RICE IN INDONESIA IS TURNED OUT TO BE ADULTHEAD!! ARE 212 FAMOUS RICE BRANDS TURNED OUT TO BE FAKE?
HEdavfOx2fk • 2025-07-20
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Geng, pembahasan kali ini wajib banget kalian dengerin bareng ibu kalian. Nyokap lu semua mama klen ya. Harus banget. Kenapa? Karena ini adalah sebuah pembahasan yang berhubungan dengan mm bahan-bahan yang ada di dapur yaitu beras. Ya, sesuai judul yang kalian baca ya. Kali ini pembahasannya menyentuh salah satu isu paling mengkhawatirkan di tengah kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia. Dan jujur aja ini bikin miris ya. Gimana enggak? Beras itu kan makanan pokok kita ya. Kita tuh dari kecil ya udah tumbuh besar dengan beras. Bisa dikatakan tuh daging kita nih ya terbentuk karena kita makan beras gitu. Nasi sih lebih tepatnya. Beras yang sudah dimasak gitu. Dan beras bukan cuma soal makanan tapi juga simbol keberlangsungan hidup dan bagian dari budaya serta identitas bangsa di Indonesia. Nah, tapi sekarang tiba-tiba ada kabar yang bikin kita semua harus buka mata lebar-lebar. Beras yang seharusnya dijaga ketat kualitasnya dan juga distribusinya malah ketahuan dioplos. Kerugian masyarakat itu 99 triliun. Hampir 100 triliun. Itu kalau satu tahun. Beras oplosan ini tolong ini segera diselesaikan. Kalau memang ada yang nakal-nakal dikasih efek jer dan yang lebih bikin geramnya lagi adalah kasus ini terungkap bukan dari laporan masyarakat tapi justru dari hasil inspeksi langsung dari Menteri Pertanian. Bayangin geng selama ini kita belanja beras di pasar, di warung, bahkan di swalayan yang kita anggap paling terpercaya gitu ya. tanpa tahu kalau bisa aja beras yang kita makan itu adalah campuran dari beras berkualitas rendah, beras rusak, bahkan beras lama yang udah enggak layak konsumsi. Parahnya lagi itu semua dijual pakai label premium dengan harga tinggi seolah-olah quality controlnya udah bagus banget dan membuat ya masyarakat merugi ya secara kesehatan, secara gizi. Dan di saat daya beli masyarakat Indonesia semakin menurun, di saat harga kebutuhan pokok juga terus naik dan di saat perekonomian kita sedang berjuang keras buat bangkit, ternyata ada oknum yang tega-teganya mengambil keuntungan dari kebutuhan paling mendasar masyarakat Indonesia, yaitu beras. Dan beras memang bukan barang mewah, bukan e barang yang e apa ya bersifat hiburan, tapi sumber makanan utama, Geng. Lu enggak akan bisa menghibur diri, lu enggak akan bisa punya barang mewah kalau lu enggak makan nasi ibaratnya. Ya mungkin ada alternatif lain, tapi mayoritas masyarakat kita semuanya makan nasi yang berasal dari butiran beras. Dan ini bukan lagi sekedar penipuan, tapi ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik dan terhadap petani-petani yang sudah bekerja keras untuk produksi beras berkualitas di Indonesia. Kok bisa? Kenapa sistem pengawasan pangan di negara kita sampai bisa kecolongan separah ini? Apakah ada celah di dalam regulasinya atau memang ada permainan curang yang sengaja ditutup-tutupi demi keuntungan pribadi atau ya sekelompok orang gitu. Dan dampaknya bukan cuma ke konsumen loh, bukan cuma ke masyarakat yang memakan beras tersebut, tetapi juga dampaknya kepada para petani-petani lokal. Mereka yang seharusnya diberi ruang dan dukungan untuk menghasilkan beras terbaik, tapi justru harus bersaing dengan beras oplosan yang murah. dijual secara massal dan ini jelas merusak ekosistem pangan dan juga merusak harga pasar dan pada akhirnya merusak kepercayaan publik ya