10 Konsep Rezeki - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
E7sbHeSiHZk • 2025-07-22
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah.
Alhamdulillahi alaniukrulahu alain
asadu alla ilahaillallah wahdahuikalahu
[Musik]
asadu anna muhammadan abduhuasul ridwih
allahumma sholli alaihi waa alihi wa
ashabihi wa ikhwani.
Hadirin dan hadirat yang dirahmati oleh
Allah subhanahu wa taala.
Pada kesempatan kali ini kita akan bahas
tentang 10
konsep terkait rezeki. Hal ini karena
rezeki adalah
perkara yang
menjadi pusat perhatian hampir seluruh
kita ya.
Karena
semua membayangkan jika seorang membeli
rezeki yang banyak maka semua urusan
akan dimudahkan, kebahagiaan akan dia
raih, semua cita-cita bisa dia wujudkan.
Maka orang-orang pada sibuk ya
mencari rezeki.
Namun kita ketahui kenyataannya tidak
semua orang mendapatkan rezeki yang
banyak.
Ada yang dikasih banyak, ada yang
dikasih sedikit. Dan tidak dan sangat
banyak orang-orang ketika mendapatkan
rezeki yang sedikit kemudian dia selalu
bersedih hati bahkan di antara mereka
ada yang stres ya.
Maka perlu bagi kita untuk memahami
konsep-konsep rezeki menurut syariat
agar kita tidak salah paham tentang
rezeki dan agar kita bisa mencari rezeki
dengan cara yang baik serta kita bisa
bersabar tatkala rezeki disempitkan di
dunia.
Karena sebagian orang menyangka namanya
rezeki cuma misalnya cuma rezeki berupa
rezeki materi. Padahal di sana ada
rezeki non materi bagaimana akan kita
bahas nanti.
Tib ikhwan dan akhwat yang dirahmati
Allah subhanahu wa taala. Konsep yang
pertama
bahwasanya
Allah adalah maha pemberi rezeki. Rezeki
semuanya dari siapa? Dari Allah
Subhanahu wa taala. Dan Allah Subhanahu
wa taala telah berfirman, "Innallaha
huar razzaqu dzul quwatil matin."
Sesungguhnya dialah Allah Subhanahu wa
taala sang maha pemberi rezeki dan zul
quwah sang pemilik kekuatan.
Dalam ayat ini, dalam surat azzariyat
ini, Allah menggabungkan antara maha
pemberi rezeki dengan zulquwah, sang
pemilik kekuatan. Itu para ulama
mengatakan di antara faedahnya
digabungkan antara pemberi rezeki dengan
Zulquah sang pemilik kekuatan. Maksudnya
Allah maha kuat ketika memberi rezeki.
Di antara bukti bahwasanya Allah maha
kuat dalam memberi rezeki yang pertama
bahwasanya yang ditanggung rezekinya
oleh Allah sangatlah banyak. Manusia
saja miliaran.
Hewan-hewan mungkin entah triliunan.
Jangan lupa ada golongan jin juga yang
ditanggung rezekinya oleh Allah
subhanahu wa taala.
Oleh karenanya makhluk yang ditanggung
rezekinya oleh Allah sangat sangat
banyak.
Dan siapa yang mampu makhluk bisa
manusia yang bisa menampung rezeki
sebanyak itu. Seorang misalnya dia
menampung menanggung rezeki 100 orang
maka dia mungkin sudah kewalahan. Ya,
bagaimana lagi Allah maha kaya, maha
pemberi rezeki yang menanggung
triliunan makhluk.
Dan Allah kasih rezeki kepada mereka.
Maka menunjukkan Allah Subhanahu wa
taala zul quwwah. Maha kuat dalam
memberi rezeki. Ini pertama. Yang kedua,
di antara yang menakjubkan bahwasanya
Allah mampu memberi rezeki kepada mereka
dalam satu waktu sekaligus. dalam waktu
sewaktu sekaligus. Dalam satu waktu
miliaran manusia Allah kasih rezeki.
Dalam satu waktu triliunan makhluk Allah
kasih rezeki. Sekaligus manusia tidak
akan mampu melakukan demikian. Kalau
mereka memberi rezeki pasti mereka
bertahap atau sebagian kemudian tahap
berikutnya. Tahap berikutnya. Adapun
Allah Subhanahu wa taala ketika memberi
rezeki langsung kepada triliunan makhluk
sekaligus. Dan ini menunjukkan Allah
Zulwah, maha kuat dalam memberi rezeki.
Perkara yang ketiga yang menunjukkan
Allah Subhanahu wa taala kuat dalam
memberi rezeki sehingga digabungkan
innallah hu razzaqu dzul quwwah. Dialah
sang pemberi rezeki, sang pemilik
kekuatan. Karena Allah Subhanahu wa
taala memberi rezeki ini sudah mungkin
entah jutaan tahun entah sudah sangat
lama Allah sudah kasih rezeki tersebut
dan tidak habis-habis menunjukkan dia
kuat dalam memberi rezeki.
Makanya Allah mengatakan, "Aroitum
mundu ma khalaqas samawati wal ard."
Anfaqo mundu khalaq samawati. Bagaimana
menurut kalian? Sudah berapa banyak yang
Allah infakkan kepada makhluk-makhluknya
sejak Allah menciptakan langit dan bumi?
Sudah berapa banyak kekayaan yang Allah
berikan kepada makhluknya sejak saat
ituan? Ini Allah zul quwwah maha kuat
dalam memberi rezeki. Maka kita harus
yakin bahwasanya dialah Allah sang maha
pemberi rezeki. Dan Allah Subhanahu wa
taala sangat mudah memberi rezeki dan
tidak susah baginya untuk memberi rezeki
kepada makhluknya. Wala yauduhu
hifzuhuma. Tidak ada susah bagi Allah
untuk mengurusi langit dan bumi dan apa
yang di antara keduanya isi langit dan
isi bumi semua tidak susah bagi Allah
untuk mengurusnya. Ini konsep yang
pertama.
Konsep yang kedua,
ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah
subhanahu wa taala bahwasanya aset Allah
tanpa batas. Aset Allah tanpa batas. Hal
ini kenapa? Karena untuk rezeki Allah
bisa ciptakan tinggal kun fayakun.
Berbeda dengan manusia yang
sekaya-kayanya dia rezekinya, asetnya
pasti terbatas. Manusia sekayap pun
asetnya pasti terbatas. Adapun Allah
Subhanahu wa taala asetnya tanpa batas.
Makanya dalam hadis Allah mengatakan,
"Ya ibadiakumakum
yaumika."
Kata Allah Subhanahu wa taala, "Wahai
hamba-hambaku, seandainya kalian
berkumpul dari awal sampai akhir, jin
dan manusia, sejak Nabi Adam Alaih Salam
sampai manusia terakhir nanti menjelang
hari kiamat, entah berapa miliar, entah
berapa triliun, dikumpulkan semuanya."
Kemudian juga
jin, entah jin yang pertama siapa sampai
jin yang terakhir semuanya berkumpul
satu dataran. Kemudian semuanya minta
dikasih misalnya satu orang 5 jam minta
kira-kira minta apa ya? Minta banyak
sekali. Kita kalau dikasih kesempatan
misalnya minta 5 menit pasti dikabulkan
sudah minta macam-macam. Gimana lagi
kalau seluruhnya minta tanpa batasan?
Minta apa saja kemudian aku kabulkan
seluruh permohonan kalian tidak
mengurangi
sedikit pun dari asetku. Ya. Kecuali
seperti jarum yang dimasukkan di air
kemudian diangkat. Apa yang berkurang?
Tidak ada. ini masukin jarum ke lautan
kemudian kita angkat ada satu tetes di
tertinggal di jarum tersebut kemudian
jatuh kembali ke lautan ini menunjukkan
mubalagah bahwasanya tidak ada terisa
sedikit pun tidak berkurang sedikit pun
karena Allah maha maha kaya aset Allah
tanpa batas karena Allah kalau ingin
suatu tinggal bilang apa kun fayakun
innama amru arquu kun fayakun jika Allah
berkehendak sesuatu Allah hanya berkata
Jadi, maka jadilah.
