Transcript
2fwIvikkgg0 • BIKSU BUDDHA GELAPKAN UANG UNTUK JUDOL ! PEMERINTAH THAILAND TURUN TANGAN
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1445_2fwIvikkgg0.txt
Kind: captions Language: id Geng, beberapa hari lalu gua sempat memposting ya foto ini. Nah, kalian bisa lihat nih ya. Nah, foto ini gua posting di community post YouTube Kamar Jerry dan ternyata mendapatkan tanggapan yang begitu banyak. Di dalam postingan ini gua membuat sebuah caption. Ini gua bacain caption-nya. Caption-nya gini. Nah, benar kan semua tergantung di mana mayoritas itu berada. Kalau di Indonesia pasti si baik dan si buruknya didominasi oleh Muslim. Kalau di Meksiko ya didominasi oleh Kristen. India ya Hindu, Thailand pasti Buddha. Jadi yang salah bukan agamanya, tapi manusianya dan tergantung mayoritas apa yang berada di sana. So, stop mencela agama ketika umatnya yang berbuat salah. Dan ternyata mendapat tanggapan yang cukup rameai 1700 komentar ya walaupun tetap aja ada yang kolot yang memang udah benci banget sama agama ya akhirnya tetap mencela juga dan itu kita biarin aja biarinlah dia berteriak-teriak mau bilang apa terserah gitu ya. Nah, yang jelas di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung ya. Nah, karena di Indonesia mayoritasnya umat muslim, ya, pasti kita akan menemukan si baik dan si buruk ya kebanyakan dari kalangan muslim. Karena persentasenya jumlahnya lebih banyak, jumlah orangnya, jumlah umatnya lebih banyak. Nah, hari ini kita bakal membahas ya tentang seorang pemuka agama yang berasal dari Thailand. Dan di sini kita sudah pasti bisa menebak kalau membahas pemuka agama Thailand sudah pasti agamanya adalah agama Buddha. Nah, pemuka agama atau pemimpin agama Buddha itu biasa disebut dengan biksu. Dan biksu ini dikenal dengan kesederhanaannya ya. Dan bisa dikatakan ya kalau soal kesederhanaan memang biksu dari agama Buddha ini juara lah. Setiap mau hari raya Waaisak, para biksu ini dari Thailand akan berjalan kaki menuju Candi Borobudur yang ada di Indonesia. Dan banyak warga sekitar yang menunggu momen ketika para biksu ini lewat di sekitar mereka. Dan enggak sedikit juga ada yang memberikan pembekalan terhadap biksu-biksu tersebut. Nah, padahal ya sekarang udah ada kendaraan tapi para biksu ini tetap memilih jalan kaki yang mana itu menunjukkan kesederhanaan mereka dan prinsip mereka yang meninggalkan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Nah, cuma gimana nih, Geng? Seandainya ya kalau ada biksu yang selama ini kita kenal dengan kesederhanaannya tapi justru melakukan penggelapan dana, penggelapan uang. Uang kuil hingga ratusan bat ya karena kejadiannya di Thailand. Enggak cuma itu. Kabarnya juga, Geng. Uang yang digelapkan oleh sang biksu ini juga dialirkan untuk membiayai judul. Gila, ya. Ya, inilah mau di manap pun ya yang namanya mayoritas, lu bakal bisa menemukan si baik dan si buruk di dalamnya. Nah, ini kebetulan dari Thailand mayoritasnya beragama Buddha. Jadi, si buruknya kita temukan di agama tersebut, ya kan? Nah, di video kali ini gua bakal menceritakan nih gimana cara si biksu ini menggelapkan dana tersebut. Dan gua juga mau ingetin ke kalian kalau orang-orang seperti ini ya ada di agama manapun. Jadi bukan berarti kita bisa mengenenalisasikan kalau pemimpin agama itu pasti berbuat kayak gini. Enggak juga. Ini udah tergantung masing-masing manusianya di agamanya tidak diajarkan hal-hal negatif kayak gini. Jadi jangan salahkan agamanya. Oke. Jangan digenenalisasikan si pemimpin-pemimpin agama. Karena masih banyak pemimpin agama di muka bumi ini yang memang menjalankan ajaran agama dengan semestinya atau bisa dikatakan lurus dan baik. Cukup salahkan oknumnya aja. Oke, sekarang kita langsung bahas nih secara lengkap tentang fenomena ini. Halo, geng. Welcome back to Kamar [Musik] Jiri Genggeng. Oke, untuk pembahasan pertama kita bahas dulu profil dari biksu yang melakukan penggelapan dana ini. Jadi geng, kasus ini terjadi di Thailand yang mana pelakunya adalah seorang biksu yang bernama Pratama Ciranuat. Nah, sebelum gua bahas kasusnya, kita bahas dulu siapa sebenarnya si biksu ini atau yang namanya itu Tama Ciranuat ini dan gimana kehidupannya. Jadi, geng Tama Ciranuat ini lahir dengan nama Yaem. Intra Krungkao yang lahir pada tanggal 27 Juni tahun 1955 di Banklong