masyarakat terhadap pemerintah dan sistem distribusi pangan nasional. Nah, di video ini kita bakal bahas semua aspek dari kasus beras oplosan ini. Mulai dari kronologinya, siapa saja pihak yang terlibat dan celah pengawasan yang bikin praktik ini bisa lolos sampai dampaknya juga terhadap ekonomi rakyat dan masa depan ketahanan pangan Indonesia. Karena kalau beras aja bisa dimanipulasi, pertanyaannya apalagi, Geng, yang bakal dikorbankan demi keuntungan di negara ini? Semuanya kok serba curang gitu, ya? Apalagi yang belum curang, ya? Gua belum Aduh, gila gila gila. Oke, langsung aja kita bahas secara lengkap kasus ini. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry [Musik] Ging King. Oke, sekarang kita akan masuk ke dalam awal mula kasus ini bisa terungkap. Jadi, Geng, semua bermula sewaktu Menteri Pertanian yang bernama Andi Amran Sulaiman memutuskan untuk turun langsung ke lapangan. Bukannya cuma duduk manis di kantor, beliau ini memilih untuk ngecek sendiri kondisi beras yang dijual ke masyarakat. Nah, jadi Menteri Amran ini ee nyamperin beberapa pasar atau retail modern yang menjual beras kemasan dan di sana beliau memeriksa produk satu persatu mulai dari kualitas butiran beras, takaran isi sampai label kemasan. Dan di titik ini muncul berbagai kejanggalan, yaitu ada beras yang diklaim seberat 5 kg tapi pas ditimbang cuma 4,5 kg. Terus banyak merek yang tulisannya beras premium padahal penampakannya jauh dari standar premium. Dan yang terakhir ditemukan campuran beras lama yang udah patah, udah rapuh, dan berwarna kusam. Nah, temuan lapangan ini enggak berhenti di situ aja, Geng. Tim dari Satgas Pangan itu ikut mendampingi dan mereka langsung ngecek atau ngambil sampel untuk investigasi lanjutan dan hasilnya 212 merek beras. Wah 212 nih ya 212 merek beras ya diperiksa dan banyak yang terbukti melanggar mutu takaran, dan melampaui harga eceran tertinggi atau heet. Jadi modus ini memungkinkan oknum mendapatkan keuntungan besar dengan selisih harga 2.000 hingga 3.000 per kgnya dan benar-benar menyesatkan konsumen serta mengacaukan sistem distribusi beras nasional. Enggak pakai lama menteri Amran itu langsung melaporkan semua temuannya ini ke Kapolri dan Jaksa Agung lengkap dengan data merek-merek yang bermasalah tersebut. Gila banget ya, Geng ya. Merek besar loh, perusahaan besar, brand besar gitu. Ternyata masih berbuat curang. Nah, tujuan Pak Menteri ini untuk melaporkan brand-brand tersebut jelas untuk meminta penindakan hukum yang tegas. Dan menurut Eliza Mardian, yaitu seorang peneliti dari Kor Indonesia, praktik pengoplosan beras ini bukan sekedar kejahatan dagang, melainkan bisa menjadi ancaman nyata terhadap ketahanan pangan. Nah, beliau menyebutkan pengoplosan beras stabilisasi pasokan dan harga pangan atau SPHP ke dalam beras premium itu menyebabkan ketimpangan distribusi yang berujung pada ketersediaan pangan yang tidak merata. Dia juga bilang permasalahan utamanya itu dimulai dari praktik pengoplosan beras SPHP dengan beras premium. Ini mengurangi stok di segmen beras medium yang seharusnya ditujukan untuk masyarakat berpendapatan menengah ke bawah. Nah, terus geng setelah Menteri Pertanian yang bernama Andi Amran Sulaiman melakukan inspeksi dan menemukan 212 merek beras yang enggak sesuai standar, ternyata ada temuan yang lebih mengejutkan lagi nih, yaitu terkait pengusaha besar yang diduga terlibat langsung di dalam praktik pengoplosan beras. Ini selama ini yang kita dengar ya, pengoplosan, kecurangan timbangan itu kan di