Transcript
eVil_1TIB7o • KRONOLOGI DOKTER RESIDEN PEKOAS PASIEN RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1403_eVil_1TIB7o.txt
Kind: captions Language: id Di saat itulah si korban ini merasakan ada yang aneh dari tubuhnya. Rasa sakit yang dia rasakan itu ada di tempat-tempat yang vital yang seharusnya itu tidak sakit untuk perlakuan atau tindakan ya cross match tadi. Dan yang paling gongnya lagi nih, Geng, ya. yang paling bikin gua kayak gila enggak nyangka gitu, ternyata, Geng, korban dari Priguna ini enggak cuma satu orang aja. Yo, Geng. Tekan tombol subscribe, Gengs. Halo, Geng. Welcome back to Kamar [Musik] Jiri G. Oke, kembali lagi nih kita bakal membahas informasi dan kondisi set gua ya sederhana karena masih dalam suasana mudik. Ditambah lagi kondisi gua lagi kurang fit. Tapi enggak apa-apa kita tetap berbagi informasi. Oke, jadi hari ini gua bakal membahas sebuah kasus yang lagi ramai banget. Gua yakin di antara kalian juga udah pasti mencari-cari tentang pemberitaan ini, tentang kasus ini, yaitu tentang seorang dokter yang melakukan tindakan yang benar-benar tercela terhadap pasien. Eh, lebih tepatnya bukan pasien sih, keluarga pasien. Nah, jadi ada pasiennya yang sedang sakit dan anggota keluarganya ya mengalami tindakan yang tidak senonoh, yang begitu kejam dari si dokter tersebut. Yang lebih gilanya, si dokter ini melakukan tindakannya tersebut dengan cara memius si korbannya. Tapi perlu gua terangkan, dokter yang satu ini merupakan dokter residen yang sedang praktik di rumah sakit ee tempat kejadian perkara. Nah, buat kalian yang mungkin belum tahu apa itu dokter residen. Jadi, dokter residen itu adalah dokter umum yang sedang melaksanakan praktik ee apa ya untuk menjadi dokter spesialis di sebuah rumah sakit. Nah, jadi bisa dikatakan ini merupakan calon dokter hebat lah ya, calon dokter yang sebentar lagi akan menjadi dokter spesialis. Jadi bukan dokter umum lagi. Di dalam kejadian ini yang bikin miris adalah si pelaku memanfaatkan ilmu yang dia punya justru untuk melakukan tindakan kejahatan dan merugikan orang lain. Ya, biasanya kita tahu seorang dokter itu kan nolong ee manusia gitu ya, nolong pasiennya gitu. Nah, tapi ini enggak. justru dia yang mencelakakan orang lain. Dan di dalam kejadian ini cara si dokter ini melakukan tindakan kriminalnya itu benar-benar teratur, terstruktur, dan ya bisa dikatakan dia benar-benar memanfaatkan ilmunya sebagai seorang dokter. Dan usut punya usut. Setelah kasus ini terungkap, akhirnya terungkap lagi. Ternyata korbannya enggak cuma satu orang, tapi melainkan ada beberapa orang lain. Oke, bagaimana cerita selengkapnya tentang kasus yang satu ini? Langsung aja kita bahas di sisi [Musik] lain. Sebelum kita masuk ke dalam kronologi-kronologi yang lain, kita bahas dulu kronologi awal ketika kasus ini mulai terungkap. Jadi, Geng, kasus ini awal mulanya mulai dibicarakan di mana-mana. itu pertama kali ya tersebar luas di sosial media terutama Instagram. Berawal dari sebuah akun dengan username PPDS Gram. Sebuah akun Instagram yang dijadikan sebagai akun untuk memberi informasi mengenai kedokteran dan pendidikan kedokteran. Di salah satu postingannya ada potongan screenshot sebuah chat yang menginformasikan kalau ada dua residen anestesi program pendidikan dokter spesialis atau PPDS itu melakukan aksi ruda paksa kepada penunggu pasien. Jadi penunggu pasien tuh ya keluarga lah. Misalkan ada orang tua kita yang sakit. Nah kita tungguin tuh orang tua kita, kita temenin. Nah itulah yang disebut dengan penunggu pasien. Nah, di saat itu aksi ini dikatakan menggunakan obat bius. Berbeda dengan kasus-kasus lain ya. Mungkin di kasus-kasus lain yang kayak-kayak gini nih biasanya tersebar di X hanya dalam bentuk pengakuan akhirnya enggak bisa diproses. Nah, kasus yang satu ini gila banget. Semua aksinya