Menjadikan Hidup Kita Lebih Bermakna - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
wZ8shnHWWxM • 2025-07-25
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi ala ihsani wasukrulahu
ala taufiqihiani asadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim
lisani wa ashadu anna muhammadan abduhu
wa rasuluhu daila ridi. Allahumma sholli
alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwan.
Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah
subhanahu wa taala. Pada kesempatan yang
bahagia ini kita akan bahas topik agar
hidup lebih bermakna.
Maksud dari pembahasan ini yaitu agar
kita mulai menata kembali keseharian
kita
agar lebih bermakna di dunia terlebih
lagi di akhirat ya.
Sehingga kita bisa lebih mengoptimalkan
sisa umur yang Allah berikan kepada
kita. kita masih diberi kesempatan untuk
bisa
hidup, bisa bernafas, bisa berzikir,
bisa baca Al-Qur'an. Namun waktu kita
tidak tahu sampai kapan. Ya,
yang jelas dengan bertambahnya hari maka
kesempatan kita untuk
mengumpulkan amal saleh semakin sedikit.
Sebagaimana dikatakan oleh Hasan Al
Basri rahimahullahu taala. Ya adam inama
antaam
fahaba baam bauka.
Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau
hanyalah kumpulan hari-hari.
Jika telah pergi sebagian hari darimu,
maka sesungguhnya telah pergi sebagian
dari dirimu.
Dan kalau sebagian dari dirimu sudah
pergi, dikhawatirkan engkau semuanya
akan sirna.
Jadi tidak ada hari yang terlewatkan
dari kita kecuali umur kita semakin
berkurang.
Ya,
titik pertemuan kita kepada Allah
semakin dekat. Ya ayyuhal insanu
inakaunikahan.
Wahai manusia, sesungguhnya kalian
sedang beraktivitas berusaha
menuju Rab kalianulaqih dan intinya
kalian akan bertemu dengan Allah
Subhanahu wa taala.
Kata Ibnu Masud radhiallahu anhu,
"Maadimtu
ya aku tidak pernah menyesal ya.
Nadami ala yauminat fiatamsuhu
yaamd
fialiqala."
Beliau berkata, "Aku tidak pernah
menyesal seperti penyesalanku
di mana hari lewat, matahari terbenam,
tapi amalanku tidak bertambah."
Ini suatu pernyataan yang dikeluarkan
Ibnu Mas'ud sebagai nasihat bagi kita
semua. Seharusnya dengan bertambah usia
ya bertambah usia umur kita semakin
berkurang.
Usia kita bertambah ya 40 45 ya berarti
semakin berkurang umur kita menuju
kepada Allah Subhanahu wa taala. Maka
Ibnu Mas'ud berkata, "Aku tidak pernah
menyesal sebagaimana penyesalanku.
Hari
aku lewati yaitu umurku semakin
berkurang." Ya. Naqos fi
ajali. umriamdhi amali. Umurku
berkurang, tetapi amalku tidak
bertambah. Ini nasihat bagi kita semua
untuk evaluasi diri. Jangan kita
begini-begini terus dalam kehidupan.
Alhamdulillah ada di antara antum yang
masyaallah ibadahnya luar biasa amal
salehnya. Tapi jangan pernah puas.
Kita berusaha lebih daripada yang
sekarang. Dan di antara kita ada yang
masih taksir, masih kurang, masih banyak
melakukan kesalahan, masih banyak
terjunus dalam dosa. Sudah saatnya kita
berubah agar hidup kita lebih bermakna,
agar kita lebih bahagia di dunia sebelum
berbahagia di akhirat kelak. Saya sering
sampaikan firman Allah Subhanahu wa
taala pada hari kiamat kelak semua akan
menyesal. Allah berfirman, "Yahanam."
Ketika hari kiamat dihadirkanlah neraka
jahanam.
Ketika neraka jahanam telah dihadirkan
insan, maka semua manusia akan sadar,
akan ingat dan penyesalan tiada guna di
saat tersebut.
Ya, maka setiap manusia berkata yaqu
yaani qamtuli
manusia akan berkata, "Seandainya dahulu
di dunia saya melakukan amal saleh untuk
kehidupanku di akhirat."
Kata Ibnu Katsir rahimahullah, "Semuanya
menyesal. Orang kafir jelas menyesal.
Orang musyrikin, pelaku maksiat jelas
menyesal. Orang beriman juga menyesal.
Kenapa amal saleh dia dulu kurang?
Kenapa dulu salat malamnya sebentar?
Kenapa apa sedekahnya cuma sedikit?
Kenapa baktinya kepada orang tua masih
tanggung-tanggung? Ya. Kenapa berbuat
baik kepada kerabat masih pelit? Dia
akan menyesal. Kenapa baca Qurannya cuma
sedikit? Dia itu dalam kebaikan pun dia
menyesal.
Maka
kita berusaha mengurangi penyesalan
tersebut dengan memperbaiki kualitas
kehidupan kita agar hidup kita lebih
bermakna.
Maka pada kesempatan kali ini saya akan
menyampaikan beberapa poin. Tentu
poinnya sangat banyak. Saya pernah ngisi
kaji ini tiga kajian judulnya Agar Hidup
Lebih Bermakna. Antum bisa lihat di
YouTube saya kumpulkan ada 35 poin. 35
poin. Tapi
nanti sampai subuh ya. ini.
