Transcript
pKurK5l4KYM • TERNYATA KORUPSI PERTAMINA SUDAH SEJAK AWAL BERDIRI! TIDAK TERSENTUH HUKUM ! IBNU SUTOWO
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/KamarJERI_Official/.shards/text-0001.zst#text/1380_pKurK5l4KYM.txt
Kind: captions Language: id Sutowo pernah mengadakan hari ulang tahun Pertamina di Geneva Swiss itu kan gila banget ya habis berapa gitu dan memang sudah acara tahunan gitu Geng kalau Pertamina selalu menggelar acara ulang tahun di luar negeri lalu Sutowo juga memiliki jet pribadi dan mobil rollroyce silver clot serta disebut-sebut sebagai orang Indonesia pertama yang memiliki rollroyce di awal tahun 1970-an yang menjadi simbol kemewahan yang gak bisa dimiliki oleh sembarangan orang geng ya geng tekan tombol subscribe geng e Yo what's good Welcome back to kamar [Musik] jeri gengjeng Oke pembahasan kita hari ini adalah mengenai sebuah kasus yang lagi rame ini berkenaan dengan kasus yang lagi rame yaitu eh kasus korupsi Pertamina di saat kondisi perekonomian kita sedang sulit ternyata masih ada aja yang menjadi korban atas praktik kecurangan pihak lain update yang terbaru nih geng ada dua tersangka baru yang ditetapkan oleh kejagung yaitu yang bernama Maya Kusma yang menjabat sebagai Direktur Pemasaran pusat dan Niaga serta Edward corny selaku VIP trading produk Pertamina patraaniaga namun geng hari ini kita tidak akan membahas problem itu lagi karena kan kemarin kita udah bahas ya E tentang permasalahan yang terbaru tersebut ini kalian bisa nonton di konten gue yang ini hari ini kita bakal membahas tentang ternyata kasus korupsi di Pertamina ini tidak hanya baru-baru ini aja terjadi karena ternyata dulu pernah ada kasus korupsi yang sama yang mirip kayak gini yang melibatkan direktur umum Pertamina yang bernama Ibnu Sutowo mungkin ada di antara kalian yang lahir dan besar di era reformasi namun belum mengetahui kasus ini karena memang kasus ini terjadi pada era orde baru atau ketika Indonesia dipimpin oleh Presiden Soeharto di saat itu dan kasus korupsi yang melibatkan Ibnu Sutowo ini menjadi salah satu kasus paling fenomenal dan kontroversial di zaman Orde Baru karena kabarnya ada beberapa di antara mereka yang tidak tersentuh sampai saat sekarang ini ya beda ya dengan kasus yang baru-baru ini terjadi semua pelaku yang terlibat itu kena hukuman Nah tapi di zaman itu di masa orde baru tersebut korupsi pertamina itu ada yang bebas ada yang menikmati atau meraup keuntungan tapi enggak di penjara nah Seperti apa kasus ini kita bakal merangkum dan bercerita tentang kasusnya Langsung aja kita bahas secara lengkap di sisi [Musik] lain oke geng Sebelum gua bahas kasus ini eh sebelumnya gua disclaimer dulu ya di sini tugas gua hanya sebagai penyampai cerita atau perangkum cerita atau kalian bisa langsung klik Link yang gua cantumkan di deskripsi Nah itu adalah sumber di mana Gua mengambil cerita ini Oke Langsung aja kita mulai mungkin ini bisa dikatakan sebagai sebuah sejarah tapi sejarah yang kelam di negara kita Nah untuk kita membahas tentang kasus tersebut mungkin ada baiknya kita bahas dulu sosok dari orang yang memimpin Pertamina di saat itu yang bernama Ibnu Sutowo jadi geng Ibnu Sutowo ini adalah seorang dokter lulusan dari Netherlands indisa artse scho atau yang disingkat dengan Nias pada tahun 1940-an sekolah ini adalah sekolah pendidikan dokter yang berlokasi di Surabaya dan Sutowo di saat itu juga merupakan keturunan ke-13 dari Sultan pajang yang dilahirkan pada 23 September tahun 1914 di daerah Grobogan Jawa Tengah karir awal dari Sutowo ini sebagai dokter berawal ketika dia terlibat di dalam