CIRCUS TAMAN SAF4RI TERNYATA PERBUD4KAN ?! PEMAIN DIADOBSI SEJAK B4YI UNTUK DILATIH LAYAKNYA HEW4N
EqzLMcwQEJc • 2025-04-19
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Selain dari itu, Geng, mantan pekerja
Ochi juga mengaku kalau mereka sudah
direkrut sejak masih kecil melalui modus
adopsi dengan janji akan disekolahkan
hingga ke jenjang yang lebih tinggi.
Nah, lalu ketika keluarganya tergiur,
nah, ternyata mereka justru
dieksploitasi dengan dipekerjakan
sebagai pemain sirkus dan selama bekerja
di sana justru mendapatkan perlakuan
yang Yo, geng. Tekan tombol subscribe,
Geng. Halo, Geng. Welcome back to Kamar
[Musik]
Jerry, Geng. Geng, lagi-lagi, Geng.
Kasus menggemparkan kembali terjadi di
Indonesia. Kalian udah pernah belum
datang ke Taman Safari? Kalau yang udah
pernah, coba deh ceritain pengalaman
kalian di kolom komentar. Nah, buat
kalian yang belum pernah ke sana
pastinya kalian tahulah ya. Taman Safari
ini tempat di mana kalian bisa
berekreasi dengan hewan-hewan yang
langka, hewan-hewan yang dilindungi,
hewan-hewan buas dan lain-lain. Nah,
tapi kalian tahu enggak, Geng?
Sebenarnya selain Taman Safari ini
sebagai kebun binatang, ya mereka ini
punya banyak anak usaha. Selain kebun
binatang, ada penginapan, ada juga yang
menyajikan bentuk hiburan, yaitu sirkus.
Di dalam pembahasan kita kali ini, kita
bakal membicarakan mengenai eh sebuah
kasus yang sangat menggemparkan. Ini
lagi heboh banget sekarang dan bercerita
tentang sisi gelap dari taman Safari.
Nah, bukan berarti taman Safarinya mati
lampu ya, bukan. Tapi ini sisi gelapnya
tuh yang mengerikan gitu. terkhususnya
untuk dunia sirkus taman Safari yang
bernama Oriental Circus Indonesia atau
Ochi yang mana geng sekitar 2 hari yang
lalu ada mantan-mantan pekerja Ochi ini
ya mantan-mantan pelaku sirkus ini itu
mengungkapkan apa yang mereka alami
ketika mereka masih bekerja di sana yang
mana mereka ini mengatakan kalau mereka
tidak mendapatkan perlakuan layaknya
manusia. Maksudnya itu gimana? Apakah
mentang-mentang itu taman safari? Terus
orang-orang di sana disamain kayak
binatang. Nah, jawabannya kalau dari
cerita ini ya mereka diperlakukan
benar-benar tidak manusiawi. Pertama
mereka ada yang dim secara kasar ya sori
gua praktekin. Buat yang cuma dengar
doang enggak lihat videonya, tolong
lihat videonya. Nah, jadi mereka itu di
gitu ya, terus disetrum terus dikurung
dan gilanya dikurungnya di mana? di
kandang macan sampai ada yang
dijejali eek gajah ke
mulutnya. Sor ya, mungkin di sini banyak
banget kata-kata yang gua plesetin
karena aduh enggak bisa sebenarnya kayak
kayak gini nih bisa kena teguran YouTube
tapi gua harus berbagi informasi ke
kalian. Jadi geng para pekerja ini juga
mengatakan kalau mereka itu sama sekali
enggak tahu keluarga mereka siapa. Seram
enggak tuh? Mereka bekerja di sana
mereka enggak tahu keluarga mereka
siapa. Mereka dikurung di sana, mereka
enggak tahu keluarga mereka di mana.
Nama mereka aja mereka enggak tahu. Dan
sampai umur mereka sendiri mereka enggak
pernah tahu, Geng. Sehingga diduga
mereka ini sejak masih kecil sudah
dipisahkan dari keluarga mereka untuk
dieksploitasi menjadi pekerja di sirkus
tersebut, yaitu Ochi tadi. Dan setelah
Bungkam selama bertahun-tahun nih ya,
nih anak-anak udah pada besar dan bahkan
di kasus ini tuh mereka udah pada tua
gitu. Sudah bertahun-tahun mereka
bungkam. Akhirnya para ex pekerja Ochi
ini buka suara dan menuntut keadilan
atas apa yang mereka alami. Kalian bisa
kebayang enggak, Geng? Manusia loh,
Geng, diginiin. Dan di video kali ini
gua bakal membahas kasus dugaan ini yang
dialami oleh para mantan pekerja Ochi
tersebut. Nah, cuma gua mau disclaimer
dulu nih, Geng. Apa yang gua sampaikan
di video kali ini semuanya gua ambil
dari media berita. Jadi, bukan opini gua
ee bukan juga e hasil gua merriset
langsung ke lapangan, enggak. Jadi, gua
menceritakan kembali ke kalian apa yang
ada di media saat ini. Dan kalian
sendiri bisa cek sendiri beritanya. Ada
banyak sekali di internet. Nah, di sini
gua bakal merangkum untuk kalian.
Langsung aja nih kita bahas secara
lengkap di sisi
[Musik]
lain. Kita langsung masuk ke dalam
pembahasan awal mula terungkapnya. kasus
dari mantan para pekerja Ochi
[Musik]
ini. Jadi, Geng, kasus ini bisa
terungkap ketika beberapa mantan pekerja
sirkus dari Oriental Sirkus Indonesia
atau Ochi mengadukan dugaan eksploitasi
dan pelanggaran HAM kepada Kementerian
HAM pada hari Selasa tanggal 15 April
tahun 2025. Di saat itu ada delan orang
perwakilan korban yang hadir yang mana
sebagian besar di antara mereka itu
adalah perempuan paruh. Nah, mereka ini
menceritakan bagaimana pengalaman mereka
ketika bekerja di OI ini. Dari sinilah
kasus ini kemudian jadi perbincangan
publik. Nah, cuma geng sebenarnya ya ada
dugaan eksploitasi dan pelanggaran HAM
di Ochi itu sebenarnya pernah ramai pada
era tahun 1990-an dulu. Jadi walaupun
ramai lagi sekarang, sebenarnya ini udah
dari lama nih disuarakan tepatnya pada
bulan Maret tahun 1997. Jadi sebelumnya
sudah pernah diangkat geng isu ini. Tapi
mungkin di saat itu karena media enggak
semasif ini ya sekarang diangkat lagi
karena akses informasinya tidak
seterbatas dulu. Jadi ramai nih termasuk
kalian-kalian nih geng kalau mendengar
konten ini tolong dibagikan
sebanyak-banyaknya ya. Fungsi dan
gunanya untuk apa? untuk viral karena ya
negara kita ya no viral no justice.
Kalau enggak viral enggak mendapatkan
keadilan, enggak mendapatkan atensi.
Nah, jadi makanya dulu pernah dilaporkan
kasusnya tenggelam begitu aja karena ya
enggak ada yang ngebantu. Nah, hari ini
mari sama-sama kita bantu agar ada
kejelasannya. Terus, Geng, ketika itu ya
para pekerja yang dibantu oleh aksi
Solidaritas Pembela Perempuan Teraniaya
atau disingkat dengan ASPPT itu
mengklaim kalau mereka ini mengalami
penyiksaan. Ketika itu advokasi
dilakukan oleh ASPT ini. Dan setelah
mendapatkan laporan dari seorang mantan
pekerja Ochi yang bernama Vivi
Nurhidayah yang mana ketika itu tahun
1997 Vivi ini masih berumur 19 tahun
ketika dia melaporkan. Si Vivi ini,
Geng, ngaku kalau dia itu udah mengalami
ya tindakan yang benar-benar menyakitkan
sejak dia bahkan masih kecil, balita
bahkan katanya. Nah, sampai dia dewasa
juga dia masih mendapatkan ee tindakan
tersebut dan dia ini menjadi pemain
sirkus di Ohi. Sehingga kalau dihitung
nih, Geng, ya, eh tindakan yang
menyakitkan yang udah dia terima, yang
udah dia alami itu udah berlangsung
sejak awal tahun 1980-an.