terekam di CCTV sehingga kejadian ini enggak bisa terbantahkan. Lalu yang pertama kali memberitahukan tentang kasus ini kepada akun Instagram PPDS itu adalah keluarga korban sendiri. Jadi beritanya autentik, enggak mungkin dikarang-karang alias ya ini adalah sebuah kebenaran. Dari sinilah mulai banyak yang menyebarkan kasus ini ke berbagai sosial media lain yang salah satunya itu ada di X melalui sebuah akun base untuk para dokter dan mahasiswa kedokteran dengan username txt dari Jaz Putih. Nah, ini akunnya kalian bisa lihat sendiri dan tweet dari akun tersebut pun jadi viral di mana-mana ketika itu, Geng. Bahkan mendapatkan 2,6.000 komentar dan 22.000 repost dan 104.000 yang menyukai tweet tersebut. Enggak lama dari postingan pertama yang mengungkapkan kasus ini, akun Instagram PPDS Gram membuat postingan lain yang menceritakan mengenai kronologi lengkap dari kasus tersebut. Dan kronologinya itu diambil dari story Instagram milik seorang dokter juga yang merupakan dokter gigi yang bernama Mirza Mangku Anom. Nah, dari beliau inilah pertama kali kasus ini diketahui. Menurut informasi yang ada di postingan tersebut, kalian bisa lihat sendiri ya. Dikatakan ketika itu ada pasien yang merupakan seorang bapak-bapak yang dirawat di ICU. Ini enggak diketahu, Geng, di tanggal berapa karena di dalam postingan tersebut enggak disebutkan tanggalnya. Tapi yang jelas pasien tersebut rencananya akan melakukan tindakan operasi. Nah, cuma beliau ini si pasien membutuhkan darah. Di saat itu mungkin transfusi darah terhadap pasien ini menjadi syarat agar beliau bisa melakukan operasi untuk mengantisipasi ya gagalnya operasi tersebut. Ketika mengetahui kondisi tersebut, si pelaku alias si dokter yang menangani si pasien ini yang kemudian diketahui merupakan seorang dokter residen bernama Priguna Anugerah Pratama itu menawarkan ke penunggu pasien yang merupakan seorang anak perempuan berinisial FH berumur 21 tahun dan dialah yang akan menjadi target atau menjadi korban di dalam kasus ini. Nah, di saat itu si dokter yang bernama Priguna Anugerah Pratama ini meminta eh si anak perempuan untuk melakukan cross match sama dia agar prosesnya jauh lebih cepat. Cross match ini adalah pemeriksaan kecocokan darah dari seorang pendonor dan si penerima ya sebelum ditransfusikan ya. Karena mengingat ini kan anak dari pasien. Tapi belakangan ya e dikatakan kemungkinan besar sebenarnya si priguna ini bukan dokter yang menengani langsung orang tua si korban ini, orang tua si cewek ini. Tapi dia kayak menawarkan diri untuk melakukan cross match tersebut ya iming-imingnya biar cepat gitu. Nah, dia menawarkan hal ini biar dia yang tangani. Padahal, Geng, ini adalah modus yang dia lakukan untuk bisa melancarkan aksi bejatnya dengan meminta korban agar mau melakukan cross match untuk keperluan transfusi darah ayahnya yang akan dioperasi. Jadi, modus doang aslinya itu enggak penting, enggak perlu sebenarnya. Dan bukan si priguna ini yang punya hak atau apa ya ee yang harus menangani hal tersebut. Lalu si korbannya yang merupakan anak dari pasien ya mendengar tawaran tersebut ya dia mau-mau aja semuanya bakal dia lakukan agar ayahnya bisa segera ditangani. Dan sedikit pun dia enggak punya pikiran yang terlintas di kepalanya kalau si dokter yang bernama Priguna ini akan melakukan hal yang benar-benar keji dan bejat ya. Namanya juga dokter kita udah percaya banget gitu. keselamatan kita aja kita percayakan kepada dia. Di saat itu, Geng, dia mengiyakan tawaran dari Priguna dan Priguna kemudian membawa dia membawa si cewek ini ke sebuah gedung yang disebut dengan gedung MCHC lantai 7 yang merupakan gedung baru di RSUP Hasan Sadin atau RSHs Bandung. Tapi geng, karena gedung baru, gedung itu kan belum terpakai seluruhnya gitu. Termasuk dengan lantai 7 yang bisa dikatakan masih kosong, masih