THE WORLD COIN APP IS DANGEROUS! SCAN YOUR RETINA TO GET MONEY & MANY INDONESIANS ARE BEING FOOLED!
-KF7yhlKzsA • 2025-05-09
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Geng, kalian ingat enggak sama fenomena koin jagat atau jagat koin? Apa ya? Koin jagat apa jagat koin waktu itu ya? Rame banget kan? Kita udah sempat bahas nih kontennya yang ini. Nah, sebuah aplikasi yang waktu itu sempat viral di Indonesia yang ngebuat banyak orang mau itu anak sekolah, kuliahan, kantoran sampai dengan abang-abang ojol itu ikut berburu koin yang bisa ditukarkan dengan hadiah sampai ratusan juta. Nah, sekarang tiba-tiba muncul fenomena yang sama atau mirip-mirip dengan koin jagat ini atau jagat koin ini. Nah, cuma Geng ini bukan menggunakan koin, tapi justru menggunakan hal yang lebih gila lagi, yang lebih apa ya? Gua bisa bilang ini kalau orang yang ngikut ini tuh tergolong orang yang maaf bodoh. Karena kenapa? Sistemnya itu adalah pakai scan dari retina mata. Scan dican, difoto, diambil retina mata kalian. Nah, platform ini bernama World App dan seperti Jagat Coin, World App ini itu menawarkan bagi siapa saja yang mau dian retinanya bisa mendapatkan uang. Lagi-lagi iming-imingnya uang. Dan untuk orang-orang di sebuah negara yang perekonomiannya sedang susah, ya udah pasti eh ini adalah hal yang menggiurkan. Nah, karena itulah enggak heran ternyata banyak orang yang jadi ngantri untuk scan retina ya mengikuti syarat dari World App ini. Nah, jadi fenomena ini tuh kayak mengulang viralnya Jagat Coin kemarin. Orang awam pasti senanglah bisa mendapatkan uang dengan mudah. Padahal sebenarnya tanpa mereka ketahui scan retina yang mereka lakukan untuk mendapatkan uang itu adalah sesuatu yang berbahaya bagi mereka. Karena kenapa? Segala hal yang melekat di tubuh kita itu merupakan identitas pribadi dan merupakan privacy kita. Gua contohin nih ya, sidik jari, terus air liur, rambut, bahkan retina mata sekalipun. Nah, itu enggak boleh ada orang yang menyimpan datanya, yang menyimpan kopiannya itu enggak boleh, Geng. Nah, kalau itu semua diserahkan secara cuma-cuma tanpa kita tahu konsekuensinya, ya kayak yang terjadi di World App ini, nah data kita bisa disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan fenomena ini pada akhirnya menimbulkan kekhawatiran baru di Indonesia. emang ada-ada aja ya warga negara kita ini ya faktor dari kebutuhan ekonomi juga sih. Mau mau kita bilang apa juga ya penawarannya duit gitu orang-orang bakal terpengaruh dengan hal itu. Dan karena ini seperti modus untuk mendapatkan identitas dengan iming-iming uang ya makanya dianggap ini sangat berbahaya. Dan di video kali ini gua bakal membahas fenomena ini, Geng. Dan seberapa bahayanya scan retina ini. Apakah ini bisa mengancam diri seseorang atau ee mungkin ada hal lain? Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut kita bakal langsung masuk ke dalam pembahasan secara lengkap. Dan gua harap nih kalian menonton video ini sampai selesai sebagai edukasi agar kalian tidak eh terlalu mudah gitu ya percaya dengan hal-hal baru kayak gini. Oke, halo geng. Welcome back to Kamar Jerry. [Musik] Geng geng, kita langsung masuk ke dalam pembahasan fenomena scan retina yang menghasilkan uang. Jadi, Geng, Indonesia itu digemparkan dengan sebuah aplikasi yang bernama World App yang menawarkan uang dalam bentuk kripto, tapi ada syaratnya. Yaitu orang-orang yang mau mendapatkan uang tersebut harus meng-scan retina mata mereka. Ketika mendengar bisa mendapatkan uang dengan mudah, ya siapa yang enggak mau? Dengan iming-iming itulah banyak orang-orang yang jadi tertarik, Geng. Fenomena ini bisa kalian lihat terjadi di Depok dan Kota Bekasi. Nah, ini mana nih teman-teman yang dari Depok dan Kota Bekasi? Mungkin ada yang nonton video ini boleh berbagi informasi. Nah, bagi siapa aja yang mau untuk mendapatkan uang dengan cara scan retina ini, mereka harus men-download aplikasinya dulu, yaitu Word App. Dan biasanya kan ada beberapa aplikasi yang membutuhkan ee KTP ya, membutuhkan data KTP ketika mau registrasi. Nah, sementara World App ini itu enggak perlu, Geng. Jadi para penggunanya cuma perlu untuk mengisi nama, tanggal lahir, dan lain sebagainya. Nah, nanti kalau sudah daftar, nah si penggunanya bisa mengakses fitur yang memungkinkan mereka bisa mengetahui lokasi-lokasi tempat untuk bisa melakukan scan retina itu. Nah, di Depok itu terletak di Jalan Margonda. Sementara di Kota Bekasi menurut informasi yang beredar ada dua lokasi, yaitu di Jalan Raya Narogong, Rawalumbu, dan juga Ampera serta Bekasi Timur. Tapi geng, ada juga yang berada di Kabupaten Bekasi, tepatnya di Ruko Grand Boulevard, Desa Pusaka Rakyat Tarum Jaya. Di bangunan yang dijadikan kantor itu hanya tertulis world aja ya, tulisan world dunia. Nah, viralnya World App di Indonesia