Kind: captions Language: id Halo, Geng. Eh, udah beberapa hari ya gua enggak ngonten. Kemarin sih sempat satu kali gua nge-post. Itu juga e salah satu stok yang belum kita tayangkan. Dan hari ini kita mulai kembali dengan kegiatan kita. mulai kembali dengan kepadatan-kepadatan informasi di channel ini. Oke. Nah, kemarin gua sempat libur karena ya tim juga libur. Kita merayakan Idul Adha dan juga cuti bersama. Mohon maaf banget jarang-jarang nih kita libur selama ini. Tapi enggak apa-apa, sekarang sudah saatnya kita kembali ke rutinitas seperti biasanya. Oke, sesuai dengan judul yang kalian baca di thumbnail dan juga judul video ini, hari ini kita bakal membahas tentang mal praktik tindakan ee dokter-dokter yang mana ini menangani pasien-pasien yang ingin memotong burung, ya. Nah, pasien-pasien sunat. Nah, sebelumnya gua jelaskan sedikit mal praktik ini adalah istilah kata nih dari tindakan kriminal di dalam dunia medis karena bisa membahayakan keselamatan dari nyawa pasiennya. Sayangnya, Geng, di Indonesia itu masih banyak banget mal praktiknya. Hal-hal kayak gini kayak berulang kali terjadi. Ada aja orang-orang yang sebenarnya enggak kompeten e mengklaim dirinya sebagai tenaga ahli, mengklaim dirinya sebagai tenaga medis, dokter, dan segala macamnya gitu ya, agar bisa mendapatkan keuntungan. Padahal dia enggak punya lisensi, bahkan enggak pernah sekolah hanya berdasarkan pengalaman-pengalaman kecil. Ya, misalkan contohnya pernah menjadi asisten dokter, pernah menjadi perawat atau apalah gitu. merasa bisa langsung membuka praktik layaknya seorang dokter yang berpengalaman. Nah, terus Geng hal-hal kayak gini bisa terjadi itu gara-gara kesadaran masyarakat kita di Indonesia yang masih rendah terhadap dunia medis. Cenderung akan langsung percaya sama orang yang mengaku-ngaku dirinya sebagai tenaga ahli, tenaga medis atau dokter tanpa melihat terlebih dahulu kredibilitas orang tersebut. Modal ngomong, jualan liur gitu ya, udah langsung percaya. Hal ini juga semakin diperparah karena banyak klinik yang malah bungkam dengan kasus-kasus kayak gini dengan alasan mereka enggak mau reputasi klinik mereka menjadi jelek ya menurun yang disebabkan karena ada salah satu dokter yang praktik di klinik mereka yang melakukan mal praktik gagal kayak gini. Beberapa waktu lalu gua sempat ngebahas mengenai salah seorang influencer dan juga tiktokers yang menjadi korban malpraktik. Nah, video ini kalian bisa nonton nih ya, video gua beberapa minggu lalu yang mana si influencer tersebut melakukan perawatan kecantikan di klinik yang sedihnya dia malah berakhir lumpuh dan kejang-kejang. Nah, kalau kalian ketinggalan beritanya bisa cek langsung. Oke, itu kan mal praktik di klinik kecantikan ya. Nah, kita tetap berfokus pada pembahasan kita hari ini. Hari ini kita bakal membahas ya tindakan medis atau mal praktik yang terjadi terhadap pasien yang ingin sunat. Nah, mal praktik di dalam dunia medis yang terkhususnya masalah sunat ini ternyata udah terjadi berkali-kali dan berulang kali. Di video kali ini gua bakal membahas kasus-kasusnya ya sebagai pembelajaran, sebagai edukasi buat kita semua agar lebih berhati-hati lagi dalam memilih ya orang-orang yang kompeten untuk menangani praktik kayak gini ya. Baik itu untuk adik-adik kalian atau justru buat anak-anak kalian, keponakan dan siapapun. Kalian harus hati-hati banget karena kejadian yang satu ini membuat masa depan si korban itu enggak bisa kembali lagi. Burungnya terbang. Benar-benar terbang. Yang harusnya nempel di situ doang enggak bisa terbang, akhirnya terbang. Kacau ya. Oke, langsung aja nih kita bahas secara lengkap. Halo, Geng. Welcome back to Kamar Jerry [Musik] Genggeng. Untuk kasus yang pertama, kita akan membahas kasus sunat laser yang berujung luka. Waduh, ini terjadinya di Kerinci. Jadi, kasus yang pertama ini yang akan kita bahas itu dialami oleh seorang bocah asal Desa Sangir, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Inisialnya itu adalah BAI, kita sebut aja BY gitu ya. usianya itu