Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillahi alaniukrulahu alain asadu alla ilahaillallah wahdahuikalahu [Musik] asadu anna muhammadan abduhuasul ridwih allahumma sholli alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin dan hadirat yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Pada kesempatan kali ini kita akan bahas tentang 10 konsep terkait rezeki. Hal ini karena rezeki adalah perkara yang menjadi pusat perhatian hampir seluruh kita ya. Karena semua membayangkan jika seorang membeli rezeki yang banyak maka semua urusan akan dimudahkan, kebahagiaan akan dia raih, semua cita-cita bisa dia wujudkan. Maka orang-orang pada sibuk ya mencari rezeki. Namun kita ketahui kenyataannya tidak semua orang mendapatkan rezeki yang banyak. Ada yang dikasih banyak, ada yang dikasih sedikit. Dan tidak dan sangat banyak orang-orang ketika mendapatkan rezeki yang sedikit kemudian dia selalu bersedih hati bahkan di antara mereka ada yang stres ya. Maka perlu bagi kita untuk memahami konsep-konsep rezeki menurut syariat agar kita tidak salah paham tentang rezeki dan agar kita bisa mencari rezeki dengan cara yang baik serta kita bisa bersabar tatkala rezeki disempitkan di dunia. Karena sebagian orang menyangka namanya rezeki cuma misalnya cuma rezeki berupa rezeki materi. Padahal di sana ada rezeki non materi bagaimana akan kita bahas nanti. Tib ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Konsep yang pertama bahwasanya Allah adalah maha pemberi rezeki. Rezeki semuanya dari siapa? Dari Allah Subhanahu wa taala. Dan Allah Subhanahu wa taala telah berfirman, "Innallaha huar razzaqu dzul quwatil matin." Sesungguhnya dialah Allah Subhanahu wa taala sang maha pemberi rezeki dan zul quwah sang pemilik kekuatan. Dalam ayat ini, dalam surat azzariyat ini, Allah menggabungkan antara maha pemberi rezeki dengan zulquwah, sang pemilik kekuatan. Itu para ulama mengatakan di antara faedahnya digabungkan antara pemberi rezeki dengan Zulquah sang pemilik kekuatan. Maksudnya Allah maha kuat ketika memberi rezeki. Di antara bukti bahwasanya Allah maha kuat dalam memberi rezeki yang pertama bahwasanya yang ditanggung rezekinya oleh Allah sangatlah banyak. Manusia saja miliaran. Hewan-hewan mungkin entah triliunan. Jangan lupa ada golongan jin juga yang ditanggung rezekinya oleh Allah subhanahu wa taala. Oleh karenanya makhluk yang ditanggung rezekinya oleh Allah sangat sangat banyak. Dan siapa yang mampu makhluk bisa manusia yang bisa menampung rezeki sebanyak itu. Seorang misalnya dia menampung menanggung rezeki 100 orang maka dia mungkin sudah kewalahan. Ya, bagaimana lagi Allah maha kaya, maha pemberi rezeki yang menanggung triliunan makhluk. Dan Allah kasih rezeki kepada mereka. Maka menunjukkan Allah Subhanahu wa taala zul quwwah. Maha kuat dalam memberi rezeki. Ini pertama. Yang kedua, di antara yang menakjubkan bahwasanya Allah mampu memberi rezeki kepada mereka dalam satu waktu sekaligus. dalam waktu sewaktu sekaligus. Dalam satu waktu miliaran manusia Allah kasih rezeki. Dalam satu waktu triliunan makhluk Allah kasih rezeki. Sekaligus manusia tidak akan mampu melakukan demikian. Kalau mereka memberi rezeki pasti mereka bertahap atau sebagian kemudian tahap berikutnya. Tahap berikutnya. Adapun Allah Subhanahu wa taala ketika memberi rezeki langsung kepada triliunan makhluk sekaligus. Dan ini menunjukkan Allah Zulwah, maha kuat dalam memberi rezeki. Perkara yang ketiga yang menunjukkan Allah Subhanahu wa taala kuat dalam memberi rezeki sehingga digabungkan innallah hu razzaqu dzul quwwah. Dialah sang pemberi rezeki, sang pemilik kekuatan. Karena Allah Subhanahu wa taala memberi rezeki ini sudah mungkin entah jutaan tahun entah sudah sangat lama Allah sudah kasih rezeki tersebut dan tidak habis-habis menunjukkan dia kuat dalam memberi rezeki. Makanya Allah mengatakan, "Aroitum mundu ma khalaqas samawati wal ard." Anfaqo mundu khalaq samawati. Bagaimana menurut kalian? Sudah berapa banyak yang Allah infakkan kepada makhluk-makhluknya sejak Allah menciptakan langit dan bumi? Sudah berapa banyak kekayaan yang Allah berikan kepada makhluknya sejak saat ituan? Ini Allah zul quwwah maha kuat dalam memberi rezeki. Maka kita harus yakin bahwasanya dialah Allah sang maha pemberi rezeki. Dan Allah Subhanahu wa taala sangat mudah memberi rezeki dan tidak susah baginya untuk memberi rezeki kepada makhluknya. Wala yauduhu hifzuhuma. Tidak ada susah bagi Allah untuk mengurusi langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya isi langit dan isi bumi semua tidak susah bagi Allah untuk mengurusnya. Ini konsep yang pertama. Konsep yang kedua, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala bahwasanya aset Allah tanpa batas. Aset Allah tanpa batas. Hal ini kenapa? Karena untuk rezeki Allah bisa ciptakan tinggal kun fayakun. Berbeda dengan manusia yang sekaya-kayanya dia rezekinya, asetnya pasti terbatas. Manusia sekayap pun asetnya pasti terbatas. Adapun Allah Subhanahu wa taala asetnya tanpa batas. Makanya dalam hadis Allah mengatakan, "Ya ibadiakumakum yaumika." Kata Allah Subhanahu wa taala, "Wahai hamba-hambaku, seandainya kalian berkumpul dari awal sampai akhir, jin dan manusia, sejak Nabi Adam Alaih Salam sampai manusia terakhir nanti menjelang hari kiamat, entah berapa miliar, entah berapa triliun, dikumpulkan semuanya." Kemudian juga jin, entah jin yang pertama siapa sampai jin yang terakhir semuanya berkumpul satu dataran. Kemudian semuanya minta dikasih misalnya satu orang 5 jam minta kira-kira minta apa ya? Minta banyak sekali. Kita kalau dikasih kesempatan misalnya minta 5 menit pasti dikabulkan sudah minta macam-macam. Gimana lagi kalau seluruhnya minta tanpa batasan? Minta apa saja kemudian aku kabulkan seluruh permohonan kalian tidak mengurangi sedikit pun dari asetku. Ya. Kecuali seperti jarum yang dimasukkan di air kemudian diangkat. Apa yang berkurang? Tidak ada. ini masukin jarum ke lautan kemudian kita angkat ada satu tetes di tertinggal di jarum tersebut kemudian jatuh kembali ke lautan ini menunjukkan mubalagah bahwasanya tidak ada terisa sedikit pun tidak berkurang sedikit pun karena Allah maha maha kaya aset Allah tanpa batas karena Allah kalau ingin suatu tinggal bilang apa kun fayakun innama amru arquu kun fayakun jika Allah berkehendak