ini enggak cuma dari mulut ke mulut, Geng, tapi juga terbantu karena beberapa contonent kreator yang ikut membuat konten soal World App ini. Bahkan sampai ditunjukkan ketika mereka melakukan scan retina. Nah, ini menyesatkan banget nih ketika ada beberapa contonent kreator membuat promosi tentang aplikasi ini. Nah, makanya enggak heran kalau jadi makin banyak orang yang tergiur untuk ikutan. Salah satunya adalah seorang warga yang tertarik untuk scan retina, yaitu warga asal Bekasi yang bernama Mary. Dia ini mendapatkan informasi dari anaknya dia yang laki-laki dan dia pun memutuskan untuk melakukan scan retina ini pada bulan April kemarin. Satu hari setelah mendaftar di World App, dia datang ke salah satu kantor yang dijadikan sebagai tempat buat scan retina. Nah, saya ke sini jam jam .00 malam. Jam malam waktu saya kan ada jam-jamnya. Nah, datanglah dia ke sana tuh ucuk-ucuk dengan di dalam hatinya tuh duit duit duit duit duit duit. Datang dia ke sana dan Mary ini mengaku dia menjalani proses scan retina selama beberapa waktu bersama dengan orang. Jadi ada seilan orang yang ngantri ya. Jadi ada se orang yang di kepalanya sedang ada duit duit duit duit di saat itu. Proses scannya juga dilakukan menggunakan kamera khusus berbentuk bola yang disebut dengan ORP atau ORB tulisannya. Walaupun Mary ini ikut melakukan scan retina, sebenarnya tuh dia penasaran gimana bisa hanya dengan scan retina terus kita dikasih uang cuma-cuma. Uangnya dari mana? Apakah dari pemerintah atau gimana? Nah, karena dia penasaran, dia pun nanya nih sama salah satu staf yang ada di tempat tersebut atau di kantor itu. Nah, staf ini menjawab, "Kalau uang yang dibagikan itu berasal dari Rusia, katanya, karena Rusia mau membagikan uang ini ke masyarakat dari mana aja asalkan ya mau nge-scan retina." Nah, yang jadi pertanyaannya scan retina atau foto retina orang-orang Indonesia ini buat apa dikumpulkan oleh Rusia? Aneh kan? Terus geng, ketika si Mary ini mendapatkan penjelasan ini, dia enggak naruh curiga sama sekali dan dia langsung melakukan scan retina. Udah nanya-nanya nih, terus dijawab Rusia gitu ya dari Rusia. Bukannya curiga malah oh dari Rusia. Ya udah, kurang lebih kayak gitu kayaknya. Terus dia langsung scan retina. Setelah melakukan hal itu, Mary mendapatkan koin digital yang bernama World Coin yang langsung bisa dia cairkan dalam bentuk uang senilai R65.000. Wah, lumayan banget nih. Nah, tapi pencairannya itu enggak langsung di hari itu, Geng. Jadi, Mary baru bisa mendapatkan uang itu keesokan harinya. Jadi, ada prosesnya, ada proses withdraw-nya lah, gitu. Mendapatkan uang dengan begitu mudah tentunya membuat Mary senang banget dan dia langsung menceritakan hal ini ke orang-orang termasuk ke suaminya serta tetangga-tetangganya. Mendengar cerita dari Mary, suaminya, tetangganya tergiur juga dan mereka langsung datang ke lokasi itu untuk scan retina juga. Tapi ternyata enggak semuanya beruntung dan bisa mendapatkan uang sejumlah yang Mary dapatkan. Jadi, beberapa dari tetangga Mary itu enggak menerima imbalan yang dijanjikan meskipun mereka udah mendaftar di World App ini dan melakukan scan retina. Nah, gara-gara hal itu ya di antara mereka ada yang gak dapat uang. Nah, mereka memutuskan untuk mendatangi kantor World App untuk menagih uang yang dijanjikan. Jadi kayak mereka ngomong, "Ini si Mary kok udah dican matanya dapat duit, kita udah nge-scan juga kok enggak ada duitnya gitu." Nah, tapi masih enggak diketahui nih, Geng, apakah mereka bisa mendapatkan uang tersebut atau enggak karena enggak ada informasi lebih lanjut mengenai hal ini. Jadi, bisa dikatakan kayaknya enggak semua orang bisa mendapatkan uang dari scan retina yang mereka lakukan. Alasannya gua gak tahu ya, entah karena mungkin ada kriteria tertentu atau justru Mary tadi itu cuma pancingan. Jadi gara-gara Mary ngomong ke orang-orang bisa dapat duit, nah orang-orang jadi tertarik terus ngelakuin secara mandiri secara cuma-cuma. Akhirnya ternyata ya mereka cuma jadi korban dari hasil pancingan si World App ini terhadap Mary, gitu. Nah, makanya mereka enggak dapat duit. Ya mungkin bisa jadi kayak gitu kali ya. Terus di cerita yang lain, Geng, ada seorang warga asal Depok yang namanya David. Menurut pengakuan si David ini, kantor World app yang ada di Depok itu udah buka sejak pertengahan bulan Ramadan atau bulan Maret kemarin. Dan ketika itu dia datang ke sana dan staff yang ada di sana langsung menjelaskan mengenai cara memakai World App ini. Dan setelah mengisi data pribadi serta melakukan scan retina, si David ini nunggu selama sehari supaya uang yang dijanjikan itu bisa cair yang mana uang tersebut bisa ditarik ke dana atau rekening aplikasi. Di saat itu dia mendapatkan uang sebesar Rp200.000. Nah, beda banget sama Mary ya. Mary itu R65.000 