Transcript
P075S7LmwwA • PANI Rights Issue Ke 3: Suntikan Jumbo Rp 16,7T, PER 235 kali Masih Wajar?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/wawasan-cerdas/.shards/text-0001.zst#text/0042_P075S7LmwwA.txt
Kind: captions
Language: id
Oke, kita bahas yuk. Ada satu aksi
korporasi yang lagi heboh banget nih
dari salah satu raksasa properti di
Indonesia, Pani atau Pantai Indah Kapuk
2. Mereka ini lagi mau ngadain rights
isue yang ketiga dan wow, skalanya kali
ini benar-benar gila-gilaan. Jadi, apa
sih artinya semua ini buat kita para
investor? Yuk kita bedah bareng-bareng.
Nah, yang pertama banget harus kita
lurusin ini bukan cerita perusahaan yang
lagi butuh duit buat bertahan hidup.
Jauh dari itu. Justru sebaliknya, ini
tuh cerita tentang ambisi besar, tentang
ekspansi yang super agresif. Intinya
Pani lagi pakai pasar modal bukan buat
nyelametin diri, tapi buat ngebangun
sebuah kerajaan bisnis. Oke, masuk ke
bagian pertama. Pasti banyak yang mikir
kan kalau perusahaannya sekuat itu,
ngapain coba cari dana segede ini? Nah,
jawabannya simpel. Mereka lagi mau pesta
belanja besar-besaran. Ada sebuah
rencana akuisisi strategis yang bakal
hmm mengubah total wajah perusahaan ini
ke depannya. Coba deh kita lihat kondisi
keuangannya per September kemarin. Ini
yang bikin ceritanya jadi menarik.
Asetnya itu loh nyaris Rp50 triliun.
Ekuitasnya juga tebal banget 30 triliun.
Tapi yang paling gokil itu posisi utang
bersihnya negatif. Artinya apa? Duit kas
mereka lebih banyak daripada total
utangnya. Jadi jelas ya, ini bukan
perusahaan lagi sekarat. Ini langkah
offensif bukan defensif. Nah, ini kan
pertanyaan utamanya. Udah kayak raya
ngapain ngumpulin duit lagi 16,7
triliun? Jawabannya teman-teman ada di
visi jangka panjang mereka. Ini semua
ada tujuannya.
Dan tujuannya itu kelihatan jelas banget
di sini. Lihat deh hampir semua duitnya
96% itu cuma buat satu hal. Nyaplok
saham PT Bangun Kosambi Sukses alias
CBDK. Ini bukan sekedar beli sebagian
kecil ya. Ini benar-benar mau diambil
alih. Terus kenapa sih Pani ngebet
banget sama CBDK ini? Nah, ini dia harta
karunnya. Di dalam CBDK itu ada
aset-aset super premium kayak Nusantara
International Convention Exhibition atau
Nice sama Hotel Hilton Pig 2. Aset-aset
ini tuh ibaratnya mesin duit yang ngasih
pendapatan terus-terusan atau yang kita
kenal sebagai recurring income. Jadi,
Pani mau geser model bisnisnya. Enggak
cuma jualan rumah atau tanah yang sekali
dapat duit, tapi punya sumber pemasukan
yang stabil, ngalir terus setiap bulan,
setiap tahun. Oke, kita udah tahu
tujuannya. Sekarang ayo kita bedah harga
dari ambisi besar ini. Kita lihat
angka-angka di balik rights issue ini
biar kebayan segede apa sih sebenarnya.
Pertama, jumlah saham baru yang mau
diterbitin. Siap-siap ya, lebih dari 1,1
miliar lembar. Ini bukan angka yang
main-main loh. Artinya kue perusahaannya
bakal dibagi-bagi lagi ke lebih banyak
orang. Terus harganya berapa per lembar?
Setiap saham baru ini ditawarkan di
harga Rp15.000.
Nah, ada catatan kecil nih yang penting.
Harga ini tuh sedikit di atas harga
pasarnya waktu itu yang ada di 14.725.
Ini detail yang perlu dicermati ya. Nah,
kalau dikaliin semua jumlah saham sama
harganya, kita sampai di angka fantastis
ini Rp16, triliun duit segar segitu
banyaknya bakal masuk ke kantong pani.
