Syarah Kitab Tauhid #6: Masuk Surga Tanpa Hisab - Ust Dr. Firanda Andirja, M.A
VlEY0T6fPwA • 2025-07-30
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani
wasyukrulahu ala taufiqi wtinanih ashadu
alla ilahaillallah wahdahu la
syarikalahuimni
wa asadu anna muhammadan abduhu waasuluh
daila ridwani allahumma sholli alaihi
waa alihi wa ashabihi wa ikhwan. Hadirin
hadirat yang dirahmati Allah subhanahu
wa taala. Kita lanjutkan bahasan
berikutnya bab berikutnya bab man haqq
tauhida dakolal jannata bighiri hisab.
maknanya adalah siapa yang mentahkik
tauhid masuk surga tanpa hisab.
Mentahkik maksudnya adalah memantapkan,
menajamkan, ya. Memantapkan, menajamkan
tauhid. Bukan sekedar bertauhid tapi dia
memantapkan dan menajamkan tauhidnya.
Maka dia akan mendapatkan keutamaan
khusus yaitu masuk surga tanpa hisab.
Pada bab sebelumnya ini bab ketiga atau
ada yang bilang bab kedua ya ada urutan
bab ada khilaf cuma ini anggap kita bab
ketiga bab sebelumnya judulnya adalah
fadlut tauhid w yukfaru minadzunub ya
pada sebelumnya ini berbicara tentang
keutamaan tauhid secara umum ini bab
sebelumnya
bab sebelumnya
bahwasanya orang menjalankan tauhid
banyak keutamaan diampuni dosa-dosa,
dapat syafaat Nabi sallallahu alaihi
wasallam wasallam mendapatkan keiman
dunia dan akhirat, tidak diazab oleh
Allah subhanahu wa taala dan
keutamaan-kawan lainnya. Nah, ini bab
yang sekarang.
Bab sekarang
dia berbicara tentang keutamaan khusus,
yaitu keutamaan orang yang memantapkan
apa? Tauhid. Jadi kalau kita himpunkan
dia dalam himpunan lebih kecil daripada
himpunan ee bab sebelumnya. Sehingga
orang yang mengat tauhid dia bukan cuma
mendapatkan keutamaan sebelumnya,
tapi dia ada tambahan keutamaan. Ini
tambahan keutamaan khusus ini tambahan
keutamaan yaitu masuk surga tanpa hisab.
Ya, ini tambahan keutamaan.
Nah, kita mau bahas apa yang dimaksud
dengan memantapkan ini sehingga orang
bisa masuk surga tanpa azab dan tanpa
hisab. Tib. Ee adapun
kaum muslimin pasti masuk surga ya,
tetapi masuk surganya ada tiga model.
Kaum muslimin
selama dia tidak batal tauhidnya
pasti masuk surga.
Ya, selama tidak batal tauhidnya.
Tidak batal tauhidnya.
Ya, kalau tauhidnya batal ya selesai.
seperti wudu batal, salat batal, ya.
Tetapi ada tiga model. Ada tiga model.
Yang pertama adalah ya masuk neraka dulu
baru masuk apa? surga. Ya. Mampir neraka
dulu.
Di neraka dulu.
Mereka ini yang dikenal dengan
aljahanamiyun yaitu alumni neraka
jahanam. Ya, mereka masuk neraka dulu.
Kemudian mereka akhirnya setelah
dibersihkan, dicuci dari dosa-dosa,
kemudian mereka dimasukkan dalam ee
Nahrul Hayat, dalam sungai kehidupan.
Kemudian mereka tumbuh kembali yang
tadinya badannya sudah hangus, ya, sudah
hancur, kemudian tumbuh lagi baru
dimasukin ke dalam surga yaitu mampir
neraka dulu untuk dicuci.
Kenapa? Karena surga adalah ee negeri
yang baik dan tidak boleh masuk ke
dalamnya kecuali yang baik pula. Ya,
makanya para malaikat berkata kepada
penghuni surga, tibbtum fadkhulu khidin.
Kalian adalah thyibun, kalian
orang-orang baik, maka silakan masuk
surga. Adapun orang-orang yang masih ada
kotoran najis, dosa-dosa, maka akan
dibakar terlebih dahulu.
Yang kedua
dihisab dulu
baru masuk surga.
Ini tentu lebih lebih mulia. Hisab dulu
baru masuk surga ya. Kemudian yang
paling mulia adalah masuk surga tanpa
hisab.
Surga tanpa hisab
tentunya ini juga dihisab ya. Ini juga
dihisab.
tapi dikenal dengan yang dikenal dengan
munaqasyah.
Dengan almunaqasyah.
Jadi para ulama menjelaskan hisab itu
ada dua. Hisab ada dua.
Yang pertama disebut dengan
al-munaqasyah
yaitu disidang dengan detail.
Dengan detail.
Istiqsa itu dengan detail kemudian
dimasukkan neraka lalu di lalu diazab.
Kemudian yang kedua namanya hisaban
yasir
hisab yang mudah. Hisab yang mudah. Ya,
ini orang mukmin pertanda masuk surga.
Pertanda masuk surga.
Ee almunaqasy Allah bertanya secara
secara detail. Maka rasulam mengatakan,
"Manukisal hisab uzib." Siapa yang
dimunaqasyah ketika hisab maka dia akan
tersiksa. Kata para ulama tersiksa dua
kali. Terskisa pertama ketika ditanya
dengan detail dia tersiksa dipermalukan.
Yang kedua ujungnya dia akan masuk apa?
Neraka jahanam. Sehingga kata Nabi, "Man
nuqisyal hisab uzib." Siapa yang
dimunaqasyah oleh Allah, disidang oleh
Allah secara detail, dia pasti tersiksa
dengan dua siksaan. Pertama, disiksa
ketika munaqasyah. Itu pertanyaan yang
mengerikan sehingga terbongkar
aib-aibnya secara detail. Kemudian
setelah itu dimasukkan neraka. Adapun
hisaban yasiran disebut ard. Ini juga
disebut dengan al-ardu.
Alardu pemaparan.
Pemaparan yaitu seorang mukmin dipanggil
oleh Allah subhanahu wa taala tma wad
alfahu. Kemudian Allah tutup dia antara
dia dengan Allah saja. Lantas Allah
sebutkan beberapa dosa-dosanya.
Kata Allahuamba.
Atifuamba k. Kau tahu dosa ini? Kau tahu
dosa ini? Dia mengatakan, "Iya, saya
tahu ya Allah. Saya tahu ya Allah. Saya
tahu ya Allah." Kemudian Allah
mengatakan, "Ya ee saya dulu menutupinya
ketika engkau di dunia." Wa ana
agfirulaha agfiruha lakal yaum. Dan hari
ini aku akan ampuni dosa-dosamu.
Kemudian dimasukkan dalam surga.
Tetapi
meskipun hisab ringan, maka perkara juga
yang mengerikan ya, bagaimana dosa-dosa
kita diingatkan oleh Allah Subhanahu wa
taala. Makanya dari sini khilaf di
kalangan para ulama. Apakah orang yang
sudah bertobat dosanya masih
ditampilkan? Khilaf di kalangan para
ulama. Ada orang bermaksiat ya mungkin
dia berzina waliyadubillah, mungkin dia
dosa-dosa. Mungkin dia nonton yang
tidak-tidak, mungkin dia macam minum
khamar. Kemudian dia bertobat. Apakah
setelah dia bertobat dosanya masih akan
diungkit oleh Allah meskipun antara dia
dengan Allah saja? Ataukah tidak
diungkit sama sekali? Dihapuskan khilaf
di kalangan para ulama. Pendapat pertama
mengatakan masih diungkit, diingatkan
sehingga dia semakin bersyukur kepada
Allah subhanahu wa taala dan itu cukup
memalukan pada hari kiamat kelak.
Makanya sebagian salaf mengatakan
sungguh memalukan mes wain afaut ya
sauata wain afaut. Sungguh memalukan
meskipun engkau mengampuni ya Allah. Ini
pendapat pertama. Pendapat kedua
mengatakan jika Allah telah mengampuni
maka jejak semua dihilangkan oleh Allah
Subhanahu wa taala. Dan itu konsekuensi
dari nama Allah alafu. Allahumma innaka
afuun tuhibbul af fa'afu anni. Ya Allah
engkau adalah alafu. Allafu itu
maksudnya menghapus jejak. Menghapus
jejak maksiat yang pernah kami lakukan.
