Transcript
pKurK5l4KYM • TERNYATA KORUPSI PERTAMINA SUDAH SEJAK AWAL BERDIRI! TIDAK TERSENTUH HUKUM ! IBNU SUTOWO
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1380_pKurK5l4KYM.txt
Kind: captions
Language: id
Sutowo pernah mengadakan hari ulang
tahun Pertamina di Geneva Swiss itu kan
gila banget ya habis berapa gitu dan
memang sudah acara tahunan gitu Geng
kalau Pertamina selalu menggelar acara
ulang tahun di luar negeri lalu Sutowo
juga memiliki jet pribadi dan mobil
rollroyce silver clot serta
disebut-sebut sebagai orang Indonesia
pertama yang memiliki rollroyce di awal
tahun 1970-an yang menjadi simbol
kemewahan yang gak bisa dimiliki oleh
sembarangan orang geng ya geng tekan
tombol subscribe geng e Yo what's good
Welcome back to kamar
[Musik]
jeri gengjeng Oke pembahasan kita hari
ini adalah mengenai sebuah kasus yang
lagi rame ini berkenaan dengan kasus
yang lagi rame yaitu eh kasus korupsi
Pertamina di saat kondisi perekonomian
kita sedang sulit ternyata masih ada aja
yang menjadi korban atas praktik
kecurangan pihak lain update yang
terbaru nih geng ada dua tersangka baru
yang ditetapkan oleh kejagung yaitu yang
bernama Maya Kusma yang menjabat sebagai
Direktur Pemasaran pusat dan Niaga serta
Edward corny selaku VIP trading produk
Pertamina patraaniaga namun geng hari
ini kita tidak akan membahas problem itu
lagi karena kan kemarin kita udah bahas
ya E tentang permasalahan yang terbaru
tersebut ini kalian bisa nonton di
konten gue yang ini
hari ini kita bakal membahas tentang
ternyata kasus korupsi di Pertamina ini
tidak hanya baru-baru ini aja terjadi
karena ternyata dulu pernah ada kasus
korupsi yang sama yang mirip kayak gini
yang melibatkan direktur umum Pertamina
yang bernama Ibnu Sutowo mungkin ada di
antara kalian yang lahir dan besar di
era reformasi namun belum mengetahui
kasus ini karena memang kasus ini
terjadi pada era orde baru atau ketika
Indonesia dipimpin oleh Presiden
Soeharto di saat itu dan kasus korupsi
yang melibatkan Ibnu Sutowo ini menjadi
salah satu kasus paling fenomenal dan
kontroversial di zaman Orde Baru karena
kabarnya ada beberapa di antara mereka
yang tidak tersentuh sampai saat
sekarang ini ya beda ya dengan kasus
yang baru-baru ini terjadi semua pelaku
yang terlibat itu kena hukuman Nah tapi
di zaman itu di masa orde baru tersebut
korupsi pertamina itu ada yang bebas ada
yang menikmati atau meraup keuntungan
tapi enggak di penjara nah Seperti apa
kasus ini kita bakal merangkum dan
bercerita tentang kasusnya Langsung aja
kita bahas secara lengkap di sisi
[Musik]
lain oke geng Sebelum gua bahas kasus
ini eh sebelumnya gua disclaimer dulu ya
di sini tugas gua hanya sebagai
penyampai cerita atau perangkum cerita
atau kalian bisa langsung klik Link yang
gua cantumkan di deskripsi Nah itu
adalah sumber di mana Gua mengambil
cerita ini Oke Langsung aja kita mulai
mungkin ini bisa dikatakan sebagai
sebuah sejarah tapi sejarah yang kelam
di negara kita Nah untuk kita membahas
tentang kasus tersebut mungkin ada
baiknya kita bahas dulu sosok dari orang
yang memimpin Pertamina di saat itu yang
bernama Ibnu
Sutowo jadi geng Ibnu Sutowo ini adalah
seorang dokter lulusan dari Netherlands
indisa artse scho atau yang disingkat
dengan Nias pada tahun
1940-an sekolah ini adalah sekolah
pendidikan dokter yang berlokasi di
Surabaya dan Sutowo di saat itu juga
merupakan keturunan ke-13 dari Sultan
pajang yang dilahirkan pada 23 September
tahun 1914 di daerah Grobogan Jawa
Tengah karir awal dari Sutowo ini
sebagai dokter berawal ketika dia
terlibat di dalam penyembuhan penyakit