lebih besar gitu. Dan pihak WhatsApp itu menjanjikan kalau dia bakal mendapatkan uang setiap bulannya. Jadi, udah kayak digaji gitu, Geng. Dan ternyata benar aja, Geng. Sebulan setelahnya saldo rekeningnya ditambah lagi jadi Rp50.000 sehingga totalnya jadi Rp250.000. Cuma David di saat itu mengaku belum mencairkan uang tersebut dari rekeningnya, Geng. Jadi, masih disimpan. Nah, itu udah dua kasus tuh. Udah dua cerita tuh. Ada lagi nih cerita yang lain. Ini berasal dari Bekasi yang dialami oleh seseorang yang bernama Devy. Dia juga tergiur untuk scan retina dan dia sendiri mengaku sengaja datang ke kantor World App agar bisa mendapatkan uang dari scan retina yang sudah dia lakukan. Devi ini diberikan jadwal untuk scan retina sekitar jam 12.00 siang. Dia bilang kalau dia itu mendapatkan informasi mengenai hal ini dari Facebook. Gila nih ya, Facebook tuh banyak banget info-info aneh. Termasuk kejebak-kejebak judul ya kan, kejebak-kejebak ee jadi pekerja Myanmar tuh di Facebook juga. Makanya gua takut banget ya kalau orang-orang gaptek tuh masih main Facebook kayak gini-gini nih. Terus geng, awalnya ya si Devy ini dia itu enggak langsung tertarik, Geng. Tapi justru dia ragu karena khawatir data pribadinya dia bakal disalahgunakan oleh oknum yang gak bertanggung jawab awalnya. Tapi ternyata udah banyak orang yang nyoba bahkan orang-orang terdekatnya dia seperti tetangganya dan teman-temannya yang benar-benar bisa dapat uang setelah melakukan scan retina. Nah, gara-gara itu tuh Devy akhirnya tergoda buat ikut coba. Nah, selain Devy, ada seorang pengemudi ojol yang namanya Udin yang ikut mendatangi ruko yang sama yang dijadikan untuk kantor World App ini. Datang ke sana tuh lagi duit. Kalau si Bang Udin ini dia ngaku kalau kedatangan dia di sana saat itu adalah yang kedua. Setelah sebelumnya dia mendapatkan uang setelah melakukan scan retina. Menurut ceritanya Udin, dia itu baru mendaftar di World App ketika mengunjungi kantor world ini. Dan pada saat dia mendaftar, Udin ini enggak mengalami kendala karena cukup sederhana. Ya, gampang banget, simpel caranya ya. Pokoknya dapat duit itu mudah, hidup lu itu lancarlah gitu ya. Cuma scan-san retina cair gitu. Nah, tapi setelah itu dia dikatakan harus menonton sebuah video dulu geng. Barulah dia akhirnya melakukan scan retina. Dan enggak lama dari itu, Udin itu dapat uang tunai dalam jumlah ratusan rib. Jadi, jumlahnya itu ya flat di angka ratusan ribu ya, enggak ada sampai jutaan. Dan Udin sendiri itu gak tahu secara pasti apa yang bakal terjadi terhadap data pribadinya dia setelah melakukan scan itu. Bahkan dia tuh sempat merasa takut juga awalnya. Cuma karena dia membutuhkan uang untuk kebutuhan hidup ya akhirnya dia enggak peduli. Dia coba peruntungan aja dengan melakukan scan retina ini. Ya, kayak yang gua bilang tadi, Geng. Siapa yang enggak tertarik dengan easy money kayak gini ya kan? Nah, kalau dilihat dari cerita orang-orang ini semuanya itu karena mereka ingin mendapatkan uang dan gua tahu demi uang semuanya pasti bakal e dilakukan lah gitu ya. Di Indonesia sendiri kita sudah bisa lihat ya kan orang-orang yang mungkin terhimpit ekonomi mereka sampai mencuri, membegal, merampok gitu agar bisa makan, agar bisa mengganjal perutnya. Nah, makanya ketika ada scan retina kayak gini ya, mereka menganggap itu enggak penuh resiko, itu enggak capek gitu. mereka enggak harus ya berurusan dengan hukum. Tapi sayangnya mereka enggak pernah tahu resiko apa yang akan terjadi setelahnya kalau mereka memberikan scan retina mereka seperti ini. Nah, mungkin mereka enggak kepikiran sampai situ, Geng. Karena yang penting buat mereka adalah mendapatkan uang untuk makan. Sebelum lebih jauh membahas mengenai resiko apa yang akan terjadi, gua mau ngajak kalian dulu nih, Geng, untuk mengetahui lebih dalam soal World App ini dan koin crypto dari World Coin ini. Apa sih World App ini, Geng? dan siapa sebenarnya pembuat aplikasi ini dan apa benar scan retina ini aman digunakan atau sebelumnya memang udah menuai kontroversi. Nah, kita bahas sekarang menguak lebih dalam mengenai World App ini. Jadi, geng dari tadi gua kan udah ngomong nih soal World App, tapi gua belum jelasin apa sih sebenarnya World App ini dan aplikasi untuk apa dan gimana bisa mereka punya banyak uang dan dibagikan ke orang-orang. Nah, jadi geng World App ini sebenarnya adalah bagian dari perusahaan yang bernama World yang didukung oleh Tools for Humanity, yaitu sebuah organisasi yang berperan dalam mengembangkan dan menerapkan teknologi untuk mendukung identitas digital yang aman dan terdesentralisasi. Perusahaan tersebut didirikan pada tahun 2019 oleh Sam Altman eh CEO dari Open AI bersama dengan dua orang lain yaitu Alex Blania dan Max Novenstern. Ada hubungannya nih, Geng. Ternyata dengan Open AI yang