Ya Allah ampunilah. Dan engkau menyukai
pemaafan maka ampunilah. Kita berharap
yang lebih kuat mendapat yang kedua.
Karena siapa sih di antara kita yang
tidak pernah melakukan dosa tatkala
bersendirian, tatkala tidak ada orang
yang melihat, maka semua kita pasti
pernah terjerumus dalam dosa. Ya, semoga
Allah mengampuni dosa-dosa kita.
Ti yang ketiga,
yang ketiga adalah masuk surga tanpa
hisab, ya. Masuk surga tanpa hisab.
Siapa mereka ini? Mereka ini orang-orang
yang memurnikan tauhid. Ya, ya kita
mungkin bahasanya tadi saya bilang apa?
Memantapkan. ya memantapkan atau boleh
di memernikan memurnikan
tauhid. Jadi tauhidnya benar-benar dia
murnikan begitu murninya tauhidnya
sampai dia mendapatkan tambahan bonus
keutamaan itu masuk surga tanpa hisab.
Tanpa hisab tay.
Ee apa maksud
memurnikan tauhid yang menjadikan
seorang mau surga tanpa hisab?
ini sudah
sudah sudah
maksud dari memernikan tauhid
dari mentahkik tauhid mentahkik
atau memurnikan tauhid.
Maka makna memurnikan tauhid kembali
kepada dua makna. dua makna.
Pertama adalah mempertajam tauhid.
Yaitu mempertajam tauhid.
Yang kedua adalah
apa? Menjauhkan menjauhkan diri dari
pengotor tauhid.
Menjauhkan diri
dari pengotor-pengotor tauhid.
Artinya yang nomor satu ini
mengkonsekuensikan yang kedua
konsekuensi.
Konsekuensi. Jadi kalau seorang ingin
memurnikan tauhid, dia harus menjauhkan
dirinya dari hal yang mengotori tauhid.
Dan nanti akan kita bahas ternyata
mempertajam tauhid di antaranya dengan
menguatkan tawakal. Menguatkan apa?
Tawakal.
Siapa yang tawakalnya sempurna maka
tauhidnya tajam. yaitu dia hanya
bersandar kepada Allah Subhanahu wa
taala. Ya, dia bersandar kepada Allah
dengan semurni-murni tawakal. Saking
begitu dia murnikan tawakalnya sampai
perkara yang makruh pun dia tinggalkan.
Nanti akan kita dapati tentang orang
yang di antara yang masuk surga tanpa
hisab adalah yang meninggalkan rukiah.
Dia tidak pernah minta dirukiah. Padahal
minta rukiah itu hukumnya boleh.
Hukumnya boleh. Mungkin makruh, tapi
tidak sampai haram. Tetapi karena dia
ingin memurnikan tauhidnya, maka dia
tidak minta untuk di dirukyah. Dia tidak
minta untuk diukyah seperti dia tidak
berobat dengan kai. Kai itu besi yang
dipanaskan. Hukum asalnya boleh. Hukum
asal tidak sampai haram. Paling-paling
banter hukumnya makruh. Tapi dia
tinggalkan karena dia bertawakal kepada
Allah Subhanahu wa taala. Maka inilah
yang menjadikan tauhidnya semakin
semakin tajam. Bahkan tawakal ini
mengumpulkan banyak nilai-nilai tauhid.
akan datang penjelasannya pada waktunya.
Kemudian yang berikutnya menjauhkan dari
pengotor-pengotor tauhid apa saja? Ada
tiga, yaitu syirik,
kemudian bidah,
kemudian maksiat.
Maksiat. Inilah tiga pengotor tauhid
yang seorang berusaha meninggalkannya
ya. Sehingga dia sempurna tauhidnya
kepada Allah subhanahu wa taala.
Allah isyaratkan tentang orang-orang
yang masuk surga tanpa hisab dalam
beberapa ayat. Di antaranya dalam surah
Fatir kata Allah Subhanahu wa taala,
"Tumma aurasnal kitabina
min ibadina faminhumimun linafsih
waminhum muktasid waminhum sabiquun
bilhairati bidnillah." Kata Allah
Subhanahu wa taala. Kemudian kami itu
dalam surat Fatir 32 sampai 33 ya.
Isyarat dari Allah
di antaranya dalam Quran surah Fatir
ayat 32 sampai 33 atau Allah berfirman,
"Tumma auratal kitabina min ibadina."
Kemudian kami wariskan Al-Qur'an Alkitab
kepada orang yang kami pilih. Kemudian
Allah sebutkan, "Faminhum doalimun
linafsih." Dolimun linafsihi.
Linafsihi ini dia melakukan dosa ya.
Melaku zalim nafsi melakukan dosa.
Itu dosa banyak dia lakukan. Faminhum
lfsih. Waminhum muqtasid. Yang kedua,
muktasid yang di tengah, yaitu hanya
melakukan yang wajib-wajib saja.
Dominannya hanya yang wajib-wajib saja.
Hanya yang wajib-wajib saja.
Dia melakukan sunah tapi tidak dominan.
Ini yang dominan yang dia perhatikan
yang wajib-wajib saja. Namun yang haram
dia tinggalkan. Kemudian kata Allah,
waminhum sabiqun bilhairat. Sabiqun bil
khairat. Biidnillah. yaitu yang berlomba
dalam kebaikan,
duluan dalam kebaikan,
duluan dalam kebaikan.
Ya, biidiznillah dengan izin Allah
subhanahu wa taala. Kata Allah, "Dzalika
hual fadlul kabir." Inilah karunia
Allah. Kemudian Allah berfirman,
"Jannatu adni yadkhulunaha." Setelah itu
Allah berfirman, "Jannatu
adnin
yadkhulunaha
yuhalluna fiha min asawira minahabi
walua." Maka mereka masuk dalam surga
aden, jannatu adenin yadkhulu. Maknanya
yadkhulunaha yaitu Allah menggunakan
kata ganti orang ketiga jamak. Wau
jemah. Ini menunjukkan maknanya mereka
masuk surga aden.
Surga adan. Kata para ulama ini wau ini
bahasa wau mereka menunjukkan tiga ini
semua masuk surga. Tiga-tiga ini
semuanya masuk surga.
Jadi masuk surga ada juga pendosa yang
masuk surga tapi tentu pahalanya lebih
banyak daripada dosanya. Tapi dia banyak
melakukan dosa. Dan model pertama inilah
ini nomor satu yang Allah sebutkan
pertama kali. Kemudian yang kedua. Yang
ketiga kata para ulama, kenapa Allah
mulai dengan doimul linafsih? Karena
kebanyakan orang yang masuk surga
modelnya seperti ini.
Faminhum Allah,ma aal kitabadina min
ibadina. Kemudian kami wariskan
Al-Qur'an kepada hamba-hamba yang kami
pilih. Ini siapa yang hamba-hamba yang
Allah pilih? Tiga model. Faminhum doimun
linafsi. di antara mereka yang melakukan
dosa. Artinya dia melakukan dosa tapi
meskipun pahalanya lebih banyak daripada
dosanya, tapi dia melakukan dosa. Ya
khalatu amalan shihan waak sayian
menggabungkan antara amal baik dengan
amal amal buruk. Disebutkan pertama kali
ini model manusia yang paling banyak
masuk seperti ini. Yang kedua Allah naik
lagi waminhum muqtasid yang
tengah-tengah. Yang tengah-tengah ini
artinya apa? Dia melakukan
kewajiban-kewajiban tapi sunah. Dia
tidak semangat. Kurang semangat ya. Dia
melakukan sunah tapi tidak mendominasi.
Yang dominan cuma yang wajib-wajib.
Kemudian dia meninggalkan yang
haram-haram. Makruh mungkin dia
kerjakan. Kemudian Allah naik lagi
kepada jumlah yang lebih sedikit. Kata
Allah, "Waminhum sabiqun bil khairat."
Yang terdepan yang dahulu, yang
mendahului dalam kebaikan. Namun kata
Allah biidiznillah. Izin Allah yang buat
mereka bisa semangat beribadah adalah
dengan izin Allah. Setelah itu Allah
menyebutkan mereka semua masuk surga.