Jadi kita sekedarnya ag sekedar untuk
ingatkan diri saya pribadi ya. Karena
saya sering juga dengar ceramah saya
sendiri untuk nasihat saya pri pribadi
karena iman naik turun.
Bab ikhwan dan akhwat yang dirahmati
Allah Subhanahu wa taala. Intisari agar
kehidupan kita bisa bermakna adalah
pertama
memiliki modal untuk memaknakan hidup
ini yaitu memiliki modal. Modal utama
adalah waktu. Waktu luang. Kita harus
punya waktu luang. Karena dengan waktu
tersebut kita bisa beramal saleh. Kalau
kita enggak punya waktu, kita enggak
bisa beraktivitas. Pertama, kita harus
punya waktu. Yang kedua, mengoptimalkan
amal saleh. Apa yang bisa kita lakukan?
Prioritas apa yang harus kita dahulukan.
Sehingga dengan mengumpulkan dua ini
punya modal waktu dan mengoptimalkan
memprioritaskan amal saleh mana yang
lebih utama, maka kita bisa lebih
bermakna.
Dan dalil akan kedua hal ini sangat
banyak. Ya, yang pertama ikhwan dan
akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu
Taala, terkait dengan
pentingnya waktu ya. Allah telah
bersumpah dalam Al-Qur'an tentang waktu
banyak. Kata Allah Subhanahu wa taala,
wal asr demi masa. Ada yang menafsirkan
demi asar.
Waduh, demi demi waktu dhha. Wallaili
demi malam wannahari demi siang hari.
Walayalin asr. Demi 10 malam terakhir
bulan Ramadan. Atau ada yang menafsirkan
demi 10 hari pertama bulan Zulhijah.
Wal fajar demi fajar.
Ya,
sebbaan ulama menafsirkan Allah
berfirman atau bersumpah dengan
waktu-waktu tersebut karena agungnya
waktu dan di balik waktu tersebut
bisa dioptimalkan untuk beramal saleh.
Itu se mengatakan Allah tidak bersumpah
dengan wal asr demi asr kecuali karena
di situ ada salat asar. Allah tidak
bersumpah dengan wadduha karena di situ
ada salat apa? Duh. Allah tidak
berfirman dengan bersumpah dengan wal
fajar demi fajar karena di situ ada
salat apa? suhu
yang sangat agung di sisi Allah
Subhanahu wa taala. Dan demikianlah
sumpah-sumpah Allah terkait dengan
waktu, maka waktu sangat mulia di sisi
Allah Subhanahu wa taala.
Dan benar kalau orang orang
duniawi berkata time is money.
Bahwasanya waktu adalah uang. Adapun
orang Islam berkata, "Al waktu agla
minadzahab." Waktu lebih berharga
daripada emas. Benar. Kalau emas hilang,
kita bisa cari lagi. Tapi kalau waktu
sudah pergi, tidak bisa bakalan kembali
lagi.
Maka telah datang banyak dalil menyuruh
kita untuk benar-benar menghargai waktu
kita. Sesungguhnya bentuk menghargai
waktu adalah menghargai umur. Kita
jangan ditipu oleh banyak-banyak orang
yang ingin buang membuat kita buang umur
kita sia-sia sehingga umur kita tidak
ada nilainya. Orang yang berakal adalah
orang yang menghargai dirinya.
Menghargai dirinya dengan menghargai
umurnya. Menghargai umurnya dengan
menghargai waktunya. Jadi itu sifat
orang beriman. Kata Allah Subhanahu wa
taala,
q aflahal mminun alladina hum khunallina
humwiun.
Sungguh beruntung orang-orang yang
beriman yang mereka khusyuk dalam salat
mereka. Walladinawiun.
Dan orang-orang yang berpaling dari
perbuatan sia-sia.
Sia-sia enggak ada faedahnya.
buang-buang umur, buang-buang hari,
buang-buang jam, buang-buang menit, dia
berpaling.
Allah Subhanahu wa taala berfirman
tentang sifat-sifat ibadurrahman waid
maru billagwi marru kirama. Kalau mereka
kebetulan terjebak harus melewati
perbuatan sia-sia, maka mereka lewati
dengan elegan, tidak nongkrong, tidak
komentar. Mereka lewati begitu saja.
Karena terkadang kita tidak bisa
menghindar dari perbuatan sia-sia lewat
depan kita. Mau diapain, Bang? Bagaimana
menjikafinya? Wa maru bilqwi maru kiram.
Kalau lewat depannya lewat.
Ini perkara sia-sia bukan maksiat.
Apalagi kalau maksiat
bukan lagi lewat ada dangdutan kemudian
malah nongkrong kepala ikut goyang.
Jangan lewat aja.
Jangan noleh. Enggak usah komentar
lewat.
Jangankan perkara maksiat, perkara
sia-sia, dia tidak mau. Ini poin ini
saja kita sudah mengetahui kualitas diri
kita. Betapa sering di dunia maya
perkara sia-sia lewat kita klik. Iya.
Enggak banyak atau enggak yang ternyata
umur kita kita buang di situ. Lihat
berita 15 menit komentar debat orang
berkelai di situ. Entah ujungnya kayak
apa, enggak ngerti 15 menit setengah jam
lewat. Itu namanya kita buang umur.
Karena kita tahu umur kita masih
panjang. Buang buang buang buang buang.