masih 10 tahun dan dia merupakan anak dari pasangan e Dian dan juga Heko. Ayahnya Heko, ibunya Dian. Memang beritanya tuh baru viral beberapa waktu kemarin, Geng. Tapi sebenarnya kejadiannya itu udah terjadi di akhir tahun 2024, tepatnya tanggal 19 Oktober tahun 2024. Jadi, ya di sore hari sekitar jam .30 sore bayi ini diantar oleh orang tuanya ke sebuah klinik ya untuk menjalani tindakan sunat laser. Wah gila ya sunat pakai laser itu pakai kayak pedang Matriks-Matrix gitu loh ya kan pedang-pedang ya pernahlah lihat ya kayak di film-film action. Namun pada proses tindakannya ternyata terjadi kendala geng karena si bayi ini mengalami e keluarnya cairan merah yang banyak banget ya. Kalian paham ya cairan merahnya ya. Dan ini cairan merah dari bagian vitalnya dia yang gak berhenti keluar. Sempat diupayakan untuk menjahit bagian tersebut. Namun tetap aja cairan merahnya keluar terus, enggak kering-kering. Masih enggak kunjung membaik, perawat di klinik Suna tersebut yang bernama Yogi malah menyuruh orang tuanya Bay untuk membawa si Bay ini pulang. Yogi ini bilang pada saat proses tindakan itu ya, petugas medis melakukan kesalahan katanya karena ternyata yang dipotong enggak cuma kuncupnya tapi haduh gimana gua sebutnya ya itu tuh helm PM helm polisi militernya ya. Hah? Bagian helm polisi militernya juga tersayat sedikit, tergores sedikit. Nah, namun di saat itu Yogi ini ngeklaim kalau saluran dari tempat pipisnya itu masih ada. Jadi enggak ketutup, enggak kepotong sehingga dampaknya enggak serius. Nah, pihak klinik kemudian memberikan biaya transportasi sebesar Rp500.000 untuk membawa adik bayi ini ke rumah sakit. Jadi, kayak ada kompensasi gitulah ya, ada biaya yang ditanggung oleh pihak klinik. Gara-gara kondisi tersebut pada jam 5.00 sore bayi ini akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Muarul Labu, Sumatera Barat oleh orang tuanya. Sesampainya di sana, pihak rumah sakit menyatakan mereka malah enggak sanggup untuk menangani kondisi dari bayi ini. Wah, kasihan banget. Nah, karena hal itulah si adik yang bernama Bay ini terpaksa dirujuk lagi ke rumah sakit lain, yaitu ke Rumah Sakit M. Jamil Padang. Di rumah sakit yang terakhir inilah Bay menjalani operasi. Namun sayangnya dokter yang menangani Bay mengatakan kalau organ vitalnya Bay sudah terlanjur terpotong. Jadi bukan cuma tersayat kepotong itu helm polisi militernya dipotong, Geng. Ini gua gimana ya nih jadi enggak enak gitu ngomongnya. Bahasanya apa ya? Helm polisi militer apa jamurnya? Pokoknya bagian itulah. bagian enak-enak itu. Nah, nah kepotong tuh. Dan itu enggak bisa disambung lagi. Hanya bisa dibuatkan saluran pipisnya doang. Jadi biar enggak ketutup ya, biar enggak nyatu dagingnya, dibukalah saluran itu. Akhirnya orang tuanya enggak terima. Itu kan masa depan anaknya ya. Bagian sensitif dari seorang laki-laki ada di bagian situ. Malah dipotong. Nah, karena enggak terima ya, akhirnya orang tua Bay melakukan perundingan dengan Si Yogi ya yang ada di klinik tadi atas dugaan, kesalahan, tindakan atau mal praktik yang dia lakukan terhadap anak mereka. Di dalam perundingan ini disepakatilah kalau Yogi akan bertanggung jawab dengan membiayai semua pengobatan bayi. Dikatakan bay ini sudah menjalani operasi sebanyak lima kali selama di rumah sakit tersebut. Dari lima operasi yang dilakukan kepada adik yang bernama Bay ini, Yogi bertanggung jawab sepenuhnya, Geng, untuk membiayai pengobatannya dari operasi pertama sampai kedua. Nah, di operasi ketiga sampai kelima, orang tua Bay menggunakan BPJS dan Yogi cuma memberikan uang transpor aja, enggak membiayai pengobatan lagi. Terus di saat itu anehnya si Yogi ini dikatakan mulai enggak peduli dengan kondisi buy sebagaimana yang sudah menjadi kesepakatan di awal. Yang mana Yogi seharusnya membiayai semua pengobatan buy sampai selesai. Tapi setelah 7 bulan setelah kejadian di awal tadi, Bay masih kesulitan buang air kecil. Bahkan dia mengalami trauma berat dan selalu menangis karena sakit. Nah, karena Yogi ini malah lari