Sampai ada seorang ulama mengatakan ini
huruf wau yang artinya mereka ini
hendaknya ditulis dengan tinta air mata.
Kenapa? Memberi harapan yang besar
kepada kaum muslimin. Oleh sebah
mengatakan inilah ayat yang paling
memberi harapan. Ternyata Allah sebutkan
penghuni surga banyak dari model yang
pertama yang mencampurkan maksiat dengan
keta ketaatan. Nah, model ketiga inilah
yang disebut oleh para ulama isyarat
masuk surga tanpa hisab.
yang mereka selalu paling depan dalam
kebaikan. Mereka tidak menunda-nunda
kebaikan dan mereka semangat dalam
menjalankan sunah-sunah Nabi. Mereka
tidak mencukupkan diri hanya sekedar
melakukan kewajiban-kewajiban saja. Tapi
mereka berpacu, berlomba-lomba dan
bahkan mereka mengerjakan yang
sunah-sunah.
Demikian juga dalam ayat yang lain
misalnya Allah mengatakan,
"Wasabiquunabiquun
ulaikal muqarbun."
Dan orang yang mendahului mendahului
merekalah yang didekatkan oleh Allah
Subhanahu wa taala. Ini isyarat tentang
satu kaum yang khusus Allah muliakan
yang mereka masuk surga tanpa apa?
Hisab. Orang surga tanpa tanpa hisab.
Tayb.
Ee
kemudian
al Imam Muhammad bin Abdul Wahab
rahimahullah kemudian bawakan dalil
terkait dengan pembahasan ini.
ee beliau
ketika menyebutkan dalil
dalil-dalil
tentang
orang-orang masuk surga
tanpa hisab.
Dua, dua, dua metode, dua metode dalil.
Dua macam dalil
yang beliau sebutkan. Yang pertama
adalah tentang orang-orang yang dipuji
oleh Allah. Tentang-orang
yang dipuji oleh Allah.
Dipuji oleh Allah. Maka di situ di
antaranya beliau menyebutkan tentang
misalnya Nabi Ibrahim Alaih Salam.
Ibrahim Alaih Salam. Kemudian juga dan
lain-lain. Nah, seakan-akan beliau
mengatakan, "Lihatlah orang-orang dipuji
oleh Allah apa? Kenalahilah sifat-sifat
mereka, yaitu kenalilah sifat-sifat
mereka.
Apa sah sifat-sifat mereka sehingga
mereka menjadi mulia? Karena orang-orang
yang Allah puji secara khusus,
kemungkinan besar mereka ini adalah
masuk surga tanpa hisab. Maka kenalilah
sifat-sifat mereka. Apa sifat Ibrahim?
Kita berusaha tiru. Apa sifat-sifat
orang yang mulia yang Allah sebutkan
misalnya dalam surat Almukminun? Ya. Ya.
Apa sifat-sifat mereka? Modal kedua,
beliau menyebutkan hadis
tentang 70.000 yang masuk surga tanpa
hisab. 70.000 orang
yang masuk surga tanpa hisab.
Tanpa hisab. Dengan amalan-amalan
khusus.
Dengan amalan-amalan khusus.
Apa amalan mereka? Disebutkan ada tiga.
Yang pertama atau empat. Yang pertama
adalah tidak minta dirukiah.
Nanti akan kita bacakan hadisnya. Tidak
minta untuk di rukiah. Yang kedua, tidak
minta tidak berobat dengan kai.
Berobat dengan kai. Kai itu besi yang
dipanaskan.
Yang ketiga, tidak tathayur. Tidak
tatayyur. Tathayur maksudnya adalah
pamali-pamali. mengkaitkan nasib sial
dengan waktu, dengan nomor, dengan hari,
dengan tempat dengan hewan tertentu
namanya tatayyur. Kemudian sifat yang
keempat yaitu mereka bertawakal. Wa ala
rabbihim yatawakalun. Bertawakal.
Nah, ini dua metode. Jadi pertama beliau
sebutkan contoh-contoh orangnya. Yang
kedua beliau sebutkan amalan-amalan
khusus yang secara spesifik menyebabkan
orang masuk surga tanpa azab dan tanpa
hisab. Ini dua metode dalil yang beliau
sebutkan dalam bab ini. Tapi kita akan
mulai metode yang pertama atau model
dalil yang pertama.
Tayib.
Dalil yang pertama ini sudah kita
lanjut.
Dalil yang pertama tentang Ibrahim Alaih
Salam. Allah berfirman, "Inna Ibrahima
kana ummatan qonitan lillah
hanifan
walam yaku minal musyrikin."
Kata Allah subhanahu wa taala,
"Sesungguhnya Ibrahim
adalah umah." Umat maksudnya imam.
Imam.
Kenapa disebut ummah? Ada beberapa
pendapat tadi mengatakan disebut ummah.
Ummah itu kan kumpulan kalau kita bahasa
bahasa secara yang sederhana. Kumpulan
manusia. Ada yang mengatakan imam. Ummah
maksudnya imam karena pada diri Ibrahim
terkumpul berbagai macam kemuliaan
sehingga dia dikatakan ummah.
Seakan-akan dia mewakili orang banyak
karena banyak kemuliaan terkumpulkan
pada Nabi Ibrahim. Qonitan lillah. Ini
pertama sifat pertama.
Sifat kedua qonitan lillah qunut. Qunut
dalam beribadah yaitu continue.
Ber qunut itu mengumpulkan dua sifat.
Qunut mengumpulkan dua sifat. Yang
pertama adalah continue.
Yang kedua
tulul ibadah. Lama dalam beribadah. Lama
dalam beribadah.
Seperti Allah waquumu lillahi qonitin.
Khusyuk.
Jadi orang yang qunut dalam Al-Qur'an
Allah menyebutkan sifat qunut ya seperti
walqonitina walqonitat ya walqonitin
walqonitat ya. Kemudian Allah juga
berfirman
eh minal qonitin waat minal qonitin ya
qonitatin taibatin abidat. Banyak Allah
sebut tentang makna qunut. Allah
puji-puji
ee hamba-hambanya. Allah juga
perintahkan kepada istri-istri Nabi,
yaqnut minun lillahi waasulal shihan. Di
antara siapa di antara kalian istri Nabi
yang qunut? Ya, qunut ya. Jadi qunut ini
sifat yang mulia. Waunu waumu lillahi
apa? Qonitin. Jadi banyak Allah puji
sifat qunut ya.
Ya Maryamu, qunuti lobbiki. Wahai
Maryam, qunutlah engkau. Qunut maknanya
dua, continue dan lama dalam beribadah.
Ini qunut lillah. Hanifan maknanya
adalah condong. Hanif itu makna bahasa
Arabnya adalah condong. Maksudnya
condong kepada tauhid
jauh dari syirik.
Ini makna yang berikutnya. Ini makna
yang ketiga
kemudian walam yaku minal musyrikin.
Tidak pernah yang keempat
tidak pernah syirik. Ya, bukan termasuk
orang syirik. Bukan
termasuk musyrik.
Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah
mengatakan, "Walam yak minal musyrikin."
Kata Allah, "Syakiron lianum
syakiran lianumih ijtabahu dan
seterusnya." Kata Allah, "Sifat
berikutnya
adalah
senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat
Allah.
Senantiasa
bersyukur
atas nikmat-nikmat Allah."
Nah, inilah sifat Ibrahim Alaih Salam
yang dia adalah orang yang telah
mewujudkan, memurnikan tauhid. Maka
seorang berusaha memiliki sifat-sifat,
mendekati sifat-sifat ini. Mendekati
sifat-sifat ini agar dia termasuk dari
orang-orang yang mau surga tanpa hisab.
Maka di antaranya kita berusaha kalau
kita beribadah jangan buru-buru. Salat
jangan buru-buru. Kalau sujud jangan
buru-buru. Kalau zikir jangan buru
buru-buru. Tenang sampai qunut, sampai
ada kekhusyukan. Karena makna qunut itu
kata Ibnu Katsir mengandung makna
khusyuk yaitu waquumu lillahi qonitin.
Maksudnya khasiin. Yaitu orang ketika
beribadah dia ada qunut tenang. Jangan
habis asalamualaikum asalamualaikum
langsung buka HP. Jangan. Asalamualaikum
asalamualaikum. Zikir pelan-pelan.
