#RunAwayFirst! INDONESIANS ARE LOADING ABROAD BECAUSE THEIR COUNTRY IS BECOMING INCREASINGLY DECL...
WKNV2I-1YZ0 • 2025-02-17
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Dan dari data yang berhasil Fahmi
kumpulkan, diketahui kalau tren ini
berawal dari sebuah akun X dengan
username Amora Cesa. Ya, tulisannya
kayak gini. Kalian lihat sendiri. Nah,
ini tepat pertama dia buat itu tanggal 8
Januari tahun 2025. Kalau saat ini
Indonesia itu kondisinya sedang tidak
stabil. Walaupun ya pejabat-pejabat
kita, pemerintah kita terus-terusan
membuat statement, terus-terusan membuat
e pernyataan kalau Indonesia semakin
berkembang, ekonominya meningkat,
meroket, baik-baik aja. Tapi pada
kenyataannya kita sebagai rakyat yang
merasakan ya banyak hal-hal yang tidak
sesuai dengan pernyataan tersebut. Dan
kita semua dituntut untuk membayar
hal-hal yang menurut gua semakin lama
semakin mencekik ya. Pajaknya semakin
tinggi, harga bahan pokoknya semakin
mahal. Nah, namun pendapatan tidak
naik-naik juga, malah yang ada semakin
banyak dipotongnya.
Yo, Geng. Tekan tombol subscribe, Gengs.
Eo. What's good? Welcome back to Kamar
Jerry,
[Musik]
Geng, Geng. lagi banyak banget nih,
Geng, berseleweran di berbagai sosial
media konten-konten yang membagikan
pengalaman atau perjalanan orang-orang
Indonesia yang berada di luar negeri.
Nah, mau itu yang formatnya video
ataupun tulisan doang. Namun, ada yang
menarik nih, Geng, dari konten-konten
tersebut. Karena mereka menyelipkan
sebuah tagar atau tanda pagar hashtag eh
tulisannya tuh kabur aja dulu. Dan
semakin hari semakin ramai nih yang
membuat konten kabur aja dulu. Dan
memang yang membuat konten ini
kebanyakan adalah anak-anak muda atau
generasi muda yang range umurnya antara
20-an sampai yang tua awal 40-an. Gua
berpikir nih, Geng, ya. Pas lihat
kontennya itu tren kabur aja dulu. Dan
itu pada awalnya gua pikir cuma konten
berbagi tips untuk berpergian ke luar
negeri, sekedar liburan atau bagaimana
cara untuk mendapatkan ee apa ya ee
pendidikan di luar negeri atau kerja di
luar negeri. Tapi setelah gua cari tahu
lebih dalam, ternyata tren kabur aja
dulu ini sangat erat kaitannya dengan
bagaimana kondisi negara kita dan tren
tersebut menjadi solusi atau jalan
keluarnya. Dan ini cukup menarik untuk
gua bahas dan informasi ini akan gua
bagikan ke kalian mulai dari penjelasan
apa sih itu tren e kabur aja dulu. Tapi
sedikit clue ya gua kasih ya. Jadi
sekarang itu anak-anak muda sudah
berpikir negara kita ini udah enggak
worth untuk dijadikan tempat tinggal.
Indonesia udah enggak layak lagi untuk
mereka menaruh harapan untuk masa depan
yang lebih cerah atau untuk kehidupan
yang lebih baik. Menurut mereka udah
enggak ada harapan lagi dan mereka
merasa ya orang-orang yang ikut tren ini
hidup di luar negeri jauh lebih
terjamin, jauh lebih manusiawi, dan
kualitas hidup mereka jauh lebih
dihargai. Nah, jadi kurang lebih kayak
gitu, Geng. Nah, seperti apa sih ya tren
ini dan benarkah banyak orang yang sudah
melakukannya? Sekarang langsung aja kita
bahas di sisi lain.
[Musik]
Oke, kita langsung masuk ke dalam
pembahasan utamanya.
[Musik]
Jadi, Geng sebulan terakhir ini tren
kabur aja dulu lagi ramai banget di
sosial media. Ada yang ng-post di X, ada
juga yang nge-post di TikTok, bahkan ada
yang nge-post di Instagram. Kalau di
YouTube gua masih jarang ngelihat.
Semakin hari konten-konten Kabur aja
dulu ini semakin banyak di-share atau
di-publish, dibagikan oleh orang-orang.
Dan seperti yang gua katakan sebelumnya,
gua pikir tren ini cuma untuk memberikan
informasi mengenai bagaimana cara
mengurus paspor, visa, atau kebutuhan
untuk hidup di luar negeri dan
informasi-informasi yang mungkin hanya
bersifat sementara gitu. Nah, tapi
ternyata tren ini lebih daripada itu.
Ada alasan kenapa orang Indonesia yang
sekarang berada di luar negeri
membagikan hal tersebut. Nah, sebelum
kita masuk ke dalam alasannya, gua bakal
bercerita dulu nih, Geng,
pengalaman-pengalaman dari orang-orang
Indonesia yang saat ini sudah berada di
luar negeri. Jadi, informasi ini gua
ambil dari media BBC yang berhasil
mewawancarai seorang warga negara
Indonesia yang bernama Fajar Zakri. Nah,
dia ini dari tahun 2021 sampai 2024,
Fajar ini sudah mulai melakukan riset
dan perencanaan untuk pergi ke luar
negeri. Ada lima negara yang dia jadikan
opsi, yaitu Australia, Jerman,
Finlandia, Swedia, dan Singapura. Dia
banyak bertanya ke teman-temannya yang
sudah lebih dulu pindah ke Australia dan
Jerman. Tapi dia juga mencari tahu untuk
pindah ke Singapura itu bagaimana. Ya,
ini kan negara yang paling dekat dengan
negara kita gitu. Karena di negara
tersebut banyak orang Indonesia juga
yang sudah pindah ke sana.
