Syarah Kitab Tauhid #6: Masuk Surga Tanpa Hisab - Ust Dr. Firanda Andirja, M.A
VlEY0T6fPwA • 2025-07-30
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufiqi wtinanih ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuimni wa asadu anna muhammadan abduhu waasuluh daila ridwani allahumma sholli alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwan. Hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Kita lanjutkan bahasan berikutnya bab berikutnya bab man haqq tauhida dakolal jannata bighiri hisab. maknanya adalah siapa yang mentahkik tauhid masuk surga tanpa hisab. Mentahkik maksudnya adalah memantapkan, menajamkan, ya. Memantapkan, menajamkan tauhid. Bukan sekedar bertauhid tapi dia memantapkan dan menajamkan tauhidnya. Maka dia akan mendapatkan keutamaan khusus yaitu masuk surga tanpa hisab. Pada bab sebelumnya ini bab ketiga atau ada yang bilang bab kedua ya ada urutan bab ada khilaf cuma ini anggap kita bab ketiga bab sebelumnya judulnya adalah fadlut tauhid w yukfaru minadzunub ya pada sebelumnya ini berbicara tentang keutamaan tauhid secara umum ini bab sebelumnya bab sebelumnya bahwasanya orang menjalankan tauhid banyak keutamaan diampuni dosa-dosa, dapat syafaat Nabi sallallahu alaihi wasallam wasallam mendapatkan keiman dunia dan akhirat, tidak diazab oleh Allah subhanahu wa taala dan keutamaan-kawan lainnya. Nah, ini bab yang sekarang. Bab sekarang dia berbicara tentang keutamaan khusus, yaitu keutamaan orang yang memantapkan apa? Tauhid. Jadi kalau kita himpunkan dia dalam himpunan lebih kecil daripada himpunan ee bab sebelumnya. Sehingga orang yang mengat tauhid dia bukan cuma mendapatkan keutamaan sebelumnya, tapi dia ada tambahan keutamaan. Ini tambahan keutamaan khusus ini tambahan keutamaan yaitu masuk surga tanpa hisab. Ya, ini tambahan keutamaan. Nah, kita mau bahas apa yang dimaksud dengan memantapkan ini sehingga orang bisa masuk surga tanpa azab dan tanpa hisab. Tib. Ee adapun kaum muslimin pasti masuk surga ya, tetapi masuk surganya ada tiga model. Kaum muslimin selama dia tidak batal tauhidnya pasti masuk surga. Ya, selama tidak batal tauhidnya. Tidak batal tauhidnya. Ya, kalau tauhidnya batal ya selesai. seperti wudu batal, salat batal, ya. Tetapi ada tiga model. Ada tiga model. Yang pertama adalah ya masuk neraka dulu baru masuk apa? surga. Ya. Mampir neraka dulu. Di neraka dulu. Mereka ini yang dikenal dengan aljahanamiyun yaitu alumni neraka jahanam. Ya, mereka masuk neraka dulu. Kemudian mereka akhirnya setelah dibersihkan, dicuci dari dosa-dosa, kemudian mereka dimasukkan dalam ee Nahrul Hayat, dalam sungai kehidupan. Kemudian mereka tumbuh kembali yang tadinya badannya sudah hangus, ya, sudah hancur, kemudian tumbuh lagi baru dimasukin ke dalam surga yaitu mampir neraka dulu untuk dicuci. Kenapa? Karena surga adalah ee negeri yang baik dan tidak boleh masuk ke dalamnya kecuali yang baik pula. Ya, makanya para malaikat berkata kepada penghuni surga, tibbtum fadkhulu khidin. Kalian adalah thyibun, kalian orang-orang baik, maka silakan masuk surga. Adapun orang-orang yang masih ada kotoran najis, dosa-dosa, maka akan dibakar terlebih dahulu. Yang kedua dihisab dulu baru masuk surga. Ini tentu lebih lebih mulia. Hisab dulu baru masuk surga ya. Kemudian yang paling mulia adalah masuk surga tanpa hisab. Surga tanpa hisab tentunya ini juga dihisab ya. Ini juga dihisab. tapi dikenal dengan yang dikenal dengan munaqasyah. Dengan almunaqasyah. Jadi para ulama menjelaskan hisab itu ada dua. Hisab ada dua. Yang pertama disebut dengan al-munaqasyah yaitu disidang dengan detail. Dengan detail. Istiqsa itu dengan detail kemudian dimasukkan neraka lalu di lalu diazab. Kemudian yang kedua namanya hisaban yasir hisab yang mudah. Hisab yang mudah. Ya, ini orang mukmin pertanda masuk surga. Pertanda masuk surga. Ee almunaqasy Allah bertanya secara secara detail. Maka rasulam mengatakan, "Manukisal hisab uzib." Siapa yang dimunaqasyah ketika hisab maka dia akan tersiksa. Kata para ulama tersiksa dua kali. Terskisa pertama ketika ditanya dengan detail dia tersiksa dipermalukan. Yang kedua ujungnya dia akan masuk apa? Neraka jahanam. Sehingga kata Nabi, "Man nuqisyal hisab uzib." Siapa yang dimunaqasyah oleh Allah, disidang oleh Allah secara detail, dia pasti tersiksa dengan dua siksaan. Pertama, disiksa ketika munaqasyah. Itu pertanyaan yang mengerikan sehingga terbongkar aib-aibnya secara detail. Kemudian setelah itu dimasukkan neraka. Adapun hisaban yasiran disebut ard. Ini juga disebut dengan al-ardu. Alardu pemaparan. Pemaparan yaitu seorang mukmin dipanggil oleh Allah subhanahu wa taala tma wad alfahu. Kemudian Allah tutup dia antara dia dengan Allah saja. Lantas Allah sebutkan beberapa dosa-dosanya. Kata Allahuamba. Atifuamba k. Kau tahu dosa ini? Kau tahu dosa ini? Dia mengatakan, "Iya, saya tahu ya Allah. Saya tahu ya Allah. Saya tahu ya Allah." Kemudian Allah mengatakan, "Ya ee saya dulu menutupinya ketika engkau di dunia." Wa ana agfirulaha agfiruha lakal yaum. Dan hari ini aku akan ampuni dosa-dosamu. Kemudian dimasukkan dalam surga. Tetapi meskipun hisab ringan, maka perkara juga yang mengerikan ya, bagaimana dosa-dosa kita diingatkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Makanya dari sini khilaf di kalangan para ulama. Apakah orang yang sudah bertobat dosanya masih ditampilkan? Khilaf di kalangan para ulama. Ada orang bermaksiat ya mungkin dia berzina waliyadubillah, mungkin dia dosa-dosa. Mungkin dia nonton yang tidak-tidak, mungkin dia macam minum khamar. Kemudian dia bertobat. Apakah setelah dia bertobat dosanya masih akan diungkit oleh Allah meskipun antara dia dengan Allah saja? Ataukah tidak diungkit sama sekali? Dihapuskan khilaf di kalangan para ulama. Pendapat pertama mengatakan masih diungkit, diingatkan sehingga dia semakin bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala dan itu cukup memalukan pada hari kiamat kelak. Makanya sebagian salaf mengatakan sungguh memalukan mes wain afaut ya sauata wain afaut. Sungguh memalukan meskipun engkau mengampuni ya Allah. Ini pendapat pertama. Pendapat kedua mengatakan jika Allah telah mengampuni maka jejak semua dihilangkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Dan itu konsekuensi dari nama Allah alafu. Allahumma innaka afuun tuhibbul af fa'afu anni. Ya Allah