Transcript
j_P_p1fVUcI • MAHASISWA UNUD RUBAH FOTO WANlTA DENGAN DEEPFAKE AI JADI VIDEO T*L*NJ*NG ! LALU DIJUAL
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1420_j_P_p1fVUcI.txt
Kind: captions Language: id Geng, gua udah beberapa kali ya ngebahas kasus mengenai AI. Kalian boleh cek deh video-video sebelum-sebelumnya gua tuh banyak banget ngebahas tentang AI. Mulai dari ee hal-hal yang positif tentang AI sampai dengan hal-hal yang menakutkan dan berbahaya. Memang, Geng, kehadiran AI itu ya sangat membantu kita di dalam melakukan berbagai aktivitas karena teknologi AI di saat ini udah pintar banget. Tapi di sisi lain, AI juga memiliki banyak sekali hal yang negatif alias berbahaya seperti yang gua katakan sebelumnya. Yang salah satunya adalah mengenai hak cipta dari karya-karya yang mereka ambil secara bebas, secara leluasa ee di internet tanpa memikirkan bagaimana nasib dari ee senimannya sendiri. Ini kalau kita berbicara tentang karya. Di video kali ini nih, Geng, kita bakal ngebahas hal negatif lain dari AI. Dan ini gua yakin banget buat kalian yang otaknya sakne-sakne ya bakal berfantasi ini. Yaitu ada sebuah kasus dengan AI yang mana seseorang bisa melakukan aksi kejahatan yang enggak kalah mengerikan dan merugikan yaitu dengan membuat foto seseorang jadi tanpa mengenakan pakaian alias tanpa mengenakan sehelai benang pun. Kacau enggak tuh? Jadi nih muka lu nih diambil nih dibikin pakai AI terlihat seperti asli plek-plekan. Videonya ada ggak pakai apa-apa itu hanya pakai foto aja. Ai bisa membuat foto itu seolah-olah itu benar-benar adalah kita. Dan lebih parahnya lagi foto hasil AI tersebut dijadikan sebagai ladang cuan oleh si pelakunya. Karena e orang ini menjual foto dan video tersebut yang dihasilkan dari AI. Hal ini dilakukan oleh seseorang yang merupakan mahasiswa. Aduh gila ya. Ini adalah perbuatan yang sangat tercela dari seorang generasi bangsa gitu, Geng. Ya, mahasiswa loh bisa kepikiran gitu. Mahasiswa ini menyediakan jasa untuk membuat foto seseorang jadi tanpa busana pakai aplikasi AI yang bernama Deep Fake. Kasus ini lagi ramai banget, Geng, dibicarakan. Bahkan ya dikatakan sudah ada ratusan orang yang fotonya diedit menggunakan deep fake oleh orang ini dan dijual lagi oleh si mahasiswa tersebut. Di video kali ini kita bakal membahas secara lengkap kronologinya gimana dan dampaknya seperti apa supaya kalian lebih berhati-hati lagi dalam meng-upload foto kalian ke sosial media agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang enggak bertanggung jawab. Nah, namun di sisi lain pihak berwenang juga harus menindak orang-orang yang menyalahgunakan teknologi untuk berbuat kejahatan seperti ini. Nanti kita juga bakal membahas nih bagaimana deep fake ini bisa menjadi sebuah aksi kejahatan. Dan ternyata enggak cuma terjadi di Indonesia, tapi banyak negara-negara lain yang mengalami hal yang sama, termasuk Korea Selatan yang mana kasusnya di sana sudah sangat parah banget, Geng. Dan sudah terjadi di banyak sekolah. Oke, langsung aja kita bahas selengkapnya tentang kasus yang satu ini. Halo, Geng. Welcome back to Kamar [Musik] Jerry, Geng. Geng. Oke, untuk kasus yang pertama kita bahas dulu nih terbongkarnya kasus seorang mahasiswa asal Indonesia yang membuat foto tidak senonoh dengan menggunakan AI. Jadi, Geng, kasus ini rame banget, Geng. Terutama di X, ada seorang netizen yang menyuarakan kasus ini, yaitu sebuah akun dengan username Boyilet Donut. Karena enggak diketahui nama asli dari pemilik akun tersebut, jadi kita bakal menyebut nama dia dengan e sebutan Catfish. Di dalam tweet-nya tertulis nih kalau ada seorang pria di universitas atau kampusnya dia yang sudah dia kenal sejak SD. Pria ini dikatakan itu jago bikin deep fake AI ya, menjadikan foto orang lain menjadi tidak senonoh dan e foto-foto tersebut biasanya dia ambil dari Instagram. Nah, di antara foto-foto itu ada salah satu teman kelasnya yang sekaligus teman seangkatan serta teman satu kampusnya