Ini salah satu right isue terbesar yang
pernah ada di bursa kita. Kebayangkan
segede apa misinya? Baik, sekarang
bayangin duit 16,7 triliun itu udah
masuk. Apa yang bakal terjadi sama
laporan keuangannya P? Yuk, kita lihat
transformasinya before and after-nya. Di
sini perbandingannya kelihatan banget
sebelum dan sesudah. Coba perhatiin
nilai buku per sahamnya itu lompat dari
1800-an jadi lebih dari Rp2.600.
Efeknya apa? Valuasi PBV-nya jadi
kelihatan lebih adem. Turun dari 8 kali.
Jadi cuma 5,6 kali. Jadi di atas kertas
Pani bakal terlihat jauh lebih murah
dari segi nilai buku. E, tapi tunggu
dulu, selalu ada dua sisi koin kan. Ada
satu konsep penting banget yang harus
kita semua paham di sini. Namanya dilusi
saham. Gampangnya gini deh, bayangin
perusahaan itu kayak kue. Nah, karena
ada saham baru, kuenya ini sekarang
dipotong jadi lebih banyak potongan.
Walaupun total kuenya jadi lebih gede,
tapi porsi kepemilikan kamu secara
persentase jadi lebih kecil. Itu dia
konsekuensinya.
Jadi, efek nyatanya gimana? Pertama,
porsi kepemilikan kamu bakal berkurang
atau terdilusi sekitar 6,19%.
Tapi yang lebih bikin investor garu-garu
kepala itu dampaknya ke valuasi PR.
Sebelum ini aja PRAN-nya udah selangit
di 236 kali. Nah, setelah kali rat issue
jumlah sahamnya kan jadi bengkak tuh.
Sementara keuntungan dari aset barunya
belum langsung kerasa. Akibatnya rasio
PR-nya ini bisa jadi makin kelihatan
mahal lagi. Paling enggak untuk
sementara. Oke, kita sampai ke bagian
paling penting nih, khususnya buat kamu
yang udah punya saham Pani atau lagi
mikir-mikir. Jadi, apa artinya semua ini
dan apa aja pilihan yang kamu punya?
Kamu punya tiga pilihan yang jelas
banget. Opsi pertama, ikut
berpartisipasi. Kamu stor duit buat
nebus hak kamu dan beli saham barunya.
Opsi kedua, jual haknya. Kalau kamu
enggak mau nambah modal, tapi juga
enggak mau kepemilikanmu menyusut gitu
aja, kamu bisa jual hak tebus kamu itu
di pasar. Dan yang ketiga ini pilihan
paling ogah banget ya, enggak
ngapa-ngapain. Kalau kamu diam aja, hak
kamu bakal hangus dan kepemilikanmu
otomatis terdilusi tanpa dapat apa-apa.
Nah, ini tanggal-tanggalnya ya. Dicatat
ya, penting banget. 27 November itu
tanggal penentuan siapa yang dapat hak.
Terus ada periode krusial dari tanggal 1
sampai 5 Desember. Direntang waktu
inilah kamu harus mutusin mau tebus atau
mau jual haknya. Jangan sampai
kelewatan, ya. Kutipan ini kayaknya pas
banget buat ngegambarin suasana di
pasar. Intinya ada dua kubu yang cara
mandangnya beda banget soal aksi Fanny
ini. Yang satu super optimis, yang
satunya lagi super hati-hati. Yuk kita
adu argumennya. Tim optimis atau the
Bull bilang ini langkah jenius. Mereka
beli aset premium yang ngasih recurring
income bisa ngebutin proyek PIK2 plus
valuasi PBV-nya jadi lebih masuk akal.
Di sisi lain, tim pesimis atau the
ngasih lampu kuning. Mereka bilang
valuasinya udah kemahalan banget. Harga
tebusnya juga di atas harga pasar dan
ada resiko transaksi sama pihak
berelasi. Karena Pak kan beli CBDK ini
dari induknya sendiri. Jadi pada
akhirnya pertanyaannya kembali ke sini.
Apakah kita sedang menyaksikan
pembangunan sebuah kerajaan properti
raksasa yang super strategis atau apakah
harga yang harus kita bayar baik itu
lewat valuasi yang mahal maupun dilusi
itu terlalu tinggi? Nah, jawabannya ada
di tangan masing-masing investor. Ah