CIRCUS TAMAN SAF4RI TERNYATA PERBUD4KAN ?! PEMAIN DIADOBSI SEJAK B4YI UNTUK DILATIH LAYAKNYA HEW4N
EqzLMcwQEJc • 2025-04-19
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Selain dari itu, Geng, mantan pekerja Ochi juga mengaku kalau mereka sudah direkrut sejak masih kecil melalui modus adopsi dengan janji akan disekolahkan hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Nah, lalu ketika keluarganya tergiur, nah, ternyata mereka justru dieksploitasi dengan dipekerjakan sebagai pemain sirkus dan selama bekerja di sana justru mendapatkan perlakuan yang Yo, geng. Tekan tombol subscribe, Geng. Halo, Geng. Welcome back to Kamar [Musik] Jerry, Geng. Geng, lagi-lagi, Geng. Kasus menggemparkan kembali terjadi di Indonesia. Kalian udah pernah belum datang ke Taman Safari? Kalau yang udah pernah, coba deh ceritain pengalaman kalian di kolom komentar. Nah, buat kalian yang belum pernah ke sana pastinya kalian tahulah ya. Taman Safari ini tempat di mana kalian bisa berekreasi dengan hewan-hewan yang langka, hewan-hewan yang dilindungi, hewan-hewan buas dan lain-lain. Nah, tapi kalian tahu enggak, Geng? Sebenarnya selain Taman Safari ini sebagai kebun binatang, ya mereka ini punya banyak anak usaha. Selain kebun binatang, ada penginapan, ada juga yang menyajikan bentuk hiburan, yaitu sirkus. Di dalam pembahasan kita kali ini, kita bakal membicarakan mengenai eh sebuah kasus yang sangat menggemparkan. Ini lagi heboh banget sekarang dan bercerita tentang sisi gelap dari taman Safari. Nah, bukan berarti taman Safarinya mati lampu ya, bukan. Tapi ini sisi gelapnya tuh yang mengerikan gitu. terkhususnya untuk dunia sirkus taman Safari yang bernama Oriental Circus Indonesia atau Ochi yang mana geng sekitar 2 hari yang lalu ada mantan-mantan pekerja Ochi ini ya mantan-mantan pelaku sirkus ini itu mengungkapkan apa yang mereka alami ketika mereka masih bekerja di sana yang mana mereka ini mengatakan kalau mereka tidak mendapatkan perlakuan layaknya manusia. Maksudnya itu gimana? Apakah mentang-mentang itu taman safari? Terus orang-orang di sana disamain kayak binatang. Nah, jawabannya kalau dari cerita ini ya mereka diperlakukan benar-benar tidak manusiawi. Pertama mereka ada yang dim secara kasar ya sori gua praktekin. Buat yang cuma dengar doang enggak lihat videonya, tolong lihat videonya. Nah, jadi mereka itu di gitu ya, terus disetrum terus dikurung dan gilanya dikurungnya di mana? di kandang macan sampai ada yang dijejali eek gajah ke mulutnya. Sor ya, mungkin di sini banyak banget kata-kata yang gua plesetin karena aduh enggak bisa sebenarnya kayak kayak gini nih bisa kena teguran YouTube tapi gua harus berbagi informasi ke kalian. Jadi geng para pekerja ini juga mengatakan kalau mereka itu sama sekali enggak tahu keluarga mereka siapa. Seram enggak tuh? Mereka bekerja di sana mereka enggak tahu keluarga mereka siapa. Mereka dikurung di sana, mereka enggak tahu keluarga mereka di mana. Nama mereka aja mereka enggak tahu. Dan sampai umur mereka sendiri mereka enggak pernah tahu, Geng. Sehingga diduga mereka ini sejak masih kecil sudah dipisahkan dari keluarga mereka untuk dieksploitasi menjadi pekerja di sirkus tersebut, yaitu Ochi tadi. Dan setelah Bungkam selama bertahun-tahun nih ya, nih anak-anak udah pada besar dan bahkan di kasus ini tuh mereka udah pada tua gitu. Sudah bertahun-tahun mereka bungkam. Akhirnya para ex pekerja Ochi ini buka suara dan menuntut keadilan atas apa yang mereka alami. Kalian bisa kebayang enggak, Geng? Manusia loh, Geng, diginiin. Dan di video kali ini gua bakal membahas kasus dugaan ini yang dialami oleh para mantan pekerja Ochi tersebut. Nah, cuma gua mau disclaimer dulu nih, Geng. Apa yang gua sampaikan di video kali ini semuanya gua ambil dari media berita. Jadi, bukan opini gua ee bukan juga e hasil gua merriset langsung ke lapangan, enggak. Jadi, gua menceritakan kembali ke kalian apa yang ada di media saat ini. Dan kalian sendiri bisa cek sendiri beritanya. Ada banyak sekali di internet. Nah, di sini gua bakal merangkum untuk kalian. Langsung aja nih kita bahas secara lengkap di sisi [Musik] lain. Kita langsung masuk ke dalam pembahasan awal mula terungkapnya. kasus dari mantan para pekerja Ochi [Musik] ini. Jadi, Geng, kasus ini bisa terungkap ketika beberapa mantan pekerja sirkus dari Oriental Sirkus Indonesia atau Ochi mengadukan dugaan eksploitasi dan pelanggaran HAM kepada Kementerian HAM pada hari Selasa tanggal 15 April tahun 2025. Di saat itu ada delan orang perwakilan korban yang hadir yang mana sebagian besar di antara mereka itu adalah perempuan paruh. Nah, mereka ini menceritakan bagaimana pengalaman mereka ketika bekerja di OI ini. Dari sinilah kasus ini kemudian jadi perbincangan publik. Nah, cuma geng sebenarnya ya ada dugaan eksploitasi dan pelanggaran HAM di Ochi itu sebenarnya pernah ramai pada era tahun 1990-an dulu. Jadi walaupun ramai lagi sekarang, sebenarnya ini udah dari lama nih disuarakan tepatnya pada bulan Maret tahun 1997. Jadi sebelumnya sudah pernah diangkat geng isu ini. Tapi mungkin di saat itu karena media enggak semasif ini ya sekarang diangkat lagi karena akses informasinya tidak seterbatas dulu. Jadi ramai nih termasuk kalian-kalian nih geng kalau mendengar konten ini tolong dibagikan sebanyak-banyaknya ya. Fungsi dan gunanya untuk apa? untuk viral karena ya negara kita ya no viral no justice. Kalau enggak viral enggak mendapatkan keadilan, enggak mendapatkan atensi. Nah, jadi makanya dulu pernah dilaporkan kasusnya tenggelam begitu aja karena ya enggak ada yang ngebantu. Nah, hari ini mari sama-sama kita bantu agar ada kejelasannya. Terus, Geng, ketika itu ya para pekerja yang dibantu oleh aksi Solidaritas Pembela Perempuan Teraniaya atau disingkat dengan ASPPT itu mengklaim kalau mereka ini mengalami penyiksaan. Ketika itu advokasi dilakukan oleh ASPT ini. Dan setelah mendapatkan laporan dari seorang mantan pekerja Ochi yang bernama Vivi Nurhidayah yang mana ketika itu tahun 1997 Vivi ini masih berumur 19 tahun ketika dia melaporkan. Si Vivi ini, Geng, ngaku kalau dia itu