THE WORLD COIN APP IS DANGEROUS! SCAN YOUR RETINA TO GET MONEY & MANY INDONESIANS ARE BEING FOOLED!
-KF7yhlKzsA • 2025-05-09
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Geng, kalian ingat enggak sama fenomena
koin jagat atau jagat koin? Apa ya? Koin
jagat apa jagat koin waktu itu ya? Rame
banget kan? Kita udah sempat bahas nih
kontennya yang ini. Nah, sebuah aplikasi
yang waktu itu sempat viral di Indonesia
yang ngebuat banyak orang mau itu anak
sekolah, kuliahan, kantoran sampai
dengan abang-abang ojol itu ikut berburu
koin yang bisa ditukarkan dengan hadiah
sampai ratusan juta. Nah, sekarang
tiba-tiba muncul fenomena yang sama atau
mirip-mirip dengan koin jagat ini atau
jagat koin ini. Nah, cuma Geng ini bukan
menggunakan koin, tapi justru
menggunakan hal yang lebih gila lagi,
yang lebih apa ya? Gua bisa bilang ini
kalau orang yang ngikut ini tuh
tergolong orang yang maaf bodoh. Karena
kenapa? Sistemnya itu adalah pakai scan
dari retina mata. Scan dican, difoto,
diambil retina mata kalian. Nah,
platform ini bernama World App dan
seperti Jagat Coin, World App ini itu
menawarkan bagi siapa saja yang mau dian
retinanya bisa mendapatkan uang.
Lagi-lagi iming-imingnya uang. Dan untuk
orang-orang di sebuah negara yang
perekonomiannya sedang susah, ya udah
pasti eh ini adalah hal yang
menggiurkan. Nah, karena itulah enggak
heran ternyata banyak orang yang jadi
ngantri untuk scan retina ya mengikuti
syarat dari World App ini. Nah, jadi
fenomena ini tuh kayak mengulang
viralnya Jagat Coin kemarin. Orang awam
pasti senanglah bisa mendapatkan uang
dengan mudah. Padahal sebenarnya tanpa
mereka ketahui scan retina yang mereka
lakukan untuk mendapatkan uang itu
adalah sesuatu yang berbahaya bagi
mereka. Karena kenapa? Segala hal yang
melekat di tubuh kita itu merupakan
identitas pribadi dan merupakan privacy
kita. Gua contohin nih ya, sidik jari,
terus air liur, rambut, bahkan retina
mata sekalipun. Nah, itu enggak boleh
ada orang yang menyimpan datanya, yang
menyimpan kopiannya itu enggak boleh,
Geng. Nah, kalau itu semua diserahkan
secara cuma-cuma tanpa kita tahu
konsekuensinya, ya kayak yang terjadi di
World App ini, nah data kita bisa
disalahgunakan oleh orang yang tidak
bertanggung jawab dan fenomena ini pada
akhirnya menimbulkan kekhawatiran baru
di Indonesia. emang ada-ada aja ya warga
negara kita ini ya faktor dari kebutuhan
ekonomi juga sih. Mau mau kita bilang
apa juga ya penawarannya duit gitu
orang-orang bakal terpengaruh dengan hal
itu. Dan karena ini seperti modus untuk
mendapatkan identitas dengan iming-iming
uang ya makanya dianggap ini sangat
berbahaya. Dan di video kali ini gua
bakal membahas fenomena ini, Geng. Dan
seberapa bahayanya scan retina ini.
Apakah ini bisa mengancam diri seseorang
atau ee mungkin ada hal lain? Nah, untuk
menjawab pertanyaan tersebut kita bakal
langsung masuk ke dalam pembahasan
secara lengkap. Dan gua harap nih kalian
menonton video ini sampai selesai
sebagai edukasi agar kalian tidak eh
terlalu mudah gitu ya percaya dengan
hal-hal baru kayak gini. Oke, halo geng.
Welcome back to Kamar Jerry.
[Musik]
Geng geng, kita langsung masuk ke dalam
pembahasan fenomena scan retina yang
menghasilkan uang.
Jadi, Geng, Indonesia itu digemparkan
dengan sebuah aplikasi yang bernama
World App yang menawarkan uang dalam
bentuk kripto, tapi ada syaratnya. Yaitu
orang-orang yang mau mendapatkan uang
tersebut harus meng-scan retina mata
mereka. Ketika mendengar bisa
mendapatkan uang dengan mudah, ya siapa
yang enggak mau? Dengan iming-iming
itulah banyak orang-orang yang jadi
tertarik, Geng. Fenomena ini bisa kalian
lihat terjadi di Depok dan Kota Bekasi.
Nah, ini mana nih teman-teman yang dari
Depok dan Kota Bekasi? Mungkin ada yang
nonton video ini boleh berbagi
informasi. Nah, bagi siapa aja yang mau
untuk mendapatkan uang dengan cara scan
retina ini, mereka harus men-download
aplikasinya dulu, yaitu Word App. Dan
biasanya kan ada beberapa aplikasi yang
membutuhkan ee KTP ya, membutuhkan data
KTP ketika mau registrasi. Nah,
sementara World App ini itu enggak
perlu, Geng. Jadi para penggunanya cuma
perlu untuk mengisi nama, tanggal lahir,
dan lain sebagainya. Nah, nanti kalau
sudah daftar, nah si penggunanya bisa
mengakses fitur yang memungkinkan mereka
bisa mengetahui lokasi-lokasi tempat
untuk bisa melakukan scan retina itu.
Nah, di Depok itu terletak di Jalan
Margonda. Sementara di Kota Bekasi
menurut informasi yang beredar ada dua
lokasi, yaitu di Jalan Raya Narogong,
Rawalumbu, dan juga Ampera serta Bekasi
Timur. Tapi geng, ada juga yang berada
di Kabupaten Bekasi, tepatnya di Ruko
Grand Boulevard, Desa Pusaka Rakyat
Tarum Jaya. Di bangunan yang dijadikan
kantor itu hanya tertulis world aja ya,
tulisan world dunia. Nah, viralnya World
App di Indonesia ini enggak cuma dari
mulut ke mulut, Geng, tapi juga terbantu
karena beberapa contonent kreator yang
ikut membuat konten soal World App ini.