Oleh karenanya dalam hadis tadi yang
kita sebutkan Allah mengatakan,
"Yadullahi sungguhnya tangan Allah penuh
dengan kekayaan."
Ya, yadullahi laid nafaqah. Apapun yang
Allah berikan kepada makhluk tidak
mengurangi kekayaannya sedikit pun. Laid
nafaqah. Apapun yang Allah keluarkan
tidak mengurangi asetnya. Tangan Allah
penuh dengan kekayaan. Sahaul laili wa
nahar yang Allah adalah maha dermawan
siang dan malam tidak berhenti memberi
rezeki kepada hamb-Nya. Kula yaumin hua
fian. Setiap hari Allah dalam kesibukan
mengurusi hamba-hambnya, mengurusi
makhluk-makhluknya. Bukan cuma kita yang
diurusi. Ada jin diurusin, ada
hewan-hewan diurusin, ada langit bumi
diurusin oleh Allah subhanahu wa taala
dan semuanya mudah bagi Allah subhanahu
wa taala. Sahaulili wan nahar. Dermawan
setiap siang, setiap hari selalu
dermawan. Kemudian Allah berkata, kata
Nabi sallallahu alaihi wasallam,
anfqamawati
walard.
Ya, bagaimana menurut kalian? Sudah
berapa banyak yang Allah infakkan sejak
Allah menciptakan langit dan bumi?
Sungguhnya tidak mengurangi sedikit pun
asetnya. Jadi, Allah Maha Kaya. Makanya
kalau kita minta, mintalah kepada Allah.
Karena Allah tidak tidak susah bagi
Allah untuk mengabulkan permohonan kita.
Tidak susah bagi Allah. Dan mudah bagi
Allah. Tinggal kun fayakun.
Beda dengan manusia. Manusia asetnya
terbatas. Sekaya apapun kalau kita minta
hari pertama mungkin dia kasih tambahan.
Minta Rp100.000 dia kasih R1 juta. Hari
kedua dia kasih Rp100.000 saya
permintaan hari ketiga dia kasih tapi
bermuka masam. Hari keempat kau diusir
dari rumah. Manusia seperti meskipun
asetnya banyak dan manusia terusik
ketika ada orang datang ingin
mengorek-ngorek aset dia, dia tidak mau.
Itu sifat manusia.
Ya,
makanya
ee
kalau seorang semakin minta kepada
Allah, justru Allah semakin senang. Ya,
dikatakan oleh seorang penyair, "La
tasalanna bunai adam hajatan
wasalilladzi abwabuhu lagu." Jangan
sekali-sekali minta keperluan kepada
anak Adam, tapi mintalah kepada Allah
yang pintunya tidak tertutup. Allahu
Allahuqtahu
w Adamaltahu
Allah murka kalau kau tidak minta kepada
Allah subhanahu wa taala. Adapun anak
Adam kalau kau minta kepadanya dia dia
marah.
Ini konsep kedua bahwasanya aset Allah
tanpa batas. Kenapa mudah kalau dia
ingin satu tinggal bilang apa? Kun
fayakun. Apa susahnya Allah menciptakan
bumi berlipat, berkali-kali lipatnya.
Allah ciptakan surga nanti yang luar
biasa.
Tib. Berikutnya yang perlu kita pahami
jika
aset Allah tanpa batas, kenapa kita
tidak semua dijadikan kaya, Ikhwan?
Kenapa kita semua tidak jadi tok? Apa
tok ya orang kaya sini?
Hah?
Ya, bos. Apa namanya? Tauke.
Tauke bukan tauke
tauke ya. Tauke itu binatang ya saya
lupa ya.
Kenapa kita tidak jik semua ya? Kenapa
tidak semuanya naik mobil Alpard, naik
mobil mewah-mewah? Kenapa? Kenapa ada
yang naik mobil Alpard, ada yang jalan
kaki, ada yang mobilnya belum lunas, ada
yang motor butut, ada yang naik sepeda,
sepedanya rusak di jalan. Kenapa
beda-beda?
Karena kalau Allah mau kasih K semua
mudah, tapi Allah punya hikmah di balik
ini semua.
Makanya Allah sebutkan dalam Al-Qur'an
dua hikmah yang Allah isyaratkan tentu
lebih daripada ini. Di antaranya yang
Allah isyaratkan Al-Qur'an Allah
berfirman, "Watahi
ardaki
ma yasya."
Seandainya Allah bentangkan rezeki
kepada hamb hamba-hambanya, Allah kasih
banyak-banyaknya labag fil, maka mereka
melampaui batas. Manusia tidak kuat jika
dikasih kaya.
Allah berfirman, "Kalla innal insana."
Sungguh manusia itu benar-benar akan
melampaui batas tatkala dia merasa
dirinya sudah kaya. Orang kalau sudah
kaya, sombong dan angkuh, kita tidak
bisa mengontrol diri kita. Bayangkan
kalau antum dulunya
naik sepeda, sepedanya butut, ya antum
insyaallah tawadu, ya. Terpaksa tawadu,
ya.
Tapi kalau antum naik mobil misalnya
harganya R miliar susah tawadu, susah.
Apalagi antum naik mobil sambil kacanya
dibuka, waduh susah untuk apa? Tawad.
Manusia berat. Manusia tidak bisa
mengontrol hatinya. Dibilang saya kaya
tapi saya tawadu susah. Maka dia
mentang-mentang maka dia melampaui
batas. Itu sifat manusia. Allah
mengatakan kalau Allah bentangkan rezeki
kepada mereka labag fil ard maka mereka
akan melampaui batas. Wakin yunazzilu
biqadarim ma yasya. Tapi Allah turunkan
dengan kadar yang Allah kehendaki.
Terserah Allah Subhanahu wa taala.
Sesungguhnya setiap perkara kami punya
asetnya. Apapun Allah punya mau emas,
mau perak, mau harta, apapun Allah
punya. W nunaziluhu illa biqadar maklum.
Namun kami tidak turunkan kecuali dengan
kadar yang Allah kehendaki. Jadi di
antara hikmah pertama,
Allah tidak jadikan semua orang kaya.
Karena kekayaan menjadikan orang bisa
melampaui batas ini kenyataan yang
terjadi. Ada orang miskin tiba-tiba
kaya, sombong, angku, pamer. Disebut
istilahnya OKB, orang kaya baru. Ada
enggak di sini OKB? Orang kaya baru baru
punya sedikit-sedikit sudah bikin status
terus baru baru kaya. Ya orang biasanya
kalau sudah lama kaya tidak begitu
udik-udik, baru pamer-pamer norak itu
biasanya OKB.
Orang kaya apa? Baru tidak bisa
mengontrol dirinya.
Hikmah yang kedua yang di antaranya
Allah isyaratkan
bahwasanya dunia ini adalah dunia tempat
ujian. Dan Allah Subhanahu wa taala
menjalankan roda kehidupan
dengan sistem yang ada itu ada yang kaya
yang miskin. Kalau semua kaya enggak
akan jalan kehidupan di atas muka bumi
ini. Kalau semuanya miskin juga tidak
akan berjalan. Siapa yang memerintah?
Siapa diperintah?
Makanya ada yang ditakdirkan sebagai si
kaya dan ada yang ditakdirkan sebagai si
miskin. Kata Allah subhanahu wa taala,
yaqsimun rahmatbik nahnu qosamna
bainahumisatahum hayatid dunya warna
baahum fauq baat liyatt baum ba'ri.
Kata Allah Subhanahu wa taala,
"Kami yang mengatur di antara mereka
kehidupan mereka, rezeki mereka, dan
kami jadikan sebagian mereka lebih
tinggi daripada sebagian yang lain dalam
urusan rezeki." Buat apa? Liyat ba'duhum
ba'dukriya. Agar sebagian yang lain,
sebagian bisa menggunakan sebagian yang
lain. Ada yang memerintah, ada yang di
diperintah. Masing-masing ada ujiannya
ya.
Ada yang kaya dengan ujiannya, yang
miskin juga dengan ujiannya. Sehingga
kalau orang bertanya, "Kenapa kita tidak
semua kaya?" Enggak. Karena dunia ini
ujian. Nanti kalau mau kaya semuanya di
surga
semua kaya. Allah ciptakan pelayanan,
pelayan-pelayan Allah apapun diminta
akan dikabulkan. Itu di alam lain.