dia yang fotonya dipakai oleh si pria ini dan diedit menggunakan deep fake. Sedikit gua jelaskan nih deep fake ini kerjanya gimana gitu ya. Nah, jadi Deep Fake ini adalah rekaman yang dihasilkan oleh komputer yang sudah dilatih melalui gambar-gambar yang tidak terhitung jumlahnya dan bisa mengedit gambar tersebut yang awalnya ee kondisinya A menjadi B. Kondisinya pakai baju menjadi enggak pakai baju. Nah, jadi bisa kayak gitu dan hal ini sangat gampang, sangat simpel menggunakannya. Di dalam kasus yang terjadi kepada si pria tadi, ternyata dia itu udah ngelakuin sejak lama sejak dia masih duduk di bangku SMA. Lalu diduga kalau si pria ini gak cuma mengedit foto orang lain di Deep Fake, tapi juga menjual foto itu ke orang lain lagi. Dugaan tersebut bukan tanpa dasar, Geng. Sebab si pria ini membuat metode pembayaran menggunakan Kris. Dan bagi siapa saja yang udah membayar lewat Kris, dia bakal mengirimkan foto hasil deep fake-nya dia kepada si pembelinya tersebut melalui link Google Drive. Kebayang ya, Geng, ada yang beli ternyata ya, foto-foto kayak gitu. Padahal itu kan fake gitu fotonya. Itu hasil buatan AI. Tapi gimana yang namanya orang sakne udah pengen berfantasi ya? Pengen ya gitu-gitulah. Akhirnya foto editan pun dijadiin bahan. Kacau emang. Lalu geng akun X yang menyebarkan kalau kasus ini ada itu memberikan bukti screenshot chat yang berisikan keterangan dari seorang temannya. Nah, si temannya ini juga sekaligus menjadi korban karena fotonya pernah dicuri dan dipakai untuk diedit menggunakan deep fake. Dan di dalam chat tersebut dikatakan kalau pelaku ini masih berada di Bali tapi udah diop out dari kampusnya. Nah, dia enggak balik ke Tangsel. Dia menetap di Bali yang kemungkinan di Tangsel ini adalah tempat asal si pelaku dan sejauh yang diketahui oleh temannya, pelaku ini udah diinvestigasi dan sudah membuat surat perjanjian hukum. Nah, jadi udah apa ya? Udah ketahuan ya. udah jadi atensi dari pihak penegak hukum. Nah, tapi dia kabur. Pelaku ini dikatakan udah mengakui kalau dia memang punya foto-foto enggak senonoh tersebut dan dia udah jual-jualin. Cuma, Geng, dia itu ngakunya ya, foto itu dipakai untuk konsumsi pribadi ya. Ketika dia sakne ya ngokanglah dia ya. Nah, tapi banyak yang enggak percaya karena memang ada indikasi ya foto-foto ini diperjual belikan. Nah, tapi pengakuan dia enggak ada yang diperjual belikan. Namun foto-foto tersebut dia ambil tanpa izin dan kebanyakan foto-foto yang diambil itu berasal dari follower-follower-nya atau justru dari Instagram di explore-nya dia. Jumlahnya itu ada sekitar 250 orang dan ada sekitar 4.000 lebih foto yang dia sudah simpan. Kacau ya ini. Kalau misalkan enggak ada dorongan dapetin cuan kayaknya dia enggak bakal ngelakuin deh, Geng. Karena logiknya gitu ya. Kalau dia ngaku ini enggak dijual, enggak mungkin banget. Ngapain dia nyimpan 4.000 foto lebih kalau bukan untuk diedit-edit terus diperjualbikan gitu kan. Terus geng di dalam perjanjian hukum yang sudah dibuat oleh pelaku itu disebutkan poin yang tertulis kalau sampai ketahuan dia menyebarkan foto tersebut maka dia bakal langsung dipidanakan. Nah, jadi udah pernah dikasih ultimatum sekali nih orang. Sebab di antara korban yang fotonya dicuri dan disalahgunakan oleh si pria ini, banyak yang masih di bawah umur, Geng. Itu sayangnya. Nah, foto dan nama pelaku juga udah tersebar ke mana-mana. Udah banyak orang yang juga membuat template Instagram dengan wajah si pelaku ini. Awal-awalnya, Geng, berita ini tuh masih sekedar rumor aja. Tapi pada tanggal 16 Maret kemarin, ya, si netizen yang menyuarakan kasus ini pertama kali mendengar informasi ini secara langsung dari keluarganya sendiri dan mengatakan kalau rumor ini ternyata sudah menyebar di lingkungan gereja tempat mereka ibadah. Dan salah satu teman dekatnya meminta kepada dia misalkan kalau ada informasi mengenai si pelaku ini ya karena si temannya tersebut ternyata ikut menjadi korban. Tapi kendalanya adalah dia