Transcript
yReB9yFQJzM • Sisi Gelap Sistem Pendidikan Modern: Pabrik Pencetak "Budak"
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/SatuPersenIndonesianLifeschool/.shards/text-0001.zst#text/0811_yReB9yFQJzM.txt
Kind: captions Language: id Banyak orang yang percaya sekolah adalah investasi buat kita jadi kaya raya. Dengan lo sekolah, katanya lo bisa dapat kerja dan makin pintar buat cari duit. Tapi kenapa di saat makin banyak nih orang yang udah sekolah, kondisi ekonomi kita itu ya masih parah aja. Orang miskin di Indonesia masih melonjak drastis ya tahun ini. Orang yang nganggur juga ada lebih dari R juta, cuma turun 4.000 dibanding tahun kemarin. Bahkan masih ada 109 juta orang yang gajinya di bawah UMP. Fenomena ini pun akhirnya bikin gue bertanya-tanya ya, kenapa setelah lulus sekolah kita masih susah aja buat cari uang? Apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan ini? Welcome to kelas kehidupan by 1%. Hari ini kita bakal bahas alasan kenapa sekolah kagak ngajarin kita soal uang. Enjoy. Pada dasarnya sekolah enggak didesain buat ngajarin kita nyari duit sendiri atau nge-manage duit. Dari dulu sekolah itu emang didesain buat nyetak tentara dan juga buruh. Kalau kita tarik ke belakang ke sejarah zaman Yunani kuno, akar sistem pendidikan modern kita itu berasal dari kota Sparta. Sparta. Sparta itu kota militer terkuat di zaman Yunani kuno. Mereka nerapin sistem pendidikan yang namanya adalah Agogi. Ini gua enggak tahu ya pronunciation-nya benar atau enggak, tapi kalau gua baca namanya Agogi. Anak umur 7 tahun diambil negara dan dimasukin ke asrama militer. Tujuannya cuma satu, mencetak warga negara yang nurut dan siap mati berperang buat [musik] negara. Kalau di Sparta nih, misalnya lo enggak mau jadi tentara, ibaratnya lo malah cari duit lewat dagang [musik] atau bisnis, keberadaan lo itu bakal dianggap hina karena itu kerjaan budak. Warga negara Sparta itu tugasnya ya emang cuma satu, yaitu berperang. Jadi dari sini udah kelihatan ya akar dari sejarahnya aja sistem pendidikan itu emang dirancang anti ekonomi biar bisa cetak warga negara yang patuh, bukan pebisnis yang mandiri. That's why di masa modern ini [musik] sistem operasional sekolah itu dirancang kayak simulasi publik. Ada lonceng buat nandain kapan lu harus istirahat. pulang lo dan kawan-kawan juga harus duduk rapi ya menghadap ke depan harus minta izin dulu bahkan kalau mau ke toilet sampai ke diajarin buat mengerti instruksi buku dan enggak [musik] boleh ngebantah guru. Nah, yang jadi pertanyaan berikutnya adalah kenapa sih harus banget nyetak ke warga negara yang patuh? Kenapa si warganya enggak dibebasin aja buat mikir dan hidup sesuai yang mereka mau? Kalau menurut sejarah ada kerajaan yang akhirnya kalah perang karena warganya kebanyakan mikir sendiri. Dan ini terjadi di abad ke-18 ya dari [musik] kerajaan Prusia atau yang sekarang itu sudah jadi Jerman. Waktu itu mereka kalah perang lawan pasukan Napoleon karena tentaranya [musik] enggak bisa nurut. Mereka itu kebanyakan mikir sendiri dan enggak patuh sama komando. Akhirnya mereka bikin kurikulum sekolah rakyat atau folk Sulsen. Nah, ini gua gak tahu ya pronunciation-nya benar atau enggak, tapi kalau gua baca adalah folk suusen yang cuma ngajarin agama, ketaatan, dan juga cara membaca seadanya. Anak-anak di sekolah ini dididik buat jadi tentara yang disiplin dan pekerja yang taat. Bahkan tujuan kurikulum ini memang untuk membatasi kehendak bebas atau freewel dari para muridnya. Sistem perusiaan ini kemudian diadopsi sama Amerika dan seluruh dunia waktu masa revolusi industri. Waktu itu orang kaya butuh ribuan buruh. Nah, salah satu pionir yang membentuk sistem sekolah kita sekarang, Rockefeller senang banget nih sama