Sementara di dunia ini Allah ciptakan
untuk apa? Ibtila. Untuk menguji kita.
Untuk menguji kita. Makanya Nabi
mengatakan,
"Inunyawatun."
"Sesungguhnya dunia itu manis dan
hijau."Allah mustakum.
Dan Allah menjadikan kalian berkuasa di
atas muka bumi untuk melihat bagaimana
kalian beramal. Itu untuk diuji. Untuk
diuji.
Tib. Ini konsep yang ke berapa?
Yang kedua.
Kita lanjut konsep yang ketiga,
Ikhwan. Bahwasanya rezeki itu bukan cuma
di dunia saja, ya.
Rezeki itu ada di dunia, di alam
barzakh, dan di alam akhirat setelah
hari kiamat.
Siapa yang membatasi rezeki cuma di
dunia saja dan dia kebetulan di
ditakdirkan rezekinya sedikit, maka dia
akan merasa sempit. Tapi kalau dia tahu
rezeki itu ada di alam barzakh, ada juga
rezeki. Di akhirat juga ada rezeki. Maka
dia mencari rezeki dari rezeki dunia dia
cari, rezeki alam barsah dia cari,
rezeki akhirat dia cari. Dan seharusnya
seorang lebih fokus di rezeki akhirat
karena rezeki akhirat akan digunakan
selama-lamanya.
Oleh karenanya jangan batasi rezeki
hanya di dunia saja. Allah menamakan di
dunia rezeki, tetapi Allah menamakan di
alam barzakh juga apa? rezeki seperti
firman Allah Subhanahu wa taalaillahi
amwatan ahya apa
jangan engkau menyangka bahwasanya
orang-orang yang terbunuh di jalan Allah
mati syahid mereka telah mati bal ahyaun
bahkan mereka hidup yaitu di alam
barzakhzaquun
mereka dapat rezeki dari Allah subhanahu
wa ternyata di alam berikutnya ada
rezeki kita dunia paling 60 70 tahun
saya kemarin Waktu ke Madinah dipanggil
sama guru saya. Sudah lama saya enggak
ketemu. 20 puluhan tahun saya enggak
ketemu. Waktu saya masih sybah. Terakhir
saya ketemu sudah lama. Dia panggil
saya. Eh, saya salamin dia. Kemudian
kita ngobrol. Dia tanya, "Firanda,
kenapa orang Indonesia umur 60-an sudah
pada mati?" Kita kalau di Arab 80-an
baru mati. Saya bilang, "Mungkin
kebanyakan makan gorengan, Syekh."
Jadi, kita ini nikmat di dunia tidak
lama. 60 70 sudah dipanggil oleh Allah
Subhanahu wa taala. Karena kita hobi
makan apa?
Gorengan. harga mati gorengan repot.
Jadi kita harus sadar bahwasanya rezeki
yang akan kita nikmati dunia ini tidak
lama. Tidak lama. 60 70 tahun jarang
yang lewat 70 tahun gak lama.
Makanya semua kenikmatan dunia Allah
namakan mata.
Ya adunya kulluha mata. Dunia seluruhnya
adalah mata. Mataun qolil. Mata itu apa?
Suatu kesenangan yang expired yang akan
habis.
Maka disebut mata dipergunakan kemudian
selesai.
Ada enggak yang dipergunakan tidak
selesai? Semua mobil dipakai selesai,
perabotan dipakai selesai, rumah dipakai
rusak. Kalau enggak kita yang rusak dulu
sebelum rumah yang rusak. Dan Rasulullah
berkata, "Adunya kulluha mata whairul
mata dunya almaratu shah." Dunia
semuanya adalah mata yaitu kesenangan
yang akan selesai. Dan sebaik-baik
kesenangan dunia adalah istri yang
salehah. Istri salehah juga akan expire
atau tidak?
Expire atau tidak
expire di akhi. Entah expire di luar
atau istri yang expire di luar. Selesai.
Hidup cuma kenangan cuma sementara. Maka
silakan kita mencari rezeki di dunia
tapi jangan lupa rezeki untuk alam
berikutnya. Alam berikutnya alam
barzakh. Mungkin lama sekali seorang
meninggal dunia kemudian dia menanti
hari kiamat. Bisa jadi sudah banyak
nenek moyang kita sudah ribuan tahun di
di alam barzakh. Sampai sekarang masih
dalam alam barzakh. Tunggu hari kiamat
ditegakkan. Apa apa bandingannya antara
alam dia alam barzakh? Jauh sekali. Jauh
sekali.
Oleh karenanya cari rezeki di alam
barzakh. Yang lebih lagi cari rezeki di
alam akhirat. Allah sebutkan rezeki
seperti Allah Subhanahu wa taala rquzi
rq minq wauthi mutasyabiha. Dalam ayat
ini Allah sebutkan rezeki surga dengan
rezeki dunia. Setiap kali penghuni surga
diberikan rezeki oleh Allah subhanahu wa
taala berupa buah-buahan dan yang
lainnya. Mereka mengatakan rqna minqbal.
Ini seperti rezeki yang kami diberikan
sebelumnya. Wau bihi mutasyabiha. Mereka
diberikan yang mirip-mirip.
diberikan yang mirip-mirip tapi beda
hakikat. Jadi Allah namakan nikmat surga
dengan apa? Rezeki. Allah namakan nikmat
dunia dengan apa? Rezeki.
Tayib.
Oleh karenanya ya
ketika
istri-istri Nabi
ya radhiallahu taala radhiallahu taala
anhuna ya
mereka waktu itu minta tambahan
dalam tanda kutip uang dapur ya sebag
ulama mengatakan karena ketika itu
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
banyak berjihad sehingga para sahabat
mendapatkan ghanimah-gonimah lantas
mereka berikan kepada rezeki-rizeki
mereka istri-istri Nabi lihat pengin
juga dapat tambahan uang dapur.
Maka waktu itu Rasulullah sahu alaihi
wasallam marah. Rasulull sallahu alaihi
wasallam
meninggalkan mereka. Rasulullah tidak
gabung sama mereka selama sebulan. Dia
tinggal di Masrubah. Itu seb kamar
kecil. Rasulullah tinggalkan dia. Sampai
sahabat banyak yang menangis. Kenapa
Rasulullah istrinya sembilan, rumahnya
sembilan, tidur di kamar sendirian?
Sedih atau tidak sedih? Ya, para sahabat
cinta sama Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Rasulullah tidak datangi
mereka selama sebulan. Kenapa? Karena
mereka minta tambahan ya mereka wanita
bisa punya kesalahan dan dengan demikian
Allah tegur mereka agar mereka menjadi
lebih baik.
Karena
yang bisa hidup sama Nabi hanyalah
orang-orang zuhud. Maka turunlah ayat
dalam surat Al-Ahzab dengan ayatut
takhyir, ayat pilihan.
Yaitu mau hidup mewah-mewah tapi cerai
atau menghidup saya dengan saya dengan
zuhud. Allah turunkan yazwaj
wahai nabi katakanlah kepada
istri-istrimu se istrinya ditanyaanya
ditanya satu-satu kalau kalian ingin
kehidupan dunia dan perhiasannya
kemarilah umatun aku akan berikan kepada
kalian kesenangan silakan Rasulullah mau
kasih harta bisa Rasulullah kalau dapat
ganonimah banyak sekali
Rasulullah mau kasih bisa. Tapi apa
setelah itu
jamil? Setelah itu cerai baik-baik.
Harta tapi cerai. Enggak bisa hidup sama
Nabi dengan hidup mewah-mewah.
Tapi kalau kalian ingin Allah dan
rasulnya dan hari akhirat, maka Allah
akan siapkan ganjaran yang besar. Di
mana? Di surga.
Setelah itu beberapa ayat kemudian Allah
berfirman, "Yaillahiq."
Wahai istri-istri Nabi, siapa di antara
kalian yang qunut, yaitu taat beribadah,
sabar dalam beribadah lillahi karena
Allah dan rasulnya.
shan dan beramal saleh maka kami akan
berikan ganjaran dua kali lipatna
laha riz karima maka kami akan berikan
siapkan baginya rezeki yang mulia itu
dunia sedikit nanti ada rezeki yang
mulia maka akhirnya seluruh istri-istri
Nabi memilih hidup zuhud bersama Nabi
sallallahu alaihi wasallam setelah itu
Allah muliakan mereka melarang Nabi
untuk menikah lagi dan untuk
menggantikan mereka dengan wanita yang
yang lain.