sendiri enggak tahu banyak dan dia juga enggak dekat sama si pelaku ini. Cuma sekedar kenal. Lalu ada teman lamanya dia yang sudah enggak kota-kotakan lagi selama beberapa tahun. Tiba-tiba aja nge-chat dia dan menanyakan apakah dia baik-baik aja atau enggak. Dan apakah dia pernah mendengar sesuatu tentang si pelaku tadi atau enggak. Nah, kemudian si Cat Vishy ini itu nanya ke temannya tersebut. Dia nanya kayak gini, "Apa yang kamu tahu tentang pria itu?" Nah, dia menunjuk ke searah pelaku dan temannya itu menjawab kalau dia mendengar ada seseorang yang berasal dari sekolah yang sama dengan Catch Vishy yang membicarakan mengenai pelaku persoalan pengeditan foto orang lain pakai deep fake dan dia ternyata benar-benar terbukti menjual dengan menggunakan Kris. Ketika perbincangan tersebut, temannya ini dengar kalau nama Kat Vishy ini disebut-sebut lah. Nah, cuma temannya di saat itu juga enggak bisa memastikan apakah yang dibicarakan itu benar Cat Fishy atau bukan. Nah, sebab ada satu orang lain yang memiliki nama yang sama dengan Cat Fishy. Nah, terus Geng di dalam tweet yang disebarkan oleh Cat Fishy ini, dia akhirnya menyebarkan identitas dari si pelaku. Wah, ini seru nih. Tadinya kan disembunyi-sembunyiin nih, tiba-tiba identitas pelaku dipampang nih sama si Katishy. Namanya itu adalah Sergio Lukas Sandro Kesatria Dwiputra. Waduh, berat banget namanya ya. Dia ini merupakan mahasiswa Universitas Udayana angkatan 2022 dan dia mengambil program studi akuntansi. Sejauh informasi yang didapat oleh Katisi, Sergio ini masih tinggal di Bali dan masih aktif sebagai mahasiswa. Diketahui kalau Sergio dulu pernah bersekolah di SMA Santa Ursula BSD. Dan di dalam profil Linkin-nya yang sekarang udah hilang nih ya. Nah, dia ini sempat mencantumkan kalau dia pernah magang sebagai accounting di dua perusahaan. Nah, di dua perusahaan yang berbeda gitu ya. Dan Sergio ini juga disebut-sebut sebagai anggota dari koperasi Universitas Udayana. Terus kemudian ada informasi yang didapat oleh si Cat Visi tadi kalau sebenarnya kasus ini tuh udah tersebar sejak pertengahan bulan Maret tahun lalu, Geng. yang menyebutkan kalau Sergio itu sudah mengumpulkan dan mengedit foto-foto dari mahasiswi menggunakan deep fake dan membuat konten yang enggak senonoh bahkan mengarah ke pornografi. Terus yang parahnya nih ya korbannya itu mayoritas berasal dari lingkungan kampus fakultas ekonomi dan bisnis atau FEB yang ada di Udayana. Gila, mahasiswa loh dikerjain sama dia. Bahkan ada satu korban bisa memiliki satu folder khusus yang berisi belasan foto yang diedit menggunakan deep fake. Dan kasus ini, Geng, akhirnya bisa terungkap setelah mantan pacarnya Sergio yang berinisial N yang membuka HP Sergio dan menemukan adanya folder-folder yang berisi foto enggak senonoh di HP-nya dia. Nah, mengetahui adanya foto-foto tersebut, N kemudian menghubungi beberapa korban yang dia kenal untuk menyampaikan penemuannya serta untuk memperingatkan mereka mengenai aksi Sergio. Terus, Geng, walaupun dikatakan sudah membuat surat perjanjian hukum yang mengatakan kalau dia terbukti memperjual belikan foto, maka dia akan dipidanakan. Namun dikatakan kalau belum ada upaya hukum yang memperjuangkan para korban, oleh karena itu ya diviralkanlah kasus ini agar Sergio bisa cepat diproses dan dihukum atas segala perbuatannya. Amin. Upaya Sergio untuk menyelesaikan masalah ini selain dengan membuat surat perjanjian hukum juga ingin membuat tulisan permintaan maaf yang dimuat di koran katanya. Dan di dalam tulisan permintaan maaf tersebut juga tertulis nama dari kuasa hukum Sergio yang mengawal dia dalam menghadapi tuntutan terhadap Sergio. Tapi tetap aja, Geng, permintaan maaf enggak cukup gitu ya. perlu ada tindak lanjut berupa penanganan secara hukum untuk bisa menyelesaikan kasus ini. Mengingat sudah banyak korban yang berjumlah 200-an orang. Dan betapa berbahayanya kasus ini karena foto orang lain bisa diedit menggunakan deep fake dan bahkan bisa