sesuatu Allah hanya berkata Jadi, maka jadilah. Oleh karenanya dalam hadis tadi yang kita sebutkan Allah mengatakan, "Yadullahi sungguhnya tangan Allah penuh dengan kekayaan." Ya, yadullahi laid nafaqah. Apapun yang Allah berikan kepada makhluk tidak mengurangi kekayaannya sedikit pun. Laid nafaqah. Apapun yang Allah keluarkan tidak mengurangi asetnya. Tangan Allah penuh dengan kekayaan. Sahaul laili wa nahar yang Allah adalah maha dermawan siang dan malam tidak berhenti memberi rezeki kepada hamb-Nya. Kula yaumin hua fian. Setiap hari Allah dalam kesibukan mengurusi hamba-hambnya, mengurusi makhluk-makhluknya. Bukan cuma kita yang diurusi. Ada jin diurusin, ada hewan-hewan diurusin, ada langit bumi diurusin oleh Allah subhanahu wa taala dan semuanya mudah bagi Allah subhanahu wa taala. Sahaulili wan nahar. Dermawan setiap siang, setiap hari selalu dermawan. Kemudian Allah berkata, kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, anfqamawati walard. Ya, bagaimana menurut kalian? Sudah berapa banyak yang Allah infakkan sejak Allah menciptakan langit dan bumi? Sungguhnya tidak mengurangi sedikit pun asetnya. Jadi, Allah Maha Kaya. Makanya kalau kita minta, mintalah kepada Allah. Karena Allah tidak tidak susah bagi Allah untuk mengabulkan permohonan kita. Tidak susah bagi Allah. Dan mudah bagi Allah. Tinggal kun fayakun. Beda dengan manusia. Manusia asetnya terbatas. Sekaya apapun kalau kita minta hari pertama mungkin dia kasih tambahan. Minta Rp100.000 dia kasih R1 juta. Hari kedua dia kasih Rp100.000 saya permintaan hari ketiga dia kasih tapi bermuka masam. Hari keempat kau diusir dari rumah. Manusia seperti meskipun asetnya banyak dan manusia terusik ketika ada orang datang ingin mengorek-ngorek aset dia, dia tidak mau. Itu sifat manusia. Ya, makanya ee kalau seorang semakin minta kepada Allah, justru Allah semakin senang. Ya, dikatakan oleh seorang penyair, "La tasalanna bunai adam hajatan wasalilladzi abwabuhu lagu." Jangan sekali-sekali minta keperluan kepada anak Adam, tapi mintalah kepada Allah yang pintunya tidak tertutup. Allahu Allahuqtahu w Adamaltahu Allah murka kalau kau tidak minta kepada Allah subhanahu wa taala. Adapun anak Adam kalau kau minta kepadanya dia dia marah. Ini konsep kedua bahwasanya aset Allah tanpa batas. Kenapa mudah kalau dia ingin satu tinggal bilang apa? Kun fayakun. Apa susahnya Allah menciptakan bumi berlipat, berkali-kali lipatnya. Allah ciptakan surga nanti yang luar biasa. Tib. Berikutnya yang perlu kita pahami jika aset Allah tanpa batas, kenapa kita tidak semua dijadikan kaya, Ikhwan? Kenapa kita semua tidak jadi tok? Apa tok ya orang kaya sini? Hah? Ya, bos. Apa namanya? Tauke. Tauke bukan tauke tauke ya. Tauke itu binatang ya saya lupa ya. Kenapa kita tidak jik semua ya? Kenapa tidak semuanya naik mobil Alpard, naik mobil mewah-mewah? Kenapa? Kenapa ada yang naik mobil Alpard, ada yang jalan kaki, ada yang mobilnya belum lunas, ada yang motor butut, ada yang naik sepeda, sepedanya rusak di jalan. Kenapa beda-beda? Karena kalau Allah mau kasih K semua mudah, tapi Allah punya hikmah di balik ini semua. Makanya Allah sebutkan dalam Al-Qur'an dua hikmah yang Allah isyaratkan tentu lebih daripada ini. Di antaranya yang Allah isyaratkan Al-Qur'an Allah berfirman, "Watahi ardaki ma yasya." Seandainya Allah bentangkan rezeki kepada hamb hamba-hambanya, Allah kasih banyak-banyaknya labag fil, maka mereka melampaui batas. Manusia tidak kuat jika dikasih kaya. Allah berfirman, "Kalla innal insana." Sungguh manusia itu benar-benar akan melampaui batas tatkala dia merasa dirinya sudah kaya. Orang kalau sudah kaya, sombong dan angkuh, kita tidak bisa mengontrol diri kita. Bayangkan kalau antum dulunya naik sepeda, sepedanya butut, ya antum insyaallah tawadu, ya. Terpaksa tawadu, ya. Tapi kalau antum naik mobil misalnya harganya R miliar susah tawadu, susah. Apalagi antum naik mobil sambil kacanya dibuka, waduh susah untuk apa? Tawad. Manusia berat. Manusia tidak bisa mengontrol hatinya. Dibilang saya kaya tapi saya tawadu susah. Maka dia mentang-mentang maka dia melampaui batas. Itu sifat manusia. Allah mengatakan kalau Allah bentangkan rezeki kepada mereka labag fil ard maka mereka akan melampaui batas. Wakin yunazzilu biqadarim ma yasya. Tapi Allah turunkan dengan kadar yang Allah kehendaki. Terserah Allah Subhanahu wa taala. Sesungguhnya setiap perkara kami punya asetnya. Apapun Allah punya mau emas, mau perak, mau harta, apapun Allah punya. W nunaziluhu illa biqadar maklum. Namun kami tidak turunkan kecuali dengan kadar yang Allah kehendaki. Jadi di antara hikmah pertama, Allah tidak jadikan semua orang kaya. Karena kekayaan menjadikan orang bisa melampaui batas ini kenyataan yang terjadi. Ada orang miskin tiba-tiba kaya, sombong, angku, pamer. Disebut istilahnya OKB, orang kaya baru. Ada enggak di sini OKB? Orang kaya baru baru punya sedikit-sedikit sudah bikin status terus baru baru kaya. Ya orang biasanya kalau sudah lama kaya tidak begitu udik-udik, baru pamer-pamer norak itu biasanya OKB. Orang kaya apa? Baru tidak bisa mengontrol dirinya. Hikmah yang kedua yang di antaranya Allah isyaratkan bahwasanya dunia ini adalah dunia tempat ujian. Dan Allah Subhanahu wa taala menjalankan roda kehidupan dengan sistem yang ada itu ada yang kaya yang miskin. Kalau semua kaya enggak akan jalan kehidupan di atas muka bumi ini. Kalau semuanya miskin juga tidak akan berjalan. Siapa yang memerintah? Siapa diperintah? Makanya ada yang ditakdirkan sebagai si kaya dan ada yang ditakdirkan sebagai si miskin. Kata Allah subhanahu wa taala, yaqsimun rahmatbik nahnu qosamna bainahumisatahum hayatid dunya warna baahum fauq baat liyatt baum ba'ri. Kata Allah Subhanahu wa taala, "Kami yang mengatur di antara mereka kehidupan mereka, rezeki mereka, dan kami jadikan sebagian mereka lebih tinggi daripada sebagian yang lain dalam urusan rezeki." Buat apa? Liyat ba'duhum ba'dukriya. Agar sebagian yang lain, sebagian bisa menggunakan sebagian yang lain. Ada yang memerintah, ada yang di diperintah. Masing-masing ada ujiannya ya. Ada yang kaya dengan ujiannya, yang miskin juga dengan ujiannya. Sehingga kalau orang bertanya, "Kenapa kita tidak semua kaya?" Enggak. Karena dunia ini ujian. Nanti kalau mau kaya semuanya di surga semua kaya. Allah ciptakan