KASUS PENGUSAHA SURABAYA TAHAN IJAZAH KARYAWAN & POTONG GAJI JIKA SHOLA JUMAT ! SENTOSO SEAL
d9B8DK85YEE • 2025-04-24
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Aduh, Geng. Hari gini nyari kerjaan susah. Banyak orang yang masih belum dapat kerja. Belum lagi banyak perusahaan yang melakukan PHK, ya kan? Nah, bisa kebayang tuh, Geng, orang-orang yang belum dapat kerja aja udah banyak ditambah dengan orang yang kena PHK lagi. Pengangguran semakin menyala di negara kita Indonesia. Jadi, makin banyak saingan juga nih untuk bisa mendapatkan lapangan pekerjaan. Terus ini sesuai dengan judul yang bakal kita bahas ya. Di tengah-tengah kondisi ekonomi negara kita lagi carut-marut, PHK di mana-mana, pengangguran semakin banyak, kok bisa-bisanya tiba-tiba ada perusahaan yang sengaja memanfaatkan kesempatan ini ya semacam ingin mengeksploitasi karyawan. Ya emang sih nyari kerja sekarang susah ya kan banyak yang kena PHK. Tapi enggak juga. Karyawan tuh diperlakukan semena-mena. Nah, ini kayak yang akan kita bahas nih. Beneran terjadi dengan teman-teman kita atau saudara-saudara kita yang ada di Surabaya, Jawa Timur. Mereka mengeluhkan kalau ijazah mereka sengaja ditahan oleh pihak perusahaan, Geng. Sampai ada yang udah keluar dari perusahaan tersebut pun ijazahnya tetap enggak dikembalikan, masih ditahan. Ini kan benar-benar kacau ya. Namanya orang udah gak mau kerja di perusahaan itu. Kalau dia keluar ya itu hak dia. Kalau misalkan kena penalti ya tinggal diomongin. Tapi gak bisa tuh ngehukum dengan cara menahan dokumen penting kayak gitu. KTP itu enggak boleh ditahan, ijazah juga enggak boleh. Karena secara logikanya kalau itu ditahan terus gimana dia cari kerja. Ya, ini adalah sebuah keegoisan kelas iblis lah. Bisa gua bilang kayak gitu ya. Iblis aja malu kayaknya. Nah, terus geng yang gilanya ini perusahaan membuat sebuah peraturan tuh ya laki-laki muslim setiap hari Jumat itu dipersulit ketika dia mau beribadah salat Jumat. Yang mana biasanya ya perusahaan itu kan memperbolehkan salat Jumat bagi laki-laki karena itu wajib dan memberikan jam istirahat yang ya bisa dikatakan cukup panjanglah dibanding hari-hari yang lain. Ini benar-benar perusahaan yang beda banget. Bedanya tapi dalam konotasi negatif gitu ya. yang mana karyawan yang mau melakukan salat Jumat itu malah dikenakan denda oleh mereka. Nah, yang bikin enggak habis pikirnya lagi, Geng, ketika kasus ini akhirnya diadukan kepada pihak terkait seperti wakil walikota, terus ada wakil menaker gitu. Bukannya pihak perusahaan ini eh menghormati atau mengikuti arahan, tapi malah mereka ngelaporin si wakil walikota ke polisi. Gila ya, udah benar-benar apa ya? Gua jadi mikir kayak ini tingkat kejahatan di Indonesia makin tinggi apa karena hal ini ya? Karena orang-orang tuh menganggap remeh hukum gitu. Bisa kebayang ya, Geng? Pemerintah aja sekelas wakil walikota yang memimpin daerah tempat di mana perusahaan itu berdiri itu bisa dilawan sama dia. Apalagi orang-orang kayak kita nih cuman selevel-level taiah ayam cair begini. Iya kan? Buka bisnis di tempat orang ya di tanah yang mana dipimpin oleh si wakil walikota tersebut. Tapi bukannya nurut dengan aturan yang berlaku, malah dia ngajak ngadu power. Ini enggak habis pikir banget gua. Nah, di video kali ini kita bakal membahas rangkuman tentang kasus ini, Geng. Sebelumnya ya gua mau disclaimer dulu nih, Geng. Kalau gua di sini cuma orang yang ingin menyampaikan informasi aja, ya. Jadi, apa yang gua lihat di pemberitaan, gua rangkum, gua sampaikan ke kalian. Dan semua informasi yang gua ambil juga bisa kalian cari di internet kalau kalian mau memastikan lagi. Nah, jadi semua yang gua ceritakan ini bukan berdasarkan opini pribadi gua. Oke, kita langsung bahas. Welcome back to Kamar Jerry. [Musik] Oke, kita awali kasus ini eh dengan peristiwa ketika adanya seorang karyawan dari perusahaan tersebut melaporkan adanya tindakan eksploitasi kecurangan dari perusahaan itu kepada wakil walikota sampai kejadian ini jadi viral. Jadi, geng, kasus ini menjadi viral. ketika Wakil Walikota Surabaya yang bernama Pak Armuji. Nah, beliau ini mengunggah sebuah video di channel YouTube-nya yang mana di dalam video itu Pak Armuji ini terlihat bersama dengan mantan karyawan perusahaan yang mengaku kepada dia kalau ijazahnya dia ini masih ditahan oleh pihak perusahaan tempat dia bekerja sebelumnya walaupun dia udah mengajukan pengunduran diri dari perusahaan tersebut. Pernah ijazah? Hah? Pernah ijazah? Ijazah apa? Ijazah SMA. Ah. Halo, sudah saya laporkan kecerta tidak bisa menyelesaikan malah saya dibimpung, Pak. Dipermainkan. Oh, itu ditahan di perusahaan. Iya. Nah, diketahui nih, Geng, nama karyawan tersebut adalah Nila. Nah, Nila ini datang, Geng, ke rumah dinas wakil walikota pada tanggal 25 Maret tahun 2025 untuk mengadukan langsung. Nah, akhirnya Pak Armuji sebagai wakil walikota langsung nyamperin perusahaan tersebut. Jadi, geng, ketika Pak Armuji ini bertemu dengan Nila, Nila itu cerita kalau ijazah SMA-nya dia itu udah ditahan oleh perusahaan selama 3 bulan. Dan menurut pengakuan Nila, dia kesulitan untuk mengambil dokumen yang akan dipakai untuk mencari pekerjaan selanjutnya. Sebab hampir di semua perusahaan itu pasti meminta ijazah terakhir calon si pekerjanya. Nah, karena ijazahnya masih ditahan, Nila ini enggak bisa untuk cari kerja di tempat baru. Nila sempat melaporkan masalah yang dia alami tersebut ke Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Surabaya. Tapi menurut pengakuannya ya belum ada perkembangan atas kasus yang dia laporkan ini. Nah, dia udah lapor tapi sama sekali belum ada tanggapan. Nah, oleh karena itu akhirnya Nila memutuskan