malaria yang terjadi di Palembang pada
saat perang untuk mempertahankan
kemerdekaan Indonesia Nah Sutowo ini
langsung beralih karir ke militer dengan
menjabat sebagai kepala jawatan
kesehatan tentara divisi 8 atau garuda
di Sumatera Selatan nah lalu Sutowo ini
bergabung ke TNI AD pada tanggal 5
Desember tahun 1946 dan di tahun 1955
Sutowo sempat menjabat sebagai panglima
TT 2 Sriwijaya dia juga pernah dipercaya
oleh Kepala Staf Angkatan Darat atau
ksad yang bernama Kolonel Abdul Haris
Nasution untuk untuk memimpin Operasi
sadar untuk menumpas pemberontakan PRRI
yang ada di Sumatera Selatan di masa
itu singkat ceritanya nih geng pada
tanggal 10 Desember tahun 1957 ksad itu
menunjuk Ibnu Sutowo sebagai Direktur
Utama perusahaan tambang minyak nah
namun ada informasi lain yang mengatakan
kalau yang menunjuk Sutowo sebagai
Direktur Utama itu adalah presiden
Soeharto langsung nah jadi dia ini
berada di lingkaran Pak Harto keputusan
ini bertujuan untuk mengaman kan
minyak-minyak terutama kilang minyak
yang ada di Plaju dan juga seerong dari
potensi sabotase Awalnya perusahaan itu
bernama PT eksploitasi tambang minyak
Sumatera Utara kemudian diganti menjadi
perusahaan minyak nasional yang
disingkat dengan permina nah di tahun
1960 permina berubah status menjadi
perusahaan negara atau PN permina
kemudian PN permina bergabung dengan PN
pertamin menjadi PN pertambangan minyak
dan gas bumi negara atau yang disingkat
dengan Pertamina tepat pada tanggal 20
Agustus tahun 1968 Nah itu dia geng
sejarah dari nama Pertamina yang awalnya
berawal dari nama permina pada 20
Agustus tahun 1968 Siapa di antara
kalian yang mungkin baru tahu kalau
pertamina itu adalah singkatan dari
pertambangan minyak dan gas buminegara
coba absen dulu di kolom
komentar nah Sutowo inilah direktur umum
pertama di perusahaan
tersebut sudah menjadi garis hidup Ibnu
Sutowo dokter militer Indonesia yang
juga diangkat menjadi direktur utama
pertama
Pertamina untuk menghadapi
persoalan-persoalan
rumit kalian bayangin geng dari diut
pertamanya aja udah melakukan korupsi
coba Jadi pertama kali Pertamina ini
berdiri direktur utamanya orang yang
pertama kali memimpin semenjak
perusahaan ini ada perusahaan ini
berdiri itu sudahah korupsi jadi kalau
mau heran kenapa ada korupsi sekarang ya
ngapain heran dari awal berdiri Kok udah
korupsi dan Sutowo sendiri sebenarnya
tidak begitu memahami industri minyak
background-nya dokter kan dan mengingat
dia berada di lingkaran Pak Harto ya apa
sih yang enggak mungkin di masa itu dan
hal ini juga tertulis di sebuah buku
yang berjudul Ibnu Sutowo pelopor sistem
bagi hasil di bidang perminyakan di mana
Sutowo mengatakan kalau dia adalah
seorang dokter dan dia ggak tahu apa-apa
tentang
minyak saya ini seorang dokter dan saya
tidak tahu apa-apa tentang minyak ujar
Ibnu Sutowo seperti dituliskan oleh Mara
Karma dalam buku biografi berjudul Ibnu
Sutowo pelopor sistem bagi hasil di
bidang
perminyakan tapi bisa memimpin
perusahaan besar milik negara yang
bergerak di dalam bidang pertambangan
minyak dan gas kacau Lalu kenapa Sutowo
jadi ditunjuk sebagai Direktur Utama
sementara dia ggak paham mengenai
perminyakan dan gas ini ya itu tadi
jangan lupa di masa orde baru ya terjadi
dui Fungsi ABRI di mana militer aktif
bisa menduduki jabatan pemerintahan dan
sipil dan praktik ini diwajarkan di
zaman itu dan ksad memang di sisi lain
sedang menjalankan program dwi fungsi
tersebut dan saat itu juga Sutowo juga
mulai masuk dan menjalankan Duwi Fungsi
ABRI sebagai seorang Perwira militer
aktif dengan tugas mengelola perusahaan
minyak milik negara beruntungnya di saat