Belum maksiat. Klik film Korea. Waduh,
lebih parah lagi.
Ibu-ibu, film Korea maksiat atau tidak?
Ibu-ibu,
film Korea film maksiat atau tidak?
Bapak-bapak, film Korea maksiat atau
tidak? Maksiat. Kenapa maksiat? Ada
aurat yang terbuka. Iya, enggak? Ada
cewek-cewek lebih cantik daripada istri
bapak-bapak di situ.
Maksiat.
Klik nonton, klik nonton.
Ini menunjukkan bagaimana kualitas kita
yang tidak menghargai
diri sendiri, tidak menghargai umur
sendiri. Bagaimana mau menjadikan hidup
kita lebih bermakna sementara kita tidak
menghargai
umur kita?
Mengharap orang hargai kita, kita
sendiri tidak menghargai umur kita. Maka
sifat orang beriman
adalah tidak buang umurnya pada perkara
yang sia-sia. Ada perkara sia-sia, maka
dia tinggalkan. Karena ini satu poinnya
aja kalau kita bisa berhasil, betapa
banyak kita punya waktu untuk bisa
beramal saleh.
Tib terkait dengan hal ini, ada beberapa
bentuk
kiat agar kita bisa menjadikan hidup
kita bermakna terkait dengan poin ini.
Menghargai umur. Pertama, misalnya
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
melarang kita untuk kepo pada perkara
yang bukan urusan kita. Kata Rasul
sallallahu alaihi wasallam, "Min husni
islamil mari.
yakni
di antara keindahan Islam seseorang
adalah meninggalkan yang bukan
urusannya. Perhatikan sini Rasul alaihi
wasallam mengkaitkan keindahan Islam
seseorang
yaitu tidak
ingin tahu, tidak ingin kepo dengan apa
yang bukan apa urusannya.
Karena kalau seorang menjalankan hadis
Nabi ini tarquumala yakni meninggalkan
yang bukan urusannya, ketika semua yang
bukan urusannya dia tinggalkan maka dia
akan fokus kepada yang merupakan
urusannya. Kalau dia sudah fokus dengan
apa yang merupakan urusannya, maka
hidupnya menjadi bermakna. Entah urusan
terkait dengan keluarganya, tentang
anaknya, tentang istrinya, tentang
pekerjaannya, tentang ayah ibunya,
tentang kakak adiknya, masih banyak yang
yang yaknina yang yang merupakan urusan
kita. Masih banyak. Namun kenapa kita
tidak sempat untuk mengurusi urusan
kita? Karena kita sering kepo dengan
yang bukan urusan urusan kita.
Sekarang banyak di berita
ada artis dicerai. Kita pengin tahu klik
kenapa sih dicerai? Eh, kamu tahu buat
apa? Kecuali kalau kau mau nikahi gak
apa-apa. Wong dia aja lihat kamu mau
muntah duit enggak ada. Terus ngapain
cari tahu urusan dia? Bukan urusanmu.
Kalau kau memang kau mau nikahi
urusanmu, silakan. Kalau enggak ngapain?
Terus sidang Hartono gini ikut terus
beritanya. Habis waktu belum maksiat
lihat asir tersebut tidak pakai jilbab.
Subhanallah. Kita kita terjebak ya.
Terjebak.
Lihat ada berita sekarang lagi ramai
pejabat dituduh berzina seorang wanita.
Wanita tuh ngaku berzina.
Kemudian semua orang ingin lihat wajah
pezina tersebut. Iya enggak? Pengin
lihat wajah pezina tersebut.
Dahulu Jurais
ketika ibunya marah, dia berdoa kepada
Allah, "Allahum lahu
wuju mumisat." Kata ibunya Jurais, "Ya
Allah, jangan kau wafat, jangan kau
wafatkan putraku Juris sampai kau buat
dia bisa melihat wajah pezina." Karena
Jur menundukkan pandangannya, tidak mau
melihat wajah wanita, apalagi wajah
wanita pezina. Dan bagi mereka dahulu
melihat wajah wanita pezina adalah
kehinaan. Makanya ibunya marah. Ibunya
ingin Juraisy meninggal sebelum sebelum
meninggal lihat wajah pezina. Dan
akhirnya dikabulkannya doanya ibunya
tersebut. Sekarang wajah pezina yang aku
berzina tidak punya rasa malu. Kemudian
tampil di medsos dan kita lihat dengan
malah kita nilai oh kurang cantik.
Ternyata
ini contoh kita terjebak pada
perkara-perkara yang
tidak ada faedahnya. Kita buang umur
kita.
Seandainya kita mengamalkan hadis Nabi
minus islam yakni
di antara keelokan Islam seseorang
adalah meninggalkan
perkara yang bukan urusannya maka hidup
kita akan lebih
bermakna
bab. Ini
hal di antara kiat agar kita bisa
menjadikan hidup kita lebih ee bermakna.
Tib hal-hal yang lain, kiat-kiat yang
lain
agar kita benar-benar bisa
mengoptimalkan sekarang kita bagaimana
cara mengoptimalkan umur kita yang
sedikit ini sehingga semuanya bisa jadi
modal untuk kita bertemu dengan Allah
subhanahu wa taala. Kita ingin bertemu
dengan Allah dengan amal yang terbaik
ya. Kita ingin bertemu dengan Allah di
hari yang terbaik.