Gila enggak
tuh? Kasihan banget ya. Jadi geng saat
Vivi mengadukan hal ini, pihak pengelola
dari Ochi ya yang menaungi dia setuju
untuk menyelesaikan pengaduan Vivi
secara kekeluargaan. Nah, jadi di saat
itu tuh udah ditangani lah karena enggak
viral ya pihak Ochi ini masih bisalah
ayolah kita main kekeluargaan aja lu
butuh apa kita damai-damai selesailah
kasusnya. Namun ternyata mereka ini
malah mengingkari janji geng. Nah,
janjinya itu enggak ditepati dan kembali
lagi melakukan tindakan penganiayaan
terhadap Vivi serta teman-temannya yang
ada di sirkus tersebut. Nah, pernyataan
tersebut disampaikan oleh anggota Komnas
HAM yaitu Prof. Muladi dan Joko
Sugianto. Setelah mempertemukan
pengelola Ochi dengan Vivi beserta
dengan saksi-saksi lainnya di Jakarta
pada tanggal 25 Maret tahun 1997.
pengelola sirkus yang bernama Tony
Sumampau. Nah, juga hadir nih dengan
didampingi oleh pengacara yang bernama
Poltak Hutajulu. Menurut Muladi, ada
indikasi pelanggaran HAM yang dilakukan
oleh Ochi ini memang. Nah, walaupun pada
saat itu kasusnya itu tidak bisa
diselesaikan secara kekeluargaan, tapi
Pak Muladi ini bilang enggak tertutup
kemungkinan kalau para korban bakal
segera menggugat ke pengadilan. Dan dari
informasi yang gua dapatkan nih ya, nih
dikatakan nih di saat Vivi ini melakukan
advokasi bersama dengan pihak ASPPT, ada
beberapa rekan Vivi yang juga datang ke
kantor Komnashham. Mereka bernama Anto,
ada yang namanya Butet, ada yang namanya
Ida. Yang mana mereka semua mengalami
lumpuh total akibat penyiksaan yang
mereka dapatkan ketika bekerja di
Oji. Lumpuh total. Selain mereka
bertiga, masih ada lagi rekan CVV ini
yang lain yang mengadukan nasib mereka.
Jadi kan berarti di dalam hal ini kita
bisa lihat ya e enggak satu orang
korbannya jadi enggak mungkin hoax gitu.
Komnash pada saat itu berjanji bakal
ngebantu para korban ini. Terutama
banget Ida karena Ida ini yang mengalami
eh apa ya? Duh gua sedih sih. Dia ini
jadi disabilitas seumur hidup. Maaf ya
kata kasar itu cacat seumur hidup. Geng
lumpuh sedih banget. Dan sebelum melapor
ke Komnas HAM, Ida ini sempat mengalami
pengancaman berupa pemutusan hubungan
kerja atau PHK dari Taman Safari. Nah,
tempat di mana dia bekerja di saat itu.
Yang gua bingung ya, entah kenapa ya
udah dia mengalami penyiksaan kayak
gitu, dia takut dipecat apa mungkin dia
enggak tahu harus ke mana kali ya.
Karena kan ya sesuai dengan kisahnya dia
enggak tahu keluarganya di mana, dia
enggak tahu umur dia berapa, nama dia
aslinya siapa. Ya, mungkin kalau dipecat
keluar dari tempat tersebut dia bingung
harus ke mana. Makanya dia takut
mungkin. Nah, terus geng bentuk
penyiksaan apa aja sih yang sebenarnya
dialami oleh para pekerja ini? Nah, gua
bakal masuk nih ke dalam pembahasan
selanjutnya yang bakal gua jelaskan
berbagai aksi penyiksaan yang dialami
oleh para pekerja Ochi ini, Geng. Dan
ini dialami oleh mereka selama
bertahun-tahun. Oke, sekarang kita
bahas. Nah, jadi geng kalau kita
membahas tentang penyiksaannya udah
pasti masing-masing dari mereka itu
mendapat penyiksaan yang berbeda-beda,
perlakuan yang berbeda-beda. Kita bahas
dulu dari korban yang melapor pertama
kali, yaitu Vivi. Apa sebenarnya yang
dialami oleh Vivi ini? Ya, mengerikan
banget, Geng. Gua enggak pernah
ngebayangin kalau kejadian kayak gini
tuh benar-benar terjadi di negara kita
Indonesia. yang mana gua pikir ya
cerita-cerita kayak gini tuh cuma
terjadi di luar negeri atau ya terjadi
pada zaman dahulu lah. Ini benar-benar
ya perbudakan era modern yang dilakukan
di Indonesia yang mana notabandnya kita
itu budayanya enggak sekasar inilah dan
kalian bakal melihat hal kayak gini ya
kalian akan membayangkan apa yang
dialami oleh admin-admin judul di
Kamboja kali ya.
Jadi, Vivi ini bercerita dia itu udah
bekerja sebagai pemain sirkus sejak
masih kecil. Nah, jadi kalau kalian
berpikir pemain sirkus itu memang
memiliki bakat dari lahir, itu enggak.
Dia dilatih, mereka ini dilatih. Dia
mengaku pada awalnya dia sendiri enggak
tahu dia itu siapa dan keluarganya yang
mana. Dan bahkan Vivi ini sendiri dia
benar-benar enggak tahu asal-usul dia.
Bahkan tanggal lahirnya aja dia enggak
tahu. Nah, jadi persoalan umurnya dia
itu hanya diterka-terka aja. Tahun 97
itu Ibu Vivi umurnya berapa kira-kira?
Karena juga tidak tahu persis ya lahir
tahun berapa, tanggal berapa. Masih
belasan. Belasan tahun. Masih belasan
tahun saya kurang kurang lebih seperti
itu. Kira-kira masih anak-anak atau
sudah masuk usia dewasa? 20 tahun di
bawah 80 tahun kurang lebih ya. Yang
diingat oleh Vivi ini dia itu sedari
kecil udah tinggal di rumah bos si
pemilik Taman Safari yang bernama Franz
Manansang. Tiap hari tanpa absen dia ini
berlatih untuk menjadi seorang akrobatik
untuk sirkus.
Ya, jadi dari kecil tuh udah dilatih
kayak ya dia udah diperuntukkan untuk
sirkus nih. Tiap hari dia ini berlatih
dan tiap hari juga dia mendapatkan
perlakuan yang ya menyakitkan oleh si
France ini berupa eh tindakan kekerasan.
Sampai pada akhirnya Vivi ini yang sudah
remaja sudah enggak tahan lagi dan di
saat itu dia memilih untuk kabur.
Percobaan kabur pertama dia ini dia
lakukan di saat itu ya menunjukkan pukul
. malam lah kejadiannya. Jadi dini hari
di mana semua orang lagi tidur, lagi
lelapnya. Nah, sementara Vivi dipaksa
untuk terus berlatih dan enggak boleh
tidur. Yang mana akhirnya Vivi ini nekad
untuk kabur dari sana sendirian. Dia
menyusuri hutan Cisarua di tengah malam.
