Kind: captions Language: id Waktu itu istri saya hamil 8 bulan, kondisi perusahaan sedang tidak baik-baik saja, Mas. Dan kami harus terpaksa terusir dari rumah kami sendiri. Waktu itu ada sedikit perselisihan antara saya dan istri dengan keluarga besar dari mertua yang mengakibatkan mertua saya itu marah-marah besar sama istri. Istri saya diberikan pilihan, kamu mau ikut keluarga atau ikut suamimu? Tetapi istri memilih saya langsung hari itu kita pindah ke gudang kita. Saya ingat betul, Mas. Waktu malam itu saya, istri saya dan kedua anak saya dalam posisi istri mengandung 8 bulan. Kita hanya makan nasi sama mie dua bungkus dibuat pat. Iya. Kalau orang biasa menganggapnya itu enak, Mas. Ya, tapi kan saya pimpinan saya owner suatu perusahaan yang membeli karyawan. Masak untuk makan sendiri saya sulit. Perkenalkan nama saya Deni Lukman. Usia saya saat ini 35 tahun. Saya lahir di Madiun, Jawa Timur dan sekarang tinggal di Pacitan. Saya founder dari Madani Distribusi dan juga Madani Grosir Snack dan saat ini CEO dari Toko Tenang atau CV Teman Den Bagus Berkah. Kami berlokasi di Pacitan, Jawa Timur, kota kelahirannya Bapak SBY. Kalau dari background pendidikan saya dulu hanya lulusan SMK dan itu pun jurusannya otomotif, jurusannya mekanik otomotif. Setelah itu saya sempat kerja di bengkel. Ternyata feelnya atau jiwanya tidak ada di situ. Saya lebih senang ketemu orang ngobrol, habis itu kerja di sales sampai sekarang itu lebih dari 15 tahun. Saya dulunya sebagai sales di perusahaan FMCGI multinasional selama 6 tahun dan level terakhir menjadi sales area koordinator di area Pacitan di sini dan mendapatkan cip the best supervisor area Jatim. Dan saya ini supervisor termuda. Waktu itu baru usia 23 tahun ya. 23 tahun saya sudah jadi supervisor lalu pindah atau berganti perusahaan di perusahaan lokal. Karena saya waktu itu terinspirasi dari Jackma kalau kita bekerja tidak perlu harus tinggi-tinggi di perusahaan yang besar, cukup di perusahaan biasa atau sedang. tetapi kita langsung bisa bertemu dengan ownernya agar kita bisa tahu pola pikir owner itu seperti apa. Makanya saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan yang lama lalu kerja di perusahaan lokal Pacitan dan alhamdulillah saya mendapatkan banyak ilmu dan manfaat dari owner di sini. Tapi waktu saya pertama kali kerja dengan perusahaan distribusi yang ada di lokal Pacitan ini, itu tidak langsung mendapatkan posisi yang nyaman juga, Mas. Saya itu juga merintis. Jadi waktu di posisi perusahaan multinasional saya sebagai supervisor. Terus di sini saya hanya sebagai tukang tagih Mas atau de kolektor. Waktu itu awalnya seperti itu dan itu saya rintis perlahan-perlahan. Akhirnya alhamdulillah owner memberikan saya kesempatan level tertinggi. Saya sebagai operasional manager perusahaan di mana terakhir saya bekerja. Akhirnya saya memutuskan banting setir dari karyawan menjadi pebisnis atau pedagang. Seperti itu, Mas. Alasan terkuat saya waktu itu karena kalau kita sudah berada di level tertentu, di zona nyaman tertentu, kita sebagai jiwa atau mental pengusaha pasti tidak nyaman. Akhirnya saya mencoba sebagai pengusaha. Dan di sisi lain saya juga mau ikhtiar menjadi pedagang karena salah satu pintu pembuka rezeki itu adalah menjadi pedagang. Alhamdulillahnya di tahun pertama waktu itu sebelum COVID 2019 