Untuk di Finlandia dan Swedia,
pertimbangannya Fajar ini memilih dua
negara tersebut. Karena baik Finlandia
dan Swedia, taraf hidupnya jauh lebih
baik. Jadi kalau kalian merasa sekarang
hidup kalian di Indonesia nyaman, kalau
kalian menjadi orang Finlandia, kalian
tuh benar-benar apa ya? Berharga banget
jadi manusia gitu. Sesejahtera itulah
kehidupan di sana. Di antara lima negara
tersebut tadi gak ada satuun yang Fajar
ambil karena dia pada akhirnya pergi ke
Amerika Serikat karena di saat itu dia
mendapatkan kesempatan kerja di sana.
Nah, jadi dia udah riset lima negara
yang menurut dia wah enak nih buat
tinggal. Tapi ujung-ujungnya ya dia
realistis juga. Di mana tempat yang
menyediakan pekerjaan ya ke sana dia
akan pergi yaitu Amerika Serikat.
Singkat cerita nih geng selama 4 tahun
dia ini bekerja sebagai penulis musik.
jadi songwriter untuk salah satu majalah
online yang dibuat oleh warga kulit
hitam Amerika Serikat. Dan di tahun 2024
pemimpin redaksinya meminta agar Fajar
untuk pindah ke Amerika Serikat. Fajar
ini bukan seseorang yang berasal dari
kalangan keluarga menengah ke atas atau
kaya raya. Bahkan dia menjadi generasi
sandwich dengan menjadi tulang punggung
bagi keluarga. Semuanya dia yang biayai
dan setiap bulannya dia bisa mengirimkan
uang sebesar Rp juta bagi keluarganya.
Cuma di saat itu Fajar mengaku
kepindahannya ke Amerika Serikat
bukanlah sebuah hal yang mudah. Karena
beberapa kali dia mendapatkan perlakuan
diskriminatif dari orang-orang lokal
Amerika sana. Ya, karena apa ya? Kayak
kita tuh sebagai orang Asia tuh dianggap
agak kasta rendah lah karena kita
badannya kecil terus ya berbeda warna
kulit, berbeda mata. Mungkin kalau kita
di Indonesia ngelihat orang Chinese yang
sipit, tapi kalau kita di Amerika
semuanya termasuk kita nih yang apa
kulit sama matang gini nih. Menurut
orang bule di sana kita juga sipit gitu.
Semuanya Cina menurut mereka. Nah, jadi
kurang lebih kayak gitu makanya
dirasisin. Nah, tapi menurut dia
kehidupan dia di Amerika ya lebih
terjamin dan jauh lebih baik daripada di
Indonesia. Dan akhirnya dia memilih
untuk stay di sana.
Gimana kebutuhan emosionalku terpenuhi
dan kebutuhan kebutuhan lainnya
terpenuhi juga. Nah, itu baru satu
cerita ya si Fajar. Oke, kita masuk ke
pengalaman yang lain lagi. Nanti di
endingnya baru kita bakal bahas kenapa
ada tren kabur aja dulu. Oke, cerita
yang kedua ini datang dari Dini Adriani
yang sekarang berada di Changiangmai,
Thailand. Nah, dia berada di sana karena
3 tahun lalu dia ini mendapatkan
beasiswa S2 untuk program ilmu
pembangunan dari salah satu universitas
yang ada di Siangmai. Pada tahun 2024,
Dini ini menyelesaikan pendidikannya dan
mendapatkan kesempatan untuk menjadi
seorang guru privat di salah satu
sekolah internasional swasta di sana.
Dan karena memiliki background sebagai
seorang pekerja sosial menjadi guru
bayangan atau shadow teacher bagi murid
berkebutuhan khusus yaitu ADHD. Nah, dia
menjalani hal tersebut sebelum Dini ini
melanjutkan pendidikannya di Thailand.
Dia ini sempat bekerja di kantor
pemerintahan dan merasakan kalau gajinya
itu enggak cukup. Nah, jadi sebelum dia
ke Thailand tuh dia kerja di
pemerintahan Indonesia. Menurut dia tuh
enggak layak gajinya. Dan setelah Dini
ini bekerja di Thailand, dia merasa
mendapatkan gaji yang cukup besar yaitu
21.000 bat atau setara dengan Rp10 juta.
Kurang lebih dengan biaya hidup yang
sama atau justru relatif lebih murah
daripada ketika dia tinggal di
Indonesia. Nah, cuma memang banyak
kendala yang Dini rasakan ketika dia
menetap di Thailand. Yang mana sebagai
seorang muslim, Dini ini kesulitan untuk
mencari masjid, kesulitan untuk mencari
makanan halal di daerah tempat dia
tinggal. Walaupun sebenarnya ya di
Thailand sendiri muslimnya juga ada
gitu. Kampung muslim Melayunya juga ada.
Mungkin dia tinggal di daerah yang
memang kebetulan banyak nonmuslimnya.