udah mengalami ya tindakan yang benar-benar menyakitkan sejak dia bahkan masih kecil, balita bahkan katanya. Nah, sampai dia dewasa juga dia masih mendapatkan ee tindakan tersebut dan dia ini menjadi pemain sirkus di Ohi. Sehingga kalau dihitung nih, Geng, ya, eh tindakan yang menyakitkan yang udah dia terima, yang udah dia alami itu udah berlangsung sejak awal tahun 1980-an. Gila enggak tuh? Kasihan banget ya. Jadi geng saat Vivi mengadukan hal ini, pihak pengelola dari Ochi ya yang menaungi dia setuju untuk menyelesaikan pengaduan Vivi secara kekeluargaan. Nah, jadi di saat itu tuh udah ditangani lah karena enggak viral ya pihak Ochi ini masih bisalah ayolah kita main kekeluargaan aja lu butuh apa kita damai-damai selesailah kasusnya. Namun ternyata mereka ini malah mengingkari janji geng. Nah, janjinya itu enggak ditepati dan kembali lagi melakukan tindakan penganiayaan terhadap Vivi serta teman-temannya yang ada di sirkus tersebut. Nah, pernyataan tersebut disampaikan oleh anggota Komnas HAM yaitu Prof. Muladi dan Joko Sugianto. Setelah mempertemukan pengelola Ochi dengan Vivi beserta dengan saksi-saksi lainnya di Jakarta pada tanggal 25 Maret tahun 1997. pengelola sirkus yang bernama Tony Sumampau. Nah, juga hadir nih dengan didampingi oleh pengacara yang bernama Poltak Hutajulu. Menurut Muladi, ada indikasi pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Ochi ini memang. Nah, walaupun pada saat itu kasusnya itu tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan, tapi Pak Muladi ini bilang enggak tertutup kemungkinan kalau para korban bakal segera menggugat ke pengadilan. Dan dari informasi yang gua dapatkan nih ya, nih dikatakan nih di saat Vivi ini melakukan advokasi bersama dengan pihak ASPPT, ada beberapa rekan Vivi yang juga datang ke kantor Komnashham. Mereka bernama Anto, ada yang namanya Butet, ada yang namanya Ida. Yang mana mereka semua mengalami lumpuh total akibat penyiksaan yang mereka dapatkan ketika bekerja di Oji. Lumpuh total. Selain mereka bertiga, masih ada lagi rekan CVV ini yang lain yang mengadukan nasib mereka. Jadi kan berarti di dalam hal ini kita bisa lihat ya e enggak satu orang korbannya jadi enggak mungkin hoax gitu. Komnash pada saat itu berjanji bakal ngebantu para korban ini. Terutama banget Ida karena Ida ini yang mengalami eh apa ya? Duh gua sedih sih. Dia ini jadi disabilitas seumur hidup. Maaf ya kata kasar itu cacat seumur hidup. Geng lumpuh sedih banget. Dan sebelum melapor ke Komnas HAM, Ida ini sempat mengalami pengancaman berupa pemutusan hubungan kerja atau PHK dari Taman Safari. Nah, tempat di mana dia bekerja di saat itu. Yang gua bingung ya, entah kenapa ya udah dia mengalami penyiksaan kayak gitu, dia takut dipecat apa mungkin dia enggak tahu harus ke mana kali ya. Karena kan ya sesuai dengan kisahnya dia enggak tahu keluarganya di mana, dia enggak tahu umur dia berapa, nama dia aslinya siapa. Ya, mungkin kalau dipecat keluar dari tempat tersebut dia bingung harus ke mana. Makanya dia takut mungkin. Nah, terus geng bentuk penyiksaan apa aja sih yang sebenarnya dialami oleh para pekerja ini? Nah, gua bakal masuk nih ke dalam pembahasan selanjutnya yang bakal gua jelaskan berbagai aksi penyiksaan yang dialami oleh para pekerja Ochi ini, Geng. Dan ini dialami oleh mereka selama bertahun-tahun. Oke, sekarang kita bahas. Nah, jadi geng kalau kita membahas tentang penyiksaannya udah pasti masing-masing dari mereka itu mendapat penyiksaan yang berbeda-beda, perlakuan yang berbeda-beda. Kita bahas dulu dari korban yang melapor pertama kali, yaitu Vivi. Apa sebenarnya yang dialami oleh Vivi ini? Ya, mengerikan banget, Geng. Gua enggak pernah ngebayangin kalau kejadian kayak gini tuh benar-benar terjadi di negara kita Indonesia. yang mana gua pikir ya cerita-cerita kayak gini tuh cuma terjadi di luar negeri atau ya terjadi pada zaman dahulu lah. Ini benar-benar ya perbudakan era modern yang dilakukan di Indonesia yang mana notabandnya kita itu budayanya enggak sekasar inilah dan kalian bakal melihat hal kayak gini ya kalian akan membayangkan apa yang dialami oleh admin-admin judul di Kamboja kali ya. Jadi, Vivi ini bercerita dia itu udah bekerja sebagai pemain sirkus sejak masih kecil. Nah, jadi kalau kalian berpikir pemain sirkus itu memang memiliki bakat dari lahir, itu enggak. Dia dilatih, mereka ini dilatih. Dia mengaku pada awalnya dia sendiri enggak tahu dia itu siapa dan keluarganya yang mana. Dan bahkan Vivi ini sendiri dia benar-benar enggak tahu asal-usul dia. Bahkan tanggal lahirnya aja dia enggak tahu. Nah, jadi persoalan umurnya dia itu hanya diterka-terka aja. Tahun 97 itu Ibu Vivi umurnya berapa kira-kira? Karena juga tidak tahu persis ya lahir tahun berapa, tanggal berapa. Masih belasan. Belasan tahun. Masih belasan tahun saya kurang kurang lebih seperti itu. Kira-kira masih anak-anak atau sudah masuk usia dewasa? 20 tahun di bawah 80 tahun kurang lebih ya. Yang diingat oleh Vivi ini dia itu sedari kecil udah tinggal di rumah bos si pemilik Taman Safari yang bernama Franz Manansang. Tiap hari tanpa absen dia ini berlatih untuk menjadi seorang akrobatik untuk sirkus. Ya, jadi dari kecil tuh udah dilatih kayak ya dia udah diperuntukkan untuk sirkus nih. Tiap hari dia ini berlatih dan tiap hari juga dia mendapatkan perlakuan yang ya menyakitkan oleh si France ini berupa eh tindakan kekerasan. Sampai pada akhirnya Vivi ini yang sudah remaja sudah enggak tahan lagi dan di saat itu dia memilih untuk kabur. Percobaan kabur pertama dia ini dia lakukan di saat itu ya menunjukkan pukul . malam lah kejadiannya. Jadi dini hari di mana semua orang lagi tidur, lagi lelapnya. Nah, sementara Vivi dipaksa untuk terus berlatih dan enggak boleh tidur. Yang mana akhirnya Vivi ini nekad untuk kabur dari sana sendirian. Dia menyusuri hutan Cisarua di tengah malam. Kebayang enggak tuh untuk anak seusianya dia mungkin ya takut hantu, takut setan itu jadi sesuatu yang sangat mengerikan lah. Apalagi posisinya dia berada di tengah hutan. Tapi Vivi ini enggak peduli, Geng. yang lebih dia takutkan dia