saya cuman berdua cuman dua orang. dua orang. Saya sebagai sales dan juga sebagai sopir. Jadi saya membawa kendaraan sendiri dan saya ada tim satu helper saya dan alhamdulillahnya sekarang di tahun 2025 kita memiliki 21 karyawan. Dari awal berdiri dalam 1 bulan awal menghasilkan angka sekitar 100 sampai R00 juta saja. Iya. Kenapa angkanya bisa langsung segitu? Karena memang saya kan sudah lama menekuni dunia distribusi ini dan juga saya sudah lama untuk berjualan di area Pacitan. Jadi, saya sudah kenal dengan toko-toko, dengan customer-customer saya yang lainnya. Dan saya membangun hubungan baik itu ketika waktu bekerja dahulu. Makanya ketika saya keluar untuk berbisnis sendiri, mereka menyambut positif hal itu dan akhirnya mereka juga membantu saya untuk membeli dagangan saya. Di tahun berikutnya 2020 kita kena COVID, Mas. Jadi itu cukup jadi penahan untuk mendapatkan omset yang besar. Setelah itu di tahun-tahun berikutnya kita sudah flat di angka 500-an juta, Mas. Dan sekarang karena kami, saya dan kakak saya memutuskan untuk bersama untuk kita merger jadi satu untuk pengelolaan dari tiga lini channel ini, distribusi toko online dan toko offline. Alhamdulillah atas izin Allah dalam setiap bulannya kita minimal angkanya sudah di atas 1 M semua, Mas. Iya, di atas 1 M itu untuk hari-hari biasa atau untuk bulan-bulan yang biasa. Kalau untuk PX season-nya kita bisa dua sampai 3 kali lipatnya, Mas. Di season-nya itu sebelum Ramadan dan juga pas ketika lebaran atau di bulan Syawal itu untuk orang hajatan dan lain sebagainya itu angkanya kita naiknya cukup lumayan drastis. Kenapa saya memilih usaha yang sejenis di sini? Karena yang pertama saya memang eksert di bidang ini. Saya tahu celuk belunya mulai dari A sampai Z-nya, dari 0 sampai 100-nya. Saya benar-benar paham dan mengerti. Makanya saya memutuskan untuk terjun di bisnis ini karena saya tidak mau mencoba-coba bisnis lain yang saya tidak ketahui sebelumnya. Waktu pertama kali terjun saya ke distribusi dulu karena memang itu yang saya bisa. Jadi saya sudah bertahun-tahun di dunia distribusi. Akhirnya saya membuat distribusi dulu. Kalau distribusi itu biasanya dikenal dengan nama agen ya. Agen suatu produk dari pabrik yang memang tidak bisa mendistribusikan produknya di Pacitan. Karena Pacitan ini semacam kota yang terisolir, Mas ya. Karena mau masuk ke Pacitan itu jaraknya lama, jaraknya jauh, jalannya berkelok-kelok. Jadi memang di pegunungan. Perusahaan yang saya kelola saat ini kita membuat tiga level channel yaitu yang pertama itu level distribusi ya. Jadi kita menyalurkan atau mendistribusikan produk-produk FMCG tentunya itu di area seluruh Pacitan. Terus yang kedua, karena ini kemajuan teknologi, jadi saya memanfaatkan teknologi untuk masuk ke ranah online. Jadi saya memiliki toko online mulai dari Tokopedia, TikTok Shop, Shopee, dan juga saya memaksimalkan WhatsApp karena ternyata setelah saya masuk ke dunia online ini impact-nya sangat powerful bagi keberlangsungan bisnis saya. Nah, lalu di tahun 2025 ini saya dengan kakak saya memutuskan untuk merger jadi satu membikin satu CV baru yaitu CV Teman Bagus Berkah itu untuk menaungi kesemuanya ya karena potensi ini bisa dikembangkan apabila kita bersama dan akhirnya saya memiliki tiga channel yaitu satu channel distribusi, satu toko online dan satu