pelayanan, pelayan-pelayan Allah apapun diminta akan dikabulkan. Itu di alam lain. Sementara di dunia ini Allah ciptakan untuk apa? Ibtila. Untuk menguji kita. Untuk menguji kita. Makanya Nabi mengatakan, "Inunyawatun." "Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau."Allah mustakum. Dan Allah menjadikan kalian berkuasa di atas muka bumi untuk melihat bagaimana kalian beramal. Itu untuk diuji. Untuk diuji. Tib. Ini konsep yang ke berapa? Yang kedua. Kita lanjut konsep yang ketiga, Ikhwan. Bahwasanya rezeki itu bukan cuma di dunia saja, ya. Rezeki itu ada di dunia, di alam barzakh, dan di alam akhirat setelah hari kiamat. Siapa yang membatasi rezeki cuma di dunia saja dan dia kebetulan di ditakdirkan rezekinya sedikit, maka dia akan merasa sempit. Tapi kalau dia tahu rezeki itu ada di alam barzakh, ada juga rezeki. Di akhirat juga ada rezeki. Maka dia mencari rezeki dari rezeki dunia dia cari, rezeki alam barsah dia cari, rezeki akhirat dia cari. Dan seharusnya seorang lebih fokus di rezeki akhirat karena rezeki akhirat akan digunakan selama-lamanya. Oleh karenanya jangan batasi rezeki hanya di dunia saja. Allah menamakan di dunia rezeki, tetapi Allah menamakan di alam barzakh juga apa? rezeki seperti firman Allah Subhanahu wa taalaillahi amwatan ahya apa jangan engkau menyangka bahwasanya orang-orang yang terbunuh di jalan Allah mati syahid mereka telah mati bal ahyaun bahkan mereka hidup yaitu di alam barzakhzaquun mereka dapat rezeki dari Allah subhanahu wa ternyata di alam berikutnya ada rezeki kita dunia paling 60 70 tahun saya kemarin Waktu ke Madinah dipanggil sama guru saya. Sudah lama saya enggak ketemu. 20 puluhan tahun saya enggak ketemu. Waktu saya masih sybah. Terakhir saya ketemu sudah lama. Dia panggil saya. Eh, saya salamin dia. Kemudian kita ngobrol. Dia tanya, "Firanda, kenapa orang Indonesia umur 60-an sudah pada mati?" Kita kalau di Arab 80-an baru mati. Saya bilang, "Mungkin kebanyakan makan gorengan, Syekh." Jadi, kita ini nikmat di dunia tidak lama. 60 70 sudah dipanggil oleh Allah Subhanahu wa taala. Karena kita hobi makan apa? Gorengan. harga mati gorengan repot. Jadi kita harus sadar bahwasanya rezeki yang akan kita nikmati dunia ini tidak lama. Tidak lama. 60 70 tahun jarang yang lewat 70 tahun gak lama. Makanya semua kenikmatan dunia Allah namakan mata. Ya adunya kulluha mata. Dunia seluruhnya adalah mata. Mataun qolil. Mata itu apa? Suatu kesenangan yang expired yang akan habis. Maka disebut mata dipergunakan kemudian selesai. Ada enggak yang dipergunakan tidak selesai? Semua mobil dipakai selesai, perabotan dipakai selesai, rumah dipakai rusak. Kalau enggak kita yang rusak dulu sebelum rumah yang rusak. Dan Rasulullah berkata, "Adunya kulluha mata whairul mata dunya almaratu shah." Dunia semuanya adalah mata yaitu kesenangan yang akan selesai. Dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah istri yang salehah. Istri salehah juga akan expire atau tidak? Expire atau tidak expire di akhi. Entah expire di luar atau istri yang expire di luar. Selesai. Hidup cuma kenangan cuma sementara. Maka silakan kita mencari rezeki di dunia tapi jangan lupa rezeki untuk alam berikutnya. Alam berikutnya alam barzakh. Mungkin lama sekali seorang meninggal dunia kemudian dia menanti hari kiamat. Bisa jadi sudah banyak nenek moyang kita sudah ribuan tahun di di alam barzakh. Sampai sekarang masih dalam alam barzakh. Tunggu hari kiamat ditegakkan. Apa apa bandingannya antara alam dia alam barzakh? Jauh sekali. Jauh sekali. Oleh karenanya cari rezeki di alam barzakh. Yang lebih lagi cari rezeki di alam akhirat. Allah sebutkan rezeki seperti Allah Subhanahu wa taala rquzi rq minq wauthi mutasyabiha. Dalam ayat ini Allah sebutkan rezeki surga dengan rezeki dunia. Setiap kali penghuni surga diberikan rezeki oleh Allah subhanahu wa taala berupa buah-buahan dan yang lainnya. Mereka mengatakan rqna minqbal. Ini seperti rezeki yang kami diberikan sebelumnya. Wau bihi mutasyabiha. Mereka diberikan yang mirip-mirip. diberikan yang mirip-mirip tapi beda hakikat. Jadi Allah namakan nikmat surga dengan apa? Rezeki. Allah namakan nikmat dunia dengan apa? Rezeki. Tayib. Oleh karenanya ya ketika istri-istri Nabi ya radhiallahu taala radhiallahu taala anhuna ya mereka waktu itu minta tambahan dalam tanda kutip uang dapur ya sebag ulama mengatakan karena ketika itu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam banyak berjihad sehingga para sahabat mendapatkan ghanimah-gonimah lantas mereka berikan kepada rezeki-rizeki mereka istri-istri Nabi lihat pengin juga dapat tambahan uang dapur. Maka waktu itu Rasulullah sahu alaihi wasallam marah. Rasulull sallahu alaihi wasallam meninggalkan mereka. Rasulullah tidak gabung sama mereka selama sebulan. Dia tinggal di Masrubah. Itu seb kamar kecil. Rasulullah tinggalkan dia. Sampai sahabat banyak yang menangis. Kenapa Rasulullah istrinya sembilan, rumahnya sembilan, tidur di kamar sendirian? Sedih atau tidak sedih? Ya, para sahabat cinta sama Nabi sallallahu alaihi wasallam. Rasulullah tidak datangi mereka selama sebulan. Kenapa? Karena mereka minta tambahan ya mereka wanita bisa punya kesalahan dan dengan demikian Allah tegur mereka agar mereka menjadi lebih baik. Karena yang bisa hidup sama Nabi hanyalah orang-orang zuhud. Maka turunlah ayat dalam surat Al-Ahzab dengan ayatut takhyir, ayat pilihan. Yaitu mau hidup mewah-mewah tapi cerai atau menghidup saya dengan saya dengan zuhud. Allah turunkan yazwaj wahai nabi katakanlah kepada istri-istrimu se istrinya ditanyaanya ditanya satu-satu kalau kalian ingin kehidupan dunia dan perhiasannya kemarilah umatun aku akan berikan kepada kalian kesenangan silakan Rasulullah mau kasih harta bisa Rasulullah kalau dapat ganonimah banyak sekali Rasulullah mau kasih bisa. Tapi apa setelah itu jamil? Setelah itu cerai baik-baik. Harta tapi cerai. Enggak bisa hidup sama Nabi dengan hidup mewah-mewah. Tapi kalau kalian ingin Allah dan rasulnya dan hari akhirat, maka Allah akan siapkan ganjaran yang besar. Di mana? Di surga. Setelah itu beberapa ayat kemudian Allah berfirman, "Yaillahiq." Wahai istri-istri Nabi, siapa di antara kalian yang qunut, yaitu taat beribadah, sabar dalam beribadah lillahi karena Allah dan rasulnya. shan dan beramal saleh maka kami akan berikan ganjaran