untuk mengadukan ini ke Pak Armuji yaitu Wakil Walikota Surabaya untuk bisa menangani permasalahan ini. Nah, Pak Armuji akhirnya merespon nih, Geng. Karena aduan nila ini dianggap sangat serius oleh Pak Armuji. Nah, beliau melakukan inspeksi mendadak ke tempat di mana Nila bekerja, yaitu ke usaha dagang atau UD yang bernama Sentoso Seal pergudangan Margom Mulyo Surulia Permai di Blok H4 Surabaya pada tanggal 9 April tahun 2025. Cuma geng, di saat itu Pak Armuji ini sampai di lokasi nih, pintu besi perusahaan tersebut tertutup rapat kayak gak ada orang gitu. Dan Pak Armuji kemudian mencoba untuk menelepon seorang pria yang diketahui bernama Handy. Nah, Handy ini dikatakan pemilik perusahaan tersebut. Nah, di dalam telepon tersebut Pak Armuji ini minta supaya pintu pabrik itu dibuka supaya beliau bisa berdialog dengan pihak perusahaan di dalam ruangan. Tapi permintaan Pak Armuji itu ditolak oleh Handy dan teleponnya itu dimatikan tiba-tiba. Tolong dibukain ngomong ngomongnya di dalam ada orang mana ada C buka. Halo T. Nah, karena Pak Armuji ini merasa kayak dia enggak dihargai. Nah, enggak kehabisan akal Pak Armuji mencoba untuk menghubungi pihak lain yang mana itu adalah orang tersebut juga yang merupakan pemilik dari perusahaan ini, Geng. Nah, kali ini pemilik yang ditelepon itu adalah eh perempuan namanya Diana. Dan ketika Pak Armuji ini terhubung dengan Diana ini, lagi-lagi beliau tidak mendapatkan sambutan yang ramah. Diana ini malah mengeluarkan kalimat yang menurut gua gokil juga itu ya. eh untuk berdialog dengan seorang pejabat daerah gitu. Dia ngomong kayak gini, "Mau wakil walikota mau apa, sampean kalau ada keluhan ke polisi aja. Dan saya enggak kenal sampean, sampean penipuan." Buset gila wakil walikota L digituin loh. Padahal Pak Armuji ini sudah menjelaskan kalau dia adalah wakil walikota tapi malah disebut sama orang yang bernama Diana ini kalau dia adalah seorang penipu. Mau wakil walikota mau apa sampean kalau ada keluar ke polisi ajautan. He hei kamu warga Surabaya apa warga luar negeri ngomong gitu-gitu itu. Saya enggak kenal sampean. Saya enggak kenal sampean. Sampean punya perusahaan ya. Iya. Heh, sampean penipuan. Saya enggak kenal sampean ya, sorry ya. Kok kayak berani banget gitu, Geng ya ini orang. Padahal ya sebelum menyatakan kayak gitu, tanya dulu baik-baik lah. Benar enggak sih pastiin wakil walikota apa bukan gitu kan. Karena enggak mungkin gitu kalau dia mau nipu dia ngakunya wakil balik. Orang kalau mau nipu itu paling enggak ngakunya tuh apa ya, ormas mungkin atau hal-hal yang menyeramkan gitu yang pakai senjata kek, ngaku tentara gitu kan agak seram gitu. Atau ngaku saya polisi nih, saya anggota bisa gitu. Nih wakil walikota ya. Siapa orang yang mau nipu tapi kepikiran ngaku sebagai wakil walikota gitu? Kenapa enggak sekalian walikotanya aja bukan wakil kan aneh gitu ya. Nah, tapi karena Pak Armuji ini yang gak dipersilakan untuk masuk, beliau menduga kalau jangan-jangan memang ada sesuatu nih di dalam e gudang tersebut. Pak Armuji jadi curiga apa mungkin-mungkin ini bisa mengarah ke narkoboy atau mungkin barang-barang ilegal lain gitu. Bahkan, Geng, video ketika Pak Armuji ini datang ke perusahaan itu viral. Di akun channel-nya, video sidak Pak Armuji sudah ditonton sebanyak 400-an lebih views. Nah, cuplikan dari video tersebut juga sudah diposting oleh netizen di sosial media dan eh ini sebagai bentuk apa ya dukungan netizen untuk mengangkat kasus ini agar diketahui oleh publik. Setelah video tersebut viral, bukannya permasalahan jadi selesai, tapi malah tambah panjang. Permasalahan baru jadi nambah. Karena Pak Armuji membuat sebuah video TikTok pribadinya dia dengan menggambarkan kalau beliau dilaporkan ke Polda Jatim pada tanggal 10 April tahun 2025 gara-gara kasus ini. Pelaporan ini dilakukan oleh kedua pemilik perusahaan tadi, Geng, yaitu yang bernama Handy dan juga Diana dengan alasan mereka merasa tidak terima dengan video yang diunggah oleh Pak Armuji ke media sosial ketika melakukan sidak di perusahaan Sentosil mereka. sehingga ya mereka ngelaporin ee beliau ini atas tuduhan pencemaran nama baik dan melanggar UTE. Waduh, takut banget ya, Geng. Ni kita nih berdiskusi begini, merangkum begini gimana ya nasib kita ya? Tapi enggak apa-apalah kan yang kita bicarakan adalah ee kenyataan yang ada di pemberitaan. Nah, jadi Uite itu selama yang dibicarakan itu sesuai dengan apa yang ada di pemberitaan, sesuai fakta, itu tidak termasuk ke dalam pelanggaran UITE. Jadi ingat tuh ya buat kalian ya jangan takut juga bersuara, jangan takut juga menyampaikan informasi ya yang kalian ketahui. Oke kita lanjut lagi. Nah di saat itu geng Pak Armuji menyayangkan nih sikap dan tindakan yang diambil oleh Handy ini serta Diana. Padahal beliau itu sedang memperjuangkan nasib dari para karyawan yang mau resign namun ijazahnya masih ditahan. Dan sebenarnya hal tersebut tidak diperbolehkan. ya manusiawi lah. Masa begitu. Udah si karyawannya pernah mengabdi ke dia, sebaliknya dia sudah membayar hak gitu. Kalau putus hubungan kerja ya sudah berarti belum jodohnya atau perjodohannya sampai di situ aja kan tinggal cari karyawan baru. Kenapa membuat orang lain jadi teraniaya kayak gitu. Nah, tapi di saat itu bukannya menerima masukan dan mengakui kesalahan, malah kedua pemilik perusahaan ini melaporkan beliau ke polisi. Nah, jadi urusannya jadi panjang nih. Tapi di saat itu, Geng, meskipun dilaporkan di dalam videonya, beliau mengucapkan terima kasih atas laporan terhadap dia. Wah, gua kalau jadi Pak Armuji juga sama sih. Kalau kita enggak merasa bersalah, tiba-tiba kita dilaporkan ke polisi itu asik banget. Kenapa? itu