Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufqihin ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuimani wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh ridwan allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani. Ibu-ibu yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Demikian juga bapak-bapak para hadirin dan hadirat. Pada kesempatan bahagia ini kita akan bahas tentang ibadah yang sangat agung yaitu pasrah dan tunduk kepada keputusan Allah Subhanahu wa taala. Dan inilah salah satu adab kepada Allah subhanahu wa taala. Syekh Muhammad bin Shh Al-Utsimin rahimahullah ketika menyebutkan tentang akhlak, beliau membagi dua. Akhlak kepada Allah dan akhlak kepada sesama manusia. Dan di antara akhlak kepada Allah yaitu menerima segala keputusannya. Dan itulah yang kita disuruh untuk berikrar akan hal ini setiap pagi dan petang dengan berkata, "Roditu billahi rba." Aku rida Allah sebagai Rabbku. Itu rida Allah sebagai Rabbku, sebagai pengaturku dan segala pengambil keputusan untukku. rida dengan keputusan-keputusan Allah Subhanahu wa taala. Dan itu konsekuensi dari kata al-Islam. Alislam artinya al-istislam, yaitu tunduk kepada Allah Subhanahu wa taala. Selain tunduk kepada syariatnya adalah tunduk kepada keputusan-keputusannya. Allah berfirman, "Wam yuslim wajhahu ilallahi wahua muhsin faqad istamsaka faqad istamsaka bilwatil wq." Siapa yang ee menyerahkan wajahnya kepada Allah dan dia dalam kondisi berbuat ihsan, berbuat baik, maka dia telah berpegang dengan tali yang kuat. Rasul sahu alaih wasallam juga berkata, "Allahumma laka aslamtu wabika amantu wa alaika tawakaltu waika anabtu wabika ya wailaika khamtu dan seterusnya." Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ya Allah laka aslamtu kepada Engkaulah aku menyerahkan diriku." Inilah ciri khas orang-orang beriman yang tunduk kepada keputusan Allah Subhanahu wa taala yang dengan itu mereka pun meraih kebahagiaan di dunia terlebih lagi kebahagiaan di akhirat. Salah satu sebab utama seorang bahagia di atas muka bumi ini yang penuh dengan ujian dan cobaan adalah rida dan tunduk dengan keputusan Allah Subhanahu wa taala. Karenanya rasul sahu al wasallam bersabda, "Ajaban liamril mukmin inna amrahu kullahu khair waisaika lilukmin." Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sungguh perkaranya seluruhnya adalah baik dan itu tidak berlaku kecuali kepada seorang mukmin. In asobahu sarakaro fakana khair lahu wain asobahu sharo fakana khair lahu. Jika dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur dan itu baik baginya dan jika dia mendapatkan atau ditimpa dengan keburukan maka dia bersabar dan itu juga baik baginya. Dan ini ciri utama orang beriman. Beriman kepada takdir. Salah satu dari rukun iman. Iman yang keenam ya yang mungkin tidak pernah dibahas dalam agama-agama yang lain. Beriman kepada takdir. Karenanya apa yang ditimpa oleh kaum mukminin berupa kesulitan-kesulitan, penderitaan-penderitaan [Musik] menjadikan orang-orang nonmuslim takjub dengan mereka. Bagaimana kaum muslimin kita lihat diuji dengan berbagai macam ujian ya, dengan berbagai macam penderitaan. Namun mereka tegar. Mereka sangat tegar. Contoh nyata depan mata kita adalah saudara-saudara kita di Palestina. Ya, bagaimana mereka tegar tidak lain karena bersandar kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, meyakini ya segala keputusan Allah Subhanahu wa taala yang terbaik bagi mereka sehingga mereka bisa kuat dan tegar. Dan juga kita sering mendengar bagaimana para dokter-dokter nonmuslim ketika menghadapi pasien-pasien muslim, mereka dapati bahwasanya pasien-pasien muslim begitu sabar dan tegar karena mereka terbiasa tunduk kepada takdir Allah Subhanahu wa taala. Ya. Dan demikian pula ya secara umum seorang mukmin yang beriman dia akan tegar dalam menghadapi ujian-ujian kehidupan. Ibu yangu dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala. Pembahasan ini sangat penting bagi kita semua ya. Karena kita tahu dalam kehidupan ini tidak semuanya berjalan dengan yang kita inginkan. Tidak semua cita-cita kita tercapai. Bahkan apa yang kita angan-angankan terkadang yang terjadi adalah bertolak belakang. Ya, sebagaimana dikatakan seorang ingin berlabuh ke utara, ternyata angin bergerak menuju selatan sehingga dia sulit untuk berlabuh. Tapi dia harus berlabuh. Masing-masing kita diuji. Saya rasa tidak ada seorang pun yang tidak diuji ya. siapapun dia, mau dia pejabat, mau rakyat jelata, mau orang kaya, orang miskin, ya laki-laki, perempuan ya, ibu-ibu, bapak-bapak, suami, istri, ya, anak-anak, orang dewasa semuanya diuji. Coba tunjukkan kepada saya ada seorang yang tidak diuji. Pasti enggak ada. Semuanya pasti sudah diuji dan sedang dalam ujian. Karena memang Allah Subhanahu wa taala ciptakan kita untuk diuji. Untuk diuji banyak ayat yang menunjukkan akan hal tersebut. Di antaranya Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Alladzi khalaqal mauta walata liyabluakum ayukum ahsanu amala." Dialah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kalian mana di antara kalian yang terbaik amalnya. Allah juga berfirman, "Nsinqatul mautum walir fitnah waina turun. Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kalian dengan kesenangan dan kesulitan sebagai fitnah, sebagai ujian." Waaina turjaun. Dan kepada kamilah kalian akan dikembalikan. itu akan kalian kembali untuk menerima rapor dari hasil ujian yang kalian kerjakan selama ini. Demikian juga Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Allah menciptakan alam semesta ini sebagai sarana prasarana untuk menguji manusia." Kata Allah subhanahu wa taala, "Wahualladzi khalaqas samawati wal ardha fi sitati ayyamin wana arsyuhu alal ma liyabluakum ayyukum ahsanu amala." Dan dialah Allah Subhanahu wa taala yang telah menciptakan langit dan bumi dalam waktu 6 hari. Sementara arsnya ketika itu sudah di atas air. Buat apa Allah menciptakan langit dan bumi? Labluakum ayyukum ahsanu amala. Untuk menguji kalian mana di antara kalian amalan yang terbaik. Jadi Allah ciptakan langit dan bumi ini untuk ujian kita. Menguji manusia. Allah juga berfirman dalam surat Alkahf. Inna ja'alna ma alal ardhi zinata laha linabluahum ayyuhum ahsanu amala. Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang di atas muka bumi ini sebagai perhiasan keindahan untuk menguji mereka mana di antara mereka amalannya yang terbaik. Nabi sallallahu alaihi wasallam juga bersabda, "Innad dunya hulwatun khirah wa inallahahlifukum fiha liur kaifaalun wattaqu dunya wattaquisa a fitnati bani israilat finisa." Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Sungguhnya dunia ini manis dan hijau. Manis dirasakan, kemudian hijau dipandang. Dan Allah menjadikan kalian hidup di atas muka bumi ini." Buat apa? Liyanzur kaifa tamalun. untuk melihat bagaimana amal perbuatan kalian, maka bertakwalah. Oleh karenanya, kehidupan kita di atas muka bumi untuk diuji. Kita bukan seperti orang-orang kafir yang merasa bahwasanya dunia untuk kesenangan semata. Itu mindset mereka sebagaimana hewan. Kata Allah Subhanahu wa taala, walladzina kafaru yatamattauna kama takulamuahum. Adapun orang-orang kafir maka mereka bersenang-senang dan mereka hanya makan-makan sebagaimana binatang ternak yang makan. Wararu matwallahum. Kemudian tempat kembali mereka adalah di neraka jahanam. Allah tidak menciptakan kita hanya sekedar untuk memuaskan hawa nafsu, untuk makan-makan, untuk melampiaskan hasrat. Tidak. Itu semua hanyalah pernak-pernik kehidupan. Tapi tujuan utama adalah untuk diuji. Untuk diuji. Dan namanya ujian adalah hal-hal yang banyak di antaranya hal-hal yang tidak kita sukai, yang tidak menyenangkan hati, yang memilukan hati. Namun itulah ujian. Siapa yang lulus maka dia akan meraih hasil yang terbaik di dunia sebelum di akhirat. Maka kita harus tanamkan dalam hati kita, ibu-ibu yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala, bahwasanya kita hidup ini untuk diuji. Saya rasa semuanya diuji, Ibu-ibu, ada enggak yang enggak diuji? Hah? Enggak ada. semuanya diuji. Ada yang diuji karena suaminya selingkuhlah, diuji suaminya poligamilah, diji suaminya pelitlah dan juga banyak suami diuji sama istrinya ngomel mulu lah. Maunya ke salon-salon mahal padahal duitnya enggak ada. Maunya beli tas-tas branded padahal suaminya enggak punya duit. Ya, ada yang diuji dengan mertuanya, ada yang diuji dengan mantunya. Ada enggak diuji dengan mantunya? Ada. Mantu kurang ajar, tidak menghargai anak. Ada diuji dengan mertuanya. Mertuanya tidak menghargai dia, merendahkan dia, menghinakan dia. Dia mantu yang miskin, mertuanya kaya, dia terhina. Kasihan. Ada yang seperti itu, ada yang kasus seperti itu. Ada yang diuji dengan orang tuanya sendiri, ada yang diuji dengan anaknya. Diuji dengan kesenangan, diuji dengan penderitaan. Intinya semua orang diuji. Yang Allah ingin lihat bagaimana sikap kita terhadap ujian tersebut. Mak saya sering bilang, emang kalau jadi orang kaya tidak diuji? Emang kalau jadi pejabat tidak diuji? Diuji. Betapa banyak pejabat diuji lebih berat daripada kita. Mereka tersenyum, tapi di balik senyuman tersebut penderitaan. Emang raja tidak diuji? Emang raja tidak sakit perut? Emang cuma kita aja yang mencret? Raja juga mencret. Siapa bilang raja tidak pernah mencret? Emang raja tidak pernah diomelin istri? Semua diuji. Enggak ada yang enggak diuji. Memang cuma si miskin yang tidak bisa tidur memikirkan sesuatu. Terkadang orang si kaya tidak bisa tidur. Oleh karenanya hidup ini pasti ujian. Nah, sekarang bagaimana agar kita rida dengan ujian-ujian tersebut? Agar kita tunduk dan pasrah dengan segala keputusan Allah Subhanahu wa taala. Ya, terutama ibu-ibu yang kadang-kadang ibu-ibu hatinya lemah ya, baper sehingga ketika dikasih ujian kurang siap menghadapinya. Ya, oleh karenanya perlu kita berpasrah diri di hadapan keputusan Allah Subhanahu wa taala. Apa yang dimaksud dengan pasrah dan tunduk kepada keputusan Allah Subhanahu wa taala? Maksudnya yaitu kita rida bahwasanya apa yang Allah berikan itu yang terbaik bagi kita. Itu namanya kita pasrah. Kita pasrah kita sebagai makhluk. Allah yang mengatur kita. Dia berhak melakukan apa yang Dia kehendaki bagi kita. Dan apa yang Allah pilihkan itu yang terbaik. Itu namanya rida. Bukan berarti rida kepada keputusan Allah tidak boleh menangis. Bukan berarti demikian. Nangis sedih itu biasa. Sedih, khawatir, gelisah, tetapi tetap ada rida. Makanya Ibnu Qayyim rahimahullahu taala membahas tentang masalah ini. Beliau berkata, "Apakah seorang menangis? Apakah orang kesakitan berlawanan dengan rida? Tidak berlawanan. Sebagaimana seorang yang sakit, dia harus minum obat yang pahit dan dia rida minum obat pahit tersebut. Meskipun dia rasa pahit ketika minum obat tersebut, tapi dia rida karena dia tahu ini obat yang terbaik bagi dia. Meskipun pahit, dia tidak suka, dia telan obat tersebut, dia minum jamu tersebut, dia menjalani proses misalnya operasi. Dia tahu ini tidak menyenangkan. Tapi dia rida dengan keputusan tersebut. Rida. Tidak rida itu namanya protes. Kenapa Allah ginikan saya? Kenapa harus saya yang terkena musibah ini? Apa kesalahan saya? Kenapa Allah ambil anak saya? Kenapa begini? Kenapa begitu? Itu namanya protes dengan keputusan Allah atau teriak ya marah-marah. Seperti kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Laisa minna manabal khududaqal juyuba w jahiliyah." Bukan dari golongan kami seorang ketika terkena musibah lantas dia mukul-mukul wajahnya. Dia robek-robek bajunya dan dia menyeruh dengan seruan jahiliah. Itu kalau itu tidak rida. Jadi rida bukan berarti ketawa ketiwi selalu. Enggak ya. Hati itu masalah hati. Bahwasanya apa yang Allah berikan kepada saya terbaik meskipun kita pahit menjalaninya. Oleh karenanya Nabi sallallahu alaihi wasallam ya ketika ya putranya Ibrahim meninggal dia menangis ya. Sebagaimana cucunya juga ketika meninggal Nabi bersedih ya ketika putranya Ibrahim meninggal Rasul sahu alaihi wasallam menangis Rasul sahu alaih wasallam berkata, "Innal aina tadma wa innalqba yahzan wala naquulu illa bima yurdibana wa inna bifiraqika ya Ibrahim lamahzunun kata Nabi sallallahu alaihi wasallam sungguh mata ini mengalirkan air mata dan sungguh hati ini bersedih tetapi kita tidak mengucapkan kecuali apa yang mendatangkan keridaan Allah subhanahu wa taala Sungguh kami sangat sedih dengan kepergian engkau wahai putraku Ibrahim. Dilihat bagaimana Nabi bersedih. Oleh karenanya ketika Ibnu Qayyim ditanya tentang sikap Abu Ali yaitu Fudhail bin Iyad rahimahullahu taala yang dia memiliki seorang anak yang saleh namanya Ali. Anak yang saleh yang sangat dia cintai, dia sayangi. Tahu-tahu anak tersebut meninggal dunia. Dan ketika anaknya meninggal dia tidak bersidih dan dia tertawa. Dia tertawa. Maka ditanya kepada Ibn Taimiyah rahimahullah, "Mana yang lebih afdal? Tertawa seperti Abu Ali Fudhail bin Iyad yang ketika anaknya meninggal dia masih tertawa ataukah Nabi yang menangis ketika anaknya meninggal?" Pertanyaan sulit. Maksudnya apakah Fudhail bin Iyad lebih rida daripada Nabi sallallahu alaihi wasallam? Jawabannya Ibnu Qayyim menukil daripada kata Ibnu Taimiyah bahwasanya Nabi sallallahu alaihi wasallam lebih afdal dan lebih tahu tentang keputusan Allah Subhanahu wa taala. Dan Nabi beribadah kepada Allah dengan berbagai ibadah. Di antaranya ibadah rida di antaranya ibadah rahmat kepada kerabatnya, kepada anaknya. Maka Nabi menangis sebagai tanda rahmat kepada kepada anaknya. Dan itu adalah ibadah sayang kepada seorang anak. Sementara Fudil bin Iyadominasi sisi rida dan tidak bisa melakukan ibadah rahmat kepada sang anak, maka dia melakukan satu sisi ibadah saja. Adapun Nabi sallallahu alaihi wasallam ya melakukan berbagai macam ibadah. Di antaranya ibadah rida kepada keputusan Allah dan ibadah rahmat kepada sang anak. Makanya beliau menangis menunjukkan rahmat hati yang luar biasa kepada sang anak dan sayang kepada anak adalah ibadah. Oleh karenanya ee namanya rida kepada keputusan Allah bukan berarti tertawa tertiwi ketika terkena musibah. Bukan berarti menunjukkan kegembiraan. Tidak harus demikian. Yang penting seorang hatinya tahu ini keputusan Allah dan yakin yang terbaik. Maka dia sudah mencapai derajat apa? Rida. Mencapai derajat rida yaitu pasrah kepada keputusan Allah Subhanahu wa taala. Adapun jika dia protes ya itu baru tidak tidak rida. Ya, tentunya juga bukanlah yang dimaksud dengan rida kepada keputusan Allah. Kemudian