Transcript
EerzwtOQNFo • Jerman Nggak Bangkrut, Tapi Lagi Kehabisan Napas? Ini Masalah Aslinya
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0059_EerzwtOQNFo.txt
Kind: captions
Language: id
Halo semuanya, selamat datang kembali di
channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan
tombol subscribe dan nyalakan
loncengnya. Mari kita buka jendela
wawasan kita hari ini. Bro, gua mau ajak
lo ngebayangin satu adegan yang gampang
banget. Lo nongkrong, jam udah agak
sore, matahari mulai turun, kopi tinggal
setengah. Terus di meja sebelah ada satu
orang yang kelihatannya rapi banget dari
ujung rambut sampai ujung sepatu.
Bajunya enggak kusut, tasnya enggak ada
noda, ngomongnya kalem. Semua kalimatnya
kayak sudah dipikirin dulu. Tipe yang
kalau lo telat 5 menit dia enggak marah,
tapi dia ngeluarin kalimat yang bikin lo
malu sendiri. Gue dari tadi udah di
sini, Bro. Orang macam ini biasanya kita
anggap aman, stabil, enggak mungkin
hidupnya berantakan kayak sistem operasi
yang jarang error. Nah, sekarang lu
bayangin orang itu tiba-tiba cerita
begini, "Gua kayaknya lagi seret, lo
bengkong." Seret gimana? Lo kan rapi, L
kan rain. Lu kan terkenal kuat. Dan dia
jawab, "Justru itu gue udah kebiasaan
menang karena rapi, tapi sekarang dunia
mainnya beda. Dan entah kenapa kalau lo
ganti orang itu jadi satu negara, cerita
itu pas banget buat Jerman. Gua tahu
ngomongin negara itu gampang kebawa
dramatis. Di internet semuanya harus
collaps, harus hancur, harus kiamat
ekonomi. Padahal hidup itu jarang banget
berubah dengan ledakan besar. Banyak hal
yang berubah pelan-pelan tapi konsisten.
Itu yang paling bahaya. Kayak kesehatan.
Lu enggak tiba-tiba langsung jatuh
pingsan? Biasanya mulai dari gampang
capek, gampang ngantuk, napas pendek,
naik tangga udah ngos-ngosan, baru lu
sadar, "Wah, gua harus beresin gaya
hidup." Jerman sekarang itu bukan cerita
bangkrut. Ini bukan cerita negara
miskin. Ini cerita negara yang masih
gede, masih kuat, masih punya banyak
aset, tapi mulai kerasa kehabisan napas
di beberapa titik yang krusial. Dan yang
bikin menarik masalahnya bukan satu. Ini
kayak masalah orang dewasa datangnya
paket lengkap. Sebelum kita bedah
masalah, gua mau bikin satu hal jelas
dulu biar kita enggak jadi komentator
sotoy. Jerman itu tetap salah satu pusat
industri paling serius di dunia. Ini
bukan negara yang menang karena gimik.
Mereka menang karena engineering
beneran. Mereka itu tipe yang bikin
mesin buat bikin mesin. Lu mungkin
enggak kepikiran, tapi banyak pabrik di
dunia bisa jalan karena ada alat,
sistem, komponen, standar teknis sampai
software industri yang ada jejak
Jermannya. Made in Germany itu bukan
stiker gaya-gayaan. Itu reputasi yang
dibangun puluhan tahun. Presisi, tahan
lama, disiplin, dan kalau barangnya
rusak biasanya yang rusak bukan
barangnya, tapi kita yang salah pakai.
Dan ada satu rahasia yang jarang dibahas
orang karena enggak seksi buat headline,
yaitu midle stand. Ini istilah yang
kalau diterjemahin mentah-mentah bisa
jadi usaha kecil menengah, tapi vibe-nya
jauh beda. Mittle stand Jerman itu bukan
usaha mikro kecil menengah yang jualan
demi survive doang. Ini
perusahaan-perusahaan yang banyaknya
keluarga fokus banget di satu bidang.
Kadang produknya enggak pernah lo
dengar, tapi justru produknya dipakai
perusahaan-perusahaan besar di seluruh
dunia. Mereka bikin komponen super
spesifik untuk alat medis, mesin
industri, sensor, sistem otomatisasi,
alat potong metal yang presisinya gila.
