Kind: captions Language: id Dulu Itik kita ngemodal sampai R juta lebih. Ternyata malah menghasilkan pembelajaran. Jualan seblak juga cilok itu keluar modal mungkin ada hampir R jutaan lah gitu. Nah, malah di Seik ini yang modalnya hanya R1 juta, itu pun karena kita daftar pelatihan. Uang udah habis, gimana caranya si R1 juta ini balik lagi? Kita optimalkan dengan berjualan. Terus juga waktu itu jualan produk teman juga yang udah punya brand duluan diberi kemudahan dengan bayarnya nanti kalau kita udah dapat transparan dari customer gitu. Gimana waktu itu alhamdulillah profit udah semakin baik dari waktu ke waktu tapi ya kita ambil secukupnya agar si profitnya itu bisa terus kita putar jadi modalnya semakin besar gitu sampai alhamdulillah bisa menghasilkan omset ratusan juta per bulannya gitu. Perkenalkan saya Gita. Usia saat ini 24. Pada percaya enggak ya? Enggak. Itu 10 tahun yang lalu. Jadi usianya sekarang 34 tahun dan saat ini bersama suami menjalani usaha di bidang fashion muslimah yaitu Seikalova. Jujur saya sama suami bisa dibilang melawan arus ya karena background keluarga kami gitu ya keduanya dari pendidikan PNS. Begitu pula dengan e background pendidikan kami gitu yang merupakan sarjana pendidikan. Dulu awalnya saya dan suami sama-sama bercita-cita ingin menjadi dosen, tapi di semester akhir tiba-tiba pindah haluan dan tertarik menjadi e pengusaha. Karena saat itu kami tuh lagi nunggu masa-masa sidang. Nah, di sana kita jadi senang baca buku dan kita tuh jadi senang baca buku self motivation. Waktu itu Notses from Qatar karangannya Muhammad Assad. Nah, dia juga kan usaha ya dan waktu itu dia cerita proses pertamanya kuliah di luar negeri, proses dia mencapai impian-impian lah di sana. Oh i ya kita untuk mencapai impian tuh harus banyak bergerak dan bahkan pergerakannya tuh memang yang enggak biasa gitu. Kalau yang biasa-biasa aja ya untuk kita enggak enggak bisa gitu mencapai mimpi yang besar dengan gerakan yang biasa aja. Nah, kalau Seikalova ini sendiri juga bukan brand yang dengan sengaja. Waktu itu saya udah mulai kan, ah pengin jadi pengusaha nih, tapi belum kebayang mau jadi pengusaha apa atau usaha apa. Nah, saat itu pokoknya kami tuh oke apa nih kita bisa mulai dengan apa untuk menjadi pengusaha. Waktu itu kan beda sama sekarang ya kan kalau misalnya mau mulai usaha tuh lebih mudah dengan era digital kan. Enggak online kayak enggak butuh modal banyak segala macam. Nah, dulu belum musim kayak gitu. Saya memulai sama suami sambil kerja dulu. Saya sambil jadi asisten dosen, suami juga kerja juga gitu kan. Nah, tapi di sana kita tetap pengin jadi pengusaha gimana ya? Oke, kita berpikir gimana caranya memulai usaha yang bisa sambil kerja. Nah, saat itu kita mulai dengan ternak itik. Awalnya saya memulai bisnis tuh modal keberanian aja, tapi ternyata dari sana belajar banget. Bisnis itiknya gagal gitu ya. merugi sampai 20 jutaan lebih saat itu uang tabungan saya habis. Yang tadinya mau beli rumah enggak jadi beli rumah gitu karena uangnya habis. Tapi di sana kita banyak pembelajaran dan yang paling intinya itu ternyata bisnis itu enggak hanya modal uang dan modal nekat aja gitu loh. Butuh ilmu juga gitu. Menjalani bisnis itu enggak bisa asal gitu. Nah, dari sana kita belajar akhirnya tergerak untuk oh ya udah kalau kita emang niatnya pengin jadi pengusaha kita harus belajar dong. Dari sanalah kita mulai banyak cari tahu tentang course-course bisnis gitu. Karena kan kalau sekarang mah banyak ya kelas-kelas. Nah, kalau dulu tuh masih jarang, yang online juga masih jarang. Jadi kita tuh kayak, "Ih, ada kelas bisnis apa nih di mana?" Di Bandung. Kita bela-belain pergi