diperjual belikan dengan tidak bertanggung jawab. Tapi sayangnya pihak kampus yaitu dekanat FEB fakultas dari si Sergio ini yang sudah mendapatkan laporan mengenai kasus ini belum juga diproses. Belum juga memproses. Bahkan ketika Katvishi menyuarakan kasus ini, Sergio itu masih berkeliaran di dalam kampus Universitas Udayana. Perihal menurut informasi yang beredar, pihak Dekanat FEB Udayana sudah melakukan sidang etik di tanggal 18 Maret tahun 2025 dan kasusnya sudah diajukan ke tingkat universitas. pada tanggal 21 Maret untuk kemudian diproses lebih lanjut. Tapi sampai saat ini belum ada kejelasan mengenai keputusan akhirnya bakal seperti apa. Jadi, geng menurut pengakuan dari salah satu korban yang berinisial KB, Sergio ini melakukan modus yang terstruktur sehingga enggak menimbulkan kecurigaan dari korban. Nah, Sergio dan si KB ini merupakan mutual friends atau ya teman yang ada di Instagram sekaligus di kampus. Dan KB mengatakan kalau kemungkinan besar Sergio ini udah melancarkan aksinya ketika dia masih bersekolah. Nah, teman-teman kuliahnya di Udayana itu enggak tahu kalau ternyata kasus ini udah berulang dan sudah pernah dia lakukan sebelumnya terhadap teman-teman yang ada di Jakarta. Nah, KB ini menceritakan kalau ada salah satu mantannya Sergio berinisial N itu dia menunjukkan ke si KB ini screenshot berupa foto-foto korban yang tersimpan di folder handphone-nya Sergio lengkap dengan namanya dari para korban ini. Dan ada salah satu screenshot berupa barcode Kris. Nah, di sinilah kecurigaan mulai timbul kalau jangan-jangan Sergio ini diduga melakukan transaksi terhadap foto-foto itu alias diperjual belikan. Pihak korban udah menanyakan nih ke si Sergio ini mengenai hal itu, tapi dia ngebantah. Nah, tapi kecurigaan para korban ini gak hilang begitu aja dan tentunya mereka enggak percaya begitu aja kepada si Sergio. Apalagi file dari foto-foto tersebut diberi nama menggunakan nama lengkap dari para korbannya. Kenapa harus diberi nama kayak gitu? Kalau memang dikonsumsi secara pribadi oleh Sergio dan akhirnya ya pada tanggal 14 Maret tahun 2025 jam 0.30 30 malam waktu Indonesia bagian tengah, perwakilan korban itu melakukan pertemuan nih dengan si Sergio ini di sebuah kafe yang berlokasi di Jalan Tukat Badung, Bali. Ya, karena orang-orang udah penasaran nih, kalau emang enggak lu jual beli, kenapa harus apa ya dikasih nama kayak gitu? Kalau emang buat konsumsi lo pribadi kenapa harus nama lengkap? Kan aneh nih. Nah, di dalam pertemuan tersebut Sergio membuat dan menandatangani surat perjanjian di atas matrai dan berisi pertanggungjawabannya dia terhadap kasus ini. Terus apakah kasus ini selesai kayak gitu aja? Dan bagaimana kelanjutan dari kasus tersebut, Geng? Nah, apakah masih belum ada perkembangan? Nah, keterangan dari pihak Universitas Udayana itu udah buka suara lah mengenai kasus dari si Sergio ini dan dikatakan mereka sudah mengambil langkah serius untuk menangani kasus ini, Geng. dengan menindaklanjuti secara internal melalui tim etik fakultas dan mereka sudah menyampaikan laporan resmi kepada rektor. Dan selain proses etik, satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual atau Satgas PPKS udah diminta keterangan juga untuk terlibat di dalam kasus ini dan memberikan rekomendasi kepada pihak universitas untuk menjamin perlindungan terhadap para korban. Nah, tapi sejauh pencarian gue nih ya, belum ada informasi mengenai apa sanksi yang bakal diberikan kepada si Sergio ini karena masih menunggu keputusan dari dewan etik senat, Geng. Nah, jadi kita tunggu aja nanti update terbarunya dari kasus ini tuh kayak gimana. Karena kan ini ya selain menggelik juga menakutkan ya. Siapa aja bisa jadi korbannya. Kalau kita berbicara tentang kasus-kasus yang berkaitan dengan deep fake ini memang baru ramai dibicarakan sekarang ketika kasusnya si Sergio ini. Nah, tapi sebenarnya sebelum kasus ini ramai dan mencuat ke publik, udah ada kasus serupa yang terjadi, Geng. Udah banyak