belum difungsikan. Di saat itu si cewek ini masih gak curiga dengan hal itu, gitu. Dia ketika sampai di lantai 7 bersama si priguna ini, dia masih polos-polos aja dan bahkan priguna ini meminta si korban untuk masuk ke dalam ruangan bernomor 711 atau 711 untuk mengganti baju dari baju hariannya dia ke baju pasien. Setelah itu si korban ini dipasangkan akses IV atau akses IV yang merupakan singkatan dari intravena yaitu metode pemberian obat melalui pembuluh darah. Ini koreksi gua kalau salah dalam menyampaikan nih, Geng. Tapi yang gua dapatkan informasinya kayak gitu. Jadi se korban yang bukan seorang dokter, dia enggak paham mengenai tindakan medis, dia enggak tahu dan enggak mengerti bagaimana prosedur dari cross match ini. Yang benarnya gimana, makanya dia ya enggak menanyakan lebih lanjut apa yang sedang dilakukan oleh Priguna. Dia mangut-mangut aja, dia iya-iya aja. Nah, di saat itu si dokter yang bernama Priguna ini melanjutkan aksinya dia dengan memasukkan cairan yang bernama Midazolam, yaitu obat penenang yang diberikan untuk pasien yang akan menjalani proses operasi. Jadi, semacam obat bius yang membuat si pasien tidak sadarkan diri. Mida zolab ini itu efeknya ya dari informasi yang gua dapat dikatakan bisa membuat seseorang jadi kalem, menghilangkan rasa cemas dan si pasiennya udah pasti rileks sampai mengantuk. Nah, itulah yang diberikan oleh si priguna ini kepada si perempuan tersebut yang menjadi korbannya. Jadi diperdaya dalam kondisi yang tidak berdaya. Kejadian ini ya dilakukan atau terjadi sekitar tengah malam. Udah mana di gedung itu kosong, enggak ada orang. Jadi benar-benar priguna ini bisa dengan leluasa menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan aksi bejatnya kepada si korban. Yang bikin gua agak merinding ya, ini agak ngeri sih, apalagi buat kalian yang mungkin takut sama jarum suntik. Jadi, si dokter yang bernama Priguna ini mencoba untuk memasukkan jarum suntik ke tangan kanan dan kiri korban sampai 15 kali. Ditusuk-tusuk tuh. Dan sehabis priguna ini menyuntikkan mida zolam ke tubuh korban, enggak lama dari itu korban akhirnya kehilangan kesadaran sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Nah, ini anak udah pingsan, udah dibius dan ya si dokter bejat ini dengan bebas melakukan tindakan asusilanya sesuka hatinya ya kepada si korban. Nah, setelah itu ya kalian sudah tahu ya apa yang terjadi ya. Jadi udah enggak sadarkan diri si priguna ini melakukan ya memuaskan hasratnya lah. Dan si priguna ini sendiri sebagai seorang dokter dia sudah punya perhitungan ini obat biusnya bekerja berapa lama sampai kapan semuanya udah dia perhitungkan. Di saat itu setelah dia puas melakukan aksi bejatnya dia menunggu korban sampai sadar sekitar jam .00 pagi. Dan ketika dia menunggu, dia ini terlihat mar-mandir tanpa sebab di lorong lantai 7 tersebut. Dan singkat cerita, sesuai dengan prediksinya si korban akhirnya mendapatkan kesadaran kembali sekitar jam .00 atau jam 5. pagi. Di saat itu si korban bangun itu merasa kayak aneh gitu loh. Dia bangun enggak tahu apa-apa. Pas dia sadar dia ngerasain tubuhnya itu lemas. Dan hal itu memang merupakan efek dari mida zolam yang disuntikkan oleh priguna ke tubuhnya dia. Dan ketika itu si korban ini yang udah sadar dia enggak mau lama-lama di sana. Dia memutuskan untuk langsung balik ke ruang ICU di mana tempat ayahnya dirawat. Si priguna, si dokter bejat ini ketika dia melihat si korban sudah bangun, sudah sadarkan diri, di saat itu dia meminta korban untuk jangan pergi dulu, tetapi mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum dia meninggalkan tempat tersebut. Selama dia menyusuri lorong di lantai 7, di saat itu korban sebenarnya berusaha menjaga keseimbangannya dia karena dia masih merasa sempoyongan ee efek dari e si obat bius tadi. Di saat itulah si korban ini