sistem pendidikan perusia ini. Dari kurikulum sekolah rakyat ini, mereka bisa menghasilkan buruh yang bisa datang on time tiap lonceng bunyi, bisa baca instruksi, dan enggak ngebantah atasan. dan juga mereka enggak protes ngerjain tugas yang sama selama 8 jam [musik] setiap hari. Bahkan ada dokumen dari Dewan Pendidikan Rockefeller yang intinya itu bilang, "Kita enggak mau bikin anak-anak ini jadi fil atau pengusaha. Kita mau mereka melakukan pekerjaan orang tua mereka dengan lebih sempurna. Jadi kalau lo nanya kenapa sekolah enggak ngajarin lo soal uang?" Karena ya dari awal sistemnya emang enggak didesain buat itu. Kalau sekolah ngajarin muridnya jadi investor nih misalnya ya yang mandiri secara finansial, siapa yang bakal kerja jadi kasir atau ngerakit HP di pabrik besok pagi? Suka gak suka sistem ekonomi kita itu memang bentuknya piramida. Butuh banyak pekerja di bawah dan sedikit bos di atas. Nah, tugas sekolah itu adalah jadi pilar yang menjaga piramida itu agar tetap berdiri, tegak, dan seimbang. Oke. Kalau sekolah emang didesain kayak simulasi pabrik yang intinya mencetak pekerja, kenapa justru ilmu yang diajarin guru ke kita itu seringkiali enggak nyambung sama dunia kerja? Kenapa kita belajar fisika, kimia, atau biologi yang mungkin kagak kepakai di dunia kerja? Nah, jadi gini. Dari dulu kurikulum pendidikan itu dibagi dalam dua kelas. Ada yang namanya itu liberal arts yang belajar ilmu kayak filsafat, astronomi, sejarah, atau seni. Kurikulum ini buat bangsawan yang enggak perlu kerja buat cari duit. Yang kedua adalah serv arts yang belajar ilmu pertukangan, dagang, dan juga akuntansi. Kalau yang ini buat rakyat miskin biar mereka tuh bisa makan. Nah, masalahnya sekolah modern itu emang campuran yang gak jelas aja. Sistemnya itu kayak pabrik buat buruh, tapi kurikulumnya liberal arts buat bangsawan. Bahkan ada satu ilmuwan ya yang bisa lo lihat di layar yang bilang kalau fenomena ini tuh disebut conspicious consumption di konteks ilmu. Bangsawan itu gengsi banget kalau harus mikirin duit. Enggak ada tuh di kamus mereka kata kerja buat cari uang. Justru simbol status tertinggi adalah ketika El bisa menghabiskan waktu mempelajari hal-hal yang enggak berguna secara praktis. Cuma buat nunjukin kalau lo itu kaya banget sampai gak perlu kerja. Sekolah kita mewarisi gengsi ini. Kita diajarin buat pintar kalau bisa ngomong hal yang abstrak dan [musik] teoritis. Tapi kita akan dianggap bodoh, matre, dan kapitalis kalau ngomongin cara cari uang di sekolah. Ditambah lagi guru dan dosen kita di sekolah itu kebanyakan pegawai, bukan praktisi [musik] bisnis. Jadi, mereka cuma mengajarkan apa yang ada di buku teks, bukan apa yang terjadi di lapangan. Akibatnya apa? Ya, kita lulus dengan otak yang penuh dengan gengsi, bangsawan. Merasa pintar karena punya gelar, tapi gak ada skill buat survive, cari makan, atau cari duit. Oke, guys. Sebelum lanjut, gua mau ngasih tahu info buat lu yang lagi ngerasa bingung, ngerasa stuck sama hidup akhir-akhir ini. Entah itu soal karir, pendidikan, hubungan, keluarga, pernikahan, atau hal-hal personal lainnya, sekarang 1% tuh nyediain psikotes premium. Di dalam psikotes premium ada berbagai pilihan tes yang dirancang buat ngebantu lo lebih paham siapa sih diri lo sebenarnya. supaya lo bisa ngambil keputusan hidup lu dengan lebih baik. Psikotes ini tuh ngegabungin berbagai jenis tes psikologi profesional. Jadi, setiap lu beli, lu bakal dapat beberapa psikotes disatuin reportnya jadi puluhan halaman untuk hasil yang akurat dan personal. Lu bisa baca puluhan halaman ini. Dan yang paling keren kalau lu enggak ngerti atau lu ada pertanyaan, lu bisa dapat insight lanjutan lewat konsultasi bareng expert dari 1% langsung berdasarkan hasil tes