penyembuhan penyakit malaria yang terjadi di Palembang pada saat perang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia Nah Sutowo ini langsung beralih karir ke militer dengan menjabat sebagai kepala jawatan kesehatan tentara divisi 8 atau garuda di Sumatera Selatan nah lalu Sutowo ini bergabung ke TNI AD pada tanggal 5 Desember tahun 1946 dan di tahun 1955 Sutowo sempat menjabat sebagai panglima TT 2 Sriwijaya dia juga pernah dipercaya oleh Kepala Staf Angkatan Darat atau ksad yang bernama Kolonel Abdul Haris Nasution untuk untuk memimpin Operasi sadar untuk menumpas pemberontakan PRRI yang ada di Sumatera Selatan di masa itu singkat ceritanya nih geng pada tanggal 10 Desember tahun 1957 ksad itu menunjuk Ibnu Sutowo sebagai Direktur Utama perusahaan tambang minyak nah namun ada informasi lain yang mengatakan kalau yang menunjuk Sutowo sebagai Direktur Utama itu adalah presiden Soeharto langsung nah jadi dia ini berada di lingkaran Pak Harto keputusan ini bertujuan untuk mengaman kan minyak-minyak terutama kilang minyak yang ada di Plaju dan juga seerong dari potensi sabotase Awalnya perusahaan itu bernama PT eksploitasi tambang minyak Sumatera Utara kemudian diganti menjadi perusahaan minyak nasional yang disingkat dengan permina nah di tahun 1960 permina berubah status menjadi perusahaan negara atau PN permina kemudian PN permina bergabung dengan PN pertamin menjadi PN pertambangan minyak dan gas bumi negara atau yang disingkat dengan Pertamina tepat pada tanggal 20 Agustus tahun 1968 Nah itu dia geng sejarah dari nama Pertamina yang awalnya berawal dari nama permina pada 20 Agustus tahun 1968 Siapa di antara kalian yang mungkin baru tahu kalau pertamina itu adalah singkatan dari pertambangan minyak dan gas buminegara coba absen dulu di kolom komentar nah Sutowo inilah direktur umum pertama di perusahaan tersebut sudah menjadi garis hidup Ibnu Sutowo dokter militer Indonesia yang juga diangkat menjadi direktur utama pertama Pertamina untuk menghadapi persoalan-persoalan rumit kalian bayangin geng dari diut pertamanya aja udah melakukan korupsi coba Jadi pertama kali Pertamina ini berdiri direktur utamanya orang yang pertama kali memimpin semenjak perusahaan ini ada perusahaan ini berdiri itu sudahah korupsi jadi kalau mau heran kenapa ada korupsi sekarang ya ngapain heran dari awal berdiri Kok udah korupsi dan Sutowo sendiri sebenarnya tidak begitu memahami industri minyak background-nya dokter kan dan mengingat dia berada di lingkaran Pak Harto ya apa sih yang enggak mungkin di masa itu dan hal ini juga tertulis di sebuah buku yang berjudul Ibnu Sutowo pelopor sistem bagi hasil di bidang perminyakan di mana Sutowo mengatakan kalau dia adalah seorang dokter dan dia ggak tahu apa-apa tentang minyak saya ini seorang dokter dan saya tidak tahu apa-apa tentang minyak ujar Ibnu Sutowo seperti dituliskan oleh Mara Karma dalam buku biografi berjudul Ibnu Sutowo pelopor sistem bagi hasil di bidang perminyakan tapi bisa memimpin perusahaan besar milik negara yang bergerak di dalam bidang pertambangan minyak dan gas kacau Lalu kenapa Sutowo jadi ditunjuk sebagai Direktur Utama sementara dia ggak paham mengenai perminyakan dan gas ini ya itu tadi jangan lupa di masa orde baru ya terjadi dui Fungsi ABRI di mana militer aktif bisa menduduki jabatan pemerintahan dan sipil dan praktik ini diwajarkan di zaman itu dan ksad memang di sisi lain sedang menjalankan program dwi fungsi tersebut dan saat itu juga Sutowo juga mulai masuk dan menjalankan Duwi Fungsi ABRI sebagai seorang Perwira militer aktif dengan tugas mengelola perusahaan