Nah, beruntungnya pihak universitas
memberikan kesempatan bagi mereka yang
memeluk agama minoritas untuk bisa
menjalankan ibadah seperti orang Islam
harus salat. Nah, biasanya di
negara-negara yang agama Islamnya
menjadi minoritas, banyak sekali kasus
di mana orang Islam enggak boleh break
dari kelas atau break dari kerja untuk
melaksanakan salat. Nah, tapi pihak
universitas tempat Dini bekerja saat ini
memberikan kelonggaran itu. Jadi, ada
toleransinya. Nah, jadinya Dini pun
akhirnya betah untuk tinggal di sana
ketimbang dia harus kembali ke
Indonesia. Di
Indonesia sekarang sedang tidak
baik-baik saja. Kemudian tagar kabur aja
dulu semakin menyeruak dan kemudian
diinterpretasikan oleh orang-orang yang
Oke, itu cerita kedua tuh ya. Cerita
kedua sebelum kita masuk ke tren kabur
aja dulu. Terus geng ada lagi cerita ini
dari seseorang yang bernama Joseph
Pradipta. Dia ini berasal dari Semarang
dan sudah merantau ke Korsel sejak tahun
2019. Saat itu dia memutuskan untuk
pindah ke Korsel karena dia merasa
karirnya mandek ketika bekerja di media
olahraga. Ditambah lagi dia merasa kalau
gajinya hanya habis untuk keperluan
ongkos sehari-hari. Dan selain itu,
Joseph juga merasakan kalau skillnya di
dalam videografi sudah cukup sehingga
dia bisa melanjutkan jenjang karirnya
yang lebih tinggi lagi. Sama seperti dua
cerita yang sebelumnya, kehidupan Josep
selama di Corsel enggak bisa dikatakan
langsung mulus begitu aja karena dia
kesulitan untuk menguasai bahasa Korea
yang mana sebelumnya dia sama sekali
enggak memahami bahasa tersebut. Nah,
biasanya orang-orang seperti ini akan
berangkat ke negara lain dengan
bermodalkan bahasa internasional yaitu
bahasa Inggris. Nah, namun di sisi lain
hal itulah yang membuat dia terus
berusaha untuk bisa menguasai bahasa
Korea, Geng. Dan hal yang terjadi kepada
Josep itu mirip seperti yang terjadi
kepada Fajar yang dicerita sebelumnya
yang mana dia merasakan adanya sentimen
rasis terhadap dia. Contohnya ketika dia
berada di fasilitas umum seperti kereta.
Gak ada yang mau duduk di sebelah dia
karena fisiknya berbeda. Nah, terus juga
selama dia tinggal di Korsel semuanya
harus dilakukan sendiri. ke dokter
sendiri, ngurus pajak sendiri, ngurus
visa sendiri, dan itu semua dilakukan di
negara asing. Tapi saat ini Joseph
mengaku sudah beradaptasi dengan semua
itu. Sentimen rasis yang dia rasakan
sebelumnya juga perlahan-lahan mulai
hilang seiring dengan Josep yang sudah
menguasai bahasa Korea. Nah, jadi
orang-orang tuh enggak merasa curiga
lagi dengan dia. Sampai pada akhirnya
hal-hal yang di awalnya apa ya? buat dia
berat untuk meninggalkan Indonesia, buat
dia sangat berat untuk tinggal di luar
negeri. Akhirnya semuanya sirna,
akhirnya semuanya selesai gitu ya. Dan
dia merasakan kayaknya memang jauh lebih
baik ya gua tinggal di negara orang
ketimbang balik ke negara gua sendiri.
Memang awalnya pahit, tapi itu semua
dikarenakan karena dia belum
beradaptasi. Tapi setelah dia
beradaptasi, dia merasakan jauh lebih
baik tinggal di negara orang. Sebagai
seorang manusia, dia lebih dimanusiakan.
Kurang lebih kayak gitu pemikirannya.
Indonesia kondisinya kayak gini dan
kalau ditanya sih mau balik apa enggak
nantinya ya kayaknya enggak balik ke
Indonesia. Nah, jadi geng ada tiga
contoh cerita yang udah gua sampaikan ke
kalian ya. Nah, dari sekian cerita orang
Indonesia yang saat ini berada di luar
negeri, gua ambil tiga contoh itu aja
karena ya berbeda-beda lokasinya gitu
ya. Yang satunya di Amerika, yang
satunya di Thailand, yang satunya lagi
di Corsel. Kalau diceritakan semua, gua
rasa durasinya enggak akan cukup gitu.
Jadi gua ambil tiga sampel itu aja. Dan
gua rasa juga udah cukup untuk
menggambarkan bagaimana tren kabur aja
dulu ini menjadi salah satu tren yang
pada akhirnya digembar-gemborkan oleh
generasi muda Indonesia karena merasa
banyak orang Indonesia yang sudah di
luar negeri dan hidupnya lebih terjamin.
Nah, tapi ya yang jadi pertanyaannya
bagaimana ini semua bermula? Siapa yang
pertama kali membuat tren ini dan
bagaimana bisa tren ini menjadi viral?
Sekarang kita akan masuk ke dalam
pembahasan mengenai mencuatnya tren
kabur aja dulu hingga menjadi viral
seperti sekarang.
[Musik]
Jadi, Geng, dari sekian banyak anak muda
yang meramaikan tren kabur aja dulu
dengan hashtag gitu ya, timbullah sebuah
pertanyaan. Siapa yang pertama kali
mencetuskan tren ini dan kenapa bisa
trennya menjadi ramai? Nah, jadi geng
menurut informasi dari seseorang yang
bernama Fahmi Ismail selaku pembuat
drone Emprit. Nah, dia ini membeberkan
beberapa fakta mengenai tren ini. Buat
kalian yang enggak tahu ya, drone ini
adalah sebuah alat yang digunakan untuk
memonitor percakapan netizen yang ada di
media sosial dan memonitor pemberitaan
di media online berdasarkan keyword,
nama, tokoh, dan sebuah peristiwa atau
kejadian dengan menggunakan teknologi AI
dan natural learning process atau NLP
untuk menganalisa dan memonitor media
sosial dari berbagai data. Nah, jadi
dengan kecanggihan ini bisa dirunut atau
dicari tahu dari mana awal mula atau
asal berasal sebuah tren yang viral di
media sosial. Fahmi Ismail ini yang
membuat teknologi bernama drone
tersebut. Dan di akun X pribadinya,
Fahmi mengumpulkan berbagai data untuk
bisa menganalisa tren kabur aja dulu.