dari tanggung jawab dan enggak menunjukkan itikat baiknya, Dian selaku ibu dari Bay menyebarkan kondisi Bay ke Facebook. Jadi diviralin lah, diviralin di Facebook pribadinya dia dan menjadi viral karena mendapatkan banyak simpati dari netizen. Enggak cuma diviralkan aja, Geng. Dian dan juga Heko suaminya juga memutuskan untuk menempuh jalur hukum atas dugaan mal praktik sunat yang terjadi ke anak mereka karena sudah enggak tahan lagi dengan kelakuan Yogi yang malah lari dari tanggung jawab dan sudah melanggar kesepakatan. Mampui kau Yogi yo. Nah, ini kalau bahasa orang pada mampus kau Yogi. Udah dikasih apa ya? Ya. Eh, udah di udah Allah den kasih Allah deniah ya. Allah deniah keringanan. Tapi hah susah gue ng bahasa Padang udah agak-agak lupa gue. Pokoknya intinya udah dikasih, udah diberi keringanan malah kabur. Harusnya kan kalau lau tanggung jawab enggak akan disebarin tuh sama orang tuanya si ini orang tuanya si Bay ya kan. Nah kalau udah kayak gini gimana? Dan orang tuanya si Bay pintar juga nih diviralkan dulu baru dilaporin. Nah karena kenapa? No viral, no justice. Viralin aja dulu baru dilaporin supaya cepat ditanganin. Terus geng, hal ini tentunya sangat merugikan bagi orang tua Bay dan si Binya sendiri. Pelaporan orang tuanya Bay juga sudah dikonfirmasi oleh Kapolres Kerinci yang bernama AKBP Arya T. Brahmana. Saat ini pores Kerinci itu masih mendalami dan mempelajari kasus tersebut dan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai dugaan mal praktik yang dilakukan oleh Yogi. Terus geng, di sisi lain, Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi juga sudah mengetahui kasus dari adik bayi ini. Nah, setelah mendapatkan informasi terkait Bay yang diduga menjadi korban malpraktik ya di saat itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci yang bernama Pak Hermen Dizal. Nah, beliau sudah bersurat ke pelayanan terpadu satu pintu atau PTSP untuk mencabut izin praktiknya Yogi. Namun, Herman Diesal ini mengaku untuk saat ini pihaknya masih fokus terhadap penyembuhan bayi karena kondisinya sekarang mengalami trauma dan juga kesulitan untuk buang air kecil. Hampir setiap waktu bayi menangis karena rasa sakit yang dialaminya. Kepala Puskesmas dikabarkan juga sudah turun tangan, Geng, untuk menangani masalah ini yang nantinya bisa berimbas kepada pemecatan Yogi sebagai perawat. Tuh, perawat ya, bukan seorang dokter, bukan tenaga medis yang ya apa ya ee bisa dikatakan tuh itu emang bidangnya dia seharusnya, tapi dia cuma perawat. Harusnya tuh ya maaf ya dia ini nih koreksi gua kalau salah ya. Gu gua juga takut nih karena profesi seorang perawat itu adalah profesi yang terhormat juga gitu ya. Tapi ini kok kalau nih orang sampai yang melakukan kesalahan menurut gua dia melanggar ketentuan atau batasan yang seharusnya enggak boleh dia lewati gitu mungkin ya. nih dengan keterbatasan ilmu gua nih mohon maaf nih mungkin hal kayak gini yang patut melakukan itu adalah seorang dokter bukan seorang perawat gitu tapi kok bisa Yogi melakukan itu kok bisa Yogi yang motong burung ya dan ada informasi yang beredar kalau lokasi klinik tempat bayi ini menjalani tindakan sunat laser itu cuma mengantongi izin apotek aja jadi enggak ada izin praktik potong-potong burung di sana jadi bukan izin klinik atau tempat praktik medis nah namun ini masih terus didalami kebenarannya oleh pihak terkait gimana sih yang benarnya. Nah, terus geng Bupati Kerinci yang bernama Pak Monadi juga sudah menaruh perhatian terhadap apa yang dialami oleh adik bayi ini. Pak Monadi ini ya sudah berkomunikasi langsung dengan Heko dan Dian, orang tua dari BY dengan menegaskan kalau pemerintah akan mendampingi BY sepenuhnya baik dalam proses pemulihan maupun upaya untuk penegakan hak-hak bagi BY sebagai pasien. Dan untuk mempercepat penanganannya, Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci itu sudah mengirimkan surat secara resmi kepada pihak Rumah Sakit M. Jamil yang berisikan permohonan tindak lanjut atas kondisi medis buy termasuk kemungkinan