Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasukrulahu ala taufiqihiani asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim lisani wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu daila ridi. Allahumma sholli alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwan. Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Pada kesempatan yang bahagia ini kita akan bahas topik agar hidup lebih bermakna. Maksud dari pembahasan ini yaitu agar kita mulai menata kembali keseharian kita agar lebih bermakna di dunia terlebih lagi di akhirat ya. Sehingga kita bisa lebih mengoptimalkan sisa umur yang Allah berikan kepada kita. kita masih diberi kesempatan untuk bisa hidup, bisa bernafas, bisa berzikir, bisa baca Al-Qur'an. Namun waktu kita tidak tahu sampai kapan. Ya, yang jelas dengan bertambahnya hari maka kesempatan kita untuk mengumpulkan amal saleh semakin sedikit. Sebagaimana dikatakan oleh Hasan Al Basri rahimahullahu taala. Ya adam inama antaam fahaba baam bauka. Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jika telah pergi sebagian hari darimu, maka sesungguhnya telah pergi sebagian dari dirimu. Dan kalau sebagian dari dirimu sudah pergi, dikhawatirkan engkau semuanya akan sirna. Jadi tidak ada hari yang terlewatkan dari kita kecuali umur kita semakin berkurang. Ya, titik pertemuan kita kepada Allah semakin dekat. Ya ayyuhal insanu inakaunikahan. Wahai manusia, sesungguhnya kalian sedang beraktivitas berusaha menuju Rab kalianulaqih dan intinya kalian akan bertemu dengan Allah Subhanahu wa taala. Kata Ibnu Masud radhiallahu anhu, "Maadimtu ya aku tidak pernah menyesal ya. Nadami ala yauminat fiatamsuhu yaamd fialiqala." Beliau berkata, "Aku tidak pernah menyesal seperti penyesalanku di mana hari lewat, matahari terbenam, tapi amalanku tidak bertambah." Ini suatu pernyataan yang dikeluarkan Ibnu Mas'ud sebagai nasihat bagi kita semua. Seharusnya dengan bertambah usia ya bertambah usia umur kita semakin berkurang. Usia kita bertambah ya 40 45 ya berarti semakin berkurang umur kita menuju kepada Allah Subhanahu wa taala. Maka Ibnu Mas'ud berkata, "Aku tidak pernah menyesal sebagaimana penyesalanku. Hari aku lewati yaitu umurku semakin berkurang." Ya. Naqos fi ajali. umriamdhi amali. Umurku berkurang, tetapi amalku tidak bertambah. Ini nasihat bagi kita semua untuk evaluasi diri. Jangan kita begini-begini terus dalam kehidupan. Alhamdulillah ada di antara antum yang masyaallah ibadahnya luar biasa amal salehnya. Tapi jangan pernah puas. Kita berusaha lebih daripada yang sekarang. Dan di antara kita ada yang masih taksir, masih kurang, masih banyak melakukan kesalahan, masih banyak terjunus dalam dosa. Sudah saatnya kita berubah agar hidup kita lebih bermakna, agar kita lebih bahagia di dunia sebelum berbahagia di akhirat kelak. Saya sering sampaikan firman Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat kelak semua akan menyesal. Allah berfirman, "Yahanam." Ketika hari kiamat dihadirkanlah neraka jahanam. Ketika neraka jahanam telah dihadirkan insan, maka semua manusia akan sadar, akan ingat dan penyesalan tiada guna di saat tersebut. Ya, maka setiap manusia berkata yaqu yaani qamtuli manusia akan berkata, "Seandainya dahulu di dunia saya melakukan amal saleh untuk kehidupanku di akhirat." Kata Ibnu Katsir rahimahullah, "Semuanya menyesal. Orang kafir jelas menyesal. Orang musyrikin, pelaku maksiat jelas menyesal. Orang beriman juga menyesal. Kenapa amal saleh dia dulu kurang? Kenapa dulu salat malamnya sebentar? Kenapa apa sedekahnya cuma sedikit? Kenapa baktinya kepada orang tua masih tanggung-tanggung? Ya. Kenapa berbuat baik kepada kerabat masih pelit? Dia akan menyesal. Kenapa baca Qurannya cuma sedikit? Dia itu dalam kebaikan pun dia menyesal. Maka kita berusaha mengurangi penyesalan tersebut dengan memperbaiki kualitas kehidupan kita agar hidup kita lebih bermakna. Maka pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan beberapa poin. Tentu poinnya sangat banyak. Saya pernah ngisi kaji ini tiga kajian judulnya Agar Hidup Lebih Bermakna. Antum bisa lihat di YouTube saya kumpulkan ada 35 poin. 