itu merupakan perusahaan
agrikultur terpadu yang berfokus pada
pemberdayaan petani. Perusahaan ini
merupakan anak usaha dari Jav Group dan
salah satu pelaku utama di sektor
agribisnis dan peternakan terpadu di
Indonesia. Dalam operasionalnya, PT
Santosa Utama Lestari memiliki cakupan
luas mulai dari produksi pakan ternak,
budidaya ayam, pengolahan daging ayam
sampai distribusi produk-produk
berkualitas tinggi ke berbagai wilayah
di Indonesia. Dan di dalam kasus dugaan
pelanggaran mutu dan takaran beras, PT
Santosa Utama Lestari turut dipanggil
oleh Bares Krim Polri. Pemeriksaan
dilakukan terhadap produk beras premium
punya mereka yang bermerek Ayana yang
diproduksi oleh perusahaan ini. Dan
langkah ini diambil setelah Satgas
Pangan mengambil tiga sampel ya, tiga
sampel beras di wilayah Jabod Detabek
dan Yogyakarta untuk dianalisis lebih
lanjut. Sejauh ini ya, Geng, dari
sumber-sumber yang gua temukan nih ya,
baru ada empat perusahaan dan yang
satunya masih belum ditemukan. Terus
informasi terbarunya nih, Geng. Saat ini
sudah ada enam perusahaan yang sedang
dalam pemeriksaan, termasuk keempat
perusahaan yang tadi gua sebutkan.
Namun, gue juga enggak menemukan profile
dari perusahaan lain tersebut.
Selanjutnya ada juga nih, Geng, klaim
dari PT Sentosa Utama Lestari selaku
anak perusahaan PT Java Konfit
Indonesia. Jadi, Kepala Divisi Unit
Berat PT SUL Carmen Carlo Ongko itu
mengklaim dalam menjalankan operasional
bisnis, pihak mereka memastikan bahwa
seluruh proses produksi dan distribusi
beras dijalankan sesuai dengan standar
mutu dan regulasi yang berlaku, katanya.
Nah, dia bilang kalau pengawasan
internal mereka itu dilakukan secara
berkala dan juga ketat, termasuk dalam
aspek takaran, kebersihan, serta
pelabelan produk. Dia juga bilang bahwa
pihak mereka yaitu PTSUL tadi tetap
terbuka terhadap evaluasi dan tetap
secara rutin melakukan langkah
perbaikan. Dan Karmen ini juga bilang
PTSUL menghormati dan mendukung penuh
proses yang sedang dilakukan oleh pihak
berwenang karena dinilai penting untuk
menjaga kepercayaan publik terhadap
rantai pasok pangan nasional. Dia juga
mengklaim bahwa mereka ini menjunjung
tinggi nilai-nilai integritas dan
kepatuhan hukum. Dan Karmen juga
mengklaim bahwa mereka sudah dan akan
terus bersikap koperatif dalam
memberikan informasi dan data yang
dibutuhkan oleh tim Satgas Pangan
Nasional, Geng. Terus, Geng. Satgas
Pangan Pori Brickjen Policy Healthy itu
bilang hingga saat ini mereka sudah
memeriksa sebanyak 22 orang saksi
terkait dugaan adanya produsen beras
nakal yang melanggar mutu dan takaran
beras. Dari jumlah tersebut, penyidik
pada saat gas Pangan Pori sudah
memeriksa saksi-saksi dari enam
perusahaan dan 8 pemilik merek beras
kemasan 5 kg. Tapi nih, Geng, nama-nama
itu enggak diungkapkan di media. Aneh
banget ya. Coba kalau misalkan yang
berurusan kayak gini orang-orang kecil
gitu ya, ya maling-maling ayam gitu,
kayaknya mukanya juga enggak disensor
bahkan digebukin gitu. Tapi kalau
orang-orang besar gini identitasnya
disembunyikan gitu, enggak dipermalukan.
