TURIS BRAZIL JATUH DI GUNUNG RINJANI & TRAGEDI BALON UDARA BRAZIL
avDfnCmH3yo • 2025-06-27
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Geng, hari ini mungkin kita kasih space
dulu atau kita rehat dulu sebentar ee
dari pembahasan soal Iran dan Islel.
Nanti kita akan segera kembali lagi
apabila kalian memang masih ingin gua
membahas persoalan perang tersebut. Kali
ini gua mau membahas sebuah kasus yang
juga banyak banget direquest oleh
kalian, yang banyak banget kalian minta
melalui DM Instagram. Nah, buat yang
lain yang mungkin pengin juga ada sebuah
case atau sebuah kejadian yang kalian
pengin banget gua bahas di kamar Jerry,
kalian bisa ajukan tema-temanya atau
kasus-kasusnya melalui DM Instagram
pribadi gua. Nah, akun Instagram gua
yang ini linknya ada di deskripsi.
Kalian boleh klik dan follow. Kalau ada
sesuatu yang menarik untuk kita bahas,
kalian boleh langsung kirim ke DM gua.
Oke. Menanggapi DM-DM yang udah banyak
banget berseleweran, hari ini kita bakal
membahas mengenai dua insiden yang
sama-sama berkaitan dengan negara
Brazil. Kasus yang pertama itu terjadi
di negara kita Indonesia, yaitu seorang
turis asal Brazil yang dikabarkan hilang
di Gunung Rinjani karena dia terjatuh ke
dalam jurang. Pembahasan ini ya tidak
bermaksud untuk melanggar aturan YouTube
atau membuat hal-hal yang dilarang oleh
YouTube, enggak sama sekali. Di sini
tujuan pembahasan ini adalah untuk
informasi dan semoga bisa menjadi
edukasi untuk kita semua. Gua yakin
banget ya pembahasan ini eh pasti sudah
banyak banget berseleweran di timeline
sosial media kalian dan kalian udah
mendengar beritanya. Memang lagi ramai
banget dibicarakan oleh netizen di
sosial media dan berita ini juga
diangkat oleh media-media luar negeri
terkhususnya negara Brazil. Nah, insiden
ini dipermasalahkan, Geng, oleh
orang-orang Brazil atau netizen Brazil.
Sebab ketika si korban atau turis Brazil
ini sudah dinyatakan hilang selama lebih
dari 24 jam, orang Brazil melihat kalau
negara kita ini kayak apa ya? Terlalu
lamban, kata mereka. seperti tidak ada
upaya apapun dari pihak negara kita
Indonesia untuk mencari keberadaan turis
asal negara mereka ini. Bahkan ada kabar
yang mengatakan penyebab dari dia jatuh
itu ya disebabkan karena dia yang
ditinggal oleh rombongannya dan enggak
ada yang tahu di mana keberadaan dia.
Makanya agak sulit untuk mencari posisi
di mana turis ini terjatuh. Nah,
biasanya kan kalau orang hilang itu kan
pasti yang ditanyakan di mana terakhir
kali kalian bertemu sama dia? Titik di
mana kalian berpisah. Kalau si turis ini
gak ada yang tahu satuun karena dia
dianggap tertinggal atau justru
ditinggal oleh rombongannya. Jadi satu
pun gak ada yang bisa ngejawab titik
terakhir di mana si turis ini terlihat.
Makanya banyak sekali orang Brazil yang
marah, Geng, sama otoritas Indonesia dan
menyebutkan penanganan di Indonesia yang
benar-benar buruk. Nah, nanti kita akan
bahas nih mulai dari kronologinya sampai
dengan netizen Brazil yang marah kepada
otoritas Indonesia. Nah, terus geng itu
kan kejadian yang di Indonesia. Nah,
yang kedua nanti kita juga bakal
membahas kejadian yang sedang ramai di
Brazil. Nah, di Brazil ada sebuah
insiden balon udara yang terbakar yang
menyebabkan ya orang yang berwisata di
balon tersebut yang sedang menumpang
naik di balon tersebut. Akhirnya ya
kalian paham sendiri berakhir seperti
apa. Nanti kita akan bahas juga
kronologinya. Oke, langsung aja kita
bahas dua insiden ini. Halo, Geng.
Welcome back to Kamar Jerry.
[Musik]
Genggeng, untuk pembahasan yang pertama
kita bahas dulu yang terjadi di negara
kita Indonesia, yaitu jatuhnya turis
Brazil di Jurang Gunung Rinjani.
Oke, sebelumnya kita bahas dulu profile
dari si turis ini. Siapa dia? Jadi,
Geng, namanya dia itu adalah Juliana
Marins. Bacanya mungkin Yuliana Merins
mungkin ya. Tapi di sini gua
pengucapannya sesuai dengan pengucapan
bahasa Indonesia aja ya, Geng. Jadi,
Geng, usia Juliana Marit ini adalah 26
tahun. Namun, ada informasi lain yang
menyebutkan kalau usianya 27 tahun. Dia
lahir di kota Rio de Janeiro, namun dia
menetap di kota Niteroi yang masih masuk
ke dalam wilayah dari Rio de Janeiro.
Dikatakan di saat itu kalau Juliana ini
bekerja di sektor kehumasan sebagai
seorang publis. Dia merupakan lulusan
periklanan dan publisitas dari
Universitas Federal Rio de Jinero atau
yang disingkat dengan UFRJ. Nah, dia
juga bekerja sebagai penari pold dance.