mana saat ini lagi banyak banget kritikan mengenai mekanisme pengambilan data oleh AI dan juga karya-karya oleh AI yang dianggap melanggar etika. Nah, tapi kita kesampingkan dulu ya pembahasan itu ya memang agak mengerikan sebenarnya tapi kita sekarang fokus dulu ke world app ini, Geng. Nah, perusahaan world ini adalah penyedia dompet digital yang dipergunakan untuk mengelola uang crypto dan sejenisnya. Nah, perusahaan ini memiliki empat jenis layanan, yaitu Word ID, World App, World Coin, dan juga World Chain. Nah, di sini kita coba bahas satu-satu nih, Geng. World ID apa itu? Nah, World ID ini adalah layanan yang dibuat oleh perusahaan World sebagai sistem untuk membuktikan kalau penggunanya adalah manusia asli yang salah satunya dengan cara meng-scan retina dari penggunanya. Dan world ID ini hadir sebagai bagian dari sistem yang memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang disingkat dengan AI. Terus setelah itu ada World App, yaitu sebuah aplikasi yang sedang kita bahas ini. Nah, ini aplikasi yang digunakan untuk menyimpan world ID tadi, Geng. Jadi, aplikasi ini juga bisa digunakan untuk aset digital seperti uang digital. Misalnya ada dolar digital di sana dengan banyak opsi yang bisa kita pilih seperti menyetor atau menarik lewat rekening bank. metode pembayaran lokal atau melalui agen juga bisa. Dan pembayaran lewat World App ini juga bisa dilakukan secara P2P atau peer to peer, yaitu sistem pembayaran yang memungkinkan seseorang mengirimkan uang secara langsung ke orang lain tanpa perantara seperti bank atau lembaga keuangan yang resmi gitu. Nah, sistem kayak gini juga udah sering kita gunakan, Geng. Di Indonesia ada beberapa layanan yang menggunakan P2P ini. Kalau kalian familiar dengan GoPay, Ovo, Dana, dan juga Shopee Pay. Nah, sama tuh mirip. Dan World App ini enggak membutuhkan informasi pribadi apapun dari penggunanya. Penggunanya pun bisa memilih untuk mencadangkan kunci atau terenskripsi ke Google Drive atau iCloud sebagai pemulihan. Terus layanan selanjutnya ada world chain yang disebut sebagai blockchain yang dibuat untuk manusia sungguhan. Dan word chain ini dikatakan enggak perlu ada izin, open source dan dirancang untuk tata kelola komunitas. Nah, jaringan blockchain ini diklaim memiliki beberapa kelebihan, Geng. seperti biaya gas gratis untuk semua manusia yang terverifikasi, distribusi untuk semua pengguna World App melalui aplikasi Mini, transaksi kripto yang disederhanakan melalui aplikasi Mini, terus resistensi SB untuk pengembang melalui Word ID. Nah, sibel ini sendiri adalah istilah yang digunakan di dunia komputer atau blockchain yang merujuk kepada serangan di mana satu orang menciptakan banyak identitas palsu untuk memanipulasi sistem. Sementara aplikasi Mini itu adalah aplikasi ringan yang berjalan di dalam aplikasi utama tanpa perlu men-download aplikasi lagi. Misalkan kayak Gojek, di sana tuh kan ada fitur kayak Go Food gitu atau Go Express. Nah, udah jadi anak feature-nya lah gitu. Kalian klik Gojek, udah ada poin-poin feature yang lain dan kalian bisa menggunakan feature-feature tersebut tanpa harus men-download kayak GoFood tadi. Sekali klik Gojek ada GoFood dan kalian tinggal menggunakan aplikasi GoFood itu. Nah, jadi kurang lebih penjelasannya kayak gitu. Dan yang terakhir, Geng, adalah World Coin yang merupakan mata uang crypto buatan perusahaan world yang bisa digunakan di dalam jaringan world. Dan World Coin ini disebut-sebut itu bisa diklaim secara gratis untuk setiap orang yang mendaftar di world dan terverifikasi bahkan dikatakan bisa digunakan untuk bayar biaya gas dichain. Nah, sampai sebagai mata uang virtual di dalam game. Jadi kalau mau top up, download-download e game baru bisa pakai World Coin ini. Perusahaan World sendiri itu udah ngejelasin distribusi World Coin ini adalah bola berteknologi tinggi yang disebut sebagai ORP. Dan ORP ini memiliki fitur kamera dan sensor canggih yang gak cuma bisa nge-scan mata, tapi juga mengambil gambar dengan resolusi tinggi dari wajah sampai ke tubuh. Nah, selain itu bisa mendeteksi radar Dopler tanpa kontak terhadap detak jantung, terus pernapasan, dan juga tanda-tanda vital lainnya. Nah, informasi biometrik ini biasanya digunakan untuk menghasilkan Iris Hash, yaitu sebuah kode yang disimpan secara lokal di dalam OR. Dan menurut World Coin, kode ini enggak pernah dibagikan tetapi melainkan hanya untuk memeriksa apakah Iris Hearts tersebut sudah ada di dalam database-nya World Coin. Dan untuk melakukan semua itu, Geng, perusahaan World ini menggunakan metode kriptografi terbaru yang melindungi privacy yang dikenal sebagai bukti tanpa pengetahuan. Nah, kalau algoritma menemukan kecocokan ya ini menunjukkan kalau seseorang sudah mencoba untuk mendaftar. Nah, kalau enggak orang tersebut sudah lulus