sebenarnya, sekitar 2 tahun yang lalu bahkan. Nah, jadi ketika itu sempat ada screenshot yang memperlihatkan Google Form bagi orang-orang yang mau dibuatkan foto cewek-cewek menggunakan deep fake agar foto dari cewek tersebut bisa ditampilkan dalam keadaan tanpa busana. Nah, di dalam Google Form tersebut ada kolom untuk mengisi username dari si cewek yang fotonya mau dibuatkan deep fake. Dan ya nanti bakal ada kolom yang berisikan pilihan apakah ada yang punya foto cewek hasil deep fake atau masih berupa foto aslinya. Nah, link Google Form tersebut nanti disebar di dalam sebuah grup Telegram yang bernama Rahasia Mantan yang disingkat dengan RM. Dan pada saat itu dikatakan ada puluhan ribu orang yang join ke grup tersebut dan saling berbagi foto cewek hasil deep fake. Selain itu, ada empat ruang obrolan di dalam grup tersebut. Lalu ada juga grup lain yang digunakan untuk transaksi jual beli konten enggak senonoh. Nah, salah satu grup di room chat Telegram tersebut ada yang memiliki 10.000 pengikut di bulan Maret tahun 2023. Dan setelah informasi mengenai keberadaan dari grup itu viral, diketahui kalau grup itu sempat hiatus alias kayak enggak berfungsi, enggak aktif gitu ya. Nah, tapi ternyata aktivitas mereka masih berlangsung di platform sosial media lain yang salah satunya adalah TikTok. Makin terbuka mereka yang tadinya mereka terselubung di dalam Telegram, tapi sekarang mereka malah terbuka di TikTok. Dan ada banyak orang dalam yang tergabung di dalam grup ini yang akhirnya ikut membantu untuk menguak kasus ini, Geng. Dengan memberikan informasi-informasi terbaru pada saat itu mengenai aktivitas di dalam grup tersebut. Karena kan mereka ada di sana. Nah, dikatakan udah ada pelaporan terhadap grup RM ini alias rahasia mantan ini ke polisi dan Direktorat Tindak Pidana Cyber. Nah, tapi geng pemberitaan mengenai kelanjutan kasus ini tuh enggak berhasil gua temukan. Jadi, mungkin kalau kalian tahu informasinya ya bisa berikan ee informasinya di kolom komentar. Kita berbagi info aja. Nah, jadi emang parah banget ya kemajuan teknologi malah di apa ya disalahgunakan oleh orang-orang yang berotak cororselet kayak gini yah kayak enggak ada hal lain yang bisa dikerjakan yang lebih bermanfaat gitu ya. Kalau tadi kasusnya di Indonesia ya yang gua ceritain. Sekarang kita bakal membahas untuk kasus-kasus yang serupa tapi terjadi di negara lain. Salah satunya terjadi di Korea Selatan. Nah, dikatakan di sana tuh udah banyak kasus yang berkaitan dengan deep fake ini dan targetnya adalah perempuan yang masih di bawah umur. Gila gak tuh? Dan sekarang kita bakal masuk ke dalam pembahasan mengenai kasus deep fake di Korea Selatan ini. Jadi, geng, kasus serupa juga terjadi di Korea Selatan. Bahkan kasusnya jauh lebih banyak dibandingkan di Indonesia. dan korbannya termasuk mereka yang masih di bawah umur. Nah, hal tersebut diketahui setelah viralnya beberapa room chat di Telegram yang diduga membuat dan menyebarkan konten-konten enggak senonoh alias deep fake. Nah, ada salah satu korban yang namanya disamarkan menjadi Hejin. Dia ini mengaku mendapatkan sebuah pesan dari Telegram dari orang yang enggak dia kenal di tanggal 31 Juli 2024. Dan pesan tersebut tertulis kalau foto-foto dan informasi pribadi dari Hijin ini sudah bocor dan sudah dimiliki oleh banyak orang. Nah, orang yang mengirimkan pesan ini mengajak Hjin untuk berbicara secara serius atau berdiskusi gitu lah, Geng. Ya, kayak dia ngajak, "Eh, foto-foto lu udah kesebar nih, data diri lu juga lu mau ngobrol dulu enggak sama gua deal-dealan." Kayak gitulah kurang lebih. Pada saat Hen ini membuka pesan tersebut, ada foto dia yang diambil ketika dia masih sekolah beberapa tahun yang lalu. Lalu ada dua foto lagi yang sebenarnya adalah foto yang sama, tapi fotonya yang satu lagi ini udah diedit dan dibuat menjadi foto yang enggak senonoh. Jadi, dikasih tuh before after-nya. Alias kalau anak-anak memes zaman sekarang bilang before, setelah before. Jadi