Rangsai, Tambon Bang Pasi, Ampobanland, Provinsi Nakon Patom. Wah gila, hampir keseleo lidah gua nih ngebacain nama, tempat dan nama orangnya nih ya. Ini mohon maaf kalau gua agak kecele atau salah-salah dalam membacakan namanya ya. Terus geng, dia ini ditasbihkan sebagai samanera yang artinya dia ini adalah biksu muda yang mulai ditasbihkan pada tanggal 17 Mei tahun 1967 di area upacara suci Wat Ring, Kecamatan Raiking, distrik Sampran, Provinsi Nakon Patom. Upacara tersebut dipimpin oleh Prawi Wimol Muni dan di saat itu Siama Ciranuat ini diberikan gelar kebangsawanan keagamaan sebagai wakil kepala bihara tingkat nasional dengan nama kehormatan Praubali Kunu Bamacarya. Pengangkatan tama Ciranuat ini dilakukan setelah dia menyelesaikan pendidikan sekolah dasar kelas 4 di sekolah Watrang Kamyat, Kecamatan Bangpasi, Distrik Banglen, Provinsi Nakon Patom. Lalu singkat cerita 2 tahun kemudian Tama Ciranuat ini lulus ujian Dhamma tingkat tertinggi atau disebut dengan NA Tam di lembaga pendidikan agama Wat Rik King di distrik samperan tadi yang mana ini berada di bawah naungan Dewan Pendidikan Agama Provinsi Nakonpatom. Jadi kalau kita convert ke muslim mungkin dia ini santri lah ya, santri yang mondok di pesantren dan memang dipersiapkan untuk menjadi seorang pemimpin agama atau pemuka agama. Kurang lebih kayak gitu. Terus geng singkat cerita masih di tahun yang sama nih. Tama Ciranuat ini lulus ujian Pali tingkat 3 di lembaga agama Wat Rik King. Dan lalu pada tanggal 30 Maret tahun 1976 dia pun akhirnya diangkat sebagai bhikhu atau biksu penuh di area upacara suci Wat Rik King. Nah, dia juga diberikan gelar keagamaan yaitu Pratama Senani. Dan selanjutnya Tama Ciranuat ini mendapatkan gelar kehormatan sarjana studi Buddha dalam bidang agama Buddha dari Universitas Maha Culalongkonn Raja Fidyalaya pada tahun 1998. Di tahun 2005 dia ini mendapatkan gelar kehormatan Magister Buddhisme dalam bidang ilmu sosial dari Universitas Maha Culalongkonn Raja Fidyalaya tadi. Dan lalu di tahun 2009 dia menerima gelar kehormatan sebagai doktor filsafat di bidang manajemen dari Tongsuk College. Nah, jadi prestasinya cukup banyak di bidang agama ini, di bidang teologi ini. Sampai di tahun-tahun berikutnya, Tama Ciranuat ini terus mendapatkan gelar dari berbagai bidang dan universitas saking dia berprestasinya. Di antaranya ada gelar kehormatan dokter dalam studi agama dan gelar kehormatan dokter pendidikan dalam administrasi pendidikan. Jadi memang sepak terjang tama Ciranuat ini begitu panjang dalam dunia pendidikan. Jadi enggak diragukan lagi. Dia pantas menjadi seorang pemuka agama. Selain belajar dia juga menjadi guru kitab suci Buddha, guru studi Buddha. dosen kursus pelatihan studi Dhamma dan intinya studi-studi tentang agama Buddha lah. Dan Tama Ciranuat ini pernah mengajar semua pelajaran tersebut, mengajarkan ilmu tentang agama Buddha ini. Nah, lalu singkat cerita dia mulai menjabat sebagai kepala biarawat R king dari tahun 2008 sampai ketika akhirnya aksinya ketahuan. Aksi penggelapan dananya dia tuh ketahuan. Di dalam bahasa Thailand, kuil itu disebut dengan what? Kata what tadi itu kuil gitu. Jadi, gua bakal menyebutnya dengan kata what ring yang artinya kuil riking ya. Biar kalian gak bingung nih, Geng. Nah, jadi geng Wat Riking ini sendiri berada di Distrik Sampran, Provinsi Nakonpatom tadi. Dan ini adalah kuil kuno yang sudah berusia lebih dari 1 abad atau 100 tahun ya. Dan merupakan tempat patung Buddha Luangpo, Wating dalam posisi Maravijaya yang sangat dihormati oleh banyak orang. Nah, itu ada di sana tuh patung. Dan kuil ini juga terkenal dengan acara tahannya di mana para pedagang bisa mengikuti lelang untuk mendapatkan lokasi berjualan di acara tersebut. Jadi bisa apa ya berdaganglah di situ. Kalau ada acara-acara ya mereka di sana membuka dagangan-dagangan yang berhubungan dengan Thailand dan agama Buddha. Pernah ada peserta yang menawar dengan harga sampai jutaan bat, Geng. Tapi anehnya pendapatan dari kegiatan ini enggak pernah secara resmi diumumkan ke publik. Jadi bisa dikatakan nih, setiap buka stan buat makanan di situ ya. Nah, peserta-peserta yang buka stan itu nawar lokasi lapaknya itu sampai jutaan tuh. Tenan tuh bahasanya ya, tenan. Nah, dia nawar sampai jutaan. Tapi anehnya bayaran-bayaran itu kan masuknya kan