perawatan lanjutan di Padang atau rujukan lebih lanjut ke RSCM Jakarta dan BY dikabarkan sudah diberangkatkan ke Padang untuk mendapatkan perawatan yang lebih lanjut, Geng. Nah, kita doakan ya semoga semuanya bisa baik-baik aja. Kasihan gitu masih kecil dia enggak tahu apa-apa cuma pengin ee apa ya supaya kesehatannya prima ya dengan bersunat. Ini ingat ya, sunat itu enggak cuma soal agama loh, Geng. Bahkan ada yang nonmuslim itu memilih untuk sunat karena demi kesehatan. Itu ada. Kalian boleh cek sendirilah beritanya. Dia pengin sehat malah jadi sakit, kan kasihan. Terus geng, selain itu Pak Monadi juga memerintahkan Hermen Bizal selaku Kepala Dinas Kesehatan Kerinci untuk turun langsung melihat kondisi korban dan memastikan setiap langkah medis yang diambil untuk adik Bay ini dilakukan secara benar dan juga bertanggung jawab agar enggak memperparah kondisinya dia. Terkait dugaan mal praktik, si Yogi ya selaku perawat yang menangani Bay dalam prosedur sunat laser sudah dimintai keterangan oleh pihak terkait. Dan berdasarkan informasinya lagi, Yogi menyatakan siap untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada Bay. Dan pada tanggal 28 Mei kemarin, pimpinan DPRD Kabupaten Kerinci yaitu Dr. Surmila bersama dengan rekan DPRD lainnya yaitu Adi Purnomo, Marius, serta sejumlah wartawan itu sudah mendatangi rumah keluarga Bay untuk melihat langsung kondisinya Bai. Nah, Dr. Surmila ini menyampaikan bahwa pihaknya merasa prihatin atas apa yang menimpa pada Bay dan akan mengawal kasus ini sampai dengan selesai. Pihak DPRD juga sudah meminta Dinas Kesehatan dan pihak terkait untuk segera melakukan investigasi. Kalau benar terjadi mal praktik, maka harus ada pertanggungjawaban secara hukum dan etik. Nah, kasus ini harus diusut dengan tuntas, Geng. Menurut Dr. Surmila, sebab untuk mencegah keresahan di tengah masyarakat. Karena seharusnya sunat itu menjadi tindakan medis yang aman, tapi bisa berakibat fatal kalau dilakukan secara enggak profesional kayak gini. Dan menurut beliau juga tindakan medis seperti ini seharusnya dilakukan oleh perawat dengan pendampingan dokter. Oleh karena itu, penanganan terhadap kasusnya bayi ini bukan soal mencari keadilan lagi, tapi juga menjadi pembelajaran penting agar praktik-praktik medis ilegal enggak terus terjadi. Nah, Adi Purnomo dan juga Marius juga menghimbau masyarakat agar lebih berhati-hati lagi dalam memilih layanan kesehatan, terutama yang tidak memiliki izin resmi atau dilakukan oleh pihak yang enggak profesional. Netizen juga enggak tinggal diam di dalam hal ini. Banyak yang membantu BY dengan mengirimkan donasi untuk bisa meringankan biaya pengobatan bagi BY. Oke, itu baru kasus yang pertama. Itu aja udah bikin ngos-ngosan ya, Geng ya. Gimana dengan kasus-kasus selanjutnya nih? Udah siap belum buat mendengarkan kasus-kasus selanjutnya? Oke, kita langsung mulai dengan kasus selanjutnya nih. Ini masih seputar burung ya, masih seputar pemotongan burung yang gagal nih. Ayo langsung aja kita bahas ya, masuk ke dalam kasus malpraktik yang kedua. Bocah di Palembang yang pipisnya sampai bercabang setelah menjadi korban dari mal praktik sunat. [Musik] Jadi, Geng, insiden ini dialami oleh seorang bocah yang berinisial AL berusia 6 tahun di Palembang, Sumatera Selatan. Sama seperti adik yang berinisial bay tadi, insiden yang dialami oleh AL ini juga terjadi di rentang tahun 2024, tepatnya di tanggal 3 Juli tahun 2024. Saat itu ibunya Al ee kita sebutnya Al aja ya. Jadi ibunya si Al ini yang berinisial RM itu mendapatkan informasi kalau ada agenda sunat massal yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Palembang di kantor Camat Jakabar, Kelurahan 15 Ulu. Karena hal ini belum disunat, ibunya RM langsung memanfaatkan momen agenda sunat massal ini untuk bisa menyunat anaknya ini. Harganya juga pasti lebih terjangkau dibandingkan sunat di klinik-klinik gitu. Soalnya sunat masal gini diadakan oleh pemerintah. Dan barulah masalah ini muncul setelah Al selesai sunat. Setiap Al buang air kecil, dia