itu Sutowo punya kenalan atau teman
militer di Sumatera Selatan yang
mengerti soal perminyakan dan temannya
ini memiliki pangkat yang lebih rendah
daripada Sutowo temannya tersebut
bernama Mayor Johannes Marcus patiasina
usia dari patiasina ini dikatakan lebih
tua 2 tahun dibandingkan Sutowo namun
pangkatnya lebih rendah di dalam hal
perminyakan patiasina lebih
berpengalaman dibandingkan Sutowo dan
Hal ini disebabkan karena sejak zaman
kolonial patiasina bekerja di perusahaan
minyak kolonial yaitu batfsce potreleum
matsepei atau yang disingkat dengan BPM
yang berada di daerah Plaju patiasina
bekerja di bagian staf teknis yang fokus
untuk melakukan perawatan kilang dan
operasi di kilang pelaju dan dia juga
melakukan pengembangan sekolah teknisi
kilang yang ada di sana dan merupakan
satu dari tiga teknisi senior Indonesia
di BPM Shell Sutowo itu mengagumi
kepandaian patiasina dalam
pengetahuannya tentang perminyakan dan
mengajak patiasina untuk membantunya
dalam mengelola permina yang membuat dia
yakin ya bahwa hal tersebut akan berguna
untuk bisa mengembangkan permina di saat
itu ini sebelum namanya berubah menjadi
Pertamina ya Nah semenjak itulah permina
yang berubah nama menjadi Pertamina
berada di bawah kuasanya di bawah
kontrolnya
Sutowo Sekarang kita akan masuk ke dalam
pembahasan selanjutnya nih geng yaitu
pembahasan ketika Pertamina berada di
bawah kendali Sutowo Seperti apa
jalannya perusahaan milik negara
tersebut di saat
itu jadi geng isu negatif mengenai
Pertamina di bawah kepemimpinan Ibnu
Sutowo itu bukan cuma karena menjalankan
Duwi Fungsi ABRI tetapi melainkan Sutowo
ini disebut-sebut menjalankan perusahaan
minyak negara seperti bisnisnya sendiri
di saat itu ya Banyak orang yang menuduh
ya menuduh atau memang mungkin ada bukti
ya di saat itu yang jelas ya memang
semua orang banyak yang tahu kalau
beliau ini menghambur-hamburkan uang
perusahaan kementerian keuangan pada
saat itu dikatakan tidak bisa mengendus
Berapa penghasilan dan pengeluaran Dari
Pertamina enggak ada satupun pihak yang
bisa mengakses laporan keuangannya
Pertamina ini nah namun di saat itu
Mukhtar Lubis yaitu seorang jurnalis
pemimpin redaksi koran Indonesia Raya
sering menyinggung bagaimana
kepemimpinan Sutowo yang tidak beres
dalam mengelola keuangan Pertamina
seperti kelakuan Sutowo yang sering
menghamur-hamurkan uang negara salah
satu contohnya nih Sutowo pernah
mengadakan hari ulang tahun Pertamina di
genewa Swiss itu kan gila banget ya
habis berapa gitu dan memang sudah acara
tahunan gitu Geng kalau Pertamina selalu
menggelar acara ulang tahun di luar
negeri dan moktar Lubis itu membuat
sebuah tajuk di koran Indonesia Raya Pak
pada tanggal 25 November tahun 1969 yang
menuliskan kalau pengeluaran keuangan
dalam jumlah yang sangat besar untuk
dana-dana yang tidak perlu yang mana
Dana tersebut berada di luar pekerjaan
Dari Pertamina itu sendiri seperti
hadiah-hadiah untuk main golf nah Sutowo
ini sangat suka geng main golf makanya
dia suka ngasih-ngasih peralatan Golf
untuk hadiah ke partner-partnernya ya
kita tahu sendiri ya peralatan Golf itu
mahal banget dan itu semua dihadiahkan
oleh Sutowo kepada banyak orang untuk
kepentingannya dia terus geng sepanjang
tahun 1970 10 sampai 1973 Indonesia Raya
sangat gencar memberitakan sepak terjang
Sutowo ketika mengelola Pertamina yang
berkaitan dengan keuangan Pertamina yang
tidak transparan karena isunya Sutowo
dikatakan sering menggunakan uang
tersebut untuk kepentingan pribadi salah
satu kritikan yang paling fenomenal dari
moktar Lubis adalah sebuah tajuk yang