foto before dan setelah before-nya. Otomatis Hin merasa takut gitu kan. Dia walaupun tahu itu editan, tapi dia udah ketakutan duluan dan dia memilih untuk enggak merespon pesan itu. Tapi orang tersebut ya yang mengirim pesan dan enggak dikenal ini malah terus mengirimkan foto Hejin yang lain yang sudah diedit tidak senonoh. Jadi seram banget. Ini udah semacam pengancaman. Dan Hein ini bukanlah korban satu-satunya ternyata. Karena sebelumnya jurnalis Korea Selatan yang bernama Konarin itu mempublikasikan berita mengenai kasus ini, Geng. Di mana terungkap kalau polisi corsel sedang menyelidiki jaringan deep fake ini di dua universitas besar. Jurnalis yang bernama Konarin ini meyakini kalau mungkin ada lebih banyak lagi jaringan kayak gini di luar universitas tersebut. Lalu konarin ini berinisiatif untuk menyelidiki lebih lanjut sampai akhirnya dia menemukan puluhan grup obrolan di aplikasi Telegram di mana para penggunanya itu ternyata membagi-bagikan foto-foto dari perempuan yang mereka kenal. Mereka menggunakan defake untuk mengubah foto-foto tersebut menjadi foto palsu dalam hitungan detik. Co itu menemukan kalau kelompok-kelompok ini enggak hanya menargetkan mahasiswa karena ada juga grup-grup yang menargetkan siswa SMA bahkan SMP. Nah, namun korbannya enggak selalu mahasiswi atau siswi-siswi aja, Geng. Bahkan guru pun juga kena. Gila, ya. Kurang ajar banget nih. Itu memang enggak punya brain, ya. Enggak punya brain nih pelaku-pelakunya. Guru loh yang ngajarin Lau lu edit-edit fotonya enggak pakai busana. Aduh, gua gua enggak ada tuh kepikiran kayak gitu tuh kayak nafsu sama guru. Ya mungkin guru-guru gua zaman dulu ya apa ya? Karena gua dulu kan sekolahnya di Aceh gitu pakai pakai hijab kali ya. Jadi enggak yang gimana-gimana gitu kan bajunya baju kurung gitu. Kalau guru-gurunya kayak Bu Guru Salsa, haduh beda cerita sih. E gua bercanda Geng ya. Jangan dicari tuh Bu Guru Salsa itu siapa jangan dicari. Oke kita lanjutkan. Kalau ada banyak konten yang dibuat menggunakan gambar dari seorang siswa tertentu, maka akan ada ruang obrolan sendiri khusus, Geng. Ruang obrolan itu akan diberi nama yang kalau dalam bahasa Indonesia itu berarti ruang penghinaan atau ruang teman dari teman. Enggak sembarang orang bisa masuk ke dalam room chat ini, Geng. karena ada syarat-syaratnya. Dan kebanyakan member grupnya itu berasal dari siswa-siswa di bawah umur di sebuah sekolah dengan lebih dari 2.000 anggota. Itu siswa-siswa sakne semua ya yang otak-otaknya ngacengan. Ya, gimana enggak gitu kan, gimana gua enggak bilang ini ngacengan? Elisa nafsu sama editan, bukan foto asli. Nafsu lah. Uh, kan aneh penyakit itu ya, adik-adik. Nah, di saat itu udah ada lebih dari 500 sekolah serta universitas yang teridentifikasi menjadi target. Mayoritas dari korbannya berusia di bawah 16 tahun dan sebagian besar pelakunya adalah remaja. Dan gemparnya berita ini membuat takut banyak perempuan di Korea Selatan dan mereka memutuskan untuk menghapus foto-foto mereka dari sosial media atau menonaktifkan akun mereka karena takut kalau fotonya bakal dipakai untuk deep fake. Nah, sekitar bulan Oktober tahun 2024, ada seorang pria yang berusia 20 tahunan itu ee ditangkap atas tuduhan sudah membuat sebanyak 4.313 313 video deep fake dari 72 selebriti wanita dan menjualnya secara online. Dan dari penjualan yang dia lakukan dari bulan Januari sampai Maret 2024, dia berhasil mendapatkan uang sebesar 3,83 juta won. Dan selain itu, polisi juga menangkap seorang pria asal Cina yang berusia 30 tahunan yang mana dia ini menyebarkan sebanyak 14.526 26 video enggak senonoh. Di antaranya ada 20 video deep fake dari selebriti wanita sekaligus dia menjalankan situs yang enggak boleh kalian akses. Oke, Siktus Dewasu ya. Dia ini berhasil mendapatkan uang 140 juta won dari mempromosikan judul dan konten ilegal di sana. Gila enggak tuh? Memang ya, Geng, pelaku-pelaku dari aksi kejahatan kayak gini itu memanfaatkan Telegram sebagai media. Karena