Bahkan sampai ditunjukkan ketika mereka
melakukan scan retina. Nah, ini
menyesatkan banget nih ketika ada
beberapa contonent kreator membuat
promosi tentang aplikasi ini. Nah,
makanya enggak heran kalau jadi makin
banyak orang yang tergiur untuk ikutan.
Salah satunya adalah seorang warga yang
tertarik untuk scan retina, yaitu warga
asal Bekasi yang bernama Mary. Dia ini
mendapatkan informasi dari anaknya dia
yang laki-laki dan dia pun memutuskan
untuk melakukan scan retina ini pada
bulan April kemarin. Satu hari setelah
mendaftar di World App, dia datang ke
salah satu kantor yang dijadikan sebagai
tempat buat scan retina.
Nah, saya ke sini jam jam .00 malam.
Jam malam waktu saya kan ada jam-jamnya.
Nah, datanglah dia ke sana tuh ucuk-ucuk
dengan di dalam hatinya tuh duit duit
duit duit duit
duit. Datang dia ke sana dan Mary ini
mengaku dia menjalani proses scan retina
selama beberapa waktu bersama dengan
orang. Jadi ada seilan orang yang
ngantri ya. Jadi ada se orang yang di
kepalanya sedang ada duit duit duit duit
di saat itu. Proses scannya juga
dilakukan menggunakan kamera khusus
berbentuk bola yang disebut dengan ORP
atau ORB tulisannya. Walaupun Mary ini
ikut melakukan scan retina, sebenarnya
tuh dia penasaran gimana bisa hanya
dengan scan retina terus kita dikasih
uang cuma-cuma. Uangnya dari mana?
Apakah dari pemerintah atau gimana? Nah,
karena dia penasaran, dia pun nanya nih
sama salah satu staf yang ada di tempat
tersebut atau di kantor itu. Nah, staf
ini menjawab, "Kalau uang yang dibagikan
itu berasal dari Rusia, katanya, karena
Rusia mau membagikan uang ini ke
masyarakat dari mana aja asalkan ya mau
nge-scan retina." Nah, yang jadi
pertanyaannya scan retina atau foto
retina orang-orang Indonesia ini buat
apa dikumpulkan oleh Rusia? Aneh kan?
Terus geng, ketika si Mary ini
mendapatkan penjelasan ini, dia enggak
naruh curiga sama sekali dan dia
langsung melakukan scan retina. Udah
nanya-nanya nih, terus dijawab Rusia
gitu ya dari Rusia. Bukannya curiga
malah oh dari Rusia. Ya udah, kurang
lebih kayak gitu kayaknya. Terus dia
langsung scan retina. Setelah melakukan
hal itu, Mary mendapatkan koin digital
yang bernama World Coin yang langsung
bisa dia cairkan dalam bentuk uang
senilai
R65.000. Wah, lumayan banget nih. Nah,
tapi pencairannya itu enggak langsung di
hari itu, Geng. Jadi, Mary baru bisa
mendapatkan uang itu keesokan harinya.
Jadi, ada prosesnya, ada proses
withdraw-nya lah, gitu. Mendapatkan uang
dengan begitu mudah tentunya membuat
Mary senang banget dan dia langsung
menceritakan hal ini ke orang-orang
termasuk ke suaminya serta
tetangga-tetangganya. Mendengar cerita
dari Mary, suaminya, tetangganya tergiur
juga dan mereka langsung datang ke
lokasi itu untuk scan retina juga. Tapi
ternyata enggak semuanya beruntung dan
bisa mendapatkan uang sejumlah yang Mary
dapatkan. Jadi, beberapa dari tetangga
Mary itu enggak menerima imbalan yang
dijanjikan meskipun mereka udah
mendaftar di World App ini dan melakukan
scan retina. Nah, gara-gara hal itu ya
di antara mereka ada yang gak dapat
uang. Nah, mereka memutuskan untuk
mendatangi kantor World App untuk
menagih uang yang dijanjikan. Jadi kayak
mereka ngomong, "Ini si Mary kok udah
dican matanya dapat duit, kita udah
nge-scan juga kok enggak ada duitnya
gitu." Nah, tapi masih enggak diketahui
nih, Geng, apakah mereka bisa
mendapatkan uang tersebut atau enggak
karena enggak ada informasi lebih lanjut
mengenai hal ini. Jadi, bisa dikatakan
kayaknya enggak semua orang bisa
mendapatkan uang dari scan retina yang
mereka lakukan. Alasannya gua gak tahu
ya, entah karena mungkin ada kriteria
tertentu atau justru Mary tadi itu cuma
pancingan. Jadi gara-gara Mary ngomong
ke orang-orang bisa dapat duit, nah
orang-orang jadi tertarik terus
ngelakuin secara mandiri secara
cuma-cuma. Akhirnya ternyata ya mereka
cuma jadi korban dari hasil pancingan si
World App ini terhadap Mary, gitu. Nah,
makanya mereka enggak dapat duit. Ya
mungkin bisa jadi kayak gitu kali ya.
Terus di cerita yang lain, Geng, ada
seorang warga asal Depok yang namanya
David. Menurut pengakuan si David ini,
kantor World app yang ada di Depok itu
udah buka sejak pertengahan bulan
Ramadan atau bulan Maret kemarin. Dan
ketika itu dia datang ke sana dan staff
yang ada di sana langsung menjelaskan
mengenai cara memakai World App ini. Dan
setelah mengisi data pribadi serta
melakukan scan retina, si David ini
nunggu selama sehari supaya uang yang
dijanjikan itu bisa cair yang mana uang
tersebut bisa ditarik ke dana atau
rekening aplikasi. Di saat itu dia
mendapatkan uang sebesar Rp200.000. Nah,
beda banget sama Mary ya. Mary itu
R65.000 lebih besar gitu. Dan pihak
WhatsApp itu menjanjikan kalau dia bakal
mendapatkan uang setiap bulannya. Jadi,
udah kayak digaji gitu, Geng. Dan
ternyata benar aja, Geng. Sebulan
setelahnya saldo rekeningnya ditambah
lagi jadi Rp50.000 sehingga totalnya
jadi
Rp250.000. Cuma David di saat itu
mengaku belum mencairkan uang tersebut
dari rekeningnya, Geng. Jadi, masih
disimpan. Nah, itu udah dua kasus tuh.