tertangkap dan dibawa lagi ke rumah France menurut cerita dia. Dan rumah France itu dianggap menjadi tempat yang sudah seperti neraka buat Vivi. Dibandingkan dia harus takut hantu, dia lebih takut rumah itu. Hal itulah yang membuat dia akhirnya terus berlari, terus lari enggak mau ngelihat ke belakang untuk bisa menjauhi rumahnya si bos yang bernama France. Ini saya kabur dari rumah ee Pak Frans itu terjang malam-malam jam .00 Saya nekat padahal itu hutan tapi saya nekat saya enggak takut itu ada setan lah apa. Saya enggak takut saya takutnya justru sama ketangkap sama dia lagi tuh. Terus geng sampai pada akhirnya nih ya entah gimana bisa Vivi ini ya tiba di wilayah pemukiman yang berada di kawasan Cisarua, ada rumah warga. Dia di saat itu mikir kalau bakal ada warga yang bisa nolong dia dan Vivi kemudian minta tolong ke warga-warga di sana. Akhirnya dia pun ditolong nih, Geng, oleh seorang warga yang ternyata adalah pegawai restoran dari Taman Safari yang kenal sama dia. Pegawai restoran tersebut itu bersedia ya untuk nolong Vivi supaya Vivi bisa tinggal di rumah dia. Disebutkan oleh Vivi, dia tinggal selama 3 hari, Geng, di rumah si pegawai restoran tersebut. Dan Vivi yang tadinya senang banget dan merasa aman ketika mendapatkan pertolongan langsung berubah semuanya ketika Vivi mau ya ngelanjutin perjalanan dia untuk kabur karena takut bakal ditemuin di sana, ditangkap lagi sama pegawai e safari yang lain. Nah, ternyata nih, Geng, ya, si pegawai restoran Taman Safari ini malah ngebocorin. Jadi jahat nih orang malah ngejebak. Di depan rumah dia udah ada seorang satpam atau security dari Taman Safari. Jadi semua itu cuma jebakan. Memang sengaja ditunggu, ditampung dulu di rumah si pegawai restoran tadi. Nah, si pegawai restoran ini ngebocorin ke bosnya. Jadi dengan kata lain ya, dia cuma cari muka gitu dan dia ngebocorin kalau Vivi ada di rumahnya. Dan di saat itu akhirnya Vivi dibawa lagi balik ke rumahnya FR dan Vivi bisa mengetahui kalau orang-orang tersebut adalah security. Ya, karena Vivi memang kenal dengan mereka semua. Vivi menyebutkan bahwa nama si security atau sapam itu adalah Pak Odo. Dan Pak Odo ini meminta agar Vivi balik pulang ke rumah FRS. Namun di saat itu Vivi sampai nangis-nangis dia enggak mau sebab dia takut bakal dipukulin lagi oleh France. Nah, Pak Odo di saat itu berusaha membujuk Vivi dan meyakinkan Vivi untuk pulang dengan mengatakan kalau Vivi enggak akan diperlakukan kayak gitu lagi karena ya dia memang sedang dicari oleh France dan France kangen sama dia. Pokoknya dirayu lah gitu. Terus, geng, mendengar jawaban dari Pak Odo, akhirnya Vivi ini mengiyakan dan dia ikut pulang bersama dengan Pak Odo. Nah, lagi pula di saat itu Vivi juga gak bisa berbuat banyak karena udah tertangkap sehingga mau enggak mau dia hanya bisa pasrah. Lagian mau kabur juga enggak tahu mau kabur ke mana. Terus, Geng, sebelum akhirnya dia dibawa pulang ke rumahnya France, Vivi terlebih dahulu dibawa ke posturity. Di sana dia sempat melihat ada seseorang yang merupakan kepala security yang bernama Pak Yanto dan ada juga seorang pegawai security yang lain yang namanya Pak Dedy. Nah, mereka berdua ini memberikan nasihat kepada Vivi untuk enggak usah kabur lagi. Jangan kabur lagi dari rumah Pak France karena banyak yang khawatir dengan dia, katanya gitu. Jadi diet tuh seolah-olah ee kekeluargaan banget gitu. Terus saya dinesetin, "Kamu jangan kabur gini-gini kamu tuh dicariin." Saya sambil nangis saya karena saya udah ngerasa ketakutan dan enggak enak ya. Dan mendengar hal itu, Vivi cuma bisa nangis ketakutan membayangkan bagaimana nasibnya ke depan ketika dia dibawa pulang ke rumahnya France. Nah, enggak lama dari itu, Vivi kemudian akhirnya dijemput oleh orang yang sangat dia takuti, yaitu France beserta dengan istrinya. Di saat itu Vivi dijemput dan dia disuruh duduk tepat di kursi penumpang yang berada di sebelah kiri France. Sementara istrinya France berada di kursi belakang. Sebelum Vivi sampai di rumah, selama di perjalanan Vivi udah mendapatkan perlakuan yang menyedihkan. Sudah dipukuli, ditampar oleh si FR. Sambil di jalan juga saya udah dipukul langsung ditampar gitu, Pak Fran. Dan bahkan sampai di rumah, Vivi ini langsung diseret dari mobil oleh France dan dibawa ke kantornya Franz. Sampai rumah saya diseret. Diseret? Iya, saya diseret ditarik dari mobil itu dibawa ke kantor. Dan setelah itu France mengambil setrum untuk memberikan hukuman kepada Vivi. Sedih enggak, Geng? Kah bayangkan aja tuh mendapatkan perlakuan kayak gitu. Enggak lama dia ngambil setruman, alat setrum. H dan beberapa bagian tubuh Vivi itu terkena setrum dan termasuk juga ya area vitalnya. Dan di saat itu juga France ya memberikan kata-kata kasar yang benar-benar menyakiti karena Vivi sudah kabur dari rumahnya Fran. Nah, sehabis Vivi ini disetrum, udah lemas gitu ya, Vivi baru mendapatkan lagi tindakan kekerasan lain sampai dia benar-benar lemas dan memohon-mohon ampun kepada France. France di saat itu juga enggak segan-segan menambah siksaan kalau Vivi sampai mengeluarkan suara ketika di siksa. Jadi, benar-benar dipukul enggak boleh ada suara. Dipukul enggak boleh ada suara. Nah, kalau Vivi sampai ngeluarin suara berteriak, France bakal langsung menambahkan lebih sakit lagi apa yang dia perlakukan kepada Vivi dan dia di saat itu menyuruh Vivi untuk benar-benar diam. Nah, sayangnya nih, Geng. Ketika insiden tersebut terjadi menurut Vivi ya, enggak ada siapapun yang ngelihat. Jadi, di saat itu terjadi begitu aja. Dan semua ini ya menurut keterangan dari Vivi. Di saat itu hanya ada Vivi dan juga France yang berada di ruangan penyiksaan tersebut sehingga enggak ada yang mengetahui apa yang terjadi pada Vivi. Nah, tapi geng Vivi menduga istri serta asisten rumah tangganya FR udah pasti tahu apa yang dialami oleh Vivi karena Vivi sempat teriak-teriak dan itu terdengar sampai keluar ruangan kantor France. Berbagai penyiksaan dialami oleh Vivi ketika itu dan ya dia juga mengaku sampai dijambak. Ditarik rambutnya, dipukul bagian perutnya sampai membuat dia ngompol saking sudah