merasakan ada yang aneh dari tubuhnya. rasa sakit yang dia rasakan itu ada di tempat-tempat yang vital yang seharusnya itu tidak sakit untuk perlakuan atau tindakan ya cross match tadi. Di saat itu dia mulai merasakan sakit yang enggak cuma di tangan bekas suntikan oleh si dokter priguna ini doang, tetapi dia juga merasakan sakit di area intimnya, Geng. Nah, rasa sakit itu dia rasakan ketika dia buang air kecil. dia rasa kok aneh ya ini kok rasanya kayak ada sesuatu gitu. Korban di saat itu langsung berpikir ini enggak mungkin dong proses pengambilan darahnya dia juga di apa ya juga dilakukan atau dipraktikkan di area intimnya itu enggak mungkin banget gitu. Dia udah mulai merasa curiga. Dan di sinilah korban mulai merasa ada yang enggak beres dan mungkin ada sesuatu yang terjadi ketika dia di dalam kondisi yang tidak sadarkan diri. Dia langsung curiga dengan si dokter yang bernama priguna ini. Kecurigaannya itu enggak dia pendam sendiri, Geng. Karena korban akhirnya menceritakan apa yang dia rasakan kepada ibunya dan dia memutuskan untuk melakukan visum ke dokter spesialis obstetri dan genekologi atau yang lebih dikenal dengan dokter kandungan atau dokter objin. Nah, karena di saat itu dia udah curiga nih, ini ada apa nih? Ya, paling enggak nih ya kalau memang ini gak ada yang aneh dengan praktik si dokter priguna ini ya minimal dia tahu kenapa area intimnya itu sakit. Di saat dia sudah mendapatkan hasil pemeriksaan dokter, di situlah dia kaget. Karena dokter yang memeriksa dia menyatakan bahwa dari hasil visum itu ditemukan adanya bekas cairan pria di area intimnya tersebut yang menandakan ini ada aktivitas gitu-gitu. Sementara dia sendiri enggak merasa melakukan hal itu. Enggak merasa ada ya tidur sama siapa enggak ada. Dia cuma fokus menjaga ayahnya. Berbekal hasil visum itulah korban kemudian melaporkan apa yang terjadi kepada dia ini dan menceritakan kronologi kejadian tersebut sebelum dia kehilangan kesadaran. Nah, setelah itu dilakukanlah pengecekan di gedung MCHC lantai 7 sesuai dengan keterangan korban yang mengatakan dia sempat dibawa ke sana oleh seorang dokter yang bernama Priguna untuk cross match. Nah, di saat itu ternyata ditemukan juga nih, Geng, adanya bekas cairan pria yang berceceran di lantai dalam kondisi yang sudah kering. Di saat itulah mereka kaget. Sontak di saat itu karena udah masuk laporan lantai 7 di mana tempat dicurigai si korban ini dibawa oleh seorang dokter yang bernama Priguna langsung dipasang garis polisi. Polis lain enggak boleh ada yang lewat karena menyangkut dengan barang bukti. Setelah terungkapnya kasus ini beserta kronologinya, seorang dokter gigi yang bernama Mirza yang sempat gua sebutkan sebelumnya itu mendapatkan update dari kasus ini. Jadi, si dokter gigi yang bernama Mirza ini mendapatkan informasi dari kakak si korban dengan memberitahukan bahwa si pelaku yaitu dokter priguna itu sudah dilaporkan ke Polda Jawa Barat dan kasusnya sudah masuk gelar perkara. Kagetlah di saat itu karena awalnya belum viral. Dan selain itu, kakak korban juga memberikan informasi kalau ayah korban yang sebelumnya dirawat di ICU dan si korban berniat ingin menolong dan mempercepat operasi ayahnya secara menyedihkan meninggal dunia. Sakit gak tuh? Sakit nih orang nih. Dokter ini sakit banget nih. Enggak waras. Setelah itu, Geng, kalau kita lihat dari keterangan kakak korban ini, berarti insiden ini sudah terjadi sekitar pertengahan sampai akhir bulan Maret. Cuma baru terungkapnya sekarang. Dari informasi terbaru yang didapatkan, peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 18 Maret tahun 2025 dan kasusnya dilaporkan di hari yang sama ketika insiden tersebut terjadi. Nah, lalu kakak korban di saat itu juga mengeluhkan bagaimana kelakuan dari salah satu satpam rumah sakit tempat kejadian perkara yang langsung