engkau adalah alafu. Allafu itu maksudnya menghapus jejak. Menghapus jejak maksiat yang pernah kami lakukan. Ya Allah ampunilah. Dan engkau menyukai pemaafan maka ampunilah. Kita berharap yang lebih kuat mendapat yang kedua. Karena siapa sih di antara kita yang tidak pernah melakukan dosa tatkala bersendirian, tatkala tidak ada orang yang melihat, maka semua kita pasti pernah terjerumus dalam dosa. Ya, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Ti yang ketiga, yang ketiga adalah masuk surga tanpa hisab, ya. Masuk surga tanpa hisab. Siapa mereka ini? Mereka ini orang-orang yang memurnikan tauhid. Ya, ya kita mungkin bahasanya tadi saya bilang apa? Memantapkan. ya memantapkan atau boleh di memernikan memurnikan tauhid. Jadi tauhidnya benar-benar dia murnikan begitu murninya tauhidnya sampai dia mendapatkan tambahan bonus keutamaan itu masuk surga tanpa hisab. Tanpa hisab tay. Ee apa maksud memurnikan tauhid yang menjadikan seorang mau surga tanpa hisab? ini sudah sudah sudah maksud dari memernikan tauhid dari mentahkik tauhid mentahkik atau memurnikan tauhid. Maka makna memurnikan tauhid kembali kepada dua makna. dua makna. Pertama adalah mempertajam tauhid. Yaitu mempertajam tauhid. Yang kedua adalah apa? Menjauhkan menjauhkan diri dari pengotor tauhid. Menjauhkan diri dari pengotor-pengotor tauhid. Artinya yang nomor satu ini mengkonsekuensikan yang kedua konsekuensi. Konsekuensi. Jadi kalau seorang ingin memurnikan tauhid, dia harus menjauhkan dirinya dari hal yang mengotori tauhid. Dan nanti akan kita bahas ternyata mempertajam tauhid di antaranya dengan menguatkan tawakal. Menguatkan apa? Tawakal. Siapa yang tawakalnya sempurna maka tauhidnya tajam. yaitu dia hanya bersandar kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, dia bersandar kepada Allah dengan semurni-murni tawakal. Saking begitu dia murnikan tawakalnya sampai perkara yang makruh pun dia tinggalkan. Nanti akan kita dapati tentang orang yang di antara yang masuk surga tanpa hisab adalah yang meninggalkan rukiah. Dia tidak pernah minta dirukiah. Padahal minta rukiah itu hukumnya boleh. Hukumnya boleh. Mungkin makruh, tapi tidak sampai haram. Tetapi karena dia ingin memurnikan tauhidnya, maka dia tidak minta untuk di dirukyah. Dia tidak minta untuk diukyah seperti dia tidak berobat dengan kai. Kai itu besi yang dipanaskan. Hukum asalnya boleh. Hukum asal tidak sampai haram. Paling-paling banter hukumnya makruh. Tapi dia tinggalkan karena dia bertawakal kepada Allah Subhanahu wa taala. Maka inilah yang menjadikan tauhidnya semakin semakin tajam. Bahkan tawakal ini mengumpulkan banyak nilai-nilai tauhid. akan datang penjelasannya pada waktunya. Kemudian yang berikutnya menjauhkan dari pengotor-pengotor tauhid apa saja? Ada tiga, yaitu syirik, kemudian bidah, kemudian maksiat. Maksiat. Inilah tiga pengotor tauhid yang seorang berusaha meninggalkannya ya. Sehingga dia sempurna tauhidnya kepada Allah subhanahu wa taala. Allah isyaratkan tentang orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dalam beberapa ayat. Di antaranya dalam surah Fatir kata Allah Subhanahu wa taala, "Tumma aurasnal kitabina min ibadina faminhumimun linafsih waminhum muktasid waminhum sabiquun bilhairati bidnillah." Kata Allah Subhanahu wa taala. Kemudian kami itu dalam surat Fatir 32 sampai 33 ya. Isyarat dari Allah di antaranya dalam Quran surah Fatir ayat 32 sampai 33 atau Allah berfirman, "Tumma auratal kitabina min ibadina." Kemudian kami wariskan Al-Qur'an Alkitab kepada orang yang kami pilih. Kemudian Allah sebutkan, "Faminhum doalimun linafsih." Dolimun linafsihi. Linafsihi ini dia melakukan dosa ya. Melaku zalim nafsi melakukan dosa. Itu dosa banyak dia lakukan. Faminhum lfsih. Waminhum muqtasid. Yang kedua, muktasid yang di tengah, yaitu hanya melakukan yang wajib-wajib saja. Dominannya hanya yang wajib-wajib saja. Hanya yang wajib-wajib saja. Dia melakukan sunah tapi tidak dominan. Ini yang dominan yang dia perhatikan yang wajib-wajib saja. Namun yang haram dia tinggalkan. Kemudian kata Allah, waminhum sabiqun bilhairat. Sabiqun bil khairat. Biidnillah. yaitu yang berlomba dalam kebaikan, duluan dalam kebaikan, duluan dalam kebaikan. Ya, biidiznillah dengan izin Allah subhanahu wa taala. Kata Allah, "Dzalika hual fadlul kabir." Inilah karunia Allah. Kemudian Allah berfirman, "Jannatu adni yadkhulunaha." Setelah itu Allah berfirman, "Jannatu adnin yadkhulunaha yuhalluna fiha min asawira minahabi walua." Maka mereka masuk dalam surga aden, jannatu adenin yadkhulu. Maknanya yadkhulunaha yaitu Allah menggunakan kata ganti orang ketiga jamak. Wau jemah. Ini menunjukkan maknanya mereka masuk surga aden. Surga adan. Kata para ulama ini wau ini bahasa wau mereka menunjukkan tiga ini semua masuk surga. Tiga-tiga ini semuanya masuk surga. Jadi masuk surga ada juga pendosa yang masuk surga tapi tentu pahalanya lebih banyak daripada dosanya. Tapi dia banyak melakukan dosa. Dan model pertama inilah ini nomor satu yang Allah sebutkan pertama kali. Kemudian yang kedua. Yang ketiga kata para ulama, kenapa Allah mulai dengan doimul linafsih? Karena kebanyakan orang yang masuk surga modelnya seperti ini. Faminhum Allah,ma aal kitabadina min ibadina. Kemudian kami wariskan Al-Qur'an kepada hamba-hamba yang kami pilih. Ini siapa yang hamba-hamba yang Allah pilih? Tiga model. Faminhum doimun linafsi. di antara mereka yang melakukan dosa. Artinya dia melakukan dosa tapi meskipun pahalanya lebih banyak daripada dosanya, tapi dia melakukan dosa. Ya khalatu amalan shihan waak sayian menggabungkan antara amal baik dengan amal amal buruk. Disebutkan pertama kali ini model manusia yang paling banyak masuk seperti ini. Yang kedua Allah naik lagi waminhum muqtasid yang tengah-tengah. Yang tengah-tengah ini artinya apa? Dia melakukan kewajiban-kewajiban tapi sunah. Dia tidak semangat. Kurang semangat ya. Dia melakukan sunah tapi tidak mendominasi. Yang dominan cuma yang wajib-wajib. Kemudian dia meninggalkan yang haram-haram. Makruh mungkin dia kerjakan. Kemudian Allah naik lagi kepada jumlah yang lebih sedikit. Kata Allah, "Waminhum sabiqun bil khairat." Yang terdepan yang dahulu, yang mendahului dalam kebaikan. Namun kata Allah biidiznillah. Izin Allah yang buat mereka bisa semangat beribadah adalah dengan izin Allah. Setelah itu Allah menyebutkan