Jangan. Subhanallah. Subhanallah.
Santai. Subhanallah. Subhanallah.
Subhanallah. Subhanallah. Subhanallah.
Subhanallah. Subhanallah. Allahu akbar.
Bar. Bar bar. Bar. Bar. Bar. Bar bar.
Bar. Jangan. Pelan. Santai. Pelan-pelan.
Pelan-pelan. Alhamdulillah.
Alhamdulillah. Sambil direnungkan,
dimaknai. Baca Quran juga begitu sambil
dimaknai. Itu namanya qunut.
Tidak buru-buru, santai dalam beribadah,
tidak tergesa-gesa.
Karena kita dalam dalam sedang
menjalankan tugas kita diciptakan
beribadah kepada Allah. Maka latih diri
kita menikmati ibadah. Jangan kita
menganggap ibadah suatu beban yang ingin
kita lepaskan. Jangan kita salat tetap
salat. Maka salat nikmati, berusaha
nikmati salat tersebut. Walladzina
jahadu fina lanahdiyannahum subulana.
Kata Allah, "Siapa yang berjuang
menempuh jalan kami, kami akan bukakan
jalan-jalannya. Siapa yang berusaha
khusyuk, siapa yang berusaha menikmati
salat, Allah akan buat dia merasa nikmat
dalam salatnya." Maka jangan buru-buru.
Jangan buru-buru. Itu namanya qunut.
Hanif condong, tidak mau
serempet-serempet dengan syirik sedikit
pun gak mau. Makanya Nabi Ibrahim
berdoa, wajunubni wabani an asnam. Ya
Allah jauhkanlah aku junubni yaitu
menjauhkan jauhkan aku dan keturunanku
dari
peribadatan kepada berhala. Yaitu jangan
dekat-dekatan dekat-dekat kepada hal
tersebut. Oleh karenanya orang yang
ingin selamat dia jangan membuka
celah-celah syirik. dia berusaha
menjauhi sebab-sebab yang bisa
menjerumuskan dia dalam kesyirikan. Maka
hati-hati ya, apapun yang bisa membuat
kita terjerumus dalam kesyirikan jangan
kita jangan kita spekulasi.
Karena di antara ciri Nabi Ibrahim Alaih
Salam hanif itu berusaha untuk
bertauhid, menjauhkan diri dari
kesyirikan sejauh sejauh-jauhnya. Iya.
Maka nasihat buat saya pribadi dan juga
para hadirin, jangan suka publish amal
saleh. Jangan suka publish amal saleh.
Jangan suka cerita amal saleh. Itu
nyerempet-nyerempet syirik. Tidak semua
orang yang memppublish dia riak. Gak.
Tidak semua orang yang bercerita tentang
amal saleh riak. Tapi itu
serempet-serempet,
nyerempet-nyerempet.
Tahu-tahu dia riak tanpa dia sadari.
Karena riya itu masuk dalam hati
seorang. Kata Nabi, "Akhfa min daabibin
namlati sauda lebih sambar daripada
rayapan semut hitam." Dia merasa dirinya
ikhlas, ternyata dia sudah terjebak
dalam apa? RI. Tapi kalau seorang
menyembunyikan amal salehnya, dia lebih
selamat. Dia lebih selamat.
Azanah. Oke, azan dulu silakan.
Azan ya? Itu
belum.
Hah?
Oh, itu diluan. Kenapa?
Belum. Dulu ustaz.
Ya sudah.
Tib walam yak minal musyrikin. Ibrahim
alaihi salam tidak pernah syirik sama
sekali. Dalam ayat yang lain, wama kaana
minal musyrikin. Wamaana minal
musyrikin.
Lam yaaku dalam bahasa Arab lam harfu
qolabin yaitu merubah dari makna mudhar'
menjadi makna fi'il madhi. Yaitu secara
past tense Ibrahim tidak pernah musyrik
sama sekali. Maka seperti pernah kita
bahas pada pertemuan sebelumnya tidak
ada istilah Ibrahim cari Tuhan itu
enggak ada. Yang benar Ibrahim sedang
berdebat karena Allah mengatakan lam
yakun minal musyrikin. Dia tidak pernah
musyrik sama sekali. Sedikit pun gak
pernah. Wana minal musyrikin dan dia
tidak pernah syirik sama sama sekali.
Adapun yang Allah ceritakan dalam surat
Al-An'am, dia sedang berdebat dengan
para penyembah rembulan, matahari dan
bintang-bintang. Kemudian di antara
sifat yang menakjubkan,
azan ya.
Belum punya
belum. Nanti bunyi ada bunyi
2 menit lagi.
Oh, 2 menit lagi. Masih lama.
Syakiran liani. Syakiran anumi.
Perhatikan syakiran ini secara bahasa
Arab dia adalah isim fa'il. Isim fa'il
dikatakan lebih kuat daripada fi'il
mudhor'. Kalau fi'il mudhar' menunjukkan
continuous tense yaitu berkesinambungan.
Kalau isim fa'il seakan-akan itu
perangainya. dia seakan-akan sedang
melakukan terus-menerus tanpa tanpa
berhenti. Adapun kalau isim fi'il
mudhar' menunjukkan tajaddud,
berulang-ulang, berulang-ulang. Tapi
kalau isim fa'il menunjukkan dia tidak
pernah lepas dari sifat tersebut. Oleh
karenanya Thahirah bin Asur dalam
tafsirnya mengatakan isim fa'il lebih
kuat daripada fi'il mudhor. Ini yang
ngerti bahasa Arab, yang tidak ngerti ya
sudah qadarullah.
Allah mengatakan syakiran. Jadi
senantiasa bersyukur. Kalau bahasa kita
senantiasa bersyukur. Yang menakjubkan
Allah mengatakan lian umumih
nikmah.
Nikmat
nikmat
ini bisa dijamak ini. Ini mufrad mufrad
itu maksudnya singular ya. Bisa dijamak
dengan dua. Dengan misalnya anni'am.
Anniam
ini untuk jamak jamak taksir eh jam'ul
kasrah. Jam'ul kasrah
kalau nikmatnya banyak lebih dari 10
maka disebut dengan anniam. Tapi kalau
dijamak dengan al-an'um,
al-an'um
maka ini jam'ul qillah.
Bab hadirin hadirat kita lanjutkan. Jadi
Ibrahim disifati dengan sifat yang
kelima syakiran lianumih. Dia senantiasa
bersyukur lian'umih. Dan nikmah nikmat
kalau dijamak dijamak dengan al-an'um
jam mulqillah. Yaitu jika nikmat
tersebut misalnya kurang dari 10 yaitu
sedikit menunjukkan sedikit
menunjukkan jumlah yang sedikit.
Sehingga dari sini ee Asyaukani dalam
kitabnya Fathul Qadir tafsir dia
mengatakan ini dalil bahwasanya Ibrahim
Alaih Salam senantiasa bersyukur bahkan
pada nikmat-nikmat yang disepelekan.
Dia tidak hanya bersyukur pada
nikmat-nikmat yang besar bahkan di
antara nikmat-nikmat yang kecil dia pun
mensyukurinya. Dan itu adalah sifat Nabi
Ibrahim Alaih Salam. Itu juga sifat Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Dan itu juga
sifat Nabi Nuh Alaih Salam yang Allah
mengatakan innahu kanana abdan syakura.
Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang
pandai bersyukur. Kalau kita baca buku
tafsir Nuh Alaih Salam kalau dia pakai
baju dia memuji Allah. Dia mengatakan
alhamdulillah kalau Allah berkehendak
aku tidak punya baju. Aku akan
bertelanjang. Kalau dia pakai sandal dia
bilang alhamdulillah kalau Allah
berkehendak tentu aku berjalan tanpa
alas kaki. Kalau dia makan dia bilang
alhamdulillah. Kalau berkehendak tentu
aku akan kelaparan. Kalau dia minum, dia
bilang, "Alhamdulillah. Kalau
berkehendak tentu aku akan kehausan."
Kalau dia buang hajat, dia bilang,
"Alhamdulillah. Kalau berkehendak tentu
aku tidak bisa buang hajat." Senantiasa
dia bersyukur dalam nikmat-nikmat bahkan
nikmat-nikmat yang yang kecil. Dan itu
menunjukkan kesempurnaan dalam
mensyukuri Allah Subhanahu wa taala.
