File TXT tidak ditemukan.
INDF VS MYOR | Duel Raksasa FMCG dari Laporan Keuangan Q3 2025: Siapa Raja Makanan & Minuman?
e12lWU4MojA • 2025-11-06
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Coba bayangin deh, kalau Anda punya
Rp100 miliar hari ini, saham mana yang
[musik] bakal Anda pilih? Indofood atau
Mayora? Kelihatannya sama-sama raksasa
[musik] consumer goods ya. Tapi seperti
yang akan kita lihat, masalah yang
mereka hadapi itu beda [musik] banget.
Yuk kita bedah bareng-bareng. Jadi ini
bukan sekedar perbandingan saham biasa
loh. Anggap aja ini studi kasus buat
[musik] kita ngintip. Apa sih yang
sebenarnya terjadi di balik layar sampai
harga saham mereka anjlok? Mari kita
mulai. Ya iyalah, dengan dana segitu
gedenya kita enggak bisa [musik] asal
tebak. Kan keputusan harus banget
berdasarkan data, bukan perasaan. Oke,
mari kita pecahkan teka-teki ini. Kita
lihat dulu apa kata pasar. [musik] Oke,
coba lihat ini. Dari awal tahun sampai
sekarang dua-duanya emang lagi merah.
Tapi kelihatan jelas [musik] banget
kalau pasar itu ngehukum mayornya jauh
lebih parah. 22%.
Ini sinyal pertama [musik] kita nih
kalau ada sesuatu yang lebih serius di
MEOR. Kita cari tahu yuk. Sekarang kita
[musik] masuk ke sumber kebenarannya.
Kita bongkar jeroan mereka. Laporan
keuangan. Mari kita lihat angka-angka
ini mau cerita apa ke kita. Hmm, kalau
kita lihat dari sisi penjualan, sekilas
sih kayaknya dua-duanya aman-aman aja
ya. INDF tumbuh 4,6% [musik] dan MyL
bahkan sedikit lebih baik hampir 6%.
Dari sisi pendapatan kelihatannya enggak
ada mau besarkan. Produk mereka masih
laku. Nah, ini dia Biang Koknya mulai
kelihatan. [musik] Biaya pokok penjualan
atau gampangnya biaya buat bikin
produknya ternyata naiknya lebih kencang
dari penjualannya. Biaya INDF naik 6%
tapi coba lihat MOR naiknya gila-gilaan
[musik]
hampir 10% ini langsung makan keuntungan
mereka. Dan [musik] inilah dampaknya
langsung kelihatan kan efeknya. Laba
kotor INDF untungnya masih bisa naik
walaupun tipis [musik] banget. Tapi laba
kotornya myor anjlok hampir 6%. Ini tuh
pukulan telak di profitabilitas [musik]
paling dasar mereka. Oke, jadi
tekanannya ini datang dari mana sih
sebenarnya? Mari kita lihat lebih dalam
ke [musik] dapur produksi dan
beban-beban lain di masing-masing
perusahaan. Wow, ini sih bedanya kayak
langit dan bumi. Laba usaha INDF justru
meroket [musik]
naik lebih dari 12%. Artinya dapur
produksi mereka itu efisien banget.
Sebaliknya, MIOR terjun bebas [musik]
hampir 13%. Mereka benar-benar lagi
kewalahan.
Es. Tapi tunggu dulu, ceritanya jadi
makin menarik nih. Meskipun laba
usahanya kuat [musik] banget, laba
bersih INDF ternyata turun juga 10%
malah lebih dalam dari Myor yang turun
7%. Loh, [musik] kok bisa gitu? Ini
nunjukin kalau masalah di kedua
perusahaan ini ternyata beda. Nah, buat
INDF ini dia biang keladinya. [musik]
beban bunga utangnya melonjak sampai
63%.
Jadi masalah INDF itu datangnya dari
luar yaitu suku bunga yang lagi tinggi.