pasar-pasar kecil gitu ya, yang iseng-iseng gitu. Ini malah pengusaha besar. Dan apa yang terjadi sebenarnya? Jadi, Menteri Pertanian Amran ini menyebutkan bahwa salah satu pengusaha besar sudah diperiksa oleh penegak hukum pada tanggal 10 Juli tahun 2025. Meski identitasnya belum diungkap ke publik, Pak Amran ini menegaskan bahwa proses hukum sedang berjalan dan koordinasi dengan Kapori Kejaksaan Agung dan Satgas Pangan sudah dilakukan. Kenapa ini penting? Ya, karena keterlibatan pengusaha besar menunjukkan bahwa praktik oplosan ini bukan cuma ulah pedagang kecil, tapi bisa jadi bagian dari jaringan bisnis yang lebih besar. Ini bukan cuma soal pelanggaran mutu, tapi juga soal manipulasi sistem distribusi pangan nasional yang bisa merugikan masyarakat sampai dengan 99 triliun per tahun. Pak Amran ini juga bilang kalau ini terjadi selama 10 tahun bisa sampai satu kuadriliun kerugiannya. Nah, bahkan Pak Amran ini mengibaratkan ini seperti membeli emas 24 karat. Namun yang diterima oleh si pembeli cuma 18 karat. Nah, apa aja yang mereka lakukan? Nah, jadi perusahaan-perusahaan ini diduga menjual beras bermerek dengan label premium. Padahal isinya adalah campuran beras medium atau kualitas rendah. Jadi dicampur tuh yang seharusnya mereka jual murah karena ada label premium mereka malah jual mahal. Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus dari Bares Krimri sekaligus Wakasatgas Pangan yang bernama Kombes Paul Zain Dwi Nugroho itu menyebutkan saat ini harga beras medium nasional masih di atas harga eceran tertinggi atau HET dan ditemukan beras yang tidak sesuai mutu maupun berat kemasan. Jadi Pak Zain ini bilang kalau beras saat ini khususnya beras medium nasional masih di atas harga HET dan terjadi kenaikan. Kemudian dari temuan Pak Amran Sulaiman di mana 212 merek beras premium dan medium hasil pemeriksaan di 13 lab di 10 provinsi ditemukan tidak sesuai dengan mutunya. 85,56% beras premium tidak sesuai mutu. 59,78% dijual di atas harga eceran tertinggi dan 21%-nya beratnya enggak sesuai. Gila, curangnya seampun-ampun. Nah, Pak Zen ini juga mengungkapkan pihak mereka sudah memanggil tujuh perusahaan besar yang diduga memproduksi beras premium dan juga medium yang bermasalah. Dan saat ini udah ada lima perusahaan yang menjalani pemeriksaan dan prosesnya masih berlangsung sampai saat ini. Nah, jadi itu awal mula gimana terbongkarnya kasus dugaan beras oplosan ini, Geng. Sekarang kita bakal masuk ke dalam penyelidikan kasus beras oplosan dan perusahaan yang terlibat. Jadi, Geng, Badan Reserse Kriminal atau Bares Crim Porri memeriksa empat perusahaan distributor dan produsen beras yang diduga melanggar standar kualitas dan takaran di dalam produk beras kemasan premium yang mereka edarkan. Jadi, pemeriksaan terhadap perusahaan-perusahaan tersebut dimulai pada hari Kamis tanggal 10 Juli 2025 dan dilanjutkan kembali pada Senin tanggal 14 Juli tahun 2025. Dan menurut direktur tindak pidana ekonomi khusus Bares Krim Porri yang bernama Brigadir Jenderal Healthy Aseggaf saat dikonfirmasi di Mambi pada hari Senin siang 14 Juli 2025. Beliau bilang bahwa akan ada pemeriksaan lagi terkait kasus ini. Dari lima perusahaan yang katanya sudah dilakukan pemeriksaan, baru ada empat perusahaan yang disebutkan. Keempat perusahaan tersebut ya nih kalian dengar nih. Ini gede-gede banget perusahaannya ini. Mohon maaf ya datanya gua ambil dari media. ini bukan hasil dari apa ya opini gua pribadi atau riset gua sendiri gitu ya. Jadi ada Wilmar Group, ada PT Food Station