toko offline. Kalau untuk channel distribusi ini ee yang awalnya kita kerjakan memang kita dari satu toko ke toko yang lain ya. Terus kita juga memiliki sales juga untuk keliling di area seluruh Pacitan. Jadi nanti misalkan hari Senin kita order, Selasanya langsung kita kirim dengan kendaraan kita. Itu khusus untuk area pasitan dan itu salah satu traffic untuk mempercepat atau menaikkan omset ya untuk putaran di cash flow-nya itu bisa sangat cepat. Tantangan terberat saya yang saya hadapi adalah tidak punya orang yang mengarahkan ya. Jadi tidak ada mentoring yang khusus ya. Tidak ada mentor yang khusus yang tahu blueprint-nya. Blueprint-nya bagaimana kalau kita dari karyawan menjadi pengusaha itu harus bagaimana nanti titiknya gimana caranya balik modal ngatur cash flow caranya ngatur karyawan SDM dan lain sebagainya itu tidak ada yang mengarahkan. Jadi semuanya murni saya by experience saya yang lama. Saya pikir waktu itu saya sudah tahu karena sudah lama bekerja di perusahaan multinasional. Ternyata ketika saya terjun sendiri menjadi pebisnis itu memang effortnya sungguh luar biasa. Jadi kerjanya sudah tidak 9 to5 ya, tapi 24 jam itu kerja terus, Mas. Jadi bisa dikatakan seperti itu. Tidur pun waktu awal-awal kita juga masih mengigau. Kata istri saya itu mengigau itu tentang pekerjaan juga. Jadi memang di awal-awal waktu merintis ya memang berat Mas karena saya sendiri kan akhirnya saya berkomunitas Mas. Jadi saya membangun komunitas untuk bisa kita sharing karena saya yakin permasalahan yang saya alami dan orang lain alami itu pasti ada solusi apabila kita sharing, apabila kita berbagi, Mas. Dan alhamdulillah ada banyak beberapa permasalahan-permasalahan orang lain yang bisa kita bantu selesaikan kayak gitu, Mas. Walaupun permasalahan itu kita belum pernah mengalaminya, tetapi karena saya sudah 15 tahun lebih di bisnis FMCGI terutama retail ini, jadi saya sangat paham bagaimana cara menyelesaikannya, Mas. Ada pengusaha yang mengeluhkan kepada saya terkait masalah omsetnya yang stuck ya, Mas ya. Dia sudah memiliki banyak karyawan, tokonya juga sudah besar, tapi dia omsetnya stuck dan dia akan melakukan pengembangan. Bagaimana nih cara ngembangin omsetnya? Akhirnya waktu itu saya tanya saja sudah masuk ke digital apa belum. Oh, ternyata waktu itu sudah masuk tapi tidak digarap secara profesional. Akhirnya saya memberikan hanya sedikit masukan atau insight itu terkait dengan mencari database lewat WhatsApp, Mas. Itu untuk lingkungan sekitar saja dulu. Jadi, radius 5 km kita harus bisa mendapatkan nomor-nomor WA-nya. Karena apa tujuannya? Agar biar kita bisa jualan lewat WhatsApp dan kita bisa mengirimkan langsung ke orang tersebut tanpa orang tersebut keluar rumah. itu adalah channel baru yang masih belum digarap kayak gitu, Mas. Sesimpel WhatsApp saja ternyata impact-nya luar biasa. Omsetnya di bulan pertama itu bisa Rp50 juta, Mas. Dan di bulan berikutnya itu bisa sampai ke angka Rp150 juta. Itu saya juga kaget loh, kok bisa seperti itu? Tapi kita sudah rencanakan, kita sudah pemil, ternyata militan-militannya cukup luar biasa. Mas, kalau untuk mendapatkan database WhatsApp waktu itu karena mendekati hari raya kemerdekaan seperti ini, saya menganjurkan untuk membuat program seperti Semarak kemerdekaan. Jadi nanti setiap pelanggan yang berbelanja ke toko