Jadi ingat Ikhwan, rezeki itu ada bukan
cuma dunia saja. Karenanya bisa jadi ada
seorang di dunia dapat rezeki banyak, di
akhirat gak ada jatah. Bisa jadi seperti
orang-orang kafir.
Dan ada orang-orang
di dunia rezekinya sedikit tetapi di
akhirat banyak sekali.
Maka jangan pikir rezeki dunia saja.
Allah berfirman, "Watq waqiah
ard." Kata Allah Subhanahu wa taala,
"Jika telah tegak hari kiamat dan tidak
ada yang bisa menolak akan datangnya
hari kiamat,
bahwasanya hari kiamat itu merendahkan
dan meninggikan." Apa maksudnya
merendahkan? Sebagian ahli tafsir
mengatakan, "Merendahkan manusia-manusia
yang disangka hebat ketika di dunia, di
akhirat. Allah rendahkan."
Rafiah hari kiamat meninggikan. Ada
orang-orang dirasa rendah, hina, miskin
di dunia ternyata di akhirat dimuliakan.
Ji ada orang di dunia mungkin kelihatan
kaya raya, kenikmatan luar biasa,
ternyata di akhirat gak punya apa-apa.
Oleh karenanya kalau qadarullah antum
miskin, boleh sedih, tapi jangan terlalu
bersedih. Bisa jadi jatah di akhirat
apa? Banyak. Oleh karenanya ketika Umar
bin Khattab radhiallahu anhu datang ke
Masyrubah dalam Sahih Bukhari tadi
ketika Rasulullah meninggalkan
istri-istinya Masrubah kamar kecil tidak
ada apa-apa hanya melihat sebagian gak
ada apa-apa di kamar kalau enggak salah
cuma ada kulit-kulit yang ee kulit-kulit
samak ya Rasulullah tidak punya apa-apa.
Maka Umar berkata, "Ya Rasulullah,
mereka Romawi, Kaisar, Kisra, mereka
diberikan dunia
ya sementara kita begini. Tidakkah
berdoa untuk umatmu? Maka Rasulullah
mengat Rasulullah marah. Kata Rasulull
sallahu alaihi wasallam,
"Afi syakin anta ya bnal khattab." Kau
ragu wahai Ibnu Umar. Haulaiun ujilat
lahum thyibatuhum fil hayatid dunya.
Mereka itulah kaum yang kesenangan dunia
disegerakan. Kesenangan mereka di
akhirat disegerakan di dunia. Di akhirat
mereka tidak dapat apa-apa.
Allah berkata kepada mereka pada hari
kiamat kelakum
dunya wasam biha kalian telah
menghilangkan kesenangan akhirat kalian
di dunia sudah kalian ambil semuanya
jatah.
Oleh karena di antara fikih sebagian
sahabat ini fikihnya Umar dan fikihnya
Abdurrahman bin Auf radhiallahu anhuma,
jika seorang terlalu bersenang-senang di
dunia maka jatahnya di akhirat
dikurangi.
Dalam riwayat ketika Umar bertemu dengan
Jabir bin Abdillah dan dia membeli
membawa orang bawa bawa apa namanya?
Laham yaitu daging. Maka Umar tegur,
"Afaqulaitanahu
apa? Setiap kau ingin sesuatu kau beli.
Tidakkah kau mendengar firman Allah
Subhanahu wa taala? Adhabum thyibatikum.
Tidakkah kau lihat firman Allah
subhanahu wa taala? Kalian telah
menghilangkan, menyirakan jata kalian di
dunia, di akhirat di dunia. Kalian telah
menyegerakan jata kalian akhirat untuk
bersenang-senang di dunia. Sehingga
sebagian salah, sebagian sahabat
memandang terlalu bersenang-senang di
dunia mengurangi jatah di mana? Di
akhirat. Dan ini juga pendapat
Abdurrahman bin Auf. Abdurrahman bin Auf
r. Radhiallahu anhu. Ketika dia berpuasa
kemudian dengan berbuka dihidangkan
makanan. Tiba-tiba dia ingat Mus'ab. Dia
mengatakan Mus'ab bin Umair meninggal
dunia dalam kondisi mati syahid. Kami
tutup kepalanya dengan tidak ada yang
dia tinggalkan kecuali selembar burdah,
selembar kain. Hartanya tidak ada sama
sekali kecuali selembar kain. Itu pun
kalau buat nutup kepalanya, kakinya
kelihatan. Kalau untuk kedua kakinya
kepalanya kelihatan. Untuk kain kafan
aja enggak cukup hartanya.
Kata Abdurah, "Wah khairun minni." Dia
lebih baik daripada aku. Kata
Abdurrahman bin Auf itu dengan penuh
tawadu. Kemudian kata beliau futihana
ya atau busit lana minad dunya ma busit.
Kemudian dibukakan bagi kami dunia
sebagaimana telah dibukakan.
Wa inna nakhafu. Dan sesungguhnya aku
khawatir
ini adalah kenikmatan surga yang
disegerakan.
Ma saya ikhwan
seorang ya ketika jadi orang miskin
bertakwa, jadi orang kaya bertakwa.
Tetapi
rezeki itu ada tiga. Bukan rezeki dunia
saja. Ada rezeki di alam barzakh, ada
rezeki di akhirat. Kalau kita tidak bisa
menyaingi orang rezeki di dunia, saingi
dia untuk rezeki di akhirat.
Bisa jadi orang yang Anda lihat sekarang
depan Anda adalah seorang yang miskin.
Bisa jadi di akhirat dia kaya raya. Bisa
jadi Anda lihat seorang kaya raya di
dunia, di akhirat dia enggak punya
apa-apa.
Saya sering sampaikan contoh, saya punya
pembantu dulu. Saya punya pembantu dia
setiap gajian, gajinya 100% dia kasih
ibunya. Setiap gajian dia kirim ke
ibunya itu harta dia 100% dia berikan
kepada ibunya. Ini orang seperti ini
kira-kira rezekinya banyak enggak di
akhirat?
Kan ganjaran yang banyak. Dia berbakti.
Kita mungkin meremehkan tapi ternyata
dia luar luar biasa.
Oleh karenanya ketika kita tahu rezeki
bukan cuma di dunia saja, kita jangan
mikir rezeki dunia. Rezeki cuma mata
sebentar lagi habis. Makanya Allah
berfirman,
azwajum.
Janganlah kau panjangkan kedua matamu
wahai Rasulullah kepada sekelompok orang
yang kami berikan kesenangan dunia. Ya
zahrat dunia. Kesenangan dunia seperti
zahrah, seperti bunga yang cepat layu
hilang cepat. Zahra apa? Bunga indah,
merah, jingga, kuning, ungu tapi cepat
layu. Buat apa? Linaftinahum fi. Kami
menguji mereka dengan dunia tersebut.
Kemudian kata Allah, "Warizkubika khairu
wa abqo." Dan rezeki rabmu yaitu di
surga lebih baik dan lebih apa? Kekal.
Jadi jangan pikir rezeki cuma di sini
saja. Seorang bertakwa salat ibadah
mencari rezeki di alam barzakh dan
rezeki di akhirat.
Sekarang yang ke berapa?
Baik.
Berikutnya, Ikhwan,
bahwasanya
rezeki
tidak terbatas pada materi saja. Ini
perlu kita perhatikan, rezeki tidak
terbatas pada materi saja.
Ya, kalau kita buka di kaumus-kamus
Arab, rezeki itu yang bermanfaat bagi
banyak bagi manusia, ya.
Dan ini juga pendapat Syekh Utsimin
rahimahullah bahwasanya rezeki itu suatu
yang bermanfaat bagi manusia. Berat bagi
manusia baik badannya maupun rohaninya
maupun agamanya itu semuanya apa?
Rezeki. Rezeki secara umum ternyata
terbagi menjadi dua. Materi dan non
materi. Materi dan non materi.