Kalau kalian tahu ya, Pold dance ini gua
kasih gambarannya. Juliana ini memiliki
akun Instagram pribadi di mana dia
sering membagikan kegiatannya dia di
sana. Dari foto-foto yang ada di akun
Instagramnya ini, kita bisa tahu kalau
Juliana ini sering e traveling atau
berpergian ke berbagai negara. Diketahui
juga kalau dia ini sedang melakukan
perjalanan mengelilingi negara di Asia
sejak bulan Februari tahun 2025. Makanya
salah satu negara yang dia kunjungi itu
negara kita Indonesia. Negara yang sudah
dia kunjungi itu adalah eh Filipina,
Vietnam, dan Thailand sebelum akhirnya
dia tiba ke negara kita. postingan
terakhir di Instagram-nya dia, dia itu
udah berada di Indonesia sejak tanggal
11 Juni kemarin. Dari sini kita bisa
lihat ya, berarti dia itu belum selesai
dengan perjalanannya, dia belum selesai
dengan traveling-nya, liburannya belum
selesai. Tapi sedihnya ya perjalanannya
justru berakhir di negara kita
Indonesia. Terus geng, ada seorang
pengacara sekaligus teman dari Juliana
namanya itu adalah Flavia Dela Libera
Viera. Dia ini menceritakan kalau mereka
pertama kali bertemu di tahun 2016
ketika Juliana ini belajar hukum di
Universitas Federal Uberlandia atau
disingkat dengan Ufu. Mulai dari situlah
Juliana dan Flavia ini berteman. Nah,
Valvia itu menceritakan kalau sejak dulu
Juliana ini selalu bermimpi untuk bisa
berpergian keliling dunia dan itu
merupakan sesuatu yang sangat berarti
buat dia dan dia dambak-dambakan. Nah,
dari sini kita bisa melihat ya, Geng.
Memang benar kata orang-orang ya, kata
quotes-quotes gitu ya, bahwa seseorang
itu akan berakhir atau meninggalnya atau
ajalnya itu di jalan yang dia senangi.
Ya, di dalam kebiasaannya dia. Nah,
makanya kalian hati-hati nih, Geng.
Kebiasaan kalian apa? Pilih hobi yang
benar-benar aja, Geng. Jadi, kalian bisa
lihat ya, kejadian ini relate banget.
Juliana itu senang berpergian. Juliana
itu senang traveling pengin keliling
dunia dan ternyata ajalnya bertemu
ketika dia sedang berkeliling dunia.
Oke, sekarang kita lanjutkan. Flavia itu
merasa sangat senang, ikut bahagia
ketika Juliana akhirnya berhasil
mewujudkan mimpinya dan merasa kalau
Juliana ini juga terlihat sangat bahagia
ketika melakukan perjalanan ke berbagai
negara. Karena memang dia tahu ini
adalah mimpi dari Juliana sejak masa
kuliah dulu. Dan menurut dia, Juliana
ini enggak sekedar memiliki mimpi yang
besar. Yang membuat semua orang kagum ke
dia adalah Juliana ternyata memiliki
kepribadian yang ramah, ceria, orangnya
supel. Dia itu menyenangkan. Makanya
kalau dia berkeliling dunia itu cocok
banget. Dia cepat akrab sama orang. Dan
enggak jarang juga banyak orang yang
menyukai sosok dari Juliana ini ketika
pertama kali bertemu dan kenalan. Dan
Juliana adalah orang yang selalu
berdedikasi untuk mimpi-mimpinya dia.
Namun dia enggak pernah lupa untuk ya
selalu berbuat baik kepada siapapun.
Karena itu kuncinya ya. Ketika dia
melakukan perjalanan jauh, enggak ada
yang bisa dia bawa selain ya
attitude-nya dia yang baik supaya bisa
diterima. Pihak keluarganya dan juga
teman-teman dekatnya itu enggak pernah
menyangka bahwa perjalanan dia ke
Indonesia menjadi perjalanan terakhir
dia. Mimpinya dia untuk bisa menjelajahi
negara-negara lain harus terhenti di
negara kita Indonesia.
Ayo
nah kita sudah tahu ya background-nya
dia, terus juga mimpi-mimpinya dia,
kenapa dia bisa sampai ke Indonesia.
Nah, sekarang kita akan masuk ke dalam
pembahasan bagaimana bisa Juliana ya
berakhir dengan begitu mengerikan dan
juga menyedihkan di Gunung Rinjani.
Sekarang kita masuk ke dalam
kronologinya.
Jadi, Geng Juliana ini melakukan
pendakian ke Gunung Rinjani bersama
dengan enam orang rekannya, lima pendaki
lain dan juga seorang pemandu lokal.