tersebut dia memberikan nomor telepon ya, memberikan nomor HP itu yang nanti akan dihubungi sama karyawannya dia. Jadi semua orang yang belanja walaupun itu cuma 1.000 perak, 2.000 perak. Jadi tidak terkecuali, Mas. Nah, nanti dari nomor-nomor itu akan dihubungi ulang sama karyawannya dan disuruh untuk menyimpan nomor toko. Nah, nanti akhirnya toko bisa jualan lewat status WhatsApp atau bisa untuk di-direct langsung untuk didm langsung ke nomor WhatsApp-nya. Dan alhamdulillah itu dilaksanakan dan akhirnya omset yang semula nol, channel yang tidak digarap atau funnel yang tidak digarap akhirnya muncul angka sebegitu besarnya. Kalau saat ini yang saya lakukan kepada teman-teman yang ingin belajar atau sharing bersama, saya mencantumkan nomor saya di deskripsi di video ini agar kita saling belajar bersama, kita saling sharing, membagi pengalaman kita. Oh, ternyata masalah seperti ini mungkin di pengusaha A belum pernah dilakukan, tapi sudah dilakukan di pengusaha B. Dan caranya bagaimana ini bisa saling sharing atau mungkin bisa di-sharingkan ke kami habis itu, oh ini masalah seperti A B C D ini bagaimana penyelesaiannya biasanya gitu. kita dengan berkomunikasi karena semua digital ya Mas ya. Untuk memudahkan komunikasi ya kita lewat WhatsApp, lewat mungkin Zoom. Yang penting kita mau belajar, kita mau menyimak dan kita mau mempraktikkan apa yang sudah kita pelajari itu pasti akan sedikit membantu atau sedikit memberikan solusi untuk pengusaha-pengusaha rettail yang terkena masalah dalam hal bisnisnya. Problem dari para pengusaha retail saat ini, selain munculnya retail modern yang marak ya, seperti kita ketahui bersama itu ada A dan I ya. Nah, itu cukup mengganggu eksistensi pengusaha-pengusaha rilasnya memang benar-benar kecil, yang benar-benar mikro itu sangat berdampak sekali. Tetapi kalau kita bisa dalam tanda kutip bersahabat dengan mereka, kita masih bisa mendapatkan marketnya. Karena apa? karena dia tidak jual buah-buahan yang fresh, banyak dan murah. Buah-buah mereka mahal semua. Mereka tidak jualan e bumbu-bumbu dapur yang fresh, yang murah kan gitu. Pelayanan yang diberikan retail modern itu tidak seperti pelayanan yang diberikan oleh toko-toko kecil lainnya. Karena toko-toko kecil ini kita mengutamakan customer experience berbasis hati, Mas. Jadi kalau kita baik ya, kita baik, pelanggan datang terus kita menyapa namanya karena kan kita tahu dan kita kenal kita menyapa namanya. Bu dari mana? Gimana kabarnya? Oh, kemarin habis hajatan ya atau kemarin gimana hajatannya lancar? Dengan seperti itu akan terjadi good well mas, hubungan baik antara kita dengan pelanggan. Dan itu yang tidak dilakukan oleh pelaku retail modern. Kesalahan lainnya ketika pengusaha-pengusaha retail itu baru menyadari bahwasanya ketika barangnya habis ya barangnya sudah habis dan juga uangnya habis. Uangnya gak ada. Padahal ketika barang kita habis harusnya uang kita banyak ya. Atau mungkin ketika uang kita habis barang kita banyak kan gitu. Lah ini sudah barangnya habis uangnya habis. Kenapa? Karena biasanya karena pengelolaan keuangannya yang belum terstruktur dan tersistematsi. Semisal ee mereka masih menggunakan pencatatan manual, tidak ada stock opnam, habis itu mungkin tidak terlalu percaya dengan karyawannya atau bisa jadi memang barangnya habis dimakan oleh karyawannya, dibawa