Tidak seperti sebagian kita yang mungkin
hanya bersyukur kalau dapat
nikmat-nikmat yang besar, nikmat-nikmat
kecil kita tidak menghadirkan dalam diri
kita tentang mensyukuri nikmat tersebut.
Padahal nikmat sepelek kalau kita
syukuri, berarti kita benar-benar
mengakui Tuhan sebagai pemberi nikmat
kepada kita dan pahalanya besar. Makanya
Rasul sahu alaihi wasallam bersabda,
"Innallahaard
an abdihi id akalal aklah anyahmadaha
anahmadahu alaiha waid syariba syarah
any yahmadahu alaiha." Sesungguhnya
Allah rida kepada seorang hamba jika dia
makan makanan kemudian dia memuji Allah
atas makanan tersebut dan jika dia
minum-minuman dia memuji Allah atas
minuman tersebut. Kenapa? Karena
meskipun nikmat tersebut sedikit dia
mengakuinya dari siapa? Dari Allah. Itu
yang menjadikan pahalanya besar. Dia
mengatakan alhamdulillahilladzi atamani
had thaam warzaqanii min giri haulin
minni wala quwwah. Segala puji bagi
Allah yang telah menganugerahkan
kepadaku rezeki ini, makanan atau
minuman. Ya, min ghairi minni wala quat
tanpa dai dan upayaku. Ya, maka jangan
sepelekan
ee syukur. Bahkan bisa jadi kalau dapat
nikmat besar bersyukur wajarlah semua
orang juga bersyukur. Naik naik jabatan
bersyukur. Naik naik gaji bersyukur
enggak? bersyukur. Dapat istri cantik
bersyukur. Tapi yang lebih yang hebat
istrinya biasa-biasa saja bersyukur. Itu
yang hebat.
Kalau makan yang kelihatannya sepele
keseharian ternyata dia bersyukur itu
yang hebat.
Allah mengatakan falyanduril insanu ila
thaamih. Hendaknya manusia merenungkan
apa yang dia makan. Dari mana makanan
tersebut? Dari Allah subhanahu wa taala.
Jadi di antara sifat Ibrahim Alaih Salam
yang mungkin kita sulit bersifat dengan
sifat tersebut adalah mensyukuri
nikmat-nikmat Allah dan selalu bahkan
pada nikmat-nikmat yang dianggap apa?
Sepele.
Nah, siapa yang mengumpulkan sifat-sifat
ini maka dia akan mendekat kepada masuk
surga tanpa hisab. Ini metode pertama
dari Syekh Muhammad Abdul Wahab yaitu
menyebutkan contoh orang-orang yang
dipuji oleh Allah. Maka disuruh kita
meneliti sifat-sifatnya apa? untuk kita
tiru. Untuk kita tiru dan Ibrahim adalah
Khalilurrahman kekasih Allah Subhanahu
wa taala. Bab dalil berikutnya masih
pada model yang pertama yaitu Syekh
menyebutkan tentang sifat-sifat
orang-orang dipuji oleh Allah. Di
antaranya dalam surah almukminun ayat 57
sampai 61 saya bacakan firmannya.
Innalladzina hum min khasyatihim
musyfiquun. Yaitu orang-orang yang takut
kepada rabbnya. Itu sifat pertama min
khasiati rabbihi musfiqun. Takut kepada
Allah.
Takut kepada Allah. Takut kepada
azabnya. Takut kepada siksaannya.
Kemudian walladzina hum biayati rabbihim
yukminun. Beriman kepada ayat-ayat
Allah.
Walladzina hum birabbihim la yusyrikun.
Tidak berbuat syirik sama sekali. Tidak
berbuat syirik.
Tidak mensekutukan Allah. Tidak
mensukkan Allah sama sekali. Walladina
hubim yusriun. Ayat berikutnya.
Walladina mau waubum
wajilatunahumbihimun.
Yang senantiasa beramal.
Yang beramal tapi tetap malah hati
mereka takut. Yang beramal yaitu
memberikan apa yang mereka berikan itu
mereka puasa, mereka sedekah, mereka
beramal. Namun hati mereka takut.
Kenapa annahum ilhim rojiun? Karena
mereka akan kembali kepada Allah.
Kembali kepada Allah.
Karena mereka takut. Ulaika yusariuna
filhairat. Mereka cepat dalam berbuat
baik.
Cepat atau bersegera
dalam kebajikan-kebajikan.
Wahum laha sabiquun. Bahkan mereka
berlomba. Bahkan mereka berlomba.
Berlomba dalam kebajikan.
Nah, ini sifat-sifat berikutnya
orang-orang yang Allah puji dalam surat
Almukminun
atau orang-orang mulia.
Ketika turun ayat ini sampai pada firman
Allah, walladzina yutuna maqul
mailatunahumbihimun.
Orang-orang yang beramal, namun mereka
takut. Mereka melakukan suatu perbuatan,
namun mereka hati mereka takut. Maka
Aisyah berkata, "Ya Rasulullah, apakah
mereka itu orang-orang yang mencuri,
berzina,
kemudian melakukan hal yang haram?" Kata
Nabi sallallahu alaihi wasallam, "La ya
bnata siddiq." Tidak wahai putri Abu
Bakar. Bahkan mereka orang-orang yang
berpuasa, mereka bersedekah, mereka
salat, tapi mereka takut amal mereka
tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa
taala. Karena mereka takut maka mereka
berlomba dalam kebajikan.
Tapi perhatikan ini sifat-sifat
orang-orang yang masuk surga tanpa
hisab. Pertama, mereka takut kepada
Allah. Takut kepada Allah ini ibadah.
Takut kepada Allah ibadah. Dan dalilnya
sangat banyak. Di antaranya Allah
berfirman dalam surat Alwaqiah atau
dalam Alquran kata Allah Subhanahu wa
taala
inhlah
surat atur inqob
inahim
maka penghuni surga pada hari kiamat
kelak baalun mereka saling berhadapan
dan mereka ngobrol tentang masa lalu
ngobrol dengan penuh semangat
mereka berkata Kata inna kunna qlu
ahlina musikin. Kami dulu di tengah
keluarga kami dalam kondisi takut.
Famanallahu alqabum.
Akhirnya Allah memberi anugerah kepada
kami maka Allah selamatkanlah kami dari
azab neraka jahanam. Kata para ulama
aljaza minisil amal. Ketika di dunia dia
takut dengan neraka, maka Allah
selamatkan dia dari apa? Neraka jahanam.
Ketika Allah sebutkan tentang
ibadurahmanina
yaquunanafaba
jahanam in
yaitu orang-orang yang berdoa, "Ya
Allah, jauhkanlah kami dari azab neraka
jahanam." Jadi mereka takut sama neraka.
Bahkan yang menakjubkan dalam surat atur
tadi Allah mengatakan,
mereka berkata, "Inna kunna qoblu fi
ahlina musyrikin." Kami dahulu di tengah
keluarga kami, di tengah istri dan
anak-anak ada perasaan takut kepada hari
akhirat. Jadi meskipun mereka
berinteraksi dengan istri, anak-anak,
mereka tahu tahu bahwasanya mereka akan
dihisab sehingga interaksi mereka dengan
istri tidak sembarangan. Sehingga
interaksi bermuamalah mereka dengan
anak-anak juga tidak sembarang. Karena
mereka tahu istri, anak-anak adalah apa?
Amanah. Di tengah keluarga mereka masih
ingat akhirat.
Berbeda dengan orang penghuni neraka
yang mereka
ketika di keluarga mereka senang-senang.
Ya. Ya. Mereka keluarga senang-senang,
senang-senang di tengah keluarga, lupa
dengan Allah Subhanahu wa taala. Ya,
adapun orang-orang yang penghuni surga
bahkan di tengah keluarga masih ingat
dengan akhirat. Ya, makanya ketika Allah
memberi uzur kepada seorang lelaki yang
dia sebelum mati dia bilang sama
anak-anaknya, idu faharriquuni
tummathani.
Kalau saya mati, wahai anak-anakku,
bakar aku sampai aku jadi arang. Sudah
jadi arang, maka tumbuklah tubuhku
supaya menjadi debu.