malah merasa kesakitan. Nah, selesai sunat tuh kayak ada yang aneh dengan burungnya. Yang mengagetkannya lagi adalah pipisnya enggak cuma keluar dari satu saluran aja. Tahu kan kalau kalian cowok biasanya keluar pipisnya di mana? Ya. Nah, adik yang bernama Al ini pipisnya keluar di lima sumber, di lima lubang. Terutama keluarnya itu dari jahitan sunatnya. Kan kacau banget, Geng. Di pinggirannya berarti. Dan ini terus terjadi sampai 5 bulan setelah dia disunat. Aduh, kasihan banget ya. Kesiksa banget anak orang. Terus, Geng. Pada bulan Desember tahun 2024, Al ini masih mengeluh kesakitan dan RM ibunya memutuskan untuk melaporkan kondisi anaknya ini ke Dinkes Palembang. Dan pihak Dinkes Palembang pun di saat itu berjanji untuk melakukan penanganan karena kan ya program sunat massalnya mereka yang adakan. Nah, namun hingga bulan Januari tahun 2025 menurut ibunya ya pihak Dinkes Palembang tidak memberikan perawatan terhadap all dan enggak ada tindak lanjut yang signifikan. Ya, enggak usah heran standar ya kita tinggal di mana. Ya, harus ingat kita tinggal di mana, Geng? Hal-hal kayak gini ya. Kalau persoalan bertanggung jawab tuh jangan harap dah kalau urusan sama pemerintah. Kalau urusan proyek ah kencang semua. Oke. Di saat itu, Geng bahkan katanya akan dibantu agar all ini bisa dioperasi. Cuma itu ya janji gitu ya. Enggak ada kabar, enggak ada kabar lebih lanjut soal pertanggungjawaban dari pihak Dinkes Palembang. Oleh karena itu, Alhirnya diperiksa ke dokter menggunakan dana pribadi dari keluarga dan hanya diberikan obat ya obat seadanya. Yang tadinya Al ini bisa pipis sampai lima cabang. Dengan pengobatan tersebut beruntungnya lubang pipis all akhirnya bisa tertangani dan sisa satu. Nah, karena gak ada kejelasan dari Dink Ces Palembang untuk bertanggung jawab ya, karena kan keluarga udah pakai dana pribadi nih. Akhirnya keluarga yang merasa kasihan dengan kondisi anak mereka yang terus merasa kesakitan membuat sang ibu mau enggak mau melaporkan peristiwa dugaan mal praktik sunat yang dialami oleh anaknya ini ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu atau SPKT Polrestabes Palembang. Nah, akhirnya sampai ke jalur hukum. Di saat itu ada keterangan yang diberikan oleh Santi Manora selaku lurah Tuan Kentang yang mengatakan proses kitan atau sunat massal tersebut dilakukan oleh dokter yang berpengalaman serta menerapkan prosedur operasi standar atau SOP. Memang kegiatan sunat massal tersebut difasilitasi oleh Kecamatan Jaka Bering dan tim medisnya dari Dinkes yang merupakan tenaga medis dari Puskesmas Ogan Permata Indah atau Opi dan Pembina. Santi ini menjelaskan nih, setelah 10 hari kegiatan sunat massal, orang tua Al ini melapor ke pihak kelurahan yang menurut mereka Al ini mengalami keluhan sakit dan saat itu kata Santi Pemkot Kota Palembang itu langsung melakukan pengecekan dan membantu untuk pembuatan kartu Indonesia Sehat atau KIS ya gunanya supaya si korban bisa langsung berobat. Terus selanjutnya pihak gabungan Pemkot Palembang itu membantu untuk membawa Al agar bisa berobat ke Rumah Sakit Hermina Palembang. Setelah menjalani perawatan selama beberapa hari, Al diperbolehkan untuk pulang. Nah, namun menurut Santi ketika Al ini dipulangkan, gak ada keluhan dan kabar apapun dari si ibu mengenai kondisi anaknya ini. Nah, apakah masih mengalami sakit atau enggak? Jadi, udah kayak diam aja gitu. Nah, dikirain udah kelar masalahnya. Dan setelah melaporkan kejadian tersebut, Unit Pelaksana Teknis Daerah atau disingkat dengan UPTD, Pemberdayaan Perempuan dan Anak atau disingkat dengan PPAS yang ada di Sumatera Selatan itu udah membawa al ini untuk dirujuk ke Rumah Sakit Muhammad Husein atau RSMH yang ada di Palembang untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Nah, selama dirawat di sana, AL ini akan tetap menjalani pendampingan dari Dinas PPA Sumatera Selatan untuk memastikan Al ya mendapatkan penanganan yang tepatlah. Kepala UPTD PPA yang bernama Pak Amiruddin itu bilang pada tanggal 9 Januari tahun 2025 hal