artinya seseorang tersebut sedang menggali kuburannya sendiri. Gini loh, Geng. Indonesia itu ya memang kalau kita lihat banyak kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh oknum. Ya, terserah kalian mau bilang oknumnya itu sekompleks sekompi atau apa, ya kan? Kecurangan itu ada di mana-mana. Enggak cuma di Indonesia. Di seluruh negara, polisi, tentara, atau instansi manaun pasti ada oknum yang nakal, curang, dan lain-lain. Nah, tapi ingat Geng, ingat ya. Kalau kesalahannya itu fatal banget ini kayak gini kan fatal banget, viral lagi ada atensi. Kalian harus ingat ya. Fatal, viral, hati-hati, hati-hati. Jangan mencoba bermain api. Jangan coba playing victim. Ya, kalau udah salah, mending ngakuin kesalahan. Tapi kalau misalkan kalian mencoba membalik-balikkan hukum, merasa punya power dan segala macam, ya nanti endingnya malah habisnya lebih banyak itu. Jadi enggak semua hal ya enggak semua hal yang salah itu bisa diselesaikan dengan uang atau dengan power. Ya, mungkin sebagian besar ada yang berhasil tapi endingnya atau ujung-ujungnya pasti bakal jatuh juga, bakal ketahuan juga. Jadi jangan coba-coba memulai kecurangan. Nah, jadi kalau di dalam kasusnya Pak Armuji ini kita bisa lihat ya, Pak Armuji malah berterima kasih. Dia kayak merasa oke kalau memang mau diselesaikan secara hukum kenapa tidak gitu kan. Malah lebih baik dia enggak repot-repot untuk membuat kasus ini akhirnya melibatkan ya instansi kepolisian atau para penegak hukum ya kan. Pak Armuji enggak capek-capek bikin laporan. Tinggal nanti ketemu aja di kantor polisi. Ketika mediasi di situlah bakal terbuka. Ya, yang salah bakal tetap salah. Apalagi yang dilaporin wakil walikota. Lu mau pakai power semana sih? I kan wakil walikota, Boy. Lu oke lu pengusaha kaya nih. Yang lu hadapi tuh pejabat daerah. Kalau mau guna-gunain power, dua-duanya punya power. Akhirnya apa? Akhirnya di tengah-tengah akan diambil siapa yang salah, siapa yang benar. Seru enggak tuh? Nah, kita lanjut nih, Geng. Pak Armuji di saat itu berharap agar masyarakat bisa menyikapi hal ini secara objektif kalau apa yang dia lakukan untuk membela kebenaran. Setuju banget ya kan? Pak Armuji di saat itu juga berjanji dia bakal hadir di dalam pemeriksaan atas laporan tersebut kalau dia mendapatkan panggilan dari Polda Jatim. Nah, namun upaya dari Pak Armuji enggak cuma itu aja, Geng. Beliau menyatakan kalau beliau siap untuk melaporkan balik si Diana atau si bos dari perusahaan tersebut yang sudah melaporkan dia atas dugaan pencemaran nambah baik karena sudah menuduh dia sebagai penipu. Rekamannya ada. Nah, karena itu nih Pak Armuji ini mengaku sudah siap melaporkan balik karena beliau sendiri mengaku dia merasa jengkel dan tidak terima dituduh kayak gitu. Ya, gimana enggak. Dia merasa sudah datang baik-baik ke sana, pengin mediasi baik-baik, berbicara baik-baik, tapi justru mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan ketika dia sampai di perusahaan tersebut. Kebayang tuh, Geng, ya. Beliau wakil walikota, dicap penipu. Sakit enggak tuh? Sakit banget. Kita aja yang orang biasa dikatain penipu sakit banget. Ini wakil walikota dia punya jabatan, dia punya harga diri atas dirinya sendiri dan jabatannya. Dia dihormati, dihargai, dia punya anak buah. Buset, kacau, Boys. Di dalam kesempatan yang berbeda, Diana ini ternyata akhirnya ya mengklarifikasi. Dia menjelaskan mengapa dia memutuskan untuk melaporkan Pak Armuji, si wakil Walikota Surabaya ini. Nah, Diana ini bilang kalau dia merasa dirugikan dengan video yang disebarkan oleh Pak Armuji yang menampilkan fotonya dia dan suaminya yaitu Handy tanpa seizin dia katanya. Dan hal ini menurut dia bisa menggiring opini publik serta menyebabkan kerugian materi dan non materi. Dan selain itu Diana ini mengaku tersinggung ketika Pak Armuji menuduh dia adalah bandar narkoboy di dalam video tersebut. Wah, panjang nih. Yang satu enggak terima ditutup penipu. Yang satu enggak terima dibahas-bahas narkoboy dan dia menganggap kalau dia dituduh sebagai bandar narkoboy. Nah, tapi kayaknya kita bisa menilai sih, Geng, ya. Dari video yang diviralkan oleh Pak Armuji sendiri, ya. Itu kan tertera jelas di sana ya, semua kejadiannya jelas banget. Kalian sendiri bisa menilai. Ini coba lihat. Heh, sampean penipuan. Saya enggak kenal sampean ya, sorry ya. Setiap ada pemeriksaan dari desain pun mereka terbuk. Seolah-olah perusahaan ini juga mungkin nyimpan narkoba ya di di dalam ini ya mungkin ya. Itu dugaan saya. Nah, gimana tuh menurut kalian? Nah, menurut Diana gara-gara tuduhan tersebut ini bisa berdampak buruk kepada keluarganya dia serta bisnisnya dia. Sebab Diana ini mengaku kalau anaknya sampai ketakutan karena Diana jadi bulan-bulanan masyarakat ya akibat viral itu. Nah, para pelanggannya pun jadi ikut menanyakan perihal masalah ini kepada dia. Pernyataan Diana yang menyebut bahwa Pak Armuji adalah seorang penipu menurut dia itu kalimat yang bisa terucap karena Diana merasa ditelepon oleh Pak Armuji dan dia memang merasa itu penipuan. Sebab Diana ya di saat itu menerima telepon, dia merasa si penelepon ini tidak menggunakan identitas yang jelas. Menurut dia kayak gitu. Jadi itu spontanitas dia kayak menganggap ah ini penipuan gitu. Dia khawatir terhadap nomor telepon yang tidak dikenal katanya. Nah, ini make sense juga nih, Geng. Ini masuk akal. Gua pribadi juga sama tuh kalau ada orang nelepon yang nomornya enggak gua save, biasanya gua enggak akan angkat. Kecuali dia nge-chat dulu, dia ngasih tahu namanya siapa, baru gua angkat. Biasanya gitu. Tapi kan itu masing-masing orang ya, masing-masing orang punya prinsipnya. Nah, terus geng di dalam sambungan telepon tersebut