Dan dari data yang berhasil Fahmi
kumpulkan, diketahui kalau tren ini
berawal dari sebuah akun X dengan
username Amora Cesa. Ya, tulisannya
kayak gini, kalian lihat sendiri. Nah,
ini tepat pertama dia buat itu tanggal 8
Januari tahun 2025. Namun dari tren yang
dibuat oleh akun tersebut, Fahmi
mengatakan kalau enjudement-nya kecil
banget. Jadi belum viral-viral banget,
Geng. Pada saat itu. Nah, tren ini bisa
viral setelah diangkat oleh akun X yang
lain, yaitu akun HRD Bacot pada tanggal
14 Januari tahun 2025. Dan sekedar
informasi ya, akun HRD bacot ini kalau
di X menjadi wadah bagi para karyawan
untuk berkeluh kesah dan memberikan
informasi mengenai perusahaan-perusahaan
mereka di saat mereka penat bekerja,
pusing, dan lain-lain. Jadi dialah yang
me-erepost itu dan membuat hal itu
viral. Terus, Geng, trennya berlanjut
lagi dan viral ketika seseorang dengan
akun X Berlian Idris membagikan konten
tersebut pada tanggal 6 Februari tahun
2025. Nah, jadi buat akun-akun terkait
kalau kalian nonton video ini selamat ya
kalian yang membuat tren ini jadi ramei.
Terus dari data yang ada dikatakan ada
lima orang yang membuat tren ini jadi
populer menurut data yang didapatkan
oleh Fahmi tadi yaitu pertama Berliani
Idris, terus HRD Bacot, terus ada
Indowork Abro, terus ada Rohalus, terus
ada Petra Barus. Kebanyakan dari mereka
yang membuat tren ini itu berusia antara
19 sampai 29 tahun, yaitu sebesar
50,81%.
Lalu ada yang usianya kurang dari 18
tahun sebesar 38,10%.
Kalau dilihat dari jenis kelaminnya,
tren ini kebanyakan dipopulerkan oleh
laki-laki sebesar 59,92%
sementara perempuan sebesar 40,08%.
Tapi sebenarnya ya agak imbang-imbang ya
hampir gocap-gocap lah. Hampir
fifty-fifty. Jadi semua kalangan ya
men-support tren ini. Terus geng, Fahmi
kembali meriset lebih dalam lagi
mengenai tren ini dan menemukan fakta
kalau awal mulanya tren ini sudah
disuarakan sejak tahun 2023 yang dimulai
sekitar tanggal 2 September oleh
beberapa orang. Nah, orang-orang ini
sama-sama memiliki background pekerjaan
di bidang teknologi digital atau yang
lebih dikenal dengan sebutan TCHB. Nah,
kalau berdasarkan data tersebut berarti
orang-orang dari kalangan TCHBro inilah
yang pertama kali membuat tren kabur aja
dulu di tahun 2023. Jadi udah ada
semenjak itu yang mana orang-orang TBro
ini pastilah merupakan tenaga kerja yang
profesional yang sekarang sudah bekerja
di luar negeri. Dan ini ada istilahnya
yaitu brain drain, yaitu sebuah kondisi
perpindahan tenaga kerja terampil dan
profesional dari satu negara ke negara
lain. Ya, seperti yang kita tahu ya,
kebanyakan orang pintar di negara kita
itu kuliah ke luar negeri. Kadang
kuliahnya pakai beasiswa dari Indonesia,
dari pajak Indonesia. Tapi ketika sudah
lulus malah stay di sana, bekerja di
sana. Ya, itu sebenarnya pilihan ya kan.
Mereka butuh masa depan yang lebih baik
ketimbang harus pulang ke tanah air
sendiri. Yang diurusin gas LPG 3 kilo
mesti ngantri. Yang diurusin ya aduh
gitu-gitu deh. Enggak usah disebutin
kalian udah paham lah. Intinya mereka
lebih e bisa berkembang di negara orang
ya. Akhirnya mereka melakukan itu tadi
yaitu brain drain ya. Sebuah kondisi
perpindahan tenaga kerja terampil dan
profesional dari satu negara yaitu
Indonesia ke negara lain. Nah biasanya
brain drain ini terjadi ketika negara
berkembang seperti Indonesia nih ya.
kehilangan tenaga kerja terdidik seperti
dokter, insinyur, ilmuan, dan tenaga
ahli lainnya yang memilih bekerja di
negara orang. Mulai dari situlah tren
ini terus bergulir di internet dan
menjadi sebuah fenomena baru yang
kemudian menjadi sebuah tren yang banyak
dibuat atau disuarakan oleh orang-orang
Indonesia yang saat ini sedang ada di
luar negeri. Dan apa sebenarnya alasan
di balik digunakannya tren # kabur aja
dulu ini? Apakah hanya sekedar tren
untuk pindah ke luar negeri dan
membanggakan hal tersebut sebagai sebuah
prestasi? Ya kan atau buat gaya-gayaan?
udah enggak ada Indonesia lagi gitu,
udah enggak ada becek, ojek gitu kan ya
biasanya gitu ya. Ya udah pindah ke luar
negeri tuh tiba-tiba logatnya jadi
berubah. Apakah sekedar itu doang atau
hanya sekedar berbagi informasi mengenai
bagaimana pengalaman belajar atau
bekerja di luar negeri. Nah, ternyata
alasannya jauh lebih dalam daripada itu.