ini sudah menjalani tindakan operasi di rumah sakit tersebut. Tapi Pak Amiruddin mengaku enggak bisa menjelaskan lebih detail mengenai kondisinya pasca operasi karena UPTD PPA enggak mendapatkan informasi apapun dari pihak rumah sakit saat akan operasi dan juga pasca operasinya. Jadi enggak ada informasi apa-apa. Bahkan Pak Amiruddin mengatakan kalau pihak rumah sakit tidak terbuka dengan informasi terkait kondisinya Al. Meskipun begitu, Pak Amiruddin menyebutkan jika Pemkot Palembang sudah mengurus administrasinya Al dan Dinkes Palembang itu bakal memantau perkembangan dari Al sampai dia sembuh. Jadi intinya mereka mengaku ya mereka bertanggung jawab gitu, Geng. Nah, tapi sampai detik ini e jujur aja ya dari pemberitaan itu tidak ada apa ya kelanjutannya. Jadi gua juga bingung nih menyampaikan ke kalian gimana endingnya si ADL ini. Apakah dia mendapatkan ganti rugi? Apakah dia akhirnya sembuh? Karena kan dari yang tadinya lima cabang nih dia pipis, akhirnya sisa satu kan udah diobatin sama orang tuanya pakai duit pribadi. Nah, tapi dia masih mengeluhkan sakit katanya. Nah, ending-nya gua enggak tahu. Apa kalian yang berasal dari Palembang tahu dengan cerita ini dan endingnya seperti apa? Kalian boleh share di kolom komentar. Oke, itu adalah berita kedua. Yang pertama tadi seramnya ya kan kepotong helm polisi militernya. Yang kedua ini eh pipisnya ada lima cabang. Nah, sekarang kita masuk yang ketiga nih. Gimana nih? Lebih seram apa enggak nih? Kita akan masuk ke dalam kasus yang selanjutnya mengenai kasus dugaan malpraktik sunat yang terjadi di Pontianak, Kalimantan. Jadi, Geng, di Pontianak, Kalimantan Barat ada seorang bocah berusia 9 tahun yang diduga menjadi korban malpraktik dari seorang dokter yang berinisial IL. Nah, ketika bocah tersebut menjalani tindakan sunat laser, lagi-lagi sunat laser nih. Nah, korban ini mengalami kerusakan fisik pada organ itunya serta lubang saluran pipisnya. Jadi, pindah ke bagian bawah. Allahuabbi, sedih banget. Dan kronologi kejadiannya itu ya diungkap oleh ibu korban langsung yang bernama Popi. Jadi kejadiannya itu pada tanggal 1 April 2022. Di saat itu Popi ini ee bawa anaknya ke salah satu klinik dokter yang berada di Jalan Tanjungpura, Pontianak untuk disunat. Sehari sebelum tindakan sunat dilakukan, Doter I mengirimkan sejenis salep untuk digunakan oleh anaknya. Nah, dokter ini memberikan instruksi untuk memakaikan salap tersebut ya selama 20 menit sebelum datang ke klinik. Sebab salaf tersebut ya berfungsi agar ketika disuntik si pasien tidak akan merasa sakit. Jadi kayak krim anestesi gitu lah, Geng. Nah, singkat cerita setelah mendapatkan arahan tersebut dari dokter Popi ini pun memakaikan salap tersebut ke anaknya. Nah, akhirnya sampailah tiba di proses sunatnya. Nah, di saat proses sunat berlangsung, anaknya ini sempat menangis kayak kesakitan banget gitu. Padahal udah diolesin salep itu kan. Katanya sih enggak sakit, tapi kok anaknya nangis kejer gitu. Nah, apakah salaap ini enggak berfungsi atau gimana gitu. Cuma proses sunatnya masih dilanjutkan sampai selesai sampai si anak diperbolehkan untuk pulang. Nah, Popi ini menemukan adanya kejanggalan di saat itu. Organ vital anaknya tidak diperban setelah disunat. Kalau enggak diperban kayak gitu kan bahaya juga ya, Geng. Bisa kotor atau gimana dan jahitannya bisa lepas atau organ vitalnya bisa kegesek-gesek sama celana. nanti pasti peri. Sampai pada akhirnya di malam harinya anaknya mulai merasakan nyeri dan sakit di bagian organ vitalnya itu. Dan saking sakitnya ya dia sampai demam, Geng. Naik ee panas badannya dan si ibu itu masih ngerawat secara mandiri di rumah. Karena dia pikir mungkin itu karena rasa sakit pasca operasi biasa. Tapi setelah beberapa hari, dia mengamati kalau ternyata alat vital anaknya terlihat memutih dan juga pucat serta bagian pangkalnya udah mulai terlihat bengkak. Jadi kayak infeksi gitu, Geng. Nah, ketika melihat kondisi anaknya yang udah gak wajar, Popi ini langsung menghubungi dokter yang menangani anaknya