Namun, ada informasi ya, mereka ini
memilih jalur sembalun dan berangkat
pada hari Sabtu dini hari tanggal 21
Juni tahun 2025. Ada informasi dari dua
orang yang ikut ke dalam rombongan yang
sama dengan Juliana, dia bilang kalau
pendakian yang dilakukan di saat itu
termasuk pendakian yang sulit. Nah,
jalurnya juga yang dipilih yang sulit
dan udaranya pun sangat dingin ketika
itu. Kebetulan ya kita lihat sendiri ya
cuaca di negara kita sekarang sedang
musim hujan dan karena pendakiannya
dilakukan pada dini hari di saat kondisi
yang belum ada matahari, jadi jarak
pandang mereka juga terbatas dengan
hanya mengandalkan lentera sederhana
atau penerang sederhana, senter-senter
jarak pendek gitu untuk menerangi jalan
mereka. Dan medan pendakiannya pun juga
licin, Geng. Sehingga sangat
memungkinkan untuk terpeleset. Dari
informasi yang didapatkan, Juliana
berada di belakang kelompok yang mendaki
bersama dengan pemandu. Dan ketika
mereka sampai di titik cemara tunggal,
Juliana ini dilaporkan. Ya, di saat itu
dia agak merasa kelelahan dan dia
diminta oleh pemandu untuk beristirahat
sejenak. Namun berdasarkan kabar yang
beredar nih ya, pemandunya itu enggak
menunggu Juliana yang sedang istirahat
di saat itu, tapi melainkan dia malah
melanjutkan perjalanan ke puncak bersama
dengan lima pendaki lain dan Juliana
malah ditinggal di sana. Nah, ini
kronologi yang gua dapat dari
media-media mainstream ya, Geng. Ini
bukan pernyataan gua. Nanti jangan marah
nih kalau tiba-tiba ternyata ya ada yang
berbeda anggapan atau ada yang berbeda
info dari apa yang gua sampaikan, gua
mohon maaf. Kalian boleh tinggalkan
komentar di bawah ya. Silakan luruskan
menurut apa yang kalian tahu. Oke. Nah,
kita lanjutkan nih. Terus, Geng, singkat
cerita ketika si pemandu ini serta lima
pendaki lainnya sudah mencapai puncak,
mereka menunggu Juliana di sana. Karena
mereka pikir setelah Juliana
beristirahat, Juliana bakal menyusul
mereka. Namun anehnya ketika mereka
sudah menunggu beberapa lama, Juliana
itu enggak kunjung terlihat. Dan oleh
karena itu, pemandu pun memutuskan untuk
kembali ke lokasi di mana tempat Juliana
terakhir beristirahat. Dan saat pemandu
ini sampai di titik tadi yang bernama
Cemara Tunggal ya, tiba-tiba mereka gak
melihat Juliana ada di sana. Tapi
pemandu itu sempat melihat adanya cahaya
senter di bawah jurang yang mengarah ke
Danau Segara Anak. Dan di saat itu dia
menduga kalau cahaya itu berasal dari
senter milik Juliana yang terjatuh. Dan
tanpa pikir panjang, pemandu langsung
menghubungi pihak berwenang untuk
meminta bantuan. Paniklah dia di saat
itu. Laporan tersebut diterima pada jam
0.30
Waktu Indonesia bagian tengah dan tim
gabungan pun langsung terjun ke lokasi
yang terdiri dari Balai Taman Nasional
Gunung Rinjani atau TNGR, terus ada
Basarnas Mataram, Polsek Sembalun,
Emergency Medical Hikers Community atau
EMHC, terus ada Tim SAR dari Lombok
Timur. Di hari itu tim gabungan itu
masih mendengar suara teriakan minta
tolong dari Juliana. Dia masih
berteriak-teriak minta tolong. Dari
rekaman drone yang terlihat juga Juliana
di saat itu masih hidup, Geng. di hari
Sabtu itu dia terlihat sedang duduk dan
bergerak di tanah yang berwarna abu-abu.
Lokasinya terletak jauh di bawah jalur
pendakian. Nah, namun di saat itu tim
gabungan belum bisa menyelamatkan ee
Juliana karena tidak bisa menemukan
keberadaannya ya. Padahal tim gabungan
sudah turun 300 m ke lokasi yang
diyakini sebagai tempat di mana Juliana
berada. Nah, jujur ya di sini nih gua
agak rancu juga maksudnya kayak ini
penjelasannya kayak gimana ya. Di saat
itu dikatakan dia terlihat masih hidup
ya. Terus e dari rekaman drone terlihat
dia lagi duduk dan bergerak di tanah
abu-abu. Tapi ketika tim turun ke lokasi
yang dimaksud, tim tidak menemukan
Juliana di sana. Jadi udah turun sekitar
300 m ke lokasi yang diyakini sebagai
tempat Juliana terlihat dari drone tadi.
Nah, ini kalau misalkan kita bercerita
ke rakyat kita nih, ke rakyat Indonesia
ya, pasti akan disambung-sambungin atau
dihubung-hubungin dengan sesuatu yang
mistis gitu kan. Nah, tapi kalau untuk
orang Brazil kayaknya mereka enggak
masuk di logikanya gitu.
Terus, Geng, di saat itu tim gabungan
sempat berteriak-teriak berusaha
memanggil nama Juliana agar mengetahui
di mana dia berada. Ternyata di saat itu
Juliana sama sekali tidak merespon dan
hal ini diperparah karena kabarnya
kondisi medan yang ekstrem dan cuaca
yang sangat buruk.
Akhirnya nih, Geng, upaya evakuasi pun
dilanjutkan pada hari berikutnya, yaitu
di hari Minggu tanggal 22 Juni tahun
2025. Pada proses evakuasi di hari
Minggu ini, pencarian tetap dibantu
menggunakan drone ya untuk bisa melihat
keberadaan dari Juliana dari udara. Nah,
ini beda banget dengan negara orang ya.
Kalau di negara-negara maju biasanya
bukan drone yang memantau, biasanya itu
pakai helikopter ya kan. Nah, tapi kalau
di negara kita mungkin dananya terbatas
jadi pakai drone. Anehnya ya ketika
dicek lewat drone, Juliana udah enggak
berada di posisinya yang kemarin ketika
ee terlihat di drone pada hari Sabtu.