ya Telegram itu kan bersifat privat dan juga pesan-pesannya diripsi, jadi bisa hilang gitu. Enggak seperti aplikasi lain yang diakses dengan mudah oleh pihak yang berwenang. Telegram enggak kayak gitu. Dan para pengguna Telegram ini biasanya juga sering anonim atau tidak menggunakan identitas asli pribadinya dia dan chatnya juga bisa diatur agar enggak bisa dilihat oleh orang lain yang bukan member. Nah, jadinya konten-konten yang berada di dalam Telegram itu bisa dihapus dengan cepat tanpa meninggalkan jejak. Oleh karena itu, Telegram lah yang dipilih oleh banyak pelaku kayak gini karena identitas dan aksi mereka bakal sulit untuk ketahuan. Nah, tapi meskipun fitur-fitur dari Telegram ini sangat cocok untuk membantu para pelaku di dalam melakukan aksi mereka, tapi para aktivis perempuan enggak serta-merta menyalahkan Telegram. Nah, mereka menuduh pihak berwenang di Korea Selatan lah yang terlalu lama membiarkan pelecehan di Telegram ini. Karena negara tersebut pernah mengalami hal yang sama tepatnya tahun 2019 silam. yang mana pada saat itu terungkap adanya sebuah jaringan yang menggunakan Telegram untuk memaksa para perempuan dan yang masih di bawah umur untuk membuat dan membagi bagikan foto yang eksplisit. Pada saat itu polisi meminta bantuan Telegram untuk membantu penyelidikan. Namun eh Telegram mengabaikan permintaan itu. Jadi kayak enggak ada harga dirinya lah polisi Korea Selatan di saat itu. Terus geng lembaga Advokasi untuk Korban Kekerasan Seksual Online Korea Selatan atau disingkat dengan AC atau bacanya tuh Akosa gitu ya. Mereka itu bilang kalau jumlah korban yang di bawah umur dari konten-konten yang ya enggak bisa dibiarkan ini sudah meningkat tajam. Di tahun 2023 aja lembaga tersebut mendampingi sebanyak 86 korban remaja. Sementara itu, organisasi-organisasi perempuan itu mengakui kalau teknologi EAI ini yaitu salah satunya deep fake itu mempermudah eksploitasi terhadap korban. Dan deep fake ini merupakan wujud dari misogini terbaru yang terjadi secara online di Corsel. Perempuan itu menjadi sasaran paling empuk untuk pelecehan-pelecehan verbal secara online. Lalu muncul banyaknya kamera yang merekam aktivitas perempuan ketika berada di dalam toilet umum maupun di ruang ganti. Nah, apalagi di Korsel kesetaraan gender itu masih menjadi hal yang belum banyak dilakukan sehingga ancaman terhadap perempuan sudah menjadi hal yang serius di sana. Tapi ya gua bisa bilang kesetaraan gender tidak menjadi jaminan kalau hal ini bisa terjadi gitu. Nah, jadi dari gua pribadi juga tidak membenarkan yang namanya kesetaraan gender itu. Karena sejatinya perempuan memang harus dilindungi oleh laki-laki. Kalau perempuan melindungi diri sendiri, merasa sama rata sama laki-laki, ya kayak gini nih entar terjadinya apa ya kayak eh kalah power gitu ya. Perempuannya merasa, "Gua bisa jaga diri kok, gua bisa bela diri." Giliran nanti menghadapi laki-laki bejat yang enggak jelas ya ujung-ujungnya kalah tenaga gitu kan. Terus, geng, di Amerika Serikat juga pernah terjadi kasus deep fake ini dan pelakunya itu baru ditangkap di tanggal 4 April kemarin. Baru aja nih, pelakunya itu bernama Brandon Tyler yang sudah menggunakan deep fake untuk membuat foto-foto enggak senonoh dan menyebarkannya di forum. Ada 20 perempuan yang menjadi korban dia dihadirkan di dalam persidangan, Geng. Dan mereka mengaku kalau sudah dijadikan sasaran di dalam 173 unggahan online yang dibuat oleh Tyler antara bulan Maret 2023 sampai bulan Mei 2024. Terus selain itu, Tyler juga menyebarkan identitas pribadi dari korban-korbannya seperti nama mereka, terus akun sosial medianya sampai nomor teleponnya. Geng gila enggak tuh? Dia ini udah mengaku 18 tuduhan yang dijatuhkan kepada dia mengenai pelecehan tanpah kekerasan dan 15 tuduhan yang menyebarkan foto atau video yang tidak senonoh untuk memenuhi nafsu bejatnya dia. Nah, selain aksi yang dia lakukan oleh si Tyler ini, banyak banget kasus deep fake seperti ini, Geng, yang menargetkan tokoh-tokoh terkenal. Salah satunya adalah ya Tor Swift ya. Selebriti cantik yang satu ini atau penyanyi cantik yang satu ini. Foto-foto Tylor Swift itu udah diedit menggunakan deep fake dan banyak tersebar di X. Terus ya juga deep fake ini digunakan untuk mengedit politisi-politisi perempuan Amerika Serikat. Jadi dipakai sebagai alat politik untuk menjatuhkan politisi di sana. Dan oleh karena itu, pemerintah dari 10 negara bagian akhirnya membuat undang-undang yang memberikan denda kepada siapa saja yang menyebarkannya. 