Kebayang enggak tuh untuk anak seusianya
dia mungkin ya takut hantu, takut setan
itu jadi sesuatu yang sangat mengerikan
lah. Apalagi posisinya dia berada di
tengah hutan. Tapi Vivi ini enggak
peduli, Geng. yang lebih dia takutkan
dia tertangkap dan dibawa lagi ke rumah
France menurut cerita dia. Dan rumah
France itu dianggap menjadi tempat yang
sudah seperti neraka buat Vivi.
Dibandingkan dia harus takut hantu, dia
lebih takut rumah itu. Hal itulah yang
membuat dia akhirnya terus berlari,
terus lari enggak mau ngelihat ke
belakang untuk bisa menjauhi rumahnya si
bos yang bernama France. Ini saya kabur
dari rumah ee Pak Frans itu terjang
malam-malam jam .00 Saya nekat padahal
itu hutan tapi saya nekat saya enggak
takut itu ada setan lah apa. Saya enggak
takut saya takutnya justru sama
ketangkap sama dia lagi tuh. Terus geng
sampai pada akhirnya nih ya entah gimana
bisa Vivi ini ya tiba di wilayah
pemukiman yang berada di kawasan
Cisarua, ada rumah warga. Dia di saat
itu mikir kalau bakal ada warga yang
bisa nolong dia dan Vivi kemudian minta
tolong ke warga-warga di sana. Akhirnya
dia pun ditolong nih, Geng, oleh seorang
warga yang ternyata adalah pegawai
restoran dari Taman Safari yang kenal
sama dia. Pegawai restoran tersebut itu
bersedia ya untuk nolong Vivi supaya
Vivi bisa tinggal di rumah dia.
Disebutkan oleh Vivi, dia tinggal selama
3 hari, Geng, di rumah si pegawai
restoran tersebut. Dan Vivi yang tadinya
senang banget dan merasa aman ketika
mendapatkan pertolongan langsung berubah
semuanya ketika Vivi mau ya ngelanjutin
perjalanan dia untuk kabur karena takut
bakal ditemuin di sana, ditangkap lagi
sama pegawai e safari yang lain. Nah,
ternyata nih, Geng, ya, si pegawai
restoran Taman Safari ini malah
ngebocorin. Jadi jahat nih orang malah
ngejebak. Di depan rumah dia udah ada
seorang satpam atau security dari Taman
Safari. Jadi semua itu cuma jebakan.
Memang sengaja ditunggu, ditampung dulu
di rumah si pegawai restoran tadi. Nah,
si pegawai restoran ini ngebocorin ke
bosnya. Jadi dengan kata lain ya, dia
cuma cari muka gitu dan dia ngebocorin
kalau Vivi ada di rumahnya. Dan di saat
itu akhirnya Vivi dibawa lagi balik ke
rumahnya FR dan Vivi bisa mengetahui
kalau orang-orang tersebut adalah
security. Ya, karena Vivi memang kenal
dengan mereka semua. Vivi menyebutkan
bahwa nama si security atau sapam itu
adalah Pak Odo. Dan Pak Odo ini meminta
agar Vivi balik pulang ke rumah FRS.
Namun di saat itu Vivi sampai
nangis-nangis dia enggak mau sebab dia
takut bakal dipukulin lagi oleh France.
Nah, Pak Odo di saat itu berusaha
membujuk Vivi dan meyakinkan Vivi untuk
pulang dengan mengatakan kalau Vivi
enggak akan diperlakukan kayak gitu lagi
karena ya dia memang sedang dicari oleh
France dan France kangen sama dia.
Pokoknya dirayu lah gitu. Terus, geng,
mendengar jawaban dari Pak Odo, akhirnya
Vivi ini mengiyakan dan dia ikut pulang
bersama dengan Pak Odo. Nah, lagi pula
di saat itu Vivi juga gak bisa berbuat
banyak karena udah tertangkap sehingga
mau enggak mau dia hanya bisa pasrah.
Lagian mau kabur juga enggak tahu mau
kabur ke
mana. Terus, Geng, sebelum akhirnya dia
dibawa pulang ke rumahnya France, Vivi
terlebih dahulu dibawa ke posturity. Di
sana dia sempat melihat ada seseorang
yang merupakan kepala security yang
bernama Pak Yanto dan ada juga seorang
pegawai security yang lain yang namanya
Pak Dedy. Nah, mereka berdua ini
memberikan nasihat kepada Vivi untuk
enggak usah kabur lagi. Jangan kabur
lagi dari rumah Pak France karena banyak
yang khawatir dengan dia, katanya gitu.
Jadi diet tuh seolah-olah ee
kekeluargaan banget gitu.
Terus saya dinesetin, "Kamu jangan kabur
gini-gini kamu tuh dicariin." Saya
sambil nangis saya karena saya udah
ngerasa ketakutan dan enggak enak ya.
Dan mendengar hal itu, Vivi cuma bisa
nangis ketakutan membayangkan bagaimana
nasibnya ke depan ketika dia dibawa
pulang ke rumahnya France. Nah, enggak
lama dari itu, Vivi kemudian akhirnya
dijemput oleh orang yang sangat dia
takuti, yaitu France beserta dengan
istrinya. Di saat itu Vivi dijemput dan
dia disuruh duduk tepat di kursi
penumpang yang berada di sebelah kiri
France. Sementara istrinya France berada
di kursi belakang. Sebelum Vivi sampai
di rumah, selama di perjalanan Vivi udah
mendapatkan perlakuan yang menyedihkan.
Sudah dipukuli, ditampar oleh si FR.
Sambil di jalan juga saya udah dipukul
langsung ditampar gitu, Pak Fran.
Dan bahkan sampai di rumah, Vivi ini
langsung diseret dari mobil oleh France
dan dibawa ke kantornya
Franz. Sampai rumah saya diseret.
Diseret? Iya, saya diseret ditarik dari
mobil itu dibawa ke kantor.
Dan setelah itu France mengambil setrum
untuk memberikan hukuman kepada Vivi.
Sedih enggak, Geng? Kah bayangkan aja
tuh mendapatkan perlakuan kayak gitu.
Enggak lama dia ngambil setruman,
alat setrum. H
dan beberapa bagian tubuh Vivi itu
terkena setrum dan termasuk juga ya area
vitalnya. Dan di saat itu juga France ya
memberikan kata-kata kasar yang
benar-benar menyakiti karena Vivi sudah
kabur dari rumahnya Fran. Nah, sehabis
Vivi ini disetrum, udah lemas gitu ya,
Vivi baru mendapatkan lagi tindakan
kekerasan lain sampai dia benar-benar
lemas dan memohon-mohon ampun kepada
France. France di saat itu juga enggak
segan-segan menambah siksaan kalau Vivi
sampai mengeluarkan suara ketika
di siksa. Jadi, benar-benar dipukul
enggak boleh ada suara. Dipukul enggak
boleh ada suara. Nah, kalau Vivi sampai
ngeluarin suara berteriak, France bakal
langsung menambahkan lebih sakit lagi
apa yang dia perlakukan kepada Vivi dan
dia di saat itu menyuruh Vivi untuk
benar-benar
diam. Nah, sayangnya nih, Geng. Ketika
insiden tersebut terjadi menurut Vivi
ya, enggak ada siapapun yang ngelihat.
Jadi, di saat itu terjadi begitu aja.
Dan semua ini ya menurut keterangan dari
Vivi. Di saat itu hanya ada Vivi dan
juga France yang berada di ruangan
penyiksaan tersebut sehingga enggak ada
yang mengetahui apa yang terjadi pada
Vivi. Nah, tapi geng Vivi menduga istri
serta asisten rumah tangganya FR udah
pasti tahu apa yang dialami oleh Vivi
karena Vivi sempat teriak-teriak dan itu
terdengar sampai keluar ruangan kantor
France. Berbagai penyiksaan dialami oleh
Vivi ketika itu dan ya dia juga mengaku
sampai dijambak. Ditarik rambutnya,
dipukul bagian perutnya sampai membuat
dia ngompol saking sudah enggak bisa
menahan lagi sakit tersebut.