menanyakan kepada korban pengalaman buruk tersebut. Ini kan enggak punya empati nih ya kan? Tapi ya mau gimana ya melakukan itu satpam gitu. Nah, hal ini dianggap kurang etis dan menunjukkan kurang empatinya si sapam tersebut kepada korban. Sebab kasus seperti ini pastinya menyisakan trauma bagi si korban yang begitu mendalam ya kan berpengaruh dengan mentalnya. Nah, jadi si satatpam rumah sakit itu dianggap ya apa ya? Kayak enggak punya hati gitu kayak akhirnya kasus ini pun viral di mana-mana. Setelah viral, seperti biasa netizen mencoba mengulik atau mencari tahu kebenaran dari kasus ini. Di apa ya? Dicoss check lah sama netizen ini gimana nih kebenarannya. Nah, dari mulai siapa si priguna ini, si dokter yang bejat ini sampai dengan masa lalu-masa lalu dia tuh semua dibongkar oleh netizen dan juga penyakit apa yang dia alami sehingga dia dengan tega melakukan hal ini. Nah, sekarang kita akan masuk ke dalam pembahasan sosok dari priguna Anugerah Pratama dan kelainan yang dia miliki. Oke, Geng. Seperti yang gua singgung sebelumnya, nama dari pelaku adalah Priguna. Ya, namanya sih Priguna, tapi enggak punya pri kemanusiaan dan terlihat tidak berguna gitu ya. Ya, dia ini adalah seorang dokter residen atau dokter umum yang sedang mengambil pendidikan spesialis di rumah sakit ya, sedang praktiklah. Dan diketahui Priguna ini adalah dokter yang menjadi peserta dari PPDS anestesi Universitas Pajajaran atau UNPAT. Dan sebelum dia menjadi seorang dokter residen, priguna sudah menyelesaikan pendidikan S1 kedokteran dan profesi dokter atau koas di Universitas Kristen Maranata. Dia ini lahir pada tanggal 14 Juli tahun 1994 di Pontiana, Kalimantan Barat yang berarti sekarang umurnya sudah menginjak 31 tahun. Lalu, Geng, ketika pada akhirnya netizen mengetahui yang mana nih orangnya priguna ini alias dengan kata lain ya wajahnya terpampang jelaslah. Nah, banyak netizen yang mengomentari bahwa kalau dari tampang sih gak jelek-jelek banget buat netizen, tapi kalau buat gua sih hancur ya, kureng gitu. Nah, dan beruntungnya walaupun netizen menganggap dia ini punya tampang, tapi beauty privilege enggak berlaku untuk kasus dia ini. Jadi enggak kayak apa ya eh kasus-kasus yang lain lah yang orang-orang good looking biasanya tuh enggak akan dikecam walaupun permasalahannya berat gitu. Nah, untuk dia enggak berlaku. Kasus dia ini terus disuarakan. Bahkan ada semacam posternya gitu yang terus-menerus dipost oleh netizen. Kemudian akun Instagram pribadinya dia akhirnya juga terungkap dengan username Priguna A. Tapi untuk saat ini ketika dicari akunnya udah enggak ada lagi, udah diaktif gitu. Cuma masih ada akun trade-nya doang. Nah, username-nya masih sama. Terus, geng, yang paling mengagetkannya adalah ternyata tersebar nih ada sebuah foto kalau rupanya priguna ini sudah menikah. Tapi dia masih baru banget menikahnya, yaitu 3 bulan yang lalu. Dan kalau kalian lihat di fotonya, di mana tempat pernikahannya itu, kalian udah pasti bisa menebak kalau priguna ini bukan orang yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa aja. karena acara pernikahannya itu mewah dan bahkan bisa dikatakan istrinya juga wah cakep, Geng. Cantik. Istrinya ini diketahui berinisial VS. Karena itulah netizen enggak berhenti untuk mencari lebih banyak lagi tentang ya kehidupannya si priguna ini sampai-sampai istrinya yang berinisial VS juga kena imbasnya. Nah, netizen mencari tuh akun dari si VS ini untuk mengetahui bagaimana kehidupan dari si VS dan juga kehidupan dari si suaminya yaitu Priguna melalui akun Instagram tersebut. Namun sayangnya akun Instagram VS juga udah enggak ada sama dengan akun si suaminya. Netizen berspekulasi kemungkinan besar akun mereka itu sengaja ditutup sementara waktu mengingat netizen sedang menyerang mereka. Tapi ada beberapa netizen yang mengatakan mereka tuh