Dikatakan alasan mereka karena mereka
kecewa yang mana mereka merasakan
kondisi negara kita tuh yang benar-benar
amburadul dipimpin oleh orang-orang yang
enggak kompeten, pelawak-pelawak yang
memberikan pernyataan di media itu ya
berbelit-belit. Nah, sekarang kita akan
masuk nih, Geng, ke dalam pembahasan
mengenai alasan atau faktor mengapa tren
kabur aja dulu bisa timbul di Indonesia
dan banyak yang mengikuti. Udah banyak
orang yang memilih pindah dari Indonesia
ke luar negeri.
Jadi, sepertinya saat ini orang
Indonesia ke luar negeri itu enggak cuma
mikir untuk menjadikan negara tersebut
sebagai tempat wisata aja, tapi
melainkan sebagai pertimbangan untuk
melanjutkan hidup mereka dan menempuh
pendidikan atau bekerja di sana. supaya
mendapatkan ee masa depan yang lebih
cerah. Dan sebenarnya di awal tadi gua
udah spill sedikit-sedikit lah ya
mengenai alasan mengapa tren ini bisa
ada. Yang mana ini ada hubungannya
dengan kondisi negara kita yang
kebanyakan juga menjadi alasan bagi
orang-orang Indonesia akhirnya memilih
untuk pindah aja pergi ke luar negeri.
Nah, tapi biar lebih jelas, gua bakal
menjelaskan kepada kalian ee
alasan-alasannya secara rinci gitu
supaya lebih detail. Oke. Nah, kita
mulai nih. Jadi, seperti yang kita tahu
ya, kalau saat ini Indonesia itu
kondisinya sedang tidak stabil. Walaupun
ya pejabat-pejabat kita, pemerintah kita
terus-terusan membuat statement,
terus-terusan membuat e pernyataan kalau
Indonesia semakin berkembang, ekonominya
meningkat, meroket baik-baik aja. Tapi
pada kenyataannya kita sebagai rakyat
yang merasakan ya banyak hal-hal yang
tidak sesuai dengan pernyataan tersebut.
Dan kita semua dituntut untuk membayar
hal-hal yang menurut gua semakin lama
semakin mencekik ya. pajaknya semakin
tinggi, harga bahan pokoknya semakin
mahal. Nah, namun pendapatan tidak
naik-naik juga. Malah yang ada semakin
banyak dipotongnya. Nah, beda dengan
negara lain yang memang pajaknya tinggi
tapi semua kebutuhan masyarakatnya
terpenuhi. Mulai dari pendidikan,
kesehatan, pekerjaan, bahkan sampai di
hari tua kehidupan seorang anak manusia
di sana sudah dijamin oleh negara. Jadi,
pajaknya itu yang dibayarkan benar-benar
dialokasikan untuk ya masa depan
masyarakat, bukan untuk dikorupsi dan ya
pejabatnya yang bersenang-senang.
Sebenarnya ada beberapa faktor untuk
bisa menjawab hal ini. Jadi, gua bakal
membaginya menjadi beberapa poin nih,
Geng. Nah, kita masuk ke dalam poin yang
pertama soal pendidikan.
[Musik]
Jadi, geng, pendidikan di Indonesia bisa
dikatakan tidak merata kalau
dibandingkan antara satu pulau dengan
pulau yang lain. Seperti yang kita tahu
ya, kalau mau pendidikan yang maju
kayaknya ya terpusatnya itu hanya di
Pulau Jawa dan itu pun enggak semua
wilayah di Pulau Jawa. Ditambah lagi
kalau sudah masuk bangku kuliah biayanya
semakin mahal sekalipun di universitas
negeri yang mana dikelola oleh
pemerintah. Tapi jangan kalian pikir
biaya kuliah yang mahal itu
menguntungkan para dosennya dan mengira
dosen-dosen itu lebih sejahtera karena
digaji lebih besar dibandingkan dengan
guru. Nah, karena anggapan itu salah
besar. Pada tanggal 2 Mei tahun 2024
yang bertepatan dengan Hari Pendidikan
Nasional, Serikat Pekerja Kampus atau
SPK yang beranggotakan sebanyak 400
dosen dan tenaga kependidikan di
perguruan tinggi meluncurkan polisi
brief yang berjudul gaji minimum. Nah,
beban kerja maksimum. Di mana dalam
pernyataannya SPK menggugat nasib
kesejahteraan dosen dan staf pendidikan
perguruan tinggi yang masih jauh dari
ideal. SPK melakukan penelitian kuartal
pertama tahun 2023 yang hasilnya cukup
mengagetkan. Sebab ternyata mayoritas
dosen yang mereka survei hanya
mendapatkan gaji bersih kurang dari Rp3
juta per bulan meskipun mereka sudah
bekerja lebih dari 6 tahun. Bahkan nasib
para dosen yang mengajar di kampus
swasta lebih parah karena ada yang
menerima gaji bersih kurang dari R juta
per bulannya.
Penelitian serupa juga dilakukan oleh
akademisi dari UGM, UI, dan Universitas
Mataram terhadap 1200 partisipan dosen
aktif yang menunjukkan ada sebanyak
42,9%
hampir setengah dari totalnya gitu ya.