kata Diana, Pak Armuji ini langsung menuduh dia menahan ijazah para karyawannya. Nah, jadi di sini nih Diana ini merasa, "Eh, saya enggak menahan ijazah para karyawan kok gitu. Kok saya langsung dituduh gitu?" Sebelum Pak Armuji menelepon dia, Diana ini bilang juga, Geng, kalau dia sering ditelepon oleh orang-orang yang mungkin apa ya, kayak Nah, jadi dia ini kayak merasa ada beberapa telepon ke dia yang tujuannya itu untuk apa ya, memeras lah, gitu. Nah, makanya dia agak aware, agak khawatir ketika Pak Armuji ini nelepon, sementara nomor Pak Armuji enggak ada di dia, dia merasa itu penipu, gitu penjelasan dia. Yang saya pertanyakan harusnya itu kalau kita diundang instansi kan adanya, ini aja enggak terpenuhi. Terus saya ditelepon dari nomor tidak dikenal, memaki-maki saya. Kalau Mas diituin reaksi bakal. Bahkan menurut Diana dia sering sekali setiap harinya mendapatkan telepon sehari itu dua kali dari orang-orang yang mengaku pegawai pajak lah atau apalah. Nah, oleh karena itu Diana ini enggak langsung bisa percaya ketika dapat panggilan telepon dari Pak Armuji. Nah, dia pikir ya memang penipu kata dia. Nah, terus geng mengenai tuduhan Diana yang menahan ijazah karyawannya, Diana ini memberikan klarifikasi. Kan dia bilang tadi saya langsung dituduh nih. Nah, dia jelasin gini loh. Gitu. Dia ini menegaskan bahwa tuduhan tersebut enggak benar. Semisal dia dipanggil untuk berdiskusi perihal ini, dia menyatakan akan sangat terbuka, katanya. Bahkan dia juga menyarankan agar karyawannya itu melapor ke Dinas Tenaga Kerja jika memiliki bukti kalau Diana menahan ijazah mereka. Nah, walaupun Diana disebut-sebut sebagai pemilik perusahaan, namun menurut pengakuannya dia, dia bukanlah pemilik utama dari perusahaan Sentos Sosil ini. Dia mengatakan kalau perusahaan tersebut adalah milik keluarga yang gudangnya berada di kawasan Margom Mulyo, Surabaya. Cuma, Geng, gudang yang disamperin sama Pak Armuji ini ketika itu bukan milik perusahaan Sentoso Seal, melainkan statusnya pinjam pakai. Jadi itu kayak nitip gitu, Geng. Kayak disewa gitu. Di dalam keterangan tersebut, Diana tidak menjelaskan dengan detail mengenai profil perusahaannya dia. Sebab dia ingin menjaga e privacy perusahaan milik keluarganya ini. Pada akhirnya nih, gara-gara dia udah ngelaporin Pak Armuji ke polisi dan akhirnya dia tahu Pak Armuji itu siapa. Nah, dia pun berbesar hati untuk meminta maaf mengenai perkataannya dia yang dianggap menyinggung beliau Wakil Walikota Surabaya yang bernama Pak Armuji. Ya, saya mohon maaf sekali kalau itu memang benar-benar Pak Wawali ya. Saya sudah ngomong sendiri permintaan maafnya sama Cak Ji dan alhamdulillah diterima. Dan pada saat itu Diana ini mengaku sedang berada di luar kota. Semisal dia ada di Surabaya, mungkin Diana ini bilang ya dia bakal bersedia untuk langsung ketemu. Enggak perlu ditelepon, enggak perlu nuduh Pak Armuji sebagai penipu. Dia bakal samperin pengen lihat langsung, "Bener enggak Pak Armuji?" Kayak gitu katanya. Nah, jadi enggak seperti anggapan publik, Diana mengaku kalau dia sangat menghormati Pak Armuji sebagai wakil Walikota Surabaya. Waduh, blunder rek, blunder rek. Kalau kata orang Surabaya ya, Surabaya tuh blunder rek. Sampai pada akhirnya nih, Geng. Diana ini mendatangi rumah dinas Pak Armuji secara mandiri ya, yang berada di Jalan Ambengan dekat kompleks Balai Kota Surabaya pada tanggal 14 April tahun 2025 sekitar jam 12.00 siang. Nah, dia ya berinisiatif ingin menyelesaikan masalah dan meminta maaf atas kegaduhan yang sudah terjadi. Pertemuan antara Diana ini dengan Pak Armuji juga didampingi oleh suaminya langsung yaitu Handy dan pertemuan itu dilakukan secara tertutup selama kurang lebih 1 jam. Nah, dalam kesempatan itu, Geng, Diana ini langsung meminta maaf nih karena udah salah paham dengan kedatangan Pak Armuji untuk menginspeksi perusahaan Sentoso Seal di pergudangan Margom Mulyo. Itu enggak diketahui juga ya di saat itu gimana tuh proses permintaan maafnya, apakah diterima, apakah gimana gua enggak paham. Tapi yang jelas di saat itu Pak Armuji langsung menanyakan kepada inti permasalahannya yaitu mengenai masalah penahanan ijazah karyawan serta mantan karyawan yang sebelumnya dia terima di perusahaannya. Nah, di saat itulah akhirnya Diana ini mengakui kalau ada mantan karyawan yang mempermasalahkan penahanan ijazah tersebut. Geng, dari pertemuan tersebut Diana juga udah sepakat untuk mencabut laporan atas e Pak Armuji di Polda Jawa Timur. Nah, cuma geng Pak Armuji menegaskan kalau pertemuan tersebut bertujuan untuk menyelesaikan masalah pribadi antara beliau dengan kedua pemilik perusahaan Sentos Sosil ini, Geng. Sehingga enggak perlu dilanjutkan ke proses hukum. Nah, jadi gara-gara yang satu ngomong penipu, yang satu bilang apa? mungkin ada narkoboy di dalam. Nah, itu sudah terselesaikan lah. Nah, tapi sementara itu untuk masalah antara perusahaan dengan mantan karyawan yang ijazahnya ditahan itu bukanlah merupakan ranah pribadi. Sehingga harus tetap diproses secara hukum kalau terbukti ada pelanggaran. Waduh, jadi deg-degan nih ya kan? Jadi wah, yang satu kelar ternyata yang satu masih nyangkut gitu. Nah, seperti yang sudah dijelaskan oleh Pak Armuji, Geng, kasus mengenai dugaan penahanan ijazah yang dilakukan oleh perusahaan Sento Sosial ini tetap bakal dilanjutkan. Pak Armuji sudah menyerahkan kasus ini ke Dnaker Surabaya untuk diusut serta ya sudah memerintahkan pihak Dnaker agar memfasilitasi para karyawan Sentoso Seil yang menjadi korban. Lalu dilakukan juga pengecekan di lokasi tersebut ya pada tanggal 17 April 2025 di jam 11.30 1130 siang oleh Wakil Menteri Tenaga Kerja yang bernama Pak Imanuel