Kemudian tebarkanlah jasadku di udara,
di angin dan juga di lautan.
Lainqirallahu alayya laadibannani
adzaban la yuadibuhu ahadan minal
alamin. Karena kalau Allah bisa
bangkitkan saya, saya akan diazab dengan
azab yang tidak pernah Allah azab kepada
siapapun. Akhirnya ketika dia mati, dia
seorang Bani Israil.
Karena dia jahil, dia berwasiat
demikian. Akhirnya ketika dia mati, maka
anak-anaknya
melakukan wasiatnya. Dibakar, ditumbuk,
kemudian debunya diterbangkan. Akhirnya
Allah kumpulkan dia. Kata Allah, "Ya
ardu ijm ma fiki minhu." Wahai bumi,
kumpulkanlah orang itu dari yang
tersebar pada diri kumpul hidup lagi.
Allah mengatakan, "Ma hamalaka alaik."
Apa yang membuat engkau berwasiat agar
anak-anakmu melakukan demikian? Kata
dia, "Kyataka ya rab, karena saya takut
kepadamu." Maka Allah ampuni, ampuni
dia. Maka aljazail amal. Siapa di dunia
takut dengan azab Allah, khawatir dengan
hisab ya
wam waliman khafa maqab rabbihi
jannatan. Dan bagi orang yang takut
maqama rabbihi yaitu maqamahu amamallah
hisab. Dia takut dihisab oleh Allah
subhanahu wa taala dia akan mendapatkan
dua dua surga. Jadi sifat yang surga
tanpa hisab di antaranya adalah takut.
Kita harus tumbuhkan rasa takut.
Bagaimana cara temukan rasa takut? Baca
tentang neraka.
Baca tentang orang-orang yang diazab.
Baca tentang bagaimana dosa-dosa besar
yang menjerumuskan orang ke dalam neraka
jahanam. Takut. Terus lihatlah diri kita
bagaimana kita masih sering terjerumus
dalam apa? Maksiat. Mari takut kepada
Allah Subhanahu wa taala. Kemudian sifat
yang kedua ini sifat pertama.
Yang kedua, walladzina biayati rabbihim
yukminun. Walladzina hum biayatiib
yumminun. Yaitu mereka yang beriman
kepada ayat Allah. Mereka beriman
semuaat Allah mereka imani. Tidak ada
yang mereka ragukan sama sekali. Apa
yang Allah katakan mereka imani.
Termasuk apa yang Nabi katakan mereka
iani.
Kemudian yang disebutkan secara spesifik
adalah ayat ini. Yang ketiga, walladzina
hum birabbihim laa yusyrikun. Yaitu
mereka tidak pernah berbuat syirik sama
sekali.
Yaitu mereka tidak melakukan kesyirikan,
tidak mensekutukan Allah. Berusaha
menjauhkan diri mereka dari kesyirikan,
syirik besar maupun syirik kecil dengan
berbagai macam modelnya. Dan ini
mengkonsekuensikan kita harus mengenal
apa itu syirik agar kita bisa
menghindar. Kemudian sifat berikutnya
kembali kepada sifat yang pertama mereka
tidak pde ini tidak pede masuk surga
tidak pde. Walladina walladina yutuna
maau dan orang-orang yang melakukan apa
yang mereka lakukan beramal saleh.
Wlubum wajilah sementara hati mereka
takut. Ini hati hati mereka takut.
Annahum ilabbihim rojiun. Bahwasanya
mereka akan dikembalikan kepada Allah.
Ini sifat orang-orang beriman. Mereka
banyak amal saleh, namun mereka tidak
ped. Ya. Oleh karena Nabi Ibrahim Alaih
Salam ketika dia bangun Ka'bah dia
mengatakan apa? Wafa Ibrahimul qwaid
minal bait ismailana taqobbal minna
innaka antaul alim. Kata Allah ketika
Ibrahim dan Ismail membangun Ka'bah,
dibangun di atas pondasi, setiap mereka
letakkan batu, mereka berdoa, "Rabbana
taqobbal minna innaka antamiul alim." Ya
Rabb, terima, terimalah amalan kami.
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan
Maha Mengetahui. Sampai ada seorang
salaf ketika baca ayat ini, dia
menangis. Dia mengatakan,
"Khalilurrahman kekasih Allah. Bana
baitarrahman sedang membangun rumah
Allah biamr minarahman." Perintah
langsung dari Allah. Tumma yaku alla
yataqbala minhman. Kemudian dia masih
khawatir tidak diterima oleh Allah.
Makanya dia berdoa, "Ya Allah terimalah.
Ya Allah terimalah." Padahal pekerjaan
Ibrahim dan Ismail sangat berat. Mereka
harus pergi ke lembah atau tempat yang
jauh ke gunung mereka
pahat gunung batu kemudian mereka
jadikan kotak kemudian mereka pikul.
Berat atau tidak berat? Batunya
besar-besar. Mereka susun berdua. Tidak
ada orang ketiga berdua nyusun untuk
bikin Ka'bah. Pekerjaan berat. Dan
setiap kali mereka letakkan batu, mereka
berdoa, "Ya Allah, terimalah amal ibadah
ibadah kami." Menunjukkan mereka tidak
PD ya. Tidak. Oh, tenang Ismail surga
aman aman pokoknya gak gak ada. Ini
muncul orang belakangan PD kita pasti
masuk surga. Kalau ada kelompok lain
masuk surga karena kita subhanallah.
Dari mana salaf seperti itu? Mereka
takut. Ini ciri-cirinya Allah sebutkan.
Walladzina yutuna ma atau. Dan mereka
sudah melakukan amal saleh sementara
hati mereka masih takut. Kenapa? Karena
mereka tahu keagungan Allah. Mereka tahu
bahwasanya amal mereka entah diterima
atau tidak. Apakah
pantas untuk diberikan kepada Allah yang
maha agung. Oleh karena Nabi sallallahu
alaihi wasallam contohkan setiap selesai
ibadah Rasulullah beristigfar.
Rasulullah beristigfar habis salat apa
zikir yang pertama? Astagfirullah.
Astagfirullah. Astagfirullah. Ya, kata
Allah, wal mustagfirina bil ashar.
Ketika Allah memuji orang-orang penghuni
surga, Allah sebutkan di ayat terakhir,
wal mustagfirina bil ashar. Mereka di
waktu sahur mereka beristigfar. Apa kata
para ulama? Di siang hari mereka
berpuasa, mereka bersedekah. Di malam
hari mereka bangun malam, di penghujung
salat malam mereka malah beristigfar.
Tidak ujub, tidak merasa hebat. Mereka
beristigfar. Mereka tahu ibadah mereka
pasti ada kekurangan. Istigfar itulah
mereka ingin menambal kekurangan yang
mereka lakukan. Tidak ada PD sama
sekali. Tidak ada PD sama sekali. Dan di
antara tafsir yang menakjubkan, tafsir
Al-Alusi rahimahullah dalam kitabnya ee
Ruhul Ma'ani ketika mentafsirkan firman
Allah Subhanahu wa taala tentang Nabi
Nuh Alaih Salam. Nabi Nuh ketika
menyuruh orang-orang naik kapal
waqalarkabu fiha bismillahi majreha wa
mursaha inna rabbi laofurur rahim. Kata
Nabi Nuh, "Wahai kaumku, silakan naik.
Naik di atas kapal. Kapal tersebut akan
berlabuh.
Bismillah dengan bismillah. Majereh
murah." Dia berlabuh dan dia bersandar
dengan izin Allah subhanahu wa taala.
Kemudian kata Nabi Nuh, "Inna rabbi
lagfurur rahim." Sesungguhnya Rabbku
adalah maha pengampun lagi maha
penyayang. Kita menduga
Nuh akan berkata, "Inna rabbi lasyadidul
iqab." Karena sedang ada ombak nih
besar. Sungguhnya Allah siksaannya
dahsyat. Tetapi
malah Nuh berkata, "Inna rabbi lagfurur
rahim." Sesungguhnya Rabbku maha
pengampun lagi maha penyayang. Tidak,
tidak pas sepertinya ayat tersebut.
Kenapa diakhiri dengan sungguhnya Allah
maha pengampun lagi maha penyayang?