enggak bisa menahan lagi sakit tersebut. Terus saya ditarik, diangkat rambut saya di janggut. Saya dipukul perutnya, ditendang sampai saya ngompol. Oke, enggak berhenti sampai di situ aja, Geng. Karena takut Vivi ini mencoba kabur lagi, Fran ini akhirnya memasung Vivi menggunakan rantai yang membuat dia gak bisa bergerak dengan bebas. Jadi, ya benar-benar diperlakukan kayak hewan gitu. Dan selama itu dia tidur bersama dengan asisten rumah tangga di sana. Dan setiap Vivi ingin buang air kecil, dia harus berteriak-teriak agar rantainya bisa dilepas terlebih dahulu. Nah, pada awalnya asisten rumah tangga tersebut enggak mau untuk melepaskan rantai karena takut ya dia enggak mau ngambil resiko. Dia juga bisa kena nih sama si FR. Jadinya setiap ingin bertindak dia menelepon istrinya France terlebih dahulu. Barulah ketika istrinya France memberikan izin, si asisten rumah tangga ini bakal melepaskan rantai yang mengikat kaki tangan Vivi. Kalau Vivi enggak diberikan izin untuk ke toilet, dia bakal buang air di tempat tersebut. Dan setelah 2 minggu dipasung, akhirnya Vivi dibebaskan karena dianggap sudah e nurut, sudah patuh, dan e dijamin enggak bakal kabur lagi. Di saat itulah Vivi mulai menjalani aktivitas seperti biasa dan dia memang berada di bawah traumanya. Dia enggak berani berbuat aneh-aneh. Termasuk dia juga menjalani kembali latihan sirkus. Namun, rasa takut dan tertekan masih enggak bisa hilang sama sekali. Dan jauh di lubuk hatinya dia ini ya pengin banget buat kabur dari tempat tersebut, Geng. Sempat terbesit di pikirannya untuk ya menceritakan apa yang sudah dia alami ini kepada pengunjung sirkus sebenarnya. Nah, jadi dia udah kepikiran nih kabur enggak bisa, mau curhat ke siapa, apa minta tolong aja ya kepada para penonton atau pengunjung sirkus Taman Safari ini, gitu. Tapi lagi-lagi ketakutan ya mengurungkan niat dia tersebut. Dia benar-benar udah enggak berani, mentalnya udah enggak kuat. Nah, Vivi takut kalau enggak ada orang yang percaya dengan ceritanya dia nanti. Yang ada ya dia malah berurusan dengan France lagi. Nah, singkat cerita sampai pada suatu hari Vivi ini ketemu sama salah satu guru silatnya dia yang e bekerja di Taman Safari. Nah, momen itulah Vivi baru berani cerita semuanya kepada si guru silat ini, termasuk dengan segala keluhan mengenai perlakuan yang dia dapatkan di sana yang membuat dia benar-benar merasa ketakutan, enggak betah, dan trauma. Di saat itu, Vivi ini minta tolong kepada guru silatnya itu agar bisa mengeluarkan dia dari sana. Mendengar cerita dari Vivi, guru silatnya pun akhirnya berusaha untuk menolong Vivi. Karena selama ini dia kenal Vivi, dia enggak pernah tahu, dia enggak pernah nyangka bahwa muridnya ini mendapatkan penyiksaan yang begitu kejam di sana. Terus, Geng, mendengar cerita dari Vivi, guru silatnya pun akhirnya nolong dia dan dia berhasil dibawa kabur ke daerah Semarang, Jawa Tengah. Ketika Vivi ini udah kabur, Geng. FR itu kembali mencari dia dan Vivi udah mawanti-wanti kalau dia gak mau kembali lagi ke sana. Karena Vivi ini tahu kalau dia kembali lagi ke sana, dia bakal mendapatkan perlakuan yang mengerikan lagi. Bahkan jauh lebih parah dibandingkan sebelumnya. Nah, karena itulah dia akhirnya dinikahkan oleh guru silatnya. Nah, di sini mungkin kalian bakal berpikir loh kok tiba-tiba dinikahkan? Apa korelasinya nih keselamatan Vivi dengan dinikahkannya dia? Nah, tapi ini menurut opini pribadi gua aja ya, Geng. Ini e enggak bisa kalian ambil sebagai kesimpulan nih. Kemungkinan besar ya si guru silatnya ini berpikir kalau misalkan Vivi ini dinikahkan, itu artinya dia ini sudah menjadi tanggung jawab si suaminya. Secara enggak langsung ya, karena background-nya Vivi ini adalah orang yang tidak berkeluarga, keluarganya enggak jelas dan enggak tahu di mana. Ya, dengan dia menikah otomatis dia sudah dilindungi oleh keluarga si suaminya. Mungkin itu kita lanjutkan lagi, Geng. Di saat itu sempat ada kendala ketika Vivi ini mau nikah karena selama dia hidup, dia ini kan enggak memiliki identitas apapun. Dia cuma tahu kalau dia itu menganut agama Kristen. Dia lahir dan dibesarkan oleh keluarga Kristen yaitu keluarga dari ya si pemilik Ochi tadi. Dan bahkan namanya dia yang ada Sumampau itu itu berasal dari salah satu nama e para founder Ochi tadi. Jadi bukan nama aslinya dia. Dan selebihnya dia enggak pernah tahu, Geng. dia itu siapa, asal-usulnya dari mana? Dan agama dia sejak lahir itu apa. Dan di saat mau dinikahkan itu ya kendalanya adalah dia enggak punya KTP ya kan. Dokumen-dokumen aslinya dia enggak ada. Dan akhirnya Vivi ini memutuskan untuk jadi mualaf terlebih dahulu. Kemudian dia dia punya dokumen-dokumen secara Islam ya, dokumen negara dan statusnya adalah ee seorang muslim. barulah dia dinikahkan menggunakan wali hakim dan langsung dibuatkan KTP dengan mengira-ngira umurnya dia di saat itu. Nah, sebelumnya kan gua udah sempat menyebutkan kalau dia ini sempat kabur ketika umur 16 tahun tuh yang sebelumnya gua ceritakan. Nah, ternyata itu adalah umur terkaan doang, bukan umur asli. Dan di saat itu Vivi pun mengganti namanya yang tadinya Vifi Sumampau. Nama belakang yang sama dengan salah satu pendiri Ochi yaitu Toni. Tony Sumampau. Nah, sekarang dijadikan namanya jadi Vivi Nurhidayah sesuai dengan nama muslim. Terus geng, setelah menikah, Vivi ini nekad untuk melaporkan kejadian yang selama ini dia alami selama menjadi pekerja di sirkus Ochi tersebut. karena dia merasa takut sehingga membutuhkan perlindungan. Di saat itu kalau kalian berpikir ya, Geng, bentuk penyiksaan yang dialami oleh Vivi ini hanya berupa kekerasan fisik. Nah, kalian salah, Geng. Nah, Vivi ini ternyata bersama dengan pekerja sirkus yang lain juga tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Jadi, kayak sengaja dididik menjadi orang bodoh sebodoh-bodohnya biar enggak tahu apa-apa dan biar hanya e bekerja untuk seumur hidup kepada pihak Ochi ini. Dan Vivi enggak pernah diberikan kesempatan untuk bersekolah. selayaknya anak seumurannya dia ketika itu. Vivi juga mengaku kalau dia cuma pernah diajari oleh salah