Ebinezer. Tapi kedatangan itu tetap didampingi oleh Pak Armuji. Sempat ada kendala nih, Geng, ketika sidak dilakukan karena pada awalnya rombongan tertahan di depan gerbang karena pintunya digembok yang sampai pada akhirnya mereka terpaksa masuk melalui pintu kecil yang berada di samping gerbang utama. Dan beruntungnya kedatangan kali ini Pak Armuji serta Pak Noel itu bisa bertemu dengan Diana langsung si pemilik perusahaan. Dan ketika mereka berbincang-bincang, berdiskusi dengan Diana di sebuah ruangan, Pak Noel ini serta Pak Armuji menanyakan sejumlah hal yang terkait dengan karyawan serta ijazah yang kabarnya masih ditahan oleh perusahaan. Nah, jawabannya Diana itu masih sama seperti sebelumnya. Dia membantah kalau pihaknya ee menahan ijazah para karyawan. Dia bilang itu enggak ada. Bahkan Diana ini beberapa kali enggak mengakui identitas dari karyawannya itu. Pak, ini kan konteksnya tahan ijazah. Iya. Saya enggak pernah bilang Mbak Putri ini enggak pernah kerja ke saya. Kacau enggak tuh? Jadi kayak aduh nambah lagi aja nih ceritanya. Nah, bantahan Diana ini sampai membuat Pak Noel menjadi emosi karena beliau merasa Diana ini ngomongnya berbelit-belit dan banyak yang ditutup-tutupi. Nah, ini menurut Pak Noel loh ya, Pak. Saya kok dibentak-bentak sih? Bukan Anda bohong tadi. Enggak, Pak. Pak, saya jadi takut loh. Kok takut sih? Banyak orang emang preman semua isinya. Dan Pak Eri Cahyadi selaku Walikota Surabaya mengkonfirmasi kalau memang pemilik perusahaan yang kemungkinan adalah Diana tidak mengakui kalau korban yang menuntutnya itu adalah karyawannya. Pemiliknya itu ngomong, "Ini bukan pegawai saya. sing pegawai ngomong saya adalah pegawai di tempat perusahaan ini. Panjang kacau masalahnya. Dan Pak Eri Cahyadi bahkan sudah berkomunikasi dengan kedua belah pihak baik dari pihak korban maupun dari pemilik perusahaan ini, yaitu Diana dan Handy. Dan pemilik perusahaan ini memang mengaku kalau korban bukanlah pegawainya. Sementara korban mengatakan kalau dia adalah pegawai dari perusahaan tersebut. Waduh. Waduh. Ini gimana sih ya? bisa-bisanya sama walikota bohong gitu. Bahkan nih, Geng ya, si korban ini punya tanda bukti yang menyatakan kalau ijazahnya dipegang oleh perusahaan. Jadi, enggak bisa ngelak lagi itu perusahaan. Pak Noel di saat itu udah mulai curiga nih, jangan-jangan jumlah pekerja yang menjadi korban penahanan ijazah ini oleh si perusahaan Sentoso Seal ini kemungkinan besar lebih banyak. Diperkirakan ada sekitar 31 orang. Bahkan setelah kasus dugaan penahanan ijazah yang dilakukan oleh Sentoso Steel ini jadi viral, ada karyawan-karyawan lain yang akhirnya mengungkap perbuatan dari pihak perusahaan yang dianggap oleh mereka merugikan para karyawan. Oke, sekarang kita bakal masuk nih, Geng, ke dalam pembahasan mengenai pengakuan para karyawan Sentoso Sil mengenai apa yang mereka alami selama bekerja di sana. Apakah e pengakuan mereka sesuai dengan apa yang diakui oleh Diana juga sebagai pemilik perusahaan? Kita coba cek. Oke, jadi geng seusai kasus ini viral, mulai banyak mantan karyawan dari Sentoso Seal yang akhirnya angkat bicara. Salah satunya adalah Faizur Asad yang akrab dipanggil dengan nama Faiz. Dia ini sampai diundang, Geng, oleh Pak Armuji di channel YouTube-nya untuk menceritakan apa yang dialami oleh si Faiz ini selama bekerja di sana. Fai ini cerita, Geng, kalau dia kerja di perusahaan tersebut selama 7 bulan dan sebelum bekerja pastinya calon karyawan kan harus ikut beberapa tahap seleksi tuh termasuk dengan tahap interview. Si Faiz ini bilang interview yang dilakukan oleh Sento Sosil ini agak aneh katanya karena biasanya ketika interview pasti pihak perusahaan mau itu HRD atau user itu bakal menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan berkas-berkas milik pelamar. Tapi ketika Faiz interview dengan pihak perusahaan yang menurut Faiz namanya itu adalah Putri gitu ya, ini aneh, enggak seperti itu, enggak seperti biasanya. Dan sekedar informasi, Geng, kalau yang namanya Putri ini di saat ini juga ya menjadi korban dan sudah keluar dari Sentoso Seil. Walaupun di saat itu Putri ya menjadi orang yang menginterview karyawan-karyawan baru atau dengan istilah lain tuh kayak HRD-nya mungkin, tapi dia juga korban ternyata dia udah keluar. Dan pada saat itu Faiz langsung ditanyakan untuk memilih di antara dua pilihan nih ketika dia diinterview mau penahanan ijazah atau diberikan uang pengganti sebagai jasa sebesar Rp2 juta. Aneh banget ya malah karyawan yang harus ee apa ya? Bayar uang gitu. Ini kan semacam apa ya? Kayak deposit gitu loh, Geng. Di situ Faiz tuh ngerasa aneh sekaligus bingung ketika dia mendapatkan pertanyaan kayak gitu. Maksudnya apa nih menanyakan hal itu? Faiz ini nanya lebih lanjut nih untuk mengetahui gimana sih mekanisme dari pembayaran R2 juta itu? Nah, dikatakan kalau Faiz memilih uang R2 juta tersebut, Faiz harus menyerahkan KTP-nya dulu sebagai tanda bukti kalau Faiz memilih uang pengganti jasa, bukannya memilih penahanan ijazah. Nah, pada akhirnya Faiz pun memilih untuk menyerahkan KTP-nya dan KTP yang diserahkan adalah KTP asli, Geng, bukan fotokopi. Perjanjian ini juga enggak tertulis, jadi cuma secara lisan aja. Selama 2 bulan Faiz bekerja di sana, gaji Faiz itu langsung dipotong sebesar R1 juta, Geng. Yang kalau di tootal selama 2 bulan itu ya dia udah dipotong sejumlah R2 juta. 2 juta yang dimaksud ini adalah untuk membayar uang pengganti jasa yang sebelumnya Faiz pilih ketika interview. Nah, sebenarnya uang juta tersebut bisa dibayarkan oleh Faiz sendiri menggunakan uang pribadi sehingga gaji yang dia terima itu bisa full. Nah, tapi karena Faiz ini milih agar uang tersebut dipotong