lu. Langsung aja kunjungi 1.bio/psicotespremium buat info lebih lanjut. Gara-gara sekolah enggak ngajarin skill cari duit yang real, banyak lulusan S1 sekarang yang stuck. Cari kerja [musik] susah karena saingannya tuh banyak. Tapi mau bikin bisnis sendiri juga bingung mulainya dari mana. Akhirnya enggak sedikit ya dari para fresh graduate yang mutusin lanjut S2, habis itu S3 dulu dengan harapan bisa dapat kerjaan yang lebih baik. Nah, di sinilah terjadi fenomena Ponzi scheme academic terutama di beberapa jurusan sosum yang enggak punya pasar [musik] industri yang jelas. Jadi skema PO ini pada dasarnya adalah skema investasi bodong di mana keuntungan member lama dibayar pakai duit member baru bukan dari bisnis beneran. Nah, di dunia akademik banyak lulusan S2 dan S3 yang akhirnya cuma bisa kerja jadi [musik] dosen. Kerjanya ngapain? Ngajarin mahasiswa baru. Nanti mahasiswa itu lulus jadi dosen lagi buat ngajarin mahasiswa baru lagi. Dan ini siklusnya terus aja muter kayak gitu. Guru mencetak guru untuk mencetak guru. Siklus ini jalan terus tanpa menghasilkan value ekonomi yang nyata di luar kampus. Nah, terus gimana nasib lulusannya yang mau keluar dari siklus ini? Bayangin ya, udah sekolah tinggi-tinggi, bayar biaya kuliah yang mahal banget, mungkin sampai harus ngutang sana sini ya. Eh, pas sudah lulus kerjanya di posisi yang sebenarnya bisa dikerjain sama lulusan SMA. Even banyak teman gue yang sudah S2 bahkan sampai ke luar negeri dan kerja di Indo dengan gaji yang cuma sedikit di atas UMR. Dan itu pun mereka kerja di posisi yang enggak butuh gelar S2. Kenapa bisa kayak gini? Karena ya tadi selama bertahun-tahun lo kuliah S1, [musik] S2 sampai S3 lo cuma sibuk belajar teori-teori bangsawan tadi. Lo enggak diajarin skill buat nyiptain value yang mau dibayar mahal sama orang lain di pasar kapitalis. Pasar enggak peduli ya sebenarnya lo punya gelar apa. Pasar itu cuma peduli lo bisa bikin apa buat gue. Dan sayangnya sekolah sering lupa ngajarin jawaban dari pertanyaan itu. Nah, terus solusinya gimana? Apakah enggak usah sekolah aja? Enggak juga ya. Karena ya kalau enggak sekolah itu sebenarnya terlalu ekstrem. Sekolah itu tetap penting sebenarnya buat membangun logika dasar, sosialisasi, dan juga dapat ijazah buat ngelamar kerja. Tapi berhenti berharap sekolah itu bisa bikin lo kaya. Stop juga mikir kalau sekolah lagi adalah jadi solusi buat lo bisa dapat kerjaan yang lebih baik. Kita harus belajar dari cara raja-raja zaman dulu itu dididik. Misalnya kayak Alexander the Great ya. Dia itu dulu dididik privat sama Aristoteles. Aristoteles ini enggak ngajarin Alexander biologi. Dia itu ngajarin logika, retorika, dan juga strategi. Jadi, Alexander itu diajarin buat jadi tuan [musik] atas dirinya sendiri, bukan jadi sekrup mesin buat orang lain. Buat kita di zaman modern artinya pertama kita harus pisahin ya, mana sekolah, mana belajar. Sekolah itu buat cari nilai ya dan belajar itu kita bisa buat cari uang. Kedua itu cari mentor. Ilmu buat cari uang itu enggak ada di buku paket. Lu harus mau untuk belajar sendiri. Yang ketiga, pelajari servel arts tanpa gengsi. belajar jualan, belajar negosiasi, belajar public speaking, belajar pajak. Jangan ngerasa kepintaran buat belajar hal-hal teknis yang menghasilkan duit. Sekolah mungkin didesain buat bikin lu jadi pekerja, tapi keputusan buat jadi player atau jadi NPC di zaman sekarang itu 100% ada di tangan lo sekarang. Kalau lo suka video-video kayak gini, kita juga pernah bikin video yang kayak gini ya. Lo bisa klik aja video yang sebelah kiri atau lo juga bisa tonton rekomendasi kita yang ada di sebelah kanan. That's all for today. Gue Danang dari 1%. Jangan lupa bahagia dan jangan lupa hidup seutuhnya. Thanks. [musik]