ikutan gitu. Nah, waktu itu ketemu sama supplier gamis, kerudung gitu ya. Nah, waktu itu menjelang bulan Ramadan saya izin boleh enggak e ta ikut jualin? Oh, ya udah boleh gitu. Diizinkan yang waktu itu saya belum ada modal diizinkan ambil barang dulu nanti saya udah customer udah bayar baru bayar. Ternyata laris nih jualan mukena, gamis, kerudung. Di tahun 2016 mulai tuh saya tertarik untuk pengen produksi sendiri juga, pengin bikin gamis yang kayak begini gitu. Ya udah kita produksi aja. Dari sana mulailah berusaha nyari-nyari rekanan produksi. Akhirnya ketemu dengan rekanan yang bisa ngebantu produksi. Dan di 2016 saya lahir sebagai brand itu sendiri. Waktu itu kan saya masih jadi asisten dosen, terus juga jadi part-time teacher di sebuah lembaga kursus gitu kan. Tapi semakin sini saya wah semakin susah mengatur waktu alhamdulillah seik-nya berkembang akhirnya memilih untuk resign tuh saat itu. Ya udah deh saya putuskan kita fokus aja di seik lalu kita mulai hire tim gitu ya ee satu orang dua orang gitu semakin berkembang. Alhamdulillah saat ini tim di kantor operasional ada 24 orang dan tim produksi 30-an lebih. Kalau per bulan di ribuan pisis mungkin 5.000-an lebih. Nah, ini juga harganya variatif ya. Di kayak bergo gitu Rp60.000 sampai di Rp350.000. Omsetnya di ratusan juta sih kalau dinominalkan. Jadi, Seikalova ini bertumbuh saat pertumbuhan jualan online masih baru-baru kan waktu itu tuh belum ada marketplace, Instagram juga baru bertumbuh sebagai platform jualan. Jadi di 2016, nah Instagram ramai kan dipakai platform untuk berjualan. Nah, Seik juga bertumbuh berbarengan dengan Instagram. Saat itu kita distribusi online-nya tuh melalui agen reseller. Nah, kemudian di 2021 kita fokus ke retail, tapi kita juga fokus ke retailnya masih pakai metaads yang diarahkan ke form dan WA. Ada juga ke website sendiri. Sering berjalannya waktu, kita juga belajar tentang ilmu bisnis segala macam bahwa kita tidak boleh hanya bergantung pada momentum aja. Jadi jangan sampai kita itu bisnis itu hanya faktor keberuntungannya aja. Kita harus mulai belajar ilmunya. Kemudian kita mempelajari nih ilmunya bagaimana mengembangkan bisnis itu sendiri gitu berdasarkan fondasi yang jelas agar ya bisnis kita sustain gitu. Ada musim ini kita ikut-ikutan nanti ininya ngelelep kita ikut ngelelep. Agar jangan sampai kayak gitu kita harus menerapkan framework bisnis yang benar. Kita kemudian banyak belajar ikut komunitas bisnis. Nah, dari sana sering diingetin, dikasih tahu bahwa ayo kamu harus bisa menjalankan bisnis usaha ini secara menyeluruh gitu. Harus membedakan bisnis sama dagang. Kalau dagang kan misalnya nih, ini sekarang lagi ramai TikTok, okelah ada produk apa jual di TikTok ngikutin ramainya TikTok. Habis gitu TikTok-nya misalnya udah mulai optimasi, kita enggak bisa ngikutin, kita ngelelep. Nah, kita harus bisa paham framework bisnis itu sendiri. Jadi kita enggak hanya gimana jualannya aja, tapi kita juga gimana menumbuhkan perusahaan ini sendiri gitu. Nah, dari sana kita mulai membangun tim juga gitu yang saya rasakan. Kita enggak hanya fokus jualan, tapi gimana caranya di berbagai ini bisnisnya tuh kayak dari keuangan, dari marketing, kita harus menerapkan dengan framework yang usaha atau bisnis yang benar agar bisa bertahan dalam kondisi apapun. Kesal terbesar seorang bisnis owner adalah terlalu banyak terlibat dalam hal teknis seperti mengurus laporan keuangan, bikin invoice, cek stok barang sampai ngurus karyawan. Harusnya waktu dan energi digunakan untuk memikirkan strategi bisnis bukan malah tenggelam dalam operasional sehari-hari yang sebenarnya bisa dibikin otomatis dengan