dua kali lipatna laha riz karima maka kami akan berikan siapkan baginya rezeki yang mulia itu dunia sedikit nanti ada rezeki yang mulia maka akhirnya seluruh istri-istri Nabi memilih hidup zuhud bersama Nabi sallallahu alaihi wasallam setelah itu Allah muliakan mereka melarang Nabi untuk menikah lagi dan untuk menggantikan mereka dengan wanita yang yang lain. Jadi ingat Ikhwan, rezeki itu ada bukan cuma dunia saja. Karenanya bisa jadi ada seorang di dunia dapat rezeki banyak, di akhirat gak ada jatah. Bisa jadi seperti orang-orang kafir. Dan ada orang-orang di dunia rezekinya sedikit tetapi di akhirat banyak sekali. Maka jangan pikir rezeki dunia saja. Allah berfirman, "Watq waqiah ard." Kata Allah Subhanahu wa taala, "Jika telah tegak hari kiamat dan tidak ada yang bisa menolak akan datangnya hari kiamat, bahwasanya hari kiamat itu merendahkan dan meninggikan." Apa maksudnya merendahkan? Sebagian ahli tafsir mengatakan, "Merendahkan manusia-manusia yang disangka hebat ketika di dunia, di akhirat. Allah rendahkan." Rafiah hari kiamat meninggikan. Ada orang-orang dirasa rendah, hina, miskin di dunia ternyata di akhirat dimuliakan. Ji ada orang di dunia mungkin kelihatan kaya raya, kenikmatan luar biasa, ternyata di akhirat gak punya apa-apa. Oleh karenanya kalau qadarullah antum miskin, boleh sedih, tapi jangan terlalu bersedih. Bisa jadi jatah di akhirat apa? Banyak. Oleh karenanya ketika Umar bin Khattab radhiallahu anhu datang ke Masyrubah dalam Sahih Bukhari tadi ketika Rasulullah meninggalkan istri-istinya Masrubah kamar kecil tidak ada apa-apa hanya melihat sebagian gak ada apa-apa di kamar kalau enggak salah cuma ada kulit-kulit yang ee kulit-kulit samak ya Rasulullah tidak punya apa-apa. Maka Umar berkata, "Ya Rasulullah, mereka Romawi, Kaisar, Kisra, mereka diberikan dunia ya sementara kita begini. Tidakkah berdoa untuk umatmu? Maka Rasulullah mengat Rasulullah marah. Kata Rasulull sallahu alaihi wasallam, "Afi syakin anta ya bnal khattab." Kau ragu wahai Ibnu Umar. Haulaiun ujilat lahum thyibatuhum fil hayatid dunya. Mereka itulah kaum yang kesenangan dunia disegerakan. Kesenangan mereka di akhirat disegerakan di dunia. Di akhirat mereka tidak dapat apa-apa. Allah berkata kepada mereka pada hari kiamat kelakum dunya wasam biha kalian telah menghilangkan kesenangan akhirat kalian di dunia sudah kalian ambil semuanya jatah. Oleh karena di antara fikih sebagian sahabat ini fikihnya Umar dan fikihnya Abdurrahman bin Auf radhiallahu anhuma, jika seorang terlalu bersenang-senang di dunia maka jatahnya di akhirat dikurangi. Dalam riwayat ketika Umar bertemu dengan Jabir bin Abdillah dan dia membeli membawa orang bawa bawa apa namanya? Laham yaitu daging. Maka Umar tegur, "Afaqulaitanahu apa? Setiap kau ingin sesuatu kau beli. Tidakkah kau mendengar firman Allah Subhanahu wa taala? Adhabum thyibatikum. Tidakkah kau lihat firman Allah subhanahu wa taala? Kalian telah menghilangkan, menyirakan jata kalian di dunia, di akhirat di dunia. Kalian telah menyegerakan jata kalian akhirat untuk bersenang-senang di dunia. Sehingga sebagian salah, sebagian sahabat memandang terlalu bersenang-senang di dunia mengurangi jatah di mana? Di akhirat. Dan ini juga pendapat Abdurrahman bin Auf. Abdurrahman bin Auf r. Radhiallahu anhu. Ketika dia berpuasa kemudian dengan berbuka dihidangkan makanan. Tiba-tiba dia ingat Mus'ab. Dia mengatakan Mus'ab bin Umair meninggal dunia dalam kondisi mati syahid. Kami tutup kepalanya dengan tidak ada yang dia tinggalkan kecuali selembar burdah, selembar kain. Hartanya tidak ada sama sekali kecuali selembar kain. Itu pun kalau buat nutup kepalanya, kakinya kelihatan. Kalau untuk kedua kakinya kepalanya kelihatan. Untuk kain kafan aja enggak cukup hartanya. Kata Abdurah, "Wah khairun minni." Dia lebih baik daripada aku. Kata Abdurrahman bin Auf itu dengan penuh tawadu. Kemudian kata beliau futihana ya atau busit lana minad dunya ma busit. Kemudian dibukakan bagi kami dunia sebagaimana telah dibukakan. Wa inna nakhafu. Dan sesungguhnya aku khawatir ini adalah kenikmatan surga yang disegerakan. Ma saya ikhwan seorang ya ketika jadi orang miskin bertakwa, jadi orang kaya bertakwa. Tetapi rezeki itu ada tiga. Bukan rezeki dunia saja. Ada rezeki di alam barzakh, ada rezeki di akhirat. Kalau kita tidak bisa menyaingi orang rezeki di dunia, saingi dia untuk rezeki di akhirat. Bisa jadi orang yang Anda lihat sekarang depan Anda adalah seorang yang miskin. Bisa jadi di akhirat dia kaya raya. Bisa jadi Anda lihat seorang kaya raya di dunia, di akhirat dia enggak punya apa-apa. Saya sering sampaikan contoh, saya punya pembantu dulu. Saya punya pembantu dia setiap gajian, gajinya 100% dia kasih ibunya. Setiap gajian dia kirim ke ibunya itu harta dia 100% dia berikan kepada ibunya. Ini orang seperti ini kira-kira rezekinya banyak enggak di akhirat? Kan ganjaran yang banyak. Dia berbakti. Kita mungkin meremehkan tapi ternyata dia luar luar biasa. Oleh karenanya ketika kita tahu rezeki bukan cuma di dunia saja, kita jangan mikir rezeki dunia. Rezeki cuma mata sebentar lagi habis. Makanya Allah berfirman, azwajum. Janganlah kau panjangkan kedua matamu wahai Rasulullah kepada sekelompok orang yang kami berikan kesenangan dunia. Ya zahrat dunia. Kesenangan dunia seperti zahrah, seperti bunga yang cepat layu hilang cepat. Zahra apa? Bunga indah, merah, jingga, kuning, ungu tapi cepat layu. Buat apa? Linaftinahum fi. Kami menguji mereka dengan dunia tersebut. Kemudian kata Allah, "Warizkubika khairu wa abqo." Dan rezeki rabmu yaitu di surga lebih baik dan lebih apa? Kekal. Jadi jangan pikir rezeki cuma di sini saja. Seorang bertakwa salat ibadah mencari rezeki di alam barzakh dan rezeki di akhirat. Sekarang yang ke berapa? Baik. Berikutnya, Ikhwan, bahwasanya rezeki tidak terbatas pada materi saja. Ini perlu kita perhatikan, rezeki tidak terbatas pada materi saja. Ya, kalau kita buka di kaumus-kamus Arab, rezeki itu yang bermanfaat bagi banyak bagi manusia, ya. Dan ini juga pendapat Syekh Utsimin rahimahullah bahwasanya rezeki itu suatu yang bermanfaat bagi manusia. Berat bagi manusia baik badannya maupun rohaninya maupun agamanya itu semuanya apa? Rezeki. Rezeki secara umum ternyata terbagi menjadi dua. Materi dan non materi. Materi dan non materi. Contoh rezeki