Kitab Al-Kabair #31: Mengaku-ngaku Apa Yang Dia Tidak Miliki - Ust Dr. Firanda Andirja, M.A
8xgrUIMi550 • 2025-07-27
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufiki ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim lnih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh daila ridwan allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwan. Hadirin hadirat yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Ee kita lanjutkan pembahasan kita dari kitab alkabair bab yang baru. Babun maniddaa maaisa lahu waman idza khaom fajar. Bab tentang orang yang mengaku-ngaku apa yang bukan miliknya atau apa yang dia tidak miliki. Bahwasanya itu dia punya atau dia miliki. Waman idza khasama fajar. Dan bab tentang orang kalau bersengketa maka dia curang, licik. Man idza khasama fajar. Kemudian ee al Imam Muhammad bin Abdul Wahab mawakan hadis-hadis di antaranya fihi hadisu Ibni Umar radhiallahu anhuma fahihain. Terkait dengan bab ini ada sebuah hadis dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dalam asahihain. Waruya an ibni Mas'udin wa Umar radhiallahu anhuma. Dan diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud dan Umar radhiallahu anhuma bahwasanya mereka berkata, "Man qala ana mukmin fahua kafir." Siapa yang berkata, "Saya mukmin, maka dia kafir." Waman qala hua fil jannah fahua finar. Siapa yang bilang dia di surga, maka dia di neraka. Wamanq hua alimun fahua jahil. Siapa yang bilang dia orang alim, maka dia sesungguhnya jahil. Hadis pertama yang di ee bawakan yaitu siapa yang berkata saya mukmin maka dia kafir. Yaitu dia berkata karena memuji dirinya, PD saya mukmin, maka sesungguhnya dia kafir. Siapa yang PD bilang saya di surga, maka dia sesungguhnya di neraka. Siapa yang mengaku-ngaku dia alim, ya maka sesungguhnya dia jahil. Qalah. Hadis berikutnya an Abi Dzar radhiallahu anhuma marfuan. Dan juga dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim dari Abu Dzar secara marfu dari Nabi Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Laisa min rajulin idda ila giri abihi wahua yalamuhu illa kafar." Tidak seorang pun yang mengaku-ngaku dia adalah keturunan seorang padahal itu bukan bapaknya. Padahal dia tahu itu bukan bapaknya, maka kecuali dia telah kafir. Wamanidda maaisa lahu falaisa minna. Siapa yang ngaku-ngaku sesuatu yang bukan miliknya atau dia tidak punya hal tersebut yang aku ngaku punya. min maka bukan dari golonganku maka siapkanlah kaplingnya tempat duduknya di neraka musliman bilfriqallah wisalik illa harun alaihi atau harun alaihi barang siapa yang menuduh seorang muslim menuduhnya kafir atau berkata wahai musuh Allah dan ternyata tidak demikian kecuali akan kembali kepadanya ini ada dua hadis Ee di sini yang pertama diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud dan juga dari Umar, mereka berkata, "Siapa yang mengatakan saya mukmin maka dia kafir atau saya saya di surga maka dia di neraka. Saya orang alim." Ini semua perkataan-perkataan dibawakan kepada jika dia mengaku-ngaku dirinya, mentazkiah dirinya, ya dan dia ingin mencari pujian manusia ya, tanpa usaha untuk beramal saleh, tanpa untuk berusaha untuk ikhlas. Dan kita tahu bahwasanya berkata, "Saya seorang mukmin dalam rangka untuk memuji diri," ya. Maka ini adalah ee rekomendasi terhadap diri sendiri. Ya, kalau maksud kita kita beriman, maksudnya kita bukan orang kafir, maka itu enggak ada masalah. Tapi maksudnya saya mukmin, saya bukan sekedar muslim, saya mukmin itu namanya tazkiah. Jadi, perkataan saya mukmin ada maksudnya. Kalau maksudnya saya bukan orang kafir, maka sering kita bilang kita orang mukmin. Maksudnya kita bukan orang kafir. Maka itu tidak jadi masalah karena memang membedakan kita dengan dengan mereka. kita orang beriman, mereka orang kafir. Tapi kalau maksudnya saya mukmin, maksudnya adalah saya ini benar-benar beriman, bukan sekedar Islam, benar-benar iman saya kuat di hati, ya. Maka ini adalah rekomendasi terhadap diri yang luar biasa. Makanya dikatakan kepada seorang Arab Badui, amukminun anta, kau orang beriman. Maka dia berkata, "Uzaki nafsi. Apakah saya mau mensucikan diriku, merekomendasikan diriku?" Ya, kita tidak tahu bagaimana hakikat kualitas iman kita. Makanya ketika dalam Al-Qur'an Allah berfirman qtilu amannaam tminu wakin qulu aslamna. Berkata orang Arab Badui, kami telah beriman. Katakanlah kalian belum beriman. Kalian baru aslamna. Kalian baru mengucapkan kami Islam. Jadi kita tahu tingkatan dalam agama Islam kemudian iman, kemudian ih ihsan. Jadi kalau Masud berkata saya, saya orang iman, maksudnya saya derajatnya tinggi. Maka ini kata Ibnu Mas'ud dan Umar, dia kafir. Orang seperti ini kafir. Maksudnya kufur, asghar yaitu ini perbuatan buruk, mentazkiah diri sendiri. Ya, bagaimana lagi kalau mengaku saya wali, saya wali. Ini wali lebih tinggi lagi daripada sekedar beriman ya. Mengatakan, "Saya wali. Ya, tentu ini ee ngaku-ngaku seperti berbahaya. Apalagi di balik pengakuan tersebut ternyata ada kepentingan dunia untuk menipu orang-orang bodoh sehingga orang-orang pada kagum kepadanya, memberikan hadiah kepadanya. Dia bilang, "Saya wali ya wali murid kali mungkin wali." Jadi ngaku-ngaku seperti ini berbahaya. Seorang ya kata Allah, "Fala tuzak anfusakum." Jangan kalian merekomendasikan diri kalian. Waam bimanitqa. Allah lebih tahu mana yang lebih bertakwa. Allah lebih tahu mana yang bertakwa. Lihatlah bagaimana para salaf mereka tidak ee merekomendasikan diri mereka sendiri. Lihatlah contoh Umar bin Khattab radhiallahu anhu yang sudah dipuji habis oleh Nabi. Luar biasa dengan pujian setinggi langit. Nabi mengatakan, "Umar umar fil jannah." Umar di surga. Rasul mengatakan innallaha w al lisani Umar yu bihi. Allah meletakkan kebenaran di lisannya Umar dan eh menjadikan Umar berbicara dengan kebenaran tersebut. Rasul Rasulullah juga berkata, "Lau kanal