Makanya di antara doa para imam mereka
mengat Allahumma jaal khairalina
khawatimaha
ya. Ya Allah, jadikanlah amalan terbaik
kami adalah amalan di akhirnya
awak. Dan jadikanlah umur kita yang
terbaik, umur yang paling terakhir. Jadi
menuju semakin baik, hidup semakin
berkualitas.
Dan jadikanlah hari terbaik kami hari
bertemu dengan Engkau ya Allah. Ini doa
di antara doa yang sering saya dengar di
Masjid Nabawi. Allah
akir
ya Allah jadikanlah amal terbaik kami
adalah amal yang paling terakhir. Jadi
kualitas semakin naik. Jadikanlah umur
kami yang terbaik umur paling terakhir.
Semakin mau meninggal semakin
berkualitas. Dan jadikanlah hari terbaik
kami adalah hari ketika wafat, ketika
bertemu dengan Engkau ya Rabb.
Oleh karenanya kita bagaimana bisa
optimal umur kita yang sedikit ini
sehingga kita punya
banyak amal untuk bertemu dengan Allah.
Makanya Ali bin Abi Thalib berkata,
"Alyyauma
amalun bila hisaban hisabun bila amal."
Sekarang silakan beramal, tidak ada yang
menghisab engkau. Begitu kau meninggal
tidak ada bisa amal lagi. Yang ada cuma
apa? Hisab. Sekarang kita masih bisa
beramal, masih bisa mewujudkan keinginan
cita-cita kita. Di antara kita ada yang
bercita-cita ingin hafal juz amma. Masih
bisa enggak?
Masih bisa enggak? Gak usah muluk-muluk
hafal Quran. Tajwid aja masih belepotan.
Sekarang yang logis ya, yang mungkin
cita-cita ingin hafal juz amma masih
mungkin enggak diwujudkan?
Coba saya ingin angkat tangan. Siapa
yang ingin hafal juz amma angkat tangan
cepat.
Mau cita-cita aja enggak berani.
Coba siapa yang bercita-cita hafal juz
amma? Ayo bismillah angkat tangan.
takut
harus punya cita-cita yang tinggi.
Masih bisa seorang cita-cita pengin
bangun masjid masih bisa. Mungkin masih
bisa. Masih bisa
seorang kita pengin hafal Quran 30 juz
masih bisa. Dia masih hidup. Dia masih
bisa mewujudkan. Kalau sudah meninggal
selesai enggak bisa. Diba tanah mau
cerita apa? Enggak ada. Harta jadi
warisan.
Bukan kalau ada anak kita beramal ya
buat anak kita, bukan buat kita. Kalau
dibuat maksiat ya repot.
Oleh karena Bu masih ada umur kita
berusaha optimal. Tib di antara
mengoptimalkan
kegiatan kita sehari-hari ya ikhwan, di
antaranya yang pertama adalah meniatkan
segala aktivitas duniawi dengan niat
akhirat. Ini penting.
Ini penting bagaimana setiap aktivitas
duniawi kita bernilai pahala. Karena
kalau kita lihat kehidupan kita
sehari-hari, aktivitas ukhrawi yang
niatnya akhirat cuma sedikit, cuma salat
ke masjid, baca Quran cuma sebentar,
bolak-balik ke masjid, ya cuma sedikit.
Sisanya kita duniawi, jualan kek, e
nyeles kek, ya cari makan kek, ngobrol
sama istri, ngobrol sama anak, urusan ke
sana, urusan ke sini, ke kantor kerja
bolak-balik naik kendaraan. Kebanyakan
duniawi. Sementara kita diciptakan oleh
Allah untuk beribadah kepada Allah.
Tidak ada tujuan lain. Kata Allah, wqtul
jinna wal insaudun.
"Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia
kecuali untuk beribadah kepadaku. Tujuan
kita hidup, setiap nafas yang keluar
dari kita harusnya untuk ibadah kepada
Allah." Harusnya demikian. Dan itu yang
Allah perintahkan kepada Nabi. Qul
katakanlah wahai Rasulullah inatiusuki
wahyaya waamati lillahaibil alamin.
Katakanlah salatku, sembelihanku,
hidupku dan matiku hanya untuk Allah
subhanahu wa taala. Nah, bagaimana kita
bisa mengaplikasikan ini? Bahwasanya
seluruh hidup kita hanya untuk Allah
Subhanahu wa taala.
Tidak ada cara lain kecuali
perkara-perkara duniawi kita niatkan
untuk apa? Allah Subhanahu wa taala.
Untuk akhirat.
Kita niatkan untuk akhirat.
Kalau kita niatkan untuk akhirat, maka
berpahala. Dalilnya banyak. Tapi kalau
kita tidak niatkan untuk akhirat hanya
duniawi, tidak halal, tidak haram ya
perkara mubah, tidak ada pahala. Dan
kaidah mengatakan innamalu bin niat.
Amalan tergantung apa? Niat. Wa inama
nawa. Seorang tergantung niatnya. Kalau
niatnya untuk akhirat dapat pahala.
Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "La
ajro illa an hisbah." Tidak ada pahala
kecuali kalau diniatkan ihtisab karena
Allah subhanahu wa taala. Kalau tidak
diniatkan hanya sekedar duniawi.