Lagi-lagi upaya penyelamatan Juliana
terhambat karena di saat itu Gunung
Rinjani tertutup oleh kabut tebal yang
mempengaruhi penglihatan melalui drone
sekalipun sudah menggunakan drone
termal. Nah, oleh karena itu evakuasi
pun dihentikan tuh di hari Minggu dan
dilanjutkan di esok harinya di hari
Senin tanggal 23 Juni tahun 2025. Di
hari itulah tim gabungan berhasil
menemukan keberadaan dari Juliana dengan
lokasi yang lebih jauh dibandingkan
posisi awal ketika Juliana pertama kali
terlihat di hari Sabtu pakai drone. Nah,
di situ tuh orang-orang mulai bingung,
loh, kok dia bisa pindah jauh banget?
Berarti dia bisa jalan atau gimana? Atau
mungkin yang kemarin tuh yang terlihat
bukan dia. Gimana nih? Ini benar-benar
enggak masuk akal tuh kejadiannya.
Posisinya itu berada pada kedalaman 500
m dari posisi semula makin ke bawah. Dan
dari pantauan drone, tim tidak melihat
tanda-tanda kehidupan dari Juliana. Di
saat itu. Posisinya udah diam aja
tergeletak. Namun di saat itu juga tim
gabungan masih belum bisa memastikan
kondisi dari Juliana. Sebab dia belum
bisa dievakuasi di saat itu juga karena
kondisi Gunung Rinjani yang masih
mengalami cuaca buruk. Jadi berhari-hari
tuh, Geng.
Pasti kalian bakal bertanya-tanya ya,
kok enggak dipaksa aja gitu? Kan bisa ya
pakai alat canggih, pakai apa gitu untuk
ditolong itu orang. Nah, ternyata ya
jawabannya adalah semisalnya memaksakan
evakuasi itu akan sangat beresiko lagi
bagi seluruh kru dari tim dan malah
nantinya akan membuat korban baru. Itu
alasannya, Geng. Ketimbang harus
mengorbankan tim lebih baik ya ditunggu
keesokan harinya. Toh di saat itu juga
ya sudah tidak terlihat adanya
tanda-tanda kehidupan dari Juliana. Dan
selama upaya evakuasi dilakukan, jalur
pendakian itu ditutup sementara hingga
proses evakuasinya berhasil dilakukan.
Sampai di hari Selasa tanggal 24 Juni
tahun 2025 kemarin, tim gabungan masih
belum bisa memastikan cara yang paling
tepat untuk bisa melakukan evakuasi
terhadap Juliana. Sebab halangan
terbesarnya adalah cuaca yang tidak
menentu dan menjadi kendala di dalam
operasi penyelamatan yang sudah berjalan
selama 4 hari ini. Dan tanpa hasil yang
memuaskan. Juliananya belum bisa
dievakuasi juga. Dan pada Selasa
kemarin, tim gabungan masih menunggu
penilaian baik dari tim di lapangan
ataupun ya pantauan dari helikopter yang
di saat itu akhirnya sudah mulai
dilakukan ya sudah mulai dilakukan
evakuasi menggunakan helikopter dan opsi
evakuasi Juliana ya mau enggak mau ya
harus menggunakan helikopter dan itu ya
balik lagi semuanya bergantung terhadap
kondisi cuaca karena kalau cuacanya
tidak mendukung mau evakuasi dengan cara
apapun akan sangat sulit untuk dilakukan
nah namun informasi terbaru dari
Basarnas Pada hari Selasa itu sekitar
jam 52 sore waktu Indonesia bagian
tengah, tujuh orang yang tergabung di
dalam tim gabungan itu diturunkan
menyusuri jurang di kedalaman 400 m.
Selanjutnya di jam .00 sore Wita, satu
orang dari tim gabungan yang bernama
Hafid Hasadi akhirnya berhasil
menjangkau tubuh Juliana pada kedalaman
600 m. Posisi Juliana di saat itu berada
200 m dari yang diperkirakan oleh tim
gabungan. Dan setelah berhasil
menjangkau Juliana, dilakukanlah
pemeriksaan terhadap Juliana. Dan
ternyata tidak ditemukan adanya
tanda-tanda kehidupan. Sehingga Juliana
dipastikan sudah meninggal dunia. Innal
lillahi wa inna ilaihi rojiun.
Alfatihah. Ya. Ya, walaupun nih orang
mungkin nonmuslim atau apa gitu ya. Ya,
gua hanya bisa berucap dan mendoakannya
sesuai dengan kepercayaan gua ya, Geng.
Mohon maaf banget.
Terus geng di jam 630 sore waktu
Indonesia bagian tengah, ada tiga
personil dari potensi sarnama
Pak Samsul Fadli dari unit Lombok Timur,
terus ada Pak Agam dan juga Pak Tio dari
Rinjani Squad itu diturunkan untuk
menjangkau Juliana. Setelah mendapatkan
informasi mengenai kondisi Juliana,
tujuh personil dari tim gabungan
menyiapkan sistem evakuasi pada malam
harinya yang mana mereka akan
melaksanakan flying Cam namanya.
Tim yang berjumlah 7uh orang yang telah
diturunkan
malam ini akan melaksanakan flying camp.
Nah, tiga orang ini berada di anchor
point kedua di kedalaman 400 m dan 4
orang berada di tempat Juliana di
kedalaman 600 m. Namun, Geng, pada jam
.00 malam WITA. Karena cuaca yang tidak
memungkinkan yang menyebabkan jarak
pandang jadi sangat terbatas sehingga
diputuskanlah proses evakuasi Juliana
akan dilanjutkan pada hari Rabu tanggal
25 Januari tahun 2025 yang akan dimulai
pada jam .00 pagi waktu Indonesia bagian
tengah. Sampai pada akhirnya di hari
Rabu tanggal 25 Juni 2025 tim gabungan
kembali melakukan upaya evakuasi dan
evakuasi dilakukan pada jam 6.00 pagi.