seorang pasrah tidak melakukan usaha. Ya, seorang tetap berusaha. Dia sakit, dia rida dengan kesutan Allah, tapi dia berusaha berobat. Dia berusaha berobat. Ya, ada masalah dihadapi. Dia rida bahwa ini Allah takdirkan masalah ini, tapi dia berusaha mencari solusi. Dia mencari solusi. Oleh karenanya Allah berfirman, "Fasbir kama shobar ul azmi minar rasul." Sabarlah engkau wahai Muhammad sebagaimana para ulmi dari kalangan para rasul. Ternyata para rasul sangat sabar dikenal dengan ulul azmi seperti Nabi Nuh alaihi salam yang sangat sabar luar biasa. Nabi Ibrahim sangat sabar luar biasa. Nabi Musa sangat sabar luar biasa. Nabi Isa sangat sabar luar biasa. Kata Allah, "Sabarlah engkau w Muhammad seperti kesabaran mereka." Tapi Allah sifati mereka dengan ulul azmi salah. Yaitu orang-orang yang memiliki tekad menunjukkan apa? Dalam kesabaran mereka, mereka punya tekad yang kuat untuk mencari yang terbaik. Makanya Nabi Nuh alaihi salam ketika pasrah, ternyata dia berdakwah sekian ratus tahun, tidak beriman, dia tetap berdakwah. Tetap berdakwah. sampai Allah mengatakan lan yuk tidak akan beriman kepada engkau illa manq aman kecuali yang telah beriman baru setelah itu dia tahu bahwasanya dia berdakwah pun tidak mungkin bisa ada hasilnya karena Allah subhanahu wa telah mengatakan umatmu tidak akan beriman lag ymm laka illa minika illa manq aman bahwasanya Tidak ada lagi beriman kecuali yang telah beriman. Tapi selama itu dia tetap berusaha. Jadi maksud saya rida kepada keputusan Allah bukan berarti seorang kemudian tunduk hanya sekedar diam di rumah, tidak beraktivitas, tidak berusaha mencari solusi, itu kesalahan. Jadi rida adalah tahu ini yang terbaik dari Allah dan berusaha melakukan yang terbaik sehingga berusaha mencari solusi yang disyariatkan. Tayib. Ee ibu-ibu yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala. Nah, bagaimana cara kita pasrah dengan keputusan Allah subhanahu wa taala? Dengan takdir Allah subhanahu wa taala? Yang pertama, Ibu-ibu yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala, apa sih takdir? Takdir kata al Imam Ahmad rahimahullahu taala, "Al-qadar qudratullah." Takdir adalah kekuasaan Allah. Al-Qadar qudratullah. Takdir adalah kekuasaan Allah Subhanahu wa taala. Maksudnya bagaimana adanya takdir? Menunjukkan Allah maha kuasa. Apa sih mekanisme takdir atau filosofi takdir? Takdir itu maksudnya sebelum Allah ciptakan alam semesta, Allah tulis dulu apa yang akan terjadi. Allah tahu apa yang akan terjadi. Allah sudah rencanakan dan Allah tulis rencana tersebut di sebuah kitab namanya Lail Mahfud. Setelah Allah tuliskan, kemudian Allah eksekusi, Allah jalankan. Maka semua yang terjadi sejak saat kali Allah mengeksekusi pertama kali sampai hari kiamat, maka sesuai dengan apa yang telah Allah rencanakan, yang telah Allah tuliskan. Makanya Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Innallaha kataba maqadir khaiq qla yakluq samawati wal ard bina alanah." Allah mencatat takdir seluruh makhluk. yang akan terjadi Allah catat 50.000 tahun sebelum Allah ciptakan langit dan bumi. Jadi sebelum langit dan bumi diciptakan 50.000 tahun sebelumnya Allah sudah catat semua takdir makhluk yang akan terjadi di alam semesta. Nabi juga sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Awalu ma khalaqallahu alqalam faqala lahu uktub." Pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Lalu Allah berkata, "Tulislah wahai pena." Pena berkata, "Wza aktub." Apa yang aku tulis ya Allah? Kata Allah subhanahu wa taala, "Uktub ma hua kainun ila yaumilqiamah." Tulislah semua yang akan terjadi sampai hari kiamat. Maka setelah itu, pena menulis di lauhil mahfud 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Kemudian pena selesai menulis rufiatil aklam wati suhuf. Pena diangkat lembaran lauhil mahfuz sudah kering. Tidak akan berubah. Tidak ada yang bisa menipeks. Tipex enggak ada. Tidak akan berubah. Wajaffati suhuf. lembaran sudah kering tidak tidak akan berubah. Oleh karenanya baru Allah mengeksekusi apa yang terjadi terjadi. Semua yang terjadi tidak ada yang keluar dari garis yang telah Allah canangkan, yang Allah telah rencanakan. Itu namanya takdir. Ibarat sering saya sampaikan seperti kalau kita di dunia ini ada seorang arsitek misalnya dia pengin bikin rumah, maka dia tulis gambar rumah tersebut kemudian dia canangkan RAB-nya berapa. Dia rencanakan berapa lama akan dilakukan proyek ini, perkiraan, keuntungan semuanya dia tulis kemudian dia eksekusi. Namun betapa sering rencananya tidak sesuai. Ternyata ada yang miss, ilmu dia kurang. Oh, ternyata ini kurang. Ternyata ada perubahan nilai mata uang. Oh, ternyata harga bisa berubah. Ternyata sang pemilik rumah di tengah jalan pengin tambah kamar satu misalnya sehingga rubah lagi ya. Ternyata ada kejadian alam major sehingga tidak bisa dilanjutkan ya. Ternyata tukang-tukangnya pada mogok sehingga berubah semuanya bisa berubah dan itu yang terjadi karena sang arsitek ilmunya terbatas, pengetahuannya terbatas, kemampuannya terbatas. Lain halnya Allah subhanahu wa taala kalau Allah yang menentukan Allah tulis maka semuanya terjadi tinggal kun fayakun. Tidak ada yang keluar dari takdir Allah Subhanahu wa taala. Inilah konsep takdir. Sehingga semua apa yang menimpa kita, Ibu-ibu, apa yang menimpa kita, semuanya sudah dicatat oleh Allah Subhanahu wa taala. Dan tujuannya Allah menulis takdir ini bukan untuk kita cari tahu, "Ya, Ustaz bisa tunjukkan enggak lauhil mahfuz?" Enggak. Itu hal gaib. Tidak ada yang tahu. Allah sembunyikan takdirnya. Tidak Allah beritahukan kepada malaikat dan tidak Allah beritahukan kepada para nabi. Kecuali sebagian saja Allah kasih tahu. Gak ada yang tahu isi lauhil mahfud. Gak ada. Makanya Allah sebutkan tujuan dari adanya takdir. Kata Allah subhanahu wa taala dalam surat al-Hadid, ma asoba m musibatin fil ardhi wala fi anfusikum illa fi kitabin minqobli anabraaha inzalika alallahi yasir lika tau ala ma fatakum wala tafrahu bima atakum wallahu la yuhibbu ka mukhtalin fakur kata Allah subhanahu wa taala tidak ada satu musibah pun yang menimpa di atas muka bumi ini apapun yang terjadi. Bencana alam, banjir ya, gempa bumi, gunung meletus, apapun kebakaran ya. Ma asoba min musibatin fil ardhi. Tidak ada satu musibah pun yang menimpa dari muka bumi ini. Wala fi anfusikum. Dan juga tidak musibah yang menimpa diri kalian. Kecelakaanlah, sakitlah, ya. Sakit fisik, sakit hati, ya. anak meninggal kemudian kekurangan harta ya banyak menimpa seseorang ya illa fi kitabin minq anabraaha semuanya telah tercatat di lauhil mahfud sebelum kami mengeksekusinya sebelum kami menciptakannya innaalika alallahi yasir yang yang seperti itu sangat mudah bagi Allah maha kuasa sebelum Allah ciptakan Allah tulis dulu mudah bagi Allah buat apa faedahnya nyaum. Kalau ada suatu kebaikan yang luput darimu yang kau harapkan tidak kau dapatkan cita-citamu yang kandas, harapanmu yang pupus, maka jangan kau putus asa. Karena semuanya telah dicatat oleh Allah. Kau boleh berharap, kau boleh bercita-cita, tapi yang menentukan semuanya siapa? Allah Subhanahu wa taala. Ini yang pertama. Jadi kalau ada yang tidak kita sukai jangan putus asa. Sebaliknya kalau kita berhasil wala tafrahu bima