Dan mereka ya kalaupun ditangkap ya udah
pas bebasnya ya aman-aman aja tidak ada
sanksi sosial. Dikatakan bahwa
pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi
ini untuk pendalaman ada atau tidaknya
perbuatan melawan hukum atas dugaan
penjualan beras dalam kemasan yang tidak
sesuai komposisi yang tertera pada
kemasannya. Nah, Brickjen Paul Healthy
mengungkapkan kalau penyidik kembali
melakukan pemeriksaan dan saksi yang
dipanggil adalah 25 pemilik merek beras
kemasan 5 kg. Dan terkait apa aja merek
beras tersebut ya beliau tidak
membeberkannya di media.
Terus genggota komisi 4 DPR yaitu Pak
Riono Caping itu juga menyesalkan
maraknya kasus beras oplosan yang
menimbulkan kerugian luar biasa sampai
dengan Rp99 triliun per tahun. Menurut
beliau, beras oplosan tidak hanya
merugikan konsumen, tapi juga mencederai
perjuangan para petani di Indonesia.
Beliau juga bilang ini sangat-sangat
merusak dan tidak hanya merugikan
konsumen, tapi juga petani yang sudah
berusaha menghasilkan beras berkualitas
tinggi. Nah, begitulah kira-kira nih,
Geng, ya. Hasil penyelidikan kasus beras
oplosan dan perusahaan yang terlibat
serta profil dari para produsen beras
yang diduga kuat menjadi pengoplos.
Serta ada juga pendapat dari PT Sentosa
Utama Lestari dan timbullah pertanyaan,
ya, kenapa bisa hal ini terjadi?
Mengoplos beras yang mana itu merupakan
bahan pokok, bahan yang kita konsumsi
setiap harinya. Ada beberapa faktor nih,
Geng, yang bisa kita bahas. Sekarang
kita masuk nih, ya, ke dalam
faktor-faktor tersebut.
[Musik]
Jadi, Geng untuk bisa menjelaskan
faktor-faktornya, gua bakal mengambil
beberapa pernyataan dari
pengamat-pengamat. Yang pertama itu ada
pernyataan dari pengamat Pertanian
Center of Reform on Economic atau
disingkat dengan core yang bernama Eliza
Mardian. Nah, beliau ini menyoroti ee
pengawasan yang lemah. Dikatakan
pemerintah dinilai enggak memantau
distribusi beras, stabilisasi pasokan,
dan harga pangan atau SPHP secara ketat.
Padahal menurut dia ini ada potensi
kebocoran karena rantai distribusi yang
cukup panjang. Di dalam hal ini dia
mengomentari beras SPHP yang disalurkan
dari gudang Bullock ke agen distributor
baru disalurkan ke agen retail. Nah,
jadi banyak kebocorannya di situ. 80%
bocornya dan cuma ada 20% yang sampai ke
tangan penerima manfaat yang sesuai
dengan kriteria. Eliza juga bilang kalau
urusan pengawasan itu seharusnya ya
enggak cuma ditangani oleh Kementan. Dia
bilang ya distribusi beras juga menjadi
tanggung jawab Kementerian Perdagangan.
Karena menurut beliau ya persoalan beras
oplosan ini harus ditangani oleh satuan
tugas baru yang khusus mengatasi mafia
beras. Ya, tapi Pak ya kalau boleh
kritik-kritik dikit nih, janganlah
apa-apa bikin satgas. Janganlah apa-apa
bikin satuan tugas. Bikin satgas baru,
ya dana baru lagi. Bikin satgas baru,
pengajuan uang negara lagi. Ya kan? Uang
negara keluar itu dari pajak rakyat
satgas mulu gitu ya. Kenapa enggak
polisi aja? Polisi kan udah ada tuh
satgas. Terus beliau juga menyebutkan
perlu tim baru katanya yang lebih detail
dibandingkan Satgas Pangan. Dan Eliza
ini bilang Kementerian Koordinator
Bidang Pangan harus mengambil peran
pemimpin pemberantasan ini. Nah, beliau
menyarankan agar pemerintah harus
memperketat standarisasinya, dicek
secara berkala ke pasar-pasar, aktif
melakukan survei, verifikasi, dan diuji
berasnya. Ya, tujuannya sih bagus, tapi
kalau pembentukan Satgas lagi
pembentukan kayak kayak bikin ormas
jatuhnya, ya kan? Tapi yang resmi dari
negara, pakai uang negara gitu. Haduh.