anbiya ba'di lakana Umar." Kalau ada nabi setelahku, tentu nabi tersebut adalah Umar. Rasul wasam juga berkata maqan salikan fajan illa salaka fajan fajjik. Tidak ada setan melihat kau jalan satu jalan kecuali setan cari jalan yang yang lain. Luar biasa. Kalau sebagian kita jalan bukan setan jauh. Setan malah mendekat dari depan, dari belakang, kanan, kiri. Ya, kalau Umar jalan, setan kabur. Ya. Dan Umar berapa kali punya ide dalam Al-Qur'an? Ada yang mengatakan delapan kali dia punya ide. Turun ayat menyepakati ide Umar radhiallahu taala anhu. Rasulullah pernah bilang, "Saya masuk ke surga, saya lihat ada istana ya. Tiba-tiba ada seorang wanita di luar kemudian masuk. Ya, kemudian saya bertanya, "Ini istana milik siapa?" "Ini milik Umar." "Saya mau masuk, saya enggak jadi karena saya ingat kau pencemburu wahai Umar." Kata Rasulullah, kata Umar, "Masuk aja ya Rasulullah." Fala alaika agar. Emang saya cemburu sama engkau ya Rasulullah? Masuk saja kata Umar. Jadi Rasulullah bilang Umar sudah punya surga di istana di surga. Makudnya begitu banyak pujian kepada Umar. Tetapi ketika ada seorang dan dia ditikam ketika jadi imam. Bayangkan jadi imam salat subuh ditikam dengan tiga tikaman. Kemudian setelah dia mau meninggal ada yang datang memuji-mujinya. Engkau begini, engkau begini, engkau begini, engkau begini. Kata dia, "Kfafan la li wala alaiya. Saya hanya berharap impas pujian-pujianmu itu saya berharap adalah impas bagiku, tidak mendungku, mendukungku dan juga tidak menjatuhkan aku. Itu dia tidak merasa bangga. Dia tidak merasa bangga dengan itu semua. Ini ciri-ciri para sahabat sehingga kita dapati mereka meskipun direkomendasi oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dengan banyak rekomendasi, mereka sangat takut dengan Allah dan mereka tidak merasa merasa hebat ya. Tidak merasa hebat. Bahkan ketika Rasulullah menyebutkan nama-nama orang-orang munafik kepada Hudzaifah ibnul Yaman, maka Rasulullah meninggal dunia. Hanya ada nama-nama khusus yang Rasulullah kasih tahu kepada Hudzaifah. Maka kalau ada orang meninggal setelah wafatnya Nabi, Umar lihat Hudzaifah. Kalau Hudzaifah salatkan berarti bukan orang munafik. Kalau Hudzaifah, Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu anhu tidak mau salatkan, berarti ini orang apa? Munafik. Sampai Umar lihat kemudian Umar bertanya kepada Hudzaifah, "Hal sammani?" Ya, wahai Hudzaifah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ya apakah Rasulullah pernah menyebutkan aku di antara deretan nama-nama orang munafik? Kata Hudzaifah, "Tentu tidak." Ya, artinya tidak merasa PD, ya. Tidak merasa PD, ya. Oleh karenanya orang beriman ya ee memiliki sifat khasyiah, takut kepada Allah Subhanahu wa taala. sehingga mereka jauh dari merekomendasikan diri mereka sendiri. Jadi kalau ada orang suka muji diri sendiri, saya wali, saya mukmin, saya di surga, nanti saya ngajak kamu juga masuk surga. Bukan saya aja, kamu juga saya ajak. Subhanallah. Kata Umar, "Yang bilang dia di surga berarti di mana?" Di neraka. Karena terlalu pede. Umar aja tidak ngaku-ngaku saya di surga. Padahal sudah dibilang surga oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya. Dan siapa ngaku saya orang alim? Saya orang alim. menunjukkan saya orang alim. Maka kata Umar dan Ibnu Mas'ud ini orang ja jahil. Ee makanya Alhan Albasri berkata, "Innal mukmin jamaa baina ihsanin wa makhafah." Orang mukmin itu mengumpulkan antara berbuat amal saleh dan takut dan khawatir. Wal munafik jamain isah wa amnin. Adapun munafik mengumpulkan antara berbuat buruk dan merasa aman. Dan merasa aman ya. Bagaimana dengan orang-orang sekarang nganggaku kita pasti masuk surga? Dan ini adalah akidahnya orang Yahudi yang ngaku-ngaku pasti masuk apa? surga. Waq laadulal jannadal jann man hudan nasar. Dan mereka berkata tidak akan mau surga kecuali Yahudi dan apa? Nasara. Tilka amanum. Itu hanyalah angan-angan kalian. Waqtil yahudu nahnu abnaah. Berkata Yahudi, Nasrani, "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih Allah." Itu mereka meng kami wali-wali Allah Subhanahu wa taala. Waqalu lan tamasananaru illa ayyam ma'dudah. Mereka berkata, "Kalau kami masuk neraka cuma beberapa hari, aman. Kalau masuk neraka cuma beberapa hari, itu mereka pde masuk surga. Orang beriman tidak demikian. Maka kalau ada orang merasa dia pasti mau surga, bisa jamin orang juga mau surga. Ini orang terlalu PD ya, terlalu PD, tidak tahu hakikat dirinya. Dan mereka telah otak orang seperti ini telah meniru-niru orang-orang Yahudi seperti mengatakan, "Kami keturunan begini, nasab kami begini, pasti masuk surga." Ini dari mana? Sebar kata Umar, "Orang yang bilang begini di nera, di neraka." "Kami keturunan spesial pasti masuk apa?" Sur surga. Kami adalah seperti ibarat emas dari turunan emas meskipun diletakkan di comberan tetap emas. Maksudnya kami melakukan maksiat mau apa tetap aja kami keturunan mu mulia. Jadi mereka buat logika-logika seperti ini sehingga melegalkan mereka, memudahkan mereka untuk bermaksiatkan mereka. Emas dilempar comberan berubah atau tidak? Tidak. Itu emas. Kalau mukamu dirubah lempar comberan berubah. Kalau emas enggak, tapi kalau kamu berubah. Mau keturunan siapapun kalau tukang maksiat berubah. Bab. Kemudian dalam hadis, laisa min rajulin daa ila giri abihi wahua ya'lam illa kafar. Ya, tidak ada seorang pun yang mengaku dia adalah keturunan selain bapaknya. Dia dia tahu itu bukan bapaknya. Saya keturunan dia, saya keturunan dia. Saya dari bani ini. Padahal bukan. Padahal dia tahu itu bukan bapaknya, itu bukan sukunya. Maka dia telah kufur. Itu kufur asghar. Kemudian kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, widama laisa lahu falaisa minna. Siapa yang mengaku sesuatu yang bukan miliknya maka bukan dari golongan kami. Walatabawa maka minar. Maka siapkan kaplingnya di neraka. Ini di antara dosa adalah ngaku-ngaku yang bukan miliknya. Di antaranya ngaku-ngaku dia berasal dari suatu suku, ternyata bukan dia bukan dari suku tersebut. Atau ngaku-ngaku dia punya suatu keahlian ternyata tidak demikian. Makanya di antara sifat orang Yahudi juga yang Allah sebutkan dalam surat Al Imran, wuhibbuna ayuhmadu bima lam yaf'alu. Mereka suka dipuji dengan apa yang tidak mereka kerjakan. Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Almutasyabbi bimaam y kalabisur." Seorang yang bergaya dengan apa yang tidak dimiliki olehnya, tidak diberikan kepadanya, maka seperti makai baju dua kedustaan. Maksudnya apa? Dia mengesankan dirinya alim padahal tidak alim. Dia mengesankan dirinya hafiz padahal tidak hafiz misalnya bukan hafiz Quran misalnya ya. Dia mengesankan dia telah membaca sekian kitab padahal cuma baca judulnya doang. Namanya mengesankan. Sehingga dia bergaya di hadapan orang dengan suatu yang tidak dia miliki. Maka ini dia seperti memakai dua baju kedustaan. Dia mendustai dirinya dan mendustakan orang lain. Menipu orang lain, menipu. Dia tahu dia tidak begitu dan dia menipu orang orang lain. Dan orang seperti ini terkadang dia ingin pamer sehingga dia menggabungkan dua dosa. Pertama dosa dusta, kedua dosa riak. Dia meriakkan sesuatu yang tidak dia miliki. Tidak yang tidak dia lakukan. Saya yang telah begini, saya yang telah padahal tidak lakukan. Dia bohong. Maka dosanya lebih parah dari sekedar riak. RI plus bohong. Maka seorang jangan sampai menggambarkan kepada orang lain bahwasanya dia suatu yang wau, dia hebat padahal dia tidak demikian. Gak perlu seperti itu. Gak perlu seperti itu. Seakan-akan misalnya dia menggambarkan dirinya menghafal suatu buku, seluruh isinya dia hafal, halaman-halamannya dia hafal, pojok kanan pojok kiri dia hafal, padahal cuma seberapa halaman yang dia bisa begitu. Tidak, tidak semuanya dia bisa begitu. Tapi mengesankan orang kalau lihat seakan-akan dia semuanya dia bisa seperti itu. Makanya saya pernah hadir kajian Syekh Abdul Muhsin Alabbad dan muhaddis Ahlul Madinah. Suatu saat dia pernah menyampaikan suatu perkataan dalam sebuah kitab. Dia mengatakan berkata disebutkan dalam kitab ini begini begini begini jilid sekian halaman sekian. Setelah dia ngomong, dia bilang, "Saya mohon maaf, saya baru sebut, saya sebut jilid dan halaman karena saya baru baca tadi." Jadi bukan dia tidak mengesankan jangan sampai orang kira bahwasanya dia menghafal isi buku dengan jilid-jilidnya dengan halaman-halamannya. Itu tidak, itu kurang kerjaan kalau saya. Ngapain kita ngfalin apa ya? Itu enggak perlu. Yang perlu kita kontennya ngerti. Tapi kalau saya buku ini saya hafal ini jid sekian halaman sekian itu tidak tidak penting ya. Artinya sesuatu yang tidak tidak begitu faedah. Makanya supaya tidak disangka dia seperti itu, maka dia jelaskan saya sebutkan ini karena saya baru baca baru aja. Kalau baru baca kan masih ingat bukan berarti saya hafal. Maka seorang jangan mengesan pada orang lain bahwasanya dia lebih daripada yang hakikatnya dia sendiri. Akhirnya dia capek sendiri. Kalau dia sudah mengesan orang bahwasanya dia wow, dia harus menjaga itu. Padahal dia selalu dalam kondisi drama, main drama. Padahal dia tidak begitu. Ini hanya meletihkan dirinya sendiri dan dia tetap berusaha untuk dipuji, disanjung dengan suatu yang dia tidak miliki. Ini penyakit seperti ini. Menghesankan hebat. Kemudian Rasul alaihi wasallam bersabda, "Man rama musliman bil kufr." Siapa yang menuduh orang lain dengan kufuran atau berkata, "Wahai musuh Allah, padahal tidak demikian maka akan kembali kepadanya." Ya, jadi hati-hati jangan tuduh orang, "Wahai musuh Allah, padahal tidak maka akan kembali kepadanya. Wahai si fulan kafir, wahai si kafir, padahal tidak, maka akan kembali kepadanya." Ini bahaya nuduh orang dengan turun yang tidak-tidak. Jadi, ikhwan hati-hati tidak usah mengesankan pada orang kita lebih daripada hakikat kita. Misalnya ada yang tanya sama antum, antum hafal Quran? Enggak. Bilang aja enggak. Memang enggak hafal. Jangan bilang, ada 5 juz. Saya enggak mau riak. Padahal cuma juz 30. Jadi orang dengar kalau antum bilang adalah enggaklah saya enggak mau riak. Orang ke sana ini hafalnya sudah 10 juz ke atas padahal cuma juz 30. Bilang aja saya cuma hafal juz 30. Apa masalahnya? Jangan mengesankan antum lebih hebat ya. Jangan antum lebih apa? Lebih hebat. Gak usah ya kita sikit memang gitu ya. Gak usah kemudian mengasakan diri lebih hebat karena itu dosa. Dosa berikutnya babud dakwah fil ilmi iftikharan. Bab tentang ngaku-ngaku punya ilmu karena sombong untuk sombong untuk pamer. An Umar radhiallahu anhu marfuan. Dari Umar bin Khattab radhiallahu anhuma secara marfu Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Yadharul islamu hatta taktalifat tujjaru filhar." Islam akan tersebar sampai begitu tersebarnya maka ada keamanan di mana-mana. Bukan cuma keamanan di daratan, bahkan keamanan di lautan sampai para pedagang bolak-balik berdagang lewat laut. Wa hatta takud al khailu fisabilillah. ya. Sampai ee kuda-kuda pun ya ya sampai orang pada masuk Islam banyak sehingga kuda-kuda pun banyak yang ee berjalan di jalan Allah Subhanahu wa taala itu terjadi jihad di sana sini. Orang mengendarai kuda karena fisabilillah, karena untuk berjihad itu Islam berkembang. Setelah itu tumma yazharu aqwamun yaqraunal Quran. Kemudian muncul sekelompok kaum yang mereka membaca Al-Qur'an. Kemudian mereka sombong dengan berkata, "Yaquulun man aqrau minna." Siapa yang lebih jago baca Quran daripada kita? Man a'lamu minna. Siapa yang lebih berilmu daripada kita? Jadi ujub dengan qiraahnya, ujub dengan ilmunya. Man afqahu minna? Siapa yang lebih fakih? Karena dia belajar fikih misalnya dia meng siapa yang lebih fakih, lebih paham daripada kita? Qala hal fiulaika min khair. Kemudian Rasulullah berkata, "Apakah ada kebaikan