pemeriksaan keunikan dan bisa melanjutkan pendaftaran alamat email, nomor telepon, lalu kode QR untuk bisa mengakses dompet World Coin. Semua informasi biometri tersebut diklaim bakal tetap berada di dalam ORP dan baru akan dihapus setelah di-download dan setelah perusahaan selesai melatih AI untuk mengenali retina dan mendeteksi penipuan. Nah, nanti dihapus setelah itu katanya kayak gitu. Nah, memang terlihat canggih ya, Geng. Benar-benar semuanya bisa diakses secara digital. Tetapi sebelum ada dan jadi viral di Indonesia, ternyata ini menuai kontroversi, Geng, di negara lain. Salah satunya di Spanyol. Nah, jadi perlu kalian ketahui ya, sebelum masuk ke Indonesia di Spanyol ini udah masuk duluan, tapi di sana ya jadi kontroversi. Banyak orang yang protes gitu. Nah, ceritanya gimana? Jadi gini, semuanya itu berawal pada Desember 2024 kemarin. Ada sebuah lembaga pengawas perlindungan data Spanyol yaitu AEPD namanya. Mereka ini mendesak agar World Coin itu menghapus data scan retina yang sudah mereka kumpulkan sejak dimulainya proyek mereka ini. AEPD ini bilang kalau proyek yang dibuat oleh perusahaan world ini memicu masalah privacy di beberapa negara di Eropa dan sudah melanggar peraturan perlindungan data umum di Uni Eropa. Nah, jadi ketahuanlah mereka tuh nyuri-nyuri data pribadi ya melalui retina, melalui apalah gitu dari warga Spanyol. Pada bulan Maret 2024, Pengadilan Tinggi Spanyol juga menguatkan larangan sementara terhadap scan retina yang dilakukan oleh World Coin. Dan pihak dari World Coin sempat mengajukan banding tapi ditolak di pengadilan tersebut. Nah, jadi di Spanyol mereka ini tidak diterima, Geng. Nah, kenapa di negara kita justru diterima? Ya, aneh banget ya. Dan selain Spanyol, ada negara lain lagi seperti Hongkong yang di mana kantor komisaris privacy untuk data pribadi yaitu PCPD milik Hongkong itu menghentikan seluruh operasi scan retina oleh Word Coin ini pada bulan Mei 2024. Investigasi dari pihak PCPD ini menemukan kalau pemrosesan data yang dilakukan oleh Worldcoin itu bersifat berlebihan dan enggak perlu serta sudah melakukan scanning terhadap lebih dari 8.000 warga tanpa adanya transparansi yang memadai. Nah, lalu setelah Spanyol, Hongkong, ada lagi nih Jerman. Otoritas perlindungan data negara bagian Bavaria atau Baylda itu mengeluarkan perintah korektif kepada perusahaan Worldcoin bulan Desember 2024. Nah, sebelumnya di bulan Mei 2024 sebenarnya World Coin ini sudah menyatakan mereka sudah menutup sistem verifikasi lama mereka dan menghapus semua data biometrik pengguna mereka yang ada di Jerman. Nah, jadi di banyak negara mereka ini dikecam, tapi di negara kita justru dijadikan ladang cuan. Kacau banget. Ini bahaya parah sih kalau pemerintah ya enggak cepat tanggap dengan hal ini. Terus, geng, World Coin ini juga bermasalah di Brazil. Otoritas perlindungan Data Nasional Brazil yang disingkat dengan AD itu sampai melarang operasi World Coin mulai dari 25 Januari tahun 2025. Jadi baru-baru ini larangan itu diberlakukan setelah penyelidikan yang menemukan pelanggaran terhadap hukum perlindungan data pribadi di Brazil termasuk ketidaksesuaian dalam memperoleh persetujuan eksplisit dari para pengguna. Jadi ibaratnya nih aplikasi itu kayak ngejebak penggunanya. Jadi kayak pas di-install ya ada beberapa pertanyaan yang membingungkan yang harus diisi oleh para pengguna. di ceklis-ceklist ya. Mereka menyetujui syarat-syarat atau saran dari si aplikasi ini tanpa mereka pahami apa itu karena bahasa yang rumit ya, bahasa yang menjebak gitu, Geng. Nah, terus, Geng itulah yang menjadi koncern ee pemerintah Brazil yang membuat aplikasi World Coin ini sampai dilarang. Nah, jadi Brazil udah bergerak duluan. Terus lanjut lagi di Colombia juga sama Badan Pengawas Industri dan Perdagangan Colombia pada bulan Agustus 2024. Bahkan mereka lebih dulu dari Brazil. Nah, pemerintahnya itu sempat mengingatkan warganya agar berhati-hati terhadap kegiatan verifikasi biometrik World Coin. Nah, mereka malah bukan melarang, justru mencegah langsung. Dan beruntungnya mereka tidak sampai terjadilah di negara mereka. Nah, terus selanjutnya di India. Bahkan India jauh dari Colombia lagi, yaitu di Desember 2023 yang mana World Coin itu mengumumkan pengurangan sementara aktivitas verifikasi secara langsung di negara India ini. Nah, langkah ini dihubungkan dengan tingginya permintaan pendaftaran. Tapi ada beberapa laporan yang disebutkan kalau ada tekanan dari otoritas pemerintah India mengenai isu regulasi data yang ada di World Coin ini yang dianggap berbahaya bisa mencuri data masyarakat. Nah, India aja ya yang sering kalian ketawain street food-nya gitu. Pemerintahnya aja sampai melek loh kalau ini berbahaya. Terus berlanjut lagi Korea Selatan. Nah, kalau Korea Selatan ini di tahun 2024 yang mana