sebenarnya ya sempat ngelihatlah si Vsel akunnya hilang. Ada bahkan yang mengaku bahwa ee dia adalah temannya, kakak kelasnya gitu. Dikatakan VS ini wajahnya cantik banget dan orang-orang jadi prihatin terhadap VS yang kemungkinan besar enggak bersalah di dalam kasus ini karena dia enggak tahu apa-apa. Ini kan perbuatan dari si suaminya. Setelah dilaporkan beberapa hari setelahnya yaitu di tanggal 23 Maret, polisi pun melakukan penangkapan terhadap Priguna di tempat tinggalnya yang berada di apartemen. Karena setelah insiden tersebut terjadi, priguna berusaha bersembunyi di apartemen tersebut. Di saat itu, polisi langsung membawa priguna ini dan dia langsung diperiksa oleh pihak kepolisian di saat itu juga. Di dalam pemeriksaan tersebut, pihak kepolisian membeberkan alasan mengapa aksi dari priguna ini enggak diketahui oleh pihak rumah sakit. Nah, yang mana sebenarnya pihak rumah sakit itu sudah menyiapkan para dokter penanggung jawab bagi setiap pasien. Cuma priguna ini membawa korban ke lantai 7 gedung MCHC yang seperti disebutkan di dalam cerita sebelumnya yang mana gedung tersebut merupakan gedung baru dan belum bisa dioperasikan sehingga tidak ada saksi yang melihat kejadian tersebut karena emang sepi banget tapi ada CCTV-nya. Rahin Binata Marsidi mengatakan aktivitas tersangka terekam kamera pengawas. Rekaman CCTV pun sudah diserahkan ke kepolisian sebagai barang bukti. Dan ruangan tempat dia melakukan aksi bejatnya tersebut itu merupakan ruangan yang nantinya rencananya bakal menjadi tempat untuk operasi khusus wanita gitu, Geng. Dan usut punya usut ternyata priguna melakukan tindakan bejatnya itu memakai pengaman alias alat kontrasepsi dan ee sisa dari alat kontrasepsi yang sudah dia pakai itu dia bawa untuk menghilangkan jejak. Terus, Geng menurut keterangan dari pihak kepolisian, ada kejadian yang e cukup dramatis lah ya ketika priguna ini ditangkap di apartemennya. Rupanya di situ dia udah frustasi, Geng. Dia ketika ditangkap oleh polisi berusaha untuk mengakhiri hidup karena udah malu banget, udah enggak tahu harus gimana. Dia mencoba ingin mengakhiri hidupnya dengan menyayat bagian nadi. Nah, sampai pada akhirnya priguna pun harus dirawat di rumah sakit gara-gara percobaan tersebut. Nah, namun selama dia dirawat, polisi menjaga ketat dan setelah dia sudah bisa pulang, barulah langsung diangkut ke kantor polisi. Akhirnya polisi meminta keterangan nih kepada si priguna ini. Saat itu ditanyakan alasan dia melakukan itu kenapa kok bisa kepikiran sebejat itu. Udah gitu kan dia baru nikah ya, lagi hot-hotnya lah sama istrinya. Kenapa harus melakukan hubungan seperti itu dengan orang lain yang ya bisa dikatakan bukan atas dasar suka sama suka, tetapi lebih kepada ya tindakan kriminal kejahatan. Jawaban priguna benar-benar mengagetkan, Geng. Ternyata dia punya kelainan, punya penyimpangan, yang mana priguna mengaku kalau dia punya ketertarikan terhadap perempuan yang tidak sadarkan diri atau pingsan. Ada kecenderungan pelaku mengalami kelainan. Berdasarkan hasil pemeriksaan. Ini bukan kelainan yang aneh dan baru, Geng. Ini ada istilahnya. Istilahnya itu adalah parafilia. Nah, kelainan ini bisa dipicu oleh kerusakan otak yang membuat fungsi nilai pada otak seseorang menjadi terganggu sehingga bisa berakibat kepada perilaku seksualnya dia yang menyimpang. Nah, kerusakan ini bisa disebabkan oleh berbagai sebab nih, berbagai hal. Nah, bisa dikarenakan karena memang ada penyakit tertentu atau mungkin pernah kecelakaan atau sampai efek dari mengkonsumsi zatzat tertentu salah satunya ya narkoboy. Nah, kondisi kayak gini juga bisa dialami oleh seseorang yang mungkin dulunya pernah menjadi korban. Jadi kayak misalkan nih, ada seseorang yang masa kecilnya tuh pernah dilecehkan. Nah, biasanya nanti di masa depan dia akan mengulangi apa yang dia alami