di saat sunat itu, yaitu dokter I dan mengirimkan foto kondisi anaknya. Der. I pun menyarankan agar Poppy membawa anaknya langsung ke rumah sakit. Bukannya dia nih, dia yang nyunatin, ya kan? Harusnya dia yang paham kondisi itu. Bukannya dia yang bertanggung jawab menangani hal tersebut, tapi dia justru minta si orang tua anak itu untuk dibawa ke rumah sakit anaknya. Nah, pada akhirnya di tanggal 8 April tahun 2022, Popi sebagai seorang ibu langsung membawa anaknya ke Rumah Sakit Anugerah Bunda Katolistiwa. Di saat itulah Popi baru mengetahui kalau alat vital anaknya terbakar. Terbakar, Geng. Yang pertama, ya kepotong pala hajinya, ya. Pala hajinya kepotong. Yang kedua, lubangnya ada lima, pipisnya jadi lima ini. Jadi lima apa namanya? Lima cabang. Yang terakhir kebakar burungnya, kebakar pala hajinya kebakar, Geng. Ya Allah. Dan dikatakan ini terbakar ketika proses sunat tersebut dan harus segera dioperasi karena ujung pangkalnya sudah habis yang disebabkan karena terbakar tadi, Geng. Sehingga disarankan oleh dokter di rumah sakit tersebut untuk melakukan operasi cangkok kulit. Hah, kasihan. Mendengar kondisi anaknya yang seperti itu, ya, si ibu yang bernama Popi langsung nangis kejar. Dia juga langsung menghubungi si I si dokter untuk memberitahu kondisi anaknya. I cuma bisa minta maaf dan selama anaknya di rumah sakit, I ini gak pernah sekalipun datang ngejenguk dan gak ada minta maaf secara langsung kepada Popi serta anaknya ini. Dan setelah 3 bulan pasca operasi, ternyata organ vital anaknya Popi enggak kunjung membaik. Popi juga ngelihat adanya keanehan lain dari anaknya tersebut karena anaknya enggak bisa nahan pipis. Jadi ketika pipis, alat pitalnya juga langsung bengkak. Dan oleh karena itu, Popi kembali menghubungi dokter bedah yang menangani operasi anaknya untuk berkonsultasi. Karena enggak mendapatkan penjelasan yang memuaskan, Popi memutuskan untuk membawa anaknya ke rumah sakit yang ada di Jakarta untuk melakukan tindakan operasi yang lebih besar lagi dan lebih proper lah. Sesampainya di Jakarta, Popi ini pertama kali mendatangi Rumah Sakit Mayapada. dia langsung yang benar-benar aja gitu, rumah sakit yang paling oke lah. Dan setelah melakukan pemeriksaan, diketahui kalau anaknya itu enggak cuma mengalami terbakarnya alat vital, tapi juga mengalami infeksi saluran kencing. Sehingga dia harus dirujuk ke Rumah Sakit Fatmawati untuk operasi selanjutnya. Nah, tapi geng walaupun sudah menjalani operasi dan kondisinya sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya, tapi kondisi organ vitalnya itu masih belum normal seperti layaknya laki-laki lain. Ya, menurut penjelasan dokter, anaknya harus kembali menjalani operasi agar organ vitalnya bisa kembali normal, tapi juga harus menunggu kesediaan anaknya. Sementara itu, selama perawatan yang dijalani oleh anaknya, si dokter IL ya itu enggak bertanggung jawab sama sekali, Geng. Sampai pada akhirnya Popi dan I sudah melakukan mediasi sejak awal tahun 2023, Geng. Nah, di saat itu ya kuasa hukum dari korban yaitu Dewi Ari Purnamawati. Nah, itu menyebutkan STR atau surat izin praktik milik dr. I saat menangani korban itu masih dalam proses perpanjangan yang mana hal tersebut melanggar kode etik. Nah, karena pada saat itu seharusnya DR IL tidak melakukan praktik sementara sampai STR atau surat izin praktiknya itu keluar. Jadi, enggak boleh tuh. Nah, jadi geng selain karena persoalan kode etik, Dewi juga mengatakan pada saat proses mediasi berlangsung, I selaku dokter yang menangani korban itu mengaku dia sendiri belum mengetahui bagaimana cara menggunakan alat yang dia gunakan itu ketika mengkitan korban. Alat yang dia pakai itu dia enggak tahu caranya, tapi udah main potong-potong aja pala haji orangnya. Kacau banget. Dan dia belum pernah mencoba alat itu sebelumnya. Jadi si Adik ini ya itu jadi kelinci percobaannya IL dan IL sudah mengakui adanya kelalaian yang dia lakukan selama proses kitan berlangsung. Nah, Dewi sangat menyayangkan enggak adanya itikat baik dari IL karena