berjudul kebiasaan Pertamina yang aneh
yang dibuat pada tanggal 8 Oktober tahun
1973 di dalam tajuk tersebut Mohtar
mengkritik keras pesta Pertamina yang
berlangsung di Eropa dan dalam kritik ya
dia menulis kalau ingin mengobral
makanan minuman dan segala sesuatu yang
enak kenapa harus buat senang dan enak
orang asing bukannya orang Indonesia
sendiri gitu Kenapa Pertamina sekali
setahun enggak mengundang kaum miskin
dan Gelandangan dan memberikan mereka
makan Kenapa harus partti partai atau
pesta-pesta di Eropa Nah itulah yang
dipertanyakan Oleh karena itu geng dia
serta redaksi Indonesia Raya tidak
setuju sama sekali Kalau
perusahaan-perusahaan negara mengadakan
ulang tahun atau acara-acara besar
karena hal tersebut adalah pemborosan
uang rak rakyat dan uang negara Sutowo
di saat itu pernah mengaku kepada
wartawan dari media time yang bernama
Louis krar kalau dia membagi-bagikan
bantuan sampai 500.000 do Amerika setiap
tahun yang diambil dari uang pemerintah
katanya Sutowo juga dikatakan memiliki
sekitar en atau tuuh perusahaan pribadi
yang dia urus kalau dia sedang senggang
termasuk di antaranya adalah proyek
restoran yang berada di New York nah ini
menurut pengakuan sutaowo jadi dia Kayak
apa ya mengatakan e Enggak mungkin saya
pakai uang e Dari Pertamina saya punya
usaha sendiri yang lebih besar katanya
dia gitu lalu Sutowo juga memiliki jet
pribadi dan mobil rollroyce silver clou
serta disebut-sebut sebagai orang
Indonesia pertama yang memiliki
rollroyce di awal tahun 1970-an yang
menjadi simbol kemewahan yang enggak
bisa dimiliki oleh sembarangan orang
geng ya mungkin kalau untuk saat ini
yang bisa kita lihat ya Hotman Paris
yang pakai gituan ya atau ya ketua MPR
Pak bamsut gitu Nah itu beliau-beliau
memang pencinta otomotif sekaligus emang
ya orang tajir melintir dari awalnya
dulu yang punya rollroyce pertama kali
adalah Sutowo Nah terus juga geng
diketahui Sutowo beberapa kali
menghadiahkan mobil milik Pertamina
kepada beberapa orang tanpa diketahui
Alasannya kenapa jadi enggak ada yang
tahu kenapa orang yang diberikan hadiah
ini berhak untuk mendapatkan hadiah
mobil tersebut jadi kayak benar-benar
enggak transparan gitu geng terus geng
di masa itu menteri pertambangan yang
bernama Muhammad Sadli bukannya ikut
Menindaklanjuti isu yang beredar
mengenai Sutowo ini yang dianggap
berfoya-foya nah Sadli justru membela
Pertamina dan Sutowo Dengan mengatakan
ulang tahun Pertamina di genewa atau di
Eropa adalah untuk mempromosikan
perkembangan ekonomi di Indonesia yang
antara lain adalah promosi batik Nah
jadi ada alibi yang seperti itu terus
kemudian mokhtar Lubis si jurnalis tadi
membalas keterangan menteri Sadli ini
dengan sebuah tajuk berjudul perkuat
pengelolaan minyak Indonesia pada
tanggal 29 Oktober tahun 1973 dia
menilai bahwa pusat perekonomian dan
Bank Swiss itu bukanlah di genewa
melainkan di Zurich sehingga alasan
untuk mempromosikan ekonomi seperti yang
dikatakan oleh si menteri itu enggak
tepat kayak enggak cocok gitu ya ke
Jenewa apalagi kalau bukan party nah
Selain itu moktar Lubis juga mengkritik
kebiasaan foya-foya Pertamina dan Sutowo
secara pribadi yang sangat beda dari
yang lain seperti salah satu contohnya
adalah Membeli tanah rumah buat gedung
menyewa kapal yang mana uang tersebut
berasal dari hasil penjualan minyak
terus pesta mewah yang digelar oleh
Sutowo bukan cuma ulang tahun Pertamina
aja bahkan ketika dia menikahkan anaknya
Sutowo juga menggelar pesta paling mewah
di saat itu humas Pertamina meng aku dan
nikahan anaknya Sutowo ini didapatkan
dari sumbangan keluarga dan koleganya
Sutowo nah namun alasan ini tidak masuk