mereka semua masuk surga. Sampai ada seorang ulama mengatakan ini huruf wau yang artinya mereka ini hendaknya ditulis dengan tinta air mata. Kenapa? Memberi harapan yang besar kepada kaum muslimin. Oleh sebah mengatakan inilah ayat yang paling memberi harapan. Ternyata Allah sebutkan penghuni surga banyak dari model yang pertama yang mencampurkan maksiat dengan keta ketaatan. Nah, model ketiga inilah yang disebut oleh para ulama isyarat masuk surga tanpa hisab. yang mereka selalu paling depan dalam kebaikan. Mereka tidak menunda-nunda kebaikan dan mereka semangat dalam menjalankan sunah-sunah Nabi. Mereka tidak mencukupkan diri hanya sekedar melakukan kewajiban-kewajiban saja. Tapi mereka berpacu, berlomba-lomba dan bahkan mereka mengerjakan yang sunah-sunah. Demikian juga dalam ayat yang lain misalnya Allah mengatakan, "Wasabiquunabiquun ulaikal muqarbun." Dan orang yang mendahului mendahului merekalah yang didekatkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Ini isyarat tentang satu kaum yang khusus Allah muliakan yang mereka masuk surga tanpa apa? Hisab. Orang surga tanpa tanpa hisab. Tayb. Ee kemudian al Imam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah kemudian bawakan dalil terkait dengan pembahasan ini. ee beliau ketika menyebutkan dalil dalil-dalil tentang orang-orang masuk surga tanpa hisab. Dua, dua, dua metode, dua metode dalil. Dua macam dalil yang beliau sebutkan. Yang pertama adalah tentang orang-orang yang dipuji oleh Allah. Tentang-orang yang dipuji oleh Allah. Dipuji oleh Allah. Maka di situ di antaranya beliau menyebutkan tentang misalnya Nabi Ibrahim Alaih Salam. Ibrahim Alaih Salam. Kemudian juga dan lain-lain. Nah, seakan-akan beliau mengatakan, "Lihatlah orang-orang dipuji oleh Allah apa? Kenalahilah sifat-sifat mereka, yaitu kenalilah sifat-sifat mereka. Apa sah sifat-sifat mereka sehingga mereka menjadi mulia? Karena orang-orang yang Allah puji secara khusus, kemungkinan besar mereka ini adalah masuk surga tanpa hisab. Maka kenalilah sifat-sifat mereka. Apa sifat Ibrahim? Kita berusaha tiru. Apa sifat-sifat orang yang mulia yang Allah sebutkan misalnya dalam surat Almukminun? Ya. Ya. Apa sifat-sifat mereka? Modal kedua, beliau menyebutkan hadis tentang 70.000 yang masuk surga tanpa hisab. 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab. Tanpa hisab. Dengan amalan-amalan khusus. Dengan amalan-amalan khusus. Apa amalan mereka? Disebutkan ada tiga. Yang pertama atau empat. Yang pertama adalah tidak minta dirukiah. Nanti akan kita bacakan hadisnya. Tidak minta untuk di rukiah. Yang kedua, tidak minta tidak berobat dengan kai. Berobat dengan kai. Kai itu besi yang dipanaskan. Yang ketiga, tidak tathayur. Tidak tatayyur. Tathayur maksudnya adalah pamali-pamali. mengkaitkan nasib sial dengan waktu, dengan nomor, dengan hari, dengan tempat dengan hewan tertentu namanya tatayyur. Kemudian sifat yang keempat yaitu mereka bertawakal. Wa ala rabbihim yatawakalun. Bertawakal. Nah, ini dua metode. Jadi pertama beliau sebutkan contoh-contoh orangnya. Yang kedua beliau sebutkan amalan-amalan khusus yang secara spesifik menyebabkan orang masuk surga tanpa azab dan tanpa hisab. Ini dua metode dalil yang beliau sebutkan dalam bab ini. Tapi kita akan mulai metode yang pertama atau model dalil yang pertama. Tayib. Dalil yang pertama ini sudah kita lanjut. Dalil yang pertama tentang Ibrahim Alaih Salam. Allah berfirman, "Inna Ibrahima kana ummatan qonitan lillah hanifan walam yaku minal musyrikin." Kata Allah subhanahu wa taala, "Sesungguhnya Ibrahim adalah umah." Umat maksudnya imam. Imam. Kenapa disebut ummah? Ada beberapa pendapat tadi mengatakan disebut ummah. Ummah itu kan kumpulan kalau kita bahasa bahasa secara yang sederhana. Kumpulan manusia. Ada yang mengatakan imam. Ummah maksudnya imam karena pada diri Ibrahim terkumpul berbagai macam kemuliaan sehingga dia dikatakan ummah. Seakan-akan dia mewakili orang banyak karena banyak kemuliaan terkumpulkan pada Nabi Ibrahim. Qonitan lillah. Ini pertama sifat pertama. Sifat kedua qonitan lillah qunut. Qunut dalam beribadah yaitu continue. Ber qunut itu mengumpulkan dua sifat. Qunut mengumpulkan dua sifat. Yang pertama adalah continue. Yang kedua tulul ibadah. Lama dalam beribadah. Lama dalam beribadah. Seperti Allah waquumu lillahi qonitin. Khusyuk. Jadi orang yang qunut dalam Al-Qur'an Allah menyebutkan sifat qunut ya seperti walqonitina walqonitat ya walqonitin walqonitat ya. Kemudian Allah juga berfirman eh minal qonitin waat minal qonitin ya qonitatin taibatin abidat. Banyak Allah sebut tentang makna qunut. Allah puji-puji ee hamba-hambanya. Allah juga perintahkan kepada istri-istri Nabi, yaqnut minun lillahi waasulal shihan. Di antara siapa di antara kalian istri Nabi yang qunut? Ya, qunut ya. Jadi qunut ini sifat yang mulia. Waunu waumu lillahi apa? Qonitin. Jadi banyak Allah puji sifat qunut ya. Ya Maryamu, qunuti lobbiki. Wahai Maryam, qunutlah engkau. Qunut maknanya dua, continue dan lama dalam beribadah. Ini qunut lillah. Hanifan maknanya adalah condong. Hanif itu makna bahasa Arabnya adalah condong. Maksudnya condong kepada tauhid jauh dari syirik. Ini makna yang berikutnya. Ini makna yang ketiga kemudian walam yaku minal musyrikin. Tidak pernah yang keempat tidak pernah syirik. Ya, bukan termasuk orang syirik. Bukan termasuk musyrik. Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah mengatakan, "Walam yak minal musyrikin." Kata Allah, "Syakiron lianum syakiran lianumih ijtabahu dan seterusnya." Kata Allah, "Sifat berikutnya adalah senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat Allah. Senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat Allah." Nah, inilah sifat Ibrahim Alaih Salam yang dia adalah orang yang telah mewujudkan, memurnikan tauhid. Maka seorang berusaha memiliki sifat-sifat, mendekati sifat-sifat ini. Mendekati sifat-sifat ini agar dia termasuk dari orang-orang yang mau surga tanpa hisab. Maka di antaranya kita berusaha kalau kita beribadah jangan buru-buru. Salat jangan buru-buru. Kalau sujud jangan buru-buru. Kalau zikir jangan buru buru-buru. Tenang sampai qunut, sampai ada kekhusyukan. Karena makna qunut itu kata Ibnu Katsir mengandung makna khusyuk yaitu waquumu lillahi qonitin. Maksudnya khasiin. Yaitu orang ketika beribadah dia ada qunut tenang. Jangan habis asalamualaikum asalamualaikum langsung buka HP. Jangan. Asalamualaikum asalamualaikum. Zikir pelan-pelan. Jangan. Subhanallah. Subhanallah. Santai. Subhanallah. Subhanallah. Subhanallah. Subhanallah. Subhanallah. Subhanallah. Subhanallah. Allahu akbar. Bar. Bar bar. Bar. Bar. Bar. Bar bar. Bar. Jangan. Pelan. Santai. Pelan-pelan. Pelan-pelan. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Sambil direnungkan, dimaknai. Baca Quran juga begitu sambil dimaknai. Itu namanya qunut. Tidak buru-buru, santai dalam beribadah, tidak tergesa-gesa. Karena kita dalam dalam sedang menjalankan tugas kita diciptakan beribadah kepada Allah. Maka latih diri kita menikmati ibadah. Jangan kita menganggap ibadah suatu beban yang ingin kita lepaskan. Jangan kita salat tetap salat. Maka salat nikmati, berusaha nikmati salat tersebut. Walladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana. Kata Allah, "Siapa yang berjuang menempuh jalan kami, kami akan bukakan jalan-jalannya. Siapa yang berusaha khusyuk, siapa yang berusaha menikmati salat, Allah akan buat dia merasa nikmat dalam salatnya." Maka jangan buru-buru. Jangan buru-buru. Itu namanya qunut. Hanif condong, tidak mau serempet-serempet dengan syirik sedikit pun gak mau. Makanya Nabi Ibrahim berdoa, wajunubni wabani an asnam. Ya Allah jauhkanlah aku junubni yaitu menjauhkan jauhkan aku dan keturunanku dari peribadatan kepada berhala. Yaitu jangan dekat-dekatan dekat-dekat kepada hal tersebut. Oleh karenanya orang yang ingin selamat dia jangan membuka celah-celah syirik. dia berusaha menjauhi sebab-sebab yang bisa menjerumuskan dia dalam kesyirikan. Maka hati-hati ya, apapun yang bisa membuat kita terjerumus dalam kesyirikan jangan kita jangan kita spekulasi. Karena di antara ciri Nabi Ibrahim Alaih Salam hanif itu berusaha untuk bertauhid, menjauhkan diri dari kesyirikan sejauh sejauh-jauhnya. Iya. Maka nasihat buat saya pribadi dan juga para hadirin, jangan suka publish amal saleh. Jangan suka publish amal saleh. Jangan suka cerita amal saleh. Itu nyerempet-nyerempet syirik. Tidak semua orang yang memppublish dia riak. Gak. Tidak semua orang yang bercerita tentang amal saleh riak. Tapi itu serempet-serempet, nyerempet-nyerempet. Tahu-tahu dia riak tanpa dia sadari. Karena riya itu masuk dalam hati seorang. Kata Nabi, "Akhfa min daabibin namlati sauda lebih sambar daripada rayapan semut hitam." Dia merasa dirinya ikhlas, ternyata dia sudah terjebak dalam apa? RI. Tapi kalau seorang menyembunyikan amal salehnya, dia lebih selamat. Dia lebih selamat. Azanah. Oke, azan dulu silakan. Azan ya? Itu belum. Hah? Oh, itu diluan. Kenapa? Belum. Dulu ustaz. Ya sudah. Tib walam yak minal musyrikin. Ibrahim alaihi salam tidak pernah syirik sama sekali. Dalam ayat yang lain, wama kaana minal musyrikin. Wamaana minal musyrikin. Lam yaaku dalam bahasa Arab lam harfu qolabin yaitu merubah dari makna mudhar' menjadi makna fi'il madhi. Yaitu secara past tense Ibrahim tidak pernah musyrik sama sekali. Maka seperti pernah kita bahas pada pertemuan sebelumnya tidak ada istilah Ibrahim cari Tuhan itu enggak ada. Yang benar Ibrahim sedang berdebat karena Allah mengatakan lam yakun minal musyrikin. Dia tidak pernah musyrik sama sekali. Sedikit pun gak pernah. Wana minal musyrikin dan dia tidak pernah syirik sama sama sekali. Adapun yang Allah ceritakan dalam surat Al-An'am, dia sedang berdebat dengan para penyembah rembulan, matahari dan bintang-bintang. Kemudian di antara sifat yang menakjubkan, azan ya. Belum punya belum. Nanti bunyi ada bunyi 2 menit lagi. Oh, 2 menit lagi. Masih lama. Syakiran liani. Syakiran anumi. Perhatikan syakiran ini secara bahasa Arab dia adalah isim fa'il. Isim fa'il dikatakan lebih kuat daripada fi'il mudhor'. Kalau fi'il mudhar' menunjukkan continuous tense yaitu berkesinambungan. Kalau isim fa'il seakan-akan itu perangainya. dia seakan-akan sedang melakukan terus-menerus tanpa tanpa berhenti. Adapun kalau isim fi'il mudhar' menunjukkan tajaddud, berulang-ulang, berulang-ulang. Tapi kalau isim fa'il menunjukkan dia tidak pernah lepas dari sifat tersebut. Oleh karenanya Thahirah bin Asur dalam tafsirnya mengatakan isim fa'il lebih kuat daripada fi'il mudhor. Ini yang ngerti bahasa Arab, yang tidak ngerti ya sudah qadarullah. Allah mengatakan syakiran. Jadi senantiasa bersyukur. Kalau bahasa kita senantiasa bersyukur. Yang menakjubkan Allah mengatakan lian umumih nikmah. Nikmat nikmat ini bisa dijamak ini. Ini mufrad mufrad itu maksudnya singular ya. Bisa dijamak dengan dua. Dengan misalnya anni'am. Anniam ini untuk jamak jamak taksir eh jam'ul kasrah. Jam'ul kasrah kalau nikmatnya banyak lebih dari 10 maka disebut dengan anniam. Tapi kalau dijamak dengan al-an'um, al-an'um maka ini jam'ul qillah. Bab hadirin hadirat kita lanjutkan. Jadi Ibrahim disifati dengan sifat yang kelima syakiran lianumih. Dia senantiasa bersyukur lian'umih. Dan nikmah nikmat kalau dijamak dijamak dengan al-an'um jam mulqillah. Yaitu jika nikmat tersebut misalnya kurang dari 10 yaitu sedikit menunjukkan sedikit menunjukkan jumlah yang sedikit. Sehingga dari sini ee Asyaukani dalam kitabnya Fathul Qadir tafsir dia mengatakan ini dalil bahwasanya Ibrahim Alaih Salam senantiasa bersyukur bahkan pada nikmat-nikmat yang disepelekan. Dia tidak hanya bersyukur pada nikmat-nikmat yang besar bahkan di antara nikmat-nikmat yang kecil dia pun mensyukurinya. Dan itu adalah sifat Nabi Ibrahim Alaih Salam. Itu juga sifat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan itu juga sifat Nabi Nuh Alaih Salam yang Allah mengatakan innahu kanana abdan syakura. Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang pandai bersyukur. Kalau kita baca buku tafsir Nuh Alaih Salam kalau dia pakai baju dia memuji Allah. Dia mengatakan alhamdulillah kalau Allah berkehendak aku tidak punya baju. Aku akan bertelanjang. Kalau dia pakai sandal dia bilang alhamdulillah kalau Allah berkehendak tentu aku berjalan tanpa alas kaki. Kalau dia makan dia bilang alhamdulillah. Kalau berkehendak tentu aku akan kelaparan. Kalau dia minum, dia bilang, "Alhamdulillah. Kalau berkehendak tentu aku akan kehausan." Kalau dia buang hajat, dia bilang, "Alhamdulillah. Kalau berkehendak tentu aku tidak bisa buang hajat." Senantiasa dia bersyukur dalam nikmat-nikmat bahkan nikmat-nikmat yang yang kecil. Dan itu menunjukkan kesempurnaan dalam mensyukuri Allah Subhanahu wa taala. Tidak seperti sebagian kita yang mungkin hanya bersyukur kalau dapat nikmat-nikmat yang besar, nikmat-nikmat kecil kita tidak menghadirkan dalam diri kita tentang mensyukuri nikmat tersebut. Padahal nikmat sepelek kalau kita syukuri, berarti kita benar-benar mengakui Tuhan sebagai pemberi nikmat kepada kita dan pahalanya besar. Makanya Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Innallahaard an abdihi id akalal aklah anyahmadaha anahmadahu alaiha waid syariba syarah any yahmadahu alaiha." Sesungguhnya Allah rida kepada seorang hamba jika dia makan makanan kemudian dia memuji Allah atas makanan tersebut dan jika dia minum-minuman dia memuji Allah atas minuman tersebut. Kenapa? Karena meskipun nikmat tersebut sedikit dia mengakuinya dari siapa? Dari Allah. Itu yang menjadikan pahalanya besar. Dia mengatakan alhamdulillahilladzi atamani had thaam warzaqanii min giri haulin minni wala quwwah. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku rezeki ini, makanan atau minuman. Ya, min ghairi minni wala quat tanpa dai dan upayaku. Ya, maka jangan sepelekan ee syukur. Bahkan bisa jadi kalau dapat nikmat besar bersyukur wajarlah semua orang juga bersyukur. Naik naik jabatan bersyukur. Naik naik gaji bersyukur enggak? bersyukur. Dapat istri cantik bersyukur. Tapi yang lebih yang hebat istrinya biasa-biasa saja bersyukur. Itu yang hebat. Kalau makan yang kelihatannya sepele keseharian ternyata dia bersyukur itu yang hebat. Allah mengatakan falyanduril insanu ila thaamih. Hendaknya manusia merenungkan apa yang dia makan. Dari mana makanan tersebut? Dari Allah subhanahu wa taala. Jadi di antara sifat Ibrahim Alaih Salam yang mungkin kita sulit bersifat dengan sifat tersebut adalah mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan selalu bahkan pada nikmat-nikmat yang dianggap apa? Sepele. Nah, siapa yang mengumpulkan sifat-sifat ini maka dia akan mendekat kepada masuk surga tanpa hisab. Ini metode pertama dari Syekh Muhammad Abdul Wahab yaitu menyebutkan contoh orang-orang yang dipuji oleh Allah. Maka disuruh kita meneliti sifat-sifatnya apa? untuk kita tiru. Untuk kita tiru dan Ibrahim adalah Khalilurrahman kekasih Allah Subhanahu wa taala. Bab dalil berikutnya masih pada model yang pertama yaitu Syekh menyebutkan tentang sifat-sifat orang-orang dipuji oleh Allah. Di antaranya dalam surah almukminun ayat 57 sampai 61 saya bacakan firmannya. Innalladzina hum min khasyatihim musyfiquun. Yaitu orang-orang yang takut kepada rabbnya. Itu sifat pertama min khasiati rabbihi musfiqun. Takut kepada Allah. Takut kepada Allah. Takut kepada azabnya. Takut kepada siksaannya. Kemudian walladzina hum biayati rabbihim yukminun. Beriman kepada ayat-ayat Allah. Walladzina hum birabbihim la yusyrikun. Tidak berbuat syirik sama sekali. Tidak berbuat syirik. Tidak mensekutukan Allah. Tidak mensukkan Allah sama sekali. Walladina hubim yusriun. Ayat berikutnya. Walladina mau waubum wajilatunahumbihimun. Yang senantiasa beramal. Yang beramal tapi tetap malah hati mereka takut. Yang beramal yaitu memberikan apa yang mereka berikan itu mereka puasa, mereka sedekah, mereka beramal. Namun hati mereka takut. Kenapa annahum ilhim rojiun? Karena mereka akan kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah. Karena mereka takut. Ulaika yusariuna filhairat. Mereka cepat dalam berbuat baik. Cepat atau bersegera dalam kebajikan-kebajikan. Wahum laha sabiquun. Bahkan mereka berlomba. Bahkan mereka berlomba. Berlomba dalam kebajikan. Nah, ini sifat-sifat berikutnya orang-orang yang Allah puji dalam surat Almukminun atau orang-orang mulia. Ketika turun ayat ini sampai pada firman Allah, walladzina yutuna maqul mailatunahumbihimun. Orang-orang yang beramal, namun mereka takut. Mereka melakukan suatu perbuatan, namun mereka hati mereka takut. Maka Aisyah berkata, "Ya Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang yang mencuri, berzina, kemudian melakukan hal yang haram?" Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "La ya bnata siddiq." Tidak wahai putri Abu Bakar. Bahkan mereka orang-orang yang berpuasa, mereka bersedekah, mereka salat, tapi mereka takut amal mereka tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa taala. Karena mereka takut maka mereka berlomba dalam kebajikan. Tapi perhatikan ini sifat-sifat orang-orang yang masuk surga tanpa hisab. Pertama, mereka takut kepada Allah. Takut kepada Allah ini ibadah. Takut kepada Allah ibadah. Dan dalilnya sangat banyak. Di antaranya Allah berfirman dalam surat Alwaqiah atau dalam Alquran kata Allah Subhanahu wa taala inhlah surat atur inqob inahim maka penghuni surga pada hari kiamat kelak baalun mereka saling berhadapan dan mereka ngobrol tentang masa lalu ngobrol dengan penuh semangat mereka berkata Kata inna kunna qlu ahlina musikin. Kami dulu di tengah keluarga kami dalam kondisi takut. Famanallahu alqabum. Akhirnya Allah memberi anugerah kepada kami maka Allah selamatkanlah kami dari azab neraka jahanam. Kata para ulama aljaza minisil amal. Ketika di dunia dia takut dengan neraka, maka Allah selamatkan dia dari apa? Neraka jahanam. Ketika Allah sebutkan tentang ibadurahmanina yaquunanafaba jahanam in yaitu orang-orang yang berdoa, "Ya Allah, jauhkanlah kami dari azab neraka jahanam." Jadi mereka takut sama neraka. Bahkan yang menakjubkan dalam surat atur tadi Allah mengatakan, mereka berkata, "Inna kunna qoblu fi ahlina musyrikin." Kami dahulu di tengah keluarga kami, di tengah istri dan anak-anak ada perasaan takut kepada hari akhirat. Jadi meskipun mereka berinteraksi dengan istri, anak-anak, mereka tahu tahu bahwasanya mereka akan dihisab sehingga interaksi mereka dengan istri tidak sembarangan. Sehingga interaksi bermuamalah mereka dengan anak-anak juga tidak sembarang. Karena mereka tahu istri, anak-anak adalah apa? Amanah. Di tengah keluarga mereka masih ingat akhirat. Berbeda dengan orang penghuni neraka yang mereka ketika di keluarga mereka senang-senang. Ya. Ya. Mereka keluarga senang-senang, senang-senang di tengah keluarga, lupa dengan Allah Subhanahu wa taala. Ya, adapun orang-orang yang penghuni surga bahkan di tengah keluarga masih ingat dengan akhirat. Ya, makanya ketika Allah memberi uzur kepada seorang lelaki yang dia sebelum