Kind: captions Language: id Dan dari data yang berhasil Fahmi kumpulkan, diketahui kalau tren ini berawal dari sebuah akun X dengan username Amora Cesa. Ya, tulisannya kayak gini. Kalian lihat sendiri. Nah, ini tepat pertama dia buat itu tanggal 8 Januari tahun 2025. Kalau saat ini Indonesia itu kondisinya sedang tidak stabil. Walaupun ya pejabat-pejabat kita, pemerintah kita terus-terusan membuat statement, terus-terusan membuat e pernyataan kalau Indonesia semakin berkembang, ekonominya meningkat, meroket, baik-baik aja. Tapi pada kenyataannya kita sebagai rakyat yang merasakan ya banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan pernyataan tersebut. Dan kita semua dituntut untuk membayar hal-hal yang menurut gua semakin lama semakin mencekik ya. Pajaknya semakin tinggi, harga bahan pokoknya semakin mahal. Nah, namun pendapatan tidak naik-naik juga, malah yang ada semakin banyak dipotongnya. Yo, Geng. Tekan tombol subscribe, Gengs. Eo. What's good? Welcome back to Kamar Jerry, [Musik] Geng, Geng. lagi banyak banget nih, Geng, berseleweran di berbagai sosial media konten-konten yang membagikan pengalaman atau perjalanan orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri. Nah, mau itu yang formatnya video ataupun tulisan doang. Namun, ada yang menarik nih, Geng, dari konten-konten tersebut. Karena mereka menyelipkan sebuah tagar atau tanda pagar hashtag eh tulisannya tuh kabur aja dulu. Dan semakin hari semakin ramai nih yang membuat konten kabur aja dulu. Dan memang yang membuat konten ini kebanyakan adalah anak-anak muda atau generasi muda yang range umurnya antara 20-an sampai yang tua awal 40-an. Gua berpikir nih, Geng, ya. Pas lihat kontennya itu tren kabur aja dulu. Dan itu pada awalnya gua pikir cuma konten berbagi tips untuk berpergian ke luar negeri, sekedar liburan atau bagaimana cara untuk mendapatkan ee apa ya ee pendidikan di luar negeri atau kerja di luar negeri. Tapi setelah gua cari tahu lebih dalam, ternyata tren kabur aja dulu ini sangat erat kaitannya dengan bagaimana kondisi negara kita dan tren tersebut menjadi solusi atau jalan keluarnya. Dan ini cukup menarik untuk gua bahas dan informasi ini akan gua bagikan ke kalian mulai dari penjelasan apa sih itu tren e kabur aja dulu. Tapi sedikit clue ya gua kasih ya. Jadi sekarang itu anak-anak muda sudah berpikir negara kita ini udah enggak worth untuk dijadikan tempat tinggal. Indonesia udah enggak layak lagi untuk mereka menaruh harapan untuk masa depan yang lebih cerah atau untuk kehidupan yang lebih baik. Menurut mereka udah enggak ada harapan lagi dan mereka merasa ya orang-orang yang ikut tren ini hidup di luar negeri jauh lebih terjamin, jauh lebih manusiawi, dan kualitas hidup mereka jauh lebih dihargai. Nah, jadi kurang lebih kayak gitu, Geng. Nah, seperti apa sih ya tren ini dan benarkah banyak orang yang sudah melakukannya? Sekarang langsung aja kita bahas di sisi lain. [Musik] Oke, kita langsung masuk ke dalam pembahasan utamanya. [Musik] Jadi, Geng sebulan terakhir ini tren kabur aja dulu lagi ramai banget di sosial media. Ada yang ng-post di X, ada juga yang nge-post di TikTok, bahkan ada yang nge-post di Instagram. Kalau di YouTube gua masih jarang ngelihat. Semakin hari konten-konten Kabur aja dulu ini semakin banyak di-share atau di-publish, dibagikan oleh orang-orang. Dan seperti yang gua katakan sebelumnya, gua pikir tren ini cuma untuk memberikan informasi mengenai bagaimana cara mengurus paspor, visa, atau kebutuhan untuk hidup di luar negeri dan informasi-informasi yang mungkin hanya bersifat sementara gitu. Nah, tapi ternyata tren ini lebih daripada itu. Ada alasan kenapa orang Indonesia yang sekarang berada di luar negeri membagikan hal tersebut. Nah, sebelum kita masuk ke dalam alasannya, gua bakal bercerita dulu nih, Geng, pengalaman-pengalaman dari orang-orang Indonesia yang saat ini sudah berada di luar negeri. Jadi, informasi ini gua ambil dari media BBC yang berhasil mewawancarai seorang warga negara Indonesia yang bernama Fajar Zakri. Nah, dia ini dari tahun 2021 sampai 2024, Fajar ini sudah mulai melakukan riset dan perencanaan untuk pergi ke luar negeri. Ada lima negara yang dia jadikan opsi, yaitu Australia, Jerman, Finlandia, Swedia, dan Singapura. Dia banyak bertanya ke teman-temannya yang sudah lebih dulu pindah ke Australia dan Jerman. Tapi dia juga mencari tahu untuk pindah ke Singapura itu bagaimana. Ya, ini kan negara yang paling dekat dengan