Terus saya ditarik, diangkat rambut saya
di janggut. Saya dipukul perutnya,
ditendang sampai saya ngompol. Oke,
enggak berhenti sampai di situ aja,
Geng. Karena takut Vivi ini mencoba
kabur lagi, Fran ini akhirnya memasung
Vivi menggunakan rantai yang membuat dia
gak bisa bergerak dengan bebas. Jadi, ya
benar-benar diperlakukan kayak hewan
gitu. Dan selama itu dia tidur bersama
dengan asisten rumah tangga di sana. Dan
setiap Vivi ingin buang air kecil, dia
harus berteriak-teriak agar rantainya
bisa dilepas terlebih dahulu. Nah, pada
awalnya asisten rumah tangga tersebut
enggak mau untuk melepaskan rantai
karena takut ya dia enggak mau ngambil
resiko. Dia juga bisa kena nih sama si
FR. Jadinya setiap ingin bertindak dia
menelepon istrinya France terlebih
dahulu. Barulah ketika istrinya France
memberikan izin, si asisten rumah tangga
ini bakal melepaskan rantai yang
mengikat kaki tangan Vivi. Kalau Vivi
enggak diberikan izin untuk ke toilet,
dia bakal buang air di tempat tersebut.
Dan setelah 2 minggu dipasung, akhirnya
Vivi dibebaskan karena dianggap sudah e
nurut, sudah patuh, dan e dijamin enggak
bakal kabur lagi. Di saat itulah Vivi
mulai menjalani aktivitas seperti biasa
dan dia memang berada di bawah
traumanya. Dia enggak berani berbuat
aneh-aneh. Termasuk dia juga menjalani
kembali latihan sirkus. Namun, rasa
takut dan tertekan masih enggak bisa
hilang sama sekali. Dan jauh di lubuk
hatinya dia ini ya pengin banget buat
kabur dari tempat tersebut, Geng. Sempat
terbesit di pikirannya untuk ya
menceritakan apa yang sudah dia alami
ini kepada pengunjung sirkus sebenarnya.
Nah, jadi dia udah kepikiran nih kabur
enggak bisa, mau curhat ke siapa, apa
minta tolong aja ya kepada para penonton
atau pengunjung sirkus Taman Safari ini,
gitu. Tapi lagi-lagi ketakutan ya
mengurungkan niat dia tersebut. Dia
benar-benar udah enggak berani,
mentalnya udah enggak kuat. Nah, Vivi
takut kalau enggak ada orang yang
percaya dengan ceritanya dia nanti. Yang
ada ya dia malah berurusan dengan France
lagi. Nah, singkat cerita sampai pada
suatu hari Vivi ini ketemu sama salah
satu guru silatnya dia yang e bekerja di
Taman Safari. Nah, momen itulah Vivi
baru berani cerita semuanya kepada si
guru silat ini, termasuk dengan segala
keluhan mengenai perlakuan yang dia
dapatkan di sana yang membuat dia
benar-benar merasa ketakutan, enggak
betah, dan trauma. Di saat itu, Vivi ini
minta tolong kepada guru silatnya itu
agar bisa mengeluarkan dia dari sana.
Mendengar cerita dari Vivi, guru
silatnya pun akhirnya berusaha untuk
menolong Vivi. Karena selama ini dia
kenal Vivi, dia enggak pernah tahu, dia
enggak pernah nyangka bahwa muridnya ini
mendapatkan penyiksaan yang begitu kejam
di
sana. Terus, Geng, mendengar cerita dari
Vivi, guru silatnya pun akhirnya nolong
dia dan dia berhasil dibawa kabur ke
daerah Semarang, Jawa Tengah. Ketika
Vivi ini udah kabur, Geng. FR itu
kembali mencari dia dan Vivi udah
mawanti-wanti kalau dia gak mau kembali
lagi ke sana. Karena Vivi ini tahu kalau
dia kembali lagi ke sana, dia bakal
mendapatkan perlakuan yang mengerikan
lagi. Bahkan jauh lebih parah
dibandingkan sebelumnya. Nah, karena
itulah dia akhirnya dinikahkan oleh guru
silatnya. Nah, di sini mungkin kalian
bakal berpikir loh kok tiba-tiba
dinikahkan? Apa korelasinya nih
keselamatan Vivi dengan dinikahkannya
dia? Nah, tapi ini menurut opini pribadi
gua aja ya, Geng. Ini e enggak bisa
kalian ambil sebagai kesimpulan nih.
Kemungkinan besar ya si guru silatnya
ini berpikir kalau misalkan Vivi ini
dinikahkan, itu artinya dia ini sudah
menjadi tanggung jawab si suaminya.
Secara enggak langsung ya, karena
background-nya Vivi ini adalah orang
yang tidak berkeluarga, keluarganya
enggak jelas dan enggak tahu di mana.
Ya, dengan dia menikah otomatis dia
sudah dilindungi oleh keluarga si
suaminya. Mungkin itu kita lanjutkan
lagi, Geng. Di saat itu sempat ada
kendala ketika Vivi ini mau nikah karena
selama dia hidup, dia ini kan enggak
memiliki identitas apapun. Dia cuma tahu
kalau dia itu menganut agama Kristen.
Dia lahir dan dibesarkan oleh keluarga
Kristen yaitu keluarga dari ya si
pemilik Ochi tadi. Dan bahkan namanya
dia yang ada Sumampau itu itu berasal
dari salah satu nama e para founder Ochi
tadi. Jadi bukan nama aslinya dia. Dan
selebihnya dia enggak pernah tahu, Geng.
dia itu siapa, asal-usulnya dari mana?
Dan agama dia sejak lahir itu apa. Dan
di saat mau dinikahkan itu ya kendalanya
adalah dia enggak punya KTP ya kan.
Dokumen-dokumen aslinya dia enggak ada.
Dan akhirnya Vivi ini memutuskan untuk
jadi mualaf terlebih dahulu. Kemudian
dia dia punya dokumen-dokumen secara
Islam ya, dokumen negara dan statusnya
adalah ee seorang muslim. barulah dia
dinikahkan menggunakan wali hakim dan
langsung dibuatkan KTP dengan
mengira-ngira umurnya dia di saat itu.
Nah, sebelumnya kan gua udah sempat
menyebutkan kalau dia ini sempat kabur
ketika umur 16 tahun tuh yang sebelumnya
gua ceritakan. Nah, ternyata itu adalah
umur terkaan doang, bukan umur asli. Dan
di saat itu Vivi pun mengganti namanya
yang tadinya Vifi Sumampau. Nama
belakang yang sama dengan salah satu
pendiri Ochi yaitu Toni. Tony Sumampau.
Nah, sekarang dijadikan namanya jadi
Vivi Nurhidayah sesuai dengan nama
muslim. Terus geng, setelah menikah,
Vivi ini nekad untuk melaporkan kejadian
yang selama ini dia alami selama menjadi
pekerja di sirkus Ochi tersebut. karena
dia merasa takut sehingga membutuhkan
perlindungan. Di saat itu kalau kalian
berpikir ya, Geng, bentuk penyiksaan
yang dialami oleh Vivi ini hanya berupa
kekerasan fisik. Nah, kalian salah,
Geng. Nah, Vivi ini ternyata bersama
dengan pekerja sirkus yang lain juga
tidak mendapatkan pendidikan yang layak.