Contoh rezeki materi seperti apa?
Seperti rumah ya. Dapat rumah besar.
Sebab kebahagiaan bagus punya rumah
besar ya, punya kendaraan ya, ada
makanan, minuman ya. Non materi seperti
apa? Kesehatan sehat ya. Ini non materi
kenyamanan, keamanan. Saya kemarin
ketemu kawan dari Palestina
ya, dari kota Alkhalil di di Palestina
ya.
Dia bilang, dia sekitar berapa bulan di
Indonesia, dia bilang, "Subhanallah, di
sini orang tidak sadar bahwasanya mereka
dalam kenikmatan yang luar biasa." Itu
kenikmatan apa? Keamanan. Namun nikmat
tersebut nikmat yang abstrak, yang non
materi.
Belum lagi kalau kita bicara non materi
terkait agama, kita ngaji, kita salat,
baca Quran, nikmat ya, Akhi. Nikmat luar
biasa ya. Rumah tangga ya.
Banyak hal nikmat-nikmat nonmateri yang
dirasakan. Apalagi seorang beriman
kepada Allah, Allah akan berikan
kebahagiaan.
Makanya kata Ibnu Taimiyah rahimahu
taala, inna fid dunya jannatan manam
yadkhulha lam yadkhul jannatal akhirah.
Di dunia ini ada surga, itu kebahagiaan.
Siapa yang tidak bisa masuk dalam surga
dunia, dia tidak bisa meraih surga
akhirat. Maksudnya apa? Kata Ibnu
Taimiyah, orang beriman pasti bahagia.
Apapun kondisinya dia pasti apa?
Bahagia. Kalau dia tidak bisa bahagia di
dunia, berarti di akhirat juga tidak
bahagia. Ibnu Taimiyah mengucapkan
begitu, bukan dia orang kaya, bukan dia
orang senang-senang. Dia dipenjara
berulang-ulang,
tapi dia merasakan kebahagiaan.
Sebagaimana perkataan para sebagian
salaf
mulukna mulukahi
alai. Seandainya para raja, para
pangeran tahu tentang kebahagiaan yang
kami dapatkan itu rezeki non materi,
tentu mereka akan memaksa untuk merebut
dari kami.
Oleh karenanya orang kalau bertakwa
Allah akan berikan apa? Kebahagiaan.
Ketahuilah ikhwan dan akhwat yang
dirahmati Allah subhanahu wa taala.
Betapa banyak orang diberikan
kebahagiaan, rezeki materi, namun enggak
dapat rezeki non materi.
Banyak orang kaya raya tapi hidup
sengsara,
narkoba,
tidak ada ketenangan.
Bahkan Allah sebutkan orang-orang
munafik tentang orang-orang munafik.
Kata Allah Subhanahu wa taala, "Ya, fala
tujibaka amwaluhum wala auladuhum
innama yuridullahu liyuadibahum biha fil
hayatid dunya." Janganlah engkau takjub
dengan harta mereka dan anak-anak
mereka. Sesungguhnya Allah ingin
mengazab mereka biha dengan anak-anak
dan harta mereka fil hayatid dunia dalam
kehidupan dunia. Jadi ada orang diberi
rezeki materi. Rezeki materi itu
menyiksa dia.
Ada Allah sebutkan dalam Al-Qur'an dia
dapat rezeki materi tapi dia tersiksa.
Dia tersiksa.
Buktinya buktinya banyak. Akhirnya
saya sering sampaikan saya ketemu dengan
ada nonmuslim orang kaya punya properti.
Saya ngobrol di pesawat. Akhirnya
ngobrol-ngobrolng ngobrol. Saya bilang,
"Bapak bagaimana sekarang? Apa yang
Bapak kesedihan yang Bapak rasakan?" Dia
bilang, "Saya lagi sedih. Anak-anak saya
yang saya biayai, saya sekolahkan
sekarang mereka tidak ada yang hubungi
saya, tidak ada kunjungi saya. Dia punya
anak-anak, dia tersiksa di saat masa tua
dia ingin anak-anak merawatnya,
meneleponnya, menjenguknya, ziarah
kepadanya. Anak-anak cuek dengan
kehidupan tidak tahu diri, anak durhaka.
Dia sengsara dengan anak-anaknya.
Antum k lihat di Eropa, di Eropa tentu
tidak semua. Tapi banyak kita lihat
sendiri di Eropa orang-orang nonmuslim
sudah tua jalan sendiri dengan anjing.
Tapi kalau lihat orang muslim
subhanallah orang tua didorong sama
anaknya, cucunya rebut-rebutan.
Ada durhaka. Banyak yang durhaka.
Sengsara.
Terazab dengan anak-anaknya. Apakah ada
orang terazab dengan banyaknya harta?
Banyak. Banyak harta. Akhi. Antum coba
masa kita mau jujur ya kalau kita mau
jujur berpikir kalau kita miskin
insyaallah jam 09.00 sudah tidur ya.
Makanya makan apa? Makan sate Padang
tidur selesai.
Pagi-pagi makan lontong sudah selesai.
Tapi orang punya perusahaan masyaallah
dia mikir sana mikir siniik banyak dia
pikirkan perusahaannya.
Kalau ada inflasi dia mikir. Kalau dolar
turun dia mikir. Pusing. Kalau mau
lebaran bayar THR dia mikir. Yang
miskin-miskin terima THR senang dia
mikir bayar THR.
belum persaingan bisnis. Kalau
perusahaan baru yang mirip dengan dia,
wah ini kompetitor pusing
ya kalau didatangi orang pajak tanpa
pusing lagi.
Enggak gampang. Enggak gampang. Banyak
dia mau urusin.
Saya pernah ketemu dengan seorang
pejabat, dia sudah mempensiunkan diri.
Dia bilang, "Ustaz, antum enak jam
08.00, jam 10. Sudah tidur. Kadang kami
jam .00 baru mulai rapat jam .00 malam.
Kadang kami jam .00 bukan kadang sering
jam .00 malam kami mulai susun strategi
politik dan yang lainnya
ya akhi. Jadi bisa jadi
rezeki materi yang didapatkan jika jika
tidak digunakan sesuai dengan syari
justru mendatangkan keseng kesengsaraan.
Innama yuridullahu liadibahum biha
filtid dunya. Allah ingin menyiksa
mereka. Bayangkan koruptor dia punya
uang banyak, uangnya banyak.
Terus dia simpan. Dia bingung simpan di
mana. Simpan di mana. Takut ketahuan.
Akhirnya simpan di bawah tempat tidur.
Ya, sedikit-sedikit dia periksa masih
ada enggak? Jangan-jangan diambil sama
tuyul
babi ngepet. Periksa. Takut.
Dia mau belanja takut. Uang banyak mau
beli mobil mewah takut ketahuan orang
pajak. Jadi gemes kan. Mau beli aduh
nanti ketahuan. Gelisa atau tidak? Kalau
antum enggak bisa beli kan enggak
gelisah. Aman. Enggak bisa beli.
Enggak bisa beli. Kepengin pun enggak
karena duit enggak ada. Tahu diri dia
duit banyak membu beli takut. Beli
banyak takut. Takut diperiksa takut.
Oleh karenanya tidak mesti
orang kaya lebih bahagia daripada antum.
Tidak mesti ini benar. Ini bukan
main-main.
Tidak mesti mereka lebih bahagia
daripada antum. Antum masyaallah ngaji
ada waktu. Sebnya orang kaya enggak bisa
ngaji.
Gimana mau ngaji? Ngitung duit duit
belum selesai. Tanda tangan belum cek
belum selesai. Gimana mau ngaji? Gimana
ada ketenangan?
Orang banyak sebagian mereka tidak bisa
tidur. Kapan tidur? Kalau jumatan tidur.
Dengar ceramah tidur.
Jadi maksudnya jangan terlalu, jangan
terlalu hasad sama orang kaya. Jangan
biasa rezeki masing-masing. Allah tahu.
Itu penting kita nikmati, kita ber
bersyukur. Tidak mesti orang kaya lebih
baik dari antum.
Sebagai contoh kata Ibnu Qayyim
rahimahullah, Allah mentakdirkan dunia
ini akan dirasakan kelezatan jika telah
melalui kesusahan.