negara kita gitu. Karena di negara tersebut banyak orang Indonesia juga yang sudah pindah ke sana. Untuk di Finlandia dan Swedia, pertimbangannya Fajar ini memilih dua negara tersebut. Karena baik Finlandia dan Swedia, taraf hidupnya jauh lebih baik. Jadi kalau kalian merasa sekarang hidup kalian di Indonesia nyaman, kalau kalian menjadi orang Finlandia, kalian tuh benar-benar apa ya? Berharga banget jadi manusia gitu. Sesejahtera itulah kehidupan di sana. Di antara lima negara tersebut tadi gak ada satuun yang Fajar ambil karena dia pada akhirnya pergi ke Amerika Serikat karena di saat itu dia mendapatkan kesempatan kerja di sana. Nah, jadi dia udah riset lima negara yang menurut dia wah enak nih buat tinggal. Tapi ujung-ujungnya ya dia realistis juga. Di mana tempat yang menyediakan pekerjaan ya ke sana dia akan pergi yaitu Amerika Serikat. Singkat cerita nih geng selama 4 tahun dia ini bekerja sebagai penulis musik. jadi songwriter untuk salah satu majalah online yang dibuat oleh warga kulit hitam Amerika Serikat. Dan di tahun 2024 pemimpin redaksinya meminta agar Fajar untuk pindah ke Amerika Serikat. Fajar ini bukan seseorang yang berasal dari kalangan keluarga menengah ke atas atau kaya raya. Bahkan dia menjadi generasi sandwich dengan menjadi tulang punggung bagi keluarga. Semuanya dia yang biayai dan setiap bulannya dia bisa mengirimkan uang sebesar Rp juta bagi keluarganya. Cuma di saat itu Fajar mengaku kepindahannya ke Amerika Serikat bukanlah sebuah hal yang mudah. Karena beberapa kali dia mendapatkan perlakuan diskriminatif dari orang-orang lokal Amerika sana. Ya, karena apa ya? Kayak kita tuh sebagai orang Asia tuh dianggap agak kasta rendah lah karena kita badannya kecil terus ya berbeda warna kulit, berbeda mata. Mungkin kalau kita di Indonesia ngelihat orang Chinese yang sipit, tapi kalau kita di Amerika semuanya termasuk kita nih yang apa kulit sama matang gini nih. Menurut orang bule di sana kita juga sipit gitu. Semuanya Cina menurut mereka. Nah, jadi kurang lebih kayak gitu makanya dirasisin. Nah, tapi menurut dia kehidupan dia di Amerika ya lebih terjamin dan jauh lebih baik daripada di Indonesia. Dan akhirnya dia memilih untuk stay di sana. Gimana kebutuhan emosionalku terpenuhi dan kebutuhan kebutuhan lainnya terpenuhi juga. Nah, itu baru satu cerita ya si Fajar. Oke, kita masuk ke pengalaman yang lain lagi. Nanti di endingnya baru kita bakal bahas kenapa ada tren kabur aja dulu. Oke, cerita yang kedua ini datang dari Dini Adriani yang sekarang berada di Changiangmai, Thailand. Nah, dia berada di sana karena 3 tahun lalu dia ini mendapatkan beasiswa S2 untuk program ilmu pembangunan dari salah satu universitas yang ada di Siangmai. Pada tahun 2024, Dini ini menyelesaikan pendidikannya dan mendapatkan kesempatan untuk menjadi seorang guru privat di salah satu sekolah internasional swasta di sana. Dan karena memiliki background sebagai seorang pekerja sosial menjadi guru bayangan atau shadow teacher bagi murid berkebutuhan khusus yaitu ADHD. Nah, dia menjalani hal tersebut sebelum Dini ini melanjutkan pendidikannya di Thailand. Dia ini sempat bekerja di kantor pemerintahan dan merasakan kalau gajinya itu enggak cukup. Nah, jadi sebelum dia ke Thailand tuh dia kerja di pemerintahan Indonesia. Menurut dia tuh enggak layak gajinya. Dan setelah Dini ini bekerja di Thailand, dia merasa mendapatkan gaji yang cukup besar yaitu 21.000 bat atau setara dengan Rp10 juta. Kurang lebih dengan biaya hidup yang sama atau justru relatif lebih murah daripada ketika dia tinggal di Indonesia. Nah, cuma memang banyak kendala yang Dini rasakan ketika dia menetap di Thailand. Yang mana sebagai seorang muslim, Dini ini kesulitan untuk mencari masjid, kesulitan untuk mencari makanan halal di daerah tempat dia tinggal. Walaupun sebenarnya ya di Thailand sendiri muslimnya juga ada gitu. Kampung muslim Melayunya juga ada. Mungkin dia tinggal di daerah yang memang kebetulan banyak nonmuslimnya. Nah, beruntungnya pihak universitas memberikan kesempatan bagi mereka yang memeluk agama minoritas untuk bisa menjalankan ibadah seperti orang Islam harus salat. Nah, biasanya di negara-negara yang agama Islamnya menjadi minoritas, banyak sekali kasus di mana orang Islam enggak boleh break dari kelas atau break dari kerja untuk melaksanakan salat. Nah, tapi pihak universitas tempat Dini bekerja saat ini memberikan kelonggaran itu. Jadi, ada toleransinya. Nah, jadinya Dini pun akhirnya