Terus fungsinya Bapak-Bapak polisi
ngapain? Cuman meriksa doang BAP terus
tangkap terus penjara. Ya enggaklah.
Satgasnya itu ya udah dari pihak
kepolisian aja. Kenapa sih emangnya gitu
kan?
Oke, mungkin di sini kalian akan bingung
ya, Geng. Gimana sih eh perbedaan dari
beras oplosan dengan beras biasa dan apa
aja sih dampaknya? Emang kenapa kalau
oplosan emang kenapa? Emang kalau
oplosan pas poup jadinya e sampah gitu
atau jadinya e ada belatungnya atau
gimana gitu? Kan sama-sama aja pasti
gitu ya. Ada yang mikir gitu ya. Nah,
sekarang kita masuk nih ke dalam
pembahasan perbedaan beras oplosan dan
beras biasa.
Jadi, geng ahli teknologi industri
pertanian IPB University ya, Prof.
Tajudin Bantut ya. Beliau ini
menjelaskan bahwa beras oplosan itu
berarti berasnya udah dicampur dengan
bahan lain ya. Namanya juga oplosan ya
kan kayak minuman oplosan aja udah pasti
dicampur dengan bahan lain gitu. Dan
menurut Pak Tajudin ini pada Minggu
tanggal 12 Julia beliau ini membeberkan
tiga jenis pencampuran atau opl di dalam
konteks beras yang memiliki makna yang
berbeda. Pertama itu beras campur atau
mix rice. Ya, di dalam hal ini beras
dicampur dengan bahan atau jenis
karbohidrat lain seperti jagung hingga
menghasilkan produk yang bernama beras
jagung. Dia bilang gini, "Jadi walaupun
tanpa menggunakan beras, hanya gilingan
kasar jagung bisa disebut dengan beras
jagung karena digunakan untuk ditanak
atau dimakan katanya." Kalau itu kan
udah jelas ya, beras jagung real gitu
dioplos dengan beras jagung yang dioplos
dengan beras dan memang tujuannya ya
untuk menciptakan beras jagung gitu.
Nah, ini enggak salah dan enggak ilegal.
Nah, tapi jenis beras oplosan
selanjutnya itu adalah campuran beberapa
jenis beras blended rice yang mana
istilah ini merujuk pada beras yang
dicampur dengan jenis beras lain. Apakah
itu boleh? Apakah itu tidak boleh?
Sebenarnya ya kalau misalkan kita
berpikir yang penting kenyang ya sah-sah
aja boleh-boleh aja. Tapi kalau kita
berpikir kualitas sebenarnya ini enggak
boleh. Karena masing-masing beras itu
ada jenisnya, ada kualitasnya. Nah,
meskipun demikian ya, pencampuran
jenis-jenis beras ini gak selalu dinilai
buruk. Karena terkadang ada yang
tujuannya untuk memperbaiki kualitas
beras gitu ya. Dari beras yang kurang
bagus dicampur dengan yang bagus, namun
yang bagusnya itu lebih banyak. Nah, itu
biasanya untuk menaiki kualitas beras
itu. Contohnya nih, jenis beras jasmin
yang dihasilkan dari campuran beras dan
menir jasmin, yaitu mendapatkan aroma
dan tekstur lebih baik daripada beras
biasa. Terus beliau juga memberikan
contoh yaitu beras rojol lele beras
pandan wangi. Mahal teksturnya,
aromanya, rasanya bagus maka ditambahkan
menirnya ke beras yang biasa sehingga
teksturnya masih bagus sesuai dengan
keinginan. Nah, yang selanjutnya jenis
ini dia sebut dengan special rice yang
sama sekali tidak menurunkan kualitas
daripada beras tersebut. Nah, terus yang
terakhir ada jenis beras oplosan atau
beras yang dipalsukan merujuk pada beras
yang dicampur dengan bahan lain yang
tidak seharusnya ada di dalam beras
asli. Misal nih, beras plastik yang juga
sempat ramai dibicarakan beberapa tahun
lalu atau jenis beras berkualitas rendah
yang seharusnya tidak diklaim dengan
mutu baik pada kemasannya ya. Contohnya
misalkan beras kualitas rendah ya bikin
aja gitu beras kualitas rendah
tulisannya dan harganya jauh lebih
murah. Tapi ini enggak di kemasannya
malah dimanipulasi gitu. Nah, itu yang
disebut dengan oplosan curang dan
diklaim beras premium tetapi ditambahkan
bahan lain atau beras dengan kualitas
lebih rendah dan dikatakan kualitasnya
tinggi atau dilabeli dengan kualitas
tinggi. Itu adalah penjelasan dari beras
oploss menurut Profesor Tajudin
Bantacut. Ciri-cirinya tuh gimana, Geng,
beras oplos itu? Dan masih menurut
Profesor Tajudin nih, ya, ada beberapa
ciri-ciri yang dapat terlihat saat kita
membedakan beras oploss dan beras alami.