minyak milik negara beruntungnya di saat itu Sutowo punya kenalan atau teman militer di Sumatera Selatan yang mengerti soal perminyakan dan temannya ini memiliki pangkat yang lebih rendah daripada Sutowo temannya tersebut bernama Mayor Johannes Marcus patiasina usia dari patiasina ini dikatakan lebih tua 2 tahun dibandingkan Sutowo namun pangkatnya lebih rendah di dalam hal perminyakan patiasina lebih berpengalaman dibandingkan Sutowo dan Hal ini disebabkan karena sejak zaman kolonial patiasina bekerja di perusahaan minyak kolonial yaitu batfsce potreleum matsepei atau yang disingkat dengan BPM yang berada di daerah Plaju patiasina bekerja di bagian staf teknis yang fokus untuk melakukan perawatan kilang dan operasi di kilang pelaju dan dia juga melakukan pengembangan sekolah teknisi kilang yang ada di sana dan merupakan satu dari tiga teknisi senior Indonesia di BPM Shell Sutowo itu mengagumi kepandaian patiasina dalam pengetahuannya tentang perminyakan dan mengajak patiasina untuk membantunya dalam mengelola permina yang membuat dia yakin ya bahwa hal tersebut akan berguna untuk bisa mengembangkan permina di saat itu ini sebelum namanya berubah menjadi Pertamina ya Nah semenjak itulah permina yang berubah nama menjadi Pertamina berada di bawah kuasanya di bawah kontrolnya Sutowo Sekarang kita akan masuk ke dalam pembahasan selanjutnya nih geng yaitu pembahasan ketika Pertamina berada di bawah kendali Sutowo Seperti apa jalannya perusahaan milik negara tersebut di saat itu jadi geng isu negatif mengenai Pertamina di bawah kepemimpinan Ibnu Sutowo itu bukan cuma karena menjalankan Duwi Fungsi ABRI tetapi melainkan Sutowo ini disebut-sebut menjalankan perusahaan minyak negara seperti bisnisnya sendiri di saat itu ya Banyak orang yang menuduh ya menuduh atau memang mungkin ada bukti ya di saat itu yang jelas ya memang semua orang banyak yang tahu kalau beliau ini menghambur-hamburkan uang perusahaan kementerian keuangan pada saat itu dikatakan tidak bisa mengendus Berapa penghasilan dan pengeluaran Dari Pertamina enggak ada satupun pihak yang bisa mengakses laporan keuangannya Pertamina ini nah namun di saat itu Mukhtar Lubis yaitu seorang jurnalis pemimpin redaksi koran Indonesia Raya sering menyinggung bagaimana kepemimpinan Sutowo yang tidak beres dalam mengelola keuangan Pertamina seperti kelakuan Sutowo yang sering menghamur-hamurkan uang negara salah satu contohnya nih Sutowo pernah mengadakan hari ulang tahun Pertamina di genewa Swiss itu kan gila banget ya habis berapa gitu dan memang sudah acara tahunan gitu Geng kalau Pertamina selalu menggelar acara ulang tahun di luar negeri dan moktar Lubis itu membuat sebuah tajuk di koran Indonesia Raya Pak pada tanggal 25 November tahun 1969 yang menuliskan kalau pengeluaran keuangan dalam jumlah yang sangat besar untuk dana-dana yang tidak perlu yang mana Dana tersebut berada di luar pekerjaan Dari Pertamina itu sendiri seperti hadiah-hadiah untuk main golf nah Sutowo ini sangat suka geng main golf makanya dia suka ngasih-ngasih peralatan Golf untuk hadiah ke partner-partnernya ya kita tahu sendiri ya peralatan Golf itu mahal banget dan itu semua dihadiahkan oleh Sutowo kepada banyak orang untuk kepentingannya dia terus geng sepanjang tahun 1970 10 sampai 1973 Indonesia Raya sangat gencar memberitakan sepak terjang Sutowo ketika mengelola Pertamina yang berkaitan dengan keuangan Pertamina yang tidak transparan karena isunya Sutowo dikatakan sering menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi salah satu kritikan yang paling fenomenal dari moktar Lubis adalah sebuah tajuk