Dari hasil koordinasi ya, evakuasi itu
bakal dilakukan dengan metode lifting
atau korban yang akan diangkat ke last
non position atau LKP atau dengan kata
lain ke posisi Juliana terakhir jatuh ke
dalam jurang. Dari LKP ya Juliana akan
dievakuasi menyusuri rute pendakian
menuju ke Posco Sembalun dengan cara
ditanduk. Dan selanjutnya helikopter
yang sudah siaga di Posco Sembalun akan
melanjutkan evakuasi medis udara ke
Rumah Sakit Bayangkara Mataram Polda
NTB. Dan update terbaru ya ketika gua ee
membahas kasus ini, tim gabungan sudah
turun di kedalaman 400 m dari punggung
Gunung Rinjani. Namun karena takut
terjadinya cuaca buruk lagi, tim
gabungan menyiapkan beberapa rencana
untuk proses evakuasi Juliana. Di
antaranya disiapkanlah evakuasi dari
bawah yaitu dengan menyiapkan tim
penyelamat dari dasar Danau Segara Anak.
Nah, tapi sayangnya, Geng, mau
bagaimanapun upaya evakuasi serta
penyelamatan yang dilakukan oleh tim
gabungan, ya, Juliana sudah tidak
mungkin diselamatkan lagi nyawanya
karena memang sudah 4 hari di luar sana
tanpa adanya asupan yang masuk ke
tubuhnya ditambah dengan kondisi udara
yang sangat dingin. Sehingga ya
meninggalnya Juliana ini sangat e
kemungkinan besar nih ya itu karena dia
mengalami hipotermia dan juga ya lapar.
Dan insiden ini akhirnya viral. Di
negara kita ramai sekali yang
membicarakan. Dan ternyata enggak cuma
ramai dibicarakan di dalam negeri, Geng.
Enggak cuma ramai dibicarakan di
Indonesia. Tapi juga karena si turis ini
atau Juliana ini berasal dari Brazil ya
di negaranya kasus ini viral banget. Dan
yang menjadi topik yang sedang viral di
sana adalah ya dikatakan insiden
jatuhnya Juliana ini membuat orang-orang
Brazil justru marah ke pihak otoritas
Indonesia. Nah, kenapa bisa? Sekarang
kita akan masuk ke dalam pembahasan
reaksi masyarakat Brazil atas insiden
yang menimpa Juliana ini.
[Musik]
Jadi, geng, insiden terjatuhnya Juliana
di Gunung Rinjani itu mendapatkan banyak
respon dari orang Brazil. Nah, bahkan
kabar ini ramai diberitakan di media
internasional, terutama di Brazil. Nah,
Presiden Brazil yang bernama Luouis Inio
Lula da Silva itu ikut merespon kejadian
ini dengan menyampaikan belas sungkawa
dan solidaritas kepada keluarga Juliana.
Dia menyampaikan rasa sangat berduka
atas meninggalnya Juliana di Gunung
Rinjani ketika sedang melakukan
pendakian. Layanan diplomatik dan
konsuler Brazil di Indonesia itu bakal
terus memberikan seluruh dukungan kepada
keluarga Juliana dalam situasi penuh
duka ini," kata Presiden Brazil. Nah,
selain itu ada senator Brazil yang
bernama Zenaid Maya. Dia ini ikut
menyampaikan belas sungkawannya kepada
keluarga Juliana. Kemudian ada berbagai
media luar negeri yang memberitakan
insiden ini seperti The Guardian, terus
ada NDTV, CNN, dan The Independent. Nah,
pokoknya pemberitaannya itu jadi heboh
banget bahkan sampai keluar Brazil.
Terus, geng, dikabarkan ternyata reaksi
dari orang-orang Brazil itu agak keras.
Mereka agak kecewa karena mereka justru
memprotes bagaimana penanganan yang
dilakukan oleh pihak Indonesia yang
dianggap tidak cekatan terhadap proses
evakuasi Juliana. Nah, salah satunya
disuarakan oleh netizen asal Brazil di
akun X dengan username yang Kisner. Nah,
dia ng-etweet sebuah tulisan yang kalau
diartikan dia mengatakan dia merasa
marah dengan apa yang dilakukan oleh
pemerintah Indonesia terhadap Juliana
hampir 3 hari tanpa air, tanpa makanan,
dan memperlakukan Juliana dengan
kelalaian yang mana hal tersebut tidak
akan pernah terjadi jika itu kejadiannya
di Brazil, kata dia. Nah, saat ini
Juliana ditemukan sudah tidak bergerak
lagi sehingga kemungkinan Juliana sudah
tidak bernyawa. Jadi kurang lebih kayak
gitulah tweet kekecewaannya dia dan
menurut dia hal ini sangat memuakkan.
Tweet tersebut kemudian direspon nih
oleh orang Brazil lain yang setuju
dengan apa yang dituliskan oleh Siang
Kisner ini. Dia juga marah banget atas
tindakan yang dilakukan oleh pihak
Indonesia yang dinilai terlalu
bertele-tele dalam mengevakuasi Juliana.
Dia menilai seburuk-buruknya Brazil di
sana enggak mungkin ada orang yang
dibiarkan menderita seperti yang Juliana
rasakan di Indonesia. Mungkin kalian
akan bertanya-tanya ya, Geng. Emangnya
di Brazil ada yang kayak Rinjani? Nah,
jawabannya lebih parah malah mereka
punya hutan Amazon yang mana lebih buas
lagi daripada Rinjani. Ya, kalian bisa
cari tahu sendirilah di Google gimana
kondisi Amazon. Enggak cuma hewan-hewan
liarnya yang mengerikan, bahkan manusia
pedalamannya, manusia primitifnya itu
masih ada yang kanibal, memakan sesama.