dulu. Nah, hal tersebut didasarkan oleh rasa trauma atau bisa juga seseorang yang tumbuh di dalam keluarga yang pola asuhnya salah. Nah, itu juga bisa. Para filia sendiri sebenarnya ada banyak jenisnya, Geng. Salah satunya ya yang dialami oleh si priguna ini yang tertarik atau sakne gitu ya. Ketika melihat orang lagi pingsan, enggak sadarkan diri atau mungkin lagi tidur gitu disikat sama dia. Tapi kayaknya kalau orang tidur beda sih ya. Nyikatin orang tidur pas disikatin ya bangun ya kan. Nah, tapi kalau orang pingsan mau diapain aja ya dia tidak akan sadar. Dan di situlah priguna berfantasi. Jenis parafilia yang dialami oleh priguna ini disebut dengan somnofilia. Dan karena hal inilah banyak orang yang berasumsi kalau priguna ini sengaja memilih untuk menjadi spesialis anestesi agar bisa memenuhi hasratnya tersebut supaya bisa ngebius orang, terus nyikat-nyikatin orang. Dan untuk memastikan hal ini, pihak kepolisian akan melakukan pemeriksaan dari psikologi forensik serta ahli psikologi terhadap ya mental dan kejiwaan si priguna ini. Dan yang paling gongnya lagi nih, Geng, ya, yang paling bikin gua kayak gila enggak nyangka gitu, ternyata, Geng, korban dari priguna ini enggak cuma satu orang aja. Setelah kasus ini mencuat, akhirnya ya terungkap lagi kalau ada korban yang lain. Di saat itu polisi mendapatkan laporan bahwa ternyata bukan cuma Eva aja karena ada dua korban lain yang diduga menjadi korban dari priguna ini. Ini berbeda nih dengan si FH. FH ini kan anak dari pasien yang nungguin bapaknya mau dioperasi. Nah, dua korban yang lain ini merupakan pasien langsung. Jadi, bukan dari keluarga pasien dan bahkan mereka masih dirawat di rumah sakit tersebut. Dan sayangnya mereka berdua belum melakukan pelaporan resmi ke polisi karena masih dirawat. Dan untuk itu polisi berencana untuk meminta keterangan kepada dua korban lainnya ini. Dikarenakan dua korban ini sudah ditemukan, polisi beranggapan kemungkinan besar masih ada korban lain yang belum terungkap atau belum melapor. Lalu, polisi memberikan kesempatan bagi siapa aja yang merasa juga menjadi korban dari priguna. Pasti kalian akan bertanya-tanya ya, Geng. Di awal kan gua udah sempat mention bahwa ada dua orang dokter residen di sini. Tapi kenapa priguna doang yang ditangkap? Memang sampai saat ini baru priguna aja, Geng, yang ditangkap. Tapi polisi udah mengambil sampel cairan pria lain dari visum korban dan cairan pria yang ada di alat kontrasepsi yang dibawa oleh priguna untuk melakukan pemeriksaan DNA yang nantinya kemungkinan besar akan mengungkap atau bisa mengungkap pelaku yang lain selain si priguna. Jadi, kemungkinan besar pelakunya enggak cuma satu. Nah, ini adalah plot twist-nya. Untuk saat ini memang priguna ya yang wajahnya tuh disebar di mana-mana, di-share di mana-mana. Tapi kemungkinan besar sih kabarnya bakal ada pelaku satu lagi. Tapi ini wallahualam juga ya. Ya, siapa tahu ternyata cuman priguna doang ya. Namun isunya sih ada dua. Oke, kita udah bercerita nih tentang kronologi dan sosok dari priguna ini sampai ke korban-korban lain selain FH. Nah, sekarang kita akan membahas mengenai respon dari pihak rumah sakit, kampus, serta Kemenkes mengenai kasus ini. Karena kan ini ya melibatkan sejawatnya beliau-beliau gitu ya. Kita bahas. Jadi geng karena kasus ini terjadi di RSHs Bandung, nah pihak dari rumah sakit yaitu Dirut SDM RSHs yang bernama Vitra Hergana akhirnya memberikan keterangan dan angkat bicara. Nah, beliau ini bilang memang pada tanggal 18 Maret tersebut priguna ini mendapatkan jadwal untuk jaga malam atau piket. Dan karena dia adalah dokter residen di sana, dia memiliki akses untuk masuk ke dalam ruang rawat inap. Sebenarnya, Geng, ada SOP yang berlaku di sana di rumah sakit tersebut, yaitu ada dokter penanggung jawab pasien atau DPJP. Nah, namun fitra ini bilang