35 poin. Tapi nanti sampai subuh ya. ini. Jadi kita sekedarnya ag sekedar untuk ingatkan diri saya pribadi ya. Karena saya sering juga dengar ceramah saya sendiri untuk nasihat saya pri pribadi karena iman naik turun. Bab ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala. Intisari agar kehidupan kita bisa bermakna adalah pertama memiliki modal untuk memaknakan hidup ini yaitu memiliki modal. Modal utama adalah waktu. Waktu luang. Kita harus punya waktu luang. Karena dengan waktu tersebut kita bisa beramal saleh. Kalau kita enggak punya waktu, kita enggak bisa beraktivitas. Pertama, kita harus punya waktu. Yang kedua, mengoptimalkan amal saleh. Apa yang bisa kita lakukan? Prioritas apa yang harus kita dahulukan. Sehingga dengan mengumpulkan dua ini punya modal waktu dan mengoptimalkan memprioritaskan amal saleh mana yang lebih utama, maka kita bisa lebih bermakna. Dan dalil akan kedua hal ini sangat banyak. Ya, yang pertama ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu Taala, terkait dengan pentingnya waktu ya. Allah telah bersumpah dalam Al-Qur'an tentang waktu banyak. Kata Allah Subhanahu wa taala, wal asr demi masa. Ada yang menafsirkan demi asar. Waduh, demi demi waktu dhha. Wallaili demi malam wannahari demi siang hari. Walayalin asr. Demi 10 malam terakhir bulan Ramadan. Atau ada yang menafsirkan demi 10 hari pertama bulan Zulhijah. Wal fajar demi fajar. Ya, sebbaan ulama menafsirkan Allah berfirman atau bersumpah dengan waktu-waktu tersebut karena agungnya waktu dan di balik waktu tersebut bisa dioptimalkan untuk beramal saleh. Itu se mengatakan Allah tidak bersumpah dengan wal asr demi asr kecuali karena di situ ada salat asar. Allah tidak bersumpah dengan wadduha karena di situ ada salat apa? Duh. Allah tidak berfirman dengan bersumpah dengan wal fajar demi fajar karena di situ ada salat apa? suhu yang sangat agung di sisi Allah Subhanahu wa taala. Dan demikianlah sumpah-sumpah Allah terkait dengan waktu, maka waktu sangat mulia di sisi Allah Subhanahu wa taala. Dan benar kalau orang orang duniawi berkata time is money. Bahwasanya waktu adalah uang. Adapun orang Islam berkata, "Al waktu agla minadzahab." Waktu lebih berharga daripada emas. Benar. Kalau emas hilang, kita bisa cari lagi. Tapi kalau waktu sudah pergi, tidak bisa bakalan kembali lagi. Maka telah datang banyak dalil menyuruh kita untuk benar-benar menghargai waktu kita. Sesungguhnya bentuk menghargai waktu adalah menghargai umur. Kita jangan ditipu oleh banyak-banyak orang yang ingin buang membuat kita buang umur kita sia-sia sehingga umur kita tidak ada nilainya. Orang yang berakal adalah orang yang menghargai dirinya. Menghargai dirinya dengan menghargai umurnya. Menghargai umurnya dengan menghargai waktunya. Jadi itu sifat orang beriman. Kata Allah Subhanahu wa taala, q aflahal mminun alladina hum khunallina humwiun. Sungguh beruntung orang-orang yang beriman yang mereka khusyuk dalam salat mereka. Walladinawiun. Dan orang-orang yang berpaling dari perbuatan sia-sia. Sia-sia enggak ada faedahnya. buang-buang umur, buang-buang hari, buang-buang jam, buang-buang menit, dia berpaling. Allah Subhanahu wa taala berfirman tentang sifat-sifat ibadurrahman waid maru billagwi marru kirama. Kalau mereka kebetulan terjebak harus melewati perbuatan sia-sia, maka mereka lewati dengan elegan, tidak nongkrong, tidak komentar. Mereka lewati begitu saja. Karena terkadang kita tidak bisa menghindar dari perbuatan sia-sia lewat depan kita. Mau diapain, Bang? Bagaimana menjikafinya? Wa maru bilqwi maru kiram. Kalau lewat depannya lewat. Ini perkara sia-sia bukan maksiat. Apalagi kalau maksiat bukan lagi lewat ada dangdutan kemudian malah nongkrong kepala ikut goyang. Jangan lewat aja. Jangan noleh. Enggak usah komentar lewat. Jangankan perkara maksiat, perkara sia-sia, dia tidak mau. Ini poin ini saja kita sudah mengetahui kualitas diri kita. Betapa sering di dunia maya perkara sia-sia lewat kita klik. Iya. Enggak banyak atau enggak yang ternyata umur kita kita buang di situ. Lihat berita 15 menit komentar debat orang berkelai di situ. Entah ujungnya kayak