Sementara Allah sedang turunkan hujan
untuk membinasakan umatnya.
Seharusnya kalau Allah maha pengun lagi
penyayang berarti umatnya dimaafkan.
Tapi umatnya sedang s tidak sedang
dimaafkan tapi sedang diazab. Maka
satu-satu ahli tafsir yang saya dapati
dia berbicara tentang ayat ini adalah
Alalusi. Dia berkata rahimahullah dalam
kitab Rahul Ma'ani. Kenapa Nuh
mengatakan di akhir ayat inna rabbi
gfurur rahim itu dia dia ingin
mengatakan wahai kaumku kita ini selamat
bukan karena amal saleh kita. Bukan
karena amal saleh kita, tapi karena
Allah ampuni kita. Jadi dia sedang
berbicara tentang mereka kita ini
selamat. Apa yang mau kita andalkan?
Amal saleh tidak bisa kita andalkan di
depan keagungan Allah Subhanahu wa
taala. Tapi kita selamat karena Allah
mengampuni apa dosa-dosa kita. Bagaimana
tawadunnya Nuh? Tidak ada sombong sama
sekali, tidak ada ujub sama sekali. Maka
di antara ciri-ciri orang-orang yang mau
surga tanpa hisab, mereka tidak pede
dengan apa yang mereka lakukan. Dengan
sedekah yang mereka lakukan tidak
menjadikan mereka ujub. Dengan salat
malam, dengan hafal Quran yang mereka
miliki tidak menjadikan mereka apa?
Ujub. Tapi mereka takut kepada Allah
Subhanahu wa taala. Oleh karenanya
ulaika yusariuna filhairat. Makanya
mereka berlomba-lomba dalam kebajikan
karena mereka tidak tahu amal mereka
diterima atau tidak.
Ya, wahum laha sabiquun. Dan mereka
berlomba-lomba dalam kebajikan tersebut.
Ya, Tib. Inilah sifat-sifat yang kita
berusaha untuk menirunya agar kita bisa
masuk surga tanpa
hisab. Semoga Allah masukkan kita tanpa
hisab, masuk surga tanpa hisab. Amin ya
rabbal alamin.
Tayib. Setelah itu, Syekh Muhammad Ab
Wahab rahimahullahu taala membawakan
jenis ee dalil model yang kedua yaitu
tentang sifat-sifat khusus orang-orang
masuk surga tanpa azab dan tanpa hisab
yang kita sebutkan sifatnya ada berapa?
Empat. Yaitu tidak minta rukiah,
kemudian tidak berobat dengan besi yang
dipanaskan, tidak bertatayyur dan juga
mereka bertawakal kepada Allah. Lanjut
apa berhenti?
Lanjut ya biar ujiannya banyak.
Bab saya bacakan hadisnya panjang ya.
Silakan kalau punya ee bekal Islam
di-download ya. Dari Husain bin
Abdurrahman dia berkata, "Suatu ketika
aku berada
kuntua Said bin Zubair." Aku berada di
sisi Said bin Zubair.
Kemudian dia bertanya,
"Siapakah di antara kalian roal kaukabq
barha?" Siapa di antara kalian yang
melihat bintang jatuh semalam?
Kemudian aku berkata, "Aku, aku yang
melihat." Kemudian aku tambahkan, "Ama
ini lam akun fi shatin wakinni ludu."
Tadi malam saya lihat bintang jatuh
bukan karena saya sedang salat, tapi
saya sedang disengat oleh binatang
berbisa entah kalajing atau yang
lainnya.
Ya, ini di antara sifat para salaf
dahulu. Mereka tidak ingin dipuji dengan
apa yang tidak mereka lakukan. Kalau
ditanya, "Siapa tadi malam lihat bintang
jatuh?" Berarti tidak tidur malam. Kalau
tidak tidur malam biasanya mereka salat
apa? Malam. Bukan nonton bola. Mereka
salat malam.
Nah, padahal dia tidak sedang salat
malam. Supaya tidak dikira sedang salat
malam, maka dia tepis langsung. Ama ini
lam akun fi shatin. Saya tidak tidak
tidur di malam hari bukan karena salat
malam, tapi saya sedang demam karena
disengat binatang ber berbisa.
Beda dengan orang munafik. Orang munafik
sifatnya ingin dipuji dengan apa yang
tidak mereka lakukan. Wuhibuna yuhmadu
bima yaf'alu. Mereka ingin dipuji dengan
apa yang tidak mereka kerjakan. Sehingga
terkumpullah pada diri mereka dua hal,
riak dan bohong. Riak dan bohong. Maka
kita jangan suka dipuji dengan apa yang
tidak kita lakukan, yang tidak kita
punya tidak punyai. Ya. Almutasyabbi
bima lam y kalabisaiur. Seorang yang
bergaya dengan apa yang tidak dia miliki
seperti memakai dua pakaian kedustaan.
Dia dustai dirinya sendiri, dustai orang
orang lain. Makanya jangan mengesankan
antum seakan-akan hafal Quran kalau
antum tidak hafal Quran.
Orang tanya, "Kamu sudah hafal berapa
juz?" Mau bilang cuma juz 30. Malu.
Bilang, "Adalah saya hafal." Ada berapa?
"Adalah." "Saya enggak mau riak."
Padahal bilang aja cuma juz 30. Tapi
kalau antum jawab, "Ada saya tidak mau
riak." Seakan-akan uh jangan-jangan 20
juz. sehingga terkesan antum lebih hebat
daripada yang
seharusnya yang yang kenyataannya. Maka
jangan mengesankan bahwasanya antum
hebat. Gak perlu kita enggak perlu
dipuji. Kita sesuatu yang kita punyai
saja kita jangan minta dipuji. Apalagi
suatu yang tidak kita miliki.
Mengesankan bahwasanya saya bisa ini,
bisa ini, bisa ini, bisa ini. Ada orang
mengesankan demikian dia hafal. Saya
tanya sama dia, "Emang kau hafal begitu
semuanya?" Diam dia. Enggak bisa jawab.
"Emang kau mau menghafal dengan cara
demikian seluruhnya? Enggak bisa jawab.
Kalau dia bilang bisa, saya mau tes.
Tapi mengesankan pada orang bahwasanya
dia menghafal seperti itu seluruhnya
dari awal sampai akhir ini kedustaan.
Enggak boleh. Jangan mengesankan kita
ingin dipuji dengan apa yang tidak kita
miliki. Apa yang kita miliki pun jangan
kita minta pujian.
Maka
orang alim ini berkata supaya tidak
dipuji. Karena mereka para salaf dahulu
kalau tidak tidur malam biasanya apa?
Salat malam. Kalau kita tidak tidur
malam biasanya apa? nonton bola itu
masalahnya ya. Sampai begadang sampai di
sepertiga malam yang terakhir
gol. Masyaallah masyaallah.
Maka dia berkata, "Saya tidak salat tapi
saya sedang disengat binatang berbisa."
Kemudian ditanya oleh Said bin Zubair,
"What?" "Apa yang kau lakukan ketika
disengat binatang berbisa?" "Qala
irtaqitu." Saya minta untuk dirukyah.
Saya minta untuk dirukiah. Maka Syid
bertanya lagi, "Wama hamalaka alalik."
Apa yang buat engkau minta dirukiah?
Maka dia berkata, Husin bin Abdurrahman
haditun hadasanahu Sya'bi. Ada hadis
diriwayatkan dari Sy'bi. Seorang tabii
itu disebutkan sanadnya. Wama
haddasakum. Apa hadisnya?
Kemudian dia berkata dari Buraidah bin
Husaib, Rasul sahu alaihi wasallam
bersabda, "La rukyata illa min ainin
humatin." Tidak ada rukiah yang lebih
ampuh kecuali dari penyakit ain atau
terkena sengatan binatang berbisa. Ini
hadisnya ada, makanya saya minta untuk
dirukiah.
Maka Said bin Zubair menyanggah, tapi
dia sanggara yang baik. Dia mengatakan q
ahsana manintah ma sami. Sungguh baik
orang yang melakukan dalil yang sampai
kepadanya tetapi ada hadis yang sampai
kepadaku. Yaitu dari guruku Ibnu Abbas.
Zaid bin Zubair muridnya Ibnu Abbas.