mati dia bilang sama anak-anaknya, idu faharriquuni tummathani. Kalau saya mati, wahai anak-anakku, bakar aku sampai aku jadi arang. Sudah jadi arang, maka tumbuklah tubuhku supaya menjadi debu. Kemudian tebarkanlah jasadku di udara, di angin dan juga di lautan. Lainqirallahu alayya laadibannani adzaban la yuadibuhu ahadan minal alamin. Karena kalau Allah bisa bangkitkan saya, saya akan diazab dengan azab yang tidak pernah Allah azab kepada siapapun. Akhirnya ketika dia mati, dia seorang Bani Israil. Karena dia jahil, dia berwasiat demikian. Akhirnya ketika dia mati, maka anak-anaknya melakukan wasiatnya. Dibakar, ditumbuk, kemudian debunya diterbangkan. Akhirnya Allah kumpulkan dia. Kata Allah, "Ya ardu ijm ma fiki minhu." Wahai bumi, kumpulkanlah orang itu dari yang tersebar pada diri kumpul hidup lagi. Allah mengatakan, "Ma hamalaka alaik." Apa yang membuat engkau berwasiat agar anak-anakmu melakukan demikian? Kata dia, "Kyataka ya rab, karena saya takut kepadamu." Maka Allah ampuni, ampuni dia. Maka aljazail amal. Siapa di dunia takut dengan azab Allah, khawatir dengan hisab ya wam waliman khafa maqab rabbihi jannatan. Dan bagi orang yang takut maqama rabbihi yaitu maqamahu amamallah hisab. Dia takut dihisab oleh Allah subhanahu wa taala dia akan mendapatkan dua dua surga. Jadi sifat yang surga tanpa hisab di antaranya adalah takut. Kita harus tumbuhkan rasa takut. Bagaimana cara temukan rasa takut? Baca tentang neraka. Baca tentang orang-orang yang diazab. Baca tentang bagaimana dosa-dosa besar yang menjerumuskan orang ke dalam neraka jahanam. Takut. Terus lihatlah diri kita bagaimana kita masih sering terjerumus dalam apa? Maksiat. Mari takut kepada Allah Subhanahu wa taala. Kemudian sifat yang kedua ini sifat pertama. Yang kedua, walladzina biayati rabbihim yukminun. Walladzina hum biayatiib yumminun. Yaitu mereka yang beriman kepada ayat Allah. Mereka beriman semuaat Allah mereka imani. Tidak ada yang mereka ragukan sama sekali. Apa yang Allah katakan mereka imani. Termasuk apa yang Nabi katakan mereka iani. Kemudian yang disebutkan secara spesifik adalah ayat ini. Yang ketiga, walladzina hum birabbihim laa yusyrikun. Yaitu mereka tidak pernah berbuat syirik sama sekali. Yaitu mereka tidak melakukan kesyirikan, tidak mensekutukan Allah. Berusaha menjauhkan diri mereka dari kesyirikan, syirik besar maupun syirik kecil dengan berbagai macam modelnya. Dan ini mengkonsekuensikan kita harus mengenal apa itu syirik agar kita bisa menghindar. Kemudian sifat berikutnya kembali kepada sifat yang pertama mereka tidak pde ini tidak pede masuk surga tidak pde. Walladina walladina yutuna maau dan orang-orang yang melakukan apa yang mereka lakukan beramal saleh. Wlubum wajilah sementara hati mereka takut. Ini hati hati mereka takut. Annahum ilabbihim rojiun. Bahwasanya mereka akan dikembalikan kepada Allah. Ini sifat orang-orang beriman. Mereka banyak amal saleh, namun mereka tidak ped. Ya. Oleh karena Nabi Ibrahim Alaih Salam ketika dia bangun Ka'bah dia mengatakan apa? Wafa Ibrahimul qwaid minal bait ismailana taqobbal minna innaka antaul alim. Kata Allah ketika Ibrahim dan Ismail membangun Ka'bah, dibangun di atas pondasi, setiap mereka letakkan batu, mereka berdoa, "Rabbana taqobbal minna innaka antamiul alim." Ya Rabb, terima, terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Sampai ada seorang salaf ketika baca ayat ini, dia menangis. Dia mengatakan, "Khalilurrahman kekasih Allah. Bana baitarrahman sedang membangun rumah Allah biamr minarahman." Perintah langsung dari Allah. Tumma yaku alla yataqbala minhman. Kemudian dia masih khawatir tidak diterima oleh Allah. Makanya dia berdoa, "Ya Allah terimalah. Ya Allah terimalah." Padahal pekerjaan Ibrahim dan Ismail sangat berat. Mereka harus pergi ke lembah atau tempat yang jauh ke gunung mereka pahat gunung batu kemudian mereka jadikan kotak kemudian mereka pikul. Berat atau tidak berat? Batunya besar-besar. Mereka susun berdua. Tidak ada orang ketiga berdua nyusun untuk bikin Ka'bah. Pekerjaan berat. Dan setiap kali mereka letakkan batu, mereka berdoa, "Ya Allah, terimalah amal ibadah ibadah kami." Menunjukkan mereka tidak PD ya. Tidak. Oh, tenang Ismail surga aman aman pokoknya gak gak ada. Ini muncul orang belakangan PD kita pasti masuk surga. Kalau ada kelompok lain masuk surga karena kita subhanallah. Dari mana salaf seperti itu? Mereka takut. Ini ciri-cirinya Allah sebutkan. Walladzina yutuna ma atau. Dan mereka sudah melakukan amal saleh sementara hati mereka masih takut. Kenapa? Karena mereka tahu keagungan Allah. Mereka tahu bahwasanya amal mereka entah diterima atau tidak. Apakah pantas untuk diberikan kepada Allah yang maha agung. Oleh karena Nabi sallallahu alaihi wasallam contohkan setiap selesai ibadah Rasulullah beristigfar. Rasulullah beristigfar habis salat apa zikir yang pertama? Astagfirullah. Astagfirullah. Astagfirullah. Ya, kata Allah, wal mustagfirina bil ashar. Ketika Allah memuji orang-orang penghuni surga, Allah sebutkan di ayat terakhir, wal mustagfirina bil ashar. Mereka di waktu sahur mereka beristigfar. Apa kata para ulama? Di siang hari mereka berpuasa, mereka bersedekah. Di malam hari mereka bangun malam, di penghujung salat malam mereka malah beristigfar. Tidak ujub, tidak merasa hebat. Mereka beristigfar. Mereka tahu ibadah mereka pasti ada kekurangan. Istigfar itulah mereka ingin menambal kekurangan yang mereka lakukan. Tidak ada PD sama sekali. Tidak ada PD sama sekali. Dan di antara tafsir yang menakjubkan, tafsir Al-Alusi rahimahullah dalam kitabnya ee Ruhul Ma'ani ketika mentafsirkan firman Allah Subhanahu wa taala tentang Nabi Nuh Alaih Salam. Nabi Nuh ketika menyuruh orang-orang naik kapal waqalarkabu fiha bismillahi majreha wa mursaha inna rabbi laofurur rahim. Kata Nabi Nuh, "Wahai kaumku, silakan naik. Naik di atas kapal. Kapal tersebut akan berlabuh. Bismillah dengan bismillah. Majereh murah." Dia berlabuh dan dia bersandar dengan izin Allah subhanahu wa taala. Kemudian kata Nabi Nuh, "Inna rabbi lagfurur rahim." Sesungguhnya Rabbku adalah maha pengampun lagi maha penyayang. Kita menduga Nuh akan berkata, "Inna rabbi lasyadidul iqab." Karena sedang ada ombak nih besar. Sungguhnya Allah siksaannya dahsyat. Tetapi malah Nuh berkata, "Inna rabbi lagfurur rahim." Sesungguhnya Rabbku maha