Udah dua cerita tuh. Ada lagi nih cerita
yang lain. Ini berasal dari Bekasi yang
dialami oleh seseorang yang bernama
Devy. Dia juga tergiur untuk scan retina
dan dia sendiri mengaku sengaja datang
ke kantor World App agar bisa
mendapatkan uang dari scan retina yang
sudah dia lakukan. Devi ini diberikan
jadwal untuk scan retina sekitar jam
12.00 siang. Dia bilang kalau dia itu
mendapatkan informasi mengenai hal ini
dari
Facebook. Gila nih ya, Facebook tuh
banyak banget info-info aneh. Termasuk
kejebak-kejebak judul ya kan,
kejebak-kejebak ee jadi pekerja Myanmar
tuh di Facebook juga. Makanya gua takut
banget ya kalau orang-orang gaptek tuh
masih main Facebook kayak gini-gini nih.
Terus geng, awalnya ya si Devy ini dia
itu enggak langsung tertarik, Geng. Tapi
justru dia ragu karena khawatir data
pribadinya dia bakal disalahgunakan oleh
oknum yang gak bertanggung jawab
awalnya. Tapi ternyata udah banyak orang
yang nyoba bahkan orang-orang
terdekatnya dia seperti tetangganya dan
teman-temannya yang benar-benar bisa
dapat uang setelah melakukan scan
retina. Nah, gara-gara itu tuh Devy
akhirnya tergoda buat ikut coba. Nah,
selain Devy, ada seorang pengemudi ojol
yang namanya Udin yang ikut mendatangi
ruko yang sama yang dijadikan untuk
kantor World App ini. Datang ke sana tuh
lagi duit. Kalau si Bang Udin ini dia
ngaku kalau kedatangan dia di sana saat
itu adalah yang kedua. Setelah
sebelumnya dia mendapatkan uang setelah
melakukan scan retina. Menurut ceritanya
Udin, dia itu baru mendaftar di World
App ketika mengunjungi kantor world ini.
Dan pada saat dia mendaftar, Udin ini
enggak mengalami kendala karena cukup
sederhana. Ya, gampang banget, simpel
caranya ya. Pokoknya dapat duit itu
mudah, hidup lu itu lancarlah gitu ya.
Cuma scan-san retina cair gitu. Nah,
tapi setelah itu dia dikatakan harus
menonton sebuah video dulu geng. Barulah
dia akhirnya melakukan scan retina. Dan
enggak lama dari itu, Udin itu dapat
uang tunai dalam jumlah ratusan rib.
Jadi, jumlahnya itu ya flat di angka
ratusan ribu ya, enggak ada sampai
jutaan. Dan Udin sendiri itu gak tahu
secara pasti apa yang bakal terjadi
terhadap data pribadinya dia setelah
melakukan scan itu. Bahkan dia tuh
sempat merasa takut juga awalnya. Cuma
karena dia membutuhkan uang untuk
kebutuhan hidup ya akhirnya dia enggak
peduli. Dia coba peruntungan aja dengan
melakukan scan retina ini. Ya, kayak
yang gua bilang tadi, Geng. Siapa yang
enggak tertarik dengan easy money kayak
gini ya kan? Nah, kalau dilihat dari
cerita orang-orang ini semuanya itu
karena mereka ingin mendapatkan uang dan
gua tahu demi uang semuanya pasti bakal
e dilakukan lah gitu ya. Di Indonesia
sendiri kita sudah bisa lihat ya kan
orang-orang yang mungkin terhimpit
ekonomi mereka sampai mencuri, membegal,
merampok gitu agar bisa makan, agar bisa
mengganjal perutnya. Nah, makanya ketika
ada scan retina kayak gini ya, mereka
menganggap itu enggak penuh resiko, itu
enggak capek gitu. mereka enggak harus
ya berurusan dengan hukum. Tapi
sayangnya mereka enggak pernah tahu
resiko apa yang akan terjadi setelahnya
kalau mereka memberikan scan retina
mereka seperti ini. Nah, mungkin mereka
enggak kepikiran sampai situ, Geng.
Karena yang penting buat mereka adalah
mendapatkan uang untuk makan. Sebelum
lebih jauh membahas mengenai resiko apa
yang akan terjadi, gua mau ngajak kalian
dulu nih, Geng, untuk mengetahui lebih
dalam soal World App ini dan koin crypto
dari World Coin ini. Apa sih World App
ini, Geng? dan siapa sebenarnya pembuat
aplikasi ini dan apa benar scan retina
ini aman digunakan atau sebelumnya
memang udah menuai kontroversi. Nah,
kita bahas sekarang menguak lebih dalam
mengenai World App
ini. Jadi, geng dari tadi gua kan udah
ngomong nih soal World App, tapi gua
belum jelasin apa sih sebenarnya World
App ini dan aplikasi untuk apa dan
gimana bisa mereka punya banyak uang dan
dibagikan ke orang-orang. Nah, jadi geng
World App ini sebenarnya adalah bagian
dari perusahaan yang bernama World yang
didukung oleh Tools for Humanity, yaitu
sebuah organisasi yang berperan dalam
mengembangkan dan menerapkan teknologi
untuk mendukung identitas digital yang
aman dan terdesentralisasi. Perusahaan
tersebut didirikan pada tahun 2019 oleh
Sam Altman eh CEO dari Open AI bersama
dengan dua orang lain yaitu Alex Blania
dan Max
Novenstern. Ada hubungannya nih, Geng.