Cipinang Jaya, ada PT Belitang Panen Raya dan PT Sentosa Utama Lestari atau Jap Group. Nah, gede-gede banget kan nama-nama yang mungkin sering kita dengar lah ya. Dan pemeriksaan ini dilakukan berdasarkan sampel beras kemasan dari berbagai wilayah yang sebelumnya dikumpulkan oleh satuan tugas pangan Polri. Dan berikut ini adalah profil-profil yang gua dapat dari perusahaan yang sedang diperiksa. Nah, yang pertama kita bahas dulu PT Wilmar Group. PT ini merupakan perusahaan agrobisnis berskala global yang didirikan pada tahun 1991 oleh 2 miliarder asal Singapura dan Indonesia yaitu Kuok Konhong dan juga Martua Sitorus. Nah, pada awal berdirinya perusahaan ini bernama Wilmar Trading Ptd dengan modal awal sebesar 100.000 000 Singapura dan hanya mempekerjakan lima orang. Sebagai perusahaan induk investasi, Wilmar ini bergerak di berbagai sektor agribisnis dan mulai dari pemrosesan ya perdagangan sampai dengan distribusi produk pertanian. Dan aktivitas utamanya meliputi budidaya kelap sawit, penghancuran biji minyak dan penyulingan minyak nabati, serta penggilingan tepung dan beras hingga pengolahan dan penyulingan gula. Nah, selain itu Wilmar Group ini juga mengembangkan bisnis di bidang manufaktur produk konsumen termasuk makanan siap saji, produk dapur, lemak khusus, oleokimia, dan biodiesel, pupuk, serta pengelolaan food parks atau taman makanan. Nah, untuk sektor penggilingan tepung dan beras, Wilmar memiliki anak perusahaan yang bernama PT Wilmar Padi Indonesia yang secara khusus menangani bisnis beras di Indonesia. Khusus loh, padahal. Nah, pemeriksaan oleh Bares Kinpori dilakukan terhadap produk beras premium merek Sofia dan Fortune milik Wilmar. Dan pemeriksaan ini menyusul temuan dari 10 sampel beras yang dikumpulkan Satgas Pangan Pori dari berbagai daerah seperti Aceh, di Lampung, Yogyakarta ya, Sulawesi Selatan, serta kawasan Jabo Detabek. Nah, jadi diperiksa ternyata ada kecurangan. Selanjutnya geng ada dari perusahaan PT Food Station Cipinang Jaya. Jadi PT yang satu ini merupakan badan usaha milik daerah atau BUMD milik Pemerintah ee Provinsi DKI Jakarta. Perusahaan ini bergerak di bidang distribusi dan penjualan bahan pangan serta menyediakan jasa pergudangan, resi gudang, pertokoan, dan pengangkutan khususnya untuk komoditas beras. Nah, dilansir dari laman resmi mereka, Food Station ini memiliki peran utama sebagai pilar ketahanan pangan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Selain itu, perusahaan ini juga menjadi pusat perdagangan beras dan juga pangan pokok untuk skala antar daerah ataupun antar pulau sekaligus menjadi instrumen pengendali harga beras di Indonesia. Nah, pengaruhnya cukup kuat nih, PT. Dan harga beras dari Food Station ini sering dijadikan acuan nasional mencerminkan kondisi dan isu beras ya secara nasional gitu. Di dalam kasus dugaan manipulasi beras ini, PT Food Station Cipinang Jaya diperiksa terkait sejumlah merek yang mereka distribusikan. Di antaranya ada Alfam Midi Setra Pulen, terus ada beras premium Setra Ramos, beras Pulen Wangi, Food Station, terus ada Ramos Premium Setra Pulen dan Setra Ramos. Nah, pemeriksaan ini dilakukan setelah Satgas Pangan Polri mengambil sembilan sampel beras gitu ya dari berbagai daerah termasuk Aceh, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Terus selanjutnya nih, Geng, ada PT Belitang Panen Raya. PT Belitang Panen Raya ini atau disingkat dengan PT BPR itu merupakan perusahaan yang berdiri sejak tahun 2005 dan bergerak di bidang penggilingan padi. Pada 