pengampun lagi maha penyayang. Tidak, tidak pas sepertinya ayat tersebut. Kenapa diakhiri dengan sungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang? Sementara Allah sedang turunkan hujan untuk membinasakan umatnya. Seharusnya kalau Allah maha pengun lagi penyayang berarti umatnya dimaafkan. Tapi umatnya sedang s tidak sedang dimaafkan tapi sedang diazab. Maka satu-satu ahli tafsir yang saya dapati dia berbicara tentang ayat ini adalah Alalusi. Dia berkata rahimahullah dalam kitab Rahul Ma'ani. Kenapa Nuh mengatakan di akhir ayat inna rabbi gfurur rahim itu dia dia ingin mengatakan wahai kaumku kita ini selamat bukan karena amal saleh kita. Bukan karena amal saleh kita, tapi karena Allah ampuni kita. Jadi dia sedang berbicara tentang mereka kita ini selamat. Apa yang mau kita andalkan? Amal saleh tidak bisa kita andalkan di depan keagungan Allah Subhanahu wa taala. Tapi kita selamat karena Allah mengampuni apa dosa-dosa kita. Bagaimana tawadunnya Nuh? Tidak ada sombong sama sekali, tidak ada ujub sama sekali. Maka di antara ciri-ciri orang-orang yang mau surga tanpa hisab, mereka tidak pede dengan apa yang mereka lakukan. Dengan sedekah yang mereka lakukan tidak menjadikan mereka ujub. Dengan salat malam, dengan hafal Quran yang mereka miliki tidak menjadikan mereka apa? Ujub. Tapi mereka takut kepada Allah Subhanahu wa taala. Oleh karenanya ulaika yusariuna filhairat. Makanya mereka berlomba-lomba dalam kebajikan karena mereka tidak tahu amal mereka diterima atau tidak. Ya, wahum laha sabiquun. Dan mereka berlomba-lomba dalam kebajikan tersebut. Ya, Tib. Inilah sifat-sifat yang kita berusaha untuk menirunya agar kita bisa masuk surga tanpa hisab. Semoga Allah masukkan kita tanpa hisab, masuk surga tanpa hisab. Amin ya rabbal alamin. Tayib. Setelah itu, Syekh Muhammad Ab Wahab rahimahullahu taala membawakan jenis ee dalil model yang kedua yaitu tentang sifat-sifat khusus orang-orang masuk surga tanpa azab dan tanpa hisab yang kita sebutkan sifatnya ada berapa? Empat. Yaitu tidak minta rukiah, kemudian tidak berobat dengan besi yang dipanaskan, tidak bertatayyur dan juga mereka bertawakal kepada Allah. Lanjut apa berhenti? Lanjut ya biar ujiannya banyak. Bab saya bacakan hadisnya panjang ya. Silakan kalau punya ee bekal Islam di-download ya. Dari Husain bin Abdurrahman dia berkata, "Suatu ketika aku berada kuntua Said bin Zubair." Aku berada di sisi Said bin Zubair. Kemudian dia bertanya, "Siapakah di antara kalian roal kaukabq barha?" Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam? Kemudian aku berkata, "Aku, aku yang melihat." Kemudian aku tambahkan, "Ama ini lam akun fi shatin wakinni ludu." Tadi malam saya lihat bintang jatuh bukan karena saya sedang salat, tapi saya sedang disengat oleh binatang berbisa entah kalajing atau yang lainnya. Ya, ini di antara sifat para salaf dahulu. Mereka tidak ingin dipuji dengan apa yang tidak mereka lakukan. Kalau ditanya, "Siapa tadi malam lihat bintang jatuh?" Berarti tidak tidur malam. Kalau tidak tidur malam biasanya mereka salat apa? Malam. Bukan nonton bola. Mereka salat malam. Nah, padahal dia tidak sedang salat malam. Supaya tidak dikira sedang salat malam, maka dia tepis langsung. Ama ini lam akun fi shatin. Saya tidak tidak tidur di malam hari bukan karena salat malam, tapi saya sedang demam karena disengat binatang ber berbisa. Beda dengan orang munafik. Orang munafik sifatnya ingin dipuji dengan apa yang tidak mereka lakukan. Wuhibuna yuhmadu bima yaf'alu. Mereka ingin dipuji dengan apa yang tidak mereka kerjakan. Sehingga terkumpullah pada diri mereka dua hal, riak dan bohong. Riak dan bohong. Maka kita jangan suka dipuji dengan apa yang tidak kita lakukan, yang tidak kita punya tidak punyai. Ya. Almutasyabbi bima lam y kalabisaiur. Seorang yang bergaya dengan apa yang tidak dia miliki seperti memakai dua pakaian kedustaan. Dia dustai dirinya sendiri, dustai orang orang lain. Makanya jangan mengesankan antum seakan-akan hafal Quran kalau antum tidak hafal Quran. Orang tanya, "Kamu sudah hafal berapa juz?" Mau bilang cuma juz 30. Malu. Bilang, "Adalah saya hafal." Ada berapa? "Adalah." "Saya enggak mau riak." Padahal bilang aja cuma juz 30. Tapi kalau antum jawab, "Ada saya tidak mau riak." Seakan-akan uh jangan-jangan 20 juz. sehingga terkesan antum lebih hebat daripada yang seharusnya yang yang kenyataannya. Maka jangan mengesankan bahwasanya antum hebat. Gak perlu kita enggak perlu dipuji. Kita sesuatu yang kita punyai saja kita jangan minta dipuji. Apalagi suatu yang tidak kita miliki. Mengesankan bahwasanya saya bisa ini, bisa ini, bisa ini, bisa ini. Ada orang mengesankan demikian dia hafal. Saya tanya sama dia, "Emang kau hafal begitu semuanya?" Diam dia. Enggak bisa jawab. "Emang kau mau menghafal dengan cara demikian seluruhnya? Enggak bisa jawab. Kalau dia bilang bisa, saya mau tes. Tapi mengesankan pada orang bahwasanya dia menghafal seperti itu seluruhnya dari awal sampai akhir ini kedustaan. Enggak boleh. Jangan mengesankan kita ingin dipuji dengan apa yang tidak kita miliki. Apa yang kita miliki pun jangan kita minta pujian. Maka orang alim ini berkata supaya tidak dipuji. Karena mereka para salaf dahulu kalau tidak tidur malam biasanya apa? Salat malam. Kalau kita tidak tidur malam biasanya apa? nonton bola itu masalahnya ya. Sampai begadang sampai di sepertiga malam yang terakhir gol. Masyaallah masyaallah. Maka dia berkata, "Saya tidak salat tapi saya sedang disengat binatang berbisa." Kemudian ditanya oleh Said bin Zubair, "What?" "Apa yang kau lakukan ketika disengat binatang berbisa?" "Qala irtaqitu." Saya minta untuk dirukyah. Saya minta untuk dirukiah. Maka Syid bertanya lagi, "Wama hamalaka alalik." Apa yang buat engkau minta dirukiah? Maka dia berkata, Husin bin Abdurrahman haditun hadasanahu Sya'bi. Ada hadis diriwayatkan dari Sy'bi. Seorang tabii itu disebutkan sanadnya. Wama haddasakum. Apa hadisnya? Kemudian dia berkata dari Buraidah bin Husaib, Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "La rukyata illa min ainin humatin." Tidak ada rukiah yang lebih ampuh kecuali dari penyakit ain atau terkena sengatan binatang berbisa. Ini hadisnya ada, makanya saya minta untuk dirukiah. Maka Said bin Zubair menyanggah, tapi dia sanggara yang baik. Dia mengatakan q ahsana manintah ma sami. Sungguh