pada orang seperti itu?" Rasulullah bertanya, "Qu Allah rasul alam." Para sahabat berkata Allah dan rasulnya lebih mengetahui. Qa ulaika minkum minil ummah. Mereka orang-orang ini yang baca Quran kemudian sombong mengatakan, "Siapa yang lebih pandai daripada kita? Siapa yang lebih ahli baca Quran daripada kita? Siapa yang lebih mengerti qiraat daripada kita? Ya, mereka itu dari kalian kata Nabi min hadil umah dari umat ini wa ulaika waquudunar. Dan mereka adalah bahan bakar api neraka jahanam. Kata Syekh Muhammad Abdul Wahab rahimahullahu taala rawahu Albazzar bisanadin la ba bihi. Diriwayatkan oleh Imam Albazzar dengan sanad yang tidak mengapa. Walit thabrani maahu an ibni abbasin radhiallahu anhuma. Dan juga diriwayatkan dari Thabrani dengan maknanya mirip dari Ibnu Abbas. Qal Munziri isnaduhu hasan. Almundir berkata sanadnya hasan. Itu ada riwayat yang saling menguatkan. Ee di sini bab tentang di antara dosa kata Syekh Muhammad Abdul Wahab rahimahullahu taala, yaitu ngaku-ngaku ilmu. Kami bisa begini, kami bisa kami tahu ini, kami ngerti ilmu begini dalam rangka sombong, merasa lebih tinggi daripada orang lain. Ya, sampai pamer kalau dia punya ee punya ilmu. Ya. Adapun jika seorang tahu dia mengatakan saya punya ilmu tentang ini bukan dalam rangka untuk sombong, tapi untuk beri faedah. Ada orang bingung tentang masalah, "Eh, saya pernah belajar ini masalahnya begini, pembahasannya begini dalam buku ini." Ini enggak jadi masalah karena dia ingin kasih apa? Faedah kepada orang lain. Tapi K bilang, "Oh, itu masalah. Waktu saya masih kecil saya sudah bahas. Waktu saya masih saya sudah jadi sombong, enggak boleh." Tapi kalau dia bilang, "Oh, itu masalah saya tahu masalahnya begini-begini dalam buku ini." Hukumnya seperti ini. Dalam rangka memberi faedah kepada orang lain, masyarakat membutuhkannya, maka tidak jadi masalah. Dulu para sahabat ada masalah, mereka kumpul tanya, ada yang tahu masalah ini? Sahabat sampai diskusi. Mungkin ada hadis yang ada yang didengar, sebagian tidak mendengar. Ya, seperti Yusuf Alaih Salam ketika dia ditawarkan menjadi pejabat, dia bilang, "Ini hafidun alim." Saya bisa menjaga ee perbendaraan harta Mesir dan saya punya ilmu tentang itu. Enggak ada masalah. Karena dia bukan untuk sombong, tapi untuk supaya diplotkan, diletakkan pada posisi yang tepat. Maka dia minta dijadikan sebagai Menteri Keuangan karena dia punya ilmu tentang itu dan dia pengin berbuat baik karena dia jadi Menteri Keuangan, dia akan bisa mengarahkan untuk sedekah. Dan benar setelah itu dia ketika panen dia banyak jual gandum dengan harga murah kepada penduduk sekitar Mesir. Jadi dia menunjukkan dia punya ilmu karena ada keperluan yang jadi masalah kalau sombong. Saya punya ilmi, saya punya ini, saya belajar ini. Sampai kita ini orang enggak bisa ilmu seperti ini. Wah ini sudah sudah sombong. Allah ngajarkan kau ilmu untuk kau tawadu, bukan untuk semakin apa? Som sombong. Ya, belajar jauh-jauh dari luar negeri. Mentang-mentang pulang banyak yang bahlul. Kemudian ya sombong. Ma bahlul. Bahlul semua. Kalau semua bahlul kok imamnya bahlul. Imamnya para bahlul. Ya. Oleh karenanya ilmu itu bukan untuk kita sombongkan, tapi untuk kita zakatkan, kita dakwahkan. Pertama kita amalkan. Ya, ilmu ada zakatnya. Zakatnya di antaranya diamalkan dan zakatnya adalah ditaklimkan, diajarkan. bukan untuk disombongkan dan diangkuhkan ya. Makanya di sini kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, Islam tersebar sampai para pedagang berdagang di lautan karena aman. Sampai kuda-kuda bertebaran karena jihad fisabilillah. Maka setelah itu muncul orang-orang yang baca Al-Qur'an itu ahli baca Quran ya. Mutkin kalau hafalan dan baca Quran. Ya, sampai begitu bangganya dia mengatakan, "Siapa yang lebih ahli baca Quran daripada kita? Siapa yang lebih berilmu daripada kita? Siapa yang lebih fakih daripada kita?" Sombong. Ya, dalam Sahih Muslim ya ee Rasulullah mengatakan itu orang yang ri tiga orang yang di diazab di neraka jahanam. Di antaranya seorang alamal Quran ya liuqal annahu qori. Ya qal alquran liuqal annahu qari. Seorang yang baca Quran supaya dikatakan dia adalah qari ahli baca Quran. Ya man taalamal Quran wa alamahu. Padahal seharusnya siapa yang belajar Quran dan mengajarkannya adalah orang yang terbaik. Tapi ketika niatnya salah, sombong untuk dikatakan ahli baca Quran, maka dia justru yang masuk neraka di luar. Ya. Bahkan Rasulullah mengatakan, "Hal fi ulaika min khair?" Orang seperti itu ada kebaikannya. Kata para sahabat, Allah dan rasulnya lebih mengetahui. Kata Nabi, "Tidak ada kebaikannya. Mereka itu dari kalian, dari umat ini. Waulaik waqudum waquunar." Mereka itu adalah bahan bakar api neraka jahanam. Karena penghuni neraka jahanam itu kalau penghuni neraka dimasukkan di neraka maka dia dibakar oleh api. Ketika dibakar oleh api neraka dia juga membakar sehingga dia terbakar sekaligus membakar seperti kayu. Kayu kalau kita kasih api terbakar enggak? Terbakar. Dia juga membakar enggak? Juga membakar juga. Dia terbakar dan dia juga membakar. Makanya Allah mengatakan waquduhanas wal hijarah. Neraka itu bahan bakarnya adalah api adalah ee nas manusia dan batu. manusia dan batu ya. Maka siapa yang masuk neraka, dia terbakar dan dia juga me membakar. Kata Nabi mengerikan ini orang-orang ahli baca Quran ini ternyata subhanallah ternyata bahan bakar api neraka jahanam. Maka jangan sampai salah niat ketika seorang baca Quran, belajar tajwid, ya, belajar hukum-hukum supaya dipanggil qari, supaya ee sombong dan angkuh. Ya, itu ilmu tajwid adalah ilmu untuk memahami Al-Qur'an. Kalau sudah paham untuk diamalkan. Makanya berkata eh Fudhail bin Iyad, innama unzilal Quran liyumala bihasuqat amala. Sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan untuk diamalkan. Sementara orang-orang menjadikan amal Quran itu dengan