oleh karyawannya atau uangnya habis juga sama dibawa oleh karyawan. Ini yang problem yang cukup banyak dan menyita perhatian saya ketika sharing dengan teman-teman pelaku retail lainnya. Untuk mengetahui atau meminimalisir agar barang habis, uang habis, kita harus tahu mana yang produk-produk fast moving, middle moving, dan slow moving. Secara persentase ini bisa dilihat dengan data dengan kalau sudah memakai software tidak manual, bisa manual tapi pencatatannya harus rajin, Mas. harus rajin, harus tahu setiap harinya keluar berapa, barangnya apa, itu harus tahu. Tidak bisa mengandalkan feeling saja. Nah, kalau di komputer atau di software itu 70% sebagai rumusnya 70% omsetnya ini harus didominasi oleh produk-produk yang fast moving. Kita anggarkan paling banyak karena apa? Karena dia putarannya cepat. Jadi kita harus langsung oh habis langsung beli, habis langsung beli. Memang marginnya lebih tipis, tapi karena putarannya cepat akhirnya secara quantity-nya dia akan lebih banyak. Yang 20%-nya itu dimasukkan untuk produk middle moving. Produk middle moving ini dia putarannya tidak terlalu cepat, marginnya tidak terlalu banyak ya, tapi dia tidak sedikit marginnya. Jadi ini masih bisa mengkatrol margin untuk yang produk fast moving ya. ini tinggal kita arahkan aja dia naik ke produk-produk fast moving. Nah, yang terakhir ada ya yang 10% ini produk-produk slow moving. Jadi orang biasanya terjebak di sini karena apa? Iming-iming program yang besar dari supplier, Mas. Dari principal dari sales. Biasanya produk ini memiliki margin tinggi tapi keluarnya pelan banget. Bahkan bisa 1 tahun baru bisa habis. Nah, tapi orang tergiur karena wah ini dapat hadiah apa? sepeda motor atau dapat hadiah mobil atau dapat hadiah TV, kulkas dan lain sebagainya lah. Ini yang 10% aja. Ini harus kita hindari atau kita mampatkan, kita batasi banget lah. Ini biasanya dilihat dari software, nanti ada klasifikasinya sendiri, Mas. Seperti itu untuk contoh-contoh produk yang fast moving ya, Mas ya. yang seperti kita ketahui di toko-toko retail yaitu produk-produk sembako, minyak beras, gula kopi dan lain sebagainya. Ya, itu produk-produk fast moving tapi margin kecil. Atau kalau toko-toko yang berbasis snack. Kalau kita tahu supplier-supplier snack yang besar seperti Garuda Food, Mayora, OT, Wings, Endomarco, dan lain sebagainya itu perusahaan besar produknya fast moving semua lah. Itu yang mungkin dibanyakin. Tapi tidak semua produknya itu fast moving, Mas. Jadi ini harus dipilih, Mas. kriteria ini kadang mereka menawarkan harus ambil A B C ini baru bisa ini. Ya sudah cuman syarat dan ketentuannya aja yang kita ambil. Misalkan hanya satu bok atau hanya satu karton. Selebihnya kita maksimalkan yang di fast moving-nya yang benar-benar cepat banget itu. Itu kita harus benar-benar tahu. Jangan sampai tergiur dengan iming-iming program. Kalau kita tergiur program, pasti nanti kita juga akan kena produk-produk yang slow moving-nya itu lah. Terus produk-produk middle moving itu produk yang tengah-tengah, Mas. Snack-snack besar yang affordable produk premium. Jadi dia di atas eceran R5.000 ya, di atas ee Rp10.000. Itu produk-produk yang cukup menarik margin ya, tapi dia tidak terlalu ramai kayak gitu, Mas. Tidak terlalu cepat putarannya, Mas. Nah, itu tetap harus ada karena itu buat sekali