baik orang yang melakukan dalil yang sampai kepadanya tetapi ada hadis yang sampai kepadaku. Yaitu dari guruku Ibnu Abbas. Zaid bin Zubair muridnya Ibnu Abbas. Bahwasanya Ibnu Abbas menyampaikan kepada kami bahwasanya Rasul sahu alaihi wasallam pernah bersabda. Ah dia ingin menyangga itu. Jangan kau minta rukiah. Jangan kau minta rukiah. Karena Rasulullah mengatakan tidak rukiah yang terbaik seperti untuk penyakit ain atau penyakit binatang sengatan binatang berbisa. Tapi bukan itu berarti kau minta rukiah sama orang lain. Silakan rukiah diri sendiri tapi jangan minta rukiah sama orangor lain. Makanya ketika dia mengatakan saya minta rukyah. Ibnu maka Said bin Zubair menyanggah dengan hadis riwayat dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Uridat alal umamu." Dinampakkan bagiku umat-umat yaitu pada hari kiamat kelak nabi masing-masing nabi dengan umatnya. Faritun nabirahtu. Aku melihat ada seorang nabi pengikutnya cuma beberapa orang. Yaitu dari 3 sampai 9. Tidak sampai 10 orang. Ada nabi pengikutnya cuma 7 8 9. Nabi loh bukan ustaz. Nabi. Subhanallah. W nabi maajulu warajulani. Ada nabi pengikutnya cuma dua. Ada pengikut nabi pengikutnya cuma satu. Subhanallah. Nabi ada pengikut cuma dua orang. Ada nabi pengikut cuma berapa? Satu. Satu orang. W nabiya waaisa mahad. Ada nabi sendirian enggak ada pengikutnya. Luar biasa. Ada nabi emang nabi itu enggak bisa dakwah? Dia bisa dakwah. Tetapi dakwah dia tidak sesuai dengan selera umatnya sehingga tidak seorang pun ikut ikut dia. Ini dalil bahwasanya bukan berarti suara terbanyak berarti itu kebenaran. Kebenaran bisa bersama mayoritas, kebenaran juga bersama minoritas. Banyak sedikit bukan ukuran apa kebenaran. Maka jangan terpedaya dengan jumlah yang yang banyak ya. Jumlah yang banyak orang yang suka musik lebih banyak daripada yang tidak suka mu musik. Berarti musik halal gak s yang yang sufi sama yang enggak sufi yang suka film dengan suka tidak suka film banyakan mana yang suka film berarti film halal gak? Tidak berarti yang banyak itu berarti be benar. Bahkan Allah mengatakan wain aksar man ardhi yudillah. Kalau kau ikuti kebanyakan orang, maka kau akan tersesatkan dian Allah. Intinya bukan juga sedikit juga yang benar. Kita yang benar, kenapa saya sendirian? Enggak juga, enggak juga. Kebenaran diukul dengan dalil. Mau banyak sedikit adalah dengan apa? Dalil. Maka ada nabi tidak ada pengikutnya. Makanya kalau kita renungkan misalnya Nabi Nuh, Nabi Nuh alaihi salam berdakwah 950 tahun. Alfanatin illa khamsina am kata Allah, "Wama amana maahu illa qil." Setelah berdakwah 950 tahun, tidak ada yang beriman kepada dia kecuali cuma sedikit. Ada yang mengatakan 80 orang. Bayangkan 950 tahun cuma berapa pengikutnya? 80 orang. Kalau kita bagi rata berarti 11 tahun satu orang. Jadi dakwah 11 tahun baru satu orang ikut ngaji. 11 tahun lagi ikut orang ngaji. Sampai 950 tahun cuma 80 orang. Sabarnya Nabi Nuh luar luar biasa. Tayb. Tiba-tiba aliwadunim tiba-tiba diperlihatkan kumpulan besar umati. Saya pikir itu umatku karena Nabi tahu pengikutnya banyak. Musa maka dikatakan itu Musa dan pengikutnya. Karena Nabi Musa pengikutnya banyak. Aku lihat di tempat yang lain, arah lain ternyata ada jumlah yang lebih besar lagi. Maka dikatakan, "Inilah umatmu wahai Muhammad." Dan di antara umatku ada 70.000 orang masuk surga tanpa azab dan tanpa hisab. Kemudian Rasulullah sampaikan hadis itu Rasul wasallam masuk ke rumah fabasu fiulik. Maka orang-orang ngobrol, siapa sih 70.000 orang tersebut? Mereka diskusiumina Rasulullah. Mungkin mereka sahabat-sahabat Nabi. Ada yang mengatakan islamah. Mungkin mereka sejak lahir Islam dan tidak pernah syirik sama sekali. Wakaru asya dan mereka menerka-nerka mungkin ini, mungkin ini, mungkin ini. Ketika Nabi datang mereka faakbaruhu. Mereka bilang, "Rasulullah, kami sedang berdiskusi siapakah 70.000 orang tersebut." Ada yang bilang begini, ada yang bilang itu cuma sahabat Nabi. Ada yang ini mengatakan yang lahir Islam dan tidak pernah syirik sama sekali. Ternyata jawaban itu semua salah. Kalau cuma sahabat Nabi, kita enggak mungkin masuk 70.000 tersebut. Kalau yang masuk sejak lahir Islam masih banyak orang yang mualaf. Banyak atau tidak banyak? Maka ternyata dua jawaban tersebut salah semua. Maka kemudian Rasul sahu alaihi wasallam menyebutkan sifat 70.000 orang tersebut. Humulladzina la yastarquun. Mereka adalah orang tidak pernah minta untuk dirukiah. Warun. Mereka tidak pernah mengkait-kaitkan nasib sial dengan angka tertentu, dengan hari tertentu, dengan hewan tertentu. Namanya tatayur. Wala yaktawun. Dan mereka tidak pernah berobat dengan besi yang dipanaskan dengan kai. Waihim yatawakalun. Dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka. Setelah itu ada seorang sahabat bernama Uqkasyah bin Mihsan. Dia mengatakan, "Ya Rasulullah, udullah anajalani minhum." Ya Rasulullah, doakan saya termasuk mereka. Kata Rasulullah, "Anta minhum." Engkau termasuk mereka. Faq rajulun ak. Ada lagi yang berdiri. "Ya Rasulullah, saya juga." Kata Rasulullah, "Sabaq kabha ukasya." "Kau sudah kedahuluan Ukasah." Tawaran sudah habis sudah keluar siapa? Ukasah. Khilaf para ulama siapa orang yang terakhirnya? Ada yang bilang munafik. Yang benar bukan. Bahkan dalam sead bin Ubadah dan dia adalah jelas adalah sahabat yang mulia. Ketika Rasulullah mengatakan sabaq kabha ukasyah kau sudah keluar ukasyah itu Rasulullah menutup pintu. Ya sudah khawatir nanti ada yang bilang saya juga saya juga. Ternyata dia tidak pantas dalam 70 tersebut kalau na bilang kau oh kalau kau enggak kira-kira dia mutung atau tidak dia mutung. Oleh karena Rasulullah menutup pintu agar tidak orang nanya-nanya. Kata Rasulullah kau sudah kedulan Ukasyah. Dan benar Ukasyah akhirnya mati syahid. mati syahid ketika melawan nabi palsu. Tib. Di sini Rasulullah sebutkan beberapa sifat yang merupakan ciri penghuni surga tanpa hisab. Yang pertama la yastarquun. Mereka tidak pernah minta untuk dirukiah. Kenapa? Karena sebagian ulama menjelaskan meminta rukiah di situ ada ketundukan dan bahkan ada kecondongan hati. Apalagi yang merukiah misalnya ustaz yang hebat sehingga dia kadang-kadang ada hatinya tidak murni kepada Allah. Tawakalnya berkurang. Karena dia mulai tawakal, ada sedikit tawakal kecondongan kepada ustaz tersebut. Apala
Resume
Requeue
Categories