sebenarnya permasalahan ini bisa diselesaikan dengan cara baik-baik. Tapi karena IL-nya enggak peduli makanya kasusnya jadi berlarut-larut. Dan Ikatan Dokter Indonesia atau IDI juga memfasilitasi proses mediasi antara pihak korban dengan si dokter IL ini. Dan menurut keterangan dari ketua ID Kalimantan Barat yang bernama Dr. Rifka, IL ini sempat nge-down, Geng, karena masalah ini. Ya iyalah, lu yang salah, lu enggak bertanggung jawab. Kalau lu nge-down, ya urusan lu, gitu. Harusnya yang ng-edown itu korban, gitu kan. Nah, dia ini udah enggak praktik lagi, tapi izin praktiknya belum dicabut katanya. Dan praktik sunat laser sendiri sampai saat ini ya masih diizinkan, Geng. Tapi mungkin pada saat tindakan ya, Doter I ini di luar kendalilah, mungkin lasernya terlalu panas atau gimana gitu. Terlebih lagi I ini mengaku belum bisa menggunakan alat itu dengan ee sebenar-benarnya lah. Nah, dia baru pertama kali nyoba dan kasus ini juga sudah ditangani oleh KPAI dan Floresta Pontianak. Uh, kacau. Pihak ini juga sudah melakukan sidang terhadap IL, tapi belum diketahui terkait pelanggaran kode etik yang akan diberikan kepada dia. Saat dilakukan mediasi, pihak korban meminta ganti rugi sebesar Rp50 juta. Menurut gua kecil banget ya untuk masa depan anak. Rp50 juta tuh kecil banget. Rp50 juta mau buat beli apa? Buat ngejamin dia kuliah sampai kelar juga enggak bisa ya. harusnya di-up lagi sih, naik lagilah tuntutannya. Kacau ini. Dan dokter IL ini mengatakan kalau dia sanggup untuk membayar tapi bayarnya nyicil katanya. Nah, sementara keluarga korban enggak mau dicicil, maunya langsung tunai Rp50 juta dan dilakukan lagi mediasi dan tuntutan dari pihak keluarga jadi semakin tinggi. Nah, ini baru benar nih. Bukannya malah dikurangi sampai menyentuh angka Rp300 juta kabarnya. Keluarga nuntut si Del dan D. Rel pun menyatakan enggak sanggup untuk mengganti rugi dengan uang yang sebesar itu. Ganti rugi itu pun didasarkan karena enggak cuma anaknya aja yang dirugikan, tapi Popi sebagai ibunya juga mengalami tekanan psikis yang berat sehingga Poppy dan anaknya sama-sama mendapatkan perawatan ke psikolog. Ini masuk akal. Ini enggak mengada-ngada kok menurut gue ya kan? Ini masa depan anaknya Boy. Sedih banget. Itu dia geng pembahasan kita hari ini. Tiga kasus mal praktik sunat yang terjadi di Indonesia. Ini enggak kebayang ya, Geng. Sunat itu kan menjadi salah satu tindakan medis yang ya apa ya? Yang sangat lumrahlah. Apalagi di Indonesia. Kalau kita berbicara soal sunat ini mengenai mayoritas muslim yang ada di Indonesia rata-rata melakukan sunat dan bahkan teman-teman gua yang nonmuslim pun banyak yang melakukan sunat demi kesehatan. Tapi kalau misalnya marak terjadi kasus mal praktik kayak gini, gimana anak-anak maupun orang tua gak takut gitu? Mungkin masih banyak kasus mal praktik yang lain yang terjadi di Indonesia dan tiga ini adalah sebagian kecilnya. Dan dari tiga kasus yang gua jelaskan tadi, gua enggak menemukan informasi lebih lanjut apakah tenaga medisnya dikenakan sanksi atau enggak. Karena seharusnya jika terjadi kesalahan dalam tindakan medis, ya bisa aja gitu ya tenaga medisnya diberikan hukuman. Karena kasihan, Geng, para korban jadi enggak bisa beraktivitas dengan normal karena terus merasa sakit dan ya bahkan mungkin cacat seumur hidup di bagian alat vitalnya. Orang tua korban juga harus mengeluarkan biaya yang enggak sedikit untuk biaya pengobatan anaknya dan apa ya mereka juga kepikiran dengan masa depan anaknya. Nah, dari kasus ini semoga menjadi edukasi dan menjadi evaluasi bagi pemerintah kita juga untuk bisa mengawasi dengan ketat segala prosedur medis yang dilakukan di setiap fasilitas kesehatan. Dan buat kalian ya, berhati-hati memilih dokter, memilih klinik. Jangan sampai kena ya kayak gini jadi korban malpraktik dokter-dokter yang enggak kompeten atau mungkin orang-orang yang mengaku dokter. Itu dia geng pembahasan kita kali ini. Gimana menurut kalian tentang pembahasan ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.