Dosen-dosen tersebut menerima pendapatan
tetap di bawah 33 juta per bulan.
Gajinya di bawah Rp3 juta per bulan. Dan
untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup,
para dosen ini akhirnya mencari sumber
pendapatan lain seperti menjadi
narasumber eh mendapatkan intensif
publikasi, pekerjaan enggak tetap yang
sebenarnya enggak harus dia lakukan
lagi. Terus, Geng, ada sebanyak
53,6%-nya
mengaku cuma mendapatkan pemasukan
tambahan kurang dari R juta per bulan.
Nah, ini kan miris banget, Geng. dosen
yang berperan penting untuk mencerdaskan
bangsa, apalagi di jencang perkuliahan
ya benar-benar dituntut untuk
mencerdaskan tapi di upah sekecil
mungkin. Ya, gimana caranya bisa negara
ini maju gitu untuk pendidikannya aja
dipangkas-pangkas giliran untuk ngebayar
stafsus yang enggak penting gitu kan
makin banyak aja gitu. Nah, inilah
anehnya. Dan oleh karena itu dosen-dosen
tersebut bekerja sampingan demi bisa
memenuhi kebutuhan hidup. Mulai dari
menjadi konsultan, mengerjakan proyek,
tenaga ahli, komisaris. Jadi mereka
tidak lagi ee terlalu fokus menjadi
seorang tenaga pengajar. Bahkan sempat
nih kita bahas ee ada dosen yang sampai
jadi joki, padahal hal tersebut enggak
boleh dilakukan oleh dosen ya, joki
skripsi ya. Apalagi alasannya kalau
bukan karena ya upah mereka kurang,
tidak cukup. Dan hal ini menciptakan
sebuah kondisi yang tidak ideal di dunia
akademis. Sebab dosen tidak lagi
berfokus untuk membimbing mahasiswa,
melakukan penelitian, menulis publikasi,
atau mengabdi ke masyarakat, tapi justru
fokusnya terpecah karena mereka harus
mengisi perut mereka yang pendapatannya
serba kekurangan. Ya, makanya pada
akhirnya ya lihatlah pendidikan di
negara kita. Bahkan sekarang ada anak
SMP, SMA yang enggak bisa perkalian. Nih
kalian coba cek aja nih. Anak SMP, SMA
gak bisa kali-kali bagi. Matematikanya
anjlok banget.
E 6 + 10
6 + 10 60
+ 6 +
60 30.
Nah, oke. Dari sini kita bisa nilai ya
betapa mirisnya lah. Itu baru yang
pertama. Oke, kita masuk sekarang yang
kedua ya. Faktor cari kerja yang sulit
di Indonesia.
[Musik]
Jadi, Geng, berdasarkan data dari Badan
Pusat Statistik atau BPS, tingkat
pengangguran terbuka atau TPT di
Indonesia di bulan Agustus 2023 aja udah
mencapai 7,86 juta orang.
Gila, 7 juta orang nganggur. Dan kalau
dibandingkan di masa COVID angkanya
menurun memang. Tapi kalau dibandingkan
di tahun sebelum COVID angkanya jauh
lebih tinggi. Di bulan Agustus 2019
jumlah pengangguran di Indonesia
sebanyak 7,10 juta orang. Nah, jadi
sudah meningkat sebanyak 70.000an orang
di tahun 2023. Tenaga kerja yang terus
meningkat setiap tahunnya tidak sejalan
dengan kesempatan kerja yang ada.
Perusahaan-perusahaan enggak bisa
membendung tenaga kerja yang banyak
tersebut. Oleh karena itu, pengangguran
terus bertambah. Sementara penyerapan
tenaga kerja baru juga melemah. Belum
lagi karena banyak yang diphk dan ini
terjadi karena beberapa alasan yang mana
waktu itu karena COVID terus berlanjut
karena kebijakan impor di Indonesia yang
mana barang-barang dari luar negeri ya
harganya dijual lebih murah sehingga
mematikan industri dalam negeri yang
kemudian berdampak pada tenaga kerja
yang terus kena PHK. Nah, terus kemarin
ramai lagi banyak yang di PHK karena
kebijakan efisiensi anggaran. Ya,
kalaupun sudah dapat kerja belum tentu
hidupnya sejahtera. Karena gaji yang
mereka peroleh itu hanya cukup untuk
bertahan hidup dan enggak bisa dipakai
untuk menabung karena uangnya habis
untuk kebutuhan sehari-hari. Dan gajinya
segitu-gitu aja sementara biaya
kebutuhan yang terus naik melonjak
seiring berjalannya waktu.
[Musik]
Pemerintah sebenarnya sudah berusaha
untuk menangkal segala permasalahan
tersebut yang salah satu contohnya
adalah memberikan beasiswa LPDP.
Beasiswa ini diperuntukkan bagi
mahasiswa Indonesia yang ingin
melanjutkan pendidikan di dalam maupun
luar negeri. Nah, tapi orang-orang yang
memilih untuk belajar di luar negeri
diharapkan untuk kembali ke Indonesia
agar bisa berkontribusi untuk negara
dengan ilmu yang sudah mereka dapatkan
ketika belajar di luar negeri. Cuma,
Geng, ada banyak dari mahasiswa penerima
LPDP yang memilih untuk tidak balik ke
Indonesia. udah kuliahnya pakai dana
dari negara, tapi malah mengabdi untuk
negara lain. Nah, isu ini sempat menjadi
ramai dan banyak yang menyayangkan.