membacanya saja. Ini salah. Membaca Al-Qur'an dengan tajwid itu amal yang bagus. Tapi bukan itu yang dituntut dari Al-Qur'an. P Al-Qur'an itu adalah kau memahaminya untuk kau amalkan, bukan sekedar membaca. Nah, banyak orang membatasinya hanya pada sekedar membaca sehingga lalai dari memahami tafsirnya apalagi mengamalkannya. Ya, Hasan Albashri pernah mencela orang di zamannya. Hasan Al Basri zaman tabiin. Sebagian ahli baca Quran di zamannya berkata. Ya, ada yang berkata, "Yakulu ahaduhum" kata Hasan Al Basri. Ada yang berkata di antara ahli Quran, "Qorul qurana kullahu falam usqit minhu harfan." Saya sudah baca Quran dari awal sampai akhir. Tidak ada satu huruf pun yang saya salah baca. Itu semuanya sesuai dengan tajwidnya. Dengan tajwidnya, dengan makhrajnya, dengan hukum-hukum apa namanya? Tajwidnya lengkap. Jadi tidak ada tidak ada khata, tidak ada kesalahan ya. Hafalannya dari hafalannya tidak ada satu huruf yang salah. Bayangkan. Jadi ada orang bangga, "Saya sudah baca Quran dari awal sampai akhir tidak ada satu huruf pun yang salah. Makhrajnya benar, tajwidnya benar, tidak dilupakan." Maka Hasan Al Bashri kemudian mengomentari berkata, "Waqad asqatahu wallahu wallahi kullahu." Sungguh dia telah menjatuhkan Al-Qur'an seluruhnya. La yur alaihil Quran la fi khuluqin wala fi amal. Tidak nampak padanya Quran. Tidak pada akhlak, tidak pada amal. Cuma ngfal doang. Salat malas, sombong, angkuh. depan orang merendahkan tidak ada akhlak Quran sama dia sama sekali. Sesungguhnya dia telah menjatuhkan Al-Qur'an seluruhnya. Sesungguhnya dia telah salah Al-Qur'an dari A sampai Z semuanya salah. Dari alif sampai ya semuanya salah. Karena S Basri e Sirin menjelaskan bukan itu tujuan Al-Qur'an sekedar baca saja itu sarana. Tujuan Al-Qur'an untuk kau memahami dan menga mengamalkan. Makanya ada apakah ada orang yang ahli tajwid kemudian angkuh? Ada ya sombong. Jadi mentang-mentang tinggi, mentang-mentang ini jago qiraat, kemudian sombong, angkuh, merendahkan orang lain. Ya, tidak ada nampak amalnya. Bahkan sebagian orang hafal Quran tapi maksiat. Maksiat luar biasa. Hafal Quran tapi maksiat. Ya, sudah ada di zaman Hasan Albashri dia mengatakan orang ini hafiz Quran satu huruf pun tidak salah tapi tidak ada Quran sama sekali. pada dirinya tidak ada pada amalnya tidak ada pada akhlak akhlaknya maka seorang berusaha ya ee kalau belajar Quran berusaha berniat untuk mengamalkannya. Kita lanjutkan babun zikru juhudin nikmah. Babkari kebaikan orang mengingkari kebaikan orang. Jadi ikhwan kalau belajar sudah punya ilmu bukan untuk bodoh-bodohin orang ya. Jangan bilang saya ini orang alim sebagian orang gitu. Saya ini kan alim, saya kan alim. Subhanallah ya. Saya jadi sombong, angkuh, merendahkan orang. Ini percuma ini masuk neraka di luar orang seperti begini. Tib. Bab berikutnya bab tentang penyebutan pengingkaran terhadap kebaikan orang. Kebaikan ee kenikmatan maksudnya kebaikan. Kemudian al Imam Muhammad Abah membawakan hadis fahih an ibni Abbasin radhiallahu anhuma marfuan dalam sahih. Itu sahih Bukhari dan juga sahih muslim dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma secara marfu yaitu dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Dakaltunar faroitu aksar ahliha ahliha anisa yakfurna. Aku masuk ke neraka dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita. Mereka kufur. Qila yakfurna billah." Apakah mereka kufur kepada Allah? Qala la. Kata Nabi bukan. Mereka masuk neraka bukan karena kufur kepada Allah, tetapi yakfurnal asyir. Tapi mereka kufur kepada suami itu tidak menghargai kebaikan suami. Lupa dengan kebaikan suami, mengingkari kebaikan suami. Wakfurnal ihsan. Dan mereka mengingkari kebaikan. Lau ahsanta ihdahunro tumma roat minkaan qat maitu minka khairan. Seandainya engkau melakukan kebaikan kepada salah seorang dari para wanita, kepada istrimu seumur hidupmu, kemudian dia melihat engkau melakukan suatu keburukan di matanya, maka dia mengatakan, "Ma roitu minka khairan qat." Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali. Namanya ingkar. Saya tidak pernah melihat engkau baik sama sekali. Berarti selama ini kebaikan di diingkari, dilupakan. Salah satu dosa besar dan ini terkait dengan para wanita dan ini dosa besar yang sangat berbahaya. Karena penyebab banyaknya wanita masuk neraka. Makanya sering kalau kajian saya sering ingat-ingatkan para wanita. Karena Nabi yang bilang banyak wanita masuk neraka gara-gara ini. Lupa dengan kebaikan apa? Suami. Mengingkari kebaikan suami. Seperti dalam hadis Rasulull sahu alaihi wasallam ketika berkhotbah Rasul sahu alaihi wasallam mengkhususkan maju ke barisan ibu-ibu. Kemudian Rasul sahu alaihi wasallam berkata, "Ya masyarisa tasadaqna wahai para wanita bersedekah kalian. Fainna kunna aksar jahannam." Karena kalian banyak penghuni neraka jahanam. Ada yang berkata lima. Ya Rasulullah, kenapa kami wanita banyak penghuni neraka jahanam? Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, lianna kunna takfurnal asyir. Karena kalian suka ingkar kepada kebaikan apa? Suami. Watukirna lakn. Kalian suka mengumpat watukirna syaka, kalian suka mengeluh. Ini dosa-dosa yang kata Nabi banyak menyebabkan wanita masuk neraka. Kurang nerima, lupa dengan kebaikan suami, sering melihat yang lain. Hasad sehingga tidak menghargai apa yang dimiliki di rumah. suami sudah capek-capek setengah mati tidak dihargai. Ya, ada seorang sopir sudah kerja sekitar 8 tahun 7 tahun sebagai supir. Dia mengeluh. Dia bilang, "Istri saya, saya sudah kerja sejak sopir sudah sekian tahun. Tidak pernah dia bilang terima kasih kalau saya datang bawa uang setoran. Gak pernah bilang terima kasih suamiku." Gak pernah. Gak pernah tidak pernah menghargai jerih payah hasil keringat saya. Gak pernah. Ini dia dia mengeluh sudah 8 tahunan seperti itu. Dulu mungkin dia kerja apa kemudian jatuh akhirnya