2015, perusahaan ini melakukan ekspansi dengan membuka fasilitas penggilingan padi kedua di wilayah Persawahan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. PTBPR dikenal melalui merek dagang beras raja yang terdiri dari berbagai varian dan sudah dipasarkan secara luas, baik di pasar tradisional maupun modern di seluruh Indonesia. Beras raja ini diproses dari variitas padi murni menggunakan mesin berteknologi tinggi tanpa tambahan bahan kimia seperti pemutih, enggak ada pengawet atau pewangi. Sehingga diklaim sangat higienis dan berkualitas tinggi. Nah, itu klaimnya ya. Tapi di dalam kasus dugaan e beras oplosan PT Belitang Panen Raya diperiksa terkait dua produk unggulan mereka yaitu Raja Platinum dan Raja Ultima. Pemeriksaan terhadap perusahaan ini dilakukan setelah Satgas Pangan PORI menelusuri ya tujuh sampel beras premium yang dikumpulkan di wilayah Jabo Detabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan. Nah, pas udah diklaim paling bermutu, nah pas dicek justru yang kualitas paling tinggi di dalam produk mereka itulah yang dioplos kan kocak banget gitu. Terus yang terakhir nih, Geng, ada PT Sentosa Utama Lestari atau Java Group. Jadi, PT Sentosa Utama Lestari ini atau yang biasa dikenal melalui merek dagang Fasam itu merupakan perusahaan agrikultur terpadu yang berfokus pada pemberdayaan petani. Perusahaan ini merupakan anak usaha dari Jav Group dan salah satu pelaku utama di sektor agribisnis dan peternakan terpadu di Indonesia. Dalam operasionalnya, PT Santosa Utama Lestari memiliki cakupan luas mulai dari produksi pakan ternak, budidaya ayam, pengolahan daging ayam sampai distribusi produk-produk berkualitas tinggi ke berbagai wilayah di Indonesia. Dan di dalam kasus dugaan pelanggaran mutu dan takaran beras, PT Santosa Utama Lestari turut dipanggil oleh Bares Krim Polri. Pemeriksaan dilakukan terhadap produk beras premium punya mereka yang bermerek Ayana yang diproduksi oleh perusahaan ini. Dan langkah ini diambil setelah Satgas Pangan mengambil tiga sampel ya, tiga sampel beras di wilayah Jabod Detabek dan Yogyakarta untuk dianalisis lebih lanjut. Sejauh ini ya, Geng, dari sumber-sumber yang gua temukan nih ya, baru ada empat perusahaan dan yang satunya masih belum ditemukan. Terus informasi terbarunya nih, Geng. Saat ini sudah ada enam perusahaan yang sedang dalam pemeriksaan, termasuk keempat perusahaan yang tadi gua sebutkan. Namun, gue juga enggak menemukan profile dari perusahaan lain tersebut. Selanjutnya ada juga nih, Geng, klaim dari PT Sentosa Utama Lestari selaku anak perusahaan PT Java Konfit Indonesia. Jadi, Kepala Divisi Unit Berat PT SUL Carmen Carlo Ongko itu mengklaim dalam menjalankan operasional bisnis, pihak mereka memastikan bahwa seluruh proses produksi dan distribusi beras dijalankan sesuai dengan standar mutu dan regulasi yang berlaku, katanya. Nah, dia bilang kalau pengawasan internal mereka itu dilakukan secara berkala dan juga ketat, termasuk dalam aspek takaran, kebersihan, serta pelabelan produk. Dia juga bilang bahwa pihak mereka yaitu PTSUL tadi tetap terbuka terhadap evaluasi dan tetap secara rutin melakukan langkah perbaikan. Dan Karmen ini juga bilang PTSUL menghormati dan mendukung penuh proses yang sedang dilakukan oleh pihak berwenang karena dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap rantai pasok pangan nasional. Dia juga mengklaim bahwa mereka ini menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan kepatuhan hukum. Dan Karmen juga mengklaim bahwa mereka sudah