ke pihak pengurus kuil nih ya kan. Tapi enggak pernah dibuka ke publik berapa penghasilannya. Dan sampai pernah ada satu kejadian yang juga menjadi berita yang besar di Thailand ketika itu ada seorang pengemis di kuil tersebut yang bisa menyumbangkan uang sebesar 3 juta bat kepada kuil di antara tahun 2013 sampai 2014. Logikanya gimana bisa seorang pengemis mendapatkan uang sebanyak itu? Mungkin kalau di Indonesia ada oknum pengemis yang sebenarnya ya adalah orang kaya atau memang orang mampu tapi ya malas aja. Nah, apakah di Thailand juga tipe pengemisnya ada yang seperti itu? Kok bisa-bisanya dia menyumbang begitu banyak kepada kuil? Nah, tapi inti dari pembahasan kita enggak di situ. Kita akan membahas ya ketika Tama Ciranuat, si pemimpin atau si biksu Buddha ini ketahuan menggelapkan dana kuil. Nah, gimana nih bisa terungkap kasus dia ini? Sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan selanjutnya mengenai terungkapnya penggelapan dana yang dilakukan oleh Tama Ciranuat. Jadi kasus ini bermula dari adanya surat pengaduan yang dikirim ke kepolisian investigasi pusat. Di dalam surat tersebut menyatakan kalau tama ciranuat ini diduga menggunakan data kuil untuk kepentingan pribadi. Nah, termasuk meminjam uang dari umat dan juga kuil lain dalam jumlah yang cukup banyak mulai dari puluhan ribu sampai puluhan juta bat. Nah, kan judulnya meminjam nih. Sama ibaratnya kayak kita ngutang gitu. Seharusnya uang tersebut ya dicicil atau dikembalikan. Nah, cuma si Tama Ciranuat ini gak pernah mengembalikan uang tersebut dan uang itu dipinjam atas nama kuil. Bukan atas nama dia, tapi dipakai untuk kepentingan pribadi dia. Dan selain itu, ada juga informasi kalau uang tersebut mungkin sudah digunakan secara sewenang-wenang. Entah untuk apa. Nah, di awalnya orang enggak tahu. Dan setelah mendapatkan laporan tersebut, petugas kepolisian berbagi-bagi tugas nih ya. Ada dua tugas yang dilakukan. Yang pertama, tim analisis data itu bakal ditugaskan untuk melacak dan menganalisis seluruh aliran uang yang berkaitan dengan tama Ciranuat ini. Terus selanjutnya bakal dilakukan tugas yaitu kepolisian intelijen bakal turun langsung nih ke lapangan untuk mengumpulkan informasi di sekitar lokasi dan memverifikasi informasi yang mereka terima serta mengumpulkan informasi mengenai hubungan orang-orang yang terkait dengan tama Ciranuat. Nah, karena kan pasti dia ngelakuin penipuan atau penggelapan ini enggak mungkin sendiri. pasti ada backingannya, ada wakilnya gitu ya. Mereka bagi-bagilah. Dan di saat itu berdasarkan hasil penelusuran data sejak tahun 2021 sampai dengan sekarang itu menunjukkan adanya penarikan uang yang tidak wajar dari berbagai bank. Nah, hal ini disebabkan karena kuil yang bernama Wat Riking ini memberikan tugas kepada para pengurus dan panitia kuil untuk membuka rekening donasi di tujuh bank yang digunakan untuk berbagai keperluan seperti perbaikan tempat ibadah alasannya pembuatan patung Buddha, pembayaran listrik dan air, sumbangan ke rumah sakit dan sebagainya. Meskipun di dalam kasus ini bukan Tama Ciranuat yang membuka rekening tersebut, tapi dia tetap bisa menarik dana dari sana, Geng. Karena kuasa dia cukup besar. Walaupun yang membuka tuh anggota dari kuil gitu. Nah, caranya dia adalah dengan menugaskan panitia kuil atau biksu pembantu untuk menarik uang tunai sebanyak 1 sampai 2 juta bat. Uang tersebut kemudian dia setorkan melalui ATM atau ditransfer ke rekening pribadinya setelah diambil dari rekening ee apa ya? Rekening sedekah umat gitu loh. Rekening sedekah umat Buddha. dan ada penyelidikan yang memeriksa laporan keuangan kuil dan menemukan di tahun anggaran 2024 yang dimulai dari bulan Oktober 2023 sampai dengan September 2024. Yang mana di dalam laporan tersebut diketahui kalau pendapatan yang disetorkan ke kantor keuangan itu ada sebesar 107 juta bat. Tapi ada juga yang enggak disetorkan ke kantor keuangan yaitu sebesar Rp9 juta bat. Termasuk di antaranya dana yang didapatkan dari penjualan jimat edisi khusus. Hah? Sama aja ternyata ya. Jual air, air berkah lah, jimatlah, rambut nabi lah. Waduh. Dan uang dari pertemuan para pedagang kaki lima yang dikumpulkan ya sebagai sedekah mereka juga diambil. Nah, lalu ada juga uang dari sumbangan acara kat hina yaitu persembahan jubah biksu. Nah, terus