Jadi, kenapa dia bisa bersuara kayak
gini? Karena menurut dia ya ee apa ya?
kayak penanganan di negara dia jauh
lebih mumpuni walaupun hutannya mereka
lebih berbahaya. Kayak gitulah kurang
lebih gambaran mereka.
Nah, walaupun sebenarnya kalau kita
pikir-pikir ya memang rada kurang bijak
gitu ya membanding-bandingkan proses
evakuasi, membanding-bandingkan proses
dari pihak yang memberikan pertolongan
gitu kan ya. Rasanya enggak imbang aja
gitu ya. Kita enggak tahu ya gimana
sistem di Brazil, gimana sistem di
Indonesia ya. Mungkin memang Brazil jauh
lebih baik, tapi di dalam kondisi ini ya
para petugas kita sudah berusaha
semaksimal mungkin ya kan. Nah, terus
geng kita lanjutkan lagi nih. Ada sebuah
akun Instagram dengan username Resgate
Juliana Marins yang kabarnya ini dibuat
oleh pihak keluarga Juliana. Akun
tersebut membagikan berbagai update
terbaru perkembangan soal evakuasi
Juliana serta meminta kepada pihak
Indonesia untuk segera melakukan upaya
untuk mengangkat jasad Juliana dari
jurang. Kemudian juga banyak komentar
yang diberikan oleh orang Brazil di
postingan Instagram Presiden Prabowo.
Wah gila ini sampai presiden kita juga
diserang oleh netizen Brazil yang mana
mereka menyuarakan agar pihak Indonesia
bisa segera melakukan evakuasi terhadap
Juliana. Bahkan, Geng, dari informasi
yang gua kutip di media BBC, ada salah
satu komentar yang mendesak agar
pemerintah Indonesia menerima dukungan
teknis dari negara tetangga dan
komunitas internasional sembari
mengingatkan bahwa mata internasional
mengawasi sepenuhnya upaya evakuasi
terhadap Juliana ini. Jadi, ibaratnya
tuh mereka ngingetin, "Lu jangan lalai,
lu jangan main-main sama prosesnya.
Karena semua mata dunia sekarang sedang
melihat ke negara lu. Bagaimana cara lu
mengevakuasi, bagaimana cara lu
memperlakukan korban?" Gitulah
peringatan dari warga Brazil. Nah, jadi
itu pertanyaan sekaligus kritikan dari
yang kontra. Insiden yang dialami oleh
Juliana ini ya, Geng sebenarnya membuat
orang-orang di Indonesianya sendiri jadi
terbagi dua nih. Jadi ada kubu-kubuan
gitu. Ada yang membela Timsar ya.
Walaupun di saat itu Timsar tidak bisa
langsung menyelamatkan Juliana yang
disebabkan karena cuaca yang ekstrem ya
kan. Namun di sisi lain ada juga pihak
dari Indonesia yang mengkritik Tim SAR.
Bagi yang mengkritik itu, kebanyakan
dari mereka yang mempertanyakan apakah
selama ini tim Sar itu gak memiliki alat
yang memadai. Mereka mempertanyakan
seandainya aja Timar punya drone yang
bisa memberikan selimut, makanan dan
minuman kepada Juliana sebelum dia bisa
diangkut, mungkin Juliana masih hidup.
Nah, itu angan-angan atau fantasi dari
orang-orang yang kontra nih. Tapi masuk
akal juga kan drone sekarang banyak
jenisnya tuh. Ada yang bisa ngangkut apa
aja. Nah, mungkin maksud mereka kalau
belum bisa ngangkut manusia, paling
enggak si manusia itu dikasih makan ya
kan dianterin e P3K atau alat-alat untuk
luka dan lain-lain. Yang jelas ada
upayanya lah gitu. Salah satu yang
dimaksud itu seperti contohnya yang ada
di video yang gua tampilkan ini.
Nah, kalau memang Juliana enggak bisa
diselamatkan di saat itu juga,
setidaknya dia bisa diberikan ya
selimutlah atau apalah gitu kan agar
bisa menjaga diri tetap terjaga dan
baik-baik aja sampai akhirnya Timsar
bisa menyelamatkan dia. Terus, Geng,
sementara yang mendukung tim SAR itu
berpendapat kalau menerbangkan drone,
helikopter sampai evakuasi sekalipun
tetap percuma aja kalau situasinya
memang sedang buruk, cuacanya buruk,
yang ada helikopter atau drone-nya bisa
oleng," kata mereka. Dan ada video juga
yang di-share oleh netizen untuk
menunjukkan gambaran bagaimana kira-kira
cuaca buruk di Rinjani itu. Nah, ini
kalian bisa lihat sendiri.
Dengan kondisi yang seperti itu, upaya
penyelamatan apapun menurut si netizen
yang pro ya terhadap timar itu menurut
mereka enggak mungkin untuk dilakukan.
Nah, cuma geng mau gimanapun juga kita
tetap harus respect dengan tim SAR yang
sudah berusaha semaksimal mungkin ya
kan. Mereka sampai menginap di jurang
Gunung Rinjani, Geng sambil memakai alat
pengaman agar tidak jatuh ke jurang. Ya,
memang menyelamatkan orang itu adalah
tugas mereka. Namun enggak semua orang
ya mau bekerja seperti mereka ini. Itu
kan mempertaruhkan nyawa mereka juga.
Dan bahkan enggak semua orang punya
keluarga yang merelakan anggota keluarga
mereka melakukan apa yang dilakukan oleh
timsar. Jadi patut diapresiasi dan
tidur di tebingan
yah mau mengevaluasi
perihal bagaimana kecepatan dan
alat-alat yang digunakan oleh timsar.