Utang mereka yang [musik] gede jadi
berasa berat banget. Nah, kalau
ceritanya beda. Masalahnya [musik] itu
dari dalam dan fundamental banget. Laba
bersihnya turun bukan karena utang, tapi
karena margin kotornya hancur lebur. Ini
masalah di jantung bisnisnya, yaitu
biaya produksi barang-barangnya itu
sendiri.
[musik]
Dan semua angka-angka tadi itu
sebenarnya nunjukin kalau model bisnis
mereka tuh beda banget. Ibaratnya cara
main [musik] mereka di pasar itu enggak
sama. Yuk, kita lihat lebih dekat. Kita
bayangin INDF itu kayak kapal induk
raksasa. Terintegrasi dari hulu ke
hilir, dari kebun sampai ke tangan
konsumen. [musik] Ini yang bikin dia
kelihatan stabil dan kokoh. Tapi ya
namanya kapal besar dia rentan banget
sama cuaca ekonomi dari luar kayak harga
komoditas, kurs dolar, dan tentu saja
suku [musik] bunga. Beda lagi sama Myor,
dia ini lebih kayak speedbat boat yang
lincah pemain FMCG murni. Kekuatannya
itu di brand dan marketing yang kuat.
[musik] Tapi karena fokusnya di situ,
dia jadi sensitif banget sama harga
bahan baku spesifik [musik] kayak kopi,
gula, sama cokelat. Begitu harga-harga
ini naik, mesin bisnisnya langsung
goyang. Oke, [musik] sekarang kita masuk
ke bagian yang seringki jadi penentu
buat investor, valuasi. Pertanyaannya,
seberapa mahal atau murah sih kedua
[musik] perusahaan ini dihargai oleh
pasar saat ini? Angkanya di sini
benar-benar nonjok ya dengan PBV 0,5
kali yang artinya harga sahamnya cuma
[musik] setengah dari nilai aset
bersingnya dan PER cuma 5,9 kali. INDF
ini bisa dibilang murah [musik] banget.
Sebaliknya MEOR dengan PER 19 kali jelas
dinilai mahal. Pasar kayaknya masih
punya ekspektasi tinggi sama
pertumbuhannya. [musik]
Oke, setelah lihat semua data tadi
mungkin agak pusing ya. Biar gampang
kita rangkum semelahnya [musik] pakai
satu analogi sederhana. Coba deh kita
pakai analogi ini. Kayaknya pas banget.
[musik]
INDF itu ibarat rumah tua yang
bangunannya masih kokoh banget tapi
[musik] atapnya lagi bocor gara-gara
musim hujan suku bunga tinggi. Sementara
[musik] Myor itu seperti rumah modern
yang kelihatannya bagus tapi ternyata
pondasinya retak. Jelas kan? Benerin
atap bocor itu jauh lebih gampang
daripada benerin pondasi yang retak.
Jadi kesimpulannya buat [musik] Anda
gimana? Gini deh, kalau Anda tipe
investor yang mau tidur lebih nyenyak,
percaya suku bunga bakal turun, dan
[musik] suka barang murah dengan bisnis
yang stabil, INDF itu pilihan yang
logis. Tapi kalau Anda [musik] siap
dengan gejolak tinggi, mau bertaruh
marginnya bisa pulih cepat, dan percaya
sama cerita pertumbuhan jangka
panjangnya, ya [musik] MyOR bisa jadi
pilihan. Ujung-ujungnya semua balik lagi
ke profil resiko Anda. [musik]
Tentu saja PR-nya sekarang tinggal satu.
Bangun tidur besok pagi dan cari itu
duit Rp100 [musik] miliar. Nah,
pertanyaan terakhir dari saya, kalau
uang itu udah ada di tangan Anda
sekarang, rumah mana yang bakal Anda
pilih? [musik]
Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-13 13:05:12 UTC
Categories
Manage