apa, enggak ngerti 15 menit setengah jam lewat. Itu namanya kita buang umur. Karena kita tahu umur kita masih panjang. Buang buang buang buang buang. Belum maksiat. Klik film Korea. Waduh, lebih parah lagi. Ibu-ibu, film Korea maksiat atau tidak? Ibu-ibu, film Korea film maksiat atau tidak? Bapak-bapak, film Korea maksiat atau tidak? Maksiat. Kenapa maksiat? Ada aurat yang terbuka. Iya, enggak? Ada cewek-cewek lebih cantik daripada istri bapak-bapak di situ. Maksiat. Klik nonton, klik nonton. Ini menunjukkan bagaimana kualitas kita yang tidak menghargai diri sendiri, tidak menghargai umur sendiri. Bagaimana mau menjadikan hidup kita lebih bermakna sementara kita tidak menghargai umur kita? Mengharap orang hargai kita, kita sendiri tidak menghargai umur kita. Maka sifat orang beriman adalah tidak buang umurnya pada perkara yang sia-sia. Ada perkara sia-sia, maka dia tinggalkan. Karena ini satu poinnya aja kalau kita bisa berhasil, betapa banyak kita punya waktu untuk bisa beramal saleh. Tib terkait dengan hal ini, ada beberapa bentuk kiat agar kita bisa menjadikan hidup kita bermakna terkait dengan poin ini. Menghargai umur. Pertama, misalnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam melarang kita untuk kepo pada perkara yang bukan urusan kita. Kata Rasul sallallahu alaihi wasallam, "Min husni islamil mari. yakni di antara keindahan Islam seseorang adalah meninggalkan yang bukan urusannya. Perhatikan sini Rasul alaihi wasallam mengkaitkan keindahan Islam seseorang yaitu tidak ingin tahu, tidak ingin kepo dengan apa yang bukan apa urusannya. Karena kalau seorang menjalankan hadis Nabi ini tarquumala yakni meninggalkan yang bukan urusannya, ketika semua yang bukan urusannya dia tinggalkan maka dia akan fokus kepada yang merupakan urusannya. Kalau dia sudah fokus dengan apa yang merupakan urusannya, maka hidupnya menjadi bermakna. Entah urusan terkait dengan keluarganya, tentang anaknya, tentang istrinya, tentang pekerjaannya, tentang ayah ibunya, tentang kakak adiknya, masih banyak yang yang yaknina yang yang merupakan urusan kita. Masih banyak. Namun kenapa kita tidak sempat untuk mengurusi urusan kita? Karena kita sering kepo dengan yang bukan urusan urusan kita. Sekarang banyak di berita ada artis dicerai. Kita pengin tahu klik kenapa sih dicerai? Eh, kamu tahu buat apa? Kecuali kalau kau mau nikahi gak apa-apa. Wong dia aja lihat kamu mau muntah duit enggak ada. Terus ngapain cari tahu urusan dia? Bukan urusanmu. Kalau kau memang kau mau nikahi urusanmu, silakan. Kalau enggak ngapain? Terus sidang Hartono gini ikut terus beritanya. Habis waktu belum maksiat lihat asir tersebut tidak pakai jilbab. Subhanallah. Kita kita terjebak ya. Terjebak. Lihat ada berita sekarang lagi ramai pejabat dituduh berzina seorang wanita. Wanita tuh ngaku berzina. Kemudian semua orang ingin lihat wajah pezina tersebut. Iya enggak? Pengin lihat wajah pezina tersebut. Dahulu Jurais ketika ibunya marah, dia berdoa kepada Allah, "Allahum lahu wuju mumisat." Kata ibunya Jurais, "Ya Allah, jangan kau wafat, jangan kau wafatkan putraku Juris sampai kau buat dia bisa melihat wajah pezina." Karena Jur menundukkan pandangannya, tidak mau melihat wajah wanita, apalagi wajah wanita pezina. Dan bagi mereka dahulu melihat wajah wanita pezina adalah kehinaan. Makanya ibunya marah. Ibunya ingin Juraisy meninggal sebelum sebelum meninggal lihat wajah pezina. Dan akhirnya dikabulkannya doanya ibunya tersebut. Sekarang wajah pezina yang aku berzina tidak punya rasa malu. Kemudian tampil di medsos dan kita lihat dengan malah kita nilai oh kurang cantik. Ternyata ini contoh kita terjebak pada perkara-perkara yang tidak ada faedahnya. Kita buang umur kita. Seandainya kita mengamalkan hadis Nabi minus islam yakni di antara keelokan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang bukan urusannya maka hidup kita akan lebih bermakna bab. Ini hal di antara kiat agar kita bisa menjadikan hidup kita lebih ee bermakna. Tib hal-hal yang lain, kiat-kiat yang lain agar kita benar-benar bisa mengoptimalkan sekarang kita bagaimana cara mengoptimalkan umur kita yang