Komisi Perlindungan Informasi Pribadi Korea Selatan itu membuka penyelidikan pada bulan Februari 2024 setelah mereka menerima aduan publik mengenai World Coin ini. Dan komisi mereka ini menyelidiki 10 lokasi verifikasi retina World Coin yang kemungkinan sudah terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang Perlindungan Informasi Pribadi dan Pengiriman Data ke Luar negeri. Jadi dicuri tuh data-data masyarakatnya, dikirim ke luar negeri, ke pusat di mana ya aplikasi world ini berasal. Kemudian ada lagi di Kenya, Afrika yang mana pemerintah negara tersebut menghentikan seluruh aktivitas World Coin bahkan sejak Agustus 2023. Gila ya, Afrika aja dari 2023 udah nyetop kita baru terdampak sekarang, Geng. Nah, berlanjut pada bulan Maret 2024 ya, Menteri Dalam Negeri Kenya itu bilang kalau larangan tetap berlaku meskipun adanya tekanan dari pihak luar termasuk Amerika sampai keamanan dan integrasi layanan itu dipastikan oleh otoritas berwenang Kenya. Jadi, Kenya enggak toleransi walaupun katanya Amerika bakal nekan mereka, mereka enggak peduli. Di sini nih memang agak membingungkan ya asal muasal dari aplikasi ini tuh sebenarnya dari mana? Tadi di awal ada yang mengaku dari Rusia, tapi kalau dari Rusia kenapa ada Amerika? Bukankah dua negara ini berseberangan gitu kan. Nah, berarti sampai detik ini belum diketahui secara pasti ini aplikasi aslinya dari mana. Terus geng yang terakhir nih di negara Portugal di sana kegiatan pengumpulan data biometrik oleh Worldcoin itu dihentikan sementara oleh pemerintah pada bulan Maret 2024. Otoritas setempat menyatakan adanya kekhawatiran kalau data pengguna ya enggak bisa dihapus secara permanen dan persetujuan penggunaan data itu sulit untuk dicabut. Yang ada ya data dari masyarakat mereka dicuri semuanya. Nah, dari sini kalian bisa menilai sendiri ya, Geng. Di beberapa negara di muka bumi ini ternyata World App serta World Coin itu sudah banyak kontroversinya dan dilarang. Yang mayoritasnya itu karena kekhawatiran terhadap data pribadi para pengguna. Tapi seberapa berbahayakah hal ini? Bagaimana tindakan pemerintah kita atas fenomena tersebut? Sekarang kita bakal masuk nih ke dalam pembahasannya supaya ya menjadi renungan dan pedoman kita sebelum mengambil keputusan untuk menggunakan aplikasi ini. Oke, kita bahas bahaya scan retina dan tindakan pemerintah kita. Jadi, Geng, karena udah banyak orang-orang yang melakukan scan retina dan mungkin ada di antara kalian yang masih tertarik untuk bisa mendapatkan uang dengan cara melakukan hal tersebut, ya. Ya, mending pikir dua kali. Gua tahu kalian butuh uang sampai rela melakukan apapun, tapi belum tentu dengan melakukan itu enggak akan berdampak bagi diri kalian yang mungkin kerugiannya bakal jauh lebih besar daripada uang yang kalian dapatkan. Jadi, gini, Geng. Ya, ini nih gua ee ngomong kasar aja, ya. Ngomong kasarnya gini, ketika kalian menjual data diri kalian, retina kalian, itu sama kayak kalian jual diri juga. Apa bedanya kalian sama cewek-cewek di aplikasi hijau? Ya, bedanya yang mereka jual itu fisik. Sementara kalian yang kalian jual itu data diri kalian jauh lebih berbahaya. Jauh lebih berbahaya. Karena kalau yang jualan di aplikasi hijau, mereka akan rusak secara fisik dan kena penyakit. Oke. Nah, kalau kalian fisik kalian sehat, penyakit enggak ada, tapi nanti belakangan kalian akan mengalami ya musibah yang bakal menekan batin kalian. Gua contohin aja salah satunya misalkan data diri kalian dipakai buat pinjol atau data diri kalian digunakan sebagai alat dasar atau bahan dasar untuk nge-scam ya kan menipu atau menarik tabungan kalian. Bisa aja gara-gara R200.000 saat ini tiba-tiba di masa depan kalian punya uang R miliar R juta, R200 juta tiba-tiba hilang. Nah, itu hati-hati banget, Geng. Jadi berbahaya sekali. Oke, sekarang gua jelaskan sedikit nih ya mengenai kemungkinan bahayanya aplikasi ini. Jadi beberapa ahli di dalam bidang cyber itu sepakat, Geng, kalau ada risiko bahaya di balik scan retina yang dilakukan oleh World App ini. Sebab retina mata adalah bagian tubuh manusia yang sangat unik karena tidak akan berubah sepanjang hidup kita dan hampir mustahil untuk dipalsukan, itu retina. Karena itulah retina mata itu menjadi data biometrik yang sangat sensitif dan bernilai tinggi baik di dalam konteks keamanan digital maupun dalam potensi penyalahgunaannya. Sehingga penggunaan data melalui retina ini cenderung lebih berbahaya dibandingkan menggunakan password. Ya, jadi kalau kalian pernah ke gedung-gedung mewah, ke gedung-gedung canggih yang sistem keamanannya ketat, itu enggak pakai sidik jari lagi, enggak pakai tombol-tombol lagi, tapi pakai retina mata. Retina lihat ke layar tet gitu ya. Dian udah kalian masuk. Nah, jadi ya alat itu aja bisa membedakan setiap retina mata satu individu, satu