Mereka yang mendapatkan LPDP tidak
kunjung kembali ke Indonesia padahal
beasiswa tersebut diambil dari pajak
yang dibayarkan oleh masyarakat dan
ujung-ujungnya tetap enggak ada dampak
yang bisa mereka dapatkan. Ya, untuk apa
dikasih gitu. Nah, cuma geng pilihan
tersebut juga diambil oleh
mahasiswa-mahasiswa tersebut karena
mereka merasa kalau mereka akan
kesulitan mendapatkan pekerjaan
mengingat sedikitnya kesempatan kerja di
Indonesia dengan kualitas hidup yang ya
kurang memadai. Nah, sementara di negara
orang lain mereka bisa belajar peluang
kerja yang ditawarkan jauh lebih besar.
Ya, pastilah mereka akan memilih untuk
bekerja di sana dibanding harus pulang
ke Indonesia.
Nah, bayangin geng. Orang-orang
terpelajar di negara kita pada akhirnya
memilih untuk pindah ke luar negeri dan
mengabdi untuk negara orang lain.
Otomatis Indonesia akan mengalami brain
drain yang gua sebutkan tadi. Ya,
orang-orang pintarnya pada cabut, yang
tersisa ya ya gitulah yang tersisa ya.
Dan negara kita akan mandek di situ-situ
aja jalan di tempat. sektor
pendidikannya tidak berkembang,
perekonomiannya juga enggak berkembang
karena semua orang yang ahli di
bidang-bidang tersebut sudah tidak mau
lagi berada di negara kita. Nah, salah
satu negara tujuan bagi orang Indonesia
yang bertalenta unggul adalah Singapura.
Mereka beramai-ramai datang ke Singapura
membangun negara tersebut dengan upah
yang memadai. Di Singapura ada sebuah
program pendidikan yang memberikan
tawaran beasiswa yang salah satunya
diperuntukkan untuk pemenang Olimpiade
Sains Internasional. Mereka akan
mendapatkan pendidikan yang berkualitas
secara gratis. Namun syaratnya adalah
mereka harus bekerja di Singapura
setelah lulus. Enggak boleh pulang ke
negara mereka lagi. Nah, jangan salah,
Geng. Walaupun wajib bekerja di sana,
gaji yang akan mereka dapatkan gila
banget. Udah hidup lu udah sejahtera,
keluarga lu aman, enggak perlu sedih.
Dan itulah yang diharapkan oleh semua
orang. Program beasiswa yang diberikan
oleh Singapura tersebut memang menjadi
salah satu fokus negara tersebut yang
menaruh perhatian terhadap pentingnya
sumber daya manusia untuk bisa memajukan
negara mereka walaupun negara mereka
kecil. Enggak terkecuali bagi mereka
yang bukan warga negara Singapura.
Sehingga pemerintah Singapura membuat
berbagai beasiswa untuk menyaring
orang-orang berprestasi dari seluruh
dunia. Jadi niatnya itu orang pintar
semuanya harus ada di Singapura. Tuh.
Kalau di negara Konoha sana yang harus
berkumpul di negara ini adalah sultan.
Sultan inilah, sultan Depok lah, sultan
gitu-gitu deh. Nah, bukan orang
pintarnya. Berdasarkan catatan
Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan
selama tahun 2019 sampai 2023, jumlah
warga negara Indonesia yang pindah
menjadi warga negara Singapura hampir
1000 orang per tahun. Dan di bulan
Januari sampai Oktober 2024 aja udah ada
978 orang yang melepas status warga
negara Indonesia dan mereka memilih
untuk menjadi warga Singapura. Nah,
salah satu hal yang bikin mereka
tertarik juga untuk jadi warga negara
Singapura adalah paspornya. Ketika
mereka memegang paspor Singapura, mereka
tuh mudah gitu mau jalan-jalan ke
mana-mana. Sementara paspor kita yang
berwarna biru itu kalau masuk ke negara
orang di under estimate banget kayak,
"Ah, negara apa nih?" gitu. Kurang lebih
seperti itulah fenomenanya.
[Musik]
Nah, dari faktor yang kedua ini aja kita
udah bisa nilai ya, Geng ya. Kenapa ya
alasan terkuatlah banyak orang yang
meninggalkan tanah air. Nah, hal yang
sama juga terjadi e kepada seorang warga
negara Indonesia yang tinggal di Jepang.
Jadi, Jepang selama ini menjadi salah
satu negara yang menjadi tujuan bagi
orang Indonesia untuk bisa bekerja, mau
itu di pekerjaan level menengah sampai
atas. Dan biasanya orang Indonesia akan
melewati program magang atau melalui
program specified skill workers atau
SSW, yaitu kategori visa kerja di Jepang
yang diberikan untuk tenaga kerja dengan
keahlian tertentu. Nah, namun setelah
program magang selesai, banyak warga
negara Indonesia yang memilih untuk
enggak balik ke Indonesia. Agak beda
case-nya nih dengan di Singapura. WNI
yang memilih menetap di Jepang ini ada
yang memilih untuk berganti warga negara
sehingga izin tinggalnya habis dan
dikategorikan sebagai imigran ilegal.
Nah, tapi alasannya karena mereka ini
merasa kalau gaji yang mereka dapatkan
dan standar hidup di Jepang itu jauh
lebih baik dan peluang kerja yang lebih
tinggi dibandingkan di Indonesia. Proses
administrasi untuk pulang ke Indonesia
juga cukup rumit dan memakan biaya. Dan
mereka pun mulai merasa nyaman untuk
tinggal di Jepang lalu mendapatkan
pengaruh dari sesama pekerja imigran
yang tinggal di sana yang tergabung
dalam komunitas. Nah, jadi karena mereka
punya teman sesama imigran yang tidak
mau pulang lagi, ya udah jadi ikutan
enggak mau pulang dan merasa aman karena
mereka juga enggak sendirian di sana
meskipun statusnya ilegal.