akal dan tidak membuat si jurnalis yang
bernama mokhtar tadi percaya Nah karena
perbuatan sotowo itulah akhirnya si
jurnalis yang bernama mokhtar itu selalu
mengecam Sutowo dan untuk bisa
membuktikan semua penyelewengan tersebut
Mohtar bahkan sampai siap kalau redaksi
Indonesia Raya diadukan ke pengadilan
bahkan Enggak cuma Indonesia Raya
berbagai media asing juga menyoroti
Sutowo ini geng mulai dari new
internationalist time the Washington
post terus New York course juga ikut
memperhatikan kehidupannya dia Sutowo
sendiri gimana Apakah dia tahu dengan
kritikan itu dikatakan dia sendiri juga
tahu mengenai kritikan yang mengarah
kepada dia menurutnya Apa yang dia
lakukan ini hanyalah meneruskan tradisi
aja di dalam sebuah biografi yang
berjudul Ibnu Sutowo mengemban misi
revolusi sebagai Doktor tentara pejuang
minyak bumi Sutowo mengatakan kalau dia
tidak bisa berbuat hal lain kecuali
mengikuti pola yang berlaku pada dunia
bisnis perbinyakan jadi ibaratnya tuh
dia menganggap apa yang dia lakukan ini
ya memang sudah tradisi di dalam dunia
bisnis perminyakan bahkan di luar di
Arab mungkin atau di Rusia sana bisnis
perminyakan itu seperti ini menurut
beliau dan singkat cerita Motar Lubis
dikatakan pernah didekati oleh
asistennya Sutowo yang ingin menawarkan
konsesi minyak jadi semacam ada proses
untuk menyogok atau suap gitu dan hal
tersebut diartikan oleh Motar sebagai
iming-iming keuangan untuk bisa
menghentikan Mukhtar menginvestigasi
serta kecaman Mukhtar terhadap Sutowo
atau nama lainnya adalah ya menyuap atau
nyogok tadi tapi pada tahun 1974 Mohtar
akhirnya benar-benar berhenti mengritik
Pertamina dan Sutowo di saat itu bukan
karena pada Akhirnya dia berhasil
disogok tapi di saat itu dia dipenjara
setelah Media Indonesia Raya
memberitakan kepanikan kerusuhan Malari
Nah jadi justru dia dipenjara karena
kasus yang lain dan peristiwa tersebut
yang dia beritakan itu mencoreng citra
pemerintahan Indonesia nah dia pun
dipenjara di Rumah Tahanan Militer atau
rtm nirbaya dan Media Indonesia Raya pun
juga di beredel habis-habisan dan
dijegal jadi udah gak ada lagi
ditutup
wasart
andest
andenjakkritik ini atauis dijara
Pertamina justru semakin berkembang dan
berada di puncak kejayaan mereka hal ini
karena di Arab itu sedang perang perang
antara arab dan isriwil yang lebih
dikenal dengan perang yom kipur
negara-negara Barat di saat itu lebih
memilih mengimpor Minyak dari Indonesia
nah kita kan ada tambah minyaknya nih
negara-negara barat ambil minyak dari
kita enggak dari Arab karena lagi perang
dan Arab pada saat itu enggak mau
menjual minyaknya kepada Amerika dan
Eropa karena mereka memihak is rewi nah
situasi inilah yang membuat Pertamina
menjadi untung besar dan kasus korupsi
dari Sutowo jadi tertutup karena
anggapan enggak mungkin ada korupsi
sementara bisnisnya terlihat berkembang
padahal bisnisnya berkembang ya karena
ada perang korupsi mah tetap korupsi aja
jadi bisa dikatakan akibat momentum yang
berbarengan dengan perang Arab tadi
yasutowo bisa lebih leluasa lagi
melakukan tindakan korupsi nah bahkan
setelah kasus korupsinya terungkap
Sutowo tidak pernah diadili hingga akhir
hayatnya padahal korupsi yang dia
lakukan terhadap Pertamina jumlahnya
sangat besar Nah sekarang kita akan
masuk nih geng ke dalam pembahasan
selanjut nya yaitu pembahasan Ibnu
Sutowo the untouchable alias tidak
tersentuh dari Bagaimana pengelolaan
yang dilakukan oleh Sutowo di Pertamina
pasti membuat kalian bertanya-tanya
kenapa Sutowo bisa melakukan korupsi
sebanyak itu tapi gak ada yang mengusut
padahal sudah terang-terangan Nah