satu karyawan yang bekerja di Ochi juga. Nah, itu juga cuma belajar baca tulis katanya. Dan untuk pelajaran lain seperti pelajaran IPA, IPS itu enggak pernah diajarkan sama sekali. Jadi benar-benar mereka ini dieksploitasi dan diperas tenaganya untuk bekerja sebagai pemain sirkus tanpa diberikan kehidupan yang layak selama mereka bekerja di sana. Nah, itu adalah cerita versi Vivi. Kalian bisa lihat sendiri wajah Vivi ini sudah ibu-ibu dan kalian bisa lihat bagaimana ketika dia bercerita itu sambil menahan air mata ya mengingat gimana traumanya di masa itu, Geng. Oke, cerita pilu selanjutnya, Geng, diungkap oleh eh yang bernama Butet. Nah, sama aja seperti Vivi, Butet ini mengaku selama dia bekerja di sana, dia juga mendapatkan perlakuan yang benar-benar menyakitkan selama dia berlatih dan menjadi pemain sirkus. Bahkan kabarnya kalau dia ini performnya enggak bagus, udah pasti dia bakal disakitin secara fisik. Dan yang menyakiti dia itu adalah France. Lagi-lagi nama yang sama. Ditambah lagi ketika dia ketahuan hamil hasil dari hubungannya dia dengan salah satu karyawan sirkus. Nah, ketika ketahuan itu dia langsung dihabisin lah sama si FR ini menggunakan balok. Kakinya pernah dirantai menggunakan rantai kapal selama 2 bulan ketika dia sedang tidur pada malam hari. Dan kalau butet ini selesai perform, dia bakal langsung dirantai lagi. Sampai untuk buang air aja dia merasa kesulitan dan membuat dia terpaksa buang air menggunakan kresek dan ditampung di dalam ember. Enggak sampai di situ aja, Geng. Ketika akhirnya Butet ini melahirkan di rumah sakit yang berada di Bandung, Butet ini langsung dipisahkan dengan bayinya. Kebayang tuh kejamnya kayak gimana? Dia mengaku kalau yang mengambil bayinya di saat itu adalah istri dari Jenson. Nah, Jensen ini adalah salah satu owner dari Ochi tadi dan anaknya tersebut dibawa ke Jakarta tepatnya ke Pondok Indah tanpa sepengetahuan Butet. Ya, bayangin aja Butet sebagai ibu kandungnya ya diperlakukan kayak gitu. Dan di Pondok Indah sendiri itu adalah rumah pribadi milik Jenson sekaligus baseecamp bagi para pekerja Ochi. Jadi mereka itu ya dari kecil udah di maaf ya dengan bahasa kasar ya udah kayak diternak gitu, Geng. Dari kecil dibesarkan di sana dilatih ya untuk suatu hari dipekerjakan sebagai pemain sirkus. Singkat cerita, Geng, 2 tahun setelah Butet melahirkan, dia ini mengunjungi rumah Jenson di Pondok Indah dan dia di saat itu melihat anak yang dia lahirkan sendiri berada di sana. Butet ini tahu kalau anaknya itu berada di sana karena ada suster yang memanggil salah satu anak dengan panggilan Debi. Dan itu adalah nama panggilan yang diberikan oleh Butet kepada anaknya yang bernama Debora. Dari situlah dia akhirnya tahu kalau anak itu ya adalah anaknya dia yang diambil oleh istri Jenson untuk dipekerjakan. sebagai pemain sirkus juga. Kejam banget enggak tuh? Tapi karena udah diambil sejak bayi, Debi ini enggak tahu dan enggak kenal siapa sosok Butet sebenarnya padahal itu ibu kandungnya dia. Dan sedikit informasi ya, setelah Butet itu melahirkan sebenarnya Butet itu ya tetap bekerja di sirkus itu lagi, Geng. Balik lagi dia bekerja kayak biasa diperbudak lagi. Nah, kemudian diketahui setelah dia bertemu dengan Debi itu, Debi itu ya ketika dilihat oleh Butet sudah dilatih untuk menjadi pemain sirkus sejak usia masih 3 tahun. Kebayang enggak sedihnya gimana? Anaknya juga sama diperlakukan. Nah, terus geng Butet ini bercerita lagi yang menurut gua cerita ini tuh sangat memilukan ya. Jadi pada saat Butet ini masih remaja, ketika umurnya dia masih sekitar 10 atau 11 tahun, dia itu setiap harinya cuma diberikan makan berupa nasi bungkus. Sementara para bosnya pasti mendapatkan makanan yang jauh lebih enak dan mahal yang dimasak oleh pembantunya. Nah, mungkin karena Buten ini gak pernah coba makanan enak yang biasa dicicipi oleh bosnya, dia nekad tuh buat nyuri salah satu lauk yaitu daging empal. Nah, dia ngambilnya juga enggak banyak, Geng. Cuma satu potong doang. Dan Butet di saat itu ketahuan dan dia langsung diberikan hukuman. Kalian tahu, Geng, apa hukumannya? Butet mulutnya dijejali dengan kotoran gajah. badannya dipegangi oleh para pembantunya dan perlakuan menjijikan tersebut dilakukan di depan teman-temannya yang lain. Nah, setelahnya Butet dengan bantuan teman-temannya langsung pergi ke toilet kumur-kumur menggunakan air sabun untuk menghilangkan sisa eek gajah tadi yang menempel di mulutnya. Karena perlakuan yang sangat-sangat menyedihkan itu, Butet mengumpulkan keberanian untuk bisa kabur dari sana. Padahal sama seperti Vivi, Butet ini tidak mengetahui siapa dia. Dia enggak pernah kenal keluarganya. nama aslinya siapa, umurnya berapa. Jadi dia enggak pernah punya siapapun yang dia kenal di luar teman-temannya tadi sesama pemain sirkus. Nah, namun karena udah enggak tahan lagi, Butet memilih untuk kabur dari sana pada tahun 1994. Memang, Geng, di saat itu upaya kabur Butet enggak bisa dikatakan mudah karena pihak dari Ochi ini selalu bisa menemukan keberadaannya dia. Waktu Butet pertama kali kabur ke Malang, dia itu berhasil ditemukan dan dibawa kembali ke Taman Safari. Tapi akhirnya dia ya nurut-nurut aja untuk pulang lagi ke Taman Safari. Karena Butet berpikir kalau pihak dari Ochi ini memiliki niat yang baik. Entah niat baik yang seperti apa, ya enggak tahu nih apakah dia berpikir enggak akan diperlakukan dengan kasar lagi atau gimana. Tapi yang jelas pada saat itu ketika ditemukan Butet ini dibawa lagi ke Taman Safari. Nah, jadinya ya lagi-lagi Butet dipukulin, disakitin dan segala macam. Sampai pada akhirnya dia benar-benar kabur untuk selama-lamanya lah. Dia kabur untuk selama-lamanya dan pada akhirnya dia menjauh dari tempat tersebut. Berat bagi Butet untuk meninggalkan anaknya sendirian di sana. Sampai pada akhirnya Butet pun ya bertemu nih untuk kedua kalinya dengan anaknya yang bernama Debi yang di saat itu udah berusia sekitar 16 sampai 17 tahun. Udah gede nih anaknya. Nah, Debi di saat itu udah ikut tur sirkus ke berbagai daerah. Pertemuan dia ketika itu bisa terjadi karena temannya Butet yang