materi seperti apa? Seperti rumah ya. Dapat rumah besar. Sebab kebahagiaan bagus punya rumah besar ya, punya kendaraan ya, ada makanan, minuman ya. Non materi seperti apa? Kesehatan sehat ya. Ini non materi kenyamanan, keamanan. Saya kemarin ketemu kawan dari Palestina ya, dari kota Alkhalil di di Palestina ya. Dia bilang, dia sekitar berapa bulan di Indonesia, dia bilang, "Subhanallah, di sini orang tidak sadar bahwasanya mereka dalam kenikmatan yang luar biasa." Itu kenikmatan apa? Keamanan. Namun nikmat tersebut nikmat yang abstrak, yang non materi. Belum lagi kalau kita bicara non materi terkait agama, kita ngaji, kita salat, baca Quran, nikmat ya, Akhi. Nikmat luar biasa ya. Rumah tangga ya. Banyak hal nikmat-nikmat nonmateri yang dirasakan. Apalagi seorang beriman kepada Allah, Allah akan berikan kebahagiaan. Makanya kata Ibnu Taimiyah rahimahu taala, inna fid dunya jannatan manam yadkhulha lam yadkhul jannatal akhirah. Di dunia ini ada surga, itu kebahagiaan. Siapa yang tidak bisa masuk dalam surga dunia, dia tidak bisa meraih surga akhirat. Maksudnya apa? Kata Ibnu Taimiyah, orang beriman pasti bahagia. Apapun kondisinya dia pasti apa? Bahagia. Kalau dia tidak bisa bahagia di dunia, berarti di akhirat juga tidak bahagia. Ibnu Taimiyah mengucapkan begitu, bukan dia orang kaya, bukan dia orang senang-senang. Dia dipenjara berulang-ulang, tapi dia merasakan kebahagiaan. Sebagaimana perkataan para sebagian salaf mulukna mulukahi alai. Seandainya para raja, para pangeran tahu tentang kebahagiaan yang kami dapatkan itu rezeki non materi, tentu mereka akan memaksa untuk merebut dari kami. Oleh karenanya orang kalau bertakwa Allah akan berikan apa? Kebahagiaan. Ketahuilah ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Betapa banyak orang diberikan kebahagiaan, rezeki materi, namun enggak dapat rezeki non materi. Banyak orang kaya raya tapi hidup sengsara, narkoba, tidak ada ketenangan. Bahkan Allah sebutkan orang-orang munafik tentang orang-orang munafik. Kata Allah Subhanahu wa taala, "Ya, fala tujibaka amwaluhum wala auladuhum innama yuridullahu liyuadibahum biha fil hayatid dunya." Janganlah engkau takjub dengan harta mereka dan anak-anak mereka. Sesungguhnya Allah ingin mengazab mereka biha dengan anak-anak dan harta mereka fil hayatid dunia dalam kehidupan dunia. Jadi ada orang diberi rezeki materi. Rezeki materi itu menyiksa dia. Ada Allah sebutkan dalam Al-Qur'an dia dapat rezeki materi tapi dia tersiksa. Dia tersiksa. Buktinya buktinya banyak. Akhirnya saya sering sampaikan saya ketemu dengan ada nonmuslim orang kaya punya properti. Saya ngobrol di pesawat. Akhirnya ngobrol-ngobrolng ngobrol. Saya bilang, "Bapak bagaimana sekarang? Apa yang Bapak kesedihan yang Bapak rasakan?" Dia bilang, "Saya lagi sedih. Anak-anak saya yang saya biayai, saya sekolahkan sekarang mereka tidak ada yang hubungi saya, tidak ada kunjungi saya. Dia punya anak-anak, dia tersiksa di saat masa tua dia ingin anak-anak merawatnya, meneleponnya, menjenguknya, ziarah kepadanya. Anak-anak cuek dengan kehidupan tidak tahu diri, anak durhaka. Dia sengsara dengan anak-anaknya. Antum k lihat di Eropa, di Eropa tentu tidak semua. Tapi banyak kita lihat sendiri di Eropa orang-orang nonmuslim sudah tua jalan sendiri dengan anjing. Tapi kalau lihat orang muslim subhanallah orang tua didorong sama anaknya, cucunya rebut-rebutan. Ada durhaka. Banyak yang durhaka. Sengsara. Terazab dengan anak-anaknya. Apakah ada orang terazab dengan banyaknya harta? Banyak. Banyak harta. Akhi. Antum coba masa kita mau jujur ya kalau kita mau jujur berpikir kalau kita miskin insyaallah jam 09.00 sudah tidur ya. Makanya makan apa? Makan sate Padang tidur selesai. Pagi-pagi makan lontong sudah selesai. Tapi orang punya perusahaan masyaallah dia mikir sana mikir siniik banyak dia pikirkan perusahaannya. Kalau ada inflasi dia mikir. Kalau dolar turun dia mikir. Pusing. Kalau mau lebaran bayar THR dia mikir. Yang miskin-miskin terima THR senang dia mikir bayar THR. belum persaingan bisnis. Kalau perusahaan baru yang mirip dengan dia, wah ini kompetitor pusing ya kalau didatangi orang pajak tanpa pusing lagi. Enggak gampang. Enggak gampang. Banyak dia mau urusin. Saya pernah ketemu dengan seorang pejabat, dia sudah mempensiunkan diri. Dia bilang, "Ustaz, antum enak jam 08.00, jam 10. Sudah tidur. Kadang kami jam .00 baru mulai rapat jam .00 malam. Kadang kami jam .00 bukan kadang sering jam .00 malam kami mulai susun strategi politik dan yang lainnya ya akhi. Jadi bisa jadi rezeki materi yang didapatkan jika jika tidak digunakan sesuai dengan syari justru mendatangkan keseng kesengsaraan. Innama yuridullahu liadibahum biha filtid dunya. Allah ingin menyiksa mereka. Bayangkan koruptor dia punya uang banyak, uangnya banyak. Terus dia simpan. Dia bingung simpan di mana. Simpan di mana. Takut ketahuan. Akhirnya simpan di bawah tempat tidur. Ya, sedikit-sedikit dia periksa masih ada enggak? Jangan-jangan diambil sama tuyul babi ngepet. Periksa. Takut. Dia mau belanja takut. Uang banyak mau beli mobil mewah takut ketahuan orang pajak. Jadi gemes kan. Mau beli aduh nanti ketahuan. Gelisa atau tidak? Kalau antum enggak bisa beli kan enggak gelisah. Aman. Enggak bisa beli. Enggak bisa beli. Kepengin pun enggak karena duit enggak ada. Tahu diri dia duit banyak membu beli takut. Beli banyak takut. Takut diperiksa takut. Oleh karenanya tidak mesti orang kaya lebih bahagia daripada antum. Tidak mesti ini benar. Ini bukan main-main. Tidak mesti mereka lebih bahagia daripada antum. Antum masyaallah ngaji ada waktu. Sebnya orang kaya enggak bisa ngaji. Gimana mau ngaji? Ngitung duit duit belum selesai. Tanda tangan belum cek belum selesai. Gimana mau ngaji? Gimana ada ketenangan? Orang banyak sebagian mereka tidak bisa tidur. Kapan tidur? Kalau jumatan tidur. Dengar ceramah tidur. Jadi maksudnya jangan terlalu, jangan terlalu hasad sama orang kaya. Jangan biasa rezeki masing-masing. Allah tahu. Itu penting kita nikmati, kita ber bersyukur. Tidak mesti orang kaya lebih baik dari antum. Sebagai contoh kata Ibnu Qayyim rahimahullah, Allah mentakdirkan dunia ini akan dirasakan kelezatan jika telah melalui kesusahan. Kapan kita merasakan makan itu enak ketika kita la lap la lap lapar? Kalau enggak lapar enak enggak? Enggak enak. Kapan