Kapan kita merasakan makan itu enak
ketika kita la lap la lap lapar? Kalau
enggak lapar enak enggak? Enggak enak.
Kapan kita merasakan minum itu lezat?
Ketika kita dahaga.
Setelah dahaga payah baru minum lezat.
Kapan kita merasakan tidur itu nyaman?
Kalau kita le lelah. Kalau kita enggak
lelah, enggak bisa tidur, enggak enak.
Taruhlah antum orang kaya selalu nikmat
ke mana-mana naik bisnis kelas, bahkan
punya jet pribadi. Antum gitu-gitu aja
monoton, tapi orang coba orang miskin,
tiba-tiba naik bisnis kelas, wah kayak
di surga.
Kalau dia sudah biasa, enggak ada
biasa-biasa aja. Buktinya orang kalau
pendaki gunung, kapan dia merasakan
bahagia? Ketika naik gunungnya susah. Ya
tidak. Dia ada kebagian. Kalau gunungnya
cuma 1 m, ngapain dia naik? Dia mau
gunungnya 3 kilo, 4 kilo, dia naik
supaya dia wah itu sudah konsep
kehidupan dunia. Kalau sudah
bersusah-susah baru kemudian merasakan
apa? Kelezatan.
Maka bukan berarti orang yang nyaman di
kemudian dilayani kemudian semua belum
tentu dia bahagia. Belum tentu dia
stuck. Stu orang yang variatif. Kadang
susah kemudian senang, kadang susah
senang. Dia dapat kebahagiaan yang tidak
dirasakan oleh mereka.
Jadi pilih mana? Miskin atau kaya? Kaya
dong, Ustaz.
Kaya yang bersyukur. Enggak. Ini kan
kita hiburan kan. Tidak semua antum
kaya. Ada di antara antum yang kaya, ada
yang miskin, ada yang sok kaya ya
macam-macam.
Baik. Maka
bersyukur apa yang yang ada sehingga
kita bisa bagi sekarang yang ke berapa?
Enam apa lima? En.
Ya sudahlah hitung ajalah. Anggap aja
enam ya biar cepat selesai. Bab
rezeki ada yang halal ada yang haram.
Ini beda dengan Muktazilah yang
mengatakan rezeki hanya yang halal.
Rezeki ada yang halal yang haram.
Makanya kita minta rizq thayiban. Habis
salat subuh kita mengatakan apa? Allah
minasaluka ilman nafian warizqan thiban
waalan mutaqabbalan.
Dan rezeki
yang
halal atau haram ditinjau dari pertama
ditinjau dari zatnya. Zatnya bisa halal
bisa haram. Yang kedua ditinjau dari
cara meraihnya bisa halal bisa apa?
Haram.
Khamar zatnya haram. Babi zatnya apa?
Haram. Ya. Tapi ada rezeki yang halal
tapi cara mencarinya haram. ya korupsi,
nipu orang, riba, judi. Ini semua
cara-cara yang haram.
Yang ingin saya sampaikan, Ikhwan,
ketahuilah kaidah menyatakan
antum cari rezeki dengan cara apapun,
mau cara halal, cara haram hasilnya
sama, tidak berubah. Ini harus antum
yakini. Rezeki kita tidak berubah
nominalnya.
Dari kita lahir sampai kita mati tidak
berubah nominalnya. Mau cari dengan cara
halal, cara haram hasilnya sama. Siapa
yang bilang demikian? Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Nabi mengatakan, "Inna
ruha qudusi
nafas fi nafsanut
rizqoha." Sungguhnya Jibril alaihi salam
berikan wahyu ke dalam jiwaku menyatakan
bahwasanya tidak ada satu jiwa pun yang
meninggal kecuali telah sempurna apa
rezekinya. Kemudian kata Nabi, faajmilu
fab, maka carilah dengan cara yang baik.
Khudu mahalla wada mahrum. Ambil yang
halal, tinggalkan yang haram. Karena
hasilnya sama saja. Hasilnya sama saja.
Ajmilu fab ada dua makna. Pertama ijmal.
Ada yang mengatakan kepada Jamal, yaitu
carilah dengan cara yang baik. Jangan
cari cara haram karena sama saja. Ada
ajmilu f thab yaitu dengan ijmal yaitu
jangan ngoyo. Cari rezeki tapi jangan
apa? Jangan ngoyo. Mau ngoyo enggak
ngoyo sama saja. Jangan sampai lembur
kerja sudah 12 jam lembur juga 12 jam
kebanyakan ya. Kalau bisa hari 25 jam 25
jam ya sama saja kelihatannya banyak
sekarang. Nanti berkurang karena ini,
berkurang karena ini, hasilnya sama saja
ya. Oleh karenanya
ini apa ini azan kah? Ya azan ya.
Oleh karenanya ketika seorang di depan
dia ada cara yang haram jangan dia
tempuh. Di depan dia untung yang banyak
jangan tergoda. Kalau dia tidak ambil
Allah akan buka rezeki dari jalan yang
lain yang hasilnya sama. Cepat atau
lambat.
Jangan tergoda. Haram tinggalkan,
syubhat tinggalkan. Allah akan buka
dengan cara yang lain. Kalaupun dia
dapat yang haram tersebut, Allah akan
ambil dengan cara Allah Subhanahu wa
taala yang dia tidak sadari. Masalahnya
meskipun nominalnya sama, hasilnya sama,
kalau antum ambil dengan cara yang
halal, antum selamat di akhirat. Kalau
antum ambil dengan cara yang haram,
antum binasa di akhirat.
Oleh karenanya rezeki yang haram halal
nominalnya sama saja. Kita lanjutkan
ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah
Subhanahu wa taala. Kalau kita
mendapatkan rezeki dengan cara haram,
musibah pada hari kiamat kelak. Rasul
sahu alaihi wasallam bersabda, qama
abdin hatta yusal arba. "Tidaklah
bergeser kedua kaki seorang hamba pada
hari kiamat yaumul qiamah itu bergeser
menuju surga atau neraka sampai dia
ditanya dengan tentang empat perkara. Di
antaranya analihi tentang hartanya
minasuaqah
dari mana dia dapatkan ke mana dia
habiskan."
Makanya ada yang tawar kepada kita
misalnya ustaz ada bilang saya enggak
siap dihisab. Saya tidak siap dihisab.
Saya tidak siap dihisab. Jadi kita yakin
rezeki sama saja. Disebutkan dikisahkan
ada seorang salaf yang
dia ee
ketika mau ke masjid atau ke satu tempat
dia nitip pelananya kepada seorang. Dia
titip pelananya dijaga kemudian dia
melakukan keperluannya, hajatnya.
Kemudian dia balik.
Ketika dia balik ternyata pelana
tersebut hilang.
Maka dia suruh orang untuk beli pelana
di pasar. Maka ada orang belikan dengan
harga 2 dinar kalau tidak salah ya.
Nanti dengan harga tertentu. Kemudian
dibawalah planet tersebut kepada orang
salaf ini. Kemudian mengatakan
subhanallah ini plan saya yang hilang.
Ya, saya tadi bermaksud
kalau selesai ini saya mau kasih hadiah
kepada orang ini 2 dinar,
tapi dia tidak ingin mengambil dengan
cara yang halal. Ternyata dia curi, dia
jual, dia juga dapat du di dinar.
Subhanallah. Jadi mau cara baik, cara
halal, cara haram tetap berapa? 2 dinar.
Ini harus kita yakin.
Ada kawan punya proyek
proyek terkait dengan ee
pemerintah. Kemudian sebagian oknum
akhirnya memaksa harus diberikan bagian
jatah
minta kepada kawan tersebut. Ini kawan
langsung cerita sama saya minta minta
kata dia bilang harus saya dapat jatah.
Kalau enggak ini enggak gol atau
tendernya tidak dimenangkan.
Kawan ini bilang, "Gak, saya enggak
mau." Kalau enggak, ya gak apa-apa gak
meskipun proyeknya mungkin ratusan
miliar. Enggak. Kalau enggak, enggak
mau. Akhirnya kawan enggak ambil. Dia
enggak ambil.
Akhirnya proyek hilang, untung banyak
hilang. Enggak ada masalah. Ternyata dia
ambil kontraktor lain,
ngerjain-ngerjain, enggak bisa.