Contoh, seorang berniat duniawi untuk
akhirat. Allah sebutkan dalam Al-Qur'an
tentang perkara duniawi yang
sangat-sangat duniawi.
Yaitu ketika seorang lelaki berhubungan
dengan istrinya berhubungan intim.
Hendaknya ketika dia berhubungan intim
niat karena Allah subhanahu wa taala.
Sampai perkara demikian Allah ajarkan
untuk niat karena Allah. Allah
berfirman, "Nisaukum harakum harakum
waqdimufusikum
wattaqulahum."
Kata Allah subhanahu wa taala,
"Istri-istri kalian adalah sawah ladang
baik kalian." Itu datangi istri-istri
kalian.
Gaulah istri kalian kapan saja kalian
mau dengan cara apa sih yang kalian
maui. Silakan itu datangi istri-istri.
Kemudian kata Allah setelah itu
waqadimuusikum
persembahkanlah untuk diri kalian
pahala.
Baca perkataan ahli tafsir. Mereka bahas
pahala apa yang bisa didapatkan di balik
ini. Menggauli istri mereka bahas.
Ternyata ketika menggauli istri ada
pahala. Bagaimana caranya? Dengan niat.
Masalah niat. Jika seorang menggauli
istrinya niatnya untuk menundukkan
pandangannya agar tidak melihat yang
haram dapat pahala. Jika dia menggauli
istrinya dengan niat untuk melatakan
syahwatnya di tempat yang halal, tidak
dia tempatkan di tempat yang haram, maka
dia dapat pahala. Jika dia menggauli
istrinya dengan niat untuk menundukkan
pandangan istrinya, untuk menyenangkan
istrinya, maka dia dapat pahala. Jika
dia niat menggauli istrinya untuk
menambah cinta kasih antara dia dengan
istrinya dan itu tuntutan pernikahan,
maka dia dapat pahala. Jika dia gauli
istrinya agar punya anak saleh, maka dia
mendapatkan apa? Pahala. Ternyata
menggauli istri saja perkara duniawi
kalau niat karena Allah dapat pahala.
Bahkan banyak niat yang dia pasang di
situ.
Dapat pahala.
Makanya Rasul wasallam kuatkan hal ini.
Kata Rasul wasallam,
"Kalian menggauli istri kalian, kalian
sedang bersedekah." Maka sahabat
bertanya, "Ya Rasulullah
wahu ajrun, ya Rasulullah, seorang
menggauli istrinya dapat pahala,
meletakkan syahwatnya di tempat yang
halal dapat pahala." Kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "Bagaimana w
harami
alaihi wizrun?" Bukankah kalau dia
meletakkan syahwatnya di tempat yang
haram, dia berzina dapat dosa? Kata
sahabat, "Tentu ya Rasulullah." Maka
sebaliknya kalau dia letakkan di tempat
yang halal dia dapat apa? Pahala. Tapi
harus ada niat. Kalau sekedar datangi
istri tanpa niat, non pahala.
Non pahala.
Ini perkara yang murni duniawi. Tinggal
pasang diat. Contoh lagi, Rasul Sallahu
Alaihi Wasallam sebutkan tentang
menyuapi istri.
Kata Nabi Sallallahu Wasam
tidaklah kau berinu
mencari wajah Allah itu niatnya karena
Allah infak apun yang kau keluarkan,
duit apun yang kau keluarkan, kau
mencari wajah Allah maka kau dapat
pahala sampai suapan yang kau suapkan ke
mulut istrimu. Subhanallah. Seorang
suami lagi nyuapin istri, niatnya karena
Allah, dapat pahala.
Padahal kata Nawawi rahimahullah atau
kata Ibnu Hajar, kondisi seorang sedang
nyuapin istri itu benar-benar duniawi.
Hampir tidak terbetik tentang akhirat
lagi nyuapin istri. Kita kalau nyuapin
istri lagi mesra atau tidak?
Kayak bapak-bapak, saya tanya
bapak-bapak kalau lagi nyuapin istri
lagi mesra atau tidak mesra? Kapan
terakhir nyuapin istri coba?
Hm. 20 tahun yang lalu. Kapan terakhir
nyapin istri Bapak-bapak?
Pas masuk angin.
Ketika masih bulan madu, Ustaz,
awal-awal nikah juapin istri tiap hari.
Sekarang bulan bawang sudah enggak ada
lagi.
Tib. Artinya seorang nyapin istri lagi
benar-benar duniawi, lagi
mesra-mesranya. Ketika dia selipkan
niatnya karena Allah, dapat pahala.
Subhanallah.
Paham? Jangan nyuapin. Berhubungan pun
dapat. pahala. Nah, ini penting. Kita
niatkan segala aktivitas duniawi kita
karena Allah. Mulai sekarang kita rubah.
Kalau kita mau kerja, keluar naik motor,
bismillah. Tinggal sebentar aja, Pak.
Karena Allah bismillah. Saya cari nafkah
buat apa? Anak istri saya jualan. Kalau
dapat untung saya mau kasih tetangga,
saya mau kasih orang tua. Niatnya untuk
menyenangkan orang tua karena Allah
subhanahu wa taala. Saya mau belikan
emas buat istri. Saya mau cicil. Bulan
ini saya belikan anting sebelah kanan,
besok anting sebelah kiri.
untuk menyenangkan istri karena Allah
subhanahu dapat pahala. Kalau sekedar
nyenangin istri biar enggak diomelin
tidak dapat pahala.