sedikit ini sehingga semuanya bisa jadi modal untuk kita bertemu dengan Allah subhanahu wa taala. Kita ingin bertemu dengan Allah dengan amal yang terbaik ya. Kita ingin bertemu dengan Allah di hari yang terbaik. Makanya di antara doa para imam mereka mengat Allahumma jaal khairalina khawatimaha ya. Ya Allah, jadikanlah amalan terbaik kami adalah amalan di akhirnya awak. Dan jadikanlah umur kita yang terbaik, umur yang paling terakhir. Jadi menuju semakin baik, hidup semakin berkualitas. Dan jadikanlah hari terbaik kami hari bertemu dengan Engkau ya Allah. Ini doa di antara doa yang sering saya dengar di Masjid Nabawi. Allah akir ya Allah jadikanlah amal terbaik kami adalah amal yang paling terakhir. Jadi kualitas semakin naik. Jadikanlah umur kami yang terbaik umur paling terakhir. Semakin mau meninggal semakin berkualitas. Dan jadikanlah hari terbaik kami adalah hari ketika wafat, ketika bertemu dengan Engkau ya Rabb. Oleh karenanya kita bagaimana bisa optimal umur kita yang sedikit ini sehingga kita punya banyak amal untuk bertemu dengan Allah. Makanya Ali bin Abi Thalib berkata, "Alyyauma amalun bila hisaban hisabun bila amal." Sekarang silakan beramal, tidak ada yang menghisab engkau. Begitu kau meninggal tidak ada bisa amal lagi. Yang ada cuma apa? Hisab. Sekarang kita masih bisa beramal, masih bisa mewujudkan keinginan cita-cita kita. Di antara kita ada yang bercita-cita ingin hafal juz amma. Masih bisa enggak? Masih bisa enggak? Gak usah muluk-muluk hafal Quran. Tajwid aja masih belepotan. Sekarang yang logis ya, yang mungkin cita-cita ingin hafal juz amma masih mungkin enggak diwujudkan? Coba saya ingin angkat tangan. Siapa yang ingin hafal juz amma angkat tangan cepat. Mau cita-cita aja enggak berani. Coba siapa yang bercita-cita hafal juz amma? Ayo bismillah angkat tangan. takut harus punya cita-cita yang tinggi. Masih bisa seorang cita-cita pengin bangun masjid masih bisa. Mungkin masih bisa. Masih bisa seorang kita pengin hafal Quran 30 juz masih bisa. Dia masih hidup. Dia masih bisa mewujudkan. Kalau sudah meninggal selesai enggak bisa. Diba tanah mau cerita apa? Enggak ada. Harta jadi warisan. Bukan kalau ada anak kita beramal ya buat anak kita, bukan buat kita. Kalau dibuat maksiat ya repot. Oleh karena Bu masih ada umur kita berusaha optimal. Tib di antara mengoptimalkan kegiatan kita sehari-hari ya ikhwan, di antaranya yang pertama adalah meniatkan segala aktivitas duniawi dengan niat akhirat. Ini penting. Ini penting bagaimana setiap aktivitas duniawi kita bernilai pahala. Karena kalau kita lihat kehidupan kita sehari-hari, aktivitas ukhrawi yang niatnya akhirat cuma sedikit, cuma salat ke masjid, baca Quran cuma sebentar, bolak-balik ke masjid, ya cuma sedikit. Sisanya kita duniawi, jualan kek, e nyeles kek, ya cari makan kek, ngobrol sama istri, ngobrol sama anak, urusan ke sana, urusan ke sini, ke kantor kerja bolak-balik naik kendaraan. Kebanyakan duniawi. Sementara kita diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada Allah. Tidak ada tujuan lain. Kata Allah, wqtul jinna wal insaudun. "Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku. Tujuan kita hidup, setiap nafas yang keluar dari kita harusnya untuk ibadah kepada Allah." Harusnya demikian. Dan itu yang Allah perintahkan kepada Nabi. Qul katakanlah wahai Rasulullah inatiusuki wahyaya waamati lillahaibil alamin. Katakanlah salatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah subhanahu wa taala. Nah, bagaimana kita bisa mengaplikasikan ini? Bahwasanya seluruh hidup kita hanya untuk Allah Subhanahu wa taala. Tidak ada cara lain kecuali perkara-perkara duniawi kita niatkan untuk apa? Allah Subhanahu wa taala. Untuk akhirat. Kita niatkan untuk akhirat. Kalau kita niatkan untuk akhirat, maka berpahala. Dalilnya banyak. Tapi kalau kita tidak niatkan untuk akhirat hanya duniawi, tidak halal, tidak haram ya perkara mubah, tidak ada pahala. Dan kaidah mengatakan innamalu bin niat. Amalan tergantung apa? Niat. Wa inama nawa. Seorang tergantung niatnya. Kalau niatnya untuk akhirat dapat pahala. Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "La ajro illa an hisbah." Tidak ada pahala kecuali kalau diniatkan ihtisab karena Allah subhanahu wa taala. Kalau tidak diniatkan hanya sekedar duniawi. Contoh, seorang berniat duniawi untuk akhirat. Allah sebutkan dalam Al-Qur'an tentang perkara duniawi yang sangat-sangat duniawi. Yaitu ketika seorang lelaki berhubungan dengan istrinya berhubungan intim. Hendaknya ketika dia berhubungan intim niat karena Allah subhanahu wa taala. Sampai perkara demikian Allah ajarkan untuk niat karena Allah. Allah berfirman, "Nisaukum harakum harakum waqdimufusikum wattaqulahum." Kata Allah subhanahu wa taala, "Istri-istri kalian adalah sawah ladang baik kalian." Itu datangi istri-istri kalian. Gaulah istri kalian kapan saja kalian mau dengan cara apa sih yang kalian maui. Silakan itu datangi istri-istri. Kemudian kata Allah setelah itu waqadimuusikum persembahkanlah untuk diri kalian pahala. Baca perkataan ahli tafsir. Mereka bahas pahala apa yang bisa didapatkan di balik ini. Menggauli istri mereka bahas. Ternyata ketika menggauli istri ada pahala. Bagaimana caranya? Dengan niat. Masalah niat. Jika seorang menggauli istrinya niatnya untuk menundukkan pandangannya agar tidak melihat yang haram dapat pahala. Jika dia menggauli istrinya dengan niat untuk melatakan syahwatnya di tempat yang halal, tidak dia tempatkan di tempat yang haram, maka dia dapat pahala. Jika dia menggauli istrinya dengan niat untuk menundukkan pandangan istrinya, untuk menyenangkan istrinya, maka dia dapat pahala. Jika dia niat menggauli istrinya untuk menambah cinta kasih antara dia dengan istrinya dan itu tuntutan pernikahan, maka dia dapat pahala. Jika dia gauli istrinya agar punya anak saleh, maka dia mendapatkan apa? Pahala. Ternyata menggauli istri saja perkara duniawi kalau niat karena Allah dapat pahala. Bahkan banyak niat yang dia pasang di situ. Dapat pahala. Makanya Rasul wasallam kuatkan hal ini. Kata Rasul wasallam, "Kalian menggauli istri kalian, kalian sedang bersedekah." Maka sahabat bertanya, "Ya Rasulullah wahu ajrun, ya Rasulullah, seorang menggauli istrinya dapat pahala, meletakkan syahwatnya di tempat yang halal dapat pahala." Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Bagaimana w harami alaihi wizrun?" Bukankah kalau dia meletakkan syahwatnya di tempat yang haram, dia berzina dapat dosa? Kata sahabat, "Tentu ya Rasulullah." Maka sebaliknya kalau dia letakkan di tempat yang halal dia dapat apa? Pahala. Tapi harus ada niat. Kalau sekedar datangi istri tanpa niat, non pahala. Non pahala. Ini perkara yang murni duniawi. Tinggal pasang diat. Contoh lagi, Rasul Sallahu Alaihi Wasallam sebutkan tentang menyuapi istri. Kata Nabi Sallallahu Wasam tidaklah kau berinu mencari wajah Allah itu niatnya karena Allah infak apun yang kau keluarkan, duit apun yang kau keluarkan, kau mencari wajah Allah maka kau dapat pahala sampai suapan yang kau suapkan ke mulut istrimu. Subhanallah. Seorang suami lagi nyuapin istri, niatnya karena Allah, dapat pahala. Padahal kata Nawawi rahimahullah atau kata Ibnu Hajar, kondisi seorang sedang nyuapin istri itu benar-benar duniawi. Hampir tidak terbetik tentang akhirat lagi nyuapin istri. Kita kalau nyuapin istri lagi mesra atau tidak? Kayak bapak-bapak, saya tanya bapak-bapak kalau lagi nyuapin istri lagi mesra atau tidak mesra? Kapan terakhir nyuapin istri coba? Hm. 20 tahun yang lalu. Kapan terakhir nyapin istri Bapak-bapak? Pas masuk angin. Ketika masih bulan madu, Ustaz, awal-awal nikah juapin istri tiap hari. Sekarang bulan bawang sudah enggak ada lagi. Tib. Artinya seorang nyapin istri lagi benar-benar duniawi, lagi mesra-mesranya. Ketika dia selipkan niatnya karena Allah, dapat pahala. Subhanallah. Paham? Jangan nyuapin. Berhubungan pun dapat. pahala. Nah, ini penting. Kita niatkan segala aktivitas duniawi kita karena Allah. Mulai sekarang kita rubah. Kalau kita mau kerja, keluar naik motor, bismillah. Tinggal sebentar aja, Pak. Karena Allah bismillah. Saya cari nafkah buat apa? Anak istri saya jualan. Kalau dapat untung saya mau kasih tetangga, saya mau kasih orang tua. Niatnya untuk menyenangkan orang tua karena