Jadi, kayak sengaja dididik menjadi
orang bodoh sebodoh-bodohnya biar enggak
tahu apa-apa dan biar hanya e bekerja
untuk seumur hidup kepada pihak Ochi
ini. Dan Vivi enggak pernah diberikan
kesempatan untuk bersekolah. selayaknya
anak seumurannya dia ketika itu. Vivi
juga mengaku kalau dia cuma pernah
diajari oleh salah satu karyawan yang
bekerja di Ochi juga. Nah, itu juga cuma
belajar baca tulis katanya. Dan untuk
pelajaran lain seperti pelajaran IPA,
IPS itu enggak pernah diajarkan sama
sekali. Jadi benar-benar mereka ini
dieksploitasi dan diperas tenaganya
untuk bekerja sebagai pemain sirkus
tanpa diberikan kehidupan yang layak
selama mereka bekerja di sana.
Nah, itu adalah cerita versi Vivi.
Kalian bisa lihat sendiri wajah Vivi ini
sudah ibu-ibu dan kalian bisa lihat
bagaimana ketika dia bercerita itu
sambil menahan air mata ya mengingat
gimana traumanya di masa itu,
Geng. Oke, cerita pilu selanjutnya,
Geng, diungkap oleh eh yang bernama
Butet. Nah, sama aja seperti Vivi, Butet
ini mengaku selama dia bekerja di sana,
dia juga mendapatkan perlakuan yang
benar-benar menyakitkan selama dia
berlatih dan menjadi pemain sirkus.
Bahkan kabarnya kalau dia ini performnya
enggak bagus, udah pasti dia bakal
disakitin secara fisik. Dan yang
menyakiti dia itu adalah France.
Lagi-lagi nama yang sama. Ditambah lagi
ketika dia ketahuan hamil hasil dari
hubungannya dia dengan salah satu
karyawan sirkus. Nah, ketika ketahuan
itu dia langsung dihabisin lah sama si
FR ini menggunakan balok. Kakinya pernah
dirantai menggunakan rantai kapal selama
2 bulan ketika dia sedang tidur pada
malam hari. Dan kalau butet ini selesai
perform, dia bakal langsung dirantai
lagi. Sampai untuk buang air aja dia
merasa kesulitan dan membuat dia
terpaksa buang air menggunakan kresek
dan ditampung di dalam ember. Enggak
sampai di situ aja, Geng. Ketika
akhirnya Butet ini melahirkan di rumah
sakit yang berada di Bandung, Butet ini
langsung dipisahkan dengan bayinya.
Kebayang tuh kejamnya kayak gimana? Dia
mengaku kalau yang mengambil bayinya di
saat itu adalah istri dari Jenson. Nah,
Jensen ini adalah salah satu owner dari
Ochi tadi dan anaknya tersebut dibawa ke
Jakarta tepatnya ke Pondok Indah tanpa
sepengetahuan Butet. Ya, bayangin aja
Butet sebagai ibu kandungnya ya
diperlakukan kayak gitu. Dan di Pondok
Indah sendiri itu adalah rumah pribadi
milik Jenson sekaligus baseecamp bagi
para pekerja Ochi. Jadi mereka itu ya
dari kecil udah di maaf ya dengan bahasa
kasar ya udah kayak diternak gitu, Geng.
Dari kecil dibesarkan di sana dilatih ya
untuk suatu hari dipekerjakan sebagai
pemain sirkus.
Singkat cerita, Geng, 2 tahun setelah
Butet melahirkan, dia ini mengunjungi
rumah Jenson di Pondok Indah dan dia di
saat itu melihat anak yang dia lahirkan
sendiri berada di sana. Butet ini tahu
kalau anaknya itu berada di sana karena
ada suster yang memanggil salah satu
anak dengan panggilan Debi. Dan itu
adalah nama panggilan yang diberikan
oleh Butet kepada anaknya yang bernama
Debora. Dari situlah dia akhirnya tahu
kalau anak itu ya adalah anaknya dia
yang diambil oleh istri Jenson untuk
dipekerjakan. sebagai pemain sirkus
juga. Kejam banget enggak tuh? Tapi
karena udah diambil sejak bayi, Debi ini
enggak tahu dan enggak kenal siapa sosok
Butet sebenarnya padahal itu ibu
kandungnya dia. Dan sedikit informasi
ya, setelah Butet itu melahirkan
sebenarnya Butet itu ya tetap bekerja di
sirkus itu lagi, Geng. Balik lagi dia
bekerja kayak biasa diperbudak lagi.
Nah, kemudian diketahui setelah dia
bertemu dengan Debi itu, Debi itu ya
ketika dilihat oleh Butet sudah dilatih
untuk menjadi pemain sirkus sejak usia
masih 3 tahun. Kebayang enggak sedihnya
gimana? Anaknya juga sama
diperlakukan. Nah, terus geng Butet ini
bercerita lagi yang menurut gua cerita
ini tuh sangat memilukan ya. Jadi pada
saat Butet ini masih remaja, ketika
umurnya dia masih sekitar 10 atau 11
tahun, dia itu setiap harinya cuma
diberikan makan berupa nasi bungkus.
Sementara para bosnya pasti mendapatkan
makanan yang jauh lebih enak dan mahal
yang dimasak oleh pembantunya. Nah,
mungkin karena Buten ini gak pernah coba
makanan enak yang biasa dicicipi oleh
bosnya, dia nekad tuh buat nyuri salah
satu lauk yaitu daging empal. Nah, dia
ngambilnya juga enggak banyak, Geng.
Cuma satu potong doang. Dan Butet di
saat itu ketahuan dan dia langsung
diberikan hukuman. Kalian tahu, Geng,
apa hukumannya? Butet mulutnya dijejali
dengan kotoran gajah. badannya dipegangi
oleh para pembantunya dan perlakuan
menjijikan tersebut dilakukan di depan
teman-temannya yang lain. Nah,
setelahnya Butet dengan bantuan
teman-temannya langsung pergi ke toilet
kumur-kumur menggunakan air sabun untuk
menghilangkan sisa eek gajah tadi yang
menempel di mulutnya. Karena perlakuan
yang sangat-sangat menyedihkan itu,
Butet mengumpulkan keberanian untuk bisa
kabur dari sana. Padahal sama seperti
Vivi, Butet ini tidak mengetahui siapa
dia. Dia enggak pernah kenal
keluarganya. nama aslinya siapa, umurnya
berapa. Jadi dia enggak pernah punya
siapapun yang dia kenal di luar
teman-temannya tadi sesama pemain
sirkus. Nah, namun karena udah enggak
tahan lagi, Butet memilih untuk kabur
dari sana pada tahun 1994. Memang, Geng,
di saat itu upaya kabur Butet enggak
bisa dikatakan mudah karena pihak dari
Ochi ini selalu bisa menemukan
keberadaannya dia. Waktu Butet pertama
kali kabur ke Malang, dia itu berhasil
ditemukan dan dibawa kembali ke Taman
Safari. Tapi akhirnya dia ya nurut-nurut
aja untuk pulang lagi ke Taman Safari.
Karena Butet berpikir kalau pihak dari
Ochi ini memiliki niat yang baik. Entah
niat baik yang seperti apa, ya enggak
tahu nih apakah dia berpikir enggak akan
diperlakukan dengan kasar lagi atau
gimana. Tapi yang jelas pada saat itu
ketika ditemukan Butet ini dibawa lagi
ke Taman Safari. Nah, jadinya ya
lagi-lagi Butet dipukulin, disakitin dan
segala macam. Sampai pada akhirnya dia
benar-benar kabur untuk selama-lamanya
lah. Dia kabur untuk selama-lamanya dan
pada akhirnya dia menjauh dari tempat
tersebut.
Berat bagi Butet untuk meninggalkan
anaknya sendirian di sana. Sampai pada
akhirnya Butet pun ya bertemu nih untuk
kedua kalinya dengan anaknya yang
bernama Debi yang di saat itu udah
berusia sekitar 16 sampai 17 tahun. Udah
gede nih anaknya. Nah, Debi di saat itu
udah ikut tur sirkus ke berbagai daerah.