Kalau enggak ada karena Allahnya enggak
ada pahala.
Kulluaiin haliun wajhah. Segala perkara
sirna kecuali wajah Allah. Sebagian ahli
tafsir menafsarkan ma bihi wajhullah
kecuali yang diinginkan karena Allah
yaitu yang ikhlas karena Allah. Semua
yang tidak karena Allah sirna tidak ada
pahalanya.
Kulain haliquun ila wajah. Semua yang
dilakukan tidak karena Allah tidak ada
sisanya. Tapi semua yang dikerjakan
karena Allah akan ada sisanya di
akhirat.
Makanya Bapak-bapak kalau nyuapin karena
Allah nanti pulang. Bu, mau saya suapin?
Ayo. Ayo. Lamb mana?
Bismillah. Karena Allah. Dapat pahala
enggak? Dapat pahala. Ketawa-ketiw dapat
pahala. Senyum-senyum dapat sama istri
dapat pahala. Bayangkan betapa indahnya
Islam.
Bab, di antara bentuk
ini praktik dalam keseharian agar
duniawi kita bernilai pahala
adalah kita
karena Allah. Jangan lupa kalau mau
tidur karena Allah. Bagi orang yang
biasa salat malam sering tidurnya karena
Allah. Bagi orang yang terbiasa salat
malam semua tidurnya bernilai saya tidur
cepat supaya bisa bangun malam. Berarti
dia tidur karena siapa? Karena Allah.
supaya saya bisa salat malam. Tapi kalau
dia tidur pengin nonton bola enggak
dapat pahala.
Faidah kita salat
kita bangun jam . Jam .30 misalnya salat
terus anak kita
malam kira-kira punya dalam mereka pasti
punya pengaruh.
Istri kita terjaga. Abi mana ini? Ih,
semalam insyaallah tidur lagi. Punya
pengaruh enggak dalam hati istri kita?
Punya pengaruh.
Coba anak kita, kita bangun malam terus
bola anak kita bangun.
Apa ini Abi gol-gol malam-malam?
Oleh karenanya ketika Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam mengutus Abu
Musa alas
dengan Muad bin Jabal radhiallahu anhuma
ke negeri Yaman untuk berdakwah kemudian
mereka berpisah arah di Yaman maka
mereka jalan bareng terjadilah obrolan
Bukhari Abu Musa alasari ngobrol sama
Muad bin Jabal Kalau
Quran luar biasa semangatnya Abu Salad.
Apa kata Muad bin Jabal? Kata beliau,
ya, beliau baca Quran juga. Kata kata
beliau,
inni lahtasibu. Ya, dia bilang, "Saya
baca dan saya saya salat malam dan saya
tidur. Saya salat malam dan saya tidur."
Kata Muad bin Jabal, "Wa inni aasibu
naumati kama ahbuati."
Kata Muad bin Jabal, "Sungguh saya
berharap dapat pahala karena tidurku
sebagaimana saya berharap dapat pahala
karena salat malamku." Subhanallah. Dia
niatkan tidurnya karena Allah. Sekarang
sudah berapa sering kita tidur enggak
dapat pahala?
Pernahkah terbetik sebelum kita tidur?
Tidur supaya bisa bangun subuh? Jarang.
Tidur asal ngantuk tidur. Apalagi sambil
main HP tidur. Enggak ada niat sama
sekali. Kalau niat bangun lanjutin WA.
Niatnya segera bangun untuk lanjutin
apa? WA.
Tapi kalau dia niat, Allah maha tahu isi
hati kita. Bidur Allah tahu isi masjid.
Mau tidur niat supaya bisa bangun subuh.
Mau tidur supaya bisa salat malam. Tidur
kita 4 jam, 5 jam ngorok dapat pahala.
ngelindur dapat pahala.
Subhanallah. Ini di antara waktu.
Sementara kita dalam keseharian kita,
kita tidur 8 jam. Kata dokter sehatnya
berapa? 8 jam. 8 jam sepertiga umur.
Kalau umur kita 60 kemudian kita tewas,
kita sudah tidur 20 tahun. Kalau 20
tahun pergi sia-sia tidak ada pahala,
rugi. Coba 20 tahun ini ternyata
pahalanya semuanya. Kita ketemu Allah,
ternyata tidur pun dapat pahala. Optimal
hidup kita.
[Musik]
Dan ini di antara optimal niatkan
perkara duniawi karena Allah Subhanahu
wa taala.
Di antara perkara duniawi yang bisa kita
aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
adalah olahraga karena Allah subhanahu
wa taala.
Kita butuh sehat enggak? Ya, karena di
antara modal kita bisa beramal saleh
dengan aktivitas prima, sehat. Rasul
wasallam bersabda.
Dua nikmat yang banyak manusia tertipu
tidak digunakan optimal tidak
dimanfaatkan, disia-siakan
adalah kesehatan dan waktu luar.
Kita boleh olahraga supaya apa? Supaya
sehat. Sehat. Kalau umrah kuat jalan.
Kalau ada bakti sosial kuat kerja. Ya,
kalau kerja bisa kuat ya, bisa bangun
salat malam. Tapi kalau pegal ini salat
malam kan susah, pengin tidur lagi.