Allah subhanahu wa taala. Saya mau belikan emas buat istri. Saya mau cicil. Bulan ini saya belikan anting sebelah kanan, besok anting sebelah kiri. untuk menyenangkan istri karena Allah subhanahu dapat pahala. Kalau sekedar nyenangin istri biar enggak diomelin tidak dapat pahala. Kalau enggak ada karena Allahnya enggak ada pahala. Kulluaiin haliun wajhah. Segala perkara sirna kecuali wajah Allah. Sebagian ahli tafsir menafsarkan ma bihi wajhullah kecuali yang diinginkan karena Allah yaitu yang ikhlas karena Allah. Semua yang tidak karena Allah sirna tidak ada pahalanya. Kulain haliquun ila wajah. Semua yang dilakukan tidak karena Allah tidak ada sisanya. Tapi semua yang dikerjakan karena Allah akan ada sisanya di akhirat. Makanya Bapak-bapak kalau nyuapin karena Allah nanti pulang. Bu, mau saya suapin? Ayo. Ayo. Lamb mana? Bismillah. Karena Allah. Dapat pahala enggak? Dapat pahala. Ketawa-ketiw dapat pahala. Senyum-senyum dapat sama istri dapat pahala. Bayangkan betapa indahnya Islam. Bab, di antara bentuk ini praktik dalam keseharian agar duniawi kita bernilai pahala adalah kita karena Allah. Jangan lupa kalau mau tidur karena Allah. Bagi orang yang biasa salat malam sering tidurnya karena Allah. Bagi orang yang terbiasa salat malam semua tidurnya bernilai saya tidur cepat supaya bisa bangun malam. Berarti dia tidur karena siapa? Karena Allah. supaya saya bisa salat malam. Tapi kalau dia tidur pengin nonton bola enggak dapat pahala. Faidah kita salat kita bangun jam . Jam .30 misalnya salat terus anak kita malam kira-kira punya dalam mereka pasti punya pengaruh. Istri kita terjaga. Abi mana ini? Ih, semalam insyaallah tidur lagi. Punya pengaruh enggak dalam hati istri kita? Punya pengaruh. Coba anak kita, kita bangun malam terus bola anak kita bangun. Apa ini Abi gol-gol malam-malam? Oleh karenanya ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengutus Abu Musa alas dengan Muad bin Jabal radhiallahu anhuma ke negeri Yaman untuk berdakwah kemudian mereka berpisah arah di Yaman maka mereka jalan bareng terjadilah obrolan Bukhari Abu Musa alasari ngobrol sama Muad bin Jabal Kalau Quran luar biasa semangatnya Abu Salad. Apa kata Muad bin Jabal? Kata beliau, ya, beliau baca Quran juga. Kata kata beliau, inni lahtasibu. Ya, dia bilang, "Saya baca dan saya saya salat malam dan saya tidur. Saya salat malam dan saya tidur." Kata Muad bin Jabal, "Wa inni aasibu naumati kama ahbuati." Kata Muad bin Jabal, "Sungguh saya berharap dapat pahala karena tidurku sebagaimana saya berharap dapat pahala karena salat malamku." Subhanallah. Dia niatkan tidurnya karena Allah. Sekarang sudah berapa sering kita tidur enggak dapat pahala? Pernahkah terbetik sebelum kita tidur? Tidur supaya bisa bangun subuh? Jarang. Tidur asal ngantuk tidur. Apalagi sambil main HP tidur. Enggak ada niat sama sekali. Kalau niat bangun lanjutin WA. Niatnya segera bangun untuk lanjutin apa? WA. Tapi kalau dia niat, Allah maha tahu isi hati kita. Bidur Allah tahu isi masjid. Mau tidur niat supaya bisa bangun subuh. Mau tidur supaya bisa salat malam. Tidur kita 4 jam, 5 jam ngorok dapat pahala. ngelindur dapat pahala. Subhanallah. Ini di antara waktu. Sementara kita dalam keseharian kita, kita tidur 8 jam. Kata dokter sehatnya berapa? 8 jam. 8 jam sepertiga umur. Kalau umur kita 60 kemudian kita tewas, kita sudah tidur 20 tahun. Kalau 20 tahun pergi sia-sia tidak ada pahala, rugi. Coba 20 tahun ini ternyata pahalanya semuanya. Kita ketemu Allah, ternyata tidur pun dapat pahala. Optimal hidup kita. [Musik] Dan ini di antara optimal niatkan perkara duniawi karena Allah Subhanahu wa taala. Di antara perkara duniawi yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari adalah olahraga karena Allah subhanahu wa taala. Kita butuh sehat enggak? Ya, karena di antara modal kita bisa beramal saleh dengan aktivitas prima, sehat. Rasul wasallam bersabda. Dua nikmat yang banyak manusia tertipu tidak digunakan optimal tidak dimanfaatkan, disia-siakan adalah kesehatan dan waktu luar. Kita boleh olahraga supaya apa? Supaya sehat. Sehat. Kalau umrah kuat jalan. Kalau ada bakti sosial