Pertemuan dia ketika itu bisa terjadi
karena temannya Butet yang sama-sama
berasal dari Ochi itu tinggal di
Magetan. Nah, jadi kan Butet ini udah
kabur lama nih, udah enggak pernah
berhubungan lagi nih sama Ochi ini, sama
si Sirkus ini. Udah menghilanglah dia.
Ketemulah dia dengan anaknya di saat
anaknya itu sekitar 16 tahun tadi. Dia
si Butet ini diberitahukan oleh temannya
yang masih bekerja di Ochi ini kalau
Debi anak kandungnya itu bakal ikut
turour di dalam sirkus di Magetan. Butet
yang di saat itu memang berada di Malang
ya. Dia kabur ke Malang. Dia langsung
pergi ke Magetan untuk bertemu dengan
anaknya Deby. Ketika But ini bertemu
dengan Deby, Deby di saat itu manggil
nama dia tante bukan mama. Anak sendiri
manggil ibu kandungnya dengan sebutan
tante. Kebayang tuh? Walaupun katanya
Debi sempat dengar cerita kalau dulu
ibunya dia adalah seorang pemain sirkus
juga sama seperti dia. Namun karena
sedari kecil dia enggak tahu siapa
ibunya, jadi dia enggak tahu kalau yang
dimaksud itu adalah butet. Dan dia
mungkin sudah ya enggak terbiasa
memanggil orang dengan sebutan ibu atau
mama. Jadinya dia ya manggil Butet ini
dengan sebutan tante. Dan Butet di saat
itu sempat mengajak
Debur nih. Dia bilang dia ngakuin kalau
dia adalah ibunya. Dia yang melahirkan.
Di saat itu Deby-nya bingung gitu. Butet
yang di saat itu meminta Deby percaya
kepada dia dan meminta Deby untuk kabur
dengan dia. Bilang juga kalau Butet
sudah hidup berkeluarga, sudah menikah.
Jadi Deby bisa hidup bahagia dengan
Butet. Cuman sayangnya di saat itu
Debet, Geng. Nah, singkat cerita
akhirnya Deb ini kembali lagi ke sirkus
dan bekerja di sirkus lagi.
Bertahun-tahun kemudian singkat
ceritanya setelah si Deb ini berumur 20
tahun barulah tiba-tiba Debi ini
kepikiran ingin keluar dari sirkus
tersebut. Nah, sebenarnya geng pengakuan
dari Butet ini masih panjang ya,
termasuk cerita dari anaknya yang
bernama Debi tadi ya. Bagaimana akhirnya
Debi ini memilih untuk ikut dengan
Butet. bagaimana akhirnya Butet juga
menuntut keadilan akan hal ini. Nah,
tapi kalau gua ceritain semua panjang
banget. Jadi di sini kita ee beralih ke
kesaksian lainnya nih, Geng. Kesaksian
lainnya ini dari yang bernama Ida yang
mengalami disabilitas seumur hidupnya
ini yang paling sedih. Nah, dia ini
bercerita bagaimana dia bisa berakhir
seperti ini. Jadi, Geng, ini kejadiannya
ketika dia tampil di Lampung dan ketika
itu dia mengalami kecelakaan serius
yaitu terjatuh dari ketinggian. Nah,
tapi Ali-Ali segera mendapatkan
pertolongan dia enggak langsung dibawa
ke rumah sakit. tapi malah didiamkan
selama beberapa hari. Barulah ketika
pinggang ida mulai membengkak, dia
dibawa ke rumah sakit. Jadi kayak ya
dipaksa untuk cari duit, pas kecelakaan
dibiarin gitu aja kayak ya udah biarin
nanti juga sembuh gitu. Nah, tapi
ternyata malah fatal. Dan dilakukan
berbagai pemeriksaan terhadap Ida dan di
saat itu diketahui kalau dia mengalami
patah tulang. Enggak lama dari itu, Ida
pun dibawa ke Jakarta untuk melakukan
tindakan operasi. Dan di saat itulah Ida
akhirnya dipertemukan dengan orang
tuanya untuk pertama kali. Karena
kejadian tersebut, Ida harus menderita
cacat seumur hidupnya sampai membuat dia
harus menggunakan kursi roda untuk bisa
membantu dia beraktivitas. Dan ya udah
dianggap udah enggak berguna lagi didpak
ya dipulangkan kepada orang tuanya.
Jahat banget.
Terus geng di cerita yang lain ini ada
sebuah akun Instagram dengan username
experformer yang menjadi media bagi para
mantan pemain sirkus untuk menyuarakan
kasus tersebut dan mencari keadilan. Di
dalam postingannya, akun ini membagikan
beberapa foto serta cerita dari berbagai
pengalaman mengerikan yang dialami oleh
mantan pekerja Ochi ini. Karena pemilik
dari akun ini enggak diketahui, jadi gua
buat aja inisialnya ya, Geng. untuk
memudahkan gua bercerita nih, gua pakai
aja inisialnya. A ini bukanlah inisial
sebenarnya. Jadi, ada pekerja yang
berasal dari generasi 70-an. Jadi, tahun
0-an ya pekerja ini bekerja di sana dan
sejak usia balik dia dipekerjakan secara
paksa. Dia berlatih setiap hari mulai
dari jam 7.00 pagi sampai jam 5.00 sore.
Kemudian dilanjutkan melakukan show dari
jam .00 sampai jam 10.00 malam. Belum
lagi kalau ada yang gagal dalam
pertunjukan, mereka dipaksa latihan
malam itu juga setelah penonton bubar.
Jadi, mereka enggak mau ada kesalahan
selanjutnya. Jadi benar-benar enggak ada
istirahatnya. Si A ini mengaku kalau dia
dari generasi 80-an yang mana ketika itu
ya Australia punya pemain macan termuda
yang masih berusia 10 tahun. Nah, lalu
seseorang yang bernama Jensen Manansang.
Jensen Manansang ini adalah salah satu
pendiri dari Taman Safari Indonesia yang
mana dikatakan kalau Ochi memiliki
pemain trapez. Nah, trapeze ini
tulisannya kayak gini nih. Bacanya
trapez apa trapze nih? Koreksi gua kalau
salah. Nah, Ochi ini memiliki pemain
trapez termuda yaitu si Inisial A ini.
Nah, Trapze ini adalah atraksi akrobat
di sirkus. Dan waktu itu Aini masih
berusia 9 sampai 10 tahun lah. Dia
dipaksa latihan sampai kulit telapak
tangannya itu mengelupas semua. Dan
suatu hari dia gagal menyeberang ketika
dia perform. Jadi gagal tuh performnya.
Nah, kan disorakin tuh sama penonton. Di
malam yang sama dia langsung diomelin
habis-habisan oleh France. Setelah dia
diomelin, Aini langsung ditabok dari
belakang oleh France sampai hidungnya
mimisan. Si Aini juga cerita kalau
mereka sedang latihan, France itu berada
di sana sambil bermain golf dan menyuruh
anak-anak untuk mengambil bola golfnya.
Dan enggak lama dari situ, salah satu
teman dari si inisial A ini juga dih
bagian kepalanya menggunakan stick golf.
Pernah dihukum enggak dikasih makan
juga, cuma disediakan minum. Dan si
inisial A ini bercerita kalau dia juga
sempat kabur ke daerah Cakung Jakarta,
tapi kemudian dia kembali
tertangkap. Dari sini kalian bisa lihat
ya, Geng, bagaimana kejamnya kelompok
ini dan itu adalah berbagai bentuk
kekerasan yang dialami oleh mereka.