Kenapa? Lagi kolesterol naik,
lagi apa namanya? Asam murat, lagi
kambu. Ya susah mau salat malam. Tapi
kalau sehat, salat malam enak. Ah, kita
niatkan orang olahraga itu buang waktu
enggak? Buang waktu.
Tapi kalau kita karena olahraga, karena
Allah Subhanahu wa taala, maka olahraga
kita dapat pahala. Kita main tenis dapat
pahala, kita tenis meja dapat pahala.
Kita main sepeda sama teman-teman
niatkan supaya sehat, supaya saya
beribadah dapat pahala. Kita fitness,
niat karena Allah dapat pahala. Tapi
kalau enggak niat karena Allah, cuma
senang-senang tidak dapat pahala.
Apalagi niatnya maksiat, fitness, bikin
body kekar, kemudian pakai baju ketat,
pamer sama ibu-ibu.
Hmm. Pamer ibu-ibu. Uh, masyaallah.
Kalau sudah begitu penginnya bajunya
ketat-ketat. Tujuannya coba baju ketat
apa? Coba tanya yang pakai baju kita
tujuannya apa? Kutat apa? Karena Allah.
Tanya sama yang pakai baju kita. Karena
Allah gitu untuk dia pamerkan hasil
olahraganya. Ya, kalau sama laki-laki
okelah. Tapi yang lihat kadang ibu-ibu,
terkadang nenek-nenek juga lihat.
Sehingga akhirnya olahraga dia tidak ada
faedahnya. Dari sisi pahala enggak ada.
Tapi kalau dia niatkan karena Allah
subhanahu wa taala, lihat Nabi
sallallahu alaihi wasallam ajak olahraga
istrinya karena Allah. Untuk
menyenangkan istrinya karena Allah.
Kata Aisyah radhiallahu taala anha, "Aku
bersafar bersama Nabi sallallahu alaihi
wasallam di tengah perjalanan. Tiba-tiba
Nabi berkata kepada para sahabat,
"Taqaddamu." Kalian lari kalian pergi di
luar depat. Setelah mereka sudah pergi,
maka Rasulullah berkata, "Ya Aisy taali
usabiqi, mari kita lomba lari."
Rasulullah lari dengan Aisyah.
Subhanallah. Kearga
untuk menyenangkan apa istrinya.
Bahkan kita juga bisa meniatkan
refreshing karena Allah subhanahu wa
taala. K gak mungkin seorang ibadah
terus. Apa kata Ibnu Abbas kalau tidak
salah? Nabi wasam
Rasulullah sahu al wasallam dulu
wejangannya tidak setiap saat karena
khawatir kami bosan maka Rasulullah
selah-selah ada refreshing ada jeda di
antara nasihat satu dengan satu agar
tidak bosan
Rasulullah pernah berkata kepada
Handzala walakin ya Handzala saatan
saatan wahai Handzala ada waktu
istirahat ada waktu untuk kajian ketika
kita ngajak anak istri anak sudah pondok
sekian bulan sampai pulang kita suruh
murajahah gitu
dia stres. Emang Abi juga dulu begini
katanya enggak
udah aja pulang aja jalan-jalan supaya
dia semangat lagi apa muraja Quran,
belajar agama lagi. Kita niatkan ajar
dia, agak dia ajak dia jalan-jalan
karena Allah. Duit kita keluar dapat
pahala harus karena Allah.
Ini maksudnya di antara membuat kita
optimal umur kita. Niatkan semua
kegiatan duniawi kita karena Allah.
Antum tahu-tahu kangen ketemu teman
lama, telepon niatkan karena Allah untuk
menyenangkan dia. Bosnya kita masih
menyambung tali ukhuwah. Eh, kabar ente
gimana
sekarang? Kerja apa sekarang? Istri
sudah berapa sekarang? Eh, salah.
Gimana? Keluarga
ngobrol ketawa ketiwi. Niat karena
menyenangkan hatinya. Wal kalimatu
thyibatu sedekah.
Kata-kata baik adalah apa? Sedekah.
Nah, mulai sekarang harus kita hadirkan
hal ini sehingga semua aktivitas kita
semuanya bernilai pahala
tayib.
Di antara kiat
agar hidup kita lebih optimal, lebih
bermakna. Berapa menit lagi azan?
[Musik]
Masih lama ya. Azan suhu masih lama.
[Musik]
Adalah
kita berusaha zuhud dalam segala
aktivitas kita. Zuhud. Apa itu zuhud?
Kata Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala,
tarqu ma yanfauka fil akhirah.
Meninggalkan suatu yang tidak ada
manfaatnya di akhirat itu namanya zuhud.
Maka ini cara kita untuk mengkontrol
segala kegiatan kita duniawi. Ada
faedahnya enggak? di akhirat kalau ada
faedah kita kerjakan, kalau enggak ada
enggak usah kita kerjakan. Zuhud. Zuhud
itu bukan berarti baju harus
jelek-jelek, enggak ya. Bukan berarti
harus kurus kerempeng. Enggak. Bukan
berarti harus sepeda butut. Enggak.
Zuhud maknanya tarqu ma la yanfau fil
akhirah. Meninggalkan suatu tidak
bermanfaat. Kalau kita butuh suatu yang
misalnya laptop yang bagus untuk
kegiatan akhirat, enggak ada masalah.