kita merasakan minum itu lezat? Ketika kita dahaga. Setelah dahaga payah baru minum lezat. Kapan kita merasakan tidur itu nyaman? Kalau kita le lelah. Kalau kita enggak lelah, enggak bisa tidur, enggak enak. Taruhlah antum orang kaya selalu nikmat ke mana-mana naik bisnis kelas, bahkan punya jet pribadi. Antum gitu-gitu aja monoton, tapi orang coba orang miskin, tiba-tiba naik bisnis kelas, wah kayak di surga. Kalau dia sudah biasa, enggak ada biasa-biasa aja. Buktinya orang kalau pendaki gunung, kapan dia merasakan bahagia? Ketika naik gunungnya susah. Ya tidak. Dia ada kebagian. Kalau gunungnya cuma 1 m, ngapain dia naik? Dia mau gunungnya 3 kilo, 4 kilo, dia naik supaya dia wah itu sudah konsep kehidupan dunia. Kalau sudah bersusah-susah baru kemudian merasakan apa? Kelezatan. Maka bukan berarti orang yang nyaman di kemudian dilayani kemudian semua belum tentu dia bahagia. Belum tentu dia stuck. Stu orang yang variatif. Kadang susah kemudian senang, kadang susah senang. Dia dapat kebahagiaan yang tidak dirasakan oleh mereka. Jadi pilih mana? Miskin atau kaya? Kaya dong, Ustaz. Kaya yang bersyukur. Enggak. Ini kan kita hiburan kan. Tidak semua antum kaya. Ada di antara antum yang kaya, ada yang miskin, ada yang sok kaya ya macam-macam. Baik. Maka bersyukur apa yang yang ada sehingga kita bisa bagi sekarang yang ke berapa? Enam apa lima? En. Ya sudahlah hitung ajalah. Anggap aja enam ya biar cepat selesai. Bab rezeki ada yang halal ada yang haram. Ini beda dengan Muktazilah yang mengatakan rezeki hanya yang halal. Rezeki ada yang halal yang haram. Makanya kita minta rizq thayiban. Habis salat subuh kita mengatakan apa? Allah minasaluka ilman nafian warizqan thiban waalan mutaqabbalan. Dan rezeki yang halal atau haram ditinjau dari pertama ditinjau dari zatnya. Zatnya bisa halal bisa haram. Yang kedua ditinjau dari cara meraihnya bisa halal bisa apa? Haram. Khamar zatnya haram. Babi zatnya apa? Haram. Ya. Tapi ada rezeki yang halal tapi cara mencarinya haram. ya korupsi, nipu orang, riba, judi. Ini semua cara-cara yang haram. Yang ingin saya sampaikan, Ikhwan, ketahuilah kaidah menyatakan antum cari rezeki dengan cara apapun, mau cara halal, cara haram hasilnya sama, tidak berubah. Ini harus antum yakini. Rezeki kita tidak berubah nominalnya. Dari kita lahir sampai kita mati tidak berubah nominalnya. Mau cari dengan cara halal, cara haram hasilnya sama. Siapa yang bilang demikian? Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nabi mengatakan, "Inna ruha qudusi nafas fi nafsanut rizqoha." Sungguhnya Jibril alaihi salam berikan wahyu ke dalam jiwaku menyatakan bahwasanya tidak ada satu jiwa pun yang meninggal kecuali telah sempurna apa rezekinya. Kemudian kata Nabi, faajmilu fab, maka carilah dengan cara yang baik. Khudu mahalla wada mahrum. Ambil yang halal, tinggalkan yang haram. Karena hasilnya sama saja. Hasilnya sama saja. Ajmilu fab ada dua makna. Pertama ijmal. Ada yang mengatakan kepada Jamal, yaitu carilah dengan cara yang baik. Jangan cari cara haram karena sama saja. Ada ajmilu f thab yaitu dengan ijmal yaitu jangan ngoyo. Cari rezeki tapi jangan apa? Jangan ngoyo. Mau ngoyo enggak ngoyo sama saja. Jangan sampai lembur kerja sudah 12 jam lembur juga 12 jam kebanyakan ya. Kalau bisa hari 25 jam 25 jam ya sama saja kelihatannya banyak sekarang. Nanti berkurang karena ini, berkurang karena ini, hasilnya sama saja ya. Oleh karenanya ini apa ini azan kah? Ya azan ya. Oleh karenanya ketika seorang di depan dia ada cara yang haram jangan dia tempuh. Di depan dia untung yang banyak jangan tergoda. Kalau dia tidak ambil Allah akan buka rezeki dari jalan yang lain yang hasilnya sama. Cepat atau lambat. Jangan tergoda. Haram tinggalkan, syubhat tinggalkan. Allah akan buka dengan cara yang lain. Kalaupun dia dapat yang haram tersebut, Allah akan ambil dengan cara Allah Subhanahu wa taala yang dia tidak sadari. Masalahnya meskipun nominalnya sama, hasilnya sama, kalau antum ambil dengan cara yang halal, antum selamat di akhirat. Kalau antum ambil dengan cara yang haram, antum binasa di akhirat. Oleh karenanya rezeki yang haram halal nominalnya sama saja. Kita lanjutkan ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala. Kalau kita mendapatkan rezeki dengan cara haram, musibah pada hari kiamat kelak. Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, qama abdin hatta yusal arba. "Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat yaumul qiamah itu bergeser menuju surga atau neraka sampai dia ditanya dengan tentang empat perkara. Di antaranya analihi tentang hartanya minasuaqah dari mana dia dapatkan ke mana dia habiskan." Makanya ada yang tawar kepada kita misalnya ustaz ada bilang saya enggak siap dihisab. Saya tidak siap dihisab. Saya tidak siap dihisab. Jadi kita yakin rezeki sama saja. Disebutkan dikisahkan ada seorang salaf yang dia ee ketika mau ke masjid atau ke satu tempat dia nitip pelananya kepada seorang. Dia titip pelananya dijaga kemudian dia melakukan keperluannya, hajatnya. Kemudian dia balik. Ketika dia balik ternyata pelana tersebut hilang. Maka dia suruh orang untuk beli pelana di pasar. Maka ada orang belikan dengan harga 2 dinar kalau tidak salah ya. Nanti dengan harga tertentu. Kemudian dibawalah planet tersebut kepada orang salaf ini. Kemudian mengatakan subhanallah ini plan saya yang hilang. Ya, saya tadi bermaksud kalau selesai ini saya mau kasih hadiah kepada orang ini 2 dinar, tapi dia tidak ingin mengambil dengan cara yang halal. Ternyata dia curi, dia jual, dia juga dapat du di dinar. Subhanallah. Jadi mau cara baik, cara halal, cara haram tetap berapa? 