jadi apa? Sopir. Dan hasilnya tidak seperti biasa. Maka selama 8 tahun kata dia tidak pernah dihargai hasil jeripayahnya. Selalu ini, selalu anu. Sampai dia bilang istri saya itu seperti neraka yang ada di rumah. saking apa sering ngomel ya. Terus dia bilang, "Sebenarnya saya mau kawin lagi, cuma enggak punya uang." Kasihan. Kasihan banget. Jadi hati-hati, Ibu-ibu. Jadi wanita yang mulia, wanita yang patuh kepada suami, yang nerima dengan kondisi suami, berterima kasih kepada suami, ya. Sebaliknya wanita yang tercela yang tidak tahu terima kasih sama suaminya. La yanzurullah ilroatin la taskuru zaujaha wahiya la tastagu. Nabi sallallahu alaihi wasallam. Allah tidak memandang kepada wanita yang tidak tahu terima kasih sama suaminya padahal selalu butuh kepada suaminya. Di sini dalam lafal dakhaltunar aku masuk ke neraka. Namun kalau dalam riwayat yang lain dalam lafal Bukhari, uritunar atau roaitunar, aku diperlihatkan neraka. Bukan aku masuk neraka bukan. Ini kelihatannya salah salah nukil ya. Karena Rasul sahu alaihi wasallam tidak pernah masuk apa? Neraka. Tapi kalau surga dalam hadisnya banyak Rasulullah surga. Surga. Kalau neraka selalu uritu atau roaitu aku diperlihatkan neraka atau aku melihat apa? Neraka. Kalau kita cek dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim lafalnya bukan aku masuk neraka tapi uritunar. Aku diperlihatkan neraka atau aku melihat neraka. Bisa jadi di buku ini ada kesalahan nukilan. Maka aku melihat kebanyakan penghuninya para wanita. Bisa jadi wallahualam ini Rasulullah diperikkan masa depan. Wallahualam. Karena neraka belum ada penghuninya sekarang. Ya Rasulullah sering diperlihatkan penghuni neraka. Yait maksudnya di masa depan. Seperti Rasulullah mengatakan ee aku melihat Amr bin Luha alkhuai' yajuru qasbahu finar. Aku melihat Amr bin Alkuzai menggeret khususnya di neraka. Liahu aaluwaib. Dia orang yang pertama kali mengkeramatkan unta-unta, kambing-kambing. Kalau ada unta melahirkan beberapa kali betina terus, maka tidak boleh dimakan, tidak boleh ditunggangi. Kambing-kambing juga demikian. Kemudian dia yang pertama kali mengimport berhala dari negeri Syam ke Jazirah ke Hijaz. Akhirnya disembah. Kata Rasulullah, "Aku melihat dia menggetet usnya di neraka." Maka tahu mereka belum di neraka. Ya, karena neraka manusia dimasuk neraka ketika hari apa? Hari kiamat. Seperti Allah berfirman tentang Firaun. Kata Allah, "Anaru alaihaduan waumatu alun asadab." Sesungguhnya Firaun dan pengikutnya sedang disiksa itu di alam barzakh pagi dan petang. Nanti hari kiamat kelakunab. Masukkanlah Firaun dan bala tentaranya kepada azab yang lebih pedih yaitu di neraka apa? Jahanam. Jadi ini mungkin Rasulullah diperlihatkan tentang masa masa depan. Tentang masa depan. Seperti Rasulullah berkata, "Wahai Bilal, aku mendengar suara sendalmu di surga." Bilalnya masih di dunia yaitu Rasulullah melihat tentang masa depan. Karena Rasulullah tanya Bilal, "Apa amalmu yang buat engkau di surga sampai aku mendengar engkau berjalan di depanku?" Bilalnya sudah masuk surga belum? Belum. Masih di dunia. Berarti Rasulullah bercerita tentang masa depan. di masa depan nanti Bilal masuk surga. Sama seperti ini di pilihat neraka ternyata banyaknya banyak para wanita. Wallahuam. Bisa jadi kenapa wanita paling banyak? Karena memang wanita yang paling banyak di dunia ini. Wanita paling apa? Banyak. Makanya di antara hari kiamat kelak akan ada 50 wanita yang ngurusi cuma satu laki-laki. Jadi jumlah wanita sangat banyak menjelang hari kiamat sampai 50 banding apa? Satu. Satu laki-laki ketika itu sangat hebat sampai dia bisa ngurus 50 wanita. Ibunya, istrinya, adiknya, kakaknya, mbahnya, mungkin tantenya, bibitnya. Sampai satu orang ngurus berapa? 50. Sehingga ketika masuk neraka, otomatis yang paling banyak juga yang masuk apa? Neraka. Jadi wanita masuk neraka. Yang kedua memang wanita ini qadarullah ya banyak sebab terjadinya kemaksiatan. Mereka banyak membangkang suami. Di antaranya mereka lupa dengan kebaikan suami. Mereka suka mengeluh. Di antaranya mereka juga bahan jadi godaan setan. Kata Rasul sahu alaih wasallam, "Innal marata auratun faid kajat istasyaran." Sesungguhnya wanita itu aurat kalau dikeluar maka diintai oleh setan. Buat apa? untuk dijadikan jerat-menjerat para lelaki. Ya. Ya. Oleh karenanya banyak wanita dijadikan jerat bagi para lelaki. Rasulullah mengatakan eh sinfani min ahlinar lam arahuma. Ada dua penghuni neraka yang sekarang saya belum lihat di zaman Nabi. Di antaranya nisaun kasiyatun ariyatun mailatun mumilatun. Wanita-wanita berpakaian tapi telanjang. berjalan berkelok-kelok, miring-miring dan menggait hati para para lelaki. Makanya kita lihat di mana-mana iklan pasti ada iklan wanita. Iklan mie wanita, iklan HP wanita, iklan sikat gigi juga apa? Wanita. Iklan mobil juga apa? Wanita. Iklan apa aja pasti apa? Wanita. Ya, sikat giginya kecil, wanitanya gede. Iklan apa aja wanita? Karena itu yang menarik perhatian. Jadi bahan untuk jual beli itu apa? Wanita. Sehingga jika mereka ternyata banyak penghuli neraka jahanam sangat mungkin selain jumlah mereka sangat banyak, mereka juga banyak melakukan apa? Sebagai sebab kemaksiatan yang menjerat para lelaki terjerumus dalam zina, pakai parfum di luar sehingga akhirnya menggoda para lelaki dan yang lainnya. Wallahuam bawab. Di antara sebab mereka banyak masuk neraka. Rasulullah mengatakan mereka yakfurna, mereka kufur. Maka ditanya, "Ya Rasulullah, mereka kufur kepada Allah?" Kata Rasulullah, "Tidak, bukan kufur akidah, bukan. Tetapi yakfurnal asyir, yaitu kufur kepada suami. Yakfurnal ihsan." Mengingkari kebaikan apa? suami. Sampai Rasulullah memberi contoh, kalau seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik seumur hidup, tiba-tiba dia melakukan dia melihat sesuatu yang dia tidak sukai, maka dia langsung komentar dengan komentar