menggunakan software bisnis yang mudah digunakan, lengkap, dan terintegrasi. Ini saatnya upgrade ke Odu, aplikasi kelola bisnis termudah. ODU adalah bisnis software yang lengkap, all inone, affordable, dan mudah digunakan. Bayangkan kalau semua urusan bisnis bisa dikendalikan dalam satu platformroom yang sangat terintegrasi. Sales kelola pesanan pelanggan dengan cepat non otomatis. Invoicing buat dan kirim invoice hanya dalam hitungan detik. Accounting, laporan keuangan real time enggak perlu pusing lagi. Enggak hanya itu, Oldu juga punya fitur POS, website, HR, project management, dan banyak lagi. Saatnya bisnis kamu naik kelas dengan Odu, coba ODU secara gratis atau ngobrol bareng pakar Odu dengan klik link di deskripsi. [Musik] Saya memahami bahwa bisnis itu bukan hanya tentang untung rugi. Bisnis itu bukan hanya tentang pencapaian materi gitu. Dan terlebih lagi karena dari perjalanan bisnis gagal, kemudian mengalami kerugian segala macam gitu. Ada di masa-masa ya Allah kok gini ya gitu. Jadi dulu pernah termotivasi katanya bisnis itu enak karena bisnis jalan owner bisa jalan-jalan. Waktunya bebas gitu bebas uang, bebas waktu. ternyata realitanya tidak seperti itu gitu loh. Dan bahkan kalau misalnya bisa dibilang dari segi waktu, dari segi fokus pikiran gitu kan, tenaga kita malah lebih kalau bisnis itu kita harus ngeluarin itu lebih gitu dari pikiran, dari tenaga segala macam. Kalau dari kerja kan mungkin selesai kerjaan udah. Nah, kalau bisnis tuh enggak bisa gitu. Boro-boro bebas waktu, udah pulang ke rumah, udah selesai jam kerja aja. Kalau sebagai owner kita masih harus terus berpikir kan gitu. Nah, tapi ee guru saya menyampaikan bahwa bisnis itu perjalanan spiritual gitu, spiritual jurni. Gimana caranya melalui bisnis ini juga menjadi jalan kebermanfaatan kita sebagai ibadah, sebagai ladang dakwah gitu. Karena di bisnis ini misalnya contohnya seika punya banyak follower, saya punya karyawan. Nah, itu bisa jadi ladang dakwah kita, gitu. Maka dari itu ya bisnis itu spiritual journey dan jalan kebermanfaatan gitu. Bukan hanya tentang pencapaian materi dan untung rugi aja. Karena kalau kita berpikirnya hanya untung rugi, hanya pencapaian materi pas-masa rugi, masa-masa turun, kita bisa mudah nyerah gitu kan, mudah ngeluh mungkin. Apalagi di bisnis dinamikanya itu kayak wah lebih kayak roller coaster lah gitu. Nah, karena dinamikanya ini gitu harus memaknai ya itu punya pegangan spiritual jurn ini. Jadi saat kita di bawahlah atau saat kita rugi atau tidak sesuai ekspektasi gitu, saat kita mendapatkan kerugian. Kalau kita ada di masa-masa yang tidak sesuai ekspektasi misalnya kegagalan ya kita bisa melihat itu sebagai pembelajaran gitu karena mindsetnya udah spiritual journey dan kebermanfaatan duluan gitu. Dari kecil saya tuh terbiasa sama orang tua, kamu tuh boleh punya mimpi yang besar. Ayah saya guru, ibu tata usaha. Kan maksudnya tipikal yang keluarga tidak berlebihan gimana banget. Kalau misalnya kita ada keinginan perlu effort lah, harus nunggulah. Tapi meskipun begitu, orang tua saya tidak pernah membatasi kalau kita punya keinginan, kamu boleh punya keinginan yang besar. Jadi lagi SD nih, saya waktu itu bilang, "Aku cita-citanya pengin keliling Eropa, pengin keliling dunia." Padahal kalau dipikir-pikir dari mana? coba gitu. Tapi orang tua saya enggak pernah dari mana uangnya enggak pernah kayak gitu. Kamu enggak mungkin orang tua kamu hanya begini misalnya enggak pernah oh insyaallah bisa berdoa. Berarti kamu harus gimana caranya berusaha belajar segala macam. Dari sana dari kecil itu, dari SD jadi saya udah berpikir gimana saya bisa mencapai tujuan itu. Dulu kepikirannya