2 dinar. Ini harus kita yakin. Ada kawan punya proyek proyek terkait dengan ee pemerintah. Kemudian sebagian oknum akhirnya memaksa harus diberikan bagian jatah minta kepada kawan tersebut. Ini kawan langsung cerita sama saya minta minta kata dia bilang harus saya dapat jatah. Kalau enggak ini enggak gol atau tendernya tidak dimenangkan. Kawan ini bilang, "Gak, saya enggak mau." Kalau enggak, ya gak apa-apa gak meskipun proyeknya mungkin ratusan miliar. Enggak. Kalau enggak, enggak mau. Akhirnya kawan enggak ambil. Dia enggak ambil. Akhirnya proyek hilang, untung banyak hilang. Enggak ada masalah. Ternyata dia ambil kontraktor lain, ngerjain-ngerjain, enggak bisa. Enggak bisa. Akhirnya kawan dipanggil lagi, dikasih proyek tanpa ada korupsi. Subhanallah. Kalau itu rezeki kita tidak bakalan la lari. Kalau tertutup pintu ini akan terbuka pintu yang lain. Allah punya cara. Tinggal kita yakin. Maka ikhwan, kalau ada tawaran haram jangan diambil. Syubhat aja kalau bisa tinggalkan tinggal haram apalagi jangan diambil. Rezeki sama aja. Yakin rezeki sama aja. Kalau ditutup pintu ini akan dibuka pintu yang lain oleh Allah Subhanahu wa taala. Tiik. Sekarang kaidah yang konsep yang ke berapa? Enam. Enam. Iya. Terserahlah berapa. Ya. Ketahuilah bwa banyaknya rezeki bukan pertanda Allah mencintai seorang hamba. Kalau banyaknya rezeki, tanda cinta Allah kepada seorang hamba, tentu orang kafir berarti dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. Rezeki bisa diberikan oleh Allah kepada orang yang Allah cintai dan juga kepada yang orang yang Allah tidak cintai. Ya, makanya Allah mengatakan ya faamal insanualahu faakramahu waamahu fqubi akrmaahuqqubi ahanan kalla. Adapun manusia kalau dilapangkan rezekinya dia mengatakan, "Rabbi akraman." Allah telah muliakan aku. Adapun jika dia diuji, sempitkan rezekinya, dia mengatakan, "Rabbi ahan." Allah telah hinakan aku. Kata Allah, "Kalla tidak demikian." Demikian. Rezeki bukan menunjukkan cinta Allah kepada seorang. Bisa jadi orang dicintai sangat cintai Allah, tapi dia miskin. Contoh siapa? Contoh sederhana misalnya Uwais Alqarani miskin. Padahal Rasulullah mengatakan kirut tabiin. Uwais alqarani miskin sampai dia dituduh di kaumnya mencuri. Subhanallah. Wais Al-Qarani tetapi kalau orang diberi rezeki ternyata rezekinya dia gunakan untuk dekat kepada Allah itu tanda Allah cinta sama dia. Buktinya dia semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa taala. Tapi banyak orang dikasih rezeki dia semakin jauh dari Allah Subhanahu wa taala. Tapi yang berikutnya, jadi maksudnya kalau antum miskin jangan terlalu sedih ya. Sedih bolehlah tapi jangan terlalu. Bukan berarti Allah benci sama antum. Gak gak ada. Bukan ukuran. Betapa banyak orang saleh yang miskin-miskin banyak sekali. Para ulama banyak sekali para anbiya banyak miskin-miskin. Isa alaihi salam miskin. Isa alaihi salam miskin. Zakaria miskin. Banyak ya, banyak sahabat yang miskin, banyak ulama yang miskin. J kalau pas Allah mentakdirkan kita rezeki sedikit, Allah lebih tahu apa yang maslahat bagi kita. Saya punya pengajian judulnya 17 sisi baik dari musibah. Mungkin kalau antum merasa miskin musibah, tolong nonton video itu ya. Saya tidak mau bahas sekarang. 17 sisi baik di balik apa? Musibah. Tayib. Yang berikutnya, semua rezeki telah diatur oleh Allah subhanahu wa taala, telah dijamin oleh Allah subhanahu wa taala. Jangankan manusia, bahkan hewan juga telah diatur rezekinya. Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Ya, wama min dabatin fil ardhi illaahi rizquha. am mustaqha wa musta kata Allah subhanahu wa taala tidak ada hewan melata di atas muka bumi kecuali Allah yang menanggung rezekinya mustaq musaha ada khilaf di makna mustaqar mustaud ada yang mengatakan mustaqarah maksudnya di mana kandangnya di mana tempat tinggalnya ya ee mustaqarah di mana tempat dia berjal mustaudaah adalah tempat di mana kandangnya jadi maknanya di antara makna yaitu Allah tahu Di mana kandangnya dan ke mana dia cari rezeki, jalannya ke mana. Misalnya burung terbang ke mana Allah tahu. Setiap burung Allah tahu dia mau terbang ke mana. Setiap hewan keluar dari lubangnya mau ke mana Allah tahu. Jadi Allah sudah siapkan rezeki sesuai dengan arah jalannya. Allah yang tanggung itu hewan. Sebagian ulama menafsirkan mustaqarah mustaah maksudnya hidupnya dan matinya. Allah tahu mainnya ke mana, jalan-jalannya ke mana, kapan ajalnya. Allah tahu sehingga Allah sudah tentukan. Cacing ini rezekinya ini, burung ini rezekinya ini, ikan ini rezekinya Allah sudah tentukan. Detail per per hewan-hewan tidak ada satu hewan belatang-belat kecuali Allah tentukan rezekinya. Bagaimana lagi dengan manusia yang mukalaf? Kata Allah Subhanahu wa taala, minbatinha. Betapa banyak hewan melata tidak mampu menanggung rezekinya. Hewan melata tidak tidak akalnya tidak banyak seperti manusia. Burung akalnya sederhana aja lah. Tahmilur reiz akalnya tidak seperti manusia. Manusia bisa nipu, bisa ngibul, bisa bohong, bisa manusia canggih kalau cari rezeki dengan berbagai macam cara yang yang riba bisa jadi syari. Luar biasa. Manusia canggih pokoknya. Hewan bisa apa tapi rezekinya sudah di ditanggung. Rnya sudah di ditanggung. Nah, kalau rezeki sudah ditanggung apalagi manusia maka jangan seorang ee khawatir berlebihan ya. Rezeki sudah ditanggung. Hewan saja sudah diatur apalagi manu manusia. Bagaimana kita suudan sama Allah sementara kita masih dalam janin, Allah kasih rezeki sama kita. Kita kecil belum bisa cari rezeki, Allah sudah kasih rezeki lewat kedua orang tua kita. Setelah kita dewasa sudah punya kemampuan, sudah pandai berpikir, sudah lebih matang, kemudian takut tidak dapat rezeki, ini suudan kepada Allah Subhanahu wa taala. Maka yakin rezeki sudah di tentukan. Sebagaimana seorang yakin ajalnya sudah ditentukan. Banyak orang kalau ajal tenang ajal. Kalau ajal ajal enggak, enggak. Tapi kalau rezeki dia enggak percaya. Padahal perkara rezeki dan ajal sama saja. Malaikat ketika mencatat bikatli rezkihi wa ajalihi rezekinya, ajalnya dicatat maka sudah ditentukan. Tib berikutnya meskipun sudah ditentukan akan tetapi Allah Subhanahu wa taala suruh mencari rezeki dan berusaha. Karena semua yang ditakdirkan yang dicatat di lauhil mahfuz bukan cuma hasilnya tapi tercatat akibat dan juga sebabnya. Ya. Si fulan mati tapi karena apa Allah catat? Si fulan kaya karena apa? Miskin karena apa? Ada semua catatannya. Maka kita menempuh sebab untuk menuju akibat tersebut meskipun semuanya sudah di dicatat ya meskipun semuanya sudah dicat tapi kita harus menempuh sebab karena yang dicatat di lauhil mahfuz sebab dan apa? Akibat. Sebagaimana kita yakin bahwasanya kenyang dan lapar sudah ditakdirkan. Tapi kita tahu kalau mau kenyang ya makan. Sebin bahwasanya punya anak atau tidak sudah ditakdirkan. Tapi kalau kita punya anak kita nikah supaya punya punya anak. Oleh karenanya masalah rezeki Allah juga suruh cari dalam banyak ayat seperti dalam firman Allah Subhanahu wa taala jaakum. Dialah