Semoga ini menjadi pembelajaran bagi
pemerintah kita untuk bisa meningkatkan
atau ya mengganti alat-alatnya yang
lebih modern, lebih canggih lagi
sehingga akan memudahkan tim evakuasi ya
di saat melakukan penyelamatan.
Terus, Geng, perhatian ini enggak cuma
tertuju kepada tim SAR aja ternyata,
tapi juga orang-orang ee melihat medan
dari Gunung Rinjani yang dilewati oleh
Juliana dan kelompoknya. Soalnya ya,
Geng, kabarnya ya meskipun Juliana ini
sering melakukan traveling ke berbagai
negara, Gunung Rinjani ini adalah gunung
pertama yang didaki oleh Juliana. Jadi
dari banyak negara mungkin dia enggak
naik gunung, tapi pasca ke Indonesia dia
malah mendaki gunung. Jadi bisa
dikatakan dia ini pemula. Pertanyaannya
apakah Gunung Rinjani adalah gunung yang
aman didaki oleh pemula seperti Juliana?
Menurut keterangan dari penyelenggara
pendakian Rinjani yang bernama Mustaal,
dia bilang Gunung Rinjani ini memiliki
tingkat pendakian yang sulit, terutama
jalur menuju puncak yang dikenal dengan
letter E. Jalur ini memiliki lebar
beberapa meter dengan kontur menanjak
yang berpasir dan bebatuan. Dan sering
sekali juga ada hembusan angin kencang
sampai badai. Mustaal ini pun mengakui
bahwa lokasi jatuhnya Juliana berada di
medan yang sangat sulit yang dimaksud.
Jadi bagian itu tuh emang banyak orang
yang mengeluh lah. Di bagian kiri itu
sangat curam dengan kemiringan 45
derajat dengan jurang yang langsung ke
bawah. Apalagi kalau sore kabutnya itu
gelap banget ya. Pandangan kita tuh
enggak bisa jauh lah. Dan selain
pengaruh alam yang sulit, kecelakaan di
jalur ini sering terjadi karena pendaki
mengalami kelelahan atau sedang
mendokumentasikan sesuatu, video atau
foto sehingga bikin mereka itu jadi
enggak fokus. Nah, itu banyak
kejadiannya. Nah, walaupun memiliki
jalur yang ekstrem, mustaal ini mengakui
memang gak ada larangan bagi pendaki
pemula untuk menuju ke Puncak Rinjani,
enggak ada peraturannya. Setiap orang
boleh mendaki Gunung Rinjani, tapi harus
mengikuti aturan yang ditetapkan seperti
didampingi oleh pemandu lokal dan juga
porter serta harus dengan kondisi fisik
yang prima atau sehat. Nah, jadi kurang
lebih kayak gitu, Geng. aturannya memang
gak ada yang melarang pendaki pemula
untuk naik ke Rinjani. Nah, makanya
Juliana ini ya bisa mendaki bersama
rombongannya karena memang secara
aturannya harus didampingi oleh porter
dan juga pemandu lokal. Itu semua sudah
dia penuhi. Nah, terus Geng update
terakhir nih, Geng. Jenazah dari Juliana
ternyata sudah berhasil dievakuasi oleh
tim SAR dan jenazahnya ini akan segera
diutopsi. Autopsi ini dilakukan atas
permintaan oleh pihak keluarga Juliana
yang ingin mengetahui bagaimana proses
meninggalnya Juliana. Selain itu, otopsi
juga jadi salah satu syarat administrasi
yang harus dipenuhi oleh keluarga
Juliana terkait kebutuhan pemakamannya
di Brazil. Awalnya Juliana akan diotopsi
di Rumah Sakit Bayangkara Mataram. Namun
rencana tersebut dibatalkan karena tim
dokter forensik sedang berada di
Semarang. Oleh karena itu, proses
otopsinya akan dilakukan di Denpasar,
Bali. Jadi, jenazahnya diterbangkan ke
Bali, diberangkatkan ke Bali melalui
jalur darat menggunakan ambulans milik
Rumah Sakit Bayangkara Mataram di hari
Kamis tanggal 26 Juni tahun 2025. Ya,
mari sama-sama kita doakan semoga korban
tenang di sisi yang maha kuasa ya, Geng.
Amin ya rabbal alamin. Oke, cerita
tentang pendaki asal Brazil yang bernama
Juliana ini selesai. Sekarang kita bakal
masuk ke kasus atau pembahasan
selanjutnya. Masih seputar negara
Brazil. Kalau tadi kejadiannya di
Indonesia, yang sekarang yang akan kita
bahas ini terjadi di negara asalnya
yaitu sebuah insiden terbakarnya balon
udara di Brazil.
Jadi, Geng, kejadian ini terjadi di
sebuah kota wisata yang namanya itu
adalah Praya Grandj. Tulisannya sih
Praya Grande. Nah, tapi kita sebutnya
sesuai dengan namanya aja, Praya Grenje.