sama-sama berasal dari Ochi itu tinggal di Magetan. Nah, jadi kan Butet ini udah kabur lama nih, udah enggak pernah berhubungan lagi nih sama Ochi ini, sama si Sirkus ini. Udah menghilanglah dia. Ketemulah dia dengan anaknya di saat anaknya itu sekitar 16 tahun tadi. Dia si Butet ini diberitahukan oleh temannya yang masih bekerja di Ochi ini kalau Debi anak kandungnya itu bakal ikut turour di dalam sirkus di Magetan. Butet yang di saat itu memang berada di Malang ya. Dia kabur ke Malang. Dia langsung pergi ke Magetan untuk bertemu dengan anaknya Deby. Ketika But ini bertemu dengan Deby, Deby di saat itu manggil nama dia tante bukan mama. Anak sendiri manggil ibu kandungnya dengan sebutan tante. Kebayang tuh? Walaupun katanya Debi sempat dengar cerita kalau dulu ibunya dia adalah seorang pemain sirkus juga sama seperti dia. Namun karena sedari kecil dia enggak tahu siapa ibunya, jadi dia enggak tahu kalau yang dimaksud itu adalah butet. Dan dia mungkin sudah ya enggak terbiasa memanggil orang dengan sebutan ibu atau mama. Jadinya dia ya manggil Butet ini dengan sebutan tante. Dan Butet di saat itu sempat mengajak Debur nih. Dia bilang dia ngakuin kalau dia adalah ibunya. Dia yang melahirkan. Di saat itu Deby-nya bingung gitu. Butet yang di saat itu meminta Deby percaya kepada dia dan meminta Deby untuk kabur dengan dia. Bilang juga kalau Butet sudah hidup berkeluarga, sudah menikah. Jadi Deby bisa hidup bahagia dengan Butet. Cuman sayangnya di saat itu Debet, Geng. Nah, singkat cerita akhirnya Deb ini kembali lagi ke sirkus dan bekerja di sirkus lagi. Bertahun-tahun kemudian singkat ceritanya setelah si Deb ini berumur 20 tahun barulah tiba-tiba Debi ini kepikiran ingin keluar dari sirkus tersebut. Nah, sebenarnya geng pengakuan dari Butet ini masih panjang ya, termasuk cerita dari anaknya yang bernama Debi tadi ya. Bagaimana akhirnya Debi ini memilih untuk ikut dengan Butet. bagaimana akhirnya Butet juga menuntut keadilan akan hal ini. Nah, tapi kalau gua ceritain semua panjang banget. Jadi di sini kita ee beralih ke kesaksian lainnya nih, Geng. Kesaksian lainnya ini dari yang bernama Ida yang mengalami disabilitas seumur hidupnya ini yang paling sedih. Nah, dia ini bercerita bagaimana dia bisa berakhir seperti ini. Jadi, Geng, ini kejadiannya ketika dia tampil di Lampung dan ketika itu dia mengalami kecelakaan serius yaitu terjatuh dari ketinggian. Nah, tapi Ali-Ali segera mendapatkan pertolongan dia enggak langsung dibawa ke rumah sakit. tapi malah didiamkan selama beberapa hari. Barulah ketika pinggang ida mulai membengkak, dia dibawa ke rumah sakit. Jadi kayak ya dipaksa untuk cari duit, pas kecelakaan dibiarin gitu aja kayak ya udah biarin nanti juga sembuh gitu. Nah, tapi ternyata malah fatal. Dan dilakukan berbagai pemeriksaan terhadap Ida dan di saat itu diketahui kalau dia mengalami patah tulang. Enggak lama dari itu, Ida pun dibawa ke Jakarta untuk melakukan tindakan operasi. Dan di saat itulah Ida akhirnya dipertemukan dengan orang tuanya untuk pertama kali. Karena kejadian tersebut, Ida harus menderita cacat seumur hidupnya sampai membuat dia harus menggunakan kursi roda untuk bisa membantu dia beraktivitas. Dan ya udah dianggap udah enggak berguna lagi didpak ya dipulangkan kepada orang tuanya. Jahat banget. Terus geng di cerita yang lain ini ada sebuah akun Instagram dengan username experformer yang menjadi media bagi para mantan pemain sirkus untuk menyuarakan kasus tersebut dan mencari keadilan. Di dalam postingannya, akun ini membagikan beberapa foto serta cerita dari berbagai pengalaman mengerikan yang dialami oleh mantan pekerja Ochi ini. Karena pemilik dari akun ini enggak diketahui, jadi gua buat aja inisialnya ya, Geng. untuk memudahkan gua bercerita nih, gua pakai aja inisialnya. A ini bukanlah inisial sebenarnya. Jadi, ada pekerja yang berasal dari generasi 70-an. Jadi, tahun 0-an ya pekerja ini bekerja di sana dan sejak usia balik dia dipekerjakan secara paksa. Dia berlatih setiap hari mulai dari jam 7.00 pagi sampai jam 5.00 sore. Kemudian dilanjutkan melakukan show dari jam .00 sampai jam 10.00 malam. Belum lagi kalau ada yang gagal dalam pertunjukan, mereka dipaksa latihan malam itu juga setelah penonton bubar. Jadi, mereka enggak mau ada kesalahan selanjutnya. Jadi benar-benar enggak ada istirahatnya. Si A ini mengaku kalau dia dari generasi 80-an yang mana ketika itu ya Australia punya pemain macan termuda yang masih berusia 10 tahun. Nah, lalu seseorang yang bernama Jensen Manansang. Jensen Manansang ini adalah salah satu pendiri dari Taman Safari Indonesia yang mana dikatakan kalau Ochi memiliki pemain trapez. Nah, trapeze ini tulisannya kayak gini nih. Bacanya trapez apa trapze nih? Koreksi gua kalau salah. Nah, Ochi ini memiliki pemain trapez termuda yaitu si Inisial A ini. Nah, Trapze ini adalah atraksi akrobat di sirkus. Dan waktu itu Aini masih berusia 9 sampai 10 tahun lah. Dia dipaksa latihan sampai kulit telapak tangannya itu mengelupas semua. Dan suatu hari dia gagal menyeberang ketika dia perform. Jadi gagal tuh performnya. Nah, kan disorakin tuh sama penonton. Di malam yang sama dia langsung diomelin habis-habisan oleh France. Setelah dia diomelin, Aini langsung ditabok dari belakang oleh France sampai hidungnya mimisan. Si Aini juga cerita kalau mereka sedang latihan, France itu berada di sana sambil bermain golf dan menyuruh anak-anak untuk mengambil bola golfnya. Dan enggak lama dari situ, salah satu teman dari si inisial A ini juga dih bagian kepalanya menggunakan stick golf. Pernah dihukum enggak dikasih makan juga, cuma disediakan minum. Dan si inisial A ini bercerita kalau dia juga sempat kabur ke daerah Cakung Jakarta, tapi kemudian dia kembali tertangkap. Dari sini kalian bisa lihat ya, Geng, bagaimana kejamnya kelompok ini dan itu adalah berbagai bentuk kekerasan yang dialami oleh mereka. Selain dari itu, Geng, mantan pekerja Ochi juga mengaku kalau mereka sudah direkrut sejak masih kecil melalui modus adopsi dengan janji akan disekolahkan hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi, mereka