Mereka enggak viral, tapi mereka
penting. Kayak organ dalam, enggak
kelihatan di Instagram, tapi kalau
bermasalah selesai sudah. Jadi kalau ada
yang bilang Jerman udah habis, itu
biasanya orang yang kebanyakan makan
judul berita. Yang lebih benar, Jerman
masih punya otot, tapi beberapa sendinya
mulai bunyi. Dan di dunia yang berubah
cepat, bunyi krek itu bisa jadi tanda
bahaya. Sekarang kita masuk pelan-pelan
ke pertanyaan yang sebenarnya sederhana.
Kalau Jerman masih kuat, kok banyak yang
bilang mereka lagi seret? Jawabannya
karena yang dulu jadi sumber kemenangan,
sekarang jadi sumber beban. Sukses itu
candu, Bro. Lu terlalu lama menang pakai
cara tertentu, akhirnya lu percaya cara
itu hukum alam. Padahal dunia itu kayak
game online. Ada patch, ada update, ada
meta baru. Lo di versi lama, tapi begitu
meta berubah, skill lo masih kepakai,
tapi cara pakainya harus beda.
Masalahnya enggak semua orang dan enggak
semua sistem bisa adaptasi cepat. Gua
kasih satu pakuangka yang paling aman
dulu biar kita punya dasar. Tapi gua
janji enggak bakal bikin ini jadi kelas
statistik. Tahun 2025 ekonomi Jerman
tumbuh tipis sekitar 0,2% secara ri atau
sekitar 0,3% kalau dihitung penyesuaian
kalender. Ini terjadi setelah 2 tahun
sebelumnya mereka sempat menyusut. Nah,
0,2% itu bukan nol tapi itu juga bukan
angka yang bikin lo bilang, "Wah, gila
comeback-nya." Itu lebih mirip orang
habis demam yang akhirnya bisa bangun
dari kasur, udah bisa berdiri tapi belum
sanggup lari. Dan yang bikin orang
gelisah bukan cuma karena angka itu
kecil, tapi karena Jerman itu negara
yang biasa jadi patokan stabil. Kalau
mereka saja pemulihannya tipis, berarti
ada sesuatu yang nyangkut di mesin.
Sekarang bayangin ekonomi itu kayak
usaha. Ada usaha yang masih ramai, masih
omzet besar tapi marginnya menipis. Nah,
di situlah Jerman mulai kerasa. Mereka
masih jualan banyak tapi napasnya makin
pendek. Eh, salah satu mesin utama
Jerman itu ekspor mereka jual barang ke
seluruh dunia. Di 2024 nilai ekspor
barang mereka sekitar 1,55 triliuno. Itu
gather banget. Bahkan dekat dengan angka
2022 yang sekitar 1,574
triliun euro. Jadi kalau cuma lihat
angka ekspor orang bisa bilang lah masih
sangar. Tapi yang bikin mereka kaya dan
nyaman itu bukan cuma jualan banyak,
tapi juga ketebalan surplus perdagangan.
itu kayak uang kembalian yang bikin
hidup enak. Dan di 2025 surplus
perdagangan barang dilaporkan turun jadi
sekitar 110 miliar euro. Lu bandingin
dengan masa ketika surplus-nya jauh
lebih tebal, rasanya kayak lu biasa
nabung sebulan R juta, tiba-tiba cuma
bisa nabung Rp700.000. Lu enggak
langsung miskin, tapi lu langsung
ngerasa wah margin gua tipis. Kalau
margin tipis, semua hal kecil jadi
kerasa besar. Listrik naik dikit sakit.
Logistik naik dikit sakit, permintaan
turun dikit sakit. Ekonomi yang sehat
itu bukan cuma soal besar, tapi soal
ruang gerak. Dan ruang gerak Jerman lagi
mengecil. Terus orang nanya, "Kenapa
ruang geraknya mengecil?" Nah, sekarang
kita masuk ke bagian yang paling gampang
dimengerti orang biasa, yaitu energi.
Bro, lu boleh debat ideologi sampai
pagi, tapi kehidupan sehari-hari itu
akhirnya ditampar oleh invoice. Dan di
Jerman, invoice yang paling sering bikin
orang merem melelek itu tagihan listrik.
Paruhu pertama 2025, Jerman termasuk
yang harga listrik rumah tangganya
paling tinggi di Eropa sekitar 38,35
euro per 100 kWh. Lu enggak perlu jadi
ekonom buat ngerti dampaknya. Kalau
listrik mahal, semua rantai ikut mahal.
Rumah tangga kena, usaha mikro kecil
menengah kena, pabrik kena. Dan Jerman
itu punya banyak industri yang
istilahnya energi intensif alias
industri yang makan energi banyak
banget. Bukan karena boros, tapi karena
proses industrinya memang begitu. Kimia,
logam, manufaktur berat, semua butuh
energi besar. Ini kayak lu punya usaha
roti, oven itu nyawa. Kalau listrik
mahal, roti lo jadi mahal. Kalau roti lo
mahal, pelanggan bisa pindah. Sesimpel
itu. Nah, ada orang yang suka
menyederhanakan masalah energi jadi
kalimat satu baris. Makanya jangan sok
hijau. Itu juga keburu-buru. Energi
terbarukan itu bukan kesalahan. Justru
banyak negara iri sama kemampuan Jerman
membangun energi terbarukan. Tapi energi
terbarukan punya karakter yang beda. Dia
bergantung pada alam dan alam kadang
enggak peduli sama rencana kita. Di
2025, pembangkit listrik dari angin di
Jerman dilaporkan turun sekitar 4%
karena kecepatan angin yang lemah.
Padahal kapasitas turbin bertambah. Ini
lucu tapi tragis. Lo udah pasang turbin
udah siap, eh anginnya lagi malas. Di
sini ada satu konsep yang worth
dijelasin karena banyak orang suka salah
kaprah. Bedanya capacity dan output.
Capacity itu kemampuan maksimal kalau
semua kondisi ideal kayak lu punya 10
motor di garasi. Output itu yang beneran
kepakai hari ini kayak berapa motor yang
beneran lu nyalain dan jalanin. Lu bisa
punya motor banyak, tapi kalau bensin
enggak ada yang jalan nol. Energi angin
juga gitu. Lu bisa punya turbin banyak,
tapi kalau angin lemah output turun. Dan
ketika output turun sistem butuh backup.
Kalau backup-nya mahal, tagihan ikut
mahal. Kalau backupnya bikin emisi naik,
orang jadi bingung lah ini hijau apa
bukan. Gua enggak bilang ini berarti
energi hijau gagal. Gua cuma bilang,
desain sistem energi itu harus
realistis. Lo enggak bisa ngandelin satu
sumber tanpa backup yang kuat. Dan
Jerman lagi belajar keras di area itu.
Belajar yang harganya mahal. Sekarang
kalau listrik mahal dan margin ekspor
menipis, apa yang terjadi? Perusahaan
mulai ngelakuin hal paling manusiawi.
Hemat, nunda, dan cari tempat yang lebih
nyaman. Ini bukan drama patriotik. Ini
kalkulasi. Ee perusahaan itu kayak
pedagang. Kalau biaya sewa naik, listrik
naik, pajak ribet, izin ribet, ya dia
mikir pindah. Sesederhana itu, ambil
contoh otomotif. Jerman identik sama
mobil. Tapi gue gak mau nostalgia soal
merek-merek mewah doang. Yang gua mau
tekankan adalah bahkan pemain besar pun
harus ngatur napas. Ada laporan bahwa
Volkswagen mengurangi output dan
melakukan penghentian sementara di dua
pabrik EV di Jerman karena permintaan
lemah. Ini bukan berarti VW tamat, ini
berarti pasar lagi berubah, permintaan
naik turun, produksi harus fleksibel.
Dan fleksibilitas itu kadang menyakitkan
buat sistem industri yang terbiasa
stabil. Dan jangan salah, yang paling
duluan batuk itu biasanya perusahaan
kecil di rantai suplly. Kalau pabrik
besar rem, vendor komponen ikutan
pusing, ini efek domino. Dan ketika
domino jalan muncul satu kata yang bikin
pemerintah deg-degan. Relokasi. Pabrik
pindah, investasi pindah, produksi
pindah. Bukan pindah karena benci
negara, tapi karena angka-angka. Bilang
begitu. Kalau ini terjadi lama, ada
istilah agak berat yang sering dipakai
deindustrialization.
Tenang, ini bukan kiamat industri.
Maksudnya sederhana, basis industri
dalam negeri menyusut pelan-pelan karena
produksi dan investasi pindah keluar.
Kayaknya warung legendaris yang dulu
rameai bukan langsung tutup, tapi
pelan-pelan sepi. Lalu cabangnya pindah
ke kota lain. Nah, sampai sini orang
biasanya bilang, "Oke, berarti
masalahnya energi dan industri." Iya,
tapi itu baru permukaan. Yang bikin
cerita Jerman jadi makin dewasa adalah
layer-layer yang enggak kelihatan di
headline, tapi pelan-pelan makan sistem
dari dalam. Ini yang gua sebut krisis
yang enggak berisik tapi menggerogi.
Pertama, birokrasi dan kecepatan
eksekusi. Gua tahu ini topik yang
kedengarannya ngebosenin, tapi bro,
justru yang ngebosenin itu sering yang
menentukan. Negara bisa punya duit
banyak, bisa punya rencana bagus, bisa
punya slogan keren, tapi kalau
eksekusinya lambat ya hasilnya lambat.
Dan di dunia yang berubah cepat lambat
itu mahal. Gua kasih satu contoh yang
gampang kebayang. Bayangin lo beli tiket
konser dari jauh-jauh hari udah bayar
mahal, udah siap, udah cerita ke semua
orang. Hariha lo malah macet parah
karena keluar rumahnya telat. Tiketnya
benar, konsernya ada, duitnya udah
keluar, tapi pengalaman lo gagal karena
timing. Banyak kebijakan itu kayak gitu.
Lu bisa setuju soal tujuan, tapi
eksekusi yang lambat bikin manfaatnya
enggak kerasa. Di 2025, pemerintah
Jerman merencanakan lonjakan investasi
publik hingga sekitar 110 miliar euro
naik dari sekitar 75 miliar euro di
2024. Artinya niatnya ada. Mereka mau
modernisasi infrastruktur, dorong
ekonomi, bikin negara lebih siap. Eh,
secara vibe ini kayak orang yang bilang,
"Oke, gua balik nge-gym." Tapi
masalahnya banyak orang bilang balik
nge-gym tiap Senin lalu jumatnya udah
lupa. Ada laporan juga soal dana
infrastruktur super besar 500 miliar
euro yang disetujui, tapi sampai akhir
2025 yang benar-benar terpakai baru
sekitar 24 miliar euro. Lu bayangin
enggak? Ini kayak lo udah beli
membership gym setahun, udah beli sepatu
lari, udah beli shaker protein, tapi
yang kepakai baru treatmal meal 15 menit
dua kali. Bukan karena lo enggak niat,
tapi karena sistem lo lambat, banyak
izin, banyak layer, banyak koordinasi
pusat daerah, dan proyek infrastruktur
itu memang rumit. Ada urusan lahan,
tender, protes warga, standar, proses
hukum. Semua itu bagus untuk mencegah
korupsi dan mencegah salah langkah. Tapi
kalau terlalu berat hasilnya lu jadi
lambat. Jerman punya budaya
kehati-hatian yang sebenarnya punya sisi
baik. Mereka suka prosedur karena mereka
ingin rapi. Tapi di dunia yang berubah
cepat, prosedur bisa jadi rem tangan
yang lupa dilepas. Kita semua punya
teman kayak gini, niatnya baik, pengin
semuanya aman, enggak mau salah langkah,
tapi ujungnya enggak jalan-jalan. Karena
kebanyakan mikir kalau Jerman jadi orang
dia itu tipe yang sebelum nyeberang
jalan.
Baca manual zebra cross dulu, cek cuaca,
cek peraturan kota, cek opini tetangga,
baru melangkah. Kedua, digital dan
kecepatan layanan publik. Ini bagian
yang bikin orang kaget kalau baru
pertama kali dengar. Banyak orang
mengira negara industri maju pasti
digitalnya kencang. Nyatanya enggak
selalu. Digital itu bukan soal kaya atau
miskin. Digital itu soal mentalitas.
Berani mencoba, berani gagal cepat,
berani iterasi. Sistem yang terlalu rapi
kadang takut eror. Padahal digital itu
dunia error. Lo bikin aplikasi pasti ada
bug. Lo bikin sistem baru pasti ada gap.
Kalau budaya lo alergi, bug, lu bakal
jalan lambat. Gue bukan bilang Jerman
enggak bisa digital. Mereka bisa, mereka
punya engineer top. Tapi negara itu
bukan cuma engineer. Negara itu mesin
besar, lembaga aturan prosedur budaya
kerja. Dan budaya kerja yang terlalu
nyaman bisa bikin perubahan terasa
seperti gangguan, bukan peluang. Ketiga,
psikologi politik. Ini bukan soal orang
jadi jahat. Ini soal rasa aman yang
berkurang. Kalau biaya hidup naik, masa
depan terasa kabur dan industri terasa
goyah, orang jadi gampang tersulut.
Muncul narasi saling menyalahkan. Muncul
polarisasi. Ada yang bilang balik ke
cara lama, ada yang bilang gas
perubahan. Mereka debat panjang
sementara ekonomi butuh keputusan cepat.
Ini yang bikin negara rapi jadi
kelihatan seret, debatnya panjang,
geraknya pelan. Tapi gua enggak mau
bikin ini jadi ceramah muram. Karena
bagian paling menarik dari cerita Jerman
justru bukan mereka gagal. Bagian paling
menarik adalah paradoksnya. Di satu
sisi, Jerman lagi kesulitan adaptasi
cepat. Di sisi lain, mereka punya modal
yang besar untuk bangkit. Dan modal itu
bukan cuma duit, modal itu jaringan
industri, skill tenaga kerja, institusi,
dan kemampuan untuk membangun ulang
sistem kalau sudah sepakat arah. Loh,
lihat ee Jerman itu punya tradisi
pelatihan vokasi yang kuat. Mereka punya
jalur kerja yang bikin tenaga ahli
industri enggak cuma lahir dari kampus,
tapi dari sistem pendidikan kerja yang
rapi. Ini penting karena dunia industri
itu bukan cuma soal ide, tapi soal orang
yang bisa menjalankan ide. Banyak negara
punya startup tapi kekurangan teknisi
dan operator industri yang rapi. Jerman
punya itu. Mereka punya budaya
keterampilan. Dan ini bukan hal kecil,
ini aset besar. Mereka juga punya midle
stand yang tadi gua ceritain.
Perusahaan-perusahaan yang tidak glamor
tapi hidupnya panjang. Ini tipe
perusahaan yang kalau dunia berubah
mereka tidak langsung hilang. Mereka
mencari cara adaptasi. Kadang
adaptasinya pelan, tapi mereka punya
daya tahan. Dan mereka punya satu hal
yang jarang dihargai sampai lo melihat
negara lain yang keos, yaitu kapasitas
institusi. Negara yang institusinya kuat
itu bisa membuat perubahan terasa
lambat. Tapi begitu arah sudah
disepakati, perubahan bisa jadi sangat
rapi dan mengakar. Lo benci birokrasi,
tapi birokrasi juga yang bikin negara
tidak runtuh saat badai. Jadi
pertanyaannya bukan birokrasi itu baik
atau buruk. Pertanyaannya gimana bikin
birokrasi tetap menjaga rapi tapi tidak
mematikan kecepatan? Di sini gua mau
masuk ke satu konsep yang penting, tapi
gue jelasin sesimpel mungkin biar enggak
jadi kelas teori. Namanya past
dependency. Artinya, sebuah sistem
terlalu terikat pada pilihan masa lalu.
Semakin lama lo sukses dengan satu
model, semakin mahal biaya untuk belok.
Jerman sukses puluhan tahun dengan modal
industri ekspor yang super rapi. Itu
bikin mereka kaya, stabil, dan disegani.
Tapi itu juga bikin perubahan jadi berat
karena semua orang sudah turun ke model
lama. Pabriknya dibangun untuk itu, ee
pendidikan vokasinya dibuat untuk itu.
Regulasi dan standar dibuat untuk itu,
serikat pekerja, kebijakan energi, pola
investasi, semuanya terbiasa. Jadi,
ketika dunia minta perubahan cepat,
belok itu bukan sekedar ganti setir, itu
ganti mesin. Makanya kalau lu lihat dari
luar, kadang lu merasa kok Jerman lambat
banget sih? Tapi kalau lu berada di
dalam sistem, lu paham kenapa lambat.
Ada banyak hal yang harus dipindahkan
sekaligus. Dan memindahkan negara itu
beda dengan memindahkan startup. Startup
bisa pivot seminggu. Negara pivot
dampaknya jutaan orang. Kalau salah
bukan cuma rugi uang, bisa rugi
kepercayaan sosial. Tapi, Bro Lambat
juga bukan alasan buat enggak berubah
karena dunia tidak menunggu. Energi
tetap harus kompetitif, industri tetap
harus lincah, digital tetap harus jalan,
dan yang paling penting eksekusi harus
lebih cepat. Makanya 2026 sampai 2027
itu terasa seperti persimpangan ada
harapan tapi bukan harapan yang turun
dari langit. Pemerintah sendiri
menurunkan proyeksi pertumbuhan 2026
jadi sekitar 1,0%
dan 2027 sekitar 1,3%
dengan alasan ketidakpastian perdagangan
global dan reform yang pelaksanaannya
lambat. Artinya mereka sendiri tahu ee
peluang ada tapi hambatan juga nyata.
Ini bukan cerita habis 2025 langsung
gas. Ini cerita kita bisa pulih tapi
harus kerja. Dan kalau gua rangkum dalam
bahasa tongkrongan, inti masalah Jerman
sekarang itu begini. Jerman itu kayak
pemain senior yang skill-nya masih gila
tapi meta game berubah. Dulu dia menang
karena main rapi, sekarang lawan main
cepat. Dulu dia unggul karena energi
lebih stabil dan pasar global lebih
ramah. Sekarang energi mahal dan
kompetisi lebih brutal. Dulu dia nyaman
jadi raja manufaktur tradisional.
Sekarang manufaktur juga menuntut
digital, fleksibel, dan adaptif. Dan
yang paling bikin pusing, perubahan itu
butuh eksekusi cepat. Sementara sistem
mereka dibangun untuk stabil, bukan
spring. Tapi di sisi lain, Jerman itu
bukan orang yang enggak bisa belajar.
Mereka itu orang yang kalau sudah sadar
ada masalah biasanya enggak suka
setengah-setengah. Tantangannya kapan
mereka benar-benar sepakat bahwa cara
lama harus dimodifikasi bukan cuma
dipertahankan. Kalau gua boleh bikin
analogi yang agak nakal, Jerman itu
kayak orang yang punya rumah kuat dari
beton tapi sekarang tinggal di daerah
yang makin sering banjir. Rumahnya masih
kuat, enggak rubuh. Tapi kalau dia
enggak bikin drain nase, enggak bikin
sistem pompa, enggak naikin beberapa
bagian, ya tiap musim hujan dia akan
repot. Rumahnya bukan masalah.
lingkungannya berubah dan dia harus
menyesuaikan rumahnya dengan lingkungan
baru. Bukan pindah rumah, tapi upgrade
system. Apa upgrade systemnya? Dalam
bahasa paling sederhana, energi harus
lebih stabil dan masuk akal harganya
tanpa gambling pada satu sumber.
Eksekusi investasi harus lebih cepat.
Bukan cuma niat. Digitalisasi layanan
publik harus lebih serius, bukan
kosmetik. dan industri harus lebih
lincah menghadapi permintaan global yang
bisa berubah cepat tanpa kehilangan DNA
rapi yang jadi kekuatan utama mereka.
Dan justru di situ letak dramanya yang
seru karena Jerman bukan negara yang
gampang mengorbankan kualitas demi
cepat. Mereka punya kebanggaan kalau mau
cepat ya cepat yang rapi. Tapi
pertanyaannya bisa enggak rapi dan cepat
jalan bareng? Kalau bisa, Jerman bisa
jadi versi baru yang lebih kuat. Kalau
enggak, mereka akan tetap kuat, tapi
makin sering ngos-ngosan, makin sering
seret. Sampai suatu hari mereka sadar,
loh kok gua bukan patokan lagi? Jadi,
buat lo semua yang nonton dan dengerin
gue ngoceh, gue mau lempar pertanyaan
yang benar-benar sederhana tapi
jawabannya susah. Kalau lo jadi orang
yang pegang remote control Jerman, lo
mau pencet tombol mana dulu? Lo mau
beresin listrik supaya warga dan pabrik
enggak sesak? Lo mau beresin birokrasi
supaya uang investasi enggak nyangkut di
meja? Lu mau gas digitalisasi biar
negara enggak jalan pakai ritme lama
atau lo mau fokus ke industri biar
rantai suplly dan pekerjaan enggak
pelan-pelan pindah? Tulis di komentar
gua pengen lihat cara pikir kalian.
Karena jujur ya melihat Jerman sekarang
itu kayak ngelihat cermin buat banyak
pihak. Bukan soal siapa paling pintar,
tapi siapa paling cepat belajar ulang.
Dan kadang yang paling susah belajar
ulang itu bukan yang lemah. Justru yang
paling susah itu yang terlalu lama kuat.
Yeah.