manusia yang mana artinya retina mata itu memiliki kode uniknya sendiri. Jadi berbeda-beda. Kalau kalian serahkan kode unik itu ya retina mata kalian kalian serahkan ke satu aplikasi itu artinya secara tidak langsung data diri kalian atau diri kalian sendiri itu udah jadi milik mereka. Mereka bisa kontrol kalian. Mereka bisa tahu permasalahan hidup kalian tuh. mereka punya bank datanya. Kurang lebih kayak gitu. Dan kalau password ya, kalau kita membuka sesuatu atau menyimpan sesuatu dengan password, password itu masih bisa dibobol, masih bisa diubah, ya, masih bisa terjadi kebocoran. Nah, tapi kalau dari retina mata enggak semudah itu. Kecuali kalian dicolok matanya buta, habis itu udah itu enggak ada fungsinya lagi retina kalian. Dengan hal ini, potensi bahayanya bisa membuat data bocor ke pihak yang enggak bertanggung jawab. dan besar kemungkinannya aksi kejahatan dan pemalsuan identitas sangat mungkin terjadi. Nah, dari banyaknya kebocoran data besar yang pernah terjadi ini menunjukkan bahkan perusahaan teknologi besar sekalipun enggak selalu kebal terhadap serangan eh hacker-hacker atau serangan cyber. Kalau data dari retina ini disimpan tanpa enskripsi atau dengan standar keamanan yang lemah, maka masyarakat berada di dalam resiko yang besar tanpa adanya perlindungan yang memadai. Meskipun begitu ya, ada beberapa ahli yang menekankan kalau yang terpenting dari keamanan data itu bukan dari jenis data biometriknya, tapi gimana data tersebut dikelola. Nah, ini gua juga setuju. Tapi kan balik lagi ya, gimana caranya data bakal dikelola kalau tidak dicuri terlebih dahulu ya. Kan kita akan berbicara nih ketika ada pihak yang mencoba mencuri data kalian melalui retina tadi, scan retina. Nah, setelah itu ya data kalian dapat. Nah, terserah tuh mau dikelola, mau disimpan, mau diperjual belikan di Dakweb, itu kan terserah si yang punya saat itu ya kan. Nah, memang selama itu enggak dikelola ya enggak berbahaya. Tetapi yang namanya data pribadi kita udah di tangan orang, masa ia enggak dikelola sih, Geng? Pasti dikelola lah diapa-apain gitu. Nah, penyimpanan data retina ini bisa dilakukan dalam bentuk digital terskripsi yang kemudian bisa dipecah dan disimpan di server yang berbeda-beda. Nah, untuk membobol data seseorang ya orang yang sudah men-scan retina kalian itu harus mengakses beberapa server sekaligus dan memecah sistem enskripsinya. Nah, cuma Geng hal tersebut tetap aja enggak bisa mengenyampingkan adanya resiko penyalahgunaan data karena perusahaan-perusahaan teknologi besar aja kayak Google, Meta, dan Microsoft itu pernah melakukan hal itu. Apalagi ya, data kita tuh udah masuk ke dalam blockchain, maka akan sulit untuk dirack keberadaannya dan enggak akan pernah dihapus dari sana. Ya, jejak digital itu bisa seumur hidup. Makanya nih, Geng, ada ahli yang menyarankan agar akses World App ini dihentikan di negara kita. Jadi, demi keamanan data masyarakat gitu. seharusnya tuh bukan cuma dihentikan, dari awal dicegah. Tuh, gua jujur ya, gua agak kurang nih ilmunya di dalam hal ini. Sebenarnya ini yang punya tugas untuk menangani hal-hal kayak gini masuk ke negara kita. Siapa sih badan dan pihak mana? Apakah Kominfo atau ada pihak lain? Coba deh kalian yang lebih paham tinggalkan komentar di bawah. Gua jujur aja agak kecewa dengan pihak-pihak yang bersangkutan ya. Kayak kok bisa enggak aware soal hal ini gitu. Aneh banget. Padahal kan ini sangat berbahaya gitu, Geng. Nah, lalu, Geng, gimana nih? Apakah ada tindak lanjut mengenai hal ini dari pemerintah kita? Nah, kalau dari keterangan Walikota Depok ya, karena ini kan salah satu gerainya, salah satu kantornya ada di Depok nih. Nah, jadi walikota Depok yang bernama Supian Suri itu mengatakan pihak mereka masih akan terus menelusuri lebih lanjut mengenai hal ini sembari menghimbau warga Depok untuk tetap waspada agar tidak memberikan data diri mereka secara cuma-cuma. Nah, sementara itu yang di Bekasi nih walikotanya yaitu Pak Tri Adianto itu menghimbau agar seluruh warganya yang sudah melakukan scan retina segera melaporkan diri ke Dinas Komunikasi dan Informatika atau Diskominfo Kota Bekasi. Nah, laporan dari warga ini sangat penting bagi pemerintah agar bisa mendata siapa saja yang sudah melakukan scan retina yang dikelola oleh World App ini. Dengan begitu, pemerintah bakal lebih siap untuk mengantisipasi kemungkinan resiko yang muncul nih setelah World App ini memperoleh data retina dari orang-orang Bekasi ini ya. Karena kan dampaknya itu bukan sekarang, nanti gitu. Nah, makanya harus ngelapor supaya jaga-jaga. Geng, Pak Tri ini juga meminta agar warganya itu enggak gampang untuk tergiur dengan iming-iming uang sampai rela memberikan data diri mereka. Sebab ya ini aktivitas dari World Coin ini maupun World App ini itu belum jelas arahnya