jawabannya adalah karena Sutowo ini
sangat dekat dengan penguasa di saat itu
yaitu penguasa orle baru ya Pak Harto
nah ingat geng Sutowo ini kan bisa jadi
direktur UT lama Pertamina karena dui
Fungsi ABRI yang mana hal tersebut
adalah sebuah praktik yang lazim terjadi
di era orde baru dan kedekatan ini
terlihat ketika Sutowo memiliki konflik
dengan Menteri pertambangan Kabinet
Ampera 1 yang bernama Ir Slamet
bratanata konflik ini bisa terjadi
karena adanya perdebatan mengenai
eksplorasi minyak di sepanjang pantai
utara Pulau Jawa Kalimantan Selatan dan
timur beratanata ingin agar
pelaksanaannya melalui sistem Open
tender tapi Sutowo Bersi keras ingin
tender tertutup terhadap perusahaan
minyak asing yang sudah ditentukan oleh
dia nah Ada tiga perusahaan yang
diajukan di saat itu yang mana
perusahaan tersebut adalah perusahaan
minyak asing yang relatif kecil menurut
bratanata tender terbuka dalam
eksplorasi minyak di Indonesia ini
bertujuan untuk mendapatkan kembali
kepercayaan dunia internasional terhadap
pemerintah dan hal ini juga sekaligus
untuk mencegah permainan Kongkalikong
dalam pemberian konsesi eksplorasi dan
eksploitasi minyak beratanata ini merasa
kurang yakin kalau perusahaan yang
dipilih oleh Sutowo bisa meluaskan usaha
pembukaan tambang-tambang minyak baru
baru dan oleh karena itu bratnata bisi
keras agar kontrak eksplorasi ditawarkan
secara terbuka kepada semua peminat yang
dikatakan waktu itu berjumlah 16
maskapai tapi Sutowo tetap enggak mau
dia mati-matian menolak saran dari
Menteri pertambangan alasannya dia tetap
pengin tender tertutup karena dengan
tender tertutup Sutowo bisa mengajak
kolega dari Pak Harto untuk bisa bermain
di eksplorasi minyak yang ada di sana
dan ketika itu Pak Harto yang merupakan
pejabat presiden yang merangkap sebagai
ketua presidium kabinet amper serta
kolega dari Sutowo sesama perwira TNI AD
hubungannya inilah yang sepertinya
mempermudah langkah Sutowo soal urusan
tender Pertamina dan ketika
dikeluarkannya surat keputusan presidium
Kabinet Ampera pada tanggal 31 Januari
tahun 1967 menetapkan kedudukan Dirjen
migas di bawah ketua presidium kabinet
yang mana itu artinya Ibnu sudah tidak
lagi berada di bawah menteri
pertambangan yaitu Brat natata melainkan
dia berada di bawah Presiden Soeharto
langsung makanya atas apa yang selama
ini dilakukan oleh Sutowo Pak Harto
selalu diam aja tanpa mengambil tindakan
apapun ada yang mengatakan selain karena
hubungan kedekatan mereka Pak Harto
memilih untuk diam karena Sutowo adalah
satu-satunya orang yang tidak takut
dengan Pak Harto yang kalian tahu
sendiri geng gimana Presiden Soeharto di
masa
itu menurut David jenkins penulis buku
Soeharto and his generals Indonesia
military Politics 1965 sampai 1973
menyebutkan kalau Sutowo adalah salah
satu Jenderal kelompok inti Pak Harto
Jadi mereka memiliki hubungan dekat dan
menempati posisi kunci di bidang Hankam
dan perekonomian Pak Harto punya
ketergantungan yang sangat besar dalam
hal keuangan di luar anggaran pada
Sutowo dan dari dugaan praktik korupsi
yang dilakukan oleh Sutowo Kejaksaan
Agung diminta untuk menyelidiki
Pertamina dan Sutowo mengenai pemborosan
dan kebocoran uang negara sebelum moktar
ditangkap ternyata dia pernah menemui
Jaksa Agung Ali Said dengan membawa
data-data korupsi Pertamina yang
berjumlah dua koper penuh kurang banyak
apa tuh tapi laporan tersebut tidak
pernah ditanggapi dan tidak pernah
ditindaklanjuti oleh Kejaksaan Agung
Sutowo di saat itu masih menjabat
sebagai Direktur Utama dan hal ini
seperti menjadi jalan buntu untuk bisa
mengusut kasus Sutowo ini atau mengadili
dia atas dugaan korupsi yang dia lakukan
Sutowo melakukan balas budi melalui
pembiayaan di luar pekerjaan di
Pertamina kepada koleganya di kalangan
militer pejabat pemerintah serta
pengusaha dengan proyek-proyek negara
seperti Rumah Sakit Pertamina dan
binagraha atau kantor Presiden Soeharto
dan sementara menurut salah satu teman
dekat Sutowo yang merupakan mantan
Gubernur lem hanas yang bernama saidiman
Suryo Hadi Projo dia mengatakan kalau
pengeluaran pertamina itu sangat besar
seakan-akan uang itu Enggak penting nah
Jadinya enggak heran kalau Pertamina
menjadi sumber dari ketidakberesan dan
malversasi atau penyalahgunaan dana
hanya saja di saat itu Sutowo memiliki
pengaruh yang besar sekali sehingga
enggak ada satupun pihak yang berani
menangani e ketidak beresan ini enggak
ada yang berani nindakin
dia tidak ada satuun orang yang berani
mengusik Sutowo termasuk presiden
sekalipun membuat Sutowo masih leluasa
untuk mempergunakan uang dari Pertamina
Sutowo di saat itu melebarkan bisnis
Pertamina ke bidang lain selain
perminyakan seperti bidang penerbangan
perkantoran perhotelan dan pariwisata
nah dia juga terkadang menggunakan uang
Pertamina untuk proyek-proyeknya seperti
pengembangan gas alam di Kalimantan
Timur dan Sumatera Selatan serta pabrik
baja yang ada di Jawa Barat nah
jor-joran bangetlah geng Sutowo pada
saat itu dia mengeluarkan uang yang
sangat banyaklah pokoknya nah tapi
Sutowo ini melakukan kesalahan besar
pada tahun 1973 yang mana pada saat itu
negara-negara OPEC itu sedang unjuk gigi
terhadap industri minyak mereka
diperkirakan kalau harga minyak akan
meningkat dari 4 USD menjadi 11 USD per
barelnya nah ketika mendengar kabar
tersebut Sutowo langsung bersemangat dan
terburu-buru dalam mengambil keputusan
untuk membiayai Salah satu program
diversifikasi Pertamina yaitu penyewaan
kapal tanker dia melakukan pinjaman
besar-besaran dalam jangka pendek tanpa
perhitungan yang matang nah akibatnya
Pertamina harus menghadapi hutang yang
sangat besar yaitu sebesar 2 miliar USD
pada saat pendapatan dari minyak tidak
mencapai harapan yang diinginkan untuk
bisa menangani hal tersebut Sutowo
mencari pinjaman jangka panjang ke Timur
Tengah untuk bisa menutup hutangnya yang
jangka pendek dia awalnya mengira sudah
berhasil menyelamatkan Pertamina tapi
kesepakatan tersebut malah gagal para
kreditur Amerika mulai menekan Pertamina
dan semakin diperparah oleh bank-bank
yang ada di London dengan menuntut
Pertamina dan oleh karena itu hutang
Pertamina jadi menggunung hingga
mencapai 10, miliar dolar Amerika atau
yang setara dengan
rp11,6 triliun Soeharto mengatakan kalau
Pertamina pasti bangkrut kalau
pemerintah tidak segera melakukan
tindakan dan Bank Indonesia pun
mengambil alih tanggung jawab untuk
menalangi hutang tersebut dan Soeharto
membentuk sebuah komisi khusus untuk
memberantas korupsi komisi tersebut
dinamai sebagai komisi empat yang
terdiri dari wilopo Esha seorang mantan
Perdana Menteri sebagai ketua dengan
anggotanya yaitu IJ Kimo selaku sehat
partai Katolik nah terus ada Prof Ir
Yohannes selaku mantan rektor UGM dan
juga Anwar Cokro aminoto selaku ketua
partai islam psii Presiden Soeharto juga
mengangkat mantan Wakil Presiden yaitu
Muhammad Hatta sebagai penasihat komisi
yang bertugas memberikan pertimbangan
dan saran kepada Presiden serta komisi
empat Pak Harto di saat itu
memerintahkan Pertamina menjual sebagian
aset mereka yang dirasa berlebihan nah
sotowo pun di saat itu langsung dipecat
dari jabatannya sebagai Direktur Utama
Pertamina pada tanggal 5 Maret tahun
1976 karena menurut Pak Harto kesalahan
Sutowo tidak dapat dimaafkan dan
posisinya itu digantikan oleh Pit
Hariono yang sebelumnya menjabat sebagai
Direktur keuangan Pertamina Sutowo di
saat itu langsung menyatakan
kekecewaannya dia atas pemecatan
tersebut menurut dia sebuah kelompok
yang dipimpin oleh Wijoyo Niti Sastro
memiliki peran untuk menjegal
kebijakannya mengelola Pertamina nah dia
menyalahkan pihak lain nih Nah kelompok
yang dimaksud oleh dia ini disebut-sebut
sebagai mafia berkelli yang menempati
sejumlah kursi menteri di bidang ekonomi
antara lain diisi oleh Wijoyo Nisi
Sastro tadi selaku Menko ekuin atau
kepala babenas terus ada Ali Wardana
selaku Menteri Keuangan dan Muhammad
Sadli selaku menteri pertambangan
kelompok tersebutlah yang dituduh oleh
Sutowo dan menurut sutao kelompok
tersebut memiliki hubungan dengan
lembaga dana internasional seperti World
Bank IMF dan juga Igi dan di belakang
mereka itu semua ada perusahaan minyak
raksasa yang ingin menguasai tambang
minyak di Indonesia dan pada saat itu
Sutowo memimpin Pertamina dia mengaku
perusahaan-perusahaan raksasa tersebut
tunduk dengan sistem kontrak bagi hasil
dalam eksplorasi minyak di Indonesia nah
jadi Sutowo justru menyalahkan
orang-orang yang dia sebut tadi sebagai
mafia berkelli atas pemacatannya dia
padahal semuanya itu udah jelas
kesalahannya dia
sendiri pembentukan komisi 4emp itu kan
bertujuan untuk bisa merekomendasikan
upaya hukum untuk mengadili Sutowo tapi
pada realitanya rekomendasi dari Komisi
4 tidak pernah ditanggapi dengan serius
oleh Pak Harto enggak ada upaya hukum
untuk bisa membawa Sutowo ke pengadilan
jadi dia cuma dipecat aja enggak pernah
dihukum dan menurut IJ Kasimo Sutowo
tidak pernah dinyatakan merugikan
keuangan negara atau melanggar hukum
pidana kasusnya ini hanya dinyatakan
sebagai salah manajemen atau salah urus
doang geng redaktur pelaksana Indonesia
Raya yang bernama Atma Kusumah itu
mengaku tidak ada pendagakan hukum yang
berani mempermasalahkan tentang kasus
Sutowo nah adman menduga kalau aliran
uang dari Sutowo juga diberikan kepada
penegak hukum sehingga para Penegak
hukum tidak ada yang bisa memenjarakan
dia nah Pak Harto pun juga tidak bisa
berbuat apa-apa karena Sutowo memegang
kartu As milik Pak Harto sehingga posisi
mereka saling mengunci satu sama lain
kabarnya kayak gitu dan Sutowo pun tidak
pernah diadili dan tidak tersentuh oleh
hukum meskipun sudah beberapa kali
berganti kepemimpinan dan oleh karena
itu Sutowo disebut sebagai the
untouchable yang artinya tidak pernah
tersentuh nah sebenarnya geng masih ada
kasus lain dari Ibnu Sutowo ini geng
yaitu mengenai kasus sengketa hotel
Sultan terus bisnis Sutowo di usaha air
minum yang sekarang terkenal banget di
Indonesia yaitu merek Aqua sampai ke
kasus penghilangan nyawa yang dilakukan
oleh anaknya yang bernama Adiguna Sutowo
nah Kalian cari tahu sendiri geng
tentang kasus tersebut dan EE ini
orangnya siapa mungkin di video lain gua
akan ceritakan kasus-kasus dari Sutowo
ini geng karena kalau gua taruh semua di
sini kasusnya videonya bakal panjang
banget nah dari pembahasan gua ini ya
kita jadi seperti menilai kalau ternyata
Pertamina memang sudah jadi ladang
korupsi dari dulu dari direktur utama
yang pertamanya udah korupsi apalagi
sekarang ya kan Bagaimana bisa menjamin
seterusnya enggak akan ada korupsi gitu
Nah apalagi sutowonya sendiri sebagai
pelaku pertama kali tidak pernah diadili
karena pengaruhnya yang begitu besar di
antara pejabat dan personel militer di
zaman Orde Baru ya cuma gimana tuh geng
Menurut kalian tentang kasus ini coba
tinggalkan komentar di bawah