yang berjudul kebiasaan Pertamina yang aneh yang dibuat pada tanggal 8 Oktober tahun 1973 di dalam tajuk tersebut Mohtar mengkritik keras pesta Pertamina yang berlangsung di Eropa dan dalam kritik ya dia menulis kalau ingin mengobral makanan minuman dan segala sesuatu yang enak kenapa harus buat senang dan enak orang asing bukannya orang Indonesia sendiri gitu Kenapa Pertamina sekali setahun enggak mengundang kaum miskin dan Gelandangan dan memberikan mereka makan Kenapa harus partti partai atau pesta-pesta di Eropa Nah itulah yang dipertanyakan Oleh karena itu geng dia serta redaksi Indonesia Raya tidak setuju sama sekali Kalau perusahaan-perusahaan negara mengadakan ulang tahun atau acara-acara besar karena hal tersebut adalah pemborosan uang rak rakyat dan uang negara Sutowo di saat itu pernah mengaku kepada wartawan dari media time yang bernama Louis krar kalau dia membagi-bagikan bantuan sampai 500.000 do Amerika setiap tahun yang diambil dari uang pemerintah katanya Sutowo juga dikatakan memiliki sekitar en atau tuuh perusahaan pribadi yang dia urus kalau dia sedang senggang termasuk di antaranya adalah proyek restoran yang berada di New York nah ini menurut pengakuan sutaowo jadi dia Kayak apa ya mengatakan e Enggak mungkin saya pakai uang e Dari Pertamina saya punya usaha sendiri yang lebih besar katanya dia gitu lalu Sutowo juga memiliki jet pribadi dan mobil rollroyce silver clou serta disebut-sebut sebagai orang Indonesia pertama yang memiliki rollroyce di awal tahun 1970-an yang menjadi simbol kemewahan yang enggak bisa dimiliki oleh sembarangan orang geng ya mungkin kalau untuk saat ini yang bisa kita lihat ya Hotman Paris yang pakai gituan ya atau ya ketua MPR Pak bamsut gitu Nah itu beliau-beliau memang pencinta otomotif sekaligus emang ya orang tajir melintir dari awalnya dulu yang punya rollroyce pertama kali adalah Sutowo Nah terus juga geng diketahui Sutowo beberapa kali menghadiahkan mobil milik Pertamina kepada beberapa orang tanpa diketahui Alasannya kenapa jadi enggak ada yang tahu kenapa orang yang diberikan hadiah ini berhak untuk mendapatkan hadiah mobil tersebut jadi kayak benar-benar enggak transparan gitu geng terus geng di masa itu menteri pertambangan yang bernama Muhammad Sadli bukannya ikut Menindaklanjuti isu yang beredar mengenai Sutowo ini yang dianggap berfoya-foya nah Sadli justru membela Pertamina dan Sutowo Dengan mengatakan ulang tahun Pertamina di genewa atau di Eropa adalah untuk mempromosikan perkembangan ekonomi di Indonesia yang antara lain adalah promosi batik Nah jadi ada alibi yang seperti itu terus kemudian mokhtar Lubis si jurnalis tadi membalas keterangan menteri Sadli ini dengan sebuah tajuk berjudul perkuat pengelolaan minyak Indonesia pada tanggal 29 Oktober tahun 1973 dia menilai bahwa pusat perekonomian dan Bank Swiss itu bukanlah di genewa melainkan di Zurich sehingga alasan untuk mempromosikan ekonomi seperti yang dikatakan oleh si menteri itu enggak tepat kayak enggak cocok gitu ya ke Jenewa apalagi kalau bukan party nah Selain itu moktar Lubis juga mengkritik kebiasaan foya-foya Pertamina dan Sutowo secara pribadi yang sangat beda dari yang lain seperti salah satu contohnya adalah Membeli tanah rumah buat gedung menyewa kapal yang mana uang tersebut berasal dari hasil penjualan minyak terus pesta mewah yang digelar oleh Sutowo bukan cuma ulang tahun Pertamina aja bahkan ketika dia menikahkan anaknya Sutowo juga menggelar pesta paling mewah di saat itu humas Pertamina meng aku dan nikahan anaknya Sutowo ini didapatkan dari sumbangan keluarga dan koleganya Sutowo nah