Ternyata dengan Open AI yang mana saat
ini lagi banyak banget kritikan mengenai
mekanisme pengambilan data oleh AI dan
juga karya-karya oleh AI yang dianggap
melanggar etika. Nah, tapi kita
kesampingkan dulu ya pembahasan itu ya
memang agak mengerikan sebenarnya tapi
kita sekarang fokus dulu ke world app
ini, Geng. Nah, perusahaan world ini
adalah penyedia dompet digital yang
dipergunakan untuk mengelola uang crypto
dan sejenisnya. Nah, perusahaan ini
memiliki empat jenis layanan, yaitu Word
ID, World App, World Coin, dan juga
World Chain. Nah, di sini kita coba
bahas satu-satu nih, Geng. World ID apa
itu? Nah, World ID ini adalah layanan
yang dibuat oleh perusahaan World
sebagai sistem untuk membuktikan kalau
penggunanya adalah manusia asli yang
salah satunya dengan cara meng-scan
retina dari penggunanya. Dan world ID
ini hadir sebagai bagian dari sistem
yang memanfaatkan kecerdasan buatan atau
artificial intelligence yang disingkat
dengan AI. Terus setelah itu ada World
App, yaitu sebuah aplikasi yang sedang
kita bahas ini. Nah, ini aplikasi yang
digunakan untuk menyimpan world ID tadi,
Geng. Jadi, aplikasi ini juga bisa
digunakan untuk aset digital seperti
uang digital. Misalnya ada dolar digital
di sana dengan banyak opsi yang bisa
kita pilih seperti menyetor atau menarik
lewat rekening bank. metode pembayaran
lokal atau melalui agen juga bisa. Dan
pembayaran lewat World App ini juga bisa
dilakukan secara P2P atau peer to peer,
yaitu sistem pembayaran yang
memungkinkan seseorang mengirimkan uang
secara langsung ke orang lain tanpa
perantara seperti bank atau lembaga
keuangan yang resmi gitu. Nah, sistem
kayak gini juga udah sering kita
gunakan, Geng. Di Indonesia ada beberapa
layanan yang menggunakan P2P ini. Kalau
kalian familiar dengan GoPay, Ovo, Dana,
dan juga Shopee Pay. Nah, sama tuh
mirip. Dan World App ini enggak
membutuhkan informasi pribadi apapun
dari penggunanya. Penggunanya pun bisa
memilih untuk mencadangkan kunci atau
terenskripsi ke Google Drive atau iCloud
sebagai pemulihan.
Terus layanan selanjutnya ada world
chain yang disebut sebagai blockchain
yang dibuat untuk manusia sungguhan. Dan
word chain ini dikatakan enggak perlu
ada izin, open source dan dirancang
untuk tata kelola komunitas. Nah,
jaringan blockchain ini diklaim memiliki
beberapa kelebihan, Geng. seperti biaya
gas gratis untuk semua manusia yang
terverifikasi, distribusi untuk semua
pengguna World App melalui aplikasi
Mini, transaksi kripto yang
disederhanakan melalui aplikasi Mini,
terus resistensi SB untuk pengembang
melalui Word ID. Nah, sibel ini sendiri
adalah istilah yang digunakan di dunia
komputer atau blockchain yang merujuk
kepada serangan di mana satu orang
menciptakan banyak identitas palsu untuk
memanipulasi sistem. Sementara aplikasi
Mini itu adalah aplikasi ringan yang
berjalan di dalam aplikasi utama tanpa
perlu men-download aplikasi lagi.
Misalkan kayak Gojek, di sana tuh kan
ada fitur kayak Go Food gitu atau Go
Express. Nah, udah jadi anak feature-nya
lah gitu. Kalian klik Gojek, udah ada
poin-poin feature yang lain dan kalian
bisa menggunakan feature-feature
tersebut tanpa harus men-download kayak
GoFood tadi. Sekali klik Gojek ada
GoFood dan kalian tinggal menggunakan
aplikasi GoFood itu. Nah, jadi kurang
lebih penjelasannya kayak gitu.
Dan yang terakhir, Geng, adalah World
Coin yang merupakan mata uang crypto
buatan perusahaan world yang bisa
digunakan di dalam jaringan world. Dan
World Coin ini disebut-sebut itu bisa
diklaim secara gratis untuk setiap orang
yang mendaftar di world dan
terverifikasi bahkan dikatakan bisa
digunakan untuk bayar biaya gas dichain.
Nah, sampai sebagai mata uang virtual di
dalam game. Jadi kalau mau top up,
download-download e game baru bisa pakai
World Coin ini. Perusahaan World sendiri
itu udah ngejelasin distribusi World
Coin ini adalah bola berteknologi tinggi
yang disebut sebagai ORP. Dan ORP ini
memiliki fitur kamera dan sensor canggih
yang gak cuma bisa nge-scan mata, tapi
juga mengambil gambar dengan resolusi
tinggi dari wajah sampai ke tubuh. Nah,
selain itu bisa mendeteksi radar Dopler
tanpa kontak terhadap detak jantung,
terus pernapasan, dan juga tanda-tanda
vital lainnya. Nah, informasi biometrik
ini biasanya digunakan untuk
menghasilkan Iris Hash, yaitu sebuah
kode yang disimpan secara lokal di dalam
OR. Dan menurut World Coin, kode ini
enggak pernah dibagikan tetapi melainkan
hanya untuk memeriksa apakah Iris Hearts
tersebut sudah ada di dalam database-nya
World Coin. Dan untuk melakukan semua
itu, Geng, perusahaan World ini
menggunakan metode kriptografi terbaru
yang melindungi privacy yang dikenal
sebagai bukti tanpa pengetahuan. Nah,
kalau algoritma menemukan kecocokan ya
ini menunjukkan kalau seseorang sudah
mencoba untuk mendaftar. Nah, kalau
enggak orang tersebut sudah lulus
pemeriksaan keunikan dan bisa
melanjutkan pendaftaran alamat email,
nomor telepon, lalu kode QR untuk bisa
mengakses dompet World Coin. Semua
informasi biometri tersebut diklaim
bakal tetap berada di dalam ORP dan baru
akan dihapus setelah di-download dan
setelah perusahaan selesai melatih AI
untuk mengenali retina dan mendeteksi
penipuan. Nah, nanti dihapus setelah itu
katanya kayak gitu. Nah, memang terlihat
canggih ya, Geng. Benar-benar semuanya
bisa diakses secara digital. Tetapi
sebelum ada dan jadi viral di Indonesia,
ternyata ini menuai kontroversi, Geng,
di negara lain. Salah satunya di
Spanyol. Nah, jadi perlu kalian ketahui
ya, sebelum masuk ke Indonesia di
Spanyol ini udah masuk duluan, tapi di
sana ya jadi kontroversi. Banyak orang
yang protes gitu. Nah, ceritanya gimana?