ada uang dari hasil sewa toko atau toko koperasi yang dikelola oleh kuil juga. Nah, rata-rata kuil ini menghasilkan pendapatan sekitar 400.000 1000 BAT per hari atau sekitar 14,7 juta per bulan dengan total pendapatan selama setahunnya mencapai 176 juta bat yang mana kalau dirupiahkan itu sekitar Rp87,6 juta. Nah, di dalam kunjungan ke kuil Wat Riking tadi selama 7 hari pihak kepolisian itu mengetahui kalau tama Ciranuat sebagai kepala kuil memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan biksu lain dalam pengelolaan uang yang ada di kuil. Jadi gak ada satu orang pun yang berani membantah apa yang diperintahkan oleh Tama Ciranuat ini. Kalau dia mau ambil duit itu untuk pribadi dia, itu urusan dia. Gak ada yang berani bantah. Nah, dari audit yang dilakukan di keuangan kuil, Wat Ring ini memiliki tiga yayasan yang berada di bawah pengawasan kuil tersebut, yaitu Yayasan Luang Pwiking yang memiliki uang terbanyak. Nah, ini banyak banget simpanannya. Nah, lalu ada lagi Yayasan Luang Pou Bali dengan uang sebanyak 19 juta bat dan Yayasan Metaarak. Diketahui kalau Tama Ciranuat ini pernah meminjam uang sebesar R5 juta bat dari Yayasan Wat Riking sejak tahun 2020. Tapi yang dikembalikan cuma R5 juta. R jutanya ditelan sendiri sama dia di tahun 2024. Peminjamannya dia juga enggak didasari dengan alasan atau tujuan kenapa dia meminjam uang itu. Jadi kayak ya udah dia ambil aja gitu. Nah, sementara itu dari Yayasan Ubali, Tama Ciranu itu mengambil atau meminjam uang sebesar R juta bat dan hanya dikembalikan 1,1 juta bat aja yang dia cicil per tahunnya. Yang mana ini juga tanpa adanya alasan yang jelas kenapa dia mengambil uang tersebut. Dia minjam uang tersebut untuk apa? Enggak tahu. Dan kalau di tootal dia ini masih memiliki hutang kepada tiga yayasan yang totalnya mencapai 38 juta bat. Nah, terus geng penyelidikan polisi menemukan total sebanyak 51 rekening bank yang terkait dengan Tama Ciranuat ini. Di antaranya ada 21 rekening bank atas nama pribadinya dia. Sementara ada satu nama yang muncul yang menjadi pemilik atas 12 rekening lain. Nah, jadi 12 rekening lain tuh nama entah siapa gitu, entah temannya, rekannya. Yang jelas selebihnya 21 rekening itu punya dia. Nah, sementara yang 12 tadi itu diatasnakan terhadap seorang perempuan yang namanya Aranyawan. Nah, 12 rekening itu atas nama Aranyawan. Dan jadi setelah menggelapkan dana dari rekening milik kuil, ada yang dia simpan secara pribadi, ada yang dia berikan ke si arah nyawan ini. Dan penyidik menemukan aliran uang arah nyawan itu sejak tahun 2016 yang totalnya lebih dari 2 miliar bat. Gila, digelapinnya banyak banget. Dan uang tersebut berasal dari empat sumber, yaitu setoran tunai ke rekening, transfer langsung dari Tama Ciranuat, terus transfer dari mantan Prahapch, dan transfer dari seseorang yang bernama Cacha Chai. Dan untuk saat ini identitas dari Prahapch dan juga Cacai itu masih belum diketahui karena kasusnya masih diselidiki oleh penyidik. Gak tahu nih orangnya siapa, tapi yang jelas aliran dana juga banyak masuk dari mereka terhadap si perempuan ini. Nah, lalu siapa sebenarnya si perempuan yang bernama Aranyawan ini dan apa hubungannya dia dengan Tama Ciranuat? Nah, jadi geng udah jelas kalau Aranyawan ini adalah kaki tangan atau setidaknya merupakan rekan yang bekerja sama dengan Tama Ciranuat dan tapi hubungannya kayaknya jauh lebih dekat dibandingkan itu. Mereka ini sudah saling mengenal sejak tahun 2020 dan Aranyawan ini adalah seorang anak yang tinggal di sekitar kuil dan belajar di Wat Riking. Nah, dia juga aktif mengikuti kegiatan secara sukarela selama duduk di bangku SMP sehingga bisa bertemu dan berbicara langsung ya dengan pemuka agama si Tama Ciranuat ini yang merupakan kepala kuil di saat itu. Nah, ketika Aranyawan ini sudah dewasa dan mulai bekerja, dia merasa uang yang dia dapatkan dari pekerjaannya dia itu enggak mencukupi. Sehingga dia meminta bantuan kepada Tama Ciranuat dengan meminjam uang awalnya. Nah, uang yang dia pinjam itu awalnya itu cuma 50 sampai 60.000 bat. Tapi setelah itu mereka mulai saling bertukar nomor dan ID line ya. Mulai apa? Tukar kontak. Dan sejak itulah aliran uang mulai masuk ke arah nyawan. Jadi Aranyawan ini menjadi orang kepercayaan dari tama Ciranuat. Dan kabarnya juga ada bukti chat yang menunjukkan sepertinya mereka berdua ya pacaran gitu, Geng. Nah, padahal ya ini kan dilarang gitu ya. Tama Ciranuat ini kan seorang biksu. Enggak boleh ada hubungan percintaan. Nah, tapi di belakang itu dia tetap melakukan hal tersebut. Ya, semuanya demi uang, semuanya ya apa ya? Kayak ya dia membelot lah, tidak menjalankan perintah agama sesuai dengan yang diperintahkan. Terus, Geng, enggak cuma itu. Yang lebih mencengangkannya adalah Ara nyawan ini ternyata adalah seseorang yang terlibat bisnis judul. Nah, gimana bisa nih dari kuil ya kan pemuka agama tapi manjangnya atau aliran dananya malah ke bisnis judul. Dari penyelidikan melalui aliran uang yang dikirimkan oleh Tama Ciranuat ditemukan ada 11 transfer kepada Aranywan dengan total sekitar 63 juta bat. Dan ditemukan juga kalau rekening Bank Tama Ciranuat juga terhubung dengan rekening berbagai jaringan judul yang mana peredaran uangnya sangat besar yang kalau ditotal secara keseluruhan jumlahnya mencapai lebih dari 500 juta bat. Nah, selain itu ada lebih dari 10 orang lain yang juga memiliki hubungan keuangan langsung dengan Tamama Ciranuat. Beberapa di antara 10 orang tersebut adalah biksu. Gila ya, biksu juga ikut judul loh. Nah, lalu pertanyaannya apakah tama Ciranuat ini tahu kalau arah nyawan ini berhubungan dengan judul ya kan? Apakah dia cuma terjebak? Nih jawabannya dia tahu geng. Ya, masa enggak tahu orang pacarnya gitu kan. Jadi ketika Tama Ciranuat ini memberikan uang kepada Aranywan, dia tahu kalau uang-uang itu dialirkan ke judul dan dikelola oleh si Aranywan. Ini memang sengaja mau dilipat gandakan. Nah, di akhir tahun 2024 hubungan mereka berdua tuh agak memburuk nih. Agak apa ya? Kayak putus nyambung gitu. Dikarenakan adanya perselisihan mengenai uang yang harus ditransfer ke rekening judul. Nah, Tama Ciranuat di saat itu bilang kalau dia udah enggak memiliki cara lagi untuk menyediakan uang-uang ini, dia gak tahu lagi gimana mau cari uang untuk dialirkan atau diputarkan ke judul di saat itu. Sampai pada akhirnya di bulan Desember tahun 2024, Aryawan dan pacarnya yang lain ya itu ditangkap karena terjerat kasus judul ini. Dia pun di saat itu langsung meminta bantuan kepada Tama Ciranuat untuk bisa dibebaskan dari penjara. Namun dengan cara mengancam. Di saat itu arah nyawan ini udah enggak punya pilihan, Geng. dia dan pacar dia yang sebenarnya ya yang di luar kuil itu kan udah masuk kantor polisi nih. Nah, dia ancamlah si Tama Ciranuat ini. Dia bilang, "Lu tolong bebasin gua enggak. Kalau lu gak bebasin gua, ya gua sebar video enggak senonoh kita." Waduh, ancamannya gila nih. Bayangin tuh kalau misalkan Aryawan menyebarkan video itu seorang pemuka agama atau seorang biksu pemimpin kuil ada video gitu-gituan. Kacau kan? Tapi geng sebenarnya padahal ya video itu ya yang diancam oleh si Aryawan ini itu udah ditemukan oleh polisi. Polisi sudah menyita terlebih dahulu e video tersebut. Nah sementara itu Tama Ciranuat yang mendengar ancaman tersebut dia kan enggak tahu nih kalau videonya udah diita sama polisi. Nah dia takut ancaman itu bakal merusak reputasinya dia. Dan di saat itu tama Ciranuat yang enggak tahu kalau video itu udah ada di tangan polisi. Dia akhirnya menuruti permintaan arah nyawan. Sebab ya enggak lama setelah tertangkap si Aranywan ini dan dia mengancam si Tama Ciranuat, Tama Ciranuat langsung mengurus untuk pembebasan terhadap Aranyawan dan Aranyawan pun dibebaskan. Nah, jadi ya karena dia punya kuasa juga ya sebagai seorang e pemuka agama kayaknya dia punya jalan lah untuk menyelamatkan si Aranywan ini. Dari tindakan kejahatan penggelapan ini, Geng, kalau ditotal semuanya tama ciranuat itu sudah menggelapkan lebih dari 300 juta bat dari dana kuil. Dia kemudian akhirnya menyerahkan diri kepada biro investigasi Pusat pada tanggal 15 Mei kemarin setelah mendengar berita kalau petugas sedang bersiap untuk melakukan penggerebekan di kuil tersebut karena apa yang dia lakukan ini sudah mulai tercium. Nah, ada seorang biksu dari Wat Ring yang bilang kalau dia gak percaya sebenarnya Tama Ciranuat ini melakukan aksi penggelapan dana. Alasannya karena ada 4 sampai 5 rekening yang mana rekening tersebut diawasi juga oleh dia dan ya dia enggak menemukan adanya yang aneh mengenai aliran uang dari rekening tersebut. Dan oleh karena itu si biksu ini ya yang mengawasi 4 sampai 5 rekening kuil ini sangat yakin kalau uang ratusan juta yang ditransfer oleh Tama Ciranuat kepada Aranywan tadi itu bukan hasil penggelapan, tapi dia bilang kalau itu adalah uang pribadinya Tama Ciranuat bukan dari hasil penggelapan dana kuil. Nah, tapi sementara itu arah nyawan diketahui juga udah tertangkap duluan dan setelah itu enggak lama kemudian Tama Ciranuat malah menyerahkan diri. Dia mengakui semua perbuatannya. Namun sementara itu, Aranyawan yang sebelumnya udah ditangkap terus dibebaskan. Nah, ternyata ditangkap lagi enggak lama setelah Tama Ciranuat menyerahkan diri dan mengakui semuanya. Arah nyawan di saat itu ditangkap di sebuah kamar yang berada di kondominium yang berlokasi di Kota Pataya, Distrik Bang Lamung, Provinsi Konburi. Nah, di saat ini masih dilakukan upaya pendalaman penyelidikan untuk mengetahui lebih lanjut di mana aja aliran uang dari dana kuil yang digelapkan lalu dialirkan ke judul ini. Nah, dari kasus ini kita bisa lihat ya, Geng, kalau kuil itu memiliki uang yang begitu banyak dari dana umat. Jadi enggak semerta-merta karena para biksu hidup sederhana, terus keuangan kuilnya juga seadanya. Enggak. Banyaknya uang yang dimiliki oleh kuil juga dikarenakan adanya subsidi dari pemerintah Thailand mengingat negara tersebut mayoritas penduduknya adalah agama Buddha. Tapi sayangnya subsidi yang diberikan ini justru dimanfaatkan oleh oknum dari tokoh agama Buddha yang tidak bertanggung jawab. Bahkan ada pejabat dari pemerintahnya yang melakukan kerja sama dengan oknum dari tokoh agama Buddha ini. Semuanya demi keuntungan. Nah, karena kita membahas nih tentang Tama Ciranua tadi, si pemimpin kuil atau pemuka agama Buddha yang melakukan penggelapan dana untuk bisa membiayai judul gitu ya. Nah, sekarang kita bakal membahas mengenai regulasi pendanaan kuil Buddha di Thailand nih. Mengapa kuil di Thailand itu rentan menjadi sumber korupsi? Apakah memang sebanyak itu uangnya namun penanganannya tidak ketat? Sekarang kita bahas. Jadi, Geng, untuk melihat lebih jauh mengenai bagaimana regulasi pendanaan kuil di Thailand, kita tuh harus tahu dulu nih apa nih status kuil-kuil yang ada di negara tersebut. Nah, berdasarkan Undang-Undang Sangha dan amandemen yang dilakukan selanjutnya di negara ini, itu dinyatakan bahwa sebuah kuil adalah badan hukum dan kepala kuil bertindak sebagai wakil resmi kuil. Salah satu tugas kepala kuil adalah memelihara kuil itu, mengatur segala kegiatan dan mengelola aset keagamaan kuil secara baik. Nah, semua itu harus dijalankan sesuai dengan metode yang ditetapkan dalam peraturan menteri. Nah, di peraturan menteri disebutkan mengenai pemeliharaan dan pengelolaan aset keagamaan kuil yang dibuat pada tahun 2021. Di dalam peraturan tersebut terdapat beberapa poin penting, Geng. yaitu yang pertama nih ya, aset yang diterima sebagai milik umum kuil harus didaftarkan secara resmi. Kalau asetnya itu harus dijual atau dilepas, ya karena alasan apapun maka harus dicatat dan dijelaskan alasan pelepasannya. Terus yang kedua nih, Geng. Kalau uang milik kuil melebihi 100.000 bat, maka harus disimpan dalam bank atas nama kuil atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Dewan Tertinggi Sangha Thailand. Terus yang ketiga, kepala kuil harus menunjuk pengurus atau manajer manfaat kuil untuk membuat catatan keuangan, pemasukan, dan pengeluaran kuil. Setiap akhir tahun harus ada tuh laporan keuangan yang mencatat pemasukan, pengeluaran, dan saldo akhir dari dana kuil tersebut. Dan kepala kuil juga bertanggung jawab dalam memeriksa dan mengawasi agar semuanya berjalan dengan benar dan tertib. Nah, jadi peraturannya cukup jelas gitu ya. Mirip-miriplah dengan peraturan-peraturan di dalam rumah ibadah lain gitu kan, masjid, gereja tetap ada pengurusnya. Terus sebagian besar rekening bank milik kuil itu diawasi oleh kepala kuil dan dewan pengurus kuil. Mereka itu harus melaporkan pemasukan dan pengeluaran kepada pihak yang lebih tinggi seperti kantor agama Buddha atau pejabat yang ditunjuk. Nah, oleh sebab itu mengambil uang dari rekening kuil ke rekening pribadi nih kayak si Tama Ciranua tadi ya itu sebenarnya enggak bisa dilakukan oleh si kepala kuil sendirian. enggak bisa dilakukan oleh dia sendirian. Biasanya untuk bisa menarik uang dari rekening kuil, kepala