waktu harus untuk pelengkap di toko. Terus yang terakhir ada produk-produk slow moving. Misal produk-produk yang tidak bisa dimakan, Mas. Biasanya produk-produk palen atau produk-produk yang memang tidak dikonsumsi itu biasanya lambat dan itu ya tetap harus dijaga dia. Kalau kebanyakan yo nanti kita akan boncos atau rugi dan akhirnya jadi dead stock, Mas. Jadi dia akhirnya stok yang tidak bisa bergerak sama si dijual gak laku, dipromo apalagi dan ini adalah salah satu produk yang paling banyak menggerus uang para pemilik toko. Untuk memecahkan sistemasi tersebut biasanya kita memberikan arahan yaitu sudah harus memakai komputer, harus memakai software yang memang ini bisa memantau kondisi stoknya, kondisi barangnya, kondisi harganya. Sekarang banyak orang ingin membuka cabang, tapi sayangnya mereka tidak mengetahui bagaimana kesiapannya. Mungkin dia hanya punya modal saja, punya uang saja, bahkan yang lebih parah dia hanya punya strategi saja. Nanti di sana pasti ramai, pasti laku. Padahal itu tidak. Justru dia mau buka cabang baru, dia akan semakin pusing. Padahal kalau di logika harapannya dia buka cabang baru marginnya tambah besar kan gitu. Jadi kalau ingin membuka cabang baru biasanya kita menerapkan beberapa strategi. Yang pertama harus survei dulu. Survei dulu lokasi dan kompetitornya ada atau tidak. Terus kita matangkan dulu di pusatnya di toko pertama ini semuanya sudah matang apa belum. Mulai dari pengelolaan SDM, terus jobd des karyawan, terus habis itu untuk keuangannya, Ting-nya dan lain sebagainya. Ini kita matangkan dulu. Setelah ini bisa baru diduplikasi atau dimirroring ke cabang kedua. Dan cabang kedua pun tidak bisa langsung. Karena apa? Karena kita harus cari karyawan yang memang harus tepat. Justru akhirnya ketika membuka cabang kedua, kalau kita semakin pusing berarti kita tidak mendapatkan orang yang tepat. Bahkan biasanya malah owner buka di cabang pertama juga harus ke cabang kedua nih bolak-balik bolak-balik kesehatannya terganggu, justru makin pusing dan lain sebagainya. Nah, ini yang harus dihindari. Karena apa? Biasanya orang itu sudah iri, Mas. Lihat mungkin tetangganya atau mungkin kompetitornya buka di sana, dia pengin langsung buka itu. Ya, sifat-sifat ini yang harus dihindari. Karena tidak semua ketika buka cabang akhirnya keuntungan bertambah. Bisa jadi buka cabang justru awal dari kebangkrutan. Nah, untuk mendelegasikan ini kita harus tahu bagaimana cara mencari karyawan yang tepat. Karena semuanya ada caranya, Mas. Gimana caranya mencari karyawan yang tepat? Gimana caranya menempatkan posisi karyawan di posisi yang tepat. Itu kan juga penting, Mas. Ini kita bahas, kita sharingkan bersama-sama, terus kita cari solusi. Buat teman-teman pengusaha toko retail, pengusaha minimarket, UMKM, toko kelontong dan lain sebagainya. Apabila ingin bisnis Anda naik kelas bisa menghubungi saya di nomor ini. Nanti saya akan langsung menjawab pertanyaan dari teman-teman semuanya agar permasalahan kita, agar bisnis kita naik ke level yang lebih tersistematis lagi. Semua pengusaha pasti memiliki titik terendah ya, Mas ya. Waktu itu saya ingat istri saya hamil 8 bulan, kondisi perusahaan sedang tidak baik-baik saja, Mas. setelah COVID tidak baik-baik saja dan kami harus terpaksa terusir dari rumah kami sendiri. Itu sebenarnya rumah milik