atakum. Maka jangan sombong dengan apa yang Allah berikan kepadamu. Kalau tiba-tiba seorang kaya raya, tiba-tiba seorang bahagia, ketahuilah semua dari Allah. Semua dari Allah. Allah telah mentakdirkannya. Itu tujuan kita beriman dengan takdir, pasrah dengan keputusan Allah, tidak putus asa dari apa yang menimpa dan tidak sombong dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita. Jadi ini yang pertama seorang mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi sudah ditakdirkan oleh Allah dan takdir adalah kekuasaan Allah. Ibu-ibu bisa lihat bagaimana alam semesta. Siapa yang bikin alam semesta? Allah Subhanahu wa taala. Dengan aturan yang begitu canggih, alam semesta ini Allah bikin dengan keterkaitan yang begitu rumit. Ini seandainya alam semesta diperlihatkan tentu orbit-orbit, planet-planet, orbit bintang-bintang semua luar biasa. Gampangannya bagaimana matahari yang mungkin sudah berjalan selama entah juta tahun ya tetap pada orbitnya. Wun fi falaqin yasbahun. Matahari rembulan pada orbitnya. Bintang-bintang dan yang lainnya. Luar biasa ya. Bagaimana Allah bisa mengatur alam semesta luar biasa seperti ini? Bagaimana Allah menciptakan manusia yang luar biasa. Bagaimana Allah menyiapkan sarana prasarana untuk manusia. Bagaimana Allah menjadikan ternyata dalam bumi berbagai macam kekayaan yang cocok untuk keperluan manusia. Banyak sekali ya. Ini menunjukkan Allah sangat luar biasa profesional ketika mengatur alam semesta ini. Aturan yang sunatullah yang luar biasa yang kemudian muncullah pakar-pakar setelah itu Allah bukakan ilmu mereka sedikit-sedikit sehingga mereka akhirnya menemukan rumus-rumus aturan-aturan alam semesta. Rumus kimia itu akibat apa maksudnya? Alam semesta aturan yang sudah berjalan. Siapa bikin aturan tersebut? Allah Subhanahu wa taala. Rumus-rumus fisika itu apa yang bikin? Siapa? Allah Subhanahu wa taala. Aturan-aturan yang Allah jalankan baru kemudian terungkap oleh seseorang, "Oh, ternyata begini aturannya. Oh, ternyata begini aturannya." Jadi, seorang yang melihat alam semesta, dia tahu pengaturannya sangat hebat luar luar biasa. Nah, demikian juga Allah bukan cuma ngatur alam semesta. Allah juga mengatur kehidupan setiap hamba. Kalau kita pasrah dengan keputusan Allah, kita tahu pasti yang terbaik. Pasti yang terbaik dengan syarat pasrah dengan keputusan Allah Subhanahu wa taala. Jadi serahkanlah ya apa yang Allah pilihkan karena itu yang terbaik. Allah berfirman, "Warabbuka yakluqu ma yasyau wa yakhtar maana lahumul khiarah." Dan dialah Rabbmu yang telah menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihkan apa yang Dia kehendaki. Bukan pilihan kita. Makan lahumul khiarah. Tidak ada pilihan bagi mereka. Siapapun kita, hebatnya kita, tinggi jabatan kita, pilihan bukan di tangan kita. Ada sebagian kita bisa milih dan banyak bukan pilihan kita. Bahwasanya alam semesta ini ada yang mengatur, kehidupan kita juga ada yang mengatur. Jadi ketika kita tahu yang mengatur adalah zat yang maha hebat, serahkanlah dia yang mengatur. Apa yang dia pilih pasti yang terbaik. Kita ini banyak milih untuk diri kita sendiri, ternyata keliru, ternyata salah. Kenapa? Ilmu kita minim. Kita enggak tahu tentang masa depan. Ilmu kita mikro. Kita enggak tahu hal-hal yang seputar kita. Adapun Allah tahu si fulan ini bagaimana, bagaimana? Bagaimana Allah tahu ketika Allah pilihkan sesuatu maka terimalah, pasrah. Ini yang terbaik dari Allah Subhanahu wa taala. Bab yang berikutnya agar kita tunduk kepada keputusan Allah, sering kita belajar tentang al-asma alhusna nama. Nama-nama Allah yang terindah terutama nama-nama Allah al-Hakim. Ya, Allah maha bijak ya. Dan juga Allah maha adil. Allah maha adil. Allah maha bijak dan Allah maha adil. Ya. Demikian juga Allah maha berilmu. Allah maha berilmu. Allah maha mengetahui. Allah maha bijak. Dan Allah maha adil. Tiib. Allah maha berilmu yaitu Allah tahu segala sesuatu ya. Dan Allah mengurusi hambanya satu persatu. Allah tahu tentang kita secara detail. Afaman hua qoimun ala kulli nafsin bima kasabat. Kata Allah, "Apakah sama?" Yaitu sembahan-sembahan selain Allah, apakah sama dengan zat yang mengurusi setiap jiwa? Yang inin sampaikan kepada ibu-ibu, kita ini diurusi oleh Allah person demi person. Bukan diurusi oleh Allah secara global, bukan. Kalau kita tahu di pabrik-pabrik atau di perusahaan, direktur hanya ngurus secara global. Dia tidak bisa mengetahui secara detail anak buahnya. Kenapa? Kemampuan dia terbatas. Raja tidak bisa mengurusi seluruh rakyatnya dengan detail. Dia pasti punya direksi-direksi anak buah anak buah. Di bawahnya lagi anak buah-anak buah. Kenapa kemampuannya terbatas? Beda dengan Allah Subhanahu wa taala. Allah ngurusin kita, mengilmui kita secara detail. Jangankan kita, bahkan daun yang jatuh saja Allah urusin. Kata Allah Subhanahu wa taala, wasquqtin illa yamuha. Tidak ada satu daun pun yang jatuh kecuali Allah mengetahuinya. Jadi kita tahu di alam semesta ini daun begitu banyak. Jangankan daun, pohon begitu banyak. Satu pohon berapa daun, Ibu-ibu? Ada yang pernah hitung? Baik. Jadi daun di alam semesta ini entah berapa triliun. Tetapi kata Allah Subhanahu wa taala ada satu daun yang jatuh entah di belantara Afrika ada daun satu jatuh. Allah tahu tentang daun tersebut. Kenapa? Karena daun ini ciptaan Allah Subhanahu wa taala. Jangankan kita manusia, setiap hewan melata, Allah tahu urusannya. Allah mengatakan wabatin fil ard illa alallahi rizquha wamqha kata Allah tidak ada satu hewan melata di atas muka bum cacing kek apa kek serangga kekuali rezekinya diatur oleh Allah subhanahu wa taalaamu mustaqar mustaudaah Allah tahu di antara makna mustaqar kata Ibnu Katsir itu Allah tahu di mana sarangnya wa mustaudaah di Allah tahu di mana mainnya ini hewan ini ketika keluar keluar dari sarangnya dia ke mana Allah tahu. Maka Allah akan siapkan rezekinya. Jadi Allah ngatur hewan satu persatu. Dalam sebagian tafsiran mustaqarah mustaudaah maksudnya Allah tahu kapan lahirnya hewan ini dan kapan matinya hewan ini. Maka Allah atur rezekinya dari dia hidup sampai dia mati. Allah sudah atur itu hewan. Gimana lagi dengan manusia? Daun saja Allah urusin. Bagaimana lagi dengan manusia? Jadi kita ini diurusin oleh Allah. Ilmu Allah mengetahui tentang kita secara detail. Secara detail. Buktinya apa? Betapa sering kita berdoa, bisik-bisik doa kita dikabulkan. Berarti Allah dengar enggak bisikan-bisikan kita? Dengar. Dengar. Ya. Tapi tidak semua yang kita inginkan Allah kabulkan karena tidak maslahat bagi kita. Makanya Allah mengatakan, "Ya walau batallahu rizqibadi ard wakin yunazilu biqari ma yasya." Seandainya Allah bentangkan rezeki kepada seluruh manusia semuanya pada minta rezeki Allah kasih rusak mereka sombong angkuh. Ini baru punya HP baru aja sudah sombong. Gimana kalau punya mobil baru? Gimana kalau punya istri baru? Gimana kalau punya rumah baru? Sombong. Manusia kalau diberikan semuanya akan angkuh. Wakin yunazilu biqadari ma yasya. Tapi Allah turunkan sebenarnya kadar yang Allah tentukan. Yang Allah tentukan. Ya, kalau semua dipenuhi kebutuhannya, orang akan sombong dan angkuh. Betapa mudah harta, jabatan buat orang sombong dan angkuh. Sudah banyak contoh kita lihat. Sombong, angkuh, mentang-mentang, semena-mena ya. Tapi yakinlah Allah tahu kita secara detail. Afaman hua qoimun ala kulli nafsin bima kasabat. Apakah sama dengan zat yang mengurusi setiap jiwa satu persatu? Jadi, ilmu Allah meliputi kita seluruhnya. Jangan khawatir saya enggak diurusin Allah. Enggak. Kita semua diurusin oleh Allah. Kita diurusin semuanya oleh Allah. Maka di antara maknanya Rabb. Arrab itu pengurus. Ngurusin kita. Jadi kita husnuzan kepada Allah. Saya diurusin oleh Allah. Saya salat Allah tahu. Saya berdoa Allah tahu. Ya ini di antara nama Allah yang membuat kita pasrah dengan Allah. Kita diurusin oleh Allah. Mana yang lebih hebat yang ngurusin kita? Orang tua kita atau Allah yang ngurusin? Allah Subhanahu wa taala. Orang tua ngurusin begitu hebatnya, tapi masih ada tendensi duniawi, masih ada kepentingan. Terkadang bertentangan dengan kepentingan anaknya. Allah tidak ada. Tidak ada kepentingan sama kita. Allah ngurus kita karena murni kebaikan Allah Subhanahu wa taala. Tib ini alalim. Allah mengetahui kita secara detail. Di antaranya al-hakim bijak. Allah Subhanahu wa taala maha bijak, maha hikmah. Ketika Allah Subhanahu wa taala menetapkan suatu pada kita, pasti ada hikmah di balik segala keputusannya. Pasti ada hikmah. Cuma hikmah tersebut tidak Allah bukakan. Karena kalau setiap hikmah Allah bukakan tidak ada ujian. Misalnya, misalnya Nabi Yusuf dikasih tahu, "Kau dipenjara, dibu dijual jadi budak di penjara karena kau akan menjadi bangsawan." Kira-kira Nabi Yusuf ketika di penjara ketawa ketiwi enggak? ketawa ketiwi. Ketika dibuang sama kakaknya masuk sumur dia sudah tahu, "Wah, ini ujian pertama nanti saya bakalan jadi bangsawan." Dia ketawa-ketiwi. Kalau gitu nilai ujian enggak ada. Padahal kita diciptakan untuk diu uji. Maka hikmah itu Allah tutup supaya kita diuji. Tapi kita yakin di balik itu pasti ada hikmah. Pasti ada hikmah. Dan di antara rahmat Allah, di antara rahmat Allah, sebagian musibah yang kita alami, kita lihat hikmahnya. Tapi tidak semua Allah tampakkan. Sebagian musibah yang kita alami, kita lihat hikmahnya di balik itu terkadang langsung, terkadang butuh waktu bertahun-tahun. Benar ini. Oh, ternyata ada hikmahnya. Oh, ternyata ada hikmahnya. Allah tidak ungkap langsung kadang-kadang bertahun-tahun. Nah, sebagian ujian kita belum paham tapi cukup apa yang Allah sudah bukakan hikmahnya kita analogikan, kita kiaskan, selesai. Bukankah kau pernah mengalir musibah-musibah dan kau tahu hikmahnya di balik itu? Nah, banyak musibah yang kau tidak paham hikmahnya sudah kau hukumnya sama. Pasti ada hikmah dengan syarat engkau bersabar, husnuzan kepada Allah Subhanahu wa taala. Maka Allah alhakim. Tidak mungkin Allah berbuat sesuatu ngawur. Enggak mungkin. Ya. Ketika Allah membinasakan para mujrimin itu pun di atas hikmah kebijakan Allah Subhanahu wa taala. Ketika Allah menguji orang-orang beriman itu pun atas kebijakan Allah Subhanahu wa taala. Tidak mungkin Allah menciptakan atau memutuskan suatu perkara abatan. Hanya sia-sia, hanya main-main, hanya senda gurau. Gak kita yakin Allah maha bi bijak. Ini membuat kita tenang. Apapun yang menimpa kita pasti ada hikmahnya dan pasti baik. Makanya di antara tafsiran firman Allah, maana lahumul khiarah warabbuka yakluquar dalam surat Alqasas. Dan dialah Allah yang menciptakan apa yang dia kehendaki, yaitu mengeksekusi apa yang dia inginkan. W tasyauna illa yasyaallahbul alamin. Apa yang kalian kehendaki di bawah kehendak Allah subhanahu wa taala. Apa yang kau kehendaki yang dia kehendaki yang terjadialah kehendak Allah. Bukan kehendakku bukan kehendakmu. Allah menciptakan apa yang dia kehendaki. Waakar dan dia memilih apa yang dia kehendaki. Tidak ada pilihan bagi mereka. Ini tafsiran pertama dan ini tafsiran mayoritas ulama. Sebagian ulama seperti Ibnu Jarir At Thaabari menafsirkan, "Makanul khiarah." Maksudnya apa yang Allah pilihkan bagi mereka itu yang terbaik. Maana lahumul khiarah. Ma di sini bukan bukan ma nafiah tapi ma almausulah. Kalau yang pertama maum khiarah tidak ada pilihan bagi mereka ma adalah ma annafiah. Tapi tafsiran kedua ma adalah almausula yaitu alladzi ya ee kana lahum alkhiarah. Apa yang Allah tetapkan adalah yang terbaik bagi mereka. Dan itu pasti ada hikmahnya karena Allah adalah alhakim maha bijak. Bab di antaranya yang perlu kita renungkan, Ibu yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala, Allah adalah maha adil. Allah maha adil. Saya bawa bawa sedikit perenungan ya. Allah maha adil. Ti mungkin ada I bertanya, "Ustaz, kenapa dia cantik? Saya kok kurang cantik?" Mana keadilan Allah Subhanahu wa taala? Ketahuilah masing-masing ada ujiannya. Si cantik ada ujiannya, enggak. Ada ujian yang mungkin tidak seperti si kurang cantik. Gara-gara dia cantik, maka dia sering joget-joget di TikTok. Tergoda dia pengin menampilkan kecantikannya. Coba yang wajahnya kurang cantik, malu. Sudah welek, ireng, tiktokan ya. Sehingga dia terjauhkan dari maksiat. Orang cantik terkadang terkena banyak musibah. Bukankah Nabi Yusuf Alaih Salam dipenjara gara-gara ganteng? Coba kita enggak ada yang bukan enggak ada yang ganteng, maksudnya kurang ganteng makanya enggak ada yang dipenjara. Nabi Yusuf Alaih Salam gara-gara ganteng di penjara. Benar enggak, Ibu-ibu? Benar. Gara-gara ganteng di penjara. Gara-gara dia ganteng digoda oleh Zulaha. Alhamdulillah Allah berikan iman yang kuat. Kalau enggak hilang ya gugur. Maka masing-masing ada ujiannya. Jadi Allah maha adil. Allah maha adil. Ustaz, kenapa dia kaya? Saya miskin. Tib miskin kaya masing-masing ada ujiannya. Contoh saja saya sebutkan contoh masalah sedekah. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, sabaqo dirhamun miata alfi dirham. Satu keping dirham mengungguli 100.000 dirham. Kok bisa? Wakaifaalik. Kenapa bisa demikian? Rasulullah jelaskan bahwasanya ini seorang miskin dia pulang ke rumahnya dia mendapati dua keping dirham. Maka dia pilih keping dirham yang terbaik. Keping dirham dari logam, dari fidah, dari perak. Sama-sama misalnya nilainya 1 dirham, 1 dirham. Tapi ini kepingannya lebih bagus. Dia ambil kepingan yang lebih bagus daripada kepingan satunya dia sedekahkan. Berarti dia sedekahkan 50% lebih hartanya. Minimal 50%. Yang satunya dia punya uang mungkin jutaan dirham. Dia sedekahkan 100.000 dirham dengan kurang rasa kebutuhan. Ya, 100.000 dirham dia kasih aja. Tidak ada rasa tidak tidak seperti yang dirasakan oleh si miskin ketika bersedekah 1 dirham. Tapi kata Nabi 1 dirham mengungguli 100.000 dirham. Ini contoh adil enggak adil? Sedekah ini tidak sama dengan sedekah yang sana. Ya. Si sakit dengan si sehat. Kalau badannya sehat kadang-kadang sombong, kadang angkut. Kadang kesehatannya buat kemaksiatan. Badannya sixpack jalan sana jalan sini pamer sixpack-nya. yang one pack malu roti sobek sehingga dia terpancing untuk macam-macam ya. Jadi masing-masing ada ujiannya. Masing-masing ada ujiannya. Jadi jangan pernah mengatakan Allah tidak tidak adil. Tib saya pegawai bos saya kaya raya ustaz. Gimana keadilan antum? Kira yang kaya raya bisa belum tentu tidur nyenyak seperti antum? Antum makan Indomie langsung tidur nyenyak? Dia belum tentu sebagian Subhanallah mungkin ustaz kenapa kita rakyat enggak jadi pejabat ya akhi? Teman saya pejabat cerita pejabat itu kadang tidur jam .00 malam masih rapat jam .00 malam masih rapat sampai subuh rapat diskusi tentang kegiatan politik antum ada isya sudah tidur sudah ngorok. Maksud saya Allah maha adil masing-masing dengan ujiannya. Masing-masing dengan apa? Ujian. Si miskin bahagia ketika lebaran dapat THR. Yang punya perusahaan pusing karena mau bagai THR. Pusing dia. Aduh, THR banyak sekali. Ini karenanya Allah maha adil. Apa yang Allah pilihkan? Ujian yang kita jalani. Ustaz, kenapa saya enggak terkenal? Enak orang terkenal. Apa enaknya yang terkenal? Di Malam dikejar orang, diikuti oleh wartawan, bikin sedikit akhirnya jadi berita. harus selalu bersifat munafik. Di mana-mana kelihatannya oke. Sementara orang tidak terkenal cuek aja. Oh, enggak ada yang liput. Cuek aja. Mau gini, mau begitu ala kadarnya, seadanya. Tapi orang kalau terkenal selalu bersandiwara. Harus begini. Kalau keluar sama istri harus tampilnya begini. Lagi jalan di mana diikuti orang seakan-akan mata melihat dia. Sedikit orang datang minta foto. Sedikit ada yang maki-maki. Terkenal kan? Ada yang maki, ada yang suka. Enggak ada orang terkenal. Semua orang suka. Jarang bisa jadi maki-maki, apalagi kita. Oleh karenanya sudahlah Allah maha adil. Allah maha adil. Maka apa yang Allah berikan kepada kita, kita terima. Tayib. Ini yang ke berapa tadi? Yang kedua ya. Ya itu kita menghayati beberapa nama-nama Allah. Tadi apa? Al-Alim, al-Hakim yang maha adil. Termasuk dalam maha bijak adalah maha adil. Kemudian arrahim albar yang maha sayang yang maha baik. Allah maha sayang lebih sayang daripada ibu kita kepada kita. Ya, sebaik-baiknya ibu terhadap kita, sesayang-sayangnya masih kalah dengan kasih sayang Allah Subhanahu wa taala. Seorang husnudzan kepada Allah. Apa yang Allah tetapkan adalah yang terbaik. Berikutnya yang ketiga, Ibu yangu dirahmati Allah Subhanahu wa taala. Ini poin penting. Rezeki itu ada dua, Ibu-ibu yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala. Mungkin orang, "Kenapa saya miskin, kenapa saya kurang cantik?" Rezeki. Ya, rezeki itu banyak ya. Ada keamanan, kesehatan tubuh, kecantikan rezeki, tampanan, duit banyak, mobil mewah, rumah luas, itu rezeki semua. Ternyata rezeki itu ada dua, rezeki dunia sama rezeki di akhirat. Rezeki di dunia, rezeki di akhirat. Jangan lupa, jangan sampai seorang hanya fokus rezeki di dunia sehingga ternyata jatahnya di akhirat sedikit. Bisa jadi seorang jatah rezekinya di dunia sedikit, ternyata jatahnya di akhirat banyak. Allah menamakan kenikmatan surga dengan rezeki pada dalam banyak ayat ya. Seperti Allah Subhanahu wa taala, lahum magfiratunzkun karim. Bagi mereka orang yang bertakwa ampunan dan rezeki yang mulia. Wabasyirilladina amanu wail shihatium. anharqu minha. Ya. Kata Allah, "Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman saleh bahwasanya bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap mereka diberi rezeki." Allah menamakan surga dengan apa? Riz rezeki. Demikian juga ee seperti firman Allah Subhanahu wa taala terhadap istri-istri Nabi. Ketika istri-istri Nabi minta tambahan uang dapur maka Allah turunkan ayat takyir. Ya ayyuhan nabli azwajika inun jamil. Wahai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, kalau kalian menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka saya kasih. Tapi kita cerai baik-baik. Maksudnya Allah ingin ngajarin yang mau hidup sama Nabi tidak boleh duniawi. Gak boleh duniawi. Kalau duniawi gak bisa hidup sama Nabi. Nabi hidupnya sederhana. Kalau kalian ingin harta saya kasih tapi kita cerai baik-baik. Wauntuallahu waasulah darul akhirah faallah muhsinati ajranim. Tapi kalau kalian mencari Allah rasulnya, Allah akan siapkan ganjaran yang besar. itu Allah mengatakan di ayat berikutnya, wam yaqnut minunna lillahi waasulihi waal shihan nutiha ajraha marain waadna laha rizq karima. Siapa di antara kalian istri-istri nabi kalau kalian tidak dapat dunia tapi siapa yang qunut taat beribadah karena Allah dan rasulnya maka kami akan berikan ganjaran dua kali lipat. Waadna laha rizqon karima. Kami siapkan bagi dia rezeki yang mulia. Maksudnya apa? Di surga. Allah namakan kenikmatan surga dengan apa? Riz rezeki. Demikian juga ketika penghuni neraka melihat penghuni surga lagi makan-makan, lagi senang-senang kata mereka kata Allah wada asada asabunari asabal jannati al minal maimakumullah. Berkata penghuni neraka kepada penghuni surga, "Wahai penghuni surga, berikanlah kepada kami sebagian rezeki yang Allah berikan kepada kalian." Mereka lagi senang-senang. Rezeki. Jangankan di akhirat, di alam barzak Allah namakan rezeki. Jangan engkau menyangka bahwasanya orang-orang yang meninggal di jalan Allah sudah mati. Sesungguhnya mereka hidup yaitu di alam barzakh. Mereka di sisi Allah sedang diberi rezeki, sedang bersenang-senang di alam barzakh. Alam kubur menjadi taman surga. Nah, kita ini harus tahu rezeki ada dua. Oleh karenanya ketika kita tidak dapat rezeki di dunia, mungkin dapat rezeki di akhirat. Lihatlah bagaimana pemahaman Umar bin Khattab dan Abdurrahman bin Auf. Ini salah satu pemahaman para sahabat. Umar bin Khattab radhiallahu anhu ketika melihat ada seorang seorang sahabat yang lain kemudian beli sesuatu, dia mengatakan, "Apa itu? Buat apa?" Kata Umar bin Khattab, "Apakah setiap kau ingin sesuatu kau beli?" Apa? Siap kau ingin sesuatu kau beli. Kata Umar, "Saya takut ini adalah kenikmatan rezeki akhirat yang disegerakan." Yaitu para sahabat dahulu memahami kalau kita terlalu banyak nikmat-nikmat di dunia akan mengurangi jata di akhirat. Ini mazhab sebagian sahabat. Di antaranya Umar bin Khattab. Dia Abdurrahman bin Auf radhiallahu taala anhu ketika dia akan buka puasa tahu-tahu dia ingat tentang Musa bin Umair yang meninggal dalam kondisi sangat miskin tidak punya apa-apa sampai kain kafan untuk dirinya pun tidak cukup jika tutup kepalanya gina rahu badat rijlahu kalau tutup kepalanya kedua kakinya kelihatan wahana rijlaihi baduh kalau tutup kakinya kepalanya kelihatan miskin kain kafan aja tidak cukup sehingga Abdullah bin Auf mengatakan, "Kemudian dibukakan dunia bagi kami." Dia khawatir bahwasanya adalah minibatikum ujilatibatukum hayati dunya. Ini adalah kenikmatan surga, rezeki surga yang disegerakan. Jadi, ma ibu-ibu dirahmati Allah Subhanahu wa taala, rezeki ada dua. Kalau seorang ternyata di dunia rezekinya kurang, bisa jadi rezekinya banyak di akhirat. Orang yang rezekinya banyak di dunia belum tentu rezekinya banyak di akhirat belum tentu. Kalau dia salah gunakan rezekinya belum tentu banyak di akhirat maka husnudan ya Allah maha adil. Allah maha adil. Jadi jangan kita jadikan dunia ini sebagai akhir dari segala sesuatu. Tidak. Setelah ini ada alam berikutnya, alam barzakh. Kau dapat rezeki enggak di situ? Belum tentu dapat. Setelah alam barzakh dalam kebangkitan. Dapat rezeki enggak? Itu jadi pertanyaan kita. Maka seorang ketika dia di dunia mendapat musibah, dia rida. Mungkin kekurangan harta, mungkin parasnya tidak seperti yang lain, mungkin kesehatan tidak seperti yang lain, mungkin ada rezeki-rezeki yang Allah siapkan di akhirat kelak. Oleh karenanya apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam? Yawadu ahluliah hina yar hina y ahl ahlul bawa minwab la julahumat fid dunya bil maqid. Maka orang-orang ketika Allah bagi-bagikan rezeki pahala di akhirat kelak ternyata orang yang sering sakit-sakitan, yang sering terkena musibah dapat ganjaran yang sangat banyak. Sehingga orang yang masuk surga tapi dia ternyata hidupnya nyaman, dia pengin kembali lagi ke dunia. berangan-angan. Seandainya di dunia dulu kulit kami digunting-gunting oleh gunting besi. Kenapa? Karena dia tahu ternyata orang terkena musibah pahalanya sangat besar, rezekinya sangat banyak di akhirat. Tentunya kita tidak ingin dikasih musibah, tapi kalau dikasih musibah kita positive thinking. Jadi kita rida dengan Allah Subhanahu wa taala. Tib ibu yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala. Di antara yang membuat kita bisa rida dengan Allah Subhanahu wa taala bahwasanya kita baca tentang kisah-kisah yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an tentang orang-orang saleh. Bagaimana ketika mereka bersabar dan rida dengan keputusan Allah, kapan mereka rida? Maka ada solusi dan solusinya sangat indah. Solusinya sangat indah dengan syarat bersabar. Allah berfirman tentang bani israil, watamat kalimatual husna ala bani israil bimaar. Maka tetaplah keputusan Allah yang indah bagi Bani Israil ketika mereka bersabar. Ketika mereka bersabar, ketika mereka pasrah baru Allah kasih solusi. Sebelumnya mereka tidak bersabar. Datang Nabi Musa Alaih Salam mengatakan, "Ya kaumis biru." Wahai kaumku, bersabarlah. Nabi Musa ajarin mereka bersabar. Sampai ketika mereka bersabar Allah kasih solusi. Allah kasih solusi. Solusinya pasti indah. Solusinya pasti indah. Lihatlah saya sebutkan sekedar secara singkat kisah para nabi. Nabi Yusuf alaihi salam diuji ujungnya indah atau tidak indah? Happy ending. Dimusi oleh kakak-kakaknya. Ujian pertama. Ujian kedua dibuang ke sumur dibuka bajunya. Ujian ketiga dijual jadi budak. Uangnya diambil kakak-kakaknya. Ujian keempat jadi budak kerja tanpa gaji. Ujian kelima dituduh mau berzina. Yang keenam dipermalukan harga dirinya. Yang keenam dimasukkan dalam penjara. Yang ketujuh yang paling parah dipisahkan dari ayah dan ibunya yang sangat dia cintai. Yang kedelapan dijauhkan dari kampung halamannya. Kemudian ternyata ujungnya jadi bangsawan di Mesir. Akhirnya Allah pertemukan mereka kembali Nabi Yusuf dengan keluarganya. Di akhir ayat kata Nabi Yusuf, "Inna rabbi latiful lima yasya." Sesungguhnya Allah sangat lembut, yaitu Allah menggiring segala kebaikan ini tanpa saya sadari. Ini contoh bahwasanya kalau orang sabar ujungnya indah. Karena Nabi Musa berkata, Nabi Yusuf berkata alaihi salam, "Innahu yattaqi waasbir fainnallaha la yud ajral muhsin." Siapa yang bertakwa dan bersabar, Allah tidak menyia-nyiakan kebaikan orang yang baik. Allah kasih solusi yang indah. Syaratnya harus bersabar. Kapan bersabar? Kapan rida? Kapan pasrah? Ketahuilah ujungnya indah. Tapi kalau tidak rida, tidak bersabar, ujungnya berentu indah. Mau cari solusi sendiri tanpa sabar, ujungnya belum tentu indah. Bisa semakin ruwet, bisa amburadul, semakin kacau, semakin parah. Tapi kalau sabar hasilnya indah. Lihatlah Nabi Musa Alaih Salam ketika dia dimusuhi oleh Firaun dan bala tentaranya dikejar ingin dibunuh. jadi bandit ketika itu bandit bagi kerajaan Firaun di Mesir maka dia tak harus kabur tanpa persiapan. Tadinya dia tinggal di istana mewah milik Firaun jadi anak angkat Firaun dengan kehidupan yang mewah akhirnya dia harus pergi meninggalkan Mesir kabur pergi menuju Madyan tanpa persiapan sampai kelaparan. Kelaparan sampai disebutkan dia makan dedaunan. Karena dia pergi tang persiapan berjalan ratusan kilo dari Mesir ke Madian. dari benua Afrika ke benua Asia luar biasa antar benua sampai kelaparan, sampai tubuhnya hijau karena banyak makan daun. Tapi ternyata diusir itu ada hikmahnya. Ternyata dia ketemu wanita salehah luar biasa. Ternyata ada cewek salehah yang Allah siapkan di Madyan antar benua. Luar biasa ya. Gak apa-apa. Bolehkah nikah antar benua? Boleh. Jadi Allah siapkan wanita salehah ini. Wita saleh ini yang tidak pernah interaksi sama laki-laki, tidak pernah ikhtilat sama laki-laki. Ternyata Allah siapkan lelaki saleh dari jauh dari Mesir datang menjemputnya. Subhanallah. Ternyata Nabi Musa juga mendapati mertua yang saleh. Ternyata Nabi Musa harus jadi penggembala kambing. Ternyata di balik penggembala kambing adalah persiapan dia untuk ngurusi umat. Dan setiap nabi pasti menggembalakan apa? kambing. Siapa yang sangka Nabi Musa anak raja jadi penggembala kambing, ternyata Allah atur dia jadi penggembala kambing. Hasilnya indah atau tidak indah dengan sabar. Lihatlah Nabi Ibrahim Alaih Salam diusir dari negerinya, harus keluar dari negerinya. Kemudian akhirnya dia bersabar. Akhirnya berdoa kepada Allah dapat anak saleh. Akhirnya punya anak apa? Ismail. Istrinya cemburu, Sarah dia sabar. Akhirnya dia bawa anaknya ke Hijaz ke Makkah. Di Makkah akhirnya bangun Ka'bah tu keluarlah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dari keturunannya. Luar biasa. Seandainya Sarah tidak cemburu, mungkin Hajar tidak dibawa ke Makkah. Dan tidak ada cerita Nabi Muhammad di Makkah. Di balik kesabarannya terhadap kecemburuan istrinya, perpisahan dengan istrinya, hajar, ternyata ada hikmah akan lahirlah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Banyak cerita kalau kita mau baca kisah-kisah ya para nabi, kisah-kisah salihin, semuanya di balik itu ada hikmah, maka seorang pasrah dengan keputusan Allah Subhanahu wa taala. Di antaranya yang membuat kita juga pasrah dengan keputusan Allah Subhanahu wa taala. adalah ketahuilah ibu-ibu, terkadang musibah itu itulah yang terbaik dan tidak perlu diganti dengan kenikmatan. Terkadang musibah itulah solusi yang terbaik. Seperti datang seorang wanita berkulit hitam. Kata Ibnu Abbas kepada At, "Alauluka bimraatin min ahlil jannah." Mau kau tunjukkan kepada engkau seorang wanita penghuni surga. Hadil maratus sauda atatin Nabi sallallahu alaihi wasallam. Inilah wanita berkulit hitam datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dia berkata, "Ya Rasulullah, inni usra wa inni atakasyafadullah an yasfiani." Ya Rasulullah, saya ini kena kejang-kejang. Ada yang mengatakan, "Saya kerasukan jin dan saya kalau sudah sedang kamut, saya sedang kumat, maka saya kemudian kejang-kejang dan akhirnya tersingkap sebagian auratku. Mungkin kakinya terbuka, mungkin lengannya terbuka, mungkin rambutnya terbuka. Doalah kepada Allah agar saya sembuh. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ini daullahafiaki." Kalau kau mau saya doakan doakan berdoa kepada Allah maka kau sembuh. Kalau kau mau kau sabar kau masuk surga kata dia saya pilih sabar. Jadi ternyata solusinya tetap berpenyakit sampai meninggal dunia. Tapi dia berkata, "Walakin atakasyaf." Tapi berdoalah kepada Allah agar ketika saya kumat tidak terbuka aurat. Rasulullah doakan sehingga ketika dia kejang-kejang tidak tersingkap aurat. Sampai mati dia kejang-kejang. Sampai mati penyakitnya tidak hilang. Ternyata dia berpenyakit itulah solusi terbaik bagi dia. Maksudnya tidak mesti solusi kemudian berganti dengan apa yang kita inginkan. Paham? Terkadang solusi adalah kematian. Seperti apa? Seperti Ashabul Ukhdud kata Allah Subhanahu wa taala ya. Ketika sang raja zalim maka dia kumpulkan orang beriman laki-laki perempuan dia galek parit dia nyalakan api besar kemudian dia bunuh mereka. Ternyata itu solusinya mereka harus mati. Allah berfirman, amanu wailhati lahum jannatunaj tahtihal anharikal fauzul kabir. Kata Allah, "Sungguhnya orang-orang yang disiksa, dibakar hidup-hidup, beriman dan beramal saleh, maka bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai itulah kemenangan yang besar." Makanya Haram bin Milhan radhiallahu anhu ketika diutus oleh Nabi kemudian ada orang berkhianat kemudian ditikam dari belakang. ditikam akhirnya tembus keluar darah di dadanya dia mengata mengatakan fuzubu warabbil Ka'bah saya telah berhasil demi Allah subhanahu wa taala jadi terkadang musibah itulah solusinya bukan hilangnya musibah bukan hilangnya apa musibah ada ustaz saya sudah nikah 30 tahun suami saya begitu-begitu saja ustaz bikin masalah terus ya mungkin itu solusinya begitu memang tidak pada penghujungnya. Seperti tadi, wanita sakit sampai mati sakit. Iya. Enggak. Allah tahu itu yang terbaik. Allah tahu yang itu yang terbaik. Makanya dalam surat Muhammad Allah Subhanahu wa taala ya e berfirman yaumina kafarum kata Allah kalau Allah berkehendak Allah akan menangkan mereka tetapi Allah ingin menguji Jadi memang Allah ingin kasih ujian. Allah terkadang tidak menangkan kaum muslimin. Terkadang tidak menangkan. Memang Allah ingin mereka mati. Makanya Allah mengatakan kalau Allah berkehendak Allah menangkan selalu. Ternyata Allah tidak menangkan sebagaimana ashabul ukhdud. Allah tidak menangkan. Memang Allah ingin mereka mati. Kata Allah walladina qutilu fiabilillahi falan falan yudillalahum. Adapun orang yang meninggal di jalan Allah maka Allah tidak akan sesatkan atau sia-siakan amalan mereka. Sayahdihimusahum. Maka Allah akan beri petunjuk kepada mereka dan Allah perbaiki urusan mereka di alam barzakh mereka dalam dapat kenyamanan. Ternyata mereka dapat rezeki dengan cara meninggal dunia. Rezeki yang indah di alam barzakh. Waudilumul jannata arafahahum. Dan di akhirat Allah masukkan surga dan Allah kenalkan di mana tempat mereka tinggal di surga. Ternyata solusinya adalah kematian. Jadi terkadang ustaz saya sudah berusaha berdoa ternyata ya sudah memang sulit seorang punya anak misalnya sakit dia berdoa berdoa tidak bertahun-tahun akhirnya meninggal saya punya kawan ada begitu anaknya autis bertahun-tahun sampai besar meninggal akhirnya ya sudah bilang bukan kenapa Allah tidak kabulkan enggak ya itu solusinyaang kau ingin dikasih pahala dengan cara seperti itu. Ini anak juga autis mungkin dia meninggal sebelum balik menjadi pemberi syafaat bagimu. Kalau dia normal belum tentu dia bisa hidup jadi anak yang saleh. Kita enggak tahu. Kita enggak tahu. Oleh karena apa yang Allah putuskan itu yang terbaik dengan syarat kita bersabar. Jadi kaidah menyatakan keputusan Allah pasti yang terbaik bagi seorang mukmin dengan syarat dia apa? Ber sabar. Kalau enggak bersabar keputusannya belum tu baik. Tambah parah, tambah buruk. Semakin habis imannya semakin rusak. Tayib. Yang terakhir karena waktu sudah habis ya atau sebelum terakhir jangan lupa sebelum melakukan sesuatu ibu-ibu ikut prosedural apa? Istikharah agar kita tidak diwaswasi oleh setan. Jadi prosedural seorang dalam melakukan suatu kegiatan dia prosedural dia bertakwa, dia berdoa, dia istikharah, musyawarah, dia ambil keputusan. Kalau ternyata tidak sesuatu itu yang terbaik. Meskipun kelihatannya buruk, itu yang terbaik membuat kita menyesal. terkadang was-was suudan kepada Allah kalau kita tidak prosedural, kita curang, kita tidak istikharah. Ee intinya yang terakhir bahwasanya orang yang pasrah dengan keputusan Allah maka dia akan bahagia di dunia sebelum di akhirat. Itulah perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Inna fil jannati inna fid dunya jannatan manam yadkhulha lam yadkhul jannatal akhirah. Di dunia ini ada surga. Siapa yang tidak biasa memasuki surga dunia, dia tidak akan masuk surga akhirat. Ibnu Timyin mengatakan, orang beriman, orang sabar dia pasti bahagia. Bagaimana tidak bahagia? Innallaha maobirin. Allah bersama orang-orang yang sabar. Bagaimana tidak bahagia? Wallahu yuhibbusirin. Allah mencintai orang-orang yang bersabar. Ibnu Taimiyah menyampaikan perkataan ini sementara dia dipenjara berulang-ulang. Dimusi oleh banyak orang. Tapi dia menunjukkan dia bahagia. Dia mengatakan, "Sesungguhnya di dunia ada surga. Siapa yang tidak bisa masuk surga kebahagiaan dunia, dia tidak akan merasakan kebahagiaan di akhirat. Artinya dia mengatakan orang beriman pasti surga, pasti bahagia di dunia apapun yang dia rasakan. Apa kata orang beriman ketika ditakut-takuti dengan kekalahan? Qul yusibana illa ma kataballahu lana hua maulana wa alallahi falyatawakalil mukminun. Kata Allah Subhanahu wa taala, "Katakanlah, tidak ada yang menimpa kami kecuali apa yang telah Allah catatkan, yang Allah takdirkan. Tidak ada yang keluar dari keputusan Allah. Apa yang menimpa kami?" Yusibana illa ma kataballahu lana. Tidak ada yang menimpa kami kecuali keputusan Allah. Hua maulana. Dialah penolong kami. Dialah yang pengurus kami. Kita ini yang urus siapa? Allah Subhanahu wa taala. Waallahi falyatawakal mukminun. Tujuan yang penting bertawakallah kepada Allah. Pasrah, tawakal. Tawakal. Tenang hati seorang mukmin. Allah juga berfirman, "Ma asoba m musibatin illa biidnillah w ymin billahi yahdi qolbah." Wallahu bikulli alim. Apapun musibah yang menimpa maka semua dari izin Allah. Siapa yang beriman tahu bahwasanya itu atas keputusan Allah, Allah akan beri hidayah kepada hatinya. Dia pasti bahagia. Pasti bahagia. Pasti bahagia. Karena Allah mengatakan wam yukmin. Siapa yang beriman dia tahu ini adalah karena keputusan Allah. Allah yang memutuskan. Allah yang milihkan dia musibah ini. Dia tahu Allah tidak salah pilih. Dia tahu yang pilihkan buat dia yang maha penyayang penciptanya yang mengatur urusannya memberi rezeki kepada dia. Yang membuat dia jadi beriman. Ketika Allah pilihkan dia tahu dari Allah maka yahdi Allah akan beri iman tambah hatinya. Iman dalam hatinya dia akan bahagia. Kemudian juga kata Allah Subhanahu wa taala tentang orang-orang yang terkena musibah. Alladina asatum musibatun qu inna lillahi wa inna ilaihii rojiun. Ulaika alaihim shawatbihim warahmah waulaika humul muhtadun. Orang-orang tatkala terkena musibah dia berkata inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kami ini milik Allah dan kami semua akan kembali kepada Allah. Kata Allah alaihim shawatbihim warahmah. Mereka akan mendapatkan keberkahan yang banyak dari Allah. mendapatkan rahmat dari Allah. Merekalah orang yang dapat petunjuk. Jadi mereka pasti bahagia karena Allah kirimkan banyak keberkahan. Maka inilah perbedaan antara orang mukmin dengan orang yang tidak beriman. Maka seorang tinggal pasrah dengan keputusan Allah. Yakinlah pasti itu yang terbaik yang Allah pilihkan ee baginya. Demikian saja ibu yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Demikian saja kurang lebihnya saya mohon maaf. Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Oh.