ini semua berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ditawarkanlah oleh pihak Ochi ini, mau enggak bisa mendapatkan pendidikan yang layak, mau enggak disekolahin atau nanti kalian mendapatkan ya uang dari pekerjaan yang diberikan di saat itu ya siapa yang enggak tergiur gitu. Nah, apalagi ya ditawarkan diadopsi dan disekolahkan sampai besar. Dan adopsi tersebut dilakukan dengan alasan kalau Bos Ochi gak punyauan makanya mereka mau adopsi. Dan enggak tanggung-tanggung para bos ini juga menjanjikan akan ya menyekolahkan mereka adopsi ini sampai ke luar negeri. Nah, lalu ketika keluarganya tergiur, nah ternyata mereka justru dieksploitasi dengan dipekerjakan sebagai pemain sirkus dan selama bekerja di sana justru mendapatkan perlakuan yang menyedihkan sekali. Terus, geng, menurut keterangan dari salah satu mantan pekerja lainnya yang bernama Debora. Nah, ini gua gak tahu nih apakah ini Debora alias si Debi Butet atau Debora yang lain nih ya pokoknya namanya Debora nih. Dia ini mengatakan semakin lama usia yang direkrut oleh Bos Ochi ini semakin muda. Yang awalnya Bos Ochi ini cuma bawa dua. Makin ke sini makin banyak Bambil dengan alasan kalau direkrut dari kecil akan semakin mudah untuk dilatih. Kebayang ya? Udah kayak topeng monyet. Mohon maaf nih, udah kayak topeng monyet ng. Cara ngelatihnya juga sama, disakitin. Tapi ini manusia loh. Debora di saat itu juga bercerita setelah kasus mengenai eksploitasi dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh ECI ini mencuat di tahun 2010, pihak pengelola mulai mengizinkan anak-anak yang jadi pekerja OCHI untuk sekolah. Tapi itu juga hanya sebatas formalitas untuk menutupi borok mereka. Karena mereka ini sekolah cuma seminggu sekali, Geng. Dan sekolahnya juga berlokasi di Cisarua. Coba tuh, Geng. Bayangin udah selama mereka bekerja, mereka ini mendapatkan perlakuan kasar. Udah gitu ya dipekerjakan di sana juga hasilnya dari menipu. Ini kan sama aja jatuhnya kayak menculik ya, apalagi mempekerjakan anak-anak yang ya umurnya enggak cukup dan itu diperbolehkan di negara kita. Dan inilah sisi gelap dari ya maaf nih Taman Safari itu. Kalau benar cerita ini terbukti dan kita ke sana untuk mencari hiburan. Tapi ternyata pekerja di sana enggak bahagia. Kita tertawa, kita bahagia di atas penderitaan orang lain. Siapa yang sangka kalau perusahaan besar seperti Taman Safari ternyata ya punya sisi gelap kayak gini dan itu berhubungan dengan Ochi tadi. Tapi sampai di sini gua enggak mau sepihak juga. Gua di sini bakal ya bercerita tentang e bagaimana tanggapan dari pihak Taman Safari sendiri saat kasus ini mencuat. Sekarang kita masuk ke dalam pembahasannya. Jadi, Geng, walaupun kasus ini sudah pernah disuarakan di tahun 1997, gua yakin enggak banyak di antara kalian yang tahu. Makanya ketika kasus ini kembali diangkat, ya kemarin banget baru ramai lagi dan mencuri perhatian publik. Nah, mulai timbul kecaman dari berbagai pihak untuk Taman Safari atas kasus tersebut. Taman Safari pun akhirnya buka suara terkait kasus ini dan kita udah bisa menebak, Geng. Pastinya pihak Taman Safaria membantah segala pengakuan yang disampaikan oleh para korban. Nah, Taman Safari mengeluarkan pernyataan yang mengatakan kalau pihaknya tidak memiliki keterikatan atau hubungan bisnis maupun keterlibatan hukum dengan mantan pemain sirkus tersebut. Taman Safari menilai kalau permasalahan tersebut bersifat pribadi dan enggak ada kaitannya dengan Taman Safari Indonesia Group secara kelembagaan. Jadi Taman Safari mengklaim kalau apa yang selama ini dialami oleh Butet, Vivi, Ida, Debora, dan yang lain-lain itu adalah permasalahan individu dan enggak ada sangkut paudnya dengan Taman Safari. Dan oleh karena itu, pihak Taman Safari berharap agar nama serta reputasi mereka enggak disangkut paudkan dalam permasalahan yang mereka klaim bukan tanggung jawab dari mereka, terutama tanpa adanya bukti yang jelas. Pernyataan tersebut ditutup dengan himbauan kepada masyarakat untuk bersikap bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di internet dan enggak mudah terpengaruh oleh konten-konten yang memiliki dasar fakta maupun keterikatan yang enggak jelas katanya. Nah, tapi balik lagi ya, Geng. Semua penjelasan ini, semua yang gua ceritakan ini yaitu berdasarkan cerita dari para korban. Jadi kalau seandainya ya para contonent kreator menceritakan kembali kayak gua ini tentang apa yang terjadi ya pembuktiannya nanti kita bisa lihat ya sekarang kan tujuan kita atau tugas kita adalah memberikan kesempatan untuk para korban mendapatkan hak mereka secara hukum. Kalau ternyata nanti pembuktian secara hukum tidak terbukti nih dengan apa yang mereka ucapkan ya dengan apa yang mereka akui ya berarti ya para orang-orang yang mengaku korban ini harus bertanggung jawab nih dengan pengakuannya. Nah, makanya nanti kita tunggu aja nih ya. Karena kan yang satu udah nuduh, yang satu ngebantah. Nih kita lihat nanti pembuktiannya. Kalau gua pribadi, Geng, gua juga ya gimana ya untuk taman Safarinnya tuh kayak agak setengah-setengah sih antara percaya atau enggak percaya. Karena kan ini keterlibatannya dengan lembaga lain nih, yaitu Ochi tadi yaitu lembaga yang menaungi si sirkus itu sendiri ya kan. Nah, nanti kita lihat nanti bagaimana akhir dari semua ini. Terus kemudian, Geng, salah satu pendiri Taman Safari Indonesia dan menjabat sebagai komisaris Taman Safari Indonesia serta pelatih satwa di Ochi yang bernama Tony Sumampau membantah kalau ada kekerasan fisik dan eksploitasi sampai perlakuan yang enggak manusiawi di sana. Menurut beliau, apa yang disampaikan oleh mantan pekerja Ochi ini enggak masuk akal. Karena kalau mereka mengalami kekerasan seperti itu, seharusnya mereka bisa mati, katanya. Hmm, enggak juga ya. Enggak semua orang kok kalau dipukul-pukul tiap hari juga mati. Enggak juga sih. Tapi ya udahlah itu anggapan beliau ya. Nah, jadi oleh karena itu ya Pak Toni ini menilai bahwa hal tersebut adalah fitnah. Bahkan Tony sampai menantang mereka untuk menunjukkan bukti mengenai adanya kekerasan yang dilakukan oleh pihak Taman