dan akan terus bersikap koperatif dalam memberikan informasi dan data yang dibutuhkan oleh tim Satgas Pangan Nasional, Geng. Terus, Geng. Satgas Pangan Pori Brickjen Policy Healthy itu bilang hingga saat ini mereka sudah memeriksa sebanyak 22 orang saksi terkait dugaan adanya produsen beras nakal yang melanggar mutu dan takaran beras. Dari jumlah tersebut, penyidik pada saat gas Pangan Pori sudah memeriksa saksi-saksi dari enam perusahaan dan 8 pemilik merek beras kemasan 5 kg. Tapi nih, Geng, nama-nama itu enggak diungkapkan di media. Aneh banget ya. Coba kalau misalkan yang berurusan kayak gini orang-orang kecil gitu ya, ya maling-maling ayam gitu, kayaknya mukanya juga enggak disensor bahkan digebukin gitu. Tapi kalau orang-orang besar gini identitasnya disembunyikan gitu, enggak dipermalukan. Dan mereka ya kalaupun ditangkap ya udah pas bebasnya ya aman-aman aja tidak ada sanksi sosial. Dikatakan bahwa pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi ini untuk pendalaman ada atau tidaknya perbuatan melawan hukum atas dugaan penjualan beras dalam kemasan yang tidak sesuai komposisi yang tertera pada kemasannya. Nah, Brickjen Paul Healthy mengungkapkan kalau penyidik kembali melakukan pemeriksaan dan saksi yang dipanggil adalah 25 pemilik merek beras kemasan 5 kg. Dan terkait apa aja merek beras tersebut ya beliau tidak membeberkannya di media. Terus genggota komisi 4 DPR yaitu Pak Riono Caping itu juga menyesalkan maraknya kasus beras oplosan yang menimbulkan kerugian luar biasa sampai dengan Rp99 triliun per tahun. Menurut beliau, beras oplosan tidak hanya merugikan konsumen, tapi juga mencederai perjuangan para petani di Indonesia. Beliau juga bilang ini sangat-sangat merusak dan tidak hanya merugikan konsumen, tapi juga petani yang sudah berusaha menghasilkan beras berkualitas tinggi. Nah, begitulah kira-kira nih, Geng, ya. Hasil penyelidikan kasus beras oplosan dan perusahaan yang terlibat serta profil dari para produsen beras yang diduga kuat menjadi pengoplos. Serta ada juga pendapat dari PT Sentosa Utama Lestari dan timbullah pertanyaan, ya, kenapa bisa hal ini terjadi? Mengoplos beras yang mana itu merupakan bahan pokok, bahan yang kita konsumsi setiap harinya. Ada beberapa faktor nih, Geng, yang bisa kita bahas. Sekarang kita masuk nih, ya, ke dalam faktor-faktor tersebut. [Musik] Jadi, Geng untuk bisa menjelaskan faktor-faktornya, gua bakal mengambil beberapa pernyataan dari pengamat-pengamat. Yang pertama itu ada pernyataan dari pengamat Pertanian Center of Reform on Economic atau disingkat dengan core yang bernama Eliza Mardian. Nah, beliau ini menyoroti ee pengawasan yang lemah. Dikatakan pemerintah dinilai enggak memantau distribusi beras, stabilisasi pasokan, dan harga pangan atau SPHP secara ketat. Padahal menurut dia ini ada potensi kebocoran karena rantai distribusi yang cukup panjang. Di dalam hal ini dia mengomentari beras SPHP yang disalurkan dari gudang Bullock ke agen distributor baru disalurkan ke agen retail. Nah, jadi banyak kebocorannya di situ. 80% bocornya dan cuma ada 20% yang sampai ke tangan penerima manfaat yang sesuai dengan kriteria. Eliza juga bilang kalau urusan pengawasan itu seharusnya ya enggak cuma ditangani oleh Kementan. Dia bilang ya distribusi beras juga menjadi tanggung jawab Kementerian Perdagangan. Karena menurut beliau ya persoalan beras oplosan ini harus ditangani oleh satuan tugas baru yang khusus mengatasi mafia beras. Ya, tapi Pak ya kalau boleh kritik-kritik dikit nih, janganlah