kuil dan dewan pengurus harus berdiskusi terlebih dahulu mengenai tujuan penggunaan uang itu. Misalnya untuk bayar listrik, air, atau biaya perbaikan dan pembangunan ee kuil gitu. Nah, kalau ini enggak. Dia main bypass aja. Dan kepala kuil seharusnya menandatangani persetujuan lalu menyerahkan kepada petugas yang sudah terdaftar di bank untuk melakukan penarikan uang tersebut. Nah, kalau penjelasannya kayak gini ya, apa kemungkinan si Tama Ciranuat ini juga dibantu oleh pengurus kuil yang lain untuk sama-sama korupsi atau sama-sama menggelapkan uang tersebut? Dan ini masih menjadi tanda tanya karena masih diselidiki oleh polisi, Geng. Terus, Geng, setiap kuil itu juga harus menyimpan bukti pembayaran seperti kuetansi atau bon-bonnya gitu yang menunjukkan siapa yang menerima uang dan untuk apa uang tersebut digunakan. Dan hal ini disebabkan karena setiap tahunnya kantor agama Buddha setempat akan melakukan pemeriksaan atau audit. Dan karena ada aliran uang yang mencurigakan di rekening Tama Ciranuat sejak tahun 2021, nah inilah yang menjadi sebuah kebingungan di tengah-tengah masyarakat. Kalau akan selalu ada pemeriksaan setiap tahun di kantor agama Buddha, kenapa Watri King bisa lolos? Kenapa Wat Riking ini ketika diperiksa Tama Ciranuat enggak pernah ketahuan? Nah, itu orang-orang jadi bingung tuh. Padahal di Thailand sendiri ya berdasarkan informasi dari laporan tindakan terhadap resiko pencucian uang yang dituliskan oleh Tanatib Sri Swanaket yaitu seorang peneliti senior dari Institut Penelitian Pembangunan Thailand atau TDRI. Nah, dia ini menemukan kalau Thailand itu punya lebih dari 40.000 kuil yang terdaftar di kantor agama Buddha dan kuil-kuil tersebut tersebar di seluruh wilayah Thailand. Dan kuil Buddha ini menerima subsidi dari pemerintah untuk mendukung tiga jenis kegiatan agama Buddha, yaitu untuk memugarkan, memperbaiki candi, dan untuk mempelajari Dhamma bagi para bhikku dan samanera untuk kemudian mereka menyebarkan agama Buddha. Setiap kuil itu harus menyerahkan proposal proyek dan anggaran untuk kemudian disetujui oleh kantor anggaran. Jadi, pemerintahnya support banget secara materi, secara uang. Dan dari data yang dikumpulkan oleh Biro Anggaran dari tahun 2013 sampai dengan 2019 itu ditemukan nih anggaran yang digunakan untuk mendukung kuil di Thailand rata-rata lebih dari 3 miliar bat. Wah, bantuan dari pemerintah untuk rumah ibadahnya enggak main-main. Dan selain subsidi yang diberikan oleh pemerintah, kuil-kuil Thailand juga memiliki banyak kegiatan yang berhubungan dengan uang tunai. perputaran uangnya tinggi di rumah ibadah yang satu ini. Nah, menurut studi tentang manajemen keuangan kuil di Thailand oleh Nada Cantasam yang melakukan survei terhadap 490 kuil di Thailand pada tahun 2012 itu ditemukan bahwa pendapatan rata-rata kuil adalah 3,24 juta bat per tahunnya. Cukup besar. Dan banyaknya kuil yang ada di Thailand sangat berpotensi menjadikan kuil sebagai alat untuk melakukan kejahatan, terutama di dalam aksi pencucian uang. Jadi apa ya? Kayak uang sedekah. Tapi sebenarnya bukan buat sedekah. Jadi uang hasil korupsi dicuci ke itulah kuil-kuil itu. Yayasan-yayasan mereka. Wah gila banget ya. Ternyata gua kira di Konoha doang ternyata di negara-negara lain ada juga yang kayak gini. Subsidi yang diberikan oleh pemerintah ini bisa menjadi celah yang sangat besar untuk korupsi. Selain itu juga tanpa subsidi dari pemerintah, kuil juga memiliki kegiatan yang melibatkan uang dengan jumlah besar nih ya. Salah satunya adalah uang umat atau uang sedekah dari para umatnya gitu kan. Dan dari laporan TDRI itu menyatakan meskipun adanya peraturan menteri yang mengharuskan kuil untuk menyerahkan laporan pendapatan dan pengeluaran ke kantor agama Buddha setiap bulannya, tapi dalam praktiknya enggak dikerjakan. Banyak kepala kuil yang enggak punya ilmu mengenai akuntansi atau gimana cara mengelola uang. Sehingga akhirnya mereka memberikan wewenang kepada panitia kuil atau pengurus keuangan kuil untuk mengelola pembukuan dan mengeluarkan uang atas nama kuil. Ini menjadi celah juga nih untuk terjadinya praktik korupsi. Dan selain itu, peraturan kementerian tadi enggak mengharuskan kuil untuk mempublikasikan laporan keuangan kepada publik. Nah, jadinya enggak transparan. Dan kondisi ini menjadi kesempatan