betah untuk tinggal di sana ketimbang dia harus kembali ke Indonesia. Di Indonesia sekarang sedang tidak baik-baik saja. Kemudian tagar kabur aja dulu semakin menyeruak dan kemudian diinterpretasikan oleh orang-orang yang Oke, itu cerita kedua tuh ya. Cerita kedua sebelum kita masuk ke tren kabur aja dulu. Terus geng ada lagi cerita ini dari seseorang yang bernama Joseph Pradipta. Dia ini berasal dari Semarang dan sudah merantau ke Korsel sejak tahun 2019. Saat itu dia memutuskan untuk pindah ke Korsel karena dia merasa karirnya mandek ketika bekerja di media olahraga. Ditambah lagi dia merasa kalau gajinya hanya habis untuk keperluan ongkos sehari-hari. Dan selain itu, Joseph juga merasakan kalau skillnya di dalam videografi sudah cukup sehingga dia bisa melanjutkan jenjang karirnya yang lebih tinggi lagi. Sama seperti dua cerita yang sebelumnya, kehidupan Josep selama di Corsel enggak bisa dikatakan langsung mulus begitu aja karena dia kesulitan untuk menguasai bahasa Korea yang mana sebelumnya dia sama sekali enggak memahami bahasa tersebut. Nah, biasanya orang-orang seperti ini akan berangkat ke negara lain dengan bermodalkan bahasa internasional yaitu bahasa Inggris. Nah, namun di sisi lain hal itulah yang membuat dia terus berusaha untuk bisa menguasai bahasa Korea, Geng. Dan hal yang terjadi kepada Josep itu mirip seperti yang terjadi kepada Fajar yang dicerita sebelumnya yang mana dia merasakan adanya sentimen rasis terhadap dia. Contohnya ketika dia berada di fasilitas umum seperti kereta. Gak ada yang mau duduk di sebelah dia karena fisiknya berbeda. Nah, terus juga selama dia tinggal di Korsel semuanya harus dilakukan sendiri. ke dokter sendiri, ngurus pajak sendiri, ngurus visa sendiri, dan itu semua dilakukan di negara asing. Tapi saat ini Joseph mengaku sudah beradaptasi dengan semua itu. Sentimen rasis yang dia rasakan sebelumnya juga perlahan-lahan mulai hilang seiring dengan Josep yang sudah menguasai bahasa Korea. Nah, jadi orang-orang tuh enggak merasa curiga lagi dengan dia. Sampai pada akhirnya hal-hal yang di awalnya apa ya? buat dia berat untuk meninggalkan Indonesia, buat dia sangat berat untuk tinggal di luar negeri. Akhirnya semuanya sirna, akhirnya semuanya selesai gitu ya. Dan dia merasakan kayaknya memang jauh lebih baik ya gua tinggal di negara orang ketimbang balik ke negara gua sendiri. Memang awalnya pahit, tapi itu semua dikarenakan karena dia belum beradaptasi. Tapi setelah dia beradaptasi, dia merasakan jauh lebih baik tinggal di negara orang. Sebagai seorang manusia, dia lebih dimanusiakan. Kurang lebih kayak gitu pemikirannya. Indonesia kondisinya kayak gini dan kalau ditanya sih mau balik apa enggak nantinya ya kayaknya enggak balik ke Indonesia. Nah, jadi geng ada tiga contoh cerita yang udah gua sampaikan ke kalian ya. Nah, dari sekian cerita orang Indonesia yang saat ini berada di luar negeri, gua ambil tiga contoh itu aja karena ya berbeda-beda lokasinya gitu ya. Yang satunya di Amerika, yang satunya di Thailand, yang satunya lagi di Corsel. Kalau diceritakan semua, gua rasa durasinya enggak akan cukup gitu. Jadi gua ambil tiga sampel itu aja. Dan gua rasa juga udah cukup untuk menggambarkan bagaimana tren kabur aja dulu ini menjadi salah satu tren yang pada akhirnya digembar-gemborkan oleh generasi muda Indonesia karena merasa banyak orang Indonesia yang sudah di luar negeri dan hidupnya lebih terjamin. Nah, tapi ya yang jadi pertanyaannya bagaimana ini semua bermula? Siapa yang pertama kali membuat tren ini dan bagaimana bisa tren ini menjadi viral? Sekarang kita akan masuk ke dalam pembahasan mengenai mencuatnya tren kabur aja dulu hingga menjadi viral seperti sekarang. [Musik] Jadi, Geng, dari sekian banyak anak muda yang meramaikan tren kabur aja dulu dengan hashtag gitu ya, timbullah sebuah pertanyaan. Siapa yang pertama kali mencetuskan tren ini dan kenapa bisa trennya menjadi ramai? Nah, jadi geng menurut informasi dari seseorang yang bernama Fahmi Ismail selaku pembuat drone Emprit. Nah, dia ini membeberkan beberapa fakta mengenai tren ini. Buat kalian yang enggak tahu ya, drone ini adalah sebuah alat yang digunakan untuk memonitor percakapan netizen yang ada di media sosial dan memonitor pemberitaan di media online berdasarkan keyword, nama, tokoh, dan sebuah peristiwa atau kejadian dengan menggunakan teknologi AI dan natural learning process atau NLP untuk menganalisa dan memonitor media sosial dari berbagai data. Nah, jadi