dari gajinya, ya udah dipotong dari gajinya. Jadi benar-benar kayak deposit ya. Benar-benar kayak deposit nih. Lu enggak mau ditahan ijazah, ya udah lu harus bayar uang jasa ini gitu. Menerima jasa dia harus nebus uang R juta, Pak. Oh, nebus uang R juta. Iya. Kalau dia punya uang juta 2 juta privati bisa di bisa diambil. Oh gitu. Itu perihal gaji Faiz ini menjelaskan kalau sistem gaji di perusahaan tersebut dibayarkan selama 2 minggu sekali. Kalau di tootal selama 1 bulan gajinya itu ya cuma Rp2 juta. Dan itu enggak setara dengan upah minimum kabupaten kota atau UMK Surabaya. Di tahun 2025 UMK Surabaya itu sebesar 4,9. Enggak sampai setengahnya, Geng. Apalagi selama 2 bulan gajinya Faiz ini dipotong sejuta. Itu artinya selama 2 bulan itu Faiz cuma menerima gaji yang benar-benar kecil banget juta doang. Dan uang yang diterima oleh Faiz ini hanya gaji aja, Geng. Enggak ada uang makan, enggak ada uang transport. Jadi enggak ada samping-sampingan yang lain. Gua enggak tahu nih, Geng, apa dengan R juta itu bisa hidup di Surabaya atau enggak. Karena kan gua domisilinya Jakarta, ya. Enggak tahu kehidupan Surabaya kayak gimana. Nah, mungkin teman-teman di rumah tahu perihal tentang ini. Boleh nih coba kalian tinggalkan komentar di bawah. Bisa enggak sih R juta hidup di Surabaya? Terus singkat cerita, Geng. Kemudian Faiz menanyakan kapan uang R juta tersebut bisa cair dan bagaimana cara mencairkannya. Katanya uang tersebut bisa cair kalau dia bekerja selama 5 tahun. Katanya bisa kebayang ya, Geng? 5 tahun kerja uang R juta itu bisa cair. Jadi udah kayak apa ya? kayak tabungan atau uang jaminan gitu. Tapi 5 tahun ke depan, apakah nilai uang R2 juta itu bakal sama? Kalau misalkan tetap flat aja R juta ya enggak ada gunanya. Bisa-bisa 5 tahun ke depan R juta itu udah setara kayak Rp500.000 kali ya. Kita kan enggak tahu inflasi gitu kan. Terus geng Faiz ini kan milih buat bayar tuh uang jasa itu. Nah, sementara bagi pekerja yang lain yang memilih untuk menahan ijazah karena kan buat mereka tuh kadang lumayan banget nih R1 juta dikasih cuma-cuma ke perusahaan uang gajinya ya. mereka lebih milih untuk ditahan ijazah aja. Di saat itu mungkin pengetahuan mereka juga minim menyepelekan hal tersebut akhirnya ya ijazahnya diserahkan ke perusahaan. Sistemnya juga mirip nih. Ijazah mereka baru bisa dikembalikan apabila mereka sudah bekerja selama 5 tahun di Sentoso Seal ini. Aneh banget. Ketika mendapatkan jawaban tersebut, Faiz akhirnya mikir, bekerja selama 5 tahun cuma mendapatkan Rp2 juta. Buat apa kerja capek-capek diupah di bawah UMK? Dan Faiz juga menyebutkan kalau ada karyawan yang ijazahnya ditahan dan ingin agar ijazahnya dikembalikan, maka si karyawan itu harus menebus sebesar R2 juta kepada perusahaan baru ijazahnya bisa dikembalikan. Kacau banget ya kelasnya. Perusahaan, kelasnya PT, tapi duit receh aja R2 juta kayak ditagih juga ke karyawan. Ya, bagi karyawan itu besar banget. Bagi PT kan receh banget R juta, Geng. Ya elah, wah gila banget. Menurut pengakuan Faiz, perlakuan yang tidak menyenangkan dari kedua mantan bosnya ini yaitu Handy dan juga Diana itu hanya berlaku untuk karyawan junior. Sementara perlakuan untuk yang senior itu beda banget, 180 derajat berbeda. Karena yang senior-senior katanya itu malah dibaikin. Kalau karyawan junior enggak bisa mencapai target kerja dalam 1 minggu, maka gaji mereka bakal ditahan. Padahal menurut pengakuan Faiz nih, selama 1 hari aja dia harus mengerjakan sebanyak kurang lebih 360 barang. Sebanyak 1 hari 360 kurang lebih. Heeh. Heeh. Begitu. Nah, itu kan kalau enggak mencapai target. Kalau yang melebihi target gimana? Kan harusnya kalau enggak mencapai ya dapat ganjaran dan kalau lebih harusnya dapat bonus dong. Nah, apakah dikasih bonus nih atau enggak? Kalau kata Faiz gak akan dikasih bonus sama aja. Nah, makanya pekerjaan yang dilakukan itu udah gak wajar dan ya dia seperti dieksploitasi selama bekerja di sana. Terus geng Faiz ini juga ngejelasin kalau Sentoso Silal ini enggak pernah didatangi oleh petugas terkait untuk dilakukan pemeriksaan dan memang perusahaan tersebut tertutup banget. Kalau ada karyawan yang datang pintu dibuka tapi langsung ditutup lagi. Nah, kalau pulang pun juga sama. Bahkan ketika jam istirahat aja kalau karyawan mau keluar itu harus izin terlebih dahulu. Nah, di dalam podcast tersebut ya si Pak Armuji ini mendapatkan informasi yang terbaru kalau karyawan-karyawan di sana mayoritas berasal dari luar kota atau luar Pulau Jawa. Korban karyawan yang di situ itu memang banyak diambil dari luar pulau atau luar Jawa atau luar kota yang mungkin ya informasi mereka tentang bagaimana birokrasi di daerah tersebut atau bagaimana nih sistem bekerja di daerah tersebut tuh agak minim gitu. Nah, kan lebih gampang untuk di ya apa ya disetirlah. Dan kemungkinan juga ya kenapa diambil dari luar kota ya agar supaya kalau terjadi apa-apa mereka enggak punya kewenangan karena mereka bukanlah warga asli Surabaya. Nah, terus Faiz juga melanjutkan cerita. Dia bilang ketika itu dia pernah mengalami kecelakaan ketika dia mengantar barang ya saat bekerja di perusahaan itu. Pihak perusahaan ketika mendapatkan kabar kalau Faiz kecelakaan di saat itu si bosnya yang bernama Diana langsung nelepon dia. Tapi bukan untuk menanyakan kondisi Faiz. Dia justru lebih peduli ya menanyakan apakah Faiz sudah mengirim barang atau belum. Jadi enggak manusiawi banget. Dan pihak perusahaan tersebut meminta pertanggungjawaban Faiz atas insiden kecelakaan tersebut. Padahal seharusnya kan sebagai karyawan dia berhak mendapatkan kompensasi atau asuransi karena mengalami kecelakaan kerja. Tapi justru sebaliknya kecelakaan