apa-apa bikin satgas. Janganlah apa-apa bikin satuan tugas. Bikin satgas baru, ya dana baru lagi. Bikin satgas baru, pengajuan uang negara lagi. Ya kan? Uang negara keluar itu dari pajak rakyat satgas mulu gitu ya. Kenapa enggak polisi aja? Polisi kan udah ada tuh satgas. Terus beliau juga menyebutkan perlu tim baru katanya yang lebih detail dibandingkan Satgas Pangan. Dan Eliza ini bilang Kementerian Koordinator Bidang Pangan harus mengambil peran pemimpin pemberantasan ini. Nah, beliau menyarankan agar pemerintah harus memperketat standarisasinya, dicek secara berkala ke pasar-pasar, aktif melakukan survei, verifikasi, dan diuji berasnya. Ya, tujuannya sih bagus, tapi kalau pembentukan Satgas lagi pembentukan kayak kayak bikin ormas jatuhnya, ya kan? Tapi yang resmi dari negara, pakai uang negara gitu. Haduh. Terus fungsinya Bapak-Bapak polisi ngapain? Cuman meriksa doang BAP terus tangkap terus penjara. Ya enggaklah. Satgasnya itu ya udah dari pihak kepolisian aja. Kenapa sih emangnya gitu kan? Oke, mungkin di sini kalian akan bingung ya, Geng. Gimana sih eh perbedaan dari beras oplosan dengan beras biasa dan apa aja sih dampaknya? Emang kenapa kalau oplosan emang kenapa? Emang kalau oplosan pas poup jadinya e sampah gitu atau jadinya e ada belatungnya atau gimana gitu? Kan sama-sama aja pasti gitu ya. Ada yang mikir gitu ya. Nah, sekarang kita masuk nih ke dalam pembahasan perbedaan beras oplosan dan beras biasa. Jadi, geng ahli teknologi industri pertanian IPB University ya, Prof. Tajudin Bantut ya. Beliau ini menjelaskan bahwa beras oplosan itu berarti berasnya udah dicampur dengan bahan lain ya. Namanya juga oplosan ya kan kayak minuman oplosan aja udah pasti dicampur dengan bahan lain gitu. Dan menurut Pak Tajudin ini pada Minggu tanggal 12 Julia beliau ini membeberkan tiga jenis pencampuran atau opl di dalam konteks beras yang memiliki makna yang berbeda. Pertama itu beras campur atau mix rice. Ya, di dalam hal ini beras dicampur dengan bahan atau jenis karbohidrat lain seperti jagung hingga menghasilkan produk yang bernama beras jagung. Dia bilang gini, "Jadi walaupun tanpa menggunakan beras, hanya gilingan kasar jagung bisa disebut dengan beras jagung karena digunakan untuk ditanak atau dimakan katanya." Kalau itu kan udah jelas ya, beras jagung real gitu dioplos dengan beras jagung yang dioplos dengan beras dan memang tujuannya ya untuk menciptakan beras jagung gitu. Nah, ini enggak salah dan enggak ilegal. Nah, tapi jenis beras oplosan selanjutnya itu adalah campuran beberapa jenis beras blended rice yang mana istilah ini merujuk pada beras yang dicampur dengan jenis beras lain. Apakah itu boleh? Apakah itu tidak boleh? Sebenarnya ya kalau misalkan kita berpikir yang penting kenyang ya sah-sah aja boleh-boleh aja. Tapi kalau kita berpikir kualitas sebenarnya ini enggak boleh. Karena masing-masing beras itu ada jenisnya, ada kualitasnya. Nah, meskipun demikian ya, pencampuran jenis-jenis beras ini gak selalu dinilai buruk. Karena terkadang ada yang tujuannya untuk memperbaiki kualitas beras gitu ya. Dari beras yang kurang bagus dicampur dengan yang bagus, namun yang bagusnya itu lebih banyak. Nah, itu biasanya untuk menaiki kualitas beras itu. Contohnya nih, jenis beras jasmin yang dihasilkan dari campuran beras dan menir jasmin, yaitu mendapatkan aroma dan tekstur lebih baik daripada beras biasa. Terus beliau juga memberikan contoh yaitu beras rojol lele beras pandan wangi. Mahal teksturnya, aromanya, rasanya bagus maka ditambahkan