Enggak bisa. Akhirnya kawan dipanggil
lagi, dikasih
proyek tanpa ada korupsi. Subhanallah.
Kalau itu rezeki kita tidak bakalan la
lari. Kalau tertutup pintu ini akan
terbuka pintu yang lain.
Allah punya cara. Tinggal kita yakin.
Maka ikhwan, kalau ada tawaran haram
jangan diambil.
Syubhat aja kalau bisa tinggalkan
tinggal haram apalagi jangan diambil.
Rezeki sama aja. Yakin rezeki sama aja.
Kalau ditutup pintu ini akan dibuka
pintu yang lain oleh Allah Subhanahu wa
taala.
Tiik. Sekarang kaidah yang konsep yang
ke berapa? Enam.
Enam.
Iya. Terserahlah berapa. Ya.
Ketahuilah bwa banyaknya rezeki bukan
pertanda Allah mencintai seorang hamba.
Kalau banyaknya rezeki, tanda cinta
Allah kepada seorang hamba, tentu orang
kafir berarti dicintai oleh Allah
subhanahu wa taala. Rezeki bisa
diberikan oleh Allah kepada orang yang
Allah cintai dan juga kepada yang orang
yang Allah tidak cintai. Ya,
makanya Allah mengatakan ya
faamal insanualahu
faakramahu waamahu fqubi akrmaahuqqubi
ahanan kalla.
Adapun manusia kalau dilapangkan
rezekinya
dia mengatakan, "Rabbi akraman." Allah
telah muliakan aku. Adapun jika dia
diuji, sempitkan rezekinya, dia
mengatakan, "Rabbi ahan." Allah telah
hinakan aku. Kata Allah, "Kalla tidak
demikian."
Demikian.
Rezeki bukan menunjukkan
cinta Allah kepada seorang.
Bisa jadi orang dicintai sangat cintai
Allah, tapi dia miskin. Contoh siapa?
Contoh sederhana misalnya Uwais Alqarani
miskin. Padahal Rasulullah mengatakan
kirut tabiin. Uwais alqarani
miskin sampai dia dituduh di kaumnya
mencuri. Subhanallah. Wais Al-Qarani
tetapi kalau orang diberi rezeki
ternyata rezekinya dia gunakan untuk
dekat kepada Allah itu tanda Allah cinta
sama dia.
Buktinya dia semakin dekat kepada Allah
Subhanahu wa taala. Tapi banyak orang
dikasih rezeki dia semakin jauh dari
Allah Subhanahu wa taala.
Tapi yang berikutnya, jadi maksudnya
kalau antum miskin jangan terlalu sedih
ya. Sedih bolehlah tapi jangan terlalu.
Bukan berarti Allah benci sama antum.
Gak gak ada. Bukan ukuran. Betapa banyak
orang saleh yang miskin-miskin banyak
sekali. Para ulama banyak sekali para
anbiya banyak miskin-miskin. Isa alaihi
salam miskin. Isa alaihi salam miskin.
Zakaria miskin. Banyak
ya, banyak sahabat yang miskin, banyak
ulama yang miskin.
J kalau pas Allah mentakdirkan kita
rezeki sedikit, Allah lebih tahu apa
yang maslahat bagi kita.
Saya punya pengajian judulnya 17 sisi
baik dari musibah. Mungkin kalau antum
merasa miskin musibah, tolong nonton
video itu ya. Saya tidak mau bahas
sekarang. 17 sisi baik di balik apa?
Musibah.
Tayib. Yang berikutnya,
semua rezeki telah diatur oleh Allah
subhanahu wa taala, telah dijamin oleh
Allah subhanahu wa taala. Jangankan
manusia, bahkan hewan juga telah diatur
rezekinya. Allah Subhanahu wa taala
berfirman,
"Ya,
wama min dabatin fil ardhi illaahi
rizquha.
am mustaqha wa musta kata Allah
subhanahu wa taala tidak ada hewan
melata di atas muka bumi kecuali Allah
yang menanggung rezekinya mustaq musaha
ada khilaf di makna mustaqar mustaud ada
yang mengatakan mustaqarah maksudnya di
mana kandangnya di mana tempat
tinggalnya ya ee mustaqarah di mana
tempat dia berjal mustaudaah adalah
tempat di mana kandangnya
jadi maknanya di antara makna yaitu
Allah tahu
Di mana kandangnya dan ke mana dia cari
rezeki, jalannya ke mana. Misalnya
burung terbang ke mana Allah tahu.
Setiap burung Allah tahu dia mau terbang
ke mana. Setiap hewan keluar dari
lubangnya mau ke mana Allah tahu. Jadi
Allah sudah siapkan rezeki sesuai dengan
arah jalannya. Allah yang tanggung itu
hewan. Sebagian ulama menafsirkan
mustaqarah mustaah maksudnya hidupnya
dan matinya. Allah tahu mainnya ke mana,
jalan-jalannya ke mana, kapan ajalnya.
Allah tahu sehingga Allah sudah
tentukan. Cacing ini rezekinya ini,
burung ini rezekinya ini, ikan ini
rezekinya Allah sudah tentukan.
Detail per per hewan-hewan tidak ada
satu hewan belatang-belat kecuali Allah
tentukan rezekinya.
Bagaimana lagi dengan manusia yang
mukalaf?
Kata Allah Subhanahu wa taala,
minbatinha.
Betapa banyak hewan melata tidak mampu
menanggung rezekinya. Hewan melata
tidak tidak akalnya tidak banyak seperti
manusia. Burung akalnya sederhana aja
lah. Tahmilur reiz akalnya tidak seperti
manusia. Manusia bisa nipu, bisa ngibul,
bisa bohong, bisa manusia canggih kalau
cari rezeki dengan berbagai macam cara
yang yang riba bisa jadi syari. Luar
biasa. Manusia canggih pokoknya. Hewan
bisa apa tapi rezekinya sudah di
ditanggung.
Rnya sudah di ditanggung.
Nah, kalau rezeki sudah ditanggung
apalagi manusia maka jangan seorang ee
khawatir berlebihan ya. Rezeki sudah
ditanggung. Hewan saja sudah diatur
apalagi manu manusia.
Bagaimana kita suudan sama Allah
sementara kita masih dalam janin, Allah
kasih rezeki sama kita.
Kita kecil belum bisa cari rezeki, Allah
sudah kasih rezeki lewat kedua orang tua
kita. Setelah kita dewasa sudah punya
kemampuan, sudah pandai berpikir, sudah
lebih matang, kemudian takut tidak dapat
rezeki, ini suudan kepada Allah
Subhanahu wa taala. Maka yakin rezeki
sudah di tentukan.
Sebagaimana seorang yakin ajalnya sudah
ditentukan. Banyak orang kalau ajal
tenang ajal. Kalau ajal ajal enggak,
enggak. Tapi kalau rezeki dia enggak
percaya. Padahal perkara rezeki dan ajal
sama saja. Malaikat ketika mencatat
bikatli rezkihi wa ajalihi rezekinya,
ajalnya dicatat maka sudah ditentukan.
Tib berikutnya
meskipun sudah ditentukan akan tetapi
Allah Subhanahu wa taala suruh
mencari rezeki dan berusaha.
Karena semua yang ditakdirkan
yang dicatat di lauhil mahfuz bukan cuma
hasilnya tapi tercatat akibat dan juga
sebabnya.
Ya. Si fulan mati tapi karena apa Allah
catat? Si fulan kaya karena apa? Miskin
karena apa? Ada semua catatannya. Maka
kita menempuh sebab untuk menuju akibat
tersebut meskipun semuanya sudah di
dicatat
ya
meskipun semuanya sudah dicat tapi kita
harus menempuh sebab karena yang dicatat
di lauhil mahfuz sebab dan apa? Akibat.
Sebagaimana kita yakin bahwasanya
kenyang dan lapar sudah ditakdirkan.
Tapi kita tahu kalau mau kenyang ya
makan. Sebin bahwasanya punya anak atau
tidak sudah ditakdirkan. Tapi kalau kita
punya anak kita nikah supaya punya punya
anak.
Oleh karenanya masalah rezeki Allah juga
suruh cari dalam banyak ayat seperti
dalam firman Allah Subhanahu wa taala
jaakum.