[Musik]
Dengan melihat fenomena ya banyaknya
anak muda sekarang yang memilih untuk
stay di luar negeri menjadi sebuah
ancaman serius sebenarnya bagi
keberlangsungan negara kita. Bisa-bisa
visi Indonesia Emas 2045 yang enggak
bakal tercapai karena anak-anak muda
yang seharusnya menjadi penerus bangsa
sudah enggak mau untuk tinggal di
Indonesia apalagi untuk berkontribusi ya
bagi negara. Mereka semua merasa kecewa
dengan situasi Indonesia yang semakin
hari semakin memburuk dan menilai kalau
pemerintah tidak kunjung menyelesaikan
segala permasalahan dengan serius untuk
membenahi kesejahteraan masyarakat dan
juga kebobrokan di ee badan
pemerintahan. Hal yang sama juga
diungkapkan oleh visiting senior Fillow
Yusuf Ishak Institute atau disingkat
dengan ICS atau tulisannya ISAS yang ada
di Singapura yang bernama Pak Yanuar
Nugroho. Beliau mengatakan fenomena tren
kabur aja dulu menjadi responsga
Indonesia khususnya anak-anak muda yang
berumur di bawah 40 tahun yang merasa
situasi dan kondisi hidup di Indonesia
semakin lama semakin buruk, sulit, dan
tidak pasti. Dan enggak jelas, respon
seperti ini bukan hanya dipicu dari
faktor ekonomi seperti sulitnya mencari
pekerjaan, enggak adanya kepastian
kerja, dan buruknya sistem perlindungan
sosial, melainkan juga mengenai
permasalahan sosial, politik, dan
lingkungan. Geng, dari segi lingkungan,
generasi muda Indonesia merasa kecewa
karena kualitas hidup di Indonesia dari
sudut pandang lingkungan sangat buruk.
Kemudian dari segi politik, mereka juga
merasa pemimpin saat ini tidak sesuai
dengan yang mereka harapkan. Terbukti
dari kebijakan-kebijakan yang dibuat
cenderung tidak memikirkan masyarakat
dan semacam dibuat tergesa-gesa dan
banyak merugikan pihak-pihak atau
masyarakat. Yang pada akhirnya ini akan
berdampak di setiap aspek kehidupan kita
sebagai warga negara Indonesia. Semua
kekecewaan tersebut pada akhirnya
terakumulasi dan membuat anak-anak muda
menjadi muak untuk terus tinggal di
negara sendiri. Faktor eksternalnya juga
karena saat ini banyak negara maju yang
membutuhkan warga negara baru. Karena
populasi penduduk mereka yang sudah
menua mulai berkurang. ya seperti salah
satunya Jepang dan beberapa negara di
Skandinavia yang sehingga orang
Indonesia pada akhirnya mencoba untuk ya
pindah ke sana mencari peruntungan. Nah,
fenomena seperti ini bukanlah sebuah hal
yang baru. Negara-negara berkembang lain
seperti India, Pakistan, Vietnam, dan
beberapa negara Afrika pernah mengalami
hal serupa. Khususnya ketika negara
tersebut masih berada dalam situasi
sulit sampai akhir tahun 1990-an dan
sekarang giliran kita Indonesia.
Alasannya ya kurang lebih sama untuk
mencari kehidupan yang lebih baik.
Bahkan ketika Donald Trump menang dan
menjadi presiden Amerika yang notabennya
adalah negara maju, mereka juga
mengalami migrasi penduduk karena ada
sejumlah anak muda yang memilih untuk
kabur ke Kanada, Selandia Baru,
Australia, dan kawasan Eropa karena
enggak suka dengan kebijakan-kebijakan
yang diterapkan oleh Trump selagi dia
menjabat sebagai presiden. Nah, jadi ya
tren pindah aja dulu ini pernah terjadi
di Amerika juga. Anak-anak mudanya cabut
dari Amerika gitu. Nah, tapi untuk
alasan tuh karena mereka gak suka dengan
kebijakan pemerintah. Bukan karena
kehidupan di sana miskin banget, susah
banget, enggak juga gitu. Terus pada
akhirnya fenomena ini bukan cuma dilihat
sebagai sebuah tren yang sedang
berkembang di anak muda aja, tapi juga
harus dilihat sebagai situasi yang harus
menjadi fokus pemerintah.
Permasalahannya begitu kompleks, sebab
selama ini pemerintah tidak pernah
dengan serius menanganinya. Sehingga
permasalahan ini hanya menumpuk dan
menjadi bom waktu untuk menunggu ya
meledak. Begitu banyak PR bagi
pemerintah dan memang sudah menjadi
tugas pemerintah untuk bisa
mensejahterakan rakyatnya. Ya, kalau
masyarakat sudah merasa sejahtera,
tenang, ya gua yakin enggak akan ada
lagi orang yang kepikiran untuk pindah
warga negara. Enggak harus nunggu
brainrain dulu baru pemerintah
bertindak, gitu ya. Justru sebelum itu
pemerintah harus memikirkan cara untuk
mencegah ini semua.
Oke, itu dia, Geng pembahasan kita hari
ini mengenai tren kabur aja dulu yang
lagi ramai diperbincangkan di kalangan
anak muda Indonesia. Gimana menurut
kalian? Apa di antara kalian sempat
kepikiran untuk pindah negara juga? Coba
tinggalkan komentar di bawah.
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:14:30 UTC
Categories
Manage