Beli yang bagus daripada yang murah
kemudian ngada terus. Ya, bikin
buang-buang waktu. Kalau kita butuh
mobil yang bagus supaya safar kita
nyaman, bisa sampai langsung bisa
beraktivitas, silakan, enggak ada
masalah. Selama itu bermanfaat, lakukan.
Selama tidak bermanfaat untuk akhirat,
tinggalkan.
Ini kita mengontrol diri kita. Nah,
sekarang setiap aktivitas kita evaluasi
kembali. Saya masuk di grup ini, ada
enggak manfaat saya di akhirat?
Kalau manfaat, lanjutkan. Enggak ada
manfaat,
pergi left. Mulai satu-satu. Kita punya
di apa? Di laki-laki biasanya di HP-nya
ada 20 grup.
[Musik]
Grup ini grup anu, grup ini, grup anu,
grup ini. Yang paling ramai grup
poligami.
Padahal isinya penakut semua. Bab enggak
ada faedahnya hanya cuma ketawa keti
enggak ada faedah keluar. Ada faedahnya
di akhirat enggak? Enggak ada. Minta
izin, mohon maaf saya ada kesibukan
mudahan kita ketemu di surga kelak.
Amin. Left
kalau pengin waktu kita optimal.
Punya grup dengan teman-teman lama
ternyata situ, wah kok saya kok ngobrol
sama istri orang, istri teman, cewek
lama, cinta lama bersemi kembali kok.
Waduh live aja maksiat. Tinggalkan
semua yang tidak ada faedahnya di
akhirat tinggalkan. Mulai kita latihan
seperti itu. Tayib. Saya mau beli motor
2 miliar harganya. Ada enggak faedah di
akhirat nih? Motor 2 miliar greng greng
greng. Pakai jaket keren.
Ada faedahnya akhirat? Pikir aja
sendiri.
Ada akhirat ada ada faedah siap dihisab.
2 miliar beli motor beli. Saya dukung
kalau ada faedahnya di akhirat. Kalau
enggak ada minggir.
Minggir. Boleh kita evaluasi.
Jangan mikir, jangan mikir apa kata
orang. Mikir apa kata Allah tentang
kita.
Mulai sekarang kita evaluasi.
Ibu-ibu mau beli gak tahu mau beli ee
baju-baju mahal, baju sekian juta, tas
sekian juta. Mikir, ada faedah enggak
ya? Saya keluarin duit sekian juta beli
ini. Ada faedahnya beli.
Enggak ada faedahnya ngapain beli? Ada
seorang ibu tanya saya di Jakarta,
"Ustadz, bolehkah saya sudah sedekah,
sudah zakat? Saya sudah haji, sudah
umrah, semua kebaikan sudah saya
lakukan. Boleh enggak saya beli tas
harganya Rp600 juta?
Itu tas luar biasa. Mungkin bisa nyimpan
mobil dalam situ. R juta.
Tib. Ada enggak faedahnya kalau dihisab
siap enggak dihisab di akhir?
Ternyata ketika saya ke waktu Qadarullah
pergi ke Paris, ada orang jual tas 1,5
miliar. Lebih bahlul daripada yang tadi.
Tas 1,5 miliar.
Adakah yang beli? banyak ngantri orang
beli.
Subhanallah.
Siapkah? Apakah kita keluarkan uang pada
hal tersebut? Ada faedahnya di akhirat?
Kalau ada keluarin aja enggak ada
masalah. Kalau enggak ada, siap dihisab.
Ini untuk kita mengontrol diri.
Pernah istri saya minta belikan tas, Di.
Belikan tas. Tas mana? Ini harganya
cukup. Lumayan. Saya bilang,
"Umi siap dihisab."
Abi itu kalau enggak mau beli, bilang
aja.
Tapi kalau dia bilang siap, repot juga.
Kalau siap saya enggak siap bilang.
Kalau siap saya enggak siap duitnya dari
saya. Masalahnya
habis waktu ya qadarullah. Ya, sampai di
sini saja. Intinya ikhwan dan akhwat
dirahmati Allah subhanahu wa taala, kita
mulai evaluasi diri kita agar hidup kita
lebih bermakna. Hati-hati umur jangan
dibuang sembarangan. Niatkan seluruh
perkara duniawi karena apa? Allah
Subhanahu wa taala. Yang tidak manfaat
kita tinggalkan. Mulai kita menata diri,
kita masih banyak melihat yang tidak
manfaat, dengar yang tidak manfaat,
kegiatan tidak manfaat, buang umur,
buang waktu, buang energi, buang
pikiran, tidak ada manfaatnya. Bahkan
sebagian ulama mengharamkan main catur.
Sebagian ulama kenapa kata mereka?
Karena catur itu membuang pikiran tidak
ada faedahnya. Berpikir keras gimana
caranya enggak ada faedahnya. Pikir
keras ada faedahnya. Oke, ini pikir
pikir pikir duduk 2 jam 3 jam 5 jam cuma
tung tang tung tang tung tang tung.
Mending kalau dia keluar kemudian
jagoan, jago strategi. Enggak juga.
Emang ada ahli cator jago strategi? Ya
enggak juga. Terus apa faedahnya dia
mengerahkan otak untuk berpikir sebag
lama mengharamkan? Demikian saja kajian
kita. Demikian saja kajian kita.
Wallahuam subhanakamikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Resume Requeue
Read
file updated 2026-02-12 01:17:59 UTC
Categories
Manage