namun alasan ini tidak masuk akal dan tidak membuat si jurnalis yang bernama mokhtar tadi percaya Nah karena perbuatan sotowo itulah akhirnya si jurnalis yang bernama mokhtar itu selalu mengecam Sutowo dan untuk bisa membuktikan semua penyelewengan tersebut Mohtar bahkan sampai siap kalau redaksi Indonesia Raya diadukan ke pengadilan bahkan Enggak cuma Indonesia Raya berbagai media asing juga menyoroti Sutowo ini geng mulai dari new internationalist time the Washington post terus New York course juga ikut memperhatikan kehidupannya dia Sutowo sendiri gimana Apakah dia tahu dengan kritikan itu dikatakan dia sendiri juga tahu mengenai kritikan yang mengarah kepada dia menurutnya Apa yang dia lakukan ini hanyalah meneruskan tradisi aja di dalam sebuah biografi yang berjudul Ibnu Sutowo mengemban misi revolusi sebagai Doktor tentara pejuang minyak bumi Sutowo mengatakan kalau dia tidak bisa berbuat hal lain kecuali mengikuti pola yang berlaku pada dunia bisnis perbinyakan jadi ibaratnya tuh dia menganggap apa yang dia lakukan ini ya memang sudah tradisi di dalam dunia bisnis perminyakan bahkan di luar di Arab mungkin atau di Rusia sana bisnis perminyakan itu seperti ini menurut beliau dan singkat cerita Motar Lubis dikatakan pernah didekati oleh asistennya Sutowo yang ingin menawarkan konsesi minyak jadi semacam ada proses untuk menyogok atau suap gitu dan hal tersebut diartikan oleh Motar sebagai iming-iming keuangan untuk bisa menghentikan Mukhtar menginvestigasi serta kecaman Mukhtar terhadap Sutowo atau nama lainnya adalah ya menyuap atau nyogok tadi tapi pada tahun 1974 Mohtar akhirnya benar-benar berhenti mengritik Pertamina dan Sutowo di saat itu bukan karena pada Akhirnya dia berhasil disogok tapi di saat itu dia dipenjara setelah Media Indonesia Raya memberitakan kepanikan kerusuhan Malari Nah jadi justru dia dipenjara karena kasus yang lain dan peristiwa tersebut yang dia beritakan itu mencoreng citra pemerintahan Indonesia nah dia pun dipenjara di Rumah Tahanan Militer atau rtm nirbaya dan Media Indonesia Raya pun juga di beredel habis-habisan dan dijegal jadi udah gak ada lagi ditutup wasart andest andenjakkritik ini atauis dijara Pertamina justru semakin berkembang dan berada di puncak kejayaan mereka hal ini karena di Arab itu sedang perang perang antara arab dan isriwil yang lebih dikenal dengan perang yom kipur negara-negara Barat di saat itu lebih memilih mengimpor Minyak dari Indonesia nah kita kan ada tambah minyaknya nih negara-negara barat ambil minyak dari kita enggak dari Arab karena lagi perang dan Arab pada saat itu enggak mau menjual minyaknya kepada Amerika dan Eropa karena mereka memihak is rewi nah situasi inilah yang membuat Pertamina menjadi untung besar dan kasus korupsi dari Sutowo jadi tertutup karena anggapan enggak mungkin ada korupsi sementara bisnisnya terlihat berkembang padahal bisnisnya berkembang ya karena ada perang korupsi mah tetap korupsi aja jadi bisa dikatakan akibat momentum yang berbarengan dengan perang Arab tadi yasutowo bisa lebih leluasa lagi melakukan tindakan korupsi nah bahkan setelah kasus korupsinya terungkap Sutowo tidak pernah diadili hingga akhir hayatnya padahal korupsi yang dia lakukan terhadap Pertamina jumlahnya sangat besar Nah sekarang kita akan masuk nih geng ke dalam pembahasan selanjut nya yaitu pembahasan Ibnu Sutowo the untouchable alias tidak tersentuh dari Bagaimana pengelolaan yang dilakukan oleh Sutowo di Pertamina pasti membuat kalian bertanya-tanya kenapa Sutowo bisa melakukan korupsi sebanyak itu tapi gak ada yang mengusut padahal sudah terang-terangan Nah