menirnya ke beras yang biasa sehingga teksturnya masih bagus sesuai dengan keinginan. Nah, yang selanjutnya jenis ini dia sebut dengan special rice yang sama sekali tidak menurunkan kualitas daripada beras tersebut. Nah, terus yang terakhir ada jenis beras oplosan atau beras yang dipalsukan merujuk pada beras yang dicampur dengan bahan lain yang tidak seharusnya ada di dalam beras asli. Misal nih, beras plastik yang juga sempat ramai dibicarakan beberapa tahun lalu atau jenis beras berkualitas rendah yang seharusnya tidak diklaim dengan mutu baik pada kemasannya ya. Contohnya misalkan beras kualitas rendah ya bikin aja gitu beras kualitas rendah tulisannya dan harganya jauh lebih murah. Tapi ini enggak di kemasannya malah dimanipulasi gitu. Nah, itu yang disebut dengan oplosan curang dan diklaim beras premium tetapi ditambahkan bahan lain atau beras dengan kualitas lebih rendah dan dikatakan kualitasnya tinggi atau dilabeli dengan kualitas tinggi. Itu adalah penjelasan dari beras oploss menurut Profesor Tajudin Bantacut. Ciri-cirinya tuh gimana, Geng, beras oplos itu? Dan masih menurut Profesor Tajudin nih, ya, ada beberapa ciri-ciri yang dapat terlihat saat kita membedakan beras oploss dan beras alami. Yang pertama itu warnanya tidak seragam. Jadi kita ngelihatnya ya dalam satu kemasan itu ada butiran beras putih cerah bercampur dengan yang kusam atau kemungkinan bisa jadi itu beras yang dioplos ya yang kusam itu yang kualitas rendahnya. Terus selanjutnya ukuran butirannya tuh bervariasi karena beras asli biasanya seragam sedangkan beras oplosan itu bercampur dengan bulir-bulir panjang pendek besar kecil. Selanjutnya ya dari aromanya beras tersebut kalau dicium ada bau mencurigakan seperti bau apek, kimiawi atau enggak segar. Nah, itu patut dicurigai geng karena aromanya berbeda dari aroma alami beras yang baru. Nah, selanjutnya nih, Geng ya. Nasi lembek ibaratnya tuh berasnya udah dimasak tapi kayak wah cair gitu. Nasi dari beras oplosan biasanya tidak pulen, cepat basi dan terlalu lengket. Nah, mungkin kalian pernah nemuin tuh kasus kayak gitu. Nah, terus yang terakhir ada benda asing saat dicuci. Jadi, kayak kalian lagi cuci beras itu kayak muncul ada serpihan plastik, serbuk putih, atau partikel-partikel lain saat dicuci dan itu juga patut untuk dicurigai. Nah, jadi buat kalian nih ya ini kalian harus sampaikan ke orang tua kalian, sampaikan ke ibu kalian. Kalau memilih beras, kalau memang tujuannya pengin kenyang doang ya sudahlah ya. Tapi kalau memang mau mencari beras berkualitas ya harus banget nonton video ini dan kalian harus banget paham alurnya apa yang terjadi dan cara membedakan beras berkualitas dengan beras oplosan tadi. Oke geng. Itu dia pembahasan kita kali ini terkait dugaan kasus ya beras oplosan dan gimana menurut kalian? Apakah negara kita makin mengkhawatirkan atau justru ini adalah ya sebuah langkah yang semakin baik karena semakin banyak kecurangan yang ketahuan gitu kan. Bisa aja kebalikannya ya. Semakin banyak kejahatan-kejahatan atau kecurangan yang ketahuan terpublish. Itu artinya kinerja pemerintah kita untuk memberantas kecurangan semakin membaik. Bisa aja kan kalau dulu-dulu tuh kayak enggak kedengaran nih ada kasus-kasus kayak gini ya bukan berarti enggak ada. Bisa jadi ada tapi pemerintahnya atau otoritas-otoritas yang berwenangnya tidak bekerja untuk memberantas atau membongkar ini semua. Iya enggak sih? Coba deh menurut kalian kalian lebih setuju yang mana? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories