TRADISI PACU JALUR MENDUNIA DENGAN NAMA AURA FARMING !
D3oj1Ry27NU • 2025-07-13
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Geng, jadi ada salah satu tradisi di Indonesia yang tiba-tiba kembali viral. Bahkan kali ini viralnya sampai dibicarakan ee oleh mancanegara secara global. Media-media luar negeri itu banyak banget yang membahas tentang hal ini juga. Dan banyak juga orang-orang bule yang bahkan sampai bikin parodinya. Jadi, kali ini kita bakal membahas tentang tradisi yang berasal dari Provinsi Riau yaitu Pacu Jalur. Nah, jadi geng sebelum pacu jalur ini mendunia memang udah sempat viral juga di negara kita sendiri. Kalau kalian lihat trennya, orang-orang bikin parodi e sambil ngedayung di atas bangku terus pada baris gitu ya kan. Yang menjadi sorotannya itu adalah ya tarian atau gerakan yang diperagakan itu cukup menarik dan dibawakan juga oleh seorang anak kecil. Nah, kayak pemandu gitu loh, Geng. Jadi emang pacu jalur ini pasti udah enggak asing lagi lah di telinga ee kita semua sebagai orang Indonesia. Dan pacu jalur ini enggak yang tiba-tiba jadi viral gitu aja. Jadi tradisi ini bisa viral karena ada seorang anak yang memperagakan sebuah tarian yang akhirnya tariannya dia itu dianggap cukup apa ya kayak keren aja gitu dan ditiru oleh orang-orang luar negeri yang mana mereka menyebutnya dengan istilah aura farming dan berawal dari situlah banyak yang menggunakan dan menirukan gerakan dari si bocil tadi yang mana mereka meng-upload-nya dengan menambah caption Indonesia Boat Race Aura Farming. di dalam video mereka. Dan gilanya ini keren banget, Geng. Ini wah viral banget sekarang. Sumpah ada yang niru bahkan dengan apa ya benda-benda yang super mewah kayak spot car, superc yah ya kan kapal gitu. Dan bahkan baru-baru ini gua lihat Ata Halilintar itu di atas sebuah e villa yang terbuat dari private jet. Nih lihat sendiri videonya. Gokil ya. Dan saking viralnya bahkan katanya sih ada rumor nih ya ni tapi baru rumor ini jangan sampai kita membuat kegaduhan nih rumornya katanya ee pacu jalur sampai diklaim oleh negara sebelah kalau itu adalah tradisi mereka. Tapi apakah benar seperti itu? Apakah benar negara tetangga kita atau negara saudara kita ini mengklaim budaya kita? Ya nanti kita bahas kebenarannya ya kan? Semoga cuma rumor gitu. Nah, sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan dari tradisi ini. Gua bakal bercerita ke kalian tentang sejarahnya Pacu Jalur. Langsung aja kita bahas secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry [Musik] Genggeng. Oke, sebelumnya disclaimer dulu. Suara gua emang agak serak nih ya. lagi kurang sehat, lagi batuk, terus juga kondisinya masih di luar kota dan ini ada di dalam kamar villa. Jadi kita tetap ngonten, tetap berbagi informasi. Oke, untuk pembahasan yang pertama kita langsung bahas dulu tentang sejarah dari pacu jalur ini. Jadi, geng, tradisi Pcu Jalur ini berasal dari Riau dan kali ini kembali viral. Tradisi ini mempertunjukkan balapan antar sampan atau perahu yang dibuat dari kayu. Tapi kayunya ini bukan kayu sembarangan. Nah, jadi kayu khusus ini merupakan kayu meranti, kuras, merawah, dan menio. Nah, kenapa, Geng? Kenapa harus kayu yang khusus kayak gitu? Karena dianggap ya kayu ini layak menjadi bahan dasar jalur yang panjangnya bisa mencapai 30 sampai 35 m. Nah, jadi butuh kayu yang apa ya kualitasnya bagus. terkena air, dia enggak bakal lapuk, ya kan? Terus juga serat-seratnya itu panjang. Jadi bisa membuat perahu yang bagus dengan jenis kayu yang gua sebutkan tadi. Kenapa sih tradisi ini bisa jadi viral di luar negeri? Jadi cerita awal mulanya ya, ada satu klub bola dari Eropa dan negara Prancis yaitu Paris Saint-Germain atau PSG yang memposting sebuah video di TikTok yang di dalamnya itu ada sebuah potongan video gerakan dari pacu jalur yang mana ini diikuti oleh selebrasi dari beberapa pemain mereka. dan bahkan salah satunya adalah Neymar. Nah, di dalam caption dari akun resmi TikTok PSG ini menyebutkan bahwa aura dari gerakan sang bocah di pacu jalur itu sampai ke Paris, Perancis. Jadi bisa dikatakan sesuka itu mereka sama gerakan si bocah itu. Dari yang gua lihat sih, Geng, ya emang sekeren itu gerakannya. Jadi, istilah dari Aura Farming ini menunjukkan kepada sebuah penampilan yang menampilkan sesuatu momen yang keren. Jadi, orang tersebut terlihat lebih keren dan juga percaya diri. Jadi setelah video dari PSG ini viral, dia posting viral dan diikuti oleh beberapa klub bola lainnya. Setelah itu ada AC Milan, terus ada Juventus, ada Bayern Munchen, bahkan akun dari Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara yaitu Konkaakf itu juga bikin. Nah, setelah viral gerakan ini, akhirnya gerakan ini berubah menjadi tren, Geng. Bahkan sampai artis-artis di luar negeri itu mengikuti gerakan tren tersebut. seperti salah satunya ada KSI ya dia YouTuber terus ada DJ Steve Auki ada Luna Maya kalau di Indonesia dan bahkan sampai dengan pembalap F1 asal Spanyol yaitu Fernando Alonso. Nah, akhirnya banyak juga nih orang-orang yang mengikuti tren ini. Setelah viral dan ramai diikuti oleh banyak orang, bahkan nih, Geng ya, sampai salah satu game yang terkenal yaitu Fortnite itu memasukkan gerakan ini ke dalam emote di dalam game mereka. Nah, jadi si anak yang terlihat di dalam video pacu jalur yang tren itu ya itu jadi terkenal ke mana-mana, mukanya udah tersebar ke mana-mana. Nah, terus dia ini siapa sebenarnya? Kok gerakannya bisa lues banget gitu? Apakah dia dancer? Nah, jadi anak itu bernama Ryan Arkandika atau biasa dipanggil dengan nama Dika. Usianya masih muda banget, masih 11 tahun dan dia ini merupakan siswa SD 013 Desa Pintu, Gobangkari, Kuantan Singingi, Riau. Dia ini ternyata bukan sekedar penari biasa. Nah, jadi basicnya emang dancer penari gitu ya. Dia bisa menari di atas sampan itu karena ayahnya sendiri yang bernama Juvriono itu adalah atlet dari pacu Jalur Riau. Nah, kepiawaian Dika ini enggak didapat gitu aja, Geng. Jadi, Dika ini udah dilatih, udah latihan rutin selama 3 tahun untuk posisi sebagai penari pacur jalur. Jadi ikut ayahnya yang atlet, dia sebagai penari pacul jalurnya. Dan dia ini latihannya langsung di atas jalur gitu, Geng. Langsung di atas apa? Sampan. Gila banget. Dan kalau sekarang umurnya 11 tahun, berarti Dika ini udah mulai berlatih di umur yang masih kecil banget, yaitu umur 8 tahun. Terus menurut pengakuan si Dika ini ya, awal-awal dia itu memang ee bilang agak apa ya, agak kesulitan dia ketika latihan, ketika berdiri di atas sampan dan sering sekali tergelincir karena permukaan sampan yang dia pijak itu licin. Nah, terus basah juga dan juga kecil. Kalau kalian lihat sampannya itu kan ujungnya lancip, itu kecil banget yang membuat dia sering terpeleset dan jatuh. Nah, dari sini kita bisa lihat ya, Geng, kalau salah satu syarat wajib untuk bisa menjadi seorang penari pacu jalur adalah wajib bisa berenang. Apalagi arus sungai yang ada di Riau itu deras. Dan ditambah lagi kan kalau dia jatuh ketika sampannya di dayung, bisa-bisa kepalanya kepentok tuh. Nah, tapi karena memang bocah-bocah di sana mungkin udah terbiasa gitu berenang ya, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Mungkin ketika mereka jatuh mereka langsung nyelem supaya apa? supaya enggak kepentok sama jalurnya atau si sampannya atau justru dayungnya. Nah, terus Dika ini sempat ngaku, Geng. Dia bilang kalau dia beberapa kali jatuh sebelum sampai ke garis finish yang membuat dia sampai harus diselamatkan. Ya, mungkin di saat itu kecapekan, enggak kuat berenang gitu, ya. Nah, akhirnya nih ketekunan Dika ini di dalam waktu 3 tahun membuat Dika akhirnya terbiasa. Dia udah semakin pede berdiri di ujung sampan yang sempit itu. Dan ya dengan panjang sampan antara 25 sampai 40 m yang terbuat dari kayu utuh tanpa sambungan dan bahkan saat dipacu itu sampan menampung sekitar 40 sampai 60 orang pendung. Nah, jadi dika ini apa ya? Kalau jadi dia tuh kayak bebannya cukup berat sih ya kan 60 orang di belakang dia atau 40 orang di belakang dia itu berusaha ngedayung sekuat tenaga sementara dia harus menjaga keseimbangan sambil menari di sana. Kalau dia jatuh ya gagal karena otomatis kan para pendung harus nolongin dia. Nah, terus dia ini kan penari nih, Geng. Penari pacu jalur. Gimana dengan gerakan yang dia lakukan di video yang viral? Apakah itu emang udah konsepnya dia? Apakah itu emang udah koreografi sesuai dengan tradisi? Nah, jawabannya ternyata itu bukan koreo yang sudah dipersiapkan ataupun gerakan yang memang sudah sesuai dengan tradisi. Kata Dika, dia itu cuma spontan melakukan gerakan seperti di video. Nah, jadi bisa dikatakan dia sebelumnya itu tidak mengkonsepkan apapun. Tapi dari gerakannya kita bisa lihat ya, ada beberapa gerakannya itu yang kayak urban urban culture gitu loh, kayak dance-dop gitu. Contoh kayak dep, terus ada yang kayak gini, kayak gini itu benar-benar apa ya? Dan hip hop gitu. Nah, gua rasa juga mungkin karena keseringan lihat sosial media seperti TikTok dan Instagram akhirnya menginfluence dia untuk melakukan gerakan itu, Geng. Dika sendiri itu merasa senang banget dia karena videonya sampai viral ke luar negeri dengan nama tren Aura Farming yang menggunakan sound lagu dari Young Black and Rich milik My Mike. Nah, setelah tren ini viral, pemerintah daerah pada Selasa, 8 Juli tahun 2025 di halaman kantor Gubernur Riau itu memberikan si bocah ini atau si Dika ini beasiswa pendidikan senilai Rp20 juta dan dia diangkat menjadi duta pariwisata daerah Riau oleh Abdul Wahid selaku Gubernur Riau atas dedikasinya melestarikan budaya Riau. Di saat itu, Geng, Dika ini tuh enggak nyangka kalau dia bakal bertemu dengan Gubernur Riau. Dan Abdul Wahid juga menekankan bahwa dika ini adalah terbukti ya dia adalah anak muda yang bisa jadi ujung tombak promosi budaya. Jadi harapan mereka dari aksi Dika ini dapat dijadikan contoh untuk para anak muda lain untuk dapat menonjolkan bakat dan keterampilan mereka, Geng. Karena diposting terus oleh klub bola, terus orang-orang terkenal dari seluruh dunia, seharusnya ini berdampak baik kan terhadap e Indonesia. Karena itu artinya kebudayaan Indonesia semakin dikenal oleh dunia internasional. Nah, tapi geng, ternyata ada aja nih justru ya ada rumor yang mengatakan kalau negara tetangga itu mengklaim pacu jalur ini adalah budaya milik mereka. Nah, tapi jujur ya di sini gua enggak bisa membenarkan berita ini karena belum tentu terbukti ucapan dari si netizen itu ya. Apakah benar dia orang Malaysia, apakah benar yang mengaku atau mengklaim ini Malaysia? belum tentu. Nah, jadi sekarang kita bakal masuk nih ke dalam pembahasan mengenai klaim dari negara lain terhadap pacu jalur yang dianggap sebagai budaya negara mereka yaitu ya isunya berasal dari Malaysia. Jadi, geng ketika tren ini jadi viral dan mendunia, banyak dari negara lain itu mengklaim budaya ini. Jadi, mereka itu mengklaim bahwa tradisi pacu jalur ini berasal dari negara mereka. Nah, itu rumornya sebenarnya ada beberapa negara. Kalau yang tadi gua mention itu Malaysia ya kan. Tapi sebenarnya ada beberapa negara yang bisa dikatakan masih serumpun sama kita yaitu Thailand, Filipina, dan juga Vietnam yang mana secara perawakan mereka masih mirip dengan orang-orang di negara kita. Nah, katanya negara mereka juga mengklaim tradisi pacu jalur ini. Tapi dari semua negara-negara tersebut ya, yang paling dominan dan disoroti adalah klaim dari Malaysia. Tapi ini klaimnya e dari netizen gitu ya, netizen Malaysia kabarnya. Jadi netizen Malaysia ini dia ngeklaim sepihak dan ini mulai muncul di TikTok ya, di sosial media dan dia mengatakan bahwa pacu jalur berasal dari Malaysia dan dia juga mengatakan pacu jalur ini sudah menjadi ikon kebudayaan mereka sejak tahun 1950-an. Nah, tapi sayangnya si netizen ini terkesan hanya mengaku-ngaku dan tidak memiliki cukup bukti untuk bisa membuktikan klaim tersebut. Bahkan tidak ada arsip, dokumen, dokumentasi atau pengakuan resmi dari pemerintah Malaysia terkait klaim si netizen ini. Respon dari netizen Indonesia terhadap netizen yang mengaku dari Malaysia ini tentu menolak klaim tersebut dan memberikan bukti bahwa sebenarnya pacu jalur ini berasal dari Indonesia. Di sini pemerintah tentu tidak tinggal diam. Bahkan beberapa dari mereka langsung melakukan klarifikasi dan konferensi pers terkait dengan masalah ini. Nah, yang pertama kita bahas dulu nih ya klarifikasi dari Kepala Dinas Pariwisata yang ada di Riau yaitu Pak Roni Rahmat. Beliau ini bilang pada Selasa, 8 Juli 2025 ya mereka memahami dinamika di media sosial. Namun perlu ditegaskan lagi bahwa Pacu Jalur adalah warisan budaya asli Indonesia. Spesifiknya adalah dari Kuantan Singingi, Riau. dan dia juga menggaris bawahi bahwa Kementerian Kebudayaan sudah mengakui pacu jalur warisan budaya tak benda milik Indonesia. Dan Roni juga udah menduga bahwa sikap dari netizen yang diisukan berasal dari Malaysia ini ya karena memang kedekatan budaya dan letak strategis negara kita dengan negara mereka itu berdekatan. Bahkan kita ini kan sering disebut negeri serumpun saking miripnya budaya dan letak geografis kita dengan mereka. Nah, tapi Pak Roni ini dan pihak terkait itu menekankan fakta dan sejarahnya itu sudah jelas dan mereka juga berupaya mengedukasi masyarakat luas baik dari dalam maupun luar negeri mengenai keaslian dan kekayaan budaya pacu jalur dan juga memastikan bahwa warisan budaya Indonesia tetap diakui sebagaimana semestinya. Dan Pak Roni ini juga mengatakan bahwa pacu jalur ini bukan cuma sekedar perlombaan balap perahu, tapi juga representasi dari budaya yang kaya akan sejarah, simbol semangat perjuangan, dan juga nilai kebersamaan, Geng. Nah, jadi bisa dikatakan ya dalam banget nih makna dari tradisi pacu jalur ini, Geng. Terus selanjutnya nih, Geng, ada respon dari Gubernur Riau yaitu Abdul Wahid. Jadi, respon dia tuh gini. Dia memaklumi klaim tersebut karena memang kita ini serumpun. Jadi pasti ada asimilasi budaya antara Indonesia dan Malaysia. Nah, buat kalian yang enggak ngerti ya asimilasi ini ya, jadi itu adalah pembaruan suatu kebudayaan dan menghilangkan ciri khas kebudayaan aslinya. Nah, proses asimilasi antara budaya Indonesia dan Malaysia ini bisa terjadi akibat dipengaruhi oleh sejarah migrasi dan kedekatan etnis. Jadi, karena bertetangga banget gitu. Dan untuk contohnya ya mirip-mirip kayak kasus batik. Jadi di Malaysia ada batik, tapi di Indonesia juga ada batik. Dan keduanya ini saling klaim. Akhirnya ada batik dari Malaysia dan ada juga batik dari Indonesia. Jadi memang kebudayaan kita ini banyak kemiripan dengan negara tetangga, Geng. Nah, walaupun Pak Wahid ini memaklumi, tapi Pak Wahid ini juga memberikan fakta sejarah dari Pacu Jalur, Geng. Jadi menurut beliau, Pacu Jalur ini milik Kuantan Singingi memang. Bahkan tradisi ini dipertahankan sejak abad ke-17 atau tahun 1890. Dan dia juga ya menambahkan bahwa tradisi ini tetap diberlakukan dan diperlombakan untuk acara 17 Agustusan atau memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Jadi tradisi ini tuh masih rutin digelar di daerah Kuantan Singingi, Riau. Ya, kurang lebih begitulah penjelasan kuatnya karena memang dokumentasinya jelas, fakta budayanya jelas gitu. Dan Pak Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan Republik Indonesia itu juga ikut berkomentar. Jadi menurut beliau nih, Geng, selaku Menteri Kebudayaan, budaya dari Pacu Jalur ini sudah lama ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda atau disingkat WTWB oleh Kementerian Kebudayaan dan sudah melalui proses resmi yang melibatkan Direktorat Jenderal Kebudayaan serta tim ahli WTWB Nasional. Dan Pak Fadli Zon juga memuji aksi Dika yang viral hingga ke luar negeri dengan tren aura farming. Menurut Pak Fadli Zon, gerakan dika itu organik, ekspensif, dan menyesuaikan dengan irama dari pacu itu sendiri. yang mana dia melakukan gerakan atraktif yang membuat orang-orang yang mendayung semakin semangat gitu. Dan aksi dari Dika ini dianggap adalah atraksi yang cukup sulit. Nah, karena berada di ujung perahu dan harus berdiri dengan keseimbangan yang sangat penting. Oleh karena itu, Pak Fadli Zon mengapresiasi kepada pihak-pihak yang ikut mempromosikan kekayaan budaya nusantara di dunia melalui berbagai platform, termasuk lewat sosial media. Terus ada lagi nih, Geng, seorang tokoh adat dari Kansing yang ikut berkomentar dan buka suara. Jadi, beliau ini bilang, "Kalau budaya kami mulai diklaim macam-macam, mau sampai kapan kita diam?" katanya gitu. Nah, di sini tuh udah terlihat ya bahwa orang dari sana tuh udah geram sebenarnya dengan klaim-klaim kayak gitu. Dan ada hal yang menarik. Jadi salah satu netizen yang mengaku bahwa pacu jalur ini milik Malaysia ya setelah diracking, setelah dicek ternyata adalah akun milik orang Indonesia. Nah, ini buktinya dibuktikan langsung oleh sebuah akun TikTok yang bernama si Prandi 2. Jadi di dalam postingan dia ini, Geng, terdapat beberapa akun yang mengklaim bahwa Pacu Jalur berasal dari Malaysia. Tapi ketika dibuktikan menggunakan bot Telegram, mereka ini yang ngeklaim-ngeklaim ternyata berasal dari Indonesia, bukan dari Malaysia. Nah, jadi ini bisa dikatakan adalah salah satu bentuk adu domba. Kita diadu domba dengan saudara kita sendiri dari Malaysia. Padahal yang melakukan kecurangan itu adalah orang Indonesia sendiri. Ya, oknum lah ya bisa dikatakan mereka nakal, mereka mencoba-coba untuk mengadu domba tapi akhirnya ketahuan juga. Sebenarnya ini miris banget, Geng. Kok bisa budaya negara sendiri tapi malah mengakuinya sebagai budaya negara asing juga gitu kan. Tapi ya kelihatan ya tujuannya adalah untuk mengadu domba. Dan dari beberapa akun TikTok tersebut nih geng. Ya, ada yang menarik salah satunya. Jadi, salah satu akun TikTok itu bernama Gelanteta. Nah, jadi dia ini komen kalau Pacu Jalur from Malaysia not Indonesia. Akhirnya banyak dari netizen yang ngulik-ngulik informasi dari akun tersebut. Salah satunya ya akun @siandi 2 tadi. Dan terbukti bahwa dia ternyata orang tersebut ya, Gelan Teta itu adalah orang Indonesia. Dan pernyataan ini juga diperkuat dari nama akunnya yaitu gelanteta yang merujuk kepada bahasa Aceh. Gelanteta itu ya apa ya ee sambaran petir. Gelante itu petir. Ta itu potong gitu. Jadi sambaran petir gelante ta. Nah, jadi mungkin bisa jadi ya orang yang ngomong ini memang orang Aceh kali ya yang lagi ngerantau ke Malaysia jadi TKI di sana terus pengin ya bikin kekacauan, ngobok-ngobok emosi netizen, akhirnya bikin statement kayak gitu. Nah, oke sampai di sini kalian udah paham ya, Geng tentang pacu jalur tadi. Kalau tadi kita udah ngebahas soal kenapa pacu jalur ini bisa viral dan netizen yang diduga mengadu domba Malaysia dengan Indonesia untuk membuat klaim bahwa pacu jalur ini milik Malaysia, ya kan? Nah, gua yakin dari kalian semua pasti ada yang belum tahu soal sejarah dari pacu jalur itu sendiri. Nah, sekarang kita bahas nih sejarahnya yang lebih dalam lagi. Bagaimana sih pacu jalur ini bisa muncul, bisa ada. Jadi, Gengs, sebelum kita masuk ke dalam sejarahnya nih, ada baiknya kita bahas dulu peran-peran yang ada di dalam e tradisi pacu jalur ini, ya. Nah, yang pertama ini ada tukang concang namanya, ya. Jadi, dia ini adalah komandan tim yang memberikan aba-aba atau mengatur ritme dayung. Terus yang kedua itu ada tukang pinggang yang bertugas sebagai juru mudi yang mengendalikan arah laju perahu agar tetap berada di lintasan. Terus ada tukang onjai yang bertugas memberikan irama kapal dengan cara menggoyangkan badan serta menjaga stabilitas dan semangat tim. Selanjutnya ada anak pacu yang bertugas mendayung perahu dari start sampai finish. Terus ada tukang tari atau anak Choki, penari cilik yang berada di ujung kapal atau di ujung perahu. Nah, dia inilah yang bertugas menari ketika si jalur ini atau perahu tersebut sedang memimpin atau sedang unggul dan mereka juga menjadi ikon visual serta spiritual dari tradisi pacu jalur ini. [Musik] Terus selanjutnya ada tukang timbo yang bertugas menimba air agar perahu tidak tenggelam karena air yang masuk ke dalam bagian perahu selama perlombaan. Dan yang terakhir adalah tukang galah yang bertugas untuk mengarahkan haluan saat mendekati garis akhir. Sebenarnya nih, Geng, masih ada satu lagi ya, yaitu pawang jalur. Jadi, dia ini adalah sosok yang dipercaya memiliki kemampuan spiritual untuk berkomunikasi dengan alam dan dia juga memimpin ritual semah sebelum penebangan kayu dan sebelum perlombaan dimulai. Jadi itulah peran serta tugas yang ada di dalam tradisi pacu jalur ini. Nah, jadi enggak sembarangan orang ngikut-ngikut aja fomo-fomo naik ke perahu Dayu. Enggak. Ada orang-orang yang apa ya jabatan-jabatannya gitu. Ada kepala desanya, ada wakilnya gitulah kurang lebih ya istilahnya ya kan. Oke, sekarang baru nih kita masuk ke dalam sejarah dari tradisi pacu jalur ini. Nah, jadi nih geng pacu jalur ini berasal dari bahasa Minang Timur. Pacu yang berarti lomba atau ya berkompetisi gitu ya dan jalur yang artinya perahu. Kalau bahasa Padang itu jalu gitu bahasanya. Nah, atau sampan. Jadi, pacu jalur ini bisa diartikan sebagai balapan perahu. Nah, terus geng ya pacu jalur ini pertama kali disebutkan pada abad ke-17 dan sudah menjadi budaya turun-temurun yang diwariskan di daerah Kuansang lebih dari 100 tahun. Namun sebelumnya lebih tepatnya di abad keet7uh sejumlah besar utusan pendung Minangkabau itu mencapai hilir Sungai Batanghari ya bagian dari wilayah Provinsi Jambi saat ini. Dari hulunya di dataran tinggi Minangkabau bagian wilayah Provinsi Sumatera Barat yang modern dengan menggunakan perahu. Dan peristiwa khusus ini ya dijelaskan di dalam prasasti kedukan bukit yang ditemukan di Palembang. Nah, jadi orang-orang zaman dulu tuh pacu jalurnya, bukan pacu jalur sih, maksudnya ngedayung jalurnya itu jauh banget dari Padang ke Jambi, Geng. Jadi emang udah jadi budaya di saat itu. Dan kurang lebih ya bunyi dari kalimatnya tuh gini. Berangkat dari Minangkabau membawa 20.000 bala bantuan dengan 200 upeti di atas sampan. Nah, jadi itu jadi ini tuh merujuk pada sebuah ee sampan yang membawa banyak orang dan juga membawa banyak upeti atau barang. Dari situlah dapat kita simpulkan bahwa tradisi pacu jalur ini dulu bukanlah sebuah ajang balapan, melainkan adalah sarana transportasi orang-orang di Sumatera Barat sana. Jadi menurut sumber lisan masyarakat setempat, jalur atau ee sampan yang pada mulanya merupakan sarana transportasi untuk menyusuri sungai Batang Kuantan dari Hulu Kuantan hingga ke Cerenti yang ada di bagian hilir sungai Kuantan ya kan. karena transportasi darat di saat itu belum berkembang pada masa itu. Nah, jalur tersebut digunakan sebagai sarana transportasi penting bagi penduduk desa. Terutama digunakan sebagai sarana pengangkutan hasil bumi seperti ya hasil panen buah-buahan, padi, sayur ya yang lebih banyak tuh tebu di sana. Nah, karena perahunya lama-lama berkembang barulah perahu transportasi dengan bentuk memanjang dan sengaja dihias dengan unsur budaya setempat yang bisa berupa kepala ular, buaya gitu ya. Nah, seiring berjalannya waktu, fungsinya mulai digeser dari sekedar alat angkut orang menjadi tongkang kerajaan yang megah. Jalur air atau sampan air yang biasa digunakan sebagai jalur transportasi atau pertukaran barang berangsur-angsur berubah menjadi identitas sosiokultural dari masyarakat Minangkabau yang ada di daerah Kuantan untuk menyelenggarakan festival. Jadi ini ibaratnya kayak kita punya mobil ya kan enggak cukup sekedar mobilnya aja standar-standar akhirnya dimodifikasi lama-lama diikutin kontes kayak gitu kurang lebih. Nah, apalagi menurut catatan sejarah yang tertulis jalur tersebut juga menjadi jalur para bangsawan untuk menyambut tamu-tamu terhormat para raja yang hendak berkunjung ke kawasan Rantau Kuantan. Nah, pada masa kolonial Belanda, pacu jalur ini berubah fungsi, Geng. sebagai alat pemeriah untuk memperingati hari lahir Wilhelmina, yaitu Ratu Belanda yang jatuh pada tanggal 31 Agustus setiap tahunnya. Dan festival ini biasanya berlangsung hingga tanggal 1 atau 2 September tergantung dari jumlah lintasan yang diikuti. Sebelum kedatangan Belanda ini, Geng, Pacu Jalur sudah diselenggarakan oleh penduduk setempat untuk memperingati hari-hari besar umat Islam seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, atau bahkan untuk merayakan tahun baru Islam. Dan selanjutnya setelah Indonesia merdeka, festival ini berkembang dan digunakan untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Dan untuk melestarikan tradisi budaya tersebut, pemerintah Indonesia memasukkan festival pacu jalur ke dalam acara kalender wisata nasional tahunan Indonesia yang biasanya diadakan sekitar tanggal 23 sampai 26 Agustus setiap tahunnya. Dan perahu yang dipakai ini juga terbuat dari batang kayu utuh tanpa dibelah-belah, tanpa dipotong-potong atau disambung-sambung. ciri-cirinya adalah ya kokoh dan kuat, ramping, artistik, sehingga pada saat berpacu tidak dikhawatirkan pecah, terus jalannya juga laju dan sedap dipandang gitu. Nah, pembuatan jalur ini melalui proses yang cukup panjang, Geng. Yaitu yang pertama adalah ada musyawarah kampung. Jadi, akan ada rapat adat dulu untuk menyepakati pembuatan jalur atau perahu baru. Selanjutnya, baru pemilihan kayu. Dan kayu yang akan dipilih juga harus kayu utuh, harus lurus. Panjangnya 25 sampai 30 m. diameternya harus 1 sampai 2 m dan diyakini memiliki mambang atau roh penjaga. Nah, tetap ada yang mistis-mistisnya gitu. Dan setelah pemilihannya selesai, selanjutnya adalah upacara semah, yaitu ritual adat agar kayu tidak hilang secara gaib. Setelah ritual ini selesai semuanya, selanjutnya pohon akan ditebang dengan kapak dan juga beliung. Lalu dipisahkan dari dahan dan juga ranting. Dan selanjutnya barulah pemotongan ujung kayu yang ukurannya sesuai dengan ukuran jalur itu sendiri. Nah, lalu dikupas tuh kulitnya dan dibagi untuk bagian haluan, lambung, dan bagian lainnya. Nah, selanjutnya geng pendadan yaitu proses meratakan bagian atas kayu dari pangkal hingga ujung. Nah, terus ada istilah mencaruk, yaitu mengeruk bagian dalam kayu agar ketebalannya merata. Dan selanjutnya proses menggiling, yaitu proses memperhalus sisi atas kayu untuk membentuk bibir perahu. Selanjutnya ada istilah mangalia. Nah, yaitu membalikkan kayu agar bagian luar bisa dirampingkan dan dibentuk serta untuk diproses pengukuran ketebalan yang dilakukan dengan bor kecil yang ditutup pasak. Nah, lalu setelah itu baru melentangkan kembali jalur dikembalikan ke posisi semula untuk membentuk haluan dan juga kemudinya. Nah, terus ada menghela atau menarik jalur yang sudah setengah jadi ke kampung ya disertai upacara milo jalur. Nah, menghaluskan, mengukir, dan dihias setelah itu sampai jadi bagus. Dan setelah selesai barulah dinaikkan ke atas RAM Acun Pian atau sebuah tempat khusus di atas panggung atau pelataran tertinggi untuk kemudian diasapi. Nah, dan yang terakhir adalah proses penurunan jalur ke sungai setelah semuanya selesai. Jadi, ibaratnya tuh langsung di test drive gitu, Geng. Untuk perlombaannya sendiri itu menggunakan sistem gugur. Jadi, pesertanya yang kalah itu enggak boleh ikut bermain lagi. Sedangkan para pemenangnya akan diadu lagi untuk mendapatkan pemenang utama. Dan ada juga yang menggunakan sistem setengah kompetisi di mana setiap regu akan bermain beberapa kali dan regu yang selalu menang hingga perlombaan terakhir bakal menjadi juaranya. Perlombaan meriah ini dimulai dengan tanda yang cukup unik yaitu dengan membunyikan meriam sebanyak tiga kali. Meriam ini digunakan karena bila memakai peluit, suara peluit enggak bakal terdengar oleh peserta lomba karena luasnya area pacu dan riuhu penonton yang menyaksikan perlombaan. Nah, dari setiap dentuman meriam itu memiliki makna yang berbeda. Jadi, pada dentuman pertama, jalur-jalur yang sudah ditentukan ya urutannya itu ya akan berjejer di garis start mereka dengan anggota di setiap regu sudah berada di dalam jalur. Terus pada dentuman kedua mereka bakal berada di dalam posisi siap untuk mengayu dayung. Nah, setelah wasit membunyikan meriam untuk yang ketiga kalinya, maka setiap regu bakal bergegas mendayung melalui jalur lintasan yang sudah ditentukan. Nah, lalu Geng menurut kepercayaan masyarakat setempat, pacu jalur juga merupakan puncak dari seluruh kegiatan mereka. Segala upaya dan segala keringat yang mereka keluarkan untuk mencari penghidupan selama setahun. Jadi, benar-benar hiburan rakyat gitu. Dan gua juga mendapatkan informasi menarik nih, Geng. Jadi, tradisi pacu jalur ini juga membawa keberkahan bagi masyarakat sekitar. Menurut informasi yang diberikan, ya, perputaran uang pada pacu jalur tahun 2022 itu mencapai Rp91 miliar di daerah tersebut. Jumlah tersebut merupakan estimasi dari pendapatan dan perputaran uang dari penginapan hotel, wisma, resto, warung kopi, dan lain-lain. Nah, ini disampaikan langsung oleh Pak Roni sebagai Kepala Dinas Pariwisata Riau. Makanya Festival Pacu Jalur ini menjadi agenda yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Ya, mungkin mirip horek yang ada di Jawa Timur kali ya, tapi bedanya kalau horek kan itu keos banget ya. Ee berisik gitu. Ada yang menghancurkan fasilitas orang lain lah dan sering sekali mengganggu ketenangan orang-orang yang enggak suka gitu. Suaranya berisik banget. Sementara pacu jalur ini ya tidak merugikan siapapun dan ini juga kayak olahraga gitu. Justru jadi ajang kompetisi yang meriah dan membawa berkah bagi masyarakat sekitar. Nah, itu dia geng pembahasan kita hari ini tentang pacu jalur yang lagi viral ini, Geng. Ya, gimana geng menurut kalian tentang pacu jalur ini? Coba tinggalkan komentar di bawah. [Musik]
Resume
Categories