jawabannya adalah karena Sutowo ini sangat dekat dengan penguasa di saat itu yaitu penguasa orle baru ya Pak Harto nah ingat geng Sutowo ini kan bisa jadi direktur UT lama Pertamina karena dui Fungsi ABRI yang mana hal tersebut adalah sebuah praktik yang lazim terjadi di era orde baru dan kedekatan ini terlihat ketika Sutowo memiliki konflik dengan Menteri pertambangan Kabinet Ampera 1 yang bernama Ir Slamet bratanata konflik ini bisa terjadi karena adanya perdebatan mengenai eksplorasi minyak di sepanjang pantai utara Pulau Jawa Kalimantan Selatan dan timur beratanata ingin agar pelaksanaannya melalui sistem Open tender tapi Sutowo Bersi keras ingin tender tertutup terhadap perusahaan minyak asing yang sudah ditentukan oleh dia nah Ada tiga perusahaan yang diajukan di saat itu yang mana perusahaan tersebut adalah perusahaan minyak asing yang relatif kecil menurut bratanata tender terbuka dalam eksplorasi minyak di Indonesia ini bertujuan untuk mendapatkan kembali kepercayaan dunia internasional terhadap pemerintah dan hal ini juga sekaligus untuk mencegah permainan Kongkalikong dalam pemberian konsesi eksplorasi dan eksploitasi minyak beratanata ini merasa kurang yakin kalau perusahaan yang dipilih oleh Sutowo bisa meluaskan usaha pembukaan tambang-tambang minyak baru baru dan oleh karena itu bratnata bisi keras agar kontrak eksplorasi ditawarkan secara terbuka kepada semua peminat yang dikatakan waktu itu berjumlah 16 maskapai tapi Sutowo tetap enggak mau dia mati-matian menolak saran dari Menteri pertambangan alasannya dia tetap pengin tender tertutup karena dengan tender tertutup Sutowo bisa mengajak kolega dari Pak Harto untuk bisa bermain di eksplorasi minyak yang ada di sana dan ketika itu Pak Harto yang merupakan pejabat presiden yang merangkap sebagai ketua presidium kabinet amper serta kolega dari Sutowo sesama perwira TNI AD hubungannya inilah yang sepertinya mempermudah langkah Sutowo soal urusan tender Pertamina dan ketika dikeluarkannya surat keputusan presidium Kabinet Ampera pada tanggal 31 Januari tahun 1967 menetapkan kedudukan Dirjen migas di bawah ketua presidium kabinet yang mana itu artinya Ibnu sudah tidak lagi berada di bawah menteri pertambangan yaitu Brat natata melainkan dia berada di bawah Presiden Soeharto langsung makanya atas apa yang selama ini dilakukan oleh Sutowo Pak Harto selalu diam aja tanpa mengambil tindakan apapun ada yang mengatakan selain karena hubungan kedekatan mereka Pak Harto memilih untuk diam karena Sutowo adalah satu-satunya orang yang tidak takut dengan Pak Harto yang kalian tahu sendiri geng gimana Presiden Soeharto di masa itu menurut David jenkins penulis buku Soeharto and his generals Indonesia military Politics 1965 sampai 1973 menyebutkan kalau Sutowo adalah salah satu Jenderal kelompok inti Pak Harto Jadi mereka memiliki hubungan dekat dan menempati posisi kunci di bidang Hankam dan perekonomian Pak Harto punya ketergantungan yang sangat besar dalam hal keuangan di luar anggaran pada Sutowo dan dari dugaan praktik korupsi yang dilakukan oleh Sutowo Kejaksaan Agung diminta untuk menyelidiki Pertamina dan Sutowo mengenai pemborosan dan kebocoran uang negara sebelum moktar ditangkap ternyata dia pernah menemui Jaksa Agung Ali Said dengan membawa data-data korupsi Pertamina yang berjumlah dua koper penuh kurang banyak apa tuh tapi laporan tersebut tidak pernah ditanggapi dan tidak pernah ditindaklanjuti oleh Kejaksaan Agung Sutowo di saat itu masih menjabat sebagai Direktur Utama dan hal ini seperti menjadi jalan buntu untuk bisa mengusut kasus Sutowo ini atau mengadili dia atas dugaan korupsi yang dia lakukan Sutowo melakukan balas budi melalui pembiayaan di luar pekerjaan di Pertamina kepada koleganya di kalangan militer pejabat pemerintah serta pengusaha dengan proyek-proyek negara seperti Rumah Sakit Pertamina dan binagraha atau kantor Presiden Soeharto dan sementara menurut salah satu teman dekat Sutowo yang merupakan mantan Gubernur lem hanas yang bernama saidiman Suryo Hadi Projo dia mengatakan kalau pengeluaran pertamina itu sangat besar seakan-akan uang itu Enggak penting nah Jadinya enggak heran kalau Pertamina menjadi sumber dari ketidakberesan dan malversasi atau penyalahgunaan dana hanya saja di saat itu Sutowo memiliki pengaruh yang besar sekali sehingga enggak ada satupun pihak yang berani menangani e ketidak beresan ini enggak ada yang berani nindakin dia tidak ada satuun orang yang berani mengusik Sutowo termasuk presiden sekalipun membuat Sutowo masih leluasa untuk mempergunakan uang dari Pertamina Sutowo di saat itu melebarkan bisnis Pertamina ke bidang lain selain perminyakan seperti bidang penerbangan perkantoran perhotelan dan pariwisata nah dia juga terkadang menggunakan uang Pertamina untuk proyek-proyeknya seperti pengembangan gas alam di Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan serta pabrik baja yang ada di Jawa Barat nah jor-joran bangetlah geng Sutowo pada saat itu dia mengeluarkan uang yang sangat banyaklah pokoknya nah tapi Sutowo ini melakukan kesalahan besar pada tahun 1973 yang mana pada saat itu negara-negara OPEC itu sedang unjuk gigi terhadap industri minyak mereka diperkirakan kalau harga minyak akan meningkat dari 4 USD menjadi 11 USD per barelnya nah ketika mendengar kabar tersebut Sutowo langsung bersemangat dan terburu-buru dalam mengambil keputusan untuk membiayai Salah satu program diversifikasi Pertamina yaitu penyewaan kapal tanker dia melakukan pinjaman besar-besaran dalam jangka pendek tanpa perhitungan yang matang nah akibatnya Pertamina harus menghadapi hutang yang sangat besar yaitu sebesar 2 miliar USD pada saat pendapatan dari minyak tidak mencapai harapan yang diinginkan untuk bisa menangani hal tersebut Sutowo mencari pinjaman jangka panjang ke Timur Tengah untuk bisa menutup hutangnya yang jangka pendek dia awalnya mengira sudah berhasil menyelamatkan Pertamina tapi kesepakatan tersebut malah gagal para kreditur Amerika mulai menekan Pertamina dan semakin diperparah oleh bank-bank yang ada di London dengan menuntut Pertamina dan oleh karena itu hutang Pertamina jadi menggunung hingga mencapai 10, miliar dolar Amerika atau yang setara dengan rp11,6 triliun Soeharto mengatakan kalau Pertamina pasti bangkrut kalau pemerintah tidak segera melakukan tindakan dan Bank Indonesia pun mengambil alih tanggung jawab untuk menalangi hutang tersebut dan Soeharto membentuk sebuah komisi khusus untuk memberantas korupsi komisi tersebut dinamai sebagai komisi empat yang terdiri dari wilopo Esha seorang mantan Perdana Menteri sebagai ketua dengan anggotanya yaitu IJ Kimo selaku sehat partai Katolik nah terus ada Prof Ir Yohannes selaku mantan rektor UGM dan juga Anwar Cokro aminoto selaku ketua partai islam psii Presiden Soeharto juga mengangkat mantan Wakil Presiden yaitu Muhammad Hatta sebagai penasihat komisi yang bertugas memberikan pertimbangan dan saran kepada Presiden serta komisi empat Pak Harto di saat itu memerintahkan Pertamina menjual sebagian aset mereka yang dirasa berlebihan nah sotowo pun di saat itu langsung dipecat dari jabatannya sebagai Direktur Utama Pertamina pada tanggal 5 Maret tahun 1976 karena menurut Pak Harto kesalahan Sutowo tidak dapat dimaafkan dan posisinya itu digantikan oleh Pit Hariono yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur keuangan Pertamina Sutowo di saat itu langsung menyatakan kekecewaannya dia atas pemecatan tersebut menurut dia sebuah kelompok yang dipimpin oleh Wijoyo Niti Sastro memiliki peran untuk menjegal kebijakannya mengelola Pertamina nah dia menyalahkan pihak lain nih Nah kelompok yang dimaksud oleh dia ini disebut-sebut sebagai mafia berkelli yang menempati sejumlah kursi menteri di bidang ekonomi antara lain diisi oleh Wijoyo Nisi Sastro tadi selaku Menko ekuin atau kepala babenas terus ada Ali Wardana selaku Menteri Keuangan dan Muhammad Sadli selaku menteri pertambangan kelompok tersebutlah yang dituduh oleh Sutowo dan menurut sutao kelompok tersebut memiliki hubungan dengan lembaga dana internasional seperti World Bank IMF dan juga Igi dan di belakang mereka itu semua ada perusahaan minyak raksasa yang ingin menguasai tambang minyak di Indonesia dan pada saat itu Sutowo memimpin Pertamina dia mengaku perusahaan-perusahaan raksasa tersebut tunduk dengan sistem kontrak bagi hasil dalam eksplorasi minyak di Indonesia nah jadi Sutowo justru menyalahkan orang-orang yang dia sebut tadi sebagai mafia berkelli atas pemacatannya dia padahal semuanya itu udah jelas kesalahannya dia sendiri pembentukan komisi 4emp itu kan bertujuan untuk bisa merekomendasikan upaya hukum untuk mengadili Sutowo tapi pada realitanya rekomendasi dari Komisi 4 tidak pernah ditanggapi dengan serius oleh Pak Harto enggak ada upaya hukum untuk bisa membawa Sutowo ke pengadilan jadi dia cuma dipecat aja enggak pernah dihukum dan menurut IJ Kasimo Sutowo tidak pernah dinyatakan merugikan keuangan negara atau melanggar hukum pidana kasusnya ini hanya dinyatakan sebagai salah manajemen atau salah urus doang geng redaktur pelaksana Indonesia Raya yang bernama Atma Kusumah itu mengaku tidak ada pendagakan hukum yang berani mempermasalahkan tentang kasus Sutowo nah adman menduga kalau aliran uang dari Sutowo juga diberikan kepada penegak hukum sehingga para Penegak hukum tidak ada yang bisa memenjarakan dia nah Pak Harto pun juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Sutowo memegang kartu As milik Pak Harto sehingga posisi mereka saling mengunci satu sama lain kabarnya kayak gitu dan Sutowo pun tidak pernah diadili dan tidak tersentuh oleh hukum meskipun sudah beberapa kali berganti kepemimpinan dan oleh karena itu Sutowo disebut sebagai the untouchable yang artinya tidak pernah tersentuh nah sebenarnya geng masih ada kasus lain dari Ibnu Sutowo ini geng yaitu mengenai kasus sengketa hotel Sultan terus bisnis Sutowo di usaha air minum yang sekarang terkenal banget di Indonesia yaitu merek Aqua sampai ke kasus penghilangan nyawa yang dilakukan oleh anaknya yang bernama Adiguna Sutowo nah Kalian cari tahu sendiri geng tentang kasus tersebut dan EE ini orangnya siapa mungkin di video lain gua akan ceritakan kasus-kasus dari Sutowo ini geng karena kalau gua taruh semua di sini kasusnya videonya bakal panjang banget nah dari pembahasan gua ini ya kita jadi seperti menilai kalau ternyata Pertamina memang sudah jadi ladang korupsi dari dulu dari direktur utama yang pertamanya udah korupsi apalagi sekarang ya kan Bagaimana bisa menjamin seterusnya enggak akan ada korupsi gitu Nah apalagi sutowonya sendiri sebagai pelaku pertama kali tidak pernah diadili karena pengaruhnya yang begitu besar di antara pejabat dan personel militer di zaman Orde Baru ya cuma gimana tuh geng Menurut kalian tentang kasus ini coba tinggalkan komentar di bawah