yang dimanfaatkan bagi pengurus kuil untuk menyalahgunakan uang tersebut. Jadi ditilp sedikit demi sedikit. Ada studi lain yang dibuat pada tahun 2023 oleh College of Innovative Business Administration and Akuntansiy Durakit Pundit University yang mana mereka melakukan wawancara dengan 20 kuil dan menemukan fakta bahwa sebagian besar kuil itu tidak melakukan pembukuan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi. Dan selain itu ada pemeriksaan kalau ternyata kinerja kuil kepada pemerintah itu rendah banget. Dikasih uang doang tapi laporannya enggak jelas. Nah, aksi penggelapan dana kuil ini juga pernah terjadi, geng sebelumnya di tahun 2013 yang mana ketika itu ada seseorang yang bernama Luang Punen Kam yang bernama asli Wirapon Suppon itu mendirikan sebuah wihara yang bernama Wihara Kantitam di Desa Yang, Distrik Kantarom, Provinsi Sisaket pada tahun 1999. Nah, dia menggalang dana donasi untuk membangun replika patung Buddha Zamrud, membangun rumah sakit dan lain-lain. Nah, tapi di tahun 2013 terungkap nih kalau dia memindahkan dana donasi ke rekening pribadinya dia dan menggunakannya untuk gaya hidup mewah, membeli rumah, tanah, mobil, serta jet pribadi. Huh. Gila enggak tuh? Ada enggak ustaz di sini atau pemuka agama di sini udah sampai beli zat pribadi? Belum ada. Nah, ini pemuka agama yang ada di Thailand nih. Sampai bisa beli zat pribadi, Boy. Dan selain itu juga dia terlibat di dalam kasus penculikan yang di bawah umur. Nah, terus selanjutnya Majelis Sangha pengurus agama Buddha di Provinsi Ubon Racani dan Sisaket itu memutuskan untuk menjatuhkan sanksi berat kepada dia sebelumnya. Ya, luang punen kam ini melarikan diri ke Amerika dan kemudian ditangkap serta dikembalikan ke Thailand lagi pada tahun 2017. Nah, dia di sana di saat itu ya diadili atas tuduhan penipuan publik, pelanggaran undang-undang komputer, pencucian uang, dan penculikan anak. Pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman penjara selama 20 tahun buat dia. Nah, jadi enggak main-main kasusnya. Nah, tapi enggak cukup sampai di situ. Ada lagi, Geng, pada tahun 2018 di mana pada saat itu oknum pejabat dari Departemen Agama itu sudah menghubungi para kepala kuil di setiap provinsi. Nah, dia menawarkan dukungan keuangan terhadap kuil di Thailand. Tetapi kuil ini harus menuliskan proyek untuk meminta anggaran. Jadi kayak apa ya ngirim proposal lah gitu. Dan saat petugas menyetujui, kuil harus membayar suap kepada oknum pejabat tersebut. Jadi kayak kayak ginilah ya. Contohnya misalkan gua pejabat nih, eh kalian bikin proposal dong, ajuin ke kantor gue nanti keluar dananya. Tapi ya gua potong sekian persen. Nah gitu tuh cara mainnya tuh. Nah, akhirnya nih ditemukanlah adanya korupsi di dalam suap kuil di tahun 2014 sampai dengan 2018 dengan nilai kerugian sebesar 270 bat yang berhubungan dengan 40 kuil di seluruh Thailand. Nah, di dalam hal ini kan kuilnya juga bermain berarti kan mau-maunya bikin proposal duitnya cair terus dikasih ada bagian buat si pejabat itu. Contoh dari kasus ini itu adalah Wat Saket ini sebuah kuil besar dan terkenal di Bangkok. Ditemukan adanya anggaran besar yang sudah disetujui untuk proyek pelatihan moralitas. dan penyebaran agama Buddha. Nah, tapi uang itu enggak benar-benar dipakai untuk kegiatan tersebut. Dan dari hasil pemeriksaan aliran uang di rekening kepala kuil ditemukan ada lebih dari 130 juta bat dan 69 juta bat ditransfer ke orang lain. Nah, jadi memang sudah banyak kasus-kasus yang terjadi di kuil-kuil ini. Kasus penggelapan dana dari pihak kuil yang mana hal tersebut mungkin memang udah biasa dan udah banyak terjadi. Nah, itu baru tiga kasus doang ya yang kita cerita tuh termasuk dengan kasus tama ciranuat yang pertama tadi yang terungkap. belum kasus-kasus lain yang masih belum terungkap. Dan hal ini menjadi perhatian bagi pemerintah Thailand sekarang agar uang yang seharusnya diperuntukkan untuk keagamaan enggak dinikmati untuk kepentingan pribadi para pemuka agama, apalagi sampai untuk bisnis judul. Kacau banget. Itu dia, Geng, pembahasan kita kali ini mengenai seorang biksu di Thailand yang melakukan penggelapan dana kuil yang aliran uangnya terdeteksi masuk ke rekening judul. Gimana, Geng, menurut kalian tentang pembahasan kita kali ini? Coba tinggalkan komentar di bawah. [Musik]