Bahwasanya Ibnu Abbas menyampaikan
kepada kami bahwasanya Rasul sahu alaihi
wasallam pernah bersabda. Ah dia ingin
menyangga itu. Jangan kau minta rukiah.
Jangan kau minta rukiah. Karena
Rasulullah mengatakan tidak rukiah yang
terbaik seperti untuk penyakit ain atau
penyakit binatang sengatan binatang
berbisa. Tapi bukan itu berarti kau
minta rukiah sama orang lain. Silakan
rukiah diri sendiri tapi jangan minta
rukiah sama orangor lain. Makanya ketika
dia mengatakan saya minta rukyah. Ibnu
maka Said bin Zubair menyanggah dengan
hadis riwayat dari Ibnu Abbas bahwasanya
Rasul sahu alaihi wasallam bersabda,
"Uridat alal umamu." Dinampakkan bagiku
umat-umat yaitu pada hari kiamat kelak
nabi masing-masing nabi dengan umatnya.
Faritun nabirahtu. Aku melihat ada
seorang nabi pengikutnya cuma beberapa
orang. Yaitu dari 3 sampai 9. Tidak
sampai 10 orang. Ada nabi pengikutnya
cuma 7 8 9. Nabi loh bukan ustaz. Nabi.
Subhanallah. W nabi maajulu warajulani.
Ada nabi pengikutnya cuma dua. Ada
pengikut nabi pengikutnya cuma satu.
Subhanallah. Nabi ada pengikut cuma dua
orang. Ada nabi pengikut cuma berapa?
Satu. Satu orang. W nabiya waaisa mahad.
Ada nabi sendirian enggak ada
pengikutnya. Luar biasa.
Ada nabi emang nabi itu enggak bisa
dakwah? Dia bisa dakwah.
Tetapi dakwah dia tidak sesuai dengan
selera umatnya sehingga tidak seorang
pun ikut ikut dia. Ini dalil bahwasanya
bukan berarti suara terbanyak berarti
itu kebenaran. Kebenaran bisa bersama
mayoritas, kebenaran juga bersama
minoritas.
Banyak sedikit bukan ukuran apa
kebenaran. Maka jangan terpedaya dengan
jumlah yang yang banyak ya. Jumlah yang
banyak orang yang suka musik lebih
banyak daripada yang tidak suka mu
musik. Berarti musik halal
gak
s yang yang sufi sama yang enggak sufi
yang suka film dengan suka tidak suka
film banyakan mana
yang suka film berarti film halal gak?
Tidak berarti yang banyak itu berarti be
benar. Bahkan Allah mengatakan wain
aksar man ardhi yudillah.
Kalau kau ikuti kebanyakan orang, maka
kau akan tersesatkan dian Allah. Intinya
bukan juga sedikit juga yang benar. Kita
yang benar, kenapa saya sendirian?
Enggak juga, enggak juga. Kebenaran
diukul dengan dalil. Mau banyak sedikit
adalah dengan apa? Dalil.
Maka ada nabi tidak ada pengikutnya.
Makanya kalau kita renungkan misalnya
Nabi Nuh, Nabi Nuh alaihi salam
berdakwah 950 tahun. Alfanatin illa
khamsina am kata Allah, "Wama amana
maahu illa qil."
Setelah berdakwah 950 tahun, tidak ada
yang beriman kepada dia kecuali cuma
sedikit. Ada yang mengatakan 80 orang.
Bayangkan 950 tahun cuma berapa
pengikutnya? 80 orang. Kalau kita bagi
rata berarti 11 tahun satu orang. Jadi
dakwah 11 tahun baru satu orang ikut
ngaji. 11 tahun lagi ikut orang ngaji.
Sampai 950 tahun cuma 80 orang. Sabarnya
Nabi Nuh luar luar biasa. Tayb.
Tiba-tiba aliwadunim tiba-tiba
diperlihatkan kumpulan besar
umati. Saya pikir itu umatku karena Nabi
tahu pengikutnya banyak.
Musa maka dikatakan itu Musa dan
pengikutnya. Karena Nabi Musa
pengikutnya banyak. Aku lihat di tempat
yang lain, arah lain ternyata ada jumlah
yang lebih besar lagi.
Maka dikatakan, "Inilah umatmu wahai
Muhammad."
Dan di antara umatku ada 70.000 orang
masuk surga tanpa azab dan tanpa hisab.
Kemudian Rasulullah sampaikan hadis itu
Rasul wasallam masuk ke rumah
fabasu fiulik. Maka orang-orang ngobrol,
siapa sih 70.000 orang tersebut? Mereka
diskusiumina
Rasulullah. Mungkin mereka
sahabat-sahabat Nabi.
Ada yang mengatakan islamah. Mungkin
mereka sejak lahir Islam dan tidak
pernah syirik sama sekali. Wakaru asya
dan mereka menerka-nerka mungkin ini,
mungkin ini, mungkin ini. Ketika Nabi
datang mereka faakbaruhu. Mereka bilang,
"Rasulullah, kami sedang berdiskusi
siapakah 70.000 orang tersebut." Ada
yang bilang begini, ada yang bilang itu
cuma sahabat Nabi. Ada yang ini
mengatakan yang lahir Islam dan tidak
pernah syirik sama sekali. Ternyata
jawaban itu semua salah.
Kalau cuma sahabat Nabi, kita enggak
mungkin masuk 70.000 tersebut. Kalau
yang masuk sejak lahir Islam masih
banyak orang yang mualaf. Banyak atau
tidak banyak? Maka ternyata dua jawaban
tersebut salah semua. Maka kemudian
Rasul sahu alaihi wasallam menyebutkan
sifat 70.000 orang tersebut.
Humulladzina la yastarquun. Mereka
adalah orang tidak pernah minta untuk
dirukiah. Warun. Mereka tidak pernah
mengkait-kaitkan nasib sial dengan angka
tertentu, dengan hari tertentu, dengan
hewan tertentu. Namanya tatayur. Wala
yaktawun. Dan mereka tidak pernah
berobat dengan besi yang dipanaskan
dengan kai. Waihim yatawakalun. Dan
mereka bertawakal kepada Rabb mereka.
Setelah itu ada seorang sahabat bernama
Uqkasyah bin Mihsan. Dia mengatakan, "Ya
Rasulullah, udullah anajalani minhum."
Ya Rasulullah, doakan saya termasuk
mereka. Kata Rasulullah, "Anta minhum."
Engkau termasuk mereka. Faq rajulun ak.
Ada lagi yang berdiri. "Ya Rasulullah,
saya juga." Kata Rasulullah, "Sabaq
kabha ukasya." "Kau sudah kedahuluan
Ukasah." Tawaran sudah habis sudah
keluar siapa? Ukasah.
Khilaf para ulama siapa orang yang
terakhirnya? Ada yang bilang munafik.
Yang benar bukan. Bahkan dalam sead bin
Ubadah dan dia adalah jelas adalah
sahabat yang mulia. Ketika Rasulullah
mengatakan sabaq kabha ukasyah kau sudah
keluar ukasyah itu Rasulullah menutup
pintu. Ya sudah khawatir nanti ada yang
bilang saya juga saya juga. Ternyata dia
tidak pantas dalam 70 tersebut kalau na
bilang kau oh kalau kau enggak kira-kira
dia mutung atau tidak dia mutung. Oleh
karena Rasulullah menutup pintu agar
tidak orang nanya-nanya. Kata Rasulullah
kau sudah kedulan Ukasyah. Dan benar
Ukasyah akhirnya mati syahid. mati
syahid ketika melawan nabi palsu. Tib.
Di sini Rasulullah sebutkan
beberapa sifat yang merupakan ciri
penghuni surga tanpa hisab. Yang pertama
la yastarquun. Mereka tidak pernah minta
untuk dirukiah. Kenapa? Karena sebagian
ulama menjelaskan meminta rukiah di situ
ada ketundukan dan bahkan ada
kecondongan hati. Apalagi yang merukiah
misalnya ustaz yang hebat sehingga dia
kadang-kadang ada hatinya tidak murni
kepada Allah. Tawakalnya berkurang.
Karena dia mulai tawakal, ada sedikit
tawakal kecondongan kepada ustaz
tersebut. Apala
Resume Requeue
Read
file updated 2026-02-12 01:18:58 UTC
Categories
Manage