Selain dari itu, Geng, mantan pekerja
Ochi juga mengaku kalau mereka sudah
direkrut sejak masih kecil melalui modus
adopsi dengan janji akan disekolahkan
hingga ke jenjang yang lebih tinggi.
Jadi, mereka ini semua berasal dari
keluarga yang kurang mampu.
Ditawarkanlah oleh pihak Ochi ini, mau
enggak bisa mendapatkan pendidikan yang
layak, mau enggak disekolahin atau nanti
kalian mendapatkan ya uang dari
pekerjaan yang diberikan di saat itu ya
siapa yang enggak tergiur gitu. Nah,
apalagi ya ditawarkan diadopsi dan
disekolahkan sampai besar. Dan adopsi
tersebut dilakukan dengan alasan kalau
Bos Ochi gak punyauan makanya mereka mau
adopsi. Dan enggak tanggung-tanggung
para bos ini juga menjanjikan akan ya
menyekolahkan mereka adopsi ini sampai
ke luar negeri. Nah, lalu ketika
keluarganya tergiur, nah ternyata mereka
justru dieksploitasi dengan dipekerjakan
sebagai pemain sirkus dan selama bekerja
di sana justru mendapatkan perlakuan
yang menyedihkan sekali. Terus, geng,
menurut keterangan dari salah satu
mantan pekerja lainnya yang bernama
Debora. Nah, ini gua gak tahu nih apakah
ini Debora alias si Debi Butet atau
Debora yang lain nih ya pokoknya namanya
Debora nih. Dia ini mengatakan semakin
lama usia yang direkrut oleh Bos Ochi
ini semakin muda. Yang awalnya Bos Ochi
ini cuma bawa dua. Makin ke sini makin
banyak Bambil dengan alasan kalau
direkrut dari kecil akan semakin mudah
untuk dilatih. Kebayang ya? Udah kayak
topeng monyet. Mohon maaf nih, udah
kayak topeng monyet ng. Cara ngelatihnya
juga sama,
disakitin. Tapi ini manusia loh. Debora
di saat itu juga bercerita setelah kasus
mengenai eksploitasi dan pelanggaran HAM
yang dilakukan oleh ECI ini mencuat di
tahun 2010, pihak pengelola mulai
mengizinkan anak-anak yang jadi pekerja
OCHI untuk sekolah. Tapi itu juga hanya
sebatas formalitas untuk menutupi borok
mereka. Karena mereka ini sekolah cuma
seminggu sekali, Geng. Dan sekolahnya
juga berlokasi di Cisarua. Coba tuh,
Geng. Bayangin udah selama mereka
bekerja, mereka ini mendapatkan
perlakuan kasar. Udah gitu ya
dipekerjakan di sana juga hasilnya dari
menipu. Ini kan sama aja jatuhnya kayak
menculik ya, apalagi mempekerjakan
anak-anak yang ya umurnya enggak cukup
dan itu diperbolehkan di negara kita.
Dan inilah sisi gelap dari ya maaf nih
Taman Safari itu. Kalau benar cerita ini
terbukti dan kita ke sana untuk mencari
hiburan. Tapi ternyata pekerja di sana
enggak bahagia. Kita tertawa, kita
bahagia di atas penderitaan orang lain.
Siapa yang sangka kalau perusahaan besar
seperti Taman Safari ternyata ya punya
sisi gelap kayak gini dan itu
berhubungan dengan Ochi
tadi. Tapi sampai di sini gua enggak mau
sepihak juga. Gua di sini bakal ya
bercerita tentang e bagaimana tanggapan
dari pihak Taman Safari sendiri saat
kasus ini mencuat. Sekarang kita masuk
ke dalam pembahasannya.
Jadi, Geng, walaupun kasus ini sudah
pernah disuarakan di tahun 1997, gua
yakin enggak banyak di antara kalian
yang tahu. Makanya ketika kasus ini
kembali diangkat, ya kemarin banget baru
ramai lagi dan mencuri perhatian publik.
Nah, mulai timbul kecaman dari berbagai
pihak untuk Taman Safari atas kasus
tersebut. Taman Safari pun akhirnya buka
suara terkait kasus ini dan kita udah
bisa menebak, Geng. Pastinya pihak Taman
Safaria membantah segala pengakuan yang
disampaikan oleh para korban. Nah, Taman
Safari mengeluarkan pernyataan yang
mengatakan kalau pihaknya tidak memiliki
keterikatan atau hubungan bisnis maupun
keterlibatan hukum dengan mantan pemain
sirkus tersebut. Taman Safari menilai
kalau permasalahan tersebut bersifat
pribadi dan enggak ada kaitannya dengan
Taman Safari Indonesia Group secara
kelembagaan. Jadi Taman Safari mengklaim
kalau apa yang selama ini dialami oleh
Butet, Vivi, Ida, Debora, dan yang
lain-lain itu adalah permasalahan
individu dan enggak ada sangkut paudnya
dengan Taman Safari. Dan oleh karena
itu, pihak Taman Safari berharap agar
nama serta reputasi mereka enggak
disangkut paudkan dalam permasalahan
yang mereka klaim bukan tanggung jawab
dari mereka, terutama tanpa adanya bukti
yang jelas. Pernyataan tersebut ditutup
dengan himbauan kepada masyarakat untuk
bersikap bijak dalam menyikapi informasi
yang beredar di internet dan enggak
mudah terpengaruh oleh konten-konten
yang memiliki dasar fakta maupun
keterikatan yang enggak jelas katanya.
Nah, tapi balik lagi ya, Geng. Semua
penjelasan ini, semua yang gua ceritakan
ini yaitu berdasarkan cerita dari para
korban. Jadi kalau seandainya ya para
contonent kreator menceritakan kembali
kayak gua ini tentang apa yang terjadi
ya pembuktiannya nanti kita bisa lihat
ya sekarang kan tujuan kita atau tugas
kita adalah memberikan kesempatan untuk
para korban mendapatkan hak mereka
secara hukum. Kalau ternyata nanti
pembuktian secara hukum tidak terbukti
nih dengan apa yang mereka ucapkan ya
dengan apa yang mereka akui ya berarti
ya para orang-orang yang mengaku korban
ini harus bertanggung jawab nih dengan
pengakuannya. Nah, makanya nanti kita
tunggu aja nih ya. Karena kan yang satu
udah nuduh, yang satu ngebantah. Nih
kita lihat nanti pembuktiannya. Kalau
gua pribadi, Geng, gua juga ya gimana ya
untuk taman Safarinnya tuh kayak agak
setengah-setengah sih antara percaya
atau enggak percaya. Karena kan ini
keterlibatannya dengan lembaga lain nih,
yaitu Ochi tadi yaitu lembaga yang
menaungi si sirkus itu sendiri ya kan.
Nah, nanti kita lihat nanti bagaimana
akhir dari semua
ini. Terus kemudian, Geng, salah satu
pendiri Taman Safari Indonesia dan
menjabat sebagai komisaris Taman Safari
Indonesia serta pelatih satwa di Ochi
yang bernama Tony Sumampau membantah
kalau ada kekerasan fisik dan
eksploitasi sampai perlakuan yang enggak
manusiawi di sana. Menurut beliau, apa
yang disampaikan oleh mantan pekerja
Ochi ini enggak masuk akal. Karena kalau
mereka mengalami kekerasan seperti itu,
seharusnya mereka bisa mati, katanya.
Hmm, enggak juga
ya. Enggak semua orang kok kalau
dipukul-pukul tiap hari juga mati.