mertual tetapi sudah saya beli dan qadarullah waktu itu ada sedikit perselisihan antara saya dan istri dengan keluarga besar dari mertua yang mengakibatkan mertua saya tuh marah-marah besar sama istri. Bahkan waktu itu istri saya diberikan pilihan, kamu mau ikut keluarga atau ikut suamimu? Dan istri saya memilih saya langsung hari itu kita pindah, kita ambil semua pakaian dan lain sebagainya. Terus lalu kita pindah ke gudang kita. Saya ingat betul, Mas. Selesai ditanya waktu itu malam itu saya istri saya dan kedua anak saya dalam posisi istri mengandung 8 bulan kita hanya makan nasi sama mie dua bungkus dibuat orang pat ya kalau orang biasa menganggapnya itu enak Mas ya tapi kan saya pimpinan saya owner suatu perusahaan kan yang memberi karyawan masak untuk makan sendiri saya sulit ini tidak ada yang tahu bahkan saya tidak cerita sama ibu saya sama keluarga saya karena saya merantau saya nak mau keluarga saya kepikiran dan saya janji sama istri saya ini yang terakhir. Saya berjanji tidak akan membuat dia susah lagi untuk makan. Teras. Setelah itu saya bangkit mencari solusi. Saya tahu saya ini kepala keluarga. Saya tidak mungkin hanya berdiam diri saja. Saya belajar, belajar dan terus belajar bagaimana caranya menata cash flow, menata SDM, menata karyawan, dan menata keluarga. Karena kita bekerja ini tidak hanya untuk diri saya sendiri, tapi di belakangnya ada keluarga saya, ada orang-orang yang membutuhkan lainnya. Semisal satu karyawan saya memiliki satu istri, itu jadi dua yang harus kita tanggung. Kalau dia memiliki anak satu, berarti tiga orang yang bergantung nafkahnya atau rezekinya dari perusahaan yang saya kelola. Maka dari itu saya dikuatkan oleh kakak saya di sini. Dia juga salah satu orang yang berada ketika posisi saya sedang di bawah sedang terpuruk dan dia juga membantu saya sharing bagaimana menata bisnis, bagaimana membuat strategi-strategi baru dalam berbisnis sehingga menghasilkan perusahaan yang tidak hanya memikirkan untung rugi saja tetapi juga memikirkan dunia dan akhirat. Jadi perusahaan sekarang berbasis semua karyawan-karyawan yang di sini itu wajib salat ketika bekerja. Terus habis itu, Teman-teman, itu juga harus bisa membaca Al-Qur'an. Karena saya yakin dengan prinsip-prinsip syariah perusahaan saya pasti akan bertahan lebih lama daripada perusahaan-perusahaan lainnya. Harapan saya untuk pengusaha retail dan bisnis e FMC lainnya, semoga usahamu ini tak sekedar ramai pembeli saja, tapi juga bertumbuh dengan sehat dan stabil juga menguntungkan. Semoga setiap etalase, rak, gudang, dan produk-produk yang ada di toko itu menjadi jalan pembuka pintu rezeki yang berkah untuk kita sebagai owner dan untuk tim-tim karyawan yang kita percayai. Semoga kamu tidak hanya sibuk, tapi juga cerdas dalam membangun sistem yang bisa berjalan tanpa harus kamu selalu ada. Karena toko yang sukses bukan hanya yang laris, tapi yang bisa bertahan dan berkembang. Semoga kamu tidak cepat puas, tapi juga tidak cepat lelah. Karena bisnis retail itu maraton, bukan sprint. Butuh strategi, sabar, dan keberanian untuk terus beradaptasi. Buat teman-teman semuanya yang menonton video ini, semoga dapat terinspirasi dengan video saya dan menjadikan insight positif untuk perkembangan bisnis teman-teman semua. Ini naik kelas versi saya. Temukan naik kelas versi kamu.