mungkin aja priguna ini melakukan pelanggaran SOP atau melakukan hal yang di luar dari SOP tersebut. Jujur aja ya, gua enggak tahu nih, Geng, apa kalau dokter residen itu harusnya didampingi atau enggak gitu ya sama dokter yang memang sudah bekerja di sana. Karena kan balik lagi dia di situ kan ya sedang praktik untuk bisa menjadi seorang spesialis. Harusnya sih didampingi ya karena kan jatuhnya ya sama aja kayak lagi belajar gitu. Nah, mungkin di sini buat teman-teman yang merupakan seorang dokter bisa berbagi informasi mengenai bagaimana sih seorang dokter residen ini atau mahasiswa kedokteran ini. Kalian boleh tinggalkan komentar di bawah ya, mengenai informasi-informasi tentang dokter residen. Nah, kemudian geng dari pihak UNPAT almamater dari priguna sendiri ini juga memberikan tanggapan mereka. Pihak UNPAT secara resmi memberhentikan priguna sebagai seorang dokter residen. Wah, sakit banget ya. Enggak capek-capek belajar. ya gara-gara urusan burung dan birahi gitu ya masa depan hancur. Langkah ini memang diambil oleh pihak kampus telah menemukan bukti yang cukup atas kasus yang dilakukan oleh priguna dan pihak UNPAT sendiri sangat mengecam tindakan yang dilakukan oleh prigun ya karena ini dapat mencoreng nama baik daripada tenaga-tenaga medis yang lain. Dan apa yang dilakukan oleh priguna ini dikecam oleh UNPAT baik di lingkungan pelayanan maupun di dalam dunia pendidikan. Nah, dari pertimbangan inilah sanksi tegas diberikan kepada si pelaku dan berlaku seumur hidup untuk si priguna sehingga dia gak bisa lagi praktik di RSH selama-lamanya. Dan kejadian ini bakal menjadi pelajaran bagi UNPAT yang mana mereka akan melakukan evaluasi terhadap kegiatan PPDS. Bahkan, Geng, gak cuma di PPDS aja, tapi di seluruh program studi yang ada di UNPAT agar menghindari kejadian serupa bisa terjadi. Dan hal ini tentunya ya walaupun sedikit gitu ya, ini bisa mencoreng nama baik kampus dan juga yang pasti nama baik para mahasiswa yang saat ini sedang melaksanakan PPDS. Terus enggak cuma itu, Geng. Ikatan Dokter Indonesia atau IDI juga bertindak nih, Geng, dengan rencana akan memecat priguna dari profesinya sebagai dokter. Menurut Ketua IDI Jawa Barat yang bernama Moh Lutfi, apa yang dilakukan oleh priguna bukan cuma tindakan pidana aja nih, Geng. Tetapi dia juga sudah melanggar etika kedokteran yang mana ini sudah jauh lebih berat. Untuk saat ini pihak IDI sedang melakukan pembahasan di Majelis etik Kedokteran untuk menentukan langkah-langkah yang perlu diambil atas kejadian ini. Nah, cuma untuk mengenai keputusannya, pihak IDI masih menunggu hasil penyelidikan dari polisi. Kalau status hukum terhadap priguna itu sudah ditetapkan, ID akan segera memberikan sanksi tegas berupa pemecatan terhadap priguna sebagai anggota IDI. Jadi dia enggak bisa praktik lagi dan alias ya sudah bukan dokter lagi. Nah, selain itu pihak dari Kemenkes juga bertindak tegas dengan meminta Konsil Kedokteran Indonesia atau KKI untuk segera mencabut surat tanda registrasi atau STR milik priguna. Nah, kalau STR ini dicabut maka akan otomatis membatalkan surat izin untuk praktiknya dia. Nah, lalu pihak Kemenkes juga menginstruksikan pihak rumah sakit untuk menghentikan kegiatan residensi PPDS, spesialis anestesiologi dan terapi intensif di RSHs untuk sementara waktu. Ya, paling enggak selama sebulan lah sampai kasus ini mungkin benar-benar clear. Dan untuk saat ini Priguna sudah ditahan. Nah, dia dijera dengan pasal 6C Undang-Undang Nomor 12 tahun 2022 tentang tindak pidana kekerasan seksual dan dia terancam 12 tahun penjara. Ringan banget ya. Baiknya sih jangan 12 tahun kalau bisa seberat-beratnya karena ini predator jatuhnya. Nah, itu dia geng pembahasan kita kali ini tentang kasus yang lagi heboh di negara kita. Gimana menurut kalian dengan kasus ini? Coba tinggalkan komentar di bawah. Ah.