kuat kerja. Ya, kalau kerja bisa kuat ya, bisa bangun salat malam. Tapi kalau pegal ini salat malam kan susah, pengin tidur lagi. Kenapa? Lagi kolesterol naik, lagi apa namanya? Asam murat, lagi kambu. Ya susah mau salat malam. Tapi kalau sehat, salat malam enak. Ah, kita niatkan orang olahraga itu buang waktu enggak? Buang waktu. Tapi kalau kita karena olahraga, karena Allah Subhanahu wa taala, maka olahraga kita dapat pahala. Kita main tenis dapat pahala, kita tenis meja dapat pahala. Kita main sepeda sama teman-teman niatkan supaya sehat, supaya saya beribadah dapat pahala. Kita fitness, niat karena Allah dapat pahala. Tapi kalau enggak niat karena Allah, cuma senang-senang tidak dapat pahala. Apalagi niatnya maksiat, fitness, bikin body kekar, kemudian pakai baju ketat, pamer sama ibu-ibu. Hmm. Pamer ibu-ibu. Uh, masyaallah. Kalau sudah begitu penginnya bajunya ketat-ketat. Tujuannya coba baju ketat apa? Coba tanya yang pakai baju kita tujuannya apa? Kutat apa? Karena Allah. Tanya sama yang pakai baju kita. Karena Allah gitu untuk dia pamerkan hasil olahraganya. Ya, kalau sama laki-laki okelah. Tapi yang lihat kadang ibu-ibu, terkadang nenek-nenek juga lihat. Sehingga akhirnya olahraga dia tidak ada faedahnya. Dari sisi pahala enggak ada. Tapi kalau dia niatkan karena Allah subhanahu wa taala, lihat Nabi sallallahu alaihi wasallam ajak olahraga istrinya karena Allah. Untuk menyenangkan istrinya karena Allah. Kata Aisyah radhiallahu taala anha, "Aku bersafar bersama Nabi sallallahu alaihi wasallam di tengah perjalanan. Tiba-tiba Nabi berkata kepada para sahabat, "Taqaddamu." Kalian lari kalian pergi di luar depat. Setelah mereka sudah pergi, maka Rasulullah berkata, "Ya Aisy taali usabiqi, mari kita lomba lari." Rasulullah lari dengan Aisyah. Subhanallah. Kearga untuk menyenangkan apa istrinya. Bahkan kita juga bisa meniatkan refreshing karena Allah subhanahu wa taala. K gak mungkin seorang ibadah terus. Apa kata Ibnu Abbas kalau tidak salah? Nabi wasam Rasulullah sahu al wasallam dulu wejangannya tidak setiap saat karena khawatir kami bosan maka Rasulullah selah-selah ada refreshing ada jeda di antara nasihat satu dengan satu agar tidak bosan Rasulullah pernah berkata kepada Handzala walakin ya Handzala saatan saatan wahai Handzala ada waktu istirahat ada waktu untuk kajian ketika kita ngajak anak istri anak sudah pondok sekian bulan sampai pulang kita suruh murajahah gitu dia stres. Emang Abi juga dulu begini katanya enggak udah aja pulang aja jalan-jalan supaya dia semangat lagi apa muraja Quran, belajar agama lagi. Kita niatkan ajar dia, agak dia ajak dia jalan-jalan karena Allah. Duit kita keluar dapat pahala harus karena Allah. Ini maksudnya di antara membuat kita optimal umur kita. Niatkan semua kegiatan duniawi kita karena Allah. Antum tahu-tahu kangen ketemu teman lama, telepon niatkan karena Allah untuk menyenangkan dia. Bosnya kita masih menyambung tali ukhuwah. Eh, kabar ente gimana sekarang? Kerja apa sekarang? Istri sudah berapa sekarang? Eh, salah. Gimana? Keluarga ngobrol ketawa ketiwi. Niat karena menyenangkan hatinya. Wal kalimatu thyibatu sedekah. Kata-kata baik adalah apa? Sedekah. Nah, mulai sekarang harus kita hadirkan hal ini sehingga semua aktivitas kita semuanya bernilai pahala tayib. Di antara kiat agar hidup kita lebih optimal, lebih bermakna. Berapa menit lagi azan? [Musik] Masih lama ya. Azan suhu masih lama. [Musik] Adalah kita berusaha zuhud dalam segala aktivitas kita. Zuhud. Apa itu zuhud? Kata Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala, tarqu ma yanfauka fil akhirah. Meninggalkan suatu yang tidak ada manfaatnya di akhirat itu namanya zuhud. Maka ini cara kita untuk mengkontrol segala kegiatan kita duniawi. Ada faedahnya enggak? di akhirat kalau ada faedah kita kerjakan, kalau enggak ada enggak usah kita kerjakan. Zuhud. Zuhud itu bukan berarti baju harus jelek-jelek, enggak ya. Bukan berarti harus kurus kerempeng. Enggak. Bukan berarti harus sepeda butut. Enggak. Zuhud maknanya tarqu ma la yanfau fil akhirah. Meninggalkan suatu tidak bermanfaat. Kalau kita butuh suatu yang misalnya