10 negara bagian tersebut adalah ya California, Florida, Georgia, Hawai, Illinoa, terus ada Minnesota, New York City, dan Sod Kota Texas, serta Virginia. Kalau tadi di Amerika, nah ini di Inggris juga sama ternyata tercatat kasus gambar enggak senonoh yang dibuat menggunakan deep fake itu sudah meningkat lebih dari 400% sejak tahun 2017. hukum di negara tersebut sudah mengatur mengenai larangan untuk mengunggah foto atau video yang enggak senonoh tanpa persetujuan dan dengan tujuan untuk mengintimidasi atau yang biasa disebut dengan ini. Nah, cuma, Geng dalam peraturan tersebut ya enggak mencakup hukuman bagi yang menyebarkan foto palsu seperti yang dibuat dengan deep fake ini. Dan oleh karena itu, pemerintah Inggris bakal membuat pelanggaran baru untuk mengatur hal ini, Geng. yang mana nantinya bakal dimasukkan ke dalam RUU kejahatan dan kepolisian yang akan diajukan ke parlemen dan bagi siapa saja yang melanggar akan mendapatkan hukuman penjara selama 2 tahun. Nah, lalu sebenarnya siapa sih yang mengembangkan deep fake ini? Kok bisa aplikasi seberbahaya ini ada di media sosial? Nah, ternyata geng pengembangnya adalah Cina, negara Cina. Tapi yang anehnya di Cina sendiri deep fake ini dilarang untuk dipergunakan. Cina sama sekali enggak bertindak untuk mencegah bahaya dari deep fake di negara-negara lain. Kalau di negara dia dilarang. Bahkan dikatakan kalau Cina masih terus meraup keuntungan dari banyaknya unduhan deep fake dari luar negeri, terutama di Amerika. Karena di negara tersebut banyak orang yang men-download dan ya makanya di Cina sendiri yang menjadi negara sebagai produsennya atau pengembangnya justru enggak banyak kasus karena mereka melarang itu. Alasannya karena memang dilarang oleh pemerintahnya. pemerintahnya udah tahu tuh dampak negatif dari deep fake ini. Dan untuk itulah negara-negara lain yang jadi harus mengadaptasikan peraturan di negara mereka untuk bisa menangani kasus-kasus yang berkaitan dengan deep fake ini. Gila ya Cina ya. Mereka yang bikin penyakitnya, orang lain yang nanggung gitu. Dan AI memang adalah hasil dari perkembangan teknologi yang enggak bisa kita tolak keberadaannya dan AI juga marah dipakai di dalam berbagai bidang. Contohnya udah banyak nih, bagaimana AI bisa memudahkan kita sehari-hari dan semakin ke sini, teknologi AI pun semakin canggih dengan bisa mengubah penampilan dari manusia di foto atau di video. Makanya teknologi ini juga dipakai di dunia perfilman yang bisa mengubah penampilan aktor menjadi lebih tua atau lebih muda sesuai dengan peran yang dia mainkan di film tersebut. Namun seperti yang gua udah bilang di awal tadi, kalau segala kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi AI ini juga memiliki dampak negatif. Salah satunya adalah deep fake tadi. Dengan deep fake yang saat ini sudah semakin mudah diakses oleh masyarakat membuat banyaknya informasi berupa video atau gambar-gambar palsu yang mirip dengan aslinya. Sementara masyarakat sendiri belum memiliki kemampuan yang cukup untuk bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu atau deep fake. Apalagi orang-orang di desa atau orang-orang di kampung. Makanya bahaya banget nih deep fake ini bisa dipakai untuk black campaign atau kampanye hitam. Oke, itu dia, Geng, pembahasan kita hari ini mengenai kasus deep fake yang dilakukan oleh mahasiswa Udayana dan beberapa kasus di negara lainnya. Gimana menurut kalian tentang kasus ini?