Jadi gini, semuanya itu berawal pada
Desember 2024 kemarin. Ada sebuah
lembaga pengawas perlindungan data
Spanyol yaitu AEPD namanya. Mereka ini
mendesak agar World Coin itu menghapus
data scan retina yang sudah mereka
kumpulkan sejak dimulainya proyek mereka
ini. AEPD ini bilang kalau proyek yang
dibuat oleh perusahaan world ini memicu
masalah privacy di beberapa negara di
Eropa dan sudah melanggar peraturan
perlindungan data umum di Uni Eropa.
Nah, jadi ketahuanlah mereka tuh
nyuri-nyuri data pribadi ya melalui
retina, melalui apalah gitu dari warga
Spanyol. Pada bulan Maret 2024,
Pengadilan Tinggi Spanyol juga
menguatkan larangan sementara terhadap
scan retina yang dilakukan oleh World
Coin. Dan pihak dari World Coin sempat
mengajukan banding tapi ditolak di
pengadilan tersebut. Nah, jadi di
Spanyol mereka ini tidak diterima, Geng.
Nah, kenapa di negara kita justru
diterima? Ya, aneh banget ya. Dan selain
Spanyol, ada negara lain lagi seperti
Hongkong yang di mana kantor komisaris
privacy untuk data pribadi yaitu PCPD
milik Hongkong itu menghentikan seluruh
operasi scan retina oleh Word Coin ini
pada bulan Mei 2024. Investigasi dari
pihak PCPD ini menemukan kalau
pemrosesan data yang dilakukan oleh
Worldcoin itu bersifat berlebihan dan
enggak perlu serta sudah melakukan
scanning terhadap lebih dari 8.000 warga
tanpa adanya transparansi yang memadai.
Nah, lalu setelah Spanyol, Hongkong, ada
lagi nih Jerman. Otoritas perlindungan
data negara bagian Bavaria atau Baylda
itu mengeluarkan perintah korektif
kepada perusahaan Worldcoin bulan
Desember 2024. Nah, sebelumnya di bulan
Mei 2024 sebenarnya World Coin ini sudah
menyatakan mereka sudah menutup sistem
verifikasi lama mereka dan menghapus
semua data biometrik pengguna mereka
yang ada di Jerman. Nah, jadi di banyak
negara mereka ini dikecam, tapi di
negara kita justru dijadikan ladang
cuan. Kacau banget. Ini bahaya parah sih
kalau pemerintah ya enggak cepat tanggap
dengan hal ini. Terus, geng, World Coin
ini juga bermasalah di Brazil. Otoritas
perlindungan Data Nasional Brazil yang
disingkat dengan AD itu sampai melarang
operasi World Coin mulai dari 25 Januari
tahun 2025. Jadi baru-baru ini larangan
itu diberlakukan setelah penyelidikan
yang menemukan pelanggaran terhadap
hukum perlindungan data pribadi di
Brazil termasuk ketidaksesuaian dalam
memperoleh persetujuan eksplisit dari
para pengguna. Jadi ibaratnya nih
aplikasi itu kayak ngejebak penggunanya.
Jadi kayak pas di-install ya ada
beberapa pertanyaan yang membingungkan
yang harus diisi oleh para pengguna. di
ceklis-ceklist ya. Mereka menyetujui
syarat-syarat atau saran dari si
aplikasi ini tanpa mereka pahami apa itu
karena bahasa yang rumit ya, bahasa yang
menjebak gitu, Geng. Nah, terus, Geng
itulah yang menjadi koncern ee
pemerintah Brazil yang membuat aplikasi
World Coin ini sampai dilarang. Nah,
jadi Brazil udah bergerak duluan. Terus
lanjut lagi di Colombia juga sama Badan
Pengawas Industri dan Perdagangan
Colombia pada bulan Agustus 2024. Bahkan
mereka lebih dulu dari Brazil. Nah,
pemerintahnya itu sempat mengingatkan
warganya agar berhati-hati terhadap
kegiatan verifikasi biometrik World
Coin. Nah, mereka malah bukan melarang,
justru mencegah langsung. Dan
beruntungnya mereka tidak sampai
terjadilah di negara mereka. Nah, terus
selanjutnya di India. Bahkan India jauh
dari Colombia lagi, yaitu di Desember
2023 yang mana World Coin itu
mengumumkan pengurangan sementara
aktivitas verifikasi secara langsung di
negara India ini. Nah, langkah ini
dihubungkan dengan tingginya permintaan
pendaftaran. Tapi ada beberapa laporan
yang disebutkan kalau ada tekanan dari
otoritas pemerintah India mengenai isu
regulasi data yang ada di World Coin ini
yang dianggap berbahaya bisa mencuri
data masyarakat. Nah, India aja ya yang
sering kalian ketawain street food-nya
gitu. Pemerintahnya aja sampai melek loh
kalau ini berbahaya. Terus berlanjut
lagi Korea Selatan. Nah, kalau Korea
Selatan ini di tahun 2024 yang mana
Komisi Perlindungan Informasi Pribadi
Korea Selatan itu membuka penyelidikan
pada bulan Februari 2024 setelah mereka
menerima aduan publik mengenai World
Coin ini. Dan komisi mereka ini
menyelidiki 10 lokasi verifikasi retina
World Coin yang kemungkinan sudah
terjadi pelanggaran terhadap
Undang-Undang Perlindungan Informasi
Pribadi dan Pengiriman Data ke Luar
negeri. Jadi dicuri tuh data-data
masyarakatnya, dikirim ke luar negeri,
ke pusat di mana ya aplikasi world ini
berasal. Kemudian ada lagi di Kenya,
Afrika yang mana pemerintah negara
tersebut menghentikan seluruh aktivitas
World Coin bahkan sejak Agustus 2023.