Safari Indonesia. Nah, keberadaan mereka dan dipekerjakannya mereka sebagai pemain sirkus itu karena mereka dirawat sejak bayi oleh beliau dan beliau mengambil dari tempat prostitusi yang berada di kawasan Kalijodo Jakarta katanya. Jadi bukan diadop dari orang tua-orang tua yang enggak mampu yang sini anaknya kita sekolahin gitu katanya sih enggak gitu. Tapi justru dari tempat prostitusi diambil jadi anak, dipelihara lalu dipekerjakan. Ada yang janggal juga sih menurut gue ya. Kayak grooming juga enggak sih? Kayak lu dipelihara ya gua kasih makan tapi after itu lu kerja buat gue. Iya enggak sih? Tapi ya udahlah itu anggapannya gua enggak paham sih. Nanti biar pembuktian di jalur hukum aja gitu ya. Bahkan Tony ini mengklaim ketika membesarkan mereka ini enggak ditelantarkan tapi justru mendapatkan fasilitas yang layak karena pihak Tony itu menyediakan suster untuk menjaga mereka. Dan Tony juga menyebutkan permasalahan tersebut mencuat di tahun 1997 yang Komnas HAM sempat mengeluarkan pernyataan kalau langkah taman safari Indonesia untuk menampung mereka dari tempat prostitusi sudah tepat," katanya. Dan di dalam hal ini, Tony ini menyayangkan para mantan karyawan yang sekarang justru berbalik menyerang dia. Dan menurut dia, kalau ketika itu mereka enggak diambil dan enggak dikasih makan dari bayi, mungkin hari ini mereka enggak bisa hidup sampai sekarang. Tapi kenapa ketika sudah besar mereka enggak mengucapkan terima kasih? Kurang lebih begitulah kata si bos yang bernama Tony ini. Terus di kesempatan lain, Tony ini menunjukkan bukti video yang memperlihatkan kegiatan Ochi yang diambil sekitar tahun 1981 yang bertepatan dengan perayaan Sekaten di Klaten dan Yogyakarta. Di dalam video tersebut terlihat bahwa ekspresi dari para pekerja anak-anak itu sangat ceria seperti tidak tertekan. Tony juga bilang kalau ada bekas luka seperti luka habis disiksa atau sebagainya ya enggak mungkin anak-anak itu bisa ceria kayak gitu katanya. Dan menurut dia saat itu anak-anak yang memang harus menghabiskan waktu di lingkungan sirkus seperti makan, mandi, istirahat, bahkan belajar. Jadi ya wajar kata dia kalau memang ada tindakan yang tidak beres di sana. Seharusnya Tony yang pada saat itu bertugas untuk melatih hewan juga pasti mengalami hal yang sama. Nah, Tony ini menjelaskan kalau Ochi dan Taman Safari Indonesia merupakan dua badan hukum yang berbeda. Seperti yang gua ceritakan di awal, isu ini pernah mencuat di tahun 1997 dan Tony mengaku kalau ibunya dia sangat menyukai anak-anak dan diasuh oleh beliau sampai usia 6 tahun. Nah, anak-anak itu diambil oleh ibunya, ibunya Tony di kali jodoh karena mereka ditolak oleh orang tuanya. Tony mengklaim ketika anak-anak tersebut diambil, ada saksi yang melihatnya, Geng. Dan setelah itu anak-anak tersebut diarahkan mau ikut sirkus atau enggak. kan masih kecil ya diarahkan gimana tuh masa iya anak-anak bilang iya mau gitu saya mau lompat dari gedung aneh juga penjelasannya tapi ya begitulah yang disampaikan nah dikarenakan kasus ini mencuat kembali Tony ini menduga ada pihak yang mengarahkan mereka untuk memberikan kesaksian palsu dan pihak tersebut berasal dari luar Ochi katanya jadi ada apa ya misi untuk menjatuhkan nama Ochi inih geng lalu geng pasti di antara kalian ada yang bingung kenapa Ochi ini jadi berhubungan dengan Taman Safari Indonesia, kan? Nah, gua jelasin singkat nih, Geng. Jadi, Ochi ini sendiri muncul pertama kali tahun 1966 dan Ochi ini awalnya dikenal dengan nama Oriental Show dengan Hadi Manangsang sebagai pendirinya. Ketika itu dia membentuk tim akrobatik yang bertujuan untuk memberikan hiburan bagi anggota ABRI yang terlibat dalam peristiwa G30 SPKI. Nah, Oriental Show ini sering diundang oleh Auri atau yang sekarang dikenal dengan TNI Angkatan Udara untuk mengadakan pertunjukan keliling di berbagai daerah. Nah, masa keemasannya terjadi pada tahun 1970-an sampai awal tahun 1990-an. Dan ketika itu pertunjukan sirkus masih menjadi hiburan utama dan sangat dinantikan oleh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Dan Ochi pun rutin melakukan tur keliling kota dan desa. Nah, Ochi inilah yang kemudian menjadi awal mula berdirinya Taman Safari Indonesia, Geng. Nah, jadi di tahun 1980 keluarga Manansang itu memutuskan untuk mengembangkan konservasi satwa di lahan bekas perkebunan Kina yang ada di Cisarua. Dan oleh karena itu, taman safari Indonesia adalah bentuk perubahan atau perkembangan dari Ochi yang awalnya adalah pertunjukan sirkus menjadi sebuah taman konservasi satwa. Jadi dari sini kalian sudah paham ya sejarah dari Ochi ini bisa berhubungan dengan Taman Safari. Jadi Ochi duluan lebih ada. Nah, kemudian bagaimana tanggapan dari pihak pemerintah atas kasus ini? Nah, kabarnya setelah melakukan audiensi dengan mantan pekerja OchI, Kementerian HAM berencana untuk memanggil pihak dari Taman Safari mengenai dugaan eksploitasi dan kekerasan yang dialami oleh mereka. Terutama untuk meminta kejelasan kepada tiga orang yang disebut-sebut oleh mantan para pekerja Ochi yaitu Tony, Franz, dan Johnson. Nah, Tony sendiri mengaku dia siap untuk memenuhi panggilan dari Kementerian HAM untuk membahas kasus ini. Dan Tony berencana ingin menunjukkan dokumentasi masa kecil anak-anak pemain sirkus Ochi sebagai bukti kalau pihak Taman Safari memperlakukan mereka dengan baik. Dan untuk kejelasan mengenai kapan pemanggilan tersebut dilangsungkan, Kementerian HAM hanya mengatakan akan melakukan pemanggilan secepatnya. Jadi, kita tunggu aja, Geng, perkembangan dari kasus ini gimana nanti akhirnya. Nah, itu dia, Geng, pembahasan kali ini mengenai dugaan eksploitasi dan pelanggaran HAM yang terjadi pada mantan karyawan sirkus OchI. Kasusnya masih berjalan, jadi kita kawal aja kasus ini bareng-bareng agar para korban mendapatkan keadilan. Gua rencananya sih pengen manggil salah satu ininya ya, saksi atau korban gitu ya. Menurut kalian gimana? Kalian setuju enggak kalau gua undang salah satu korbannya untuk ngobrol-ngobrol sama gua di sini? Kalau kalian setuju, coba tinggalkan komentar di bawah. [Musik]
Resume
Categories