Allah yang telah menundukkan bumi bagi kalian. Yaitu Allah menundukkan bumi agar mudah dipijak, agar mudah untuk dilewati. Berjalanan menuju mana? Sebagian ahli tafsir mengatakan manakib seperti ini maksudnya tempat-tempat yang tinggi. Kalau kau harus cari rezeki ke tempat yang tinggi, tempuhlah tempat tersebut. Jalan. Jangan malas-malasan. Kalau memang harus dirawat tempat tinggi, pergi ke sana. Itu Allah suruh berusaha. Allah suruh berusaha. Tetapi di akhir ayat kata Allah, biqai, makanlah rezeki Allah. Ingat kalian akan dikembalikan kepada Allah subhanahu wa taala. Contoh lagi firman Allah subhanahu wa taala. Kalau selesai salat Jumat bertebarlah. Carilah rezekilah, carilah karunia Allah. Tapi kata Allah, wadkurullaha katiran. Jangan lupa banyak ingat Allah. Ini maksudnya cari rezeki tapi jangan lupa ingat Allah. Cari rezeki tapi jangan lupa kepada sang pemberi rezeki. Ini cari rezeki tapi lupa kepada sang pemberi apa? rezeki. Bahkan Allah Subhanahu wa taala menyuruh kita berusaha. Dialah Allah yang telah menundukkan lautan bagi kalian agar kalian bisa makan daging segar. Mancing. Allah suruh mancing. Bukan cuma mancing aja untuk kalian ambil mutiara. Berarti kan perlu menyelam usaha. Berarti Allah suruh usaha. Jadi rezeki diraih dengan apa? Usaha. Berusaha. Dan usaha tersebut tentu harus harus benar. Tib yang terakhir bahwasanya untuk mencari rezeki pertama dengan sebab duniawi, yang kedua dengan sebab ukhrawi. Sebab duniawi banyak caranya. Jadi dokter, jadi guru, jadi dosen, ya jadi pedagang, jadi kontraktor, ya jadi salers, jadi broker, jadi apa terserah yang penting halal. ini masing-masing dibukakan oleh Allah cara-cara mencari rezeki. Tapi ada pintu-pintu rezeki yang ukhrawi yang mungkin lebih efektif daripada cara-cara duniawi. Jangan dispelekan. Jangan disepelekan. Di antaranya yang pertama misalnya adalah dengan menyambung silaturahmi. Man ahabba yubirizari. Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya, dipanjangkan umurnya, maka sambung silatu silaturahmi. Orang yang sibuk sambung silaturahmi, rezekinya lancar. Rezekinya lancar. Ini di antaranya Allah tambah-tambahkan rezekinya. Tambah-tambahkan. Saya tidak, tidak ada teman yang saya kenal perhatian sama silaturahmi kecuali rezekinya lancar. Tidak ada teman yang saya kenal perhatian sama kerabatnya kecuali rezekinya apa? Lancar. Di antaranya kedua misalnya kafalah kepada penuntut ilmu. Dalam satu hadis dalam dalam salehin disebutkan ada seorang dua orang satu kerja satu menuntut ilmu sama Nabi. Akhirnya saudaranya mengeluh, "Ya Rasulullah ini saudaraku tidak kerja." Maka Rasulullah mengatakan, "Laallah laallaka turzaqu bihi." Kata Nabi, "Bisa jadi kau dapat rezeki gara-gara dia lewat dia." Bisa jadi kau dapat rezeki lewat apa? lewat dia. Jadi karena kau ngurusin dia nuntut ilmu, kau dapat rezeki lewat dia. Dalam hadis juga saya lupa lafalnya, tapi maknanya Allah Subhanahu wa taala memberikan rezeki pada suatu kaum lewat kaum yang lain. Jika mereka terus memberi menafkahi kaum tersebut maka mereka terus diberi rezeki oleh Allah. Jika mereka tidak mau, Allah akan ganti dengan kaum yang lain. Subhanallah. Di antara nasihat yang pertama kali ketika sampai Madinah, saya tidak lupa tentang guru saya itu cerita. Dia bilang, "Ada seorang selalu kalau dapat rezeki dia kasih ke orang lain." Dia kasih sampai teman-temannya tugur ente dapat rezeki kasih-kasih orang. Kata dia, "Saya punya kebiasaan sama orang. Allah punya kebiasaan sama saya. Kebiasaan saya kalau saya dapat diri saya kasih. Kebiasaan Allah kalau saya kasih, saya dikasih lagi sama Allah." Kalau saya rubah kebiasaan saya terhadap orang, saya takut Allah rubah kebiasaannya. Terkadang seorang hanya mengkafalahi mungkin anak yatim satu orang, dua orang, ternyata Allah buka rezekinya banyak. Uang yang dia keluarkan untuk anak tersebut tidak seberapa dengan keuntungan yang Allah berikan di dunia. Tidak sebanding. Tapi ternyata Bu ini adalah pintu untuk buka rezeki yang banyak. Terkadang seorang silaturahmi cuma kasih sedikit tapi ternyata Allah ganti dengan sangat sangat banyak. ketika dia ikhlas kepada Allah, dia tidak mencari dunia, tidak mencari sanjungan, tidak mencari pengakuan dari orang Allah ternyata kasih rezeki yang banyak. Yang menakjubkan. Saya punya teman-teman kerja sama orang kafir. Orang kafir terus meyakini ini. Dia mengatakan ini fulan kaum muslim ini bantu sana anak yatim. Dia pengin biar usaha kita, perusahaan kita apa? Baik. Bantu anak yatim. Sebab apa? Orang kafir yakin. Pokoknya kalau bantu anak yatim rezeki kita apa? perusahaan kita dijaga oleh Tuhanmu atau Tuhanku terserahlah. Maksud saya dia percaya itu menakjubkan ya. Oleh karenanya benar usaha duniawi tidak kita sepelekan, kita kerjakan tapi usaha ukhrawi ini sangat penting. Di antara usaha ukhrawi agar kita mendapat rezeki tawakal. Kata Ibnu Rajab al-Hambali, tawakal yang kuat dengan sebab yang sedikit rezeki banyak. Kalau kalian bertawakal dengan kepada Allah dengan tawakal yang benar, Allah akan kasih rezeki kepada kalian sebagaimana Allah berzeki pada burung dia terbang di pagi hari perut kosong balik di sur dengan perut kenyang. Oleh karena ketika sebagian ulama mensyarah hadis yadul jannahunidatuhumidir masuk surga suatu kaum yang hati mereka seperti hati burung. Banyak ulama menafsirkan yaitu burung tawakalnya tinggi. Tawakalnya tinggi dengan modal kemampuan yang sedikit. Dengan akal yang terbatas tapi rezekinya lancar. Dia terbang, dia bertawakal, perut kosong, dia pulang bawa makanan kasih anak-anaknya. Maka terkadang seorang agar rezekinya mudah, dia bertawakal kepada sang maha pemberi rezeki. Dia tahu bahwasanya rezekinya bukan dari bosnya. Bosnya dari Allah, cuma lewat bosnya. Dia tahu bahwasanya konsumen bukan dari konsumen rezekinya, tetapi Allah kasih dia lewat konsumen yang membeli dari darinya. Fabtaguallah rizq. Kata Allah, "Carilah di sisi Allah rezekimu." Carilah di sisi Allah. Jadi carilah rezeki dari sang maha pemberi rezeki. Demikian saja ikhwan, kajian kita. Semoga Allah Subhanahu wa taala memberikan kepada kita rezeki yang halal di dunia, di alam barzakh, terlebih lagi di akhirat kel. Amin ya rabbal alamin. Tap demikian saja kajian kita semoga bermanfaat. Subhanakallah wabihamdik asadu anillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.