Enggak juga sih. Tapi ya udahlah itu
anggapan beliau ya. Nah, jadi oleh
karena itu ya Pak Toni ini menilai bahwa
hal tersebut adalah fitnah. Bahkan Tony
sampai menantang mereka untuk
menunjukkan bukti mengenai adanya
kekerasan yang dilakukan oleh pihak
Taman Safari Indonesia. Nah, keberadaan
mereka dan dipekerjakannya mereka
sebagai pemain sirkus itu karena mereka
dirawat sejak bayi oleh beliau dan
beliau mengambil dari tempat prostitusi
yang berada di kawasan Kalijodo Jakarta
katanya. Jadi bukan diadop dari orang
tua-orang tua yang enggak mampu yang
sini anaknya kita sekolahin gitu katanya
sih enggak gitu. Tapi justru dari tempat
prostitusi diambil jadi anak, dipelihara
lalu
dipekerjakan. Ada yang janggal juga sih
menurut gue ya. Kayak grooming juga
enggak sih? Kayak lu dipelihara ya gua
kasih makan tapi after itu lu kerja buat
gue. Iya enggak sih? Tapi ya udahlah itu
anggapannya gua enggak paham sih. Nanti
biar pembuktian di jalur hukum aja gitu
ya. Bahkan Tony ini mengklaim ketika
membesarkan mereka ini enggak
ditelantarkan tapi justru mendapatkan
fasilitas yang layak karena pihak Tony
itu menyediakan suster untuk menjaga
mereka. Dan Tony juga menyebutkan
permasalahan tersebut mencuat di tahun
1997 yang Komnas HAM sempat mengeluarkan
pernyataan kalau langkah taman safari
Indonesia untuk menampung mereka dari
tempat prostitusi sudah tepat," katanya.
Dan di dalam hal ini, Tony ini
menyayangkan para mantan karyawan yang
sekarang justru berbalik menyerang dia.
Dan menurut dia, kalau ketika itu mereka
enggak diambil dan enggak dikasih makan
dari bayi, mungkin hari ini mereka
enggak bisa hidup sampai sekarang. Tapi
kenapa ketika sudah besar mereka enggak
mengucapkan terima kasih? Kurang lebih
begitulah kata si bos yang bernama Tony
ini. Terus di kesempatan lain, Tony ini
menunjukkan bukti video yang
memperlihatkan kegiatan Ochi yang
diambil sekitar tahun 1981 yang
bertepatan dengan perayaan Sekaten di
Klaten dan Yogyakarta. Di dalam video
tersebut terlihat bahwa ekspresi dari
para pekerja anak-anak itu sangat ceria
seperti tidak tertekan. Tony juga bilang
kalau ada bekas luka seperti luka habis
disiksa atau sebagainya ya enggak
mungkin anak-anak itu bisa ceria kayak
gitu katanya. Dan menurut dia saat itu
anak-anak yang memang harus menghabiskan
waktu di lingkungan sirkus seperti
makan, mandi, istirahat, bahkan belajar.
Jadi ya wajar kata dia kalau memang ada
tindakan yang tidak beres di sana.
Seharusnya Tony yang pada saat itu
bertugas untuk melatih hewan juga pasti
mengalami hal yang sama. Nah, Tony ini
menjelaskan kalau Ochi dan Taman Safari
Indonesia merupakan dua badan hukum yang
berbeda. Seperti yang gua ceritakan di
awal, isu ini pernah mencuat di tahun
1997 dan Tony mengaku kalau ibunya dia
sangat menyukai anak-anak dan diasuh
oleh beliau sampai usia 6 tahun. Nah,
anak-anak itu diambil oleh ibunya,
ibunya Tony di kali jodoh karena mereka
ditolak oleh orang tuanya. Tony
mengklaim ketika anak-anak tersebut
diambil, ada saksi yang melihatnya,
Geng. Dan setelah itu anak-anak tersebut
diarahkan mau ikut sirkus atau enggak.
kan masih kecil ya diarahkan gimana tuh
masa iya anak-anak bilang iya mau gitu
saya mau lompat dari gedung aneh juga
penjelasannya tapi ya begitulah yang
disampaikan nah dikarenakan kasus ini
mencuat kembali Tony ini menduga ada
pihak yang mengarahkan mereka untuk
memberikan kesaksian palsu dan pihak
tersebut berasal dari luar Ochi katanya
jadi ada apa ya misi untuk menjatuhkan
nama Ochi inih
geng lalu geng pasti di antara kalian
ada yang bingung kenapa Ochi ini jadi
berhubungan dengan Taman Safari
Indonesia, kan? Nah, gua jelasin singkat
nih, Geng. Jadi, Ochi ini sendiri muncul
pertama kali tahun 1966 dan Ochi ini
awalnya dikenal dengan nama Oriental
Show dengan Hadi Manangsang sebagai
pendirinya. Ketika itu dia membentuk tim
akrobatik yang bertujuan untuk
memberikan hiburan bagi anggota ABRI
yang terlibat dalam peristiwa G30 SPKI.
Nah, Oriental Show ini sering diundang
oleh Auri atau yang sekarang dikenal
dengan TNI Angkatan Udara untuk
mengadakan pertunjukan keliling di
berbagai daerah. Nah, masa keemasannya
terjadi pada tahun 1970-an sampai awal
tahun 1990-an. Dan ketika itu
pertunjukan sirkus masih menjadi hiburan
utama dan sangat dinantikan oleh
masyarakat di berbagai daerah di
Indonesia. Dan Ochi pun rutin melakukan
tur keliling kota dan desa. Nah, Ochi
inilah yang kemudian menjadi awal mula
berdirinya Taman Safari Indonesia, Geng.
Nah, jadi di tahun 1980 keluarga
Manansang itu memutuskan untuk
mengembangkan konservasi satwa di lahan
bekas perkebunan Kina yang ada di
Cisarua. Dan oleh karena itu, taman
safari Indonesia adalah bentuk perubahan
atau perkembangan dari Ochi yang awalnya
adalah pertunjukan sirkus menjadi sebuah
taman konservasi satwa. Jadi dari sini
kalian sudah paham ya sejarah dari Ochi
ini bisa berhubungan dengan Taman
Safari. Jadi Ochi duluan lebih ada. Nah,
kemudian bagaimana tanggapan dari pihak
pemerintah atas kasus ini? Nah, kabarnya
setelah melakukan audiensi dengan mantan
pekerja OchI, Kementerian HAM berencana
untuk memanggil pihak dari Taman Safari
mengenai dugaan eksploitasi dan
kekerasan yang dialami oleh mereka.
Terutama untuk meminta kejelasan kepada
tiga orang yang disebut-sebut oleh
mantan para pekerja Ochi yaitu Tony,
Franz, dan Johnson. Nah, Tony sendiri
mengaku dia siap untuk memenuhi
panggilan dari Kementerian HAM untuk
membahas kasus ini. Dan Tony berencana
ingin menunjukkan dokumentasi masa kecil
anak-anak pemain sirkus Ochi sebagai
bukti kalau pihak Taman Safari
memperlakukan mereka dengan baik. Dan
untuk kejelasan mengenai kapan
pemanggilan tersebut dilangsungkan,
Kementerian HAM hanya mengatakan akan
melakukan pemanggilan secepatnya. Jadi,
kita tunggu aja, Geng, perkembangan dari
kasus ini gimana nanti akhirnya.
Nah, itu dia, Geng, pembahasan kali ini
mengenai dugaan eksploitasi dan
pelanggaran HAM yang terjadi pada mantan
karyawan sirkus OchI. Kasusnya masih
berjalan, jadi kita kawal aja kasus ini
bareng-bareng agar para korban
mendapatkan keadilan. Gua rencananya sih
pengen manggil salah satu ininya ya,
saksi atau korban gitu ya. Menurut
kalian gimana? Kalian setuju enggak
kalau gua undang salah satu korbannya
untuk ngobrol-ngobrol sama gua di sini?
Kalau kalian setuju, coba tinggalkan
komentar di bawah.
[Musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:14:45 UTC
Categories
Manage