gini, kalau pengin keliling dunia, keliling Eropa, caranya apa ya yang bisa saya jangkau? Oh, jadi pramugari. Jadi pramugari yang bisa keliling dunia, gitu kan. Dari sana saya terpikir kita punya mimpi, punya gol, kita harus berpikir kendaraan apa yang bisa mengantarkan kita untuk mencapai mimpi atau gol kita itu. Semakin jalannya waktu, alhamdulillah waktu itu lagi kuliah tingkat akhir saya kuliah di UNSIL namanya Mas Hoodie Award. Itu penghargaan untuk mahasiswa yang berprestasi untuk berangkat ke Eropa selama 2 bulan. Waktu itu memilih e jurusan kuliah pun yang bisa mengantarkan saya sama mimpi saya ke Eropa ngomongnya bahasa Inggris. berarti saya harus jago bahasa Inggris. Jadi saya kuliah bahasa Inggris dan ternyata di tingkat akhir tingkat 3 ke tingkat empat saya baru tahu ada program itu di UNSIL. Ternyata pas ikutan surprisingly saya keluar sebagai pemenangnya. Waktu itu berangkat ke Eropa 2 bulan. Nah, dari sana ternyata enggak ada yang enggak mungkin gitu loh. Untuk mimpi besar itu ya kita usahakan aja dulu. Jadi waktu saya memutuskan untuk jadi pengusaha pun itu kan pengusaha jauh banget gitu dari background pendidikan, background keluarga. Tapi ya itu karena sebelumnya dari kecil udah biasa kan bermimpi yang besar dan insyaallah kamu tuh pasti bisa gitu yang penting memikirkan ikhtiarnya kendaraannya apa, bagaimana dari sana ya udah deh saya ingin menjadi pengusaha untuk menjadi kendaraan saya mencapai gol dan mimpi saya yang waktu masuk di world itu saya tinggal 2 bulan di Eropa dan alhamdulillah ee semuanya gratis dari mulai berangkat dari Tasik sampai sana sampai kembali lagi. di sana tinggal di Brues, di Belgia dan diberi reward untuk keliling beberapa negara juga. Jadi kelilingnya belum, baru beberapa. Semoga ini masih bisa diwujudkan lagi nanti. Kalau boleh dibilang titik terendah, kayaknya yang waktu bisnis itik sih. Karena istilahnya gini, saya sama suami kerja freelance bertahun-tahun. Kita kuliah sambil kerja, orang di sela-sela kuliah bisa main, bisa menikmati masa muda. Kita tuh kerja agar punya tabungan, agar waktu itu bisa cepat-cepat nikah dan mandiri. Dan sekalinya uang itu terkumpul gitu, hasil pengorbanan dan perjuangan tiba-tiba habis karena kegagalan bisnis etnik itu sendiri, gitu. Dan saat itu juga kita tuh baru nikah. Jadi waktu itu di masa penyesuaian baru nikah mengalami kerugian, uang tabungan juga hampir habis tersisa sedikit aja dan waktu itu tuh ada di posisi juga merasa salah ambil keputusan, merasa gagal, merasa ini pilihan yang salah dan apa kita kembali kerja lagi aja atau gimana gitu. Itu sih titik terendahnya gitu. Tapi selain itu juga tentunya saat kemudian memulai seik di Seik juga sama kita juga pernah mengalami titik-titik terendah saat Seik ini bertumbuh dengan pertumbuhan Instagram dan jualan online yang belum ramai. Terus karena itu tadi kita ngerasanya kita merasa berhasil karena usaha kita. Padahal ternyata itu tuh ada faktor keberuntungan dan kita berhasil di momentum yang tepat gitu. Nah, waktu itu mulailah ada pandemi COVID. Nah, saat itu Seik juga sempat turun di momen-momen pandemi itu. Dulu masih berpikirnya gini, "Oh, ini pasti karena pandemi nih. Kita tinggal nunggu pandemi udahan aja sih." gitu. Kita akan kembali ke performa terbaik kita. Ternyata pandemi udahan waktu itu kita udah optimis banget ningkatin produksi lagi segala macam. Pas kita mau comeback, kita rasa itu akan menjadi epic comeback atau comeback stronger, ternyata kok masih gini-gini aja gitu. Kok ternyata kita tidak semudah itu kembali ke masa terbaiknya kita. performa terbaiknya Seika gitu. Nah, di sana mulai tuh perasaan dengan cara begini masih