Gila ya, Afrika aja dari 2023 udah
nyetop kita baru terdampak sekarang,
Geng. Nah, berlanjut pada bulan Maret
2024 ya, Menteri Dalam Negeri Kenya itu
bilang kalau larangan tetap berlaku
meskipun adanya tekanan dari pihak luar
termasuk Amerika sampai keamanan dan
integrasi layanan itu dipastikan oleh
otoritas berwenang Kenya. Jadi, Kenya
enggak toleransi walaupun katanya
Amerika bakal nekan mereka, mereka
enggak peduli. Di sini nih memang agak
membingungkan ya asal muasal dari
aplikasi ini tuh sebenarnya dari mana?
Tadi di awal ada yang mengaku dari
Rusia, tapi kalau dari Rusia kenapa ada
Amerika? Bukankah dua negara ini
berseberangan gitu kan. Nah, berarti
sampai detik ini belum diketahui secara
pasti ini aplikasi aslinya dari mana.
Terus geng yang terakhir nih di negara
Portugal di sana kegiatan pengumpulan
data biometrik oleh Worldcoin itu
dihentikan sementara oleh pemerintah
pada bulan Maret 2024. Otoritas setempat
menyatakan adanya kekhawatiran kalau
data pengguna ya enggak bisa dihapus
secara permanen dan persetujuan
penggunaan data itu sulit untuk dicabut.
Yang ada ya data dari masyarakat mereka
dicuri semuanya.
Nah, dari sini kalian bisa menilai
sendiri ya, Geng. Di beberapa negara di
muka bumi ini ternyata World App serta
World Coin itu sudah banyak
kontroversinya dan dilarang. Yang
mayoritasnya itu karena kekhawatiran
terhadap data pribadi para pengguna.
Tapi seberapa berbahayakah hal ini?
Bagaimana tindakan pemerintah kita atas
fenomena tersebut? Sekarang kita bakal
masuk nih ke dalam pembahasannya supaya
ya menjadi renungan dan pedoman kita
sebelum mengambil keputusan untuk
menggunakan aplikasi ini. Oke, kita
bahas bahaya scan retina dan tindakan
pemerintah
kita. Jadi, Geng, karena udah banyak
orang-orang yang melakukan scan retina
dan mungkin ada di antara kalian yang
masih tertarik untuk bisa mendapatkan
uang dengan cara melakukan hal tersebut,
ya. Ya, mending pikir dua kali. Gua tahu
kalian butuh uang sampai rela melakukan
apapun, tapi belum tentu dengan
melakukan itu enggak akan berdampak bagi
diri kalian yang mungkin kerugiannya
bakal jauh lebih besar daripada uang
yang kalian dapatkan. Jadi, gini, Geng.
Ya, ini nih gua ee ngomong kasar aja,
ya. Ngomong kasarnya gini, ketika kalian
menjual data diri kalian, retina kalian,
itu sama kayak kalian jual diri juga.
Apa bedanya kalian sama cewek-cewek di
aplikasi hijau? Ya, bedanya yang mereka
jual itu fisik. Sementara kalian yang
kalian jual itu data diri kalian jauh
lebih berbahaya. Jauh lebih berbahaya.
Karena kalau yang jualan di aplikasi
hijau, mereka akan rusak secara fisik
dan kena penyakit. Oke. Nah, kalau
kalian fisik kalian sehat, penyakit
enggak ada, tapi nanti belakangan kalian
akan mengalami ya musibah yang bakal
menekan batin kalian. Gua contohin aja
salah satunya misalkan data diri kalian
dipakai buat pinjol atau data diri
kalian digunakan sebagai alat dasar atau
bahan dasar untuk nge-scam ya kan menipu
atau menarik tabungan kalian. Bisa aja
gara-gara R200.000 saat ini tiba-tiba di
masa depan kalian punya uang R miliar R
juta, R200 juta tiba-tiba hilang. Nah,
itu hati-hati banget, Geng. Jadi
berbahaya sekali. Oke, sekarang gua
jelaskan sedikit nih ya mengenai
kemungkinan bahayanya aplikasi ini. Jadi
beberapa ahli di dalam bidang cyber itu
sepakat, Geng, kalau ada risiko bahaya
di balik scan retina yang dilakukan oleh
World App ini. Sebab retina mata adalah
bagian tubuh manusia yang sangat unik
karena tidak akan berubah sepanjang
hidup kita dan hampir mustahil untuk
dipalsukan, itu retina. Karena itulah
retina mata itu menjadi data biometrik
yang sangat sensitif dan bernilai tinggi
baik di dalam konteks keamanan digital
maupun dalam potensi penyalahgunaannya.
Sehingga penggunaan data melalui retina
ini cenderung lebih berbahaya
dibandingkan menggunakan password. Ya,
jadi kalau kalian pernah ke
gedung-gedung mewah, ke gedung-gedung
canggih yang sistem keamanannya ketat,
itu enggak pakai sidik jari lagi, enggak
pakai tombol-tombol lagi, tapi pakai
retina mata. Retina lihat ke layar tet
gitu ya. Dian udah kalian masuk. Nah,
jadi ya alat itu aja bisa membedakan
setiap retina mata satu individu, satu
manusia yang mana artinya retina mata
itu memiliki kode uniknya sendiri. Jadi
berbeda-beda. Kalau kalian serahkan kode
unik itu ya retina mata kalian kalian
serahkan ke satu aplikasi itu artinya
secara tidak langsung data diri kalian
atau diri kalian sendiri itu udah jadi
milik mereka. Mereka bisa kontrol
kalian. Mereka bisa tahu permasalahan
hidup kalian tuh. mereka punya bank
datanya. Kurang lebih kayak gitu. Dan
kalau password ya, kalau kita membuka
sesuatu atau menyimpan sesuatu dengan
password, password itu masih bisa
dibobol, masih bisa diubah, ya, masih
bisa terjadi kebocoran. Nah, tapi kalau
dari retina mata enggak semudah itu.
Kecuali kalian dicolok matanya buta,
habis itu udah itu enggak ada fungsinya
lagi retina kalian. Dengan hal ini,
potensi bahayanya bisa membuat data
bocor ke pihak yang enggak bertanggung
jawab. dan besar kemungkinannya aksi
kejahatan dan pemalsuan identitas sangat
mungkin terjadi. Nah, dari banyaknya
kebocoran data besar yang pernah terjadi
ini menunjukkan bahkan perusahaan
teknologi besar sekalipun enggak selalu
kebal terhadap serangan eh hacker-hacker
atau serangan cyber. Kalau data dari
retina ini disimpan tanpa enskripsi atau
dengan standar keamanan yang lemah, maka
masyarakat berada di dalam resiko yang
besar tanpa adanya perlindungan yang
memadai. Meskipun begitu ya, ada
beberapa ahli yang menekankan kalau yang
terpenting dari keamanan data itu bukan
dari jenis data biometriknya, tapi
gimana data tersebut dikelola. Nah, ini
gua juga setuju. Tapi kan balik lagi ya,
gimana caranya data bakal dikelola kalau
tidak dicuri terlebih dahulu ya. Kan
kita akan berbicara nih ketika ada pihak
yang mencoba mencuri data kalian melalui
retina tadi, scan retina. Nah, setelah
itu ya data kalian dapat. Nah, terserah
tuh mau dikelola, mau disimpan, mau
diperjual belikan di Dakweb, itu kan
terserah si yang punya saat itu ya kan.
Nah, memang selama itu enggak dikelola
ya enggak berbahaya. Tetapi yang namanya
data pribadi kita udah di tangan orang,
masa ia enggak dikelola sih, Geng? Pasti
dikelola lah diapa-apain gitu. Nah,
penyimpanan data retina ini bisa
dilakukan dalam bentuk digital
terskripsi yang kemudian bisa dipecah
dan disimpan di server yang
berbeda-beda. Nah, untuk membobol data
seseorang ya orang yang sudah men-scan
retina kalian itu harus mengakses
beberapa server sekaligus dan memecah
sistem enskripsinya. Nah, cuma Geng hal
tersebut tetap aja enggak bisa
mengenyampingkan adanya resiko
penyalahgunaan data karena
perusahaan-perusahaan teknologi besar
aja kayak Google, Meta, dan Microsoft
itu pernah melakukan hal itu. Apalagi
ya, data kita tuh udah masuk ke dalam
blockchain, maka akan sulit untuk dirack
keberadaannya dan enggak akan pernah
dihapus dari sana. Ya, jejak digital itu
bisa seumur hidup. Makanya nih, Geng,
ada ahli yang menyarankan agar akses
World App ini dihentikan di negara kita.
Jadi, demi keamanan data masyarakat
gitu. seharusnya tuh bukan cuma
dihentikan, dari awal dicegah. Tuh, gua
jujur ya, gua agak kurang nih ilmunya di
dalam hal ini. Sebenarnya ini yang punya
tugas untuk menangani hal-hal kayak gini
masuk ke negara kita. Siapa sih badan
dan pihak mana? Apakah Kominfo atau ada
pihak lain? Coba deh kalian yang lebih
paham tinggalkan komentar di bawah. Gua
jujur aja agak kecewa dengan pihak-pihak
yang bersangkutan ya. Kayak kok bisa
enggak aware soal hal ini gitu. Aneh
banget. Padahal kan ini sangat berbahaya
gitu, Geng. Nah, lalu, Geng, gimana nih?
Apakah ada tindak lanjut mengenai hal
ini dari pemerintah kita? Nah, kalau
dari keterangan Walikota Depok ya,
karena ini kan salah satu gerainya,
salah satu kantornya ada di Depok nih.