Nah, kota ini terletak di bagian Santa
Katarina. Praya Grenji ini sendiri
dikenal sebagai destinasi wisata yang
populer di Brazil karena menyajikan
pemandangan alam dan wisata balon udara
yang menjadi pemikat bagi para turis
yang datang ke sana. Ya, mungkin kalau
di Indonesia kayak kita ke Bali mungkin
atau ke kota-kota lain lah. Yang
spesialnya di tempat ini adalah balon
udaranya itu. Namun, ada sebuah insiden
terbakarnya balon udara yang terjadi di
tempat tersebut, Geng. Ini mengerikan
banget. Ini menjadi salah satu imajinasi
gua juga selama ini, ya. Kalau misalkan
tuh balon udara terbang pakai api, terus
kalau kebakar gimana gitu. Nah, ternyata
terjadi di dunia nyata. Dan memang ini
bukan yang pertama kali udah banyak
kejadian-kejadian kayak gini. Tapi ini
mengerikan banget karena sempat terekam
dengan jelas. Kejadiannya itu pada Sabtu
pagi tanggal 21 Juni 2025 waktu
setempat. Dan balon udara yang terbakar
itu diketahui membawa 21 orang di
atasnya. Kepolisian praya Grenji itu
menjelaskan bahwa kebakaran ini terjadi
di dalam keranjang balon udara ketika
penerbangan sedang berlangsung lagi di
atas. Lu serba salah enggak tuh? Tetap
di dalam keranjang itu lu kebakar. Lu
mau menyelamatkan diri di bawah lah,
tinggi banget. Hantem tanah juga
meninggoy gitu. Di saat itu pilot atau
yang mengendalikan balon udara itu ya
itu segera menurunkan ketinggian balon
dan meminta para penumpang untuk segera
melompat ketika balon sudah e berjarak
dekat ke tanah. Tapi sayangnya, Geng,
enggak semua penumpang berhasil
menyelamatkan diri dari balon udara itu
yang disebabkan karena apinya terus
membesar sehingga apinya malah membuat
balon itu kembali naik sebelum akhirnya
jatuh ke tanah akibat kehilangan daya
angkat. Disebutkan dari 21 orang, ada 8
orang yang menjadi korban di dalam
insiden ini. Dua di antaranya itu adalah
pasangan suami istri, seorang ibu dan
anak perempuannya, seorang dokter mata,
dan ada juga seorang atlet seluncur es.
Sementara itu, para korban yang selamat
itu berhasil melompat. Tapi mereka itu
ada yang patah-patah, ada yang ya
pokoknya luka-luka l mereka segera
dilarikan ke rumah sakit setempat untuk
mendapatkan perawatan. Di saat itu,
Geng, ada seorang saksi mata yang
bernama Journal Razao. Dia ini cerita
dia sempat lihat dua orang yang terjatuh
dari atas. Enggak lama dari itu,
keranjang balon udaranya pecah dan balon
udaranya pun jatuh. Razao ini segera
berlari untuk melihat di mana balon itu
jatuh dan dia langsung melihat ada dua
orang yang selamat, yaitu seorang wanita
yang sudah berlumuran lumpur dan di
dalam keadaan syok. Nah, lalu ada juga
seorang pria yang bersama si perempuan
tadi dengan kondisi yang udah pincang.
Mungkin udah patah tuh. Razo ini juga
sempat lihat adanya dua orang yang
meninggal dunia atas insiden ini dan
pemerintah negara bagian langsung
mengerahkan bantuan untuk melakukan
penanganan dan dukungan kepada para
keluarga korban. Badan Penerbangan Sipil
Nasional Brazil yang disingkat dengan
ANAC itu menyatakan sedang menyelidiki
kondisi dari balon udara tersebut
beserta dengan kualifikasi awaknya ya
kualifikasi si pilotnya atau yang
menerbangkan apakah semuanya sudah
memenuhi standar atau belum. dan mereka
akan mencari tahu penyebab pasti dari
kebakaran tersebut. Nah, sementara itu
perusahaan operator penerbangan balon
ini yang bernama Sobrevoar Servicos
Turistico, mereka sudah menghentikan
semua kegiatannya untuk waktu yang belum
ditentukan. Nah, di dalam pernyataannya
juga perusahaan tersebut menyebutkan
bahwa mereka sudah mematuhi semua
regulasi yang ditetapkan oleh ANAC dan
tidak pernah memiliki riwayat kecelakaan
sebelumnya. Ini benar-benar musibah yang
pertama kali mereka alami. Luis Inao
Lula da Silva selaku Presiden Brazil itu
menegaskan bahwa pemerintah federal siap
untuk membantu para korban serta
keluarganya. Dan berdasarkan informasi
yang beredar, insiden terbakarnya balon
udara ini adalah insiden yang ketiga
kalinya, Geng. Dalam waktu kurang lebih
seminggu. Nah, minggu lalu juga ada
sebuah balon udara yang membawa 35 orang
dan tidak memiliki izin untuk terbang
jatuh di Sao Paulo yang menyebabkan satu
orang meninggal dunia dan pilotnya pun
ditangkap. Di hari Kamis, 2 hari sebelum
insiden di praya Grenji ini, ada balon
udara yang kembali jatuh di pantai Sao
Paulo. Meskipun enggak ada kerusakan
yang disebabkan atas insiden ini dan
tidak ada rumah yang terkena, enggak ada
yang ketiban gitu ya ee terkena balon,
tapi di saat itu ya korbannya cukup
luka-luka. Nah, jadi geng itulah
kejadian yang terjadi di Brazil. Dan
yang pertama tadi kita sudah bahas
tentang kejadian seorang turis asal
Brazil jatuh di Gunung Rinjani. Dan yang
kedua ini adalah kejadian yang di Brazil
tentang balon udara yang terbakar di
saat terbang membawa para wisatawan.
Oke, hari ini itu dulu pembahasan kita.
Mungkin untuk next kita bisa bahas yang
lain. Dan kalau kalian masih pengin gua
membahas tentang perang Iran dan
Isriwel, kalian boleh tinggalkan
komentar di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:14:48 UTC
Categories
Manage