yang sangat pedis. Dia mengatakan, "Ma roitu minka khaironq." Aku tidak pernah lihat kebaikan darimu sama sekali. Ada seorang suami misalnya belikan dia, belikan dia apa namanya? Ee tiap hari belikan makanan sehari tiga kali. Pagi nasi uduk, siang nasi padang. Ya, sore apa? Pecelele peceleleh ya. Besoknya pagi nasi kuning, siang nasi tegal ya ee malam gorengan. Tiap hari kasih makan tiga kali sampai gemuk. Terus dia minta sesuatu minta lewat di mall lihat emas. Dia pengin beli Abi, beli dong. Beli papi, beli, beli, beli. Terus besok lagi papi itu modelnya bagus, papinya enggak mau beli. Terus dia bilang apa? Dasar bakhil. Subhanallah. Ini bukan pengalaman pribadi. Enggak ya. Kemudian dia bilang suaminya bakhil. Padahal selama ini suaminya selalu ka kasih. Gara-gara satu enggak dibeliin, dia bilang, "Pelit." Pelit. Bakhil. Kalau bahasa Jawa medit. Kalau bahasa Bugis sek. Kalau bahasa Jakarta apa? Koret. Hm. Koret. Subhanallah. Selama ini kebaikan dilupakan. Coba dikelupakan. Seorang wanita misalnya suaminya mungkin apa bikin dia nangis. Dia bilang, "Kamu tidak pernah sayang sama saya?" Enggak pernah sayang. Gimana? Anak sudah 10 enggak pernah sayang. Dari mana datang anak-anaknya tanpa cinta kasih? kadang kalau ribut sama kemudian dia cemburu sama suaminya yang berbuat baik kepada ibunya, kamu memang selalu mendahulukan ibumu daripada saya. Gimana mendahulukan ibu? Apa yang saya kasih? Kamu dibelikan ini dibelikan lupa. Ini namanya ini dosa-dosa seperti ini bahaya. Kamu sama sekali kamu enggak pernah ini kata-kata ini bahaya cepat bikin masuk apa? Neraka. Harusnya bilang, "Papi kok pelit biasanya enggak gitu kan." Oke, itu kan bagus biasanya enggak. Tapi jangan memang pelit seakan-akan sifatnya pelit padahal enggak. Cuma sekali itu aja mungkin yang enggak punya duit lagi malas lagi pelit. Ya mungkin lagi pelit tapi yang bilang dia seakan-akan selalu apa? Pelit. Ini makanya kau melakukan kebaikan dia setahun penuh seumur hidup terus dia melihat suatu yang dia tidak suka, langsung dia kasih kata-kata vonis. Ma roitu minka khairan. Aku tidak pernah lihat kebaikan. darimu. Padahal sehari dikasih makan tiga kali sampai gemuk. Apalagi kebaikan yang kurang. Disiapkan rumah, kerja keras suaminya banting tulang ya sampai patah tulang sampai dibanting orang dimaki-maki urusan dia. Belikan dia baju, belikan dia sendal, belikan dia sepatu. Duduk manis di rumah. Subhanallah. Terus dia bilang, dia ngomel sama suaminya, angkat suara sama suaminya, tidak menghargai kebaikan suaminya. Ibu-ibu hati-hati ini penyakit mudah masukkan apa? Neraka jahanam. Ada seorang kasih tukang parkir kasih R.000 langsung didoain. Makasih, Mana semoga cepat naik haji. Gini giniini pulang ke rumah kasih istri Rp100.000 cuma segini. Masyaallah. Kalau orang wanita pandai bersyukur, namanya bersyukur terima kasih. Terima kasih berbuat baik atau tidak? Kita kalau punya bos baik sama kita, kita hormat sama dia enggak? Hormat sama dia. Sudah kerja keras buat kita. Ini suami sudah kerja keras, tidak dihargai, ya dihormati, dimarah-marahin, direndahkan. Dan itu sebab utama wanita masuk neraka jahanam. Apalagi kemudian dia gibain suaminya. Suamiku begini, suamiku begini. Ya, padahal suaminya baik. Namanya orang kadang punya kekurangan ya. Tapi jangan kemudian lupa dengan kebaikan suami. Qala rahimahullahu taala. Kemudian Syekh Abdul Lahab rahimahullah berkata, "Wa Abi Hura radhiallahu anhu marfuan dari Abu Hurairah secara marfu Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Man la yaskurunas la yaskurullah." Ya, siapa man la yasykurinasa la yasykurillah. Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia itu tidak berterima kasih kepada manusia pada hakikatnya dia tidak berterima kasih kepada Allah. Sahu Tirmidzi waqala hasanun garib. Hadis ini disahkan oleh Tirmidzi dan berkata, hadis yang hasan. Ini di antara adab yang diajarkan dalam Islam. Kita bukan cuma disuruh bersyukur kepada Allah, tetapi juga berterima kasih kepada sebab. Karena kebaikan tersebut meskipun dari Allah melalui sebab, maka di antara bentuk kita terima kasih kepada sebab. Allah berkata tentang orang tua, ankurli waliwalidaika ilaial masir. Berterima kasihlah kepadaku dan terima kasih kepada kedua orang tuamu. Benar engkau aku yang ciptakan. Allah yang ciptakan. Tapi Allah ciptakan kita melalui kedua orang tua. Benar. Yang kasih rezeki kepada kita bukan orang tua. Allah yang kasih rezeki. Tapi Allah kasih rezeki lewat kedua orang tua. Maka di antara yang diajarkan dalam syariat Islam kita mensyukuri sebab juga ya sebagai bentuk rasa terima kasih. Meskipun yang utama yang yang tentunya dengan bersyukur kepada Allah. Yang dilarang itu kita terima kasih kepada sebab lupa kepada Allah. Itu yang salah. Seperti Rasulullah mengatakan atau di antara syirik, Ibnu Abbas mengatakan laula misalnya laula kalb, kalau bukan karena anjing itu mungkin pencuri sudah masuk seperti itu. Atau mengatakan kalau bukan ada nahqoda yang pintar mungkin kita sudah tenggelam. Kalau bukan pilotnya canggih mungkin kita sudah mati. Ini semua salah ya. Harusnya kita bilang kalau bukan karena Allah kemudian karena apa? Nahqoda. Kemudian karena polisik. Kemudian karena anjing tadi sehingga ee pencuri tidak bisa masuk. Kalau bukan karena Allah kemudian karena sebab dokter mungkin kita sudah mati ya. Jadi yang tidak boleh kita ingat sebab lupa kepada Allah subhanahu wa taala. Lupa ya. Yang benar kita bersyukur kepada Allah dan juga bersyukur kepada sebab. Itu yang diajarkan. Makanya Nabi memperingatkan kalau ada orang tidak berterima kasih kepada sebab yang kebaikan Allah lewat orang itu lewat sebab tadi, maka dia sebenarnya tidak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala. Tib. Kemudian hadis berikutnya waan Jabir radhiallahu anhu marfuan. Dari Jabir radhiallahu anhu secara marfu. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Man utiya atan fawajad falyajzi bihi. Wam yajid falyutusni bihi fanaa syukrun fainna faqad syakarahu waman faqad kafarahu. Dari Jabir radhiallahu anhu secara marfu rasul sahu al wasallam bersabda, "Siapa yang diberikan sebuah pemberian dari orang lain kemudian dia mendapati ee yang bisa membalas setimpal falyajzi bihi maka dia balas setimpal." Seperti sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam. Manikumfanakfiu. Siapa yang berbuat baik kepadamu maka balas setimpal. Dan ini di antara sunah. Kalau orang kasih kita buku, kita buku. Orang kasih kita makanan, kita kasih dia makanan. Kita berusaha balas setimbal selama kita mampu. Supaya apa? Supaya kita tidak semakin kecil hutang budi sama orang. Kalau kita mampu, maka kita balas setimpal. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Fakfiuhu." Balaslah dengan se setimpal. Ya, kalau tidak dapatjid falyusni, kalau tidak dapat bisa balas setimpal maka sebut dengan kebaikan orang itu telah berbuat baik sama saya. Faana syukrun. Sesungguhnya pujian adalah syukur. Di antaranya falyaduahu mendoakannya. Kita mendoakan ini berarti kita bersyukur ya. Fadu lahu hatta taraun annakum qod kaf'tumuhu. Kata Nabi, "Kalau kalian tidak bisa balas, kalian doain sampai kalian merasa doa itu cukup sebagai balasan baginya." Karena tidak semua orang berbuat baik kepada kita ingin dibalas secara materi, secara setimpal. Misalnya ada pangeran kasih rakyatnya sesuatu, dia tidak pengin dibalas dengan materi yang sama. Enggak. Tapi dia ingin dido didoakan karena dia ngapain dia sudah kaya raya. Ada orang kaya kasih kita suatu pemberian, dia tidak pengin dibalas. Karena di bagi dia materi bukan sesuatu ya. Ya berarti kita tinggal men mendoakan. Ada yang kasih, kita perlu kasih kembali seperti tetangga yang levelnya sama dengan kita. Maka seperti ini kita balas materi yang sama sebisa mungkin. Sebisa mungkin ya. Dan itu di antara satu contoh yang saya lihat dari Syekh Abdur Razzaq hafidahullahu taala. Kalau ada yang kasih sesuatu, selama dia bisa kasih balas, dia akan balas. Sampai kemarin ketika saya buka puasa sama beliau, ada orang Aljazair bawa kurma. Kata dia, "Syekhma dari Aljazair." Dia dari Aljazair saya buat buka puasa. Maka saya ambil, saya tahan dia ini, ini juga kurma dari Madinah nih. Jadi saya langsung balas saat itu juga ya. Dan itu sunah. Sunah ya. Kalau bisa dibalas maka dibalas. Kalau enggak bisa baru didoakan. Mungkin enggak ada ketika itu enggak sempat balas maka kita doakan. Kita doakan fain asna. Kalau dia sebut-sebut kebaikan orang yang telah berbaik kepada dia, maka dia telah mensyukurinya. Itu terima kasih. Masyaallah baik. Terima kasih, Pak. Terima kasih. Puji dia. Waman katamu faqad kafarahu. Siapa yang menyembunyikan? Oh, enggak. Dia enggak pernah bantu saya. ini ku kufur ingkar terhadap kebaikan orang lain. Di antara dosa besar ingkar kepada kebaikan orang lain. Bahkan dosa besar ini juga dimasukkan oleh Azzahabi dalam kitabnya Alkabair itu ingkar dengan kebaikan orang. Lupa dengan kebaikan orang lain. Lupa merasa dia berhasil tanpa bantuan orang orang lain. Dia lupa dengan kebaikan orang lain. Oleh karenanya dua hal pertama sisi pertama hal pertama ditinjau dari orang yang berbuat baik. Orang yang berbuat baik jangan berharap disyukuri. Orang yang berbuat baik jangan berharap dibalas kebaikannya oleh manusia. Orang yang berbuat baik jangan minta tunggu kata terima kasih. Ini adab bagi orang yang berbuat baik. Allah mengatakan wa inimajillahum. Sesungguhnya para penghuni surga ketika di dunia mereka itu memberikan makanan yang mereka sukai kepada anak yatim, kepada fakir miskin, kepada tawanan. Apa kata mereka? Innamaillah. Kami kasih makan kalian karena wajah Allah. Ikhlas. La nriidu minkum jaza w syukur. Kami tidak butuh terima kasih dan balasan. Ini adab kita kalau berbuat baik kita kelupakan aja. Sampai ada yang mengatakan ibarat beratbaik seperti kita buang hajat. Sudah jangan diingat-ingat. Jangan berharap dia terima kasih. Jangan berharap dia ee balas. Bahkan bisa jadi Allah uji kita sudah kita baikin dia, ternyata dia maki-maki kita. Ini ditinjau dari pemberi bantuan atau yang berbuat baik. Ditinjau dari yang diberbuat baik kepadanya, maka dia terima kasih. Jangan dia bilang, "Eh, kau ikhlas ya, saya enggak mau puji kau." Enggak boleh. Ya, dia bilang terima kasih. Adab dia, urusan dia diperintahkan ikhlas, Allah yang suruh. Tidak usah kau ikut ngomong. Tugasmu bilang apa? Terima terima kasih. Tugasmu mengatakan syukran. Jazakal khairan. Kalau bisa balas setimpal, balas setimpal. Kalau tidak mau balas setimpal, doakan. Atau mengatakan jazakallah khairan. Adapun orang tidak berterima kasih, terima bantuan seakan-akan tidak punya budi, tidak punya hutang budi. Ini orang tidak tahu terima kasih. Sudah diantarin, sudah dianu, cuekin aja. Jadi dia tidak mau hutang budi lah. Kalau kau mau tidak mau hutang budi jangan jangan minta bantuan. Kalau kau sudah minta bantuan, terima bantuan, harusnya kau berhutang budi secara oto otomatis. Ya, bilang terima kasih, syukran, jazakal khairan. Menyenangkan orang, orang yang bantu juga merasa didoakan senang. Ya, oleh karenanya jangan pelit-pelit kita bilang apa? Jazakallahu khairan. Ini kalimat kita dapat pahala ngomong begitu. Bahkan kepada anak buah kita. Kita kalau punya pembantu kerja bagus, kita enggak ada salahnya bilang apa? Jazakillah khairan. Kita punya sufir, dia bagus ngantar, kita bilang, "Jazakallah khairan." Apa susahnya? Kita ada guru di murid, e, guru ngajar anak kita meskipun kita bayar les, kita sudah gaji kita bilang, "Jazakallah khairan." Apa salahnya? Dia sudah ngabisin waktu untuk ngurusin anak kita misalnya. Wallahuam bisawab. Demikian saja apa yang kita sampaikan. Wabillah taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Resume
Requeue
Categories