Nah, jadi walikota Depok yang bernama
Supian Suri itu mengatakan pihak mereka
masih akan terus menelusuri lebih lanjut
mengenai hal ini sembari menghimbau
warga Depok untuk tetap waspada agar
tidak memberikan data diri mereka secara
cuma-cuma. Nah, sementara itu yang di
Bekasi nih walikotanya yaitu Pak Tri
Adianto itu menghimbau agar seluruh
warganya yang sudah melakukan scan
retina segera melaporkan diri ke Dinas
Komunikasi dan Informatika atau
Diskominfo Kota Bekasi. Nah, laporan
dari warga ini sangat penting bagi
pemerintah agar bisa mendata siapa saja
yang sudah melakukan scan retina yang
dikelola oleh World App ini. Dengan
begitu, pemerintah bakal lebih siap
untuk mengantisipasi kemungkinan resiko
yang muncul nih setelah World App ini
memperoleh data retina dari orang-orang
Bekasi ini ya. Karena kan dampaknya itu
bukan sekarang, nanti gitu. Nah, makanya
harus ngelapor supaya jaga-jaga. Geng,
Pak Tri ini juga meminta agar warganya
itu enggak gampang untuk tergiur dengan
iming-iming uang sampai rela memberikan
data diri mereka. Sebab ya ini aktivitas
dari World Coin ini maupun World App ini
itu belum jelas arahnya ke mana,
manfaatnya apa bagi masyarakat selain
cuma ngasih uang Rp200.000 gitu. Jadi
hati-hati banget. Terus, Geng,
Kementerian Komunikasi dan Digital yaitu
Komdigi ya yang menaungi segala e
penanganan situs atau aplikasi digital
di Indonesia itu membekukan sementara
operasional dari Worldcoin dan juga
World App setelah menerima adanya
laporan mengenai aktivitas yang
mencurigakan di kedua platform ini. Dan
berdasarkan informasi yang didapatkan
oleh KOMDI, PT Terang Bulan Abadi dan PT
Sandina Abadi Nusantara adalah
perusahaan yang menaungi dua layanan
tersebut di Indonesia. Nah, tinggal cari
tuh yang punya PT. Nah, sehingga nih ya
dua perusahaan atau dua PT ini harus
mengklarifikasi mengenai dugaan
pelanggaran ketentuan penyelenggaraan
sistem elektronik ini. Nah, masalahnya
nih, Geng, PT Terang Bulan Abadi
tersebut belum terdaftar sebagai
penyelenggara sistem elektronik atau PSE
dan tidak memiliki tanda daftar
penyelenggara sistem elektronik atau
TDPSE. Wah, ilegal ini. Nah, World Coin
itu tercatat memakai TDPSE atas nama
perusahaan PT Sandina Abadi Nusantara.
Dan rencananya nih, KOMDigi bakal
memanggil developer dari World App ini
minggu depan untuk menjelaskan mengenai
platformnya tersebut. Kalau pihak World
App ini enggak bisa menjelaskan dan
diketahui ada resiko yang membahayakan
bagi masyarakat Indonesia yang
menggunakan ini, maka Komdigi bakal
memberhentikan operasi dari aplikasi ini
di negara kita.
Menteri Komunikasi dan Digital Muti
Hafid menyebut pihaknya akan meminta
keterangan terkait layanan dan perizinan
dari kedua perusahaan
tersebut. Nah, jadi udah mendapatkan
sorotan dari KOMDI nih, Geng. Setelah
mendapatkan sorotan dari Komdi ini, TFH
selaku perusahaan teknologi yang
menaungi layanan world ini buka suara.
Mereka menyatakan kalau operasional
layanan mereka di Indonesia dihentikan
sementara dan penghentian tersebut
dilakukan secara sukarela sembari
menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai
persyaratan izin dan lisensi yang
berlaku di Indonesia. Saran gua sih
enggak usah dikasih izin ya, Pak. Enggak
usah dikasih lisensi juga. Karena di
negara lain aja udah ditolak-tolakin.
Masa negara kita nampung kenapa sih
negara kita suka banget nampung-nampung
sampah gitu ya? Kayak jadi tempat sampah
dunia gitu. Contohnya kayak mobil-mobil
baru. Banyak banget bertebaran di
Indonesia saat ini bikin makin macet.
Sementara negara produsennya ya
orang-orang milih jalan kaki. Contoh
Jepang, Eropa, Amerika gitu kan. Mereka
produsen mobil dikirim ke negara kita.
Semua orang negara kita ini malas
olahraga, malas berjalan, maunya naik
mobil terus. Sementara di negara asalnya
mereka di sana malah sepi
mobil-mobilnya. Nah, itu contohnya tuh
negara kita tuh hobi banget nampung
sesuatu yang tidak dipakai di negara
lain. Nah, terus geng TFH juga
menyatakan kalau mereka siap
menindaklanjuti dan ditindaklanjuti
kalau terdapat kekurangan atau
kesalahpahaman mengenai perizinan mereka
di Indonesia. Dan menurut TFH,
keberadaan teknologi baru memang sering
disambut dengan skeptis sebelum akhirnya
bisa diterima luas oleh masyarakat dan
otoritas yang berwenang. Ya, ini gua
juga setuju ya. Ya, dulu orang-orang
mungkin ngomongnya, "Mana mungkin besi
bisa terbang. Nah, sekarang terbukti ada
pesawat gitu kan. Nah, atau mana mungkin
orang bisa ngobrol jarak jauh emang
sihir gitu." Nah, terus sekarang sudah
terbukti ada yang namanya telepon, ada
yang namanya handphone gitu kan. Nah,
jadi mereka memakai alasan-alasan kayak
gitu tapi tetap aja aplikasi mereka ini
berbahaya gitu. Nah, mungkin menurut si
TFH ini hal ini sudah biasa terjadi dan
mereka bakal menjelaskannya kepada pihak
Komdigi nanti. Nah, namun status
operasional dari aplikasi ini udah
ditutup, Geng, termasuk dengan
kantornya. Nah, meskipun begitu ternyata
masih banyak orang yang masih datang ke
sana untuk melakukan verifikasi akun
setelah daftar melalui aplikasinya. Dari
sini kita bisa lihat meskipun ada isu
mengenai resiko penyalahgunaan data ya
masyarakat kita kayak enggak peduli.
Masih banyak aja yang tertarik untuk
scan retina hanya demi mendapatkan uang
ratusan rib. Gua saranin sih, Geng, ya.
Kalian pikir-pikir lagilah kalau mau
ikutan kayak gini. Tapi kalau kalian
terdesak karena butuh uang, ya itu
terserah kalian. Gua kembalikan
keputusannya kepada kalian. Kalau kalian
merasa diri kalian tidak berharga, ya go
ahead. Nah, gua cuma mau bilang resiko
yang akan kalian dapatkan jauh lebih
besar di depannya nanti dibandingkan
uang yang kalian dapatkan sekarang. Itu
aja,
Geng. Nah, itu dia, Geng, pembahasan
kita hari ini mengenai fenomena
banyaknya orang yang melakukan scan
retina untuk mendapatkan uang ratusan
ribu. Gimana, Geng, menurut kalian
tentang fenomena World App dan World
Coin ini? Coba tinggalkan komentar di
bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:14:34 UTC
Categories
Manage