laptop yang bagus untuk kegiatan akhirat, enggak ada masalah. Beli yang bagus daripada yang murah kemudian ngada terus. Ya, bikin buang-buang waktu. Kalau kita butuh mobil yang bagus supaya safar kita nyaman, bisa sampai langsung bisa beraktivitas, silakan, enggak ada masalah. Selama itu bermanfaat, lakukan. Selama tidak bermanfaat untuk akhirat, tinggalkan. Ini kita mengontrol diri kita. Nah, sekarang setiap aktivitas kita evaluasi kembali. Saya masuk di grup ini, ada enggak manfaat saya di akhirat? Kalau manfaat, lanjutkan. Enggak ada manfaat, pergi left. Mulai satu-satu. Kita punya di apa? Di laki-laki biasanya di HP-nya ada 20 grup. [Musik] Grup ini grup anu, grup ini, grup anu, grup ini. Yang paling ramai grup poligami. Padahal isinya penakut semua. Bab enggak ada faedahnya hanya cuma ketawa keti enggak ada faedah keluar. Ada faedahnya di akhirat enggak? Enggak ada. Minta izin, mohon maaf saya ada kesibukan mudahan kita ketemu di surga kelak. Amin. Left kalau pengin waktu kita optimal. Punya grup dengan teman-teman lama ternyata situ, wah kok saya kok ngobrol sama istri orang, istri teman, cewek lama, cinta lama bersemi kembali kok. Waduh live aja maksiat. Tinggalkan semua yang tidak ada faedahnya di akhirat tinggalkan. Mulai kita latihan seperti itu. Tayib. Saya mau beli motor 2 miliar harganya. Ada enggak faedah di akhirat nih? Motor 2 miliar greng greng greng. Pakai jaket keren. Ada faedahnya akhirat? Pikir aja sendiri. Ada akhirat ada ada faedah siap dihisab. 2 miliar beli motor beli. Saya dukung kalau ada faedahnya di akhirat. Kalau enggak ada minggir. Minggir. Boleh kita evaluasi. Jangan mikir, jangan mikir apa kata orang. Mikir apa kata Allah tentang kita. Mulai sekarang kita evaluasi. Ibu-ibu mau beli gak tahu mau beli ee baju-baju mahal, baju sekian juta, tas sekian juta. Mikir, ada faedah enggak ya? Saya keluarin duit sekian juta beli ini. Ada faedahnya beli. Enggak ada faedahnya ngapain beli? Ada seorang ibu tanya saya di Jakarta, "Ustadz, bolehkah saya sudah sedekah, sudah zakat? Saya sudah haji, sudah umrah, semua kebaikan sudah saya lakukan. Boleh enggak saya beli tas harganya Rp600 juta? Itu tas luar biasa. Mungkin bisa nyimpan mobil dalam situ. R juta. Tib. Ada enggak faedahnya kalau dihisab siap enggak dihisab di akhir? Ternyata ketika saya ke waktu Qadarullah pergi ke Paris, ada orang jual tas 1,5 miliar. Lebih bahlul daripada yang tadi. Tas 1,5 miliar. Adakah yang beli? banyak ngantri orang beli. Subhanallah. Siapkah? Apakah kita keluarkan uang pada hal tersebut? Ada faedahnya di akhirat? Kalau ada keluarin aja enggak ada masalah. Kalau enggak ada, siap dihisab. Ini untuk kita mengontrol diri. Pernah istri saya minta belikan tas, Di. Belikan tas. Tas mana? Ini harganya cukup. Lumayan. Saya bilang, "Umi siap dihisab." Abi itu kalau enggak mau beli, bilang aja. Tapi kalau dia bilang siap, repot juga. Kalau siap saya enggak siap bilang. Kalau siap saya enggak siap duitnya dari saya. Masalahnya habis waktu ya qadarullah. Ya, sampai di sini saja. Intinya ikhwan dan akhwat dirahmati Allah subhanahu wa taala, kita mulai evaluasi diri kita agar hidup kita lebih bermakna. Hati-hati umur jangan dibuang sembarangan. Niatkan seluruh perkara duniawi karena apa? Allah Subhanahu wa taala. Yang tidak manfaat kita tinggalkan. Mulai kita menata diri, kita masih banyak melihat yang tidak manfaat, dengar yang tidak manfaat, kegiatan tidak manfaat, buang umur, buang waktu, buang energi, buang pikiran, tidak ada manfaatnya. Bahkan sebagian ulama mengharamkan main catur. Sebagian ulama kenapa kata mereka? Karena catur itu membuang pikiran tidak ada faedahnya. Berpikir keras gimana caranya enggak ada faedahnya. Pikir keras ada faedahnya. Oke, ini pikir pikir pikir duduk 2 jam 3 jam 5 jam cuma tung tang tung tang tung tang tung. Mending kalau dia keluar kemudian jagoan, jago strategi. Enggak juga. Emang ada ahli cator jago strategi? Ya enggak juga. Terus apa faedahnya dia mengerahkan otak untuk berpikir sebag lama mengharamkan? Demikian saja kajian kita. Demikian saja kajian kita. Wallahuam subhanakamikum warahmatullahi wabarakatuh.