yang enggak diharapkan ini malah justru diminta pertanggungjawaban kepada Faiz. Dan Faiz mengaku sepeda motornya sampai ditahan oleh perusahaan sampai motor milik perusahaan yang dipakai oleh Faiz itu dibenerin. Kacau. Cerita yang sama juga diungkap oleh mantan karyawan lainnya yang berinisial DSP. Nah, DSB ini ijazahnya dia ditahan oleh perusahaan dan enggak kunjung dikembalikan sampai saat ini. Sesuai dengan ceritanya Faiz, DSB ini mengatakan kalau ijazahnya ditahan dalam perjanjian lisan dengan HRD perusahaan tersebut sehingga enggak ada bukti secara tertulis. Nah, menurut dia dalam informasi lowongan pekerjaan ketika dia melamar di perusahaan itu enggak ada tuh kata-kata yang disebutkan kalau adanya persyaratan mengenai penahanan ijazah. Namun, peraturan tersebut dibahas secara lisan ketika interview. Nah, ketika proses interview udah ketemu baru di situ dikasih tahu alasan perusahaan melakukan penahanan ijazah menurut DSP sebagai jaminan akan takutnya ada masalah keuangan atau ada yang mencuri gitu, Geng. Jadi, kalau ada apa-apa nih, jaminannya ijazah lu nih, kayak gitu. Tapi sampai pada akhirnya DSP ini keluar dari perusahaan tersebut pada tahun 2020 ijazahnya tuh masih ditahan. Dia juga udah berusaha tuh buat dapetin kembali ijazahnya dengan cara menagih ke pihak perusahaan ini. Pernah juga DSP sampai datang nih ke perusahaan sama orang tuanya, tapi tetap ditahan dan masih belum membuahkan hasil. DSP ini sampai berusaha menelepon Diana si bosnya, tapi lagi-lagi keadaan masih enggak berubah. Ijazahnya masih ditahan. Dan ketika itu alasan Diana menahan ijazah DSP juga enggak jelas. Akibatnya DSP jadi kesulitan mencari pekerjaan karena enggak punya ijazah asli. Dan saat ini dia cuma bisa membantu usaha sampingan orang tuanya. Kasihan banget. Udah ada beberapa yang mengaku masa ia si bosnya yang bernama Diana ini belum mengakui hal tersebut. Ya enggak mungkinlah ada beberapa orang yang berbeda merasa ya mengalami hal yang sama. Berarti kan ini emang ada sesuatu gitu kan. Apa yang mereka akui tentang penahanan ijazah ini ya berarti bukan kebohongan belaka. Terus, Geng. Kemudian ada lagi cerita dari salah satu mantan karyawan yang bernama Peter Eil Sitorus. Peter ini bilang kalau perusahaan tersebut menetapkan peraturan yang aneh, Geng. Yaitu melakukan pemotongan gaji dari karyawan muslim kalau mereka melaksanakan salat Jumat. Nah, pemotongannya itu dikatakan sebesar Rp10.000. Uset, lumayan banget nih buat para pekerja gitu kan. Meskipun begitu, banyak karyawan muslim yang tetap menjalankan salat Jumat meskipun penghasilannya dipangkas oleh perusahaan. mereka udah enggak peduli lah. Dan akibatnya gaji mereka yang sebelumnya sudah di bawah UMR terpaksa dipotong sebanyak 4 kali Jumat. Ya kan dalam 1 bulan 4 minggu nih. Nah, ada empat kali hari Jumat berarti dipotong Rp40.000. Kalau sampai ada 5 kali hari Jumatnya dalam sebulan Rp50.000. Lumayan banget. Bisa kebayang tuh, Geng ya, orang ibadah aja terkesan kayak dilarang gitu. Dan ini kan udah pelanggaran ya, sebagai negara yang memang mayoritas masyarakatnya beragama Islam harusnya ini enggak boleh, enggak boleh dilakukan kayak gini. Nah, terus enggak cuma itu. Kalau karyawannya enggak masuk kerja misalnya gara-gara sakit nih, karyawan itu harus membayar kompensasi kepada perusahaan sebesar Rp150.000 per hari. Sementara kalau para pekerja bekerja lembur, mereka enggak dapat upah apapun, enggak dapat upah tambahan, enggak ada uang lembur. Dan Peter mengaku kalau dia sengaja bersikap buruk selama bekerja di sana. supaya ya si perusahaannya yang ngeluarin dia dibikin gak nyaman gitu. Karena dia tahu kalau dia yang mengundurkan diri pasti jadi masalah nih. Ada penalti lah, ada apalah gitu. Nah, tapi sayangnya geng ketika dia keluar gajinya serta ijazahnya malah ditahan oleh perusahaan tersebut sehingga dia harus menyiapkan uang sebesar Rp2 juta untuk bisa menebus ya ijazahnya tersebut. Dan ini konyol banget ya. Gajinya enggak seberapa, ditebus pakai uang R2 juta baru gajinya dia cair baru ijazahnya dikasih. kan itu sama aja ya kayak yang enggak digaji gitu. Lalu enggak cukup sampai di situ. Ada lagi pengakuan lain nih, Geng, dari seorang karyawan perempuan ee di Sentos Sosial ini yang mengaku kalau dia diminta bekerja untuk waktu yang enggak wajar. Seolah-olah dia ini kayak disekaplah, dipaksalah untuk lembur, dan kerjanya sampai larut malam karena pekerjaannya yang terus ditambah oleh si perusahaan ini. Nah, ini menurut pengakuan si perempuan itu dan sampai-sampai dia harus lembur selama 3 hari. Jadi, udah benar-benar gak manusiawi, Geng, kerja di sana dan para pekerjanya itu malah dipaksa untuk kerja terus-menerus. Kalaupun mereka udah mencapai atau melebihi target, enggak ada bonus yang diberikan perusahaan kepada mereka. Apalagi di saat itu si bosnya yang bernama Diana itu bisa-bisanya ngelak dengan mengatakan kalau korban yang melaporkan itu bukanlah karyawannya dia. Kacau. Dari tadi ya kita membahas mengenai duduk permasalahan serta pengakuan dari para korban. Tapi kita kayaknya belum membahas siapa sebenarnya sosok dari dua bosnya ini yaitu Diana dan juga Handy serta perusahaan Sentosil ini yang bergerak di bidang apa sih sebenarnya. Nah, sekarang kita akan masuk ke dalam pembahasan mengenai profil dari mereka. Jadi, Geng Sentos Sosilal ini adalah perusahaan yang berdiri sejak ee bulan Agustus tahun 2002 yang merupakan perusahaan di bidang oil seal. Nah, mereka itu adalah eh perusahaan yang dipercaya sebagai autoris distributor Knock Oil Seal di Indonesia. Nah, karena sudah lama bergelut di bidang ini, perusahaan tersebut mengklaim kalau Sentoso Seal ini adalah pelaku usaha di bidang oil