enggak works. Cara begini masih juga enggak works. Itu pernah di omset tuh mungkin turun bahkan lebih rendah di pada masa pandemi. Nah, dari sana itu kayak pukulan banget sih untuk kita. Wah, ternyata gitu ya selama ini tuh kita tuh masih harus banyak belajar, belum tahu sebanyak itu. Ternyata selama ini kita juga dibantu sama momentum yang tepat. Ada faktor keberuntungan. Nah, dari sana untuk bangkit lagi bahkan kita pernah ngerasa tidak semudah saat kita memulai. Jadi di sana tuh kita oh benar ya ternyata kata orang gitu mempertahankan itu lebih sulit dari memulai. Jadi waktu dulu pas mulai kayak justru lebih mulus pas mulai seik dibanding bangkit lagi ini gitu pas ee momen-momen masa setelah pandemi itu gitu. Nah, dari sana oke berarti ini sinyal untuk belajar lagi gitu kan. dan apa ya dari sejak saat itu sampai saat ini ya kita memulai bangkit dari segi pencapaian omsetnya belum bisa kembali ke performa terbaik kita tapi dari sisi lain dari segi tim gitu kan dari segi pengetahu dari segi sistem perusahaan kita merasa bertumbuh dan berkembang [Musik] gitu kalau dari pencapaian selalu diingatkan bahwa bagaimana caranya bisnis ini kan amanah untuk bisa jadi jalan kebermanfaatan. Jadi saya tuh senangnya selain saya bisa menjadi wasilah untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya gitu ya, saya juga senangnya adalah lebih senangnya lagi Seik bisa menjadi wasilah tim saya untuk mencapai mimpi mereka juga gitu. Jadi seorang tuanya jadi bisa berangkat umroh, punya rumah ya, punya tempat tinggal, punya kendaraan. Itu sih kalau dari pencapaian mungkin yang dari segi sisi material yang nampak gitu ya. Tapi kalau yang tidak nampaknya gitu ya, saya bagaimana caranya bisa memberikan Seik ini bisa memberikan impact jalan pertumbuhan bagi tim saya gitu. Nah, Seik punya visi grow to inspire. Jadi, gimana caranya tim saya tuh bisa bertumbuh gitu di Seik ini? bukan hanya saja tim internal, bagaimana caranya kebermanfaatan ini bisa dirasakan lebih luas lagi. Kalau bisa dibilang yang saya senang banget pencapaian Seik itu adalah dengan lahirnya Seik Parenting Journi sih. Jadi jalan kebermanfaatannya bukan hanya saja di tim internal, tapi bisa lebih luas lagi. Jadi di sini customer Seik itu gitu bukan hanya bisa dapetin produk yang cantik yang bisa membantu mereka tampil lebih percaya diri, tampil nyaman, tapi juga mereka mendapatkan value yang lebih gitu. Jadi, bagaimana caranya Seikah Hijab ini bukan saja jualan produk gitu, tapi bisa kita bisa memberikan value atau kebermanfaatan lain dan lahirlah Seik Parenting Journey ini. Nah, ini bagi saya pencapaian yang sangat berarti gitu ya. Karena apa? Karena Seik ini target marketnya customernya kan perempuan, ibu muda gitu. Saya juga merasakan manfaatnya dari belajar dan menerapkan ilmu parenting. Nah, di sini saya mengajak customernya Seik gitu untuk sama-sama belajar. Jadi mereka itu selain bisa menjadi perempuan yang cantik gitu kan, mereka juga bisa menjadi ibu yang berwawasan, ibu yang bisa amanah untuk anaknya, untuk keluarganya kayak gitu dan kita bisa bertumbuh bareng-bareng gitu melalui Seik dan Seik Parenting Journinya ini yang udah dicapai ya. Alhamdulillah punya rumah, punya kendaraan, punya kantor gitu bisa berangkat umrah gitu. kita kasih dari bahan-bahan premiuman ya. Untuk harganya cuma di harga Rp29.000. Oke. Kalau best advice-nya sih sebagai sisi perempuan ya, saya ngelihatnya gini, alasan lain untuk bisnis ini adalah kendaraan yang saya rasa cocok untuk mencapai gol dan mimpi saya. Saya juga melihatnya di sini lebih fleksibel gitu. Kebetulan saya menjalani sama suami nih, kita bagi tugas saya. Bagaimanapun perempuan