ke mana, manfaatnya apa bagi masyarakat selain cuma ngasih uang Rp200.000 gitu. Jadi hati-hati banget. Terus, Geng, Kementerian Komunikasi dan Digital yaitu Komdigi ya yang menaungi segala e penanganan situs atau aplikasi digital di Indonesia itu membekukan sementara operasional dari Worldcoin dan juga World App setelah menerima adanya laporan mengenai aktivitas yang mencurigakan di kedua platform ini. Dan berdasarkan informasi yang didapatkan oleh KOMDI, PT Terang Bulan Abadi dan PT Sandina Abadi Nusantara adalah perusahaan yang menaungi dua layanan tersebut di Indonesia. Nah, tinggal cari tuh yang punya PT. Nah, sehingga nih ya dua perusahaan atau dua PT ini harus mengklarifikasi mengenai dugaan pelanggaran ketentuan penyelenggaraan sistem elektronik ini. Nah, masalahnya nih, Geng, PT Terang Bulan Abadi tersebut belum terdaftar sebagai penyelenggara sistem elektronik atau PSE dan tidak memiliki tanda daftar penyelenggara sistem elektronik atau TDPSE. Wah, ilegal ini. Nah, World Coin itu tercatat memakai TDPSE atas nama perusahaan PT Sandina Abadi Nusantara. Dan rencananya nih, KOMDigi bakal memanggil developer dari World App ini minggu depan untuk menjelaskan mengenai platformnya tersebut. Kalau pihak World App ini enggak bisa menjelaskan dan diketahui ada resiko yang membahayakan bagi masyarakat Indonesia yang menggunakan ini, maka Komdigi bakal memberhentikan operasi dari aplikasi ini di negara kita. Menteri Komunikasi dan Digital Muti Hafid menyebut pihaknya akan meminta keterangan terkait layanan dan perizinan dari kedua perusahaan tersebut. Nah, jadi udah mendapatkan sorotan dari KOMDI nih, Geng. Setelah mendapatkan sorotan dari Komdi ini, TFH selaku perusahaan teknologi yang menaungi layanan world ini buka suara. Mereka menyatakan kalau operasional layanan mereka di Indonesia dihentikan sementara dan penghentian tersebut dilakukan secara sukarela sembari menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai persyaratan izin dan lisensi yang berlaku di Indonesia. Saran gua sih enggak usah dikasih izin ya, Pak. Enggak usah dikasih lisensi juga. Karena di negara lain aja udah ditolak-tolakin. Masa negara kita nampung kenapa sih negara kita suka banget nampung-nampung sampah gitu ya? Kayak jadi tempat sampah dunia gitu. Contohnya kayak mobil-mobil baru. Banyak banget bertebaran di Indonesia saat ini bikin makin macet. Sementara negara produsennya ya orang-orang milih jalan kaki. Contoh Jepang, Eropa, Amerika gitu kan. Mereka produsen mobil dikirim ke negara kita. Semua orang negara kita ini malas olahraga, malas berjalan, maunya naik mobil terus. Sementara di negara asalnya mereka di sana malah sepi mobil-mobilnya. Nah, itu contohnya tuh negara kita tuh hobi banget nampung sesuatu yang tidak dipakai di negara lain. Nah, terus geng TFH juga menyatakan kalau mereka siap menindaklanjuti dan ditindaklanjuti kalau terdapat kekurangan atau kesalahpahaman mengenai perizinan mereka di Indonesia. Dan menurut TFH, keberadaan teknologi baru memang sering disambut dengan skeptis sebelum akhirnya bisa diterima luas oleh masyarakat dan otoritas yang berwenang. Ya, ini gua juga setuju ya. Ya, dulu orang-orang mungkin ngomongnya, "Mana mungkin besi bisa terbang. Nah, sekarang terbukti ada pesawat gitu kan. Nah, atau mana mungkin orang bisa ngobrol jarak jauh emang sihir gitu." Nah, terus sekarang sudah terbukti ada yang namanya telepon, ada yang namanya handphone gitu kan. Nah, jadi mereka memakai alasan-alasan kayak gitu tapi tetap aja aplikasi mereka ini berbahaya gitu. Nah, mungkin menurut si TFH ini hal ini sudah biasa terjadi dan mereka bakal menjelaskannya kepada pihak Komdigi nanti. Nah, namun status operasional dari aplikasi ini udah ditutup, Geng, termasuk dengan kantornya. Nah, meskipun begitu ternyata masih banyak orang yang masih datang ke sana untuk melakukan verifikasi akun setelah daftar melalui aplikasinya. Dari sini kita bisa lihat meskipun ada isu mengenai resiko penyalahgunaan data ya masyarakat kita kayak enggak peduli. Masih banyak aja yang tertarik untuk scan retina hanya demi mendapatkan uang ratusan rib. Gua saranin sih, Geng, ya. Kalian pikir-pikir lagilah kalau mau ikutan kayak gini. Tapi kalau kalian terdesak karena butuh uang, ya itu terserah kalian. Gua kembalikan keputusannya kepada kalian. Kalau kalian merasa diri kalian tidak berharga, ya go ahead. Nah, gua cuma mau bilang resiko yang akan kalian dapatkan jauh lebih besar di depannya nanti dibandingkan uang yang kalian dapatkan sekarang. Itu aja, Geng. Nah, itu dia, Geng, pembahasan kita hari ini mengenai fenomena banyaknya orang yang melakukan scan retina untuk mendapatkan uang ratusan ribu. Gimana, Geng, menurut kalian tentang fenomena World App dan World Coin ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories