Transcript
1MTxcl0ouTg • Model-Model Anak Dalam Al-Quran - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2516_1MTxcl0ouTg.txt
Kind: captions
Language: id
Innalhamdalillah nahmaduhu wa nastainuhu
wafiruhu waubu ilaih wa naud nazubillahi
min syururi anfusina wasiati a'malina.
May yahdihillahu fala mudillalah wam
yudlil fala hadiyaalah. Wa ashadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarikalah. Wa
ashadu anna muhammadan abduhu wa
rasuluhu la nabiya ba'dah. Ya
ayyuhalladina amanutqulaha haqq tuqatih
w tamutunna illa waum muslimun
had kitabullahir
huda huda Muhammadin shallallahu alaihi
wasallam
umri muh wa muhin bidah bidatin waatin
finar maasir musliminahqal
muttaquun.
Sesungguhnya di antara anugerah yang
Allah berikan kepada
banyak di antara kita adalah anugerah
anak. Allah Subhanahu wa taala
menyebutkan dalam Al-Qur'an
berbagai macam kondisi tentang anak. Di
antaranya Allah menyebutkan bahwasanya
anak-anak adalah anugerah. Kata Allah
Subhanahu wa taala, "Lillahi mulkus
samawati wal ard yakluqu ma yasya."
Yahbu lim yasu in wahbu lim yasukur
yuzwijuhumukrana wa in. Kata Allah
subhanahu wa taala, seluruh yang di
langit dan di bumi adalah milik Allah
subhanahu wa taala dan Allah menciptakan
apa yang Allah kehendaki. Yahub yasya
in. Allah menganugerahkan, menghibahkan
kepada sebagian orang hanya anak-anak
perempuan.Ukur.
Dan sebagian orang Allah hanya kasih
anugerah anak laki-laki.
Dan di antara mereka ada yang Allah
berikan anak-anak laki-laki dan juga
anak-anak perempuan.
Dan di antara mereka ada yang dijadikan
mandul oleh Allah Subhanahu wa taala.
Innahu alimun qadir. Dialah yang maha
berilmu dan maha berkuasa. Jadi ayat ini
menegaskan bahwasanya anak-anak adalah
anugerah dari Allah, pemberian murni
dari Allah Subhanahu wa taala yang patut
kita syukuri. Dalam ayat yang lain Allah
menyebutkan bahwasanya anak-anak adalah
perhiasan dunia. Allah berfirman,
"Zuyina linasi hubbusahwati minanisa wal
banina walqtiril muqant minhabiil
musami harika
dunya." Nah, kata Allah Subhanahu wa
taala, "Telah dijadikan indah perhiasan
di mata manusia." Di antaranya adalah
para wanita itu istri, kemudian
anak-anak, kemudian harta yang berlimpah
ruah ya berupa emas, perak, kemudian
kuda-kuda pilihan, sawah ladang. Ya, di
sini Allah sebutkan di antara yang
menghiasi pandangan manusia adalah bagi
lelaki setelah para wanita adalah
anak-anak. Bahkan Allah mendahukan
anak-anak sebelum harta-harta yang lain
sebelum emas, perak, sawah, ladang, kuda
pilihan dan yang lainnya. Anak-anak
adalah perhiasan dunia. Allah juga
berfirman, "Almaalu wal banuna zinatul
hayatid dunya." Bahwasanya harta dan
anak-anak adalah perhiasan dunia. Oleh
karenanya kita tahu bagaimana cinta
kedua orang tua kepada anak-anak. Cinta
yang sangat dalam. Sampai dalam hadis
qudsi, Allah menamakan anak-anak dengan
tsamaratul fuad, yaitu buah hati. Dalam
hadis yang masyhur kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, mata waladul abdi.
Ketika anak seorang hamba yang beriman
meninggal dunia, qallahu limalaikatih.
Maka Allah bertanya kepada para
malaikatnya,
walakah
kalian telah mengambil nyawa anak dari
hambaku? Kata para malaikat, fayquuna
naam. Benar ya Allah. Allah bertanya
lagi, "Qobumar fuadihi?" "Apakah kalian
telah mengambil
nyawa dari buah hati hambaku tersebut?"
Kata para malaikat, "Naam, benar, ya
Allah."
Oleh karenanya semua kita sayang kepada
anak-anak. Bahkan dia adalah perhiasan
dunia, kecintaan kita. Ya,
perhiasan yang didambakkan oleh semua
orang. Kita tahu betapa sedihnya
orang-orang tatkala tidak memiliki anak,
mereka berusaha berusaha payah agar bisa
memiliki anak-anak. Jadi, anak-anak
adalah anugerah dan perhiasan dalam
kehidupan kita. Kemudian Allah Subhanahu
wa taala menyebutkan
bahwasanya
anak-anak ternyata juga adalah fitnah,
ujian bagi kita. Allah Subhanahu wa
taala berfirman,
"Wau annama amwalukum wa auladukum
fitnah waallahaahu ajrunim. Ketahuilah
bahwasanya ya harta kalian dan anak-anak
kalian adalah fitnah, adalah ujian.
Yaitu kalian diuji dengan harta dan
kalian diuji juga anak-anak. Kalian
harus lulus ujian tersebut. Jangan
sampai kalian salah dari dalam
menghadapi menyikapi anak-anak. Allah
juga berfirman, "Innama amwalukum wa
auladukum fitnah." Dalam ayat yang lain,
"Sungguhnya harta kalian dan anak-anak
adalah fitnah, ujian. Ya, dengan
kalian menjikapi anak-anak dengan baik,
maka kalian akan lulus ujian dan akan
mendapatkan pahala yang besar.
Wallahuahu ajrunim. Kalian akan
mendapatkan ganjaran yang besar ketika
benar dalam menghadapi anak-anak. Tapi
kalau kalian tidak lulus ujian, kalian
menyiakan anak-anak, kalian tidak
menunaikan amanah, maka kalian akan
mendapatkan hukuman yang berat dari
Allah Subhanahu wa taala. Oleh karenanya
dalam ayat yang lain Allah sebutkan
bahwasanya
anak-anak juga bisa menjadi musuh. Bisa
menjadi musuh kata Allah Subhanahu wa
taala
ya bahwasanya inna min azwajikum ya
ayyuhalladzina amanu inna min azwajikum
auladikum aduwakum fahdzaruhum.
Wahai orang yang beriman, sesungguhnya
di antara istri-istri kalian dan di
antara anak-anak kalian ada yang menjadi
musuh bagi kalian. Waspadalah.
Kenapa anak-anak atau sebagian anak
dikatakan musuh? Jadi anak-anak
terkadang kondisinya bisa menjadi musuh.
Makanya Allah mengatakan innamin.
Sesungguhnya di antara anak-anak kalian
ada yang menjadi musuh bagi kalian.
Musuh itu apa? Musuh itu ingin keburukan
bagi kita. Bisa jadi seorang terjerumus
dalam keburukan gara-gara anaknya.
Melakukan hal-hal yang haram gara-gara
anaknya. Karena saking cintanya kepada
anaknya. Sampai Nabi Khadir menjelaskan
kepada Nabi Musa dalam surah Alkahf.
Kata Nabi Khadir, "Waalamu
adapun anak yang tadi dibunuh,
sesungguhnya kedua orang tuanya adalah
dua orang yang mukmin." Dua orang tua
yang mukmin.
Maka kami khawatir anak tersebut akan
menjerumuskan kedua orang tuanya dalam
kemaksiatan atau bahkan kekufuran.
Maka kami ingin Allah mengganti anak
tersebut dengan anak yang lain yang
lebih saleh dan lebih sayang kepada
kedua orang tuanya. Di sini Nabi Khadir
menjelaskan p Nabi Musa, anak bisa
menjerumuskan kedua orang tua kepada
kemaksiatan atau kepada kekufuran.
Makanya Allah Subhanahu wa taala ketika
berfirman dalam surat Al-Anfal, "Ya
ayyuhalladzina amanu la
takunullahaasulasulau
amanatikum antum tamamunama
amwalukum wauladukum fitnah." Wahai
orang yang beriman, janganlah kalian
berkhianat kepada Allah dan janganlah
kalian berkhianat kepada Rasulullah dan
kalian berkhianat terhadap amanah-amanah
di antara manusia yang diamanahkan
kepada kalian sementara kalian
mengetahuinya. Setelah itu Allah
berfirman, "Waamu annama amwalukum wa
auladukum fitnah." Ketahuilah bahwasanya
harta dan anak-anak kalian adalah
fitnah. Para ahli tafsir mengatakan,
"Karena anak-anak ternyata bisa
menjadikan orang tua berkhianat terhadap
amanah. Amanah kepada Allah dan amanah
kepada Rasulullah dan juga amanah kepada
sesama manusia. Q astagfirullah wakum
wal muslimin kiah fastagfiruhu innahu
hual gfurur rahim.
Alhamdulillahi ala ihsaniyukrullahu ala
taufikian asadu alla ilahaillallah.
Wahdahu la syarika lahu takiman lynih wa
ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh
da ridwan. Allahumma sholli alaihi waa
alihi wa ashabihi wa ikhwani. Telah kita
sebutkan di khotbah yang pertama kondisi
anak-anak yang disebut Alqur'an.
Anak-anak pertama merupakan anugerah,
yang kedua merupakan perhiasan kehidupan
dunia. Yang ketiga bisa merupakan fitnah
ujian. Yang keempat adalah sebagai
musuh.
Dan terakhir adalah kondisi yang
menyenangkan anak-anak adalah quratu
alain, yaitu penyejuk pandangan hati.
Yaitu anak-anak yang saleh yang
membahagiakan kedua orang tuanya. Oleh
karirnya di antara doa ibadurrahman
orang-orang telah dijamin surga oleh
Allah yang dipuji oleh Allah di akhir
surat Al-Furqan Allah berfirman,
"Walladzina yaquuluna rabbana hablana
min azwajina wurz wurriyatina qurrata
a'yun waja'alnil muttaqina imama." yaitu
orang-orang yang berdoa, "Ya Allah,
anugerahkanlah kepada kami istri-istri
yang salehah dan anak-anak yang saleh
yang merupakan qurat a'yun, yaitu yang
menyunjukkan pandangan ya pandangan
kedua orang tua yang membahayakan
mereka." Maka ketahuilah bahwasanya kita
orang tua diubani amanah oleh Allah
untuk ngurusi anak-anak. Rasul sahu
alaihi wasallam bersabda, "Kullukum rin
waukum masulun antiatihi." Setiap kalian
adalah pemimpin dan setiap kalian akan
atau setiap kalian adalah penanggung
jawab dan setiap kalian akan ditanya
oleh Allah, dihisab oleh Allah pada hari
kiamat kelak tentang bawahannya, tentang
yang dipimpinnya. Kemudian kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam, warajulu
roin fi ahli baitihi wahua masulunatih.
Dan seorang lelaki adalah pemimpin di
rumah tangganya maka dia akan dimintai
pertanggungjawaban tentang apa yang ada
di rumahnya, tentang istrinya dan di
antaranya tentang anak-anaknya. Oleh
karenanya Ibnu Qayyim rahimahullah
menyebutkan di antara sebab rusaknya
anak-anak kebanyakannya adalah karena
ayah yang tidak perhatian sama
anak-anak. Kata kata beliau
rahimahullahu taala wa aksaru eharul
aulad innama fasaduhum jaa min qibalil
aba. Kata beliau, "Dan kebanyakan
anak-anak rusaknya mereka itu datang
dari sisi
orang tua, dari sisi ayah. Wa ihmalihim
ihmalihim lahum." di mana orang tua
menyia-nyiakan anak-anak tidak
dipedulikan anak-anak tersebut ya
taklimihim dan tidak mengajari anak-anak
faraiddin tentang perkara-perkara yang
wajib dalam agama
ya wasunanahu dan kemudian sunah-sunah
dalam agama dia tidak ajarkan kepada
anak-anaknya dia cuekin anak-anaknya
sibuk dengan dunianya sehingga anak-anak
tidak diperhatikan
maka
maka orang tua menyia-nyiakan ya
anak-anak ketika masih kecil tidak
diperhatikan.
Akhirnya ketika besar anak-anak tidak
bisa memberi manfaat kepada diri mereka
sendiriam
abahum kibar dan mereka tidak juga
membalas atau berbakti kepada kedua
orang tua mereka setelah besar.
Kesalahannya dari orang tua. Oleh
karenanya ingatlah kita sebagai orang
tua anak-anak adalah amanah tanggung
jawab yang kita semua akan berdiri di
hadapan Allah. Dan akan ditanya tentang
anak-anak kita. Sudahkah kita ajarin
mereka? Sudahkah kita bimbing mereka?
Atau kita menyanyakan amanah tersebut
dengan memenuhi keinginan mereka. Kita
berikan apa yang mereka mau sehingga
mereka akhirnya hidup dengan sesuka
mereka. Akhirnya rusaklah mereka.
Atau kita jauh dari anak-anak, tidak ada
dekat dengan anak-anak, tidak
berbincang-bincang dengan mereka.
Anak-anak merasa jauh dari kita,
bagaimana kita bisa ing mereka sementara
mereka merasa jauh dari kedua orang
tuanya?
Oleh karenanya jangan sampai kesibukan
dunia yang kita cari, begitu banyaknya
berita yang kita baca membuat kita lalai
untuk telepon anak-anak, untuk berbicara
dengan anak-anak, untuk bertukar pikiran
dengan anak-anak, menjadi kawan bagi
mereka sehingga mereka merasa dekat
dengan kita sehingga mudah untuk kita
arahkan. Tumbuhkan percaya diri mereka
dengan ya bertakwa kepada Allah
Subhanahu wa taala. Karena yakinlah
setiap kita akan dimintai
pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu
wa taala. Dan jika kita sudah berjuang
dan Allah berikan hasilnya anak-anak
menjadi anak yang saleh, maka sungguh
seakan-akan surga telah dihadirkan di
cepat bagi kita di dunia ini. Di antara
nikmat yang paling indah adalah miliki
anak-anak yang saleh. Semoga kita
dianugerahi oleh Allah Subhanahu wa
taala anak-anak yang saleh dan bertakwa
dan berbakti kepada kedua orang tuanya.
Inallah malaikatahu yusalluna alan nabi.
Ya ayyuhalladzina amanu shu alaihi
wasallimu taslima. Yeah.