seal terbesar di Indonesia loh, Geng. Jadi, bukan sembarangan nih. Mulai dari tahun 2007 sampai terakhir tahun 2014 secara berturut-turut Sentoso Seal ini dinobatkan sebagai distinguished distributor di wilayah Asia Tenggara oleh principal mereka. Itu artinya Sentos Sosial ini menjadi distributor yang berprestasi dan berdedikasi. Jadi dari sini kita bisa lihat kalau Indie bukan perusahaan bodong, bukan perusahaan abal-abal. Ini adalah perusahaan resmi yang besar. Terus, Geng, sejauh pencarian gua nih, Geng, ya. Ee si pemiliknya atau si bosnya ini yang bernama Handy itu punya Facebook, Geng. Nah, Facebook-nya kalian bisa lihat. Nah, sementara istrinya Diana itu punya Facebook juga. Dan di postingan akun Facebook tersebut, ternyata Diana pernah memposting laporan terhadap Pak Armuji di sana. Terus selain itu, Diana juga punya akun TikTok dan saat ini akun TikTok-nya udah digembok. Nah, namun menurut informasi yang gua dapatkan sebelum akunnya digembok, kita bisa melihat berbagai konten Diana yang memperlihatkan gaya hidupnya yang glamor dan mewah banget. Nah, dia menggunakan berbagai koleksi outfit bermerek sampai dengan datang ke acara-acara mewah non eksklusif. Untuk kehidupan pribadi mereka seperti pendidikan mereka dan segala macam itu ya enggak diketahui secara pasti karena memang mereka sangat menjaga privasi mereka dari sorotan publik. Nah, namanya pun baru mencuat ketika kasus yang menyangkut perusahaannya menjadi viral di mana-mana. Nah, kasus ini saat ini udah terdengar sampai tingkat DPRD Surabaya. Dan untuk bisa menyelesaikan kasus ini, DPRD Surabaya akhirnya mengadakan rapat dengar. Nah, rapat itu dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk puluhan korban, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja atau Disperinaker Surabaya dan Provinsi Jawa Timur. Dan Diana pun juga hadir di dalam rapat dengar tersebut. Nah, rapat dengar ini berlangsung selama kurang lebih 2 jam. Dan di dalam rapat dengar, Diana ini membantah semua kalau dia menahan ijazah, terus juga ee apa ya? Ya, segala tuduhan itulah. Walaupun para pegawainya memiliki bukti secara tertulis mengenai penyerahan ijazah tersebut. Dan selama rapat itu Diana juga bersikap tertutup. Nah, misalnya ketika dia ditanya nih kayak alamat perusahaan serta aduan mengenai tekanan terhadap pegawainya dia ketika korban menunjukkan bukti kalau bukti penahanan ijazah itu ada, Diana bilang kalau pihak perusahaan enggak pernah menandatangani surat tersebut. Bahkan geng Diana justru menantang balik para karyawan yang mau ngelapor ke polisi. Nah, namun dia mengancam kalau Diana terbukti enggak bersalah, maka mantan karyawannyaalah yang bakal dilaporkan ke polisi. Waduh. Dan karena persoalan ini masih kunjung tidak terselesaikan, akhirnya Gubernur Jawa Timur yaitu Ibu Kofifah Indar Parawansa sampai turun tangan jadi panjang. Dan menurut beliau, Diana ini bersi keras tidak mengetahui keberadaan dari ijazah-ijazah para mantan karyawannya tersebut karena hal itu menjadi urusan bagi HRD. Nah, sementara itu, staf HRD yang bertanggung jawab atas perekrutan karyawan tersebut saat ini udah mengundurkan diri. Dan sebagai penyelesaiannya, BUKO FIFA akhirnya memerintahkan untuk mengurus penerbitan kembali ijazah dari 31 karyawan yang sudah terlanjur ditahan oleh perusahaan. Gila. Dan sebagai tindak lanjutnya di snaker Jawa Timur sudah berkoordinasi dengan POSCO Pengaduan Kota Surabaya dan memanggil pihak perusahaan ini ke kantor Disnaker Jawa Timur pada tanggal 21 April tahun 2025 untuk mendapatkan keterangan yang dibutuhkan agar ijazah bisa diproses penerbitannya. Gila, hilang loh ijazah orang sampai diterbitkan baru loh. Dan untuk saat ini pemerintah Kota Surabaya udah menyegel gudang dari Sentoso Seil ini. Gudang yang berlokasi di komplek pergudangan Suri Mulia Permai. Margo Mulyo, Surabaya itu udah mulai didatangi oleh polisi dan Satpol PP pada jam 0.30 pagi di tanggal 22 April tahun 2025. Petugas menempelkan stiker penyegelan dan garis polisi di sana. Dan pada saat disegel terlihat seorang karyawan yang berjaga di sana. Dan karyawan tersebut mengatakan enggak ada orang atau karyawan selain dia di dalam gudang ini. Dan gudang juga enggak bisa dibuka secara diam-diam karena gudang tersebut digembok dengan rantai. Nah, lalu berdasarkan informasi yang didapatkan oleh pihak pemerintah Kota Surabaya, ternyata Sentos Sosil ini enggak punya izin dan tanda daftar gudang atau TDG dan juga nomor induk berusaha atau NIB. Padahal TDG dan NIB ini wajib dimiliki sesuai dengan ketentuan Kementerian Perdagangan atau Kemendak. Sementara Sentos Sosil cuma punya surat keterangan rencana kota atau SKRK pada tahun 2012 dan juga di saat itu mereka memiliki izin mendirikan bangunan atau IMB tahun 2013. Nah, agar bisa beroperasi kembali Sentos ini terlebih dahulu harus mengurus perizinan ya baru setelah itu bisa beroperasi. Di sisi lain, pihak kepolisian menyebutkan sudah menerima konsultasi dari pengacara korban untuk mengirim somasi ke perusahaan. Jadi kasus ini masih berjalan, Geng. dan kita tunggu aja perkembangannya. Nah, kebayang ya, Geng? Disegal sebentar terus ngurus izin bisa jalan lagi. Kayak rasanya kan enggak adil banget. Seharusnya ya ada hukuman nih yang terjadi di sini nih kepada si pelaku dan para korban mendapatkan keadilan. Nah, itu dia geng pembahasan kita kali ini mengenai kasus dari Sentoso Seal, perusahaan yang menahan ijazah para karyawan dan kelakuan dari pemiliknya yang dikatakan tidak menghormati pejabat setempat. Apakah di antara kalian ada yang pernah bekerja di sana atau mungkin mengenal para pekerja ini? Coba tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Categories