itu tugas utamanya kan sebagai ibu, tugas utamanya sebagai istri gitu kan. Kalau diurut prioritasnya kalaupun punya bisnis ya tetap yang paling utamanya adalah seorang ibu dan seorang istri. Nah, di sini dalam menjalani bisnis karena ini usaha kita sendiri gitu jadinya bisa kita lebih fleksibel gitu, tidak ada tuntutan jam kerja atau yang seperti apa gitu. Nah, tapi base advice-nya untuk perempuan gitu di zaman sekarang bisnis tuh lebih fleksibel lagi ya. Kesempatan kan kalau dulu perempuan pengin bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik tapi juga misalnya pengin berkarir kayak susah gitu, kayak enggak ada jalannya. Karena ya namanya berkarir bekerja itu pergi ke kantor ada jam kerjanya dari pagi sampai sore misalnya atau bagaimana. Tapi di era digital ini gitu kesempatan itu sangat terbuka luas. Jadi untuk teman-teman yang ingin berkarir, ingin mengaktualisasi diri, ingin berkarya gitu, manfaatkan era digital ini yang mana bisa menjadi tempat untuk kita berkarya dan berkarir dengan lebih fleksibel lagi. Dari segi waktunya, dari segi jenis pekerjaannya. Kan banyak tuh bisa itu freelance lah, bisa itu kita minimalnya kayak jadi affiliate. Nah, dari sana kan itu juga bisa membuat kita punya penghasilan. yang tadinya mungkin awalnya self employ gitu kan bisa jadi ladang usaha juga bisa menjadi kesempatan untuk berwirausaha. Nah, jadi dari itu untuk ee teman-teman perempuan di mana pun berada gitu manfaatkan era digital ini untuk berkarya, untuk berkarir dari hal yang terkecil dulu, gitu. Untuk mimpi yang besar, mimpi kita harus besar tapi mulai dari langkah kecil. Mulai dengan langkah-langkah kecil itu yang ada di hadapan teman-teman. melakukan dengan fokus, dengan serius gitu kan, dengan sungguh-sungguh. Dan semoga itu menjadi jalan untuk teman-teman berkembang mewujudkan mimpinya misalnya untuk menjadi pengusaha perempuan atau segala macam agar kita bisa tetap berkarya tapi tetap juga menjadi ibu dan istri yang baik sesuai [Musik] fitrahnya. Allah itu sudah menakar rezeki setiap orang. Setiap orang tuh udah ada rezekinya masing-masing gitu kan. tugas kita itu tinggal fokus menjemputnya, ikhtiarnya gitu kan. Bagaimana caranya kita yang memantaskan diri untuk mendapatkan rezeki yang sudah Allah siapkan itu. Itu yang pertama. Lalu yang kedua, saya selalu ingat guru saya menyampaikan bahwa kita tuh harus punya angka cukup. Jadi angka cukup ini adalah menjadi apa ya kontrol diri kita agar tidak serakah gitu. Dengan kita punya angka cukup, kita tuh bisa mengontrol diri kita apa yang boleh kita lakukan, apa yang pantas kita lakukan dalam persaingan bisnis ini, gitu. Jadi, kita tetap ada dalam jalur yang benar, tidak hanya fokus pada wah misalnya lihat orang, wah pencapaiannya udah segini ya, gimana ya kalau misalnya kita enggak punya angka cukup dan hanya berorientasi pada materi ini istilahnya kita bisa tabrak kiri kanan kan. Tapi dengan kontrol ini gitu, angka cukup ini yang kita pegang ingat gitu, kita harus punya angka cukup dan Allah itu sudah menyiapkan rezekinya. Jadi mau kita usahanya bagaimanapun gitu kan misalnya kita malah nabrak-nabrak syariatlah atau dengan persaingan yang tidak sehat, tidak benar, ya Allahnya enggak ngasih ya enggak akan gitu. Oke. Jadi untuk teman-teman di mana pun kalian berada, yang pertama closing statement dari saya, jangan takut untuk bermimpi gitu ya. berani bermimpi, bermimpi yang besar tapi mulai action dari hal terkecil lalu bersungguh-sungguhlah dalam melakukan sesuatu yang ada di hadapanmu saat ini dan teruslah bertumbuh untuk mencapai versi terbaik dari dirimu. Ini naik kelas versi saya. Temukan naik kelas versimu. [Musik]