Dialah Allah yang telah menundukkan bumi
bagi kalian. Yaitu Allah menundukkan
bumi agar mudah dipijak, agar mudah
untuk dilewati.
Berjalanan menuju mana? Sebagian ahli
tafsir mengatakan manakib seperti ini
maksudnya tempat-tempat yang tinggi.
Kalau kau harus cari rezeki ke tempat
yang tinggi, tempuhlah tempat tersebut.
Jalan.
Jangan malas-malasan. Kalau memang harus
dirawat tempat tinggi, pergi ke sana.
Itu Allah suruh berusaha.
Allah suruh berusaha. Tetapi di akhir
ayat kata Allah, biqai, makanlah rezeki
Allah. Ingat kalian akan dikembalikan
kepada Allah subhanahu wa taala.
Contoh lagi firman Allah subhanahu wa
taala.
Kalau selesai salat Jumat bertebarlah.
Carilah rezekilah, carilah karunia
Allah.
Tapi kata Allah, wadkurullaha katiran.
Jangan lupa banyak ingat Allah. Ini
maksudnya cari rezeki tapi jangan lupa
ingat Allah. Cari rezeki tapi jangan
lupa kepada sang pemberi rezeki.
Ini cari rezeki tapi lupa kepada sang
pemberi apa? rezeki.
Bahkan Allah Subhanahu wa taala menyuruh
kita berusaha.
Dialah Allah yang telah menundukkan
lautan bagi kalian agar kalian bisa
makan daging segar. Mancing. Allah suruh
mancing. Bukan cuma mancing aja
untuk kalian ambil mutiara. Berarti kan
perlu menyelam usaha. Berarti Allah
suruh usaha.
Jadi rezeki diraih dengan apa? Usaha.
Berusaha.
Dan
usaha tersebut tentu harus harus benar.
Tib yang terakhir
bahwasanya untuk mencari rezeki
pertama dengan sebab duniawi, yang kedua
dengan sebab ukhrawi. Sebab duniawi
banyak caranya. Jadi dokter,
jadi guru, jadi dosen, ya jadi pedagang,
jadi kontraktor, ya jadi salers, jadi
broker, jadi apa terserah yang penting
halal.
ini masing-masing dibukakan oleh Allah
cara-cara mencari rezeki. Tapi ada
pintu-pintu rezeki yang ukhrawi yang
mungkin lebih efektif
daripada cara-cara duniawi. Jangan
dispelekan.
Jangan disepelekan.
Di antaranya yang pertama misalnya
adalah dengan menyambung silaturahmi.
Man ahabba yubirizari.
Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya,
dipanjangkan umurnya, maka sambung
silatu silaturahmi. Orang yang sibuk
sambung silaturahmi, rezekinya lancar.
Rezekinya lancar. Ini di antaranya
Allah tambah-tambahkan rezekinya.
Tambah-tambahkan. Saya tidak, tidak ada
teman yang saya kenal perhatian sama
silaturahmi kecuali rezekinya lancar.
Tidak ada teman yang saya kenal
perhatian sama kerabatnya kecuali
rezekinya apa? Lancar.
Di antaranya kedua misalnya kafalah
kepada penuntut ilmu. Dalam satu hadis
dalam dalam salehin disebutkan ada
seorang dua orang satu kerja satu
menuntut ilmu sama Nabi. Akhirnya
saudaranya mengeluh, "Ya Rasulullah ini
saudaraku tidak kerja." Maka Rasulullah
mengatakan, "Laallah
laallaka turzaqu bihi." Kata Nabi, "Bisa
jadi kau dapat rezeki gara-gara dia
lewat dia." Bisa jadi kau dapat rezeki
lewat apa? lewat dia. Jadi karena kau
ngurusin dia nuntut ilmu, kau dapat
rezeki lewat dia. Dalam hadis juga saya
lupa lafalnya, tapi maknanya Allah
Subhanahu wa taala memberikan rezeki
pada suatu kaum lewat kaum yang lain.
Jika mereka terus memberi menafkahi kaum
tersebut maka mereka terus diberi rezeki
oleh Allah. Jika mereka tidak mau, Allah
akan ganti dengan kaum yang lain.
Subhanallah. Di antara nasihat yang
pertama kali ketika sampai Madinah, saya
tidak lupa tentang guru saya itu cerita.
Dia bilang, "Ada seorang
selalu kalau dapat rezeki dia kasih ke
orang lain." Dia kasih sampai
teman-temannya tugur ente dapat rezeki
kasih-kasih orang. Kata dia, "Saya punya
kebiasaan sama orang. Allah punya
kebiasaan sama saya. Kebiasaan saya
kalau saya dapat diri saya kasih.
Kebiasaan Allah kalau saya kasih, saya
dikasih lagi sama Allah." Kalau saya
rubah kebiasaan saya terhadap orang,
saya takut Allah rubah kebiasaannya.
Terkadang seorang hanya mengkafalahi
mungkin anak yatim satu orang, dua
orang, ternyata Allah buka rezekinya
banyak. Uang yang dia keluarkan untuk
anak tersebut tidak seberapa dengan
keuntungan yang Allah berikan di dunia.
Tidak sebanding. Tapi ternyata Bu ini
adalah pintu untuk buka rezeki yang
banyak.
Terkadang seorang silaturahmi cuma kasih
sedikit tapi ternyata Allah ganti dengan
sangat sangat banyak. ketika dia ikhlas
kepada Allah, dia tidak mencari dunia,
tidak mencari sanjungan, tidak mencari
pengakuan dari orang Allah ternyata
kasih rezeki yang banyak.
Yang menakjubkan. Saya punya teman-teman
kerja sama orang kafir. Orang kafir
terus meyakini ini. Dia mengatakan ini
fulan kaum muslim ini bantu sana anak
yatim. Dia pengin biar usaha kita,
perusahaan kita apa? Baik. Bantu anak
yatim. Sebab apa? Orang kafir yakin.
Pokoknya kalau bantu anak yatim rezeki
kita apa? perusahaan kita dijaga oleh
Tuhanmu atau Tuhanku terserahlah. Maksud
saya dia percaya itu
menakjubkan ya. Oleh karenanya benar
usaha duniawi tidak kita sepelekan, kita
kerjakan tapi usaha ukhrawi ini sangat
penting. Di antara usaha ukhrawi agar
kita mendapat rezeki tawakal.
Kata Ibnu Rajab al-Hambali, tawakal yang
kuat dengan sebab yang sedikit rezeki
banyak.
Kalau kalian bertawakal dengan kepada
Allah dengan tawakal yang benar, Allah
akan kasih rezeki kepada kalian
sebagaimana Allah berzeki pada burung
dia terbang di pagi hari perut kosong
balik di sur dengan perut kenyang. Oleh
karena ketika sebagian ulama mensyarah
hadis
yadul jannahunidatuhumidir
masuk surga suatu kaum yang hati mereka
seperti hati burung. Banyak ulama
menafsirkan yaitu burung tawakalnya
tinggi.
Tawakalnya tinggi dengan modal kemampuan
yang sedikit. Dengan akal yang terbatas
tapi rezekinya lancar. Dia terbang, dia
bertawakal, perut kosong, dia pulang
bawa makanan kasih anak-anaknya.
Maka terkadang seorang
agar rezekinya mudah, dia bertawakal
kepada sang maha pemberi rezeki.
Dia tahu bahwasanya rezekinya bukan dari
bosnya. Bosnya dari Allah, cuma lewat
bosnya. Dia tahu bahwasanya konsumen
bukan dari konsumen rezekinya, tetapi
Allah kasih dia lewat konsumen yang
membeli dari darinya. Fabtaguallah
rizq. Kata Allah, "Carilah di sisi Allah
rezekimu." Carilah di sisi Allah. Jadi
carilah rezeki dari sang maha pemberi
rezeki. Demikian saja ikhwan, kajian
kita. Semoga Allah Subhanahu wa taala
memberikan kepada kita rezeki yang halal
di dunia, di alam barzakh, terlebih lagi
di akhirat kel. Amin 
Resume Requeue
Read
file updated 2026-02-12 01:17:34 UTC
Categories
Manage