dengan kecanggihan ini bisa dirunut atau dicari tahu dari mana awal mula atau asal berasal sebuah tren yang viral di media sosial. Fahmi Ismail ini yang membuat teknologi bernama drone tersebut. Dan di akun X pribadinya, Fahmi mengumpulkan berbagai data untuk bisa menganalisa tren kabur aja dulu. Dan dari data yang berhasil Fahmi kumpulkan, diketahui kalau tren ini berawal dari sebuah akun X dengan username Amora Cesa. Ya, tulisannya kayak gini, kalian lihat sendiri. Nah, ini tepat pertama dia buat itu tanggal 8 Januari tahun 2025. Namun dari tren yang dibuat oleh akun tersebut, Fahmi mengatakan kalau enjudement-nya kecil banget. Jadi belum viral-viral banget, Geng. Pada saat itu. Nah, tren ini bisa viral setelah diangkat oleh akun X yang lain, yaitu akun HRD Bacot pada tanggal 14 Januari tahun 2025. Dan sekedar informasi ya, akun HRD bacot ini kalau di X menjadi wadah bagi para karyawan untuk berkeluh kesah dan memberikan informasi mengenai perusahaan-perusahaan mereka di saat mereka penat bekerja, pusing, dan lain-lain. Jadi dialah yang me-erepost itu dan membuat hal itu viral. Terus, Geng, trennya berlanjut lagi dan viral ketika seseorang dengan akun X Berlian Idris membagikan konten tersebut pada tanggal 6 Februari tahun 2025. Nah, jadi buat akun-akun terkait kalau kalian nonton video ini selamat ya kalian yang membuat tren ini jadi ramei. Terus dari data yang ada dikatakan ada lima orang yang membuat tren ini jadi populer menurut data yang didapatkan oleh Fahmi tadi yaitu pertama Berliani Idris, terus HRD Bacot, terus ada Indowork Abro, terus ada Rohalus, terus ada Petra Barus. Kebanyakan dari mereka yang membuat tren ini itu berusia antara 19 sampai 29 tahun, yaitu sebesar 50,81%. Lalu ada yang usianya kurang dari 18 tahun sebesar 38,10%. Kalau dilihat dari jenis kelaminnya, tren ini kebanyakan dipopulerkan oleh laki-laki sebesar 59,92% sementara perempuan sebesar 40,08%. Tapi sebenarnya ya agak imbang-imbang ya hampir gocap-gocap lah. Hampir fifty-fifty. Jadi semua kalangan ya men-support tren ini. Terus geng, Fahmi kembali meriset lebih dalam lagi mengenai tren ini dan menemukan fakta kalau awal mulanya tren ini sudah disuarakan sejak tahun 2023 yang dimulai sekitar tanggal 2 September oleh beberapa orang. Nah, orang-orang ini sama-sama memiliki background pekerjaan di bidang teknologi digital atau yang lebih dikenal dengan sebutan TCHB. Nah, kalau berdasarkan data tersebut berarti orang-orang dari kalangan TCHBro inilah yang pertama kali membuat tren kabur aja dulu di tahun 2023. Jadi udah ada semenjak itu yang mana orang-orang TBro ini pastilah merupakan tenaga kerja yang profesional yang sekarang sudah bekerja di luar negeri. Dan ini ada istilahnya yaitu brain drain, yaitu sebuah kondisi perpindahan tenaga kerja terampil dan profesional dari satu negara ke negara lain. Ya, seperti yang kita tahu ya, kebanyakan orang pintar di negara kita itu kuliah ke luar negeri. Kadang kuliahnya pakai beasiswa dari Indonesia, dari pajak Indonesia. Tapi ketika sudah lulus malah stay di sana, bekerja di sana. Ya, itu sebenarnya pilihan ya kan. Mereka butuh masa depan yang lebih baik ketimbang harus pulang ke tanah air sendiri. Yang diurusin gas LPG 3 kilo mesti ngantri. Yang diurusin ya aduh gitu-gitu deh. Enggak usah disebutin kalian udah paham lah. Intinya mereka lebih e bisa berkembang di negara orang ya. Akhirnya mereka melakukan itu tadi yaitu brain drain ya. Sebuah kondisi perpindahan tenaga kerja terampil dan profesional dari satu negara yaitu Indonesia ke negara lain. Nah biasanya brain drain ini terjadi ketika negara berkembang seperti Indonesia nih ya. kehilangan tenaga kerja terdidik seperti dokter, insinyur, ilmuan, dan tenaga ahli lainnya yang memilih bekerja di negara orang. Mulai dari situlah tren ini terus bergulir di internet dan menjadi sebuah fenomena baru yang kemudian menjadi sebuah tren yang banyak dibuat atau disuarakan oleh orang-orang Indonesia yang saat ini sedang ada di luar negeri. Dan apa sebenarnya alasan di balik digunakannya tren # kabur aja dulu ini? Apakah hanya sekedar tren untuk pindah ke luar negeri dan membanggakan hal tersebut sebagai sebuah prestasi? Ya kan atau buat gaya-gayaan? udah enggak ada Indonesia lagi gitu, udah enggak ada becek, ojek gitu kan ya biasanya gitu ya. Ya udah pindah ke luar negeri tuh tiba-tiba logatnya jadi berubah. Apakah sekedar itu doang atau hanya sekedar berbagi informasi mengenai bagaimana pengalaman belajar atau bekerja di luar negeri. Nah, ternyata alasannya jauh lebih dalam daripada itu. Dikatakan alasan mereka karena mereka kecewa yang mana mereka merasakan kondisi negara kita tuh yang benar-benar amburadul dipimpin oleh orang-orang yang enggak kompeten, pelawak-pelawak yang memberikan pernyataan di media itu ya berbelit-belit. Nah, sekarang kita akan masuk nih, Geng, ke dalam pembahasan mengenai alasan atau faktor mengapa tren kabur aja dulu bisa timbul di Indonesia dan banyak yang mengikuti. Udah banyak orang yang memilih pindah dari Indonesia ke luar negeri. Jadi, sepertinya saat ini orang Indonesia ke luar negeri itu enggak cuma mikir untuk menjadikan negara tersebut sebagai tempat wisata aja, tapi melainkan sebagai pertimbangan untuk melanjutkan hidup mereka dan menempuh pendidikan atau bekerja di sana. supaya mendapatkan ee masa depan yang lebih cerah. Dan sebenarnya di awal tadi gua udah spill sedikit-sedikit lah ya mengenai alasan mengapa tren ini bisa ada. Yang mana ini ada hubungannya dengan kondisi negara kita yang kebanyakan juga menjadi alasan bagi orang-orang Indonesia akhirnya memilih untuk pindah aja pergi ke luar negeri. Nah, tapi biar lebih jelas, gua bakal menjelaskan kepada kalian ee alasan-alasannya secara rinci gitu supaya lebih detail. Oke. Nah, kita mulai nih. Jadi, seperti yang kita tahu ya, kalau saat ini Indonesia itu kondisinya sedang tidak stabil. Walaupun ya pejabat-pejabat kita, pemerintah kita terus-terusan membuat statement, terus-terusan membuat e pernyataan kalau Indonesia semakin berkembang, ekonominya meningkat, meroket baik-baik aja. Tapi pada kenyataannya kita sebagai rakyat yang merasakan ya banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan pernyataan tersebut. Dan kita semua dituntut untuk membayar hal-hal yang menurut gua semakin lama semakin mencekik ya. pajaknya semakin tinggi, harga bahan pokoknya semakin mahal. Nah, namun pendapatan tidak naik-naik juga. Malah yang ada semakin banyak dipotongnya. Nah, beda dengan negara lain yang memang pajaknya tinggi tapi semua kebutuhan masyarakatnya terpenuhi. Mulai dari pendidikan, kesehatan, pekerjaan, bahkan sampai di hari tua kehidupan seorang anak manusia di sana sudah dijamin oleh negara. Jadi, pajaknya itu yang dibayarkan benar-benar dialokasikan untuk ya masa depan masyarakat, bukan untuk dikorupsi dan ya pejabatnya yang bersenang-senang. Sebenarnya ada beberapa faktor untuk bisa menjawab hal ini. Jadi, gua bakal membaginya menjadi beberapa poin nih, Geng. Nah, kita masuk ke dalam poin yang pertama soal pendidikan. [Musik] Jadi, geng, pendidikan di Indonesia bisa dikatakan tidak merata kalau dibandingkan antara satu pulau dengan pulau yang lain. Seperti yang kita tahu ya, kalau mau pendidikan yang maju kayaknya ya terpusatnya itu hanya di Pulau Jawa dan itu pun enggak semua wilayah di Pulau Jawa. Ditambah lagi kalau sudah masuk bangku kuliah biayanya semakin mahal sekalipun di universitas negeri yang mana dikelola oleh pemerintah. Tapi jangan kalian pikir biaya kuliah yang mahal itu menguntungkan para dosennya dan mengira dosen-dosen itu lebih sejahtera karena digaji lebih besar dibandingkan dengan guru. Nah, karena anggapan itu salah besar. Pada tanggal 2 Mei tahun 2024 yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Serikat Pekerja Kampus atau SPK yang beranggotakan sebanyak 400 dosen dan tenaga kependidikan di perguruan tinggi meluncurkan polisi brief yang berjudul gaji minimum. Nah, beban kerja maksimum. Di mana dalam pernyataannya SPK menggugat nasib kesejahteraan dosen dan staf pendidikan perguruan tinggi yang masih jauh dari ideal. SPK melakukan penelitian kuartal pertama tahun 2023 yang hasilnya cukup mengagetkan. Sebab ternyata mayoritas dosen yang mereka survei hanya mendapatkan gaji bersih kurang dari Rp3 juta per bulan meskipun mereka sudah bekerja lebih dari 6 tahun. Bahkan nasib para dosen yang mengajar di kampus swasta lebih parah karena ada yang menerima gaji bersih kurang dari R juta per bulannya. Penelitian serupa juga dilakukan oleh akademisi dari UGM, UI, dan Universitas Mataram terhadap 1200 partisipan dosen aktif yang menunjukkan ada sebanyak 42,9% hampir setengah dari totalnya gitu ya. Dosen-dosen tersebut menerima pendapatan tetap di bawah 33 juta per bulan. Gajinya di bawah Rp3 juta per bulan. Dan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, para dosen ini akhirnya mencari sumber pendapatan lain seperti menjadi narasumber eh mendapatkan intensif publikasi, pekerjaan enggak tetap yang sebenarnya enggak harus dia lakukan lagi. Terus, Geng, ada sebanyak 53,6%-nya mengaku cuma mendapatkan pemasukan tambahan kurang dari R juta per bulan. Nah, ini kan miris banget, Geng. dosen yang berperan penting untuk mencerdaskan bangsa, apalagi di jencang perkuliahan ya benar-benar dituntut untuk mencerdaskan tapi di upah sekecil mungkin. Ya, gimana caranya bisa negara ini maju gitu untuk pendidikannya aja dipangkas-pangkas giliran untuk ngebayar stafsus yang enggak penting gitu kan makin banyak aja gitu. Nah, inilah anehnya. Dan oleh karena itu dosen-dosen tersebut bekerja sampingan demi bisa memenuhi kebutuhan hidup. Mulai dari menjadi konsultan, mengerjakan proyek, tenaga ahli, komisaris. Jadi mereka tidak lagi ee terlalu fokus menjadi seorang tenaga pengajar. Bahkan sempat nih kita bahas ee ada dosen yang sampai jadi joki, padahal hal tersebut enggak boleh dilakukan oleh dosen ya, joki skripsi ya. Apalagi alasannya kalau bukan karena ya upah mereka kurang, tidak cukup. Dan hal ini menciptakan sebuah kondisi yang tidak ideal di dunia akademis. Sebab dosen tidak lagi berfokus untuk membimbing mahasiswa, melakukan penelitian, menulis publikasi, atau mengabdi ke masyarakat, tapi justru fokusnya terpecah karena mereka harus mengisi perut mereka yang pendapatannya serba kekurangan. Ya, makanya pada akhirnya ya lihatlah pendidikan di negara kita. Bahkan sekarang ada anak SMP, SMA yang enggak bisa perkalian. Nih kalian coba cek aja nih. Anak SMP, SMA gak bisa kali-kali bagi. Matematikanya anjlok banget. E 6 + 10 6 + 10 60 + 6 + 60 30. Nah, oke. Dari sini kita bisa nilai ya betapa mirisnya lah. Itu baru yang pertama. Oke, kita masuk sekarang yang kedua ya. Faktor cari kerja yang sulit di Indonesia. [Musik] Jadi, Geng, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik atau BPS, tingkat pengangguran terbuka atau TPT di Indonesia di bulan Agustus 2023 aja udah mencapai 7,86 juta orang. Gila, 7 juta orang nganggur. Dan kalau dibandingkan di masa COVID angkanya menurun memang. Tapi kalau dibandingkan di tahun sebelum COVID angkanya jauh lebih tinggi. Di bulan Agustus 2019 jumlah pengangguran di Indonesia sebanyak 7,10 juta orang. Nah, jadi sudah meningkat sebanyak 70.000an orang di tahun 2023. Tenaga kerja yang terus meningkat setiap tahunnya tidak sejalan dengan kesempatan kerja yang ada. Perusahaan-perusahaan enggak bisa membendung tenaga kerja yang banyak tersebut. Oleh karena itu, pengangguran terus bertambah. Sementara penyerapan tenaga kerja baru juga melemah. Belum lagi karena banyak yang diphk dan ini terjadi karena beberapa alasan yang mana waktu itu karena COVID terus berlanjut karena kebijakan impor di Indonesia yang mana barang-barang dari luar negeri ya harganya dijual lebih murah sehingga mematikan industri dalam negeri yang kemudian berdampak pada tenaga kerja yang terus kena PHK. Nah, terus kemarin ramai lagi banyak yang di PHK karena kebijakan efisiensi anggaran. Ya, kalaupun sudah dapat kerja belum tentu hidupnya sejahtera. Karena gaji yang mereka peroleh itu hanya cukup untuk bertahan hidup dan enggak bisa dipakai untuk menabung karena uangnya habis untuk kebutuhan sehari-hari. Dan gajinya segitu-gitu aja sementara biaya kebutuhan yang terus naik melonjak seiring berjalannya waktu. [Musik] Pemerintah sebenarnya sudah berusaha untuk menangkal segala permasalahan tersebut yang salah satu contohnya adalah memberikan beasiswa LPDP. Beasiswa ini diperuntukkan bagi mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan di dalam maupun luar negeri. Nah, tapi orang-orang yang memilih untuk belajar di luar negeri diharapkan untuk kembali ke Indonesia agar bisa berkontribusi untuk negara dengan ilmu yang sudah mereka dapatkan ketika belajar di luar negeri. Cuma, Geng, ada banyak dari mahasiswa penerima LPDP yang memilih untuk tidak balik ke Indonesia. udah kuliahnya pakai dana dari negara, tapi malah mengabdi untuk negara lain. Nah, isu ini sempat menjadi ramai dan banyak yang menyayangkan. Mereka yang mendapatkan LPDP tidak kunjung kembali ke Indonesia padahal beasiswa tersebut diambil dari pajak yang dibayarkan oleh masyarakat dan ujung-ujungnya tetap enggak ada dampak yang bisa mereka dapatkan. Ya, untuk apa dikasih gitu. Nah, cuma geng pilihan tersebut juga diambil oleh mahasiswa-mahasiswa tersebut karena mereka merasa kalau mereka akan kesulitan mendapatkan pekerjaan mengingat sedikitnya kesempatan kerja di Indonesia dengan kualitas hidup yang ya kurang memadai. Nah, sementara di negara orang lain mereka bisa belajar peluang kerja yang ditawarkan jauh lebih besar. Ya, pastilah mereka akan memilih untuk bekerja di sana dibanding harus pulang ke Indonesia. Nah, bayangin geng. Orang-orang terpelajar di negara kita pada akhirnya memilih untuk pindah ke luar negeri dan mengabdi untuk negara orang lain. Otomatis Indonesia akan mengalami brain drain yang gua sebutkan tadi. Ya, orang-orang pintarnya pada cabut, yang tersisa ya ya gitulah yang tersisa ya. Dan negara kita akan mandek di situ-situ aja jalan di tempat. sektor pendidikannya tidak berkembang, perekonomiannya juga enggak berkembang karena semua orang yang ahli di bidang-bidang tersebut sudah tidak mau lagi berada di negara kita. Nah, salah satu negara tujuan bagi orang Indonesia yang bertalenta unggul adalah Singapura. Mereka beramai-ramai datang ke Singapura membangun negara tersebut dengan upah yang memadai. Di Singapura ada sebuah program pendidikan yang memberikan tawaran beasiswa yang salah satunya diperuntukkan untuk pemenang Olimpiade Sains Internasional. Mereka akan mendapatkan pendidikan yang berkualitas secara gratis. Namun syaratnya adalah mereka harus bekerja di Singapura setelah lulus. Enggak boleh pulang ke negara mereka lagi. Nah, jangan salah, Geng. Walaupun wajib bekerja di sana, gaji yang akan mereka dapatkan gila banget. Udah hidup lu udah sejahtera, keluarga lu aman, enggak perlu sedih. Dan itulah yang diharapkan oleh semua orang. Program beasiswa yang diberikan oleh Singapura tersebut memang menjadi salah satu fokus negara tersebut yang menaruh perhatian terhadap pentingnya sumber daya manusia untuk bisa memajukan negara mereka walaupun negara mereka kecil. Enggak terkecuali bagi mereka yang bukan warga negara Singapura. Sehingga pemerintah Singapura membuat berbagai beasiswa untuk menyaring orang-orang berprestasi dari seluruh dunia. Jadi niatnya itu orang pintar semuanya harus ada di Singapura. Tuh. Kalau di negara Konoha sana yang harus berkumpul di negara ini adalah sultan. Sultan inilah, sultan Depok lah, sultan gitu-gitu deh. Nah, bukan orang pintarnya. Berdasarkan catatan Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan selama tahun 2019 sampai 2023, jumlah warga negara Indonesia yang pindah menjadi warga negara Singapura hampir 1000 orang per tahun. Dan di bulan Januari sampai Oktober 2024 aja udah ada 978 orang yang melepas status warga negara Indonesia dan mereka memilih untuk menjadi warga Singapura. Nah, salah satu hal yang bikin mereka tertarik juga untuk jadi warga negara Singapura adalah paspornya. Ketika mereka memegang paspor Singapura, mereka tuh mudah gitu mau jalan-jalan ke mana-mana. Sementara paspor kita yang berwarna biru itu kalau masuk ke negara orang di under estimate banget kayak, "Ah, negara apa nih?" gitu. Kurang lebih seperti itulah fenomenanya. [Musik] Nah, dari faktor yang kedua ini aja kita udah bisa nilai ya, Geng ya. Kenapa ya alasan terkuatlah banyak orang yang meninggalkan tanah air. Nah, hal yang sama juga terjadi e kepada seorang warga negara Indonesia yang tinggal di Jepang. Jadi, Jepang selama ini menjadi salah satu negara yang menjadi tujuan bagi orang Indonesia untuk bisa bekerja, mau itu di pekerjaan level menengah sampai atas. Dan biasanya orang Indonesia akan melewati program magang atau melalui program specified skill workers atau SSW, yaitu kategori visa kerja di Jepang yang diberikan untuk tenaga kerja dengan keahlian tertentu. Nah, namun setelah program magang selesai, banyak warga negara Indonesia yang memilih untuk enggak balik ke Indonesia. Agak beda case-nya nih dengan di Singapura. WNI yang memilih menetap di Jepang ini ada yang memilih untuk berganti warga negara sehingga izin tinggalnya habis dan dikategorikan sebagai imigran ilegal. Nah, tapi alasannya karena mereka ini merasa kalau gaji yang mereka dapatkan dan standar hidup di Jepang itu jauh lebih baik dan peluang kerja yang lebih tinggi dibandingkan di Indonesia. Proses administrasi untuk pulang ke Indonesia juga cukup rumit dan memakan biaya. Dan mereka pun mulai merasa nyaman untuk tinggal di Jepang lalu mendapatkan pengaruh dari sesama pekerja imigran yang tinggal di sana yang tergabung dalam komunitas. Nah, jadi karena mereka punya teman sesama imigran yang tidak mau pulang lagi, ya udah jadi ikutan enggak mau pulang dan merasa aman karena mereka juga enggak sendirian di sana meskipun statusnya ilegal. [Musik] Dengan melihat fenomena ya banyaknya anak muda sekarang yang memilih untuk stay di luar negeri menjadi sebuah ancaman serius sebenarnya bagi keberlangsungan negara kita. Bisa-bisa visi Indonesia Emas 2045 yang enggak bakal tercapai karena anak-anak muda yang seharusnya menjadi penerus bangsa sudah enggak mau untuk tinggal di Indonesia apalagi untuk berkontribusi ya bagi negara. Mereka semua merasa kecewa dengan situasi Indonesia yang semakin hari semakin memburuk dan menilai kalau pemerintah tidak kunjung menyelesaikan segala permasalahan dengan serius untuk membenahi kesejahteraan masyarakat dan juga kebobrokan di ee badan pemerintahan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh visiting senior Fillow Yusuf Ishak Institute atau disingkat dengan ICS atau tulisannya ISAS yang ada di Singapura yang bernama Pak Yanuar Nugroho. Beliau mengatakan fenomena tren kabur aja dulu menjadi responsga Indonesia khususnya anak-anak muda yang berumur di bawah 40 tahun yang merasa situasi dan kondisi hidup di Indonesia semakin lama semakin buruk, sulit, dan tidak pasti. Dan enggak jelas, respon seperti ini bukan hanya dipicu dari faktor ekonomi seperti sulitnya mencari pekerjaan, enggak adanya kepastian kerja, dan buruknya sistem perlindungan sosial, melainkan juga mengenai permasalahan sosial, politik, dan lingkungan. Geng, dari segi lingkungan, generasi muda Indonesia merasa kecewa karena kualitas hidup di Indonesia dari sudut pandang lingkungan sangat buruk. Kemudian dari segi politik, mereka juga merasa pemimpin saat ini tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Terbukti dari kebijakan-kebijakan yang dibuat cenderung tidak memikirkan masyarakat dan semacam dibuat tergesa-gesa dan banyak merugikan pihak-pihak atau masyarakat. Yang pada akhirnya ini akan berdampak di setiap aspek kehidupan kita sebagai warga negara Indonesia. Semua kekecewaan tersebut pada akhirnya terakumulasi dan membuat anak-anak muda menjadi muak untuk terus tinggal di negara sendiri. Faktor eksternalnya juga karena saat ini banyak negara maju yang membutuhkan warga negara baru. Karena populasi penduduk mereka yang sudah menua mulai berkurang. ya seperti salah satunya Jepang dan beberapa negara di Skandinavia yang sehingga orang Indonesia pada akhirnya mencoba untuk ya pindah ke sana mencari peruntungan. Nah, fenomena seperti ini bukanlah sebuah hal yang baru. Negara-negara berkembang lain seperti India, Pakistan, Vietnam, dan beberapa negara Afrika pernah mengalami hal serupa. Khususnya ketika negara tersebut masih berada dalam situasi sulit sampai akhir tahun 1990-an dan sekarang giliran kita Indonesia. Alasannya ya kurang lebih sama untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Bahkan ketika Donald Trump menang dan menjadi presiden Amerika yang notabennya adalah negara maju, mereka juga mengalami migrasi penduduk karena ada sejumlah anak muda yang memilih untuk kabur ke Kanada, Selandia Baru, Australia, dan kawasan Eropa karena enggak suka dengan kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh Trump selagi dia menjabat sebagai presiden. Nah, jadi ya tren pindah aja dulu ini pernah terjadi di Amerika juga. Anak-anak mudanya cabut dari Amerika gitu. Nah, tapi untuk alasan tuh karena mereka gak suka dengan kebijakan pemerintah. Bukan karena kehidupan di sana miskin banget, susah banget, enggak juga gitu. Terus pada akhirnya fenomena ini bukan cuma dilihat sebagai sebuah tren yang sedang berkembang di anak muda aja, tapi juga harus dilihat sebagai situasi yang harus menjadi fokus pemerintah. Permasalahannya begitu kompleks, sebab selama ini pemerintah tidak pernah dengan serius menanganinya. Sehingga permasalahan ini hanya menumpuk dan menjadi bom waktu untuk menunggu ya meledak. Begitu banyak PR bagi pemerintah dan memang sudah menjadi tugas pemerintah untuk bisa mensejahterakan rakyatnya. Ya, kalau masyarakat sudah merasa sejahtera, tenang, ya gua yakin enggak akan ada lagi orang yang kepikiran untuk pindah warga negara. Enggak harus nunggu brainrain dulu baru pemerintah bertindak, gitu ya. Justru sebelum itu pemerintah harus memikirkan cara untuk mencegah ini semua. Oke, itu dia, Geng pembahasan kita hari ini mengenai tren kabur aja dulu yang lagi ramai diperbincangkan di kalangan anak muda Indonesia. Gimana menurut kalian? Apa di antara kalian sempat kepikiran untuk pindah negara juga? Coba tinggalkan komentar di bawah.