Yang pertama itu warnanya tidak seragam.
Jadi kita ngelihatnya ya dalam satu
kemasan itu ada butiran beras putih
cerah bercampur dengan yang kusam atau
kemungkinan bisa jadi itu beras yang
dioplos ya yang kusam itu yang kualitas
rendahnya. Terus selanjutnya ukuran
butirannya tuh bervariasi karena beras
asli biasanya seragam sedangkan beras
oplosan itu bercampur dengan bulir-bulir
panjang pendek besar kecil. Selanjutnya
ya dari aromanya beras tersebut kalau
dicium ada bau mencurigakan seperti bau
apek, kimiawi atau enggak segar. Nah,
itu patut dicurigai geng karena aromanya
berbeda dari aroma alami beras yang
baru. Nah, selanjutnya nih, Geng ya.
Nasi lembek ibaratnya tuh berasnya udah
dimasak tapi kayak wah cair gitu. Nasi
dari beras oplosan biasanya tidak pulen,
cepat basi dan terlalu lengket. Nah,
mungkin kalian pernah nemuin tuh kasus
kayak gitu. Nah, terus yang terakhir ada
benda asing saat dicuci. Jadi, kayak
kalian lagi cuci beras itu kayak muncul
ada serpihan plastik, serbuk putih, atau
partikel-partikel lain saat dicuci dan
itu juga patut untuk dicurigai.
Nah, jadi buat kalian nih ya ini kalian
harus sampaikan ke orang tua kalian,
sampaikan ke ibu kalian. Kalau memilih
beras, kalau memang tujuannya pengin
kenyang doang ya sudahlah ya. Tapi kalau
memang mau mencari beras berkualitas ya
harus banget nonton video ini dan kalian
harus banget paham alurnya apa yang
terjadi dan cara membedakan beras
berkualitas dengan beras oplosan tadi.
Oke geng. Itu dia pembahasan kita kali
ini terkait dugaan kasus ya beras
oplosan dan gimana menurut kalian?
Apakah
negara kita makin mengkhawatirkan atau
justru ini adalah ya sebuah langkah yang
semakin baik karena semakin banyak
kecurangan yang ketahuan gitu kan. Bisa
aja kebalikannya ya. Semakin banyak
kejahatan-kejahatan atau kecurangan yang
ketahuan terpublish. Itu artinya kinerja
pemerintah kita untuk memberantas
kecurangan semakin membaik. Bisa aja kan
kalau dulu-dulu tuh kayak enggak
kedengaran nih ada kasus-kasus kayak
gini ya bukan berarti enggak ada. Bisa
jadi ada tapi pemerintahnya atau
otoritas-otoritas yang berwenangnya
tidak bekerja untuk memberantas atau
membongkar ini semua. Iya enggak sih?
Coba deh menurut kalian kalian lebih
setuju yang mana? Coba tinggalkan
komentar di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:16:44 UTC
Categories
Manage